Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengajak organisasi Muhammadiyah bersatu dalam sidang itsbat penetapan awal bulan kalender Hijriyah terutama Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah bersama Departemen Agama dan seluruh organisasi Islam di Indonesia.

Dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antara LFNU dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhamamdiyah Jakarta sebagai kelanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertemuan terakhir kemarin diadakan di kantor PBNU Jakarta pada Selasa (2/10).

Ketua LFNU KH Ghazali Maroeri menyatakan, titik temu antara NU dan Muhammadiyah dalam hal penetapan metode penentuan awal bulan Hijriyah sudah semakin terang.

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

“Kami sudah merintis hal itu. Kami mengatakan kepada Mejelis Tarjih bahwa jangan melihat NU-nya, tapi ini adalah urusan masyarakat banyak. Namun memang soal keyakinan itu tidak bisa dirubah sekaligus,” kata Kiai Ghazali kepada Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Ahad (14/10).

Ada beberapa hal yang akan dibincang secara serius dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai dalil-dalil syar’i berkaitan dengan penentuan awal bulan Hijriyah, terutama pada soal definisi “hilal” yang menjadi patokan utama penentuan awal bulan sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Belajar Muhammadiyah

“Sangat mungkin kita ketemu karena Pak Fatah Wibisono (pengurus Majelis tarjih Muhamadiyah yang membidangi persoalan falakiyah, red) adalah alumni pesantrennya Kiai Bisri Syamsuri (Pesantren Denanyar Jombang, red). Kami sering menyebutnya Muhammadiyah cabang Denanyar,” kata Kiai Ghazali bergurau.

Sementara itu berbagai fihak berharap semua ormas Islam di Indonesia tidak mengumumkan penetapan awal Syawal sendiri. Penetapan awal syawal harus disepakati bersama dalam sidang itsbat.

Ketua Umum Pengurus Pusat Jamaah Al-Khidmah H Hasanuddin berharap Muhammadiyah tidak mengumumkan keputusan awal bulan sebelum sidang itsbat. “Apakah etis keikutsertaan Muhammadiyah dalam sidang itsbat yang akan menetapkan tanggal 1 Syawal sementara Muhammadiyah sendiri sudah mempunyai ketetapan,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah mewakili jamaah tarekat terbesar Qadiriyah-Naqsabandiyah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut H Hasanudin, pengumuman tersebut memang hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah sendiri. “Tapi mereka adalah warga negara Indonesia yang mestinya dianjurkan untuk taat pada keputusan Pemerintah Indonesia demi kesatuan dan persatuan,” katanya. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Minggu, 18 Februari 2018

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Jakarata, Belajar Muhammadiyah

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menerima vonis  dua tahun penjara dari Majelis Hakim setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penodaan agama. Usai pembacaanputusan Ahok bersama tim penasihat hukum bersepakat untuk mengajukan banding.

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Terkait proses hukum tersebut, Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas berkomentar, sebagai negara hukum, siapa pun harus tunduk dan patuh terhadap hukum. Hal ini sesuai dengan prinsip supremasi hukum. Untuk itu, apa pun putusan hakim, katanya, harus dihormati.

“Sebaliknya, seluruh pihak juga harus memberikan penghormatan yang sama kepada Pak Ahok atas upaya hukum banding yang dilakukan dalam mengekspresikan keberatannya terhadap putusan pengadilan,” katanya dalam siaran pers, Selasa (9/5).

Belajar Muhammadiyah

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tak mengeluarkan hujatan atau cibiran terhadap warga negara yang menggunakan hak hukumnya atas suatu proses peradilan. Karena hal itu merupakan pengejawentahan terhadap prinsip kesetaraan di mata hukum sebagaimana dijamin konstitusi.

“Di lain pihak, biarkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta selaku judex facti menjalankan fungsi judiciary secara bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary) dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut di tingkat banding nantinya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, kesanggupan menghargai rangkaian proses hukum yang berjalan adalah bagian dari ketaatan terhadap hukum itu sendiri. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Lomba, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meyakini kekuatan NU di dalam menjaga ketenteraman beragama di tengah masyarakat. Bagi As’ad, syiar NU yang meliputi segala sisinya di suatu daerah dengan sendirinya membuat kecil panggung kelompok kecil yang radikal di masyarakat.

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

“Kalau NU setempat itu hidup dan bergerak, mereka akan kesempitan ruang gerak,” kata As’ad dalam sambutan pembukaan Workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda bertempat di Hotel Acacia, Jakarta, Senin (15/6) malam.

Ia menceritakan pengalamannya soal perkembangan kelompok radikal di kawasan Solo Raya yang meliputi Sragen, Klaten, Wonogiri, Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Belajar Muhammadiyah

“Ketika mereka mulai menggeliat, saya bertanya bagaimana gerakan NU di sana? Ternyata NU-nya selama ini tidak ada berwujud. Inilah salah satu sebab mereka lebih leluasa bergerak,” kata As’ad.

Belajar Muhammadiyah

Setelah itu, As’ad mengundang pengurus-pengurus NU yang sedang vakum itu ke Jakarta. Di sini, mereka didorong dan dibekali untuk menggerakkan NU setempat.

“Saya minta mereka untuk memasang plang-plang NU. Cepat berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat karena ini bibit bahaya bersama. Alhamdulillah, NU-nya jalan, mereka berangsur surut. Pokoknya, kalau NU lemah, mereka leluasa bergerak,” tandas As’ad. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Cirebon, Belajar Muhammadiyah - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon yang dinakhodai langsung oleh Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj memberikan beasiswa pendidikan pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016-2017. Pihak kampus? ini mengobral beasiswa untuk calon mahasiswa baru yang memenuhi tiga kriteria persyaratan.

Calon mahasiswa UNU Cirebon penerima beasiswa tahun ini adalah mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran, mereka yang berprestasi, dan mereka yang tidak mampu dan aktif kegiatan kemahasiswaan.

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Demikian disampaikan Wakil Rektor UNU Cirebon Bidang Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat Dr KH Moh Badrussalam Shof. Menurut Doktor Bidang Kurikulum dan Metodologi Pengajaran alumnus Omdurman Islamic University Sudan ini pada acara rutinan di Masjid Kampus 2 UNU Cirebon Jalan Dr Cipto, Selasa (10/5) malam.

Belajar Muhammadiyah

Menurut mantan Rais Syuriyah PCINU Sudan ini, hal yang menarik adalah bahwa untuk beasiswa katagori penghafal Al-Quran pihak kampus tidak mengharuskan peserta hafal 30 juz seperti diberlakukan perguruan tinggi lain. UNU Cirebon akan tetap memberikan beasiswa pendidikan bagi mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran.

Belajar Muhammadiyah

"Siapa saja yang sudah hafal minimal empat juz bisa ikut tes mendapatkan beasiswa penghafal Al-Quran," tegas Kang Badrus yang mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UNU Cirebon. (Abfalaka/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Jakarta, Belajar Muhammadiyah 

Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen-PPPA) menggelar kegiatan Gerakan Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan (Gelatik) dengan tajuk "Penanganan Eksploitasi Anak di Kabupaten Lampung Timur, Brebes, dan Simalungan" di Hotel Sofyan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (15/12).

Hadir pada kegiatan ini, Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, Plt Deputi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rosmayanti, Dosen Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Alai Najib, dan lain-lain. 

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Anggi mengatakan bahwa Gelatik merupakan salah satu skema yang dipromosikan Fatayat NU. Sampai hari ini, Fatayat NU baru mempunyai tiga kabupaten yang menjadi pilot project, yaitu Brebes, Lampung Timur, dan Simalungan. 

Menurutnya, keberadaan Gelatik sangat penting tidak hanya bagi Fatayat NU, namun bagi masyarakat luas untuk bisa meniru, beradaptasi, melakukan pendekatan-pendekatan yang sudah dilakukan di lapangan, terutama perlindungan terhadap anak yang berbasis komunitas dan masyarakat. 

Kader Fatayat NU sendiri, kata Anggia selalu bersama masyarakat, bahkan menjadi tempat bertanya dalam banyak hal, khususnya dalam gerakan perlindungan perempuan dan anak. 

Belajar Muhammadiyah

Perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini pun sempat mengungkapkan bahwa lahirnya Fatayat NU tidak bisa dilepaskan dari semangat untuk kepentingan dan keberpihakan terhadap perempuan dan anak. 

"Keberpihakan kita kepada anak dan perempuan sudah lama. Bahkan semenjak lahirnya Fatayat NU," katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Surabaya, Belajar Muhammadiyah - Era keterbukaan yang dinikmati bangsa ini ternyata menyisakan sejumlah permasalahan. Derasnya akses informasi yang diterima masyarakat dengan sangat mudah, pada gilirannya mengancam bangunan kebangsaan kita.

"Masyarakat saat ini disuguhkan dengan tayangan televisi berbasis satelit serta relay radio Salafi Wahabi yang muatannya cukup memprihatinkan," kata Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur Ahmad Najib AR usai rapat pleno, Sabtu (11/3) petang.

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Ia menyebut beberapa media Wahabi yang jumlahnya puluhan dan rata-rata mengudara melalui televisi satelit, termasuk juga radio dakwah yang tersebar di berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Najib, masyarakat saat ini tengah dihadapkan pada suasana yang serba dilematis. "Dengan alasan demokrasi, maka masyarakat bisa mengakses sejumlah informasi secara terbuka, termasuk keberadaan radio dan televisi satelit," ungkapnya.

Akan tetapi, tidak sedikit acara yang disiarkan ternyata justru mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini kermudian menyebutkan sejumlah ajaran Wahabi yang tidak sesuai dengan NKRI. "Dakwah mereka kerap menebar kebencian kepada kelompok lain, tidak toleran, bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang ramah dan rahmatan lil alamin," ungkapnya.

Banyaknya konflik di akar rumput kerap diawali dengan ujaran kebencian yang disampaikan kalangan yang beraliran Wahabi. "Dari mulai ceramah agama, juga status di media sosial, tidak jarang yang menyebarkan ajaran tendensius yang meresahkan bahkan berpotensi mengakibatkan perpecahan di masyarakat. Belum lagi banyak ajaran kalangan ini yang berlawanan dengan Pancasila," lanjutnya.

Yang memprihatinkan, ajaran Wahabi? itu disampaikan lewat sejumlah televisi satelit maupun radio berjejaring. "Apalagi dari segi regulasi, selama ini belum ada aturan yang memberikan pengawasan terhadap isi siaran dari televisi satelit tersebut," katanya.

Gus Najib berharap agar pemerintah melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap media Wahabi tersebut. "Kalau kepada media yang memiliki izin siar resmi, pemerintah demikian selektif dan ketat, hal serupa juga harus diberikan kepada media beraliran Wahabi yang banyak mengudara di TV satelit tersebut," harapnya.

Karena kalau hal tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin integrasi bangsa akan terancam. "Taruhannya terlalu mahal, yakni eksistensi NKRI," sergahnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Anti Hoax, Warta Belajar Muhammadiyah

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat

Bandung Barat, Belajar Muhammadiyah. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus terus berpegang kepada Kaidah Nahldatul Ulama ‘Al-Muhafadhotu Alal Qadimishalih Wal Akhdhu Bijadidil Ashlah’  yakni menjaga nilai-nilai yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik harus terus dilaksanakan oleh Jam’iyyah dan Jama’ah NU.

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat

Demikian pesan penting dalam taushiyah disampaikan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, senin (4/1) di Mesjid Al-Irsyad Kotabaru Parahyangan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Rais Aam menjelaskan, sekarang ini banyak aliran sempalan, pemikiran radikal yang mengganggu umat muslim di Indonesia. Pemikiran garis keras muncul dari pemahaman agama yang dangkal, pemikiran yang selalu melihat ajaran agama secara tekstual, tidak mau melihat pendapat para ulama salaf. 

Belajar Muhammadiyah

“Para ulama selalu berijtihad karena tidak semua perilaku kehidupan ini ada teks Qur’annya. Selama itu menyangkut perbedaan paham atau madzhab itu ditoleransi oleh MUI atau PBNU, tapi jangan sekali-sekali membuat hal penyimpangan agama karena hal itu harus disingkirkan. Perbedaan pendapat harus ditoleransi dan penyimpangan harus diamputasi,” paparnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Rais Aam, untuk menjembatani itu, NU mempunyai prinsip tawasuth dan tasamuh. Mempunyai pemikiran moderat ditengah-tengah perbedaan pendapat. Pemikiran yang mengedepan mashlahat, tidak keras dan juga tidak bebas. 

Dalam bahasa agama Qaulan Layyina. Harus lembut cara menyampaikan pendapat dan isi pendapat tersebut disampaikan dalam bahasa lembut pula. Islam lahir di Indonesia begitu beragam, dan keberagaman dalam beragama saat ini NU menyebutnya dengan istilah Islam Nusantara. 

“Artinya Islam yang mengakui perbedaan dan keberagaman madzhab. Islam lahir apa adanya dari budaya leluhur yang tidak bertentangan secara Aqidah. Perbedaan pendapat jangan mudah disebut bid’ah. Perbedaan adalah baik dan yang bid’ah adalah telunjuk mereka yang suka tunjuk orang semaunya,” tandasnya.

Karena itu menurut Rais Aam, inti dari acara Maulid ini, harus terus menjaga persatuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyyah.  

Peringatan maulid ini terselenggara atas kerjasama pihak DKM Al-Irsyad Kotabaru dengan MUI KBB, PCNU KBB, Aliansi Ormas KBB, Kementerian Agama KBB dan Yayasan Kotabaru Parahyangan. Hadir Ketua PCNU KBB,  H Agus Mulyadi, Bupati KBB, H Abu Bakar, dan para Asisten serta jajaran dari Pemkab Bandung Barat. Kepala Kemenag KBB, H Asep Ismail, Ketua MUI KBB KH Mohammad Ridwan, dan Rais Syuriyah PCNU KBB KH Aa Maulana. (Saprudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Demak, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Asuhan KH. Asrori Lathif Desa Jragung, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Ahad (5/1) pagi, menggelar acara Khotmil Qur’an di Masjid Busyra Lathif di desa setempat.

Sebanyak 9 santri yang ikut program tahfidh (hafalan alQur’an 30 Juz), 15 peserta bin nadzar (mengkhatamkan 30 juz dengan cara membaca dan melihat mushaf) dan 17 santri yang telah merampungkan belajar juz ‘amma tampil di hadapan para kiai dan seluruh pengunjung haul haul Simbah Kiai Marwan, AH.

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Usai mengkhatamkan al-Qur’an peserta khataman mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Ulil Albab, putra seorang hafidz dan pakar al-Qur’an, KH. Arwani Amin, dari Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya para wisudawan menyimak wasiat KH Arwani Amin.

Belajar Muhammadiyah

Putra sulung KH Arwani Amin, KH Ulin Nuha, membacakan wasiat tersebut dengan ayat “Wala tasytaruu bi aayaatii tsamanan qalilaa”. Ayat tersebut berpesan tentang larangan memperjualbelikan al-Qur’an dengan harga yang rendah, yakni dunia.

Belajar Muhammadiyah

Dalam wasiatnya, KH Arwani tidak meridhai santri-santrinya untuk mengikuti ajang Musabaqah Tilawtil Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah kejuaraan “MTQ”. Wasiat ini memiliki silsilah sanad yang jelas sampai kepada KH Arwani dan menjadi pegangan para penghafal al-Qur’an di sana. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Sholawat, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

“Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima,” kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Belajar Muhammadiyah

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Sejarah, Sholawat Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan, pemisahan agama dan urusan-urusan dunia di ruang publik tidak akan bisa diterapkan di Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang kental dalam beragama. 

“Tidak mungkin sekularisme diterapkan di sini. Kalau dilakukan, maka akan memberikan ruang kepada atheis,” kata Yenny dalam acara diskusi publik bertema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa di Jakarta, Rabu (12/4).

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia

Menurut dia, praktik-praktik pemisahan agama dan urusan-urusan dunia di ruang publik secara murni itu tidak ada. Ia mencontohkan Negara Prancis yang terkenal keras dalam menerapkan sekularisme. 

Ia menuturkan, di Perancis agama dan urusan dunia benar-benar dipisahkan seperti tidak bolehnya salat di kantor, anak-anak sekolah tidak boleh menggunakan simbol-simbol agama seperti jilbab dan lambang salib, dan menggunakan baju renang muslimah atau burkini juga menjadi masalah karena dianggap memamerkan agama di ruang publik. 

“Tapi kenyatannya di sana Hari Raya Natal masih dirayakan. Agama sudah masuk komersialisasi,” urainya. 

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan, hal tersebut dilakukan karena Negara-negara Barat memiliki trauma terhadap kekuatan gereja pada zaman dahulu yang menyebabkan perang saudara berkepanjangan dan menelan jutaan korban. 

Adapun Indonesia, Yenny menilai, hubungan antara agama dan negara itu baik-baik saja di dalam sejarahnya. Baginya, saat ini Indonesia sudah memiliki formula yang baik dalam hubungan agama dan negara. 

“Ada ruang untuk orang menampilkan identitasnya di ruang publik. Ini formula ajaib Pancasila yang harus dijaga. Orang (negara) lain masih mencarinya,” terangnya.

Ia menyatakan, agama itu sudah menjadi bagian dan menjadi kekuatan dari Indonesia. Maka dari itu, ia menilai, sekularisme murni tidak akan pernah bisa diterapkan di negara dengan jumlah pulau terbanyak di dunia ini.

Belajar Muhammadiyah

“Sekularisme murni tidak akan bisa diterapkan di Indonesia,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sholawat Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Bogor, Belajar Muhammadiyah. Kontekstualisasi hukum Islam yang terkumpul dalam kompilasi hukum Islam (KHI) dinilai masih sangat kurang pas dengan kehidupan sosial di Indonesia, karena masih banyaknya pihak yang merasa terdiskriminasi dari penerapan hukum Islam produk Inpres 1992 itu, terutama dari kalangan perempuan.

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Hal itu terungkap pada acara Bedah Buku “Fiqih Indonesia” karangan Marzuki Wahid? yang di selenggarakan oleh Mahasiswa STAINU Jakarta Prodi Ahwalu Syakhsiyah, Kamis (29/5) di gedung Kampus B STAINU Jakarta, Parung Bogor.

Hadir KH Husein Muhammad, pengasuh pesantren Darul Tauhid Arjawinangun sekaligus sebagai komisioner komnas perempuan dan Ulil Absor Abdalla pendiri Jaringan Islam Liberal dan dimoderatori oleh Ahmad Ikrom salah satu dosen di STAINU Jakarta.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan dihadiri oleh Ketua STAINU Jakarta, Drs Mujib Qolyubi MH dan segenap civitas akademika STAINU serta mahasiswa dari kampus lainnya seperti UIN Jakarta dan PTIQ.

Belajar Muhammadiyah

Husein Muhammad dalam kesempatan itu mengatakan, buku Fiqih Indonesia adalah buku yang menawarkan konsep Fiqih yang benar-benar baru bagi masyarakat Indonesia, karena pembahasan yang di ketengahkan dalam buku ini mengenai hukum keluarga yang populer pula di sebut dengan al-Ahkam al Ahwal al-Syakhsiyah yang berusaha untuk meniadakan praktek diskriminatif yang dialami oleh sebagian keluarga, khususnya adalah pihak perempuan karena mengacu pada undang-undang hukum islam yang terangkum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Karena pembahasan ini sifatnya sangat baru dan asing di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di kalangan Nahdhiyyin, menjadikan buku ini, buku yang sangat kontroversial.

“Hukum keluarga di Indonesia ini masih bernuansa diskriminatif-patriakhis, coba lihat saja dalam beberapa kasus, seperti? di undang-undang mengenai pembatasan usia nikah bagi perempuan yang di atur dalam pasal 15 ayat (1). Pasal ini di anggap tidak adil karena telah membatasi usia minimal perempuan boleh menikah lebih rendah usia laki-laki, sedangkan dalam usia 16 tahun perempuan terkadang masih belum siap mental dan alat reproduksinya dan masih banyak lagi, seperti tentang perempuan bisa menjadi kepala rumah tangga, bolehnya pernikahan beda agama dan lain sebagainya,” Kiai Husein yang sekaligus sebagai pembela hak-hak perempuan ini.

Menanggapi banyaknya pro dan kontra terhadap isi buku Fiqih Indonesia, Ulil Absar Abdalla mencoba untuk memberikan pemahaman kepada para peserta bedah buku yang hadir dengan menjelaskan arti sebenarnya Ukhuwwah Islamiah.

“Ukhuwah Islamiah yang benar adalah bukan ukhuwah yang mengharuskan semuanya sama. Bukan ukhuwwah yang mengharuskan semua ummat muslim harus berpendapat yang sama, kalau satu kelompok A maka kelompok yang lainnya juga A. Tapi ukhuwwah islamiah adalah persaudaran umat Islam yang di dasari dengan perbedaan dan keragamaan,” tegasnya.

Pada akhirnya kedua narasumber menawarkan pentingnya membaca buku Fiqih Indonesia yang di dalamnya terangkum hukum-hukum Islam baru yang sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia. (Nizar Presto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Sholawat, Budaya Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Revolusi Mental merupakan bagian dari amal shaleh. Di dalam amal soleh terdapat banyak nilai yang harus dipahami dan diterapkan secara masif.

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental Bagian dari Amal Shaleh

 

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Aizzudin Abdurrahman ditengah-tengah diskusi pada acara Workshop Finalisasi Penyususnan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/10).

Menurut pria yang akrab disapa Gus Aiz ini, amal soleh merupakan salah satu hal yang mendapat jaminan dari Allah.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menyebutkan bahwa amal soleh ada yang bersifat materil dan non-materil. Oleh karenanya, amal soleh bukan sebagai sub melainkan sebagai tema besar.

“Revolusi mental itu tidak akan menjadi apa-apa kalau tidak didasari oleh niat baik amal soleh tadi,” tegasnya.

Pada acara yang diselenggarakan atas kerja sama PBNU dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini,  Gus Aiz berharap, revolusi mental yang digaungkan pemerintahan Jokowi bisa menjadi motivasi dan terdapat pesan-pesan optimis yang bisa disebarkan kepada masyarakat Indonesia.

Hadir pada acara tersebut Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baedlowi, Sultonul Huda, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna, Wakil Sekretaris LDNU H Moch. Buchori Muslim, Asisten Deputi Pemberdayaan Dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmawansyah. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Humor Islam, Kyai Belajar Muhammadiyah

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin tidak mempermasalahkan calon presiden atau calon wakil presiden yang melafalkan doa pembuka dengan shalawat nabi atau mengutip ayat Al Quran.

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama

"Saya pikir hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Batasan-batasan politisasi agama dalam Pilpres sudah ada di KPU, seperti larangan memakai tempat ibadah untuk kampanye. Tapi kalau melafalkan shalawat sebelum pidato itu tidak termasuk politisasi agama," kata Din di Jakarta, Kamis.

Ia juga menilai penggunaan simbol agama tidak perlu dipermasalahkan jika dipakai oleh capres-cawapres saat berkampanye.

Belajar Muhammadiyah

"Seperti jika seorang capres-cawapres menggunakan salam assalamualaikum dalam membuka pidato. Aneh jika capres-cawapres mengucapkan assalamualaikum kemudian digolongkan sebagai politisasi agama," katanya.

"Doa shalawat juga begitu, tidak masuk politisasi karena jika itu dipakai untuk pembuka maka tergolong baik atau tidak mengarah kepada politisasi," kata dia.

Belajar Muhammadiyah

Bagi Din, politisasi agama bisa saja terjadi dan akan sangat buruk jika sampai menyangkut masalah yang fundamental. Salah satunya seperti khotbah Jumat dari seorang penceramah yang mengajak jamaah untuk memilih salah satu pasangan.

Pembacaan shalawat nabi sempat dipraktikkan capres Joko Widodo dalam beberapa kesempatan kala berbicara di depan publik. Salah satunya saat prosesi pengambilan nomor urut capres-cawapres di KPU Pusat beberapa waktu lalu.

Jokowi saat itu berupaya menunjukkan pembeda antara dirinya dengan Prabowo Subianto saat mengambil nomor urut dengan membaca doa. Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti itu juga mengawali sambutan dengan salam dan shalawat nabi. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Sholawat, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Jerusalem, Belajar Muhammadiyah - Para pemuka agama di Yerusalem, Kamis (27/7), meminta umat Islam untuk melanjutkan shalat di Masjid al-Aqsa setelah Israel membuka semua penghalang yang dipasang selama dua minggu terakhir.

Seperti dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, setelah melakukan pertemuan di Yerusalem, mereka memutuskan untuk menyeru kepada umat Islam Palestina agar kembali menunaikan sembahyang di dalam kompleks Masjid al-Aqsa.

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Seruan tersebut dikumandangkan menyusul komite teknis Waqf berkesimpulan bahwa semua penghalang yang dipasang Israel di luar gerbang kompleks al-Aqsa telah dibersihkan.

Belajar Muhammadiyah

Israel mencopot penghalang terakhir Kamis dini hari, beberapa hari setelah melepaskan detektor logam yang ditempatkan di luar Gerbang Lions yang mengarah ke kompleks al-Aqsa.

Belajar Muhammadiyah

Sejak 14 Juli warga Palestina bersikeras memindahkan semua penghalang tersebut, berharap kehidupan dalam kompleks Masjid al-Aqsa kembali normal. Mereka memandang, upaya Israel memperketat penjagaan di kompleks masjid tersebut sebagai simbol kontrol dan penguasaan atas Masjid.



(Baca: Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman)


Selama lima hari ribuan umat Islam telah mengadakan shalat di jalanan dan gang-gang yang menuju ke Masjid sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Israel.

Para pemimpin Muslim mengumumkan bahwa shalat subuh pada Kamis diadakan di dalam Masjid. Mereka juga menyerukan penutupan semua masjid di Yerusalem pada hari Jumat sehingga orang dapat mengadakan shalat Jumat siang di Masjid al-Aqsa. Puluhan ribu orang diharapkan hadir di Yerusalem untuk shalat Jumat. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Sholawat, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air

Pacitan, Belajar Muhammadiyah 

Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan Pimpinan Gus Hammam Fathullah meluncurkan album kedua berjudul Hubbul Wathan Minal Iman. Ahad malam (26/2). Peluncuran album itu dirangkaikan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang festival rebana klasik se-Kabupaten Pacitan tingkat SD/MI dan umum.

Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air

Menurut Gus Hammam, album yang digarapnya ini sengaja disuguhkan untuk memberikan penyegaran di tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami degradasi rasa cinta terhadap tanah air.

Tema besar Hubbul Wathan Minal Iman yang memiliki arti cinta tanah air sebagian daripada iman ini diharap mampu menumbuhkan kembali semangat kecintaan terhadap NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Cinta terhadap negara bisa diungkapkan (lewat apa saja), salah satunnya dengan seni musik islami," tuturnya saat berbincang dengan Belajar Muhammadiyah usai acara peluncuran.

Gus Hammam yang merupakan pencipta lagu Mars Gerakan Ayo Mondok itu mengatakan, Album kedua yang dirilis Sanggar Jubah ini menggabungkan kolaborasi musik tradisional kepesantrenan, Jazz, Dangdut, Gambus dan Rock. Sebelumnya Sanggar Jubah pernah merilis album perdana pada tahun 2014.

Belajar Muhammadiyah

Album ini berisikan 10 komposisi lagu shalawat, yaitu Iftitah Instrumentalia, Mars Ayo Mondok, Kun Anta, Syair Golek Ilmu, Hubbul Wathan Minal Iman, Sallahu ala Muhammad, Sirru Linaili, Shifatullah, Shollu Alannuril, dan Bongkar (Feat. OI Pacitan).

"Itulah yang menjadi dasar Sanggar Jubah menggarap aransemen dan lagu-lagu yang berbeda. Memiliki unsur pepiling, namun dengan kemasan yang kreatif," ujar alumni pesantren Krapyak Yogyakarta itu.

Masih kata Gus Hammam, semua lagu dalam album ini dinyanyikan dan direkam sendiri oleh para santri Pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan. Diapun merasa bangga para santri memiliki minat dan perhatian besar terhadap dunia seni.

"Siapa yang tidak suka dengan musik. Namun seyogyanya (dalam menggarap lagu) harus ada pesan dan tujuan dalam setiap nada dan liriknya," pungkas putera kedua KH Burhanuddin HB itu.

Belajar Muhammadiyah

Jamaah pengajian seni Sanggar Jubah merupakan satu-satunya sanggar seni pesantren di Pacitan yang paling aktif melakukan pementasan. Dalam setiap penampilan, Sanggar Jubah selalu menampilkan konsep pementasan yang berbeda dalam setiap penampilanya. 

Acara peluncuran album kedua ini digelar di halaman pesantren Al Fattah Kikil Arjosari. Sanggar Jubah menyuguhkan lagu-lagunya di hadapan para penonton dengan apik. Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo berkesempatan hadir menyaksikan peluncuran ini.

Sementara itu, festival Rebana klasik se-Kabupaten Pacitan tingkat pelajar SD/MI dan umum yang digelar pada Sabtu dan Ahad (25-26/2) diikuti sebanyak 40 grup Rebana. 

Festival yang bertema Indahnya Shalawat Ciptakan Indonesia Damai ini digelar dalam rangka menyemarakkan usia lima windu kebangkitan pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan sekaligus dalam rangka peluncuran album kedua Jamaah Pengajian Seni Sangar Jubah. 

Tahun ini, Panitia mendatangkan dewan juri yang sangat berkompeten dalam bidangnya, yaitu Gus Aminullah dari Jamiyyah Ahbabul Musthofa Yogyakarta, Rachmat Soemitro, dari Krapyak Yogyakarta dan Muttaqin, dari Pacitan.

Adapun aspek penilaian dalam festival ini yakni pada bidang olah vokal, instrumen dan penampilan. (Zaenal Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

PMII, HMI, GMNI Majalengka Gelar Aksi Bersama Awasi DPRD

Majalengka, Belajar Muhammadiyah. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam “Kelompok Cipayung” dari unsur Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Majalengka menggelar aksi bersama di gedung DPRD Majalengka, Jawa Barat, Selasa (5/8).

PMII, HMI, GMNI Majalengka Gelar Aksi Bersama Awasi DPRD (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII, HMI, GMNI Majalengka Gelar Aksi Bersama Awasi DPRD (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII, HMI, GMNI Majalengka Gelar Aksi Bersama Awasi DPRD

Massa aksi menuntut kepada anggota DPRD yang baru saja dilantik mampu menjalankan fungsinya sebagai legislator, pengontrol, dan penyusun anggaran yang baik. Mereka mendorong para anggota legislatif tersebut mampu merumuskan sejumlah peraturan daerah (Perda) yang mengutamakan kepentingan rakyat dan mengoptimalkan pengawasan terhadap kinerja pemerintah kabupaten (pemkab) Majalengka.

Kordinator lapangan aksi ini, Ilham Lahiyah, mengatakan, anggota DPRD harus mampu berkomitmen penuh dengan janji-janji yang sudah ditawarkan kepada masyarakat pada saat mereka kampanye. Sehingga, tidak akan ada lagi politik transaksional yang akhirnya terjebak pada budaya korupsi.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Ketua PC PMII Majalengka Iwan Irwanto menuturkan, hari pertama kerja para wakil rakyat Majalengka menjadi sebuah catatan penting bagi para mahasiswa untuk mengontrol kinerja anggota DPRD Majalengka. Menurutnya, mereka dipilih untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Iwan meminta kepada para anggota DPRD Majalengka untuk mengadakan deklarasi komitmen menjalankan tugasnya di hadapan para mahasiswa dalam waktu dekat. “Karena kami akan tetap mengawal kinerja wakil rakyat lima tahun ke depan,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Aksi dilakukan dengan berjalan kaki dari  Lapangan Pujasera menuju Gedung DPRD Majalengka, diiringi dengan orasi dan yel-yel, serta diakhiri dengan doa bersama. (Aris Prayuda/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Sholawat, Daerah Belajar Muhammadiyah

Senin, 06 November 2017

Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Pada Jumat, 01 Syaban 1438 H (28/4) PC Muslimat NU Kabupaten Kudus menggelar istighotsah akbar, tahlil umum dan santunan 500 yatama plus 250 lansia dhuafa.?

Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai puncak peringatan harlah ke-71 Muslimat NU. Gedung JHK Kabupaten Kudus Jawa Tengah dipenuhi lebih dari 2000 tamu undangan dari ranting hingga anak cabang di Kudus. Bahkan beberapa Pengurus Cabang Muslimat NU di Jawa Tengah di antaranya dari Sragen, Batang, Grobogan, Kebumen dan lainnya turut hadir.

Rangkaian acara mewarnai peringatan harlah tersebut dimulai dari peringatan Isra’ Mi’raj, mauidhoh hasanah, dan penyerahan baksos KB Berprestasi dari PWMNU Jateng.?

Sebelumnya (27/4), telah diadakan lomba gebyar PAUD, Baksos KB, khotmil qur’an bil ghoib dan manaqiban, ziarah leluhur, dan silaturahmi ulama di Kudus. PCMNU bahkan sukses menjadi tuan rumah lomba Gebyar PAUD dan lomba diba’ sekorwil Pati.

Belajar Muhammadiyah

Harlah di Kudus ini dihadiri sejumlah ulama, tokoh, dan pejabat. Di antara yang hadir adalah KH Ma’sum, KH Ulil Albab, Ketua dan jajaran PW Muslimat NU Jawa Tengah, dan H Masfuah, ketua bidang kesehatan yang menangani masalah KB dari bidang kesehatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa tengah.

Gus Bab, panggilan KH Ulil Albab, dalam mauidhoh-nya mengatakan bahwa warga Muslimat adalah kekuatan besar, “Muslimat jangan sampai seperti unthuk (buih di lautan) yang bergerak mengikuti arus. Muslimat harus bisa menjadi teladan keluarga dan lingkungannya.”

?

Belajar Muhammadiyah

“Warga Muslimat NU harus bisa mengajak keluarganya agar terhindar dari paham radikal dengan cara berhidmat,” kata Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah, Hj Ismawati Hafidz. Ia juga memuji PCMNU Kudus yang selalu sukses mengadakan kegiatan.

Prestasi PCMNU Kudus

Dalam sambutannya Ketua PC Muslimat NU Kudus, Hj Chumaidah Chamim menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang hadir. “Semoga Muslimat NU semakin maju, besar, dan bisa menanamkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga Muslimat NU Kudus bisa selalu menjadi teladan anggotanya dan cabang lain,” katanya.

Chumaidah sangat bangga atas eksistensi Muslimat NU di berbagai bidang, baik keagamaan, sosial, dan pendidikan. SD Muslimat NU Kudus yang dikelola Muslimat NU Kudus sudah 7 tahun berdiri dan tahun ini adalah Ujian Nasional perdana yang diikuti siswa sisiwi kelas VI. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Hikmah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 22 Oktober 2017

Kicauan Menteri Agama Soal Buka Warung di Bulan Puasa

Oleh Waki Ats Tsaqofi

Baru-baru ini, menjelang puasa Ramadhan sosial media (Sosmed) ramai setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta agar tak ada pihak yang memaksa warung-warung ditutup selama berlangsungnya bulan Ramadhan. Dia berharap agar umat Islam menghormati sesama yang tidak menjalani puasa.

Kicauan Menteri Agama Soal Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kicauan Menteri Agama Soal Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kicauan Menteri Agama Soal Buka Warung di Bulan Puasa

"Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa," demikian seperti dari akun Twitter Lukman Hakim, @lukmansaifuddin, Senin (8/6).

Apa yang dilakukan Menteri Agama ini, mengingatkan kita pada sikap mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia pernah mengatakan, "Jika kita merasa terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati yang tidak berpuasa."

Menag mengeluarkan pernyataan menanggapi Agung Prasetyo Utomo, melalui akun twitternya @agungprasetyo_u. Dia meminta agar sekalian saja warung-warung ditutup. Pasalnya menurut Agung, keberadaan warung-warung yang buka siang hari tersebut akan mengurangi khidmatnya Ramadhan. Namun Lukman tetap bersikukuh bahwasanya dengan membiarkan warung-warung tetap buka, akan memudahkan pemeluk agama lain. Islam harus menjadi agama yang toleran. Sejauh ini penutupan paksa terhadap warung-warung di bulan puasa merupakan tindakan sepihak yang dilakukan Ormas berbau islami. "Hemat saya, kita semua saling menghormati hak orang lain," balas Lukman.

Tapi anehnya ketika Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun ikut memperbolehkan pemilik tempat makan buka di siang hari selama bulan suci Ramadhan. Para Netizen tidak memprotesnya bahkan media-media radikal yang sempat diblokir oleh pemerintah ikut bungkam kerika Kang Emil, sapaan akrab Wali Kota Bandung itu. Emil menegaskan tidak akan membuat aturan khusus terkait hal itu. Emil mengaku hanya akan mengimbau para pedagang agar menghormati umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. "Karena sebagian pedagang juga kan orang Islam. Jadi imbauan kepada pedagang yang juga orang Islam pasti akan mudah dituruti," ujar Emil di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (15/6/2015).

Belajar Muhammadiyah

Kedua orang tersebut sama-sama mengatakan pendapatnya bahwa tidak akan menutup warung yang buka di bulan puasa, tapi anehnya Menag di-bully sedangkan Pak Wali Kota Bandung tidak ada yang berkomentar. Mem-bully Menag seakan akan Menag salah langkah dan tak islami, tapi ketika Wali Kota Bandung yang sama sikapnya, tidak mereka komentari dan persalahkan. Ada apa ini kira-kira? Padahal dari dulu tidak ada masalah?

Mungkin karena Pak Lukman salah satu orang yang membumikan Islam Nusantara yang menumbuhkan karakter wasathiyah, moderat, dan toleran agar tidak ada perpecahan. Makanya para netizen dan media-media radikal (tidak senang terhadap adanya istilah Islam Nusantara) menghujat, disindir, dan terus dibacarakan di mana-mana. Andai kata Kang Emil termasuk salah satu orang yang membumikan Islam Nusantara mungkin juga dihujat habis-habisan. Hehe J 

Terlepas dari itu, saya mencoba memberikan sedikit padangan, orang sedang mencari nafkah, masa iya dilarang? Makin banyak warung buka siang hari di hadapan kita, berarti tantangan dan ujian akan kualitas puasa kita akan besar pula. Semakin banyak tantangan, semakin tinggi pula kelas puasa kita, iya kan? Kalaupun warung disuruh tutup, maka warung-warung yang buka jajanan buka puasa di sore hari harus tutup juga dong? Karena penjual kue sore hari ini yang banyak batalin puasa kita. Karena bikin ngiler lidah dan mata jadi hijau lihat aneka jajanan buka puasa yang enak-enak. Iya kan?

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, bulan penuh rahmat, bulan untuk mengumpulkan pahala, bulan di mana saatnya keagamaan ditingkatkan. Bulan Ramadhan, bulan di mana toleransi harus lebih dijalankan buat yang tidak berpuasa. Hormati yang lagi beribadah puasa, hargai bulan suci ini. Sekarang timbul pertanyaan, apakah yang dihormati hanya yang berpuasa? Atau coba berpikir sebaliknya, apakah yang berpuasa juga sudah menghormati dan menghargai yang tidak berpuasa?

Belajar Muhammadiyah

Perilaku beragama masyarakat Indonesia yang cenderung moderat, toleran, dan akomodatif. Saling menjaga dan menghormati satu sama lain menjadi salah satu faktor yang menjadikan bangsa ini bisa bersatu dan hidup rukun di antara puluhan bahkan ratusan macam suku dan bahasa. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa mewujudkan kehidupan yang rukun dan penuh toleransi dengan pemeluk agama lain.

Selamat berpuasa. Tetap Toleran terhadap sesama.

 

Waki Ats Tsaqofi, Anggota SEMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kader PMII Komfaka

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Senin, 16 Oktober 2017

PBNU Sambut Baik Pembebasan Sandera Korsel oleh Taliban

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyambut baik sikap kelompok gerilyawan Taliban di Afganistan yang telah membebaskan 12 warga Korea Selatan (Korsel) yang disanderanya, pada Rabu (29/8) kemarin.



PBNU Sambut Baik Pembebasan Sandera Korsel oleh Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pembebasan Sandera Korsel oleh Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pembebasan Sandera Korsel oleh Taliban

Sebagai pihak yang turut dimintai bantuannya dalam upaya pembebasan warga Korsel yang disandera Taliban sejak 19 Juli lalu itu, Hasyim mengaku gembira. Menurutnya, pembebasan sandera itu berarti desakan NU juga dipertimbangkan.

“Saya gembira karena suara NU didengar sekalipun hanya melalui Duta Besar Afganistan di Indonesia dan anggota ICIS (International Conference of Islamic Scholars) yang berada di Afganistan,” ujar Hasyim kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/8).

Belajar Muhammadiyah

Presiden World Conference on Religions for Peace itu pun memuji langkah Taliban tersebut. Menurutnya, pelepasan sandera itu, jelas turut memperbaiki citra Taliban di mata dunia sekalipun tidak diakui oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat George W Bush.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang juga turut membantu dalam usaha pembebasan sandera tersebut. “Penghargaan NU untuk OKI yang juga telah melakukan sesuatu,” tandasnya.

Pembebasan 12 warga Korsel oleh pejuang Taliban hari Rabu (29/8) dilakukan sehari setalah mencapai kesepakatan dengan perunding Korsel dan Indonesia atas pembebasan 19 sukarelawan Kristen itu.

Tiga wanita Korsel dilepaskan lebih dulu, diikuti empat wanita dan seorang pria beberapa jam kemudian, yang diserahkan kepada anggota Palang Merah Dunia (ICRC) di provinsi Ghazni, seperti ditulis kantor berita Inggris, Reuters.

Gelombang ketiga, yang terdiri atas tiga wanita dan seorang pria, dilepaskan kemudian pada hari sama, kata mereka.



Korsel Keluar dari Afganistan


Dalam kesempatan yang sama, Hasyim berharap, dengan dibebaskannya sandera tersebut, pihak Korsel bersedia menarik keluar pasukannya dari Afganistan. “Sudah pantas kalau Korsel menarik pasukannya dari Afganistan karena apapun alasannya, agresi ke negara lain selalu berakhir dengan kegagalan dan kerusakan,” pungkasnya.

Pemberontak menculik 23 relawan Kristen Korea pada 19 Juli dari bus di Ghazni dan semula menuntut pembebasan anggota Taliban, yang ditahan pemerintah Afgan.

Dua pria sandera dibunuh penculiknya pada awal kemelut itu.

Taliban melepaskan dua wanita sebagai isyarat niat baik selama putaran awal perundingan dan hari Selasa menyatakan mencapai kesepakatan untuk pembebasan 19 sisanya.

Seorang wakil Taliban menyatakan, melepaskan tuntutan pembebasan anggota Taliban dari penjara sesudah mereka menyadari Korsel tidak dapat memaksa pemerintah Afgan membebaskan siapa pun.

Gedung Biru, kantor kepresidenan Korsel, menyatakan kesepakatan akhirnya ialah syarat Seoul menarik tentaranya dari Afganistan dalam tahun ini dan menghentikan warga negaranya melakukan dakwah agama di Afganistan. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Tiga mantan lesbian asal Jakarta mengikuti shalawatan dan santunan yatim di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad (3/1). Mereka mengaku terketuk hatinya saat mengikuti agenda tersebut.

Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan

Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH Ayip Abbas Abdullah yang hadir dalam kesempatan itu mengajak seluruh elemen untuk memperlakukan siapapun dengan baik. Tak terkecuali mereka yang tenggelam di dunia hitam. "Agama adalah akhlak. Marilah sama-sama kita berusaha memanusiakan manusia. Siapapun orangnya," katanya.

Imel (nama samaran), mantan lesbi mengaku hidupnya tenang. Gelisah yang dulu selalu menerpa ketika di dunia lesbi, kini menghilang. "Jiwa saya tenang sekali. Ada perasaan yang sulit digambarkan. Visual dosa saya tergambar dari kecil. Semua dosa terlihat nyata sekali. Saya menyesal menjadi lesbi," tuturnya.

Belajar Muhammadiyah

Imel mengaku baru setahunan berhenti menjadi lesbian. Dalam hidupnya, ia sudah 20 tahun terkungkung dalam dunia perlesbianan. Setiap kali mengikuti shalawatan dan santunan tak kuat untuk membendung tangis.

Belajar Muhammadiyah

Kali pertama mengikuti agenda itu ketika di Jakarta setahun lalu. "Pertama ikut, jiwa saya bergejolak. Lalu berpikir dan memutuskan berhenti jadi lesbi. Sangat berat, Mas."

Segendang sepenarian. Dini merasakan hal sama. Bedanya, Imel sebagai butchy alias buci, lesbi yang jadi pria; sedangkan Dini sebagai lesbi femme, pelaku sebagai pasangan wanitanya.

"Susah diceritain Mas. Rasanya hati adem. Lalu begitu menyesal tercebur ke lesbi. Saya ingin kembali ke agama," ucap Dini. Ia telah meninggalkan lesbi setahunan juga usai mengikuti shalawatan dan santunan yatim.

Sudah Merambah Remaja Putri

Dini mewanti-wanti para wanita agar jangan sekali-kali tercebur ke dunia lesbi. Rasa sesalnya seumur hidup. Untuk seluruh orang tua, Dini juga mengingatkan agar mengawasi buah hati wanitanya secara ketat.

"Sekarang lesbi ada juga yang masih SMP. Hati-hati untuk orangtua. Virus lesbi menyebar lebih cepat dari narkoba. Bahkan lebih cepat dari api membakar bensin," ungkap Dini.

Jika sudah tercebur ke dunia lesbi; alkohol, narkoba, dan seks bebas pasti merasakan. Lalu, kegelisahan hidup akan berlipat-lipat. Hidup tidak tenang. Hal itu diamini Imel dan satu mantan lesbi lainnya, Tika. Dini dan Tika sudah tercebur ke dunia lesbi selama 15 tahun.

Ketiganya berhenti jadi lesbi usai mengenal shalawatan dan yatiman. Sejak itu, mereka terus aktif mengikuti dalam kegiatan tersebut. Meski di Cirebon, mereka tempuh juga.

Tika menambahkan, "Kalau dulu kami selalu gelisah, sekarang ketenangan hidup kami begitu luar biasa. Alhamdulillah. Dan ternyata pesta-pesta dalam lesbi cuma kamuflase rasanya. Setelah pesta menambah ketidaktenangan hidup."

"Please, jangan pernah terjebak di dunia lesbi," pinta Tika. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Ulama Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock