Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany

Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah.

Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya.

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saat bulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta berarti ‘dewa’ atau ‘dewi’. Dalam prakteknya, memang agak sulit untuk menghubungkan arti keduanya dengan konteks adat yang dilakukan.

Belajar Muhammadiyah

Adat membiasakan pembuatan bubur suro untuk peringatan suroan menghubungkan kemuliaan bulan asyura sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Pada bulan yang mulia ini banyak sekali peristiwa sejarah yang terjadi. Diatanranya persitiwa diterimanya taubat nabi Adam dan hawa oleh Allah, diselamatkannya nabi Nuh dan para pengikutnya setelah terombang-ambing lama dengan perahunnya di tengah laut lepas, pertama kalinya nabi Musa mendapat wahyu di gunung Sinai, dibebaskannya nabi Yusuf dari penjara atas tuduhan asusila terhadap Zulaikha.

Dalam sejarah Cirebon Walangsusang putra pertama Prabu Siliwangi pergi meninggalkan kerajaan juga terjadi pada bulan Asyura. Walangsungsang mengembara mencari ilmu hingga bertemu dengan Syaikh Datu Kahfi yang menuntunnya masuk Islam. Dari sinilah akhirnya masyarakat Cirebon mengadakan adat Suroan dengan membuat bubur sura dan dibagi bagikan kepada yang membutuhkan.

Belajar Muhammadiyah

Tradisi lain yang hidup di masyarakat Cirebon adalah Saparan. Yakni adat yang dilakukan masyarakat Cirebon untuk memperingati? bulan shafar, bulan kedua dalam kalender Islam dan Jawa. Mereka mempercayai bahwa pada bulan shafar ini Allah memberikan banyak ujian dan cobaan baik berupa kecelakaan, kematian, kemal angan bencana dan kerugian. Dalam memperingati bulan tersebut, masyarakat mengadakan saparan dengan mengadakan ngapem, proses pembuatan apem untuk dibagikan kepada saudara, kerabat dekat, tetangga, dan orang-orang yang berada di sekitar rumah dengan niatan bershodaqoh.

Tradisi yang kedua yaitu ngirap; proses ngirap sendiri yaitu berhubungan dengan penyucian diri dari segala macam salah dan dosa dengan bertaubat agar terhindar dari marabahaya. Dan yang terakhir yakni rebo wekasan, adat rebo wekasan biasanya dimulai dari ba’da isya sampai menjelang shubuh di mana serombongan antara sempat sampai sepuluh orang laki-laki membaca Al-Qur’an di tajug (mushala) kemudian berkeliling desa dari rumah ke rumah untuk mendoakan rumah yang dikunjungi dan biasanya pihak rumah memberikan sedekah berupa apa saja pada mereka yang datang.

Tradisi lain yang hidup di Cirebon adalah Mauludan. Biasanya dilakukan pada saat bulan Mulud (Rabiul awwal). Adat ini diniatkan untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad. Puncak dari mauludan yakni panjang jimat yang diadakan keraton Kasepuhan Cirebon. Tujuannya untuk menjaga keberadaan alat-alat pusaka yang dimiliki keratin. Sesuai dengan namanya, adat ini juga bertujuan untuk panjang (tiada henti) jimat (siji kang dirumat). Jadi proses adat panjang jimat ini merupakan simbol kepedulian untuk mempertahankan sepanjang hayat atau tanpa henti dari kalimat syahadat atau agama Islam.

Tradisi berikutnya adalah Rajaban. Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan bulan Rajab. Masyarakat Cirebon memperingatinya dengan berkumpul bersama di mushala atau masjid kemudian membacakan diba’i atau asyraqalan. Asyraqalan yaitu proses pembacaan shalawat pujian kepada nabi Muhammad dengan berdiri.

Di setiap tradisi adat ini masyarakat Cirebon menilainya sebagai ritual tambahan di luar rukun Islam yang dijalankan oleh kaum muslim sebagai syiar agama. Dengan demikian, ritual tambahan ini bukan termasuk ibadah dalam pengertian sempit. Sebagian upacara adat ini tak dapat dipungkiri merupakan hasil kreasi kebudayaan yang diciptakan oleh umat muslim sendiri, sementara sebagian lain tidak jelas asalnya tapi semuanya bernuansa islami.

Dalam membaca budaya dan adat Cirebon tentu tidak hanya terbatas pada adat istiadat yang berlaku dan dijalankan oleh masyarakatnya. Perlu juga kiranya melihat bagaimana kepercayaan masyarakat Cirebon terhadap Tuhan sehingga mereka dapat melahirkan adat yang bernuansa religi baik dari segi kemanfaatan atau dari segi proses upacara adat tersebut.

Bagi masyarakat Cirebon, orang suci atau wali yang notabene membangun dan menjaga? budaya di Cirebon memiliki penilaian yang tersendiri. Masyarakat Cirebon sangat menghormati bahkan memuliakan mereka baik sebagai wali maupun sebagai pendiri kerajaan. Sehingga banyak sekali tempat-tempat wali atau leluhur yang berpengaruh di Cirebon dijadikan tempat keramat yang biasa diziarahi baik dari masyarakat Cirebon ataupun dari luar Cirebon. Termasuk di dalamnya pesantren yang merupakan poros kuat dalam proses penyebaran tradisi keagamaan semua ini saling menopang antara pemerintahan dan juga tradisi keagamaan yang dimiliki masyarakat Cirebon.

Mohamad Ramdhany, peneliti Farabi Institute, Kandidat Magister Sejarah Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Ubudiyah, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Minggu, 25 Februari 2018

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Ajang Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) akan segera dilaksanakan akhir bulan depan. Sejumlah persiapan telah dilakukan termasuk seleksi peserta yang akan diberangkatkan.

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang sangat serius mempersiapkan kegiatan perkemahan tingkat nasional ini. Seleksi sejumlah peserta dilakukan secara ketat dan dengan disiplin tinggi. 

“Ini agar saat berbaur dengan kontingen lain dari berbagai daerah tidak mengecewakan,” kata Khojin kepada Belajar Muhammadiyah (28/4).

Belajar Muhammadiyah

“Seleksi ini sebenarnya untuk kali kedua, yang sehari sebelumnya telah dilakukan,” katanya. “Dari proses seleksi, telah dipilih seratus dua puluh peserta,” lanjutnya. Mereka adalah perwakilan dari sejumlah sekolah MA, SMA serta SMK yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Pelaksanaan Perwimanas akan berlangsung 24-29/5 di perkemahan Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung. Tidak kurang empat ribu peserta akan berpartisipasi pada kegiatan ini dari seluruh tanah air.

Belajar Muhammadiyah

“Karena sebagai tuan rumah, maka berbagai persiapan telah kami persiapkan menyambut kegiatan ini,” kata Sekretaris PC LP Ma’arif NU Jombang ini. Apalagi pada kegiatan serupa untuk tingkat Jawa Timur, Jombang berhasil menjadi juara umum.

“Prestasi itu sudah seharusnya kami pertahankan untuk tingkat nasional,” katanya optimis. Dan perwakilan yang telah diseleksi dalam dua gelombang tersebut sebagai kontingen pilihan untuk ajang ini. 

“Kita juga berharap kegiatan berjalan sukses dan silaturahim antar aktifis Pramuka di kepengurusan Ma’arif NU juga akan terus terjalin,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kiai, Cerita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi’ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathabai. Bagaimana ceritanya?

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi’ah. Abah menjawab, "Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa". Saya bertanya, "kalau begitu saya juga boleh membacanya?" Abah mengangguk.

Belajar Muhammadiyah

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathabai itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kitab tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang Syi’ah? Saya berpendapat, "Tidak!"

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mutazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi’ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong.

Belajar Muhammadiyah

Kedua, keliru besar kalau dikatakan tafsir al-Misbah hanya merujuk pada tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqai yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqai ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqai dan Thabathabai, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Quran karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathabai yang beraliran Syi’ah Imamiyah, al-Biqai yang bermazhab Syafii, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir Syi’ah karya Thabathabai tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh Syi’ah-Sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Ketiga, meskipun beliau mengutip tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathabai. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi’ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain. Setelah menguraikan pandangan Thabathabai, beliau menulis: "Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat". Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi’ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathabai menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang Muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata "akh/saudara" dalam ayat ini. Dengan merujuk pada QS al-Taubah: 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi "ikhwanukum fid din" Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathabai di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata "akh/saudara" dalam al-Hujurat:12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga poin di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai Syi’ah dikarenakan beliau merujuk kepada tafsir al-Mizan ulama Syi’ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Bupati Kabupaten Jombang Nyono Suharli Wihandoko tak menampik terhadap peran santri dalam pembangunan bangsa dan negara. Karena itu, ia berjanji akan mendorong dan meningkatkan keterampilan yang dimiliki santri melalui program kerja pemerintah, semisal pembinaan atau pelatihan dalam usaha produktif.

"Pemerintah akan mendorong keterampilan santri dengan program-program kerjanya melalui pendampingan-pendampingan atau pelatihan usaha produktif," katanya saat kegiatan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Jombang, Sabtu (22/10).

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif

Menurut Nyono, para santri saat ini sudah mulai harus menunjukkan eksistensinya melalui segala keterampilan yang dimiliki, juga potensi-potensi lain yang kemudian didorong berbagai pihak, termasuk pemerintah. Jumlah santri di Jombang yang tak sedikit itu tentu memiliki kemampuan yang beragam dalam sejumlah bidang.

Belajar Muhammadiyah

"Santri sudah mulai meningkatkan keterampilan-keterampilannya juga potensi yang dimiliki," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Pada momentum peringatan HSN ini, Ketua DPW Partai Golkar itu mengajak para santri untuk meneladani perjuangan dan semangat kebangsaan para ulama dan santri dalam sejarah Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama.

"Di perayaan HSN ini mari kita jadikan momen meneladani semangat jihad santri, semangat kebangsaan, semangat nasionalisme, dan semangat berkorban untuk bangsa," ujar Nyono. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Cerita Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah. Di saat ratusan warga Madura ikut aksi ke Jakarta, ribuan umat Islam justru membanjiri Monumen Arek Lancor Kabupaten Pamekasan usai shalat Jumat (2/12). Mereka terdiri dari para kiai dan santri dari berbagai pesantren guna melangsungkan istighotsah keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI.

Sebelum jumatan, Masjid Jami As-Syuhada juga dibanjiri ribuan umat. Di dalam masjid tersebut, perjuangan kiai dan santri dalam Resolusi Jihad digemakan oleh Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Muddatstsir Badruddin yang merupakan pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Panyeppen, Palengaan, Pamekasan.

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Di monumen Arek Lancor, terlihat jelas semangat cinta tanah air yang ditunjukkan para kiai dan santri. Mereka berdoa bersama untuk kebaikan NKRI secara berkesinambungan.

KH Atorid Siroj selaku Pengasuh Pesantren Al-Kautsar Pamekasan menegaskan, semangat istighotsah dan doa bersama jangan sampai luntur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena doa punya kekuatan tersendiri yang datangnya langsung dari Allah Yang Maha Kuasa.

"Tentu juga perlu diimbangi dengan perbuatan baik, utamanya dalam meneguhkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan nilai-nilai kesantunan dan keharmonisan dalam mengajak pada kebaikan dan melarang kemungkaran," papar Kiai Atorij.

Belajar Muhammadiyah

Untuk mewujudkan hal itu, tambahnya, tentu umat Islam bisa menyeimbangkan spirit hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Kalau tidak mampu berbuat baik, setidaknya jangan terperangkap pada perbuatan buruk.

"Semoga umat Islam di Indonesia tetap mengedepankan kesantunan dan keharmonisan dalam menjalankan dan menebar ajaran agama tercinta ini," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Cerita, Syariah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Ahmadinejad: Tehran Tidak Tertarik Berunding dengan Washington

Tehran, Belajar Muhammadiyah . Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Selasa (30/10), mengungkapkan bahwa Tehran tidak tertarik untuk mengadakan perundingan dengan Washington dan negaranya tidak membutuhkan bantuan apapun dari Amerika Serikat (AS).



Ahmadinejad: Tehran Tidak Tertarik Berunding dengan Washington (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmadinejad: Tehran Tidak Tertarik Berunding dengan Washington (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmadinejad: Tehran Tidak Tertarik Berunding dengan Washington

"Jika ada syarat-syarat yang harus dipersiapkan dalam perundingan, maka bangsa Iran yang perlu melakukannya dan Anda (AS), para pembangkang hukum tidak dapat mendikte persyaratan-persyaratan untuk dialog dengan bangsa Iran," katanya.

Ahmadinejad membuat pernyataan tersebut sebagai reaksi terhadap pernyataan Presiden Bush bahwa Washington siap untuk mengadakan perundingan dengan Iran jika Iran menyerahkan energi nuklirnya.

Belajar Muhammadiyah

Ahmadinejad juga menyatakan, negaranya siap untuk mengadakan perundingan atau dialog jika ada syarat-syarat yang sama dan adil.

"Namun, negara (AS) itu tidak akan merundingkan hukum dan hak-hak absolutnya. Kekuatan-kekuatan yang korup dan angas, yang menentang kemerdekaan bangsa Iran sedang menciptakan rintangan-rintangan bagi kemajuan negaranya sendiri," terangnya.

?

Belajar Muhammadiyah

"Sejak beberapa tahun lalu, musuh telah meluncurkan usaha-usaha yang luas termasuk penyebaran kepalsuan (fitnah), desas desus/slentingan, penipuan, peperangan psikologis, teror dan intimidasi untuk merampas bangsa Iranian dari hak-haknya yang legal dan absolut dalam menggunakan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai," tambahnya seperti dilansir sumber Irna.

Lebih lanjut, Ahmadinejad mengemukakan argumennya bahwa negaranya menghendaki segera terwujudnya program nuklirnya untuk tujuan damai.

Presiden itu, sebaliknya, mengingatkan bahwa negara-negara kekuatan dunia harus mengetahui bahwa rakyat dan para pemimpin Iran sangat menghendaki segera terrealisasikannya program nuklirnya dan mengatakan, Iran tidak akan menyerahkan hak-haknya meski sekecil-kecilnya.

"Anda (AS) mestinya tidak perlu marah atas prestasi-prestasi bangsa Iran karena para pemuda kami begitu gigih untuk menaklukkan semua puncak prestasi. Para pemuda Iran yang bijaksana mencetak banyak kesuksesan di segala bidang dari hari ke hari dan Anda (AS) akan mati oleh kemarahan Anda sendiri jika Anda mengerutkan dahi atas keberhasilan-keberhasilan tersebut," katanya. (dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Anti Hoax, Cerita Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Banyuwangi,Belajar Muhammadiyah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada takmir masjid dan pengurus mushalla. Isin surat itu meminta pengeras suara digunakan tadarus dimatikan mulai pukul 22.00.

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

“Kita semua mencintai tadarrus dan semua ingin mengagungkan bulan puasa, tapi alangkah bijaknya kalau kita tadarrus tidak menggunakan pengeras suara setelah pukul 22.00. Sebab, di jam itu umat Islam mulai istirahat setelah seharian puasa,”? ujar Ketua II MUI Banyuwangi, Nur Chozin di kediamannya, Selasa (1/7).

Ia menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan warga yang menggelar tadarrus hingga dini hari, tidak gampang. Sebab, mereka beralasan ingin mencari pahala dan mengagungkan malam Ramadhan, sehingga mereka cukup sensitif terhadap segala bentuk? larangan dalam tadarrus. “Bisa-bisa mereka menuding kita macam-macam. Padahal, yang kita larang cuma pengeras suaranya, bukan tadarrusnya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain soal tadarrus, surat edaran MUI itu juga mengimbau semua rumah makan dan restoran yang beroperasi di siang hari memasang penutup selama Ramadhan. Itu untuk menghormati orang yang tengah berpuasa.

Ia menambahkan, sedangkan tempat hiburan malam diimbau untuk menghentikan aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. “Semua itu demi kebaikan kita semua dan menjaga kesucian bulan Ramadhan itu sendiri,” jelasnya. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Bahtsul Masail, Kiai Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Kang Said: Kualitas NU Bukan Soal Jumlah

Jakarta: Belajar Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang terbesar di Indonesia mempunyai tugas berat harus diperjuangkan, yakni meningkatkan kualitas umat Islam secara umum. Kualitas itu menyangkut pemahaman mengenai Islam dan hubungannya dengan negara Indonesia.



Kang Said: Kualitas NU Bukan Soal Jumlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kualitas NU Bukan Soal Jumlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kualitas NU Bukan Soal Jumlah

”Di sini saya garisbawahi bahwa yang namanya kualitas bukanlah jumlah, melainkan lebih pada meningkatkan pemahaman terhadap Islam itu sendiri,” kata Ketua pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj kepada Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Jum’at (18/5).

Dikatakan, beberapa kalangan Islam di Indonesia memahami agama Islam dengan sangat ekstrim (tatharruf). Mereka sering mengklaim diri sebagai Islam yang kaffah (menyeluruh) tetapi sebenarnya tidak pernah kaffah.

Belajar Muhammadiyah

”Bahwa Islam bukan hanya akidah dan syariah seperti yang mereka katakan, tetapi juga menawarkan budaya, peradaban dan moderasi Islam. Nah inilah yang ditawarkan NU dan inilah yang harus kita angkat dalam rangka memperjuangkan misi NU tadi,” katanya.

Menurut Kang Said, panggilan akrab  KH Said Aqil Siradj, NU juga harus menjaga, mengawal, dan menjadi tameng keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena NU berjasa besar ikut membangun dan mendirikan negara ini.

Belajar Muhammadiyah

”Kita harus bersyukur kepada leluhur kita di mana beliau-beliau pada Muktamar di Banjarmasin 1936 sepakat membangun darus salam (negara kesejahteraan) bukan negara Islam. Para ulama merekrut semua komponen yang ada, baik lintas agama, etnis, budaya dan seterusnya. Ini memperkuat sumpah pemuda satu bangasa satu nusa dan satu bahasa,” katanya.

Sikap seperti itu, kata Kang Said, terbentuk karena NU tidak terlalu mementingkan simbol, tidak legal formal, tidak mementingkan hal-hal yang bersifat lahir semata. Lebih penting lagi adalah nilai dan substansi Islam itu sendiri.

“Di sisi lain, memang orang-orang nasionalis pada zaman itu adalah bukan orang-orang universal, bukan nasionalis sekuler yang betul-betul tidak memasukkan faktor agama atau tidak menginginkan agama campur tangan dalam kehidupan bernegara. Mereka bukan orang-orang nasionalis sebagaimana yang ditulis Ernast Renan dalam Whats the Nation tahun 1980, sehingga waktu itu Soekarno Agus Salim, Kahar Muzakkar, Kiai Wahab Hasbullah, Wahid Hasyim dan Moh Hatta bisa saling ketemu,” katanya.(nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006

Canberra, Belajar Muhammadiyah
Berikut ini susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan Selandia Baru periode 2005-2006 yang dilantik oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Canberra 23 September 2005. Berbeda dengan kepengurusan NU di Indonesia, untuk PCI NU per periodenya hanya satu tahun. kebijakan ini diambil karena sebagian besar para pengurus adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri.

I. Mustasyar 
H. Muhammad Taufiq Prabowo, Lc. DEA
Dr. Kacung Marijan, MA P. hD-Ir. Agung Sugiri, MPST
Drs. H. Umar Faruk Asegaf

II. Syuriah
Rais : Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD
Wakil Rais: Khairullah Zikri, S. Ag, M.A

Katib: Muhamad Nahdi, SE, Ak
Wakil Katib: Muhammad Ardiansyah Matsyech, SE

A’wan :
Drs. Akhsyim Afandi, MA
Yon Machmudi, SS, MA
Herry Juliartono

III. Tanfidziyah
Ketua : H. Arif Zamhari M. Ag
Sekertaris : Hj. Safira Macrusah, MAAS (Hons)
Wk. Sekertaris : Ahmad Zainul Hamdi M. Ag
Wk. Sekertaris : Syafrina Tristiawati, SE, MA, M.Sc

Wk. Ketua : Suaidi Asy’ari MA
Wk. Ketua : Ghafar Karim MA
Wk. Ketua : Dra. Nurnaila Schiller
Wk. Ketua : Faishal
Wk. Ketua : Deni Hamdani M. Ag
Wk. Ketua : Suseno Hadi

Bendahara : Ir. H. Tony Indranada

Dept Pendidikan : Parto M. Ed.
Dept Ekonomi : Yulianto Setiawan
Dept Enviroment : Muhammad Zahrul Muttaqin MM
Dept Pertanian dan Perikanan: Meiliani Ardaya
Dept Litbang : Rahma Ida MA
Dept Kominfo : Muhammad Izman Herdiansyah
Dept Kerja Sama Internasional   : Yasir Alimi MA

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Kajian Islam, News Belajar Muhammadiyah

Susunan Pengurus Cabang  Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006 (Sumber Gambar : Nu Online)
Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006 (Sumber Gambar : Nu Online)

Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006

Rabu, 06 Desember 2017

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati

Cilegon, Belajar Muhammadiyah - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyati mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk waspada atas propaganda gerakan kelompok-kelompok radikal anti-Pancasila. Menurutnya, sekarang ini banyak kelompok yang memaksakan pengaruhnya di tengah masyarakat untuk menolak dasar negara Indonesia melalui berbagai media.

Imbauan ini disampaikan Abuya Muhtadi dalam seminar kebangsaan yang diinisiasi PMII dan PCNU Cilegon di aula DPRD Kota Cilegon, Senin (31/7).

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati

Abuya Muhtadi mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk tidak ikut-ikutan organisasi dengan paham luar negeri dan ideologi imporan seperti HTI yang menentang Pancasila.

Belajar Muhammadiyah

Ia berpesan kepada semua yang hadir untuk tetap setia dan turut menjaga NKRI dan Pancasila. Menurutnya, NKRI bukan harga mati tetapi harga hidup untuk dunia dan akhirat.

Abuya juga menyanyikan lagu Garuda Pancasila bersama para peserta seminar yang hadir.

Tampak ratusan peserta dari perwakilan pimpinan pondok pesantren, wakil walikota, Ketua DPRD, Kasdim Kodim 0623/Cilegon, dan Rais Syuriyah PCINU Federasi Rusia juga Dosen di kampus FT. Untirta Cilegon, Agus Pramono.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan deklarasi “Kami Indonesia, Kami Pancasila,” dan dibubuhi tanda tangan Abuya beserta unsur pimpinan daerah, NU, PMII dan unsur pimpinan pondok pesantren di sekitar Kota Cilegon.

Selain diskusi, mereka juga menggelar istighotsah untuk keselamatan bangsa Indonesia. (Andra Imam Putra/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Pesantren, Cerita Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin tidak mempermasalahkan calon presiden atau calon wakil presiden yang melafalkan doa pembuka dengan shalawat nabi atau mengutip ayat Al Quran.

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Nilai Pembacaan Shalawat Nabi Bukan Politisasi Agama

"Saya pikir hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Batasan-batasan politisasi agama dalam Pilpres sudah ada di KPU, seperti larangan memakai tempat ibadah untuk kampanye. Tapi kalau melafalkan shalawat sebelum pidato itu tidak termasuk politisasi agama," kata Din di Jakarta, Kamis.

Ia juga menilai penggunaan simbol agama tidak perlu dipermasalahkan jika dipakai oleh capres-cawapres saat berkampanye.

Belajar Muhammadiyah

"Seperti jika seorang capres-cawapres menggunakan salam assalamualaikum dalam membuka pidato. Aneh jika capres-cawapres mengucapkan assalamualaikum kemudian digolongkan sebagai politisasi agama," katanya.

"Doa shalawat juga begitu, tidak masuk politisasi karena jika itu dipakai untuk pembuka maka tergolong baik atau tidak mengarah kepada politisasi," kata dia.

Belajar Muhammadiyah

Bagi Din, politisasi agama bisa saja terjadi dan akan sangat buruk jika sampai menyangkut masalah yang fundamental. Salah satunya seperti khotbah Jumat dari seorang penceramah yang mengajak jamaah untuk memilih salah satu pasangan.

Pembacaan shalawat nabi sempat dipraktikkan capres Joko Widodo dalam beberapa kesempatan kala berbicara di depan publik. Salah satunya saat prosesi pengambilan nomor urut capres-cawapres di KPU Pusat beberapa waktu lalu.

Jokowi saat itu berupaya menunjukkan pembeda antara dirinya dengan Prabowo Subianto saat mengambil nomor urut dengan membaca doa. Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti itu juga mengawali sambutan dengan salam dan shalawat nabi. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Sholawat, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Purworejo, Belajar Muhammadiyah. Tetabuhan beduk dan kentongan mengalun ritmik dari Masjid Shiddiq Zarkasyi Kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan setiap tengah malam selama bulan Ramadhan. Tradisi tetabuhan bernama tedur itu adalah peninggalan Wali Songo yang masih dilestarikan hingga sekarang. Bahkan saat masa penjajahan, tedur turut berperan mengusir penjajah.

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tedur, Tetabuhan di Bulan Puasa Pernah Usir Penjajah

Pada masa awal perkembangan Islam di pulau Jawa, beduk dan kentongan menjadi penanda masuknya waktu shalat. Ketika beduk dan kentongan dipukul, orang kemudian berbondong-bondong ke masjid atau musala untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Meski saat ini zaman sudah berubah dengan banyaknya peralatan modern sebagai pengganti beduk atau kentongan, namun peninggalan para pendahulu tidak serta merta ditinggalkan begitu saja. Sesuatu yang baik layak dilestarikan sebagai pengingat sejarah.

"Dengan melestarikan tradisi Wali Songo yang sangat baik ini, akan membuat pahala para wali yang menciptakan beduk dan kentongan sebagai pemanggil shalat terus mengalir," kata pengasuh Ponpes An-Nawawi KH Achmad Chalwani, di depan para santri, baru-baru ini.

Belajar Muhammadiyah

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini menuturkan, selain menjadi penanda waktu shalat, beduk dan kentongan ini juga ditabuh dalam momentum-momentum tertentu seperti menjelang Ramadhan, sepanjang tengah malam selama Ramadhan, menjelang hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Tetabuhan momentum-momentum tertentu itulah yang disebut tedur.

Belajar Muhammadiyah

"Kalau di sini ketukan pukulan beduk dan kentongan antara waktu shalat satu dengan yang lain berbeda-beda. Kalau tedur, pukulannya lebih ritmik," terangnya.

Ketika ditanya asal muasal nama tedur, KH Chalwani mengaku tidak begitu paham. Nama itu telah turun temurun dipakai sejak zaman dahulu. Di Purworejo, tradisi tedur tidak hanya dilakukan di Berjan saja. Namun Pesantren dan masjid di desa-desa juga banyak yang melakukannya.

"Memang saat ini, tedur tidak lagi sesemangat zaman dulu. Maka di An-Nawawi saya memberikan penekanan kepada para santri agar tedur tetap dilestarikan agar tidak punah termakan zaman," ujarnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, tedur pernah berjasa turut serta berperan mengusir penjajah Belanda. Ceritanya, saat tentara Belanda melakukan patroli, dari kejauhan terdengar suara beduk ditabuh.

Kemudian para tentara itu berhenti dan bertanya kepada warga perihal suara tedur yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Dijawablah oleh warga jika suara itu adalah suara santri sedang tedur.

"Mendengar jawaban tersebut, Belanda ketakutan dan berkata keheranan sambil balik kanan, tedurnya santri aja kayak gitu, kalau bangun terus gimana, ya?" tiru KH Chalwani, diikuti gelak tawa para santri.

Menurutnya, itu cerita turun-temurun yang ia meyakini kebenarannya sebagai bagian dari keistimewaan tradisi tedur. (Lukman Khakim, Ahmad Naufa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Makam, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Memberi Minum Anjing Sekarat

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.

Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.

Memberi Minum Anjing Sekarat (Sumber Gambar : Nu Online)
Memberi Minum Anjing Sekarat (Sumber Gambar : Nu Online)

Memberi Minum Anjing Sekarat

Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.

Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?

Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.”

Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”

“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.

Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?

Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.” (Mahbib)

*) Ditulis berdasarkan hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Santri, Cerita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Belajar Muhammadiyah berkerja sama dengan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) menggelar Kompetisi Esai dan Video bertajuk Islam damai. Kegiatan ini dilakukan untuk terus menangkal dan menanggulangi radikalisme terutama di dunia maya dan media sosial. Kompetisi ini juga dimaksudkan agar masyarakat juga aktif dalam kegiatan deradikalisasi dengan memperbanyak konten-konten positif.

(Baca:? Belajar Muhammadiyah Buka Kompetisi Esai dan Video Islam Damai Berhadiah Total 29 Juta)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo mengatakan, penanggulangan atau pengurangan intoleransi di Indonesia lebih efektif jika masyarakat dan warga ikut serta secara aktif. Tidak mungkin pemerintah dapat melakukannya sendiri, karena masyarakat memiliki ide-ide dan solusi-solusi, dan lebih dari itu memiliki energi yang positif untuk bisa mengimbangi dan melawan intoleransi dan ekstremisme.?

“INFID bangga dan merasa terhormat bisa bekerja sama dengan Belajar Muhammadiyah untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Indonesia, termasuk kaum muda dari berbagai latar belakang untuk bisa merajut dan merawat Indonesia yang damai dan toleran melalui kompetisi esai dan multimedia ini,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, Belajar Muhammadiyah dan INFID prihatin bahwa Indonesia sekarang ini masih diwarnai dan didera oleh tindak-tindak kekerasan yang bersumber dari sikap intoleran, ekstremisme dan radikalisme yang berakibat menipisnya kohesi sosial dan gotong royong di antara masyarakat. Praktik yang seperti ini tentu bertentangan dengan semangat ke-Indonesia-an dan Islam yang melindungi semua (Rahmatan lil ‘Alamin).

Belajar Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Belajar Muhammadiyah Achmad Mukafi Niam menerangkan bahwa selama ini Belajar Muhammadiyah sebagai corong media yang konsisten dengan konten-konten Islam damai terus berusaha melakukan penanggulangan radikalisme di dunia maya. Dia menilai, selama ini dunia maya digunakan sebagai alat (instrumen) paling strategis untuk menyebarkan narasi-narasi ekstremisme, terutama kepada anak-anak muda yang sebagian besar pengguna media sosial.

Narasi-narasi ekstermisme ini berdampak pada munculnya tindakan terorisme sebagai akibat dari pemahaman agama yang cenderung eksklusif atau tertutup. Selain itu, kata Mukafi Niam, media sosial sebagai basis penyebaran radikalisme juga digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok radikalis, termasuk oleh kelompok teroris yang mengatasnamakan dirinya sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).?

Mereka secara nyata menyebarkan keresahan dan ketakutan kepada warga dunia atas kekejian yang mereka lakukan terhadap orang atau kelompok yang tidak mengikuti paham NIIS dengan membunuhnya secara membabi buta. Kekejian tersebut tidak hanya dilakukan mereka kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat agama lain.?

Belajar Muhammadiyah

“Bahkan pada tahun 2014, sebanyak 50.000 akun media sosial radikal mereka ciptakan sebagai alat penyebar propaganda dan ketakutan-ketakutan kepada masyarakat dunia dengan mengunggah kekejian-kekejian mereka,” ungkap Niam.?

Sebab itu, menurutnya, sinergi NU dan INFID untuk meningkatkan konten-konten damai di dunia maya dengan mengadakan lomba esai dan vVideo Iklan Layanan Masyarakat terkait Islam ramah, damai, dan toleran mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menanggulangi dan mencegah semakin merebaknya narasi-narasi ekstremisme di media sosial dan di dunia maya secara luas.

Untuk kualitas konten, Belajar Muhammadiyah dan INFID menggandeng beberapa pakar yang kompeten terkait Islam damai di dunia maya diantaranya, Mohamad Sobari, Alissa Wahid, Abdul Mun’im DZ, Savic Ali, Inayah Wahid, dan Daniel Rudi. Tema esai terkait dengan Islam damai, Bhinneka Tunggal Ika, dan Kewarganegaraan.?

Peluncuran dan konferensi pers kegiatan ini telah dilaksanakan Selasa (27/9) kemarin dengan menghadirkan Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, aktivis pemuda, dan para awak media di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Tokoh, Cerita Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Wapres JK Hadiri Halaqah Ulama ASEAN Kementerian Agama

Bogor, Belajar Muhammadiyah. Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla menjadi pembicara kunci (Keynote Speaker) pada Halaqah Ulama ASEAN yang digelar oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Selasa (13/12) sore.?

Wapres JK Hadiri Halaqah Ulama ASEAN Kementerian Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK Hadiri Halaqah Ulama ASEAN Kementerian Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK Hadiri Halaqah Ulama ASEAN Kementerian Agama

Kegiatan tersebut dijadwalkan selama tiga hari, 12-15 Desember 2016 di Hotel Salak The Heritage, Jalan Ir. H. Juanda No. 8 Bogor, Jawa Barat.

Kepastian kehadiran JK dikatakan koordinator kegiatan Hj Faiqoh Mansyur di Jakarta, kemarin. Menurut dia, Halaqah Ulama ini bertujuan untuk merumuskan berbagai langkah konkrit dalam membangun jaringan dan kerjasama antar pesantren di kawasan ASEAN.

"Kegiatan halaqah yang diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat ini menjadi agenda tahunan. Jadi, kami tiap tahun mengadakan acara yang sama dengan tema berbeda. Nah, sore ini Pak JK buka acara sekitar jam 4. Sudah fix, " ujar Faiqoh.?

Pantauan Belajar Muhammadiyah, sejumlah tamu dari sejumlah negara di Asia Tenggara ini terlihat hadir saat melakukan registrasi. Halaqoh yang mengusung tema ? “Mengembangkan Islam Moderat melalui Jaringan Pesantren se-ASEAN” ini bakal menjadi ruang diskusi yang menarik bagi sejumlah peneliti dalam dan luar negeri.

Belajar Muhammadiyah

Selain Wapres, sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir dalam halaqah tersebut. Antara lain, KH Sholahuddin Wahid, KH A. Hasyim Muzadi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pejabat eselon 1 dan 2 di Kemenag dan beberapa tamu penting lainnya.

Belajar Muhammadiyah

Aparat keamanan dari jajaran kepolisian dan TNI tampak berjaga-jaga di sejumlah titik di dekat hotel yang berdiri megah di depan Istana Bogor tersebut. Hingga berita ini ditulis, kesibukan di arena halaqah meningkat seiring pengamanan berlapis yang dilakukan paspampres. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Pendidikan, Cerita Belajar Muhammadiyah

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang IPPNU Jakarta Barat melakukan penggalangan dana untuk membantu meringankan penderitaan yang menimpa etnis Rohingya. Penggalangan dilakukan  dengan menginstruksikan kepada tujuh PAC IPPNU di wilayah Jakarta Barat untuk melakukan hal serupa.

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Jakbar Ajak Siswa Peduli Rohingya

Ketua PC IPPNU Jakarta Barat Mita Nurpatma menerangkan, penggalangan dana dilakukan di sekolah-sekolah, juga di acara Car Free Day (CFD).

“Kami menggalang dana selama dua minggu di beberapa sekolah di wilayah Jakarta Barat. Di MI, di SMP Ma’arif, di MAN, juga di UIN Ciputat,” terang Mita saat penyaluran donasi senilai Rp11.750.000,- ke NU Care-LAZISNU di Gedung PBNU, Rabu (25/10).

Yang menarik, sambung Mita, penggalangan di MAN 12 Jakarta dalam jangka waktu dua hari terkumpul donasi sebanyak tujuh juta rupiah. 

Mita juga mengatakan bahwa beberapa sekolah di Jakarta Barat, bagi siswa yang menggalang dana untuk Rohingya diberi penghargaan berupa sertifikat.

Belajar Muhammadiyah

“Kami beri reward kepada beberapa sekolah yang menggalang dana. Hal itu sebagai bentuk kepedulian siswa-siswi kepada saudara muslim Rohingya. Meskipun hanya berupa sertifikat, tetapi para siswa senang sekali menerimanya,” tuturnya.

Penggalanagan dana untuk Rohingya juga sesuai instruksi Pimpinan Pusat IPPNU kepada IPPNU di wilayah, cabang, hingga tingkat ranting.

Belajar Muhammadiyah

Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU, Nur Rohman mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh IPPNU Jakarta Barat dan IPPNU se-Indonesia pada umumnya. Ia menjelaskan, program bantuan untuk Rohingya membutuhkan waktu yang tak sebentar karena permasalahan Rohongya yang kompleks.

“Kami apresiasi betul aksi yang dilakukan IPPNU, dari pusat sampai daerah-daerah; mengajak siswa-siswi di sekolah dan masyarakat umum untuk peduli dengan permasalahan yang menimpa etnis Rohingya. Permasalahan ini, kata ketua AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar/M Yusuf Ali), memakan waktu yang panjang. Minimal dua tahun kita bisa menyelesaikan problem tersebut,” papar Nur Rohman.

“Kami terima donasinya untuk disalurkan ke masyarakat Rohingya. Ini akan sangat bermanfaat,” imbuhnya. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengajak masyarakat untuk mengingat kembali tiga pesan Rasulullah SAW kepada umatnya. Kang Said mengimbau masyarakat agar tidak terjerumus pada tiga godaan ini.

“Kalau kita lihat, ada tiga pesan atau peringatan Rasulullah yang harus kita perhatikan. Pertama, hati-hati fitnah perempuan. banyak orang yang berduit terkena fitnahnya perempuan,” kata Kang Said dalam pertemuannya dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (29/2) siang.

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Pesan kedua dari Rasulullah SAW, kata Kang Said, adalah menjaga nafsu terkait batas kepemilikan tanah. Rasulullah SAW sangat marah saat Beliau mengetahui ada sahabat yang memindahkan batas tanahnya walau hanya beberapa meter.

Ketiga, jual beli emas dengan emas atau uang dengan uang. Nabi SAW melarang akad jual-beli karena yang demikian itu haram. Yang ketiga inilah yang menjadi tantangan kita untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah agar bebas dari riba dan haram.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau semata-mata uang ditaruh di bank kemudian dibiarkan tidur begitu saja berbulan-bulan bahkan bertahun tahun, itu yang haram. Kalau mudharabah, musyarakah, dan murabahah itu sebuah jalan keluar yang baik dan harus terus kita kembangkan,” ujar Kang Said. (Ahmad Muchlishon/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Amalan, Cerita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 26 Oktober 2017

Kader NU Jabar Soroti Proses Pengkaderan di Tubuh NU

Bandung, Belajar Muhammadiyah

Nahdlatul Ulama merupakan ormas terbesar ? di Indonesia, namun sayang sampai saat ini belum mempunyai skema kaderisasi yang terstruktur dan sistematis. Sehingga arah kaderisasi NU di semua tingkatan tidak jelas.

Kader NU Jabar Soroti Proses Pengkaderan di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Jabar Soroti Proses Pengkaderan di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Jabar Soroti Proses Pengkaderan di Tubuh NU

Hal tersebut disampaikan oleh skretaris Pergunu Jawa Barat, H Saepuloh di sela-sela diskusi bersama Sekretaris Lakpesdam NU Jawa Barat H Dasuki dan Komisioner KPID Jawa Barat M Syaifurrohman yang merupakan kader muda NU Jawa Barat di Sekretariat PWNU Jawa Barat Jl Terusan Galunggung No 9 Bandung, Jumat (4/3/).

“Sebetulnya PBNU pada periode 2010-2015 membuat gebrakan sangat bagus dalam hal kaderisasi, dengan terselenggaranya PKPU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) tingkat Nasional, namun sayang sampai saat ini kegiatan tersebut tidak terdengar lagi,” tutur Saepuloh.

Hal serupa disampaikan oleh Sekretaris Lakpesdam NU Jawa Barat, Dasuki ? bahwa PBNU harus serius dalam menata dan menyistematisasi kaderisasi NU di semua tingkatan.

“PBNU harus serius dalam menata dan menyistematisasi di seluruh tingkatan NU, hal ini untuk mengantisipasi implementasi AD/AR NU pasal 39, yang berkaitan dengan syarat menjadi pengurus NU harus mengikuti kaderisasi, yang mulai efektif tiga tahun setelah ? Muktamar,” tutur Dasuki

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Komisisioner KPID Jawa Barat M Syaifurrohman mengatakan pentingnya kaderisasi agar ? NU tidak hanya hidup dan berkembang hanya karena sejarah dan ritual semata.

Belajar Muhammadiyah

“Arus informasi yang begitu bebas dan pertarungan wacana media yang makin keras, mengharuskan NU sebagai organisasi besar memikirkan konsep kaderisasi yang sistematis dan terukur,” tutur Syafurrohman. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita Belajar Muhammadiyah

Minggu, 15 Oktober 2017

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di Tebuireng, Sabtu (18/3).

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah. Yaitu, pesantren sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Dalam sambutannya, Gus Sholah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Sholah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Sholah, harus diakui bahwa kalangan di luar pesantren adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. "(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren Tebuireng.

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Belajar Muhammadiyah

Pada saat itu, imbuh Gus Sholah, pandangan kalangan luar terhadap pesantren dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik pesantren dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Sholah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa pesantren tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela (pesantren) itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Belajar Muhammadiyah

Terkait tantangan ke depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan dengan baik. "Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain," tandas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Potensi lain yang dimiliki pesantren adalah ajaran wasatiyah (moderatisme) yang diajarkan sejak awal penyebaran Islam di wilayah nusantara. "Islam rahmatan lil alamin yang membuat Islam dan paham kebangsaan (Indonesia) bisa terpadu dan tidak memicu konflik, seperti di banyak negara Timur Tengah," tandasnya.

Di akhir pidatonya, Gus Sholah menyoroti hubungan Islam dan negara yang mulai terganggu sejak 2016. Baik karena kasus Al-Maidah maupun adanya anggapan bahwa pemerintah memberi angin kepada keluarga PKI dan yang dianggap. "Muncul anggapan, kalau tidak memilih kepala daerah (dan mungkin kepala negara) nonmuslim, maka keindonesiaan, kebinekaan dan kepancasilaan kita diragukan," pungkasnya.

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga dimeriahkan dengan seminar yang dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Haddad dan Sekjen Kementerian Agama Nur Syam. Juga pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan terkemuka yang tampak hadir antara lain Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf dan Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi. Juga, Ketua Umum YP3I Marzuki Alie dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Cerita Belajar Muhammadiyah

Selasa, 03 Oktober 2017

Gus Dur dan Keulamaan Kiai Jakarta

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. KH Syaifuddin Amsir, Rais Syuriyah PBNU mengatakan bahwa sebenarnya anak Betawi banyak yang menjadi kiai-kiai besar. Tetapi keulamaan mereka biasanya tidak diketahui oleh orang pada umumnya.

Gus Dur dan Keulamaan Kiai Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keulamaan Kiai Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keulamaan Kiai Jakarta

“Orang baru tahu kalau dia seorang kiai besar setelah ulama-ulama Jawa menemuinya,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di lantai tiga gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Selasa (7/11) sore.

Kiai asal Berlan, Matraman Jakarta Pusat ini menunjuk pada sebuah peristiwa di mana Gus Dur menghentikan perjalanannya hanya untuk mendatangi rumah seseorang di bilangan Paseban Jakarta Pusat.

Belajar Muhammadiyah

Menurut KH Syaifuddin Amsir, masyarakat setempat tidak menduga sebelumnya kalau Gus Dur akan mengunjungi rumah orang tersebut. Padahal masyarakat sekitar hanya mengenal orang yang bersangkutan hanya sekadar mengajar alif-ba-ta.

Orang alim di Jakarta umumnya tidak mengajar kitab fiqih yang tinggi, tambahnya. Mereka hanya mengajarkan pengetahuan hukum agama yang sederhana sekadar untuk memenuhi kebutuhan praktik ibadah keseharian masyarakat Jakarta. Namun, hal ini tidak mengindikasikan bahwa pengetahuan agama kiai di Jakarta sangat minim.

Belajar Muhammadiyah

Masyarakat umumnya baru mengerti keulamaan setelah jaringan kiai setempat itu ternyata cukup luas. Para kiai Jakarta ini biasanya berjejaring dengan para kiai lain di Jakarta, Sunda, Jawa, Lombok, bahkan Mekkah.

Keulamaan kiai Jakarta mungkin saja tersembunyi mengingat kondisi keduniaan di Jakarta cukup dominan, meskipun semangat keagamaan lumayan tinggi. Semangat keagamaan yang tinggi tanpa dibarengi semangat menuntut ilmu agama, membuat keulamaan sejumlah kiai tertutup, tandasnya.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Hikmah, Cerita Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock