Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Bantul,  Belajar Muhammadiyah

Maraknya berbagai aliran Islam di Indonesia, seperti Wahabi, HTI, MTA, dan Syi’ah, semakin menuntut para generasi Nahdhiyin untuk lebih menguatkan lagi pemahaman akan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dianutnya.

Setidaknya, demikian yang diungkapkan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi, Irwan Masduqi dalam mengawali dialog yang mengangkat tema “Peta aliran-aliran Islam di Indonesia”, Kamis (6/6) kemarin.

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Dialog tersebut dilaksanakan serangkaian dengan acara Majma’un Nahdliyin dan peringatan Isra’ Mi’raj oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM, di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai pemantik awal, Irwan menjelaskan tentang pengertian Aswaja itu sendiri, berikut sejarah singkat munculnya Aswaja. Dikatakan bahwa Aswaja adalah kelompok yang konsisten memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, istilah Aswaja memang belum ada. Umat Islam yang telah terpecah belah karena politik dan telah ada sejak zaman nabi, membuat Aswaja hadir sebagai penetralisir konflik. 

Belajar Muhammadiyah

Aswaja yang dikenal dengan akidahnya yang terbuka dan moderat, lanjut Irwan, berakar pada aliran asy’ariyah dan maturidiyyah. Jadi, disamping berpedoman pada nash, Aswaja hadir tanpa mengesampingkan akal dan rasionalitas. Karena akal memiliki peran dalam menentukan ijtihad, atau menentukan baik buruknya suatu hal. 

“Aswaja hadir dengan menggunakan keseimbangan antara rasionalitas dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits,” ungkapnya.

Menurut Irwan, NU yang berideologikan Aswaja dengan ciri khasnya ta’adul, tawazun, tawasuth, dan tasamuh hadir dengan mengedepankan jalan perdamaian secara dialogis, bukan secara fisik. Juga tidak dengan mudah mengkafirkan orang.

“Itulah kenapa NU bisa menjadi basis politik yang begitu kuat di NKRI. Ya karena kemoderatannya itu,” tegasnya.

Mengenai konsep berpolitik NU yang menggunakan kitab kuning sebagai landasannya, dikatakan Irwan bahwa kitab kuning merupakan hasil ijtihad para ulama. Sedangkan prinsip-prinsipnya secara umum, telah termuat di dalam Al-Qur’an. 

Jadi mekanisme yang digunakan apa dan bagaimana, tidak ada aturan, yang terpenting adalah tercapainya kemaslahatan. Nah, kemudian kenapa yang digunakan adalah demokrasi, bukan syari’at Islam? Jawabnya adalah, karena demokrasi itu dekat dengan musyawarah.

“Hal itu seperti yang dilakukan oleh Nabi ketika hijrah ke Madinah. Nabi tidak langsung mewajibkan syari’at Islam kepada masyarakat Madinah, tapi membentuk masyarakat kecil dulu. Nabi juga masih mempersilahkan Yahudi menggunakan kitabnya terdahulu,” papar Irwan.

Lantas, Irwan pun memaparkan sedikit tentang Syi’ah. Dikatakan oleh Irwan, bahwa sebenarnya banyak ajaran-ajaran NU yang secara tidak sadar berasal dari Syi’ah. Seperti Barzanji, shalawat Habib Syech, yang membuat adalah orang Syi’ah. Dalam hal ibadah memang tidak ada perbedaan. Yang berbeda adalah dalam konsep berpolitik dan pandangan terhadap nikah mut’ah. 

“Jadi, NU kita itu masih sedikit mirip Syi’ah. Syi’ah zaman dahulu memang sedikit berbeda dengan Syi’ah sekarang. Syi’ah dulu banyak mencaci maki sahabat. Sekarang tidak lagi,” kata Irwan.

Di akhir sesi, Irwan mengatakan bahwa dalam menghadapi polemik aliran-aliran yang muncul, yang lebih diperlukan adalah penguatan argumentasi, bukan penguatan fisik. Jadi walaupun misalnya sudah jelas terbukti bahwa aliran tersebut sesat, tidak benar jika beradu fisik, melainkan diselesaikan secara argumentatif. Seperti yang telah dilakukan Nabi ketika menghadapi nabi palsu, yakni Musailamah Al-Kadzab.

“Nabi Muhammad dahulu ketika menghadapi nabi palsu, tidak menggunakan kekerasan. Melainkan dengan ancaman ukhrawi. Nah, ketika Musailamah sudah bersikap separatisme, barulah diperangi,” tandas Irwan di akhir diskusi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Demak, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Asuhan KH. Asrori Lathif Desa Jragung, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Ahad (5/1) pagi, menggelar acara Khotmil Qur’an di Masjid Busyra Lathif di desa setempat.

Sebanyak 9 santri yang ikut program tahfidh (hafalan alQur’an 30 Juz), 15 peserta bin nadzar (mengkhatamkan 30 juz dengan cara membaca dan melihat mushaf) dan 17 santri yang telah merampungkan belajar juz ‘amma tampil di hadapan para kiai dan seluruh pengunjung haul haul Simbah Kiai Marwan, AH.

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Usai mengkhatamkan al-Qur’an peserta khataman mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Ulil Albab, putra seorang hafidz dan pakar al-Qur’an, KH. Arwani Amin, dari Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya para wisudawan menyimak wasiat KH Arwani Amin.

Belajar Muhammadiyah

Putra sulung KH Arwani Amin, KH Ulin Nuha, membacakan wasiat tersebut dengan ayat “Wala tasytaruu bi aayaatii tsamanan qalilaa”. Ayat tersebut berpesan tentang larangan memperjualbelikan al-Qur’an dengan harga yang rendah, yakni dunia.

Belajar Muhammadiyah

Dalam wasiatnya, KH Arwani tidak meridhai santri-santrinya untuk mengikuti ajang Musabaqah Tilawtil Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah kejuaraan “MTQ”. Wasiat ini memiliki silsilah sanad yang jelas sampai kepada KH Arwani dan menjadi pegangan para penghafal al-Qur’an di sana. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Sholawat, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

Arafah, Belajar Muhammadiyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, haji mabrur adalah mereka yang berhaji yang ditandai sikap cinta serta solidaritas yang tinggi terhadap sesama, saling menghargai dan toleransi terhadap perbedaan.

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

"Hal itu sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu kita ke depankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia," kata Menag Lukman dalam sambutan selaku Amirul Hajj Indonesia pada pelaksanaan wukuf haji di Arafah, Minggu.

Menurut Lukman, manusia ditakdirkan hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk, baik dari segi etnis, suku, bahasa dan budaya maupun paham keagamaan.? Terhadap sesama manusia, kata dia, perlu ditumbuhkan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), terhadap sesama Muslim kembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan terhadap sesama bangsa rajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

"Pengejawantahan dari ketiga nilai ini merupakan bentuk kemabruran sosial yang perlu dipelopori oleh para haji di Tanah Air nanti," kata dia.

Dengan spirit persaudaraan, kata Lukman, umat manusia agar merajut kebersamaan, mengembangkan kerja sama dalam membangun kehidupan bersama yang maju dan berkeadaban.? Lukman mengatakan, di era digital sekarang, haji memiliki makna lebih mendalam yaitu sebuah jalan kembali dari keterasingan diri ketika terlena berkutat dengan teknologi komunikasi informasi.

Belajar Muhammadiyah

Haji, lanjut dia, ibarat install ulang terhadap segala program yang memengaruhi gerak tubuh dan perjalanan hidup. Waktu berhaji adalah masa perbaikan diri agar kembali berfungsi sesuai tujuan hidup setiap insani, yaitu beribadah dengan segala bentuknya sepenuh hati.? "Wukuf dapat bermakna hibernasi (proses mengistirahatkan diri) untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi," kata dia.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, kesediaan menahan kepenatan dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini adalah wujud penegasan diri sebagai hamba yang hanya berserah kepada Sang Maha Kuasa. Kesabaran, berpanas-panas di Arafah adalah energi yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang ke dalam satu ikatan.

"Sebesar apapun perbedaan di antara kita, apapun latar belakang kita, dari manapun asal kita, sejatinya semua ingin berkomunikasi dengan pesan yang sama kepada Allah SWT, yakni diakui sebagai seorang Muslim, seorang yang berserah diri kepada ajaran Allah SWT demi mewujudkan keselamatan dan kedamaian," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Jenewa, Belajar Muhammadiyah - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (16/6) bahwa kelompok ISIS mungkin menggunakan lebih dari 100.000 warga sipil Irak yang disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua Mosul.

Pasukan Irak berjuang merebut kembali Mosul dari ISIS setelah kelompok ekstremis itu menyerbu kota pada 2014 dan memberlakukan peraturan brutal terhadap penduduknya.

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Perwakilan badan pengungsi PBB di Irak Bruno Geddo mengatakan bahwa ISIS telah menangkap warga sipil dalam pertempuran di luar Mosul dan memaksa mereka memasuki Kota Tua, salah satu bagian terakhir kota yang masih berada dalam genggaman mereka.

Belajar Muhammadiyah

"Lebih dari 100.000 warga sipil masih disandera di Kota Tua," kata Geddo kepada wartawan di Jenewa.

Belajar Muhammadiyah

"Kami tahu bahwa ISIS membawa mereka saat mereka meninggalkan... lokasi tempat pertempuran berlangsung," katanya.

"Warga sipil ini pada dasarnya disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua."

Dengan hampir tidak ada makanan, air atau listrik yang tersisa di daerah tersebut, penduduk sipil "hidup dalam kondisi kekurangan dan kepanikan yang kian memburuk," katanya.

"Mereka dikepung pertempuran di setiap sisi."

Sementara para penembak jitu berusaha membunuh siapa saja yang mencoba meninggalkan daerah yang dikuasai ekstremis, katanya lalu menambahkan bahwa beberapa orang yang berhasil melarikan diri mengalami "trauma berat".

Sejak pertempuran untuk merebut kembali Mosul dimulai sembilan bulan lalu, sekitar 862.000 orang mengungsi dari kota itu, meski 195.000 di antaranya kemudian kembali, utamanya ke bagian timur kota yang sudah dibebaskan.

Itu berarti 667.000 orang masih mengungsi, hampir seluruhnya dari bagian barat Mosul, dan tinggal di 13 kamp yang dibangun UNHCR atau bersama kerabat.

Geddo mengatakan badan PBB sejauh ini sudah memberikan bantuan kepada lebih dari 500.000 pengungsi, dan juga berusaha membantu mereka yang kembali ke Mosul, sering kali tinggal di bangunan-bangunan yang pernah dibom.

"Banyak dari orang-orang ini kembali...ke situasi kekurangan," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Ulama, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Jepara, Belajar Muhammadiyah?

“Apa arti radikalisme,” tanya Najib Habibi kepada Nazwan santri asal Garut Jawa Barat itu.? “Radikalisme adalah suatu paham sosial/politik yang dalam usaha mencapai tujuannya menggunakan cara-cara kekerasan,” jawab santri kelas 5 MI Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara ini.? Kemudian Fatihul Khoir santri asal Semarang itu menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Radicalism is a social or politics understranding which has the purpose of achieving the goal by doing violence.

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)
Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Praktik santri itu merupakan upaya kegiatan menanamkan pendidikan anti-radikalisme kepada anak-anak. Setelah Nazwan dan Khoir ditanya seputar radikalisme dan Ivan santri dari Madura yang sudah hafal 15 juz menghafal beberapa ayat, selaku ketua Ikdamuba, Munashiroh melanjutkan sesi.?

Ketua Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) Jepara mengajak 750 peserta untuk membaca syiir. Ma arsalallahurrasula illa/ lirahmatin lil alamina qala// teman Allah/ ora ngutus/ kanjeng Nabi/ kejobo dadi rohmate/ alam iki.”

Sebagaimana di panduan buku halaman vii, syiir yang dibaca bersama ratusan anak itu boleh memilih pilihan lagu yang disukai. Misalnya Tombo Ati, Padhang Mbulan, Eman-eman Temen, Tul Jaenak, dan lagu-lagu yang lain.?

Belajar Muhammadiyah

Dengan mengajak siswa membaca dalil dan syiir kegiatan Sarasehan Pendidikan Anti-Radikalisme pada Generasi Emas yang diadakan LP Ma’arif NU Jepara dan Ikdamuba di Gedung MWCNU Mlonggo Jepara, Senin (16/5) tambah semarak. 750 siswa itu berasal dari MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara. ?

Saat Ikdamuba melontarkan pertanyaan berhadiah kepada murid maupun pendidik kegiatan makin semarak. ?

Kegiatan sarasehan itu, urai Munashiroh, tidak hanya dilaksanakan sekali saja tetapi akan diadakan di tiap-tiap kecamatan. Setiap sarasehan peserta akan mendapat buku saku Syifaul Ummah, Menangkal Hal Radikal.?

Agar peserta mudah memahaminya Ikdamuba membawa beberapa santri Darul Falah untuk dijadikan display mempraktikkan kitab yang didalamnya berbahasa arab, Inggris, Jawa, dan Bahasa Indonesia itu.?

Belajar Muhammadiyah

Buku saku karya KH Taufiqul Hakim itu bisa dibaca berulang-ulang 5 bait baik sebelum maupun sesudah agar lama-kelamaan bisa hafal dengan sendirinya.?

Harapannya secara tidak langsung buku itu merupakan filter/pencegah aliran radikal. Ia yang merupakan salah satu alumnus MTs Mathalibul Huda Mlonggo itu menyatakan calon generasi emas kedepan harus kinclong/mengkilap.?

“Caranya dengan baik akhlaknya menjaga nama baik almamater dan keluarga merupakan ciri generasi kinclong,” tambahnya.?

Senada dengan Munashiroh, Fatkhul Huda Ketua LP Ma’arif NU Jepara menambahkan menjadi seorang perempuan jangan asal mau diajak kaum lelaki yang baru dikenal, terutama di media sosial. Sehingga, prestasi baik yang ditorehkan MTs Mathalibul Huda juara Internasional olimpiade eksak harus tetap dipertahankan.?

Kepala MTs Mathalibul Huda Mlonggo, Zainuddin menyebut generasi emas tidak boleh kerasukan sifat yang negatif. Sehingga kegiatan tersebut merupakan pembinaan generasi muda agar tidak menjadi arogan dan radikal.?

“Perempuan yang tertawa ngakak dan laki-laki yang suka suit ketika melihat perempuan bukanlah ciri-ciri generasi yang sholeh dan sholehah,” tandas Zainuddin.?

Tupomo yang didaulat untuk mereview buku menjelaskan Islam adalah agama yang damai bukan agama yang keras/ radikal. Sekretaris LP Ma’arif NU Jepara itu menyontohkan saat Nabi Muhammad diludahi ia tidak langsung membalas tetapi malah mendoakannya.?

Sehingga kesempatan itu dirinya menyebut beberapa hal yang menyebabkan radikalisme. Di antaranya memaksa orang untuk beragama. Padahal Nabi kepada pamannya sendiri tidak pernah memaksa dalam beragama. Hal itu kemudian yang ditiru oleh Walisongo yang berdakwah dengan hikmah dan mauidhoh hasanah. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Quote, Berita Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menyalurkan dana santunan  kepada 62 anak yatim dan 20 duafa, Ahad (31/8). Pemberian santunan dilaksanakan bersamaan pada acara pengajian rutin Ahad pahing dan halal bihalal Majlis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Kota di Kantor NU Jl Pramuka No 20 Kudus.

Ketua  LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, penyaluran dana santunan ini merupakan bentuk program kerja lanjutan yang telah dilaksanakan sebelumnya pada bulan Ramadhan lalu. Pada kesempatan ini, para penerima santunan adalah yatama dan duafa dari desa di wilayah kecamatan Kota Kudus.

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

"Santunan di MWC NU Kota ini, kita salurkan dana Rp 5.100.000 dengan rincian Rp 3.100.000 untuk 62 yang masing-masing menerima Rp 50.000/anak dan Rp 2.000.000 untuk duafa diberikan kepada 20 duafa per orang menerima Rp 100.000," terang Syaroni.

Belajar Muhammadiyah

 Ia menambahkan LAZISNU akan terus berupaya mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan shadaqah secara benar dari para orang kaya, dermawan, muzakki, maupun CSR dari perusahaan. Hingga kini, pihaknya terus menyosialisasikan keberadaan LAZISNU Kudus yang memang baru terbentuk beberapa bulan lalu tepatnya bulan Maret 2014.

 

"Karenanya kami mengajak semua pihak membangun kemitraan strategis dengan menyalurkan dana ZIS melalui LAZISNU Kudus dengan no rekening Mandiri Syariah 7064846013 atau langsung ke kantor NU," imbuhnya.

 

Belajar Muhammadiyah

Direktur eksekutif LAZISNU Kudus Edi Wicaksana menambahkan Lazisnu  masih terus melakukan penataan kelembagaan sehingga mampu melaksanakan program untuk mengatasi permasalahan ummat.

 

"Termasuk juga, untuk tranparansi pemasukan dan penyaluran dana LAZISNU kami juga akan melaporkan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik," jelas Edi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Khutbah, Santri Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah

Oleh KH Zakky Mubarak

Ketika para jamaah hendak meninggalkan kota suci Makkah, seusai melaksankan ibadah haji, mereka melakukan thawaf perpisahan yang disebut thawaf Wada’. Rasa haru dan sedih, perasaan bangga dan bersyukur biasanya mewarnai perasaan setiap jamaah yang melakukan thawaf perpisahan itu. Tanpa terasa tiba-tiba air mata mengalir dengan derasnya sebagai ekspresi dari suatu keadaan yang tidak mungkin dapat dilukiskan dengan perkataan. Perpisahan biasanya merupakan suatu yang mengharukan dan mengesankan, kita merasa sangat berat menghadapi peristiwa itu, tetapi ia harus terjadi, sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah

Dalam sejarah kehidupan Rasul Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam dikenal adanya haji wada’, yaitu ibadah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi sebagai haji perpisahan. Dalam ibadah haji itu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menerima wahyu yang menjelaskan kesempurnaan agama Islam, sebagai agama yang diridhai oleh Allah, demikian juga karunia nikmat Allah telah dianugrahkan kepada Nabi dan umatnya secara lengkap dan sempurna. Wahyu itu terdapat dalam surat al-Maidah ayat 3:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapi karunia nikmat-Ku atasmu serta telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maidah: 3)

Belajar Muhammadiyah

Dengan demikian sempurnalah agama Allah, agama Islam yang dibawa Rasul Muhammad. Karunia nikmat Allah telah diberikan kepada Nabi dan umatnya pada waktu itu. Karunia itu demikian agung dan menyeluruh, sehingga dapat mengantarkan kesuksesan yang sempurna bagi perjuangan para pembela kebenaran. Tugas risalah Nabi hampir selesai, perjalanannya telah dekat ke arah tujuan, dimulai dari kota Makkah sampai kota Madinah. Rasulullah bersama para sahabatnya telah menyalakan pelita yang menyinari seluruh umat manusia yaitu berupa kebenaran dan petunjuk. Sinar kebenaran agama Ilahi akan terus menyala, tidak akan pudar dan padam untuk selama-lamanya. Risalah telah dilaksanakan, amanat suci telah disampaikan, agama Allah menjadi jaya dan mulia.

Dalam haji wada’ itu ketika Nabi masih berada di Mina, Nabi telah merasakan adanya saat-saat perpisahan dengan umat yang dicintainya, tugas yang agung itu hampir selesai. Turunlah kemudian surat terakhir secara lengkap dari Al-Qur’an yang disebut dalam surat al-Nashr :

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mohonlah ampun pada-Nya. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima Taubat”. (QS? al-Nashr: 1-3)

Ayat tersebut di atas mengisyaratkan tentang akan adanya hari perpisahan, yaitu ketika Nabi telah melaksanakan risalahnya yang dilakukan selama bertahun-tahun, pada saat itu telah menampakkan hasil yang memuaskan. Pertolongan Allah telah datang dengan terbukanya kota Makkah menjadi wilayah kaum Muslimin. Agama Islam berkembang dengan pesatnya, terus menyebar ke berbagai penjuru di seluruh Jazirah Arab. Dijumpailah manusia berbondong-bondong masuk kedalam agama yang agung itu. Pensyahadatan massal dilakukan dimana-mana, kejayaan agama akhir zaman itu tidak dapat dihalang-halangi atau ditangguhkan lagi.

Setelah agama itu sempurna, Nabi telah menunaikan tugasnya dengan segala ketabahan dan kesabaran. Beliau telah membimbing umat manusia dari kegelapan kejahilan menuju cahaya kebenaran, maka hari perpisahan dengan umatnya tidak akan lama lagi. Dalam haji wada’ itu, dihadiri kira-kira 150.000 jamaah dari berbagai lapisan kabilah Arab, suku-suku dan kaum muslimin dari bangsa lain. Pada saat itu Nabi mengumpulkan mereka, dan beliau menyampaikan pidato perpisahan yang amat mengharukan. Nabi mengatakan dalam khutbahnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Wahai saudara-saudaraku, dengarlah dengan baik kata-kataku ini, sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian dalam suasana seperti ini untuk selama-lamanya”.

Ucapan Nabi yang tidak diduga-duga oleh para sahabat, satu hal yang mereka belum mempersiapkan diri untuk menerimanya, untuk menyambut dan menghadapi kenyataan itu. Mereka seolah-olah ditarik dari suasana yang menggembirakan dan menyenangkan kepada suasana yang mengharukan dan menyedihkan. Mereka terpaku dengan ucapan Nabi: “...barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian dalam suasana seperti ini untuk selama-lamanya”. Kejutan itu tidak dapat mereka suarakan dengan keras dengan teriakan yang berulang-ulang atau dengan tagisan yang sedu sedan. Mereka hanya mampu mengemukakan isi hati mereka yang diliputi rasa duka yang mendalam, bercampur rasa haru yang mencekam, dengan linangan air mata, maka berlinanglah air mata semua hadirin membasahi wajah mereka.

Di antara pidato perpisahan Nabi yang diungkapkan waktu itu adalah :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya darah dan hartamu haram bagimu satu dengan yang lain kecuali dengan jalan yang sah, sampai kamu sekalian berjumpa dengan Allah, sebagaimana keharaman atasmu pada harimu ini, pada bulanmu ini dan di negerimu ini. Kamu semua akan berjumpa dengan Allah, kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang amal perbuatanmu. Saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan hal itu kepadamu. Siapa yang menyimpan amanat seorang dari kalian hendaklah amanat itu ditunaikan kepada yang mengamanatkannya....”.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Tak hanya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) pun turut memprotes langkah pemerintah yang akan meliburkan sejumlah sekolah di Bogor, Jawa Barat, dalam rangka menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ke Indonesia 20 Nopember Senin (20/11) mendatang.

“Ini (peliburan sekolah, Red) jelas merugikan anak-anak sekolah. Padahal kalau dilihat kaitannya, kedatangan Bush dan aktifitas di sekolah nyaris tidak ada hubungannya, walaupun alasannya demi keamanan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) IPPNU, Wafa Patria Umma kepada Belajar Muhammadiyah, di Jakarta, Rabu (8/11) malam.

Sebagaimana diberitakan situs ini, sedikitnya ada empat sekolah yang berada di dekat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor akan diliburkan demi keamanan dalam rangka menyambut orang nomer satu di negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, sekolah yang terletak di Jalan Juanda, yaitu SMPN 1 dan SMAN 1 juga akan diliburkan. Sekolah Regina Pacis yang lokasinya tepat di seberang pintu utama Istana Bogor pun bernasib sama.

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Tak hanya itu. Selama Bush mengadakan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yuhoyono di Istana Bogor, jalan-jalan di seputar Istana Bogor ditutup selama 10 jam mulai pukul 10.00. Bahkan, para pedagang diusir dari tempat dagangannya karena alasan pengamanan. Kawasan itu mesti steril dari kesibukan lalu lalang kendaraan.

Pemerintah juga harus membangun setidaknya dua landasan helikopter (helipad) baru, yakni di lapangan Pusat Konservasi Tanaman (PKT) di Kebun Raya Bogor (KRB) dan di GOR Pajajaran. Helikopter Blackhawk yang membawa Bush akan mendarat di Kebun Raya, sedangkan mobilnya akan didaratkan dengan helikopter Cynnox di GOR Pajajaran.

Menurut Wafa, demikian panggilan akrab Wafa Patria Umma, langkah dan kebijakan pemerintah itu jelas berlebihan, apalagi sampai harus mengorbankan aktifitas belajar mengajar di sekolah. “Memperketat keamanan sih sah-sah saja. Itu bisa dipahami. Tapi kalau harus meliburkan aktifitas sejumlah sekolah, apa alasannya?” gugat Wafa. (rif)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Khutbah, News, Internasional Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak

Riau,? Belajar Muhammadiyah

PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) resmi memberhentikan Nofel, aktivis Serikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Sarbumusi NU). DPW Sarbumusi NU Riau mengecam keras tindakan tersebut dan menilainya sebagai pemberangusan serikat pekerja.

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak

"Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK sepihak yang dilakukan PT CPI terhadap Nofel, Ketua Dewan Pengurus Basis Sarbumusi NU di PT CPI adalah suatu bentuk pelanggaran mengenai hak-hak asasi dan kebebasan berserikat sebagai tindakan pemberangusan serikat pekerja/serikat buruh," ujar Ketua DPW Sarbumusi Riau, Umrah HM Thalib, di Riau, Senin (24/10).

Tindakan PT CPI tersebut, ujar Umrah, merupakan bentuk pelanggaran dan perbuatan melawan hukum terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul termuat dalam konvensi ILO Nomor 87 Tahun 1948 tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi.

Konvensi tersebut telah diratifikasi dan dituangkan dalam Keputusan Presiden RI No. 83 Tahun 1998, dan Konvensi ILO tentang hak berorganisasi dan berunding bersama, 1949 (No. 98) telah diratifikasi dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 1956.

Belajar Muhammadiyah

"Konvensi nomor 87 dimaksudkan secara keseluruhan untuk melindungi kebebasan berserikat terhadap kemungkinan campur tangan pemerintah. Kemudian konvensi nomor 98 ditujukan untuk mendorong pengembangan penuh mekanisme perundingan kolektif sukarela," paparnya.

Nofel ialah ujung tombak dalam memperjuangkan, melindungi dan membela hak-hak pekerja/buruh atas kesewenang-wenangan ? PT. CPI.

Tapi secara serta merta dan tiba-tiba PT. CPI telah melakukan tindakan perlawanan yakni pemaksaan kehendak mem-PHK sepihak tanpa alasan yang jelas dan berdasar terhadap Nofel tanpa melalui proses dan prosedur hukum sebagaimana mestinya peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Selain alasan kesalahan dan pelanggaran atas perbuatan yang dituduhkan aturan yang dilanggar sebagai rujukan juga tidak berdasar karena perjanjian kerja bersama 2016-2017 yang dijadikan rujukan hukum sampai saat ini belum mendapatkan bukti surat keputusan pendaftaran dari Dirjen PHI dan Jamsos Kementerian Ketenagakerjaan RI sesuai diatur Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 28 Tahun 2014," Umrah menjelaskan.

Belajar Muhammadiyah

Hingga akhir April 2016, PT CPI telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 806 orang karyawan. 740 orang di antaranya dirumahkan sejak Maret 2016 akibat menjalankan program pengelolaan tenaga kerja dari total 1.600 pekerja. Latar belakangnya, bukan hanya karena harga minyak yang rendah, melainkan sejak tahun lalu, PT CPI sudah melakukan tinjauan terhadap bisnis dan operasi di lapangan. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Mengayuh Sepeda 70 km Demi Berdakwah

Gurutta Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan yang masih kental, sekitar tahun 1900 M, di Desa Ujung Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, sekitar 7 km sebelah utara Sengkang. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi.

Kedua orang tua beliau memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an.

Mengayuh Sepeda 70 km Demi Berdakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengayuh Sepeda 70 km Demi Berdakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengayuh Sepeda 70 km Demi Berdakwah

Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo, Gurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Bersekolah di Volk School (Sekolah Rakyat) pada pagi hari dan belajar mengaji pada sore dan malam harinya. Dalam dunia permainan anak-anak, Ambo dale adalah seorang penggiraing bola handal sehingga digelari “Si Rusa.”

Selama Belajar, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikih saja.. melainkan juga mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS dan pernah pula belajar di Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan (sistem duduk bersila); guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang kembali ke negeri leluhurnya, Ambo dale segera berangkat ke Sengkang untuk menimba ilmu dari guru besar tersebut.

Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal Wajo yang kembali dari Mekkah. Di antaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani (Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).

Keberuntungan dalam Belajar

Suatu ketika, AGH. Muhammad As’ad yang biasa? disapa oleh masyarakat Bugis dengan Anregurutta Puang Aji Sade, menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak saat itu ia diangkat menjadi asisten. Sehingga pada tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama pada para syeikh di Mekkah.

Sejak Gurutta diangkat menjadi asisten AGH. Muhammad As’ad, beliau mulai meniti karier mengajar dan secara intens menekuni dunia pendidikan ini. Pada saat yang sama, Arung Matowa Wajo beserta Arung Lili sepakat menyarankan kepada Anregurutta H. Muhammad As’ad agar pengajian sistem sorogan (duduk bersila) ditingkatkan menjadi madrasah. Saran tersebut diterima dengan terbuka, maka madrasah pun didirikan atas bantuan dan fasilitas pemerintah kerajaan. Maka dibukalah pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD) dan tsanawiyah (SMP). Perguruan itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah disingkat MAI Sengkang, yang lambangnya diciptakan oleh Ambo Dalle dengan persetujuan AGH. As’ad dan ulama lainnya. Ambo Dalle bahkan kemudian diserahi tugas memimpin lembaga itu. Dalam waktu singkat, popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem madrasah), menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Salah seorang yang tertarik dengan sistem pendidikan MAI Sengkang adalah H.M.Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di Mangkoso. Maka ketika H.M.Yusuf Andi Dagong? ini diangkat sebagai Arung Soppeng Riaja pada tahun 1932, ia pun lalu mendirikan mesjid di Mangkoso sebagai ibukota kerajaan. Namun, mesjid itu selalu sepi dari aktivitas ibadah akibat rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap agama yang dianutnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, atas saran para tokoh masyarakat dan pemuka agama, diputuskan untuk membuka lembaga pendidikan (angngajiang: pesantren) dengan mengirim utusan untuk menemui Anregurutta H.M.As’ad di Sengkang. Utusan itu membawa permohonan kiranya Anregurutta H.M. As’ad mengizinkan muridnya, yaitu Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle untuk memimpin lembaga pendidikan yang akan dibuka di Mangkoso.

Ketika itu, di Sulawesi Selatan sudah ada beberapa tempat yang merupakan pusat pendidikan Islam dan banyak melahirkan ulama. Tempat-tempat tersebut adalah Pulau Salemo di Pangkep, Campalagian di Polmas, dan di Sengkang Wajo. Namun, bila dibandingkan dengan Salemo dan Campalagian yang menerapkan sistem tradisional berupa pengajian halakah (mangaji tudang), MAI Sengkang memiliki kelebihan karena telah menerapkan sistem modern (madrasi/klasikal) di samping tetap mempertahankan pengajian halakah. Dan, itulah agaknya menarik minat pemerintah Swapraja Soppeng Riaja untuk membuka lembaga pendidikan dengan sistem yang sama dengan MAI Sengkang.

Awalnya, permohonan itu ditolak karena Anregurutta HM.As’ad tidak menghendaki ada cabang madrasahnya. Beliau kuatir keberadaan madrasah yang terpencar menyulitkan kontrol sehingga dapat mempengaruhi kualitas madrasahnya. Namun, setelah melalui negosiasi yang alot, akhirnya keputusan untuk menerima permohonan Arung dan masyarakat Soppeng Riaja itu diserahkan kepada Gurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle.

?

Hari Rabu, tanggal 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle beserta keluarga dan beberapa santri yang mengikuti dari Wajo hijrah ke Mangkoso dengan satu tujuan, melanjutkan cita-cita dan pengabdian. Hari itu juga Gurutta memulai pengajian dengan sistem halakah karena calon santri memang sudah lama menunggu. Kelak momen ini dianggap bersejarah karena menjadi cikal bakal kelahiran DDI. Sambutan pemerintah dan masyarakat setempat sangat besar, terbukti dengan disediakannya segala fasilitas yang dibutuhkan, seperti rumah untuk Gurutta dan keluarganya serta santri yang datang dari luar Mangkoso.

Setelah berlangsung tiga minggu, Gurutta kemudian membuka madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, iddadiyah, dan tsanawiyah. Fasilitas pendidikan yang diperlukan serta biaya hidup mereka beserta guru-gurunya ditanggung oleh Raja sebagai penguasa setempat. Di dalam mengelola pesantren dan madrasah, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dibantu oleh dua belas santri senior yang beberapa diantaranya ikut bersama beliau dari Sengkang. Mereka adalah : Gurutta M. Amberi Said, Gurutta H. Harun Rasyid Sengkang, Gurutta Abd. Rasyid Lapasu, Gurutta Abd. Rasyid Ajakkang, Gurutta Burhanuddin, Gurutta M. Makki Barru, Gurutta H. Hannan Mandalle, Gurutta Muhammad Yattang Sengkang, Gurutta M. Qasim Pancana, Gurutta Ismail Kutai, Gurutta Abd. Kadir Balusu, dan Gurutta Muhammadiyah. Menyusul kemudian Gurutta M. Akib Siangka, Gurutta Abd.Rahman Mattammeng, dan Gurutta M. Amin Nashir. Lembaga itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso, namun bukan cabang dari MAI Sengkang.

Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle, berbekal pengalaman mengajar yang ada, diberi amanah untuk memimpin MAI Mangkoso. Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah ini sangat pesat, terbukti dengan banyak permintaan dari luar daerah untuk membuka cabang. Anregurutta merespon permintaan itu, maka dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.

Zaman Jepang. Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah ini mulai menghadapi kesulitan karena pemerintah Jepang tidak mengizinkan pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah. Untuk mengatasi masalah ini, Guruta Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Beliau mengambil inisiatif agar pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas, dipindahkan ke masjid dan rumah-rumah guru. Kaca daun pintu dan jendela masjid dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok. Sewaktu-waktu pada malam hari dilarang menggunakan lampu. Ajaib, dengan cara itu justru mengundang peminat yang kian bertambah dan luput dari pengawasan Jepang. Malah, ada beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Gurutta Ambo Dalle secara dekat dan bahkan ada yang menaruh hormat yang sangat dalam sehingga menganggap Gurutta sebagai guru dan orang tuanya. Demikianlah kharisma Gurutta Ambo Dalle menembus sekat bangsa, suku, golongan dan strata dalam masyarakat sehingga beliau bisa merengkuh hati massa pendukungnya.

Dunia Gurutta adalah lautan ilmu dan pengabdian yang tak habis-habisnya. Masyarakat akan selalu terkesan bagaimana Sang Anregurutta selama bertahun-tahun mengayuh sepeda dari Mangkoso ke Pare-Pare yang berjarak 30 km dan menjadi 70 km pulang pergi. Perjalanan panjang dan melelahkan itu dilakoninya tanpa mengeluh, karena beliau juga menjalankan tugas sebagai Kadhi di Pare-Pare. Bagi orang lain, hal itu mejadi sesuatu yang sangat menguras tenaga. Namun, bagi Gurutta Ambo Dalle, jiwanya telah terbungkus dengan jiwa pengabdian dan kecintaan agama yang kukuh sehingga semua dijalani dengan ikhlas dan ridha.

Mulanya, setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, beliau dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di mana-mana gema perjuangan bergelora di seluruh pelosok tanah air. Gurutta Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi sistem pendidikan yang menurutnya nyaris terbengkalai. Dia sadar selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia terbelenggu dirantai kolonialisme selama berabad-abad.

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak serta merta mendatangkan ketentraman dan kedamaian bagi rakyat. Ancaman datang lagi dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA. Rakyat dari berbagai pelosok bangkit mengadakan perlawanan. Terjadilah peristiwa yang dalam sejarah dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan pembantaian terhadap rakyat yang dituduh sebagai ekstrimis.

Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak santri-santri yang ditugaskan oleh Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling. Diantara yang menemui syahid itu tercatat nama M. Saleh Bone dan Sofyan Toli-Toli, dua santri MAI Mangkoso yang ditugaskan mengajar di Baruga Majene, gugur ketika menjalankan tugasnya.

Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat Anregurutta H Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengembangkan MAI. Bahkan, dalam situasi seperti itu bersama beberapa ulama lepasan MAI Sengkang, diantaranya AG.H.Daud Ismail dan AG.H.M.Abduh Pabbajah, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle melakukan pertemuan alim ulama/kadhi se Sulawesi Selatan di Watang Soppeng. Pertemuan itu diadakan pada hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari dan berakhir pada hari Jumat tanggal 16 Rabiul Awal 1366 H / 7 Februari 1947. Pertemuan itu menyepakati membentuk organisasi yang diberi nama Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle dipilih sebagai ketua dan AG.H.M.Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi itu. Setelah pertemuan tersebut, MAI Mangkoso beserta seluruh cabang-cabangnya berubah nama menjadi DDI. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat organisasi.

Pasca proklamasi kemerdekaan gairah rakyat untuk mengejar segala ketertinggalan utamanya dalam bidang pendidikan bagai tak terbendung. Hal ini membuat pimpinan pusat DDI sangat kewalahan melayani permintaan untuk mengirimkan guru-guru untuk cabang-cabang DDI yang baru. Maka, suatu kebijaksanaan segera diambil oleh ketua umum melalui suatu keputusan rapat adalah dengan menugaskan siswa-siswa kelas tertinggi untuk mengajar di madrasah-madrasah yang tersebar di mana-mana. Mereka diwajibkan mengabdi selaku pendidik dalam jangka waktu tertentu. Setelah selesai, barulah mereka dipanggil kembali untuk meneruskan pelajarannya. Prakarsa ini ternyata bermanfaat ganda. Kesulitan tenaga pengajar dapat ditanggulangi tanpa memerlukan biaya besar. Sedangkan bagi para siswa, kegiatan tersebut berguna sebagai wahana mempraktikkan ilmu yang telah mereka dapatkan di madrasah. Selanjutnya, bila mereka berada di tengah masyarakat, tidak canggung lagi dalam melanjutkan pengabdiannya.

?

Hijrah Ke Pare-pare. Tahun 1950, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle yang berusia 50 tahun itu akhirnya pindah ke Parepare meninggalkan Mangkoso yang sarat kenangan yang semakin meneguhkan sosok Gurutta dalam kiprah menegakkan agama Islam lewat media pendidikan. Beliau membangun rumah dan menetap di Ujung Baru bersama keluarganya dan pada tahun itu pula pusat Darud Da’wah Wal Irsyad diboyomg ke Parepare, dengan menempati sebuah gedung yang cukup representatif di sebelah selatan Masjid Raya. Gedung tersebut adalah pemberian Arung Mallusetasi. Tak berapa lama kemudian, dibangun perguruan di Jalan Andi Sinta Ujung Baru Parepare (depan Masjid Al Irsyad, bersebelahan dengan rumah kediaman Gurutta). Setelah itu, Gurutta pindah ke Ujung Lare (Lereng Gunung) yang diperuntukkan bagi santri putra. Sedangkan untuk santri putri, tetap di Ujung Baru. Sementara DDI di Mangkoso tetap berjalan seperti biasa dan dikelola oleh pemimpin yang baru, yakni KH. Muhammad Amberi Said.

Secara geografis kota Parepare amat strategis untuk menjadi pusat kegiatan organisasi dan pendidikan. Terletak di tepi pantai, kota itu memiliki pelabuhan alam yang sarat dilabuhi kapal-kapal berbagai ukuran, baik dari dalam negeri maupun dari manca negara. Kondisi ini menunjang perkembangan DDI dalam kiprah pengabdiannya. Untuk itu, manajemen organisasi DDI disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Muktamar sebagai institusi tertinggi organisasi ditetapkan dua tahun sekali. Badan-badan otonom didirikan, antara lain : Fityanud Da’wah wal Irsyad (FIDI), bergerak di bidang kepanduan dan kepemudaan, Fatayat Darud Da’wah wal Irsyad (FADI), untuk kaum putri dan pemudi, Ummahatud Da’wah wal Irsyad (Ummmahat), bagi para Ibu. Dibentuk pula dewan perguruan yang mengatur pengelolaan madrasah dan sekolah, termasuk pengangkatan guru-guru dan penyusunan kurikulum. Sistem pendidikan disesuaikan dengan kemajuan zaman.

Dalam kesibukannya memimpin organisasi dan perguruan itu, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH. Fakih Usman dari Departemen Agama Pusat dipercayakan oleh pemerintah RI membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama Propinsi Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik berkat ketekunan dan kesabarannya. Sebagai Kepala Depag yang pertama, diangkat KH.Syukri Gazali, sedangkan beliau sendiri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Parepare pada tahun 1954, menggantikan KH. Zainuddin Daeng Mabunga yang dialihtugaskan ke Makassar.

Diculik Kahar Muzakkar

Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng) merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah, Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai, perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.

Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.

Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.

Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A. Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu, baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.

Kiprahnya dalam Perjuangan. Keteguhan sikap Anregurutta tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan yang beliau lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan G-30 S/PKI, Gurutta Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Parepare, tak bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu Anregurutta berpesan pada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.

Secara fisik, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle tidak pernah secara langsung memanggul senjata melawan penjajah. Namun, kediamannya tak pernah sepi dari para pejuang yang minta didoakan keselamatannya. Misalnya, ketika Lasykar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di bawah pimpinan Andi Mattalatta hendak melakukan ekspedisi ke Jawa pada tahun 1946, mereka menemui Anregurutta untuk didoakan keselamatannya dalam memperjuangakan bangsa dan negara. Demikian juga saat mereka kembali dari Jawa dan hendak melakukan Konferensi Kelasykaran di Paccekke pada tanggal 20 Januari 1947 atas mandat Jenderal Sudirman. Kebetulan, letak Mangkoso bersebelahan dengan Paccekke, tempat berlangsungnya konferensi yang melahirkan Divisi TRI Sulawesi Selatan/Tenggara sebagai cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin (sekarang Kodam VII Wirabuana).

?

Hijrah Ke Kaballangan Pinrang. Pada tahun 1977, pemilu kedua berlangsung selama zaman orde baru. Pada waktu itu, kondisi politik Indonesia terasa sangat panas. Baranyanya pun bergulir sampai ke kampus DDI Ujung Lare Parepare. Berkaitan dengan peristiwa pemilu ini, Gurutta berada dalam kondisi yang cukup dilematis. Keadaan memaksa beliau untuk memilih. Atas dasar demi menyelamatkan organisasi dari tekanan pemerintah yang cukup refresif, akhirnya AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle menyatakan diri bergabung dengan Golongan Karya (Golkar), partai politik yang berkuasa saat itu. Itupun setelah melalui perenungan dan kontemplasi yang matang dan didahului dengan shalat istikharah, untuk memohon petunjuk Illahi Rabbi agar dapat menentukan dan memilih jalan yang terbaik. Gurutta KH. Ambo Dalle memilih ikut bersama dengan pemerintah membangun bangsa dan negara daripada harus berseberangan jalan.

Meskipun pilihan politik itu bersifat pribadi, tidak membawa DDI sebagai lembaga, tapi tampaknya sikap ini tidak menghembuskan angin segar dalam internal warga DDI? Diantara tokoh DDI dan murid-muridnya banyak yang tidak setuju dengan sikap yang diambil Gurutta. Sikap itu dianggap sudah keluar dari garis perjuangan DDI. Hal itu berdampak pada keterpecahan sikap dari para santri tempat beliau memimpin. Peristiwa ini memberi dampak serius terhadap mekanisme pendidikan di Pesantren DDI Ujung Lare dan Ujung Baru Parepare yang dipimpin langsung oleh Gurutta. Kedua kampus itu nyaris kosong ditinggalkan oleh santri-santri yang tidak bisa menerima sikap politik Gurutta. Akhirnya para santriwati yang tadinya tinggal di Ujung Baru ditarik ke Ujung Lare untuk bergabung dengan santri putra yang masih bertahan.

Peristiwa tersebut membuat Gurutta sangat kecewa sehingga hampir saja membuatnya hijrah ke Kalimantan Timur. Ketika itu, pemerintah daerah dan masyarakat di sana menunggunya. Issu ini sempat tercium oleh Bupati Pinrang (Andi Patonangi). Beliau lalu menawarkan kepada Gurutta sebuah kawasan di daerahnya untuk dijadikan pesantren. Tahun 1978, akhirnya Gurutta hijrah lagi ke Pinrang, tepatnya di desa Kaballangan. Itulah awal berdirinya Pesantren Kaballangan Kabupaten Pinrang yang dipimpin langsung oleh beliau. Sedangkan pesantren di Parepare diserahkan kepada KH. Abubakar Zaenal.

Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa kedekatan Gurutta dengan Golkar dan pemerintah orde baru, selain telah menorehkan pengalaman pahit bagi DDI, harus diakui pula telah mendatangkan kebaikan bagi DDI. Tidak ada lembaga pendidikan dan organisasi Islam, khususnya di Sulawesi Selatan, yang demikian diperhatikan oleh pemerintah melebihi perhatian terhadap DDI. Pembangunan Pondok Pesantren DDI Kaballangan, misalnya, tidak lepas dari perhatian dan bantuan pemerintah. Pesantren putra yang dipimpin langsung oleh Gurutta itu tidak pernah sepi dari kunjungan pejabat, sipil dan militer, baik dari provinsi maupun pusat. Tentu saja, kunjungan itu membawa sumbangan untuk pesantren. Meskipun begitu, hubungan baiknya dengan pemerintah tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi. Juga kedekatan itu tidak mengorbankan kharismanya sebagai ulama anutan yang disegani.

Kitab-kitab Karya Gurutta. Sebagai ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle banyak mengurai masalah-masalah kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas saja, melainkan hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain. Kesemua itu tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku. Kitab Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khalaqi, yang memaparkan tentang perkataan yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya. Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makripat kepada Allah. Meskipun harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah swt.

Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balagha (sastra dan paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I, menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci (syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu)

AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum. Aktivitas tulis menulis yang dilakukan oleh Gurutta kiranya tidak terlalu berat, karena panggilan untuk mengukirkan gagasan dalam kanvas sudah beliau lakoni sejak berumur 20 tahun.

Kepribadian Gurutta. Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.

Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan. Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya. Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.

Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab. Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan sebagian di tangan santrinya.

Detik-detik Terakhir. Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle berpulang dalan usia senja mendekati satu abad. Namun, tahun-tahun menjelang beliau dipanggil Tuhan, tetap dilalui dengan segala kesibukan dan perjalanan-perjalanan yang cukup menyita waktu dan tanpa hirau akan kondisi beliau yang mulai uzur. Misalnya, dalam usia sekitar 80 tahun beliau masih aktif sebagai anggota MPR dan MUI pusat. Dalam rentanya dan kaki yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya, beliau masih sempat berkunjung ke Mekkah untuk melakukan Umrah dan memenuhi undangan Raja Serawak (Malaysia Timur), meskipun mesti digendong.

Demikianlah perjalanan hidup seorang hamba Allah SWT yang telah melalui berbagai zaman dalam perjuangannya menegakkan dan mensyiarkan agama Islam. Di setiap era yang dilewatinya, dia tetap tampil sebagai sosok yang selalu tegar dan tegas. Ibarat pohon bakau ditepi pantai, ia tak pernah luruh dan tetap kukuh menghalau deburan ombak yang menghantamnya. Dia tak mau takluk pada perhitungan manusia akan kondisi dan kemampuan fisiknya di usia senja. Dimana keadaan sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi, mata yang kabur dan nyaris tak melihat, tubuh ringkih yang tidak kuat berjalan. Semuanya tidak membuatnya untuk berhenti dari misi pengabdiannya. (Disadur dari berbagai Sumber oleh syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Seoul, Belajar Muhammadiyah. Penyelenggaraan Global Peace Leader Conference 2010 yang berlangsung di Seoul Korea Selatan juga mengundang Dr Marsyudi Syuhud, ketua PBNU, sebagai wakil dari Indonesia.

Pada acara yang berlangsung 11-13 Oktober ini, Marsyudi memberikan sambutan tentang Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan oleh NU, yang berupaya agar Islam memberi rahmat bagi seluruh alam. Untuk menuju hal tersebut, salah satunya melalui silaturrahmi.

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Ia menjelaskan, melalui silaturrahmi, manusia akan saling mengenal dan saling memahami serta menyayangi satu sama lain. Disitu ajaran Islam rahmatan lil alamiin mulai berfungsi. Marsyudi menegaskan, dalam muamalah, Islam mengajarkan tanpa ada sekat muslim atau non muslim.

Belajar Muhammadiyah

Acara dihadiri oleh berbagai delegasi dari pemimpin negara maupun tokoh-tokoh agama, dari Amerika, Paraguay, Kenya, China, Jepang, Mongolia, dan lain sebagainya, Chairman Global Peace Festival Dr. Hyun Jin Moon membuka acara tersebut pada 11 Oktober 2010 diGand Hilton Hotel Seoul Korea.

Korea berbagi pengalaman dalam tema Effective Models of Balance Development: The Korean Experience, bagaimana Korea Selatan berhasil menjadi negara terkaya no 13 hanya dalam waktu 50 tahun.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut beberapa lembaga pemerintah Korea seperti KOICA, KDI, Korea Saemaul Undong Center berbagi pengalaman dan menjadi donor bagi negara-negara berkembang untuk membangun komunitas dan kehidupan yang lebih baik.

Global Peace Festival berikut akan diadakan di Jakarta pada tanggal 15 - 17 Oktober di Jakarta. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Khutbah, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Khofifah Indar Parawansa ke Bengkulu, Sabtu (12/8) mengingatkan kepada sang penjahit bendera merah putih pertama Fatmawati Soekarno.

Menteri Sosial RI ini pun terkesan ketika duduk di depan mesin penjahit Fatmawati yang terlihat klasik dan masih asli. Mesin jahit bersejarah berwarna merah jingga tersebut membuat Khofifah tertegun.

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati

“Saya sempat tertegun lama sebelum benar-benar menyentuh salah satu benda sakral milik bangsa ini. Milik Ibu Negara pertama, Ibu Fatmawati Soekarno,” ungkap Khofifah, Sabtu (12/8) dikutip Belajar Muhammadiyah dari akun Instagram resmi miliknya, @khofifah.ip.

Dia menjelaskan, mesin jahit bersejarah itu kini tersimpan di rumah kediaman Fatmawati di Kota Bengkulu. Menurut Khofifah, mesin jahit tersebut sangat sederhana karena hanya digerakkan dengan tangan tidak seperti mesin jahit yang ada saat ini.

“Dari mesin jahit tangan buatan tahun 1941 inilah lahir bendera merah putih pertama Indonesia,” jelas perempuan kelahiran Surabaya ini.

Belajar Muhammadiyah

Bagi Khofifah, merah putih lebih dari secarik kain berwarna merah dan putih. Di situ ada air mata, tumpahan darah, pengorbanan, dan semangat membara para pendahulu bangsa sehingga bangsa Indonesia saat ini banggsa mengibarkan bendera merah putih.

“Karenanya, hindari tindakan yang bisa menodai merah putih misalnya anarkisme, intoleransi, radikalisme, narkoba, atau keinginan mengganti bendera tersebut,” urai Khofifah.

Belajar Muhammadiyah

Dia menegaskan, bagi bangsa Indonesia merah putih tidak sekadar identitas bangsa, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa dan negara.?

“Mari jaga merah putih. Mari jaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red),” pungkas Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden KH Abdurrahman Wahid ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, AlaSantri, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Jerusalem, Belajar Muhammadiyah - Para pemuka agama di Yerusalem, Kamis (27/7), meminta umat Islam untuk melanjutkan shalat di Masjid al-Aqsa setelah Israel membuka semua penghalang yang dipasang selama dua minggu terakhir.

Seperti dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, setelah melakukan pertemuan di Yerusalem, mereka memutuskan untuk menyeru kepada umat Islam Palestina agar kembali menunaikan sembahyang di dalam kompleks Masjid al-Aqsa.

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Seruan tersebut dikumandangkan menyusul komite teknis Waqf berkesimpulan bahwa semua penghalang yang dipasang Israel di luar gerbang kompleks al-Aqsa telah dibersihkan.

Belajar Muhammadiyah

Israel mencopot penghalang terakhir Kamis dini hari, beberapa hari setelah melepaskan detektor logam yang ditempatkan di luar Gerbang Lions yang mengarah ke kompleks al-Aqsa.

Belajar Muhammadiyah

Sejak 14 Juli warga Palestina bersikeras memindahkan semua penghalang tersebut, berharap kehidupan dalam kompleks Masjid al-Aqsa kembali normal. Mereka memandang, upaya Israel memperketat penjagaan di kompleks masjid tersebut sebagai simbol kontrol dan penguasaan atas Masjid.



(Baca: Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman)


Selama lima hari ribuan umat Islam telah mengadakan shalat di jalanan dan gang-gang yang menuju ke Masjid sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Israel.

Para pemimpin Muslim mengumumkan bahwa shalat subuh pada Kamis diadakan di dalam Masjid. Mereka juga menyerukan penutupan semua masjid di Yerusalem pada hari Jumat sehingga orang dapat mengadakan shalat Jumat siang di Masjid al-Aqsa. Puluhan ribu orang diharapkan hadir di Yerusalem untuk shalat Jumat. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Sholawat, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang IPPNU Jakarta Barat melakukan penggalangan dana untuk membantu meringankan penderitaan yang menimpa etnis Rohingya. Penggalangan dilakukan  dengan menginstruksikan kepada tujuh PAC IPPNU di wilayah Jakarta Barat untuk melakukan hal serupa.

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya

Ketua PC IPPNU Jakarta Barat Mita Nurpatma menerangkan, penggalangan dana dilakukan di sekolah-sekolah, juga di acara Car Free Day (CFD).

“Kami menggalang dana selama dua minggu di beberapa sekolah di wilayah Jakarta Barat. Di MI, di SMP Ma’arif, di MAN, juga di UIN Ciputat,” terang Mita saat penyaluran donasi senilai Rp11.750.000,- ke NU Care-LAZISNU di Gedung PBNU, Rabu (25/10).

Yang menarik, sambung Mita, penggalangan di MAN 12 Jakarta dalam jangka waktu dua hari terkumpul donasi sebanyak tujuh juta rupiah. 

Mita juga mengatakan bahwa beberapa sekolah di Jakarta Barat, bagi siswa yang menggalang dana untuk Rohingya diberi penghargaan berupa sertifikat.

Belajar Muhammadiyah

“Kami beri reward kepada beberapa sekolah yang menggalang dana. Hal itu sebagai bentuk kepedulian siswa-siswi kepada saudara muslim Rohingya. Meskipun hanya berupa sertifikat, tetapi para siswa senang sekali menerimanya,” tuturnya.

Penggalanagan dana untuk Rohingya juga sesuai instruksi Pimpinan Pusat IPPNU kepada IPPNU di wilayah, cabang, hingga tingkat ranting.

Belajar Muhammadiyah

Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU, Nur Rohman mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh IPPNU Jakarta Barat dan IPPNU se-Indonesia pada umumnya. Ia menjelaskan, program bantuan untuk Rohingya membutuhkan waktu yang tak sebentar karena permasalahan Rohongya yang kompleks.

“Kami apresiasi betul aksi yang dilakukan IPPNU, dari pusat sampai daerah-daerah; mengajak siswa-siswi di sekolah dan masyarakat umum untuk peduli dengan permasalahan yang menimpa etnis Rohingya. Permasalahan ini, kata ketua AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar/M Yusuf Ali), memakan waktu yang panjang. Minimal dua tahun kita bisa menyelesaikan problem tersebut,” papar Nur Rohman.

“Kami terima donasinya untuk disalurkan ke masyarakat Rohingya. Ini akan sangat bermanfaat,” imbuhnya. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah - Perwakilan pengurus Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Singotrunan melakukan kunjungan ke kepengurusan Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Banyuwangi. Ketua PAC IPNU M. Sholeh Kurniawan dan Ketua PAC IPPNU Fitriyah Kecamatan Banyuwangi langsung menyambut kedatangan mereka di kantor PCNU Banyuwangi, Jumat (23/12) siang.

Ketua PR IPNU Singotrunan Ricky Fikryansyah mengatakan, kunjungan ini dilakukan untuk menyampaikan beberapa kesulitan saat menjalankan roda organisasi.

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi

"Kita di sini masih baru masuk dan aktif di IPNU IPPNU. Kami perwakilan pengurus yang hadir meminta contoh-contoh kegiatannya seperti apa, dan segmentasi kegiatannya untuk siapa," ungkap pelajar yang saat ini menempuh pendidikan di MAN 1 Banyuwangi.

Dia juga menyampaikan bagaimana tata kelola organisasi secara ideal. Karena dia berpikir sama saja jika melakukan berbagai kegiatan, ternyata tidak sesuai dengan aturan yang ada.

Belajar Muhammadiyah

M. Sholeh Kurniawan menyampaikan beberapa jalan keluar dari segala permasalahan yang diangkat.

"Sebenarnya kegiatan kita tidak terlalu sulit. Karena segmentasi kita hanya di bidang keterpelajaran dan kaderisasi. Karena IPNU-IPPNU sendiri memprioritaskan mesin kaderisasi dan kegiatan keterpelajaran yang positif. Pendeknya kita lebih memaksimalkan di bidang pelajar, bukan yang lain," tegas Sholeh, melalui siaran pers Belajar Muhammadiyah Sabtu (24/12).

Belajar Muhammadiyah

Sholeh mengimbau kepada puluhan kader yang berkunjung untuk turut membantu di kegiatan Pimpinan Anak Cabang, bukan hanya sibuk di kepengurusan ranting saja.

Ia juga mengajak untuk membantu kepanitiaan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) di daerah Pakis di tanggal 29 Desember 2016 mendatang kepada mereka yang hadir. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Kesan Kiai Said Usai Lihat Pameran Manuskrip dan Benda Pusaka

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengunjungi pameran berbagai koleksi manuskrip dan benda-benda pusaka dilantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, (31/1)

Dalam rangkaian Harlah ke-91 NU tersebut, Kiai Said dengan teliti melihat satu persatu berbagai koleksi manuskrip kuno dan benda-benda pusaka, seperti keris, kujang, golok, pedang, dan tombak.

Kesan Kiai Said Usai Lihat Pameran Manuskrip dan Benda Pusaka (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Kiai Said Usai Lihat Pameran Manuskrip dan Benda Pusaka (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Kiai Said Usai Lihat Pameran Manuskrip dan Benda Pusaka

Sambil melihat, ia bertanya kepada kolektor tentang apa yang sedang dilihatnya, bahkan ia sempat membaca naskah-naskah kuno tersebut. Dan kalau ada naskah yang sulit dibaca seperti aksara Jawa, ia meminta kepada kolektor untuk membacakan, lalu ia pun mendengarkan dengan seksama.

“Ini luar biasa, baru kali Harlah NU memamerkan manuskrip-manuskrip kuno yang ditulis oleh ulama nusantara. Ada naskah kuno beraksara Arab Pegon berbahasa Jawa, juga ada kitab Islam yang ditulis Bahasa Kawi,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Selesai melihat sejumlah manuskrip, masih dengan ketakjubannya, ia menuturkan bahwa para pendahulu atau leluhur sudah menguasai literatur.?

“Orang kalau membaca Shohih Bukhori itu sudah level tinggi. Sekarang kitab tersebut sudah jarang dibaca,” lanjut kiai asal Kempek Cirebon itu.

Menurutnya, kalau orang sudah mengkaji kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Fathul Wahab, kitab tafsir-nya Ibnu katsir, Tafsir Jalalain berarti pemahaman agamanya sudah high level.

“Kalau sekarang itu Mbah Maimoen, Mbah Dimyati Kendal, itu levelnya sudah tinggi,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia pun berharap agar ke depan koleksi-koleksi yang dipamerkan tersebut lebih disempurnakan lagi, lebih komprehensif, lebih beragam, dan lebih berkualitas. “Ini luar biasa mengangkat martabat ulama Nusantara yang bacaannya sudah Shahih Bukhari,” pungkasnya.?

Turut mendampingi Kiai Said, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Ketua PBNU HM. Imam Aziz, pengurus PBNU lainnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax

Solo,? Belajar Muhammadiyah

Semakin maraknya kabar bohong dan informasi yang tidak sesuai dengan fakta, atau yang lebih populer dengan istilah hoax, membuat sebagian kader muda NU di Solo, merasa perlu untuk membuat gerakan melawan hoax.



Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax



“Rencananya tanggal 8 Januari, bersama pegiat antihoax Solo, kita akan ikut mendeklarasikan masyarakat antihoax,” terang salah satu panitia acara Irfan Nuruddin, kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (2/1).

Belajar Muhammadiyah

?

Acara tersebut, akan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Irfan Sutikno (praktisi branding), Solahudin Aly (Koordinator Tim Ansor Cyber Media Regional Jawa Tengah) dan Anas Syahirul Alim (Ketua PWI Surakarta).

?

Sementara itu, saat dihubungi Belajar Muhammadiyah, Koordinator Tim Ansor Cyber Media Regional Jawa Tengah Solahudin Aly, jejaring antihoax ini perlu dibentuk untuk membendung peredaran kabar bohong, terutama yang mengandung konten radikalisme.?

Belajar Muhammadiyah

“Basis pemikiran berinternet sehat dan menyadarkan digital literasi juga menjadi modal dalam mengurangi berita bohong atau? hoax? yang cepat tersebar,” terang Sholahudin.

Menurut Sekjen PW GP Ansor Jateng itu, tahun 2017 menjadi awal yang baik dalam menata konsolidasi melawan radikalisme yang sudah masuk ke dunia maya.

?

“Tantangan ke depan seperti apa? Kita sekarang hidup di dunia globalisasi, era masyarakat tanpa batas, tak bersekat,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock