Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Puluhan aktivis PMII bersama BEM Psikologi, FKIP dan Ekonomi Universitas Muria Kudus, mengadakan aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Menggugat (Geram Menggugat) ini melakukan long march dari alun-alun hingga Gedung DPRD Kudus, Jumat (21/11) pagi.

Sepanjang jalan yang dilalui, mereka meneriakkan yel-yel penolakan serta membagikan selebaran pernyatan sikap. Mereka membentangkan beberapa poster di antaraya "BBM naik, rakyat menjerit".

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menyuarakan tiga tuntutan yakni menolak kenaikan BBM, laksanakan trisakti, dan laksanakan pasal 33 UUD. Mereka menilai presiden Jokowi telah menodai kepercayaan masyarakat soal keberpihakannya kepada wong cilik.

Belajar Muhammadiyah

Dalam pembentukan kabinet kerja, menurut mereka, sudah mulai terindikasi terdapat beberapa menteri yang disebut bermasalah. Ini artinya selama ini jokowi telah tunduk kepada para pemodal baik asing maupun nasional daripada memikirkan rakyat.

Belajar Muhammadiyah

"Pengkhianatan Jokowi di awal pemerintahan seolah menegaskan pada dunia, inilah Indonesia, silakan tuan-tuan pemodal asing untuk mengeruk dan menguras sumber daya alam kami. Kalian bisa membayar upah murah pada buruh-buruh kami yang sangat banyak," kata Ketua PMII Kudus Malik membacakan pernyataan sikapnya.

"Kami mempunyai peran penting dalam mengantar Jokowi menjadi presiden. Ia tidak boleh seenaknya. Jokowi harus ingat, ia menjadi presiden didukung oleh banyak kalangan wong cilik," tegas Malik yang juga mahasiswa UMK.

Malik mengingatkan kembali dan mengawal pemerintahan ini agar selalu berpihak pada wong cilik. Ia mengajak menyelamatkan Jokowi agar tidak terlena dan tunduk para pemodal asing dan neoliberalisme.

Selama aksi, puluhan petugas kepolisian mengamankan dan mengatur jalan sehingga tetap tertib, tidak menimbulkan kemacetan. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 06 Februari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Belajar Muhammadiyah

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Belajar Muhammadiyah

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Makam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif

Pati, Belajar Muhammadiyah. Program Studi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Jawa Tengah mengadakan kegiatan workshop nasional program pendidikan karakter positif. Kegiatan yang bekerjasama dengan Mata Hati Care Centre ini dihadiri 230 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pengelola PAUD, maupun guru PAUD yang ada di wilayah Margoyoso dan sekitarnya, Kamis (12/11).

Dalam sambutannya, A Dimyathi, MAg menuturkan, program-program semacam ini akan semakin menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dari luar kegiatan perkuliahan di kelas. Artinya mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari apa yang disampaikan dosen di dalam kelas, tapi mereka juga dapat menimba ilmu dari kegiatan-kegiatan seperti ini.?

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif (Sumber Gambar : Nu Online)
PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif (Sumber Gambar : Nu Online)

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif

“Terlebih narasumber yang hadir dalam kegiatan hari ini merupakan praktisi yang sudah lama terjun di bidang ke-PAUD-an yang tentu sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya,” tutur Wakil Rektor I IPMAFA ini.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Muhammad Syamsun dari Mata Hati Care Centre selaku narasumber kegiatan hari ini menjelaskan dalam paparannya, bahwa tema yang diambil pada kegiatan hari ini merupakan kegiatan yang sangat tepat terutama bagi para pendidik di lembaga-lembaga Anak Usia Dini.?

“Ibarat komputer, otak anak itu diinstal pada usia 0 sampai 7 tahun, maka di usia-usia seperti itu anak-anak perlu ditanamakan sifat dan karakter positif supaya nanti di usia berikutnya anak-anak tidak mudah stres karena sudah mempunyai bekal baik secara psikis maupun psikologis,” jelas sosok yang akrab disapa Kak Acun ini.

Belajar Muhammadiyah

Para peserta pun terlihat sangat antusias. Mereka satu persatu melahap materi-materi yang dipresentasikan oleh narasumber. Baik itu dalam hal permainan anak, bernyanyi, menari dan lain-lain. Bahkan salah seorang peserta dari Karimunjawa sangat tertarik dan mengapresiasi kegiatan ini.?

“Konsep acaranya bagus, materinya bervariasi, narasumbernya juga asyik. Hal ini membuat kami sebagai peserta tidak pernah merasa bosan dan jenuh mengikuti kegiatan ini. Kami berharap prodi PGRA IPMAFA sering mengadakan kegiatan seperti ini guna memberikan tambahan bekal keilmuan umumnya bagi para guru dan pengelola lembaga PAUD serta khususnya bagi mahasiswa PGRA IPMAFA,” ungkap Bambang Musthofa, mahasiswa PGRA semester pertama. (Siswanto/Fathoni)





Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Ditengah-tengah acara kongres ke XIII Fatayat NU yang sedang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, PP Fatayat NU menandatangani kerjasama dengan BKKBN dalam bidang kesehatan reproduksi (12/7). Mewakili Fatayat Maria Ulfa Ansor sedangkan BKKBN diwakili oleh Dr. Siswanto Wilopo yang merupakan salah satu deputi di BKKBN.

Kerjasama ini terjalin karena sebelumnya Fatayat telah sukses menjalankan program serupa di 11 propinsi. “Mereka membutuhkan bantuan Fatayat untuk melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi seperti KB dan lainnya,” tandas Ketua Panitia Kongres dr. Wan Nedra Komaruddin.

Kerjasama ini sangat tepat karena anggota Fatayat memiliki usia reproduksi sehingga mereka menjadi user. Sosialisasi ini sangat bermanfaat karena mereka akan tahu berbagai aspek kesehatan reproduksi. “Misalnya KB dengan pil, ia akan tahu indikasinya apa dan efek sampingnya apa. Jadi edukasi seperti itu,” tambahnya.

Bentuk sosialisasi nantinya mungkin dalam bentuk serial diskusi. Fatayat juga telah memiliki tenaga handal yang siap untuk diterjunkan ke lapangan, walaupun akan terus dilakukan capacity building. Nantinya wilayah yang siap bisa langsung sementara yang belum diminta mempersiapkan diri dulu.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Doa, Amalan Belajar Muhammadiyah

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Kamis, 18 Januari 2018

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

Semarang, Belajar Muhammadiyah



Tidak benar Kementerian Dalam Negeri minta pembatalan peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol, kata Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Antara di Semarang, Sabtu.

Tjahjo dengan tegas menyatakan bahwa semua daerah perlu memiliki peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol mengingat peredaran minuman keras sudah membahayakan masyarakat dan generasi muda khususnya.

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

"Jabatan saya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saya pertaruhkan kalau saya sampai melarang Perda Pelarangan Minuman Keras. Itu berita fitnah," kata Tjahjo yang juga alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang.

Lebih lanjut Tjahjo menekankan bahwa penjelasnnya itu sekaligus meluruskan isu yang berkembang dari pemberitaan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencabut Perda tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol di Daerah (Perda Pelarangan Minuman Keras).

Perda Pelarangan Minuman Keras, lanjut Tjahjo, prinsipnya harus diberlakukan di semua daerah dengan konsisten, benar penerapan dan pencegahannya, serta penindakan oleh daerah. Apalagi, minuman keras juga menjadi pemicu kejahatan.

Belajar Muhammadiyah

Di Papua, misalnya, Kemendagri mendukung kebijakan Gubernur Papua untuk memberlakukan Perda Pelarangan Minuman Keras dengan konsisten.

Belajar Muhammadiyah

Tjahjo mengungkapkan bahwa relatif banyak perda yang berisi larangan minuman keras yang masih tumpang-tindih, kemudian Kemendagri meminta daerah yang bersangkutan untuk menyinkronkan kembali perda tersebut. Begitu pula, koordinasinya dengan aparat keamanan harus terjaga agar Perda Pelarangan Minuman Keras bisa efektif, termasuk pelarangan pembuatan dan peredarannya.

Sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya memprotes Mendagri terkait dengan persoalan pencabutan Perda Pelarangan Minuman Keras yang dinilai bertentangan dengan Permendag, padahal hal itu justru menyalahi Pancasila dan kebijakan revolusi mental.

"Itu juga menyalahi ajaran agama bahwa minuman keras merupakan sumber asal dari segala bentuk kejahatan, seperti pembunuhan, kejahatan seksual, kecelakaan, dan narkoba," kata Ketua Tanfiziah PCNU Kota Surabaya Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. di Surabaya, Sabtu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Makam, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Kunjungan Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz mendapat perhatian luar biasa. Jarang-jarang lawatan sebuah kepala negara mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Persiapan yang istimewa dilakukan untuk kenyamanan Sang Raja. Lift Masjid Istiqlal dipasang baru, demikian juga toiletnya. Di DPR beraneka-ragam bunga didatangkan agar gedung wakil rakyat ini tampak indah dalam menyambut khadimul haramain. Televisi melakukan siaran langsung acara kenegaraan yang dihadiri sang Raja sedangkan media cetak atau daring mengupas berbagai sisi, baik hubungan Indonesia dan Saudi Arabia dari masa ke masa atau tentang figur Raja Salman dan keluarganya.?

Pemerintah berharap kunjungan tersebut tidak sebatas seremoni. Ada harapan lebih besar agar terjalin hubungan yang lebih erat dan kerja sama ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Perdagangan Indonesia dengan Saudi cukup erat, terutama terkait dengan impor minyak mengingat Indonesia saat ini sudah mengimpor bersih untuk memenuhi kebutuhan minyak buminya. Total ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,33 miliar dolar sedangkan impor kita mencapai 2,73 miliar dolar. 2,02 miliarnya berupa produk minyak. Publik, melalui analisis terhadap konten yang diperbincangkan di media sosial, publik menginginkan hubungan yang lebih erat mengingat dua negara ini penduduknya mayoritas Muslim. Apalagi di Arab Saudi terdapat Masjidil Haram dan Masjid Madinah, dua tempat yang paling dihormati umat Islam. Sebagai saudara yang diberkahi kekayaan dari sononya, tanpa perlu bekerja keras, Saudi diharapkan memberi bantuan maksimal atas saudara sesama Muslim yang tidak seberuntung dia. ?

Sayangnya, harapan terhadap kerja sama yang lebih erat ini kurang membawa hasil. Presiden ? Joko Widodo dalam sambutannya di Pesantren Buntet Cirebon (13/4) secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas komitmen investasi Saudi Arabia yang hanya sebesar Rp89 triliun (US$6 miliar), sementara China mendapatkan kucuran dana sebesar Rp870 triliun (US$65 miliar) bahkan Malaysia yang negaranya lebih kecil dari Indonesia mendapat lebih banyak, yaitu sebesar Rp 92,8 triliun atau setara dengan US$7 miliar.

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Banyak di antara Muslim Indonesia tampaknya terbuai dengan Saudi Arabia karena sentimen keislaman. Seolah-olah Saudi akan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, sementara di sisi lain, mereka menyatakan ketidaknyamanan dengan China karena stigma ideologi yang dianut oleh negeri tersebut, dan karena penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa yang dari sisi jumlah adalah minoritas.

Lho, ternyata Saudi lebih memilih menanamkan uangnya kepada China daripada Indonesia yang sesama Muslim. Inilah yang tak banyak disadari oleh sebagian Muslim Indonesia yang menempatkan Saudi sebagai patron, sebagai bentuk ideal dalam berislam. Bahwa membantu sesama Muslim adalah di atas segalanya. Faktanya, dana-dana petrodolar yang mereka miliki lebih banyak diinvestasikan di negara-negara Barat daripada negara Muslim.

Belajar Muhammadiyah

Saudi berpikir pragmatis dalam melakukan investasi, di mana dana tersebut. Kurang ada kesadaran untuk melakukan kebijakan afirmatif untuk mendukung sesama negara Muslim, sementara di sisi lain ingin disebut sebagai pemimpin bagi negara-negara Muslim. Perilaku yang sama juga dilakukan negara-negara Timur Tengah terhadap dana-dana minyak yang mereka miliki terhadap kebijakan investasinya. Pada rentang 2010-2015, nilai investasi negeri yang dipimpin oleh dinasti Saudi itu hanya US$34 juta atau hanyaa 0,02 persen dari total investasi asing yang mengalir ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun itu. Pada 2016, realisasi investasi hanya US$900.000 atau sekitar Rp11,9 miliar.

Jika pendekatannya adalah pragmatis bahwa uang tidak memiliki agama, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan kucuran investasi karena sentimen sebagai sesama Muslim. Indonesia harus memperbaiki iklim investasinya, hambatan-hambatan terhadap investasi seperti korupsi yang masih menggurita, birokrasi yang bertele-tele, infrastruktur yang masih belum memadai, dan hal-hal lain harus diperhatikan. Dengan demikian, siapa saja akan datang karena adanya potensi keuntungan yang akan diperoleh.?

Belajar Muhammadiyah

Kita memang gampang terbuai dengan kata-kata indah yang menggugah emosi kita. Sejarah perjalanan bangsa telah membuktikan, dahulu kita mendukung Jepang masuk ke Nusantara karena mereka memakai sentimen sebagai saudara tua. Faktanya, penjajahan yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun ini menimbulkan penderitaan yang tak terkira. Indonesia, jika ingin maju, tidak bisa mengharapkan negara atau bangsa lain untuk menolong. Kita yang harus memacu diri kita sendiri untuk memperbaiki apa yang kurang. Kita, berhubungan dengan bangsa lain dalam posisi yang setara, bukan menghamba. Bahkan kalau bisa, menolong negara-negara lain yang selama ini kurang berdaya. Dan itu hanya bisa dicapai jika kita kuat, kita berdaya, dan kita memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tawar kepada bangsa lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Makam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah

Blitar, Belajar Muhammadiyah. Yayasan Al-Ma’arif NU Udanawu gelisah atas peredaran narkoba dan keterbukaan aurat di kalangan pelajar. Pihak yayasan mengelar istighotsah yang melibatkan 4000 jamaah di halaman Masjid Al-Ma’arif Udanawu Blitar. Al-Ma’arif NU Udanawu dengan hormat meminta pengasuh pesantren Mambaul Hikam Mantenan KH Diya’uddin Azzamzami memimpin istighotsah agar untuk keselamatan Blitar.

Selain rutinitas tahunan menjelang ujian nasional, istighotsah pada Ahad (29/3) malam menjadi istimewa karena mereka juga mendeklarasikan gerakan antinarkoba dan antipornografi terutama di lingkungan Yayasan Al-Ma’arif.

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah

“Ini acara rutin setiap tahun menjelang anak-anak ujian,’’ ujar Ketua Yayasan Al-Maarif KH Drs Ahmad Zamrodji.

Belajar Muhammadiyah

Mengapa ini dilakukan? Menurut Zamroji, saat ini kondisinya sudah sangat kronis. Contohnya masalah narkoba dan pornografi yang menyerang pada pelajar dan anak-anak. “Jadi pada kesempatan ini kita sampaikan bagaimana bahayanya narkoba dan pornografi bagi anak,’’ tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Hadir pada acara istighotsah ini Wakil Bupati Blitar H Riyanto didampingi Kepala Kamenag Blitar H Ahmad Mubasir, Kepala Kesbangpol H Mujiyanto, Kepala Satpol PP Blitar H Toha Mashuri, dan para kiai setempat. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik

Rembang, Belajar Muhammadiyah

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sumber bulan ini sukses panen padi yang dikelola secara organik. Tahun ini ada 400 kader dari 18 Pimpinan Ranting GP Ansor Sumber yang mengembangkan sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis ini.

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik

Ketua PAC GP Ansor Sumber Marlan menjelaskan, pertanian organik lebih menguntungkan karena tanaman padi kebal dari berbagai penyakit. Menurutnya, program pertanian organik juga mampu mengurangi ketergantungan para kader petani GP Ansor terhadap pupuk non-organik.

"Banyak manfaat jika kita mau mengembangkan pertanian organik. Selain kebal terhadap berbagai macam penyakit, pertanian organik dinilai mampu meningkatkan hasil pertanian, di tengah sebagian wilayah di Kabupaten Rembang yang dilanda kekeringan dan terancam gagal panen,” terangnya Senin (21/3) malam.

Belajar Muhammadiyah

Marlan menilai, selain secara kualitas jauh lebih unggul dari pupuk kimia, pupuk organik juga sangat mudah didapat. Setelah sukses mengembangkan pertanian organik, GP Ansor Sumber juga akan mengembangkan pertanian hortikultura seperti cabai dan Melon. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Berita, Makam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Batang, Belajar Muhammadiyah. Menyikapi tingginya angka penganguran di Indonesia, Pemerintah melalui Direktorat Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Tenaga Kerja Sektor Informal Ditjen Binapenta dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI menyelenggarakan kegiatan Gerakan Penanggulangan Pengangguran dan Sosialisasi Tenaga Kerja Indonesia.

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Lakpesdam Batang, Kemenaker Tanggulangi Pengangguran

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Binapenta Kemenaker RI, Dinsonakertrans Provinsi Jawa Tengah, Wakil Bupati Batang, Kepala Dinsosnakertrans Batang, Anggota DPRD Kabupaten Batang, jajaran Muspika Kecamatan Limpung, tokoh agama dan tokoh masyarakat, kepala desa se-kecamatan limpung dan kepala SLTA se-Kab. Batang.

Kegiatan yang ini dilaksanakan di Desa Kepuh Kecamatan Limpung, 18-19 Oktober 2015, terselenggara atas kerja sama? Kemenaker RI, Dinsosnakertrans dan Pimpinan Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Batang. Berbagai rangkaian kegiatan ikut memeriahkan kegiatan ini. Di antaranya adalah Pentas seni Marching Pring (bambu), Barongan dan Majlis Dzikir dan sholawat Rijalul Ansor se-Kabupaten Batang.

Belajar Muhammadiyah

Pada puncak acara disemarakkan dengan kegiatan jalan sehat oleh Wakil Bupati Batang, Soetadi yang diikuti oleh 5000 peserta dengan total hadiah puluhan juta rupiah. Pengunjung juga dimanjakan dengan suguhan pameran berbagai produk lokal dan kerajinan dari 30 Stand UKM di Kabupaten Batang.

Belajar Muhammadiyah

Dirjen dalam sambutanya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi seluruh masyarakat akan pentingnya berdikari dalam penguatan ekonomi. “Dengan mandiri, kita tidak akan selalu memiliki tergantungan kepada orang lain. Terlebih para generasi muda”. Tambahnya.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Batang, Sugiatmo, memaparkan bahwa kegiatan GGP tidak hanya berhenti disini saja, tetapi harus ada pembinaan berkelanjutan terkait dengan perluasan kesempatan kerja, terutama bagi kalangan muda yang rentan terhadap meningkatnya angka pengangguran.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi TKI di Gedung MWC NU Kecamatan Limpung. Kegiatan ini diikuti oleh 300 peserta yang terdiri dari mantan TKI, Perusahaan Jasa TKI, tokoh agama dan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan perwakilan kepala-kepala desa. Pemateri sosialisasi TKI dari Dinsosnakertrans Kabupaten Batang dan Kemenaker RI.

Budi, pemateri dari Kemenaker menyampaikan kepada calon TKI harus selektif dalam memilih PJTKI, negara tujuan dan status pekerja. “Jangan sampai kita jauh merantau, ternyata kita tertipu dan terjebak di negara orang lain, lantaran ilegal. Tidak hanya bapak/ibu yang repot, tetapi pemerintah juga ikut kerepotan,” katanya.? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Makam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 05 Desember 2017

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Wilayah Fatayat NU DIY dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar acara bertajuk Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi di Kalangan Santri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kota Gede, Selasa (21/3) siang. Kajian ini diikuti ratusan santri Nurul Ummah baik putra maupun putri.

Tim paduan suara MTs Bina’ul Ummah ikut memeriahkan acara tersebut. Hadir sebagai pembicara tunggal Kepala Pusat BKKBN Dr Surya Chandra Surapaty.

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri

Sebagai tuan rumah, Kepala Madrasah Nurul Ummah Muhammad Baehaqi mengungkapkan kegemberiannya dengan adanya acara tersebut. “Semoga acara ini bisa membuat para santri merencanakan kehidupannya di masa depan dengan lebih baik,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Fatayat NU DIY Khotimatul Husna mengatakan, salah satu program PW Fatayat DIY adalah persoalan kesehatan dan lingkungan.

“Selain menggandeng BKKBN, kami sudah bekerja sama dan berjejaring dengan pesantren-pesantren yang ada di DIY dalam melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi untuk para santri ini,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Pada kesempatan tersebut, Khotim menjelaskan bahwa PW Fatayat pada kepengurusan sebelumnya sudah melakukan sosialisasi di pesantren-pesantren.

“Tahun lalu kami sudah mengadakan sosialisasi di 13 pesantren dan masjid di DIY. Tahun ini, akan ditambah 10 pesantren lagi,” ungkapnya.

Harapannya, lanjut Khotim, dengan adanya acara ini, para santri bisa menjaga kesehatan reproduksinya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala BKKBN Pusat yang berkenan hadir pada acara ini,” katanya.

Sebelum seminar dimulai Kepala BKKBN Pusat Surya Chandra Suryapaty meresmikan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). (Nur Rokhim/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Hijrah ke Dunia Maya

Pergantian tahun baru Islam 1435 Hijriyah yang berdasarkan sistem penanggalan bulan (qamariyah) juga ditandai dengan peningkatan penggunaan internet sebagai media dakwah atau sarana belajar Islam. Berbeda dengan sekitar 50 tahun yang lalu saat internet mulai menjangkau kawasan muslim, para tokoh muslim dunia bahkan sudah terang-terangan mengajak umat Islam memanfaatkan internet untuk kepentingan Islam.

Syekh Sa id Ramadhan al-Buthi, ulama asal Syria yang berkomunikasi aktif dengan NU yang meninggal baru-ini di tengah konflik berdarah di negaranya itu, mengibaratkan internet sebagai podium-podium yang berguna untuk menyuarakan kepentingan Islam.

Banyak sekali media Islam dari berbagai aliran berbasis internet bermunculan dan berinisiatif mengembangkan misi keislaman mereka masing-masing. Internet juga menjadi media yang paling efektif bagi persebaran paham-paham keagamaan baru yang cukup gencar dipublikasikan oleh sejumlah media massa seperti paham radikal, liberal, dan aliran-aliran transnasional lainnya.

Hijrah ke Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah ke Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah ke Dunia Maya

Tidak untungnya, berbagai informasi tentang gerakan, ajaran dan manuver paham-paham baru ini relatif mudah terpublikasi karena memiliki aspek sensasional dan menjadi santapan industri media dan disebarluaskan melalui internet. Selain itu, kelompok-kelompok yang ekstrim kiri maupun kanan memang cenderung sangat aktif dalam memanfaatkan media internet untuk mensosialisasikan berbagai ajaran dan aktifitas mereka.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar mengalami peningkatan jumlah pengguna internet yang cukup drastis. Jumlah user internet di Indonesia menurut APJII untuk tahun 2012 mencapai 63 juta atau 25,86% dari penduduk Indonesia. Diperkirakan Pada tahun 2013 jumlah ini akan menjadi 82 juta user, tahun 2014 menjadi 107 dan pada 2015 sudah mencapai 139 juta atau 50 % dari total penduduk Indonesia.

Di sisi lain, pola hidup modern yang didukung dengan fasilitas komunikasi yang serba canggih mendorong orang untuk mempunyai privasi tinggi. Definisi “privat” dalam hal ini lebih kepada keinginan untuk memilih segala hal sesuai dengan selera sendiri dan dengan caranya sendiri. Di dunia maya apalagi didukung dengan perkembangan mesin pencarian (search engine) yang semakin canggih para peselancar bebas memilih siapa saja yang akan mereka jadikan sebagai guru, atau materi dan informasi apa saja yang lebih cocok untuk mereka. Di dunia maya mereka bebas memilih segalanya, termasuk dalam memilih pelajaran mengenai agama dan tuntunan hidup.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu memang ahli agama yang ada di sekitar kita tidak selalu siap menjawab semua persoalan dan problem keagamaan yang sedang berkembang. Maka cara yang paling efektif ditempuh adalah mencari sendiri berbagai informasi lewat dunia maya. Di dunia maya mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk menanyakan atau menemukan jawaban masalah-masalah yang remeh bahkan tabu sekalipun.

Masalahnya, berbagai informasi yang terdapat dalam jutaan situs itu seperti hutan belantara. Para pencari informasi bisa menemukan hal yang sangat bermanfaat, namun pada sisi lain data yang didapatkan bisa jadi kurang memenuhi keinginan, atau kurang memadai, bahkan pada titik tertentu bisa menyesatkan dan menjerumuskan.

Belajar Muhammadiyah

Menapaki tahun 1435 H, para ahli agama Islam dan para pendakwah tidak bisa mengandalkan forum-forum pengajian, majelis ta’lim atau media ta’lim yang konvensional. Bukan berarti menganjurkan untuk hijrah total ke dunia maya dan meninggalkan pos-pos lama itu, namun sekedar mengingatkan bahwa umat Islam telah memasuki era baru. Masa depan itu sudah terjadi saat ini.

Tidak ada pilihan, berbagai informasi yang disebarkan oleh kelompok-kelompok baru yang sangat aktif memanfaatkan media internet ini perlu diimbangi dengan mengaktifkan situs-situs baru yang lebih moderat, atau jejaring-jejaring sosial dunia maya yang menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian para peselancar dunia maya akan mendapatkan sumber yang pas dan membandingkan beberapa informasi yang mereka dapatkan.

Lebih dari itu, beberapa konten ilmu-ilmu keislaman di dunia maya selama ini tidak sebanding dengan peredaran isu dan gosip yang terkait dengan dunia muslim. Informasi penting tentang ajaran agama Islam di dunia maya perlu mendapatkan porsi yang memadai, terutama terkait bidang-bidang yang spesifik dan berbagai hasil kajian hukum Islam terkait problematika masyarakat muslim, serta kajian-kajian yang menyangkut inovasi dan kontekstualisasi ajaran Islam di era kekinian. Dengan demikian para pencari Islam di internet dapat menemukan informasi atau guru yang tepat. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Makam Belajar Muhammadiyah

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Mungkin jarang bagi kita mendengarkan nama Saridin Syarif. Namun terlepas dari populer atau pun tidaknya sosok Syaridin Syarif, ia adalah seorang tokoh yang cukup memiliki peranan penting dalam sejarah penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama seputar penyatuan kembali pulau Sumatera setelah meletusnya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat.

Saridin Syarif adalah tokoh yang berhasil melunakkan pemerintah pusat agar tidak meneruskan pengejaran terhadap PRRI (1958) dan mengampuni Syafruddin Prawiranegara sebagai dalang pemberontakan dengan tebusan berupa pengembalian seluruh kekayaan rampasan Syafruddin yang digunakan sebagai modal pemberontakannya.<br />

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Saridin Syarif juga adalah seorang tokoh yang sangat berjasa dalam pengembangan cabang-cabang NU di Sumatera Barat dan sekitarnya. Beliau merintis NU tahun di pelosok-pelosok Sumatera Barat sejak tahun 1954 bersama Nurain Datuk Patih, teman sekampungnya, dengan melakukan banyak sekali kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Lubuk Limpang, Sawah Lunto, Bonjol, Solok dan Painan dan lain-lain.

Dalam kunjungan-kunjungannya ini Saridin Sarif juga ditemani oleh orang-orang dari Maninjau. Terutama sekali Saridin memang menemani Bapak Thoha Ma’ruf sebagai ketua, sedangkan Beliau sendiri berlaku sebagai sekretaris. Di mana wilayah kunjungannya mencapai Rengat dan Jambi. Sementara bergiat istrinya mendirikan Muslimat NU pada tahun 1956 bersama Ibu Rosma Burhan dari Bonjol. Kegiatan mendirikan cabang-cabang dan ranting-ranting NU ini diisi dengan mendirikan sekolah-sekolah, yang sampai sekarang masih ada. Hingga saat ini sekolah-sekolah tersebut, masih dikelola oleh para penerusnya.

Belajar Muhammadiyah

Latar Belakang Peran kepemimpinan

Belajar Muhammadiyah

Mayoritas jaringan Ulama Sumatera Barat pada dasawarsa 1930 hingga 1950-an berada di bawah naungan Perti yang telah menjadi organisasi berskala nasional dengan memiliki cabang di berbagai wilayah Indonesia. Namun Perti lebih tampak sebagai organisnasi etnis karena begitu kentalnya dominasi ulama Minangkabau.

Kekurangan Perti inilah yang pada gilirannya, memberikan pencerahan kepada beberapa kader terbaik mereka untuk membina sebuah hubungan lintas ulama dalam spekrum yang lebih luas. Para kader terbaik ini beranggapan bahwa untuk mempertahankan dan mengembangkan keislaman ala Ahlussunnah Waljamaah, terutama ala syafi’iyyah, di Indonesia, mestilah ditopang dengan suatu keorganisasian yang mampu menaungi segala etnis dan diterima oleh etnis-etnis yang lain tanpa membeda-bedakan. Artinya mereka menginginkan sebuah interaksi yang sejajar di antara para pejuang Ahlussunnah Waljamaah. Maka menurut mereka, NU adalah bahtera yang sesuai keinginan mereka. Terutama sekali mereka juga tidak menginginkan Muhammadiyah dan Masyumi mengambil peran tunggal dalam sosio religius Sumatera Barat.

Maka mereka pun menaruh sebuah harapan besar agar NU dapat didirikan di Sumatera Barat. Meskipun demikian, sebenarnya orientasi ke-NU-an di antara masyarakat Sumatera Barat telah terjalin sejak lama, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan tapanuli Selatan. Hal ini sikarenakan Tapanuli Selatan sudah menjadi basis Nu sejak tahun 1940-an, sementara telah sejak lama santri-santri asal Sumatera Barat, khususnya wilayah Pasaman yang menuntut ilmu di Tapanuli selatan.

Di samping itu, aktivitas perdagangan mengakibatkan interaksi semakin intens terjadi antara orang-orang NU Tapanuli Selatan de santri-santri Minangkabau. Sehingga beberapa tokoh dan pendiri Nu di Sumatera Barat, beberapa di antaranya berasal dari Tapanuli Selatan, seperti Djamaluddin Tarigan dan Djabonar Lubis yang merupakan orang-orang Melayu asal Tapanuli Selatan. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dagang dengan penduduk pasaman, Keduanya mendirikan Pesantren di sana. Dengan demikian pesantren-pesantren ini jeas berafiliasi kepada NU meskipun belum secara formal.

Maka tak heran ketika cabang resmi NU lahir pertama kali di Rao Mapattunggal, Kabupaten Pasaman, justru cabang NU ini merupakan cabang Istimewa dari Wilayah NU Sumatera Utara (bukan Sumatera Barat atau Sumatera Tengah) karena Sumatera Barat belum memiliki kepengurusan Wilayah. Cabang NU Mapattunggal ini pertama kali diketuai oleh Djabonar Lubis.

Harapan besar kepada NU ini mendapatkan momentumnya ketika Zarkawi, salah seorang Tokoh Muda Perti menghimpun teman-temannya karena tidak puas dengan keputusan Perti yang berpegang ”hidup mati” hanya pada satu Madzhab saja, yakni Syafi’iyah. Zarkawi dan teman-temannya, Abu al-Ma’ani, Saudin Yusuf, Thoha Ma’ruf, yaridin Syarif dan A. Razak Tuanku tanah Air, menggodok tiga opsi yang akan mereka pilih dalam memperjuangkan Ahlussunnah Waljamaah di Sumatera Barat.

Ketiga opsi tersebut adalah, pertama, memperjuangkan pembaharuan pemikiran di Perti agar dapat lebih berkembang dan tidak hanya terpaku pada satu madzhab saja. Kedua, mendirikan organisasi baru yang yang sesuai dengan keinginan mereka. Ketiga, berafiliasi dengan NU yang dianggap juga telah sukup memenuhi kriteria yang mereka inginkan. Meski tentu saja ketiga opsi ini mengandung makna yang mendalam dalam masing-masing jiwa mereka, karena bagaimanapun juga Perti selama ini adalah bahtera mereka dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Hingga pada tahun 1954 M. diadakanlah pertemuan para ulama Sumatera Barat di Bukittinggi yang bertempat di Rumah Ustadz Syarif, seorang ulama alumni perantren Tarbiyah, murid langsung dari Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan sudagar kaya yang mampu membiayai seluruh akomodasi pertemuan tersebut. Hasil kesepakatan bulat dalam pertemuan ini adalah bergabung dengan NU yang segera didukung secara serentak oleh seluruh ulama yang berafiliasi NU.

Satu hal yang cukup menggembirakan bagi kelanjutan keputusan ini adalah adanya kenyataan bahwa Kyai Muslih, seorang tokoh NU dari Jakarta, sedang bertugas sebagai Kepala Jawatan Urusan Agama Sumatera tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Selama ini Kyai Muslih tidak pernah mengajak mereka untuk bergabung dengan NU karena menganggap bahwa masyarakat Sumatera Barat telah memiliki organisasinya sendiri, yakni Perti. Karenanya, Kyai Muslih cukup terkejut mendengar keinginan kader-kader terbaik Perti ini untuk bergabung dengan NU. Kyai Muslih pun kemudian menerima pernyataan dan hujjah mereka untuk bergabung dengan NU. Maka dengan demikian tiada lagi halangan untuk mendirikan kepengurusan NU Wilayah Sumatera Barat.

Di tingkat wilayah, KH Zarqowi Wahid yang telah bergelar Syeikh Tabik Gadang dipercaya memimpin Suriah karena ketokohan dan garis kebangsawanan ulamanya yang tidak tertandingi di sana. Beliau adalah anak kandung dari pemangku Pesantren Tabik Gadang, Syeikh Abdul Wahid yang sangat dihormati. Sementara untuk mengisi kepemimpinan Tanfidziyah rupanya cukup sulit, karena beberapa tokoh memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang sepadan. Mereka antara lain adalah, Saridin Syarif, Abul Ma’ani, Thoha Ma’ruf, Yasir Syafi’i dan Hasan Basri. Namun karena Thaha Ma’ruf dianggap memiliki jangkauan lebih luas karena darah Banjar-nya, maka ia pun dinobatkan sebagai ketua Tanfidziyah. Secara kebetulan KH. Idham Khalid (Ketua PBNU waktu itu) adalah ulama keturunan Banjar. Sedangkan Saridin Syarif dipercaya sebagai sekretaris tanfidziyah.

Terlahir demi NU

Saridin terlahir sebagai Sulung dari tiga bersaudara di Payakumbuh, Sumatera Barat pada 22 Desember 1929 dari pasangan suami istri guru ngaji, Muhammad Syarif yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan Ibu Darusah, seorang ibu rumah tangga, sebuah keluarga sederhana dan religius.

Saridin kecil memulai pelajarannya dari asuhan kedua orang tuanya dan menamatkan pendidikan dasar di Payakumbuh di bawah naungan PERTI, kemudian tetap di kampung halamannya untuk belajar hingga menamatkan SMA di Bukit Tinggi.

Semenjak masa mudanya, Saridin telah aktif di dunia organisasi dengan mengikuti kursus-kursus jurnalistik dan pendidikan kader. Beliau banyak sekali mengikuti pelatihan-pelatihan keorganisasian dan politik sejak muda. Sehingga Ketua Umum PBNU Idham Kholid menawari dirinya untuk melanjutkan belajar ke luar negeri. Namun orang tuanya tidak mengijinkan, maka Beliau pun tidak jadi pergi ke sana.

Saridin Syarif memiliki hobi mendirikan sekolah yang berafiliasi ke NU, mulai dari Payakumbuh (tanah kelahirannya) hingga di Depok (tempat tinggalnya yang terakhir) juga didirikan sekolah dan panti asuhan.

Menurut penuturan Isterinya, ketika mendirikan wilayah NU Sumatera Barat yang berkedudukan di Bukit Tinggi, yang meresmikan adalah Bapak Idham Kholid. Sempat mampir ke Rumah Beliau di Payakumbuh untuk beberapa tahun kemudian datang lagi dan meresmikan cabang NU di sana.

Sejak awal isterinya-lah yang turut mendampingi perjuangannya dalam memperluas dakwah Nahdlatul Ulama. Di mana mereka tidak menalami banyak halangan, karena telah memiliki banyak pengikut kultural yang sebelumnya berasal dari PERTI. Bersama Thoha Ma’ruf dan isterinya, Saridin Syarif yang baru saja menikah kemudian menyumbangkan andil dalam mendirikan cabang-cabang NU di wilayah Sumatera Barat. Betapa pun demikian, harus diakui bahwa cabang-cabang NU di Sumatera Barat lebih muda usianya dibandingkan dengan cabang-cabang PERTI dan Muhammadiyah.

Pada waktu tersebut memang cuaca politik di Indonesia sedang bergejolak. Sekitar waktu pemilu pertama (1955) Saridin Syarif dan isterinya tinggal di Bukit Tinggi, tinggal serumah dengan Thoha Ma’ruf dan isterinya. Sebuah rumah berlantai dua, dengan di lantai bawahnya tinggal keluarga Thaha Ma’ruf sementara di lantai atas tinggal Saridin Syarif dan keluarga. Kemana-mana mereka selalu berdua saja.

Saridin Syarif mengabdikan seluruh hidupnya untuk organisasi. Hingga ia merantau ke Jakarta tahun 1977 dan mengharuskannya selalu pulang balik Jakarta-Padang untuk urusan-urusan NU. Sebenarnya ia telah memulai ke Jakarta sejak tahun 1960-an (sendirian) dan tinggal bersama Bapak thoha Makruf di Kebon Nanas Jakarta Timur. Ia harus bolak-balik ke Jakarta sebagai anggota DPRD Kabupaten 50 Koto.

PKI dan PRRI serta Emas

Pada masa PKI Pak Saridin termasuk dalam daftar yang akan dibunuh oleh PKI (1948) dengan indikasi sudah dibuatkan lubang sumur sehingga ia harus merantau keluar dari kampungnya. Ini pulalah yang menjadi pertimbangan Saridin pada saatnya nanti untuk merantau ke Jakarta, terutama karena penghasilan, ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah, sawah-sawah sudah tidak kuat menghasilkan pendapatan yang cukup banyak.

Sementara PKI juga banyak merampas harta-benda kekayaan seperti mesin jahit dan lain-lainnya, maka untuk menghidupi keluarganya, Saridin harus dapat ke luar dari kampungnya. Karena pada zaman PKI, Saridin senantiasa mengalami kesulitan-kesulitan dan dikambinghitamkan. Padahal kenyataan ini tidak dialaminya secara langsung ketika ia memperjuangkan NU tanpa dimusuhi oleh PKI.

Isteri Saridin Syarif (Ibu Nurani Yusuf), berhasil ditemui oleh penulis menyatakan bahwa para pembesar PRRI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Muhammad Natsir, pernah membangun markas selama beberapa minggu di kampung halamannya. Sehingga suaminya sempat bertemu dengan mereka pada masa-masa yang rawan tersebut.

Nurani Yusuf adalah saksi mata yang hingga kini masih hidup yang dapat menerangkan bahwa para pemberontak PRRI telah sempat mengendalikan pemerintahan setempat dengan mencetak uang dan mengendalikan transaksi perdagangan di level yang terendah sekalipun. Ia menuturkan bahwa PRRI membuat sendiri uangnya di hutan dengan mengangkat percetakan ke hutan. Bahkan Beliau pernah tinggal serumah dengan isteri Syafruddin Prawira Negara di rumah mertuanya, (ibunya Pak Saridin). Setiap hari istri Syafruddin ini mengantarkan nasi dan bekal-bekal lainnya ke hutan tempat para tentaranya bermarkas.

Istri Syafruddin Prawiranegara sendiri mengajarkan masak dan menjahit kepada rakyatnya waktu itu, dan bahkan sempat mendirikan sekolah untuk anak-anak para pendukung PRRI, bahkan setelah mereka terdesak ke hutan dan gunung-gunung.

Syafruddin bersama keluarganya dan banyak sekali keluarga-keluarga pendukungnya saling berbelanja di kampung dengan menggunakan uang (yang dicetak oleh) mereka sendiri. Hal ini dapat berlaku karena Syafruddin Prawiranegara sendirilah yang menyuruh. Dicetak sendiri, dibelanjakan di antara mereka sendiri. Mereka juga membawa pemancar radio yang setiap hari selalu mengudarakan siaran tentang berita-berita kemenangan PRRI dan menjelek-jelekkan Soekarno. Hal ini jugalah yang menjadikan Muhammad Natsir dan Syafruddin dapat mempercayai pada Saridin Syarif.

Setelah PRRI kalah, rupanya Pak Syafrudin membawa emas yang sempat disembunyikan ditanam di bawah kolong rumah panggung ayah Saridin, sementara sang pemilik rumah justru tidak mengetahui bahwa yang ditanam di bawah rumah mereka adalah emas murni. Menurut yang menanam, peti-peti tersebut berisi senjata. Hingga setelah kalah barulah ketahuan bahwa isinya ternyata emas.

Maka setelah kalah emas yang ditanam di bawah rumah Saridin tersebut inilah yang dijadikan tebusan kepada pemerintah pusat sebagai tanda penyerahan diri mereka. Saridin Syarif sendiri yang mengantarkannya ke Jakarta sebagai tebusan atas nyawa Pak Syafruddin dengan dikawal ketat oleh tentara dari Jakarta. Emas ini kemudian oleh Presiden Soekarno dijadikan sebagai bahan dasar puncak Monumen Nasional (Monas) di jantung kota Jakarta.

Tentara pusat menyita seluruh barang rampasan perang yang tersisa setelah PRRI kalah. Saridin Syarif beserta tokoh-tokoh NU Sumatera Barat lainnya seperti Bagindo Letter, bagindo Jamhar, Bagindo Nukman dan Bagindo Baha’uddin Syarif tidak ditahan. Sementara Thoha Ma’ruf sedang berada di Jakarta, sehingga selama masa-masa terjadinya pemberontakan PRRI maupun seteahnya, NU tidak vakum. Hanya orang-orang Masyumi saja yang ditahan. Padahal ketika meletusnya pemberontakan PRRI, tidak ada utusan dari PBNU yang datang ke sana.

Dengan Thaha Ma’ruf

Persahabatan dengan Thaha Ma’ruf tetap terjalin hingga ke Jakarta, karena Beliau pulalah yang memintanya untuk membawa keluarga saridin ke Jakarta. Istri Thaha ma’ruf pulalah yang mengajarai Istri Saridin Syarif mendirikan majlis ta’lim dan panti asuhan. Bahkan hingga memberikan bantuan dan modal awal untuk membeli tanah.

Sebagai anak perempuan dari kampung yang dididik dengan pendidikan keagamaan yang kuat di pesantren, tentu saja Istri Saridin ingin menularkan ilmunya kepada masyarakat. Maka ketika isteri Saridin ini telah menyusul ikut ke Jakarta, tentu saja ia pun ingin mendirikan majlis ta’lim dan pesantren.

Dengan latar belakang yang berasal dari pedalaman Sumatera barat yang religius, maka hingga masa-masa senjanya Beliau selalu berpesan kepada keluarganya, ”Buatlah pesantren, mengasuh anak-anak yatim. Karena walaupun anak kita banyak, belum tentu setia (maksudnya selalu menunggui/berdekatan). Bisa jadi anak-anak kita dibawa ke mana-mana (menunjuk arti tempat) sama suaminya. Maka kita di hari tua harus menyayangi anak-anak yatim.”

Hingga akhir hayatnya, Beliau selalu memelihara silaturrahmi dengan para teman seperjuangannya dan kolega-koleganya, termasuk sangat akrab dengan Idham Khalid.(Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Purworejo, Belajar Muhammadiyah. Tetabuhan beduk dan kentongan mengalun ritmik dari Masjid Shiddiq Zarkasyi Kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan setiap tengah malam selama bulan Ramadhan. Tradisi tetabuhan bernama tedur itu adalah peninggalan Wali Songo yang masih dilestarikan hingga sekarang. Bahkan saat masa penjajahan, tedur turut berperan mengusir penjajah.

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Pada masa awal perkembangan Islam di pulau Jawa, beduk dan kentongan menjadi penanda masuknya waktu shalat. Ketika beduk dan kentongan dipukul, orang kemudian berbondong-bondong ke masjid atau musala untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Meski saat ini zaman sudah berubah dengan banyaknya peralatan modern sebagai pengganti beduk atau kentongan, namun peninggalan para pendahulu tidak serta merta ditinggalkan begitu saja. Sesuatu yang baik layak dilestarikan sebagai pengingat sejarah.

"Dengan melestarikan tradisi Wali Songo yang sangat baik ini, akan membuat pahala para wali yang menciptakan beduk dan kentongan sebagai pemanggil shalat terus mengalir," kata pengasuh Ponpes An-Nawawi KH Achmad Chalwani, di depan para santri, baru-baru ini.

Belajar Muhammadiyah

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini menuturkan, selain menjadi penanda waktu shalat, beduk dan kentongan ini juga ditabuh dalam momentum-momentum tertentu seperti menjelang Ramadhan, sepanjang tengah malam selama Ramadhan, menjelang hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Tetabuhan momentum-momentum tertentu itulah yang disebut tedur.

Belajar Muhammadiyah

"Kalau di sini ketukan pukulan beduk dan kentongan antara waktu shalat satu dengan yang lain berbeda-beda. Kalau tedur, pukulannya lebih ritmik," terangnya.

Ketika ditanya asal muasal nama tedur, KH Chalwani mengaku tidak begitu paham. Nama itu telah turun temurun dipakai sejak zaman dahulu. Di Purworejo, tradisi tedur tidak hanya dilakukan di Berjan saja. Namun Pesantren dan masjid di desa-desa juga banyak yang melakukannya.

"Memang saat ini, tedur tidak lagi sesemangat zaman dulu. Maka di An-Nawawi saya memberikan penekanan kepada para santri agar tedur tetap dilestarikan agar tidak punah termakan zaman," ujarnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, tedur pernah berjasa turut serta berperan mengusir penjajah Belanda. Ceritanya, saat tentara Belanda melakukan patroli, dari kejauhan terdengar suara beduk ditabuh.

Kemudian para tentara itu berhenti dan bertanya kepada warga perihal suara tedur yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Dijawablah oleh warga jika suara itu adalah suara santri sedang tedur.

"Mendengar jawaban tersebut, Belanda ketakutan dan berkata keheranan sambil balik kanan, tedurnya santri aja kayak gitu, kalau bangun terus gimana, ya?" tiru KH Chalwani, diikuti gelak tawa para santri.

Menurutnya, itu cerita turun-temurun yang ia meyakini kebenarannya sebagai bagian dari keistimewaan tradisi tedur. (Lukman Khakim, Ahmad Naufa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Makam, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Bahtsul Masail Pendidikan Jadi Agenda Penting di Kongres Ke-2 Pergunu

Mojokerto, Belajar Muhammadiyah. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) mengadakan Kongres kedua di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Rabu-Sabtu (26-29/10).?

Wakil Ketua Panitia Kongres II Pergunu Akhsan Ustadhi mengatakan kongres kali ini akan membahas sejumlah persoalan yaitu organisasi, rekomendasi, program, dan bahtsul masail bidang pendidikan.

Bahtsul Masail Pendidikan Jadi Agenda Penting di Kongres Ke-2 Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Pendidikan Jadi Agenda Penting di Kongres Ke-2 Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Pendidikan Jadi Agenda Penting di Kongres Ke-2 Pergunu

"Dalam bahstul masail pendidikan akan dibahas diantaranya advokasi terhadap guru, perlakuan murid yang dewasa ini tidak sesuai dengan kitab talimul mutaallim, dan berbagai persoalan yang ada di cabang atau wilayah," terang Akhsan yang ditemui Belajar Muhammadiyah di sela-sela persiapan Kongres Rabu (26/10) sore.

Ahsan menambahkan, peserta kongres berasal dari 372 cabang Pergunu dari 34 provinsi. Selain itu, peserta juga berasal dari pengurus wilayah.

Belajar Muhammadiyah

"Peserta dari setiap cabang kami undang tiga perwakilan plus satu alim ulama. Sedangkan dari tiap-tiap pengurus wilayah ada empat orang plus satu alim ulama," ujar Akhsan.

Dalam kongres ini juga akan diadakan forum Rembug Guru Nasional. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj diagendakan membuka kongres. Sejumlah tokoh juga direncanakan akan hadir, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menristekdikti M Nasir, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Lomba Belajar Muhammadiyah

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia

Surakarta, Belajar Muhammadiyah. Saat ini generasi muda banyak yang mulai diracuni dengan paham keagamaan yang radikal, sehingga mereka berkeyakinan bahwa membunuh adalah bagian dari jihad. Mereka juga sangat merusak kebhinekaan bangsa ini karena begitu mudah mengafirkan orang-orang yang tidak sepaham atau sealiran.

"Radikalisme adalah persoalan serius. Ini ancaman yang merusak kebangsaan dan mencoreng agama Islam yang seharusnya dipahami dan diamalkan sebagai rahmatan lil alamin," kata Ketua PBNU Nusron Wahid pada acara Pelantikan Pengurus Cabang NU dan GP Ansor Cabang Kabupaten Karanganyar Periode 2015-2020, di Pendopo Bupati Karanganyar, Sabtu (5/3).

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia

Kegiatan yang juga dirangkai Silaturahim Ulama Se-Eks Karesidenan Surakarta serta Dialog Bahaya Radikalisme Agama di Indonesia ini turut dihadiri Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar, KH Ubaidillah Shodaqoh, dan Khatib Amm PBNU KH Yahya C Staquf.?

Dalam kesempatan sama, KH Miftakhul Akhyar mengungkapkan, mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi melakukan perusakan dan tindakan teror sejatinya telah berlaku anti-Islam.

"Banyak yang mengaku berjuang untuk Islam dengan mengatasnamakan jihad, tapi pemahaman jihadnya salah sehingga yang ada teror dan sejatinya perlakuan mereka anti Islam," ungkap Kiai Miftah.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Menko Polhukam, Luhut Panjaitan menyatakan, PBNU dan Ansor sebagai kekuatan besar Islam di Indonesia harus terus-menerus melakukan suatu upaya bahwa Islam harus menonjolkan perdamaian.

Luhut menyebut sejumlah tokoh yang patut diwaspadai lantaran terafiliasi gerakan pro negara Islam Irak-Suriah seperti, pendiri Jamaah Ansharul Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir dan pendiri Katibah Al Iman, Abu Husna yang keluar dari penjara Agustus 2015. Namun untuk Baasyir, sekarang lebih condong ke kelompok Al Qaeda.

Mengingat ancaman begitu nyata, Luhut berharap semua pihak ikut mengambil langkah pencegahan teror. Kalau masyarakat, lurah, camat, kepala desa saling memberi informasi, apalagi bekerjasama dengan intelijen, maka aksi radikalisme dan terorisme akan bisa secepatnya dicegah. (Ahmad Rosyidi/Zunus)

Belajar Muhammadiyah





Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta pemerintah Mesir untuk meninjau ulang hukuman mati yang dijatuhkan kepada 683 aktifis Ihwanul Muslimin termasuk pemimpinnya, Muhammad Badie.

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Mesir Tinjau Putusan Hukuman Mati Massal

“Sebagai sebuah negara besar, ini merupakan sebuah kemunduran dan pelanggaran HAM,” kata Kiai Said di gedung PBNU, Rabu (30/4).

Mesir, kata Kiai Said merupakan negara yang memiliki peradaban yang telah maju dan di negeri tersebut, terdapat institusi Al Azhar yang sangat dihormati umat Islam.?

Belajar Muhammadiyah

“Perbedaan sikap politik tidak perlu diselesaikan dengan cara saling membunuh,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap pihak-pihak yang berseberangan seperti Ikhwanul Muslimin dan militer, menyelesaikan persoalan negeri tersebut dengan cara dialog.

PBNU dalam waktu dekat akan mengirim surat kepada pemerintah Mesir agar hukuman tersebut ditinjau ulang.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pemerintah Indonesia juga menyesalkan dijatuhkannya hukuman mati tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Makam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat

Mengeluarkan zakat termasuk salah satu dari rukun Islam yang lima. Ia diwajibkan pertama kali pada Bulan Sya’ban, tahun kedua Hijriyah dan diberlakukan secara umum kepada seluruh kaum Muslimin yang mampu dan memenuhi syarat-syaratnya.

Ibadah ini disebut-sebut sebagai saudara kandung dari ibadah shalat karena seringkali dalam banyak ayat dan hadits, perintahnya disandingkan secara langsung dengan perintah shalat. Sebagai contoh dalam Surat Al-Baqarah ayat ke-110 berikut.

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat

? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya, “Dan dirikanlah shalat serta bayarkanlah zakat!”

Belajar Muhammadiyah

Begitu juga dalam beberapa haditsnya, Nabi SAW menyebutkan kewajiban untuk mengeluarkan zakat yang berbarengan dengan empat kewajiban lainnya. Salah satu di antaranya disebutkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ?)

Artinya, “Dari Abi Abdurrahman, Abdullah ibn Umar ibnul Khattab ra, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Islam didirikan dengan lima perkara, kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa di Bulan Ramadan,’’” (HR Bukhari).

Selain kedua dalil tersebut, Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab dan begitu juga Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menyebutkan adanya kesepakatan ulama (ijmak) terkait kewajiban zakat. An-Nawawi menulis.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun hukum persoalan ini, maka zakat merupakan salah satu rukun dan fardhu Islam berdasarkan ijmak kaum muslimin. Banyak dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, hadits, dan ijmak terkait masalah tersebut.”

Berdasarkan keterangan ini wajar kiranya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat pada masa pemerintahannya. Karena baginya kewajiban mengeluarkan zakat tidak ada bedanya dengan kewajiban shalat.

Ia pernah berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat.”

Dengan kerasnya ancaman terhadap mereka yang enggan mengeluarkan zakat, kiranya dapat menjadi perhatian bagi seluruh umat Islam yang telah mampu dan melengkapi syarat-syaratnya agar dapat mengeluarkannya pada waktu yang telah ditentukan. Allahu a’lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Makam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Oleh ? Imam Fadlli

“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”

Itulah sepenggal pidato KH Tholhah Mansur dalam Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Dari kalimat pendek tersebut, sangatlah jelas bahwa Pendiri IPNU mempunyai cita-cita sejak awal bahwa kelahiran IPNU pada tanggal 24 Februari 1954 atau bertepatan dengan tangal 20 Jumadil Akhir 1373 H adalah untuk membentuk dan mencetak pelajar dan santri Nahdlatul Ulama yang berilmu yang tidak berlagak elitis dan eksklusif. Berilmu dalam konteks pidato di atas, mempunyai makna yang kompleks, definisi berilmu disini penulis artikan sebagai kapasitas seorang kader yang harus mempunyai ilmu pengetahuan sekaligus kecerdasan.?

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Apa maksud dari pengetahuan dan kecerdasan yang penulis maksud adalah, seorang kader IPNU, adalah agen yang harus mempunyai modalitas wawasan (baca: pengetahuan) yang implementatif, ready to use. Sehingga, kecerdasan disini merupakan upaya untuk mempraktekkan segala wawasan yang dimilikianya. Karena, melalui dua modalitas inilah kader-kader IPNU akan menjadi aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.

Cita-cita ini, tentu dilandasi dengan asas ideologis yang bersumber dari teks al-Quran, sebagaimana yang teruraikan melalui pesan surah al-Mujadalah: 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) beberapa derajat. Landasan normatif ayat suci inilah yang menjadi pedoman pengembangan pengetahuan sekaligus kecerdasan agar selalu “kehausan” dalam meraup air-air ilmu pengetahun bagi para kader IPNU.

Namun, orientasi keilmuan ini tentu saja bukan dalam rangka mencapai ketinggian derajat semata, karena Kiai Tolchah dalam pidatonya tersebut melakukan taqyid al-makna,? yang menegaskan keilmuan tersebut harus dilandasi sikap yang dekat dengan masyarakat. artinya, kader IPNU harus mempunyai karakter, yaitu sikap yang siap sedia kapanpun masyarakat memanggil. Sehingga, sangat absurd jika ada seorang kader IPNU yang tidak dekat dengan masyarakat, merasa terasing dari denyut kehidupan warganya. Dari fenomena ini, maka harus ada yang dibenahi dari internal individual atau pola kaderisasi yang kurang tepat. Karena, sikap elitis inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Kiai Tolchah selaku founding fathers IPNU.

Belajar Muhammadiyah

Cita dan asa Kiai Tolchah diatas, selanjutnya disimbolisasikan melalui logo IPNU yang sangat sarat makna. Gambar bulu angsa misalnya, dalam logo tersebut dimaknai sebagai spirit keilmuan yang harus tetap dilakukan oleh para kader, kemudian karakter yang istiqomah, berkomitmen dan selalu tuntas dalam setiap kinerja disimbolkan dengan logo IPNU yang berbentuk bulat.?

Kemudian, bintang yang merupakan benda luar angkasa meniscayakan sebuah ketinggian harapan yang harus selalau tergenggam agar kader-kader tidak hanya hidup tanpa adanya cita-cita yang tinggi. Dari sekelumit kode-kode inilah, sebenarnya karakter keilmuan IPNU termanifestasikan dengan baik. Hal ituharus dipahami dan disadari oleh semua elemen pengurus, anggota, dan seluruh kader.

Sebuah kredo yang terkenal di IPNU: belajar, berjuang dan bertaqwa juga menjadi semacam world view yang mendarah daging, untuk terus melakukan kerja-kerja intelektual, sosial dan spiritual secara sekaligus. Selaras dengan makna nahdlah dalam nomenklatur Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan agama dan peradaban secara bersama-sama (nahdlah ad-diniyah wal madaniyah ma’an). Melihat kesinambungan gagasan konseptual serta falsafahnya, maka sangat masuk akal jika pembangunan dan keberlangsungan NahdlatulUlama sebagai garda pembentukan peradaban masyarakat Indonesia, berada dipundak kader-kader IPNU.

Untuk itulah, pembangunan kader-kader IPNU sama halnya dengan membangun NU di masa depan, dan memperhatikan NU sama dengan turut andil dalam membangun generasi bangsa Indonesia yang berkualitas di era yang akan datang. Selamat Harlah IPNU ke-63. Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Belajar Muhammadiyah

Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2015-2018.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Makam, Ulama Belajar Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

Masyarakat Mesir Shalat Ghaib Untuk Korban Gempa Aceh

Kairo, Belajar Muhammadiyah
Gencarnya pemberitaan media massa cetak dan elektronik Timur Tengah mengenai gempa dahsyat, yang menelan ribuan korban jiwa di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan kawasan sekitarnya, menimbulkan keprihatinan mendalam masyarakat dunia, khususnya Mesir.

Syeikh Agung Al-Azhar Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi menganjurkan masyarakat Muslim setempat untuk melakukan doa Qunut dan  shalat ghaib bagi warga Muslim korban gempa itu.

"Mari kita berdoa dan melakukan shalat ghaib kepada warga Muslim yang mengalami musibah gempa di Indonesia dan beberapa negara sekitarnya," kata Syeikh Al-Azhar kepada jaringan  televisi setempat, Senin.

Sebelumnya, sejumlah mesjid di Kairo telah melakukan shalat ghaib seusai shalat Dzuhur, di samping melakukan doa Qunut agar Allah SWT menjauhkan hambanya dari bencana dan marabahaya.

Dalam pesannya, Syeikh Tantawi mengatakan, "Sebagai umat beragama, kita harus percaya bahwa bencana alam, apa pun bentuknya, merupakan cobaan Allah SWT, dan karena itu harus diterima dengan ikhlas".

"Kita hendaknya ikhlas menerima musibah itu sebagai cobaan Allah SWT agar hidup kita menjadi tenang. Sebab kalau tidak, maka pikiran kita bakal dihantui hal-hal negatif yang membahayakan diri sendiri," kata Syeikh Tantawi.

Sementara itu, media cetak dan elektronik menempatkan gempa dahsyat dan gelombang tsutami itu di berita utamanya. Berbagai jaringan televisi setempat hampir setiap saat memberitakan perkembangan terakhir tentang musibah itu.

Diperkirakan puluhan ribu orang tewas dalam bencana yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatrera Utara serta kawasan beberapa negara sekitarnya, seperti Sri Lanka, India, Maladewa, Thailand, dan Malasyia itu.(an/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Lomba, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Masyarakat Mesir Shalat Ghaib Untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Mesir Shalat Ghaib Untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Mesir Shalat Ghaib Untuk Korban Gempa Aceh

Sabtu, 04 November 2017

Do’a Melawan Mitos dan Tahayul

Tashdiqun bil qalbi wa iqrarun billisani wa amalun bil arkani, demikian keterangan tentang iman. Yang artinya hati meyakini, lisan mengatakan, dan ? raga bekerja. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Iman menuntut adanya perpaduan dan kesesuaian antara ranah hati, lisan dan raga.

Dengan kata lain, seorang yang beriman tidaklah cukup dengan mengatakannya di lisan saja, tetapi juga harus dibuktikan dengan tindakan dan gerak badan. Dan yang paling penting adalah keyakinan yang tertanam di dalam hati. Akan tetapi dalam kenyataannya memadukan ketiganya bukanlah hal yang mudah. Perlu latihan-latihan dan percobaan. Jangankan menyatukan hati, lisan dan badan, menyatukan lisan dan badan saja terkadang terasa berat. Kalaupun kesesuaian lisan dan badan telah tercapai terkadang hati masih sangsi. Karena itulah muncul istilah al-imanu yazid wa yanqush, bahwa iman itu terkadang penuh terkadang kurang. Terkadang mantap terkadang ragu, terkadang yakin terkadang bimbang.

Semua orang mu’min percaya bahwa Allah swt adalah Tuhan Maha Kuasa dan Perkasa. Tidak ada satu kejadian pun di dunia ini yang luput dari kekuasaa-Nya. Namun keimanan semacam ini seringkali goyah jika berhadapan dengan takhayul dan kepercayaan yang telah lama berakar di tengah-tengah masyarakat. Misalnya seringkali seorang muslim tiba-tiba menjadi ragu melanjutkan perjalanannya karena secara tidak sengaja kendaraan yang ditumpanginya melindas seekor kucing hingga mati. Keraguan itu muncul dari mitos yang meyakini adanya musibah diperjalanan bagi mereka yang menabrak kucing. Atau juga seringkali seseorang terpikirkan hal buruk akan menimpa keluarga hanya karena dirinya secara kebetulan kejatuhan tahi cicak, dan demikian seterusnya.

Do’a Melawan Mitos dan Tahayul (Sumber Gambar : Nu Online)
Do’a Melawan Mitos dan Tahayul (Sumber Gambar : Nu Online)

Do’a Melawan Mitos dan Tahayul

Meskipun mempercayai firasat semacam itu tidaklah termasuk musyrik, tetapi baiknya perasaan demikian segera dibuang. Karena jika dibiarkan akan merusak iman. Dalam hal ini Rasulullah saw sebagaimana dalam kitab Marasil nya Imam Abu Daud pernah bersabda bahwa “seorang hamba tidak jarang terlintas dalam hatinya merasa sial karena suatu kejadian, apabila merasakan hal itu maka ucapkanlah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Artinya:

Aku hamba Allah, segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada kekuatan melainkan dari Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah, dan tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Allah. Aku bersaksi bahwasannya Allah Maha Mampu atas segala sesuatu”

Belajar Muhammadiyah

Demikianlah cara Rasulullah saw memberikan solusi kepada masyarakat Arab di lingkungannya sehubungan dengan kuatnya tradisi takhayul pada masyarakat arab (misalnya burung hantu yang membawa sial, syaitan ghaul yang menyesatkan perjalanan, ataupun bulan safar yang dianggap sial dan seterusnya). Artinya firasat buruk yang muncul dalam hati karena adanya satu kejadian alami semacam ini sangatlah manusiawi belaka. Tidak lantas mereka yang merasakan semacam itu dianggap musyrik, tetapi hanya posisi imannya yang berkurang. (Ulil H) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Nasional, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock