Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Pada sesi terakhir pada kelas menulis santri atau yang disebut KMS, santri diajak kunjungan ke media cetak dan online, Tribun Yogyakarta, Kamis (22/01), pukul 14:00-16:00. Mereka dikenalkan bagaimana proses produksi berita di media mainstream. Pada kunjungan ini, Yudha Kriswanto, Redaktur Tribun Jogja mempersilakan para santri untuk menulis di media online tribunjogja.com.

"Teman-teman pakai gadget semua kan? Silakan kalian tulis berita kejadian pada saat Anda perjalanan dari LKiS ke kantor Tribun Jogja." Instruksi Yudha saat mewakili Tribun Jogja untuk mengisi sesi kunjungan santri.

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Setelah memberitahukan tata cara mengirim berita ke Tribun Jogja, Yudha juga menjelaskan, saat mengirim berita harus disertai foto. Menurutnya, foto menjadi orisinalitas berita.

"Mengambil foto harus sesuai dengan kejadian. Jangan sampai salah mengambil foto, karena akan memicu permasalahan besar. Dan kalau kalian mengambil foto dari internet, maka harus cantumkan alamatnya." Jelasnya kepada para santri yang sedang asyik mendengarkan paparannya.

Ia juga menjelaskan, tulisan yang dikirim ke tribunjogja.com tiga paragraf sudah cukup. "Ketika ada kejadian, segeralah tulis. Karena media online akan memuat berita-berita yang update." Tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Usai menjelaskan bagaimana prosedur penulisan berita di Tribun Jogja, Yudha kemudian memperlihatkan video saat pelatihan pertama kali yang diadakan oleh Tribun Jogja. "Ini merupakan pelatihan angkatan pertama. Pada waktu itu, koran tribun belum ada, bahkan media onlinenya juga belum ada." Jelasnya kepada para santri seraya memperlihatkan video dokumenter Tribun Jogja.

"Setelah hari kedua pelatihan, ada gunung merapi meletus, tepatnya pada tahun 2010. Pada saat itu, para wartawan langsung diterjunkan ke tempat kejadian sebelum rapat redaksi." Tutur Yudha, Pria dengan sosok rambut gondrong. (Nur Sholikhin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Kajian Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Cirebon, Belajar Muhammadiyah - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon yang dinakhodai langsung oleh Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj memberikan beasiswa pendidikan pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016-2017. Pihak kampus? ini mengobral beasiswa untuk calon mahasiswa baru yang memenuhi tiga kriteria persyaratan.

Calon mahasiswa UNU Cirebon penerima beasiswa tahun ini adalah mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran, mereka yang berprestasi, dan mereka yang tidak mampu dan aktif kegiatan kemahasiswaan.

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Demikian disampaikan Wakil Rektor UNU Cirebon Bidang Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat Dr KH Moh Badrussalam Shof. Menurut Doktor Bidang Kurikulum dan Metodologi Pengajaran alumnus Omdurman Islamic University Sudan ini pada acara rutinan di Masjid Kampus 2 UNU Cirebon Jalan Dr Cipto, Selasa (10/5) malam.

Belajar Muhammadiyah

Menurut mantan Rais Syuriyah PCINU Sudan ini, hal yang menarik adalah bahwa untuk beasiswa katagori penghafal Al-Quran pihak kampus tidak mengharuskan peserta hafal 30 juz seperti diberlakukan perguruan tinggi lain. UNU Cirebon akan tetap memberikan beasiswa pendidikan bagi mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran.

Belajar Muhammadiyah

"Siapa saja yang sudah hafal minimal empat juz bisa ikut tes mendapatkan beasiswa penghafal Al-Quran," tegas Kang Badrus yang mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UNU Cirebon. (Abfalaka/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Belajar Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

Belajar Muhammadiyah

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Belajar Muhammadiyah

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Menjadi pegiat organisasi di Nahdlatul Ulama hendaknya diniati untuk berkhidmat demi meninggikan panji dan kalimat Allah SWT, bukan untuk memperoleh kedudukan apalagi keuntungan materi. Hal inilah yang membedakan dengan para aktivis di organisasi lain.

"Saat aktif di NU, jangan sekali-kali memiliki motivasi merebut jabatan, apalagi untuk mendapatkan keuntungan materi," kata Nyai Hj Nur Zainab Nur, Ahad (24/7). Pesan ini disampaikannya saat acara halal bi halal dan silaturrahim Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Puteri Pelajar Nahdlatul Ulama lintas generasi di aula PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah ? Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jatim yang tetap semangat meskipun hadir dengan menggunakan kursi roda tersebut mengingatkan para aktifis kekinian untuk bisa belajar ketulusan kepada para pendahulu. "Untuk dapat melakukan konsolidasi, dulu kami harus rela numpang truk karena kendaraan memang terbatas dan tidak memiliki ongkos yang cukup," terangnya.

Demikian pula untuk memantau perkembangan organisasi, undangan rapat sering dititipkan lewat secarik kertas untuk dapat memastikan akan melaksanakan koordinasi di waktu dan tempat yang ? telah ditentukan. "Kami sangat menghargai kesempatan bertemu," kenangnya.

Belajar Muhammadiyah

Meskipun sebagai pelajar perempuan, para pegiat IPPNU kala itu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh kalangan Ikatan Pelajar NU atau IPNU. "Saat akan ada rapat bersama IPNU, kami melakukan rapat sebelumnya untuk membahas sejumlah persoalan sekaligus membagi siapa yang akan menjadi juru bicara," katanya disambut aplaus hadirin.

Nyai Hj Nur Zainab Nur kemudian menceritakan bagaimana para pelajar perempuan NU kala itu harus mendatangi para pengusaha dan kantor pemerintah untuk mendapatkan dana ketika hendak menyelenggarakan kegiatan. "Satu demi satu kami datangi," kata perempuan yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.

Di akhir paparannya, kembali mantan Ketua PW Muslimat NU Jatim ini mengingatkan para aktifis IPNU dan IPPNU era kekinian untuk menjaga ketulusan niat dan juga kekompakan. "Jaga terus niat kalian dan tetap kompak," pungkasnya.

Sejumlah ketua dan aktifis PW IPNU dan IPPNU Jatim dari berbagai angkatan hadir pada kegiatan tersebut. Bahkan mantan Ketua Umum PP IPNU, H Abdullah Azwar Anas turut hadir dan memberikan sambutan. Bupati Banyuwangi dua periode tersebut juga mengundang seluruh hadirin untuk bergabung pada acara halal bihalal yang diselenggarakan Majelis Alumni IPNU tingkat nasional, 28 Juli mendatang. Kegiatan akan dilaksanakan di Banyuwangi sekaligus mengenalkan sejumlah destinasi wisata kebanggaan kota paling timur di Jatim tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, IMNU, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Sumenep, Belajar Muhammadiyah - Salah seorang Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, K M Mushthafa menyampaikan taushiyah kebangsaan pada upacara kemerdekaan, Rabu (17/8). Di depan para santri, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menegaskan, guru adalah penggerak kemerdekaan Indonesia.

"Ingat, Budi Utomo sejak berdiri 1906 sampai 1926 masih tetap berbau Jawanisme (kesukuan). Dan alasan ini telah menggugurkan anggapan bahwa Budi Utomo merupakan penggerak nasionalisme Indonesia," ujar Kiai Mushthafa.

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Ditambahkan, kebangkitan kebangsaan melibatkan semua unsur di negeri ini. Kemerdekaan kita diilhami oleh kaum pelajar yang berprofesi sebagai pendidik. Pada tahun 1922, Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah murni gerakan pendidikan kebangsaan.

Belajar Muhammadiyah

"Semua aktivis pergerakan kemerdekaan, Soekarno, Hatta, Syahrir, Maramis, Subardjo, dan lain-lain adalah seorang guru," bebernya.

Proses kelahiran Indonesia, ujarnya, juga diilhami oleh kalangan pendidik dunia pesantren. Sebut saja Pesantren Annuqayah? yang adalah lembaga pondok penyuplai pejuang dalam Hizbullah sekaligus melahirkan guru pejuang.

Belajar Muhammadiyah

"Kita tidak ragu peran K. Sajjad dan K. Khazin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita pun tak pernah ragu peran KH. Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur sebagai pejuang dan sekaligus pendidik," ungkapnya.

Keterlibatan guru, tukas Kiai Mushthafa, tidak terlepas dari pemahaman bahwa membangun bangsa adalah sebagian dari iman. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Tokoh, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Gelar Kofercab, NU Wonogiri Diminta Sukseskan Pemilu

Wonogiri, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) IV di Pondok Pesantren Al Amanah Sempon, Pandeyan, Jatisrono, Wonogiri, Ahad (12/1). Sebanyak 450 pengurus NU dari 24 Majelis Wakil Cabang (MWC) NU dan 73 Pengurus Ranting NU se-Kabupaten Wonogiri hadir dalam perhelatan akbar ini.

Gelar Kofercab, NU Wonogiri Diminta Sukseskan Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Kofercab, NU Wonogiri Diminta Sukseskan Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Kofercab, NU Wonogiri Diminta Sukseskan Pemilu

Bersamaan dengan acara tersebut, Bupati Wonogiri melalui Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Wonogiri, Sulardi berpesan agar warga NU menyukseskan pesta demokrasi tahun ini dengan cara menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2014 mendatang.

Ketua PCNU H. Mubarok mendukung dan mempersilakan semua warga NU memilih partai apa saja yang bisa menjadi penampung aspirasinya.”Karena NU ada di mana-mana tetapi tidak ke mana-mana. Oleh karena itu NU mempersilakan warganya untuk menyampaikan aspirasi politiknya di manapun yang dikehendaki,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Tampak hadir pula Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jateng Prof Dr Abu Hafsin, Wakil Ketua PWNU Jateng Syamsudin Asrofi, Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri Wawan Setyo Nugroho, Kepala Kantor Kemenag Syafrudin, dan pejabat Kecamatan Jatisrono.

Belajar Muhammadiyah

Panitia Penyelenggara H Ahmad Farid menyampaikan, acara yang digelar 5 tahunan ini akan memilih kepengurusan Cabang NU Kabupaten Wonogiri masa bakti 2014-2019 dan merumuskan paradigma baru dalam merespon perubahan-perubahan sosial yang ada dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang bersih dan bermartabat.

Sementara itu, Ketua PWNU Jateng Abu Hafsin dalam pengarahannya merasa bangga atas keberhasilan NU di Kabupaten Wonogiri yang dalam kurun waktu 20 tahun ini telah tumbuh berkembang dengan pesat.

“Dulu tahun 1994 saya datang ke Wonogiri tidak pernah ada konferensi, ketua syuriah dan tanfidziah dirangkap satu orang, MWC hanya berupa majelis taklim dan belum ada pengurus di tingkat ranting, sekarang perkembangan NU di Kabupaten Wonogiri sudah sangat besar. Jika dilihat dari faktor geografis dan budayanya, saya yakin Kabupaten Wonogiri ini akan lebih cocok berdampingan model Islam NU yang bisa berjalan sejajar dengan tradisi budaya Wonogiri,” terangnya.

Menurut Abu Hafsin, kecocokan ini disebabkan karena Islam NU adalah islam yang inklusif bukan Eksklusif. Yang artinya Islam yang sangat toleran dengan budaya lokal yang tidak begitu saja mengatakan bid’ah dan musyrik terhadap segala sesuatu.  (Yuni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Kajian, News Belajar Muhammadiyah

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Beberapa hari yang lalu PBNU meresmikan Gerakan Nasional Ayo Mondok di kantor PBNU, Jakarta. Gerakan Ayo Mondok yang dimotori Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) itu telah berhasil menarik perhatian para pengguna di dunia maya, bahkan sempat menjadi trending topic teratas di Twitter.

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan

Gerakan Ayo Mondok berawal dari keresahan masyarakat yang bingung memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya, termasuk memilih pesantren yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Sering kali para orang tua terjebak kepada pesantren non-Aswaja. "Bukan saja pesantren non-Aswaja tapi ‘pesantren’ sekarang ini sebagian menjadi sarang terorisme," jelas Ketua Pengurus Wilayah RMINU Jatim H Reza Ahmad Zahid saat dihubungi Belajar Muhammadiyah, Kamis (4/6).

Belajar Muhammadiyah

Untuk menghindari gerakan radikalisme atau liberalisme yang terjadi di pesantren, PW RMINU Jatim mendukung gerakan nasional yang diresmikan di kantor PBNU awal Juni lalu.

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan, RMINU Jatim pada bulan suci mendatang akan mengadakan safari Ramadlan. Sekolah negeri akan menjadi sasaran dan akan diisi oleh para santri dari berapa pesantren. "Target kita untuk masa percobaan ini hanya lima pesantren. Salah satu pesantren yang pasti adalah Lirboyo, Kediri," jelas Gus Reza, sapaan akrabnya.

Setelah masa percobaan itu, dari sekian pesantren yang menjadi anggota RMINU Jatim diharapkan bersedia menjadi tempat dan memfasilitasi para calon santri.  "Para santri nanti akan kami arahkan ke pesantren yang sesuai dengan ajaran Aswaja," lanjut Gus Reza.

Rencananya, gerakan nasional Ayo Mondok akan ditegaskan kembali di Mukramar ke-33 NU di Jombang mendatang. (Rofi’i Boenawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kajian Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Aqiqah Bayi yang Meninggal

Fitroh perempuan adalah mengandung dan melahirkan seorang bayi. Terkadang seoarang ibu mengandung selama Sembilan bulan, terkadang lebih, terkdanag juga kurang. Selama itu pula orang tua dengan amat sabar menunggu dan menanti kehadiran sang bayi.

Berapapun umur kandungan itu, ketika telah terlahir ke dunia dianjurkan (sunnah) bagi kedua orang tuanya untuk memberikan nama, aqiqah dengan dua ekor kambing bila sang bayi laki-laki dan satu ekor bila perempuan.

Aqiqah Bayi yang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Aqiqah Bayi yang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Aqiqah Bayi yang Meninggal

Namun demikian terkadang takdir menentukan lain. Proses persalinan adalah perjuangan bagi kaum perempuan. Tidak jarang sang ibu merelakan nyawanya demi sang bayi, ataupun malah keduanya tidak dapat meneruskan nikmatnya kehidupan dunia. Lantas apakah masihkan disunnahkan memberikan nama dan beraqiqah kepada bayi yang sudah meninggal? 

Mengenai hal ini Kitab Fatawa Isma’il Zain menerangkan dengan dua rincian pertama, jika bayi itu tidak pernah lahir di dunia (meninggal dalam kandungan) maka tidak ada anjuran memberikan aqiqah dan nama.  Namun, jika bayi tiu sempat menghirup kehidupan setelah dilahirkan meskipun hanya beberapa saat maka disunnahkan bagi orang tuanya untuk memberikan nama dan aqiqah kepadanya.



Belajar Muhammadiyah

فلا تسن تسمية للجنين ولا عقيقة عنه، والتسمية إنما تسن في حق المولود وكذلك العقيقة لا تسن إلا عن المولود

Belajar Muhammadiyah

Tidak disunahkan memberi nama bagi janin, begitu juga aqiqah, karena memberi nama dan aqiqah hanya disunahkan bagi anak bayi yang telah terlahir kedunia



أما ما دام في بطن أمه ومات في بطنها ودفن معها، فلا تسن له تسمية ولا عقيقة

Sedang untuk janin yang maninggal dalam kandungan ibunya, lalu dikuburkan bersama ibunya maka tidak disunahkan memberikan nama dan aqiqah bagi janin tersebut.

(Pen.Fuad H. Basya/Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Kyai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara

Wartawan Belajar Muhammadiyah Ahmad Asmu‘i menemui Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang KH Adib Bisri Hattani (Gus Adib) di jalan KH Bisri Mustafa, Leteh, Kabupaten Rembang. Keduanya terlibat dalam diskusi seputar wajah Islam Nusantara. Berikut ini petikan dialog keduanya.

Gus, apa yang menyebabkan perbedaan Islam Nusantara dan Islam di Timur Tengah?

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara

Sebetulnya banyak hal yang membedakan antara Islam di Nusantara dan negara Islam yang ada di Timur Tengah. Lebih tepatnya letak geografis juga berpengaruh terhadap pola perkembangan dan sifat-sifat keagamaan dari satu negara satu ke negara yang lain.

Meskipun kemudian tidak sampai perbedaan itu membawa hal yang asasi. Hal yang asasi misalnya shalat, kewajiban shalat. Setiap umat Islam di berbagai negara semua sama dalam hal shalat. Hal asasi lainya seperti zakat, dan sebagainya. Tidak ada yang berbeda.

Belajar Muhammadiyah

Dalam perkembanganya kemudian ada hal-hal yang menjadi berbeda dengan Islam yang ada di Nusantara. Misalnya ketakziman terhadap ulama, penghormatan terhadap guru, dan penghormatan terhadap orang lain.

Belajar Muhammadiyah

Dalam hal penghormatan budaya Islam di Nusantara memberikan pembelajaran adat ketimuran kepada generasi muda. Contoh tatakrama antara murid dan seorang guru. Misalnya ada seorang murid mempunyai guru yang bernama amin. Etikanya si murid memanggil gurunya dengan sebutan “Pak Amin?”

Lalu yang benar seperti apa Gus?

Yang benar etika seorang santri dan murid memanggilnya harus “Pak Guru”, bukan “Pak Amin.”

Siap yang mengajarkan etika santri seperti itu Gus?

Ini sudah menjadi tradisi sejak zaman Syekh Hasyim Asyary. Jadi ini merupakan budaya dan tradisi NU.

Apa saja yang membuat Islam di Nusantara dan Timur Tengah tampak berbeda?

Ada banyak hal yang membedakan Islam di Nusantara dan di Timur Tengah. Contoh yang membedakan Islam di berbagai belahan dunia di antaranya sifat-sifat kesukuan, sifat kekabilahan, dan beberapa lainya. Ini yang membuat Islam terasa berbeda di belahan dunia bahkan antarnegara.

Di Timur Tengah kedua sifat ini sangat mempengaruhi gaya beragama yang ada di sana.

Yang paling menonjol membedakan Islam di Nusantara dan yang ada di Timur Tengah Gus?

Ini yang sangat penting yaitu cara pengelolaan konflik di suatu Negara Islam. Nah ini yang menjadi penting yang membedakan negara Islam di Nusantara dan di Timur Tengah adalah bagaimana mengelola suatu konflik.

Kenapa demikian Gus?

Model pengelolaan konflik di Timur Tengah dianggap sebagai konflik agama. Misal Islam, Syiah versus Suni dan lain sebagainya. Kemudian orang yang tidak memahami kondisi di Timur Tengah menganggap bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik agama.

Orang kemudian mencari alternatif Islam yang lain karena salah pemahaman. Padahal konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah murni konflik politik membawa nama agama.

Apakah gaya beragama dari Timur Tengah dapat diterapkan di Nusantara seutuhnya Gus?

Tidak, karena gaya beragama Islam yang ada di Timur Tengah hari ini belum tentu semurni apa yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW tempo dulu.

Apa ketidakmurnian ini salah?

Tidak, ini sunatullah. Ini sudah terjadi dan merupakan proses yang sejak awal sudah diantisipasi oleh kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sejak dini Rasulullah Saw sudah memberikan batas-batas.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Kajian, Kyai Belajar Muhammadiyah

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Demi meningkatkan kulitas peserta didik baru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tholabul Hidayah Toblongan Kecamatan Bojongasih Kabupaten Tasikmlaya ini bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Tasikmlaya kenalkan dan Tanamkan Aswaja NU Sejak dini.

Kegiatan ini dimulai dari saat Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) di MTs pertama di Desa Toblongan, Senin-Jumat (18-23/07) di MTs Tholabul Hidayah, langsung dipandu oleh Tim Fasilitator dari PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya.

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Kepala Sekolah MTs Tholabul Hidayah Eris Zamzmam Noor saat ditemui di Kantor MTs Jumat (23/07) menuturkan bahwa Agenda pengenalan NU sejak dini ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Peserta didik di MTs ini khususnya dan masyarakat Toblongan pada umumnya.

“Pelajar kita harus didik kenalkan dan tanamkan jiwa Ke NU annya sehingga pemuda di masa yang akan datang dengan karakter yang berkualitas karena sudah mengenal perjuangan para ulama. Disamping itu penanaman jiwa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga kita prioritaskan sebagai aqidah kita,” ujar Eris.

Perjuangan Pelajar NU ini merupakan gerbang awal di Nahdlatul ulama, dan sangat penting untuk mengenalkan dan mengawal pelajar NU di masa dini, untuk bisa menjadikan kader-kader yang potensial.

Belajar Muhammadiyah

Tim Fasilitator PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya Ilyas Nuryasin mengatakan, IPNU Kabupaten Tasik di masa Orientasi awal tahun pelajaran ini berusaha bersilaturahmi dan merekrut anggota baru di banyak sekolah di Kabupaten Tasikmlaya dengan bantuan pengurus PAC di seluruh Kabupaten Tasikmalaya.

“Kami berharap program ini sebagai ajang silaturahmi kader IPNU dari berbagai tingkatan sampai tingkat komisariat. Road show di masa orientasi ini sebagai bentuk silaturahmi ke sekolah-sekolah. Ke depan kita akan Road Show ke Pesantren di 39 Kecamatan di Tasikmalaya,” terang Eris. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian, Sejarah, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Tangerang  Selatan, Belajar Muhammadiyah. Mahasiswa Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menginisiasi program yang mereka sebut dengan Program Dokter Santri Cerdas. Program ini merujuk pada kepeloporan kesehatan masyarakat berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah dr. Ahmad Zaki menyatakan, perlu format institusi pendidikan kedokteran yang lebih akomodatif dan representatif untuk dapat mengakomodasi semua masalah dan tantangan terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

“Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta yang mengedepankan integrasi ilmu kedokteran, keislaman, dan keindonesiaan dalam sistem kurikulumnya, menggagas program Dokter Santri Cerdas,” kata dr Zaki pada seminar terkait dunia kedokteran menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN di auditorium utama Harun Nasution kampus setempat, Rabu (2/12).

Belajar Muhammadiyah

Program Dokter Santri Cerdas (DSC) ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran UIN Jakarta. Program sebenarnya telah dilaksanakan di sejumlah pesantren di Jawa Barat antara lain pesantren Internasional Jagat Arsy Tangerang, pesantren Suryalaya Ciamis, pesantren Babakan Ciwaringin, dan Buntet Pesantren di Cirebon.

Belajar Muhammadiyah

Hal ini diamini oleh dua inisiator program DSC Aditya Adji dan Jiddi Adibia, yang menghadirkan santri dari Pesantren Jagat Arsy sebagai pihak yang mengawali program tersebut.

“Kami berharap program ini menjadi program nasional, dan mampu menaungi seluruh pesantren di Indonesia,” ujar Jiddi, mahasiswa kedokteran UIN Jakarta angkatan 2010.

Seminar nasional dan peluncuran program Dokter Santri Cerdas ini mengundang pembicara pakar bisnis dari ITB Prof Rahardjo Ramelan, Sekretaris Jenderal PB Ikatan Dokter Indonesia dr Adib Khumaedi Sp.OT, serta pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Prof Hikmahanto Juwana.

Dalam seminar ini mereka membahas langkah-langkah penting seorang pemuda juga tantangan dokter dalam persaingan dengan tenaga kerja dari negara-negara di ASEAN.

Rahardjo Ramelan dalam materinya menyebutkan, “Dalam menghadapi MEA yang penuh tantangan ini, semangat bangkit dan berkembang harus mulai dari diri pemuda itu sendiri.” (M Iqbal Syauki/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Pasuruan, Belajar Muhammadiyah. Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menghadiri Haul Al-Arif Billah KH Abdul Hamid Pasuruan pada (21/12). Ia disambut PCNU Kota Pasuruan dengan mengadakan kegiatan bertajuk "Silaturahim PBNU dengan Pengurus NU se-Pasuruan Raya".

Silaturahim yang berlangsung di aula PCNU Kota Pasuruan tersebut dimulai dengan pembacaan istighosah dipimpin Rais Syuriyah PCNU Kota Pasuruan KH Said Kholil. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari ketua PCNU Kota Pasuruan KH Halim Masud.

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Dalam taushiyahnya, KH Maruf Amin menyampaikan, prioritas kegiatan pokok pengurus NU. Pertama, adalah penguatan Aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyah.

Belajar Muhammadiyah

Islam Nusantara, kata dia, yang menjadi perbincangan ramai di masyarakat, sebenarnya adalah sebuah kemasan dengan isi Islam Ahlusunnah wal jamaah An Nahdliyah. “Jadi, bukan aliran baru seperti banyak dituduhkan oleh pihak yang tidak mau bertabayun,” tegasnya.

Dengan corak dakwahnya yang santun dan teduh, lanjut Kiai Ma’ruf, Islam Nusantara diharapkan menjadi solusi atas problematika bagi dunia Islam dewasa ini.

Belajar Muhammadiyah

Kedua, adalah perbaikan dan pemberdayaan jam’iyah dengan prinsip aktif, dinamis, kreatif. Hal itu dilakukan secara berkelanjutan di semua bidang dengan menggalakkan pada sektor ekonomi dan pendidikan.

“Untuk mewujudkan tujuan NU maka diperlukan konsolidasi organisasi dan semangat ke-NU an,” pungkasnya.

Rais Aam menegaskan bahwa NU tidak boleh sekedar besar jumlahnya tetapi kecil perannya. NU harus besar jumlahnya dan besar pula perannya. Maka yang perlu ditingkatkan adalah semangat ke-U-an yang akan mengembalikan kejayaan NU sebagaimana di tangan para pendirinya. 

Acara ini dihadiri para pengurus PCNU Kota Pasuruan dan PCNU Kabupaten Pasuruan dengan dipandu cucu Almaghfurlah KH Abdul Hamid, Muchamad Nailur Rohman. (zulkarnaian mahmud/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Anti Hoax, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya

Rembang, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Sulang, Rembang, Jawa Tengah satu bulan terakhir giat melakukan kaderisasi di desa-desa di Kecamatan Sulang. Terbukti dengan terbentuknya kepengurusan baru di Ranting Pomahan dan Ranting Pedak.

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya

Untuk mempererat tali silatirahmi antar anggota IPNU-IPPNU se Anak Cabang Sulang, pengurus mengadakan kegiatan napak tilas dan ziarah di petilasan Sunan Bonang dan Makam Putri Campa. "Napak tilas dan ziarah ini merupakan salah satu upaya dari pimpinan anak cabang Sulang untuk menjaga keutuhan silaturahmi antar anggota PAC dan Pimpinan Ranting,” ungkap Rohmad, Ketua Panitia kegiatan.

Rangkaian napak tilas dan ziarah diawali dari Maqom Sunan Jejeruk, Wisata Watu Layar, Pasujudan Sunan Bonang dan terakhir di Maqom Putri Campa.

Sanuri, Pembina IPNU Sulang juga turut mendampingi napak tilas dan ziarah yang dilaksanakan pada hari Ahad, 4 september 2016. Menurutnya kegiatan seperti diniati untuk ngalap berkah kepada para wali Allah SWT yang telah menduhului.?

Belajar Muhammadiyah

“Ziarah ke Makam para Auliya sebagai pengingat kembali semangat dakwah para auliya khususnya Sunan Bonang yang telah menyebarkan agama islam di wilayah Lasem, Tuban dan sekitarnya kala itu dan menjadi momentum menyemarakkan datangnya Hari Raya Idul Adha 1437 H untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT," jelasnya.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 150 pengurus dari Pimpinan Ranting Kaliombo, Glebeg, Kunir, Tanjung, Pragu, Seren, Pedak, Landoh, Kebonagung, dan Pimpinan Komistariat SMK An-Nuroniyyah Kemadu. "Saya rasa kegiatan semacam ini sangatlah bermanfaat dan mengasyikan, dan saya juga baru pertama kali ke sini," ungkap anggota IPNU, Khoirul Ummah salah satu siswa SMK Annuroniyyah Kemadu. (M. Ulin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, News, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Setelah melalui proses penyusunan beberapa bulan, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) akhirnya menerbitkan buku panduan untuk para guru. Karya tulis ini dipengantari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan diberi judul “Membumikan Aswaja, Pegangan Para Guru NU”.

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Terbitkan Buku Aswaja untuk Guru

Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim, yang juga penyusun utama buku, Rabu (27/6) menyatakan, buku setebal 260 halaman tersebut memang diterbitkan pihaknya bulan Juni ini. Penerbitan buku menjadi bagian dari upaya pembinaan keaswajaan peserta didik di lingkungan sekolah.

Pergunu beranggapan, guru merupakan ujung tombak NU dalam menjaga dan membumikan eksistensi ajaran Aswaja hingga di masa yang akan datang. Peserta didik perlu dibina sejak dini, agar terpelihara dari penetrasi ideologi agama yang tidak sehat.

Belajar Muhammadiyah

Penetrasi ideologi disadari telah masuk ke sejumlah tempat. Tak hanya di tempat ibadah, seperti masjid-masjid, ekstemisme juga menyusup di tempat pendidikan, tak terkecuali di sekolah-sekolah berbasis Nahdliyin.

Rencananya, buku akan disebar ke lembaga pendidikan NU di seluruh Indonesia. Para guru diharapkan memperoleh masukan berharga dan mampu mengimplementasikannya di lembaga pendidikan setempat.

Belajar Muhammadiyah

“Guru merupakan agent of change. Kalau gurunya sudah terpengaruh, bagaimana dengan murid-muridnya. Maka perlu ada usaha untuk mengentalkan lagi warna tradisi Nahdliyin,” kata Ketua PP Pergunu H Rudolf Chrysoekamto secara terpisah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Lampung Tengah, Belajar Muhammadiyah

Sebagai salah satu kabupaten yang cukup luas di provinsi Lampung, yang terdiri dari 28 kecamatan, potensi pelajar Nahdliyin di Kabupaten Lampung Tengah harus diberdayakan secara maksimal, yakni dengan mengenalkan organisasi Nahdlatul Ulama sejak dini ketika mencari ilmu di madrasah atau sekolah.

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) Kabupaten Lampung Tengah Andi Sobihin, di sela-sela menyampaikan materi ke-IPNU-an dalam agenda Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun pelajaran 2017/2018 di Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Madrasah Aliyah 14 Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, (19/7).

“Jajaran pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Lampung Tengah mengawal MOPDB ini di beberapa komisariat, dengan menjadi pemateri khususnya tentang ke-IPNU-an dan ke-IPPNU-an, seperti di Kecamatan Seputih Banyak, Bumi Nabung, Kotagajah, Punggur, Seputih Raman, Bangunrejo, Rumbia, Seputih Surabaya dan lain-lain,” imbuh alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurai Siwo Kota Metro ini.

Belajar Muhammadiyah

Shinta Nur Baitu selaku Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Lampung Tengah menegaskan, agenda MOPDB ini sangat penting bagi kader-kader pelajar Nahdliyin yang baru saja duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs) atau sederajat, khususnya yang ada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah.

“Dan yang tak kalah penting adalah pelajar NU harus menjadi contoh bagi pelajar-pelajar yang lain, melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah di lingkungannya, sekaligus jangan gampang tergoda dengan fasilitas teknologi informasi, zaman globalisasi saat ini harus sangat hati-hati,” imbuh mahasiswi Institut Agama Islam Ma’arif? Nahdlatul Ulama (IAIM NU)? Kota Metro ini. ?

Belajar Muhammadiyah

Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, mengawali agenda MOPDB, Rabu (19/7)? dengan menonton film “Sang Kiai” di Aula madrasah setempat yang diikuti oleh 209 siswa/siswi.

Anirotul Hikmah selaku Ketua PK IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah mengatakan, dengan menonton film “Sang Kiai” harapan kami adik-adik/kader-kader pelajar NU yang masih duduk di kelas I atau VII mengerti dan memahami sejarah perjuangan dan pengorbanan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam menghadapi para penjajah sekaligus membesarkan jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Kajian, Habib Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah

Oleh KH Zakky Mubarak

Ketika para jamaah hendak meninggalkan kota suci Makkah, seusai melaksankan ibadah haji, mereka melakukan thawaf perpisahan yang disebut thawaf Wada’. Rasa haru dan sedih, perasaan bangga dan bersyukur biasanya mewarnai perasaan setiap jamaah yang melakukan thawaf perpisahan itu. Tanpa terasa tiba-tiba air mata mengalir dengan derasnya sebagai ekspresi dari suatu keadaan yang tidak mungkin dapat dilukiskan dengan perkataan. Perpisahan biasanya merupakan suatu yang mengharukan dan mengesankan, kita merasa sangat berat menghadapi peristiwa itu, tetapi ia harus terjadi, sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Wada’, Momen Perpisahan Rasulullah

Dalam sejarah kehidupan Rasul Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam dikenal adanya haji wada’, yaitu ibadah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi sebagai haji perpisahan. Dalam ibadah haji itu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menerima wahyu yang menjelaskan kesempurnaan agama Islam, sebagai agama yang diridhai oleh Allah, demikian juga karunia nikmat Allah telah dianugrahkan kepada Nabi dan umatnya secara lengkap dan sempurna. Wahyu itu terdapat dalam surat al-Maidah ayat 3:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapi karunia nikmat-Ku atasmu serta telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maidah: 3)

Belajar Muhammadiyah

Dengan demikian sempurnalah agama Allah, agama Islam yang dibawa Rasul Muhammad. Karunia nikmat Allah telah diberikan kepada Nabi dan umatnya pada waktu itu. Karunia itu demikian agung dan menyeluruh, sehingga dapat mengantarkan kesuksesan yang sempurna bagi perjuangan para pembela kebenaran. Tugas risalah Nabi hampir selesai, perjalanannya telah dekat ke arah tujuan, dimulai dari kota Makkah sampai kota Madinah. Rasulullah bersama para sahabatnya telah menyalakan pelita yang menyinari seluruh umat manusia yaitu berupa kebenaran dan petunjuk. Sinar kebenaran agama Ilahi akan terus menyala, tidak akan pudar dan padam untuk selama-lamanya. Risalah telah dilaksanakan, amanat suci telah disampaikan, agama Allah menjadi jaya dan mulia.

Dalam haji wada’ itu ketika Nabi masih berada di Mina, Nabi telah merasakan adanya saat-saat perpisahan dengan umat yang dicintainya, tugas yang agung itu hampir selesai. Turunlah kemudian surat terakhir secara lengkap dari Al-Qur’an yang disebut dalam surat al-Nashr :

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mohonlah ampun pada-Nya. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima Taubat”. (QS? al-Nashr: 1-3)

Ayat tersebut di atas mengisyaratkan tentang akan adanya hari perpisahan, yaitu ketika Nabi telah melaksanakan risalahnya yang dilakukan selama bertahun-tahun, pada saat itu telah menampakkan hasil yang memuaskan. Pertolongan Allah telah datang dengan terbukanya kota Makkah menjadi wilayah kaum Muslimin. Agama Islam berkembang dengan pesatnya, terus menyebar ke berbagai penjuru di seluruh Jazirah Arab. Dijumpailah manusia berbondong-bondong masuk kedalam agama yang agung itu. Pensyahadatan massal dilakukan dimana-mana, kejayaan agama akhir zaman itu tidak dapat dihalang-halangi atau ditangguhkan lagi.

Setelah agama itu sempurna, Nabi telah menunaikan tugasnya dengan segala ketabahan dan kesabaran. Beliau telah membimbing umat manusia dari kegelapan kejahilan menuju cahaya kebenaran, maka hari perpisahan dengan umatnya tidak akan lama lagi. Dalam haji wada’ itu, dihadiri kira-kira 150.000 jamaah dari berbagai lapisan kabilah Arab, suku-suku dan kaum muslimin dari bangsa lain. Pada saat itu Nabi mengumpulkan mereka, dan beliau menyampaikan pidato perpisahan yang amat mengharukan. Nabi mengatakan dalam khutbahnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Wahai saudara-saudaraku, dengarlah dengan baik kata-kataku ini, sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian dalam suasana seperti ini untuk selama-lamanya”.

Ucapan Nabi yang tidak diduga-duga oleh para sahabat, satu hal yang mereka belum mempersiapkan diri untuk menerimanya, untuk menyambut dan menghadapi kenyataan itu. Mereka seolah-olah ditarik dari suasana yang menggembirakan dan menyenangkan kepada suasana yang mengharukan dan menyedihkan. Mereka terpaku dengan ucapan Nabi: “...barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian dalam suasana seperti ini untuk selama-lamanya”. Kejutan itu tidak dapat mereka suarakan dengan keras dengan teriakan yang berulang-ulang atau dengan tagisan yang sedu sedan. Mereka hanya mampu mengemukakan isi hati mereka yang diliputi rasa duka yang mendalam, bercampur rasa haru yang mencekam, dengan linangan air mata, maka berlinanglah air mata semua hadirin membasahi wajah mereka.

Di antara pidato perpisahan Nabi yang diungkapkan waktu itu adalah :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya darah dan hartamu haram bagimu satu dengan yang lain kecuali dengan jalan yang sah, sampai kamu sekalian berjumpa dengan Allah, sebagaimana keharaman atasmu pada harimu ini, pada bulanmu ini dan di negerimu ini. Kamu semua akan berjumpa dengan Allah, kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang amal perbuatanmu. Saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan hal itu kepadamu. Siapa yang menyimpan amanat seorang dari kalian hendaklah amanat itu ditunaikan kepada yang mengamanatkannya....”.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diselenggarakan di Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Bababakan Ciwaringin, Cirebon, secara resmi ditutup oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kamis (27/4).

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama

Sebelumnya, Lukman dalam sambutan penutupnya menyampaikan tentang poin-poin yang dicatat setelah menyimak pembacaan musyawarah agama, dan rekomendasi kongres dari peserta.

“Setidaknya saya mencatat tiga hal makna strategis dari kongres ulama perempuan Indonesia ini,” katanya.

Pertama, kongres ini telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran dan peran relasi hubungan laki-laki dan perempuan.

Belajar Muhammadiyah

“Ini adalah isu yang senantiasa dan bahkan menurut hemat saya saat ini dan ke depan semakin mempunyai urgensi dan relevansi yang tinggi,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

Kedua, kongres ini juga telah mampu melakukan tidak hanya rekognisi (pengakuan) tapi juga revitalisasi terhadpa peran ulama perempuan sejak zaman Siti Aisyah sampai terus di Indonesia ini. Dan yang tidak kalah pentingnya, katanya, adalah membangun jaringan. 

“Sehingga jaringan ulama perempuan dengan kongres ini bisa terbangun dan terus dikembangkan,” ujar suami Trisna Willy ini.

Belajar Muhammadiyah

Ketiga, kongres ini telah berhasil meneguhkan sekaligus menegaskan bahwa moderasi Islam itu harus senantiasa kita kedepankan, yaitu Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, Islam yang menebarkan kemaslahatan bagi sesama. 

Menurutnya, ulama perempuan telah mengambil posisinya yang amat strategis melalui kongres ini dengan menghadirkan isu-isu moderasi Islam.

“Sehingga peradaban dunia di mana nilai-nilai Islam diharapkan bisa  memberikan kontribusi dan sumbangsihnya tetap mampu kita jaga, kita pelihara, kita rawat bersama dan kita kembangkan dimasa-masa mendatang,” ujar pria 54 tahun ini. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Kajian, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Kondisi dunia Islam belakangan ini semakin memprihatinkan dengan banyaknya konflik, terutama di kawasan Timur Tengah, yang kemudian menimbulkan problem pengungsi di seantero dunia. Kekerasan di kawasan tersebut juga menjadi ajang pelatihan “terorisme” bagi kelompok-kelompok Islam garis keras. Tak heran, berbagai tindakan bom bunuh diri dan radikalisme menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Indonesia beberapa waktu lalu juga mengalami teror “Bom Thamrin” yang pelakunya merupakan militan yang bergabung dengan kelompok garis keras di Suriah. Problem tersebut bukan hanya urusan dalam negeri masing-masing negera, tetapi telah menjadi masalah bagi banyak negara.

Tentu kita prihatin dengan kondisi tersebut. Kita bisa mengelak bahwa itu bukan ajaran Islam, tetapi fakta bahwa para pelaku radikalisme beragama Islam atau negara-negara yang sedang mengalami konflik merupakan negara dengan penduduk Muslim mau tidak mau harus diakui, ada persoalan dalam tubuh Islam. Dengan mengakui adanya persoalan tersebut, kita bisa mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan, daripada menyalahkan pihak luar dengan teori konspirasi, penjajahan, atau hal lainnya dan menilai, tak ada yang salah dengan dunia Islam.

Salah satu persoalan yang muncul adalah tafsir tekstual atas ajaran-ajaran Islam yang menjadi legitimasi dilakukannya kekerasan oleh sekelompok orang. Di sinilah Nahdlatul Ulama, dengan praktik Islam moderat, yang kini diusung dengan tagline Islam Nusantara bisa memberi sudut pandang lain bahwa Islam adalah agama yang damai, yang mampu berdampingan dengan kelompok lain, yang mampu mengembangkan peradaban, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Sebagai upaya untuk menawarkan nilai Islam moderat ke kawasan dunia lain ini, NU menyelenggarakan forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) pada 9-11 Mei di Jakarta. Dalam pertemuan ini, para ulama moderat dari berbagai dunia bisa belajar dan mencari inspirasi bagaimana Indonesia yang mayoritas Muslim bisa hidup dengan damai dengan prinsip Pancasila.

Sementara itu Islam Nusantara adalah sebuah prinsip penghargaan terhadap nilai-nilai lokalitas. Bahwa prinsip Islam paling mendasar adalah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, keadilan, menjaga kepercayaan, dan lainnya. Dalam prakteknya, nilai-nilai tersebut diwujudkan sesuai dengan kondisi lokalitasnya masing-masing. Apa yang gagal dipahami saat ini adalah mengaitkan bahwa Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam, padahal banyak kondisi yang sangat berbeda. Dengan prinsip seperti ini, tak heran, untuk tampak sebagai Muslim yang baik, harus berpakaian ala Arab, berbicara kearab-araban, dan terutama menganggap tafsir Islam ala Arab sebagai yang paling benar. Di sinilah, NU ingin menunjukkan ragam Islam lain, yang paling pas dalam dunia kekinian yang semakin terhubung antara satu tempat dan tempat lain di seluruh dunia, yaitu Islam moderat yang menghargai keberagaman.

Faktor lain dari permasalahan yang dihadapi dunia Islam adalah lemahnya kepemimpinan negara. Negara seperti Irak dan Afghanistan mengalami konflik berkepanjangan karena pemerintahan yang lemah, yang tidak mampu negara dengan baik. Indonesia, dengan keberadaan ormas besar seperti Nahdlatul Ulama, mampu menjadi penopang dan salurah aspirasi masyarakat atas berbagai persoalan yang terjadi sehingga masalah tidak diselesaikan dengan cara-cara kekerasan.

Pada akhirnya, dunia Islam harus cepat berbenah untuk mengejar ketertinggalan sebagaimana tercermin dalam berbagai indikator yang tiap tahun dirilis seperti indeks pembangunan manusia, indeks korupsi, indeks negara gagal, dan lainnya yang selama ini selalu menempatkan negara-negara Muslim dalam urutan bawah. Pertemuan internasional, baik yang digagas oleh pemerintah dalam bentuk diplomasi antarnegara atau pertemuan yang digagas oleh masyarakat dalam bentuk second track diplomacy, bisa menjadi ajang saling belajar untuk kemajuan bersama. Dunia Islam dapat belajar dari Islam moderat di Indonesia. Demikian pula, Indonesia dapat belajar hal lain dari berbagai kawasan dunia Islam yang akhirnya secara bersama-sama akan menciptakan sebuah peradaban Islam yang maju, (Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Syariah, Kajian Belajar Muhammadiyah

Rabu, 15 November 2017

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Pada acara perhelatan Konferwil Fatayat NU DIY ke-XI, Sabtu-Ahad (25/26), paduan suara dari MTs Binaul Ummah membakar semangat nasionalisme dan semangat ke-NU-an peserta yang hadir. Ada tiga lagu yang ditampilkan oleh paduan suara MTs Binaul Ummah yakni Mars Syubbanul Wathon, Mars Fatayat dan Syi’ir NU.?

“Indonesia negeriku, engkau panji martabatku, siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu. Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu!, demikian salah satu lirik Mars Syubbanul Wathon karya Kiai Wahab Hasbullah yang menggetarkan arena Konferwil Fatayat ke-XI.?

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)
Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

Selain menyanyikan lagu bernafaskan nasionalisme, mereka juga menyanyikan syi’ir NU yang secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada para peserta yang hadir tentang NU dalam acara pembukaan Konferwil Fatayat tersebut.?

Tahun 26 laire NU. Ijo-ijo benderane NU. Gambar jagad simbole NU. Bintang songo lambange NU,” ujar mereka kompak.?

Pelatih paduan suara sekaligus guru di MTs Binaul Ummah, Heri Kiswanto mengungkapkan bahwa hanya butuh waktu latihan selama tiga minggu dan delapan kali tatap muka.?

Belajar Muhammadiyah

“Sebenarnya siswa memiliki potensi yang bagus dalam hal seni olah suara. Saya berharap ke depan, para siswa diberikan ruang lebih banyak untuk belajar musik,” tegas Heri.?

Sebagai pelatih, Heri juga menegaskan kagum dengan lagu Syubbanul Wathan.?

Belajar Muhammadiyah

“Lagu Syubbanul Wathan bukan sekadar lagu biasa. Lagu tersebut termasuk lagu yang memiliki ruh yang dapat menggetarkan dan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme kaum santri, baik itu yang menyanyikan maupun yang mendengarkan lagu itu,” tandas Heri.?

Penampilan paduan suara MTs Binaul Ummah yang menyanyikan lagu bernapaskan nasionalisme mendapatkan apresiasi yang luas dari tamu undangan dan peserta yang hadir. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)?



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Olahraga, Kiai, Kajian Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Dhaka, Belajar Muhammadiyah



Koordinator Tim Delegasi Nahdhatul Ulama (NU) untuk Rohingya Muhammad Wahib menyebutkan, saat ini bantuan yang diberikan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh difokuskan pada makanan untuk ibu dan anak.

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

"Tahap pertama, kita fokus pada makanan ibu dan balita," kata Wahib di Dhaka, Ahad (24/9).

Hal itu dikarenakan jumlah angka kelahiran di kamp pengungsian begitu tinggi. Menurut Wahib, setiap bulannya ibu yang melahirkan berjumlah sekitar 160 orang. 

Oleh karenanya, jenis bantuan makanan untuk mereka memiliki jatah yang paling banyak. Tidak sedikit dari pengungsi Rohingya yang hamil dan melahirkan di tempat-tempat kamp pengungsian. Diprediksi, dalam beberapa bulan ke depan angka kelahiran juga akan tetap tinggi.

Selain itu, lanjut Wahib, bantuan obat-obatan, tenda, dan air serta sanitasi juga akan diserahkan kepada pengungsi pada tahap pertama ini. Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin bertambah, sementara tenda, toilet, dan sumber air begitu terbatas.

Belajar Muhammadiyah

Rencananya, Ahad, 24 September Tim Delegasi NU untuk Rohingya dan tim lainnya yang tergabung dalam Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) akan berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bangladesh. Sedangkan, besok akan bertolak ke Coxs Bazar untuk mempersiapkan pendistribusian bantuan kemanusiaan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Santri, Kajian Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock