Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Ayat Kebohongan

Sebagai dai kota, Kiai Durakman beruntung dapat kesempatan ceramah di sejumlah kawasan elite, mulai dari kompleks perumahan anggota DPR sampai kalangan pengusaha.

Ramadhan lalu giliran ia mengisi pengajian tiap Selasa di sekretariat para petinggi partai. Kepada jamaahnya itu, Kiai Durakman mengingatkan, tema pengajian pada pertemuan selanjutnya.

Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Kebohongan

"Selasa depan kita akan membahas tentang kebohongan. Untuk memudahkan pemahaman, saya imbau seluruh jamaah membaca surat Al-Maidah ayat 121 berikut terjemahannya," pintanya.

Belajar Muhammadiyah

Para politisi itu pun serentak menyatakan siap.

Ketika saat pertemuan pekan berikutnya tiba, Kiai Durakman langsung bertanya, "Siapakah di antara bapak/ibu yang sudah membaca al-Maidah ayat 121?"

Belajar Muhammadiyah

Semua hadirin angkat tangan.

Kiai Durakman meringis. "Luar biasa. Padahal surat al-Maidah cuma berisi 120 ayat."

"Baiklah..." Lanjut Kiai Durrakman, "Saya akan mulai pengajian dengan menjelaskan azab-azab bagi orang yang gemar berbohong." (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Sunnah, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 14 Februari 2018

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menggelar lalilatul ijitma’ ke 40 di aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan Nomor 6 Kota Mataram pada Jumat malam (4/9).

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Kegiatan bulanan NU Wilayah NTB dimulai selepas shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan istighotsah oleh santri Al-Manshuriah yang diikuti ratusan Nahdliyin. Tampak para mahasiswa baru UNU NTB sekitar 200 orang yang beberapa waktu lalu mengikuti OSPEK.

“Saat ini kita sudah miliki Universtitas (UNU) tersendiri di daerah. Sejauh ini memang banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata TGH. Acmad Taqiuddin Mansur, Ketua PWNU NTB saat sambutan.

Belajar Muhammadiyah

Tua Guru menyebut lembaga-lembaga itu seperti di Bagu (institute Qomarul Huda Bagu), di Bonder (institute Qomarul Huda Bagu II Bonder), di Lombok Timur (STAINU), dan di Bima juga ada. Namun demikian, itu semua masih bersifat Yayasan.

Belajar Muhammadiyah

Oleh karena itu, lanjutnya, Universitas Nahdlatul Ulama yang baru beberapa hari menggelar OSPEK menjadi harapan baru bagi generasi bangsa, khususnya warga nahdliyin karena membuka program study yang masih langka di NTB.

“Dari semua jurusan, hanya Ekonomi Islam (EI) yang berbasis agama. Selain itu, umum semua yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa kini.”

Ia meminta persatuan dan kesatuan bagi warga nahdliyin karena UNU adalah simbol NU.

Sementra itu, Sekretaris PWNU NTB H. Lalu Winengan dalam pengantarnya meminta kepada pelaksana UNU agar mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti lailatul ijitim’.

“Saya minta kepada birokrasi bagian akademik untuk mewajibkan semua mahasiswa UNU untuk mengikuti ijtima’,” katanya.

Menurut Winengan, lailatul ijitma’ penting diikuti oleh mahasiswa UNU agar mengenal para pengurus NU, mengenal siapa perintis NU dan juga mengenal semua tokoh-tokoh NU. “Jangan sampai mahasiswa UNU tidak mengenal siapa tokoh NU,” harapnya.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tata Kota Lombok Barat ini nanti akan mengadakan Turnamen Futsal UNU Cup yang terbuka untuk umum.

“Insya Allah untuk juara satu kita berikan 5 juta. Dan setiap tahun UNU CUP harus diselenggarakan. Kepentingan kami yaitu UNU dikenal,” terangnya. (Hadi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Budaya Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU

Polewali Mandar, Belajar Muhammadiyah. Salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat akan menghibahkan tanahnya seluas 3 hektar untuk pembangunan madrasah unggulan di Sulawesi Barat.

Madrasah tersebut akan berada di bawah manajemen Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Sebelum proses penyerahan tanah ke PBNU, waqif yang diketahui bernama H Nuhung itu berkordinasi dengan Kemenag dan BPN Polewali Mandar untuk mengurus sertifikat, Selasa (29/11).

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU

"Banyak yang tertarik dengan tanah Pak H Nuhung ini, namun beliau tetap istiqomah ingin mewakafkan tanah tersebut kepada PBNU, dalam hal ini LP Ma’arif NU," ungkap H Basnang Said, salah seorang tim yang ditunjuk oleh LP Maarif Sulawesi Barat.

Dikatakannya, dari sisi keagamaan, masyarakat Polewali Mandar 100 persen berafiliasi dengan NU ditambah lagi H Nuhung adalah warga NU. Maka sangat wajar jika waqif lebih memilih PBNU sebagai nadzirnya dengan harapan tanah yang diwakafkan tersebut dapat digunakan untuk madrasah yang akan menampung pelajar yang berprestasi namun dari sisi ekonomi tidak berkecukupan.

Belajar Muhammadiyah

"Di atas tanah ini rencananya akan dibangun lembaga pendidikan yang lengkap dari mulai RA sampai MA dan SMK bahkan jika memungkin sampai Perguruan Tinggi NU," jelas Basnang.

Kecamatan Luyo, kata dia, merupakan salah satu kecamatan di Polewali Mandar yang punya Sumber Daya Manusia (SDM) cukup potensial hanya saja sarana prasarana pendidikan belum banyak tersedia sehingga diharapkan beberapa tahun ke depan Kecamatan Luyo bisa menjadi daerah yang maju.

"Penyerahan tanah wakaf ini rencananya akan dilakukan pada saat Rakernas Ma’arif NU pada 6-8 Desember 2016 di Jakarta, semoga sertifikatnya sudah jadi dan akan dibawa oleh perwakilan Ma’arif NU Sulbar," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Budaya, News Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Pawai Tarhib sambut Ramadhan, Jumat (3/6) di Kota Mataram. 15 Ribuan jamaah ? membanjiri halaman Islamic Center untuk mengikuti acara Pawai Tarhib menyambut Bulan Suci Ramadhan 1437 hijriyah tersebut.

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Ribuan jamaah itu berasal dari pegawai lingkup pemerintah Provinsi NTB, Ormas, Mahasiswa, Pelajar, Masyarakat Umum, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) NTB.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, HM Zainul Majdi mengatakan, kebahagiaan menyambut Bulan Suci Ramadhan akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Selain itu, Tarhib Ramadhan yang baru pertama kali digelar ini akan menjadi penyemangat bagi masyarakat, menyambut digelarnya MTQ ke-26 tingkat nasional bulan Juli 2016 mendatang di Mataram.

"Tarhib itu diambil dari kata Ar-Rohbu, artinya kelapangan maka tarhib itu secara inti maknanya adalah menggambarkan suasana hati kita yang lapang, jiwa dan diri kita pada saat Ramadhan itu datang menghampiri kita,” tutur Zainul Majdi pada saat melepas peserta pawai.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan Islamic Center NTB untuk kegiatan yang positif. Selain itu, dia mengajak semua masyarakat memperbanyak doa untuk NTB agar berbagai program yang dicanangkan bisa terwujud, termasuk dalam mewujudkan target 15 medali emas pada PON mendatang.?

Kegiatan Tarhib diikuti Gubernur dan pejabat lingkup pemerintah provinsi NTB itu melintasi Jalan Pejanggik, Jalan pendidikan dan kembali finish di Islamic Center. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Pahlawan, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Oleh KH MA Sahal Mahfudh . Al-Quran yang telah diwahyukan dan diturunkan Allah Swt kepada RasulNya yang terakhir, ayat demi ayat selama 23 tahun, mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan kitab-kitab samawiyah lain sebelumnya. Ciri-ciri itu antara lain al-Mujiz, artinya mempunyai kekuatan melemahkan. Dari segi nilai sastra dan gramatikanya yang tinggi, sastrawan mana pun tidak mampu menandinginya, meski pada waktu itu banyak yang mencoba membuat al-Quran buatan. Ciri lain ialah, membaca al-Quran saja tanpa memahami arti dan maknanya, dihitung sebagai ibadah.

Al-Quran yang merupakan sumber utama dan pertama bagi ajaran Islam, pada dasarnya mengajak semua manusia agar mau menghambakan dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT dengan aqidah dan syariatNya, serta berakhlak mulia baik bagi Allah mau pun dalam pergaulan hidup dengan sesama manusia dan makhluk lain. Sebagai dasar orientasi hidup manusia, al-Quran mengacu ke arah tumbuhnya inspirasi yang terefleksikan dalam sifat, sikap dan perilaku yang inheren pada eksistensi dan proses hidup manusia sebagai titah. yang akrom.

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Pada masa pembangunan, kontekstualisasi al-Quran menjadi penting. Pembangunan manusia yang selalu menjanjikan kesejahteraan, bahkan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup manusia, dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, politik dan utamanya aspek agama. Potensi, profesi dan berbagai wawasan keagamaan dan sosial tertata dalam suatu sistem dan mekanisme yang terarah.

Kualitas manusia yang menyangkut berbagai aspek, dikelola dengan dukungan sumber daya manusia sendiri dan kekuatan dari luar dirinya. Dalam hal ini al-Quran sebagai sumber motivasi, diletakkan sebagai penyeimbang aqidah, syariah dan akhlaq karimah.

***

Manusia (bani Adam) oleh Allah SWT dalam al-Quran disebut mempunyai karamah (kemuliaan) dan kehormatan di atas semua makhluk lainnya. Nilai lebih ini bermakna sebagai titik pembeda dan makhluk lain, tentu saja dengan konsekuensi yang berat, bahkan teramat berat. Karena, pada diri manusia terdapat nafsu yang tidak selamanya bisa diajak kompromi untuk melestarikan karamah tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Nafsu inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada kediriannya dan sering membuat manusia kehilangan nilai karamahnya. Salah satu aspek dari kekaramahan itu adalah kemampuan fisik dan rasio. Kemampuan inilah yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus memacu ke arah pencapaian kualitasnya, manakala dibarengi kemauan berikhtiyar.

Namun di sisi lain—meskipun memiliki nilai karamah—manusia oleh al-Quran disebut abdu. Abdu yang berarti hamba, menuntut tanggung jawab yang melekat pada diri manusia. Dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, manusia mukallaf diberi berbagai taklif (tanggung jawab) yang harus dilaksanakan menurut ketentuan dan kemampuan berikhtiyar.

Sejauh mana manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu ia mempertahankan nilai karamahnya. Sejauh mana manusia menghambakan dirinya terhadap Allah SWT, sejauh itu pula manusia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abdu. Ini berarti, manusia di dalam hidup dan kehidupannya selalu harus beribadah kepada Allah, karena Allah tidak menciptakan jin dan mausia kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Meskipun manusia berstatus sebagai hamba, namun ia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, satu di atas yang lain, dalam hubungannya secara vertikal dengan Allah mau pun hubungan horisontal antar sesama manusia dan alam lingkungan. Khalifah sebagai pengganti, diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan posisinya. Namun wewenang itu pada dasarnya adalah tugas yang harus diemban.

Belajar Muhammadiyah

Tugas itu dalam al-Qur an disebut imaratul ardli, di samping ibadatullah. Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia melakukan imarah (pengelolaan dan pemeliharaan) di atasnya. Karena manusia di dalam melaksanakan wewenang dan tugas imarah-nya sering berbuat sewenang-wenang, bahkan merusak lingkungan dan tidak mengindahkan manusia lain yang berada pada posisi di bawahnya, maka Allah selanjutnya memerintahkan manusia agar mohon ampunan Allah dengan bertaubat.

Imaratul ardli yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekadar membangun tanpa tujuan, apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan tugasnya yang pertama, yaitu ibadatullah. Lebih dari itu adalah sarana untuk mencapai saadatud darain (kebahagiaan dunia dan akhirat) sebagai tujuan hidup manusia.

Dari sinilah dapat dipahami, masyarakat dalam konsepsi al-Quran adalah masyarakat ibadah dan imarah, di mana satu dengan yang lain saling berkait erat. Hal ini telah diisyaratkan Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah dengan membangun secara berurutan, dua bangunan monumental yang hingga sekarang masih dilestarikan bahkan dikembangkan. Dua bangunan itu adalah masjid Quba dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan antara masjid dan pasar, yang secara simbolik merupakan wujud konsepsi manusia seutuhnya.

***

Dalam hal perubahan masyarakat sebagai proses pembangunan, al-Quran mengisyaratkan, Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah keadaannya. Mengubah di sini berarti berupaya dan ikhtiyar yang menuntut berbagai kemampuan yang disebut kualitas. Ini berarti, membangun manusia butuh kualitas. Garis lingkar balik seperti ini terjadi, karena manusia sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Pada dasarnya keberhasilan proses pembangunan itu banyak ditentukan oleh sumber daya manusia.

Allah SWT dalam al-Quran memerintahkan kepada manusia agar mempu berpacu dalam berbagai kebajikan (istibaqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap dan perilaku kompetisi yang sehat untuk mencapai al-khairat, yang berarti memerlukan dinamika tinggi dan lumintu, serta wawasan kreatif dan inovatif yang luas, di samping daya analisis untuk mengantisipasi proses transformasi menuju masa depan.

Pembangunan kualitas manusia dipahami sebagai dinamika, bukan hanya sebagai metode yang menitiktekankan pada program-program. Wujud dinamika ini adalah gerakan-gerakan yang selalu menuntut etos kerja tinggi dari semua lapisan masyarakat. Etos kerja ini dalam al-Quran disebut sebagai ibtigha al-fadlillah (secara optimal berupaya mencari anugerah Allah) atau secara umum disebut sebagai amal shalih. Kehidupan Rasulullah dalam kesehariannya menunjukkan adanya etos kerja yang tinggi. Beliau selalu mempunyai kesibukan, sampai-sampai membantu isterinya menjahit dan memperbaiki sandal. Bahkan beliau dalam sebunh hadits mengatakan, seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan menganggur.

Kualitas manusia pada dasarnya, ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum, potensi yang telah dibekalkan Allah kepada setiap manusia mukallaf adalah potensi rasio dan fisik. Yang pertama berkembang menjadi potensi ilmu pengetahuan dan teknolgi, profesi dan kemampuan rasionalitas lainnnya. Dan yang kedua berkembang menjadi keterampilan, etos kerja dan ketahanan tubuh dengan kesehatan yang prima.

Dalam al-Quran potensi tersebut diformulasikan secara singkat dalam kalimat qawiyyun atau makinun, yang berarti punya quwwah (potensi) atau makanah (ketangguhan). Sebuah firman Allah menyebutkan, "Sebaik-baik orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi dan berkemampuan menerima amanat serta dipercaya". Ayat ini dapat dipahami, bahwa setiap upaya apapun untuk mencapai prestasi menuntut adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas. Rasulullah dalam hal ini mengatakan, "Orang mukmin berpotensi lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang yang lemah".

***

Pembangunan bukan saja membawa perubahan secara fisik, namun juga perubahan transendental. Hal ini antara lain terlihat dari perubahan nilai religius menjadi nilai ekonomis. Artinya, langkah dan gerak manusia yang semula diperhitungkan secara religius, bergeser menjadi diperhitungkan untung ruginya secara materiil belaka. Hampir dapat dipastikan, nilai ekonomis akan makin berkembang pesat pada era tinggal landas. Era di mana kapitalisasi makin merambah berbagai aspek kehidupan dan industrialisasi mulai menjangkau semua aspek komoditas, etos kerja makin meningkat, peran ketrampilan dan modal makin dominan. Perhitungan untung rugi secara materiil makin kuat posisinya. Akibatnya, nilai religius terbentur dan terlempar.

Era tinggal landas memang selalu menjanjikan kehidupan yang menggiurkan dan kesejahteraan yang spektakuler. Namun justru di situlah nilai-nilai iman dan tawakal terancam. Di situ pula unsur ghurur al-dunya makin mendapat banyak peluang untak menggiring nafsu manusia pada puncak keangkaramurkaannya.

Tawakal dan iman terancam oleh posisi ikhtiyar yang makin dominan. Dalam hal ini al-Quran memandang kehidupan dunia ini sebagai materi yang menipu manusia (mata al-ghurur). Makin maju kehidupan dunianya, manusia makin melalaikan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Maka al-Quran memberi petunju akan keseimbangan yang sering diformulasikan dalam kalimat al-wasath dan al-adlu.

Keadilan sebagai konsepsi al-Quran dipahami sebagai keseimbangan dalam kehidupan manusia. Menakuti manusia dengan siksaan Allah, diimbangi dengan sikap optimis terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kewajiban diimbangi dengan hak. Keberanian fisik diim

bangi keberanian mental. Potensi rasio diimbangi potensi fisik. Meskipun al-Quran menunjukkan, seluruh isi bumi ini diciptakan untak manusia, dengan pengertian manusia diberi kebebasan mengolah dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup, namun al-Quran juga memberikan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui agar terjadi keseimbangan, tidak israf (berlebihan) dan tabdzir (mubazir). Sampai pada soal makan dan minum, al-Quran melarang israf dan tabdzir. Tidak boleh melampaui batas kualitas, batas kuantitas, batas maksimal dan minimal, agar terjadi keseimbangan dalam tubuh manusia.

Era tinggal landas harus dilandasi semangat keseimbangan antara etos kerja dan tawakal. Etos kerja dan gerakan-gerakan pembangunan dipahami sebagai ikhtiyar yang pada dasarnya hanya merupakan sarana, karena yang menentukan keberhasilannya adalah Allah dengan qudrah dan iradah-Nya. Tawakal tanpa ikhtiyar akan menimbulkan sikap fatalistik yang berakibat pada munculnya sikap thama (dependen) yang tidak dibenarkan. Sebaliknya, ikhtiyar tanpa tawakal bisa menghilangkan nilai imani. Bila manusia hanya berpegang pada ikhtiyar lalu gagal, ia akan kehilangan keseimbangan, stress dan tidak mustahil putus asa (yasu). Sikap ini dilarang keras oleh al-Quran.

Dalam menghadapi era tinggal landas, perlu potensi pengendalian diri dalam arus transformasi. Hanya dengan pengendalian diri ini, manusia akan dapat eksis pada kediriannya, karamah dan akram. Akram di sisi Allah dalam al-Quran disebut, adalah orang yang paling bertaqwa sesuai dengan statusnya sebagai hamba.

Ini bisa dicapai dengan mengembangkan potensi ruhaniah, iman, aqidah Islamiyah, ketaqwaan yang diformulasikan dalam ajaran syariah Islamiyah dan akhlaq karimah. Potensi ini justru menjadi sarana mengatasi kesulitan dan memberikan jalan keluar serta mendapatkan rizqi tak terduga sesuai dengan jaminan Allah yang dituangkan dalam al-Quran. Ini berarti bahwa era tinggal landas harus diimbangi dengan peningkatan wawasan keagamaan dan kualitas keberagamnan Islam, yang pada gilirannya akan menumbuhkan keseimbangan antara ibadatullah dan imaaratul ardli, antara masjid dan pasar.

?

*) Tulisan ini pernah disampaikan KH MA Sahal Mahfudh pada seminar menjelang MTQ Nasional di Yogyakarta pada 2 Februari 1991. Bisa ditemukan dalam buku "Nuansa Fiqih Sosial", 2004 (Yogyakarta: LKiS) dengan judul yang sudah diubah, "Kontekstualisasi Al-Quran".

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya Belajar Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru

Temanggung, Belajar Muhammadiyah

Dalam rangka menyambut tahun akreditasi dan perubahan dari Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) menjadi Institut Agama Islam NU (INISNU) Temanggung, sejumlah dosen STAINU Temanggung dilantik menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi), Ketua dan anggota Lembaga Bahasa Asing (LBA), Ketua dan Anggota Lembaga Penjamin Mutu (LPM), serta anggota Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) pada Sabtu (30/12/2017).

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru

Mereka adalah Hamidulloh Ibda dan Farinka Nurrahmah Azizah yang dilantik menjadi Kaprodi dan Sekprodi Pendidikan Guru MI (PGMI). Kemudian Lina Indra Kartika dan Husna Nashihin yang dilantik menjadi Kaprodi dan Sekprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Amin Nasrullah dan Fatmawati Sungkawaningrum menjadi Kaprodi dan Sekrpodi Ekonomi Syariah (ES).

Sementara Khamim Saefuddin dan Rindra Puspitasari menjadi Ketua dan anggota LPM, Effi Wahyuningsih dan Buntara Adi Purwanto menjadi Ketua dan Anggota LBA dan Asih Puji Hastuti menjadi anggota LP3M.

Belajar Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Muh. Baehaqi, menegaskan bahwa pelantikan tersebut urgen dilaksanakan karena menghadapi tahun perubahan. 

"Kenapa di tahun ini harus ada semua pejabat? Karena di tahun 2018, baik Prodi maupun Institusi akan melakukan akreditasi. Seumpama sepeda motor, STNK-nya habis. Nyawanya akan habis, maka harus diperpanjang," beber dia.

Untuk institusi, kata dia, di tahun 2018 STAINU Temanggung harus melakukan akreditasi. 

Belajar Muhammadiyah

"Karena kalau tidak ada sertifikat akreditasi maka perguruan tinggi itu abal-abal," beber dia.

Di Jakarta pun, kata dia, kampusnya yang megah banyak yang ditutup karena abal-abal. 

"Di berita banyak ratusan perguruan tinggi yang ditutup baik di bawah Kopertis Kemenristek Dikti maupun di bawah Kopertais Kemenag," beber dia.

Pihaknya menegaskan, bahwa di tahun 1997 dulu, STAINU Temanggung sudah mau merger dari STAINU Temanggung sendiri dan Purworejo. 

"Dulu STAINU Temanggung itu FHI, UNNU, tapi karena tidak dikawal ya berubah," ujar dia.

Maka dari itu, pihaknya berharap pejabat baru STAINU Temanggung bisa melakukan perubahan agar kemajuan semakin nyata. 

"Konsekuensi sekarang, kita harus kembali ke iqra kitabak seperti yang dibaca mahasiswa kita tadi. Kita harus mengabdi, berikrar dalam rangka memajukan perguruan tinggi," lanjut dia.

Dalam mengelola perguruan tinggi, menurut dia, komitmen menjadi hal pokok. "

Maka di tahun 2018 kita target menjadi institut yang nanti menjadi INISNU Temanggung. Kalau ke depan sudah jadi institut, Pembantu Rektor IV Undip dulu sudah ke sini siap melakukan kerja sama. Saya optimis dengan hadirnya dosen-dosen baru semangatnya beda dan semoga bisa mempercepat kemajuan STAINU Temanggung," ujar dia.

Ini adalah perguruan tinggi kita, lanjut dia, kampus kita, mari kita kelola dan besarkan bersama. 

"Kemarin saya sudah koordinasi dengan PCNU untuk menggagas laboratorium PIAUD yang bagus. Karena era sekarang yang mahal malah diparani. Itu nanti 2018 kita garap. Dan satu lagi, 2018 nanti ada klinik yang nanti kit garap juga," papar dia.

Ini adalah peluang yang berada di depan kita, katanya, yang insyaalah bisa membesarkan STAINU Temanggung. 

"Nanti di awal 2018, pertama kali di Jawa Tengah nanti STAINU Temanggung akan melakukan Pendidikan Kader Penggerak (PKP) NU wajib bagi dosen putra dan putri. Saya sudah rembukan dengan PCNU dan koordinasi dengan PBNU untuk melakukan PKP NU. Dan ini nanti akan diwajibkan bagi semua dosen di STAINU, UNU atau semua kampus berlabel NU wajib punya sertifikat PKP NU," papar dia.

Pelantikan yang digelar di aula lantai 3 STAINU Temanggung tersebut dihadiri sejumlah pimpinan, dosen, sivitas akademika dan mahasiswa. (Dul/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013

Malang, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kabupaten Malang menggelar Musyawarah Kerja Cabang ke-1 pada Sabtu 26 Januari 2013 di Gedung MAN PP. An-Nahdliyah Kepuharjo Karangploso Kabupaten Malang.

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013

Muskercab yang digelar kali ini mengambil tema ”Meningkatkan peran Jam’iyah Ditengah  Umat”, karena sudah menjadi kewajiban bagi pengurus Nahdlatul Ulama untuk memberikan kemanfaatan yang besar bagi umat. Konsekuensi logisnya, umat harus merasakan peran dan manfaat dari keberadaan NU.

H Abdul Mujib Syadzili, ketua panitia Muskercab mengatakan, tema ini diambil untuk menambah semangat para pengurus NU mulai Cabang sampai Ranting agar berupaya maksimal memperkuat organisasi demi kemaslahatan umat, sehingga diharapkan akan terbina kekuatan internal organisasi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Malang sehingga mampu menghadapi berbagai macam ancaman dan gempuran dari organisasi keagamaan yang tidak sepaham dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.. 

Belajar Muhammadiyah

“Ancaman ini tidak bisa dianggap sepele mengingat sudah masuk wilayah ideologis, wilayah aqidah, mengancam persatuan dan kesatuan umat serta menggerogoti organisasi NU dengan segala gerakan, propaganda dan potensi yang dimilikinya,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Di sisi lain, Gus Mujib, yang juga Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang ini, menandaskan bahwa setiap pengurus NU harus memiliki komitmen Nahdliyah dan selalu berupaya memantapkan program-program konstitusional permusyawaratan tertinggi tingkat Cabang guna meningkatkan pelayanan dan pengabdian pada umat. 

“Momentum Muskercab ke-1 NU Kabupaten Malang Tahun 2013 ini diharapkan mampu memantapkan hasil-hasil konferensi untuk diimplementasikan dalam program kegiatan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, diantaranya agama, pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, lingkungan hidup, yang perlu didorong terus dalam melakukan penguatan kelembagaan organisasi sehingga mampu memberikan misi pelayanan dalam menjawab kebutuhan umat,” kata Gus Mujib yang juga sebagai Kepala SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo ini.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Malang H Bibit Suprapto mengatakan meski sudah banyak yang telah diperbuat oleh pengurus selama ini namun masih banyak program berskala besar yang belum sempurna penggarapannya, sehingga harus dimantapkan perumusannya dalam Muskercab I ini. 

“Agar NU tidak kehilangan ruh perjuangan maka tidak boleh berhenti dan tidak gampang puas terhadap apa yang telah dilakukan dengan secara terus menerus melakukan peningkatan  penghidmatannya,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah IMNU, Budaya, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba di sebuah wilayah membuat para relawan dan lembaga yang bergerak di bidang bencana harus mampu mengantisipasinya dengan baik, terutama dalam hal pertolongan pertama dan kebutuhan logistik para korban. Manajemen logistik yang bersifat insidentil kerap kali membuat penanganan bencana tidak berjalan dengan baik.

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Hal ini disampaikan Direktur HELP Logistics Regional Asia, Temmy Tanubrata, Kamis (11/8) saat ikut mendampingi 25 peserta Pelatihan Manajemen Logitik Kemanusiaan (Humanitarian Logistics Management) berkunjung ke gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta.?

Kegiatan ini dihelat Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) dengan menggandeng HELP Logistics, lembaga yang berada di bawah naungan Kuehne Foundation dan Lembaga Kajian Logistik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-Jumat (10-12/8) di Gedung PBNU ini membahas secara detail mengenai manajemen logistik secara praktik mulai dari pengadaan, pergudangan hingga penyaluran barang.

Menurut Temmy, salah satu kelemahan penanganan bencana di Indonesia pada umumnya kalau tidak soal keterlambatan pengiriman barang-barang bantuan, kelangkaan barang kebutuhan juga soal ketidaksesuaian antara barang yang dikirim dengan kebutuhan korban bencana saat itu. Sebab itu menurutnya, manajemen logistik harus diperkuat oleh jaringan-jaringan lokal di mana terjadi lokasi bencana.

Belajar Muhammadiyah

“Logistik bukan hanya persoalan distribusi barang kebutuhan, tetapi juga bagaimana seorang relawan atau lembaga bencana menyiapkan, menyimpan, merawat, hingga mengirimkan barang-barang tersebut. Agar penanganan bencana bisa berjalan dengan baik, harus memberdayakan jaringan lokal untuk kebutuhan menyimpan dan menyuplai barang,” papar pria lulusan Cranfield University UK ini.

Dalam pandangannya, LPBINU yang mempunyai pengurus hingga ke tingkat daerah bisa mulai menerapkan sistem manajemen tersebut. HELP Logistics yang dipimpinnya telah malang melintang memberikan bantuan, baik itu berupa pelatihan secara langsung kepada lembaga-lembaga dan para relawan maupun bantuan menyiapkan hingga mendistribusikan barang-barang kebutuhan bencana.?

“Hasil dari pelatihan ini, saya harapkan nantinya para peserta bisa memberikan pengalaman dan ilmunya kepada yang lain sehingga problem logistik bencana tidak terjadi di sana-sini ketika terjadi kasus,” ujar pria yang sudah 14 tahun menjadi aktivis penangulangan bencana di Indonesia, Timor Leste, Afghanistan, Pakistan, Rwanda, Afrika bagian selatan dan timur serta Italia ini.

HELP Logistics merupakan lembaga kemanusiaan yang bergerak dibidang logistik di bawah naungan Kuehne Foundation yang berbasis di Swiss, untuk HELP Logistics sendiri di Singapura. Selain bergerak di bidang logistik kemanusiaan, Kuehne Foundation juga bergerak di bidang pendidikan, dan sosial-budaya.?

Belajar Muhammadiyah

HELP Logistics juga salah satu program unggulan dari Kuehne Foundation yang berfokus kepada peningkatan kemampuan logistik dan rantai pasok berbagai lembaga kemanusiaan di seluruh dunia. Ikut memberikan input dalam kegiatan ini yaitu Prof. Senator Nur Bahagia selaku pimpinan dari Pusat Kajian Logistik dan Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung.?

Pelatihan di Jakarta ini diikuti oleh lebih dari 25 peserta, terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Cabang dan relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) di Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan serupa akan dilaksanakan di Semarang untuk peserta dari Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjelang akhir tahun ini. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi.?

Jawa Barat menempati peringkat pertama wilayah rawan bencana di Indonesia, yang selanjutnya diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Potensi bencana yang terdapat di wilayah-wilayah tersebut meliputi bencana geologi, vulkanologi, klimatologi, dan lingkungan. Selain itu, terdapat 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang juga berpotensi menimbulkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Sekitar 102 pemuda mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung. Kegiatan tersebut merupakan gerbang awal untuk menjadi kader Banser.

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung

Diklatsar yang diisi materi-materi untuk meningkatkan kemampuan skill individu, fisik, mental, dan spiritua tersebut diikuti utusan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting serta 50 orang panitia sehingga rasio mentoring 1:2.

Ketua GP Ansor Kota Bandung Aa Abdul Rozak dalam sambutannya menegaskan bahwa peran dan fungsi Banser merupakan garda terdepan dalam menjaga ulama dan bangsa.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menegaskan bahwa organisasi pemuda NU tersebut akan tetap menjaga kedaulatan NKRI. “GP Ansor tidak seperti organisasi lain yang seolah-olah memiliki bangsa ini padahal mereka merongrong keutuhan NKRI dengan melakukan arabisasi,” katanya pada pembukaan kegiatan yang berlangsung 9-10 Nevember tersebut.

Sementara Ketua PCNU Kota bandung KH Maftuh Kholil mengutarakan bahwa semangat kepemudaan harus tumbuh dan berkembang. Anggota Ansor, meskipun kelak menjadi tua, namun semangat harus tetap menggelora.

Belajar Muhammadiyah

Pada pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Kabid Kepemudaan Dispora Kota Bandung, Kadis Damkar, Pemuda Demokrat Indonesia, IPNU dan IPPNU Cabang Kota Bandung. (Ujang Miftahuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Hikmah, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

Banyumas,? Belajar Muhammadiyah?

Sejak diluncurkan 30 November 2016 dan mendapat injin oprasional dari Kemenristektdikti No.494/KPT/I/2016. Tahun ini, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Bagi calon mahasiswa dengan latar belakang belakang kesulitan ekonomi akan mendapat keringanan.

Dilansir dari situs resmi UNU Purwokerto, Senin (24/7) Ketua Tim Pendiri UNU Purwokerto, Prof Dr Ir. Akhmad Sodiq, mengemukakan, pihaknya memberikan kemudahan bagi mahasiswa kurang mampu berupa bebas biaya registrasi dan pembangunan, biaya pendidikan SPP disesuaikan kemampuan, disediakan beasiswa dan pengurangan atau pembebasan SPP. Serta mengupayakan asrama atau pondokan dengan biaya terjangkau

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

"Calon mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi untuk melanjutkan kuliah, akan kami bantu seminimal mungkin untuk SPP. Untuk biaya hidup makan dan pondokan sekitar Rp.300.000 per bulan," katanya.?

Akhmad Sodiq yang juga seorang dekan Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu menambahkan, tenaga pengajar yang dimiliki UNU Purwokerto merupakan akademisi lulusan luar dan dalam negeri yang telah memiliki pengalaman di sejumlah universitas, termasuk salah satunya Unsoed Purwokerto.

"Ada 40 tenaga pengajar berkualitas, 16 diantaranya bergelar profesor, dan sisanya sebagian besar lulusan S-3," lanjutnya.?

Program studi yang dibuka untuk eksakta yakni agroteknologi, teknologi pangan, teknik pertanian dan biosistem, peternakan, ilmu perikanan, biologi dan matematika. Sedang untuk program studi sosial humaniora terdiri ? manajemen, akutansi, administrasi publik, hukum, hukum syariah, dan pendidikan bahasa Inggris.

Belajar Muhammadiyah

Untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa langsung datang ke kampus I UNU Purwokerto Jln. Sultan Agung 42 Karangklesem Purwokerto, atau selatan atau secara online melalui website www.unupurwokerto.ac.id. dan bisa juga juga menghubungi nomor 081332755248 (HP), ? 081225651308 (WA) dan 081210084666 (HP/WA).

Akhmad Sodiq menambahkan, visi yang dicanangkan UNU Purwokerto adalah menjadi universitas yang unggul dalam menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) dan pengembangan IPTEKS berdasarkan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal dan berwawasan global.?

Sedang misinya, menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan sumberdaya manusia bermoral yang memiliki nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, kompetensi akademik berwawasan global, kemampuan kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan memecahkan masalah untuk pembangunan masyarakat Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Budaya, Pendidikan, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Wali Nikah Anak Zina

Assalamu’alaikum wr. wb. Redaksi Belajar Muhammadiyah yang saya hormati, saya mau bertanya tentang wali nikah dari anak zina atau anak luar nikah. Apakah jika yang menikahi ibunya bukan bapak biologisnya bisa menjadi wali nikahnya? Mohon dengan sangat penjelasannya. Syukran katsir, wassalamu’alaikum wr. wb. (Marwan/Bulukamba-Brebes)

?

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Wali Nikah Anak Zina (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nikah Anak Zina (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nikah Anak Zina

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang kami ketahui bahwa menurut madzhab syafi’i rukun nikah itu adalah lima, yaitu shighat, mempelai perempuan, dua orang saksi, mempelai laki-laki, dan wali.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Belajar Muhammadiyah

? “Fasal tentang rukun nikah dan selainnya. Rukun nikah itu ada lima yaitu, shigat, mempelai perempuan, dua orang saksi, mempelai laki-laki, dan wali” (Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 3, h. 139)

Jadi wali merupakan salah satu rukun nikah, maka konsekwensinya adalah pernikahan tidak dianggap sah kecuali adanya wali.

? ? ?? ? ? ? ? ? ? ??

“Wali adalah salah satu rukun nikah, maka nikah tidak sah tanpa wali” (Taqiyyuddin al-Husaini al-Hushni,? Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, juz, 2, h. 40)

Belajar Muhammadiyah

Lantas siapakah wali bagi anak zina? Untuk menjawab soal ini maka terlebih dahulu kami akan mengetengahkan pandangan para ulama mengenai nasab anak zina. Mayoritas ulama sepakat tidak menasabkan anak zina kepada ayah biologisnya, kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah yang dinasabkan kepada siapa yang mengakuinya, setelah masuk Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh sayyidina Umar bin al-Khaththab ra. ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Mayoritas ulama sepakat bahwa anak zina tidak di-ilhaq-kan (dinasabkan) kepada bapak mereka? kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah sebagaimana yang diriwayatkan dari sayyidina Umar bin al-Khaththab ra, dan dalam hal ini terjadi perbedaan di antara shahabat” (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, cet ke-4, 1395 H/1975 M, juz, 2, h. 358)

Jika anak zina tidak dinasabkan kepada bapak bilogisnya, lantas kepada siapa ia dinasabkan? Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak zina dinasabkan kepada ibunya. Konsekwensi dari penasaban anak zina ke ibunya mengakibatkan si anak tidak memilik wali. Sedangkan orang yang tidak memilik wali, maka walinya adalah penguasa/sulthan. Atau dengan kata lain, walinya adalah wali hakim. Pandangan ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Sulthan (penguasa) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”. (H.R. Ahmad)

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka laki-laki yang menikahi ibunya tidak bisa menjadi wali nikah bagi si anak perempuan tersebut, tetapi yang menjadi wali nikahnya adalah wali hakim, yaitu pejabat pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama atau yang mewakilinya sampai tingkat daerah yakni pejabat Kantor Urusan Agam (KUA).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa bermanfaat. Saran kami, jangan memberikan perlakukan yang diskriminatif kepada anak zina. Sebab, anak yang dilahirkan tidak mewarisi dosa turunan orang tuanya. Adapun ketentuan seperti disebutkan di atas menjadi semacam peringantan agar jangan sampai terjadi perbuatan zina.

?

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Budaya Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekitar seratus orang akan menjadi peserta Kirab Resolusi Jihad NU2016 mulai dari Bayuwangi (Jawa Timur) sampai ke Cilegon (Banten) dan akan berakhir di Jakarta. Mereka akan menumpangi 5 bus untuk mengantarkan dari satu kota ke kota lain. Meski demikian, ketika di sebuah kota, mereka akan berjalan kaki dalam jarak tertentu berkonvoi bersama warga NU.

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, dalam setiap bus akan ada seorang penghafal Al-Quran yang bertugas membaca Al-Qur’an blighaib sepanjang perjalanan.

“Satu bus, ada satu orang pembaca Al-Quran minimal satu kali khataman dari Banyuwangi sampai Jakarta. Kerjaannya baca Al-Quran, berurutan secara bilghaib,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di gedung PBNU, Jakarta, Senin (19/9).

Belajar Muhammadiyah

Ketika ditanya kenapa mesti ada yang membaca Al-Qur’an, menurut dia, itu adalah upaya spiritualitas perjalanan Kirab Resolusi Jihad NU 2016. Begitu juga tahun sebelumnya, di tiap bus ada satu orang penghafal.

Lebih lanjut, Ishfah menjelaskan aspek spiritualitas itu juga dengan menziarahi wali dan kiai. Ia merinci nama wali dan kiai yang akan diziarahi tersebut, yaitu pada hari pertama, setelah bertolak dari Banyuwangi akan ziarah ke makam KH R. As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo.

Belajar Muhammadiyah

Keesokan harinya, 14 Oktober akan berziarah ke makam Ziarah ke makam KH Abdul Hamid di Pasuruan. Lalu ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kemudian kembali ke Surabaya, berziarah makam Sunan Ampel.

Setelah itu, peserta kirab menuju ke Jombang. Mereka berziarah ke KH Muhammad Tamim Romli di Rejoso dilanjutkan ke Pesantren Tebuireng. Di pesantren tersebut akan menziarahi 3 tokoh penting NU yaitu Hadratussyaikh KH Hasyim As’ari, KH Wahid Hasyim, dan ke KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemudian dilanjutkan ziarah ke KH Bisri Syansuri di Denanyar. Disambung kemudian ke Tambakberas, ke makam KH Wahab Chasbullah.

Tujuan ziarah selanjutnya adalah makam Proklamator Kemerdekaan Indonesia Soekarno di Blitar. Kemudian di Ponorogo berziarah ke makam KH Hasan Besari di Tegalsari. Selanjutnya makam KH Ageng Basyariah dan Kyai Muhammad bin Umar di Madiun.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Kirab Santri Nusantara dengan peserta perwakilan lembaga dan banom NU, juga akan berziarah ke makam-makam KH Muslim Imampura, KH Ali Maksum, KH Munawwir, KH Nur Iman, KH Dalhar Watucongol.

Sementara di Jawa Barat akan berziarah ke makam KH Ilyas Ruhiat dan di Banten ke makam KH Abuya Muhammad Dimyati.

Di kota-kota yang akan dilewati, peserta kirab juga akan bersilaturahim dengan kiai, santri di sejumlah pondok pesantren, serta kantor-kantor PCNU. Kemungkinan jumlah kiai yang diziarahi, akan bertambah. Selain itu, juga akan dilaksanakan santunan kepada dhuafa.

Perjalanan Kirab Hari Santri Nasional tersebut akan berakhir pada tanggal 21 Oktober. Kemudian esok harinya, 22 Oktober akan digelar upacara bendera rencananya di Lapangan Banteng atau Tugu Proklamasi, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Budaya, Tegal Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pendidikan adalah faktor penting dalam upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Maka mutlak dibutuhkan akses pendidikan yang merata bagi masyarakat Indonesia, guna mencapai hakikat dan kebermaknaan kegiatan.?

Itulah salah satu visi besar Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), yang selalu digelorakan Ketua Umum PP Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim dalam setiap kesempatan pembinaan organisasi.

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Kemenag, Pergunu Kirim Guru ke Daerah 3T

Berangkat dari visi tersebut, Pergunu membuat program penempatan Guru di daerah 3T, yakni Terpencil, Tertinggal, dan Terluar. Kegiatan ini bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Subdit Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum.

Hal itu senada dengan keterangan yang diberikan Wakil Ketua Pengurus Pusat Pergunu, Aris Adi Leksono. Pergunu kehadirannya dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan nasional, salah satu program dilaksanakan di bulan September 2017 ini akan mengirimkan Guru ke daerah tertinggal, terpencil, dan terluar.?

Belajar Muhammadiyah

“Program ini bersinergi dengan program bina kawasan Kementerian Agama, melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Islam,” ujar Aris lewat keterangan tertulisnya, Ahad (17/9).

Lebih lanjut, Aris menuturkan secara teknis mulai Agustus sampai dengan September 2017, fokus pada rekrutmen dan pembekalan kompetensi, fisik, dan mental calon Guru yang siap ditempatkan di daerah 3T.?

Sebagai sasaran penempatan sudah dipilih 25 Kabupaten dari Aceh hingga Papua yang masuk dalam katagori daerah 3T. Daerah sasaran dikhususkan untuk daerah di luar Jawa. Masa pengabdian bagi mereka yang lulus rekrutmen adalah satu tahun.

Pada tahap selanjutnya, Guru hasil rekrutmen akan diberangkatkan 50 orang ke daerah tujuan pada Awal Oktober 2017. Sampai saat ini, sudah dilakukan seleksi untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Lampung.?

Belajar Muhammadiyah

"Pergunu bekerja sama dengan Kemenag akan mengutus 50 orang yang lulus seleksi. Mereka akan diberikan insentif khusus selama menjalani tugas. Kami berencana, program ini akan terus berkelanjutan sehingga akan terjadi pemerataan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia,” terang Aris yang juga Dosen UNU Indonesia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, AlaNu, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Bogor, Belajar Muhammadiyah. Kontekstualisasi hukum Islam yang terkumpul dalam kompilasi hukum Islam (KHI) dinilai masih sangat kurang pas dengan kehidupan sosial di Indonesia, karena masih banyaknya pihak yang merasa terdiskriminasi dari penerapan hukum Islam produk Inpres 1992 itu, terutama dari kalangan perempuan.

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Hal itu terungkap pada acara Bedah Buku “Fiqih Indonesia” karangan Marzuki Wahid? yang di selenggarakan oleh Mahasiswa STAINU Jakarta Prodi Ahwalu Syakhsiyah, Kamis (29/5) di gedung Kampus B STAINU Jakarta, Parung Bogor.

Hadir KH Husein Muhammad, pengasuh pesantren Darul Tauhid Arjawinangun sekaligus sebagai komisioner komnas perempuan dan Ulil Absor Abdalla pendiri Jaringan Islam Liberal dan dimoderatori oleh Ahmad Ikrom salah satu dosen di STAINU Jakarta.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan dihadiri oleh Ketua STAINU Jakarta, Drs Mujib Qolyubi MH dan segenap civitas akademika STAINU serta mahasiswa dari kampus lainnya seperti UIN Jakarta dan PTIQ.

Belajar Muhammadiyah

Husein Muhammad dalam kesempatan itu mengatakan, buku Fiqih Indonesia adalah buku yang menawarkan konsep Fiqih yang benar-benar baru bagi masyarakat Indonesia, karena pembahasan yang di ketengahkan dalam buku ini mengenai hukum keluarga yang populer pula di sebut dengan al-Ahkam al Ahwal al-Syakhsiyah yang berusaha untuk meniadakan praktek diskriminatif yang dialami oleh sebagian keluarga, khususnya adalah pihak perempuan karena mengacu pada undang-undang hukum islam yang terangkum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Karena pembahasan ini sifatnya sangat baru dan asing di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di kalangan Nahdhiyyin, menjadikan buku ini, buku yang sangat kontroversial.

“Hukum keluarga di Indonesia ini masih bernuansa diskriminatif-patriakhis, coba lihat saja dalam beberapa kasus, seperti? di undang-undang mengenai pembatasan usia nikah bagi perempuan yang di atur dalam pasal 15 ayat (1). Pasal ini di anggap tidak adil karena telah membatasi usia minimal perempuan boleh menikah lebih rendah usia laki-laki, sedangkan dalam usia 16 tahun perempuan terkadang masih belum siap mental dan alat reproduksinya dan masih banyak lagi, seperti tentang perempuan bisa menjadi kepala rumah tangga, bolehnya pernikahan beda agama dan lain sebagainya,” Kiai Husein yang sekaligus sebagai pembela hak-hak perempuan ini.

Menanggapi banyaknya pro dan kontra terhadap isi buku Fiqih Indonesia, Ulil Absar Abdalla mencoba untuk memberikan pemahaman kepada para peserta bedah buku yang hadir dengan menjelaskan arti sebenarnya Ukhuwwah Islamiah.

“Ukhuwah Islamiah yang benar adalah bukan ukhuwah yang mengharuskan semuanya sama. Bukan ukhuwwah yang mengharuskan semua ummat muslim harus berpendapat yang sama, kalau satu kelompok A maka kelompok yang lainnya juga A. Tapi ukhuwwah islamiah adalah persaudaran umat Islam yang di dasari dengan perbedaan dan keragamaan,” tegasnya.

Pada akhirnya kedua narasumber menawarkan pentingnya membaca buku Fiqih Indonesia yang di dalamnya terangkum hukum-hukum Islam baru yang sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia. (Nizar Presto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Sholawat, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

PMII Bondowoso: Pemahaman Sejarah Harus Terus Diasah

Bondowoso, Belajar Muhammadiyah

Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bondowoso menyelenggarakan Harlah Ke-56 PMII dan ngaji sejarah bersama pendiri PMII tahun 1960 KH Nuril Huda Suaidi.

Acara tersebut di hadiri oleh Bupati Bondowoso H Amin Said Husni, Ketua PCNU Kabupaten Bondowoso KH Abdul Qodir Syam beserta jajarannya, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso H Syaiful Bahar, Ketua IKA PMII Kabupaten Bondowoso H Asnawi Sabil, Ketua Mabincab PC PMII Bondowoso H Masud Ali, mantan-mantan Ketua Cabang PMII Bondowoso, Kader dan anggota se-Kabupaten Bondowoso, Alumni PMII Bondowoso serta para undangan dari luar PMII Bondowoso.

PMII Bondowoso: Pemahaman Sejarah Harus Terus Diasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bondowoso: Pemahaman Sejarah Harus Terus Diasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bondowoso: Pemahaman Sejarah Harus Terus Diasah

Kegiatan tersebut di selenggarakan di Pendopo kantor Bupati Kabupaten Bondowoso Jalan Letnan Amir Kusnan No. 2 Kecamatan Kota kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Selasa (19/4).

"Sengaja kami mengundang pendiri PMII di tanah Bondowoso tercinta ini tentunya dengan maksud untuk mengutuk hati, menggugah, menyadarkan, mengobarkan semangat dan tujuan sahabat-sahabat, anggota kader-kader serta alumni dalam ber-PMII,” ujar Ketua Cabang PMII Bondowoso Yudik.

Yudik menambahkan, selain itu ngaji sejarah dengan pelaku sejarah merupakan suatu yang hal penting yang terus diasah. 17 April merupakan tanggal bersejarah karena tepat tanggal tersebut di Surabaya lahirlah organisasi kemasyarakat pemuda yang di pelopori sejumlah mahasiswa dan kaum muda intelek tual Nahdlatul Ulama yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

"Oleh karenanya, jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah," tegasnya.

Lain dari pada itu, Bupati Bondowoso H Amin Said Husni mengatakan kader PMII perlu ngaji kepada Kiai Nuril sebagai salah satu pendiri PMII. “Saya merasa bersyukur Alhamdulillah saya bisa menjadi seperti sekarang ini antara lain karena di tempa di PMII. PMII mengajarkan saya mulai cara berorganisasi, cara memimpin rapat, cara berdiskusi, problem solving, sampai pada nilai-nilai dasar pergerakan dan bagaimana berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

"Satu hal yang harus saya ingin kepada sahabat-sahabat warga pergerakan bahwa PMII ini adalah organisasi kader, sebagai organisasi kader, maka pengkaderan itu menjadi suatu mutlak yang terus,di laksanakan, tekuni dan di kembangkan, kita terus mewariskan nilai-nilai ke-Islaman dan nilai-nilai ke-Indonesia," imbuh Bupati.

Agenda kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Bondowoso H Amin Said Husni yang di dampingi oleh Mabincab PC PMII Bondowoso H Masud Ali dan di berikan kepada pendiri PMII KH Nuril Huda Suaidi. (Ade Nurwahyudi/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Budaya Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

PKL Alun-alun Jombang Santuni 300 Anak Yatim

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-alun Jombang, Sabtu (24/10), memberikan santunan kepada anak yatim. Santunan kepada sekitar 300 anak yatim itu dihadiri langsung Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf dan Wakil Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab.

"Alhamdulillah, pada tahun ini kita PKL yang mangkal di alun-alun Jombang bisa memberikan santunan kepada 300 anak yatim. Semoga ini bisa membantu," ujar Mustaghfirin Ketua Paguyuban PKL Alun Alun.

PKL Alun-alun Jombang Santuni 300 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PKL Alun-alun Jombang Santuni 300 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PKL Alun-alun Jombang Santuni 300 Anak Yatim

Kegiatan santunan anak yatim oleh PKL ini mendapat acungan jempol Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf. "Baru kali ini ada PKL menyantuni anak yatim. Apalagi? jumlah yang disantuni sangat banyak. Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan PKL Jombang ini. Makanya jauh-jauh saya sempatkan ke sini " ujarnya memuji kegiatan PKL Alun alun Jombang ini.

Belajar Muhammadiyah

Gus Ipul, sapaan akrabnya, menuturkan, kegiatan PKL Jombang yang memberikan santunan anak yatim ini sangat layak jadi percontohan. Di Jombang tidak pernah ada PKL yang kejar kejar an dengan satpol PP. Justru PKL nya sangat kompak dengan pemerintah untuk bersama-sama ikut menata.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya setelah ada PKL alun-alun sejak 1998, Jombang tetap beberapa kali bisa menyabet anugerah Piala Adipura. Saya yakin tidak akan ada penggusuran PKL. Pak Mustagfirin tidak usah takut digusur," paparnya. ?

Gus Ipul menambahkan, UMKM termasuk di dalamnya PKL merupakan fondasi terkuat perekonomian indonesia. Buktinya, saat krisis 1998, merekalah yang paling kuat bertahan. "PKL harus selalu yakin dengan rahmad Allah. Banyak PKL bisa naik haji. Adik-adik anak yatim juga harus yakin dengan rahmad Allah. Banyak anak yatim yang bisa sukses, Pak Gubernur dulu jg yatim. Banyak menteri dulunya juga yatim. Bahkan Nabi juga yatim. Asal mau belajar sungguh-sungguh, adik-adik yatim ini pasti juga bisa sukses," tutur salah satu ketua PBNU ini menambahkan.

Sementara itu, Wabup Hj Mundjidah? Wahab juga menyampaikan bahwa pemkab tidak pernah punya rencana menggusur PKL alun alun. Asalkan PKL tertib dan bisa menjaga kebersihan bersama, sehingga alun alun yang menjadi kawasan publik bisa menjadi tempat rekreasi masyarakat. "Tidak ada penggusuran PKL alun alun. Tapi saya minta semuanya ikut menjaga kebersihannya," ujarnya.

Terkait santunan anak yatim ini Wabup yang juga ketua PC Muslimat NU Jombang ini mengatakan, kegiatan yang sangat bagus ini bisa ditularkan kepada PKL PKL lain. "Inilah makna hijrah itu. Dulu PKL tidak mengadakan santunan yatim, sekarang mengadakan. Mudah-mudahan tahun depan lebih besar lagi. Kalau bisa juga melibatkan PKL-PKL lain se-Jombang," harapnya. ?

Kegiatan santunan anak yatim yang digelar PKL ini juga dihibur oleh penyanyi religi asal Jakarta Opick. Bahkan Opick juga memuji para PKL yang membantu meringankan beban anak Yatim melalui santunan. "Ini spektakuler. Baru kali ini PKL menggelar santunan yatim. Saya doakan semoga para PKL diberi rezeki berlimpah sehingga tahu depan bisa ketemu lagi pada acara yang sama, mudah-mudahan kita semua juga diberi keluarga yang sakinah, anak solih/solihah dan kelak khusnul khotimah," ucap Opick mendoakan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 21 November 2017

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Bantul, Belajar Muhammadiyah. Acara pembukaan Bulan Budaya yang diadakan oleh PWNU DIY dalam rangka memperingati Harlah NU ke-90, Sabtu malam (11/5), berlangsung cukup ramai. 

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Hujan yang mengguyur daerah lapangan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, sebagai lokasi acara cukup deras. Namun semangat para personil group sholawat sebagai pengisi acara, yang mayoritas sudah tidak dapat dikatakan muda, tetap patut diapresiasi tinggi. 

Sebagai pra acara, malam itu diisi dengan penampilan dan kolaborasi tiga kelompok shalawat dari beragam jenis, yakni group hadrah ittihadul fata yang membawakan shalawat berbahasa Arab, kelompok sholawat emprak pesantren Kaliopak yang menyajikan shalawat dengan bahasa Jawa dan diiringi tarian, kemudian group shalawat ‘Kuda Mas’ yang memadukan shalawat dengan alat-alat musik Tionghoa.

Belajar Muhammadiyah

Alunan musik shalawat yang indah pun menggema malam itu. Selain sarat akan kandungan nilai-nilai agama yang disampaikan melalui seni musik, penampilan ketiga group shalawat yang beragam itu menunjukkan kolaborasi antar etnis yang berbeda, namun tetap dapat disatukan dan bernafaskan Islam pula.

Belajar Muhammadiyah

Usai penampilan ketiga group shalawat, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana kegiatan Bulan Budaya, Samsu Hadi Samono. Dalam sambutannya tersebut, dikatakan bahwa rangkaian kegiatan bulan budaya telah dimulai sejak pagi, yakni apel pagi sebagai bentuk kesetiaan terhadap Pancasila, kemudian kirap budaya dan Jatilan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat. 

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertegas kembali budaya-budaya NU yang sesuai dengan Negara Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Camat Piyungan, Agus Sulistiyana, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan jati diri bangsa, melestarikan budaya dan menggalang persatuan. 

“NU itu dapat merekatkan hubungan masyarakat, karena saat ini persatuan sedang terusik”, tegasnya.

Kemudian diperkuat lagi dengan pernyataan KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mempertegas kembali relasi Islam dengan budaya, terlebih Yogya yang dikenal sebagai pusat budaya. Bagi NU itu, lanjutnya, menjalankan Islam itu yang penting sesuai dengan syari’at. 

“NU itu mementingkan realitas, bukan sekedar formalitas,” tandasnya.

Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan wayang secara simbolik, dari Rais Syuriyah NU DIY, KH Asyhari Abta, kepada dalang, Ki Cermo Radiyo Harsono, sebagai tanda pagelaran wayang telah dimulai.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

CBDRMNU Ikuti Pameran di Konferensi Rakyat Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Konferensi rakyat Indonesia yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan HIdup (Walhi) bersama dengan sejumlah LSM lingkungan pada 1-3 Juli di Asrama Haji Pondok Gede dimanfaatkan oleh Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama (CBDRMNU) untuk menunjukkan berbagai program dan kegiatan yang dilakukan dalam penanganan bencana.

Berbagai kegiatan mulai workshop di berbagai pesantren, survey lapangan maupun penanganan bencana yang dilakukan di berbagai lokasi ditempel dalam ruang berukuran 2X2. Dua orang petugas dengan sebuah laptop siap membantu para pengunjung yang ingin menanyakan aktifitas NU dalam menangani dan mencegah bencana.

CBDRMNU Ikuti Pameran di Konferensi Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRMNU Ikuti Pameran di Konferensi Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRMNU Ikuti Pameran di Konferensi Rakyat Indonesia

“Pengunjung sangat berminat mengetahui aktifitas NU dalam penangann bencana. 150 poster yang kami siapkan ludes dalam waktu sekejap,” tutur Uchie, staff CBDRMNU yang menjaga stand, Senin.

Dikatakannya, meskipun telah banyak melakukan aktifitas, keberadaan CBDRMNU selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. Banyak aktifis lingkungan, termasuk yang berlatar belakangan NU yang belum memahami peran-peran yang dimainkan NU.

Uchie menuturkan bahwa forum ini sekaligus untuk membangun jaringan aktifis LSM lingkungan yang berlatar belakang NU. Dikatakannya, terdapat aktifis Ansor dari Bandung, IPNU dari Jepara dan komunitas NU lainnya yang siap bekerjasama.

Belajar Muhammadiyah

“Ternyata banyak aktifis NU yang langsung terjun ke lapangan melakukan aksi nyata di daerahnya masing-masing. Jaringan ini akan kita kembangkan dalam pengembangan penanganan bencana,” tandasnya.

Uchie menuturkan keterlibatan NU dalam pemeran ini serta berbagai aktifitas nyata yang dilakukan dalam penanganan bencana mendapat apresiasi dari Direktur Walhi Chalid Muhammad. “NU luar biasa, banyak sekali kegiatan dalam penanganan bencana,” kata Ucie mengutip pernyataan Chalid.

 

Belajar Muhammadiyah

Dari pengamatan Belajar Muhammadiyah, ormas Islam yang mengikuti pameran penanganan bencana ini hanya CBDRMNU. Beberapa lembaga lainnya yang mengikuti pameran dan kegiatan diantaranya adalah Walhi, LIPI, Departemen Kelautan dan Perikanan, PMI, Yappika dan lainnya. (mkf) 



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Budaya Belajar Muhammadiyah

Jumat, 17 November 2017

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah

Suatu hari dalam sesak kereta rel listrik, “Duh, mbak artis yang cantik ini, kok sudah menikah saja ya,” terang seorang pemuda pada teman di sampingnya.

“Lha terus kenapa?”

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah

“Ya... siapa tahu. Secara, ia kan idola banyak pria. Termasuk aku. Bisa saja kan aku ungkapkan cinta lebih dulu, kisah akan berubah, haha,” ia tergelak.

Belajar Muhammadiyah

“Yah, ngimpi kali,” timpal temannya, agak mencibir. “Kamu ketemu saja tidak pernah. Saranku, biar mendingan, kamu ikut saja meramaikan tagar #HariPatahHatiNasional.”

Di era modern sekarang, mencari idola adalah lumrah lagi mudah. Jagat maya dan media massa membuat seorang bisa mencari tahu lebih jauh tentang orang-orang yang digemarinya. Siapa pun yang diidolakan bisa sebab kelebihan yang dimiliki, baik penampilan, suara, keterampilan, tulisan, dan lain sebagainya.

Belajar Muhammadiyah

Mengidolakan sosok adalah soal kecenderungan perasaan. Bisa pada awalnya gemar belaka, namun lambat laun jadi cinta. Masalahnya, seorang idola kerap kali adalah sesuatu yang berada dalam kedudukan berbeda, maka mendekatinya hanya angan dan impian belaka. Pepatahnya dalam bahasa Jawa: “cebol nggayuh lintang” (cebol meraih bintang), sebuah kemusykilan.

Apakah menyukai idola, sampai mencintai, ada kisahnya dalam ajaran Islam? Bagaimana jika sampai diungkapkan?Rupanya hal ini juga terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada dasarnya, menyukai hal-hal yang baik dari seseorang tidak dilarang oleh Islam. Kesalehan, kepribadian, juga pesona, adalah hal-hal yang lumrah untuk disukai. Nah, sahabat Nabi di kalangan perempuan, tentu mengidolakan Nabi Muhammad dengan segala kemuliaan beliau. Saking mengidolakannya sampai jadi cinta, ada perempuan yang berani mengaku terang-terangan kepada Nabi agar beliau menikahinya.

Perihal kisah perempuan yang memohon dinikahi Rasulullah SAW ini diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari. Suatu ketika, Anas bin Malik sedang bersama Rasulullah SAW. Kemudian, datanglah seorang perempuan kepada Nabi.

“Wahai Nabi, apakah Anda, punya maksud untuk kiranya menikahi saya?”

Imam Ahmad al Qasthalani mengomentari hadits tersebut dalam kitab Irsyadus Sari li Syarh Shahih al-Bukhari. Dalam periwayatan hadits tersebut, disebutkan bahwa Anas bin Malik menceritakan keberanian perempuan itu kepada putrinya. Mengetahui bahwa pernah ada seorang perempuan yang “macam-macam” seperti itu pada Nabi Muhammad, putri Anas bin Malik itu mencibir, “Duh, tidak punya malu. Buruk sekali perangai seperti itu.”

Nah, sahabat Anas menimpali komentar anaknya, “Hei, perempuan itu, lebih baik daripada kamu, lho. Ia menyukai Rasulullah, kemudian dengan jujur, meminta kesediaan beliau agar menikahinya.”

Kita bisa tahu bahwa perempuan ini mengidolakan Nabi sebagai seorang Rasul, dan dalam taraf tertentu, ia mencintai Nabi dan berharap ingin menjadi istri beliau. Mengenai ini, Imam al Qasthalani berkomentar:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dibolehkan bagi perempuan untuk menyerahkan dirinya kepada orang saleh. Hal itu tidak tercela, malah menjadi dalil terkait keistimewaan sifatnya. Namun jika tujuannya adalah perkara dunia semata, maka itu tercela.”

Kisah perempuan tersebut bukan satu-satunya orang yang menyerahkan diri kepada beliau. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Aisyah radliyallahu’ anha dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim, adalah salah satu dari sekian perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah. Dan sahabat Khaulah ini mendapat cibiran dari Aisyah.

Dari kisah tersebut, maka mengidolakan sosok yang baik itu diperkenankan dalam Islam. Bahkan jika memang sampai cinta dan bertujuan mulia, mengungkapkan rasa itu diperbolehkan. Kita melihat bahwa sahabat perempuan pun saking menyukai Nabi, sampai sangat berani berterusterang kepada beliau. Nah, bagaimana dengan idola Anda? Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Nahdlatul, Budaya Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock