Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Ansorun Nada merupakan grup musik bentukan Pimpinan Anak Cabang gerakan Pemuda Ansor Genuk, Semarang, yang memfasilitasi anggotanya untuk mengekspresikan dirinya di dunia musik.

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah

Sejak dibentuk grup sudah beberapa kali show disekitar wilayah kecamatan Genuk Semarang. Apalagi ini masih bulan syawalan banyak undangan menghampiri Ansorun Nada. Sehingga para personil selalu disibukan dengan berbagai persiapan dan latihan.

Ditemui saat show di rumah Rochim yang berada di wllayah Kelurahan Trimulyo, Ansorun Nada merupakan grup musik dakwah dan sedekah. Jadi musik bukan semata hiburan namun juga menjadi sarana dakwah menyebarkan nilai-nilai Islam sebagaimana kanjeng sunan Kalijaga sengan Wayangnya. Begitu juga dengan Musik Sedekan yang memiliki maksud bahwa Ansorun Nada tidak memungut tarif.

Belajar Muhammadiyah

“Jika ada yang memberikan amplopan itu hanya bentuk trima kasih. Begitupun kami menerimanya dengan senang hati, jika tuan rumah memberi hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih. Sebab perlengkapan alat musik Ansorun Nada kan butuh transportasi,” ucap Muhammad Shohim, Ketua Grup.

“Kami siap tampil jika ada yang meminta, baik itu acara pengajian, sunatan, acara pengantin maupun acara yang lain. Bisa menghubungi ke No: 02470651249,” lanjutnya

Belajar Muhammadiyah

Cahaya rembulan mengintip malu di balik awan dan Ansorunnada mengalunkan sholawat cinta kepadanya dgn hanya berharap mendapat syafaat dari sang khotamul anbiya dan ansorunnada menutup dakwah musiknya dgn syiir tanpo waton. Sholu ala Muhammad. (Lukni Maulana/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

Panen Padi Gerakkan Solidaritas GP Ansor Lakbok

Ciamis, Belajar Muhammadiyah. Saat panen (mbawon) sudah tiba, puluhan anggota GP Ansor kecamatan Lakbok kabupaten Ciamis turun ke sawah salah seorang dari mereka yang berlokasi di desa Cintaratu. sejak Selasa-Rabu (14-15/4), mereka membahu-bahu mengetam padi siap panen di sawah seluas 120 bata.

Terlibat memanen padi di sawah, pengurus anak cabang sampai ketua-ketua ranting Ansor ikut didalamnya. Mereka bergerak atas intruksi ? Ketua GP Ansor Lakbok Hirzudin dalam upaya merekatkan tali silaturahmi kader Ansor serta bukti atas kerakyatan anggota Ansor.

Panen Padi Gerakkan Solidaritas GP Ansor Lakbok (Sumber Gambar : Nu Online)
Panen Padi Gerakkan Solidaritas GP Ansor Lakbok (Sumber Gambar : Nu Online)

Panen Padi Gerakkan Solidaritas GP Ansor Lakbok

Mereka mengumpulkan padi yang dipanen untuk dipisahkan dari tangkainya dengan mesin perontok milik PAC GP Ansor Lakbok.

Belajar Muhammadiyah

"Momen ini penting mempererat ukhuwah kader, serta ini menjadi kegiatan yang mempunyai nilai ekonomi untuk berjalannya organisasi," kata Hirzudin.

Di lain tempat, Masruhin salah satu anggota Ansor Sidaharja melakukan hal yang sama. Ia mengerahkan pemuda desa untuk memanen padi masyarakat sekitar yang hasilnya diperuntukkan mengadakan isra miraj di masjid.

Belajar Muhammadiyah

Hal ini disambut baik masyarakat sekitar. Pardi, salah seorang warga Sidaharja kecamatan Lakbok meyampaikan, "Ansor memang idenya unik-unik, apalagi hal semacam ini sudah jarang dilakukan di daerah sini."

Rencananya, kegiatan mbawon bareng ini akan dilakukan di sawah sejumlah anggota ansor yang belum dipanen. (Ahmad Muhafid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Humor Islam, IMNU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Kunjungi Posko Banjir, Sekjen PBNU Tekankan Sikap Optimis kepada Warga

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini hadir memberikan motivasi kapada korban bencana banjir di kampung Cipinang Muara Jakarta Timur. Di hadapan anak-anak dan keluarga korban pria kelahiran Cirebon ini mengatakan bahwa kesabaran adalah kunci utama untuk menghadapi musibah.

Kunjungi Posko Banjir, Sekjen PBNU Tekankan Sikap Optimis kepada Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Posko Banjir, Sekjen PBNU Tekankan Sikap Optimis kepada Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Posko Banjir, Sekjen PBNU Tekankan Sikap Optimis kepada Warga

"Kita harus sabar namun tetap optimis bahwa semua ada hikmahnya. Yang penting jangan putus asa," jelasnya, Rabu.

PBNU, lanjut Helmy, telah mengirimkan relawan yang dimotori oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBINU). Sebanyak puluhan personil diturunkan ke lokasi yang tersebar di beberapa titik sejak Ahad (19/2).

"PBNU memprioritaskan program-program kemanusiaan. Beberapa waktu lalu di Pidie Jaya, Aceh dan juga Brebes. Sekarang kita di Jakarta," jelas Helmy.

Saat dikonfirmasi, Ketua PP LPBI NU, Ali Yusuf mengatakan bahwa LPBI NU pusat dibantu oleh LPBI NU DKI Jakarta yang memiliki Tenaga relawan yang dari kalangan santri (Santri Siaga Bencana).

Belajar Muhammadiyah

"Kami sudah turun sejak hari minggu. Kami dibantu oleh realawan Sntri Siaga Bencana yang merupakan bagian dari LPBINU DKI Jakarta," jelas Ali.

Jenis bantuan yang diberikan oleh LPBINU adalah sembako dan juga kebitujan sekolah. "Kami prioritaskan sembako san juga alat-alat sekolah," pungkas Ali. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Daerah, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Pekan Ini Bahtsul Masail Pra Muktamar NU Bahas BPJS dan Antrean Haji

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Para kiai NU akan mengadakan pertemuan melalui musyawarah bahtsul masail Pra Muktamar Ke-33 NU di pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Selama dua hari, Sabtu-Ahad (28-29/3), mereka akan meminta keterangan sejumlah pejabat publik perihal BPJS dan pengelolaan haji untuk membantu penelaahan.

Musyawarah bahtsul masail yang melibatkan pengurus Syuriyah PBNU, penanggung jawab komisi bahtsul masail Muktamar NU, dan utusan sejumlah pesantren ini, akan mematangkan materi yang akan dibahas pada Muktamar Ke-33 NU pada Agustus mendatang.

Pekan Ini Bahtsul Masail Pra Muktamar NU Bahas BPJS dan Antrean Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Ini Bahtsul Masail Pra Muktamar NU Bahas BPJS dan Antrean Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Ini Bahtsul Masail Pra Muktamar NU Bahas BPJS dan Antrean Haji

Pokok pembahasan mencakup soal pelaksanaan jaminan sosial kesehatan di BPJS, masalah daftar tunggu antrean haji yang mencapai 20 tahun, dan perihal karakter Aswaja NU.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini rencananya juga akan dihadiri oleh Direktur BPJS dan Dirjen Haji Kemenag RI. Keterangan dari pihak terkait ini menjadi bahan pertimbangan komisi bahtsul masail diniyah baik waqi’iyah, maudhu’iyhah, maupun qanuniyah.

“Kami berharap forum ini memberikan banyak bahan masukan bagi penanggung jawab masing-masing komisi bahtsul masail diniyah muktamar NU,” kata Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz, Kamis (26/3).

Belajar Muhammadiyah

Menurut Imam Aziz, komisi waqi’iyah dan komisi qanuniyah juga menggelar musyawarah dalam rangka melengkapi hasil-hasil pertemuan sebelumnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Pangkalan Bun, Belajar Muhammadiyah?

Demi menjalin keakraban serta konsolidasi di antara warga Nahdliyyin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah mengadakan acara bertajuk Halal Bihalal dan Silaturrahmi Akbar. Acara yang diselenggarakan di lapangan sepak bola Desa Lada Mandalajaya SP 2 Kecamatan Pangkalan Lada tersebut dihadiri 50 pengurus Ansor se-Kabupaten Kobar, yang terdiri dari PC GP Ansor Kabupaten dan PAC GP Ansor Kecamatan Pangkalan Lada.?

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Hadir pula Fatayat dan muslimat dan 250 Banser yang telah mengikuti Diklatsar tiga angkatan. Angkatan 1 pada tahun 2015, angkatan 2 tahun 2016 dan Diklatsar angkatan 3 pada bulan januari tahun 2017. Disamping itu pula dalam acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat SKPD Kabupaten Kotawaringin Barat serta sejumlah warga ikut memeriahkan acara tersebut.?

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat Abdul Sahel dalam pidatonya menyampaikan, warga Nahdlatul Ulama (NU) hendaknya mampu menjaga kerukunan antarumat beragama. Banser harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI.

Belajar Muhammadiyah

"Mari pererat ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah bayariyah. Banser haruslah mampu ikut menjaga keamanan NKRI, serta mampu menjadi jembatan agar terciptanya suasana yang kondusif sesuai ajaran agama Islam yang rahmatal lil alamin, " tandas Abdul Sahel pada acara yang berlangsung , Sabtu (29/7) lalu.?

Maraknya kabar tidak sedap, lanjut Sahel, di berbagai media cetak dan elektronik yang tidak berdasar sumbernya, sangat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan itu saja, menjamurnya organisasi masyarakat yang mengatasnamakan kelompok-kelompok Islam dengan pembelajaran yang disinyalir aliran garis keras atau radikal akan menjadi ancaman serius bagi NKRI.?

"Kita jangan mau dibodohi dengan pemberitaan yang tidak jelas asal-usulnya. Kita mesti waspada atas pergerakan kelompok organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun kaidah-kaidahnya tidak sesuai ajaran agama Islam," tegasnya.?

Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) A. Rozikin, Z, dalam pidatonya mengajak seluruh anggota Banser agar selalu siaga demi manjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat beragama.?

Belajar Muhammadiyah

"Saya berharap Banser selalu memberikan yang terbaik dalam menciptakan iklim yang sejuk dan aman bagi semua umat beragama. Banser harus siap mendedikasikan dirinya demi keutuhan NKRI," ucap Rozikin.?

Menurutnya, Banser sebagai prajurit dibawah komando para ulama NU harus mampu membawa nama baik serta mampu mengabdikan dirinya demi NKRI. Bahkan, Banser harus siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

"Banser harus siap dalam setiap kondisi. Sebagai prajurit Nahdlatul Ulama sejengkal pun Banser pantang mundur dalam membela kebenaran, " Tegas Rozikin dalam pidatonya. (Suhud Masud/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Seknas Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan sembilan nilai yang menjadi prisma dalam sepak terjang Gus Dur bertoleran. Ia menjelaskan itu pada Halaqah Kiai dan Tokoh Muda Pesantren di Yogyakarta Kamis-Sabtu (13-15/12).

“Yang paling inti adalah nilai ketauhidan,” kata Alissa, putri Gus Dur, Ketua Umum PBNU 1984-1999.

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Kemudian, kata Alissa nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan akan muncul nilai pembebasan, keadilan, persaudaraan dan kesetaraan.

Selanjutnya, tambah dia, memiliki jiwa yang satria atau super ikhlas membantu sesama, kesederhanaan, dan nilai kearifan lokal. Tentang poin terakhir, Alissa menjelaskan, bagi Gus Dur semua tradisi membawa kearifan.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

“Dari sembilan nilai inilah kemudian akan membentuk pribadi yang toleran,” kata Mbak Lissa, panggilan akrabnya.

Alissa juga menjelaskan, sebenarnya Indonesia ini adalah negara yang terbangun dari kebinekaan dan toleransi. Oleh karena itu dalam proses menjadi sebuah bangsa, masyarakat Indonesia memiliki warisan kecerdasan kultural, yang menjadikannya unik di antara bangsa-bangsa lain.

Gus Dur memang menginspirasi semua golongan untuk menjadi sosok yang toleran. Karena menjadi toleran secara tidak langsung menjunjung tinggi keadilan. Pendidikan toleransi yang diterapkan oleh Gus Dur menjadikan tawaran solusi kepada mayarakat Islam Indonesia untuk mengharumkan Islam yang damai.

“Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi,” begitu kata mbak Lisa mengutip ungkapan dari ayahandanya Gus Dur. (Muyassaroh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Pertandingan, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta mengadakan kaderisasi tingkat II Lakmud (Latihan Kader Muda) di Pondok Pesantren as-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat-Ahad tanggal 9-11 Oktober 2015.

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat mengisi stadium general pada acara itu mendorong kader IPNU agar tak terlepas dari ruh pesantren. "Kader IPNU harus memiliki jiwa seorang santri yang cerdas, santun, dan sabar untuk terus belajar dan berjuang dan tetap dilandasi ketaqwaan. Perjuangan kader IPNU adalah dengan menempa diri agar siap menjadi generasi pemimpin Bangsa dan NU dimasa yang akan datang," ujarnya.

Kang Said, sapaan akrabnya, yang saat itu didampingi ketua? IPNU DKI Jakarta Muhammad Said dan mantan ketua PW IPNU Jawa Tengah Hasan Chabibie juga menyatakan dukungan penuh ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, Hari Santri Nasional itu akan ditetapkan pada tanggal 22 Oktober karena hari itu merupakan momentum para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi penjajah Belanda.

Belajar Muhammadiyah

Pada tanggal tersebut, kata Kang Said, Hadratussyaikh Hasyim Asyari mengumpulkan kiai-kiai Nusantara untuk mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” bahwa membela tanah air adalah fardlu ain. Resolusi Jihad merupakan seruan perang suci menumpas penjajah yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia.

Senada dengan Kang Said, Ketua PW IPNU DKI Jakarta Muhamad Said? mendukung langkah PBNU? dalam mendorong Presiden Jokowi segera menetapkan Hari Santri Nasional. "Kita sangat mendukung hari santri nasional tanggal 22 Oktober dan kita akan ramaikan dengan berbagai program dan kegiatan agar bisa mengenang perjuangan santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia," katanya.

Peserta dalam latihan kali ini terdiri dari semua pengurus Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta dan para santri setempat. Makesta juga digelar sebelum didirikannya pimpinan komisariat IPNU di Pondok Pesantren as-Tsaqafah. (Red: Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Bahtsul Masail, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Kebijakan Mendikbud Tak Sejalan dengan Visi Presiden

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kebijakan Kemendikbud seharusnya sejalan dengan visi Presiden Jokowi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah dan pesantren.?

Kebijakan Mendikbud Tak Sejalan dengan Visi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebijakan Mendikbud Tak Sejalan dengan Visi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebijakan Mendikbud Tak Sejalan dengan Visi Presiden

Dalam kampanye politiknya, Jokowi berjanji akan membawa kualitas pendidikan madrasah dan pesantren menjadi lebih baik.?

Demikian hal itu diungkapkan KH Maman Imanulhaq, Anggota DPR RI, menanggapi kebijakan sekolah delapan jam per hari selama lima hari dalam seminggu yang dikeluarkan oleh Mendikbud.?

Maman menyebut kebijakan Mendikbud justru kontraproduktif dengan visi dan harapan Presiden Jokowi.

Belajar Muhammadiyah

"Kebijakan sekolah lima hari berpotensi mengancam eksistensi madrasah diniyah yang sekian lama tumbuh berkembang di masyarakat," ucap Maman.?

Maman menyesalkan sikap Mendikbud yang bersikukuh mengeluarkan kebijakan tersebut. Padahal sejak awal digulirkan ditentang, termasuk dirinya yang keras menolak.

"Kinerja Jokowi di bidang pendidikan sudah bagus, justru Mendikbud malah bikin gaduh dengan kebijakan kontroversial itu," tambah Maman.

Karena itu, Politisi PKB itu meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi mengkaji ulang dan membatalkan kebijakan kontroversi itu.?

Melihat dinamika yang berkembang saat ini, pemerintah harus bersikap arif untuk menghentikan kegaduhan yang timbul demi menjaga kondusifitas penyelenggaraan pendidikan nasional kita.?

Belajar Muhammadiyah

"Kami minta pemerintah ambil langkah segera duduk bersama dengan semua pihak yang berkepentingan untuk menyerap masukan dan menemukan solusi terbaik," pungkas Maman. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Banyuwangi,Belajar Muhammadiyah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada takmir masjid dan pengurus mushalla. Isin surat itu meminta pengeras suara digunakan tadarus dimatikan mulai pukul 22.00.

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

“Kita semua mencintai tadarrus dan semua ingin mengagungkan bulan puasa, tapi alangkah bijaknya kalau kita tadarrus tidak menggunakan pengeras suara setelah pukul 22.00. Sebab, di jam itu umat Islam mulai istirahat setelah seharian puasa,”? ujar Ketua II MUI Banyuwangi, Nur Chozin di kediamannya, Selasa (1/7).

Ia menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan warga yang menggelar tadarrus hingga dini hari, tidak gampang. Sebab, mereka beralasan ingin mencari pahala dan mengagungkan malam Ramadhan, sehingga mereka cukup sensitif terhadap segala bentuk? larangan dalam tadarrus. “Bisa-bisa mereka menuding kita macam-macam. Padahal, yang kita larang cuma pengeras suaranya, bukan tadarrusnya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain soal tadarrus, surat edaran MUI itu juga mengimbau semua rumah makan dan restoran yang beroperasi di siang hari memasang penutup selama Ramadhan. Itu untuk menghormati orang yang tengah berpuasa.

Ia menambahkan, sedangkan tempat hiburan malam diimbau untuk menghentikan aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. “Semua itu demi kebaikan kita semua dan menjaga kesucian bulan Ramadhan itu sendiri,” jelasnya. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Bahtsul Masail, Kiai Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

PCNU Bojonegoro Sosialisasi Ziarah Islam Nusantara

Bojonegoro, Belajar Muhammadiyah. Dalam acara silaturrahim dan buka puasa bersama PCNU, Lembaga, Lajnah dan badan otonom di gedung lantai dua kantor setempat, Ahad (12/7) lalu. Pengurus NU Cabang Bojonegoro memberikan sosialisasi Ziaroh Islam Nusantara (ZIN).

Sebelumnya Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro, Maimun Syafii memberikan ceramah dan mengingatkan pengurus yang hadir, tentang ibadah serta berkhitmat pada NU. Selain itu, menjalin ukhuwah Islamiyah itu sangat penting.

PCNU Bojonegoro Sosialisasi Ziarah Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Sosialisasi Ziarah Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Sosialisasi Ziarah Islam Nusantara

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro, Cholid Ubed sedikit memberikan pengetahuan tentang kegiatan Muktamar NU di Jombang mendatang. Namun ia menerangkan bahwa  kegiatan yang pertama dan bermanfaat bagi NU, yakni sosialisasi ZIN.

Belajar Muhammadiyah

"ZIN ini baru dibuka kegiatan ziarah. PCNU, MWC NU dan Ranting hendaknya memberikan informasi saja. Yang mau ziarah, PCNU menyiapkan bus," ujarnya.

Mantan ketua ISNU Bojonegoro itu juga memastikan, fasilitas ziarah harganya dibawa rata-rata. Bagi MWCNU yang mau menyosialisasikan ZIN ke para jamaah akan mendapat imbalan Rp 600 ribu setiap bus.

Belajar Muhammadiyah

Tetapi jika tidak merespon, maka tim PCNU akan terjun langsung sendiri ke ranting-ranting. "Jangan sampai NU yang mengadakan kegiatan, tapi pihak lain yang untung. Sehingga dengan adanya ini, semua pengurus NU dapat memperoleh berkahnya," imbuhnya.

Selain itu rencananya setelah ramadan nanti, PCNU Bojonegoro juga akan meluncurkan Baitul Mal Watanmil (BMT). Ia berharap kedepannya setiap MWCNU akan mempunyai BMT.

Dalam acara tersebut juga diberikan pengetahuan, sikap NU terkait penentuan idul fitri. Tetapi intinya NU akan menunggu hasil rukyat Lajnah Falakiyah PBNU dan Pemenrintah meskipun Muhammadiyah sudah memastikan hari Raya Idul Fitri 17 Juli. (M Yazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nasional, Bahtsul Masail, Daerah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pendidikan adalah faktor penting dalam upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Maka mutlak dibutuhkan akses pendidikan yang merata bagi masyarakat Indonesia, guna mencapai hakikat dan kebermaknaan kegiatan.?

Itulah salah satu visi besar Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), yang selalu digelorakan Ketua Umum PP Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim dalam setiap kesempatan pembinaan organisasi.

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T

Berangkat dari visi tersebut, Pergunu membuat program penempatan Guru di daerah 3T, yakni Terpencil, Tertinggal, dan Terluar. Kegiatan ini bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Subdit Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum.

Hal itu senada dengan keterangan yang diberikan Wakil Ketua Pengurus Pusat Pergunu, Aris Adi Leksono. Pergunu kehadirannya dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan nasional, salah satu program dilaksanakan di bulan September 2017 ini akan mengirimkan Guru ke daerah tertinggal, terpencil, dan terluar.?

Belajar Muhammadiyah

“Program ini bersinergi dengan program bina kawasan Kementerian Agama, melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Islam,” ujar Aris lewat keterangan tertulisnya, Ahad (17/9).

Lebih lanjut, Aris menuturkan secara teknis mulai Agustus sampai dengan September 2017, fokus pada rekrutmen dan pembekalan kompetensi, fisik, dan mental calon Guru yang siap ditempatkan di daerah 3T.?

Sebagai sasaran penempatan sudah dipilih 25 Kabupaten dari Aceh hingga Papua yang masuk dalam katagori daerah 3T. Daerah sasaran dikhususkan untuk daerah di luar Jawa. Masa pengabdian bagi mereka yang lulus rekrutmen adalah satu tahun.

Pada tahap selanjutnya, Guru hasil rekrutmen akan diberangkatkan 50 orang ke daerah tujuan pada Awal Oktober 2017. Sampai saat ini, sudah dilakukan seleksi untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Lampung.?

Belajar Muhammadiyah

"Pergunu bekerja sama dengan Kemenag akan mengutus 50 orang yang lulus seleksi. Mereka akan diberikan insentif khusus selama menjalani tugas. Kami berencana, program ini akan terus berkelanjutan sehingga akan terjadi pemerataan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia,” terang Aris yang juga Dosen UNU Indonesia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, AlaNu, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Ketua Umum PBNU: Pilih Partai Sesuai Visi Misi NU

Kediri, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan agar warga NU memilih partai yang sesuai dengan visi misi organisasi ini.

"NU selalu menjaga jarak dengan partai politik manapun, namun sebagai pendidikan politik, diharapkan sesuai dengan visi misi NU," katanya dikonfirmasi tentang sikap NU dalam berpolitik, Kamis.?

Ketua Umum PBNU: Pilih Partai Sesuai Visi Misi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PBNU: Pilih Partai Sesuai Visi Misi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PBNU: Pilih Partai Sesuai Visi Misi NU

Said yang ditemui dalam pengajian memperingati tahun baru Islam 1435 Hijriah di Stadion Canda Bhirawa Pare, Kabupaten Kediri, tersebut mengatakan masyarakat cukup cerdas untuk memilih partai sesuai dengan visi misi mereka. Mereka mengetahui yang terbaik untuk mereka.

Belajar Muhammadiyah

Pihaknya juga menegaskan, berpolitik atau memilih partai politik adalah hak masing-masing individu. Organisasi ini (NU) tidak pernah mengarahkan warganya untuk memilih ke partai politik tertentu.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga mengapresiasi banyaknya kader NU yang terlibat politik praktis, bahkan sampai dilirik partai lain untuk ikut berpolitik baik menjadi anggota DPR ataupun menjadi calon Presiden.

"Banyak calon (dari NU) berarti bagus, kadernya banyak yang dilirik, namun soal jadi atau tidak, belum tahu," katanya.?

NU merupakan salah satu organisasi dengan basis massa yang besar di Indonesia. Dengan potensi tersebut, banyak yang mendekati organisasi ini, dengan berbagai tujuan di antaranya politik, terlebih lagi mendekati pemilihan DPR ataupun Presiden. Bahkan, kader NU juga dilirik berbagai partai politik di Indonesia.?

Seperti Ali Masykur Musa yang merupakan Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang juga mengikuti konvensi Partai Demokrat untuk memilih calon Presiden menggantikan SBY, PKB yang didirikan sebagai organisasi politik dan di dalamnya mayoritas warga NU, serta sejumlah partai dan kader NU lain. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Santri Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud menyatakan keprihatinannya atas karut-marutnya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan meminta semua pihak yang terkait bertanggung jawab atas permasalahan ini.?

“Sebaiknya tidak mencari kambing hitam dengan hanya menyalahkan satu pihak, tetapi bagaimana menyelesaikan persoalan ini tanpa politisasi,” katanya.

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN

Marsudi, setuju dengan pendapat Taufik Kiemas bahwa Mendikbud M Nuh tidak perlu mundur dari jabatannya, karena kendala yang dialami merupakan kendala teknis.

“Untuk itu, perlu didalami persoalannya dan diinvestigasi secara menyeluruh sehingga diperoleh hasil yang komprehensif,” tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menyoroti kenapa anggaran untuk pencetakan naskah Ujian Nasional baru disetujui pada 22 Februari 2013, yang merupakan waktu yang sudah sangat mepet, sementara proses tender percetakan juga baru boleh dilakukan setelah anggaran keluar.

Belajar Muhammadiyah

“Hal-hal seperti ini harus ditelusuri sampai ke DPR yang memberikan persetujuan anggarannya,” tandasnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Bahtsul Masail, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Setelah melalui proses penyusunan beberapa bulan, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) akhirnya menerbitkan buku panduan untuk para guru. Karya tulis ini dipengantari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan diberi judul “Membumikan Aswaja, Pegangan Para Guru NU”.

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru

Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim, yang juga penyusun utama buku, Rabu (27/6) menyatakan, buku setebal 260 halaman tersebut memang diterbitkan pihaknya bulan Juni ini. Penerbitan buku menjadi bagian dari upaya pembinaan keaswajaan peserta didik di lingkungan sekolah.

Pergunu beranggapan, guru merupakan ujung tombak NU dalam menjaga dan membumikan eksistensi ajaran Aswaja hingga di masa yang akan datang. Peserta didik perlu dibina sejak dini, agar terpelihara dari penetrasi ideologi agama yang tidak sehat.

Belajar Muhammadiyah

Penetrasi ideologi disadari telah masuk ke sejumlah tempat. Tak hanya di tempat ibadah, seperti masjid-masjid, ekstemisme juga menyusup di tempat pendidikan, tak terkecuali di sekolah-sekolah berbasis Nahdliyin.

Rencananya, buku akan disebar ke lembaga pendidikan NU di seluruh Indonesia. Para guru diharapkan memperoleh masukan berharga dan mampu mengimplementasikannya di lembaga pendidikan setempat.

Belajar Muhammadiyah

“Guru merupakan agent of change. Kalau gurunya sudah terpengaruh, bagaimana dengan murid-muridnya. Maka perlu ada usaha untuk mengentalkan lagi warna tradisi Nahdliyin,” kata Ketua PP Pergunu H Rudolf Chrysoekamto secara terpisah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan

Khartoum, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menyelenggarakan berbagai perlombaan, forum diskusi, dan tur kebudayaan, dalam rangka memperingati  hari lahir (Harlah) ke-89 NU, 7 Februari-22 Februari 2015, di Khartoum, Sudan.

Kegiatan yang terangkum dalam tema “Dakwah Nahdiyah: Solusi Lokal untuk Tantangan Global” ini diperuntukkan bagi seluruh lapisan mahasiswa Indonesia di Sudan. Forum disediakan di antaranya adalah Seminar Nasional, Bahtsul Masail, Kajian Kitab Salaf, Seminar Internasional, Seminar Dakwah, dan Rihlah Kebudayaan. Sedangkan untuk jenis perlombaan meliputi lomba tenis meja, tulis esai, melukis, bola voli, dan futsal.

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan

Seminar Nasioal menjadi ajang pembukaan dalam rangkaian kegiatan dan perlombaan yang ada. Kesempatan ini juga menjadi momen pelaksanaan program kegiatan PCINU Sudan masa khidmah 2014-2015.

Belajar Muhammadiyah

Ahmad Lukman Fahmi selaku Steering Committee mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengenang kembali  perjuangan para sesepuh terdahulu dalam mendirikan NU sebagai wadah dakwah di Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

“Kegiatan dan perlombaan ini juga merupakan kali pertama bagi PCINU Sudan dalam melaksanakan program kerjanya yang dibingkai dalam Harlah ke-89 NU,” imbuhnya

Panitia juga berharap, melalui kegiatan ini akan menjalin hubungan erat antarmahasiswa Indonesia dari berbagai lapisan. Dan puncak kegiatan ini akan diisi dengan seminar internasional  sekaligus penutupan rangkaian kegiatan harlah ke-89 NU. (M Lukman Hambali/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung menziarahi peristirahatan terakhir Ketua Umum I Pengurus Besar PMII, H Mahbub Djunaidi, di Kota bandung pada Kamis (18/4).

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi

Menurut salah seorang aktivis PMII yang turut ziarah, Hilman Yuliana, tujuan ziarah kepada pengarang mars PMII adalah cara mengenang jasa-jasanya.

“Memang beliau adalah salah satu pendiri PMII. Organisasi berumur setengah abad ini, masih dan tetap akan berdiri kokoh dan terus berkomitmen untuk mengawal bangsa ini, tak lepas dari jasa beliau,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah melalui surat elektronik pada Jumat, (19/4).

Belajar Muhammadiyah

Seharusnya, sambung lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, seluruh aktivis PMII tahu sepak terjang H. Mahbub Djunaidi. Tapi pada kenyataannya, tidak demikian. Paling yang diketahui adalah dia sebagai politikus, jarang yang mengenal sebagai penulis berjuluk pendekar pena, sastrawan, dan bahkan penerjemah.

Belajar Muhammadiyah

Lebih dari itu, ziarah bagi PMII adalah memandang hidup ini fana, bahwa setiap orang akan mati, “Juga bagi PMII yang memang latar belakang NU itu sudah membudaya,” pungkas pengurus PMII di Lembaga Penerbitan Pers dan Jurnalistik ini.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Lomba, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Mungkin jarang bagi kita mendengarkan nama Saridin Syarif. Namun terlepas dari populer atau pun tidaknya sosok Syaridin Syarif, ia adalah seorang tokoh yang cukup memiliki peranan penting dalam sejarah penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama seputar penyatuan kembali pulau Sumatera setelah meletusnya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat.

Saridin Syarif adalah tokoh yang berhasil melunakkan pemerintah pusat agar tidak meneruskan pengejaran terhadap PRRI (1958) dan mengampuni Syafruddin Prawiranegara sebagai dalang pemberontakan dengan tebusan berupa pengembalian seluruh kekayaan rampasan Syafruddin yang digunakan sebagai modal pemberontakannya.<br />

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Saridin Syarif juga adalah seorang tokoh yang sangat berjasa dalam pengembangan cabang-cabang NU di Sumatera Barat dan sekitarnya. Beliau merintis NU tahun di pelosok-pelosok Sumatera Barat sejak tahun 1954 bersama Nurain Datuk Patih, teman sekampungnya, dengan melakukan banyak sekali kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Lubuk Limpang, Sawah Lunto, Bonjol, Solok dan Painan dan lain-lain.

Dalam kunjungan-kunjungannya ini Saridin Sarif juga ditemani oleh orang-orang dari Maninjau. Terutama sekali Saridin memang menemani Bapak Thoha Ma’ruf sebagai ketua, sedangkan Beliau sendiri berlaku sebagai sekretaris. Di mana wilayah kunjungannya mencapai Rengat dan Jambi. Sementara bergiat istrinya mendirikan Muslimat NU pada tahun 1956 bersama Ibu Rosma Burhan dari Bonjol. Kegiatan mendirikan cabang-cabang dan ranting-ranting NU ini diisi dengan mendirikan sekolah-sekolah, yang sampai sekarang masih ada. Hingga saat ini sekolah-sekolah tersebut, masih dikelola oleh para penerusnya.

Belajar Muhammadiyah

Latar Belakang Peran kepemimpinan

Belajar Muhammadiyah

Mayoritas jaringan Ulama Sumatera Barat pada dasawarsa 1930 hingga 1950-an berada di bawah naungan Perti yang telah menjadi organisasi berskala nasional dengan memiliki cabang di berbagai wilayah Indonesia. Namun Perti lebih tampak sebagai organisnasi etnis karena begitu kentalnya dominasi ulama Minangkabau.

Kekurangan Perti inilah yang pada gilirannya, memberikan pencerahan kepada beberapa kader terbaik mereka untuk membina sebuah hubungan lintas ulama dalam spekrum yang lebih luas. Para kader terbaik ini beranggapan bahwa untuk mempertahankan dan mengembangkan keislaman ala Ahlussunnah Waljamaah, terutama ala syafi’iyyah, di Indonesia, mestilah ditopang dengan suatu keorganisasian yang mampu menaungi segala etnis dan diterima oleh etnis-etnis yang lain tanpa membeda-bedakan. Artinya mereka menginginkan sebuah interaksi yang sejajar di antara para pejuang Ahlussunnah Waljamaah. Maka menurut mereka, NU adalah bahtera yang sesuai keinginan mereka. Terutama sekali mereka juga tidak menginginkan Muhammadiyah dan Masyumi mengambil peran tunggal dalam sosio religius Sumatera Barat.

Maka mereka pun menaruh sebuah harapan besar agar NU dapat didirikan di Sumatera Barat. Meskipun demikian, sebenarnya orientasi ke-NU-an di antara masyarakat Sumatera Barat telah terjalin sejak lama, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan tapanuli Selatan. Hal ini sikarenakan Tapanuli Selatan sudah menjadi basis Nu sejak tahun 1940-an, sementara telah sejak lama santri-santri asal Sumatera Barat, khususnya wilayah Pasaman yang menuntut ilmu di Tapanuli selatan.

Di samping itu, aktivitas perdagangan mengakibatkan interaksi semakin intens terjadi antara orang-orang NU Tapanuli Selatan de santri-santri Minangkabau. Sehingga beberapa tokoh dan pendiri Nu di Sumatera Barat, beberapa di antaranya berasal dari Tapanuli Selatan, seperti Djamaluddin Tarigan dan Djabonar Lubis yang merupakan orang-orang Melayu asal Tapanuli Selatan. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dagang dengan penduduk pasaman, Keduanya mendirikan Pesantren di sana. Dengan demikian pesantren-pesantren ini jeas berafiliasi kepada NU meskipun belum secara formal.

Maka tak heran ketika cabang resmi NU lahir pertama kali di Rao Mapattunggal, Kabupaten Pasaman, justru cabang NU ini merupakan cabang Istimewa dari Wilayah NU Sumatera Utara (bukan Sumatera Barat atau Sumatera Tengah) karena Sumatera Barat belum memiliki kepengurusan Wilayah. Cabang NU Mapattunggal ini pertama kali diketuai oleh Djabonar Lubis.

Harapan besar kepada NU ini mendapatkan momentumnya ketika Zarkawi, salah seorang Tokoh Muda Perti menghimpun teman-temannya karena tidak puas dengan keputusan Perti yang berpegang ”hidup mati” hanya pada satu Madzhab saja, yakni Syafi’iyah. Zarkawi dan teman-temannya, Abu al-Ma’ani, Saudin Yusuf, Thoha Ma’ruf, yaridin Syarif dan A. Razak Tuanku tanah Air, menggodok tiga opsi yang akan mereka pilih dalam memperjuangkan Ahlussunnah Waljamaah di Sumatera Barat.

Ketiga opsi tersebut adalah, pertama, memperjuangkan pembaharuan pemikiran di Perti agar dapat lebih berkembang dan tidak hanya terpaku pada satu madzhab saja. Kedua, mendirikan organisasi baru yang yang sesuai dengan keinginan mereka. Ketiga, berafiliasi dengan NU yang dianggap juga telah sukup memenuhi kriteria yang mereka inginkan. Meski tentu saja ketiga opsi ini mengandung makna yang mendalam dalam masing-masing jiwa mereka, karena bagaimanapun juga Perti selama ini adalah bahtera mereka dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Hingga pada tahun 1954 M. diadakanlah pertemuan para ulama Sumatera Barat di Bukittinggi yang bertempat di Rumah Ustadz Syarif, seorang ulama alumni perantren Tarbiyah, murid langsung dari Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan sudagar kaya yang mampu membiayai seluruh akomodasi pertemuan tersebut. Hasil kesepakatan bulat dalam pertemuan ini adalah bergabung dengan NU yang segera didukung secara serentak oleh seluruh ulama yang berafiliasi NU.

Satu hal yang cukup menggembirakan bagi kelanjutan keputusan ini adalah adanya kenyataan bahwa Kyai Muslih, seorang tokoh NU dari Jakarta, sedang bertugas sebagai Kepala Jawatan Urusan Agama Sumatera tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Selama ini Kyai Muslih tidak pernah mengajak mereka untuk bergabung dengan NU karena menganggap bahwa masyarakat Sumatera Barat telah memiliki organisasinya sendiri, yakni Perti. Karenanya, Kyai Muslih cukup terkejut mendengar keinginan kader-kader terbaik Perti ini untuk bergabung dengan NU. Kyai Muslih pun kemudian menerima pernyataan dan hujjah mereka untuk bergabung dengan NU. Maka dengan demikian tiada lagi halangan untuk mendirikan kepengurusan NU Wilayah Sumatera Barat.

Di tingkat wilayah, KH Zarqowi Wahid yang telah bergelar Syeikh Tabik Gadang dipercaya memimpin Suriah karena ketokohan dan garis kebangsawanan ulamanya yang tidak tertandingi di sana. Beliau adalah anak kandung dari pemangku Pesantren Tabik Gadang, Syeikh Abdul Wahid yang sangat dihormati. Sementara untuk mengisi kepemimpinan Tanfidziyah rupanya cukup sulit, karena beberapa tokoh memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang sepadan. Mereka antara lain adalah, Saridin Syarif, Abul Ma’ani, Thoha Ma’ruf, Yasir Syafi’i dan Hasan Basri. Namun karena Thaha Ma’ruf dianggap memiliki jangkauan lebih luas karena darah Banjar-nya, maka ia pun dinobatkan sebagai ketua Tanfidziyah. Secara kebetulan KH. Idham Khalid (Ketua PBNU waktu itu) adalah ulama keturunan Banjar. Sedangkan Saridin Syarif dipercaya sebagai sekretaris tanfidziyah.

Terlahir demi NU

Saridin terlahir sebagai Sulung dari tiga bersaudara di Payakumbuh, Sumatera Barat pada 22 Desember 1929 dari pasangan suami istri guru ngaji, Muhammad Syarif yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan Ibu Darusah, seorang ibu rumah tangga, sebuah keluarga sederhana dan religius.

Saridin kecil memulai pelajarannya dari asuhan kedua orang tuanya dan menamatkan pendidikan dasar di Payakumbuh di bawah naungan PERTI, kemudian tetap di kampung halamannya untuk belajar hingga menamatkan SMA di Bukit Tinggi.

Semenjak masa mudanya, Saridin telah aktif di dunia organisasi dengan mengikuti kursus-kursus jurnalistik dan pendidikan kader. Beliau banyak sekali mengikuti pelatihan-pelatihan keorganisasian dan politik sejak muda. Sehingga Ketua Umum PBNU Idham Kholid menawari dirinya untuk melanjutkan belajar ke luar negeri. Namun orang tuanya tidak mengijinkan, maka Beliau pun tidak jadi pergi ke sana.

Saridin Syarif memiliki hobi mendirikan sekolah yang berafiliasi ke NU, mulai dari Payakumbuh (tanah kelahirannya) hingga di Depok (tempat tinggalnya yang terakhir) juga didirikan sekolah dan panti asuhan.

Menurut penuturan Isterinya, ketika mendirikan wilayah NU Sumatera Barat yang berkedudukan di Bukit Tinggi, yang meresmikan adalah Bapak Idham Kholid. Sempat mampir ke Rumah Beliau di Payakumbuh untuk beberapa tahun kemudian datang lagi dan meresmikan cabang NU di sana.

Sejak awal isterinya-lah yang turut mendampingi perjuangannya dalam memperluas dakwah Nahdlatul Ulama. Di mana mereka tidak menalami banyak halangan, karena telah memiliki banyak pengikut kultural yang sebelumnya berasal dari PERTI. Bersama Thoha Ma’ruf dan isterinya, Saridin Syarif yang baru saja menikah kemudian menyumbangkan andil dalam mendirikan cabang-cabang NU di wilayah Sumatera Barat. Betapa pun demikian, harus diakui bahwa cabang-cabang NU di Sumatera Barat lebih muda usianya dibandingkan dengan cabang-cabang PERTI dan Muhammadiyah.

Pada waktu tersebut memang cuaca politik di Indonesia sedang bergejolak. Sekitar waktu pemilu pertama (1955) Saridin Syarif dan isterinya tinggal di Bukit Tinggi, tinggal serumah dengan Thoha Ma’ruf dan isterinya. Sebuah rumah berlantai dua, dengan di lantai bawahnya tinggal keluarga Thaha Ma’ruf sementara di lantai atas tinggal Saridin Syarif dan keluarga. Kemana-mana mereka selalu berdua saja.

Saridin Syarif mengabdikan seluruh hidupnya untuk organisasi. Hingga ia merantau ke Jakarta tahun 1977 dan mengharuskannya selalu pulang balik Jakarta-Padang untuk urusan-urusan NU. Sebenarnya ia telah memulai ke Jakarta sejak tahun 1960-an (sendirian) dan tinggal bersama Bapak thoha Makruf di Kebon Nanas Jakarta Timur. Ia harus bolak-balik ke Jakarta sebagai anggota DPRD Kabupaten 50 Koto.

PKI dan PRRI serta Emas

Pada masa PKI Pak Saridin termasuk dalam daftar yang akan dibunuh oleh PKI (1948) dengan indikasi sudah dibuatkan lubang sumur sehingga ia harus merantau keluar dari kampungnya. Ini pulalah yang menjadi pertimbangan Saridin pada saatnya nanti untuk merantau ke Jakarta, terutama karena penghasilan, ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah, sawah-sawah sudah tidak kuat menghasilkan pendapatan yang cukup banyak.

Sementara PKI juga banyak merampas harta-benda kekayaan seperti mesin jahit dan lain-lainnya, maka untuk menghidupi keluarganya, Saridin harus dapat ke luar dari kampungnya. Karena pada zaman PKI, Saridin senantiasa mengalami kesulitan-kesulitan dan dikambinghitamkan. Padahal kenyataan ini tidak dialaminya secara langsung ketika ia memperjuangkan NU tanpa dimusuhi oleh PKI.

Isteri Saridin Syarif (Ibu Nurani Yusuf), berhasil ditemui oleh penulis menyatakan bahwa para pembesar PRRI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Muhammad Natsir, pernah membangun markas selama beberapa minggu di kampung halamannya. Sehingga suaminya sempat bertemu dengan mereka pada masa-masa yang rawan tersebut.

Nurani Yusuf adalah saksi mata yang hingga kini masih hidup yang dapat menerangkan bahwa para pemberontak PRRI telah sempat mengendalikan pemerintahan setempat dengan mencetak uang dan mengendalikan transaksi perdagangan di level yang terendah sekalipun. Ia menuturkan bahwa PRRI membuat sendiri uangnya di hutan dengan mengangkat percetakan ke hutan. Bahkan Beliau pernah tinggal serumah dengan isteri Syafruddin Prawira Negara di rumah mertuanya, (ibunya Pak Saridin). Setiap hari istri Syafruddin ini mengantarkan nasi dan bekal-bekal lainnya ke hutan tempat para tentaranya bermarkas.

Istri Syafruddin Prawiranegara sendiri mengajarkan masak dan menjahit kepada rakyatnya waktu itu, dan bahkan sempat mendirikan sekolah untuk anak-anak para pendukung PRRI, bahkan setelah mereka terdesak ke hutan dan gunung-gunung.

Syafruddin bersama keluarganya dan banyak sekali keluarga-keluarga pendukungnya saling berbelanja di kampung dengan menggunakan uang (yang dicetak oleh) mereka sendiri. Hal ini dapat berlaku karena Syafruddin Prawiranegara sendirilah yang menyuruh. Dicetak sendiri, dibelanjakan di antara mereka sendiri. Mereka juga membawa pemancar radio yang setiap hari selalu mengudarakan siaran tentang berita-berita kemenangan PRRI dan menjelek-jelekkan Soekarno. Hal ini jugalah yang menjadikan Muhammad Natsir dan Syafruddin dapat mempercayai pada Saridin Syarif.

Setelah PRRI kalah, rupanya Pak Syafrudin membawa emas yang sempat disembunyikan ditanam di bawah kolong rumah panggung ayah Saridin, sementara sang pemilik rumah justru tidak mengetahui bahwa yang ditanam di bawah rumah mereka adalah emas murni. Menurut yang menanam, peti-peti tersebut berisi senjata. Hingga setelah kalah barulah ketahuan bahwa isinya ternyata emas.

Maka setelah kalah emas yang ditanam di bawah rumah Saridin tersebut inilah yang dijadikan tebusan kepada pemerintah pusat sebagai tanda penyerahan diri mereka. Saridin Syarif sendiri yang mengantarkannya ke Jakarta sebagai tebusan atas nyawa Pak Syafruddin dengan dikawal ketat oleh tentara dari Jakarta. Emas ini kemudian oleh Presiden Soekarno dijadikan sebagai bahan dasar puncak Monumen Nasional (Monas) di jantung kota Jakarta.

Tentara pusat menyita seluruh barang rampasan perang yang tersisa setelah PRRI kalah. Saridin Syarif beserta tokoh-tokoh NU Sumatera Barat lainnya seperti Bagindo Letter, bagindo Jamhar, Bagindo Nukman dan Bagindo Baha’uddin Syarif tidak ditahan. Sementara Thoha Ma’ruf sedang berada di Jakarta, sehingga selama masa-masa terjadinya pemberontakan PRRI maupun seteahnya, NU tidak vakum. Hanya orang-orang Masyumi saja yang ditahan. Padahal ketika meletusnya pemberontakan PRRI, tidak ada utusan dari PBNU yang datang ke sana.

Dengan Thaha Ma’ruf

Persahabatan dengan Thaha Ma’ruf tetap terjalin hingga ke Jakarta, karena Beliau pulalah yang memintanya untuk membawa keluarga saridin ke Jakarta. Istri Thaha ma’ruf pulalah yang mengajarai Istri Saridin Syarif mendirikan majlis ta’lim dan panti asuhan. Bahkan hingga memberikan bantuan dan modal awal untuk membeli tanah.

Sebagai anak perempuan dari kampung yang dididik dengan pendidikan keagamaan yang kuat di pesantren, tentu saja Istri Saridin ingin menularkan ilmunya kepada masyarakat. Maka ketika isteri Saridin ini telah menyusul ikut ke Jakarta, tentu saja ia pun ingin mendirikan majlis ta’lim dan pesantren.

Dengan latar belakang yang berasal dari pedalaman Sumatera barat yang religius, maka hingga masa-masa senjanya Beliau selalu berpesan kepada keluarganya, ”Buatlah pesantren, mengasuh anak-anak yatim. Karena walaupun anak kita banyak, belum tentu setia (maksudnya selalu menunggui/berdekatan). Bisa jadi anak-anak kita dibawa ke mana-mana (menunjuk arti tempat) sama suaminya. Maka kita di hari tua harus menyayangi anak-anak yatim.”

Hingga akhir hayatnya, Beliau selalu memelihara silaturrahmi dengan para teman seperjuangannya dan kolega-koleganya, termasuk sangat akrab dengan Idham Khalid.(Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Purworejo, Belajar Muhammadiyah. Tetabuhan beduk dan kentongan mengalun ritmik dari Masjid Shiddiq Zarkasyi Kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan setiap tengah malam selama bulan Ramadhan. Tradisi tetabuhan bernama tedur itu adalah peninggalan Wali Songo yang masih dilestarikan hingga sekarang. Bahkan saat masa penjajahan, tedur turut berperan mengusir penjajah.

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Pada masa awal perkembangan Islam di pulau Jawa, beduk dan kentongan menjadi penanda masuknya waktu shalat. Ketika beduk dan kentongan dipukul, orang kemudian berbondong-bondong ke masjid atau musala untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Meski saat ini zaman sudah berubah dengan banyaknya peralatan modern sebagai pengganti beduk atau kentongan, namun peninggalan para pendahulu tidak serta merta ditinggalkan begitu saja. Sesuatu yang baik layak dilestarikan sebagai pengingat sejarah.

"Dengan melestarikan tradisi Wali Songo yang sangat baik ini, akan membuat pahala para wali yang menciptakan beduk dan kentongan sebagai pemanggil shalat terus mengalir," kata pengasuh Ponpes An-Nawawi KH Achmad Chalwani, di depan para santri, baru-baru ini.

Belajar Muhammadiyah

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini menuturkan, selain menjadi penanda waktu shalat, beduk dan kentongan ini juga ditabuh dalam momentum-momentum tertentu seperti menjelang Ramadhan, sepanjang tengah malam selama Ramadhan, menjelang hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Tetabuhan momentum-momentum tertentu itulah yang disebut tedur.

Belajar Muhammadiyah

"Kalau di sini ketukan pukulan beduk dan kentongan antara waktu shalat satu dengan yang lain berbeda-beda. Kalau tedur, pukulannya lebih ritmik," terangnya.

Ketika ditanya asal muasal nama tedur, KH Chalwani mengaku tidak begitu paham. Nama itu telah turun temurun dipakai sejak zaman dahulu. Di Purworejo, tradisi tedur tidak hanya dilakukan di Berjan saja. Namun Pesantren dan masjid di desa-desa juga banyak yang melakukannya.

"Memang saat ini, tedur tidak lagi sesemangat zaman dulu. Maka di An-Nawawi saya memberikan penekanan kepada para santri agar tedur tetap dilestarikan agar tidak punah termakan zaman," ujarnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, tedur pernah berjasa turut serta berperan mengusir penjajah Belanda. Ceritanya, saat tentara Belanda melakukan patroli, dari kejauhan terdengar suara beduk ditabuh.

Kemudian para tentara itu berhenti dan bertanya kepada warga perihal suara tedur yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Dijawablah oleh warga jika suara itu adalah suara santri sedang tedur.

"Mendengar jawaban tersebut, Belanda ketakutan dan berkata keheranan sambil balik kanan, tedurnya santri aja kayak gitu, kalau bangun terus gimana, ya?" tiru KH Chalwani, diikuti gelak tawa para santri.

Menurutnya, itu cerita turun-temurun yang ia meyakini kebenarannya sebagai bagian dari keistimewaan tradisi tedur. (Lukman Khakim, Ahmad Naufa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Makam, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Tidak ada orang baik tanpa masa lalu dan tidak ada orang jahat tanpa masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, belajarlah untuk selalu berpikir positif dan selalu berprasangka yang baik kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri ketika memberikan tausiyah dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Pemkab Probolinggo antara Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo bersama ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di auditorium Kantor Bupati Probolinggo, Senin (3/7) siang.

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

“Usahakan bergaul dengan orang-orang terbaik dan pilihan. Sikap mental dan kepribadian seseorang dipengaruhi kuat oleh pergaulan. Jangan percaya ada orang sukses tanpa dukungan sahabat-sahabatnya. Link network orang-orang terbaik dan pilihan,” katanya.

Menurut Gus Ali, kisah orang-orang sukses pasti ada wanita hebat dibaliknya (siapa ibu yang melahirkan dan siapa istri yang mendampinginya). “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik peristiwa pasti ada hikmah. Orang yang tidak mampu berpikir positif pasti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ali mengajak ribuan ASN untuk membaca Surat Luqman yang artinya dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong. Sesungguhnya Allah tidak senang orang yang sombong.

Belajar Muhammadiyah

“Ada juga tafsir Ibnu Katsir yang berbunyi, jangan palingkan wajahmu. Hargai lawan bicaramu. Ciptakan suasana akrab penuh kekeluargaan. Jangan percaya orang sukses jadi pemimpin kalau komunikasinya jelek,” terangnya.

Gus Ali menerangkan bahwa prinsip dakwah adalah merangkul bukan memukul, mengobati bukan menyakiti dan mencari kawan bukan mencari lawan. Untuk berpikir positif maka kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT.

“Mari berfikir positif, aku bisa, aku bahagia, aku sukses, aku cerdas dan aku kaya. Insya Allah menjadi kenyataan, modalnya berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua bisa sukses dengan segala kelebihan masing-masing, melengkapi bukan menjatuhkan,” pungkasnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menerangkan bahwa selama 10 hari lamanya para ASN menikmati libur cuti lebaran dan disibukkan dengan silaturahim dengan keluarga. Oleh karena itu, hendaknya disempatkan minimal setahun sekali untuk bersilaturahim.

“Bekerja dan berkoordinasi dengan teman kerja satu kantor, lintas kantor dan lintas instansi tentunya kita tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahim dengan semua yang mendukung dan mensupport sehingga menjadi karyawan dan karyawati serta pelayaan rakyat yang lebih baik,” terangnya.

Tantri mengharapkan agar momentum ini menjadi cambukan semangat untuk menjadi yang jauh lebih baik dan amanah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Terlebih selama selama bulan suci Ramadhan kita ditempa akhlak sehingga menjadi pelayan rakyat yang lebih baik,” pungkasnya.

Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo H Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, RMI NU, Santri Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Wina, Belajar Muhammadiyah

Afghanistan berisiko menjadi negara produsen narkoba jika tidak ada dukungan internasional untuk membantu penciptaan lapangan kerja di negara tersebut, demikian kepala Kantor PBB untuk Obat-Obat Terlarang dan Kriminal (UNODC) Yury Fedotov pada Rabu.

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Fedotov menggambarkan masa depan suram persoalan narkotika di Afghanistan satu tahun sebelum penarikan pasukan NATO pada tahun depan, lapor Reuters dan dikutip Antaranews.

Dia mengatakan bahwa kehadiran pasukan NATO telah menciptakan sepertiga total investasi dan lapangan kerja di Afghanistan. Dengan demikian Fedotov berpendapat bahwa pemerintah setempat harus segera bertindak sebelum pasukan NATO mengakhiri tugasnya.

Belajar Muhammadiyah

Penelitian tahunan UNODC yang akan dilakukan pada akhir bulan ini akan menunjukkan seberapa banyak peningkatan pembibitan dan produksi opium dibandingkan pada tahun 2012, demikian Fedotov kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Belajar Muhammadiyah

Afghanistan saat ini merupakan produsen nomor satu opium (bahan utama untuk membuat heroin) di dunia. Dari situlah Taliban mendapatkan pendanaan untuk gerakan gerilyanya.

"Keadaan saat ini semakin memburuk dan ini sangat mengecewakan," kata Fedotov.

Dia mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan sebuah kemunduran yang harus disikapi sebagai tantangan.

Pemerintah Afghanistan akan membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menghentikan penanaman opium saat sebagian besar tentara asing pulang ke negaranya masing-masing.

Obat-obatan terlarang telah menjadi sumber pendanaan utama pemberontakan dan mengancam stabilitas keamanan kawasan. Selain itu, angka kecanduan di Afghanistan merupakan yang terbesar di dunia.

"Afghanistan juga merupakan lahan yang subur untuk korupsi dan berkembangnya organisasi kriminal transnasional," kata dia.

Setelah hampir 12 tahun pasukan NATO menginvasi Afghanistan, masih banyak wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Taliban dan pasukan lokal masih bergantung dengan dukungan unit udara luar negeri, terutama di wilayah terpencil.

Fedotov mengatakan bahwa memang terdapat niat politik di kalangan pejabat Afghanistan untuk mengakhiri persoalan narkoba. Namun upaya penangkapan dan penyitaan selama ini masih gagal membendung naiknya produksi opium.

Menurut Fedotov, petani-petani Afghanistan membutuhkan infrastruktur yang lebih baik dan pasar-pasar baru untuk menjual produk-produk legal. Lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri dibutuhkan untuk mengubah ekonomi yang bergantung pada produksi narkoba.

"Kita masih belum bisa membangun model ekonomi alternatif di Afghanistan," kata dia. 

Pada akhir tahun lalu, Afghanistan mensuplai 75 persen pasar heroin dunia.

“Diasumsikan, tahun ini akan mencapai 90 persen, kata Jean-Luc Lemahieu, pejabat tinggi PBB untuk kontra-narkotika di Afghanistan seperti dilaporkan servingdrope.

Produksi opium semakin menguntungkan ketika harganya naik sejak 2010 ketika terjadi pemberantasan penanaman opium. Petani dapat memperoleh $203 setara 2.250.000 rupiah per kilo ketika memanen opium, dibandingkan hanya $43 sen (Rp4800) per kilo gandung atau $1.25 (Rp14.000) beras.

Secara keseluruhan, produksi opium bisa mencapai angka seperti tahun 2008, ketika 388,000 hektar lahan ditanami opium. (mukafi niam)  

Foto: servingdrope

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Tokoh, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock