Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Bantul,  Belajar Muhammadiyah

Maraknya berbagai aliran Islam di Indonesia, seperti Wahabi, HTI, MTA, dan Syi’ah, semakin menuntut para generasi Nahdhiyin untuk lebih menguatkan lagi pemahaman akan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dianutnya.

Setidaknya, demikian yang diungkapkan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi, Irwan Masduqi dalam mengawali dialog yang mengangkat tema “Peta aliran-aliran Islam di Indonesia”, Kamis (6/6) kemarin.

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Dialog tersebut dilaksanakan serangkaian dengan acara Majma’un Nahdliyin dan peringatan Isra’ Mi’raj oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM, di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai pemantik awal, Irwan menjelaskan tentang pengertian Aswaja itu sendiri, berikut sejarah singkat munculnya Aswaja. Dikatakan bahwa Aswaja adalah kelompok yang konsisten memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, istilah Aswaja memang belum ada. Umat Islam yang telah terpecah belah karena politik dan telah ada sejak zaman nabi, membuat Aswaja hadir sebagai penetralisir konflik. 

Belajar Muhammadiyah

Aswaja yang dikenal dengan akidahnya yang terbuka dan moderat, lanjut Irwan, berakar pada aliran asy’ariyah dan maturidiyyah. Jadi, disamping berpedoman pada nash, Aswaja hadir tanpa mengesampingkan akal dan rasionalitas. Karena akal memiliki peran dalam menentukan ijtihad, atau menentukan baik buruknya suatu hal. 

“Aswaja hadir dengan menggunakan keseimbangan antara rasionalitas dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits,” ungkapnya.

Menurut Irwan, NU yang berideologikan Aswaja dengan ciri khasnya ta’adul, tawazun, tawasuth, dan tasamuh hadir dengan mengedepankan jalan perdamaian secara dialogis, bukan secara fisik. Juga tidak dengan mudah mengkafirkan orang.

“Itulah kenapa NU bisa menjadi basis politik yang begitu kuat di NKRI. Ya karena kemoderatannya itu,” tegasnya.

Mengenai konsep berpolitik NU yang menggunakan kitab kuning sebagai landasannya, dikatakan Irwan bahwa kitab kuning merupakan hasil ijtihad para ulama. Sedangkan prinsip-prinsipnya secara umum, telah termuat di dalam Al-Qur’an. 

Jadi mekanisme yang digunakan apa dan bagaimana, tidak ada aturan, yang terpenting adalah tercapainya kemaslahatan. Nah, kemudian kenapa yang digunakan adalah demokrasi, bukan syari’at Islam? Jawabnya adalah, karena demokrasi itu dekat dengan musyawarah.

“Hal itu seperti yang dilakukan oleh Nabi ketika hijrah ke Madinah. Nabi tidak langsung mewajibkan syari’at Islam kepada masyarakat Madinah, tapi membentuk masyarakat kecil dulu. Nabi juga masih mempersilahkan Yahudi menggunakan kitabnya terdahulu,” papar Irwan.

Lantas, Irwan pun memaparkan sedikit tentang Syi’ah. Dikatakan oleh Irwan, bahwa sebenarnya banyak ajaran-ajaran NU yang secara tidak sadar berasal dari Syi’ah. Seperti Barzanji, shalawat Habib Syech, yang membuat adalah orang Syi’ah. Dalam hal ibadah memang tidak ada perbedaan. Yang berbeda adalah dalam konsep berpolitik dan pandangan terhadap nikah mut’ah. 

“Jadi, NU kita itu masih sedikit mirip Syi’ah. Syi’ah zaman dahulu memang sedikit berbeda dengan Syi’ah sekarang. Syi’ah dulu banyak mencaci maki sahabat. Sekarang tidak lagi,” kata Irwan.

Di akhir sesi, Irwan mengatakan bahwa dalam menghadapi polemik aliran-aliran yang muncul, yang lebih diperlukan adalah penguatan argumentasi, bukan penguatan fisik. Jadi walaupun misalnya sudah jelas terbukti bahwa aliran tersebut sesat, tidak benar jika beradu fisik, melainkan diselesaikan secara argumentatif. Seperti yang telah dilakukan Nabi ketika menghadapi nabi palsu, yakni Musailamah Al-Kadzab.

“Nabi Muhammad dahulu ketika menghadapi nabi palsu, tidak menggunakan kekerasan. Melainkan dengan ancaman ukhrawi. Nah, ketika Musailamah sudah bersikap separatisme, barulah diperangi,” tandas Irwan di akhir diskusi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Demak, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Asuhan KH. Asrori Lathif Desa Jragung, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Ahad (5/1) pagi, menggelar acara Khotmil Qur’an di Masjid Busyra Lathif di desa setempat.

Sebanyak 9 santri yang ikut program tahfidh (hafalan alQur’an 30 Juz), 15 peserta bin nadzar (mengkhatamkan 30 juz dengan cara membaca dan melihat mushaf) dan 17 santri yang telah merampungkan belajar juz ‘amma tampil di hadapan para kiai dan seluruh pengunjung haul haul Simbah Kiai Marwan, AH.

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Usai mengkhatamkan al-Qur’an peserta khataman mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Ulil Albab, putra seorang hafidz dan pakar al-Qur’an, KH. Arwani Amin, dari Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya para wisudawan menyimak wasiat KH Arwani Amin.

Belajar Muhammadiyah

Putra sulung KH Arwani Amin, KH Ulin Nuha, membacakan wasiat tersebut dengan ayat “Wala tasytaruu bi aayaatii tsamanan qalilaa”. Ayat tersebut berpesan tentang larangan memperjualbelikan al-Qur’an dengan harga yang rendah, yakni dunia.

Belajar Muhammadiyah

Dalam wasiatnya, KH Arwani tidak meridhai santri-santrinya untuk mengikuti ajang Musabaqah Tilawtil Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah kejuaraan “MTQ”. Wasiat ini memiliki silsilah sanad yang jelas sampai kepada KH Arwani dan menjadi pegangan para penghafal al-Qur’an di sana. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Sholawat, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

Arafah, Belajar Muhammadiyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, haji mabrur adalah mereka yang berhaji yang ditandai sikap cinta serta solidaritas yang tinggi terhadap sesama, saling menghargai dan toleransi terhadap perbedaan.

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

"Hal itu sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu kita ke depankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia," kata Menag Lukman dalam sambutan selaku Amirul Hajj Indonesia pada pelaksanaan wukuf haji di Arafah, Minggu.

Menurut Lukman, manusia ditakdirkan hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk, baik dari segi etnis, suku, bahasa dan budaya maupun paham keagamaan.? Terhadap sesama manusia, kata dia, perlu ditumbuhkan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), terhadap sesama Muslim kembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan terhadap sesama bangsa rajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

"Pengejawantahan dari ketiga nilai ini merupakan bentuk kemabruran sosial yang perlu dipelopori oleh para haji di Tanah Air nanti," kata dia.

Dengan spirit persaudaraan, kata Lukman, umat manusia agar merajut kebersamaan, mengembangkan kerja sama dalam membangun kehidupan bersama yang maju dan berkeadaban.? Lukman mengatakan, di era digital sekarang, haji memiliki makna lebih mendalam yaitu sebuah jalan kembali dari keterasingan diri ketika terlena berkutat dengan teknologi komunikasi informasi.

Belajar Muhammadiyah

Haji, lanjut dia, ibarat install ulang terhadap segala program yang memengaruhi gerak tubuh dan perjalanan hidup. Waktu berhaji adalah masa perbaikan diri agar kembali berfungsi sesuai tujuan hidup setiap insani, yaitu beribadah dengan segala bentuknya sepenuh hati.? "Wukuf dapat bermakna hibernasi (proses mengistirahatkan diri) untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi," kata dia.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, kesediaan menahan kepenatan dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini adalah wujud penegasan diri sebagai hamba yang hanya berserah kepada Sang Maha Kuasa. Kesabaran, berpanas-panas di Arafah adalah energi yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang ke dalam satu ikatan.

"Sebesar apapun perbedaan di antara kita, apapun latar belakang kita, dari manapun asal kita, sejatinya semua ingin berkomunikasi dengan pesan yang sama kepada Allah SWT, yakni diakui sebagai seorang Muslim, seorang yang berserah diri kepada ajaran Allah SWT demi mewujudkan keselamatan dan kedamaian," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Jenewa, Belajar Muhammadiyah - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (16/6) bahwa kelompok ISIS mungkin menggunakan lebih dari 100.000 warga sipil Irak yang disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua Mosul.

Pasukan Irak berjuang merebut kembali Mosul dari ISIS setelah kelompok ekstremis itu menyerbu kota pada 2014 dan memberlakukan peraturan brutal terhadap penduduknya.

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Perwakilan badan pengungsi PBB di Irak Bruno Geddo mengatakan bahwa ISIS telah menangkap warga sipil dalam pertempuran di luar Mosul dan memaksa mereka memasuki Kota Tua, salah satu bagian terakhir kota yang masih berada dalam genggaman mereka.

Belajar Muhammadiyah

"Lebih dari 100.000 warga sipil masih disandera di Kota Tua," kata Geddo kepada wartawan di Jenewa.

Belajar Muhammadiyah

"Kami tahu bahwa ISIS membawa mereka saat mereka meninggalkan... lokasi tempat pertempuran berlangsung," katanya.

"Warga sipil ini pada dasarnya disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua."

Dengan hampir tidak ada makanan, air atau listrik yang tersisa di daerah tersebut, penduduk sipil "hidup dalam kondisi kekurangan dan kepanikan yang kian memburuk," katanya.

"Mereka dikepung pertempuran di setiap sisi."

Sementara para penembak jitu berusaha membunuh siapa saja yang mencoba meninggalkan daerah yang dikuasai ekstremis, katanya lalu menambahkan bahwa beberapa orang yang berhasil melarikan diri mengalami "trauma berat".

Sejak pertempuran untuk merebut kembali Mosul dimulai sembilan bulan lalu, sekitar 862.000 orang mengungsi dari kota itu, meski 195.000 di antaranya kemudian kembali, utamanya ke bagian timur kota yang sudah dibebaskan.

Itu berarti 667.000 orang masih mengungsi, hampir seluruhnya dari bagian barat Mosul, dan tinggal di 13 kamp yang dibangun UNHCR atau bersama kerabat.

Geddo mengatakan badan PBB sejauh ini sudah memberikan bantuan kepada lebih dari 500.000 pengungsi, dan juga berusaha membantu mereka yang kembali ke Mosul, sering kali tinggal di bangunan-bangunan yang pernah dibom.

"Banyak dari orang-orang ini kembali...ke situasi kekurangan," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Ulama, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Jepara, Belajar Muhammadiyah?

“Apa arti radikalisme,” tanya Najib Habibi kepada Nazwan santri asal Garut Jawa Barat itu.? “Radikalisme adalah suatu paham sosial/politik yang dalam usaha mencapai tujuannya menggunakan cara-cara kekerasan,” jawab santri kelas 5 MI Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara ini.? Kemudian Fatihul Khoir santri asal Semarang itu menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Radicalism is a social or politics understranding which has the purpose of achieving the goal by doing violence.

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)
Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Praktik santri itu merupakan upaya kegiatan menanamkan pendidikan anti-radikalisme kepada anak-anak. Setelah Nazwan dan Khoir ditanya seputar radikalisme dan Ivan santri dari Madura yang sudah hafal 15 juz menghafal beberapa ayat, selaku ketua Ikdamuba, Munashiroh melanjutkan sesi.?

Ketua Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) Jepara mengajak 750 peserta untuk membaca syiir. Ma arsalallahurrasula illa/ lirahmatin lil alamina qala// teman Allah/ ora ngutus/ kanjeng Nabi/ kejobo dadi rohmate/ alam iki.”

Sebagaimana di panduan buku halaman vii, syiir yang dibaca bersama ratusan anak itu boleh memilih pilihan lagu yang disukai. Misalnya Tombo Ati, Padhang Mbulan, Eman-eman Temen, Tul Jaenak, dan lagu-lagu yang lain.?

Belajar Muhammadiyah

Dengan mengajak siswa membaca dalil dan syiir kegiatan Sarasehan Pendidikan Anti-Radikalisme pada Generasi Emas yang diadakan LP Ma’arif NU Jepara dan Ikdamuba di Gedung MWCNU Mlonggo Jepara, Senin (16/5) tambah semarak. 750 siswa itu berasal dari MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara. ?

Saat Ikdamuba melontarkan pertanyaan berhadiah kepada murid maupun pendidik kegiatan makin semarak. ?

Kegiatan sarasehan itu, urai Munashiroh, tidak hanya dilaksanakan sekali saja tetapi akan diadakan di tiap-tiap kecamatan. Setiap sarasehan peserta akan mendapat buku saku Syifaul Ummah, Menangkal Hal Radikal.?

Agar peserta mudah memahaminya Ikdamuba membawa beberapa santri Darul Falah untuk dijadikan display mempraktikkan kitab yang didalamnya berbahasa arab, Inggris, Jawa, dan Bahasa Indonesia itu.?

Belajar Muhammadiyah

Buku saku karya KH Taufiqul Hakim itu bisa dibaca berulang-ulang 5 bait baik sebelum maupun sesudah agar lama-kelamaan bisa hafal dengan sendirinya.?

Harapannya secara tidak langsung buku itu merupakan filter/pencegah aliran radikal. Ia yang merupakan salah satu alumnus MTs Mathalibul Huda Mlonggo itu menyatakan calon generasi emas kedepan harus kinclong/mengkilap.?

“Caranya dengan baik akhlaknya menjaga nama baik almamater dan keluarga merupakan ciri generasi kinclong,” tambahnya.?

Senada dengan Munashiroh, Fatkhul Huda Ketua LP Ma’arif NU Jepara menambahkan menjadi seorang perempuan jangan asal mau diajak kaum lelaki yang baru dikenal, terutama di media sosial. Sehingga, prestasi baik yang ditorehkan MTs Mathalibul Huda juara Internasional olimpiade eksak harus tetap dipertahankan.?

Kepala MTs Mathalibul Huda Mlonggo, Zainuddin menyebut generasi emas tidak boleh kerasukan sifat yang negatif. Sehingga kegiatan tersebut merupakan pembinaan generasi muda agar tidak menjadi arogan dan radikal.?

“Perempuan yang tertawa ngakak dan laki-laki yang suka suit ketika melihat perempuan bukanlah ciri-ciri generasi yang sholeh dan sholehah,” tandas Zainuddin.?

Tupomo yang didaulat untuk mereview buku menjelaskan Islam adalah agama yang damai bukan agama yang keras/ radikal. Sekretaris LP Ma’arif NU Jepara itu menyontohkan saat Nabi Muhammad diludahi ia tidak langsung membalas tetapi malah mendoakannya.?

Sehingga kesempatan itu dirinya menyebut beberapa hal yang menyebabkan radikalisme. Di antaranya memaksa orang untuk beragama. Padahal Nabi kepada pamannya sendiri tidak pernah memaksa dalam beragama. Hal itu kemudian yang ditiru oleh Walisongo yang berdakwah dengan hikmah dan mauidhoh hasanah. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Quote, Berita Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menyalurkan dana santunan  kepada 62 anak yatim dan 20 duafa, Ahad (31/8). Pemberian santunan dilaksanakan bersamaan pada acara pengajian rutin Ahad pahing dan halal bihalal Majlis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Kota di Kantor NU Jl Pramuka No 20 Kudus.

Ketua  LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, penyaluran dana santunan ini merupakan bentuk program kerja lanjutan yang telah dilaksanakan sebelumnya pada bulan Ramadhan lalu. Pada kesempatan ini, para penerima santunan adalah yatama dan duafa dari desa di wilayah kecamatan Kota Kudus.

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

"Santunan di MWC NU Kota ini, kita salurkan dana Rp 5.100.000 dengan rincian Rp 3.100.000 untuk 62 yang masing-masing menerima Rp 50.000/anak dan Rp 2.000.000 untuk duafa diberikan kepada 20 duafa per orang menerima Rp 100.000," terang Syaroni.

Belajar Muhammadiyah

 Ia menambahkan LAZISNU akan terus berupaya mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan shadaqah secara benar dari para orang kaya, dermawan, muzakki, maupun CSR dari perusahaan. Hingga kini, pihaknya terus menyosialisasikan keberadaan LAZISNU Kudus yang memang baru terbentuk beberapa bulan lalu tepatnya bulan Maret 2014.

 

"Karenanya kami mengajak semua pihak membangun kemitraan strategis dengan menyalurkan dana ZIS melalui LAZISNU Kudus dengan no rekening Mandiri Syariah 7064846013 atau langsung ke kantor NU," imbuhnya.

 

Belajar Muhammadiyah

Direktur eksekutif LAZISNU Kudus Edi Wicaksana menambahkan Lazisnu  masih terus melakukan penataan kelembagaan sehingga mampu melaksanakan program untuk mengatasi permasalahan ummat.

 

"Termasuk juga, untuk tranparansi pemasukan dan penyaluran dana LAZISNU kami juga akan melaporkan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik," jelas Edi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Khutbah, Santri Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock