Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Jakarata, Belajar Muhammadiyah

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menerima vonis  dua tahun penjara dari Majelis Hakim setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penodaan agama. Usai pembacaanputusan Ahok bersama tim penasihat hukum bersepakat untuk mengajukan banding.

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Terkait proses hukum tersebut, Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas berkomentar, sebagai negara hukum, siapa pun harus tunduk dan patuh terhadap hukum. Hal ini sesuai dengan prinsip supremasi hukum. Untuk itu, apa pun putusan hakim, katanya, harus dihormati.

“Sebaliknya, seluruh pihak juga harus memberikan penghormatan yang sama kepada Pak Ahok atas upaya hukum banding yang dilakukan dalam mengekspresikan keberatannya terhadap putusan pengadilan,” katanya dalam siaran pers, Selasa (9/5).

Belajar Muhammadiyah

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tak mengeluarkan hujatan atau cibiran terhadap warga negara yang menggunakan hak hukumnya atas suatu proses peradilan. Karena hal itu merupakan pengejawentahan terhadap prinsip kesetaraan di mata hukum sebagaimana dijamin konstitusi.

“Di lain pihak, biarkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta selaku judex facti menjalankan fungsi judiciary secara bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary) dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut di tingkat banding nantinya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, kesanggupan menghargai rangkaian proses hukum yang berjalan adalah bagian dari ketaatan terhadap hukum itu sendiri. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Lomba, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

Ayat Kebohongan

Sebagai dai kota, Kiai Durakman beruntung dapat kesempatan ceramah di sejumlah kawasan elite, mulai dari kompleks perumahan anggota DPR sampai kalangan pengusaha.

Ramadhan lalu giliran ia mengisi pengajian tiap Selasa di sekretariat para petinggi partai. Kepada jamaahnya itu, Kiai Durakman mengingatkan, tema pengajian pada pertemuan selanjutnya.

Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Kebohongan

"Selasa depan kita akan membahas tentang kebohongan. Untuk memudahkan pemahaman, saya imbau seluruh jamaah membaca surat Al-Maidah ayat 121 berikut terjemahannya," pintanya.

Belajar Muhammadiyah

Para politisi itu pun serentak menyatakan siap.

Ketika saat pertemuan pekan berikutnya tiba, Kiai Durakman langsung bertanya, "Siapakah di antara bapak/ibu yang sudah membaca al-Maidah ayat 121?"

Belajar Muhammadiyah

Semua hadirin angkat tangan.

Kiai Durakman meringis. "Luar biasa. Padahal surat al-Maidah cuma berisi 120 ayat."

"Baiklah..." Lanjut Kiai Durrakman, "Saya akan mulai pengajian dengan menjelaskan azab-azab bagi orang yang gemar berbohong." (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Sunnah, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

Yun Chuan, Belajar Muhammadiyah. Selama kunjungan silaturahim ke Tiongkok, para utusan tokoh agama seolah sedang berada di Indonesia. Amaliyah harian usai shalat dan sejumlah tradisi masyarakat muslim di sana terdapat banyak kesamaan dengan mayoritas masyarakat di Indonesia.

Dari sisi kelengkapan bangunan yang ada di masjid misalnya, nyaris tidak ada perbedaan dengan di tanah air. "Di Tiongkok, sejumlah masjid juga memiliki mimbar dan tongkat seperti layaknya di Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (1/11). Mimbar digunakan untuk para khatib yang menyampaikan materi pesan ketika shalat Jumat. Sedangkan tongkat digunakan untuk bilal yang kemudian diserahkan kepada khatib ketika menyampaikan khatbah.

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

"Pada bangunan mihrab, juga terdapat tasbih yang digunakan untuk memastikan jumlah bacaan ketika wirid," tandas Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini.

Belajar Muhammadiyah

Hal lain yang menggembirakan saat kunjungan kerjasama antara sejumlah ormas keagamaan Jawa Timur dengan komunitas muslim Tiongkok ini adalah jumlah penduduk muslim yang lumayan besar. "Ketika rombongan bertemu dengan imam Masjid Achung di kawasan Yun Chuan, diketahui bahwa jumlah penduduk muslim di kawasan ini mencapai 36 persen dari 600 ribu jiwa yang ada," ungkap Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Tidak berhenti sampai di situ. "Malah dari tokoh agama setempat, kami mendapat keterangan bahwa ada sekitar 400 masjid dan juga sejumlah pesantren," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Demikina juga masyarakat muslim setempat juga gemar berhimpun dan mendirikan organisasi kegamaan atau jamiyah. "Keberadaan jamiyah islamiyah ini juga berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keagamaan masyarakat," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Dari penjelasan Imam Masjid Achung pula yakni Kiai Syuaib, kerab diselenggarakan pengajian dan lomba pembacaan tilayah al-Quran di berbagai tingkatan, termasuk antar pesantren. "Semaraknya kegiatan keagamaan ini juga tidak lepas dari keberadaan walikota Yun Chuan yang juga seorang muslimah," terangnya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya, juga menandaskan bahwa amaliyah warga sekitar layaknya kaum nahdliyin di tanah air. "Secara akidah, penduduk kebanyakan mengikuti Imam Maturidi, dan fikihnya lebih dominan Imam Hanafi," katanya.

Kerinduan suasana ibadah seperti saat di Indonesia sedikit terobati lantaran dilantunkannya dzikir bakda shalat rawatib dengan suara keras. "Demikian pula keberadaan mimbar dan tongkat menjadi pengingat suasana dan nuansa keagamaan layaknya di tanjah air," pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut, rombongan PWNU Jatim bergabung dengan 20 pemuka agama Islam dari propinsi ini. Mereka melakukan kunjungan ke sejumlah destinasi yang berbuansa agama. Rombongan adalah perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI Jatim.

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Oktober hingga 4 November ini bertujuan membangun silaturahim antara para pemuka agama Islam.? Rombongan dari PWNU Jatim terdiri dari KH Anwar Manshur (Pjs Rais Syuriah), H Ahmad Shiddiq (Wakil Ketua), Prof Ach Muzakki (Sekretaris), H Misbahul Munir dan H Husnul Yaqin selaku Wakil Sekretaris. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Foto: KH Abdurrahman Navis di salah satu masjid di Tiongkok.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus menggelar orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) bagi mahasiswa baru di Kampus Jl Lambao Karangsambung Bae Kudus Jawa Tengah, Senin-Jum’at (26-30/8). 

Kegiatan dibuka Direktur Akbid Darningsih S.Sit. MH ini dengan jumlah peserta sebanyak 25 mahasiswa baru.

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Ketua panitia Rika Rahmawati mengatakan ospek bertujuan mengenalkan kegiatan program studi pembelajaran sekaligus melatih mental, fisik dan memberikan orientasi dasar pendidikan untuk mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui ospek ini, peserta memiliki kesiapan dan menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif dan mempunyai semangat yang besar dalam belajar di kampus Akbid Muslimat NU,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di sela-sela kegiatan, Selasa (27/8).

Belajar Muhammadiyah

Rika menambahkan mahasiswa baru juga mendapat bekal pengetahuan dan wawasan ke-NU-an dan penanaman aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). 

“Akbid ini menjadi kampus NU sehingga penanaman dan penguatan Aswaja menjadi sangat perlu dikenalkan kepada mahasiswa di sini,” imbuh mahasiswa semester tiga Akbid ini.

Direktur Akbid Darningsih mengajak mahasiswa baru untuk selalu memiliki semangat dan tidak memiliki keraguan belajar kebidanan. Hal ini dikarenakan bidan merupakan profesi yang sangat mulia yang menolong antara sesama.

“Masuk di Akbid harus semangat belajar meraih cita-cita masa depan sehingga kelak menjadi bidan yang bermanfaat dan membantu sesama,” tandasnya saat membuka kegiatan ospek.

Ia mengharapkan mahasiswa baru ini selalu terampil, siap dan kuat belajar mulai awal hingga akhir. 

“Kami berharap semua peserta menjadi mahasiswa yang terampil dan cekatan serta mempunyai kemampuan bekal pengetahuan yang cukup,” tandasnya.

Kepada Belajar Muhammadiyah, dia menjelaskan 25 peserta ospek ini merupakan pilihan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun akademik 2013/2014. 

“Selama ini, Akbid Muslimat NU membatasi quota penerimaan mahasiswa baru hanya 25 saja karena sarana prasarananya masih terbatas,” ujar Darningsih.

Dalam kegiatan ospek ini, berbagai materi ospek diantaranya pokok pendidikan akbid, tri darma perguruan tinggi, leadership dan keorganisasian, peran bidan dalam MDGS, ke-NU-an dan aswaja. Sementara narasumbernya, Ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan Bupati Kudus H Musthofa dijadwalkan turut menyampaikan materi.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Ubudiyah, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Riset yang dilakukan oleh Balitbang dan Diklat Kementerian Agama menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan baca-tulis Al-Quran antara siswa yang aktif di organisasi Rohani Islam (Rohis) dengan yang tidak aktif di Rohis pada alpha 0,03 di mana justru yang tidak aktif di Rohis kemampuannya lebih tinggi daripada yang aktif di Rohis. Mereka yang kurang aktif di Rohis juga kemampuannya lebih tinggi dari yang aktif di Rohis pada alpha 0,016.?

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis

Temuan tersebut merupakan sebagian dari hasil penelitian yang difokuskan pada penyusunan indeks Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Menengah (SMA) di Kabupaten Serang, Banten. Balitbang Diklat Kemenag menyusun Indeks Keberhasilan Pendidikan Agama bertujuan untuk mengetahui Indeks Keberhasilan Pendidikan Agama Islam (IKPAI) Kelas XII SMA Negeri di Kabupten Serang yang mencakup kemampuan membaca Al-Quran, perilaku, karakter, afeksi; dan pengaruh profil responden terhadap Indeks Keberhasilan PAI (kemampuan membaca Al-Quran, perilaku, karakter, dan afeksi).

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang menjadi subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik ? kelas XII SMA Negeri yang beragama Islam di wilayah Kabupaten Serang sebanyak 3023 peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan selama 7 bulan, mulai bulan Juni 2015 sampai Desember 2015.

Indeks Keberhasilan PAI (IKPAI) Kelas XII SMA Negeri se-Kabupaten Serang yang merupakan komposit dari ? indeks 4 variabel adalah 0,60. Variabel baca-tulis Al-Quran dengan indeks 0,68; perilaku 0,56; karakter 0,56; dan afeksi 0,60.?

Dilihat dari pengaruh profil responden terhadap Kemampuan Baca-Tulis Al-Quran, tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang sangat signifikan antara siswa dari jurusan IPA dan IPS pada alpha 0,00 di mana kemampuan siswa IPS relatif lebih tinggi dari siswa IPA.?

Belajar Muhammadiyah

Terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al Quran siswa yang signifikan berdasarkan perbedaan jenis pekerjaan orangtua masing-masing. Orangtua yang bertani anak-anaknya lebih mampu baca-tulis Al-Quran daripada anak-anak/siswa yang orangtuanya PNS/TNI/Polri (alpha 0,039). Orangtua yang bertani anak-anaknya lebih mampu baca-tulis Al-Quran daripada anak-anak/siswa yang orangtuanya Wiraswasta (alpha 0,087).

Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang berasal dari SMP dengan siswa yang berasal dari MTs. Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang berasal dari SD dengan siswa yang berasal dari MI.

Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang mengaji di Pesantren/Diniyah, dengan yang Privat, di TPQ, maupun yang hanya belajar agama Islam di SMAN. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Meme Islam, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Secara prinsip, negara harus berkomitmen untuk segera melunasi semua hutangnya. Postur APBN harus ditata sedemikian rupa agar pembangunan tetap berjalan, namun pada saat yang sama hutang juga terbayar.

Demikian dinyatakan Abdul Moqsith saat membacakan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada rapat pleno Muktamar Ke-33 NU dengan agenda pengesahan sidang-sidang komisi, di alun-alun Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8).

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

?

Untuk kepentingan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pada dasarnya yang wajib kita bayar adalah utang-utang pokok, bukan beban bunga. Oleh karena itu sah apabila Pemerintah RI menuntut pembebasan bunga dari negara-negara kreditor.

?

Belajar Muhammadiyah

Kedua, Pemerintah harus secara tegas mengontrol anggaran agar tidak bocor, dan menarik kembali uang negara yang telah? dijarah oleh para koruptor, baik dari kalangan pejabat atau pengusaha.

?

"Ketiga, pemerintah sedapat mungkin melakukan efisiensi dengan menggunakan barang dan jasa dalam negeri yang dibarengi dengan kebijakan pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment," ujar anggota Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah itu.

?

Belajar Muhammadiyah

Keempat, Pemerintah dianjurkan melakukan optimalisasi dana penerimaan pajak, cukai dan pembiayaan non utang dari keuntungan pengelolaan aset negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan dari saldo rekening Pemerintah dari penerimaan Rekening Dana Investasi (RDI), Rekening Pembangunan Daerah (RPD), Rekening Pembangunan Hutan (RPH), Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan rekening lainnya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman. (Mahbib Khoiron)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Dan Kiai pun Ditalqin

Kediri, Belajar Muhammadiyah. Para santri dan ribuan orang yang mengikuti pemakaman Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Imam Yahya Mahrus serentak menghentikan pembacaan surat Al-Ihlas “Qul huwallahu ahad…” ketika KH Abdul Aziz Mansyur berdiri memegang microphone, sebagai pertanda acara talqin akan segera dimulai, Ahad (15/1) siang. Kiai Aziz yang mewakili keluarga menanyakan kepada semua yang hadir, “Apakah semua yang hadir menyaksikan bahwa KH Imam Yahya Mahrus ini orang baik?”. Serentak semua menjawab, “Baik…!” Suara tangisan haru terdengar jelas dari balik kerumunan.

Talqin dilakukan setelah semua proses penguburan selesai, yang dimaksudkan untuk memberikan suport dan membimbing ahli kubur agar dapat menjawab pertanyaan malaikat kubur Munkar dan Nakir dengan baik. Tidak hanya orang biasa, kiai pun butuh untuk ditalqin. Keluarga meminta Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) memimpin prosesi talqin.

Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dan Kiai pun Ditalqin

Pembacaan talqin pun dimulai. Gus Mus yang juga alumni Pesantren Lirboyo, mengatakan kepada KH Imam Yahya Mahrus yang sudah terbaring, sebentar lagi ada malaikat yang datang. “Jangan takut, mereka adalah mahluq Allah, sama seperti kita. Jawablah pertanyaan mereka dengan benar,” kata Gus Mus sambil pemberikan bimbingan kepada Kyai Imam. “Jika ditanyakan siapa Tuhanmu maka jawablah Allahu Rabbi, jika ditanyakan siapa nabimu jawablah Muhammad Rasulullah…” dan seterusnya. Semua bacaan talqin menggunakan bahasa Arab.

Belajar Muhammadiyah

Lalu doa dipimpin oleh sesepuh NU yang juga alumni Pesantren Lirboyo, KH Maimun Zubair. Selanjutnya diadakan sholat jenazah untuk kesekian kalinya yang dipimpin oleh pengasuh Pesantren Denanyar Jombang KH Aziz Masyhuri, yang diikuti oleh Gus Mus, Rais Syuriyah PWNU KH Miftahul Ahyar, keluarga besar Pesantren Lirboyo, dan para santri, alumni, serta jamaah yang belum sempat mengikuti shalat jenazah di Pondok Pesantren Lirboyo.

Belajar Muhammadiyah

Pondok Pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren tua yang telah menelorkan ribuan alumni. Selain Gus Mus dan KH Maimun Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang turut bertakziyah adalah alumni pesantren yang didirikan oleh KH Manaf Abdul Karim pada 1910 silam. Namun atas wasiat Almarhum KH Imam Yahya Mahrus sendiri, jenazah tidak dimakamkan di makam keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo bersama para sesepuh pesantren.

Kiai Imam yang merupakan generasi ketiga Pesantren Lirboyo meminta kepada keluarganya untuk dimakamkan di tanah lapang, di desa Ngampel, kecamatan Mojoroto, sekitar 5 km ke arah utara dari induk Pesantren Lirboyo. Tanah itu akan digunakan sebagai perluasan dari Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Di bagian depan baru ada satu bangunan yang belum selesai. Informasi yang diterima Belajar Muhammadiyah, selain tempat tinggal santri, di tanah itu juga akan didirikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) yang kini sedang naik daun.

Tak ayal, tanah yang sepi itu mulai ramai. Tidak hanya para santri dan alumni, banyak orang datang berziarah. Sampai malam larut, hingga Senin (16/1) pagi, para peziarah terus berdatangan. Mungkin beginilah cara Kiai Imam membesarkan pesantren barunya.

Penulis A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Penasihat Menteri Besar Selangor Khalid Jaafar berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12) sore. Ia mengaku tertarik dan mengapresiasi ajaran dan kiprah Nahdlatul Ulama selama ini.

Kedatangan Khalid disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan Wakil Sekjen PBNU Suwadi D Pranoto.

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

“Rencananya kami ingin mendirikan Nahdlatul Islam, Nahdlatul Ulama Malaysia, yang sama-sama mengerakkan sisi Islam Nusantara,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah sesaat selepas pertemuan.

Belajar Muhammadiyah

Di negaranya, kata Khalid, memang telah berdiri dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia tetapi itu mewadahi sebatas warga negara Indonesia, baik yang sedang menempuh studi maupun berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia. Ia mengatakan ingin membentuk organisasi “Nahdlatul Ulama” versi Malaysia.

Belajar Muhammadiyah

Mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mendukung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi nila-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth, dan i’tidal (moderasi). Menurutnya, Nusantara juga meliputi Malaysia, termasuk juga Kamboja, Thailand, dan lainnya.

“Bukan berarti kami menolak yang lain, tapi kami rasa Ahlussunnah sesuai dengan karakter wilayah kami,” imbuhnya.

Ditanya soal sebaran paham keagamaan yang berkembang di Malaysia, Khalid berujar, “Ancaman ekstemisme tidak begitu besar, tapi kita tidak boleh kita pandang kecil. Makanya kita perlu suarakan tradisi toleransi yang dalam Nahdlatul Ulama disebut tawassuth.”

Direktur Institut Kajian Dasar (IKD) Kuala Lumpur ini mengaku percaya Islam di Asia Tenggara lebih menjanjikan masa depan dibanding dengan Islam di Timur Tengah. Ditengok dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, katanya, Asia Tenggara termasuk cukup baik.

Dalam pertemuan itu, KH Said Aqil Siroj menjelaskan kedekatan NU dengan muslim negara-negara tetangga, salah satunya dengan memberi mereka beasiswa untuk studi di perguruan tinggi-perguruan tinggi NU. Pertemuan juga menyinggung soal fenomena intoleransi, Wahabi, Syiah, dan Ahmadiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Daerah, Warta Belajar Muhammadiyah

Kamis, 11 Januari 2018

NU Putuskan Haram untuk Penyiaran Ceramah Provokatif, Konten Kekerasan, dan Infotainment

Lombok Barat, Belajar Muhammadiyah - Forum Bahtsul Masail Waqi‘iyah Munas Alim Ulama-Konferensi Besar NU 2017 menyatakan bahwa penyiaran konten negatif diharamkan menurut syariat Islam. Pasalnya penggunaan frekuensi untuk penyiaran konten negatif jelas melanggar kaidah-kaidah syar’i dan aturan perundang-undangan negara.

KH Yasin Asmuni yang mewakili Komisi Waqiiyah Munas NU 2017 dalam Sidang Pleno PBNU menyampaikan amanah Forum Bahtsul Masail Waqi‘iyah Munas-Konbes NU 2017 bahwa penggunaan frekuensi publik harus mempertimbangkan norma syariat Islam dan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

NU Putuskan Haram untuk Penyiaran Ceramah Provokatif, Konten Kekerasan, dan Infotainment (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Putuskan Haram untuk Penyiaran Ceramah Provokatif, Konten Kekerasan, dan Infotainment (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Putuskan Haram untuk Penyiaran Ceramah Provokatif, Konten Kekerasan, dan Infotainment

Ia membacakan salah satu pertanyaan yang muncul dalam Forum Bahtsul Masail Waqi‘iyah Munas-Konbes NU 2017, yaitu hukum penggunaan frekuensi, telekomunikasi untuk menyiarkan konten dakwah provokatif, sarkastis, kekerasan, membahas masalah pribadi (gosip), sinetron berkualitas buruk, infotainment, reality show yang tidak mendidik dan sejenisnya.

Belajar Muhammadiyah

Forum ini, kata Kiai Yasin, mencoba menggali masalah ini dari referensi otoritatif terkait hukum Islam. Forum ini kemudian memutuskan haram untuk penggunaan frekuensi, telekomunikasi untuk penyiaran konten negatif.

Belajar Muhammadiyah

“Haram karena secára nyata telah menyalahi norma-norma syariat dan aturan perundangan negara,” kata KH Yasin Asmuni yang juga Pengasuh Pesantren Petuk, Semin, Kediri dalam Sidang Pleno PBNU di Pesantren Darul Quran, Bengkel, Lombok Barat, Sabtu (25/11) pagi.

Hasil bahtsul masail komisi waqiiyah, maudhuiyah, dan qanuniyah ini disahkan oleh Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud dengan surat Al-Fatihah.

Forum Bahtsul Masail Waqi‘iyah Munas-Konbes NU 2017 dalam masalah ini lebih fokus pada bunyi hukum syar’i terkait aktivitas penyiaran konten negatif seperti yang disebutkan karena lebih banyak mengandung mafsadat dibanding maslahatnya bagi masyarakat.

Forum ini diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri atas para kiai utusan PWNU dan para kiai utusan pesantren se-Indonesia. sedangkan Perumus bahtsul masail komisi ini antara lain adalah KH Azizi Hasbullah, KH Yasin Asmuni, Kiai Asnawi Ridwan, dan sejumlah kiai lainnya.

Sebagaimana diketahui bahwa forum ini berlangsung di Pesantren Darul Falah, Pagutan, Mataram, Jumat (24/11). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta mengadakan kaderisasi tingkat II Lakmud (Latihan Kader Muda) di Pondok Pesantren as-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat-Ahad tanggal 9-11 Oktober 2015.

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat mengisi stadium general pada acara itu mendorong kader IPNU agar tak terlepas dari ruh pesantren. "Kader IPNU harus memiliki jiwa seorang santri yang cerdas, santun, dan sabar untuk terus belajar dan berjuang dan tetap dilandasi ketaqwaan. Perjuangan kader IPNU adalah dengan menempa diri agar siap menjadi generasi pemimpin Bangsa dan NU dimasa yang akan datang," ujarnya.

Kang Said, sapaan akrabnya, yang saat itu didampingi ketua? IPNU DKI Jakarta Muhammad Said dan mantan ketua PW IPNU Jawa Tengah Hasan Chabibie juga menyatakan dukungan penuh ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, Hari Santri Nasional itu akan ditetapkan pada tanggal 22 Oktober karena hari itu merupakan momentum para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi penjajah Belanda.

Belajar Muhammadiyah

Pada tanggal tersebut, kata Kang Said, Hadratussyaikh Hasyim Asyari mengumpulkan kiai-kiai Nusantara untuk mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” bahwa membela tanah air adalah fardlu ain. Resolusi Jihad merupakan seruan perang suci menumpas penjajah yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia.

Senada dengan Kang Said, Ketua PW IPNU DKI Jakarta Muhamad Said? mendukung langkah PBNU? dalam mendorong Presiden Jokowi segera menetapkan Hari Santri Nasional. "Kita sangat mendukung hari santri nasional tanggal 22 Oktober dan kita akan ramaikan dengan berbagai program dan kegiatan agar bisa mengenang perjuangan santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia," katanya.

Peserta dalam latihan kali ini terdiri dari semua pengurus Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta dan para santri setempat. Makesta juga digelar sebelum didirikannya pimpinan komisariat IPNU di Pondok Pesantren as-Tsaqafah. (Red: Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Bahtsul Masail, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

Pontianak, Belajar Muhammadiyah. Puncaknya keilmuan ulama NU, setidaknya ada dalam dua keahlian. Pertama adalah keahlian membaca kitab kuning. Kedua, keahlian dalam memahami Al-Quran. 

Hal  itu dipaparkan Rais Majelis Ilmy Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad pada taushiyah pembukaan Musyawarah Nasional IV JQHNU di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/7).

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

“Kalau kita lihat sejarah, bagaimana hubungan ulama-ulama Indonesia dengan ulama di tanah Hijaz, maka bisa kita ketahui bahwa ulama-ulama Nahdlatul Ulama adalah pelanjut ilmu yang diwariskan oleh ulama Hijaz,” jelas Rektor Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta ini.

Belajar Muhammadiyah

Ahsin menambahkan, kita lihat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari merupakan pelanjut seorang ulama Syekh Umar Hamdan, Alwi Al-Maliki Abbas, dan orang-orang sejawatnya itu.  

Belajar Muhammadiyah

“Ulama-ulama NU telah melakukan perjuangan yang mencengangkan, membanggakan! Banyaknya kitab-kitab hadits, kitab-kitab fiqih itu disalurkan oleh mereka,” tegasnya.

Tapi, ada satu lagi kelompok di lingkungan ulama NU, yaitu ulama-ulama hufadz dan qurra Al-Quranul Karim. 

“Mereka berjuang berpuluh-puluh tahun menimba ilmu di negeri Makkkah, Madinah, Mesir. Kemudian pulang ke Indonesia. Mereka menyabarkan Al-Quranul Karim kepada masyarakatnya,” tambahnya.

Maka, sambung Ahsin, kita tahu, di Indonesia ini banyak markas-markas atau pusat-pusat ke-Quranan. Mulai dari madura, Sumatera Utara, Bone, Bugis, Sulawesi Selatan, Banten. Kemudian juga di Yogyakarta, di Surabaya, dan lain sebagainya.

“Mereka itulah pahlawan-pahlawan yang menyebarkan Al-Quran,” pungkasnya.   

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Prof Syed Farid Alatas: Islam Nusantara Sehat untuk Asia Tenggara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?



Prof Syed Farid Alatas dari National University of Singapore berpandangan bahwa perkembangan aliran, pemikiran, dan pendekatan terhadap Islam di Indonesia berkembang lebih baik dibanding Singapura dan Malaysia.?

“Kepelbagaian pemikiran di Indonesia adalah jauh dinamis dibanding dengan Singapura dan Malaysia,” katanya selepas berdiskusi dengan wartawan dan redaktur Belajar Muhammadiyah di gedung PBNU, Jakarta pada Rabu sore (22/2)

Prof Syed Farid Alatas: Islam Nusantara Sehat untuk Asia Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Syed Farid Alatas: Islam Nusantara Sehat untuk Asia Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Syed Farid Alatas: Islam Nusantara Sehat untuk Asia Tenggara

Menurut Kepala Departement of Malay Studies tersebut perkembangan pemikiran di Indonesia seperti itu sangat positif dalam dunia Islam.?

“Sebab Indonesia merupakan, menurut kami, negara Islam yang paling demokratis,” tambahnya yang mengantar 20 mahasiswa dan mahasiswi asal Singapura dan Malaysia dari kampus National University of Singapore, Universitas Malaya, Universitas Kuala Lumpur, Liverpool University, dan Teheran University. ?

Belajar Muhammadiyah

Ditanya Islam Nusantara, keponakan Syekh Naquib Al-Attas, tersebut, Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama sebagai gagasan baik di Asia Tenggara.

“Kami anggap gagasan Islam Nusantara sebagai satu gagasan sangat sehat untuk semangat Islam di Asia Tenggara,” ungkapnya.?

Sementara di Malysia dan Singapura, lanjutnya, menjalani proses Arabisaasi oleh aliran-aliran tertentu dari Timur Tengah, dari negara seperti Arab Saudi, Mesir dan pola pemikiran cara hidup yang tidak sesuai orang Islam di Asia Tenggara.?

Menurut dia, berbeda dengan Indonesia, pandangan semacam itu dimentahkan pemikir-pemikir Islam Indonesia. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Santri, Quote, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Semangat pencegahan pornografi dan pornoaksi digaungkan oleh Kementerian Agama. Hebatnya, hal ini justru diinisiasi oleh kartini Kementerian Agama melalui gerakan Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (SIAPP)

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi

Gerakan SIAPP dideklarasikan oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin di hadapan 160 kartini Indonesia yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama. Deklarasi ditandai dengan pembacaan komitmen anti pornografi dan pornoaksi di hadapan Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan Pornografi dan Pornoaksi (GTP3) yang juga Menteri Agama, di Jakarta, Jumat (22/04) pagi seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

“Saya harap dari kegiatan ini kita semua lebih mengintesifkan perang melawan bahaya pornografi dan pornoaksi. Lebih dari itu, kita juga harus menyamakan diri untuk bersepakat, program ke depan seperti apa yang akan dilakukan,” kata Menag.

Deklarasi ini dilakukan bersamaan kegiatan Orientasi Pencegahan Pornografi dan Pornoaksi. Hadir dalam kesempatan ini, pejabat Eselon I, II, para Rektor, Kakanwil se Indonesia, serta Dharmawanita pusat dan daerah. Di hadapan mereka, Menag menyampaikan perlunya Kemenag melakukan program terobosan, semisal gerakan sosial untuk meminimalisir bahaya pornografi dan pornoaksi.

Belajar Muhammadiyah

Di tengah era globalisasi, Menag Lukman menyoroti pornografi dan pornoaksi di dunia maya. Ironisnya, kandungan pornografi dan pornoaksi terkadang dishare melalui media sosial. Menag berharap Kementerian Agama mempunyai terobosan baru untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami bahaya pornografi dan pornoaksi.?

“Ditengah arus globalisasi yang ada, jangan sampai keindonesiaan kita tercerabut olehnya,” tegas Menag.

Belajar Muhammadiyah

“Pornoaksi harus kita sikapi, agar generasi muda tidak menyaksikan dan mendapatkan hal-hal yang buruk ditengah masyarakat,” tambahnya.

Menag menyambut baik inisiatif tim DWP Kemenag, pusat dan daerah, untuk mendeklarasikan SIAPP. Menag berharap kampanye SIAPP diikuti dengan gerakan dan kontribusi nyata dalam menanggulangi bahaya pornografi dan pornoaksi.

Menag berpesan, semua ASN Kemenag dapat melakukan tindakan preventif, bagaimana agar pencegahan lebih diutamakan. ? Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Duet Kiai Garut dan Karawang Pimpin PWNU Jawa Barat

Garut, Belajar Muhammadiyah?



KH Muhammad Nuh Ad-Dawami dari Kabupaten Garut terpilih menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. Ia mendampingi KH Hasan Nuri Hidayatullah pada posisi Ketua Tanfidziyah. Keduanya terpilih pada Konferensi Wilayah ke-17 di Pondok Pesantren Fauzan, Garut, (11/10). ? ?

Duet Kiai Garut dan Karawang Pimpin PWNU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Duet Kiai Garut dan Karawang Pimpin PWNU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Duet Kiai Garut dan Karawang Pimpin PWNU Jawa Barat

Kiai Nuh Ad-Dawami adalah pengasuh Pondok Pesantren Nurulhuda. Sebelumnya adalah salah seorang Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. Sementara Kiai Hasan Nuri adalah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Ashiddiqiyah dan Rais Syuriyah PCNU Karawang.

Kiai Nuh Ad-Dawami ditetapkan melalui anggota Ahlul Halli wal-Aqdi. Sementara Kiai Hasan Nuri ditetapkan melalui pilihan langsung dengan pimpinan rapat Ketua PBNU H Marsudi Syuhud. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kanker serviks menjadi penyebab tertinggi angka kematian perempuan di Indonesia. Demikian disampaikan dr Wanda Wimalasari pada sesi penyuluhan dalam rangka Bakti Sosial yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PP LKKNU), di Gedung PBNU 2, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (28/2).

Di hadapan ratusan peserta baksos, Wanda memaparkan, tingginya angka tersebut menjadi penyumbang terbesar kematian perempuan akibat kanker serviks di seluruh dunia, karena mencapai 80 persen dari seluruh kematian.

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia

?

“Di Jakarta setiap hari ada 1-2 orang perempuan meninggal akibat kanker serviks,” tambah dokter muda kelahiran Tegal, Jawa Tengah itu.?

Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh HPV (human papilloma virus) yang menyerang bagian leher dari organ vital wanita. Walaupun bagian awal yang diserang adalah organ kewanitaan, dalam jangka panjang dapat menyebar ke organ-organ lain dalam tubuh penderita. Organ-organ lain itu misalnya kelainan ? atau kerusakan ginjal, jantung, dan kerusakan saraf pusat.?

Belajar Muhammadiyah

Penderita kanker serviks pada stadium lanjut ditandai dengan gejala-gejala antara lain pendarahan pada kemaluan setelah berhubungan seksual, susah buang air kecil atau anyang-anyangan, air kencing berwana merah, keputihan, nyeri pinggul, nyeri otot, nyeri otot, dan sakit perut.

Virus HPV penyebab kanker serviks dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, dan hubungan intim dengan pasangan yang beresiko. Faktor resiko lainnya adalah perokok, hubungan seksual yang dilakukan oleh perempuan yang terlalu muda, ibu yang memiliki banyak anak, dan penderita infeksi seksual menular.

Menurut Wanda, kebanyakan perempuan biasanya tidak mempedulikan kesehatannya, termasuk terhadap adanya kemungkinan kanker serviks ini. “Sangat disayangkan bila konsultasi dan pemeriksaan baru dilakukan ketika penderita sudah masuk pada stadium lanjut. Perempuan harus peka. Jangan tunggu adanya keluhan yang berat,” ungkap dokter yang enerjik itu.

Belajar Muhammadiyah

Penyuluhan oleh dr Wanda menjadi awal dari rangkaian bakti sosial yang terselenggara atas kerjasama PP LKKNU dan Perum Bulog itu. Para peserta baksos yang sudah terdaftar selanjutnya dipersilakan mengikuti tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). Tes IVA dapat diikuti oleh perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, tidak sedang hamil, dan tidak sedang menstuasi.

Tes IVA dilakukan sebagai pemeriksaan atau deteksi awal adanya kanker leher rahim. Dengan tes IVA akan terlihat ada atau tidaknya gejala kanker serviks sehingga selanjutnya dapat diberikan pengobatan lebih lanjut pada penderita. Tes IVA sangat tepat dilakukan karena dalam prosesnya tidak sakit, tidak membutuhkan waktu yang lama (2-5 menit) hasilnya langsung diketahui, mudah, murah dan hasilnya terjamin akurat.?

Wanda mengapresiasi pihak PBNU dan LKKNU yang mengadakan bakti sosial berupa penyuluhan kesehatan kanker serviks dan tes IVA ? yang diselenggarakan kali ini. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Sunnah, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud menyatakan keprihatinannya atas karut-marutnya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan meminta semua pihak yang terkait bertanggung jawab atas permasalahan ini.?

“Sebaiknya tidak mencari kambing hitam dengan hanya menyalahkan satu pihak, tetapi bagaimana menyelesaikan persoalan ini tanpa politisasi,” katanya.

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Semua Bertanggung Jawab Soal Keterlambatan UN

Marsudi, setuju dengan pendapat Taufik Kiemas bahwa Mendikbud M Nuh tidak perlu mundur dari jabatannya, karena kendala yang dialami merupakan kendala teknis.

“Untuk itu, perlu didalami persoalannya dan diinvestigasi secara menyeluruh sehingga diperoleh hasil yang komprehensif,” tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menyoroti kenapa anggaran untuk pencetakan naskah Ujian Nasional baru disetujui pada 22 Februari 2013, yang merupakan waktu yang sudah sangat mepet, sementara proses tender percetakan juga baru boleh dilakukan setelah anggaran keluar.

Belajar Muhammadiyah

“Hal-hal seperti ini harus ditelusuri sampai ke DPR yang memberikan persetujuan anggarannya,” tandasnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Bahtsul Masail, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung menziarahi peristirahatan terakhir Ketua Umum I Pengurus Besar PMII, H Mahbub Djunaidi, di Kota bandung pada Kamis (18/4).

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Pergerakan Ziarahi Makam Mahbub Djunaidi

Menurut salah seorang aktivis PMII yang turut ziarah, Hilman Yuliana, tujuan ziarah kepada pengarang mars PMII adalah cara mengenang jasa-jasanya.

“Memang beliau adalah salah satu pendiri PMII. Organisasi berumur setengah abad ini, masih dan tetap akan berdiri kokoh dan terus berkomitmen untuk mengawal bangsa ini, tak lepas dari jasa beliau,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah melalui surat elektronik pada Jumat, (19/4).

Belajar Muhammadiyah

Seharusnya, sambung lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, seluruh aktivis PMII tahu sepak terjang H. Mahbub Djunaidi. Tapi pada kenyataannya, tidak demikian. Paling yang diketahui adalah dia sebagai politikus, jarang yang mengenal sebagai penulis berjuluk pendekar pena, sastrawan, dan bahkan penerjemah.

Belajar Muhammadiyah

Lebih dari itu, ziarah bagi PMII adalah memandang hidup ini fana, bahwa setiap orang akan mati, “Juga bagi PMII yang memang latar belakang NU itu sudah membudaya,” pungkas pengurus PMII di Lembaga Penerbitan Pers dan Jurnalistik ini.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Lomba, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan

Jepara, Belajar Muhammadiyah - Forum Kajian Jender (FKJ) yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara, Jawa Tengah, mengaku prihatin dengan maraknya kekerasan terhadap perempuan, khususnya di Jawa Tengah.

Keprihatinan itu diwujudkan dengan penyelenggaraan Seminar dan Pemilihan Duta Genre (Generasi Berencana) tingkat pelajar SLTA se-Kabupaten Jepara di Gedung Pringgitan, belakang Pendapa Kabupaten Jepara, Senin (27/02) pagi.

PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan

Berdasarkan data catatan tahunan hingga tahun 2015, kekerasan terhadap perempuan mencapai 321.753 kasus, sedangkan data dari sumber yang ditangani pengadilan agama berjumlah 305.535 kasus.

Belajar Muhammadiyah

Sementara lembaga layanan mitra Komnas Perempuan menemukan 16.217 kasus. Berdasarkan kasusnya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi kasus tertinggi di tahun ini yaitu mencapai 147 kasus atau 29 persen, Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) mencapai 98 kasus atau 19,8 persen, prostisusi ada 35 kasus atau 7.06 persen, perbudakan seksual 32 kasus atau 6,5? persen, traffiking 18 kasus atau 3,6 , pelecehan seksusal 15 kasus atau 3,02 persen dan buruh migran sebanyak 7 kasus atau 1,4 persen, jika dilihat dari jenis kekerasannya, di tahun 2016 ini kasus kekerasan seksusal masih mendominasi.

Dari 871 perempuan korban kekerasan, sebanyak 700 atau 80,4 persen perempuan mengalami kekerasan seksual. Tingginya angka kekerasan seksual tidak hanya di Jawa Tengah saja tetapi catatan komnas perempuan juga menunjukkan kecenderungan serupa.

Ketua Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Muji Susanto, mengatakan kekerasan terhadap anak dan perempuan sudah menjadi extra ordinary crime (kejahatan yang sangat luar biasa), dari 1,2 juta penduduk Jepara, sepertiganya adalah anak-anak diperkirakan 400 ribu jiwa.

Belajar Muhammadiyah

"Berdasarkan penelitian menggunakan data sampling random ke sekolah-sekolah dari ujung Utara hingga ujung selatan Jepara, 8 dari 10 siswa SMP sederajat sudah pernah ciuman dan lihat film porno, sedangkan 8 dari 10 siswa SLTA sederajat pernah lihat film porno dan ciuman bahkan 1 dari 10 siswa lainnya pernah melakukan hubungan intim," ungkapnya.

Ketua FKJ PMII Jepara Uswatun Hasanah, mengatakan remaja merupakan bagian dari potensi bagi pembangunan bangsa di masa depan, di sisi lain remaja juga rentan terhadap berbagai permasalahan seperti nikah muda, perilaku seks pra nikah, penyalahgunaan narkotik, psikotropika, dan zat aditif (Napza) dan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

Demikian juga, Ketua PMII Cabang Jepara Erkham Sobri mengatakan, tingginya kasus kekerasan seksual tidak diiringi dengan membaiknya kasus pemenuhan hak-hak korban, seperti layanan medis yang harus berbayar, adanya impunitas pelaku koban kekerasan seksusal yang dimediasi dan di damaikan dengan pelaku.

Hal ini karena ketiadaan undang-undang yang mampu menghapuskan kekerasan dari mulai pencegahan, penanganan, perlindungan dan pemulihan secara menyeluruh dan terintregasi.

"Keberadaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang saat ini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2016 penting untuk segera dibahas dan disahkan karena ini merupakan kewajiban Negara dalam menghapuskan kekerasan terhadap perempuan termasuk kekerasan seksual sebagaimana diatur di dalam instrument hukum HAM baik nasional maupun internasional. Namun hingga saat ini, RUU tersebut belum segera dibahas di DPR RI," ungkap Erkham S sebagaimana rilis yang diterima Belajar Muhammadiyah.

Dengan hadirnya Pemilihan Duta Genre dan sosialisasi ini, dalam rangka promosi program Genre, berharap peserta pemilihan Duta Pelajar Genre tahun 2017 memperoleh sosok motivator yang akan membantu dalam mensosialisasikan program Genre di lingkungan sekolah, terlebih bisa mengurangi kenakalan remaja di kabupaten Jepara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Jepara,  Belajar Muhammadiyah. Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2014 yang akan dilaksanakan 14 April mendatang siswa SMK Az Zahra Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah, melaksanakan doa bersama di aula sekolah setempat, Sabtu (23/2) pagi.

Kegiatan ini melibatkan pesantren dan SMP Az Zahra juga wali murid kelas XII jurusan Multimedia. Doa bersama atau istighotsah tersebut dipimpin KH M Sukarno, ketua pengurus Yayasan Az Zahra Mlonggo; dan KH Dhofir membacakan manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani.

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Kepala SMK Az Zahra, Hasan Khaeroni mengatakan kegiatan merupakan persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian (UKK), Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN).

Belajar Muhammadiyah

Dihadirkannya dewan guru, menurutnya, untuk memohon doa ijabah agar pelaksanaan peserta didik dalam ujian diberikan kelancaran. “Sehingga putra-putri kita menjadi sholih dan sholihah,” doanya.

Belajar Muhammadiyah

Tahun ini SMK Az Zahra Mlonggo mengikutkan ujian sebanyak 51 peserta didik, 26 siswi dan 25 siswa jurusan Multimedia. Tahun ajaran kemarin, lanjut Hasan, SMK berbasis pesantren tersebut membuka jurusan baru, Broadcasting dan Teknik Sepeda Motor.

Dalam kesempatan doa bersama hadir pengasuh pesantren, Hj Luluk Waqifiyah dan dewan pengawas yayasan, H Abdul Kholiq Anwar. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Amalan, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Jadwal Munas-Konbes NU Mundur Hingga Pasca-Pilpres

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang sedianya dihelat 13-15 Juni ini ditunda hingga pemilihan umum presiden (Pilpres) selesai. Kesepakatan tentang mundurnya jadwal ini ditetapkan dalam rapat gabungan syuriyah dan tanfidziyah PBNU.

Jadwal Munas-Konbes NU Mundur Hingga Pasca-Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadwal Munas-Konbes NU Mundur Hingga Pasca-Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadwal Munas-Konbes NU Mundur Hingga Pasca-Pilpres

Rapat dipimpin Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri dan dihadiri Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waketum H As’ad Said Ali, dan para pengurus harian lainnya dari unsur syuriyah dan tanfidziyah.

Peserta rapat menyepakati forum tertinggi setelah Muktamar NU itu dilaksanakan pada bulan Syawal, tepatnya pada 22-24 Agustus 2014. Perubahan rencana waktu pelaksanaan tersebut dimaksudkan untuk lebih mematangkan kesiapan Munas-Konbes NU, sekaligus menghindari aktivitas politik tertentu menjalang Pemilu.

Belajar Muhammadiyah

“Saya menilai yang mengusulkan acara (Munas-Konbes NU) ini diundur adalah karena kekhawatiran Munas-Konbes nanti jadi ajang Pilpres,” ujar KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus saat memberi pengarahan.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Malik Madani menilai keputusan ini sudah tepat untuk memperkecil unsur mudarat bagi organisasi. Ia juga menyoroti soal draf materi yang menjadi pembahasan pokok Munas NU, khususnya terkait konsep Ahlul Halli wal Aqdi, yang menurutnya masih mentah.

Menurut Kiai Malik, konsep Ahlul Halli wal Aqdi harus diturunkan secara lebih teknis menjadi aturan organisasi. Selama ini, katanya, pembahasan tersebut baru pada tahap bahtsul masail dan lebih fokus pada pengembangan argumen fiqih. “Padahal tak cukup hanya berkutat pada al-kutubus shafra (kitab kuning),” tuturnya.

Pendapat senada diungkapkan pula oleh Waketum PBNU H As’ad Ali. Menurutnya, sosialisasi dan seminar-seminar juga perlu dilaksanakan di beberapa daerah lagi untuk memantapkan draf materi yang akan dibahas pada Munas-Konbes yang kedua pada periode kepengurusan ini.

Seperti telah diwartakan, Ahlul Halli wal Aqdi merupakan tawaran konsep yang kencang diwacanakan di lingkungan NU. Sistem rekrutmen pemimpin yang hanya melibatkan sejumlah orang terpilih ini rencananya akan diterapkan dalam Muktamar ke-33 pada 2015 mendatang. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock