Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Tradisi Halal Bihalal

Di tanah kelahiran Islam, Arab Saudi, tradisi halal bihalal justru tak dikenal. Juga di sebagian besar negara-negara muslim di dunia. Dalam Al-Quran dan Hadis, istilah itu juga tak ditemukan. Tradisi ini hanya khas di Indonesia.

Di kampung-kampung, tradisi bermaaf-maafan biasanya dilakukan usai shalat Idul Fitri atau usai berziarah. Mereka mendatangi satu rumah ke rumah lainya, terutama pemilik rumah yang lebih tua atau dituakan seperti para kiai. Si pemilik rumah menyediakan rupa-rupa makanan, biasanya makanan khas, lokal sebagai penghormatan terhadap tamu dan kegembiraan di hari lebaran.

Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Halal Bihalal

Tak hanya di kampung-kampung, tradisi saling bermaaf-maafan ini juga menjadi tradisi rutin yang digelar instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta. Para pemimpin instansi dan perusahaan menjadikan momen halal bihalal sebagai medium bermaaf-maafan kepada karyawan dan bawahannya. Begitu sebaliknya.

Tradisi ini juga dikembangkan dengan menggelar kegiatan khusus berupa pengajian dan mendatangkan penceramah untuk memberi tausiyah atau pesan-pesan agama.

Belajar Muhammadiyah

Makna halal bihalal lebih dekat dengan pengertian saling memaafkan atas segala salah dan khilaf agar bisa kembali menjadi manusia suci.?

Karena itu, perkataan yang biasa dilontarkan, Minal Aidin wal Faizin, semoga termasuk orang-orang yang kembali dan beruntung. Padahal, kata “halal” biasanya terkait erat dengan konteks hukum berarti sesuatu yang diizinkan atau dibolehkan. Tapi untuk konteks halal bihalal, tidak dimaksudkan untuk itu. Tradisi ini salah satu model pribumisasi Islam. (Alamsyah M. Dja’far)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Berita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan

Rembang,? Belajar Muhammadiyah. Dalam kehidupan masyarakat, Nahdlatul Ulama dengan madzhab Ahulussunnah wal Jamaah mensinergikan semangat keislaman (ukhuwah islamiyah) dan kebangsaan (ukhuwwah Wathaniyah). Keduanya harus selalu beriringan tidak berjalan sendiri-sendiri.

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sinergikan Keislaman dan Kebangsaan

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU Dr KH Said Aqil Siroj dalam acara penutupan Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) NU jawa Tengah Sabtu (30/3) malam.

Kang Said mengutarakan mengembangkan islamiyah tanpa wathoniyah akan menjadi ekstrim sementara wathoniyyah tanpa islamiyah akan menjadi sekuler.?

Belajar Muhammadiyah

“Bicara Islam saja akan dihantam, sedang bicara wathoniyah saja kasihan anak cucu kita tidak tahu agama karena akan menjadi sekuler,”tandasnya.

Bangsa Indonesia,katanya, sebagai gerbong paling timur ummat Isam dengan ? ratusan suku, ragam agama dan pulau yang masih terjaga dari perpecahan. Hal ini dikarenakan masih adanya ikatan civil society yang memiliki kepentingan kebangsaan bukan politik kekuasaan.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya sangat penting sekali ber-NU. Kita harus ? bangga menjadi NU karena ? yang paling benar adalah NU. Benar dalam ? cara beragama, bermasyarakat serta berpolitik kebangsaan.”tegasnya.

Menyinggung 100 tahun usia NU, Kang Said menegaskan selama tidak luntur memegang prinsip sepanjang masa, orang lain masih memperhitungkan Nahdlatul Ulama. Dijelaskan, prinsip itu adalah pesantren dengan karakter kemandirian , kesederhanaan,keikhlasan, percaya diri ? dan tidak membebani orang lain.

“Semua itu habitat kita, karakter kita, kepribadian kita yang harus dipertahankan,” tandasnya lagi.

Musykerwil NU jawa Tengah dilaksanakan mulai Jum’at–Sabtu (29-30/3) di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang.?

Hadir sejumlah tokoh dan menteri, turut memberikan pengarahan antara lain Ketua MK Mahfudz MD, Mendikbud M.Nuh,Menteri Agama H. Suryadarma Ali dan Mustasyar PBNU KH Maemun Zubeir selaku tuan rumah kegiatan.

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Santri, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Cirebon, Belajar Muhammadiyah - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon yang dinakhodai langsung oleh Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj memberikan beasiswa pendidikan pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016-2017. Pihak kampus? ini mengobral beasiswa untuk calon mahasiswa baru yang memenuhi tiga kriteria persyaratan.

Calon mahasiswa UNU Cirebon penerima beasiswa tahun ini adalah mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran, mereka yang berprestasi, dan mereka yang tidak mampu dan aktif kegiatan kemahasiswaan.

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Demikian disampaikan Wakil Rektor UNU Cirebon Bidang Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat Dr KH Moh Badrussalam Shof. Menurut Doktor Bidang Kurikulum dan Metodologi Pengajaran alumnus Omdurman Islamic University Sudan ini pada acara rutinan di Masjid Kampus 2 UNU Cirebon Jalan Dr Cipto, Selasa (10/5) malam.

Belajar Muhammadiyah

Menurut mantan Rais Syuriyah PCINU Sudan ini, hal yang menarik adalah bahwa untuk beasiswa katagori penghafal Al-Quran pihak kampus tidak mengharuskan peserta hafal 30 juz seperti diberlakukan perguruan tinggi lain. UNU Cirebon akan tetap memberikan beasiswa pendidikan bagi mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran.

Belajar Muhammadiyah

"Siapa saja yang sudah hafal minimal empat juz bisa ikut tes mendapatkan beasiswa penghafal Al-Quran," tegas Kang Badrus yang mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UNU Cirebon. (Abfalaka/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Gerakan Pemuda Ansor Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo mengadakan pembacaan sholawat nabi bersama-sama, Kamis (4/1) malam. Kegiatan ini rutin diadakan setiap 2 minggu sekali secara bergiliran dan berkesinambungan di Kelurahan Ketapang.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan yang diikuti oleh 70 orang peserta itu juga dilakukan dialog interaktif tentang meneguhkan amaliyah NU dalam bingkai kebhinekaan. Kegiatan ini mengambil tema Meneguhkan Amaliyah Ahlussunnah wal jama’ah Dalam Bingkai Kebhinekaan.

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Selain jajaran pengurus GP Ansor Kelurahan Ketapang, kegiatan ini juga melibatkan Lurah Ketapang, Babinsa, Babinkamtibmas, Karang Taruna, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat dan masyarakat Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Lutfi Abdurrohman mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi amaliyah NU serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai kebhinekaan. “Semoga dengan kegiatan ini para pemuda Ansor tetap kompak dan berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal jamaah,” katanya.

Menurut Lutfi, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini Ranting GP Ansor Ansor Kelurahan Ketapang ke depannya akan tetap eksis dan istiqomah menjalankan amaliyah-amaliyah NU.

Belajar Muhammadiyah

“Tentunya, semakin maju dengan program-program pemberdayaan pemuda. Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang menjadi penjaga keutuhan NKRI dan penjaga kebhinekaan dan GP Ansor menjadi penjaga Islam rahmatan lilalamin,” tegasnya.

Pembina Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Masyhuri Nurzah mengatakan, keberadaan Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wadah bagi para pemuda, untuk memberikan penguatan paham-paham ke-NU-an bagi para pemuda dari pengaruh-pengaruh gerakan Islam radikal sehingga Ansor menjadi tameng penjaga NKRI dari rong-rongan gerakan Islam kiri.

“Mudah-mudahan GP Ansor menjadi wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan perekonomian melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang digagas dan didirikan oleh Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Muslimkah, mukminin, muttaqin,

Belajar Muhammadiyah

kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?

Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Belajar Muhammadiyah

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan?

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa

Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.

Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.

Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia

Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI"

Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya

atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,

mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan

Memukul, mencaci demi pendidikan

Berbuat semaunya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

KH Ahmad Mustofa Bisri

Puisi ini terdapat dalam buku Antologi Puisi Tadarus karya Gus Mus, terbitan Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Kapolres Siap Motivasi Peserta BPUN Ansor Way Kanan

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah

Peraih Kompolnas Award 2015 Kapolres Way Kanan Lampung AKBP Harseno, Selasa, di Blambangan Umpu (12/4) menilai positif kiprah Gerakan Pemuda Ansor di wilayah hukumnya. Ia pun menegaskan siap menjadi motivator bagi peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 yang diselenggarakan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) setempat.

"Kiprah Pemuda Ansor bisa dirasakan masyarakat. Kita paham betul tidak semua organisasi kemasyarakatan atau pemuda bersedia dan ikhlas dalam melakukan hal bersifat sosial. Saya melihat Ansor Way Kanan fokus pada visi misi sosial, tentunya ini yang ditunggu-tunggu masyarakat dan semua pihak," ujar AKBP Harseno.

Kapolres Siap Motivasi Peserta BPUN Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Siap Motivasi Peserta BPUN Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Siap Motivasi Peserta BPUN Ansor Way Kanan

Ia menambahkan, BPUN merupakan program yang bagus. "Banyak orang melakukan kegiatan sosial atau kemasyarakatan cenderung itu-itu saja. Apa yang dilakukan Ansor Way Kanan melalui BPUN merupakan terobosan luar biasa, memberikan bimbingan belajar kepada pihak yang saaat ini memerlukan hal itu dalam rangka kesiapan menjelang masuk Perguruan Tinggi Negeri atau PTN," katanya.

Menurut Kapolres lagi, BPUN menjadi harapan semua pihak, tidak saja terhadap pemerintah sebagai bentuk partisipasi pembangunan namun juga kepada masyarakat kurang mampu agar anak-anaknya bisa lebih belajar baik agar bisa meneruskan kehidupan lebih baik.

"BPUN sangat menunjang dan diperlukan masyarakat yang putra -putrinya ingin melanjutkan ke PTN. Diminta memberi motivasi bagi peserta BPUN tentu kami siap, itu gayung bersambut. Kita punya program pembinaaan remaja, tentunya itu seiring sejalan dengan pihak kepolisian. Kita siap memberikan partisipasi, baik dalam bentuk motivai atau hal yang lain," kata Kapolres lagi.

Belajar Muhammadiyah

BPUN Way Kanan 2016 akan digelar di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan mulai 22 April hingga 26 Mei 2016. Biaya untuk bimbingan belajar intensif selama satu bulan Rp200 ribu atau 20 kilogram beras.

Dengan kontribusi itu, peserta akan mendapatkan try out SBMPTN satu minggu sekali, modul terpadu berkualitas, tentor selektif, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, motivation training, capacity building, bimbingan rohani istiqomah, pendidikan kepemimpinan dasar, out bond, advokasi beasiswa, kecakapan hidup, refreshing dan relaksasi.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) pada 27 Januari 2016 mengumumkan sembilan nominator Kompolnas Award 2015. Penilaian Kompolnas tersebut diberikan kepada anggota Polri yang dinilai gigih dalam menjalankan tugasnya di lapangan. Kapolres Way Kanan Lampung AKBP Harseno merupakan satu dari sembilan peraih nominator tersebut.

Belajar Muhammadiyah

PC GP Ansor Way Kanan yang berdasarkan data Yayasan Mata Air merupakan satu-satunya pimpinan cabang yang menggelar BPUN tahun ini di wilayah Sumatera secara resmi telah menyerahkan surat kepada AKBP Harseno untuk memberikan materi "Pemimpin Solutif". (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend mengagumi kerukunan umat beragama di Indonesia. Kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang ditemuinya, Dubes yang resmi bertugas sejak September 2015 bertanya apa resep sehingga Indonesia dinilai mampu menjaga kerukunan umat beragamanya.

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia

“Apa resepnya Pak Menag?” tanya Dubes Vincent Guerend ketika menemui Menag di kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Kamis (14/04) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id. Ikut mendampingi Menag, Kabiro Hukum dan KLN A Gunaryo dan Kapus KUB Feri Meldi.

Atas pertanyaan disampaikan Dubes, Menag menjawab, dua hal dilakukan oleh Pemerintah.

“Pertama, melalui regulasi. Kedua, Pemerintah. Kami melakukan upaya-upaya preventif, bekerja sama dengan ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya yang berfaham moderat,” terang Menag.

Ketika ditanya tentang Islam, Menag menjawab bahwa Islam itu satu.

Belajar Muhammadiyah

“Islam itu ajaran yang satu. Tetapi, ketika nilai-nilai Islam yang satu tersebut diimplementasikan dalam situasi, kondisi dan waktu yang berbeda, nilai Islam yang satu tersebut menjadi beragam,” imbuh Menag sembari menerangkan meski sama-sama memuliakan perempuan, tetapi cara di Indonesia berbeda dengan Arab Saudi.

“Di Saudi, untuk memuliakan perempuan, bahkan perempuan dilarang mengemudikan mobil. Hal tersebut berbeda dengan di Indonesia. Untuk memuliakan perempuan, di sini, bahkan perempuan bisa menjadi hakim di pengadilan agama,” tutur Menag panjang lebar.

Menag juga menceritakan ciri khas Indonesia yang bukan negara berdasar atas agama, namun juga bukan sekular. Menag juga berharap, Indonesia dan UE bisa bekerja sama dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan lain sebagainya

Menag mengusulkan, agar UE memperhatikan rekruitmen para imam di masjid-masjid Eropa yang biasanya berasal dari Pakistan dan Turki untuk bisa memahami situasi dan kondisi di Eropa.

Belajar Muhammadiyah

Dikatakan Menag, meski Eropa mayoritas adalah negara sekuler, tetapi harus dipahami pula, bahwa paham keagamaan masyarakat berperan pula dalam hubungan sosial. Para Imam Masjid yang eksklusif ? tersebut didorong untuk bisa diajak dialog, meski ekslusivitas tersebut adalah sebuah keyakinan dan hak yang harus dipahami dan dihormati, namun (harus dipahami) kalau mereka (para Imam tersebut) tinggal di Eropa, bukan di negara asalnya.

“Karena jika para Imam masih memegang teguh adat daerah asal, dikhawatirkan sedikit banyak akan menimbulkan kesalahpahaman,” kata Menag.

Dalam kunjungannya tersebut, Dubes UE berharap ada kerja sama antara Indonesia dengan UE di bidang agama, khususnya agama Islam. Hal tersebut penting dilakukan agar masyarakat muslim di Eropa bisa berbaur dengan masyarakat Eropa lainnya dan tidak ekslusif.

Atas tawaran kerjasama UE tersebut, Menag menyambut baik tawaran tersebut.?

“Indonesia (Kemenag) siap bekerja sama dengan UE dalam mempersiapkan para Imam Masjid yang berfaham moderat, agar asumsi Masyarakat Eropa terhadap Islam tidak menimbulkan kesalahpahaman dan persepsi tidak baik terhadap Islam,” ucap Menag. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, PonPes Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Pangkalan Bun, Belajar Muhammadiyah?

Demi menjalin keakraban serta konsolidasi di antara warga Nahdliyyin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah mengadakan acara bertajuk Halal Bihalal dan Silaturrahmi Akbar. Acara yang diselenggarakan di lapangan sepak bola Desa Lada Mandalajaya SP 2 Kecamatan Pangkalan Lada tersebut dihadiri 50 pengurus Ansor se-Kabupaten Kobar, yang terdiri dari PC GP Ansor Kabupaten dan PAC GP Ansor Kecamatan Pangkalan Lada.?

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Hadir pula Fatayat dan muslimat dan 250 Banser yang telah mengikuti Diklatsar tiga angkatan. Angkatan 1 pada tahun 2015, angkatan 2 tahun 2016 dan Diklatsar angkatan 3 pada bulan januari tahun 2017. Disamping itu pula dalam acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat SKPD Kabupaten Kotawaringin Barat serta sejumlah warga ikut memeriahkan acara tersebut.?

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat Abdul Sahel dalam pidatonya menyampaikan, warga Nahdlatul Ulama (NU) hendaknya mampu menjaga kerukunan antarumat beragama. Banser harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI.

Belajar Muhammadiyah

"Mari pererat ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah bayariyah. Banser haruslah mampu ikut menjaga keamanan NKRI, serta mampu menjadi jembatan agar terciptanya suasana yang kondusif sesuai ajaran agama Islam yang rahmatal lil alamin, " tandas Abdul Sahel pada acara yang berlangsung , Sabtu (29/7) lalu.?

Maraknya kabar tidak sedap, lanjut Sahel, di berbagai media cetak dan elektronik yang tidak berdasar sumbernya, sangat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan itu saja, menjamurnya organisasi masyarakat yang mengatasnamakan kelompok-kelompok Islam dengan pembelajaran yang disinyalir aliran garis keras atau radikal akan menjadi ancaman serius bagi NKRI.?

"Kita jangan mau dibodohi dengan pemberitaan yang tidak jelas asal-usulnya. Kita mesti waspada atas pergerakan kelompok organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun kaidah-kaidahnya tidak sesuai ajaran agama Islam," tegasnya.?

Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) A. Rozikin, Z, dalam pidatonya mengajak seluruh anggota Banser agar selalu siaga demi manjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat beragama.?

Belajar Muhammadiyah

"Saya berharap Banser selalu memberikan yang terbaik dalam menciptakan iklim yang sejuk dan aman bagi semua umat beragama. Banser harus siap mendedikasikan dirinya demi keutuhan NKRI," ucap Rozikin.?

Menurutnya, Banser sebagai prajurit dibawah komando para ulama NU harus mampu membawa nama baik serta mampu mengabdikan dirinya demi NKRI. Bahkan, Banser harus siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

"Banser harus siap dalam setiap kondisi. Sebagai prajurit Nahdlatul Ulama sejengkal pun Banser pantang mundur dalam membela kebenaran, " Tegas Rozikin dalam pidatonya. (Suhud Masud/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Demak, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Asuhan KH. Asrori Lathif Desa Jragung, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Ahad (5/1) pagi, menggelar acara Khotmil Qur’an di Masjid Busyra Lathif di desa setempat.

Sebanyak 9 santri yang ikut program tahfidh (hafalan alQur’an 30 Juz), 15 peserta bin nadzar (mengkhatamkan 30 juz dengan cara membaca dan melihat mushaf) dan 17 santri yang telah merampungkan belajar juz ‘amma tampil di hadapan para kiai dan seluruh pengunjung haul haul Simbah Kiai Marwan, AH.

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Usai mengkhatamkan al-Qur’an peserta khataman mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Ulil Albab, putra seorang hafidz dan pakar al-Qur’an, KH. Arwani Amin, dari Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya para wisudawan menyimak wasiat KH Arwani Amin.

Belajar Muhammadiyah

Putra sulung KH Arwani Amin, KH Ulin Nuha, membacakan wasiat tersebut dengan ayat “Wala tasytaruu bi aayaatii tsamanan qalilaa”. Ayat tersebut berpesan tentang larangan memperjualbelikan al-Qur’an dengan harga yang rendah, yakni dunia.

Belajar Muhammadiyah

Dalam wasiatnya, KH Arwani tidak meridhai santri-santrinya untuk mengikuti ajang Musabaqah Tilawtil Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah kejuaraan “MTQ”. Wasiat ini memiliki silsilah sanad yang jelas sampai kepada KH Arwani dan menjadi pegangan para penghafal al-Qur’an di sana. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Sholawat, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Waspada, Perkembangan Teknologi Menjadi Penyebab Menguatnya Kekerasan Seksual

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Kasus pelecehan seksual dan perkosaan, disertai dengan sadisme dan pembunuhan, terkuak cepat melalui beragam media elektronik, digital, dan cetak. Dalam Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2016, ditemukan bahwa kasus kekerasan seksual tahun 2016 menempati peringkat kedua di ranah personal, dan peringkat pertama di ranah komunitas. 

Di ranah personal kekerasan seksual naik satu peringkat dari peringkat ketiga dalam Catatan Tahunan (Catahu) tahun 2015. Kekerasan dalam bentuk perkosaan sebanyak 72 % atau 2.399 kasus, pencabulan sebanyak 18% atau 601 kasus, dan pelecehan seksual sebesar 5% atau 166 kasus. Komnas Perempuan menyimpulkan bahwa setiap 2 jam terdapat 3 perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual.

Waspada, Perkembangan Teknologi Menjadi Penyebab Menguatnya Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada, Perkembangan Teknologi Menjadi Penyebab Menguatnya Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada, Perkembangan Teknologi Menjadi Penyebab Menguatnya Kekerasan Seksual

Sejak bulan April 2016, publik dikagetkan oleh kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap YY (14 tahun) siswi kelas VIII sebuah SMP di Bengkulu oleh 14 orang pemuda setempat. Di Manado, kasus gang rape juga menimpa V (19), oleh 19 orang pria, dimana diduga 2 pelakunya adalah oknum polisi.

Di Lampung, Mis (10 tahun) siswi SD diculik, diperkosa dan ditemukan dalam keadaan meninggal. Di Medan, Mw (10 tahun), gadis cilik penyandang disabilitas diperkosa oleh pamannya sendiri. Di Metro, Lampung, NA (5 tahun) seorang murid sebuah taman kanak-kanak tahun menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh penjaga sekolahnya. Di Kediri, seorang pengusaha kaya raya memperkosa anak-anak SD dan SMP, dan ditengarai jumlahnya mencapai puluhan anak.

Data dan fakta di atas menunjukkan bahwa aturan dan atau perlindungan hukum yang ada sangat lemah dan tidak memadai untuk melindungi dan memulihkan korban dan untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual yang berulang di masa depan. Tanpa menafikan adanya hubungan dan pengaruh antara minuman keras (miras) beralkohol, narkoba, dan pornografi dengan tindak kekerasan seksual, yang dalam banyak kasus hubungan dan pengaruh itu nyata adanya, khususnya dalam kekerasan seksual yang pelaku atau korbannya anak. 

Alimat, sebagai gerakan kesetaraan dan keadilan dalam keluarga Indonesia perspektif Islam menilai bahwa akar masalah menguatnya kekerasan seksual karena terjadi tetimpangan relasi kuasa berbasis gender dan ketiadaan perspektif terhadap perlindungan anak di dalam keluarga, masyarakat dan negara. Selain itu, percepatan perkembangan teknologi informasi, yang tidak disertai dengan pembekalan tentang pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini yang memadai, sehingga membuat anak rentan menjadi pelaku maupun korban kekerasan seksual.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Alimat Badriayah Fayumi, lunturnya peran pendidikan yang dilakukan oleh orang tua (parenting) juga menjadi penyebab menguatnya kekerasan terhadap anak, sementara proses pembelajaran di sekolah belum maksimal mengenalkan pendidikan seksualitas dan pendidikan anti kekerasan dan pada saat yang sama masyarakat semakin permisif terhadap perilaku kekerasan.(Zunus)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Berita Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan, Lampung menyiapkan delapan kiai untuk membaiat 86 peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) V di Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu, mulai Jumat kemarin hingga Ahad (22-24/4).

"Itu diperlukan untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan, kami perlu kader militan untuk pergerakan organisasi ke depan, bukan kader-kaderan," ujar Sekretaris PC GP Ansor Way Kanan, Eko Wahyudi di Pakuan Ratu, Sabtu (24/4).

Eko menambahkan, satu kiai akan membaiat sepuluh peserta dalam dua kali atau lima peserta setiap baiat.

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD

"Sebelum baiat akan ditanyakan terlebih dahulu kesanggupan mereka untuk menjadi kader yang siap berjuang untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Eko meminta calon kader untuk memahami jika Ansor adalah organisasi pemuda NU yang bergerak di bidang sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu Ketua PAC Pakuan Ratu, Bakti Ghozali mengajak peserta untuk memberi manfaat untuk organisasi yang berdampak untuk diri pribadi. "Caranya adalah dengan menggunakan jaringan sebaik mungkin serta melakukan pergerakan ekonomi kreatif," kata Bakti.

Pimpinan Cabang hari ini telah mendorong ekonomi kreatif, misalnya memberi investasi mesin cuci kendaraan, penjualan madu, lalu mengajarkan pelatihan bekam bagi kader dan dilanjutkan penandatangan nota kesepahaman program Hijamah Sambil Beramal (Halal) dengan Klinik BMC pimpinan dr Yusuf J Mustofa pada peringatan Harlah NU ke-91 Januari lalu. Sebanyak 25 persen dari jasa bekam melalui program "Halal" digunakan untuk bantuan pendidikan atau kemandirian anak yatim piatu.

"Hasilnya, kader dapat penghasilan, organisasi memiliki kas. Dan kita hari ini bisa menyalurkan tiga paket Kitab Kuning dan Al-Quran bagi Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif, Ponpes Nurudz Dzikri Al-Amin asuhan Kiai Maulana Ismail dan Pesantren Riyadlotul Mubtadiin asuhan Ustadz Ahmad Sholihin dari hasil bekam itu," kata Bakti menjelaskan. (Ahmad Nursalim/Zunus)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin mengatakan tanggungjawab NU kian besar. NU bukan hanya punya tanggungjawab keumatan, tetapi tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap kebangsaan dan tanggung jawab terhadap NU itu sendiri serta kepada para Ulama.

Menurut Kiai Maruf, kenapa NU bertanggung jawab kepada umat, karena ketika menjelang wafat, Rasul SAW pun hanya mengkhawatirkan umatnya. Rasul tidak mengkhawatirkan istri dan anak-anaknya tapi berpesan bagaimana dengan umatnya.

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

"Pesan Rasul, ummatii, ummatii, ummatii. Jadi tanggung jawab besar NU bagaimana menjaga dan memelihara umat karena siapa yang mengabdi untuk umat, Insyaallah akan ditinggikan derajatnya," kata Kiai Maruf dalam taushiyah pelantikan PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (26/4).

Untuk itu, Kiai Maruf mengingatkan bahwa tugas Ulama menyiapkan generasi-generasi Ulama juga serta tokoh-tokoh perubahan. Sehingga Ulama jangan hanya dipesantren tapi harus terjun ditengah masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

NU pun, ucap Kiai Makruf, memiliki tanggung jawab juga terhadap sejarah karena pendiri Indonesia adalah NU. Maka NU wajib memelihara dan menjaga NKRI sehingga siapa saja yang mengancam Indonesia akan berhadapan dengan NU.

"Selanjutnya tanggung jawab NU terhadap ulama karena NU organisasinya para ulama. Sehingga ulama NU harus beraqidah Ahlussunah wal Jamaah yang An-Nahdiyah jangan Aswaja tapi harokahnya beda. Jangan sampai mengaku NU, berakidah Aswaja tapi harokah (gerakan)-nya wahabi dan khawarij," tuturnya. 

Setelah memberi taushiyah di Pelantikan, KH Makruf meresmikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Badak Paeh Singaparna. Di sana ia meminta Ketua PWNU Jabar, KH Hasan Nuri Hidayatullah untuk menjadikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya sebagai Gedung Kantor percontohan di Jawa Barat. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah IMNU, Sejarah, Berita Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Tanggal 17 Desember nanti merupakan hari Rabu terakhir bulan Shafar 1436 H atau lazim disebut "Rabu Wekasan”. Pada hari itu, umat Islam perlu melaksanakan amalan-amalan kebaikan seperti berdoa, bersedekah, ataupun shalat sunnah untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT.

Demikian yang disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH.Syaroni dalam acara pengajian rutin Tafsir Al-Quran di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat pagi  (5/12).

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kiai Syaroni mengutip penjelasan dalam kitab al-Jawahir al-Khams bahwa Allah akan menurunkan 320.000 musibah setiap tahun dalam hari Rabu wekasan. Karenanya, para ulama selalu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan meminta keselamatan kepada-Nya.

Belajar Muhammadiyah

 

"Yang mendatangkan balak (musibah) itu yang mendatangkan Allah, maka kita harus mendekat meminta kawelasan (kasih sayang) dari Allah," terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Jangan Ngawur

Dalam menjalankan amalan Rabu Wekasan, ulama kharismatik asal Kudus ini mengingatkan supaya tidak melenceng jauh dari ajaran agama Islam. Di antara yang lazim dilakukan, kata Kiai Syaroni, adalah membaca doa Rabu Wekasan, melaksanakan shalat sunnah dan banyak sedekah.

 

"Jangan sampai amalannya ngawur, harus berdasarkan tuntunan agama. Semua amalan ini bertujuan untuk tolak balak," ujar Kiai Syaroni.

Pada Rabu Wekasan, umat Islam disunnahkan mandi tolak balak dan shalat empat rakaat dengan dua salam. Dalilnya shalat, terang Kiai Syaroni, ayat Al-Quran yang artinya wahai orang Islam minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.

 

"Tetapi harus ingat, istilah shalat Rabu Wekasan itu tidak ada. Jadi kita semua bisa shalat sunnah seperti shalat hajat, tahajud, maupun lainnya,"tandas Kiai Syaroni.

 

Dalam berdoa, jelas Kiai Syaroni, terdapat etika atau cara lain yakni menulis kalimat berbahasa Arab yang berisi beberapa ayat al-Quran mengandung doa  dengan awalan kata "salamun". Seperti, ayat salamun qoulan min rabbir rahim, salamun ala nuuhin fil alamin, salamun ala ibrohim, salaamun ala musa waharuun dan seterusnya.

 

"Kalimat itu di tulis di atas kertas dengan niat berdoa meminta keselamatan dan kawelasan Allah. Lalu dicampur air dan dibacakan doa Rabu Wekasan sehingga airnya disebut ‘air salamun’. Amalan semacam ini diperbolehkan," imbuh Kiai Syaroni di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi Masjid al-Aqsha Menara Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Berita, Daerah Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Tangerang  Selatan, Belajar Muhammadiyah. Mahasiswa Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menginisiasi program yang mereka sebut dengan Program Dokter Santri Cerdas. Program ini merujuk pada kepeloporan kesehatan masyarakat berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah dr. Ahmad Zaki menyatakan, perlu format institusi pendidikan kedokteran yang lebih akomodatif dan representatif untuk dapat mengakomodasi semua masalah dan tantangan terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

“Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta yang mengedepankan integrasi ilmu kedokteran, keislaman, dan keindonesiaan dalam sistem kurikulumnya, menggagas program Dokter Santri Cerdas,” kata dr Zaki pada seminar terkait dunia kedokteran menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN di auditorium utama Harun Nasution kampus setempat, Rabu (2/12).

Belajar Muhammadiyah

Program Dokter Santri Cerdas (DSC) ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran UIN Jakarta. Program sebenarnya telah dilaksanakan di sejumlah pesantren di Jawa Barat antara lain pesantren Internasional Jagat Arsy Tangerang, pesantren Suryalaya Ciamis, pesantren Babakan Ciwaringin, dan Buntet Pesantren di Cirebon.

Belajar Muhammadiyah

Hal ini diamini oleh dua inisiator program DSC Aditya Adji dan Jiddi Adibia, yang menghadirkan santri dari Pesantren Jagat Arsy sebagai pihak yang mengawali program tersebut.

“Kami berharap program ini menjadi program nasional, dan mampu menaungi seluruh pesantren di Indonesia,” ujar Jiddi, mahasiswa kedokteran UIN Jakarta angkatan 2010.

Seminar nasional dan peluncuran program Dokter Santri Cerdas ini mengundang pembicara pakar bisnis dari ITB Prof Rahardjo Ramelan, Sekretaris Jenderal PB Ikatan Dokter Indonesia dr Adib Khumaedi Sp.OT, serta pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Prof Hikmahanto Juwana.

Dalam seminar ini mereka membahas langkah-langkah penting seorang pemuda juga tantangan dokter dalam persaingan dengan tenaga kerja dari negara-negara di ASEAN.

Rahardjo Ramelan dalam materinya menyebutkan, “Dalam menghadapi MEA yang penuh tantangan ini, semangat bangkit dan berkembang harus mulai dari diri pemuda itu sendiri.” (M Iqbal Syauki/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Berani untuk Tidak Menjawab

Oleh Sahal Japara





Berani untuk Tidak Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Berani untuk Tidak Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Berani untuk Tidak Menjawab

Akhir-akhir ini, sering kali muncul anggapan bahwa seorang ustadz atau ulama, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dan menyelesaikan segala persoalan. Segala hal ditanyakan, dari persoalan keagamaan, politik, sampai fenomena alam. Seolah-olah para ustadz dan ulama selalu tahu segala hal. 

Bagaimana hukumnya ini dan itu? Bagaimana solusi atas persoalan ini dan itu? Bagaimana caranya mengatasi banjir dan tanah longsor? Bagaimana caranya menata kota supaya tidak macet? Adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh khalayak kepada para ustadz atau ulama. Dan anehnya, masih ada saja, ustadz atau ulama yang berani menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan kapasitas mereka untuk menjawabnya.

Ketika seseorang yang bukan ahlinya dimintai pertimbangan atau jawaban atas sebuah permasalahan, tentu jawabannya akan lahir tidak didasarkan kepada ilmu. Dan ini sangat berbahaya, bagaikan orang buta meminta dituntun oleh orang buta. 

Belajar Muhammadiyah

Ustadz atau ulama, adalah ahli agama, meskipun ada juga yang memiliki keahlian lain. Jika seorang yang ahli agama ditanyai tentang urusan yang bukan ahlinya, seperti sebab-sebab banjir, atau peristiwa alam yang lain, dan dimintai solusi atasnya, tentu jawabannya akan didasarkan kepada hal-hal yang bersifat agamis, seperti: banjir datang karena kita sering maksiat, dan solusinya supaya tidak banjir adalah kita beristighfar, bertaubat dan berdoa kepada Allah agar tidak menurunkan banjir.

Jawabannya bagus, sarat akan nilai religius, tapi kurang pas untuk dijadikan sebuah jawaban riil yang mampu menyelesaikan problematika masyarakat. 

Menurut Mbah Sholeh Darat, orang yang mengurus sesuatu yang bukan urusannya itu sama halnya seperti orang ghasab, sebab menggunakan sesuatu yang bukan miliknya, dan itu tidak diperkenankan oleh agama. 

Belajar Muhammadiyah

Mbah Kiai Sahal, dahulu mencetuskan gagasan Ijtihad Jamai, yakni sebuah ijtihad dalam menjawab persoalan umat, yang dilakukan secara kolektif dengan menghadirkan tokoh-tokoh dan pakar-pakar di bidangnya masing-masing. Artinya, sebuah fatwa fiqih atau keputusan hukum, tidak hanya lahir dari seorang kiai, tetapi juga dilahirkan secara bersama-sama dengan berbagai pakar yang terkait dengan persoalan tersebut. Jika di bidang kesehatan, maka harus mendatangkan dokter. Jika di bidang pendidikan, maka harus mendatangkan guru dan praktisi pendidikan.

Upaya mengumpulkan pakar menjadi satu, untuk memecahkan sebuah persoalan, merupakan sebuah pertanda bahwa Kiai Sahal memandang adanya kekurangan dalam diri ustadz, ulama, atau kiai yang harus dilengkapi oleh yang lain. Atau ada hal-hal yang memang tidak bisa dijawab oleh mereka, sehingga harus dipasrahkan kepada orang lain. 

Imam Ahmad bin Hanbal, ulama besar Islam yang terkenal di bidang hadits dan fiqih saja, ketika ditanyai persoalan-persoalan yang sesuai dengan kapasitasnya, seringkali menjawab: aku tidak tahu (? ? ? ?), aku tidak pernah mendengar tentang hal itu (? ?), aku tidak berani berfatwa tentang hal itu (? ? ? ? ?), bertanyalah kepada orang lain (? ?), bertanyalah kepada para ulama (? ?), ini sebuah persoalan yang sulit (? ?), aku ingin selamat (? ?), maaf aku tidak bisa menjawab (? ? ?).

Sekelas Imam Ahmad yang kitab-kitabnya dijadikan referensi inti kajian-kajian keislaman saja jawabannya sedemikian hati-hati, padahal pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat sesuai dengan kapasitas dan bidang beliau. Apalagi kita yang bukan siapa-siapa? Tentunya harus lebih sangat amat ekstra hati-hati. 

Semoga kita semua senantiasa diberikan keberanian untuk tidak menjawab atau berkomentar, di zaman siapa pun bebas berkomentar dan berfatwa, atas persoalan yang bukan kapasitas kita untuk menjawabnya.

Sebab, orang yang paling berani dan sembarangan dalam berfatwa, adalah orang yang paling berani masuk neraka.

? ? ? ? ? ?.... 





Wallahul mustaaaaan....





(Penulis adalah Alumni Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Daerah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM Wiranto sudah merancang mekanisme untuk membubarkan ormas-ormas yang bertentangan dengan ideologi Indonesia, Pancasila.?

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan

“Kita akan tegas, melarang dan membubarkan ormas, apa pun tamengnya, yang bertentangan dengan Pancasila,” katanya saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Pemikiran Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan tema Keislaman dan Keindonesiaan: Aktualisasi Pemikiran dan Perjuangan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Gedung Nusantara V MPR RI Jakarta, Sabtu (6/5).

Wiranto mengaku sudah melaksanakan beberapa kali rapat terkait dengan mekanisme pembubaran ormas yang anti-Pancasila tersebut. “Kita sudah tiga kali rapat terbatas,” ucapnya.

Ia sudah mendeteksi keberadaan ormas-ormas yang menolak Pancasila, namun demikian tidak akan gegabah dalam bertindak dan membubarkan ormas-ormas yang dinilai anti-Pancasila itu.

“Tunggu tanggal mainnya,” tegasnya. "Mana nyata-nyata betul-betul bertentangan dengan Pancasila, bahkan keberadaannya tidak mengambil bagian dari satu proses pembangunan di Indonesia, ya harus bubar," lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menilai, ormas-ormas tidak boleh mengganti ideologi negara yang sudah disepakati bersama oleh para pendiri negeri ini. Ia juga menegaskan, ormas-ormas tersebut tidak boleh membuat mengganggu ketentraman masyarakat.?

Belajar Muhammadiyah

"Kalau keberadaannya merancukan ideologi negara yang sudah kita sepakati, tentunya tidak layak hidup di Indonesia," ungkapnyanya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Berita, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik

Rembang, Belajar Muhammadiyah

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sumber bulan ini sukses panen padi yang dikelola secara organik. Tahun ini ada 400 kader dari 18 Pimpinan Ranting GP Ansor Sumber yang mengembangkan sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis ini.

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumber Rembang Sukses Terapkan Pertanian Organik

Ketua PAC GP Ansor Sumber Marlan menjelaskan, pertanian organik lebih menguntungkan karena tanaman padi kebal dari berbagai penyakit. Menurutnya, program pertanian organik juga mampu mengurangi ketergantungan para kader petani GP Ansor terhadap pupuk non-organik.

"Banyak manfaat jika kita mau mengembangkan pertanian organik. Selain kebal terhadap berbagai macam penyakit, pertanian organik dinilai mampu meningkatkan hasil pertanian, di tengah sebagian wilayah di Kabupaten Rembang yang dilanda kekeringan dan terancam gagal panen,” terangnya Senin (21/3) malam.

Belajar Muhammadiyah

Marlan menilai, selain secara kualitas jauh lebih unggul dari pupuk kimia, pupuk organik juga sangat mudah didapat. Setelah sukses mengembangkan pertanian organik, GP Ansor Sumber juga akan mengembangkan pertanian hortikultura seperti cabai dan Melon. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Berita, Makam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

Jember, Belajar Muhammadiyah. Nama Universitas Islam Jember (UIJ) terdengar juga di kalangan petinggi Amerika Serikat (AS). Itu dibuktikan dengan kunjungan Konjen AS, Joaquin “Wakin” Monserrati, Selasa (24/2) di kampus yang terletak di jalan Kiai Mojo, Jember itu. 

Wakin menawarkan kerjasama dengn UIJ dalam bidang pendidikan, yakni pertukaran pelajar dan  mahasiswa. Dikatakan Wakin, selama ini pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pondok pesantren dalam bidang pendidikan.

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

“Sangat menyenangkan kalau akhirnya kami dan UIJ bisa menjalin kerjasama yang lebih inten,” harapnya sambil menambahkan bahwa NU merupakan organisasi terbesar dunia yang mampu menjadi stabilisator dalam berbagai persoalan kebangsaan.

Wakin yang didampingi Kabag Politik dan Ekonomi, Brandon Passin dan Asisten Konjen, Ahmad Cholis Hamzah itu diterima Ketua Yayasan Pendidikan NU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), Plt Rektor UIJ, Hobri, mantan Rektor UIJ, Dodiek Sutikno, dan sejumlah petinggi UIJ di gedung rektorat. 

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Wakin mengaku bersyukur akhirnya bisa berkunjung ke UIJ. “Baru hari ini kami bisa mengunjungi UIJ setelah  14 tahun berkeinginan,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Sebelum mengadakan dialog, Wakin dan rombongan sempat berjalan-jalan mengelilingi area kampus UIJ dan sempat mampir di kantor FISIP. 

Sementara itu, KH Abdullah Syamsul Arifin mengemukakan bahwa kunjungan Konjen AS tersebut merupakan bukti UIJ dan NU cukup diperrhitungkan keberadaannya. Ia mengaku bersyukur ditawari kerjasama pertukaran pelajar dan mahasiswa.

“Semua itu masih akan kita bicarakan dulu di internal UIJ,” jelasnya. (Aryudi A Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Berita, Kyai Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

Belajar Muhammadiyah

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

Belajar Muhammadiyah

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

 

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah

Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

 

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

 

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

 

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

 

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

 

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

 

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

 

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Santri, Berita Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Jepara, Belajar Muhammadiyah?

“Apa arti radikalisme,” tanya Najib Habibi kepada Nazwan santri asal Garut Jawa Barat itu.? “Radikalisme adalah suatu paham sosial/politik yang dalam usaha mencapai tujuannya menggunakan cara-cara kekerasan,” jawab santri kelas 5 MI Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara ini.? Kemudian Fatihul Khoir santri asal Semarang itu menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Radicalism is a social or politics understranding which has the purpose of achieving the goal by doing violence.

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)
Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku (Sumber Gambar : Nu Online)

Maa’rif NU Jepara Terapkan Pendidikan Anti-Radikalisme Lewat Buku Saku

Praktik santri itu merupakan upaya kegiatan menanamkan pendidikan anti-radikalisme kepada anak-anak. Setelah Nazwan dan Khoir ditanya seputar radikalisme dan Ivan santri dari Madura yang sudah hafal 15 juz menghafal beberapa ayat, selaku ketua Ikdamuba, Munashiroh melanjutkan sesi.?

Ketua Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) Jepara mengajak 750 peserta untuk membaca syiir. Ma arsalallahurrasula illa/ lirahmatin lil alamina qala// teman Allah/ ora ngutus/ kanjeng Nabi/ kejobo dadi rohmate/ alam iki.”

Sebagaimana di panduan buku halaman vii, syiir yang dibaca bersama ratusan anak itu boleh memilih pilihan lagu yang disukai. Misalnya Tombo Ati, Padhang Mbulan, Eman-eman Temen, Tul Jaenak, dan lagu-lagu yang lain.?

Belajar Muhammadiyah

Dengan mengajak siswa membaca dalil dan syiir kegiatan Sarasehan Pendidikan Anti-Radikalisme pada Generasi Emas yang diadakan LP Ma’arif NU Jepara dan Ikdamuba di Gedung MWCNU Mlonggo Jepara, Senin (16/5) tambah semarak. 750 siswa itu berasal dari MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara. ?

Saat Ikdamuba melontarkan pertanyaan berhadiah kepada murid maupun pendidik kegiatan makin semarak. ?

Kegiatan sarasehan itu, urai Munashiroh, tidak hanya dilaksanakan sekali saja tetapi akan diadakan di tiap-tiap kecamatan. Setiap sarasehan peserta akan mendapat buku saku Syifaul Ummah, Menangkal Hal Radikal.?

Agar peserta mudah memahaminya Ikdamuba membawa beberapa santri Darul Falah untuk dijadikan display mempraktikkan kitab yang didalamnya berbahasa arab, Inggris, Jawa, dan Bahasa Indonesia itu.?

Belajar Muhammadiyah

Buku saku karya KH Taufiqul Hakim itu bisa dibaca berulang-ulang 5 bait baik sebelum maupun sesudah agar lama-kelamaan bisa hafal dengan sendirinya.?

Harapannya secara tidak langsung buku itu merupakan filter/pencegah aliran radikal. Ia yang merupakan salah satu alumnus MTs Mathalibul Huda Mlonggo itu menyatakan calon generasi emas kedepan harus kinclong/mengkilap.?

“Caranya dengan baik akhlaknya menjaga nama baik almamater dan keluarga merupakan ciri generasi kinclong,” tambahnya.?

Senada dengan Munashiroh, Fatkhul Huda Ketua LP Ma’arif NU Jepara menambahkan menjadi seorang perempuan jangan asal mau diajak kaum lelaki yang baru dikenal, terutama di media sosial. Sehingga, prestasi baik yang ditorehkan MTs Mathalibul Huda juara Internasional olimpiade eksak harus tetap dipertahankan.?

Kepala MTs Mathalibul Huda Mlonggo, Zainuddin menyebut generasi emas tidak boleh kerasukan sifat yang negatif. Sehingga kegiatan tersebut merupakan pembinaan generasi muda agar tidak menjadi arogan dan radikal.?

“Perempuan yang tertawa ngakak dan laki-laki yang suka suit ketika melihat perempuan bukanlah ciri-ciri generasi yang sholeh dan sholehah,” tandas Zainuddin.?

Tupomo yang didaulat untuk mereview buku menjelaskan Islam adalah agama yang damai bukan agama yang keras/ radikal. Sekretaris LP Ma’arif NU Jepara itu menyontohkan saat Nabi Muhammad diludahi ia tidak langsung membalas tetapi malah mendoakannya.?

Sehingga kesempatan itu dirinya menyebut beberapa hal yang menyebabkan radikalisme. Di antaranya memaksa orang untuk beragama. Padahal Nabi kepada pamannya sendiri tidak pernah memaksa dalam beragama. Hal itu kemudian yang ditiru oleh Walisongo yang berdakwah dengan hikmah dan mauidhoh hasanah. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Quote, Berita Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock