Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima hibah kapal dari seorang pengusaha asal Jepang, Muhammad Suzuki Nobukazu, Jumat (6/1) sore. Kapal bernama Dai Ni Bente Maru itu terbuat dari aluminium ringan, 19,99 gross ton, dan berfungsi sebagai kapal riset dan pelatihan perikanan dan kelautan.

Prosesi serah terima hibah berlangsung singkat di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, ditandai penandatanganan sebuah piagam oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Muhammad Suzuki Nobukazu.

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang

Kiai Said mengucapkan terima kasih kepada Suzuki atas bantuan yang diberikan. Ia berharap kapal Dai Ni Bente Maru dapat dimanfaatkan untuk kepentingan warga NU sebagaimana fungsinya. Syamsudin penerjemah yang mendampingi Suzuki mengatakan, hari ini kapal tersebut sudah sampai di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara.

Belajar Muhammadiyah

Suzuki adalah muallaf yang membaca syahadat bersama pengusaha lain Ogawa Hideo di kantor PBNU pada 9 Desember 2015 melalui bimbingan Kiai Said.



(Baca: Dua Pengusaha Jepang Masuk Islam di PBNU)


Turut menyaksikan prosesi penyerahan secara simbolis kapal itu Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuaidi, Ketum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, serta Ketua PBNU Marsudi Syuhud dan Robikin Emhas.

Belajar Muhammadiyah

Selain menyerahkan hibah, dalam kesempatan itu Suzuki juga mengantarkan dua pemuda asal Jepang, Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka untuk berikrar sebagai muallaf lewat bimbingan Kiai Said. Yang pertama merupakan karyawan di perusahaan milik Suzuki, sementara yang kedua adalah putri wali kota Numazu Jepang. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Musyawarah Anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Pendidikan Indonesia (KMNU UPI) Bandung mengamanatkan Rifa Anggyana sebagai Ketua Umum KMNU UPI untuk masa bakti 2013-2014.

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Mahasiswa yang sedang menempuh S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di UPI Bandung ini memang dikenal sebagai aktivis kampus dengan segudang kegiatan dan prestasi. 

Pemilihan dilangsungkan di Masjid Al Falah Panorama, Bandung, Sabtu-Ahad (9-10/13). Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta musyawarah, berakhir pada 14.00 siang.

Belajar Muhammadiyah

Mantan Ketua KMNU UPI 2012-2013, Faisal Ramdan, berharap Rifa mampu membangun KMNU UPI menjadi lebih baik, meneruskan kaderisasi yang sudah berjalan, serta meneruskan program jangka panjang belum terselesaikan, yaitu mendirikan KMNU di kampus-kampus lainnya di Bandung.

“Itu amanah yang harus sesegera mungkin di selesaikan, paling tidak selama satu tahun kedepan terbentuk sedikitnya 5 KMNU lagi di Bandung dan sekitarnya ,” ujarnya. 

Belajar Muhammadiyah

Faisal menambahkan, Rifa pasti mampu untuk memimpin KMNU UPI karena ia sudah berkecimpung di dalamnya serta sarat akan pengalaman organisasi.

Saat di konfirmasi kesiapannya memegang amanah, Rifa Anggyana menyatakan siap. “ Insya Allah saya akan menjaga amanah ini dengan baik, saya siap !” tegasnya. 

Dari perwakilan alumni, Kang Khusnul berharap pengurus sekarang jangan sampai kehilangan arah perjuangan dan tetap konsisten menjaga ciri khas KMNU yang fokus membangun karakter kader NU yang memiliki keunggulan moralitas Islam, intelektualitas, humanitas, profesionalitas, sehingga terbentuk kader yang kritis, loyal dan militan.

Di kesempatan yang lain Kang Khusnul juga mengajak para alumni untuk terus mendukung kinerja KMNU UPI walaupun sudah tidak berada di kampus lagi, baik dengan pikiran, tenaga maupun finansial. 

Di wilayah kampus UPI Bandung, eksistensi mahasiswa NU semakin terasa. Namun yang masih kurang adalah membangun komunikasi dan jaringan dengan para dosen maupun manajemen kampus yang memiliki kesamaan latar belakang.

Di tengah masyarakat pun diharapkan kegiatan Saba Masjid terus di tingkatkan, sehingga hubungan dengan ulama dan masyarakat sekitar dapat terjalin dengan baik. Serta masyarakat mengetahui bahwa di UPI Bandung terdapat komunitas mahasiswa NU, tambah Kang Arif (mantan ketua KMNU UPI 2011-2012).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Eko Rusli

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Humor Islam, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus menggelar orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) bagi mahasiswa baru di Kampus Jl Lambao Karangsambung Bae Kudus Jawa Tengah, Senin-Jum’at (26-30/8). 

Kegiatan dibuka Direktur Akbid Darningsih S.Sit. MH ini dengan jumlah peserta sebanyak 25 mahasiswa baru.

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Ketua panitia Rika Rahmawati mengatakan ospek bertujuan mengenalkan kegiatan program studi pembelajaran sekaligus melatih mental, fisik dan memberikan orientasi dasar pendidikan untuk mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui ospek ini, peserta memiliki kesiapan dan menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif dan mempunyai semangat yang besar dalam belajar di kampus Akbid Muslimat NU,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di sela-sela kegiatan, Selasa (27/8).

Belajar Muhammadiyah

Rika menambahkan mahasiswa baru juga mendapat bekal pengetahuan dan wawasan ke-NU-an dan penanaman aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). 

“Akbid ini menjadi kampus NU sehingga penanaman dan penguatan Aswaja menjadi sangat perlu dikenalkan kepada mahasiswa di sini,” imbuh mahasiswa semester tiga Akbid ini.

Direktur Akbid Darningsih mengajak mahasiswa baru untuk selalu memiliki semangat dan tidak memiliki keraguan belajar kebidanan. Hal ini dikarenakan bidan merupakan profesi yang sangat mulia yang menolong antara sesama.

“Masuk di Akbid harus semangat belajar meraih cita-cita masa depan sehingga kelak menjadi bidan yang bermanfaat dan membantu sesama,” tandasnya saat membuka kegiatan ospek.

Ia mengharapkan mahasiswa baru ini selalu terampil, siap dan kuat belajar mulai awal hingga akhir. 

“Kami berharap semua peserta menjadi mahasiswa yang terampil dan cekatan serta mempunyai kemampuan bekal pengetahuan yang cukup,” tandasnya.

Kepada Belajar Muhammadiyah, dia menjelaskan 25 peserta ospek ini merupakan pilihan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun akademik 2013/2014. 

“Selama ini, Akbid Muslimat NU membatasi quota penerimaan mahasiswa baru hanya 25 saja karena sarana prasarananya masih terbatas,” ujar Darningsih.

Dalam kegiatan ospek ini, berbagai materi ospek diantaranya pokok pendidikan akbid, tri darma perguruan tinggi, leadership dan keorganisasian, peran bidan dalam MDGS, ke-NU-an dan aswaja. Sementara narasumbernya, Ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan Bupati Kudus H Musthofa dijadwalkan turut menyampaikan materi.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Ubudiyah, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Temukan Uang 100 Juta, Tindakan Banser Sukoharjo Ini Patut Ditiru

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah



Di zaman saat ini, terdapat anggapan umum yang mengatakan susah untuk menemukan orang jujur dan amanah. Namun, anggapan tersebut terbantahkan oleh Subandi, seorang anggota Banser dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Belum lama ini, ia melakukan sebuah tindakan yang patut ditiru. Ketua PC GP Ansor Sukoharjo Sahid Mubarok mengisahkan peristiwa tersebut. “Ceritanya Subandi anggota Banser kami, kemarin dia menemukan sebuah tas yang berisi uang Rp 100 juta,” terang Sahid saat ditemui Belajar Muhammadiyah, Kamis (10/8).

Temukan Uang 100 Juta, Tindakan Banser Sukoharjo Ini Patut Ditiru (Sumber Gambar : Nu Online)
Temukan Uang 100 Juta, Tindakan Banser Sukoharjo Ini Patut Ditiru (Sumber Gambar : Nu Online)

Temukan Uang 100 Juta, Tindakan Banser Sukoharjo Ini Patut Ditiru

Lebih lanjut diterangkan Sahid, pemilik tas tersebut yang ternyata seorang pedagang sapi, tengah mampir di sebuah SPBU di daerah Begajah, untuk mengisi bensin. Tas yang berisi uang ratusan juta itu, tertinggal setelah sang pemilik pergi ke toilet.

Sifat jujur yang dimiliki Subandi, yang kemudian memutuskan untuk mengembalikan tas tersebut kepada sang pemilik. Selang satu jam setelah ditunggu, muncul orang yang mengaku memiliki tas tersebut. “Tas tersebut dikembalikan lengkap tanpa berkurang apa pun,” ungkap Sahid.

Belajar Muhammadiyah

Atas sifat jujur yang dimiliki Subandi, Sahid pun memberikan apresiasi yang besar kepada dia. “Kita ucapkan terima kasih kepada Mas Bandi, yang telah menunjukkan contoh kejujuran. Semoga menjadi amal salehnya dan menjadi jalan dimudahkan rezekinya,” pungkas Sahid. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

UNUSIA Jakarta Luluskan 380 Wisudawan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta meluluskan sebanyak 380 wisudawan dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Rabu (13/12).

UNUSIA Jakarta Luluskan 380 Wisudawan (Sumber Gambar : Nu Online)
UNUSIA Jakarta Luluskan 380 Wisudawan (Sumber Gambar : Nu Online)

UNUSIA Jakarta Luluskan 380 Wisudawan

Mereka terdiri dari 222 sarjana program studi Tarbiyah dengan gelar Sarjana Pendidikan(S.Pd), 55 sarjana program studi Ahwal Syakhsiyah dengan gelar Sarjana Hukum (S.H), 45 diploma Perbankan Syariah dengan gelar Ahli Madya (A.Md), dan 54 magister program studi Islam Nusantara dengan gelar Magister Humaniora (M.Hum).

Rektor UNUSIA Prof Maksoem Mahfudz menyampaikan, prosesi kali ini merupakan wisuda pertama UNUSIA sekaligus wisuda keenam STAINU Jakarta. Sejak tahun 2017 ini STAINU telah resmi bertransformasi menjadi UNUSIA sebagai bagian dari 256 perguruan tinggi yag berada di bawan naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam kesempatan itu Rektor juga melaporkan adanya program kelas Internasional di UNUSIA. Dikatakannya, sejumlah wisudawan kali ini berasal dari Pattani Thailaind Selatan. Sebagian lulusan juga telah menempuh program pendidikan selama satu tahun di Universitas Abdul Malik Saadi dan Universitas Ibnu Tufail Maroko, serta Universitas Zaituna Tunisia.

Belajar Muhammadiyah

Ditambahkan, tahun ini UNUSIA juga menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan di Lebanon, Kedutaan Besar RRC, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Indonesia Corruption Watch (ICW) untuk sejumlah program serta dengan Kemenristek Dikti dan Kementerian Agama untuk penyelenggaran beasiswa. 

Konsentrasi utama kampus UNUSIA menurut Prof Maksoem adalah pembangunan karakter yang berbasis pada Islam Nusantara.

Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi Prof M. Nasir yang memberikan sambutan dalam kesempatan itu mengingatkan kepada para wisudawan bahwa saat ini generasi bangsa Indonesia berada di era persaingan yang mengandalkan kompetensi dan inovasi.

"Jika tidak mempunyai kompetensi dan inovasi maka para lulusan tidak akan mampu bersaing di era global. Negara yang akan memenangkan  persaingan bukan negara yang besar tapi negara yang masyarakatnya telah punya inovasi," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Prosesi wisuda kali ini diramaikan dengan penampilan berbagai kreasi mahasiswa UNUSIA Jakarta, seperti grup musik Lingga Binangkit binaan Komunitas Omah Aksoro serta marawis, pencak silat Pagar Nusa, dan paduan suara UNUSIA Jakarta. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Lomba Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Gus Dur Salah Jalan

Saat berada Kudus, Jawa Tengah, budayawan Ahmad Sobari kepada wartawan mengisahkan dirinya pada waktu menemani Gus Dur menghadiri sebuah kegiatan. Sudah menjadi kegemaran Gus Dur, setiap kali  kunjungan ke daerah selalu menyempatkan berziarah ke makam tokoh maupun ulama setempat.

Pada masa Orde Baru, cerita Kang Sobari, Gus Dur sedang berkunjung sebuah daerah. Di tengah perjalanan, tanpa ada yang membisiki  tiba-tiba Gus Dur menyuruh sopir menghentikan mobilnya.

“Mau kemana Gus?” tanya sang sopir.

Ketika Gus Dur Salah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Dur Salah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Dur Salah Jalan

“Di daerah ini terdapat makam ulama besar, saya pingin berziarah ke sana,” jawab Gus Dur sambil  menyuruh sopir berbelok arah menuju makam yang dimaksud. 

Ketika sudah menempuh beberapa jam makam yang dimaksudkan tidak tampak di depan mata.

“Gus, mungkin kita salah jalan, disini tidak  terlihat (ada) makam,” tanya Kang Sobari.

“Coba maju  sebelah sana,” jawab Gus Dur menyuruh sopirnya.

Belajar Muhammadiyah

Mobil pun melaju perlahan menuju arah yang ditunjukkan Gus Dur. Tetapi mereka belum juga menemukan makam yang dimaksud.

“Masih nggak ada (makam) Gus!” kata Kang Sobari.

Belajar Muhammadiyah

Sambil tersenyum, Gus Dur pun berseloroh, “Oh ya sudah. Barangkali jalannya sudah dirubah oleh Orde Baru.”

Kang Sobari dan sopir-pun hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Gus Dur dengan canda. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Zakat Produktif ala Kiai Sahal Mahfudh Dikembangkan Ipmafa Pati

Pati, Belajar Muhammadiyah. Zakat sebagai rukun Islam yang paling mengenaskan harus ditegakkan bersama-sama. Semua umat Islam mempunyai tanggungjawab mengangkat derajat zakat supaya sama tegaknya dengan shalat, puasa, dan haji di mana kesadaran kolektif umat Islam sudah terbangun dengan baik dan mengakar. Jika zakat ini tegak, maka kemiskinan umat dan bangsa yang masih melilit sampai sekarang bisa teratasi dengan baik. 

Kontribusi zakat secara efektif dalam pengentasan kemiskinan diakui berdasarkan riset Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemiskinan yang masih besar, sekitar 28,5 juta jiwa pada tahun 2015 harus ditumpas dari berbagai segi, baik melalui program pemerintah maupun partisipasi publik secara luas, seperti zakat, infak dan sedekah.

Zakat Produktif ala Kiai Sahal Mahfudh Dikembangkan Ipmafa Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Produktif ala Kiai Sahal Mahfudh Dikembangkan Ipmafa Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Produktif ala Kiai Sahal Mahfudh Dikembangkan Ipmafa Pati

Dalam konteks ini, Program Studi Manajemen Zakat Wakaf Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati, Jawa Tengah mengadakan kajian rutin pengembangan konsep zakat wakaf. Tampil sebagai narasumber Ketua Program Studi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa Jamal Mamur Asmani. 

Menurut Jamal, zakat adalah instrumen efektif ajaran Islam untuk keadilan ekonomi umat manusia. Dengan zakat, Allah mengingatkan manusia bahwa ada hak sosial yang melekat kepada orang-orang yang diberikan kelebihan rizki oleh Allah SWT yang harus dikeluarkan.

Dia menjelaskan, salah satu contoh sosok kiai yang dikenal pemikiran cemerlang dan aksi riil tentang zakat adalah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, ulama kharismatik yang dikenal dengan bendera fiqh sosial. 

Belajar Muhammadiyah

Kiai Sahal, kata Jamal, mendorong optimalisasi zakat produktif. Zakat produktif membutuhkan skills entrepreneurship yang handal dari mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), sehingga dibutuhkan pelatihan secara intensif dan berkelanjutan. 

Selain itu, zakat produktif membutuhkan manajemen modern supaya berjalan dengan baik. Manajemen modern ini bertugas melakukan inventarisasi dan identifikasi potensi umat, kemudian membangun tim yang ahli untuk mengelola dana, kemudian membagikannya kepada mustahiq dengan model basic need approach (pendekatan kebutuhan dasar). 

“Mustahiq zakat kemudian dikelompokkan dan diberi modal dari hasil zakat. Selain itu, mereka juga diberi pendidikan, keterampilan, dan motivasi untuk menggerakkan perubahan dari potensi mereka sendiri. Dalam menerapkan zakat produktif ini, Kiai Sahal tetap meminta izin mustahiq sebagai syarat yang harus dipenuhi,” jelas Jamal.

Sekretaris Prodi Luthfi mengatakan, Prodi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa menggalang kerja sama efektif dengan berbagai lembaga zakat, baik nasional maupun regional, seperti Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dan Lazis Jateng untuk menyosialisasi gerakan sadar zakat dan menyalurkan zakat kepada lembaga yang akuntabel dan profesional.

Belajar Muhammadiyah

“Sehingga niat baik orang yang berzakat (muzakki) bisa terealisasi dengan memuaskan,” ujar Luthfi.

Prodi Manajemen Zakat Wakaf juga menjalin kerja sama dengan Forum Zakat Nasional (FOZ) untuk menguatkan kelembagaan dan memperluas akses para alumni Prodi dalam berkiprah di masyarakat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock