Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Jam bencet yang ada di serambi Selatan Masjid Tegalsari Surakarta menjadi penanda waktu shalat. Inilah karya ulama tempo doeloe yang hingga kini masih akurat. Bencet atau sundial, salah satu khazanah ilmu falak.

“Jam bencet ini sejak dulu digunakan untuk penentuan jadwal sholat di Masjid Tegal Sari, sampai sekarang,” terang Erma Yohansyah, Imam Masjid Tegalsari.

Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Keakuratan jam ini, pernah dibuktikan oleh pak AR, guru fisika dan pakar ilmu falak di Solo. Ketika itu ia menghitung waktu dzuhur untuk waktu bagian Kota Solo dan sekitarnya.

Menurutnya, waktu Dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam (dari catatan Prof. Thomas Djamaluddin).

Belajar Muhammadiyah

Sedangkan waktu Dhuhur untuk Masjid Tegalsari dan sekitarnya menurut RHI Surakarta pada waktu dihitung saat itu adalah sebagai berikut: Pada 27 Feb 2010 jatuh pada jam 11:53 waktu setempat atau 11:54 waktu setempat.

Belajar Muhammadiyah

Koordinat Masjid Tegalsari adalah 7° 34? 13.38? LS, 110° 48? 15.41? BT, 100 m, GMT+07. Pada Sabtu, 27 Feb 2010, solar noon atau matahari tepat di atas kepala bila kita berada di Masjid Tegalsari ini adalah jam 11:49.44 waktu setempat (WIB).

Setelah diadakan pengamatan, tampak bahwa cahaya matahari yang masuk lewat lubang bencet tepat berada di atas garis Utara-Selatan sejati. Itu artinya, waktu Dluhur yang selama ini dipakai sudah benar dan sudah sesuai atau tepat pada waktunya. Waktu Dhuhur tidak mengalami kemajuan atau terlalu cepat.

Jam bencet ini sudah ada bersamaan dengan dibangunnya masjid pada 28 Oktober 1928. Masjid Tegal Sari sendiri merupakan masjid yang dibangun oleh Kiai Shofawi, Prof KHR M Adnan dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Kyai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Hilal atau bulan sabit untuk awal bulan Sya’ban 1433 H telah terlihat, antara lain di Jakarta dan Bandung. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit  dilakukan pada Rabu (20/6) petang, bertepatan dengan 29 Rajab 1433 H.

Posisi hilal pada saat dilakukan rukyat memang sudah cukup tinggi, lebih dari 5 derajat. Hilal awal Sya’ban antara lain telah terlihat di lokasi rukyat Kampung Basmol Jakarta Barat dan di Observatorium Bosca Lembang, Bandung.

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

“Hilal awal Sya’ban disaksikan oleh perukyat NU, H Mawardi dan Syamsuri di Basmol Jakarta Barat. Lalu di Bosca Lembang langsung oleh pengurus Lajnah Falakiyah PBNU Hendro Setyanto,” kata KH A. Ghazalie Masroeri dihubungi Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Rabu (20/1) malam.

Belajar Muhammadiyah

Dengan terlihatnya hilal berarti tanggal 1 Sya’ban 1433 H sudah dimulai. Dalam kalender qamariyah (hijriyah) pergantian hari dimulai selepas tenggelamnya matahari. Atau jika disandingkan dengan kalender syamsiyah (masehi) 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Kamis, 21 Juni 2012.

Belajar Muhammadiyah

Dengan dimulainya bulan Sya’ban, menurut Kiai Ghazalie, umat Islam sudah bisa memulai atau menyiapkan beberapa ibadah khusus di bulan ini.

“Secara bahasa Sya’ban berarti cabang, maksudnya cabang dari ibadah. Ada beberapa kesunnahan dalam bulan ini, antara lain puasa 3 hari di awal bulan dan di pertengahan bulan. Dan di pertengahan bulan Sya’ban tentunya ada nisfu sya’ban,” tambahnya.

Hasil rukyat awal Sya’ban ini juga sangat penting dalam rangka pelaksanaan rukyat awal Ramadhan nanti. Pelaksanaan rukyatul hilal pada Rabu (20/6) petang ini berdasarkan atas penetapan awal bulan Rajab kemarin yang ditempuh dengan jalan istikmal atau penyempurnaan hitungan bulan Jumadal Tsaniyah menjadi 30 hari, karena pada saat itu hilal tidak terlihat.

Dengan terlihatnya hilal awal Sya’ban pada Rabu petang, maka rukyat awal Ramadhan akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada dalam kalender NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah. Rukyat awal Ramadhan 1433 H akan diadakan pada 29 Sya’ban, bertepatan dengan Kamis 19 Juli 2012.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Kyai Belajar Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

Pringsewu, Belajar Muhammadiyah - Madrasah Aliyah Maarif Keputran Kabupaten Pringsewu merampungkan agenda perkemahan sekaligus dalam rangka Pelantikan Penegak Bantara Ambalan Ki Hajar Dewantara dan Siti Fatimah Gudep 03.091-03.092. Perkemahan yang dilaksanakan di halaman madrasah setempat ini dilaksanakan selama tiga hari dari Sabtu (14/5) sampai dengan Senin (15/5).

Kepala MA Maarif Keputran Irsadul Ibad mengatakan, dalam perkemahan tersebut para anggota Pramuka madrasah setempat mendapatkan berbagai macam materi kepramukaan baik in door maupun out door.

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

"Setelah upacara pembukaan, para peserta mendapatkan materi berupa dinamika kelompok yang memfokuskan bagaimana peserta berinteraksi dengan dalam regunya maupun dengan regu lainnya," jelas Irsad di sela-sela kegiatan.

Materi lain yang akan didapat oleh peserta di antaranya adalah penyelesaian SKU Bantara, Pentas Seni, Api Unggun, Renungan Malam, dan Kegiatan Explorer. "Selain materi tersebut, bermacam permainan juga diberikan kepada peserta untuk menambah semangat dan keceriaan para peserta," jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Irsad berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi para siswa siswi MA Maarif Keputran dalam mendalami ilmu kepramukaan. Apalagi menurutnya pelajaran Pramuka pada kurikulum 2013 wajib diikuti oleh setiap peserta didik di tingkat SLTA.

Selain itu kepramukaan juga dapat menambah kecerdasan emosional meningkatkan disiplin siswa sekaligus merupakan organisasi positif yang dapat memupuk kepekaan sosial dan kepemimpinan. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kyai, IMNU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Setelah beredar kabar yang simpang siur di media sosial, Almaghfurlah KH A Nafi’ Abdillah yang wafat di RSUD Bak?rköy ?stanbul akhirnya bisa dipulangkan. Rencana kepulangan dipastikan setelah melalui rapat internal keluarga dengan pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Ahad (19/2) waktu setempat.

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)
Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Melalui akun Facebook, Ka Bas, Rusdi J Abbas yang juga Wakil Rais Syuriah PCINU Turki mengabarkan kepastian pemulangan jenazah Kiai Nafi’ tersebut. Jenazah akan dipulangkan pada Selasa lusa (21/2) dini hari.

“Bismillahirrohmanirrohim, sudah ada keputusan dan Insya Allah tidak ada perubahan. Jenazah KH Ahmad Nafi Abdillah Kajen Pati akan dipulangkan dari ?stanbul jam 02.40 Selasa dini hari (21.02.2017) dan akan sampai di Jakarta Selasa sore jam 06.30. Mohon doanya. Terima kasih,” tulisnya.

Belajar Muhammadiyah

Sebelumnya, kabar tentang batalnya pemulangan kiai kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putri Kajen tersebut. Jenazah Kiai Nafi’ disebut akan dimakamkan di Turki. Pesan berantai tersebut sambung-menyambung melalui sejumlah grup WhatsApp.

Belajar Muhammadiyah

Senada dengan dia, Mujibur Rachman Ma’mun, keponakan almarhum telah memastikan bahwa Kiai Nafi’ akan dimakamkan di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Ia menyatakan Kiai Nafi’ mendapat “kapling” makam istimewa, yakni di dekat pusara sang ayah, Almaghfurlah KH Abdullah Salam.? ?

“Saat Pakde Nafi’ sedang sowan Abahnya, Mbah Dullah Salam. Insya Allah, jenazah beliau akan sampai di Kajen pada hari Selasa malam Rabu, jam 21.00 atau 22.00. Dan langsung dimakamkan di tempat beliau duduk ini, wonten ngandape Mbah Kakung,” tulis Gus Mujib sambil mengunggah foto Kiai Nafi’ di Facebook, Ahad (19/2) malam.

Sebelumnya, keponakan Kiai Nafi’ ini sempat mengunggah fotonya saat mendampingi kakak ibunya tersebut sembari menyatakan kegalauannya atas berpulangnya sang Pakde.

“Nderèkaken sugeng kondhur (selamat berpulang), Pak de.. Amal sholihmu sudah menanti & akan mengantarmu pada maqom mulia di sisi-Nya. Masalahe, sak niki kulo terus gondhelan sinten (masalahnya, sekarang saya terus pegangan siapa)?” tulis Gus Mujib sembari menambahkan emoticon sangat sedih.

Saat ditanya sejumlah hal terkait wafatnya Kiai Nafi’, putra almaghfurlah KH Ma’mun Muzayyin ini meminta Belajar Muhammadiyah menghubungi salah satu putra menantu Kiai Nafi’. “Maaf, njenengan kontak Mas Nadhif saja. Saya masih di jalan (menuju Kajen),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, PonPes, Kyai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Bantu Korban Gempa Rp 505 Juta, PBNU: Ini Solidaritas Kemanusiaan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menggelontorkan dana bantuan senilai Rp505 Juta untuk korban gempa Aceh. Bantuan tersebut diserahkan oleh PBNU hari ini, Rabu (14/12) yang sebelumnya telah berkoordinasi langsung dengan Pengurus NU setempat.

“Saya bersama rombongan PBNU, juga Ketua Umum dan Wakil Rais Aam, hari ini melakukan penyerahan bantuan sekaligus melihat lokasi yang terkena gempa di Pidie Jaya. Kita juga akan datang ke beberapa titik pengungsi, juga ke beberapa masjid yang terkena dampak gempa dan akan kita berikan bantuan,” ujar Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Rabu (14/12) melalui rekaman singkatnya kepada Belajar Muhammadiyah.

Bantu Korban Gempa Rp 505 Juta, PBNU: Ini Solidaritas Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Korban Gempa Rp 505 Juta, PBNU: Ini Solidaritas Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Korban Gempa Rp 505 Juta, PBNU: Ini Solidaritas Kemanusiaan

Bantuan ini, kata Helmy, merupakan bagian dari solidaritas kemanusiaan NU yang dihimpun oleh LAZISNU. “Alahmdulillah terkumpul Rp505 Juta atau setengah milir lebih dan akan terus bertambah jumlahnya. Tahap pertama ini akan kita berikan langsung,” tambahnya.

PBNU juga sudah menginstruksikan 3 lembaga, yakni LAZISNU, LPBINU, dan LKNU untuk bergabung bersama PWNU dan PCNU di Aceh dan juga bersinergi dengan pemerintah kemudian memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat korban gempa.?

Belajar Muhammadiyah

“Ke depan, kita tentu akan membangun kembali daerah-daerah yang terkena gempa di Aceh ini agar lebih maju lagi,” ujar Helmy.

Rincian dana yang terkumpul yaitu Rp205.000.000 untuk paket barang bantuan di antaranya sarung, mukena, biskuit, juga obat-obatan, dan layanan kesehatan. Sisanya untuk perbaikan sarana masjid, sekolah, dan pondok pesantren yang terdampak bencana senilai Rp300.000.000.

NU Peduli Gempa Aceh terselenggara atas dukungan sejumlah lembaga NU yaitu Lembaga Amal Zakat dan Sedekah (LAZIS NU) melalui brand-nya NU Care-LAZISNU, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU), dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU).?

NU Care LAZISNU memiliki tanggung jawab sebagai lembaga fundraising dan penyaluran, LPBINU terdepan dalam penanggulangan bencana, dan LKNU bertanggung jawab dalam pelayanan dan penanganan kesehatan.

Selain oleh ketiga lembaga tersebut, NU Peduli Gempa Aceh juga didukung oleh sejumlah badan otonom (Banom), seperti Pagar Nusa, GP Ansor, Banser, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Di berbagai daerah, dukungan juga diberikan oleh semua komponen NU.

Belajar Muhammadiyah

Relawan NU Peduli Gempa Aceh telah berada di lokasi pengungsian dan gempa sehari setelah peristiwa. Pada tahap awal mereka melakukan assesemen. Selanjutnya, mereka juga membuka posko layanan kesehatan dan psikososial. Kehadiran NU Peduli Gempa menjadi wujud nyata NU sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyah ijtima’iyyah). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Membangun Pondasi Islam Melalui Hikmah Isra Miraj

Makassar, Belajar Muhammadiyah. LP Maarif NU Makassar memperingati Isra Miaj Nabi Muhammad yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus OSIS baru, acara ini diselenggarakan Ahad (01/06) bertempat di aula SMP Maarif NU Makassar. Tampak beberapa tokoh NU Kota Makassar hadir dan keluarga besar SMP Maarif Makassar.

Kali ini peringatan Isra Miraj bertemakan "Membangun Pondasi Islam melalui Isra Mi’raj”. Hal ini didasari pada proses Isra Miraj Nabi, shalat lima waktu diterima sebagai sebuah amalan yang wajib didirikan setiap umat Islam. “Maka dari itu seyogianya shalat dijadikan sebagai manifestasi membangun bangsa yang berperadaban,” kata Muhammad Said yang juga Kepala SMP Maarif NU Makassar.

Membangun Pondasi Islam Melalui Hikmah Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Pondasi Islam Melalui Hikmah Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Pondasi Islam Melalui Hikmah Isra Miraj

Ust. Muh Tahir Ali sebagai pembawa hikmah menyampaikan proses Isra Miraj Nabi bukan hanya bernilai ritual saja, tetapi didalamnya terdapat proses penghambaan pada Tuhannya. Hal ini kita pahami bersama bahwasanya shalat itu merupakan sesuatu yang wajib didirikan, namun didirikannya shalat tidak hanya ritual semata, namun nilai-nilai shalat itu mestinya diimplementasikan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Belajar Muhammadiyah

“Bangsa yang besar ini, tentunya butuh pemimpin yang memiliki sifat kepedulian terhadap kemajuan bangsa. Nah, dari proses penghambaan seorang hamba pada Tuhannya melalui shalat inilah diharapkan tercermin pada setiap diri manusia artinya pemimpin ke depan mestinya mampu mengimplementasikan nilai-nilai sosial yang terdapat dalam shalat itu sendiri,” tandasnya. (Andy Muhammad/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Aqiqah Bayi yang Meninggal

Fitroh perempuan adalah mengandung dan melahirkan seorang bayi. Terkadang seoarang ibu mengandung selama Sembilan bulan, terkadang lebih, terkdanag juga kurang. Selama itu pula orang tua dengan amat sabar menunggu dan menanti kehadiran sang bayi.

Berapapun umur kandungan itu, ketika telah terlahir ke dunia dianjurkan (sunnah) bagi kedua orang tuanya untuk memberikan nama, aqiqah dengan dua ekor kambing bila sang bayi laki-laki dan satu ekor bila perempuan.

Aqiqah Bayi yang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Aqiqah Bayi yang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Aqiqah Bayi yang Meninggal

Namun demikian terkadang takdir menentukan lain. Proses persalinan adalah perjuangan bagi kaum perempuan. Tidak jarang sang ibu merelakan nyawanya demi sang bayi, ataupun malah keduanya tidak dapat meneruskan nikmatnya kehidupan dunia. Lantas apakah masihkan disunnahkan memberikan nama dan beraqiqah kepada bayi yang sudah meninggal? 

Mengenai hal ini Kitab Fatawa Isma’il Zain menerangkan dengan dua rincian pertama, jika bayi itu tidak pernah lahir di dunia (meninggal dalam kandungan) maka tidak ada anjuran memberikan aqiqah dan nama.  Namun, jika bayi tiu sempat menghirup kehidupan setelah dilahirkan meskipun hanya beberapa saat maka disunnahkan bagi orang tuanya untuk memberikan nama dan aqiqah kepadanya.



Belajar Muhammadiyah

فلا تسن تسمية للجنين ولا عقيقة عنه، والتسمية إنما تسن في حق المولود وكذلك العقيقة لا تسن إلا عن المولود

Belajar Muhammadiyah

Tidak disunahkan memberi nama bagi janin, begitu juga aqiqah, karena memberi nama dan aqiqah hanya disunahkan bagi anak bayi yang telah terlahir kedunia



أما ما دام في بطن أمه ومات في بطنها ودفن معها، فلا تسن له تسمية ولا عقيقة

Sedang untuk janin yang maninggal dalam kandungan ibunya, lalu dikuburkan bersama ibunya maka tidak disunahkan memberikan nama dan aqiqah bagi janin tersebut.

(Pen.Fuad H. Basya/Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Kyai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Temanggung, Belajar Muhammadiyah 

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Temanggung Ahmad Liwaul Khakim mengatakan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks, mengharuskan semua kader PMII melek literasi digital.

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Hal itu ia ungkapkan saat MAPABA PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung, kemarin. Menurutnya, sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya siap memasuki segala medan, maka MAPABA menemui relevansi yang kuat dalam konteks ini.

"Tantangan kita sekarang tidak hanya paham dan aliran radikal yang digerakkan dalam bentuk nyata. Namun semua itu sudah bergeser di internet. Banyak grup, akun dan juga media-media daring mengatasnamakan NU, banom NU dan juga Lembaga di bawah NU. Maka kalau tidak melek media, kita akan tergerus pada penjajah di negeri yang mengklaim dirinya golongan Ahlussunnah wal-Jama’ah," tegas dia pada kegiatan yang berlangsung, Rabu (4/10).

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap, kader PMII di wilayah Temanggung melek media dengan cara penguatan literasi. Bisa melalui training, diklat, atau belajar otodidak dan bersinergi dengan LTN NU yang fokus di masalah media.

Sementara itu, Ketua Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung M Fuad Latif menegaskan bahwa dalam pencapaian target ini Pengurus Komisariat PMII Trisula sudah menyiapkan beberapa agenda kerja yang tentunya mengarah pada beberapa aspek pengkaderan. 

Pendidikan jurnalistik menjadi salah satu agenda terdekat. Semua mafhum jika penguasaan media merupakan bagian strategis dalam menyebarkan virus perubahan.

"Kami ingin menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan dalam forum pra-MAPABA dan juga masukan dari beberapa mahasiswa baru yang sudah mulai melek terhadap pentingnya penguasaan media, baik media internet maupun media cetak," beber dia.

Selain itu budaya penguatan wacana juga menjadi keharusan untuk segera dilakukan. Forum-forum diskusi kecil perlu di tingkatkan intensitasnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu masih menjadi kebutuhan pokok dalam menghidupkan nuansa akademis di kampus. 

Belajar Muhammadiyah

"Tak ada kamus dalam diri mahasiswa STAINU Temanggung untuk menyatakan tidak dalam kerja-kerja komunal yang membutuhkan interaksi sosial antar manusia. Mahasiswa harus siap menyambut tongkat estafet pembangunan yang sewaktu-waktu diberikan generasi tua", lanjut mahasiswa Prodi PAI Semester VII ini. 

Selanjutnya, dia berharap bahwa agenda besar ini mendapat sambutan yang berarti dari semua unsur yang terkait dengan baik. Apalagi jika melihat saat ini STAINU Temanggung mempunyai dosen-dosen baru yang masih energik dan mempunyai idealisme yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi di Kabupaten Temanggung. (Ibda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, AlaSantri, Kyai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara

Wartawan Belajar Muhammadiyah Ahmad Asmu‘i menemui Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang KH Adib Bisri Hattani (Gus Adib) di jalan KH Bisri Mustafa, Leteh, Kabupaten Rembang. Keduanya terlibat dalam diskusi seputar wajah Islam Nusantara. Berikut ini petikan dialog keduanya.

Gus, apa yang menyebabkan perbedaan Islam Nusantara dan Islam di Timur Tengah?

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara

Sebetulnya banyak hal yang membedakan antara Islam di Nusantara dan negara Islam yang ada di Timur Tengah. Lebih tepatnya letak geografis juga berpengaruh terhadap pola perkembangan dan sifat-sifat keagamaan dari satu negara satu ke negara yang lain.

Meskipun kemudian tidak sampai perbedaan itu membawa hal yang asasi. Hal yang asasi misalnya shalat, kewajiban shalat. Setiap umat Islam di berbagai negara semua sama dalam hal shalat. Hal asasi lainya seperti zakat, dan sebagainya. Tidak ada yang berbeda.

Belajar Muhammadiyah

Dalam perkembanganya kemudian ada hal-hal yang menjadi berbeda dengan Islam yang ada di Nusantara. Misalnya ketakziman terhadap ulama, penghormatan terhadap guru, dan penghormatan terhadap orang lain.

Belajar Muhammadiyah

Dalam hal penghormatan budaya Islam di Nusantara memberikan pembelajaran adat ketimuran kepada generasi muda. Contoh tatakrama antara murid dan seorang guru. Misalnya ada seorang murid mempunyai guru yang bernama amin. Etikanya si murid memanggil gurunya dengan sebutan “Pak Amin?”

Lalu yang benar seperti apa Gus?

Yang benar etika seorang santri dan murid memanggilnya harus “Pak Guru”, bukan “Pak Amin.”

Siap yang mengajarkan etika santri seperti itu Gus?

Ini sudah menjadi tradisi sejak zaman Syekh Hasyim Asyary. Jadi ini merupakan budaya dan tradisi NU.

Apa saja yang membuat Islam di Nusantara dan Timur Tengah tampak berbeda?

Ada banyak hal yang membedakan Islam di Nusantara dan di Timur Tengah. Contoh yang membedakan Islam di berbagai belahan dunia di antaranya sifat-sifat kesukuan, sifat kekabilahan, dan beberapa lainya. Ini yang membuat Islam terasa berbeda di belahan dunia bahkan antarnegara.

Di Timur Tengah kedua sifat ini sangat mempengaruhi gaya beragama yang ada di sana.

Yang paling menonjol membedakan Islam di Nusantara dan yang ada di Timur Tengah Gus?

Ini yang sangat penting yaitu cara pengelolaan konflik di suatu Negara Islam. Nah ini yang menjadi penting yang membedakan negara Islam di Nusantara dan di Timur Tengah adalah bagaimana mengelola suatu konflik.

Kenapa demikian Gus?

Model pengelolaan konflik di Timur Tengah dianggap sebagai konflik agama. Misal Islam, Syiah versus Suni dan lain sebagainya. Kemudian orang yang tidak memahami kondisi di Timur Tengah menganggap bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik agama.

Orang kemudian mencari alternatif Islam yang lain karena salah pemahaman. Padahal konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah murni konflik politik membawa nama agama.

Apakah gaya beragama dari Timur Tengah dapat diterapkan di Nusantara seutuhnya Gus?

Tidak, karena gaya beragama Islam yang ada di Timur Tengah hari ini belum tentu semurni apa yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW tempo dulu.

Apa ketidakmurnian ini salah?

Tidak, ini sunatullah. Ini sudah terjadi dan merupakan proses yang sejak awal sudah diantisipasi oleh kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sejak dini Rasulullah Saw sudah memberikan batas-batas.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Kajian, Kyai Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air

Jepara, Belajar Muhammadiyah

Sebanyak 25 orang dari CPB-KKP PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari Jepara mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana di Air yang diselenggarakan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jepara di pantai Teluk Awur Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara.

Ketua LPBINU Jepara, Dedi Irawan pada kegiatan Senin (8/2/2016) tersebut mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk lebih memperkenalkan lembaga LPBINU kepada generasi muda, bahwa bencana tidak hanya menjadi urusan pemerintah saja, tapi juga menjadi domain masyarakat. Lembaga ini membawa misi kemanusiaan, menolong sesama manusia dengan tidak memandang status dan golongan.

LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00-16.00 WIB ini menghadirkan pemateri, Saiful Aziz (Direktur Departeman Pengurangan Risiko Bencana) yang memberi materi pengenalan Teknik pertolongan di air dan evakuasi korban. Pengenalan tersebut bertujuan agar peserta pelatihan bisa mengerti secara benar dalam melakukan pertolongan di air dan evakuasi korban.

“Pelatihan ini bertujuan menambah jumlah pasukan Tim Reaksi Cepat dalam menangani bencana di lingkunganmereka tinggal, dengan bekal ini diharapkan menambah pengetahuan dan pengalaman apayang harus dilakukan dalam menangani bencana di lingkungan sekitar mereka,” ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Kyai, Nasional Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Inilah Ceramah Imam Besar Muslim Centre New York di Bone

Bone, Belajar Muhammadiyah

Imam Besar Muslim Centre New York dan Presiden Nusantara Foundation USA Shamsi Ali menjelaskan fenomena muslim di Amerika Serikat. Tak hanya itu, ia juga bercerita bahwa di negara tersebut, perempuan muslim hanya dianggap sebagai makhluk nomor dua.

Inilah Ceramah Imam Besar Muslim Centre New York di Bone (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Ceramah Imam Besar Muslim Centre New York di Bone (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Ceramah Imam Besar Muslim Centre New York di Bone

Sesungguhnya, kata dia, Islam tak membatasi gerak gerik perempuan. “Hal inilah yang saya kagumi dari Ibu Majdah Agus setiap minggu mengelilingi Sulawesi Selatan untuk berdakwah menyebarkan nilai-nilai Al-Quran,” katanya mengomentari Ketua Muslimat NU Sulsel pada Tabligh Akbar di Masjid Agung Al-Markaz Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Selasa (2/8).

Sebagaimana diketahui, Majdah MZ Agus Arifin Numang adalah Ketua PW Muslimat NU Sulsel, Ketua Dewan Pembina FKCA Sulsel, Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) disamping sebagai istri Wakil Gubernur Sulsel.

Belajar Muhammadiyah

Shamsi Ali menambahkan, dakwah di Amerika Serikat sangat berbeda dengan dakwah di Indonesia. “Hal yang selalu saya sampaikan di Amerika Serikat terkait rasisme bahwasanya Islam datang untuk menjadi obat atas banyaknya rasisme karena sesungguhnya Islam memandang manusia yang paling mulia adalah orang yang bertkwa,” jelasnya.

Ia juga mengkritik tentang fenomena umat Islam yang hanya mementingkan Islam sebagai simbol, bukan sebagai nilai yang harus diimplementasikan.

Belajar Muhammadiyah

Padahal, sambungnya, Islam sangat menuntut umatnya harus bergerak, berkompetisi, bersilaturrahim, meningkatkan SDM, berdakwah dengan baik, menyuarakan Islam yang ramah, dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan (Sulsel) dengana Forum Kajian Cinta Al-Quran (FKCA) Sulawesi Selatan, FKCA Kabupaten Bulukumba dan Pemerintah Kabupaten Bone yang dirangkai dengan Pembukaan Trainer of Trainer (ToT) Pemaknaan Al-Quran. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Nahdlatul Ulama, Quote Belajar Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

Solo, Belajar Muhammadiyah. Menjelang pergantian tahun Hijriah dan Saka, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi Slametan Mapag Suro, Senin (20/10). Acara yang dihadiri sejumlah tokoh dari lintas agama tersebut dipusatkan di Titik Nol Kota Solo, Tugu Pemandengan.

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)
Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

“Kami ingin mengambil spirit dari titik nol ini agar ke depan bisa menghasilkan masyarakat yang lebih baik,” terang Budayawan Ronggojati yang turut dalam acara tersebut.

Prosesi slametan diawali dengan pembacaan doa dan Sholawat Sultan Agungan yang dibaca tujuh ulama keraton. Dilanjut dengan pembacaan Kidungan Dhandanggula yang berisi permohonan meminta keselamatan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng berwarna merah, putih, kuning dan hitam.

Belajar Muhammadiyah

“Kami mencoba menghayati bulan (penanggalan,-red) yang diciptakan Sultan Agung pada 1633 silam. Bulan ini perpaduan Saka dan Hijriah. Dari situ kami memaknai Sultan Agung sejak zaman dahulu sudah mengajarkan nilai keberagaman dalam kebudayaan,” ungkap budayawan Suprapto Suryodarmo.

Belajar Muhammadiyah

Suprapto menambahkan atas semangat ini pula, panitia berinisiatif untuk mengadakan rangkaian kegiatan yang diberi nama Sura Bulan Kebudayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Nusantara, Habib Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

Jember, Belajar Muhammadiyah. Nama Universitas Islam Jember (UIJ) terdengar juga di kalangan petinggi Amerika Serikat (AS). Itu dibuktikan dengan kunjungan Konjen AS, Joaquin “Wakin” Monserrati, Selasa (24/2) di kampus yang terletak di jalan Kiai Mojo, Jember itu. 

Wakin menawarkan kerjasama dengn UIJ dalam bidang pendidikan, yakni pertukaran pelajar dan  mahasiswa. Dikatakan Wakin, selama ini pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pondok pesantren dalam bidang pendidikan.

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

“Sangat menyenangkan kalau akhirnya kami dan UIJ bisa menjalin kerjasama yang lebih inten,” harapnya sambil menambahkan bahwa NU merupakan organisasi terbesar dunia yang mampu menjadi stabilisator dalam berbagai persoalan kebangsaan.

Wakin yang didampingi Kabag Politik dan Ekonomi, Brandon Passin dan Asisten Konjen, Ahmad Cholis Hamzah itu diterima Ketua Yayasan Pendidikan NU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), Plt Rektor UIJ, Hobri, mantan Rektor UIJ, Dodiek Sutikno, dan sejumlah petinggi UIJ di gedung rektorat. 

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Wakin mengaku bersyukur akhirnya bisa berkunjung ke UIJ. “Baru hari ini kami bisa mengunjungi UIJ setelah  14 tahun berkeinginan,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Sebelum mengadakan dialog, Wakin dan rombongan sempat berjalan-jalan mengelilingi area kampus UIJ dan sempat mampir di kantor FISIP. 

Sementara itu, KH Abdullah Syamsul Arifin mengemukakan bahwa kunjungan Konjen AS tersebut merupakan bukti UIJ dan NU cukup diperrhitungkan keberadaannya. Ia mengaku bersyukur ditawari kerjasama pertukaran pelajar dan mahasiswa.

“Semua itu masih akan kita bicarakan dulu di internal UIJ,” jelasnya. (Aryudi A Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Berita, Kyai Belajar Muhammadiyah

Lembaga Falakiyah NU Jombang Keluarkan Imbauan Soal Awal Ramadhan

Jombang, Belajar Muhammadiyah - Menjelang bulan suci Ramadhan, Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Jombang mengeluarkan surat berisi imbauan khususnya kepada warga masyarakat setempat yang beragama Islam. Surat itu penting untuk diperhatikan guna menyamakan persepsi dalam penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah 1438 H.

"Lembaga Falakiyah NU Jombang mengimbau kepada seluruh umat Kabupaten Jombang untuk memperhatikan hal-hal sudah ditulis di surat imbauan," kata Ketua LFNU Jombang Mamuri As, Rabu (24/5).

Lembaga Falakiyah NU Jombang Keluarkan Imbauan Soal Awal Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Falakiyah NU Jombang Keluarkan Imbauan Soal Awal Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Falakiyah NU Jombang Keluarkan Imbauan Soal Awal Ramadhan

Ia mengatakan, terkait penetapan awal Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah 1438 H, semua sistem hisab memang sudah memiliki ketetapan yang sama jauh hari sebelumnya. Tetapi untuk pelaksanaan ibadahnya (1 Ramadhan dan 1 Syawwal), masyarakat harus menunggu hasil sidang istbat yang dipimpin Menteri Agama RI.

Belajar Muhammadiyah

LFNU Jombang menyatakan bahwa pada hari rukyah 29 Syaban 1438 H Jumat Legi, 26 Mei 2017 M ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia antara 6 derajat 56 menit sampai 8 derajat 58 menit. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Ramadhan), masyarakat harus menunggu hasil sidang istbat awal Ramadhan yang dipimpin Menteri Agama RI.

Sementara untuk penetapan awal Syawwal 1438 H, semua sistem hisab menyepakati bahwa ijtimak menjelang awal Syawwal jatuh pada hari Sabtu Kliwon 24 Juni 2017 bertepatan pada 29 Ramadhan 1438 sekitar pukul 09;31 WIB.

Belajar Muhammadiyah

Pada hari rukyah 29 Ramadhan 1438, 24 Juni 2017, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia antara 2 derajat 16 menit sampai dengan 4 derajat 21 menit. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Syawal), masyaakat harus menunggu hasil sidang istbat awal Syawwal yang dipimpin Menteri Agama RI. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Kyai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menteri Agama RI H Lukman Saifuddin menyatakan permohonan maaf atas lolos cetaknya Buku Guru SKI MTs Kelas VII yang mengandung isu SARA. H Lukman mengeluarkan pernyataan tanggung jawabnya. Di hadapan publik, ia menginstruksikan segenap jajaran Kemenag di seluruh tanah air untuk menarik kembali buku itu dari peredaran.

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas keteledoran tersebut,” demikian Menteri Agama melalui akun Twitternya menanggapi akun Twitter Aswaja TV yang melansir berita? Belajar Muhammadiyah bertajuk PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah, Rabu (17/9) petang.

Meskipun penulisan buku yang melukai perasaan umat beragama itu ditangani oleh tim dari Ditjen Pendis, H Lukman Hakim Saifuddin mengaku dirinya lalai. Secara terbuka ia mengatakan, “Saya yang bertanggung jawab. Buku tersebut telah ditarik.”

Belajar Muhammadiyah

Demikian pernyataan H Lukman Saifuddin pada akun Twitternya dengan menyebutkan akun Twitter Rais ‘Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Belajar Muhammadiyah, dan Twitter Aswaja TV. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kyai, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Batang, Belajar Muhammadiyah. Menyikapi tingginya angka penganguran di Indonesia, Pemerintah melalui Direktorat Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Tenaga Kerja Sektor Informal Ditjen Binapenta dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI menyelenggarakan kegiatan Gerakan Penanggulangan Pengangguran dan Sosialisasi Tenaga Kerja Indonesia.

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Binapenta Kemenaker RI, Dinsonakertrans Provinsi Jawa Tengah, Wakil Bupati Batang, Kepala Dinsosnakertrans Batang, Anggota DPRD Kabupaten Batang, jajaran Muspika Kecamatan Limpung, tokoh agama dan tokoh masyarakat, kepala desa se-kecamatan limpung dan kepala SLTA se-Kab. Batang.

Kegiatan yang ini dilaksanakan di Desa Kepuh Kecamatan Limpung, 18-19 Oktober 2015, terselenggara atas kerja sama? Kemenaker RI, Dinsosnakertrans dan Pimpinan Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Batang. Berbagai rangkaian kegiatan ikut memeriahkan kegiatan ini. Di antaranya adalah Pentas seni Marching Pring (bambu), Barongan dan Majlis Dzikir dan sholawat Rijalul Ansor se-Kabupaten Batang.

Belajar Muhammadiyah

Pada puncak acara disemarakkan dengan kegiatan jalan sehat oleh Wakil Bupati Batang, Soetadi yang diikuti oleh 5000 peserta dengan total hadiah puluhan juta rupiah. Pengunjung juga dimanjakan dengan suguhan pameran berbagai produk lokal dan kerajinan dari 30 Stand UKM di Kabupaten Batang.

Belajar Muhammadiyah

Dirjen dalam sambutanya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi seluruh masyarakat akan pentingnya berdikari dalam penguatan ekonomi. “Dengan mandiri, kita tidak akan selalu memiliki tergantungan kepada orang lain. Terlebih para generasi muda”. Tambahnya.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Batang, Sugiatmo, memaparkan bahwa kegiatan GGP tidak hanya berhenti disini saja, tetapi harus ada pembinaan berkelanjutan terkait dengan perluasan kesempatan kerja, terutama bagi kalangan muda yang rentan terhadap meningkatnya angka pengangguran.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi TKI di Gedung MWC NU Kecamatan Limpung. Kegiatan ini diikuti oleh 300 peserta yang terdiri dari mantan TKI, Perusahaan Jasa TKI, tokoh agama dan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan perwakilan kepala-kepala desa. Pemateri sosialisasi TKI dari Dinsosnakertrans Kabupaten Batang dan Kemenaker RI.

Budi, pemateri dari Kemenaker menyampaikan kepada calon TKI harus selektif dalam memilih PJTKI, negara tujuan dan status pekerja. “Jangan sampai kita jauh merantau, ternyata kita tertipu dan terjebak di negara orang lain, lantaran ilegal. Tidak hanya bapak/ibu yang repot, tetapi pemerintah juga ikut kerepotan,” katanya.? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Makam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren

Jember, Belajar Muhammadiyah



Apresiasi yang luar terhap santri disampaikan oleh Bupati Jember, Faida saat menjadi pembina Apel Santri di alun-alun Jember, Jumat (17/11). Menurutnya, santri merupakan bagian penting dan jumlah yang besar di Kabupaten Jember. 

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren





Oleh karenanya, momentum Hari Santri Nasional, perlu dijadikan tonggak sejarah untuk mendorong santri dalam mengambil peran yang lebih masif di bumi Jember. 



Belajar Muhammadiyah



"Santri bagian penting di Kabupaten Jember. Kita sepakat bahwa membangun Jember tidak lepas dari membangun sumberdaya santri," ucapnya.

Belajar Muhammadiyah





Dalam kesempatan tersebut, Faida menyebut 3 peranan pesantren. Pertama adalah sebagai rumah santri, yaitu tempat belajar, tidak hanya tafaqquh fiddin. Tapi juga tempat belajar ilmu-ilmu yang lain. 





Dikatakannya, banyak lembaga yang menspesifikasikan dirinya sebagai tempat spesialis belajar hanya satu bidang ilmu. 





"Tapi pesantren adalah tempat belajar dan mendalami agama dan ilmu-ilmu lainnya. Jadi komplit," tuturnya.





Kedua, pesantren merupakan lembaga perjuangan. Adalah realitas yang tak terbantahkan bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan santri. 





Katanya, kalau dulu santri berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, tapi sekarang sebagai penjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 





"Sebagai benteng terakhir penjaga NKRI adalah pondok pesantren dan santri," lanjutnya.





Ketiga adalah sebagai lembaga pengabdian di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Ia mengajak masyarakat agar peringatan Hari Santri ini dijadikan momentum kebangkitan Jember sebagai kota santri. 





"Kebangkitan ekonomi kerakyatan akan dimulai dari kebangkitan ekonomi para santri di pondok-pondok pesantren," tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi).  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kyai, Internasional Belajar Muhammadiyah

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Revolusi Mental merupakan bagian dari amal shaleh. Di dalam amal soleh terdapat banyak nilai yang harus dipahami dan diterapkan secara masif.

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh

 

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Aizzudin Abdurrahman ditengah-tengah diskusi pada acara Workshop Finalisasi Penyususnan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/10).

Menurut pria yang akrab disapa Gus Aiz ini, amal soleh merupakan salah satu hal yang mendapat jaminan dari Allah.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menyebutkan bahwa amal soleh ada yang bersifat materil dan non-materil. Oleh karenanya, amal soleh bukan sebagai sub melainkan sebagai tema besar.

“Revolusi mental itu tidak akan menjadi apa-apa kalau tidak didasari oleh niat baik amal soleh tadi,” tegasnya.

Pada acara yang diselenggarakan atas kerja sama PBNU dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini,  Gus Aiz berharap, revolusi mental yang digaungkan pemerintahan Jokowi bisa menjadi motivasi dan terdapat pesan-pesan optimis yang bisa disebarkan kepada masyarakat Indonesia.

Hadir pada acara tersebut Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baedlowi, Sultonul Huda, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna, Wakil Sekretaris LDNU H Moch. Buchori Muslim, Asisten Deputi Pemberdayaan Dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmawansyah. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Humor Islam, Kyai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU

Pendirian Muslimat Nahdlatul Ulama dilalui dengan proses yang tak mudah. Sebelum gagasan ini dilontarkan di forum resmi NU, keterlibatan praktis perempuan di dunia nondemoestik belum menonjol. Kepesertaan Muktamar ke-13 di Menes tahun 1938, forum pertama dimunculkannya ide pendirian organisasi perempuan NU, juga masih didominasi kaum laki-laki.

Tak menonjol bukan berarti tak ada. Sejumlah peran penting sudah dilakukan kaum hawa di lingkungan NU. Mulai dari aktif di dunia pendidikan, dakwah, menjadi tenaga perawat bagi para pejuang kemerdekaan, hingga berperan dalam pasukan gerilya sebagai kurir pesan-pesan rahasia. Hanya saja, “panggung” yang belum tersedia membuat kiprah para perempuan kala itu tak terlihat, bahkan belum terkonsolidasi dengan baik.

Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU

Para kiai NU pun zaman itu belum banyak yang memiliki fokus pada pentingnya peran perempuan dalam kancah perjuangan dan organisasi. Menurut buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa" (1996), hanya sebagian kecil di antara mereka yang memahami kebutuhan akan hadirnya gerakan kaum perempuan. Di antara sebagian kecil tersebut ada tiga nama kiai: KH Mohammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.

Belajar Muhammadiyah

Ketiga kiai yang terkenal dengan kealiman dan cara berpikirnya yang maju itu turut mendorong semangat kebangkitan perempuan di lingkungan NU. Ada cerita, Kiai Wahablah yang memberikan restu dan motivasi ketika para santri putri hendak membentuk grup drumband. Meskipun, semula inisiatif itu sempat ditolak karena khawatir drumband jadi ajang menampakkan aurat.

Kiai Saifuddin Zuhri juga termasuk ulama yang peduli dan apresiatif terhadap kiprah perempuan. Istrinya sendiri, Nyai Solechah, adalah juru kampanye NU (ketika menjadi partai politik) yang mesti terjun ke daerah-daerah dari satu podium ke podium lain. Nyai Solechah dipercaya sebagai salah seorang ketua Pucuk Pimpinan Muslimat NU (1956-1989) yang sebelumnya memimpin ketua Muslimat NU Jawa Tengah.

Senada dengan Kiai Saifuddin, Kiai Muhammad Dahlan juga menjadi pribadi yang nyaman buat istrinya untuk berperan banyak dalam organisasi. Nyai Chodijah Dahlan diberi amanat sebagai ketua pertama Muslimat NU kala resmi menjadi badan otonom NU pada tahun 1946, meski tak lama memimpin karena wafat pada tahun 1948. Kiai Dahlan yang juga ketua PBNU lebih dari sekadar pendorong berdirinya Muslimat. Ia juga merangkap sebagai guru organisasi bagi istrinya. Selepas ditinggal Nyai Chodijah, istri kedua Kiai Dahlan juga menerima keluasaan yang sama. Nyai Aisyah Dahlan aktif menjadi salah satu ketua Muslimat NU pada kongres di Semarang. Ia mempelopori berdirinya Himpunan Dakwah Muslimat Indonesia (Nadwah).

Belajar Muhammadiyah

Kai Dahlan bersama A Azis Diyar merupakan penyusun Peraturan Khususi Nahdlatul Ulama Muslimat yang menjadi anggaran dasar pertama Muslimat NU. Peraturan Khususi ini disetujui dan ditandatangani oleh KH Muhammad Hasyim Asyari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Dokumen inilah yang diubah dan diperbaiki sesuai perkembangan dan menjadi AD/ART Muslimat NU hingga searang.

Tiga kiai ini menjadi oase bagi kebangkitan organisasi perempuan di NU. Namun, bukan berarti para perempuan bersikap pasif. Justru kebangkitan tersebut lahir dari inisiatif perempuan NU sendiri, terutama sejak Nyai Hajjah R Djuaesih secara berani dan tegas berpidato di atas mimbar Muktamar NU ke-13 soal signifikansi peran perempuan sebagaimana laki-laki di medan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah dan bangsa secara umum. Dari gagasan ini, bentuk formal Muslimat NU terus berkembang, dari diakuinya rumusan organisasinya hingga menjadi badan otonom dengan segenap keleluasaan untuk mengatur dirinya sendiri. Muslimat NU pun menjadi organisasi yang kian bersinar, dan memainkan peran-peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Olahraga, News, Kyai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Imam Suprayoga mengatakan, mahasiswa yang menerapkan pola pesantren termasuk memakai sarung dan menghafal Al-Qur’an memiliki kecerdasan di atas mahasiswa pada umumnya. Kecerdasan tersebut membuahkan prestasi, di antaranya dalam perolehan IPK, kemampuan berbahasa, dan kemampuan dalam menyusun skripsi.

“Saya masih ingat pertama kali mahasiswa yang diberi hafalan Al-Quran dan hafal 30 juz ternyata mahasiswa dari jurusan Fisika. Tahun berikutnya yang terbaik dari jurusan Matamatika hafal 30 juz. Tahun berikutnya mahasiswa Matematika lagi, kemudian mahasiswa jurusan Ekonomi hafal 30 juz, bahkan skripsinya ditulis dalam bahasa Arab,” katanya saat mengisi Seminar Sarung Nasional bertema “Sarung sebagai Identitas Budaya Indoneia” yang diselenggarakan Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (6/4) lalu.

Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas

Selain berprestasi hafal Al-Qur’an dan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi, ada juga mahasiswa? yang menulis skripsi dengan sembilan bahasa, yaitu Bahasa Korea, Mandarin, Inggris, Jepang, Arab, Rusia, Indonesia, Jawa, dan Bahasa Banyuwangi. Sehingga pihak kampus sampai kesulitan mencari penguji.

“Ternyata memang luar biasa anak pesantren kalau dipelihara kok bisa menulis skripsi sembilan bahasa. Ya memang satu. Tetapi satu ini perlu disampaikan, alumni pesantren yang sarungan itu loh, jadi sarungan juga hebat loh,”? ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Dari berbagai prestasi tersebut, Imam lalu membuka kesempatan kepada para mahasiswa yang hafal Al-Qur’an minimal 10 juz untuk dibebaskan seluruh biaya pendidikanya.

“Saya pikir waktu itu yang bisa hafal Al-Qur’an antara 10 sampai 15 mahasiswa. Ternyata waktu itu sudah 70 dan pernah mencapai 150 mahasiswa,” kata Imam. Kembali ucapannya disambut tepukan riuh hadirin.

Pada kesempatan tersebut hadir pula sejarawan yang juga Ketua Lesbumi KH Agus Sunyoto, Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi; Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Muhdori; dan Ahmad Nusolahardo dari Behaestex.

Ketua LTM PBNU KH Mansur Sairozy mengatakan, seminar sarung merupakan langkah awal dari rencana besar festival sarung yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Ia menegaskan LTM PBNU terus menerus melakukan upaya inovasi dalam rangka makmurkan rumah Allah yakni masjid dan musala. (Husni Sahal/Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Kyai Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock