Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Ketua PBNU HM Rozy Munir Jadi Dubes Qatar

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua PBNU Urusan Luar Negeri HM Rozy Munir dilantik oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menduduki jabatan duta besar Indonesia untuk Qatar untuk tiga tahun ke depan. Pelantikan dilaksanakan di Istana Presiden pukul 14.00 Rabu (5/9).

Kepada Belajar Muhammadiyah di PBNU sesaat sebelum keberangkatannya ke istana, Rozy menjelaskan bahwa ia akan memfokuskan tiga hal untuk meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Qatar yang mencakup investasi, perdagangan dan  pariwisata.

“Banyak peluang yang bisa diraih seperti tenaga ahli dibidang perminyakan, konstruksi, perhotelan, sarana dan prasarana sampai dengan dokter dan perawat. Kita juga akan berusaha meningkatkan kunjungan wisatawan dari Qatar ke Indonesia karena sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Doha ke Jakarta dan Bali,” tuturnya.

Ketua PBNU HM Rozy Munir Jadi Dubes Qatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU HM Rozy Munir Jadi Dubes Qatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU HM Rozy Munir Jadi Dubes Qatar

Beberapa hal yang belum diselesaikan oleh dubes sebelumnya seperti MoU tentang Joint Investment Fund juga akan menjadi prioritas garapannya. 

Sebagai orang yang sudah lama mengabdi di NU, Ia juga akan berupaya meningkatkan hubungan keagamaan dengan mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamiin yang selama ini sudah dijalankan NU dan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) turut digagasnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia merupakan satu dari tujuh dubes baru yang bukan merupakan diplomat karir dan hari ini dilantik bersama dengan tiga dubes lainnya. Posisinya di Qatar menggantikan Abdul Wahid Maktub yang sudah habis masa tugasnya.

Dilahirkan di Mojokerto, 16 April 1943, darah NU sudah mengalir sejak lahir karena ia merupakan anak dari KH Munasir Ali, salah satu pejuang Hizbullah, yang merupakan pasukan NU dalam mengusir penjajah.

Lulus dari FE UI tahun 1974, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Hawai dengan mengambil program Master of Science in Public Health/Population and Family Planning yang diselesaikan pada tahun 1977 yang selanjutnya ia mengabdi di almamaternya.

Beberapa jabatan penting yang pernah di pegangnya adalah direktur Pranata UI 1986-1997, staff ahli Menakertrans pada tahun 1998, Badan Kependudukan Nasional (200-2001, Menneg  BUMN (2000) dan anggota Panwaslu (2004).

Semasa mahasiswa, Rozy aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa yang menjadi wadah anak-anak NU, selanjutnya, ia aktif di Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) yang merupakan bidang keahliannya. Selanjutnya, ia menjadi ketua PBNU semasa kepemimpinan Gus Dur dan masih dipercaya sampai dua kali masa khidmat kepemimpinan KH Hasyim Muzadi.

Belajar Muhammadiyah

Pernikahannya dengan gadis Bugis yang disuntingnya Hj Mufida Munir membuahkan tiga orang anak, Avianto Muhtadi, Benny Saaf dan Citra Fitri. Ia kini merupakan kakek dari dua orang cucu dari anaknya yang pertama. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Hubungan Indonesia dan Malaysia kerap terganggu karena persengketaan wilayah, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negeri malaysia dan klaim budaya. Permasalahan tersebut sudah ditangani kedua belah pihak, tapi sering muncul kembali di lain waktu.

Menurut Direktur Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur hal itu diesebabkan persoalan diselesaikan dengan formal dan seremonial. “Penyelesaian masalah tidak sampai ke akar rumput,” katanya selepas diskusi Informal Cultural Meeting bertema Persepsi Pemuda Indonesia terhadap Hubungan Indonesia Malaysia di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (26/8).

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Bahas Hubungan Indonesia dan Malaysia

Ghofur berpendapat, penyelesaian itu harus diselesaikan melalui people to people dengan pendekatan dialogis, membangun persepsi bersama karena kita sama-sama saudara serumpun. “Pemerintah tidak bisa bergerak tanpa kemitraan dengan masyarakatnya. Di sisi lain Indonesia dan Malaysia itu satu rumpun,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap Pemerintah Republik Indonsia mau mendukung peran-peran yang dilakukan seperti LKSB. Di Malaysia, menurut Ghofur sudah dilakukan melalui semacam Kemenpora-nya. “Sudah saatnya pemerintah kedua negara memberikan perhatian untuk pertemuan kebudayaan,” ungkapnya.? ?

Belajar Muhammadiyah

Hadir pada diskusi tersebut perwakilan dari Malaysia, yaitu Prof Shaharuddin Badruddin dan Prof Mohammad Nor Othman, serta Prof Mazlan Che Soh. Ketiganya dari Universitas IT Mara Malaysia. Hadir pula berbagai komponen, mulai dari PMII, PMKRI, HMI, Gerak Api, perwakilan Universitas Indonesia, Universitas Pertahanan, Universitas At-Thawalib, Intermestc Review, dan aktivis 98.

LKSB merupakan lembaga kajian dan konsultasi yang concern dengan persoalan-persoalan strategis bangsa; sosial politik, ekonomi, Sumber Daya Alam (SDA), pertahanan keamanan, hubungan internasional hukum dan HAM, agama dan budaya dan lain-lain.

Lembaga ini mendedikasikan karya-karyanya untuk perubahan yang berkeadaban bagi masa depan rakyat dan pemerintahan Indonesia. LKSB adalah organisasi bervisi kebangsaan dan bermisi kemanusiaan serta bertujuan kerakyatan. Ia adalah organisasi non-pemerintah, non-keagamaan dan bersifat semi-profit. (Abdulllah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Susahnya Shalat Jumat di China

Tidak seperti di Tanah Air yang dengan sangat mudah menjumpai masjid untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat. Di China, asrama yang sempit bisa disulap menjadi masjid. Berikut pengalaman Bintang Ramadhan yang selama setahun tinggal di China. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya ini menceritakan kepada Belajar Muhammadiyah bagaimana pengorbanan untuk menjadi muslim di negara tirai bambu tersebut.

Semenjak tinggal di Wuhan China, baru sekali kami dari rombongan mahasiswa Unesa (Universitas Negeri Surabaya) shalat di masjid. Yakni ketika menjalankan ibadah Shalat Idul Adha. Masjid itu bernama "Wuhan Majiazhuang Qingzhensi” (wuhan = kota Wuhan, Majiazhuang = nama masjid Majiazhuang, qingzhensi = masjid).

Susahnya Shalat Jumat di China (Sumber Gambar : Nu Online)
Susahnya Shalat Jumat di China (Sumber Gambar : Nu Online)

Susahnya Shalat Jumat di China

Lokasinya berada di Guanggu Chuangye Street dekat dengan Guanggu Avenue dan Jiayuan Road. Jaraknya lumayan jauh dengan asrama kami tinggal, Huazhong University. Di sini Shalat Ied dimulai sekitar pukul 10.00 WC, beda dengan di Indonesia. Untuk bisa pergi ke masjid, kami diharuskan naik kendaraan. Itu lantaran selama di sini, kami tidak memiliki kendaraan pribadi seperti di Indonesia, sehingga selalu menggunakan kendaraan umum untuk bepergian. Awalnya kami berencana naik bus, tetapi karena takut terlambat, akhirnya naik taxi.

Setelah Shalat Ied, kami lebih sering shalat di dalam kamar. Pernah juga shalat di tanah lapang beralaskan rumput. Yakni saat pergi ke Moshan. Ketika itu kami melaksanakan Shalat Ashar bersama Abim dan temannya dari negara lain. Dia membawa sajadah dan sebotol air untuk berwudhu. Katanya berwudhu dengan satu kali bilasan sudah cukup. Wow, its amazing, baru pertama kali dalam hidup shalat seperti ini. Pengalaman baru dalam hidup.

Belajar Muhammadiyah

Pengalaman Shalat Jumat

Belajar Muhammadiyah

Pada kesempatan ini, khususnya untuk kawan-kawan NU di Tanah Air, saya ingin bercerita secara khusus tentang pengalaman menjalankan Shalat Jumat.

Boleh dikata kami mahasiswa muslim Indonesia kurang beruntung kuliah di sini, khususnya dalam hal pemenuhan ibadah. Karena masjid sangat jarang. Untuk bisa melaksanakan Shalat Jumat secara berjamaah, kami terpaksa menggunakan lokasi seadanya. Ada sejumlah mahasiswa dari negara Timur Tengah yang mengadakan Shalat Jumat di asrama saya. Lebih tepatnya berada di lantai paling atas yakni 13 di lorong bangunan tersebut.

Sekitar pukul 13.00 WC ibadah Shalat Jumat sudah dimulai. Ada pembagian tugas yang juga bertindak sebagai panitia. Dari sejumlah mahasiswa yang ada, sebagian bertugas menggelar karpet dan sajadah. Sedangkan mahasiswa lain mendapat tugas menyampaikan khotbah Jumat secara terjadwal. Mereka kadang menggunakan bahasa Inggris dan sesekali Arab.

Selama kegiatan berlangsung tidak ada pengeras suara. Cukup dengan suara sang khotib. Jika mereka menggunakan bahasa Inggris, mungkin saya bisa mengerti sedikit dari materi khotbah yang disampaikan. Tetapi jika menggunakan bahasa Arab, tentu saja saya tidak mengerti sama sekali. Maklum untuk bahasa yang satu ini saya kurang mendapatkan bekal selama studi di Tanah Air. Seandainya saja ada mahasiswa Indonesia yang mau menjadi penceramah dan berkhotbah menggunakan bahasa Indonesia, tentu akan sangat memudahkan jamaah untuk mendengarkan dan memahami isinya.

Para penghuni kamar non muslim yang tinggal di lantai 13 harus menghormati kami yang sedang beribadah. Sehingga mereka tidak boleh berisik maupun keluar masuk kamar. Mengadakan Shalat Jumat di sini sudah mendapatkan izin dari pihak pengelola asrama. Sehingga kami bisa melaksanakan ibadah Shalat Jumat dengan tenang dan khusyuk.

Para jamaah yang ikut Shalat Jumat ternyata bukan hanya mahasiswa muslim di kampus kami belajar. Ada banyak mahasiswa dari kampus lain yang ikut. Rata-rata mereka memang dari negara yang mayoritas muslim seperti Arab dan Timur Tengah. Pertimbangan utama mereka bergabung karena Shalat Jumat di asrama inilah yang paling dekat.

Sebelum berangkat tentunya kami harus berwudhu dahulu di kamar. Karena di sini tidak menyediakan tempat wudhu layaknya di Indonesia. Demikian juga dengan lokasi yang terbilang lumayan sempit. Jika ingin dapat tempat, ya harus datang lebih awal. Jika datang terlambat bisa tidak kebagian. Bahkan ada jamaah yang akhirnya menggunakan tangga sebagai tempat shalat.

Namun demikian, kami sangat beruntung karena selama di sini diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk terus melaksanakan ibadah. Tidak bisa dibayangkan jika di asrama tidak ada tempat untuk Shalat Jumat. Pasti setiap pekan kami diharuskan menuju Masjid Majiazhuang yang letaknya jauh dari asrama. Syukur alhamdulillah. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Hadits Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Wonogiri, Belajar Muhammadiyah. Maulid Akbar membuka perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri yang ke -272 yang digelar semalam (4/5) di Alun-alun Giri Kridha Bhakti Wonogiri.?

Pengajian Akbar tersebut dihadiri Rais A’am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Ribuan jamaah yang hadir memadati lapangan lokasi pengajian. Mereka hadir dari berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Selain maulid akbar, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan guna menyambut Hari Jadi Kota Gaplek itu, diantaranya Napak Tilas Pangeran Sambernyawa di Monumen Watu Gilang, Tasyarub Gerakan 1 Miliar untuk anak yatim, dan Doa syukur antar umat beragama.

Hari Jadi Wonogiri sendiri sebetulnya baru akan jatuh pada tanggal 19 Mei nanti. Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dalam sambutannya mengatakan,ia berharap dengan momentum ini segenap unsur dapat membantu untuk mewujudkan keadaan masyarakat berdasarkan semboyan SUKSES.

Belajar Muhammadiyah

“SUKSES sebagai kepanjangan Stabilitas, Undang-undang, Koordinasi, Sasaran, Evaluasi, Semangat. Berarti pula upaya mewujudkan keadaan masyarakat yang penuh semangat dan bekerja bersama segenap elemen berdasarkan rel regulasi agar tujuan kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai dengan kestabilan,” ujarnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Doa, Kiai Belajar Muhammadiyah

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Seknas Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan sembilan nilai yang menjadi prisma dalam sepak terjang Gus Dur bertoleran. Ia menjelaskan itu pada Halaqah Kiai dan Tokoh Muda Pesantren di Yogyakarta Kamis-Sabtu (13-15/12).

“Yang paling inti adalah nilai ketauhidan,” kata Alissa, putri Gus Dur, Ketua Umum PBNU 1984-1999.

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Kemudian, kata Alissa nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan akan muncul nilai pembebasan, keadilan, persaudaraan dan kesetaraan.

Selanjutnya, tambah dia, memiliki jiwa yang satria atau super ikhlas membantu sesama, kesederhanaan, dan nilai kearifan lokal. Tentang poin terakhir, Alissa menjelaskan, bagi Gus Dur semua tradisi membawa kearifan.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

“Dari sembilan nilai inilah kemudian akan membentuk pribadi yang toleran,” kata Mbak Lissa, panggilan akrabnya.

Alissa juga menjelaskan, sebenarnya Indonesia ini adalah negara yang terbangun dari kebinekaan dan toleransi. Oleh karena itu dalam proses menjadi sebuah bangsa, masyarakat Indonesia memiliki warisan kecerdasan kultural, yang menjadikannya unik di antara bangsa-bangsa lain.

Gus Dur memang menginspirasi semua golongan untuk menjadi sosok yang toleran. Karena menjadi toleran secara tidak langsung menjunjung tinggi keadilan. Pendidikan toleransi yang diterapkan oleh Gus Dur menjadikan tawaran solusi kepada mayarakat Islam Indonesia untuk mengharumkan Islam yang damai.

“Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi,” begitu kata mbak Lisa mengutip ungkapan dari ayahandanya Gus Dur. (Muyassaroh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Pertandingan, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Kuasa Perempuan Pesantren

Oleh Abdul Malik Mughni

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat berakar dari pesantren, kerap ‘ditinggalkan dalam diskursus modernisme di Indonesia. Stigma pesantren sebagai subkultur feodal di Indonesia, menjadi dalih untuk meminggirkan peran NU dari sejarah dan peta politik Orde Baru (Orba), selama dua dasawarsa. Para peneliti masa itu, seperti Clifford Greetz dan Deliar Noer (keduanya lahir tahun 1926 dan menjadi rujukan para Indonesianis pada tahun 1960 sampai 1980-an) serta sejumlah penulis terkenal di masa awal Orba, menggambarkan NU dan pesantren sebagai kaum kusam yang antimodernisme.

Mereka berhasil menggiring opini masyarakat dunia, untuk menstigmatisasi NU. Framing tersebut kemudian berubah seiring hadirnya para penulis NU, seperti Mahbub Djunaedi, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, juga Saifuddin Zuhri. Disamping penulis muda Masdar F Masudi, dan Said Budairi? yang berhasil membawa pesantren dalam pelbagai wacana kontemporer di media utama (mainstream). Stigma NU yang kusam, oportunis dan lemah dalam mengejar tuntutan zaman pun berganti menjadi NU yang unik, seksi dan mampu melampaui zaman berkat kehadiran para penulis dan aktivis muda pesantren di akhir tahun 1980-an.

Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuasa Perempuan Pesantren

Penihilan peran NU dan pesantren juga terjadi dalam wacana feminisme dan gerakan kesetaraan gender di Indonesia.? Terlambatnya pembentukan organisasi Muslimat, Fatayat, Korps Peregerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) seolah menguatkan anggapan bahwa pesantren adalah subkultur yang sangat kuat dalam mempertahankan tradisi patriarkal.

Perempuan Pesantren, Memimpin Ranah Publik

Jika dirunut dari sejarah, Pesantren sebagai subkultur di Nusantara, justru telah membantu menyelaraskan gerakan kesetaraan gender; dari wacana elit ke gerakan afirmatif yang diterima hingga ke desa-desa. Meski secara organisasi, pembentukan sayap perempuan di NU dan badan otonomnya terbilang lambat, namun secara kultural, gerakan kesetaraan gender di kalangan pesantren telah dimulai sejak lama. Berdirinya pondok pesantren khusus putri di tahun 1917, di Jombang, adalah salahsatu sumbangsih ulama, khususnya KH Bisri Syansuri terhadap akselerasi gerakan feminisme di pesantren.

Jauh sebelum itu, seperti diungkapkan sejarawan Universitas Brawijaya, KH Agus Sunyoto, sejatinya kultur Nusantara, khususnya di kawasan pesisir –bersama kultur pesantren,- adalah matriarkal. Kultur matriarkal tersebut, menurut Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini, justru dihancurkan oleh negara-negara Eropa, seperti Portugis dan Belanda yang menjajah Nusantara seabad lampau.

Belajar Muhammadiyah

Agus Sunyoto menyodorkan fakta tentang Ratu Kalinyamat yang memimpin pasukan, menyerang? Portugis di Malaka di tahun 1560. Kemudian ada Laksamana Kemala Hayati, Cirebon, Nyimas Gandasari, Nyi Ageng Serang dan lainnya. “Kultur pesisir itu kultur matriarki, perempuanlah yang? berkuasa, tak hanya dalam fakta sejarah, tapi juga dalam legendanya,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Di pesisir juga, kata Agus, semua dongeng berpijak pada kultur matriarki. Agus lalu mencontohkan bahwa di Surabaya ada kisah Sawunggaling yang sukses karena taat pada ibunya. Ada juga Syarif Tambakyoso dari Sidoarjo, kesaktian yang dimiliki dari ibunya. “Malingkundang dan Sangkuriang pun berpusat pada tokoh perempuan,” paparnya. Mitos-mitos penguasa lautan di Indonesia, juga perempuan, seperti Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, Ratu Laut Utara dan lainnya.

Kehidupan di pesisir itu menghormati perempuan. Kuasa perempuan di Nusantara itu dihancurkan? kolonialisme, karena Eropa sejak era Yunani sudah patriarki,” tandas Agus seraya mengurai fakta tentang dongeng Eropa yang penuh maskulinitas. Ia menyebut dongeng Dewa Zeus versus Hera, dewi yang jahat, hingga penyebutan istilah Founding Father dan Fatherland, di negara-negara Eropa dan Amerika.

Bagaimana dengan Indonesia? “Kita menyebutnya Ibu Pertiwi, Persia pakai istilah Meehan, Turki juga menggunakan Anavatan semua maknanya motherland. Jadi wajar dalam penulisan sejarah pascakolonialisasi, peran-peran perempuan banyak dinihilkan,” imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Perempuan pesisir Nusantara ternyata juga sangat berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Enam tokoh perempuan yang tercatat dalam dokumentasi Sumpah Pemuda juga berasal dari daerah pesisir. Di antaranya, Siti Sundari dari Semarang, Emma Poeradiredja dari Cirebon.

Pendapat senada diungkapkan Aisyah Hamid Baidowi.? Adik Gus Dur itu mengungkap, kalangan pesantren turut mendorong ‘kemapanan’ feminisme di Indonesia, baik melalui gerakan afirmatif yang melahirkan sejumlah regulasi pro perempuan, maupun secara kultural, mengubah peran nyai, dari sekedar pendamping kiai, menjadi sosok yang menjadi pemimpin.

Tak heran, jika saat ini, banyak nyai, maupun puteri kiai serta aktivis perempuan NU, menjadi pemimpin di ranah publik. Kini para perempuan pesantren banyak berkiprah di ranah politik. Menjadi legislator, kepala daerah, menteri dan (mungkin) kelak menjadi Wakil Presiden atau bahkan Presiden.

Para perempuan pesantren, kata Aisyah, kini juga banyak menjadi pemimpin di ranah agama. “Sekarang banyak kemajuan di pesantren. Ibu-ibunya kebanyakan sarjana. S2, S3, malah di Purwoasri Kediri, ibu nyainya Profesor. Almusadaddiyah juga ibu nyainya profesor. Hasil Produk pesantren ketika keluar dari kepompongnya, itu luar biasa. Di MUI misalnya ada Ibu Chuzaimah Tanggo, Ibu Mursidah mereka tangguh dan alim. Khofifah juga produk pesantren,”tandasnya.

Tantangan Perempuan Pesantren ?

Nama-nama yang diabsen oleh Agus Sunyoto maupun Aisyah Hamid Baidowi adalah para aktivis pesantren yang tumbuh di era Orba yang represif. Mereka pernah berkiprah di IPPNU, Kopri, Fatayat maupun Muslimat. Kini para penerusnya di organisasi sayap perempuan di NU dan badan otonomnya, tentu punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas diri dan gerakan organisasinya agar lebih inovatif dan kreatif.?

Di era serba kompetitif sekarang ini, para perempuan pesantren punya peluang lebih besar untuk berkiprah di banyak bidang. Tak melulu di ranah politik. Tapi juga perlu mengisi ranah ekonomi kreatif, IT, birokrasi dan ranah profesional lain perlu diisi oleh para perempuan pesantren.

Riset McKinsey Global Institute (2012) memprediksi Indonesia, dengan kultur negara kepulauan memiliki prospek menjanjikan pada tahun 2020-2030. Sampai saat ini, Indonesia menjadi pangsa pasar terbesar bagi banyak industri di dunia. Indonesia yang saat ini berada di peringkat ke-16 sebagai negara perekonomian terbesar, akan meningkat ke peringkat ke-7 pada tahun-tahun tersebut. Perempuan, seperti saat ini, tentu akan menjadi pangsa pasar terbesar.

Perkembangan tersebut tentu perlu disikapi dengan bijak oleh para aktivis perempuan pesantren. Sebagai calon pemimpin masa depan, persiapan matang harus digerakkan secara sistematis. Terlebih, perempuan di Indonesia menghadapi tantangan berlipat ganda. Tak hanya bakal menjadi tulang punggung ekonomi, para perempuan Indonesia juga masih harus berperang mengeliminir maraknya kasus kekerasan dan perdagangan orang. Sehingga, aktivis perempuan pesantren kini, bukan lagi saatnya berkutat di wilayah wacana feminisme, tetapi sudah bergerak ke ranah aksi. Khususnya mempersiapkan kader-kader unggulan.

Ke depan, mungkin organisasi silat Pagar Nusa dan barisan semi militer semacam Banser Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU juga perlu dipersiapkan oleh sayap perempuan NU. TNI dan Kepolisian yang kini sedang meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan di dalam rekrutmen, juga perlu diisi oleh para pelajar puteri NU. Sehingga perempuan pesantren masa depan, tak hanya unggul dalam berdebat, dan menjadi pelengkap di ranah politik, tetapi juga mampu berkompetisi di pelbagi bidang.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Website perempuanparlemen.org, Ketua Lembaga Pers Penerbitan dan Kajian Strategis PB PMII dan Wakil Bendahara Lajnah Ta’lif Wa Nasyr PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sejumlah menteri “Kabinet Kerja” Presiden Joko Widodo menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Al-Hikam II Beji, Depok, Kamis (30/10).

Mereka adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa dan Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Mantan menteri luar neger Hasan Wirajuda yang semenjak awal mendukung pelaksanaan acara International Conference of Islamic Scholar (ICIS) bersama KH Hasyim Muzadi juga terlihat hadir dan menyampaikan materi.

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Seminar internasional kali ini membahas tema konflik dan transisi demokrasi di Timur Tengah. Secara khusus pembahasan lebih mengarah kepada persoalan ISIS atau kelompok negara Islam d Irak dan Suriah.

Belajar Muhammadiyah

Seminar dihadiri sekitar 400 orang yang terdiri dari ulama dan cendekiawan muslim lintas ormas, termasuk para kiai dan pengurus NU dari berbagai daerah yang akan mengikuti Munas dan Konbes di PBNU 1-2 November mendatang.

KH Hasyim Muzadi mengatakan, selama ini informasi mengenai ISIS tidak utuh dan sepotong-potong. Dengan menghadirkan para pakar nasional serta cendekiawan Muslim dari Mesir, Irak dan Suriah diharapkan para kiai khususnya dan umat Islam dapat memperoleh informasi yang utuh mengenai ISIS.

Belajar Muhammadiyah

“Karena pendirian yang semacam ISIS ini ada di Indonesia. Harus ada pengertian yang utuh mengenai ISIS. Kalau sudah ngerti maka akan waspada. Lebih dari itu diharapkan kita dapat menjelaskan ISIS kepada masyarakat sembari mengembangkan ajaran Islam yang moderat,” katanya kepada wartawan usai pembukaan seminar.

Seminar internasional dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan mantan menteri luar negeri Hasan Wirajuda menyampaikan kata pengantar.

Seminar internasional didukung juga oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sejumlah pejabat penting dijadwalkan akan berbicara antara lain Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Sutarman, dan mantan Kepala BNPT Ansyad Mbai. Sementara itu juga terlihat hadir dalam dalam acara pembukaan Ketua DPP PPP Romahurmuzi yang sempat berbincang dengan KH Hasyim Muzadi di kediamannya. (Dwi Niar/ Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Undangan Terbuka, Silaturahim Kebangsaan di UGM Malam Ini

Yogyakarata, Belajar Muhammadiyah. Jaringan Islam Rahmatan lil ‘Alamin Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana mengadakan halal bihalal dan tabligh akbar Silaturahim Kebangsaan bertema “Mewujudkan Dakwah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin” di Masjid Kampus UGM, Kamiis (4/9) malam ini, pukul 19.00 WIB.

Undangan Terbuka, Silaturahim Kebangsaan di UGM Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Undangan Terbuka, Silaturahim Kebangsaan di UGM Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Undangan Terbuka, Silaturahim Kebangsaan di UGM Malam Ini

Kegiatan yang digagas sekelompok mahasiswa UGM dari kalangan Islam moderat ini bertujuan untuk menjunjung nilai-nilai Islam sebagai agama (ad-din) yang rahmatan lil ‘alamin. Acara yang pertama kali diadakan di Masjid Kampus UGM ini terbuka untuk umum dan gratis.

“Kegiatan ini juga berusaha mengembalikan wacana UGM sebagai Kampus Pancasila dan menjadi titik awal untuk mendakwahkan Islam yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang heterogen” kata Mukhanif Yasin Yusuf, salah satu penggagas.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini rencananya menghadirkan Alissa Wahid, putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Rektor UGM Prof Dr Pratikno, M.Soc. Di samping mengundang pula KH Muwafiq, ulama dan budayawan; serta Ahmad Hadidul Fahmi Lc, alumni tafsir dan ulumul qur’an Universitas Al Azhar, eks Ketua Lakpesdam PCINU Mesir. (Mukhanif YY/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Tiang Masjid Al-Mukarromah Selalu Keluarkan Minyak

Rantau, Belajar Muhammadiyah. Kalimantan Selatan dikenal sebagai daerah yang banyak menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam, salah satunya Masjid Al-Mukarromah di Desa Banua Halat Kiri, Kabupaten Tapin.



Tiang Masjid Al-Mukarromah Selalu Keluarkan Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiang Masjid Al-Mukarromah Selalu Keluarkan Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiang Masjid Al-Mukarromah Selalu Keluarkan Minyak

Masjid itu selalu diminati wisatawan karena salah satu tiang utama penopang masjid yang berarsitektur Banjar itu terus mengeluarkan minyak. Meski masjid itu telah berusia tua, minyak di tiang itu tidak pernah kering.

Wisatawan yang takjub dengan fenomena alam itu, salah satunya adalah rombongan dari PKK RT 19, Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin. Sebagian besar dari pengunjung itu mengaku takjub dengan kebesaran Allah SWT itu.

Belajar Muhammadiyah

Setelah melaksanakan shalat sunat masjid, rombongan itu dengan seksama memerhatikan secara detail sudut bangunan masjid bersejarah yang konon dibangun kembali untuk kedua kalinya pada 1862 itu. Mereka berebut mengelus sebuah tiang berminyak dengan kapas, tisu, hingga lembaran uang kertas. Berbagai niat dan permintaan pun mereka utarakan saat mengusap tiang itu.

Belajar Muhammadiyah

"Itu adalah bukti kebesaran Allah SWT. Sebagai makhluk yang lemah, kita hanya bisa memohon kepada-Nya," kata seorang ibu yang berharap agar dengan minyak itu dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya.

Untuk menuju masjid itu, pengunjung dapat menggunakan transportasi darat dari Kota Banjarmasin dengan waktu tempuh sekitar tiga jam atau berjarak kurang lebih 120 kilometer.

Pengelola Masjid Al-Mukarromah, Yahya (51), mengatakan, masjid itu memiliki sejarah panjang. Tidak diketahui secara jelas kapan pertama kali dibangun oleh Datu Ujung dari Sumatera itu. Yang jelas, mesjid itu dibangun untuk kedua kalinya pada 1862 setelah sempat dibakar Belanda.

"Pada saat terbakar, hampir seluruh material bangunan masjid yang berada di tepian sungai itu ludes. Yang tersisa hanya satu tiang utama yang kini terus mengeluarkan minyak itu," katanya.

Pada 2008 masjid itu pernah mendapatkan penghargaan Muri karena tercatat sebagai penyelenggara kegiatan Baayun Maulid atau tradisi mengayun anak saat bulan Maulid. Jumlah peserta saat itu mencapai 1.544 orang yang diayun di berbagai lokasi di sekitar masjid.

Yahya menjadi pengelola sejak 1988, menggantikan ayahnya, Mawi, yang meninggal pada usia 70 tahun, dan telah bertindak sebagai pengelola selama 17 tahun.        

Keberadaan masjid tua yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi itu kini banyak menarik perhatian kaum Muslim dari berbagai daerah, terutama pada bulan Maulid. Pengunjungnya pun dari berbagai daerah, seperti Pulau Jawa, atau sejumlah kota lain di Kalimantan, seperti Samarinda dan Palangkaraya. (ant/mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan

Majalengka, Belajar Muhammadiyah. Saat ini dunia kampus merupakan medan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan malah menjadi kawah candradimuka lahirnya kader-kader radikal dan anti-NKRI.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar dalam Seminar Keagamaan bertema Modernitas dalam Presfektif Islam dalam Menciptakan Keutuhan NKRI, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univeritas Majalenga, di Auditorium Universitas Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (23/12).

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan

Didaulat sebagai narasumber, Kang Deni sapaan akrabnya, menjelaskan betapa pentingnya mencintai tanah air sebagaimana yang dikumandangankan oleh founding father bangsa ini khususnya para kiai NU.

"Hakikat cinta tanah air itu adalah cinta pada diri kita sendiri. Karena adanya kita ini yang berasal dari tanah dan air yang ada di NKRI ini. Jadi salah besar mereka yang akan merusak tanah airnya sendiri, padahal mereka dilahirkan di negeri ini," jelasnya.

Ia menambahkan NKRI sudah bersyariat Islam dan tidak harus dipaksakan untuk memformalkan dalam embel-embel NKRI Bersyariat Islam. Sejak berdirinya semua unsur pembentuk NKRI itu sudah berdasarkan syariat Islam, mulai dasar negara, sistem negara maupun perundang-undangan yang ada.

"Mana coba di negeri tercinta ini yang tidak berlandaskan syariat Islam. Jadi semuanya sudah dipikirkan matang-matang oleh pendahulu kita bahwa subtansi syariat Islam sudah ada semua di NKRI ini. Makanya para pemuda khususnya mahasiswa ini jangan terjebak pada retorika baru yang tidak berdasar dan tidak jelas. Nanti yang rugi kita sendiri lho," kata pria yang yang belum lama ini mengundurkan diri dari posisi Ketua KPU Purwakarta demi mengurusi GP Ansor Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

Terkait dengan modernisasi, Deni menjelaskan modern harus dimaknai bukan sekedar simbol-simbol baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Melainkan modern itu harus dimaknai pada konsep diri untuk memandang jauh ke depan. Dengan konsep diri yang sudah terbangun tersebut, maka kita akan terus berfikit dan berusaha bagaimana menuju kehidupan yang lebih baik dan menjadi pemain bukan sekadar penonton.

"Untuk menjadi orang modern itu gampang kok. Manakala kita sudah bisa melakukan semua hal secara efektif dan efisien maka kita dipastikan jadi orang modern dan memainkan modernisasi saat ini," imbuhnya.

Ditempat yang sama, Presiden Mahasiswa BEM (Presma BEM) Universitas Majalengka, Encu Shobari mengatakan acara yang diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan rutinan tahunan yang digagas oleh para pengurus BEM sebagai bagian dari pengamalan ide dan kreatifvitas mahasiswa.

"Seminar ini akhir dari rangkaian kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bejalan selama satu minggu ini," ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan sengaja mengadakan seminar keagamaan dengan mengangkat tema tersebut sebagai upaya dirinya dan organisasinya untuk memberikan kesadaran dan kekuatan bagi keluarga besar Unma dalam memahami dan mengaplikasikan pentingnya menjaga keutuhan NKRI walaupun dengan latar belakang yang berbeda baik dalam segi pandangan agama, sosial, ekonomi maupun budayanya.

"Dengan tema ini diharapkan kita semua paham dan mengamalkan betapa pentingnya menjaga NKRI walapun perspektif agama berbeda-beda dan dengan gaya modernitas yang berbeda. Semoga semua menjadi terbuka dan terjalin satu konsep untuh tentang kebangsaan di kampus tercinta ini," tambah pria yang juga aktivis PMII Majalengka. (Tata Irawan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Lomba Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati

Cilegon, Belajar Muhammadiyah - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyati mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk waspada atas propaganda gerakan kelompok-kelompok radikal anti-Pancasila. Menurutnya, sekarang ini banyak kelompok yang memaksakan pengaruhnya di tengah masyarakat untuk menolak dasar negara Indonesia melalui berbagai media.

Imbauan ini disampaikan Abuya Muhtadi dalam seminar kebangsaan yang diinisiasi PMII dan PCNU Cilegon di aula DPRD Kota Cilegon, Senin (31/7).

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati

Abuya Muhtadi mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk tidak ikut-ikutan organisasi dengan paham luar negeri dan ideologi imporan seperti HTI yang menentang Pancasila.

Belajar Muhammadiyah

Ia berpesan kepada semua yang hadir untuk tetap setia dan turut menjaga NKRI dan Pancasila. Menurutnya, NKRI bukan harga mati tetapi harga hidup untuk dunia dan akhirat.

Abuya juga menyanyikan lagu Garuda Pancasila bersama para peserta seminar yang hadir.

Tampak ratusan peserta dari perwakilan pimpinan pondok pesantren, wakil walikota, Ketua DPRD, Kasdim Kodim 0623/Cilegon, dan Rais Syuriyah PCINU Federasi Rusia juga Dosen di kampus FT. Untirta Cilegon, Agus Pramono.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan deklarasi “Kami Indonesia, Kami Pancasila,” dan dibubuhi tanda tangan Abuya beserta unsur pimpinan daerah, NU, PMII dan unsur pimpinan pondok pesantren di sekitar Kota Cilegon.

Selain diskusi, mereka juga menggelar istighotsah untuk keselamatan bangsa Indonesia. (Andra Imam Putra/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Pesantren, Cerita Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Wina, Belajar Muhammadiyah

Afghanistan berisiko menjadi negara produsen narkoba jika tidak ada dukungan internasional untuk membantu penciptaan lapangan kerja di negara tersebut, demikian kepala Kantor PBB untuk Obat-Obat Terlarang dan Kriminal (UNODC) Yury Fedotov pada Rabu.

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Fedotov menggambarkan masa depan suram persoalan narkotika di Afghanistan satu tahun sebelum penarikan pasukan NATO pada tahun depan, lapor Reuters dan dikutip Antaranews.

Dia mengatakan bahwa kehadiran pasukan NATO telah menciptakan sepertiga total investasi dan lapangan kerja di Afghanistan. Dengan demikian Fedotov berpendapat bahwa pemerintah setempat harus segera bertindak sebelum pasukan NATO mengakhiri tugasnya.

Belajar Muhammadiyah

Penelitian tahunan UNODC yang akan dilakukan pada akhir bulan ini akan menunjukkan seberapa banyak peningkatan pembibitan dan produksi opium dibandingkan pada tahun 2012, demikian Fedotov kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Belajar Muhammadiyah

Afghanistan saat ini merupakan produsen nomor satu opium (bahan utama untuk membuat heroin) di dunia. Dari situlah Taliban mendapatkan pendanaan untuk gerakan gerilyanya.

"Keadaan saat ini semakin memburuk dan ini sangat mengecewakan," kata Fedotov.

Dia mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan sebuah kemunduran yang harus disikapi sebagai tantangan.

Pemerintah Afghanistan akan membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menghentikan penanaman opium saat sebagian besar tentara asing pulang ke negaranya masing-masing.

Obat-obatan terlarang telah menjadi sumber pendanaan utama pemberontakan dan mengancam stabilitas keamanan kawasan. Selain itu, angka kecanduan di Afghanistan merupakan yang terbesar di dunia.

"Afghanistan juga merupakan lahan yang subur untuk korupsi dan berkembangnya organisasi kriminal transnasional," kata dia.

Setelah hampir 12 tahun pasukan NATO menginvasi Afghanistan, masih banyak wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Taliban dan pasukan lokal masih bergantung dengan dukungan unit udara luar negeri, terutama di wilayah terpencil.

Fedotov mengatakan bahwa memang terdapat niat politik di kalangan pejabat Afghanistan untuk mengakhiri persoalan narkoba. Namun upaya penangkapan dan penyitaan selama ini masih gagal membendung naiknya produksi opium.

Menurut Fedotov, petani-petani Afghanistan membutuhkan infrastruktur yang lebih baik dan pasar-pasar baru untuk menjual produk-produk legal. Lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri dibutuhkan untuk mengubah ekonomi yang bergantung pada produksi narkoba.

"Kita masih belum bisa membangun model ekonomi alternatif di Afghanistan," kata dia. 

Pada akhir tahun lalu, Afghanistan mensuplai 75 persen pasar heroin dunia.

“Diasumsikan, tahun ini akan mencapai 90 persen, kata Jean-Luc Lemahieu, pejabat tinggi PBB untuk kontra-narkotika di Afghanistan seperti dilaporkan servingdrope.

Produksi opium semakin menguntungkan ketika harganya naik sejak 2010 ketika terjadi pemberantasan penanaman opium. Petani dapat memperoleh $203 setara 2.250.000 rupiah per kilo ketika memanen opium, dibandingkan hanya $43 sen (Rp4800) per kilo gandung atau $1.25 (Rp14.000) beras.

Secara keseluruhan, produksi opium bisa mencapai angka seperti tahun 2008, ketika 388,000 hektar lahan ditanami opium. (mukafi niam)  

Foto: servingdrope

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Tokoh, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Habib Luthfy Bantu Polisi Atur Arus Lalu Lintas di Pantura

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Sosok Rais Am Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfy bin Yahya adalah figur yang tidak bisa diam. Di tengah kesibukan menerima ratusan tamu khususnya bulan puasa, ia masih menyempatkan keliling kota Pekalongan untuk melihat kondisi kota khususnya situasi arus mudik menjelang akhir Ramadhan.

Selain melihat, Habib Luthfy terjun langsung membantu polisi yang sedang bertugas untuk mengatur arus lalu lintas di depan Masjid Syuhada’ Pekalongan, Selasa (14/7) malam. Ia mengatur lalu lintas dengan pakaian yang jauh dari kesannya seorang pemuka agama.

Habib Luthfy Bantu Polisi Atur Arus Lalu Lintas di Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Bantu Polisi Atur Arus Lalu Lintas di Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Bantu Polisi Atur Arus Lalu Lintas di Pantura

"Polisi dan relawan yang sedang bertugas mengatur arus mudik merupakan langkah mulia untuk mengatur arus lalu lintas, sehingga mereka perlu kita support," Habib Luthfy.

Belajar Muhammadiyah

Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota ? Pekalongan H Zimam Hanifun Nusuk (Gus Nif) menilai apa yang dilakukan Habib Luthfy merupakan bentuk kepeduliannya kepada masyarakat pemudik yang pulang kampung.

"Apa yang telah dilakukan Habib Luthfy merupakan sikap perhatiannya kepada pemudik dan kepolisian dan relawan yang sedang menjalankan tugas mulia," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Nif, ia sangat peduli terhadap keselamatan pemudik. Ia hadir secara pribadi menyapa polisi yang sedang bertugas, bahkan ia tak segan ikut turun ke jalan bantu arus lalin yang sedang padat. Tahun lalu ia sampai ikut mendorong bis yang mogok di depan monumen Pekalongan agar tidak terjadi kemacetan parah.

Gus Nif berharap, sikap keteladanan yang riil seperti dicontohkan Habib Luthfy dapat ditiru oleh masyarakat baik dalam kondisi sempit maupun lapang.

"Mengatur arus lalu lintas bersama polisi sesungguhnya perbuatan yang sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun, akan tetapi jarang bisa dilakukan oleh masyarakat," ujar Gus Nif.

Sementara GP Ansor dan Banser Kota Pekalongan membuka 4 titik Posko, di depan Masjid As Syuhada, depan Gedung Kanzus Sholawat, depan Gedung NU lama dan di Masjid Al-Fairuz. Mereka bekerja sama dengan Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU). (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Orang tua memiliki peran besar dalam membuka jalan bagi kesuksesan anak di masa depan. Mereka dapat mendukung ke mana kecenderungan talenta anak mereka. Orang tua karenanya tidak boleh memaksakan kehendaknya dengan mengarahkan anak mereka pada suatu bidang tertentu.

Demikian disampaikan James Riyadi dalam seminar perekonomian di tengah rangkaian Rakernas II PBNU di Jakarta, Sabtu (19/11) siang.

Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya

“Setiap orang memiliki 100 lebih talenta. Tetapi dari semua talenta itu anak memunyai talenta yang khas,” kata James.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, orang tua harus mendukung kekhasan talenta anak. Pengarahan dan pembentukan ini akan sangat menentukan hasil dari kemajuan anak ke depan. Namun, sebelum sampai ke sana, orang tua harus cermat melihat talenta yang sangat khas dari anak mereka.

Belajar Muhammadiyah

Ia menganjurkan kepada peserta Rakernas II PBNU untuk mendorong para pelajar dan kader-kader muda NU untuk mengembangkan talentanya masing-masing. Menurutnya, kekhasan ini yang harus didorong.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau anak punya kecenderungan jadi dokter, jangan didorong jadi pengusaha. Kalau anak kita punya kecenderungan jadi guru, jangan diminta untuk jadi politikus. Ini keliru besar,” kata James Riyadi di hadapan sedikitnya 100 peserta Rakernas II PBNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur

Jakarta, Belajar Muhammadiyah 



Budayawan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Sastro Adi mengatakan, hanya orang yang bisa keluar dari gaya berpikir mainstream itulah yang bisa main jazz. Menurut dia, jazz itu tidak teratur dalam keteraturan. Jazz membebaskan seluas-luasnya untuk berekspres, bergerak, tapi dalam satu koridor, itulah yang disebut harmoni.

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur

Menurut dia, NU sering dipandang orang sebagai organisasi yang tidak teratur, tidak modern. NU selalu diibaratkan sebagai lambang kaum tradisional yang tidak intelektual. Itu salah besar. NU ya memang gayanya begitu. Siapa yang yang meragukan intelektualnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Siapa yang meragukan kealiman KH Maimoen Zubair? Dan kiai-kiai lain. 

“Tapi kalau mau jujur, siapa yang terdepan dalam menjaga keragaman? NU! NU bukan bergerak secara ilmiah, tapi secara alamiah,” jelasnya selepas tampil di Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).  .  

Orang banyak menyebutkan jazz musik kaya improvisasi. Saat improv itulah pemain memiliki kebebasan mengeksplorasi kemampuannya, keunikannya, cara bermainnya sendiri-sendiri. Bahkan tidak jarang, di tengah-tengah permainan, mereka menemukan satu bentuk gaya yang sama, itu bisa ritme, yang disebut unison. 

Belajar Muhammadiyah

“Namun, mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka harus menjaga tempo, dinamika, harmonisasi,” lanjutnya. 

Tokoh-tokoh NU seperti H. Mahbub Djunaidi dan KH Abdurrahman Wahid misalnya, adalah pemain-pemain jazz NU. Mereka punya gaya dan karakternya sendiri dalam bergerak. 

“Tapi tujuan dan cita-citanya untuk lebih baik. Kritis pada keadaan. Dengan sadar mereka tetap dalam fikrah (pemikiran) dan harakah (pergerakan) NU yang Aswaja dan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” tegasnya. 

Itu bisa terjadi karena jiwa seorang jazzer itu adalah fasilitator, saling memberikan apresiasi masing-masing. Berbagai macam cara masing-dengan gaya masing, pergerakannya masing, tapi mereka tetap ketemu dalam satu koridor, sesuai dengan kata santri, harus ngemong, rendah hati, tawadhu, tapi dengan tetap mengoptimalkan potensi lokalitas, dan asas barokah dan manfaat. 

Dari sisi teknik, menariknya di dalam jazz ada yang dikenal dengan james session. Kendati dilakukan tanpa latihan, kemudian mereka langsung ketemu di panggung, mereka bisa berkolaborasi.

Belajar Muhammadiyah

“Di NU, kiai satu dengna kiai lainnya jarang ketemu, tapi karena punya kesamaan ghirahnya, bisa ketemu dalam satu titik,” pungka pemusik yang terampil pencak silat itu. 

Sastro Adi turut bermain jazz yang menggawangi keybord yang berkolaborasi dengan Komunitas Jazz Kemayoran yang digawangi Beben Jazz. Dua anak H. Mahbub Djunaidi, Isfandiari dan Yuri Mahatma juga tampil.

Pada acara "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" itu hadir Menteri Pemuda dan Olahraga H. Imam Nahrawi. Ia membacakan Manakib H. Mahbub Djunaidi. Hadir pula Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini, Waketum PBNU yang juga Rektor UNUSIA KH Maksum Mahfudz, Ketua PBNU Sulthan Fatoni, dosen-dosen UNUSIA dan para aktivis PMII. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Pesantren, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

Sidoarjo, Belajar Muhammadiyah. Hujan deras yang mengguyur kawasan Sidoarjo, Jawa Timur, sejak Ahad (9/10) malam membuat sejumlah wilayah di Sidoarjo banjir. Akibatnya, banyak sejumlah sekolah yang harus meliburkan siswanya lantaran kondisi sekolah tersebut tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

Seperti yang terjadi di salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs ? NU) Wali Songo Sidoarjo, Jalan Raden Patah Sidoarjo. Pihak sekolah sengaja meliburkan siswanya karena akses jalan menuju sekolah banjir. Bahkan, kondisi air di dalam sekolah mencapai ketinggian sekitar 50 centimeter.

Salah satu guru MTs NU Wali Songo Sidoarjo, M Sobirin menyatakan, pihak sekolah sengaja meliburkan siswa karena kondisi sekolah saat ini sedang terendam banjir. Ia masih belum mengetahui sampai kapan sekolah akan diliburkan.

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

"Kalau nanti sore tidak hujan lagi dan airnya sudah surut, kemungkinan besok sudah masuk seperti biasa. Namun, kalau nanti hujan ya tidak tahu lagi, Mas," kata Sobirin kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (10/10).

Ia menjelaskan, selain di Jalan Raden Patah, akses jalan menuju sekolah (MTs NU Wali Songo) juga banjir di antaranya Jalan Malik Ibrahim, Jalan Pasar Ikan Lama, Jalan Kartini, Jalan Jasem, dan sekitarnya sehingga pihak sekolah meliburkan siswanya karena akses jalan terendam banjir.

Sobirin berharap, pemerintah mau memperhatikan saluran air atau drainase yang ada di sekitar sekolah. Pasalnya, saluran air di sekitar sekolah dimungkinkan dangkal lantaran tidak pernah dikeruk. Padahal, saluran itu sudah ada beberapa tahun yang lalu yang seharusnya dibersihkan salurannya.

Belajar Muhammadiyah

"Semoga Pemkab Sidoarjo memberikan bantuan agar sekolah kami bisa ditinggikan bangunannya. Sehingga ketika hujan lebat tidak banjir lagi," harap Sobirin.

Perlu diketahui bahwa banjir saat ini juga melanda kawasan pasar Sono, Sidokepung, Sukorejo, Pagerwojo Kecamatan Buruduran, Sidoarjo kota, Kelurahan Sidokare dan beberapa kawasan lainnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Hadits, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Jumat, 03 November 2017

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Selama dua hari, Rabu-Kamis (8-9/2), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber di pesantren asuhan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin ini adalah pengurus harian LBM PBNU seperti KH Abdul Moqhsith Ghozali, KH Solahuddin Al-Ayubi, KH Mahbub Ma’afi, dan KH Sarmidi Husna. Selain pria, tampak juga peserta pendidikan dari kalangan wanita.

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)
Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail diadakan mengingat kondisi SDM bahtsul masail yang sudah mulai berkurang. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

“Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU atau pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal.”

Belajar Muhammadiyah

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail.

“Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU,” katanya. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pesantren Belajar Muhammadiyah

Selasa, 31 Oktober 2017

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Solo, Belajar Muhammadiyah. Di kalangan masyarakat sekitar pabrik gula (PG) Tasikmadu dikenal tradisi temu temanten tebu atau perayaan buka giling. Tradisi tersebut mungkin juga berlaku hampir di seluruh pabrik gula yang ada di Nusantara. Temu temanten tebu ini meupakan perlambang syukur kepada Allah SWT.

“Acara ini juga dimaknai sebagai harapan, agar di masa penggilingan ini, baik pabrik maupun petani mendapatkan hasil produksi tebu yang melimpah,“ tutur Adinistratur PG Tasikmadu, Agus Hananto.

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Agus menjelaskan, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda pada 1871 silam. Pada masanya, tradisi pesta dalam ritual tebu temanten dianggap sebagai pencapaian kejayaan ekonomi. Sebuah perlambang akan pesta besar yang digelar hanya menjelang masa menjelang penggilingan tebu.

Belajar Muhammadiyah

“Dulu, tradisi ini digelar Belanda untuk membuat penduduk lokal tertarik. Mereka akan giat bekerja dalam memproduksi gula,” lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Pada acara Selamatan Giling, Jumat (19/4) kemarin, diawali dengan pemberangkatan tebu temanten, yakni Bagus Madu Pastika dan Roro Palastri, dari rumah dinas kepala tanaman menuju Besaran. Selanjutnya tebu temanten diiring oleh puluhan karyawan dan ribuan masyarakart setempat menuju stasiun gilingan. Acara dinyatakan selesai setelah pasangan tebu dimasukkan bersama-sama dengan tebu pengiring di stasiun gilingan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Pesantren, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 25 Oktober 2017

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

Mojokerto, Belajar Muhammadiyah?



Buku Khazanah Aswaja dibedah di kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Buku itu dibedah tiga narasumber yaitu Ustadz Fathul Qadir dan Ustadz Yusuf Suharto. Keduanya adalah tim penulis buku itu. Sementara sebagai pembedah utama dan pembanding, adalah Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Dr. Rudolf. Acara ini dibuka oleh Dr. Sukadir, dekanat yang mewakili Rektor.

?

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

Di hadapan peserta, Yusuf Suharto yang tampil pertama, menyatakan, buku Khazanah Aswaja terdiri dari enam bab itu bisa menjadi buku pegangan para mahasiwa di perguruan tinggi NU maupun kampus berbasis pesantren.

"Buku ini terdiri dari enam bab dan ini seperti kebutuhan akan mata kuliah Aswaja yang di kampus NU dan juga di kampus IKHAC diterapkan selama enam semester," ujarnya diamini para narasumber pada bedah buku yang berlangsung pada Ahad (22/1).

Belajar Muhammadiyah

Di buku ini, lanjutnya, ada bab tentang aliran dan kelompok di luar NU. Aliran klasik bukan bagian dari Aswaja yang disebut di buku ini antara lain Mutazilah, Syiah, dan Khawarij. Sementara itu ada kelompok-kelompok umat Islam yang juga dibahas di buku ini. Kelompok di luar NU ini ada yang Aswaja dan ada yang tidak.

Sementara Ustadz Fathul Qodir mengatakan, Aswaja itu salah satu cirinya adalah tidak mudah mengkafirkan dan tidak mudah membidahkan sesama umat Islam.?

Belajar Muhammadiyah

“Karena untuk mengkategorikan itu harus pakai kaidah-kaidah, tidak bisa serampangan," ungkap tim penulis yang kerap muncul di TV 9.

Ustadz Rudolf mengapresiasi buku ini. "Buku ini enak dibaca. Ini saya rekomendasikan agar dibaca. Kalau bisa, jumlah oplah cetaknya diperbanyak sehingga semakin banyak orang yang bisa membacanya. Namun saya memberi masukan, agar tim 8 ini ditambah satu lagi menjadi tim 9," ujar pria yang mengaku sebagai Aswaja dari Jember ini.

Di akhir acara, Ustadz Fathul Qodir menyerukan kepada para peserta bedah buku untuk mantap dengan NU, sembari dikutipnya kata pengantar dari Rais Aam PBNU KH Maruf Amin di buku ini.

"Hadirnya buku Khazanah Aswaja yang mengulas seluruh aspek Aswaja, sejarah, akidah, fikih, tasawuf, dan implementasinyadi lingkungan NU, secara konkret membuktikan konsistensi Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam mengemban amanah ilmiah untuk menghadapi tantangan kekinian. Harapannya, kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substansif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi," demikian kutipan sambutan Rais Aam. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 September 2017

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, pun tak mau tinggal diam dengan gerakan kelompok Islam garis keras yang marak belakangan ini. Mereka menggelar workshop untuk memenuhi kelangkaan dai sekaligus menandingi gerakan Islam radikal yang semakin meresahkan di Kota Batik itu.

Dilaporkan Kontributor Belajar Muhammadiyahdi Pekalongan Abdul Muiz, acara yang diselenggarakan di Gedung Kanzus Sholawat, Ahad (25/3) itu, diikuti 200 peserta yang merupakan para khatib, dai dan Pengurus Ranting NU se-Kota Pekalongan. Mereka membahas berbagai persoalan yang selama ini menjadi kendala para khatib dan dai untuk menyebarkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) ala NU.

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras

Seperti diketahui, tantangan yang dihadapi NU semakin berat, berbagai persoalan terus bermunculan di lingkungan NU. Baru-baru ini, mushola dan masjid yang didirikan nahdliyin di Banyuwangi, Jawa Timur, berpindah tangan ke non-NU. Belum lagi banyaknya kader-kader potensial NU berpindah haluan. Bahkan, ajaran Aswaja pun mulai ‘diganggu’ keberadaannya.

Melalui workshop bertajuk “Strategi Dakwah di Era Global” itu, para peserta diharapkan mampu memetakan masalah dan dapat menerapkannya dalam tataran praktik. Sehingga para mubalig NU tidak lagi terjebak dalam kejumudan sistem. Akan tetapi mampu secara kreatif meramu bahan untuk disampaikan kepada masyarakat sesuai konteksnya.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, Drs H Marzuqi berharap, para peserta tidak lagi terjebak pada pakem dan tata aturan yang selama ini berlaku di lingkungan NU. Pasca-workshop tersebut, katanya, peserta harus dapat membuat terobosan-terobosan yang bermanfaat bagi warga NU.

Berbagai persoalan yang muncul, menurut Marzuqi, tidak bisa dilepaskan dari peran para mubalig dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Jika diperlukan, NU harus mampu menerobos teknologi media informasi. “Misalnya, NU memiliki radio dakwah, televisi dakwah. Masa NU sebesar ini, media cetak dan elektronik saja tidak punya, jika ada pun tidak rata penyebarannya,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain Marzuki, hadir juga pada acara hasil kerja sama PC LDNU dengan PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Pekalongan itu, dua Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU Jateng Prof Dr Muhajirin Tohir dan dan Saifullah M.Ag. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock