Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. GP Ansor Banyuwangi bersyukur atas penetapan Hari Santri. Ratusan pemuda NU ini mengadakan apel akbar dan kuliah umum di Gedung Wanita, Banyuwangi, Ahad (25/10). Karenanya, halaman gedung yang beralamat di kelurahan Kepatihan, kecamatan Banyuwangi Kota, didominasi warna hijau dan loreng khas Banser. Mereka menyatakan komitmen untuk menjaga semangat kepemudaan.

Ketua GP Ansor Banyuwangi Sukron Makmun Hidayat mengimbau para kader Ansor untuk melandasi setiap gerak langkah dengan niat jihad. Sesuai dengan sejarah perjuangan para ulama dalam mencetuskan Resolusi Jihad.

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

"Kita harus mampu memberi suri teladan kepada seluruh masyarakat, keluarga dan adik-adik kita bahwa setiap langkah dan pergerakan kita selalu berlandaskan jihad, semangat keihklasan," tegas Sukron.

Belajar Muhammadiyah

Sukron juga mengucapkan rasa terima kasih kepada pemerintah Jokowi yang telah memberikan penghargaan terhadap Resolusi Jihad. Atas anugerah ini, ia berharap seluruh masyarakat Indonesia khususnya kader Ansor untuk terus bahu-membahu berjuang mengisi kemerdekaan.

"Langkah yang telah dilakukan kader Ansor dalam memerangi kebodohan, kemiskinan dan lainnya, harus terus dilakukan demi terwujudnya kesejahteraan di Indonesia," imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali mengajak seluruh kader Ansor untuk terus bersemangat dalam keikhlasan setiap pergerakan.

"Ansor itu tidak boleh melempem. Ansor harus terus bersemangat. Seperti para santri dan ulama di masa penjajahan, mereka terus berjuang dengan tulus ikhlas," ucapnya.

Di sela-sela acara yang mengusung tema “Menggerakan Kembali Ruh Perjuangan Ulama-Kiai” ini juga dilakukan pengukuhan pengurus Rijalul Ansor, majelis dzikir dan sholawat di tingkat cabang GP Ansor Banyuwangi. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Pemurnian Aqidah, Warta Belajar Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2018

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Sukabumi, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mengadakan apel akbar di lapangan Sekarwangi Kecamatan Cibadak Sabtu, (22/10). Dalam rangka memperingati Hari Santri tersebut, ribuan santri datang dari berbagai pelosok daerah Sukabumi.

Pada kesempatan tersebut, Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mendeklarasikan antinarkoba. Ketua Muslimat Nenah Herlina mengatakan, deklarasi ini adalah tindak lanjut dari hasil keputusan musyawarah Muslimat NU di Malang, Jawa Timur yang merekomendasikan memberantas narkoba di berbagai daerah.

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Adapun tindak lanjut setelah dideklarasikan tersebut, Muslimat NU akan mensosialisasikannya secara masif kepada masyarakat melalui pengajian-pengajian di majelis talim dari mulai tingkat kecamatan hingga tingkat desa.

Belajar Muhammadiyah

“Ini menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama melindungi terhadap generasi muda khususnya, umumnya semua warga yang ada di Sukabumi.

Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU KH Mahmud Mudrikah Hanafi, Ketua PCNU KH R. Abdul Basith,? Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, Ketua Majlis Ulama Indonesia KH M. Oman Komarudin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sukabumi H. Agus Mulyadi, Sekertaris Daerah H. Iyos Somantri. Mereka ikut membubuhkan tanda tangan di atas spanduk deklarasi antinarkoba tersebut. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Hadits, Hikmah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 13 Februari 2018

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

Medan, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Medan, Sumatera Utara, akan menyelenggarakan acara seminar dan bedah buku putih “Benturan NU-PKI 1948-1965” di Ruang IMT GT USU Medan, Selasa (23/9) besok.

Narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH Asad Said Ali; penulis buku putih tersebut yang juga Wasekjen PBNU, H Munim DZ; Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Dr Al-Zastrow Ngatawi; dan pembanding, Dr Budi Agustono, Pangdam I/BB Mayjend TNI Istu Hari S.

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

"Bedah buku ini merupakan sebuah bentuk kepedulian NU terhadap keutuhan NKRI, serta mengungkap tabir sejarah benturan NU dengan PKI dalam masa priode 1948-1965," kata Ketua PCNU Medan Achmad Firdausi Hutasuhut, didampingi Wakil Ketua Rais Syuriah Dr Wirman Tobing, Mustasyar NU Ir Zainal Arifin, dan Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Medan Fakhrul Ihsan Sahri, di Kantor PCNU Medan, Jalan Palang Merah No 80 Medan.

Belajar Muhammadiyah

Wirman Tobing menegaskan, seminar dan bedah buku tersebut terbuka untuk umum. "Kepada masyarakat umum kita harapkan hadir untuk mengetahui sejarah tentang benturan NU dan PKI," ujarnya.

Rencananya, acara akan dibuka oleh Walikota Medan Drs T Dzulmi Eldin dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, dan tokoh eksponen angkatan 66. (Red: Mahbib Khoiron)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Hadits, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Susahnya Shalat Jumat di China

Tidak seperti di Tanah Air yang dengan sangat mudah menjumpai masjid untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat. Di China, asrama yang sempit bisa disulap menjadi masjid. Berikut pengalaman Bintang Ramadhan yang selama setahun tinggal di China. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya ini menceritakan kepada Belajar Muhammadiyah bagaimana pengorbanan untuk menjadi muslim di negara tirai bambu tersebut.

Semenjak tinggal di Wuhan China, baru sekali kami dari rombongan mahasiswa Unesa (Universitas Negeri Surabaya) shalat di masjid. Yakni ketika menjalankan ibadah Shalat Idul Adha. Masjid itu bernama "Wuhan Majiazhuang Qingzhensi” (wuhan = kota Wuhan, Majiazhuang = nama masjid Majiazhuang, qingzhensi = masjid).

Susahnya Shalat Jumat di China (Sumber Gambar : Nu Online)
Susahnya Shalat Jumat di China (Sumber Gambar : Nu Online)

Susahnya Shalat Jumat di China

Lokasinya berada di Guanggu Chuangye Street dekat dengan Guanggu Avenue dan Jiayuan Road. Jaraknya lumayan jauh dengan asrama kami tinggal, Huazhong University. Di sini Shalat Ied dimulai sekitar pukul 10.00 WC, beda dengan di Indonesia. Untuk bisa pergi ke masjid, kami diharuskan naik kendaraan. Itu lantaran selama di sini, kami tidak memiliki kendaraan pribadi seperti di Indonesia, sehingga selalu menggunakan kendaraan umum untuk bepergian. Awalnya kami berencana naik bus, tetapi karena takut terlambat, akhirnya naik taxi.

Setelah Shalat Ied, kami lebih sering shalat di dalam kamar. Pernah juga shalat di tanah lapang beralaskan rumput. Yakni saat pergi ke Moshan. Ketika itu kami melaksanakan Shalat Ashar bersama Abim dan temannya dari negara lain. Dia membawa sajadah dan sebotol air untuk berwudhu. Katanya berwudhu dengan satu kali bilasan sudah cukup. Wow, its amazing, baru pertama kali dalam hidup shalat seperti ini. Pengalaman baru dalam hidup.

Belajar Muhammadiyah

Pengalaman Shalat Jumat

Belajar Muhammadiyah

Pada kesempatan ini, khususnya untuk kawan-kawan NU di Tanah Air, saya ingin bercerita secara khusus tentang pengalaman menjalankan Shalat Jumat.

Boleh dikata kami mahasiswa muslim Indonesia kurang beruntung kuliah di sini, khususnya dalam hal pemenuhan ibadah. Karena masjid sangat jarang. Untuk bisa melaksanakan Shalat Jumat secara berjamaah, kami terpaksa menggunakan lokasi seadanya. Ada sejumlah mahasiswa dari negara Timur Tengah yang mengadakan Shalat Jumat di asrama saya. Lebih tepatnya berada di lantai paling atas yakni 13 di lorong bangunan tersebut.

Sekitar pukul 13.00 WC ibadah Shalat Jumat sudah dimulai. Ada pembagian tugas yang juga bertindak sebagai panitia. Dari sejumlah mahasiswa yang ada, sebagian bertugas menggelar karpet dan sajadah. Sedangkan mahasiswa lain mendapat tugas menyampaikan khotbah Jumat secara terjadwal. Mereka kadang menggunakan bahasa Inggris dan sesekali Arab.

Selama kegiatan berlangsung tidak ada pengeras suara. Cukup dengan suara sang khotib. Jika mereka menggunakan bahasa Inggris, mungkin saya bisa mengerti sedikit dari materi khotbah yang disampaikan. Tetapi jika menggunakan bahasa Arab, tentu saja saya tidak mengerti sama sekali. Maklum untuk bahasa yang satu ini saya kurang mendapatkan bekal selama studi di Tanah Air. Seandainya saja ada mahasiswa Indonesia yang mau menjadi penceramah dan berkhotbah menggunakan bahasa Indonesia, tentu akan sangat memudahkan jamaah untuk mendengarkan dan memahami isinya.

Para penghuni kamar non muslim yang tinggal di lantai 13 harus menghormati kami yang sedang beribadah. Sehingga mereka tidak boleh berisik maupun keluar masuk kamar. Mengadakan Shalat Jumat di sini sudah mendapatkan izin dari pihak pengelola asrama. Sehingga kami bisa melaksanakan ibadah Shalat Jumat dengan tenang dan khusyuk.

Para jamaah yang ikut Shalat Jumat ternyata bukan hanya mahasiswa muslim di kampus kami belajar. Ada banyak mahasiswa dari kampus lain yang ikut. Rata-rata mereka memang dari negara yang mayoritas muslim seperti Arab dan Timur Tengah. Pertimbangan utama mereka bergabung karena Shalat Jumat di asrama inilah yang paling dekat.

Sebelum berangkat tentunya kami harus berwudhu dahulu di kamar. Karena di sini tidak menyediakan tempat wudhu layaknya di Indonesia. Demikian juga dengan lokasi yang terbilang lumayan sempit. Jika ingin dapat tempat, ya harus datang lebih awal. Jika datang terlambat bisa tidak kebagian. Bahkan ada jamaah yang akhirnya menggunakan tangga sebagai tempat shalat.

Namun demikian, kami sangat beruntung karena selama di sini diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk terus melaksanakan ibadah. Tidak bisa dibayangkan jika di asrama tidak ada tempat untuk Shalat Jumat. Pasti setiap pekan kami diharuskan menuju Masjid Majiazhuang yang letaknya jauh dari asrama. Syukur alhamdulillah. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Hadits Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah

Makkah, Belajar Muhammadiyah?



Menteri Agama Lukman Hakim saifuddin bersama ribuan jemaah haji Indonesia menghadiri Silaturahim NU Sedunia di Mahbas Jin, Makkah. Silaturahim ini digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa NU Arab Saudi.

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah

Tampak hadir dalam silaturahim ini, KH Maemoen Zubair, KH Shalahuddin Wakhid, KH Agoes Ali Masyhuri, sejumlah Pengurus PBNU. Di hadapan ribuan warga Nahdliyyin yang hadir, Menag menegaskan kembali tentang komitmen dan kontribusi NU terhadap eksistensi NKRI.?

“NU sebagai jamiyah diniyyah islamiyyah dikenal paling besar komitmennya terhadap eksistensi NKRI karena ajaran yang dianutnya selama ini,” ujar Menag, Selasa (29/08) sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Di tengah kompetisi yang semakin ketat, Menag menilai ajaran pendahulu NU sangat relevan sebagai pondasi dalam membangun peradaban bangsa dan dunia.?

“Nilai yang selama ini diajarkan pendahulu kita semakin relevan. Ajaran tasammuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal semakin dibutuhkan,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Sehubungan itu, Menag mengajak warga NU untuk terus aktif menebarkan Islam dengan kearifan. Menurutnya, dalam menebarkan nilai-nilai NU, Nahdliyyin jangan ikut tergoda melakukan tindakan yang justru bertolak belakang dengan nilai itu sendiri.

“Menyebarkan ajaran Islam Nusantara tidak perlu dengan cara menyalah-nyalahkan paham atau ajaran lain yang berbeda dengan kita. Tebarkan ajaran itu sesuai nilai NU itu sendiri,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Menag menyambut baik agenda tahunan yang diselenggarakan PCI NU Arab Saudi. Menurutnya, kegiatan ini positif. Selain karena temanya relevan dengan perkembangan zaman, yaitu meneguhkan NKRI, pertemuan ini memberi peluang warga NU untuk bersilaturahim dan mendengarkan tausiah dari para ulama. ?

“Alhamdulillah tadi dihadiri KH Maemoen Zubair, KH Shalahuddin Wakhid, KH Agoes Ali Masyhuri dan banyak tokoh ulama selain dari PBNU dan dari berbagai kalangan,” tuturnya. “Ini sesuatu yang penting agar di tengah musim haji, warga NU bisa berkumpul dan bersilaturahim sambil mendoakan bangsa Indonesia senantiasa terjaga keutuhannya sebagai bangsa di tengah kemajemukan,” tandasnya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel. Tampil sebagai narasumber, antara lain: Yahya Cholil Tsaquf dan Rumadi Ahmad. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Humor Islam, Hadits Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak kepada warga NU untuk aktif berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 15 Februari 2017. Partisipasi ini dinilai penting untuk menentukan masa depan daerah selama lima tahun ke depan.

Tentang perbedaan pilihan calon pemimpin, ia mengimbau agar hal tersebut disikapi secara wajar. Justru, menurut Kiai Said, ragam aspirasi itu perlu sebagai proses pendidikan politik warga.

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/2).

Belajar Muhammadiyah

Kiai asal Cirebon, Jawa Barat ini menilai, banyak orang luar atau pengamat yang melihat perbedaan di kalangan warga NU secara berlebihan karena tidak memahami disiplin berpikir pesantren yang biasa berselisih pendapat.

Kiai Said juga mengimbau kepada warga untuk hati-hati dengan politik uang. Ia mengingatkan bahwa yang lebih penting dari coblosan adalah hari-hari selanjutnya setelah pemimpin terpilih menunjukkan kinerjanya selama lima tahun mendatang.

Belajar Muhammadiyah

Karena itu, katanya, para pemilik hak suara perlu mempertimbangkan masak-masak siapa figur terbaik yang layak memimpin. Pertimbangan itu harus dimulai sejak sebelum, ketika, dan sesudah mencoblos. “Pemilih yang ngawur akan memilih pemimpin yang keliru,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Santri, Hadits Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Selasa (27/11), sejak pukul 18.00 WIB petang, Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai didatangi beberapa anak muda anggota IPNU dan IPPNU. Mereka adalah delegasi yang bersiap berangkat ke Palembang guna mengikuti Kongres IPNU/IPPNU 2012.

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Pimpinan delegasi, Nur Kholis dari Pimpinan Wilayah IPNU DIY menyebutkan, kedatangan delegasi tersebut adalah untuk silaturahim serta meminta doa dan restu dari PWNU. 

Hal senada juga disuarakan oleh Sulasmi, Ketua PW IPPNU DIY. Ia menyatakan bahwa delegasi PW IPNU dan PW IPPNU DIY membutuhkan doa dan restu dari PWNU dalam menyemangati upaya mereka dalam mensukseskan Kongres IPNU/IPPNU di Palembang. Selain doa dan restu, delegasi juga membutuhkan arahan yang kelak akan menjadi bekal selama mengikuti kongres.

Belajar Muhammadiyah

Sekitar pukul 20.30 WIB delegasi ini pun disambut oleh KH Jadul Maula (Wakil Ketua PWNU DIY), Mukhtar Salim (Sekretaris PWNU DIY) dan Kholis Asy’ari (Wakil Sekretaris PWNU DIY). 

Belajar Muhammadiyah

Dalam acara pelepasan tersebut Jadul Maula, mewakili Rais Suriyah KH Asyhari Abta yang berhalangan hadir, menyampaikan betapa pentingnya peran IPNU/IPPNU di masa sekarang ini dalam mewarnai bangsa dengan menjadi generasi muda yang tawadzun, tawassuth dan i’tidal sebagaimana prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh ajaran ahlussunnah wal jama’ah ala Nahdltul Ulama. 

Jadul mengatakan, tidak sedikit generasi di pelosok daerah yang dihadapkan pada dua kutub ekstrim, yaitu radikalisme agama atau kebebasan yang kebablasan. 

“Di beberapa tempat, tidak sedikit generasi muda saat ini yang diajarkan untuk meyakini pemahaman salah yang menghalalkan terorisme sebagai media perjuangan. Itu satu sisi ekstrim yang saya maksud. Di sisi ekstrim yang lain, anak-anak muda kita juga banyak yang terjebak pada perilaku-perilaku tidak bertanggungjawab yang bertentangan dengan hukum semisal mengkonsumsi narkoba, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang berani merampok demi memuaskan keinginannya tersebut,” katanya.

Jadul juga mengungkapkan kebanggaannya kepada IPNU dan IPPNU yang tidak hanya mampu sekadar survive, namun juga terus berkembang menjadi kader-kader NU yang toleran, moderat, dan istiqomah. Ia pun mengakhiri sambutannya dengan harapan dan doa.

“Semoga rekan dan rekanita dari Yogyakarta bisa mengikuti dinamika kongres di Palembang nanti dan mampu memperjuangkan kepentingan pelajar Nahdliyyin di manapun sesuai dengan tema kongres, Pendidikan untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa. Selamat jalan rekan dan rekanita IPNU dan IPPNU DIY. Pergi dan pulang tak kurang sesuatu pun apa. Semoga senantiasa dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT,” tambahnya. 

Selanjutnya, dengan menggunakan satu bis dan empat mobil, delegasi IPNU dan IPPNU DIY pun meluncur ke Palembang sekitar pukul 21.30 WIB. Diperkirakan perjalanan mereka ke Palembang akan memakan waktu 36 jam. Di dalam rombongan pun ikut serta Muhammad Nahdy, salah satu kandidat ketua umum IPNU yang akan bersaing di Kongres IPNU-IPPNU di Asrama Haji Palembang tersebut. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yusuf Anas

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Hadits, Ulama Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock