Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Puluhan aktivis PMII bersama BEM Psikologi, FKIP dan Ekonomi Universitas Muria Kudus, mengadakan aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Menggugat (Geram Menggugat) ini melakukan long march dari alun-alun hingga Gedung DPRD Kudus, Jumat (21/11) pagi.

Sepanjang jalan yang dilalui, mereka meneriakkan yel-yel penolakan serta membagikan selebaran pernyatan sikap. Mereka membentangkan beberapa poster di antaraya "BBM naik, rakyat menjerit".

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis PMII Kudus Tolak Kenaikan BBM

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menyuarakan tiga tuntutan yakni menolak kenaikan BBM, laksanakan trisakti, dan laksanakan pasal 33 UUD. Mereka menilai presiden Jokowi telah menodai kepercayaan masyarakat soal keberpihakannya kepada wong cilik.

Belajar Muhammadiyah

Dalam pembentukan kabinet kerja, menurut mereka, sudah mulai terindikasi terdapat beberapa menteri yang disebut bermasalah. Ini artinya selama ini jokowi telah tunduk kepada para pemodal baik asing maupun nasional daripada memikirkan rakyat.

Belajar Muhammadiyah

"Pengkhianatan Jokowi di awal pemerintahan seolah menegaskan pada dunia, inilah Indonesia, silakan tuan-tuan pemodal asing untuk mengeruk dan menguras sumber daya alam kami. Kalian bisa membayar upah murah pada buruh-buruh kami yang sangat banyak," kata Ketua PMII Kudus Malik membacakan pernyataan sikapnya.

"Kami mempunyai peran penting dalam mengantar Jokowi menjadi presiden. Ia tidak boleh seenaknya. Jokowi harus ingat, ia menjadi presiden didukung oleh banyak kalangan wong cilik," tegas Malik yang juga mahasiswa UMK.

Malik mengingatkan kembali dan mengawal pemerintahan ini agar selalu berpihak pada wong cilik. Ia mengajak menyelamatkan Jokowi agar tidak terlena dan tunduk para pemodal asing dan neoliberalisme.

Selama aksi, puluhan petugas kepolisian mengamankan dan mengatur jalan sehingga tetap tertib, tidak menimbulkan kemacetan. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 06 Februari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Belajar Muhammadiyah

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Belajar Muhammadiyah

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Makam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif

Pati, Belajar Muhammadiyah. Program Studi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Jawa Tengah mengadakan kegiatan workshop nasional program pendidikan karakter positif. Kegiatan yang bekerjasama dengan Mata Hati Care Centre ini dihadiri 230 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pengelola PAUD, maupun guru PAUD yang ada di wilayah Margoyoso dan sekitarnya, Kamis (12/11).

Dalam sambutannya, A Dimyathi, MAg menuturkan, program-program semacam ini akan semakin menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dari luar kegiatan perkuliahan di kelas. Artinya mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari apa yang disampaikan dosen di dalam kelas, tapi mereka juga dapat menimba ilmu dari kegiatan-kegiatan seperti ini.?

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif (Sumber Gambar : Nu Online)
PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif (Sumber Gambar : Nu Online)

PGRA IPMAFA Gelar Workshop Program Pendidikan Karakter Positif

“Terlebih narasumber yang hadir dalam kegiatan hari ini merupakan praktisi yang sudah lama terjun di bidang ke-PAUD-an yang tentu sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya,” tutur Wakil Rektor I IPMAFA ini.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Muhammad Syamsun dari Mata Hati Care Centre selaku narasumber kegiatan hari ini menjelaskan dalam paparannya, bahwa tema yang diambil pada kegiatan hari ini merupakan kegiatan yang sangat tepat terutama bagi para pendidik di lembaga-lembaga Anak Usia Dini.?

“Ibarat komputer, otak anak itu diinstal pada usia 0 sampai 7 tahun, maka di usia-usia seperti itu anak-anak perlu ditanamakan sifat dan karakter positif supaya nanti di usia berikutnya anak-anak tidak mudah stres karena sudah mempunyai bekal baik secara psikis maupun psikologis,” jelas sosok yang akrab disapa Kak Acun ini.

Belajar Muhammadiyah

Para peserta pun terlihat sangat antusias. Mereka satu persatu melahap materi-materi yang dipresentasikan oleh narasumber. Baik itu dalam hal permainan anak, bernyanyi, menari dan lain-lain. Bahkan salah seorang peserta dari Karimunjawa sangat tertarik dan mengapresiasi kegiatan ini.?

“Konsep acaranya bagus, materinya bervariasi, narasumbernya juga asyik. Hal ini membuat kami sebagai peserta tidak pernah merasa bosan dan jenuh mengikuti kegiatan ini. Kami berharap prodi PGRA IPMAFA sering mengadakan kegiatan seperti ini guna memberikan tambahan bekal keilmuan umumnya bagi para guru dan pengelola lembaga PAUD serta khususnya bagi mahasiswa PGRA IPMAFA,” ungkap Bambang Musthofa, mahasiswa PGRA semester pertama. (Siswanto/Fathoni)





Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Ditengah-tengah acara kongres ke XIII Fatayat NU yang sedang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, PP Fatayat NU menandatangani kerjasama dengan BKKBN dalam bidang kesehatan reproduksi (12/7). Mewakili Fatayat Maria Ulfa Ansor sedangkan BKKBN diwakili oleh Dr. Siswanto Wilopo yang merupakan salah satu deputi di BKKBN.

Kerjasama ini terjalin karena sebelumnya Fatayat telah sukses menjalankan program serupa di 11 propinsi. “Mereka membutuhkan bantuan Fatayat untuk melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi seperti KB dan lainnya,” tandas Ketua Panitia Kongres dr. Wan Nedra Komaruddin.

Kerjasama ini sangat tepat karena anggota Fatayat memiliki usia reproduksi sehingga mereka menjadi user. Sosialisasi ini sangat bermanfaat karena mereka akan tahu berbagai aspek kesehatan reproduksi. “Misalnya KB dengan pil, ia akan tahu indikasinya apa dan efek sampingnya apa. Jadi edukasi seperti itu,” tambahnya.

Bentuk sosialisasi nantinya mungkin dalam bentuk serial diskusi. Fatayat juga telah memiliki tenaga handal yang siap untuk diterjunkan ke lapangan, walaupun akan terus dilakukan capacity building. Nantinya wilayah yang siap bisa langsung sementara yang belum diminta mempersiapkan diri dulu.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam, Doa, Amalan Belajar Muhammadiyah

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tandatangani MoU dengan BKKBN

Kamis, 18 Januari 2018

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

Semarang, Belajar Muhammadiyah



Tidak benar Kementerian Dalam Negeri minta pembatalan peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol, kata Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Antara di Semarang, Sabtu.

Tjahjo dengan tegas menyatakan bahwa semua daerah perlu memiliki peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol mengingat peredaran minuman keras sudah membahayakan masyarakat dan generasi muda khususnya.

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

"Jabatan saya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saya pertaruhkan kalau saya sampai melarang Perda Pelarangan Minuman Keras. Itu berita fitnah," kata Tjahjo yang juga alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang.

Lebih lanjut Tjahjo menekankan bahwa penjelasnnya itu sekaligus meluruskan isu yang berkembang dari pemberitaan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencabut Perda tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol di Daerah (Perda Pelarangan Minuman Keras).

Perda Pelarangan Minuman Keras, lanjut Tjahjo, prinsipnya harus diberlakukan di semua daerah dengan konsisten, benar penerapan dan pencegahannya, serta penindakan oleh daerah. Apalagi, minuman keras juga menjadi pemicu kejahatan.

Belajar Muhammadiyah

Di Papua, misalnya, Kemendagri mendukung kebijakan Gubernur Papua untuk memberlakukan Perda Pelarangan Minuman Keras dengan konsisten.

Belajar Muhammadiyah

Tjahjo mengungkapkan bahwa relatif banyak perda yang berisi larangan minuman keras yang masih tumpang-tindih, kemudian Kemendagri meminta daerah yang bersangkutan untuk menyinkronkan kembali perda tersebut. Begitu pula, koordinasinya dengan aparat keamanan harus terjaga agar Perda Pelarangan Minuman Keras bisa efektif, termasuk pelarangan pembuatan dan peredarannya.

Sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya memprotes Mendagri terkait dengan persoalan pencabutan Perda Pelarangan Minuman Keras yang dinilai bertentangan dengan Permendag, padahal hal itu justru menyalahi Pancasila dan kebijakan revolusi mental.

"Itu juga menyalahi ajaran agama bahwa minuman keras merupakan sumber asal dari segala bentuk kejahatan, seperti pembunuhan, kejahatan seksual, kecelakaan, dan narkoba," kata Ketua Tanfiziah PCNU Kota Surabaya Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. di Surabaya, Sabtu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Makam, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Kunjungan Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz mendapat perhatian luar biasa. Jarang-jarang lawatan sebuah kepala negara mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Persiapan yang istimewa dilakukan untuk kenyamanan Sang Raja. Lift Masjid Istiqlal dipasang baru, demikian juga toiletnya. Di DPR beraneka-ragam bunga didatangkan agar gedung wakil rakyat ini tampak indah dalam menyambut khadimul haramain. Televisi melakukan siaran langsung acara kenegaraan yang dihadiri sang Raja sedangkan media cetak atau daring mengupas berbagai sisi, baik hubungan Indonesia dan Saudi Arabia dari masa ke masa atau tentang figur Raja Salman dan keluarganya.?

Pemerintah berharap kunjungan tersebut tidak sebatas seremoni. Ada harapan lebih besar agar terjalin hubungan yang lebih erat dan kerja sama ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Perdagangan Indonesia dengan Saudi cukup erat, terutama terkait dengan impor minyak mengingat Indonesia saat ini sudah mengimpor bersih untuk memenuhi kebutuhan minyak buminya. Total ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,33 miliar dolar sedangkan impor kita mencapai 2,73 miliar dolar. 2,02 miliarnya berupa produk minyak. Publik, melalui analisis terhadap konten yang diperbincangkan di media sosial, publik menginginkan hubungan yang lebih erat mengingat dua negara ini penduduknya mayoritas Muslim. Apalagi di Arab Saudi terdapat Masjidil Haram dan Masjid Madinah, dua tempat yang paling dihormati umat Islam. Sebagai saudara yang diberkahi kekayaan dari sononya, tanpa perlu bekerja keras, Saudi diharapkan memberi bantuan maksimal atas saudara sesama Muslim yang tidak seberuntung dia. ?

Sayangnya, harapan terhadap kerja sama yang lebih erat ini kurang membawa hasil. Presiden ? Joko Widodo dalam sambutannya di Pesantren Buntet Cirebon (13/4) secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas komitmen investasi Saudi Arabia yang hanya sebesar Rp89 triliun (US$6 miliar), sementara China mendapatkan kucuran dana sebesar Rp870 triliun (US$65 miliar) bahkan Malaysia yang negaranya lebih kecil dari Indonesia mendapat lebih banyak, yaitu sebesar Rp 92,8 triliun atau setara dengan US$7 miliar.

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Banyak di antara Muslim Indonesia tampaknya terbuai dengan Saudi Arabia karena sentimen keislaman. Seolah-olah Saudi akan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, sementara di sisi lain, mereka menyatakan ketidaknyamanan dengan China karena stigma ideologi yang dianut oleh negeri tersebut, dan karena penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa yang dari sisi jumlah adalah minoritas.

Lho, ternyata Saudi lebih memilih menanamkan uangnya kepada China daripada Indonesia yang sesama Muslim. Inilah yang tak banyak disadari oleh sebagian Muslim Indonesia yang menempatkan Saudi sebagai patron, sebagai bentuk ideal dalam berislam. Bahwa membantu sesama Muslim adalah di atas segalanya. Faktanya, dana-dana petrodolar yang mereka miliki lebih banyak diinvestasikan di negara-negara Barat daripada negara Muslim.

Belajar Muhammadiyah

Saudi berpikir pragmatis dalam melakukan investasi, di mana dana tersebut. Kurang ada kesadaran untuk melakukan kebijakan afirmatif untuk mendukung sesama negara Muslim, sementara di sisi lain ingin disebut sebagai pemimpin bagi negara-negara Muslim. Perilaku yang sama juga dilakukan negara-negara Timur Tengah terhadap dana-dana minyak yang mereka miliki terhadap kebijakan investasinya. Pada rentang 2010-2015, nilai investasi negeri yang dipimpin oleh dinasti Saudi itu hanya US$34 juta atau hanyaa 0,02 persen dari total investasi asing yang mengalir ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun itu. Pada 2016, realisasi investasi hanya US$900.000 atau sekitar Rp11,9 miliar.

Jika pendekatannya adalah pragmatis bahwa uang tidak memiliki agama, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan kucuran investasi karena sentimen sebagai sesama Muslim. Indonesia harus memperbaiki iklim investasinya, hambatan-hambatan terhadap investasi seperti korupsi yang masih menggurita, birokrasi yang bertele-tele, infrastruktur yang masih belum memadai, dan hal-hal lain harus diperhatikan. Dengan demikian, siapa saja akan datang karena adanya potensi keuntungan yang akan diperoleh.?

Belajar Muhammadiyah

Kita memang gampang terbuai dengan kata-kata indah yang menggugah emosi kita. Sejarah perjalanan bangsa telah membuktikan, dahulu kita mendukung Jepang masuk ke Nusantara karena mereka memakai sentimen sebagai saudara tua. Faktanya, penjajahan yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun ini menimbulkan penderitaan yang tak terkira. Indonesia, jika ingin maju, tidak bisa mengharapkan negara atau bangsa lain untuk menolong. Kita yang harus memacu diri kita sendiri untuk memperbaiki apa yang kurang. Kita, berhubungan dengan bangsa lain dalam posisi yang setara, bukan menghamba. Bahkan kalau bisa, menolong negara-negara lain yang selama ini kurang berdaya. Dan itu hanya bisa dicapai jika kita kuat, kita berdaya, dan kita memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tawar kepada bangsa lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Makam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah

Blitar, Belajar Muhammadiyah. Yayasan Al-Ma’arif NU Udanawu gelisah atas peredaran narkoba dan keterbukaan aurat di kalangan pelajar. Pihak yayasan mengelar istighotsah yang melibatkan 4000 jamaah di halaman Masjid Al-Ma’arif Udanawu Blitar. Al-Ma’arif NU Udanawu dengan hormat meminta pengasuh pesantren Mambaul Hikam Mantenan KH Diya’uddin Azzamzami memimpin istighotsah agar untuk keselamatan Blitar.

Selain rutinitas tahunan menjelang ujian nasional, istighotsah pada Ahad (29/3) malam menjadi istimewa karena mereka juga mendeklarasikan gerakan antinarkoba dan antipornografi terutama di lingkungan Yayasan Al-Ma’arif.

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Narkoba dan Pornografi, Al-Ma’arif NU Undawanu Beristighotsah

“Ini acara rutin setiap tahun menjelang anak-anak ujian,’’ ujar Ketua Yayasan Al-Maarif KH Drs Ahmad Zamrodji.

Belajar Muhammadiyah

Mengapa ini dilakukan? Menurut Zamroji, saat ini kondisinya sudah sangat kronis. Contohnya masalah narkoba dan pornografi yang menyerang pada pelajar dan anak-anak. “Jadi pada kesempatan ini kita sampaikan bagaimana bahayanya narkoba dan pornografi bagi anak,’’ tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Hadir pada acara istighotsah ini Wakil Bupati Blitar H Riyanto didampingi Kepala Kamenag Blitar H Ahmad Mubasir, Kepala Kesbangpol H Mujiyanto, Kepala Satpol PP Blitar H Toha Mashuri, dan para kiai setempat. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Makam Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock