Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) 2017 di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (19/1).

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus

Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU) DKI Jakarta H Marzuki Usman dalam sambutannya menyampaikan, agar para pengelola STAINU punya mimpi.?

Sebagaimana kata Eleanor Roosevelt, kutipnya, bahwa masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka. “Saya ingin kampus STAINU ada di 420 kabupaten,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Marzuki juga menekankan agar STAINU Jakarta mampu mengisi dunia. “Kita harus kerja keras, kita harus mengisi dunia,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Pada kesempatan yang sama, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif menginformasikan akan adanya tambahan dua fakultas lagi di STAINU Jakarta, yaitu Fakultas Humaniora dan Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Sebagai lembaga pendidikan yang masih berusia muda, Syahrizal berharap tahun ini STAINU Jakarta mendapat apa yang menjadi kebutuhan kampus sehingga bisa dikembangkan lebih bagus lagi.

STAINU dengan motto Unggul, Tangguh, dan Populis mempunyai karakter tersendiri, yaitu kewirausahaan. “Kita punya karakter kewirausahaan, kita harus mampu,” jelasnya.?

Belajar Muhammadiyah

Hadir dalam kesempatan Raker tersebut Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Wakil Ketua I STAINU Imam Bukhori, Wakil Ketua II Arif Rahman, Wakil Ketua III Ahmad Nurul Huda, dan Wakil Ketua IV Aris Adi Leksono.?

Di samping itu hadir juga Kepala Program Studi (Kaprodi) PAI Dede Setiawan, Kaprodi Ahwalul Syakhsiyah Irfan Hasanuddin, Kaprodi Perbankan Syariah Khairunnisa, perwakilan Pascasarjana STAINU Jakarta Idris Masudi, dan beberapa dosen. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2018

ASEAN Sepakati Konsensus Perlindungan Pekerja Migran

Manila, Belajar Muhammadiyah. Salah satu keputusan penting dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-31 ASEAN di Manila, Filiphina, adalah disepakatinya konsensus perlindungan bagi pekerja migran di seluruh negara ASEAN. Dokumen yang berjudul ASEAN Consensus on the Promotion and Protection of the Rights of Migrant Workers itu ditandatangani oleh sepuluh kepala negara ASEAN, Selasa (14/11) malam.

Penandatanganan menjadi rangkaian acara terakhir, sebelum penutupan KTT yang dipusatkan di Philippines International Convention Center, Manila.

ASEAN Sepakati Konsensus Perlindungan Pekerja Migran (Sumber Gambar : Nu Online)
ASEAN Sepakati Konsensus Perlindungan Pekerja Migran (Sumber Gambar : Nu Online)

ASEAN Sepakati Konsensus Perlindungan Pekerja Migran

“Ini merupakan keputusan yang sangat maju dalam rangka meningkatkan perlindungan hak-hak pekerja migran di ASEAN,” kata Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri usai mendampingi Presiden Jokowi menandatangani dokumen tersebut.

Perlindungan yang mengacu pada prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia itu, tak hanya diberikan kepada pekerja migran, namun juga kepada keluarganya. Hal ini juga sejalan dengan Konvensi PBB 1990 tentang Perlindungan dan Pemajuan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya.

Belajar Muhammadiyah

Perlindungan serupa juga diberikan kepada pekerja migran undocumented, yakni pekerja migran yang masuk dan tinggal untuk bekerja di suatu negara secara ilegal, atau pekerja migran yang awalnya legal namun berubah menjadi ilegal. Menurut Menteri Hanif, penandatangan konsensus tersebut sekaligus membuka kebuntuan panjang pembahasan isu ini. 

Selama 10 tahun, belum terjadi kata sepakat karena dipicu perbedaan kepentingan antara negara pengirim pekerja migran (Indonesia dan Filiphina) dengan negara penerima (Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam). Ide perlindungan pekerja migran ASEAN diadopsi oleh para pemimpin anggota ASEAN pada KTT ke-12 tahun 2007 di Cebu, Filiphina, atau yang dikenal sebagai Cebu Declaration.

Belajar Muhammadiyah

Deklarasi itu mengamanatkan perlunya ASEAN memiliki instrumen terkait peningkatan perlindungan hak-hak pekerja migran. Konsensus ini sama-sama menghendaki adanya peningkatan perlindungan kepada pekerja migran, baik oleh negara pengirim, maupun negara penerima pekerja migran. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Santri, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 17 Februari 2018

Banyak Investasi Bodong, Lakpesdam NU Kota Pasuruan Ajak Warga Melek Investasi

Pasuruan, Belajar Muhammadiyah - Maraknya kasus investasi fiktif atau bodong di tengah masyarakat direspon secara tegas dan cepat oleh Lakpesdam NU Kota Pasuruan. Lakpesdam NU Kota Pasuruan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan salah seorang angoota DPR RI untuk menjaga masyarakat dari penipuan dalam investasi, Jumat (4/11).

Lakpesdam NU Kota Pasuruan menggelar diskusi publik bertajuk "Menciptakan Investasi Aman Menuju Masyarakat Berdaya Saing Global" di Gedung Gradhika Bhakti Praja Kota Pasuruan.

Banyak Investasi Bodong, Lakpesdam NU Kota Pasuruan Ajak Warga Melek Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Investasi Bodong, Lakpesdam NU Kota Pasuruan Ajak Warga Melek Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Investasi Bodong, Lakpesdam NU Kota Pasuruan Ajak Warga Melek Investasi

Tampak hadir sebagai narasumber anggota DPR RI Komisi XI H Mukhamad Misbakhun, Pimpinan OJK Regional Jawa Timur Dani Surya Sinaga, dan Dr Nurul Badriyah Bayhaqi dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

Belajar Muhammadiyah

Wakil Ketua PCNU Kota Pasuruan H Muhammad Naliur Rahman menekankan agar masyarakat khususnya warga NU untuk melek investasi.

Belajar Muhammadiyah

"Warga NU itu jangan hanya fokus pada investasi akhirat, tapi kita juga harus fokus pada program investasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan umat," kata kiai muda ini.

Misbakhun menekankan pentingnya investasi yang sehat kepada nahdliyin "Warga NU harus berinvestasi secara aman, cerdas, dan tepat, serta bersikap kritis dengan menanyakan perizinan dari OJK pada lembaga investasi."

Sedangkan Dr Nurul Badriyah mengangkat pentingnya gerakan untuk menumbuhkan lembaga investasi berbasis lokal dalam era global. "Lembaga investasi lokal harus tetap eksis di tengah arus globalisasi untuk membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat," kata Ning Nurul.

Dani Surya menjelaskan tugas dan fungsi OJK kepada para peserta diskusi yang terdiri atas unsur PCNU Kota Pasuruan, mahasiswa, dan akademisi di Kota Pasuruan.

Menurut Ketua Lakpesdam NU Kota Pasuruan Waladi Imaduddin, investasi bodong makin banyak menggerogoti ekonomi masyarakat. "Beragam motif investasi fiktif bahkan yang berkedok agama menjadi momok bagi kita semua dan perlu gerakan bersama untuk menciptakan iklim investasi yang sehat."

Diskusi publik ini dibuka secara langsung oleh Walikota Pasuruan H Setyono. Ia mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur oleh investasi yang menjanjikan keuntungan yang tidak rasional. (Zulkarnain Mahmud/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan

Rembang,? Belajar Muhammadiyah. Dalam kehidupan masyarakat, Nahdlatul Ulama dengan madzhab Ahulussunnah wal Jamaah mensinergikan semangat keislaman (ukhuwah islamiyah) dan kebangsaan (ukhuwwah Wathaniyah). Keduanya harus selalu beriringan tidak berjalan sendiri-sendiri.

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU Dr KH Said Aqil Siroj dalam acara penutupan Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) NU jawa Tengah Sabtu (30/3) malam.

Kang Said mengutarakan mengembangkan islamiyah tanpa wathoniyah akan menjadi ekstrim sementara wathoniyyah tanpa islamiyah akan menjadi sekuler.?

Belajar Muhammadiyah

“Bicara Islam saja akan dihantam, sedang bicara wathoniyah saja kasihan anak cucu kita tidak tahu agama karena akan menjadi sekuler,”tandasnya.

Bangsa Indonesia,katanya, sebagai gerbong paling timur ummat Isam dengan ? ratusan suku, ragam agama dan pulau yang masih terjaga dari perpecahan. Hal ini dikarenakan masih adanya ikatan civil society yang memiliki kepentingan kebangsaan bukan politik kekuasaan.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya sangat penting sekali ber-NU. Kita harus ? bangga menjadi NU karena ? yang paling benar adalah NU. Benar dalam ? cara beragama, bermasyarakat serta berpolitik kebangsaan.”tegasnya.

Menyinggung 100 tahun usia NU, Kang Said menegaskan selama tidak luntur memegang prinsip sepanjang masa, orang lain masih memperhitungkan Nahdlatul Ulama. Dijelaskan, prinsip itu adalah pesantren dengan karakter kemandirian , kesederhanaan,keikhlasan, percaya diri ? dan tidak membebani orang lain.

“Semua itu habitat kita, karakter kita, kepribadian kita yang harus dipertahankan,” tandasnya lagi.

Musykerwil NU jawa Tengah dilaksanakan mulai Jum’at–Sabtu (29-30/3) di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang.?

Hadir sejumlah tokoh dan menteri, turut memberikan pengarahan antara lain Ketua MK Mahfudz MD, Mendikbud M.Nuh,Menteri Agama H. Suryadarma Ali dan Mustasyar PBNU KH Maemun Zubeir selaku tuan rumah kegiatan.

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Santri, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Hubungan Indonesia dan Malaysia kerap terganggu karena persengketaan wilayah, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negeri malaysia dan klaim budaya. Permasalahan tersebut sudah ditangani kedua belah pihak, tapi sering muncul kembali di lain waktu.

Menurut Direktur Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur hal itu diesebabkan persoalan diselesaikan dengan formal dan seremonial. “Penyelesaian masalah tidak sampai ke akar rumput,” katanya selepas diskusi Informal Cultural Meeting bertema Persepsi Pemuda Indonesia terhadap Hubungan Indonesia Malaysia di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (26/8).

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia

Ghofur berpendapat, penyelesaian itu harus diselesaikan melalui people to people dengan pendekatan dialogis, membangun persepsi bersama karena kita sama-sama saudara serumpun. “Pemerintah tidak bisa bergerak tanpa kemitraan dengan masyarakatnya. Di sisi lain Indonesia dan Malaysia itu satu rumpun,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap Pemerintah Republik Indonsia mau mendukung peran-peran yang dilakukan seperti LKSB. Di Malaysia, menurut Ghofur sudah dilakukan melalui semacam Kemenpora-nya. “Sudah saatnya pemerintah kedua negara memberikan perhatian untuk pertemuan kebudayaan,” ungkapnya.? ?

Belajar Muhammadiyah

Hadir pada diskusi tersebut perwakilan dari Malaysia, yaitu Prof Shaharuddin Badruddin dan Prof Mohammad Nor Othman, serta Prof Mazlan Che Soh. Ketiganya dari Universitas IT Mara Malaysia. Hadir pula berbagai komponen, mulai dari PMII, PMKRI, HMI, Gerak Api, perwakilan Universitas Indonesia, Universitas Pertahanan, Universitas At-Thawalib, Intermestc Review, dan aktivis 98.

LKSB merupakan lembaga kajian dan konsultasi yang concern dengan persoalan-persoalan strategis bangsa; sosial politik, ekonomi, Sumber Daya Alam (SDA), pertahanan keamanan, hubungan internasional hukum dan HAM, agama dan budaya dan lain-lain.

Lembaga ini mendedikasikan karya-karyanya untuk perubahan yang berkeadaban bagi masa depan rakyat dan pemerintahan Indonesia. LKSB adalah organisasi bervisi kebangsaan dan bermisi kemanusiaan serta bertujuan kerakyatan. Ia adalah organisasi non-pemerintah, non-keagamaan dan bersifat semi-profit. (Abdulllah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam

Padang Pariaman, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj berpendapat, agama tidak perlu dikonstitusikan. Tapi  agama penting diamalkan oleh pemeluknya di dalam negara itu.

Baginya, negara yang secara formal berdasarkan Islam tapi selalu konflik, masyarakatnya banyak korupsi, lebih buruk ketimbang negara yang secara formal tidak berdasarkan Islam tapi  bebas dari ketidakdamaian, hukum tegak,  penduduknya dikenal dengan santun dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam

Nabi Muhammad sendiri, sambungnya, membangun negara di Yastrib (nama awal Madinah) bukan Negara Islam melainkan Negara Madinah, yakni negara yang beradab. Di sana sudah ada berbagai suku dan agama yang berbeda hidup berdampingan. Ada kaum Muhajirin dari Mekkah, kaum Ansor, Yahudi dan berbagai suku.

Belajar Muhammadiyah

"Nabi sudah mengajarkan tidak boleh menyakiti dan menzalimi umat non-muslim. Mereka hidup berdampingan satu sama lain," kata Kang Said, sapaan akrabnya, di hadapan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (9/1), dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Belajar Muhammadiyah

Kiai asal Cirebon ini juga menjelaskan bahwa Islam dan nasionalisme harus bersinergi. Sehingga keutuhan sebuah bangsa dapat berlangsung terus. Negara yang hanya berlabel Islam, tidak menjamin akan adanya keutuhan di antara anak-anak bangsa tersebut.

Kang Said memberikan contoh, negara Afganistan yang terdiri dari 100 persen penduduk Muslim kini diliputi suasana saling bermusuhan dan berkonflik karena rendahnya rasa nasinalisme. Begitu pula negara Somalia, yang seluruh masyarakatnya beragama Islam juga mengalami nasib yang menyedihkan pula karena sesama warganya terus berkonflik.

"Kondisi yang menyedihkan saat ini Irak. Ibukotanya Bagdad yang pernah menjadi pusat peradaban Islam kedua dunia dulunya, kini kondisinya amat menyedihkan. Bayangkan di sana terjadi ledakan bom di mana-mana. Ledakan bom di mall, bahkan yang ironisnya  ledakan bom di masjid. Mana ada ajaran Islam membolehkan ledakan bom di masjid, membunuh orang di masjid. Saking tidak amannya lagi di kawasan Irak, banyak warganya melarikan diri ke Eropa. Mereka mencari tempat yang lebih aman untuk hidup. Mereka harus meninggalkan tanah airnya, sekalipun penuh risiko dan tantangan," katanya.

Kang Said juga menyinggung soal situasi di Syiria yang sudah dilanda perang saudara sejak 4 tahun belakangan. Perang tersebut telah berdampak pada banyaknya warga yang terbunuh dan kerugian yang luar biasa. "Dari contoh tersebut, konflik antar warga dalam satu negara terjadi karena tidak adanya rasa nasionalisme/kebangsaan di antara warganya. Mereka tidak mencintai tanah airnya,” ujarnya.

Berbeda dari konsep  yang sudah diajarkan para kiai dan ulama terdahulu di Indonesia. Mereka, katanya, berpendapat Islam harus diperjuangkan tapi tanah air pun harus dibela mati-matian keutuhannnya. Konsep ini sudah dipikirkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asyari, jauh sebelum kelahiran Negara Indonesia.

"Ketika bangsa Belanda datang lagi ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, maka KH Hasyim Asyari mengumpulkan sejumlah kiai-kiai dari Sumatera, Jawa, Madura, dan lain-lainnya pada pertengahan Oktober 1945. Hasilnya, 22 Oktober 1945 keluar  Resolusi Jihad yang menyebutkan, setiap umat Islam wajib membela tanah air dari serangan bangsa Belanda  yang kembali ingin menjajah. Mereka yang tewas dalam pertempuran melawan bangsa penjajah, adalah mati sahid. Sedangkan orang yang turut membantu musuh (Belanda), adalah pengkhianat tanah air. Hukumnya, boleh dibunuh," papar Kang Said.

Acara dihadiri Pemimpin Pesantren Nurul Yaqin Syekh H Ali Imran Hasan, Ketua Yayasan Pesantren Nurul Yaqin Idarussalam, Ketua PWNU Sumbar Maswar, Bupati Padang Pariaman terpilih Ali Mukhni, warga, alumni, dan ratusan santri Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen Belajar Muhammadiyah

Kamis, 11 Januari 2018

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

Jakarta,Belajar Muhammadiyah

Penulis buku Islam Indonesia Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional, Imdadun Rahmat menilai, karakter Islam transnasional yang cenderung kaku, hitam-putih, tekstual, dan intoleran menjadi bahaya bagi keberlangsungan negara Indonesia yang dikenal plural.

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

Selain itu, Islam transnasional bisa menggerus watak Islam Indonesia yang cenderung ramah dengan budaya lokal.

“Islam transnasional berpretensi menghabisi Islam lokal, Islam yang telah mengalami proses dialog, proses akulturasi positif dengan konteks lokal,” kata Imdad seusai peluncuran dan bedah buku itu di Jakarta, Senin (9/10).

Belajar Muhammadiyah

Imdad menjelaskan, Islam transnasional juga menganggap bahwa praktik Islam di Nusantara itu bukan Islam yang sempurna (kaffah) karena sudah bercampur dengan unsur-unsur budaya dan tradisi masyarakat setempat. Kemudian, mereka menawarkan Islam transnasional yang memiliki slogan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis sebagai Islam yang sempurna (kaffah).

Lulusan Pesantren Jumput Pamotan, Rembang itu menilai, konsep Islam kaffah yang ditawarkan oleh kelompok Islam transnasional juga merupakan Islam yang berakar pada budaya lokal, yaitu budaya di Arab dan Timur Tengah.

Belajar Muhammadiyah

“Kemudian dipersepsikan sebagai Islam yang paling otentik, yang paling asli, murni, dan tidak tercampur dengan unsur-unsur di luar Islam,” jelasnya.

Perkuat Islam moderat ala Indonesia

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2016-2017 itu berpendapat, Islam transnasional dengan segala karakternya tersebut tidak sesuai dan cocok dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, Islam moderat (wasathiyah) ala Indonesia harus diperkuat untuk menangkal Islam transnasional itu.

Ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, membangun argumen Islam wasathiyah yang kuat baik dari sisi sosiologi ataupun sisi teologi.

“Buku yang saya karang ini adalah kontribusi untuk membangun argumen Islam wasathiyah secara sosiologis dan teologis,” urainya.

Bagi Imdad, melalui buku ini ia berpendapat bahwa Islam Indonesia dengan karakter moderasi adalah juga Islam yang paripurna (kaffah). Ada delapan ranah budaya Islam: Arab, Persia, Turki, Anak Benua India, sub-Sahara Islam, China Islam, belahan dunia Barat, dan Nusantara.

“Sesungguhnya (Islam Nusantara) sama sahnya dengan yang ada di Arab ataupun yang lainnya. Maka yang paling tepat untuk Indonesia ya Islam Nusantara,” ucapnya.

Menurut dia, Islam yang paripurna (kaffah) bagi Indonesia bukanlah Islam yang diimpor dari tempat lain dengan segala unsur budaya yang tercampur di dalamnya, tetapi Islam Nusantara yang telah mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.

Kedua, mensosialisasikan argumen Islam wasathiyah. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tahu dan tidak terkecoh dengan kelompok Islam transnasional.

“Dan membentengi masyarakat dari pengaruh mereka,” tukasnya.

Ketiga, de-transnasionalisasi Islam transnasional. Imdad menerangkan, harus dilakukan penyadaran terhadap mereka yang meyakini bahwa Islam transnasional adalah kebenaran tunggal untuk Indonesia.

“Harus disadarkan untuk kembali kepada Islam yang cocok untuk Indonesia, yaitu Islam Nusantara,” terangnya.

Terakhir, pemerintah harus membuat regulasi untuk membendung radikalisasi dan kekerasan yang ditimbulkan oleh Islam transnasional.

“Harus ada sinergi antara pemerintah, ormas, dan masyarakat,” tutupnya. (Mukhlison Rohmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia Bahas Penyakit Sosial

Semarang,Belajar Muhammadiyah

Dewasa ini, umat manusia dihadapkan pada pilihan yang banyak. Salah satunya, apakah dia betul-betul total meninggalkan masa lampau dan menerima perubahan sepenuhnya. Atau yang kedua, dia menolak sepenuhnya hal-hal yang baru, dengan tetap merengkuh apa yang diyaknininya di masa lampau. Atau, menyikapi masa lalu dan prubahan secara seimbang.

Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia Bahas Penyakit Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia Bahas Penyakit Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia Bahas Penyakit Sosial

Demikian ditegaskan Muhsin Jamil saat mengisi seminar nasional dalam rangka Pekan Ilmiah Mahasiswa Tafsir Hadis Nasional, Kamis (17/11) sore. Kegiatan yang berlangsung di UIN Walisongo ini berlangsung tiga hari 17-19 November 2016.

"Hari ini misalkan, fenomena radikalisme agama yang terjadi, sebagian diantaranya merupakan penolakan terhadap hal-hal yang dianggap baru di mana menurut alam pemahamannya adalah sesuatu yang membahayakan pembaharuan yang bersifat pasif", lanjut Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo ini.

Belajar Muhammadiyah

Sementara, Waryono Abdul Ghafur, narasumber lain dalam seminar yang mengusung tema "Al-Quran, Hadis dan Patologi Sosial" ini mengatakan, kalau kita baca patologi sosial dari kacamata agama, setidaknya itu ada dua macam pembacaan.

Belajar Muhammadiyah

Dalam Al-Quran, lanjut Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga ini, manusia bukan hanya memiliki potensi positif, namun juga negatif. Misalnya, manusia itu lemah, mudah berkeluh kesah, kurang bersyukur dan seterusnya. Inilah yang mengakibatkan dia melakukan perilaku yang menyimpang dan tidak pada umumnya.

"Jadi dalam konteks apapun, ketika manusia itu kuat secara pengetahuan, kuat iman dan mempunyai pergaulan yang bagus, maka akan sulit untuk dia melakukan sesuatu yang menyimpang," katanya kepada sedikitnya seratus lima puluh peserta yang hadir dari seluruh Indonesia.

Kegiatan yang dibuka Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasarudin Umar ini merupakan salah satu upaya dari Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) dalam mengkaji isu-isu aktual melalui kacamata Al-Qur’an dan Hadis.

"Tidak hanya tugas, namun penting dan mendesak bagi mahasiswa Ilmu Al-Qur’an maupun hadis untuk selalu mengkaji fenomena yang terjadi di masyarakat dan menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai solusi pemecah masalah yang terjadi", tandas Sekjen FKMTHI, Enok Ghosiyah saat ditemui di luar forum. (Anwar Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

Jepara, Belajar Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Jepara, Hidayatun Nikmah, menyampaikan bahwa dalam masa kepengurusannya, bersama Ikatan Pelajar NU (IPNU) pihaknya akan menerbitkan media berupa buletin. Hal ini disampaikannya usai pelantikan pada Ahad (14/9), di Pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

“Sebenarnya keinginan untuk hal ini sudah ada sejak kepengurusan periode kemarin. Hanya saja, kemarin terkendala karena banyak pengurusnya yang sibuk bekerja. Nah, semoga tahun ini rencana penerbitan buletin bisa terlaksana,” paparnya kepada Belajar Muhammadiyah.

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

Menurut Nikmah yang pada kepengurusan periode kemarin juga masuk sebagai Wakil Sekretaris ini, Jepara telah memiliki kader-kader muda NU yang potensial dibidang dunia jurnalistik. Karena itu, ia semakin optimis programnya akan terwujud.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Lisnatul Faundiyah, pengurus Divisi Jurnalistik, telah siap dengan agenda tersebut. Ia sendiri meski belum memahami betul dunia jurnalistik, namun mengaku tertarik dengan tulis-menulis. Ia pun mengatakan bahwa rencananya, untuk enam bulan ke depan akan diadakan pelatihan dan bimbingan sampai matang.

Belajar Muhammadiyah

“Semester pertama, kami akan mengadakan pelatihan dan bimbingan mengenai dunia jurnalistik. Lalu setelah itu baru penerbitan buletin.Belum ada susunan tim redaksi memang, tapi rencana nanti satu bulan sekali kami bakal menerbitkan buletin,” papar Lisna yang dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Kecamatan Mlonggo.

Sebenarnya, PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara pada periode sebelumnya sudah pernah memiliki produk buletin. Namun beberapa tahun terakhir, media tersebut vakum. Kini, Nikmah, Lisna, serta rekanan pengurus lainnya percaya, bahwa mereka mampu menghidupkannya kembali.

Pelantikan hari itu di susul dengan sarasehan bertajuk “Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Tetap Tegaknya NKRI”, dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja. Acara pelantikan dan sarasehan diikuti oleh segenap Badan Otonom (Banom) NU, Pejabat Pemerintahan, serta pengurus IPNU-IPPNU di pelbagai tingkatan sekabupaten Jepara. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kementerian Agama akan kembali menggelar  Pekan Olahraga Seni Pesantren Nasional (Pospenas). Kali ini, gelaran Pospenas yang ke-7 ini akan diselenggarakan di Provinsi Banten. Proses persiapan terus dilakukan dan sampai saat ini telah mencapai 60–70%.

Hal ini diketahui saat Rapat Koordinasi Pospenas, di Ruang Sidang Setjen Kementerian Agama, Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (07/03) sore. Hadir dalam rapat tersebut, perwakilan dari Kemenag Pusat yang dipimpin Direktur PD Pontren yang juga Ketua I Panjatapnas Pospenas, Mohsen, Kakanwil Kemenag Banten, Agus Salim, Perwakilan dari Kemenko PMK, Kemenpora, Kemendikbud, Kemenpar, Kemendagri, Pemrov Banten dan lain sebagainya. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Popenas sendiri disepakai digelar pada 22–28 Oktober 2016 mendatang. Masih didiskusikan, tentang Maskot Pospenas. Sementara, ada usulan Maskot diberi nama Si Udin, yang merupakan kependekan dari Santi Indoensia Ulet Dedikatif Integritas dan Nasionalis.

Sebelumnya, Sekjen Nur Syam menyatakan, Pospenas diadakan bertujuan untuk membina para santri terutama yang ada di pondok pesantren untuk menggali potensi di bidang olahraga dan seni. “Yang terpenting adalah meningkatkan ukhuwah islamiyah di kalangan santri, serta meningkatkan budaya berolahraga dan seni yang bernuansa islami,” terang Sekjen.

Selain itu, Pospenas juga digelar untuk memberikan  apresiasi dan mengembangkan khazanah budaya bangsa. “Pospenas ini adalah salah atu bagian dari membangun manusia yang beriman dan bertakwa, sehat jasmani dan rohani, berkualitas unggul, sportif, dan berdaya saing tinggi,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Gubernur Banten Rano Karno beberapa waktu lalu juga berjanji, Banten siap menjadi tuan rumah yang sukses. Baik sukses pelaksanaan, sukses prestasi, sukses ekonomi maupun administrasi. 

Dalam Pospenas VII ini kali, akan mempertandingkan 11 cabang olahraga, yakni atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, futsal, sepak takraw, tenis meja, pencak silat, senam santri, dan panahan. Sementara 12 cabang seni yakni kasidah, hadrah, stand up comedy, pidato tiga bahasa, seni lukis islami, cipta puisi, kaligrafi hiasan mushaf Alquran, kriya, fragmen, pakeraf, dan fotografi Islam. Red: Mukafi Niam

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Surabaya, Belajar Muhammadiyah

Sabtu tanggal 13 Mei 2017 bertepatan dengan 16 Syaban 1438 H merupakan puncak acara Haul Agung Sunan Ampel. Kegiatan pada hari kedua ini dimulai dari bada Subuh dengan khataman Al-Quran bil ghoib yang bertempat di Masjid Agung Sunan Ampel bangunan lama (pria) dan bangunan baru (wanita).

Pada sore harinya, bada Ashar, diadakan kirab dari Kampung Margi menuju Makam Sunan Ampel. Rangkaian agenda haul Sunan Ampel itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipusatkan di kawasan maqbaroh Sunan Ampel, Surabaya.

Berikutnya acara pembacaan napak tilas Sunan Ampel oleh ? Habib Luthfi bin Yahya, bertempat di Makam Sunan Ampel. Setelah isya, ada pengajian umum di bangunan lama Masjid Agung Sunan Ampel.

Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Habib Luthfi tepat di samping pusara Raden Rahmat, nama Sunan Ampel, menyampaikan dengan sangat tegas bahwa jangan coba-coba menghancurkan Indonesia selagi masih ada Sunan Ampel, Walisongo dan para ulama.

"Sunan Ampel sudah ratusan tahun meninggalkan kita. Tapi beliau mampu mempersatukan bangsa. Mampu meningkatkan perekonomian umat," lanjut Habib Luthfi.

Belajar Muhammadiyah

Masyarakat dihimbau agar selalu mengingat pesan dan meninjau sejarah yang pernah dilakukan oleh para Walisongo saat syiar agama Islam di Tanah Air yang penuh kedamaian.

Selain ribuan umat Islam dari Surabaya dan daerah lainnya, tampak hadir juga Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, pengurus PWNU Jatim dan beberapa masyayikh dan habaib yang lain.

Belajar Muhammadiyah

"Saya sangat bersyukur berkesempatan hadir dalam acara haul Sunan Ampel yang ke 568. Ini tentu tradisi yang sangat baik, terus dijaga, mudah-mudahan kita terus mendapat berkah," kata Menag di Makam Sunan Ampel, Sabtu (13/5) sore.

Menilik sejarah panjang penuh dengan keindahan tersebut, dari sunan Ampel dan walisongo masyarakat dan bangsa, saatnya semua untuk belajar menyatukan umat terkait peneguhan identitas diri, harmoni kehidupan keagamaan dan kebangsaan.

Islam yang dibawa oleh Walisongo tidak mengajarkan kemarahan, tetapi keramahan; tidak memukul, tetapi merangkul; tidak mengejek, tetapi mengajak; tidak eksklusif (tertutup/kaku), tetapi inklusif (terbuka/luwes); dan tidak menggurui, namun menjamui.(Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kiprah dan perjuangan melalui Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) hendaknya bukan hanya untuk masa sekarang. Namun juga untuk masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, LPTNU harus tahu apa kira-kira yang akan terjadi di masa depan.

Hal itu diungkapkan Penasihat LPTNU M. Nuh dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LPTNU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (16/11) sore.?

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

“Kalau tidak begitu, kasihan anak-anak kita. Ibarat menugaskan orang pergi ke Jepang begitu sampai di Jepang uang yang dibawa tidak laku,” kata Nuh.

Itu sebabnya, lanjut Nuh, pendidikan tinggi NU harus berorientasi ke depan, agar hasil pendidikan tersebut cocok dengan masa depan.

Nuh menyebut ada beberapa alasan mendasar mengapa pendidikan tinggi NU harus mengacu kepada masa depan. Salah satunya berdasarkan hasil sebuah survey yang dirilis tahun 2016 bahwa persoalan makin rumit, sementara waktu yang diperlukan semakin cepat.

Belajar Muhammadiyah

“Itu yang harus menjadi dasar dalam membekali anak-anak kita. ? Kalau enggak, anak-anak kita akan menjadi generasi expired,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut Nuh menyampaikan hasil pendidikan adalah ilmu dan keterampilan. Sementara ilmu dan keterampilan ada masanya, sehingga bisa saja dibuang.

“Misalnya pesawat televisi tabung besar sekarang sudah ganti semua. Transistor juga sudah enggak dipakai. Kecuali sikap yang nggak akan dibuang sampai mati.”

Nuh mendorong agar perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan kemampuan orde tinggi. Anak-anak harus kreatif dan diasah intuisinya. Sering intuisi dulu baru logika. Ada juga logika dulu baru intuisi. Jangan sampai mendidik mereka dengan cara yang tidak sesuai.

Nuh juga mendorong agar perguruan tinggi NU membuka keilmuan hingga jenjang S2 dan S3, khususnya untuk perguruan tinggi yang sudah sehat finansial, organisasi, dan akademik.

Nuh berkeyakinan bahwa peningkatan kapasitas perguruan tinggi adalah bagian dari Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) yang secara destingtif menjadi kekhasan NU, selain Nahdatul Wathon (kebangkitan tanah air), dan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Fragmen, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Rumah Sakit Islam NU Demak 23 Tahun Mengabdi

Demak, Belajar Muhammadiyah. Memperingati harlah ke-23 tahun, Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak meresmikan pembukaan ICU, CT Scan dan USG 4 Dimensi, Selasa (23/5). Disaksikan jajaran karyawan rumah sakit dan segenap warga NU, pita peresmian ini digunting langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Dalam memperingati harlah ke-23 RSI NU Demak sekaligus harlah ke-88 NU di lapangan rumah sakit, Kang Said mengajak warga NU untuk mengimplementasikan ajaran NU dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan yang bertumpu pada ajaran Nabi Muhamad SAW, tanpa menonjolkan kelompok.

Rumah Sakit Islam NU Demak 23 Tahun Mengabdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Sakit Islam NU Demak 23 Tahun Mengabdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Sakit Islam NU Demak 23 Tahun Mengabdi

“Hidup agar bermanfaat bagi umat manusia secara keseluruhan. Sebut saja perjuangan konkretnya, pengembangan rumah sakit NU atau lembaga ekonomi syariah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar,” terang Kang Said di hadapan ratusan hadirin.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut Ketum PBNU mengharapkan warga nahdliyin untuk menjadi pelopor dakwah Islam yang benar sesuai ajaran Rasulullah, rahmatan lil alamin. Dengan demikian, tidak ada lagi warga NU yang salah dalam meneruskan perjuangan ulama Nahdlatul Ulama.

“Percuma hidup kalau tidak untuk berjuang. Tetapi perjuangan jangan disalah artikan dengan perang suci karena perang dalam NU tidak benar. Tiru saja NU Demak dengan mendirikan rumah sakit yang bisa membantu rakyat,” kata Kang Said.

Belajar Muhammadiyah

Peringatan ini melibatkan pengurus NU dari cabang, wakil cabang, ranting, lembaga dan banom NU sekabupaten Demak dan karyawan rumah sakit. Tampak hadir dalam acara ini Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Direktur RSI NU Demak Dr H Abdul Azis, PWNU Jateng, dan Bupati Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen, Olahraga Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Halal bihalal yang digelar Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan, Sabtu (29/7) di Gedung Hasan Aminuddin Center Kecamatan Dringu juga diisi dengan akreditasi oleh PW GP Ansor Jawa Timur.

Halal bihalal yang diikuti oleh seluruh pemuda Ansor hingga tingkat ranting ini dihadiri oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Rudi Tri Wahid bersama pengurus, Ketua GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis bersama Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo Adimas Lutfi Putrajaya dan Ketua GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq.

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor

Ketua GP Ansor Probolinggo Muchlis mengatakan, akreditasi adalah salah satu tolak ukur pengkaderan dan salah satu kewajiban para pengurus untuk tunduk dan patuh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi sehingga dapat memunculkan sebuah kesamaan visi misi? mulai tingkatan cabang hingga ranting.

“Ansor bisa dikatakan hidup dan jalan pengkaderannya jika sudah melakukan jenjang pengkaderan baik Ansor maupun Banser seperti DTD/ PKD, Diklatsar maupun Susbalan Banser, Majelis Dzikir dan shalawatnya berjalan, punya lembaga ekonomi atau badan usaha dan program reguler yang terstruktur,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Muchlis, akreditasi inilah saatnya jajaran pengurus mengukur diri atas ikhtiar yang sudah dilakukan. “Ada pedoman akreditasi oleh GP Ansor Jatim. Kedatangan tim dari GP Ansor Jatim ini adalah melakukan kroscek untuk memperbaiki organisasi baik secara kaderisasi maupun administrasi,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Tidak lupa Muchlis mengajak seluruh kader GP Ansor dan Banser turut mendukung semua program GP Ansor baik di Kabupaten Probolinggo maupun Kota Kraksaan yang telah dicanangkan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

“Kita terus melakukan sinkronisasi program unggulan sebagai pilot project kepemudaan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dan mengawal pada garda terdepan? menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Fragmen, Quote Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Samarinda, Belajar Muhammadiyah. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak mengingatkan masyarakat di daerah itu untuk meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) dari Marawi, Filipina.

"Pertempuran sengit antara pasukan Filipina melawan militan ISIS di Marawi, tentu harus menjadi perhatian. Bukan tanpa alasan, sebab waktu tempuh lokasi pertempuran itu hanya tiga jam dari wilayah pulau terluar Kaltim dan Kalimantan Utara," kata Awang Faroek, di Samarinda, Jumat (16/6).

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Gubernur mengimbau seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok ISIS yang melarikan diri dari Marawi.

"Kita perlu meningkatkan kewaspadaan sebab jangan sampai aksi dan gerakan radikal dari Filipina masuk dan menyusup ke wilayah Indonesia, khususnya Kaltim dan Kalimantan Utara. Kalau itu terjadi maka dikhawatikan nantinya bisa saling mencurigai dan menimbulkan pertentangan antaragama," tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

"Oleh karena itu, para alim ulama, pemuka masyarakat, tokoh pemuda khususnya kepada forum maupun paguyuban yang sudah terbentuk untuk terus meningkatkan kewaspadaan dini, guna mencegah potensi gerakan radikalisme ataupun aksi-aksi terorisme masuk ke Kaltim," terang Awang Faroek.?

Pemprov Kaltim bersama seluruh pemangku kepentingan kata Awang Faroek, menyadari sepenuhnya bahwa tantangan semakin hari kian kompleks dan beragam.?

Termasuk lanjutnya, tuntutan perubahan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, sehingga kewaspadaan dini perlu terus ditingkatkan dalam upaya mencegah timbulnya potensi konflik.?

Pemprov Kaltim tambah Gubernur, terus berupaya membina kehidupan dan kerukunan hidup antarumat beragama.?

"Hal itu guna terciptanya kehidupan masyarakat yang seimbang dan selaras, sekaligus dapat mengatasi berbagai masalah sosial budaya sebagai dampak globalisasi dunia yang mungkin dapat merusak mental bangsa dan menghambat kemajuan umat beragama," paparnya.

Belajar Muhammadiyah

Kaltim, kata dia, saat ini telah terbentuk beberapa forum maupun paguyuban yang memiliki peran dan tugas yang penting dan strategis dalam pembinaan kerukunan hidup antarumat beragama, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terjadi pada daerah lain di tanah Air.?

Gubernur menyatakan, keberadaan forum dan paguyuban yang mempunyai tugas dan fungsi memelihara kedamaian, ketentraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di Kaltim, benar-benar dilaksanakan sesuai dengan tupoksinya.?

"Koordinasi dan dialog bersama dengan pihak terkait pemkab/pemkot, TNI/Polri, termasuk para tokoh dan pemuka agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan forum lainnya, sangat membantu dalam mencegah konflik," tuturnya.?

Hingga saat ini, tandas Awang Faroek, kerukunan hidup umat beragama di Kaltim secara kualitatif dapat dikatakan berjalan cukup baik dan kehidupan antarumat beragama cukup harmonis. Situasi kondusif tersebut harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Fragmen, Syariah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. Sejak hari ini hingga besok (4-5/11), Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menyelenggarakan konferensi. Acara yang diikuti utusan dari sejumlah kota dan kabupaten se-Jatim tersebut berlangsung di Kabupaten Banyuwangi. Tidak semata mengikuti permusyawaratan, peserta juga diajak melepas anak penyu atau tukik di Pantai Boom.

"Ini bentuk kepedulian sarjana NU terhadap kelestarian alam," kata H Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, Sabtu (4/11).

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik

Azwar Anas yang juga Ketua PW ISNU Jatim mengingatkan bahwa kelestarian alam, termasuk di dalamnya menjaga kelangsungan hewan adalah tanggung jawab bersama. "Termasuk sarjana NU," tegasnya.

Sejumlah peserta ikut melepaskan tukik di pantai Boom yang juga menjadi salah satu ikon kota Banyuwangi tersebut. Mereka bergabung bersama rombongan bupati dan Ketua Umum PP ISNU secara bersama-sama melepas puluhan tukik kea lam bebas.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini sebagai rangkaian Konferensi Wilayah ISNU yang sebelumnya dibuka oleh Ketua PWNU Jatim, KH M Hasan Mutawakkil Alallah. Usai pembukaan, kegiatan diisi sarasehan yang menghadirkan Ali Masykur Musa dan Ahmad Suaedy yang juga anggota Board Jaringan GusDurian.

Sebelum sejumlah sidang dilangsungkan, Bupati Anas juga mengajak para peserta untuk melihat dari dekat sejumlah destinasi wisata yang ada di kota tersebut.

Malam ini, agenda konferensi dimulai dengan sidang pleno komisi serta pleno. Sejumlah sidang dilangsungkan di Balai Diklat yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Diperkirakan, Ahad petang, seluruh rangkaian konferensi dapat dituntaskan dengan memilih Ketua PW ISNU Jatim yang baru. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Warta, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Kamis, 07 Desember 2017

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Ulama asal Lebanon Syekh Usamah Abdurrazzaq Ar-Rifa’i menjadi pemateri dalam sesi pertama Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela, Rabu (27/7) Hotel Santika Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam sesi ini, Syekh Usamah membawakan materi tentang Persatuan dan Resolusi Konflik Antar-Umat Islam.?

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Adapun Ruang lingkup pembahasannya, yaitu konsep dan hukum syar’i persatuan antar-umat Islam, bahaya perpecahan dan menyikapi khilafiyah antar umat Islam, antisipasi terhadap faktor-faktor penyebab perpecahan, dan permusuhan antar umat Islam.

“Ada lima faktor persatuan bagi umat Islam saat ini. Pertama, dengan mengedepankan aspek-aspek ushul, tidak sibuk dalam perkara-perkara khilafiyah. Kedua, menumbuhkan rasa cinta tanah air,” ujarnya.

Ketiga, tambahnya, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam berbangsa. Keempat, semangat kebersamaan bersama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kelompok terbesar umat Islam.?

“Kelima, meninggalkan kebiasaan menghakimi mereka yang berbeda paham dan aliran. Selain itu, saya mengusulkan agar kita selektif dalam penyiapan para dai (penyeru agama Islam). Harus ada kriteria yang jelas, berkompeten, terkualifikasi dengan sanad keilmuan yang sahih. Jangan sampai semua orang bebas bicara menyampaikan isi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah tanpa ilmu,” papar Syekh Usamah.

Belajar Muhammadiyah

Ratusan peserta konferensi yang memadati ruangan diskusi begitu antusias mengikuti pemaparan Syekh Usamah terkait problem dunia Islam saat ini. Hotel Santika Pekalongan merupakan tempat khusus diadakannya pemaparan materi dari para ulama internasional. Sedangkan penyampaian materi oleh ulama nasional digelar di Aula Gedung Djunaid Pekalongan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

Pernyataan Sikap Petani Urutsewu

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) dan URUTSEWU BERSATU (USB) adalah organisasi rakyat yang bertujuan menegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen, Jawa Tengah.

Arak-arakan Budaya pada tanggal 16 April 2014 didukung oleh Solidaritas Budaya untuk Masyarakat Urutsewu (Esbumus) sebagai peringatan atas peristiwa penembakan dan penganiayaan terhadap petani Urutsewu tiga tahun yang lalu, yang hingga kini belum diusut tuntas.

Pernyataan Sikap Petani Urutsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Sikap Petani Urutsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernyataan Sikap Petani Urutsewu

Dalam peristiwa 16 April 2011, 6 petani dikriminalisasi, 13 orang luka-luka (6 di antaranya terkena peluru karet), 12 sepeda motor dirusak, serta handphone, handycam, dan data digital dirampas paksa. Pada akhir 2013 sampai sekarang (April 2014), tentara melakukan pemagaran sepihak terhadap tanah-tanah pertanian di pesisir Urutsewu, Kebumen.

Belajar Muhammadiyah

Bahwa pesisir Urutsewu menyimpan potensi yang sangat besar dan seharusnya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan menurut hemat kami, pilihan pengembangan yang paling tepat adalah dengan menjadikan kawasan ini hanya sebagai area pertanian dan pariwisata.

Belajar Muhammadiyah

Lebih luas, kami menghendaki ditegakkannya kedaulatan petani Urutsewu. Bagi kami, kedaulatan petani berarti pengakuan terhadap kepemilikan tanah oleh petani, penggunaan tanah sesuai dengan kebutuhan petani, menghormati pentingnya berogranisasi dan mempertahankan hak bagi petani, dipenuhinya hak untuk menikmati hasil pertanian, serta terjaminnya rasa aman dalam proses penggarapan lahan.

Karena itu, Kami menuntut:

1.    Usut tuntas penganiayaan, penembakan, dan pengrusakan motor yang terjadi pada 16 April 2011

2.    Hentikan pemagaran tanah warga di sepanjang pesisir Urutsewu, Kebumen

3.    Jadikan Urutsewu, Kebumen hanya sebagai kawasan pertanian dan pariwisata

4.    Tegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen

Urutsewu, 16 April 2014

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan

Seniman

(Ketua)

Urutsewu Bersatu

Widodo Sunu Nugroho

(Ketua)

Pernyataan sikap ini ditermia Belajar Muhammadiyah 25 April 2014 (Red: Abdullah Alawi)

Pernyataan Sikap Petani Urutsewu

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) dan URUTSEWU BERSATU (USB) adalah organisasi rakyat yang bertujuan menegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen, Jawa Tengah.

Arak-arakan Budaya pada tanggal 16 April 2014 didukung oleh Solidaritas Budaya untuk Masyarakat Urutsewu (Esbumus) sebagai peringatan atas peristiwa penembakan dan penganiayaan terhadap petani Urutsewu tiga tahun yang lalu, yang hingga kini belum diusut tuntas.

Dalam peristiwa 16 April 2011, 6 petani dikriminalisasi, 13 orang luka-luka (6 di antaranya terkena peluru karet), 12 sepeda motor dirusak, serta handphone, handycam, dan data digital dirampas paksa. Pada akhir 2013 sampai sekarang (April 2014), tentara melakukan pemagaran sepihak terhadap tanah-tanah pertanian di pesisir Urutsewu, Kebumen.

Bahwa pesisir Urutsewu menyimpan potensi yang sangat besar dan seharusnya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan menurut hemat kami, pilihan pengembangan yang paling tepat adalah dengan menjadikan kawasan ini hanya sebagai area pertanian dan pariwisata.

Lebih luas, kami menghendaki ditegakkannya kedaulatan petani Urutsewu. Bagi kami, kedaulatan petani berarti pengakuan terhadap kepemilikan tanah oleh petani, penggunaan tanah sesuai dengan kebutuhan petani, menghormati pentingnya berogranisasi dan mempertahankan hak bagi petani, dipenuhinya hak untuk menikmati hasil pertanian, serta terjaminnya rasa aman dalam proses penggarapan lahan.

Karena itu, Kami menuntut:

Usut tuntas penganiayaan, penembakan, dan pengrusakan motor yang terjadi pada 16 April 2011  Hentikan pemagaran tanah warga di sepanjang pesisir Urutsewu, Kebumen Jadikan Urutsewu, Kebumen hanya sebagai kawasan pertanian dan pariwisata Tegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen

 

Urutsewu, 16 April 2014

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan

Seniman

(Ketua)

 

Urutsewu Bersatu

Widodo Sunu Nugroho

(Ketua)

 

Pernyataan Sikap Petani Urutsewu

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) dan URUTSEWU BERSATU (USB) adalah organisasi rakyat yang bertujuan menegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen, Jawa Tengah.

Arak-arakan Budaya pada tanggal 16 April 2014 didukung oleh Solidaritas Budaya untuk Masyarakat Urutsewu (Esbumus) sebagai peringatan atas peristiwa penembakan dan penganiayaan terhadap petani Urutsewu tiga tahun yang lalu, yang hingga kini belum diusut tuntas.

Dalam peristiwa 16 April 2011, 6 petani dikriminalisasi, 13 orang luka-luka (6 di antaranya terkena peluru karet), 12 sepeda motor dirusak, serta handphone, handycam, dan data digital dirampas paksa. Pada akhir 2013 sampai sekarang (April 2014), tentara melakukan pemagaran sepihak terhadap tanah-tanah pertanian di pesisir Urutsewu, Kebumen.

Bahwa pesisir Urutsewu menyimpan potensi yang sangat besar dan seharusnya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan menurut hemat kami, pilihan pengembangan yang paling tepat adalah dengan menjadikan kawasan ini hanya sebagai area pertanian dan pariwisata.

Lebih luas, kami menghendaki ditegakkannya kedaulatan petani Urutsewu. Bagi kami, kedaulatan petani berarti pengakuan terhadap kepemilikan tanah oleh petani, penggunaan tanah sesuai dengan kebutuhan petani, menghormati pentingnya berogranisasi dan mempertahankan hak bagi petani, dipenuhinya hak untuk menikmati hasil pertanian, serta terjaminnya rasa aman dalam proses penggarapan lahan.

Karena itu, Kami menuntut:

1.    Usut tuntas penganiayaan, penembakan, dan pengrusakan motor yang terjadi pada 16 April 2011

2.    Hentikan pemagaran tanah warga di sepanjang pesisir Urutsewu, Kebumen

3.    Jadikan Urutsewu, Kebumen hanya sebagai kawasan pertanian dan pariwisata

4.    Tegakkan kedaulatan petani Urutsewu, Kebumen

Urutsewu, 16 April 2014

Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan

Seniman

(Ketua)

Urutsewu Bersatu

Widodo Sunu Nugroho

(Ketua)

Pernyataan sikap ini ditermia Belajar Muhammadiyah 25 April 2014 (Red: Abdullah ALawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Lomba Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah

Banyumas, Belajar Muhammadiyah?

Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Kabupaten Cilacap menggelar aksi damai menolak Full Day School (FDS), Jumat (25/8). Aksi dipimpin oleh H Munir Nur Said yang juga Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Cilacap. Dalam pembacaan sikap, dia menyampaikan empat tuntutan.

Pertama, menolak dengan tegas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, karena tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang nyata-nyata telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah

Kedua, menolak dengan tegas, kebijakan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, yang melakukan tindakan sewenang-wenang, dengan tetap memaksakan kehendak untuk menerapkan 5 (Lima) Hari Sekolah di satuan pendidikan yang ada, tanpa memperhatikan aspirasi penolakan yang berkembang di masyarakat.

Ketiga, menolak dengan sangat tegas pemaksaan penerapan kebijakan 5 (Lima) Hari Sekolah, karena telah nyata mencederai prinsip-prinsip deliberasi sosial dan pengingkaran terstruktur terhadap kekayaan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat, yang telah terbukti sumbangsihnya terhadap pembangunan, penguatan dan pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia.

Keempat, mendesak kepada Presiden Republik Indonesia untuk segera Mencabut dan Membatalkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah, dan Menerbitkan Peraturan Presiden Tentang Pendidikan Karakter yang bersifat Holistik, Integratif dan Non-Diskriminatif, dengan tidak menghapuskan dan menghilangkan eksistensi Pendidikan Keagamaan di Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

Madrasah Diniyah sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, dan telah mampu melahirkan generasi bangsa yang berkarakter, dan memiliki komitmen untuk menjaga keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Fragmen, Lomba Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Sirajd menyampaikan dua hal yang penting dalam sambutannya pada puncak acara hari lahir (Harlah) ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang berlangsung di Masjid An-Nahdlah PBNU, Sabtu (11/3).

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Ia berpesan agar IPPNU terus mengawal, mengembangkan dan menjaga islam Ahlussunnah wal Jamaah, seperti prinsip moderat dan toleran, dan cita-citanya memperkuat persaudaraan sesama umat islam, persaudaraan sebangsa setanah air dan persaudaran persamaan sesama umat manusia.

Menurut Tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia versi The Muslim 500 itu menyampaikan, yang pertama, IPPNU tidak boleh ragu dengan prinsip moderat dan toleran.

“Jika ini di perjuangkan untuk komitmen dan istiqomah, merupakan modal yang sangat besar bagi pergerakan IPPNU, jangan pernah bergeser dari prinsip moderat dan toleran dan dari cita-cita ukhuwah Islamiyah, wathoniyah dan insaniyah,” ujar Kiai Said.

Belajar Muhammadiyah

Kedua, amal prinsip santri, menurut Kang Said sapaan akrab KH Said Aqil Siroj mengutarakan, santri itu tidak harus alumni pesantren, alumni SD, SMP, SMA juga santri asalkan hormat pada kiai, meskipun tidak pernah pesantren, walaupun belajarnya tidak pernah di pesantren asalkan hormat kepada kiai, samian wathoatan, itu jiwa santri namanya.

“Nah mengapa kita harus hormat kepada para kiai dan ulama NU? Karena kita yakin Ashabul haq yang memegang otoritas kebenaran dalam agama adalah para Ulama, selain itu kita ragu, benar apa tidak cara pemahaman agamanya, cara beragamanya, cara berpikirnya, orientasi agamanya benar apa tidak,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Oleh karena itu, imbuhnya, hormat dan taatlah pada para kiyai, ulama pesantren, dan ulama NU yang kita yakini mereka Ashabul haq, Ashabus sirotil haq, Ashabu kalimatil haq, Ashabu syauthil haq, Ashabut thoriqotil haq yang ucapannya benar, sikapnya benar dan cara berpikirnya benar, pemilik kebenaran dalam memahami agama.

Terakhir ia berpesan kepada seluruh kader IPPNU untuk selalu menghormati kiai sampai kapanpun, hingga yaumil qiyamah, yang sanadnya benar dan jelas, seperti KH Hasyim Asy’ari yang sanadnya jelas hingga Imam Syafi’i, Imam Syafi’i Abu Abdillah-Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i bin Musayyaf bin Ubeid bin Abu Yazid bin Abu Muthollib hingga Rasulullah SAW. (Anty/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock