Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid mengatakan, dahulu umat Islam Indonesia tertinggal dalam masalah dunia, lalu didirikanlah Perguruan Tinggi Islam untuk dapat memadukan keilmuan umum dan keagamaan.

Menurutnya, untuk menggapai kebahagiaan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, seseorang juga harus belajar masalah keduniaan tapi dengan motivasi yang tak melulu duniawi.

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

“Semisal belajar ilmu kedokteran. Niatnya semata-mata karena untuk melayani masyarakat, karena bekerja untuk melayani masyarakat itu berbeda dengan bekerja untuk mencari uang,” ujar pria yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Belajar Muhammadiyah

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut di hadapan mahasiswa dan masyarakat umum Bandung saat menghadiri acara Gema Aswaja Tabligh Akbar Nasional dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw, Sabtu (24/5) malam, di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djari, Bandung, Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya kita dituntut untuk meninjau niat kita dalam menuntut ilmu,” katanya.

Gus Sholah menegaskan, umat Islam di Indonesia menjadi acuan negara-negara Islam lain karena dapat memadukan ilmu agama dengan ilmu dunia. “Karena itulah kita mempunyai paham Aswaja yang menjadi Inspirasi umat Islam di luar Indonesia,” tutur Gus Sholah.

Belakangan ini, di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sendiri, kegiatan keagamaan khususnya yang berhaluan Aswaja semakin semarak. Tokoh-tokoh dan mubaligh nasional kerap diundang untuk menghadiri kegiatan di lingkungan kampus. Respon mahasiswa serta masyarakat sekitar juga positif. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, RMI NU, Amalan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa

Rembang, Belajar Muhammadiyah

Sebagai kader muda NU, Gerakan Pemuda Ansor sudah seharusnya lebih aktif berperan serta mempertahankan apa yang sudah diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama. Utamanya di desa, badan otonom NU ini mesti terlihat kiprahnya dalam membentengi warga dari paham ekstrem.

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa

Imbauan tersebut disampaikan Kiai Suparman, Rais Syuriyah Pengurus Ranting NU Desa Babadan, Kecamatan Kaliori Rembang, Jawa Tengah saat Pimpinan Ranting GP Ansor setempat menggelar rapat anggota pemilihan ketua ranting yang baru di Masjid Attaqwa Desa Babadan.

"Gerakan yang paling harus diwaspadai adalah setiap gerakan yang ada di desa. Jangan sampai aliran yang menggunakan kekerasan masuk ke desa kita tercinta ini,” pintanya, Rabu (23/8) malam itu.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Kiai Suparman, sebagai “anak sulung” NU, GP Ansor diharapkan dapat berkiprah maksimal. Selain itu, GP Ansor juga harus siap dan dipersiapkan untuk menggantikan kepengurusan Nahdlatul Ulama kelak.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga mengajak kepada GP Ansor untuk melestarikan tradisi NU seperti ziarah dan lainnya. Ziarah kubur, kata Kiai Suparman, merupakan salah satu wujud kecintaan warga Nahdliyin terhadap sejarah, terutama sejarah leluhur sendiri.

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Kaliori Jasmani memimpin langsung pendemisioneran ketua lama dan sidang pemilihan ketua baru. Ia mengapresiasi Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Babadan yang telah menjalankan organisasi sesuai dengan Pedoman Pelaksaan Organisasi dan Administrasi (PPOA). (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Amalan, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Jelang Kongres, bursa pencalonan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor NU yang akan digelar pada 7-14 Januari 2011, di Surabaya semakin ramai. Namun bagi Pengurus Cabang (PC) Ansor Brebes ramainya kandidat tidak menjadi soal. Karena yang lebih utama dalam kongres adalah bagaimana Ansor bisa berdiri mandiri dengan program dan aktualisasinya yang menggigit.

“Kami belum tentukan kandidat,” ungkap Ketua PC Ansor NU Brebes H Agus Mudrik Khaelani usai rapat persiapan kongres di gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes Selasa (28/12).

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri

Mudrik mengaku, persoalan kandidat sudah menjadi komitmen saat berada dibilik suara pemilihan. Yang lebih fokus adalah bagaimana agar program-program Ansor NU bisa lebih mandiri. Ansor NU memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi organisasi yang mandiri. Apalagi, anggotanya merupakan pemuda yang telah matang dan dalam usia yang produktif.

Belajar Muhammadiyah

Menyinggung kesiapan PC Ansor NU Brebes dalam mengikuti Kongres telah matang dibicarakan. Bahkan diperkirakan menjadi peserta terbanyak. Brebes akan mengirimkan lebih kurang 100 peserta. Mereka terdiri dari 59 Pengurus Cabang dan  51 Pengurus Anak Cabang. “Insya Allah  utusan Brebes akan menggeruduk asrama haji Sukolilo Surabaya dengan 2 bus Dedy Jaya,” tutur Gus Mudrik.

Selain mengikuti kongres, lanjutnya, juga sekaligus mengadakan ziarah ke makam para Wali dan tokoh NU.  Antara lain ke makam Sunan Ampel, Sunan Muria, Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan menyaksikan jembatan Suromadu.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Sekretaris PC Ansor NU Brebes Nurul Huda SAg menambahkan,  dalam kongres nanti juga akan membuka stand di area bazar. Di stand tersebut akan dijual telor asin dan bawang merah. Juga sate khas Brebes dan Tegal disamping produk unggulan lainnya. “Yang jelas, PC Ansor Brebes siap mengikuti kongres dengan penuh antusias,” pungkasnya.

Perlu diketahui dalam kongres Ansor telah muncul beberapa kandidat antara lain Politisi Partai Demokrat Khatibul Umam Wiranu M Hum, Ketua Fraksi PKB Marwan Ja’far,  Choirul Sholeh Rasyid, Sekjen PP GP Ansor A Malik Haramain dan politisi Golkar Nusron Wahid. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Ditengah-tengah acara kongres ke XIII Fatayat NU yang sedang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, PP Fatayat NU menandatangani kerjasama dengan BKKBN dalam bidang kesehatan reproduksi (12/7). Mewakili Fatayat Maria Ulfa Ansor sedangkan BKKBN diwakili oleh Dr. Siswanto Wilopo yang merupakan salah satu deputi di BKKBN.

Kerjasama ini terjalin karena sebelumnya Fatayat telah sukses menjalankan program serupa di 11 propinsi. “Mereka membutuhkan bantuan Fatayat untuk melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi seperti KB dan lainnya,” tandas Ketua Panitia Kongres dr. Wan Nedra Komaruddin.

Kerjasama ini sangat tepat karena anggota Fatayat memiliki usia reproduksi sehingga mereka menjadi user. Sosialisasi ini sangat bermanfaat karena mereka akan tahu berbagai aspek kesehatan reproduksi. “Misalnya KB dengan pil, ia akan tahu indikasinya apa dan efek sampingnya apa. Jadi edukasi seperti itu,” tambahnya.

Bentuk sosialisasi nantinya mungkin dalam bentuk serial diskusi. Fatayat juga telah memiliki tenaga handal yang siap untuk diterjunkan ke lapangan, walaupun akan terus dilakukan capacity building. Nantinya wilayah yang siap bisa langsung sementara yang belum diminta mempersiapkan diri dulu.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Doa, Amalan Belajar Muhammadiyah

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jumat, 19 Januari 2018

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Rukyatul Hilal atau melihat bulan di waktu petang pada tanggal 29 kalender Hijriyah selain dimaksudkan untuk menentukan awal bulan Hijriyah apakah terjadi besok atau lusa, juga bernilai ibadah (taabbudi) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazalie Masroeri kepada Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (9/8). "Namun rukyatul hilal harus dilakukan dengan ilmu," katanya.

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Dikatakan, rukyatul hilal dapat mencapai kesempurnaan jika dipadukan dengan prinsip ilmiah (taaquli). Dalam hal ini rukyatul hilal akan dipandu dengan disiplin ilmu hisab (astronomi) dengan tingkat akurasi tinggi. "Sama dengan penentuan arah kiblat pun perlu ilmu," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Pada saat dilakukan rukyatul hilal, ilmu hisab berfungsi untuk menentukan kapan terjadinya konjungsi (ijtima’), yakni saat bulan berada antara matahari dan bumi, maka terjadi bulan baru (new-moon) atau bulan mati, dan wajahnya menjadi tidak nampak. Peristiwa ijtima merupakan batas secara astronomis antara bulan Hijriyah yang sedang berlangsung dengan bulan yang baru.

Ilmu hisab juga berfungsi untuk menentukan letak matahari terbenam, memperkirakan berapa derajat ketinggian, kedudukan, dan keadaan hilal, lama hilal diatas ufuk dan besaran cayayanya.

Belajar Muhammadiyah

Hilal itu sendiri adalah bulan sabit atau dalam istilah astronomi disebut crescent, yakni bagian dari bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi.

Dikatakan Kiai Ghazalie, karena sifatnya sebagai ilmu, hisab akan terus berkembang dari masa ke masa. "Tidak ada itu istilah kitab hisab yang muktabarah," katanya.

Nah, rukyatul hilal bisa disebut sebagai observasi ilmiah yang juga berfungsi untuk menetapkan sebatas mana teori-teori dalam ilmu hisab tetap dipertahankan sembari merencanakan penemuan-penemuan baru.(nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah



Selama bulan Ramadhan tahun ini pengurus takmir Mushala kantor PCNU Banyuwangi akan mengadakan kegiatan kajian kitab kuning secara bandongan sebagaimana dalam tradisi pesantren. Mushala kantor PCNU Banyuwangi di Jalan Ahmad Yani, nomor 59, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, menjadi pilihan tempat dalam pelaksanaan gelaran kajian rutin selama bulan Ramadhan ini.

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Saat dimintai keterangan, ketua takmir mushala PCNU Banyuwangi mengatakan ada beberapa kitab yang akan dikaji. Mulai dari kitab fiqih, tauhid, sejarah, ke-NU-an dan keaswajaan, dan lain sebagainya.

"Ini sebagai upaya untuk menyambut Ramadhan dengan amaliah yang baik sekaligus memakmurkan kantor NU. Dan saya akan mengundang pengurus NU beserta banomnya di setiap tingkatan. Tak terkecuali pula masyarakat umum yang ingin menghadiri kajian ini," jelas Haikal kepada Belajar Muhammadiyah di kantor PCNU Banyuwangi, Kamis (25/05) siang.

Kajian kitab dikhususkan kepada karya-karya yang ditulis oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari. "Karya Kiai Hasyim sengaja kami pilih karena memiliki makna ganda. Tidak hanya memperkuat keimanan, juga bertujuan untuk memperkuat ideologi ke-NU-an," tutur Haikal.

Belajar Muhammadiyah

Secara teknis ada empat judul kitab yang akan dikaji mulai selepas shalat Ashar sampai jelang buka bersama. Kitab pertama Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, Kitab kedua At-tibyan, ketiga Muqoddimah Qonun Asasi, dan terakhir Arbaina Hadistan Nabawiyah, imbuh Haikal.

"Saya tentukan untuk kitab pertama akan dipandu oleh Katib Syuriah MWC NU Banyuwangi Fata Zamroni di setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Kitab kedua disambung oleh Wakil Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Banyuwangi Ahmad Syakur Isnaini di setiap hari Senin dan Sabtu. Dan kitab ketiga akan dipandu oleh Direketur Aswaja NU Center PCNU Banyuwangi Kh. Abdillah Asad di hari Jumat kedua dan keempat. Terakhir Rais Syuriah MWC NU Blimbingsari Sunandi Zubaidi akan memandu kitab keempat di hari Jumat minggu pertama dan ketiga," terang Haikal.

"Sengaja pemateri kita buat bergantian harapan kami supaya lebih efektif dan para hadirin tidak merasakan bosan saat pengajian," tegas Haikal.

Haikal menambahkan, kalau ingin memiliki kitab pengajian bisa didapat di panitia dengan mengganti bisyarah lima puluh ribu rupiah. "Akumulasi biaya bisyarah penggantian kitab ini juga diperuntukkan biaya akomodasi kegiatan," terangnya.

Dan terakhir Haikal menyampaikan, para peserta yang hadir juga mendapatkan takjil gratis yang disiapkan panitia. "Para peserta atau lainnya juga bisa menyumbang takjil atau juga bahan berbuka lainnya untuk kegiatan yang disupport oleh Lakpesdam MWC NU Banyuwangi dan disiarkan langsung oleh radio Belajar Muhammadiyah Banyuwangi ini," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan, Nasional Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah bekerja sama dengan harian lokal? Tribun Jateng? membuka konsultasi syariah melalui rubrik “Halaqah”. Rubrik ini dikemas dalam format interaksi tanya jawab seputar ibadah Ramadhan yang hadir di halaman "Happy Ramadhan" tiap hari selama bulan puasa 1437 Hijriah.?

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal

Kerja sama ini telah terbangun sejak tahun kemarin. Di bawah koordinasi Departemen Pendidikan, Kajian dan Pelatihan RMINU Jateng, rubrik ini diisi para kiai dari pesantren. KH Fadhlullah Turmudzi, penanggung jawab program ini menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian perhatian pesantren untuk masyarakat.

?

Belajar Muhammadiyah

"Walaupun sudah banyak sumber pengetahuan yang mudah kita dapatkan, kita masih butuh bimbingan dari kiai-kiai pesantren," papar Gus Fad sapaan akrab KH. Fadhlullah Turmudzi yang juga pengasuh Pondok Pesanten APIK Kaliwungu Kendal, Selasa (7/7).

?

Selain itu, lanjut Gus Fad, masih banyak peran dan fungsi pesantren terhadap masyarakat. Pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia harus mampu memberikan warna tersendiri terhadap perjalaan bangsa ini. Berbagai fenomena kekerasan seksual, penyalahguanaan narkoba, pembunuhan, dan sebagainya perlu mendapat kajian dari pesantren bagaimana pesantren berperan dan bersikap.

?

Belajar Muhammadiyah

Gus Fad juga mengingatkan kepada pesantren-pesantren untuk menguatkan perannya di masyarakat. "Nguri-nguri ngaji posonan harus selalu menjadi tulang punggung santri di berbagai daerah. Semangat untuk tetap mencari ilmu dengan niat tabarrukan harus menjadi nafas para santri" kata dia. (M. Zulfa/Zunus)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Rajaban adalah istilah lain peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hampir setiap daerah memiliki tradisi yang mungkin berbeda istilah atau cara perayaannya.

Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Namun sejatinya semua memiliki esensi yang sama, yakni sebuah pengingat peristiwa agung, tatkala Nabi saw melakukan perjalanan dari Makah ke Palestina (isra’), kemudian naik (mi’raj) hingga ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Rabb-nya.

Tak terkecuali kegiatan Rajaban yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Kranji Kab. Pekalongan, Kamis kemarin (23/5). Rajaban menjadi sebuah momentum acara bersama mulai dari remaja, ibu-ibu hingga para sesepuh kampung turut menyemarakkan acara tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Semarak acara sebetulnya sudah tampak sejak hari-hari sebelumnya, dimana para remaja yang tergabung dalam IPNU-IPPNU membuka bazar. Selain mereka yang berjualan aneka makanan dan minuman, para pedagang dari luar juga turut ngalap berkah dari acara tersebut. Bermacam-macam pedagang tumpah-ruah di dekat kompleks Masjid Jami’ Kranji.

Belajar Muhammadiyah

Rabu (22/5), para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari Madrasah Diniyah Nurul Anam berbondong-bondong datang ke kompleks makam. Di sana mereka mengadakan yasinan dan tahlilan sampai menjelang Maghrib. Malam harinya, diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Quran 30 juz bil ghaib.

Puncak acara peringatan Rajaban di Kampung Kranji, yakni acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Mbah Nurul Anam serta para Sesepuh Kampung Kranji diselenggarakan Kamis (23/5) lalu di kompleks pemakaman Kampung Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah, Mustofa, menuturkan dirinya bersama rombongan dari Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang selalu menghadiri Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya.

”Kehadiran kami dalam acara tersebut diantaranya adalah ngalap berkah. Selain itu juga agar dapat meneladani ulama Nurul Anam semasa hidupnya,” ujar warga Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan H. Subhan dari Cirebon Jawa Barat. Meski bersama rombongan kecil, pihaknya terus mengikuti acara Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya. “Selain sebagai pencerahan, kami juga ingin ngalap berkah,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Pendidikan, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Kunjungan Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz mendapat perhatian luar biasa. Jarang-jarang lawatan sebuah kepala negara mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Persiapan yang istimewa dilakukan untuk kenyamanan Sang Raja. Lift Masjid Istiqlal dipasang baru, demikian juga toiletnya. Di DPR beraneka-ragam bunga didatangkan agar gedung wakil rakyat ini tampak indah dalam menyambut khadimul haramain. Televisi melakukan siaran langsung acara kenegaraan yang dihadiri sang Raja sedangkan media cetak atau daring mengupas berbagai sisi, baik hubungan Indonesia dan Saudi Arabia dari masa ke masa atau tentang figur Raja Salman dan keluarganya.?

Pemerintah berharap kunjungan tersebut tidak sebatas seremoni. Ada harapan lebih besar agar terjalin hubungan yang lebih erat dan kerja sama ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Perdagangan Indonesia dengan Saudi cukup erat, terutama terkait dengan impor minyak mengingat Indonesia saat ini sudah mengimpor bersih untuk memenuhi kebutuhan minyak buminya. Total ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,33 miliar dolar sedangkan impor kita mencapai 2,73 miliar dolar. 2,02 miliarnya berupa produk minyak. Publik, melalui analisis terhadap konten yang diperbincangkan di media sosial, publik menginginkan hubungan yang lebih erat mengingat dua negara ini penduduknya mayoritas Muslim. Apalagi di Arab Saudi terdapat Masjidil Haram dan Masjid Madinah, dua tempat yang paling dihormati umat Islam. Sebagai saudara yang diberkahi kekayaan dari sononya, tanpa perlu bekerja keras, Saudi diharapkan memberi bantuan maksimal atas saudara sesama Muslim yang tidak seberuntung dia. ?

Sayangnya, harapan terhadap kerja sama yang lebih erat ini kurang membawa hasil. Presiden ? Joko Widodo dalam sambutannya di Pesantren Buntet Cirebon (13/4) secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas komitmen investasi Saudi Arabia yang hanya sebesar Rp89 triliun (US$6 miliar), sementara China mendapatkan kucuran dana sebesar Rp870 triliun (US$65 miliar) bahkan Malaysia yang negaranya lebih kecil dari Indonesia mendapat lebih banyak, yaitu sebesar Rp 92,8 triliun atau setara dengan US$7 miliar.

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Banyak di antara Muslim Indonesia tampaknya terbuai dengan Saudi Arabia karena sentimen keislaman. Seolah-olah Saudi akan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, sementara di sisi lain, mereka menyatakan ketidaknyamanan dengan China karena stigma ideologi yang dianut oleh negeri tersebut, dan karena penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa yang dari sisi jumlah adalah minoritas.

Lho, ternyata Saudi lebih memilih menanamkan uangnya kepada China daripada Indonesia yang sesama Muslim. Inilah yang tak banyak disadari oleh sebagian Muslim Indonesia yang menempatkan Saudi sebagai patron, sebagai bentuk ideal dalam berislam. Bahwa membantu sesama Muslim adalah di atas segalanya. Faktanya, dana-dana petrodolar yang mereka miliki lebih banyak diinvestasikan di negara-negara Barat daripada negara Muslim.

Belajar Muhammadiyah

Saudi berpikir pragmatis dalam melakukan investasi, di mana dana tersebut. Kurang ada kesadaran untuk melakukan kebijakan afirmatif untuk mendukung sesama negara Muslim, sementara di sisi lain ingin disebut sebagai pemimpin bagi negara-negara Muslim. Perilaku yang sama juga dilakukan negara-negara Timur Tengah terhadap dana-dana minyak yang mereka miliki terhadap kebijakan investasinya. Pada rentang 2010-2015, nilai investasi negeri yang dipimpin oleh dinasti Saudi itu hanya US$34 juta atau hanyaa 0,02 persen dari total investasi asing yang mengalir ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun itu. Pada 2016, realisasi investasi hanya US$900.000 atau sekitar Rp11,9 miliar.

Jika pendekatannya adalah pragmatis bahwa uang tidak memiliki agama, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan kucuran investasi karena sentimen sebagai sesama Muslim. Indonesia harus memperbaiki iklim investasinya, hambatan-hambatan terhadap investasi seperti korupsi yang masih menggurita, birokrasi yang bertele-tele, infrastruktur yang masih belum memadai, dan hal-hal lain harus diperhatikan. Dengan demikian, siapa saja akan datang karena adanya potensi keuntungan yang akan diperoleh.?

Belajar Muhammadiyah

Kita memang gampang terbuai dengan kata-kata indah yang menggugah emosi kita. Sejarah perjalanan bangsa telah membuktikan, dahulu kita mendukung Jepang masuk ke Nusantara karena mereka memakai sentimen sebagai saudara tua. Faktanya, penjajahan yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun ini menimbulkan penderitaan yang tak terkira. Indonesia, jika ingin maju, tidak bisa mengharapkan negara atau bangsa lain untuk menolong. Kita yang harus memacu diri kita sendiri untuk memperbaiki apa yang kurang. Kita, berhubungan dengan bangsa lain dalam posisi yang setara, bukan menghamba. Bahkan kalau bisa, menolong negara-negara lain yang selama ini kurang berdaya. Dan itu hanya bisa dicapai jika kita kuat, kita berdaya, dan kita memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tawar kepada bangsa lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Makam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Banda Aceh, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh mengelar rapat bersama pengurus di kantor PWNU setempat, Selasa (19/11) kemarin dalam rangka penyambutan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ke Aceh pada akhir bulan ini.

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Rapat kali ini dihadiri beberapa sesepuh PWNU Aceh. Tgk. Asnawi, Sekretaris PWNU Aceh mengatakan, Ketum PBNU dijadwalkan akan menghadiri kunjungan ke Aceh pada Tanggal 29 November 2013 dalam rangkaian kegiatan diantaranya akan bertindak sebagai pemateri pada acara Seminar Internasional yang dilaksanakan oleh panitia Mubes ke-II PB Huda Aceh.

Tgk. H. Faisal Ali, Ketua PWNU Aceh mengatakan, Ketum juga akan memberikan taushiyah kepada warga Nahdiyin di provinsi Aceh sehari setelah acara Huda.

Belajar Muhammadiyah

Selain membahas tentang penyambutan Ketum dalam rapat tersebut pengurus PWNU Aceh juga membahas tentang perkembangan lembaga pendidikan NU, kata Abu Faisal. (Tgk Muslem/Anam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Amalan, Syariah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Tak kurang dari sepuluh ribu ibu-ibu dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul di arena Kongres Ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak Rabu (23/11) malam. Hingga Jumat (25/11) padatnya arena kongres tak membuat asrama yang dibangun sejak tahun 1974 itu penuh sampah.

Di sepanjang pagar dan dinding gedung utama hingga lapangan manasik, berjejer karangan bunga dan spanduk ucapan selamat atas perhelatan Kongres Ke-17 Muslimat NU. Sejumlah spanduk iklan menggelorakan kebersihan, tampak memberi sugesti tersendiri bagi para peserta.

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah

Sejuknya suasana Kongres Muslimat NU diakui petugas keamanan Asrama Haji Pondok Gede, Triokarno (33). “Banyak organisasi bikin kegiatan di sini. Tapi memang, baru kali ini semua panitia dan peserta juga terlibat dan komitmen dalam urusan kebersihan,” paparnya, Jumat (25/11).

Belajar Muhammadiyah

Trio teringat, kongres sebuah organisasi tertentu yang dihelat tahun 2013 lalu. “Dulu pernah ada kongres ricuh di sini sampe bakar-bakaran. Kalau kongres yang ini, sepekan sebelum kegiatan, kami sudah diajak berembuk oleh panitia. Dari urusan keamanan sampai urusan kebersihan. Kami merasa sangat terbantu. Karena NU menurunkan banyak relawan,” imbuhnya.

Untuk urusan kebersihan saja, menurut Trio, ada 150 relawan yang terlibat. Belum untuk urusan keamanan, konsumsi dan sebagainya. Itu, kata Trio, disampaikan Panitia Kongres dalam rapat gabungan bersama pengelola Asrama Haji, Kamis (17/11).

Belajar Muhammadiyah

“Mereka yang berkaos biru itu dari pelajar, yang berkaos putih dari Banser. Yang berbatik dari mahasiswa NU (PMII) katanya. Termasuk dari TNI dan Kepolisian juga ikut serta membantu. Jadi kalau ada yang perlu digotong, mereka semua sigap membantu,” jelasnya.

Koordinator Publikasi dan Dokumentasi Panitia Kongres Muslimat Ke-17 NU Rizky Wijayanti mengungkapkan, para peserta memang diberi arahan khusus oleh Pimpinan Pusat Muslimat NU untuk menyukseskan kegiatan, tak hanya dari sisi acara, tapi juga dari sisi kebersihan.

“Ini inisiatif dari Muslimat untuk memberi teladan bagi yang lain. Bahwa dalam berkegiatan apa pun, dengan massa sebanyak apa pun, kita bisa berkomitmen menjaga lingkungan,” kata Rizky.

Kampanye menjaga lingkungan itu, bahkan juga didengungkan berkali-kali di ruang Media Centre. Para panitia tak henti-hentinya mengingatkan para jurnalis untuk membuang sampah bekas makan dan minum, di tempat yang telah disediakan. “Tolong ya wartawan yang ganteng dan cantik, setelah makan, sisanya jangan ditinggal di meja. Tapi dibuang ke tempat sampah ini,” kata Enny Jamilah, panitia yang standby di ruang Media Centre. (Abdul Malik Mughni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Haryono mengungkapankan bahwa ada lima isu utama yang menjadi perhatian. Di antara kelima isu tersebut adalah mengenai distorsi pemahaman terhadap pancasila.

Menurutnya, di saat negara-negara lain berupaya untuk membangun bangsanya lebih maju, tapi di Indonesia masih disibukkan dengan kelahiran Pancasila.?

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila

“Kita masih sibuk Pancasila 1 Juni, 22 Juni atau 18 Agustus,” kata Haryono pada acara Ngobrol Kebangsaan: Merayakan Toleransi dalam Keberagaman di Gedung Konvensi Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (23/7).?

Menurutnya, mencuatnya perbedaan kelahiran Pancasila dikarenakan pemahaman yang tidak benar. Apalagi ada guru besar yang beranggapan bahwa Pancasila itu didirikan 18 Agustus.?

Belajar Muhammadiyah

“Logikanya, rumah didirikan sebelum pondasi atau pondasi didirikan setelah rumah,” katanya.

Lalu orang yang menyebarkan 18 Agustus itu seorang profesor, guru besar yang memilik integritas, ia pun membalikan pertanyaan.

“Kira-kira…, Mohammad Hatta, dan Pak Hugeng Imam Santoso, mantan jenderal polisi itu apakah tidak punya integritas? Ini Pak, akibat mereka tidak tahu Pancasila,” katanya.

Selain Haryono, hadir juga menjadi pembicara; Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas, dan dosen Antropologi Universitas King Fahd Arab Saudi. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Nahdlatul Ulama, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan

Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/1) mendatang, akan mengadakan peringatan haul para sesepuh pondok, salah satunya adalah KH. Ahmad Shofawi. KH. Ahmad Shofawi, putera dari Akram bin Ikram bin Thohir lahir di Kota Solo pada tahun 1879. Selain sebagai salah satu tokoh pendiri Al-Muayyad, juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang dermawan lagi sholeh. Juga wira’i, cermat dan hati-hati dalam menjalankan syariat, tawaddhu’ dan rendah hati. Beliau sangat menyayangi ulama dan kyai-kyai serta berbahasa Jawa halus (Kromo Inggil).

Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama terutama dari sang Bapak. Setelah menginjak usia remaja, Shofawi mondok di Pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Kadirejo Klaten guna mempelajari dan mendalami ilmu tasawuf, Thoriqoh Naqsabandi. Di pesantren ini pula ia bertemu dengan sahabatnya, KH Abdul Mannan (ayah KH Ahmad Umar), yang kelak bersama-sama mendirikan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan.

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan

Saat menjadi santri, Shofawi bercita-cita menghafal Al-Quran, akan tetapi hal tersebut tidak sempat terwujud. Namun disamping itu, ia juma memiliki tiga cita-cita lainnya, yaitu; berkediaman di dekat (mangku) masjid, menunaikan ibadah haji dengan kapal berbendera Islam, dan memiliki anak-anak yang mangku (mengasuh) pondok pesantren. Cita-cita tersebut, di kemudian hari, semuanya telah terwujud.

Putera-puterinya kini menjadi pengasuh berbagai pondok, antara lain KH Rozaq Shofawi (Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo) dan Nyai H. Siti Maimunah Baidlowi, mendampingi suaminya KH A. Baidlowi (almarhum), mengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Brabo.

Kembali ke Solo, Shofawi muda kemudian menekuni dunia usaha. Di bidang dunia usaha, Kiai Shofawi terkenal sebagai pengusaha yang bonafide dan maju. Di saat orang masih menggunakan alat tenun tangan, beliau telah menggunakan alat tenun mesin, suatu yang sangat langka pada masa itu. Kualitas barang selalu dijaga, pelayanan yang baik dan barang dijual dengan layak. Kesemuanya membuat perusahaan batik dan tenun cap “Pohon Kurma” milik beliau dapat menguasai pasar Solo dan Surabaya.

Dengan kekayaannya, beliau gunakan untuk membantu berbagai macam pihak, termasuk menyediakan keperluan para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam barisan kiai Sabilillah maupun Hizbullah yang terkenal dengan “Pasukan Lawa-lawa”.

Belajar Muhammadiyah

Tak hanya itu, Mbah Kaji Sapawi, begitu sapaan masyarakat kepadanya, turut membantu pembangunan masjid dan pesantren di berbagai daerah, antara lain 3.500 meter persegi untuk membangun pesantren, madrasah dan masjid Al-Muayyad, Laweyan Solo. Kayu jati untuk masjid di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta-pun, atas pembiayaan beliau. Pondok pesantren lainnya juga banyak dibantunya, seperti pesantren Serang Rembang, pondok pesantren Gontor Ponorogo dan lain sebagainya.

Bantuan yang berikan di masa lampau tersebut, bahkan masih diingat oleh pengasuh pesantren generasi penerusnya. Seperti yang dituturkan salah satu putera Mbah Kaji Sapawi, KH Idris Shofawi, saat diwawancarai Belajar Muhammadiyah di kediamannya, belum lama ini (14/10).

“Dulu sewaktu saya masih muda, saya pergi ke Gontor bersama sejumlah jamaah. Di sana, pendiri Pondok Gontor Kiai Zarkasyi dalam sambutannya mengatakan ketika masih membangun Pondok Gontor, ia mengirim 3 utusan ke Solo untuk mencari tambahan donatur. Salah satunya ke Mbah Sapawi. Kemudian oleh Mbah Sapawi, dicukupi biaya yang dibutuhkan,” terang Kiai Idris.

Belajar Muhammadiyah

Bangun Masjid Tegalsari

Kiai Showafi, pula yang banyak mendukung berdirinya madrasah dan masjid di Tegalsari. Tanah yang menjadi tempat untuk mendirikan masjid serta sebagian yang sekarang menjadi kompleks bangunan pesantren dan sekolah MI/SD/SMP Ta’mirul Islam di Tegalsari, merupakan wakafnya. Tanah seluas 2000 m2 (lebar 40 m, panjang 50 m) tersebut, dulunya disebut gramehan yaitu tempat untuk memelihara ikan gurami.

Saat membangun masjid tersebut beliau sangat berhati-hati, karena karena beliau dikenal sebagai Kiai wira’i (cermat dan hati-hati menjalankan syari’at), suka riyadlah (prihatin demi cita-cita luhur) serta taat kepada guru dan kiai. Kewira’i-an beliau ditandai dengan beliau memerintahkan seluruh tukang harus berwudlu sebelum berkerja, agar mereka dalam keadaan yang suci juga.

Dan atas perintah ayahnya, Masjid Tegalsari dibangun dengan tiga syarat, yaitu; 1) Dilarang mencari dana dengan mengeluarkan surat edaran ke manapun., 2) Harus dibiayai sendiri (prinsip mandiri)., 3) Bila ada dermawan lain memberi bantuan supaya diterima, tetapi tidak usah meminta bantuan. Hal ini dipegang teguh dalam pendirian masjid sampai selesai. Dana-dana yang masuk harus halal. Karena ini untuk menjaga kesucian dari pembangunan masjid Tegalsari.

Kesucian Masjid Tegalsari memang benar-benar dijaga oleh pendirinya yaitu KH Ahmad Shofawi. Saat itu Indonesia masih diduduki Belanda, dan Belanda mencurigai Masjid Tegalsari sebagai tempat persembunyian pejuang kemudian Belanda masuk tanpa melepas alaskaki dan membawa anjing pelacak.?

Setelah Belanda keluar dari masjid, KH Ahmad Shofawi langsung menyujikan sendiri masjid itu, 7 kali dengan air dan salah satunya dengan pasir untuk menghilangkan najis mugholladhoh (najis besar). Dalam kesucian beliau sangat berhati-hati, dalam kesehariannya beliau mencuci pakaiannya sendiri, ini dikarenakan agar beliau dapat memastikan pakaian yang dipakai benar-benar suci.

Konsisten akhir hayat

Sebagai seorang tokoh panutan di lingkup Tegalsari, bahkan wilayah Surakarta, Mbah Kaji Sapawi menjadi sosok yang benar-benar konsisten dalam menjaga dua prinsip: Quu anfusakum wa ahlikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka) dan wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa (tolong menolonglah kalian semua dalam kebaikan dan taqwa).

“Bahkan hingga jelang akhir hayatnya, Mbah Sapawi tetap ikut mengawasi pendidikan dan ibadah putera-puterinya. Seringkali ia shalat berjamaah di masjid, berada di shaf belakang putranya yang masih kecil, seperti Pak Idris dan Pak Muid untuk mengawasi sholat mereka. Setelah sahalat kalau masih gojek, beliau menyabetkan serban sebagai peringatan masih mengawasi,” ungkap salah satu tokoh Masjid Tegalsari, Ahmaduhidjan, saat disambangi Belajar Muhammadiyah, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Di bidang pendidikan, imbuh Mbah Ahmadu, Mbah Sapawi juga mendatangkan beberapa ulama untuk mengajarkan pendidikan agama Islam kepada puteri-puterinya. “Mbah Kiai Shofawi mengundang sejumlah kiai antara lain KH Djauhar Keprabon, KH Mawardi Sepuh Keprabon, KH Masjhud Keprabon, dan KH Asy’ari Tegalsari.untuk datang ke rumahnya dan mengajari putra-putrinya belajar ilmu agama, dan kemudian juga turut bergabung anak putri yang lain,” ungkap dia.

Keistiqomahan beliau dalam ibadah dan berhubungan baik dalam masyarakat terjaga hingga pada usia 83 tahun, tepatnya pada tahun 1962, Kiai Shofawi wafat. Jenazah beliau dimakamkan di Maqbaroh “Pulo” Laweyan Solo. Lahu al-fatihah!

(Ajie Najmuddin)

Sumber:

- A Hakim Adnan. 1993. Sejarah Masjid Tegalsari. Solo. Asya Grafika.

- Wawancara H Ahmaduhidjan, 8 Oktober 2015.

- Wawancara KH Idris Shofawi, 2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Amalan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun, ulama kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus , Jawa Tengah, KH Ahmad Basyir wafat Selasa (18/3), pukul 00.10 WIB di Rumah Sakit Islam  Kudus. 

Menurut rencana, jenazah Mustasyar PCNU Kudus tersebut akan dimakamkan Selasa hari ini pukul 14.00 di pemakaman umum Dusun Kauman, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo. 

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat

Saat berita ini ditulis, ribuan pelayat sudah memenuhi kediaman almarhum di Dukuh Mbareng, Jekulo Kudus. Bahkan sejak  Selasa pagi ini, para pelayat sudah menshalati jenazah almarhum secara bergelombang di komplek pesantren Darul Falah setempat.

Belajar Muhammadiyah

Sekretaris MWCNU Kecamatan Jekulo H Zusni Anwar mengatakan, KH Ahmad Basyir merupakan sosok ulama kharismatik yang memiliki ribuan santri. Ulama yang sering disapa Mbah Basyir ini juga dikenal sebagai guru dan pemberi ijazah (mu’jiz) Dalailul Khairat.

“Banyak para santri kudus dan luar kudus yang nyantri di situ. Beliau sangat dikenal sebagai guru dan mu’jiz dalailul khoirat,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah.

Belajar Muhammadiyah

Mbah Basyir adalah sosok teladan yang dapat kita contoh. Semasa hayatnya, beliau sangat ta’dhim dan tawadhu terhadap para gurunya.

“Beliau juga sangat ramah terhadap masyarakat sekelilingnya termasuk menyambut para para tamu. Beliau tidak membeda-bedakan latar belakang setiap tamu yang datang,”ujar Zusni memberi kesan.

Kabar wafatnya mbah Basyir menjadikan duka semua kalangan. Dalam dunia maya, semua pengguna jejaring sosial menyatakan  turut berduka dan mendoakan ayahanda penasehat RMI Jateng KH Ahmad Badawi Basyir itu. (Qomarul Adib/Mahbib)

 

 

Foto: KH Ahmad Basyir (kanan) bersama Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid dalam sebuah acara (syathooriyah.wordpress.com)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Jadwal Kajian, Amalan Belajar Muhammadiyah

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Demak, Belajar Muhammadiyah. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak warga NU untuk menengok dan mengingat kembali sejarah awal dibentuknya NU sesuai yang tertera dalam Anggaran Dasar Aggaran Rumah Tangga AD/ART NU.

Menurutnya, NU satu kesatun dengan bangsa Indonesia, dan tak terpisahkan. “NU didirikan itu salah satu tujuannya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin demi terwujudnya bangsa Indonesia. Mari kita lihat AD/RT NU, maka dari itu, NU tidak bisa pisah dari bangsa Indonesia,” katanya di hadapan ribuan Muslimat NU di alun-alun Masjid Agung Demak pada Ahad (2 /4) pada puncak Harlah NU ke 91, Harlah Muslimat NU ke 71 dan Hari Jadi Demak ke 514.

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Gus Yahya begitu dia akrab dipanggil, menegaskan, selaku salah satu elemen pendiri bangsa Indonesia, NU secara otomatis ? mempunyai ? kewajiban menjaga bangsanya dari orang maupun kelompok pengacau, pengganggu, merongrong kewibawaan bangsa serta mengganggu keutuhan Negara Kesatua Republilk Indonesia.

“Setiap pengacau yang mengganggu Indonesia, maka akan berhadapan dengan NU. Bagi NU, NKRI harga mati yang tak hisadi tawar lagi,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Muslimat NU Demak Hj Utami Musadad mengatakan,kegiatan tersebut dimuli dengan bacaan Al-Qur’an bil ghoib (hafalan) sebanyak 500 kali, membaca Al-Qur’an bi nadhor sbanyak 500 kali, manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 400 kali, istighotsah, maulidurrasul serta pengajian,

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan khidmat, khataman Al-Qur’an baik bil ghoib maupun bi nadhor, manaqib semua khatam,” tutur Hj Utami Sadad.

Puncak acara harlah, selain dihadiri warga Muslimat, juga dihadiri Bupati Demak H M Natsir, Waub Joko Sutanto, ketua DPRD H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Demak Wakil ketua PW Muslimat Jateng yang ? juga anggota FKB DPRD Jateng Hj Ida Nurs Sa’adah, Katib ‘Aam Jatman KH Zaini Mawardi, pengurus NU dari Cabang sampai Ranting. (A.Shiddiq Sugirto/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Komentar Hari Santri dari Kota Solo

Solo, Belajar Muhammadiyah. Hari Santri Nasional (HSN) diperingati pada, Sabtu (22/10), di berbagai wilayah se-Indonesia, termasuk di Kota Solo, Jawa Tengah. Di Kota Bengawan, peringatan HSN bahkan sudah dihelat sejak sepekan sebelumnya, dengan menggelar acara kirab dan lain sebagainya.

Komentar Hari Santri dari Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Komentar Hari Santri dari Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Komentar Hari Santri dari Kota Solo

Bagi para tokoh NU di Solo, HSN tidak hanya sekedar peringatan seremonial belaka, akan tetapi lebih dari itu, menjadi momentum untuk mengukuhkan kembali komitmen dari kalangan santri kepada bangsa.

“Hari Santri ini, kita jadikan momentum untuk mengukuhkan kembali komitmen keindonesiaan,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, saat ditemui di Pesantren Al-Muayyad.

Senada dengan Kiai Dian, Ketua PCNU Kabupaten Sukoharjo, M Nagib Sutarno, Resolusi Jihad yang pernah digelorakan Hadratussyaikh, hendaknya menjadi semangat untuk semakin membangkitkan ghirah kaum santri untuk berjuang.

“Santri untuk bangsa dan umat. Kita perkuat kembali peran santri di berbagai bidang,” tukas dia.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Kota Surakarta, M Anwar, berharap lembaga pesantren, khususnya di Wilayah Soloraya, dapat semakin berkembang dan lebih diperhatikan.

Anwar juga berharap Peringatan HSN dapat sinergi dengan agenda pemerintah pusat maupun daerah.

“Acara Peringatan HSN dapat diagendakan pula tiap tahunnya, kalau di Solo, kebetulan sudah ada agenda setiap Hari Santri, yang diadakan kegiatan sholawat bersama Pemkot di Balaikota,” kata Anwar. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Amalan, Santri, Quote Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Belajar Muhammadiyah berkerja sama dengan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) menggelar Kompetisi Esai dan Video bertajuk Islam damai. Kegiatan ini dilakukan untuk terus menangkal dan menanggulangi radikalisme terutama di dunia maya dan media sosial. Kompetisi ini juga dimaksudkan agar masyarakat juga aktif dalam kegiatan deradikalisasi dengan memperbanyak konten-konten positif.

(Baca:? Belajar Muhammadiyah Buka Kompetisi Esai dan Video Islam Damai Berhadiah Total 29 Juta)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo mengatakan, penanggulangan atau pengurangan intoleransi di Indonesia lebih efektif jika masyarakat dan warga ikut serta secara aktif. Tidak mungkin pemerintah dapat melakukannya sendiri, karena masyarakat memiliki ide-ide dan solusi-solusi, dan lebih dari itu memiliki energi yang positif untuk bisa mengimbangi dan melawan intoleransi dan ekstremisme.?

“INFID bangga dan merasa terhormat bisa bekerja sama dengan Belajar Muhammadiyah untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Indonesia, termasuk kaum muda dari berbagai latar belakang untuk bisa merajut dan merawat Indonesia yang damai dan toleran melalui kompetisi esai dan multimedia ini,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, Belajar Muhammadiyah dan INFID prihatin bahwa Indonesia sekarang ini masih diwarnai dan didera oleh tindak-tindak kekerasan yang bersumber dari sikap intoleran, ekstremisme dan radikalisme yang berakibat menipisnya kohesi sosial dan gotong royong di antara masyarakat. Praktik yang seperti ini tentu bertentangan dengan semangat ke-Indonesia-an dan Islam yang melindungi semua (Rahmatan lil ‘Alamin).

Belajar Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Belajar Muhammadiyah Achmad Mukafi Niam menerangkan bahwa selama ini Belajar Muhammadiyah sebagai corong media yang konsisten dengan konten-konten Islam damai terus berusaha melakukan penanggulangan radikalisme di dunia maya. Dia menilai, selama ini dunia maya digunakan sebagai alat (instrumen) paling strategis untuk menyebarkan narasi-narasi ekstremisme, terutama kepada anak-anak muda yang sebagian besar pengguna media sosial.

Narasi-narasi ekstermisme ini berdampak pada munculnya tindakan terorisme sebagai akibat dari pemahaman agama yang cenderung eksklusif atau tertutup. Selain itu, kata Mukafi Niam, media sosial sebagai basis penyebaran radikalisme juga digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok radikalis, termasuk oleh kelompok teroris yang mengatasnamakan dirinya sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).?

Mereka secara nyata menyebarkan keresahan dan ketakutan kepada warga dunia atas kekejian yang mereka lakukan terhadap orang atau kelompok yang tidak mengikuti paham NIIS dengan membunuhnya secara membabi buta. Kekejian tersebut tidak hanya dilakukan mereka kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat agama lain.?

Belajar Muhammadiyah

“Bahkan pada tahun 2014, sebanyak 50.000 akun media sosial radikal mereka ciptakan sebagai alat penyebar propaganda dan ketakutan-ketakutan kepada masyarakat dunia dengan mengunggah kekejian-kekejian mereka,” ungkap Niam.?

Sebab itu, menurutnya, sinergi NU dan INFID untuk meningkatkan konten-konten damai di dunia maya dengan mengadakan lomba esai dan vVideo Iklan Layanan Masyarakat terkait Islam ramah, damai, dan toleran mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menanggulangi dan mencegah semakin merebaknya narasi-narasi ekstremisme di media sosial dan di dunia maya secara luas.

Untuk kualitas konten, Belajar Muhammadiyah dan INFID menggandeng beberapa pakar yang kompeten terkait Islam damai di dunia maya diantaranya, Mohamad Sobari, Alissa Wahid, Abdul Mun’im DZ, Savic Ali, Inayah Wahid, dan Daniel Rudi. Tema esai terkait dengan Islam damai, Bhinneka Tunggal Ika, dan Kewarganegaraan.?

Peluncuran dan konferensi pers kegiatan ini telah dilaksanakan Selasa (27/9) kemarin dengan menghadirkan Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, aktivis pemuda, dan para awak media di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Tokoh, Cerita Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Jepara,  Belajar Muhammadiyah. Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2014 yang akan dilaksanakan 14 April mendatang siswa SMK Az Zahra Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah, melaksanakan doa bersama di aula sekolah setempat, Sabtu (23/2) pagi.

Kegiatan ini melibatkan pesantren dan SMP Az Zahra juga wali murid kelas XII jurusan Multimedia. Doa bersama atau istighotsah tersebut dipimpin KH M Sukarno, ketua pengurus Yayasan Az Zahra Mlonggo; dan KH Dhofir membacakan manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani.

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Kepala SMK Az Zahra, Hasan Khaeroni mengatakan kegiatan merupakan persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian (UKK), Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN).

Belajar Muhammadiyah

Dihadirkannya dewan guru, menurutnya, untuk memohon doa ijabah agar pelaksanaan peserta didik dalam ujian diberikan kelancaran. “Sehingga putra-putri kita menjadi sholih dan sholihah,” doanya.

Belajar Muhammadiyah

Tahun ini SMK Az Zahra Mlonggo mengikutkan ujian sebanyak 51 peserta didik, 26 siswi dan 25 siswa jurusan Multimedia. Tahun ajaran kemarin, lanjut Hasan, SMK berbasis pesantren tersebut membuka jurusan baru, Broadcasting dan Teknik Sepeda Motor.

Dalam kesempatan doa bersama hadir pengasuh pesantren, Hj Luluk Waqifiyah dan dewan pengawas yayasan, H Abdul Kholiq Anwar. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Amalan, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda

Cirebon, Belajar Muhammadiyah?



Perang melawan kolonial Belanda berlalu puluhan tahun silam. Kemenangan bangsa Indonesia diraih bukan hanya dengan cucuran air mata dan keringat, tapi juga darah. Di antara darah yang tercecer itu adalah milik santri bernama Muhit.

Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda

Abdul Mufti menceritakan perang perjuangan Muhit saat ditemui kontributor Belajar Muhammadiyah di rumahnya di Desa Astanajapura, Cirebon, pada Selasa, (11/7). Ia tengah berbincang santai dengan anak dan cucunya.?

Diminta bercerita tentang masa perjuangan, ia langsung teringat sosok Muhit. Muhit adalah seorang warga Buntet Pesantren yang terkenal badannya menimbulkan aroma tidak sedap.

“Muhit, Kang, masya Allah, ambune blenakepor (baunya sangat tidak sedap),” kenang KH Abdul Mufti Umar.

Di Desa Sukamulya, ia dan Muhit serta satu rekan lainnya berjuang melawan lima puluhan tentara Belanda. Enam pasukan Belanda tewas di tangan mereka. Namun naas, Muhit turut jadi korban peperangan tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Datanglah KH Abdullah Abbas menanyakan wangi yang ia cium.

Belajar Muhammadiyah

“Siapa yang pakai minyak wangi, wangi sekali?” tanya putra KH Abbas Buntet itu pada Kiai Uti, panggilan masyarakat sekitar pada Abdul Mufti.

Kiai berumur 97 tahun itu malah balik bertanya, “Ya siapa yang di tengah hutan pakai minyak wangi?”

Ternyata, setelah diperhatikan, wangi itu bersumber dari darah Muhit.

“Ambune ning lenga wangi bli kira-kira (bau minyak wangi tidak kira-kira). Ari wis getihe (ternyata darahnya) Si Muhit. Masyaallah,” kenangnya. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengajak masyarakat untuk mengingat kembali tiga pesan Rasulullah SAW kepada umatnya. Kang Said mengimbau masyarakat agar tidak terjerumus pada tiga godaan ini.

“Kalau kita lihat, ada tiga pesan atau peringatan Rasulullah yang harus kita perhatikan. Pertama, hati-hati fitnah perempuan. banyak orang yang berduit terkena fitnahnya perempuan,” kata Kang Said dalam pertemuannya dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (29/2) siang.

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Pesan kedua dari Rasulullah SAW, kata Kang Said, adalah menjaga nafsu terkait batas kepemilikan tanah. Rasulullah SAW sangat marah saat Beliau mengetahui ada sahabat yang memindahkan batas tanahnya walau hanya beberapa meter.

Ketiga, jual beli emas dengan emas atau uang dengan uang. Nabi SAW melarang akad jual-beli karena yang demikian itu haram. Yang ketiga inilah yang menjadi tantangan kita untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah agar bebas dari riba dan haram.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau semata-mata uang ditaruh di bank kemudian dibiarkan tidur begitu saja berbulan-bulan bahkan bertahun tahun, itu yang haram. Kalau mudharabah, musyarakah, dan murabahah itu sebuah jalan keluar yang baik dan harus terus kita kembangkan,” ujar Kang Said. (Ahmad Muchlishon/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Amalan, Cerita Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock