Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Anggota Komisi VII DPR Khofifah Indar Parawansa meragukan kinerja Badan Pelaksana (BP) lumpur Lapindo. Badan ini merupakan pengganti Timnas lumpur Lapindo yang berakhir 8 April lalu. Hingga kini berbagai upaya nyatanya tak mampu mengatasi luapan lumpur Lapindo, kerja Timnas juga tak berhasil.

“Saya lihat Timnas saja orang-orangnya power full tetapi kurang suskes menangani lumpur,” kata Khofifah, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Kamis (12/4) kemarin.

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Keraguan Khofifah juga berkaitan dengan adanya hubungan antara pemilik PT Lapindo dengan badan tersebut. Maklum, badan yang terbentuk berlandaskan Keputusan Presiden ini dikepalai Sunarso, Staf Ahli Menko Kesra Bidang Kependudukan dan SDM. Aburizal Bakrie adalah salah satu pemilik PT Lapindo Brantas Inc.

Selain itu, menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, terlalu birokratis. Badan ini tidak memiliki kebebasan untuk mengeksekusi keadaan di lapangan.

Hal itu karena mereka harus melapor terlebih dahulu kepada Badan Pengawas seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. ”Saya kasihan dengan orang-orang yang ada di Sidoarjo. Masyarakat semakin terkatung-katung,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Khofifah meminta pemerintah pusat bekerja sepenuh hati untuk menyelesaikan lumpur Lapindo. Sebab, masyarakat Sidoarjo sudah lelah dan tersiksa dengan musibah tersebut. ”Pemerintah harus bertanggung jawab karena semuanya serba darurat di Sidoarjo,” katanya. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Syariah Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 28 Februari 2018

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Sekitar 23 DPW PPP menghadap Wapres untuk menyatakan dukungannya agar Hamzah Haz dipilih kembali menjadi Ketua Umum PPP. DPD Jatim adalah yang pertama kali menghadap Hamzah Haz.

Mendapat dukungan dari banyak wilayah Hamzah Haz menyatakan kesiapannya dipilih menjadi Ketua Umum PPP periode 2003-2008 pada Muktamar PPP yang akan berlangsung 20- 24 Mei di Jakarta.

Ketua DPW PPP Jatim Hafidz Maksoem mengatakan berdasarkan laporan, banyak yang mendukung Hamzah Haz. Misalnya, Sumut yang merupakan wilayahnya Bachtiar Chamsyah, ternyata 19 dari 20 DPC PPP mendukung Hamzah Haz.

"Jadi kalau orang lain (pendukung Bachtiar) mengklaim suaranya lebih besar, itu biasa. Buktikan saja bagaimana kenyataannya," katanya. Ia juga mengatakan pencalonan Hamzah Haz bukan karena ia berasal dari NU, namun ia adalah kader terbaik PPP di Pesantren Daru Maarif Cipete, Jakarta, Senin.

Mereka datang untuk melaporkan masalah muktamar dan minta restu dari mantan Ketua MPRS itu. Dalan pertemuan itu tidak ada sama sekali upaya untuk meminta dukungan dari ketua pertama PPP itu terhadap calon ketua umum PPP 2003-2008.

"Dan beliau juga tidak akan memihak ke mana-mana," ujar Zarkasih Noer yang turut dalam acara tersebut.

Kepemimpinan Hamzah lemah

Kinerja kepemimpinan dan kepengurusan PPP era Ketua Umum Hamzah Haz paling lemah, dibandingkan periode sebelumnya, meskipun telah menjadi Wakil Presiden, dan hal itu merupakan momentum untuk melakukan perubahan pada Muktamar V PPP, 20-24 Mei 2003.

"Ternyata tidak signifikan hubungan antara Hamzah Haz yang juga Wapres dengan konsolidasi organisasi," kata anggota Litbang DPP PPP Usamah Hisyam di Jakarta, Minggu.

Ia membeberkan data bahwa perolehan kursi pada Pemilu 1999 di era kepemimpinan Hamzah Haz merupakan yang terburuk, yakni hanya meraih 58 kursi di DPR-RI. Pemilu 1977, 99 kursi, Pemilu 1982, 94 kursi, Pemilu 1987, 61 kursi, Pemilu 1992 62 kursi, dan Pemilu 1997, 89 kursi.

Pada kepengurusan Hamzah Haz juga timbul perpecahan, KH Zainuddin MZ dan kelompoknya mendirikan PPP Reformasi, sebelum kemudian berganti nama menjadi Partai Bintang Reformasi. Ini merupakan sebagian dari beberapa kelemahan dari kepemimpinan Hamzah dalam PPP

Sementara itu, Wakil Ketua DPW PPP DKI Jakarta HA Chudlary Syafii Hadzami mengatakan bahwa pihaknya mendukung kepemimpinan Hamzah Haz untuk periode 2003-2008.

"Dengan posisinya sebagai Wapres yang sangat strategis saat ini, membuat PPP masih memerlukan kepemimpinannya," kata Chudlary. Ia berharap peserta muktamar masih memilih Hamzah Haz sebagai pemimpin.

Mengenai konflik internal yang terjadi di PPP, menurut Chudlary, hal itu merupakan dinamika yang demokrasi dan tidak sampai mengganggu organisasi secara keseluruhan.

Ketika dikonfirmasi mengenai usia Hamzah Haz yang telah mencapai 63 tahun, yang tergolong sudah tua untuk memimpin PPP di tengah tantangan yang semakin berat menghadapi Pemilu 2004, Chudlary menegaskan bahwa figur yang tua tepat untuk memimpin partai karena kaya akan pengalaman.

"Hamzah Haz masih dibutuhkan, mungkin 30 persen dari kalangan tua dan 70 persen lainnya dari kalangan muda," katanya.

Dalam hitung-hitungan di atas kertas versi Forum Silaturahmi Sukses Muktamar V PPP, Hamzah didukung oleh 23 dari 30 DPW PPP dan 308 dari 400 DPC PPP seluruh Indonesia.(rol/mkf)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi

Minggu, 25 Februari 2018

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. GP Ansor Banyuwangi bersyukur atas penetapan Hari Santri. Ratusan pemuda NU ini mengadakan apel akbar dan kuliah umum di Gedung Wanita, Banyuwangi, Ahad (25/10). Karenanya, halaman gedung yang beralamat di kelurahan Kepatihan, kecamatan Banyuwangi Kota, didominasi warna hijau dan loreng khas Banser. Mereka menyatakan komitmen untuk menjaga semangat kepemudaan.

Ketua GP Ansor Banyuwangi Sukron Makmun Hidayat mengimbau para kader Ansor untuk melandasi setiap gerak langkah dengan niat jihad. Sesuai dengan sejarah perjuangan para ulama dalam mencetuskan Resolusi Jihad.

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

"Kita harus mampu memberi suri teladan kepada seluruh masyarakat, keluarga dan adik-adik kita bahwa setiap langkah dan pergerakan kita selalu berlandaskan jihad, semangat keihklasan," tegas Sukron.

Belajar Muhammadiyah

Sukron juga mengucapkan rasa terima kasih kepada pemerintah Jokowi yang telah memberikan penghargaan terhadap Resolusi Jihad. Atas anugerah ini, ia berharap seluruh masyarakat Indonesia khususnya kader Ansor untuk terus bahu-membahu berjuang mengisi kemerdekaan.

"Langkah yang telah dilakukan kader Ansor dalam memerangi kebodohan, kemiskinan dan lainnya, harus terus dilakukan demi terwujudnya kesejahteraan di Indonesia," imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali mengajak seluruh kader Ansor untuk terus bersemangat dalam keikhlasan setiap pergerakan.

"Ansor itu tidak boleh melempem. Ansor harus terus bersemangat. Seperti para santri dan ulama di masa penjajahan, mereka terus berjuang dengan tulus ikhlas," ucapnya.

Di sela-sela acara yang mengusung tema “Menggerakan Kembali Ruh Perjuangan Ulama-Kiai” ini juga dilakukan pengukuhan pengurus Rijalul Ansor, majelis dzikir dan sholawat di tingkat cabang GP Ansor Banyuwangi. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Pemurnian Aqidah, Warta Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Gerakan Pemuda Ansor Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo mengadakan pembacaan sholawat nabi bersama-sama, Kamis (4/1) malam. Kegiatan ini rutin diadakan setiap 2 minggu sekali secara bergiliran dan berkesinambungan di Kelurahan Ketapang.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan yang diikuti oleh 70 orang peserta itu juga dilakukan dialog interaktif tentang meneguhkan amaliyah NU dalam bingkai kebhinekaan. Kegiatan ini mengambil tema Meneguhkan Amaliyah Ahlussunnah wal jama’ah Dalam Bingkai Kebhinekaan.

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Selain jajaran pengurus GP Ansor Kelurahan Ketapang, kegiatan ini juga melibatkan Lurah Ketapang, Babinsa, Babinkamtibmas, Karang Taruna, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat dan masyarakat Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Lutfi Abdurrohman mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi amaliyah NU serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai kebhinekaan. “Semoga dengan kegiatan ini para pemuda Ansor tetap kompak dan berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal jamaah,” katanya.

Menurut Lutfi, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini Ranting GP Ansor Ansor Kelurahan Ketapang ke depannya akan tetap eksis dan istiqomah menjalankan amaliyah-amaliyah NU.

Belajar Muhammadiyah

“Tentunya, semakin maju dengan program-program pemberdayaan pemuda. Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang menjadi penjaga keutuhan NKRI dan penjaga kebhinekaan dan GP Ansor menjadi penjaga Islam rahmatan lilalamin,” tegasnya.

Pembina Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Masyhuri Nurzah mengatakan, keberadaan Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wadah bagi para pemuda, untuk memberikan penguatan paham-paham ke-NU-an bagi para pemuda dari pengaruh-pengaruh gerakan Islam radikal sehingga Ansor menjadi tameng penjaga NKRI dari rong-rongan gerakan Islam kiri.

“Mudah-mudahan GP Ansor menjadi wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan perekonomian melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang digagas dan didirikan oleh Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah

Sebanyak 36 area pohon seluas 36 lapangan sepak bola rusak setiap menitnya di seluruh hutan di dunia. Lalu apa yang harus dilakukan manusia terhadap pohon-pohon yang memberi udara untuk dihirup? Haruskah manusia diam pada deforestasi dan degradasi hutan yang menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara dan berkontribusi hingga 15 persen dari emisi gas rumah kaca global?

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Riky Ryan Saputra selaku koordinator gerakan, di Blambangan Umpu, Ahad (26/6), menerangkan, "Sedekah Oksigen" merupakan gerakan menanam pohon 50 buah di setiap pesantren, targetnya 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

"Perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem. Contoh peristiwa cuaca ekstrem telah memakan ribuan nyawa, dari gelombang panas yang mematikan di India dan Pakistan hingga banjir parah di Malawi, Mozambik, dan Madagaskar. Melindungi hutan dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa," kata Riky.

Belajar Muhammadiyah

Ia melanjutkan, pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat.

"Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca," ujar dia lagi.

Belajar Muhammadiyah

Selain bertujuan untuk mendorong kemandirian pesantren, penanaman pohon melalui gerakan "Sedekah Oksigen" juga diperlukan. Manusia membutuhkan pohon untuk bernafas.

"Pohon juga merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75 persen air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses yang dikenal dengan evapotranspirasi," paparnya.

Dengan demikian, imbuhnya, manusia dan hewan memiliki ketergantungan pada hutan, pada pohon, kehidupan sehari-hari mahkluk hidup harus ditopang dengan keberadaan pohon.

"Untuk menyatakan perlawanan terhadap perubahan iklim, kita harus menjaga hutan, menjaga keberadaan pohon guna memastikan kemungkinan masa depan yang cerah, manusia dan seluruh organisasi harus bersama-sama mengambil tindakan melawan perubahan iklim," paparnya.

"Sedekah Oksigen" diinisiasi Gusdurian Lampung, didukung Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia Wilayah Lampung.

"Sedekah Oksigen" berupa satu pohon buah seperti alpukat mentega, mangga Thailand, nangka dak (persilangan nangka dan cempedak), dan kelengkeng aroma durian senilai Rp50 ribu. Diambil dari pembudidaya teruji di Pekalongan, Kota Metro. Bagi yang berminat "Sedekah Oksigen" bisa menghubungi nomor 081540890056, 085367282712, atau 082279005826. Sedekah bisa disalurkan ke rekening BRI: 035701112732504 a.n Disisi Saidi Fatah. (Anisa Yuliani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Belajar Muhammadiyah

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Belajar Muhammadiyah

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Belajar Muhammadiyah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf

Saudara-saudara seiman, di bulan Zulhijjah ini kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah haji bagi mereka yang melaksanakan. Sebagaimana kita maklumi bersama, tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka‘bah sebanyak 7 kali putaran sebagaimana tertuang dalam ayat Al-Qur’an.

? ? ? [?: 29

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf

Artinya, “Hendaknya mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah),” (Surat Al-Hajj ayat 29).

Belajar Muhammadiyah

Syarat Tawaf

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika melakukan tawaf, Musthafa Said Al-Khin dan Musthafa Diyeb Al-Bagha dalam Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz I, halaman 396 menjelaskan syarat-syarat tersebut.

Belajar Muhammadiyah

1. Melaksanakan semua syarat sah shalat, yaitu suci, niat, menutup aurat, dan lain-lain, kecuali dalam tawaf, kita masih diperkenankan berkomunikasi dengan orang lain, sebagaimana hadits Nabi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tawaf mengelilingi Baitullah itu sama seperti shalat, hanya saja, Allah memperbolehkan berbicara di dalam tawaf.”

2. Pundak kiri lurus terus ke arah kiblat, tidak menoleh ke arah lainnya. Hal ini ditegaskan oleh Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i (Damaskus: Darul Qalam, 1992), juz I, halaman 403.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i dalam pendapat terbaru berkata, ‘Wajib menolehkan sekujur badan, karena yang diwajibkan dalam hal ini adalah menolehkan badan ke arah Baitullah, maka wajib menolehkannya sekujur badan sebagaimana kewajiban menghadap Ka‘bah dalam shalat.’”

3. Putaran berlawanan arah jarum jam, dan dimulai dari titik hajar aswad

4. Putaran dilakukan sebanyak 7 kali.

Jenis Tawaf

Selanjutnya, dalam tawaf, kita mengenal ada jenis tawaf yang hukum dan waktu pelaksanaannya berbeda-beda, yakni,

1. Tawaf Qudum (tawaf kedatangan), yakni tawaf yang dilakukan oleh pelaksana haji ifrad atau qarin saat memasuki Mekkah, sebelum melaksanakan wuquf. Bagi pelaksana haji tamattu’, tawaf ini tercakup ke dalam tawaf umrah. Hukum melaksanakan tawaf qudum ini ialah wajib sehingga jika tidak dilaksanakan, maka wajib membayar dam.

2. Tawaf Ifadhah. Tawaf ini merupakan rukun haji sehingga jika tidak dilaksanakan akan dapat membatalkan haji. Waktu pelaksanaan tawaf ini, yang utama ialah pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah melempar jumrah aqabah dan tahallul. Sedangkan waktu lainnya ialah sesudah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah keluarnya matahari di tanggal 10 Dzulhijjah. Tidak ada batasan waktu untuk akhir pelaksanaan tawaf ini, tetapi sebaiknya dilaksanakan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

3. Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Tawaf ini dilaksanakan sebelum jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Hukumnya wajib.

Selebihnya, bagi siapa saja yang menginginkan untuk melaksanakan tawaf, maka hukumnya adalah sunah sepanjang waktu.

Kesunahan dalam Tawaf

Pada saat melaksanakan tawaf, kita disunahkan melakukan hal-hal berikut.

1. Sebaiknya tawaf dilakukan dengan berjalan kaki, kecuali bagi mereka yang lemah.

2. Mencium hajar aswad, atau isyarat mencium hajar aswad setiap kali melintasinya.

3. Berjalan cepat saat putaran 1-3 dan berjalan biasa saat putaran 4-7.

4. Shalat sunah dua rakaat sesudah tawaf di belakang makam Ibrahim.

Demikian penjelasan singkat tawaf pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Gurutta Sanusi: Teladani Akhlak Nabi, Pahamilah Al-Qur’an!

Makassar, Belajar Muhammadiyah. Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan Anre Gurutta M Sanusi Baco menyerukan umat Islam untuk meneladani akhlak Rasulullah. Untuk mengetahui akhlak Nabi Muhammad, caranya adalah dengan memahami Al-Qur’an.

Gurutta Sanusi: Teladani Akhlak Nabi, Pahamilah Al-Qur’an! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gurutta Sanusi: Teladani Akhlak Nabi, Pahamilah Al-Qur’an! (Sumber Gambar : Nu Online)

Gurutta Sanusi: Teladani Akhlak Nabi, Pahamilah Al-Qur’an!

"Ketika dalam al-Quran melarang umat manusia berdusta, maka jangan dusta. Ketika Pemerintah tak dusta kepada rakyatnya, rakyat tak dusta kepada pemerintah; suami tak dusta kepada istrinya, istri tak dusta kepada suaminya, begitu seterusnya, maka akan terbentuklah negara madani (negara berperadaban)," ujarnya.

Gurutta Sanusi Baco menyampaikan hal itu pada acara Pekan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Universitas Islam Makassar (UIM) di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (11/1).

Belajar Muhammadiyah

Dalam acara bertema "Mentradisikan Cinta Rasul dalam Kampus Qurani" ini, ia juga mengingatkan bahwa salah satu akhlak Rasulullah adalah tidak pemarah. Inilah alasan mengapa Nabi tak pernah merasakan sakit kepala.

Belajar Muhammadiyah

“Olehnya itu jika UIM bercita-cita membentuk kampus qurani, maka teladanilah akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,” ungkapnya.

Gurutta Sanusi Baco juga menyitir sabda Nabi yang artinya, "Bahagialah orang yang pernah melihatku lalu dia beriman; dan lebih berbahagialah orang yang tidak pernah melihatku lalu dia beriman.” “Semoga kita semua tergolong dari hadis ini,” sambungnya.

Rektor UIM Majdah M Zain yang turut hadir mengajak, melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad ini, seluruh civitas akademika UIM untuk bersama-sama berjihad membangun kampus yang didirikan PWNU Sulawesi Selatan tersebut.

Tampak hadir para pengurus syuriyah dan tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan, para pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali, para ketua lembaga dan badan otonom PWNU Sulsel, para wakil-wakil rektor UIM, dan 500-an mahasiswa UIM ikut memeriahkan pekan maulid ini.

Sebelumnya telah dilaksanakan berbagai lomba, seperti lomba pembacaan kitab barazanji, shalawat, menulis puisi cinta rasul, menulis essai, dan kaddo’ minyak (masakah khas bugis) yang diikuti seluruh civitas akademika UIM, yaitu pejabat struktural, dosen, dan mahasiswa yang berlangsung sejak tanggal 4-10 Januari 2015 di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa

Blitar, Belajar Muhammadiyah. 41 pendekar Pagar Nusa Cabang Blitar Raya mengikuti pendadaran A’dhlo dan diklat pelatih. Acara berlangsung pada Ahad-Selasa (25-27/12) di Gedung Universitas Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa

Beberapa materi diberikan oleh tim instruktur dari Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim. Selain teknik beladiri standar IPSI dan keorganisasian, juga diberikan materi keaswajaan serta ke-NU-an.?

“Sejak dini kami tanamkan kepada siswa. Agar paham betul tentang Islam Ahlussunah wal Jamaah dan NU,” ujar Mohammad Makin salah satu panitia acara.

Dalam pelatihan tersebut, lanjut Makin, para instruktur menerapkan disiplin ketat. Sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal sesuai yang diharapkan pengurus.

Belajar Muhammadiyah

“Dalam diklat ini kami memakai pola pelatihan Banser. Sehingga para peserta sangat disiplin. Hasilnya dari 41 peserta 40 orang dinyatakan lulus. Satu orang tidak lulus karena mengundurkan diri,” jelasnya.

Dia berharap hasil diklat ini ada guna dan faidahnya untuk pengembangan organisasi Pagar Nusa ke depan. “Sebagai calon pelatih di tingkat sekolah dasar dan MI kami berharap mereka mampu melaksanakan tugasnya,” harapnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Cabang ? Pagar Nusa, H Abdul Munib. Ia mengaku sangat puas dengan hasil Diklat ini.?

“Kami berharap para alumni ini nanti bisa melaksanakan tugas keorganisasian dengan baik. Sebagai calon pelatih mereka harus membekali diri dengan berbagai persiapan. Khususnya mental spiritual disamping fisik dan tehnik,” katanya. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mensosialisasikan hasil-hasil muktmar ke-33 Nahdlatul Ulama, di auditorium PBNU Selasa malam (15/12). Kegiatan tersebut dipandu Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini.

Helmy Faishal Zaini mengatakan, di dalam tas yang diberikan usai registrasi ada beberapa buku panduan tentang pesantren, penguatan Islam Nusantara, termasuk buku aturan dasar dan aturan rumah tangga (AD/ART) NU. “Kita sudah cetak AD/ART hasil Muktamar Jombang. Hasil-hasil itu bisa dikaji dan dibaca,” katanya.

PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah

Dalam memahamami AD/ART yang begitu tebal, yang jumlahnya beratus-ratus halaman, akan ditemui kesusahan, ketika mensosialisasikan kembali kepada para Pengurus Cabang. “Nanti diajarkan bagaimana trik membaca yang mudah dan simpel,” ujar alumni Pesantren Denanyar Jombang ini.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan ini, Helmy menyampaikan beberapa progam yang baik yang sudah dan sedang dikerjakan PBNU termasuk di dalamnya jaringan yang dimiliki Nahdlatul Ulama. Progam yang sudah dikerjakan diantaranya adalah pelayaran santri bela negara bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia yang diikuti seribu santri.

Belajar Muhammadiyah

PBNU sedang menyusun peta persebaran pengurus NU sampai ke tingkat ranting (desa). Sehingga dalam progam persebaran akan lebih mudah untuk menentukan daerah-daerah yang menjadi skala prioritas.? “Untuk itu, kita perlu mendengar bagaimana kondisi wilayah-wilyah dari para pengurus yang hadir,” imbuh Helmy.

Dalam sosialisasi hasil muktamar, turut hadir para pengurus harian PBNU. Di akhir dibagikan juga buku 100 Ulama serta Atlas Walisongo. (Faridur Rohman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa secara de facto KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Pahlawan Nasional. Pasalnya seluruh proses mulai dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan (TP2GP) maupun Dewan Gelar sudah selesai.

"Secara de fakto Gus Dur sudah ? pahlawan, ada kemasyhuran dan keluhuran yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid," ujarnya usai melakukan zaiarah di Makam KH Abdurrahman Wahid di Komplek Pesanren Tebuireng Jombang, Sabtu (7/11) ? siang.

Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Mensos Khofifah juga meyakinkan bahwa tidak ada polemik atau tarik-menarik terkait penganugerahan gelar pahlawan kepada Presiden RI ke-4 ini. Penganugerahan pahlawan kepada Gus Dur itu hanya menunggu waktu yang tepat.

"Seluruh proses untuk pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur sudah selesai. Namun dari catatan dewan gelar, nama Gus Dur diendapkan dulu. Sambil menunggu saat yang tepat," katanya menjelaskan. Anggota Tim Dewan Gelar di antaranya adalah Prof Jimly Asshiddiqy dan juga Prof Azzumardi Azra.

Masih menurut Khofifah, sosok Gus Gur memiliki kemasyhuran dan keluhuran dalam satu titik yang sama. Ada orang yang dapat kemasyhuran tetapi tidak dapat keluhuran, begitu pula sebaliknya. "Gus Dur mempunyai kemasyhuran dan keluhuran. Dan secara ? de fakto Gus Dur sudah pahlawan, tinggal menunggu saat yang tepat saja. Untuk tahun ini kan sudah selesai penganugerahan pahlawan kemarin," papar Ketua PP Muslimat NU ini.

Meski tidak secara tegas Mensos menyatakan, bahwa pengaugerahan pahlawan Gus Dur tidak bisa diberikan tahun 2015 ini. Namun Khofifah menyatakan bahwa tahun ini penganugerahannnya pahlawan sudah selesai diberikan kepada 5 orang pahlawan nasional oleh presiden Jokowi pada tanggal 5 November 2015 kemarin. "Dua di antaranya dari Jawa Timur, satu Bali, satu dari Jogja, dan satu lagi dari Sulawesi," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Dikatakan Mensos, jumlah Pahlawan Nasional selama ini sudah sebanyak 163 orang, dengan dianugerahkannya 5 pahlawan lagi yang telah dianugerai gelar pahlawan nasional maka jumlah pahlawan nasional kini menjadi 168 orang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

?

Foto: Mensos Khofifah Indar Parawansa (berbusana hijau) saat berziarah ke makam Gus Dur di Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak kepada warga NU untuk aktif berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 15 Februari 2017. Partisipasi ini dinilai penting untuk menentukan masa depan daerah selama lima tahun ke depan.

Tentang perbedaan pilihan calon pemimpin, ia mengimbau agar hal tersebut disikapi secara wajar. Justru, menurut Kiai Said, ragam aspirasi itu perlu sebagai proses pendidikan politik warga.

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/2).

Belajar Muhammadiyah

Kiai asal Cirebon, Jawa Barat ini menilai, banyak orang luar atau pengamat yang melihat perbedaan di kalangan warga NU secara berlebihan karena tidak memahami disiplin berpikir pesantren yang biasa berselisih pendapat.

Kiai Said juga mengimbau kepada warga untuk hati-hati dengan politik uang. Ia mengingatkan bahwa yang lebih penting dari coblosan adalah hari-hari selanjutnya setelah pemimpin terpilih menunjukkan kinerjanya selama lima tahun mendatang.

Belajar Muhammadiyah

Karena itu, katanya, para pemilik hak suara perlu mempertimbangkan masak-masak siapa figur terbaik yang layak memimpin. Pertimbangan itu harus dimulai sejak sebelum, ketika, dan sesudah mencoblos. “Pemilih yang ngawur akan memilih pemimpin yang keliru,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Santri, Hadits Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

PCNU Bojonegoro Akan Bangun Rusunawa

Bojonegoro, Belajar Muhammadiyah. Demi meningkatkan perekonomian warga nahdliyin, PCNU Bojonegoro akan membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Namun sebelum dilaksanakan pembangunan, akan dilakukan survey dan verifikasi data.

PCNU Bojonegoro Akan Bangun Rusunawa (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Akan Bangun Rusunawa (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Akan Bangun Rusunawa

Kedatangan tim survey yang dilakukan Direktorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia Direktur Pemberdayaan Wakaf, Hamka disambut langsung Ketua PCNU, Cholid Ubed dan Rois Syuriyah KH Maimun Syafi’i beserta pengurus banom, lembaga, dan lajnah.

Menurut Hamka, kedatangannya ke Bojonegoro untuk melakukan survey dan verifikasi tanah wakaf kelayakan tempat, sebelum dibangun Rusunawa. Jangan sampai ketika akan dibangun, lokasi dan berkasnya tidak memenuhi persyaratan.

Belajar Muhammadiyah

"Rencananya akan dibangun tahun ini. Seluruh Indonesia ada lima tempat, Jawa Timur hanya Bojonegoro," jelasnya.

Pembangunan Rusunawa di tanah wakaf PCNU Bojonegoro anggaran dananya dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Tapi ia tidak tahu secara pasti nominal anggarannya, namun ia memastikan ada delapan lantai. Bagian bawah dijadikan pertokoan, lantai kedua aula dan beberapa kamar.

Belajar Muhammadiyah

"Rusunawa ini untuk masyarakat berpenghasilan rendah, masyarakat yang kurang mampu. Selain itu memfungsikan tanah wakaf sehingga tidak dibiarkan begitu saja," tuturnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Bojonegoro, Cholid Ubed berharap, pembangunan Rusunawa ini bisa segera dilaksanakan. Besar harapan warga nahdliyin Bojonegoro, adanya rencana ini dapat meningkatkan sumber daya ekonomi. Sehingga warga NU agar lebih berdaya nantinya.

"Semua kesiapan pembangunan Rusunawa, termasuk sertifikat, pengukuran, sosialisasi ke masyarakat sekitar sampai desa dan daya dukung lainnya akan dilengkapi," ungkapnya. (M Yazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat pada 8-10 Oktober bukan merupakan muktamar tandingan, karena tidak membicarakan figur, melainkan justru memberi masukan materi kepada forum muktamar.

"Itu bukan muktamar tandingan, tapi membicarakan NU ke depan untuk direkomendasikan kepada muktamar, kami tidak akan bicara figur, meski ada beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir," kata anggota OC Mubes Warga NU Abdul Quddus Salam di Surabaya.

Di sela-sela persiapan keberangkatannya ke Cirebon bersama satu bus rombongan asal Jatim, ia menjelaskan beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir antara lain Gus Dur dan KH Ilyas Ruchiyat (mustasyar), Masdar F Masudi (Katib Syuriah PBNU), dan Masykur Maskub (Lakpesdam).

"KH Sahal Mahfudh (Rois Aam Syuriah PBNU) dan Gus Mus (Syuriah PBNU) sudah menyatakan tidak hadir, tapi KH Muhaiminan Gunardo, Mbah Liem, KH Yahya Masduqi (tuan rumah), dan beberapa kyai kultural siap hadir, sedangkan KH Abdullah Abbas (Buntet) dan KH Abdullah Faqih (Langitan) masih dikonfirmasi," katanya.

Menurut dia, 500-1.000 peserta Mubes dari Jatim, Jateng, Jabar, DKI Jakarta, Banten, Bali, Lampung, DIY Yogakarta, Sulsel, Sumut, Jambi, Maluku, dan Aceh itu meliputi kiai kultural, kiai muda, kaum muda NU (KMNU), petani, nelayan, kaum miskin kota, dan buruh migran.

"Dari situ sudah jelas bahwa kami akan memperbincangkan persoalan warga NU yang selama ini kurang terperhatikan dan memperteguh posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang mengurus pendidikan, keagamaan, sosial, sektor informal, HAM, dan budaya, bukan politik," katanya.

Hasilnya, katanya, akan disumbangkan kepada Muktamar ke-31 NU di Solo pada 28 Nopember-2 Desember mendatang dalam bentuk buku untuk muktamirin, rekomendasi kepada panitia materi Muktamar ke-31, dan beberapa paper usulan untuk pilot project formasi gerakan NU ke depan.

"Karena itu, format kegiatan Mubes Warga NU itu akan dikemas dalam bentuk semaan Al-Quran, pengajian, bahtsul masail, pentas seni budaya, bazar dan pameran produksi warga NU. Untuk dana pun, kami kumpulkan secara swadaya," katanya.

Bahkan, katanya, kegiatan yang diperkirakan menelan dana Rp205,2 juta itu akan dibiayai dengan iuran dari beberapa peserta, iuran dari panitia lokal di Pesantren Babakan, dan partisipasi warga NU Cirebon dalam bentuk uang, beras, dan logistik lainnya.

Tentang kegiatan pokok, ia mengatakan bahtsul masail dan bedah buku akan menjadi acara pokok dengan materi ke-NU-an, Gerakan Sosial Warga NU, Pesantren dan Pendidikan, Capital Resources NU, Seni dan Budaya Pesantren, Demoralisasi, Khittah NU, dan Pembaruan.

"Semuanya akan dibahas sejumlah pembicara, diantaranya KH Tholhah Hasan, DR Mahasin, Agus Sunyoto, MM Billah, DR M Ali Haidar, Gus Dur, Ahmad Tohari, DR Mochtar Masud, KH Malik Madani, DR Thoha Hamim, A Gaffar Rahman, D Zazawi Imron, dan sebagainya," katanya.

Mengenai kesiapan Jatim sendiri, ia menambahkan peserta dari Jatim akan berangkat dengan bus (satu bus), mobil (puluhan), dan kereta api (perorangan). "Ada yang sudah berangkat, tapi paling akhir akan berangkat sore ini," katanya. (Mi/Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Senin, 18 Desember 2017

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal

Pandeglang,Belajar Muhammadiyah. Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Juri Ardiantoro menegaskan, sebagai wujud peran NU kepada keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, NU akan melakukan pengawalan terhadap pelaporan situs-situs radikal kepada pemerintah.

“Untuk mengawal pelaporan tersebut, LTN PBNU telah membuka email khusus situs.radikal@nu.or.id dan situs-radikal@nu.or.id untuk menerima laporan dari masyarakat yang selama ini merasa resah dengan keberadaan situs-situs tersebut,” katanya pada pembukaan pelatihan jurnalistik dan media sosial di Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Linahdlatil Ulama, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu sore (23/1).

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal

Hingga sore ini, kata Juri, sudah 35 url situs radikal yang masuk dalam pantauan NU. Ia memperkirakan, jumlahnya akan terus bertambah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Juri, aduan-aduan dari warga tersebut, dalam jangka waktu tertentu, akan direkap. Kemudian akan diserahkan kepada pemerintah, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Kominfo).

“Kemudian eksekusinya diserahkan kepada pemerintah karena itu wewenang mereka,” lanjut doktor bidang sosiologi ini.

Belajar Muhammadiyah

Langkah LTN PBNU tersebut, tambahnya, sejalan dengan sikap pemerintah. Presiden Joko Widodo dalamm rapat terbatas di istana negara pada 21 Januari 2016 lalu memerintahkan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara untuk menutup situs-situs radikal.

Pelatihan jurnalistik dan penggunaan media sosial dilaksanakan dua hari. Kegiatan tersebut diikuti remaja santri dari tiga kabuppaten yaitu Pandeglang, Serang, dan Lebak. Sebelumnya LTN juga mengadakan dua kali pelatihan internal lembaga dan banom NU.

Pelatihan tersebut merupakan rangkaian dari program roadshow pelatihan jurnalistik dan sosmed LTN PBNU ke pesantren-pesantren NU. Instruktur kegiatan tersebut adalah Ayi Fahmi, Hari Usmayadi, Malik Mughni, Abdullah Alawi. (Agus Susanto/AA)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Pemurnian Aqidah, PonPes Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

Oleh Cecep Zakarias El Bilad

Tujuh puluh dua tahun lalu era penjajahan berakhir. Kita baru saja memperingatinya. Perjuangan panjang nenek moyang kita, mempertaruhkan jiwa dan raga, akhirnya berhasil mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Namun betapapun beratnya sebuah perjuangan kemerdekaan, musuh yang dihadapi jelas wujudnya. Jelas pula posisinya, sehingga kita bisa bersembunyi, lari atau hadapi dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Tetapi, akan jauh lebih berat lagi ketika penjajah itu tak nampak wujudnya, dan tak jauh pula posisinya. Musuh itu bahkan menyatu dalam diri kita masing-masing, sehingga tak mungkin bersembuyi, lari atau menghadapinya langsung secara vis ? vis, yaitu hawa nafsu. Tanpa maksud mengurangi nilai kemuliaan jihad f? sab?llâh, jihad melawan hawa nafsu adalah perjuangan panjang dan sulit yang dijalani setiap orang sepanjang hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya:

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

? ? ? ? ?

“Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah.” (HR. Ahmad).

Mahluk merdeka

Belajar Muhammadiyah

Manusia tercipta sebagai mahluk merdeka. Ia lahir tidak menjadi budak siapapun, dan tidak pula untuk kepentingan siapapun. Namun, ini tentunya bukan berarti merdeka secara mutlak. Sebab sebagai mahluk, wujud manusia tidaklah berdiri sendiri. Ia semula tidak ada, lalu diadakan oleh Tuhan. Sebagai mahluk, ia juga tidak berdaya apapun.

Semua kemampuan yang ia miliki ialah juga ciptaan dan pemberian dari Sang Pencipta. Statusnya sebagai mahluk ini tidak akan pernah memberinya kebebasan/kemerdekaan yang mutlak. Ia merdeka dalam arti, tidak tunduk pada apapun dan siapapun sesama mahluk di alam semesta ini. Ia hamba Allah dan menghamba hanya kepada-Nya.

Jauh sebelum kelahirannya di dunia, manusia sudah sepenuhnya sadar akan status kehambaannya itu. Ia sadar bahwa kehidupanya di dunia kelak hanya mengemban satu visi yakni menjadi hamba Allah dan satu misi, menghamba kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-nya:

? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada-Ku.” (adz-Dzariyat, 56).

Kesadarannya itu bahkan diwujudkan dalam sebuah ikrar suci seperti yang Allah sendiri kisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka. Kemudian Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Agar kelak di hari Kiamat kamu tidak berkata sesungguhnya dahulu kami lalai dari hal itu” (al-A‘raf: 172).

Dalam kitab tafsirnya, Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi menyebut sumpah manusia kepada Allah ini dengan syahâdah al-fi?rah (ikrar suci), yakni ikrar manusia untuk mengesakan Allah (wa?dâniyyatihi). Ikrar ini terjadi di âlam adz-dzar, alam menjelang manusia diturunkan ke alam dunia. Menurut Syekh Asy-Sya’rawi, ayat ini menegaskan bahwa secara fitrah semua mahluk itu beriman kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Inilah yang sering disebut bahwa agama itu fitrah. Secara alami, manusia akan percaya bahwa alam raya ini ada yang menciptakan, dan Pencipta itu pula yang sekaligus mengatur peredarannya. Fitrah, dalam al-Mu’jam al-Wash?t, bermakna ?? ? ? ? ? ? ? ? (suatu potensi asal saat sesuatu mahluk diciptakan). Ini berarti, dari sekian potensi yang dibawa manusia sejak lahirnya, satu di antaranya adalah potensi ketuhanan ini.

Dari perspektif sains modern sendiri, sudah sejak lama manusia diyakini sebagai mahluk relijius. Agama sebagai fenomena alami, yang niscaya ada dalam kehidupan manusia. Setiap orang secara naluri percaya akan adanya suatu kekuatan di luar sana yang mendesain alam semesta ini, dan mengatur perjalanan setiap jengkal kehidupan.

Namun sesuatu itu keberadaannya di luar jangkauan akal dan pancainderanya. Naluri ini menjadi sumber dorongan manusia untuk menganut agama. Jesse Bering, seorang psikolog kontemporer Amerika dalam bukunya the God Instinct: The Psychology of Souls, Destiny and the Meaning of Life, mengistilahkannya dengan God Instinct (insting ketuhanan). Menurutnya, ini adalah unsur unik dalam diri manusia, yang membedakannya dari binatang. Unsur inilah yang melahirkan fenomena agama dan kepercayaan di setiap tempat dan zaman.

Penjara tubuh

Tibalah giliran masing-masing manusia diturunkan ke muka bumi. Memasuki alam dunia, wujud ruhani itu dimasukkan dalam wadah tubuh jasmani. Di awal perjalanannya, ia mulai belajar survive dan beradaptasi dengan lingkungan duniawinya. Itu dimulai dari ruang sempit rahim ibunya. Seiring waktu, tubuhnya yang semula segumpal daging, tumbuh menjadi janin. Setelah sembilan bulan, saat semua organ dan sistem tubuhnya sempurna, ia kemudian keluar dari ruang sempit itu ke ruang bebas alam dunia ini.

Hari berganti hari. Tubuh mungil itu terus berkembang. Yang semua lemah menjadi kuat; semula kecil semakin besar; semula pendek menjadi tinggi. Semua unsur terus berkembang tahap demi tahap, hingga akhirnya menjadi sosok remaja dan dewasa. Semula ia masih merasa canggung dengan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Lambat laun ia mulai meniru dan membiasakan diri. Berkat bimbingan orangtua dan orang-orang di sekitarnya ia pun menjadi terbiasa.

Tahun berganti tahun. Ia sudah mulai akrab, betah, dan akhirnya bisa merasakan manisnya kehidupan dunia. Ia mulai kenal nikmatnya makanan, lembutnya belaian, bagusnya pakaian, asiknya permainan, dan seterusnya. Memasuki usia remaja, kesannya tentang kehidupan pun semakin mendalam. Ia sudah bisa merasakan indahnya pemandangan, cantiknya lawan jenis, asyiknya bergaul, manisnya ilmu, bangganya prestasi, dan seterusnya.

Saat dewasa pun tiba. Ia semakin merasa dunia ini sebagai tempat terbaik. Bagaimana tidak, ia sudah bisa menikmati nikmatnya pujian, asiknya rumah tangga, enaknya banyak uang, indahnya kemewahan, hebatnya kekayaan, kekuasaan, pangkat, jabatan dan seterusnya. Dunia menjadi tempat yang begitu menakjubkan baginya. Bila perlu, ia ingin hidup seterusnya di dunia, terlebih jika “kebetulan” ia memperoleh itu semua dengan mudah.?

Di sinilah manusia mulai merinci daftar keinginan, merangkai cita-cita dan merancang rencana-rencana hidup. Waktu menjadi terasa sangat berharga. Hari demi hari ibarat susunan anak tangga yang dilalui menuju satu demi satu keinginannya.

Di satu sisi, ia sebenarnya sadar bahwa jatah hidup di dunia ini terbatas. Pada saatnya pasti akan berakhir. Namun di sisi lain, dunia ini sudah terlampau indah baginya dan ia sudah terlanjur jatuh cinta. Target-target hidup sudah dipancang. Usaha untuk meraihnya pun sudah dilakukan lahir dan batin. Secara lahir, ia bekerja dan belajar. Kegagalan demi kegagalan ia alami, namun ia terus bangkit.?

Tahap demi tahap, jenjang demi jenjang ia lalui dengan sebar, demi meraih daftar-daftar keinginannya. Tak hanya secara lahir, usaha-usaha batin pun dilakukan, terutama di saat-saat kondisi sulit/terjepit. Ia rajin beribadah dan berdoa, memohon agar Allah memudahkan usahanya meraih setiap keinginannya.

Demikianlah cara umumnya manusia melalui fase hidupnya di dunia. Mereka tentu sadar hidup ini hanya sementara, tapi mereka seolah mencoba melupakannya. Sampai tak lagi merasa jika jatah waktunya di dunia kian habis. Saat ajal tiba, ia mungkin sedang giat-giatnya bekerja, belajar, bercengkrama, bersenang-senang.?

Keinginannya masih banyak yang belum terpenuhi. Masih banyak cita-cita yang belum tercapai. Masalah masih banyak yang belum diselesaikan dan tanggungjawab pun masih besar, di keluarga, kantor, organisasi, masyarakat. Namun ajal tak bisa ditunda. Maka kematian menjadi terasa begitu menyakitkan.

Dijajah nafsu

Seperti sudah diuraikan, manusia adalah mahluk dua dimensi, lahir dan batin; jasad dan ruh. Setelah ruh dan jasad dipersatukan, seperti kata Imam al-Ghazali dalam I?yâ ‘Ul?mudd?n, jasad menjadi kendaraaan bagi ruh (manusia) selama menjalani fase kehidupannya di dunia.

Kemudian, dalam menahkodai tubuh, ruh memiliki satu organ/sistem dalam “tubuh”nya yang disebut an-nafs, yang dalam konteks ini sering diartikan sebagai hawa nafsu atau syahwat. Dalam terminologi pakar kejiwaan Muslim seperti Ibnu Sina dan Mullâ ?adrâ, hawa nafsu diistilahkan dengan an-nafs al-?ayawâniyyah (nafsu hewani).?

Sejatinya, keberadaan hawa nafsu ini adalah fitrah, sebagaimana fitrah-fitrah lainnya dalam diri manusia. Ia adalah unsur ruhani yang menjadi sumber gerak tubuh. Ia menggerakkan dan memproses seluruh organ dan sistem tubuh, pencernaan, pertumbuhan, perkembangbiakkan, penginderaan, dan lain sebagainya.

Dari sinilah bersumber semua rasa dan hasrat jasmaniah manusia. Ini tentunya terkait langsung dengan aktivitas fisik manusia, seperti makan, tidur, bangun, pergi, bekerja, seks dan lain-lain. Artinya, hawa nafsu merupakan penggerak berlangsungnya aktifitas dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia sebagai hasrat yang mendorong aktivitas-aktivitas itu dan sekaligus yang merasakannya.

Selain hawa nafsu, ruhani manusia juga memiliki bagian lain yang diistilahkan Ibnu Sina sebagai an-nafs al-insâniyyah (nafsu insani), yang mencakup qalbu dan akal-pikiran. Qalbu menjadi sumber spiritualitas dan akal-pikiran sumber intelektualitas. Aspek ruhani inilah yang mendorong manusia pada aktifitas keilmuan, intelektualitas, keagamaan dan filantropi.

Persoalannya adalah nafsu hewani mengontrol langsung aktivitas dasar manusia, seperti makan, minum, seks, penglihatan, pendengaran, dan lain sebagainya. Ketika ruh masuk ke dalam tubuh, aspek ruh inilah yang langsung berperan dan aktif bekerja. Saat tubuh masih gumpalang daging, ia menumbuhkannya jadi janin hingga lengkap dengan organ-organ tubuhnya.?

Jadilah janin itu bayi yang bergerak dan mengindera, hingga sempurna dan siap terjun keluar dari rahim sang ibu. Tahun berganti tahun, barulah nafsu insani aktif bekerja menumbuhkan kesadaran intelektual dan spiritual pada manusia baru itu.

Kondisi ini tentu saja menjadikan hawa nafsu lebih unggul dalam mengendalikan tubuh, dibandingkan pikiran dan qalbu. Sementara dalam konteks ini, tugas akal dan qalbu sebenarnya adalah untuk mengontrol dan membimbing aktifitas hawa nafsu.?

Seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam K?miyâ‘ as-Sa’âdah, jika diri manusia itu diibaratkan sebuah negara (mad?nah), maka tubuh itu adalah wilayah kekuasaan (dliyâ‘), syahwat itu ibarat perdana menteri (wâliy) yang mengatur pemerintahan atas perintah dan bimbingan raja. Sedangkan qalbu adalah sang raja (mâlik) dan akal adalah penasehat raja (waz?r).

Namun jika perdana menteri itu begitu cerdik dan kuat pengaruhnya, sementara sang raja lemah dan bodoh, maka seluruh kerajaan akan tunduk di bawah kendali sang perdana menteri, termasuk pula raja dan penasehatnya itu.?

Artinya, ketika hawa nafsu seseorang terlampau kuat mencengkram tubuh, sementara qalbu dan akalnya lemah, maka orang itu perilakunya sehari-hari akan hanya berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Qalbu dan akalnya pun akan bekerja menuruti perintah hawa nafsunya.

Ini kondisi ruhani yang umum dialami manusia, saat hawa nafsu menjajah wilayah kekuasaan qalbu dan akal. Untuk itulah Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai ilâh (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qolbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (al-Jatsiyah: 23)

Ketika hidup seseorang dipenuhi dengan keinginan-keinginan, maka hari-harinya akan dipenuhi dengan rangkaian kesibukan untuk mencapainya satu demi satu. Jika ia berhasrat jadi seorang PNS, misalkan, maka dia akan mengejarnya. Tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga, semuanya akan dipertaruhkan. Perasaannya akan selalu diliputi harapan dan kecemasan, yang hanya hilang jika ia sudah berhasil. Sebaliknya jika gagal, ia akan dirundung stres dan kesedihan.

Satu keinginan terpenuhi, muncullah keinginan-keinginan berikutnya. Dan manusia, pada saat bersamaan, selalu punya lebih dari satu keinginan. Hidupnya akan disesaki berbagai kesibukan demi mengejar daftar kemauan syahwatnya: uang, rumah, sepeda motor, mobil, tanah, pekerjaan, pangkat/jabatan, kekuasaan, istri/suami, anak-cucu, hiburan, hobi, ilmu, prestasi, gelar, dan lain sebagainya.

Ia terjebak dalam jejaring keinginan dan kesibukan yang diciptakannya sendiri atas perintah syahwat. Dan itu berlangsung hampir sepanjang hidupnya, dan menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya. Namun di sisi lain, ibadah dilakukan hanya sekedarnya. Bahkan, momen-momen sakral itu pun, misalnya shalat, puasa, haji, infak, sedekah, tak jarang dijadikan sarana ruhani untuk memuluskan keinginan-keinginan duniawinya itu.

Kemauan nafsu tak pernah habis. Dan untuk setiap kemauan, nafsu akan menggerakkan tubuh tuannya (manusia) untuk melakukan apa saja untuk memenuhinya, meskipun hal itu bisa berakibat buruk bagi dirinya sendiri ataupun melanggar batas-batas aturan syari’at.?

Dalam qalbunya, orang mungkin sadar bahwa suatu perbuatan itu salah/dosa dan akalnya pun tahu jika itu berbahaya, namun karena desakan syahwat yang begitu kuat, ia tetap melakukannya. Ia juga tetap menikmatinya. Keadaan seperti ini, berarti seseorang sudah menjadi hamba bagi hawa nafsunya. Seperti dikecam Allah dalam ayat surat al-Jatsiyah di atas.

Tentang kondisi manusia semacam itu, Allah SWT juga berfiman:

? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh manusia itu kepada Tuhannya ingkar. Mereka mengakui keingkarannya itu. Kepada harta-benda, cintanya begitu besar.” (al-‘Adiyat, 6-8).

Ia selalu sadar bahwa Allah adalah Tuhan (ilâh), dan hanya kepada-Nya ia mengabdikan diri. Namun jeratan hawa nafsu begitu kuat, qalbu dan akalnya yang lemah tak mampu mengendalikan apalagi membebaskannya. Akhirnya, sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan semua yang dimilikinya, didedikasikan bukan untuk Allah, tapi untuk mengejar semua yang diinginkan nafsu hewaninya. Bahkan terkadang ia rela melanggar aturan-aturan Allah, hanya demi menuruti kemauan “tuhan” kecilnya itu. Inilah barangkali yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, serta yang menundukkan matahari dan bulan. Niscaya mereka akan menjawab “Allah”. (al-Ankabut, 61).

Sampai di sini, jelas bahwa musuh terbesar kita sampai detik ini adalah syahwat/hawa nafsu. Setiap insan sudah beriman kepada Allah jauh sebelum ia lahir ke muka bumi. Namun, seperti dikatakan Syekh Asy-Sya’rawi saat bicara tentang syahâdah al-fi?hrah, hawa nafsulah yang kemudian melalaikan kita dari ikrar suci itu.?

Sedangkan hawa nafsu itu sendiri adalah bagian penting dari diri selama kita menjalani hidup di dunia. Oleh karenanya, perjuangan kita untuk merdeka dari belenggu hawa nafsu menjadi begitu berat dan sulit. Terlebih ini adalah perjuangan abadi di sepanjang hidup kita.

Sebentar lagi ‘Idul Adha tiba. Saat yang tepat untuk menyelami makna pengorbanan Ibrahim a.s dan puteranya Isma’il a.s. Keduanya menjadi teladan bagi kita tentang insan yang merdeka dari penjajahan hawa nafsu. Telah sekian lama Ibrahim menanti hadirnya seorang putera, namun setelah hadir dan beranjak dewasa Allah justru menyuruhnya menyembelih putera kesayangannya itu.

Jika melirik pada kemauan syahwat, perintah itu tentu sangat berat bagi Ibrahim. Namun, dengan penuh kesadaran dan ketulusan sebagai hamba Allah, Ibrahim a.s tetap taat melaksanakan perintah itu. Demikian halnya sang putera, Isma’il a.s.

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana kesungguhan kita berjuang membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu, kembali menjadi hamba Allah sepenuhnya. Selagi masih ada sisa umur dan badan masih sehat. Dahulu kita terlahir sebagai hamba Allah yang merdeka, kelak mati pun semoga dalam keadaan merdeka pula. Âm?n.

Penulis adalah Dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren

Jember, Belajar Muhammadiyah



Apresiasi yang luar terhap santri disampaikan oleh Bupati Jember, Faida saat menjadi pembina Apel Santri di alun-alun Jember, Jumat (17/11). Menurutnya, santri merupakan bagian penting dan jumlah yang besar di Kabupaten Jember. 

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren





Oleh karenanya, momentum Hari Santri Nasional, perlu dijadikan tonggak sejarah untuk mendorong santri dalam mengambil peran yang lebih masif di bumi Jember. 



Belajar Muhammadiyah



"Santri bagian penting di Kabupaten Jember. Kita sepakat bahwa membangun Jember tidak lepas dari membangun sumberdaya santri," ucapnya.

Belajar Muhammadiyah





Dalam kesempatan tersebut, Faida menyebut 3 peranan pesantren. Pertama adalah sebagai rumah santri, yaitu tempat belajar, tidak hanya tafaqquh fiddin. Tapi juga tempat belajar ilmu-ilmu yang lain. 





Dikatakannya, banyak lembaga yang menspesifikasikan dirinya sebagai tempat spesialis belajar hanya satu bidang ilmu. 





"Tapi pesantren adalah tempat belajar dan mendalami agama dan ilmu-ilmu lainnya. Jadi komplit," tuturnya.





Kedua, pesantren merupakan lembaga perjuangan. Adalah realitas yang tak terbantahkan bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan santri. 





Katanya, kalau dulu santri berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, tapi sekarang sebagai penjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 





"Sebagai benteng terakhir penjaga NKRI adalah pondok pesantren dan santri," lanjutnya.





Ketiga adalah sebagai lembaga pengabdian di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Ia mengajak masyarakat agar peringatan Hari Santri ini dijadikan momentum kebangkitan Jember sebagai kota santri. 





"Kebangkitan ekonomi kerakyatan akan dimulai dari kebangkitan ekonomi para santri di pondok-pondok pesantren," tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi).  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kyai, Internasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

Ternate, Belajar Muhammadiyah. Menindaklanjuti instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah NU Maluku Utara, Senin (14/11) menyelenggarakan program Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang dirangkai dengan agenda Konferensi Wilayah (konferwil). Program ini dilaksanakan tiga hari di Kota Ternate.

Ketua PWNU Maluku Utara H. Adam Marus mengatakan, MKNU adalah proses kaderisasi NU untuk menyiapkan pemimpin internal. Ada beberapa capaian ditargetkan, antara lain menyiapkan tokoh-tokoh ulama kampung yang sadar akan visi maritim.?

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

“Di Jawa ada banyak pesantren yang menjadi basis kultural NU. Pesantren di sini tidak sebanyak di Jawa. Di sini adanya Johu Guru (kiai kampung) yang menjadi ujung tombaknya (yang menjaga amaliyah-amaliyah NU),” kata H. Adam di sela rehat pelatihan.

Menyiapkan kepemimpinan NU berbasis maritim menurutnya menjadi kebutuhan NU di Maluku Utara yang tak terbantahkan. ? Dengan kata lain, kalau mau jadi kader NU di Maluku Utara, semua harus punya militansi maritim. Ini mengingat Maluku Utara adalah provinsi kepulauan paling strategis di mana gugus-gugusnya melimpah kekayaan alam.

Belajar Muhammadiyah

“Jauh sebelum Indonesia berdiri, sejak abad 14 wilayah Kesultanan di sini sudah dikenal hebat di Eropa. Itulah alasan kenapa di abad itu orang Belanda orang Portugis datang ke sini,” paparnya.

Hadir langsung sebagai pemateri dan fasilitator dalam MKNU di Malut ini lima utusan PBNU. Mereka yakni H Sultonul Huda, H Endi AJ. Soefihara, KH Mujib Qulyubi, H Robikin Emhas, dan H Aizzuddin Abdurrahman. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, RMI NU, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Rabu, 09 Agustus 2017

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, PBNU Gulirkan Madrasah Pengkaderan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menindaklanjuti amanat Muktamar ke-33 NU di Jombang, PBNU siap menggulirkan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). MKNU merupakan jenjang pematangan dan penguatan kapasitas pengurus yang bersifat wajib di semua tingkatan.?

“Muktamar NU di Jombang mengamanatkan kepada PBNU untuk menyiapkan sebuah sistem kaderisasi di level struktural NU. Nah, MKNU inilah realisasinya,” kata anggota Pokja Kaderisasi PBNU, Masduki Baidlowi di Jakarta, Selasa (21/6). ?

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, PBNU Gulirkan Madrasah Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kapasitas Pengurus, PBNU Gulirkan Madrasah Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kapasitas Pengurus, PBNU Gulirkan Madrasah Pengkaderan

Masduki yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PBNU menjelaskan, ke depan, MKNU secara administratif juga menjadi prasyarat bagi calon pengurus harian NU.

Ditargetkan selambat-lambatnya pada tahun 2018 nanti semua pengurus harian NU mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga pengurus besar sudah mengikuti MKNU.?

Dijelaskan, MKNU merupakan sistem pengkaderan pengurus yang matan serta modulnya sudah digodok oleh Pokja Kaderisasi PBNU. Ada beberapa target capaian MKNU. Antara lain terkait upaya menyelaraskan pemahaman Aswaja Annahdliyyah, upaya mengefektifkan garis kebijakan organisasi, dan upaya pemerataan kapasitas SDM pengurus. ? ?

Belajar Muhammadiyah

“PBNU sudah menyiapkan beberapa orang Tim Fasilitator MKNU. Penyelenggaraannya akan sesegera mungkin didistribusi ke PW dan PCNU. Dan MKNU perdana Insyaallah akan kami laksanakan 25 atau 26 Syawal nanti selama tiga hari, dengan peserta seluruh pengurus Tanfidziyah PBNU,” urai alumni Ponpes Sidogiri ini. (Didik Suyuti/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, PonPes, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock