Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

Medan, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Medan, Sumatera Utara, akan menyelenggarakan acara seminar dan bedah buku putih “Benturan NU-PKI 1948-1965” di Ruang IMT GT USU Medan, Selasa (23/9) besok.

Narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH Asad Said Ali; penulis buku putih tersebut yang juga Wasekjen PBNU, H Munim DZ; Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Dr Al-Zastrow Ngatawi; dan pembanding, Dr Budi Agustono, Pangdam I/BB Mayjend TNI Istu Hari S.

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

"Bedah buku ini merupakan sebuah bentuk kepedulian NU terhadap keutuhan NKRI, serta mengungkap tabir sejarah benturan NU dengan PKI dalam masa priode 1948-1965," kata Ketua PCNU Medan Achmad Firdausi Hutasuhut, didampingi Wakil Ketua Rais Syuriah Dr Wirman Tobing, Mustasyar NU Ir Zainal Arifin, dan Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Medan Fakhrul Ihsan Sahri, di Kantor PCNU Medan, Jalan Palang Merah No 80 Medan.

Belajar Muhammadiyah

Wirman Tobing menegaskan, seminar dan bedah buku tersebut terbuka untuk umum. "Kepada masyarakat umum kita harapkan hadir untuk mengetahui sejarah tentang benturan NU dan PKI," ujarnya.

Rencananya, acara akan dibuka oleh Walikota Medan Drs T Dzulmi Eldin dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, dan tokoh eksponen angkatan 66. (Red: Mahbib Khoiron)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Hadits, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21

Makkah, Belajar Muhammadiyah

Komite Hijaz adalah sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk umat islam di Indonesia medio 1924-1925 bertepatan dengan berkuasanya Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, atas Hijaz (Makkah dan Madinah). Salah satu latar belakang kelahirannya adalah kebijakan anti pluralitas madzhab dan pemusnahan situs-situs peradaban Islam oleh Ibnu Saud. Komite Hijaz yang diketuai KH. Abdul Wahab Hasbullah menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama.

Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengingatkan kembali cerita itu. Menurutnya, Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki visi dan cita-cita internasional. “Sesungguhnya NU lahir dengan perspektif dan cita-cita yang luar biasa. Perspektif global ini tidak boleh surut,” tuturnya.

Kiai Masdar berbicara dalam acara Silaturrahim PCINU Sedunia yang digelar di Rubat Jawa an-Nawawy, Distrik Misfalah, Kota Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Utusan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) datang antara lain dari Belanda, Hongkong, Jepang, Lebanon, Malaysia, Maroko, Mesir, Pakistan, Sudan, Tunisia, Yaman, dan Aljazair.

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21

“Saat ini kita bisa merasakan bagaimana haji sebagai laku napak tilas spiritual sudah hilang, rumah Rasulullah (bersama Sayyidah Khadijah-red) sudah tidak ada, petilasan-petilasan bersejarah juga sudah hilang. Ini tantangan komite hijaz abad 21 saya kira, bagaimana menjaga haji sebagai proses penulusuran sejarah spritual umat Islam,” tutur santri KH Ali Maksum Krapyak ini, Senin (21/9).

Dalam kesempatna yang sama, ia juga juga menekankan pentingnya berjamaah. Menurutnya, jamaah bukan sekadar kumpul, melainkan kumpulan manusia yang teroganisasi seperti halnya jamaah shalat, ada imam dan ada makmum.

Belajar Muhammadiyah

“Jamaah dalam konteks hablum minannas ya organisasi dan Indonesia sudah ideal, di mana organisasi-organisasi keagamaan tumbuh subur, tinggal bagaimana duduk bersama merespon isu lokal maupun isu internasional,” ujar Kiai Masdar.

Abdul Wahid Maktub, Staf Ahli Menristek Dikti RI, yang juga hadir dalam forum tersebut mengingatkan pentingnya merespon perubahan zaman. Ia mengatakan, dunia ini terus berubah karena itu bagian dari sunnatullah. Menjadi problem jika zaman berubah begitu cepat tetapi manusianya tidak berubah.

Wahid Maktub menekankan pentingnya kecepatan, kecermatan dan ketepatan dalam membaca keadaan zaman. Menurutnya NU harus mampu menjawab tantangan zaman dan harus semangat dan cepat berubah sebagaimana semangat jihad yang pernah digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. (Ridho Hasan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah News, Pendidikan, Doa Belajar Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Yudha Iswanto muncul sebagai salah seorang dari tiga pemenang mingguan Periode 6 November-12 November 2017 sayembara video pendek yang diselenggarakan oleh XL Axiata, AJI Kota Solo, dan Rumah Blogger. Kader GP Ansor yang masih belia ini ditetapkan oleh dewan juri sebagai pemenang kontes pesan instagram mingguan.

Alumnus Program Magang Multimedia di Belajar Muhammadiyah ini berhak mendapatkan satu buah Powerbank 16000 mah.

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan

Pembukaan sayembara dibuka sejak tanggal 28 Oktober-24 November 2017. Sayembara diadakan kurang lebih hanya tiga pekan. Dewan juri akan mengumumkan juara umum pada tanggal 24 November 2017.

Belajar Muhammadiyah

Para pemenang nanti tidak diambil dari tiga pemenang mingguan yang diumumkan dewan juri. “Nggak juga (diambil dari pemenang mingguan), tapi (pemenang mingguan) berkesempatan lebih besar,” kata Yudha Iswanto, salah seorang peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan aktivis GP Ansor Kebayoran Lama Jumat-Ahad (20-22/10).

Belajar Muhammadiyah

Dewan juri menyiapkan uang sebesar Rp 10.000.000 untuk pemenang I, Rp 5.000.000 untuk pemenang II, Rp 3.500.000 untuk pemenang III, dan Rp 1.500.000 untuk lima pemenang harapan.

Panitia meminta peserta sayembara minimal caption tiga paragraf. Pesan dalam keterangan (caption) yang diminta berisi antara lain (1) ajakan untuk bijak dalam menyikapi pesan negatif seperti ajakan bermusuhan, ujaran kebencian; (2) pandangan/sikap/opini tentang pesan-pesan dan/atau informasi negatif; (3) cara menyikapi pesan bernada hasutan, ajakan permusuhan; (4) cara menyeleksi pesan dan tindakan yang akan dilakukan; dan (5) tanggapan atau opini yang relevan dengan tema lomba.

Yudha mengangkat video pendek bertema Tolak Khilafah, Cintai NKRI yang menayangkan seorang pelajar yang terpapar ideologi Negara Islam dengan memasang pamflet bertuliskan kalimat tauhid. Setelah menyaksikan video testimoni para veteran pergerakan atas aspirasi sebagian mahasiswa yang menyarakan khilafah islamiyah, pelajar ini tersadar dan kemudian mengganti pamflet itu dengan poster Pancasila.

Silakan buka videonya di link ini: Tolak Khilafah, Cintai NKRI

“Ideologi Pancasila sudah paling tepat, karena kita memerjuangkan negara ini bersama-sama dan bukan satu kaum saja,” kata kader GP Ansor yang masih duduk di bangku kelas III SMKN 40.

Menurutnya, dalam tulisan-tulisan Gus Dur yang tersebar di Majalah Aula NU tahun 1990-an, dikatakan bahwa “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak  Pancasila.

“Jika para ulama ikut merumuskan Pancasila, kenapa kita harus meragukannya?” kata Yudha.

Biasanya mereka menggunakan kata "Orang Yang Tidak Berhukum dengan Hukum Allah" dan dijelaskan pendapat-pendapat mereka disebar banyak akun di media sosial untuk mempengaruhi pemahaman kita.

“Jika kamu menemukan post seperti itu, janganlah mempercayai dan menyebarnya. Jangan biarkan perbedaan suku, ras, dan agama memperpecah-belah kita. Toh, Rasulullah SAW mendirikan negara Madinah yang berbeda suku dan agama,” tulis Yudha dalam akunnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa Belajar Muhammadiyah

Selasa, 06 Februari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Belajar Muhammadiyah

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Belajar Muhammadiyah

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Makam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Belajar Muhammadiyah

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Ulama, Doa Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Ditengah-tengah acara kongres ke XIII Fatayat NU yang sedang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, PP Fatayat NU menandatangani kerjasama dengan BKKBN dalam bidang kesehatan reproduksi (12/7). Mewakili Fatayat Maria Ulfa Ansor sedangkan BKKBN diwakili oleh Dr. Siswanto Wilopo yang merupakan salah satu deputi di BKKBN.

Kerjasama ini terjalin karena sebelumnya Fatayat telah sukses menjalankan program serupa di 11 propinsi. “Mereka membutuhkan bantuan Fatayat untuk melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi seperti KB dan lainnya,” tandas Ketua Panitia Kongres dr. Wan Nedra Komaruddin.

Kerjasama ini sangat tepat karena anggota Fatayat memiliki usia reproduksi sehingga mereka menjadi user. Sosialisasi ini sangat bermanfaat karena mereka akan tahu berbagai aspek kesehatan reproduksi. “Misalnya KB dengan pil, ia akan tahu indikasinya apa dan efek sampingnya apa. Jadi edukasi seperti itu,” tambahnya.

Bentuk sosialisasi nantinya mungkin dalam bentuk serial diskusi. Fatayat juga telah memiliki tenaga handal yang siap untuk diterjunkan ke lapangan, walaupun akan terus dilakukan capacity building. Nantinya wilayah yang siap bisa langsung sementara yang belum diminta mempersiapkan diri dulu.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Doa, Amalan Belajar Muhammadiyah

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jumat, 19 Januari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Doa, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Wonogiri, Belajar Muhammadiyah. Maulid Akbar membuka perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri yang ke -272 yang digelar semalam (4/5) di Alun-alun Giri Kridha Bhakti Wonogiri.?

Pengajian Akbar tersebut dihadiri Rais A’am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Ribuan jamaah yang hadir memadati lapangan lokasi pengajian. Mereka hadir dari berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Selain maulid akbar, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan guna menyambut Hari Jadi Kota Gaplek itu, diantaranya Napak Tilas Pangeran Sambernyawa di Monumen Watu Gilang, Tasyarub Gerakan 1 Miliar untuk anak yatim, dan Doa syukur antar umat beragama.

Hari Jadi Wonogiri sendiri sebetulnya baru akan jatuh pada tanggal 19 Mei nanti. Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dalam sambutannya mengatakan,ia berharap dengan momentum ini segenap unsur dapat membantu untuk mewujudkan keadaan masyarakat berdasarkan semboyan SUKSES.

Belajar Muhammadiyah

“SUKSES sebagai kepanjangan Stabilitas, Undang-undang, Koordinasi, Sasaran, Evaluasi, Semangat. Berarti pula upaya mewujudkan keadaan masyarakat yang penuh semangat dan bekerja bersama segenap elemen berdasarkan rel regulasi agar tujuan kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai dengan kestabilan,” ujarnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Doa, Kiai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Kang Said Jelaskan Tujuh Keadaan Batin

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam pengajian mingguan tasawuf di Kantor PBNU, Senin (4/2) malam, menyatakan, batin manusia memiliki tujuh keadaan. Di hadapan sedikitnya 30 hadirin, ia menjelaskan tujuh keadaan batin dengan saksama.

Kang Said Jelaskan Tujuh Keadaan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Jelaskan Tujuh Keadaan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Jelaskan Tujuh Keadaan Batin

Pertama, bashiroh. Ia merupakan lapisan terluar batin manusia. Bashiroh adalah mata hati anak manusia dalam memandang sebuah persoalan. Dengan itu, manusia dapat menilai baik-buruk sebuah kenyataan yang tengah dihadapi, kata Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siroj.

Belajar Muhammadiyah

“Sementara kedua, dlomir. Ia  adalah kehendak moral seseorang yang terbentuk di bawah kendali hati. Mereka yang memiliki dlomir, akan berbuat baik melalui tuntunan dan bimbingan hati,” tambah Kang Said yang sesekali menjelaskan di papan tulis tersedia.

Belajar Muhammadiyah

Kang Said lalu menyebutkan yang ketiga; fu’ad. Fu’ad adalah sebuah pertimbangan hati yang menjatuhkan vonis bagi tindakan manusia. Menurut Kang Said, vonis hati itu tidak pernah berdusta. Hati akan berkata, “Kamu salah. Atau, kamu benar.”

Keempat, zauq. Zauq merupakan sebuah intuisi perasaan manusia. Ketajaman perasaan tersebut sangat bergantung pada sejauh mana ketajaman fu’ad, imbuh Kang Said.

Kelima, Asror. Menurut Kang Said, dengan asror manusia memiliki ketepatan-ketepatan sebuah prediksi gaib. Kang Said kerap mengambil peristiwa pengarahan Umar bin Khattab RA. saat berkhutbah terhadap pasukan muslim di lain lokasi. Meski begitu, pasukan tersebut mendengar pengarahan Umar RA.

Untuk itu, manusia perlu menempa dan menggembleng batinnya untuk tetap fokus pada Allah. Inilah riyadlah, unsur keenam bagi keadaan batin seseorang. Itulah pentingnya sebuah tarekat, menurut Kang Said. Kehadiran sebuah tarekat ialah membimbing batin manusia agar tidak jatuh pada karomah yang mengelabui.

Sementara ketujuh, lathifah. Lathifah adalah kelembutan sebuah hati dalam memandang kenyataan apa pun. Mereka yang berhati lathif, memiliki rasa cinta yang tinggi. Dari cinta itu, mereka memandang dengan cinta dan belas kasih segalanya, baik maupun buruk, tutup Kang Said.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Olahraga, IMNU Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Besok, PBNU Bahas Masalah Kewarganegaraan Ganda

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Bahtsul Masail (LBM) akan mengadakan pembahasan perihal hukum kewarganegaraan ganda di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (20/9) siang. Forum bahtsul masail ini melibatkan anggota DPR, pihak Kemendagri, pengurus harian PBNU, dan para kiai pesantren.

Forum ini akan mendiskusikan kewarganegaraan ganda dari pelbagai sudut sehingga peserta dapat menimbang maslahat dan mafsadatnya bagi bangsa Indonesia jika UU Kewarganegaraan Ganda ini diberlakukan di Indonesia.

Besok, PBNU Bahas Masalah Kewarganegaraan Ganda (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, PBNU Bahas Masalah Kewarganegaraan Ganda (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, PBNU Bahas Masalah Kewarganegaraan Ganda

“Masalah ini jelas kita bahas. Nanti DPR juga mau membahas RUU Kewarganegaraan,” kata Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU H Sarmidi Husna kepada Belajar Muhammadiyah, Ahad (18/9) sore.

Belajar Muhammadiyah

Pertemuan ini, kata H Sarmidi, diharapkan dapat menghasilkan sebuah putusan hukum Islam sejenis fatwa perihal kewarganegaraan ganda. Di akhir pertemuan, peserta rencananya akan merumuskan sejumlah rekomendasi dari hasil kajian tersebut untuk disampaikan kepada pemerintah.

Rekomendasi ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan perihal kewarganegaraan ganda. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Santri, Doa Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Tiap Pekan BNPT Terima Deportasi WNI dari Timur Tengah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Toriq Triono mengatakan, setiap minggunya BNPT menerima deportasi warga negara Indonesia dari Negara-negara Timur Tengah, terutama dari Turki. Hal itu disebabkan karena mereka tidak memiliki kelengkapan dokumen seperti paspor.

“Setiap Minggu kami menerima deprortasi dari Turki,” kata Toriq.

Tiap Pekan BNPT Terima Deportasi WNI dari Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Pekan BNPT Terima Deportasi WNI dari Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Pekan BNPT Terima Deportasi WNI dari Timur Tengah

Hal itu ia ungkapkan saat memberikan materi pembuka dalam acara Seminar Dampak Media Sosial Terhadap Terorisme di Auditorium Lantai 3 Gedung IASTH Universitas Indonesia Jakarta, Kamis (4/5).

Sekembalinya dari Negara Timur Tengah, jelas Toriq, mereka diasramakan di lembaga-lembaga rehabilitasi negara karena mereka sudah tidak memiliki rumah lagi. “Mereka jual semua untuk hijrah ke Syria,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Toriq menambahkan, mereka yang kembali ke Indonesia mengaku kecewa karena apa yang terjadi di sana tidak sesuai dengan apa yang ada di media-media sosial. “Apa yang dialami di sana tidak sama dengan apa yang dipropagandakan di media sosial,” urainya.

Ia menilai, lemahnya regulasi yang ada di Indonesia menjadi salah satu sebab mengapa banyak orang yang pergi ke Negara-negara Timur Tengah yang sedang berkonflik. Ia menjelaskan, Undang-Undang Indonesia hanya bisa mengawasi apa yang terjadi di media sosia dan belum bisa menjangkaunya.

Belajar Muhammadiyah

“Undang-Undang kita tidak bisa menjangkau. Kita hanya bisa mengawasi,” tegasnya.

Oleh karena itu, Toriq menyatakan, saat ini ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi terorisme. Pertama, memperkuat regulasi. Saat ini, Undang-Undang tentang terorisme sedang diperkuat, salah satu poinnya adalah dengan melarang propaganda terorisme di media sosial.

“Kedua, kontra-narasi untuk menandingi narasi sempit yang disebarkan oleh para pelaku teror,” pungkasnya.

Saat ini, BNPT berhasil memonitor ada sekitar lima ratus orang yang sedang berada di Syria. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Pesantren Assalafiyah II Brebes Buka Sanlat Pelajar

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Pesantren Assalafiyah II Brebes membimbing seratus lebih pelajar SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dalam pesantren kilat (sanlat). Selama dua belas hari mereka mendapat pembekalan materi ubudiyah dan muamalat di pesantren asuhan KH Subkhan Makmun ini yang berlokasi di jalan MT Haryono Saditan, Brebes.

Pesantren Assalafiyah II Brebes Buka Sanlat Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Assalafiyah II Brebes Buka Sanlat Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Assalafiyah II Brebes Buka Sanlat Pelajar

Sanlat dimulai pada Ahad (29/6) hingga Sabtu (12/7). Menurut Ketua Panitia Sanlat H Minanul Azis, “Pada hari pertama ada 100 siswa yang ikut, tiap hari jumlah peserta makin bertambah.”

Sejumlah materi pelajaran yang dipelajari meliputi fiqih thoharoh, sholat, analisa diri, hidup sehat dan cerdas, kerukunan antarumat beragama, problematika remaja dan solusinya.

Belajar Muhammadiyah

H Minan mengimbau para orang tua membawa anaknya pesantren Assalafiyah II untuk diikutsertakan dalam sanlat. Pasalnya kegiatan ini sangat penting dan besar manfaatnya bagi perkembangan anak. “Kami tidak memungut biaya,” tuturnya.

Belajar Muhammadiyah

Muhammad Khaerul Fikri dari SMA Negeri 1 Brebes mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan ini. menurut Fikri, pembimbingnya ramah-ramah di samping materi yang tergolong baru.

“Di sekolah belum aku terima pelajaran seperti ini. Ada praktiknya lagi,” ucapnya lugas.

Selain Sanlat Pelajar, Pesantren Assalafiyah II juga mengadakan ? pengajian ba’da shubuh yang disampaikan Ustadz Wahyudin bagi jamaah ibu dan bapak dari jam 05.00-07.00. Sementara stiap ba’da Ashar, pesantren Assalafiyah II menyediakan pengajian kitab Safinah dan Washiyatul Mustofa yang diampu Ketua Dewan Masjid Indonesia KH Aminudin Afif. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa Belajar Muhammadiyah

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, melalui badan eksekutif mahasiswa mendirikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bentuk pembumian Aswaja di kalangan mahasiswa setempat.

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Dalam rilis yang diterima Belajar Muhammadiyah, Jumat (21/11), piha STISNU mendorong organisasi ekstra kampus tersebut menjadi motor penggerak pengembangan ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tangerang.

“Apalagi, kalian lahir (menjadi alumni) nanti asli dari produk perguruan tinggi yang mengembangkan Aswaja sebagai manhajnya,” kata DR. Bahruddin, salah satu petinggi kampus.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai upaya rintisan, Masa Pemerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang menjadi jenjang pertama kaderisasi PMII telah dilaksanakan 6 November lalu. Mapaba kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada hari berikutnya.

Belajar Muhammadiyah

STISNU Nusantara mewajibkan mahasiswanya untuk bergabung di organisasi ini. Tercatat ada 126 mahasiswa yang telah terdaftar. “Insya Allah, berawal dari kampus PTNU (perguruan tinggi NU), kami bisa meng-Aswaja-kan generasi muda di Tangerang,” tutur Eko Wiyono, ketua panitia Mapaba dan PKD. (Mahbib Khoiron)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Doa Belajar Muhammadiyah

Resmi Dilantik, IPNU-IPPNU Kadur Siap Bentuk Ranting-ranting

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah. Para pengurus IPNU-IPPNU Kadur resmi dilantik di Pesantren Miftahul Anwar, Klompok, Pamoroh, Kadur, Pamekasan, Jumat (21/4). Pelantikan dikemas dengan seminar ke-NU-an bertema "Membangun Generasi NU untuk Mempertahankan Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah".

Resmi Dilantik, IPNU-IPPNU Kadur Siap Bentuk Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Resmi Dilantik, IPNU-IPPNU Kadur Siap Bentuk Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Resmi Dilantik, IPNU-IPPNU Kadur Siap Bentuk Ranting-ranting

Usai dilantik, Ketua PAC IPNU Kadur Taufiqurrahman mengaku siap berkomitmen akan berjuang keras bersama rekan-rekanita lainnya untuk memajukan organisai pelajar NU di Kecamatan Kadur.?

"Sebelum dilantik, kita sudah bergerak membentuk Pimpinan Ranting. Sudah banyak yang terbentuk, seperti Pimpinan Ranting Bangkes, Pamaroh, Pamoroh, Kertagena Laok, Kertagena Tenga, Kadur, Kertagena Daya," paparnya.

Tinggal tiga desa yang belum dibentuk: Bungbaruh, Sokalelah, dan Gagah. Taufiq memastikan, ketiga desa tersebut dalam waktu dekat akan dibentuki pimpinan ranting.?

Belajar Muhammadiyah

"Kami sudah mantap untuk belajar, berjuang, dan bertaqwa," tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Pembina PAC IPNU-IPPNU Kadur yang mantan Ketua PAC IPNU Kadur tahun 2011 Faisol Ansori menegaskan, dengan adanya pelantikan ini, pihaknya berharap pelajar NU mempunyai semangat baru yang tidak kalah dengan semangat senior-seniornya.

"Teruslah bergerak dan mengalir, jangan pernah berhenti bergerak. Agar adik-adik sekalian mampu menjadi air obat pelepas dahaga bangsa Indonesia," pungkasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Daerah, Doa Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Bonus Demografi Kaum Santri

Oleh A Khoirul Anam





Kaum santri berpusat pada pesantren dan secara kultural dipimpin dan patuh kepada kiai, meskipun tidak semua pernah mondok atau menetap dan belajar di pesantren. Mereka sudah terbiasa menjalani kesalehan agama Islam semenjak masih kecil. Mereka tidak mesti berdagang, bahkan sebagian besar adalah keluarga petani. (Trikotomi Clifford Geertz 1951-1952 tentang santri-abangan-priyayi seringkali mengganggu pemahaman kita mengenai perkembangan kaum santri ini. Meskipun setelah peristiwa G30SPKI 1965 Geertz datang lagi ke Indonesia dan mengubah tesisnya, kesimpulannya itu sudah terlanjur terbit menjadi buku dan dikutip sana-sini.) Tegasnya, kaum santri berafiliasi dengan organisasi NU.

Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bonus Demografi Kaum Santri

Pada mulanya kaum santri ini berada di desa-desa yang lekat dengan tradisi keagamaan seperti ritual kelahiran dan kematian (Geertz sebaliknya menyebut tradisi ini sebagai abangan). Berikutnya, sebagian dari kaum santri bermigrasi dan menetap di kota-kota, menjadi orang kota dan beranak-pinak. Kira-kira mereka yang bermigrasi sejak tahun 1960-1970an, saat ini sudah mempunyai cucu. Proses migrasi terus berlanjut. Migrasi yang terjadi pada kurun 1990an dan 2000an lebih banyak lagi, silakan diamati setiap musim mudik lebaran.

Orang-orang di luar sana sedang membicarakan soal bonus demografi. Jumlah penduduk produktif Indonesia besar sekali. Sementara sukses dakwah Islam telah berhasil menjadikan Indonesia mayoritas Muslim, sehingga bonus demografi yang dimaksud di atas pasti berkaitan dengan besarnya generasi muda Muslim di Indonesia. Catatan berikut fokus pada bonus demografi kaum santri.

Pada 2015 lalu sebuah media massa nasional yang aktif melakukan survei, merilis berita yang membuat saya tersenyum. Hasil survei menunjukkan ternyata, 70 persen wartawan berbagai media nasional di Jakarta mengaku sebagai warga NU, atau Nahdliyin. Ini hanya satu bidang profesi, sekedar menunjukkan betapa percaya dirinya kaum santri yang hidup di kota. Pada satu sisi, kemandirian yang diajarkan secara praktis di pesantren menjadi bekal yang luar biasa untuk bersaing hidup di kota. (Dalam catatan ini saya perlu menyampaikan kekaguman kepada sosok Savic Ali, alumni pesantren yang hijrah ke kota dan kuliah di jurusan filsafat, kemudian menjadi aktifis dan sekarang menjadi pebisnis sukses di bidang teknologi-komunikasi.)

Belajar Muhammadiyah

Sesuatu yang menarik dalam bonus demografi sebenarnya bukan migrasi, tapi mobilitas sosial yang sudah terjadi pada kaum santri selama bertahun-tahun melalui beberapa bidang dan peran. Di bidang politik, kaum sarungan mulai meroket ke kancah nasional melalui Partai NU pada tahun 1955, dan berikutnya kiprah politik ini terus bertahan meskipun mengalami pasang-surut. Posisi kaum santri sangat kuat karena dalam sistem demokrasi yang selalu mengandalkan jumlah massa; sesuatu yang menjadi keunggulan kaum santri.

Belajar Muhammadiyah

Berikutnya, kisaran akhir 1970an dan 1980an, sebagian kaum sarungan menjajaki dunia baru sebagai aktivis LSM, gerakan advokasi yang didahului dengan berbagai kajian kritis terhadap berbagai teks pesantren dan adaptasi berbagai kajian filsafat dan teori sosial dari Barat. Gus Dur menjadi satu ikon penting dalam hal ini. Kemudian tibalah era reformasi yang ditunggu-tunggu dan generasi ini sudah siap "merebut" jabatan strategis di lembaga-lembaga negara yang baru dibentuk, serta tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang.

Sarana mobilitas sosial yang paling penting bagi kaum santri adalah pendidikan. Negara Indonesia ini harus berterimakasih kepada pesantren yang menyelamatkan pendidikan warga negara terutama di basis pedesaan dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada awal masa kemerdekaan, pesantren yang sejak awal memilih jalur politik non-kooperatif terhadap sistem kolonial, memilih tetap menjadi institusi pendidikan tersendiri yang secara nomenklatur berada di bawah naungan Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan. Berikutnya, sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi madrasah atau sekolah formal yang diakui oleh pemerintah dan menyeleggarakan juga pendidikan tinggi dengan berbagai bidang keahlian yang hampir sama dengan yang dikembangan di lembaga pendidikan tinggi umum. Kementerian Agama juga sangat aktif melakukan proyek “integrasi” ilmu agama-umum dan memfasilitasi kaum santri untuk mendalami bidang sains dan humaniora.

Hasilnya, banyak sekali kaum santri yang mempunyai keahlian selain bidang agama-normatif. Bahkan, bukan rahasia lagi sejak dahulu putra-putri para tokoh NU disekolahkan di lembaga pendidikan umum, bukan di pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Dan pada saat Indonesia mengalami bonus demografi, sudah banyak kaum santri yang menjadi ahli matematika dan statistik,ahli biologi dan kimia, ahli teknologi, ahli astronomi, bahkan ahli di bidang nuklir: Bidang-bidang keahlian ini mungkin tidak terpikirkan pada 31 Januari 1926.

Organisasi NU sebagai rumah besar kaum santri memang terlalu “tua” untuk merespon bonus demografi kaum santri ini, namun intsitusi yang dipimpin para kiai pesantren ini menjadi sarana “kopi darat” generasi santri yang sudah beredar kemana-mana. (Di Jakarta misalnya halaqah-halaqah, istighotsah atau kegiatan apapun menjadi saranan berkumpul kaum santri, sekedar ngobrol-ngobrol, bercanda dan membahas hal-hal yang tidak penting (tidak berkaitan dengan bidang profesi mereka).

Sebagian orang luar masih menganggap kaum santri hanya sebagai komunitas massa Islam yang berkecimpung di bidang agama. Misalnya, para wartawan yang diturukan untuk meliput berbagai kegiatan NU atau datang menemui kiai di pesantren hampir selalu wartawan desk-politik. Singkatnya, NU dan pesantren di kancah nasional hampir selalu identik dengan manuver politik dan fatwa keagamaan.

Namun siapapun tidak bisa membendung arus pergerakan generasi kaum santri di berbagai bidang dan pos-pos penting. Di bidang politik, beberapa santri duduk sebagai pimpinan berbagai partai politik. Di birokrasi, kaum santri juga tidak hanya masuk melalui jalur Kementeria Agama. Di bidang keahlian lain pergerakan kaum santri di era bonus demografi ini juga tidak bisa dibendung dan dihalangi oleh siapapun atau apapun. Semua berlangsung secara alamiah dan bebas dari pengaruh “konspirasi wahyudi” sekalipun.?

Penulis adalah Redaktur Belajar Muhammadiyah. Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, PonPes Belajar Muhammadiyah

Kamis, 07 Desember 2017

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Ulama asal Lebanon Syekh Usamah Abdurrazzaq Ar-Rifa’i menjadi pemateri dalam sesi pertama Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela, Rabu (27/7) Hotel Santika Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam sesi ini, Syekh Usamah membawakan materi tentang Persatuan dan Resolusi Konflik Antar-Umat Islam.?

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Adapun Ruang lingkup pembahasannya, yaitu konsep dan hukum syar’i persatuan antar-umat Islam, bahaya perpecahan dan menyikapi khilafiyah antar umat Islam, antisipasi terhadap faktor-faktor penyebab perpecahan, dan permusuhan antar umat Islam.

“Ada lima faktor persatuan bagi umat Islam saat ini. Pertama, dengan mengedepankan aspek-aspek ushul, tidak sibuk dalam perkara-perkara khilafiyah. Kedua, menumbuhkan rasa cinta tanah air,” ujarnya.

Ketiga, tambahnya, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam berbangsa. Keempat, semangat kebersamaan bersama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kelompok terbesar umat Islam.?

“Kelima, meninggalkan kebiasaan menghakimi mereka yang berbeda paham dan aliran. Selain itu, saya mengusulkan agar kita selektif dalam penyiapan para dai (penyeru agama Islam). Harus ada kriteria yang jelas, berkompeten, terkualifikasi dengan sanad keilmuan yang sahih. Jangan sampai semua orang bebas bicara menyampaikan isi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah tanpa ilmu,” papar Syekh Usamah.

Belajar Muhammadiyah

Ratusan peserta konferensi yang memadati ruangan diskusi begitu antusias mengikuti pemaparan Syekh Usamah terkait problem dunia Islam saat ini. Hotel Santika Pekalongan merupakan tempat khusus diadakannya pemaparan materi dari para ulama internasional. Sedangkan penyampaian materi oleh ulama nasional digelar di Aula Gedung Djunaid Pekalongan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Rais Syuriah PBNU KH Subkhan Makmun mengajak santri dan warga Brebes untuk melaksanakan shalat istisqo, memohon pertolongan Allah SWT agar segera menurunkan hujan.  Shalat akan digelar pada Senin, 26 November 2015 mendatang di Lapak Bawang Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, mulai pukul 08.00 WIB.

Kiai Subkhan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi menyampaikan hal ini usai rapat persiapan di ruang Rapat Sekda Brebes, Selasa (20/10).

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Kang Kaji, demikian sapaan akrabnya, mengaku telah mengerahkan santrinya juga mengajak ormas Islam, instansi pemerintah maupun swasta, lembaga pendidikan, pengurus masjid, majelis taklim, organsasi kepemudaan, tokoh masyarakat, mubaligh, mahasiswa dan seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk hadir dalam pelaksanaan shalat istisqo.

Belajar Muhammadiyah

Shalat yang digagas Dandim 0713/Brebes dan difasilitasi Pemkab Brebes itu, akan didahului dengan istighotsah oleh para kiai sepuh Brebes.  Khotbah akan disampaikan oleh Kiai Subkhan sedangkan Imam akan dipimpin oleh ulama sepuh yang hadir pada kesempatan tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Puasa Tiga Hari, Banyak Istighfar

Kiai Subkhan turut prihatin dengan kemarau yang berkepanjangan ini. Apalagi daerah Brebes merupakan penghasil komoditas utama Bawang Merah yang tentunya sangat membutuhkan air untuk menanamnya. “Kabupaten Brebes, 60 persen penduduknya berkecimpung dalam dunia pertanian. Di daerah lain juga terkena musibah kabut asap jadi alangkah baiknya kita memohon pertolongan Allah SWT lewat shalat istisqo,” ujarnya.

Sebelum shalat, Kiai Subkhan menganjurkan untuk puasa sunah tiga hari, banyak istighfar, berdoa dan beramal sholeh. Kita harus menyadari sepenuh hati bahwa kekeringan akibat tidak turunnya hujan, merupakan musibah dan teguran dari Allah SWT.

Asisten II Sekda Brebes Ir Moh Iqbal menambahkan, Pemkab Brebes akan mendukung penuh ikhtiar meminta hujan dengan shalat istisqo di Luwungragi. Bupati beserta jajaran dan PNS lain juga akan berbondong-bondong mengikuti kegiatan tersebut. Jamaah haji yang baru pulang dari Mekah, anak yatim, para jompo, bahkan hewan ternak akan digiring untuk berkumpul di lapangan Luwungragi dalam rangkaian shalat Istisqo.

“Pelajar juga dilibatkan, sebagai pembelajaran keimanan dan ketakwaan sejak dini,” tuturnya. Turut hadir dalam rapat persiapan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Doa, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak umat muslim dan generasi bangsa Indonesia untuk meninggalkan budaya peringatakan hari Valentine. Menurutnya, valentine tidak mengajarkan hidup yang produktif bahkan seringkali menimbulkan korban pada remaja.

Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja

Perempuan yang juga Menteri Sosial ini mengatakan hal tersebut saat hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad di pesantren Al Aziziah Denanyar Jombang, Sabtu (14/2) malam. "Saya menangkap bahwa valentine adalah perayaan yang tidak produktif dan tidak sehat. Karenanya saya mengajak untuk ditinggalkan, karena hal itu tidak layak ditiru, " ujarnya mengatakan.

Khofifah menekankan pentingnya bangsa membangun produktivitas warganya, maka sesuatu yang kontrapoduktif dan tidak sehat harus ditolak. Dikatakannya, ketika kita melihat bahwa Valentine, seringkali di identifikasi sebagai bagian mereka yang boleh merayakan sesuatu yang tidak produktif maka kita ajak untuk menolak.

Belajar Muhammadiyah

"Karena bangsa ini darurat Narkoba, presiden sudah menyampaikan itu dan juga darurat pornografi. Oleh karena itu, kedaruratan keduanyanya ini semestinya bisa kita jaga dengan sesuatu yang sehat dan produktif," tandasnya.

Kepada santri Khofifah berpesan, bangsa ini masih tertinggal jauh dengan negara tetangga Malaysia dalam bidang kepakaran. Di Malaysia setiap 150-an jumlah penduduk ada seorang doktor sains, teknologi, ekonomi, dan matematika. Sementara di Indonesia perbandingannya adalah 500 penduduk baru ada seorang doktor. "Jadi kita masih kalah 1 banding 5 dengan Malaysia," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Karenanya, santri diharapkan setelah menamatkan pendidikan di pesantren tidak berhenti untuk bersekolah. Harus melanjutkan jejang pendidikan hingga perguruan tinggi bahkan hingga mencapai gelar doktor. "Terutama di bidang sains, bidang teknologi, ekonomi dan matematika seperti tokoh Aljabar (ulama matematikawan abad pertengahan)," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Santri Belajar Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta pemerintah Mesir untuk meninjau ulang hukuman mati yang dijatuhkan kepada 683 aktifis Ihwanul Muslimin termasuk pemimpinnya, Muhammad Badie.

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal

“Sebagai sebuah negara besar, ini merupakan sebuah kemunduran dan pelanggaran HAM,” kata Kiai Said di gedung PBNU, Rabu (30/4).

Mesir, kata Kiai Said merupakan negara yang memiliki peradaban yang telah maju dan di negeri tersebut, terdapat institusi Al Azhar yang sangat dihormati umat Islam.?

Belajar Muhammadiyah

“Perbedaan sikap politik tidak perlu diselesaikan dengan cara saling membunuh,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap pihak-pihak yang berseberangan seperti Ikhwanul Muslimin dan militer, menyelesaikan persoalan negeri tersebut dengan cara dialog.

PBNU dalam waktu dekat akan mengirim surat kepada pemerintah Mesir agar hukuman tersebut ditinjau ulang.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pemerintah Indonesia juga menyesalkan dijatuhkannya hukuman mati tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Makam Belajar Muhammadiyah

Jumat, 17 November 2017

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah

Suatu hari dalam sesak kereta rel listrik, “Duh, mbak artis yang cantik ini, kok sudah menikah saja ya,” terang seorang pemuda pada teman di sampingnya.

“Lha terus kenapa?”

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah

“Ya... siapa tahu. Secara, ia kan idola banyak pria. Termasuk aku. Bisa saja kan aku ungkapkan cinta lebih dulu, kisah akan berubah, haha,” ia tergelak.

Belajar Muhammadiyah

“Yah, ngimpi kali,” timpal temannya, agak mencibir. “Kamu ketemu saja tidak pernah. Saranku, biar mendingan, kamu ikut saja meramaikan tagar #HariPatahHatiNasional.”

Di era modern sekarang, mencari idola adalah lumrah lagi mudah. Jagat maya dan media massa membuat seorang bisa mencari tahu lebih jauh tentang orang-orang yang digemarinya. Siapa pun yang diidolakan bisa sebab kelebihan yang dimiliki, baik penampilan, suara, keterampilan, tulisan, dan lain sebagainya.

Belajar Muhammadiyah

Mengidolakan sosok adalah soal kecenderungan perasaan. Bisa pada awalnya gemar belaka, namun lambat laun jadi cinta. Masalahnya, seorang idola kerap kali adalah sesuatu yang berada dalam kedudukan berbeda, maka mendekatinya hanya angan dan impian belaka. Pepatahnya dalam bahasa Jawa: “cebol nggayuh lintang” (cebol meraih bintang), sebuah kemusykilan.

Apakah menyukai idola, sampai mencintai, ada kisahnya dalam ajaran Islam? Bagaimana jika sampai diungkapkan?Rupanya hal ini juga terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada dasarnya, menyukai hal-hal yang baik dari seseorang tidak dilarang oleh Islam. Kesalehan, kepribadian, juga pesona, adalah hal-hal yang lumrah untuk disukai. Nah, sahabat Nabi di kalangan perempuan, tentu mengidolakan Nabi Muhammad dengan segala kemuliaan beliau. Saking mengidolakannya sampai jadi cinta, ada perempuan yang berani mengaku terang-terangan kepada Nabi agar beliau menikahinya.

Perihal kisah perempuan yang memohon dinikahi Rasulullah SAW ini diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari. Suatu ketika, Anas bin Malik sedang bersama Rasulullah SAW. Kemudian, datanglah seorang perempuan kepada Nabi.

“Wahai Nabi, apakah Anda, punya maksud untuk kiranya menikahi saya?”

Imam Ahmad al Qasthalani mengomentari hadits tersebut dalam kitab Irsyadus Sari li Syarh Shahih al-Bukhari. Dalam periwayatan hadits tersebut, disebutkan bahwa Anas bin Malik menceritakan keberanian perempuan itu kepada putrinya. Mengetahui bahwa pernah ada seorang perempuan yang “macam-macam” seperti itu pada Nabi Muhammad, putri Anas bin Malik itu mencibir, “Duh, tidak punya malu. Buruk sekali perangai seperti itu.”

Nah, sahabat Anas menimpali komentar anaknya, “Hei, perempuan itu, lebih baik daripada kamu, lho. Ia menyukai Rasulullah, kemudian dengan jujur, meminta kesediaan beliau agar menikahinya.”

Kita bisa tahu bahwa perempuan ini mengidolakan Nabi sebagai seorang Rasul, dan dalam taraf tertentu, ia mencintai Nabi dan berharap ingin menjadi istri beliau. Mengenai ini, Imam al Qasthalani berkomentar:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dibolehkan bagi perempuan untuk menyerahkan dirinya kepada orang saleh. Hal itu tidak tercela, malah menjadi dalil terkait keistimewaan sifatnya. Namun jika tujuannya adalah perkara dunia semata, maka itu tercela.”

Kisah perempuan tersebut bukan satu-satunya orang yang menyerahkan diri kepada beliau. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Aisyah radliyallahu’ anha dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim, adalah salah satu dari sekian perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah. Dan sahabat Khaulah ini mendapat cibiran dari Aisyah.

Dari kisah tersebut, maka mengidolakan sosok yang baik itu diperkenankan dalam Islam. Bahkan jika memang sampai cinta dan bertujuan mulia, mengungkapkan rasa itu diperbolehkan. Kita melihat bahwa sahabat perempuan pun saking menyukai Nabi, sampai sangat berani berterusterang kepada beliau. Nah, bagaimana dengan idola Anda? Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Nahdlatul, Budaya Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock