Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Siswa Kelas XI Bahasa SMA Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Muhammad Taufiqurahman akan mewakili Indonesia di ajang kompetisi Chinese Britke di Beijing, Tiongkok mulai 14 hingga 30 Oktober mendatang.?

Motivasinya berangkat ke Tiongkok karena ingin mengangkat derajat orang tuanya dan derajat santri. Sebab selama ini dirinya mengaku tidak sependapat dengan anggapan bahwa santri itu hanya bisa mengaji saja. Pasalnya santri bisa menguasai berbagai ilmu, termasuk penguasaan bahasa asing.

Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok

Sebelum berangkat ke negeri tirau bambu tersebut, Taufik dilepas secara khusus oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Selasa (4/10).

Dalam kesempatan tersebut, secara khusus anak tunggal pasangan Munawar dan Lasmiwati ini unjuk kebolehan dengan berpidato menggunakan Bahasa Mandarin. Dengan fasih dia berpidato yang intinya ingin memperkenalkan diri dan pamit. Selama kurang lebih 2 (dua) menit, dia berpidato tanpa ada rasa canggung.

Usai berpidato, Tantri meminta agar dalam yang diikuti oleh 60 negara lainnya di dunia ini Taufik juga memperkenalkan potensi dan ikon yang ada di Kabupaten Probolinggo. “Kenalkan Kabupaten Probolinggo dengan menggunakan bahasa Mandarin. Sampaikan kalau disini ada Gunung Bromo,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Taufik bercerita bahwa dalam lomba nanti ada 4 (empat) hal yang harus diikuti selama berada di Tiongkok. Meliputi, tes tulis, pidato Bahasa Mandarin, tanya jawab dan penampilan kebudayaan daerah.

Belajar Muhammadiyah

“Tiga hari pertama di Beijing, nantinya akan dilakukan pengenalan lingkungan dan kunjungan ke KBRI. Selanjutnya akan diadakan lomba individu, lomba antar negara dan lomba antar benua,” jelasnya.

Sebagai persiapan ke Beijing ini, Taufik mengaku jauh-jauh hari sebelumnya sudah melakukan persiapan baik latihan maupun pemantapan. Terlebih dengan makanan yang ada di Beijing. “Tetapi disana sekarang sudah banyak makanan yang halal,” tambahnya.

Keikutsertaannya dalam lomba ini bagi Taufik adalah ingin mengangkat derajat orang tua dan santri. Sebab banyak isu beredar jika santri banyak yang kurang terampil dan tak meyakinkan, baik dari segi komunikasi maupun lainnya. “Makanya dengan ini kami ingin membuktikan kalau santri juga mampu dan tak kalah dengan lainny. Saya ingin mengangkat derajat para santri,” tegasnya.?

Sementara Kepala SMA Nurul Jadid Faizin Syamwil mengatakan bahwa saat ini sudah ada 58 anak didiknya yang sudah menjadi mahasiswa di Tiongkok. “Memang di sekolah kami sudah menerapkan program unggulan bahasa,” katanya.

Faizin mengharapkan agar keberangkatan Taufik ke Tiongkok ini bisa memberikan motivasi kepada siswa yang lain di Kabupaten Probolinggo bahwa tidak ada yang tidak mungkin kalau mau belajar dan berusaha. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Quote Belajar Muhammadiyah

Jumat, 16 Februari 2018

Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Antar Pondok Pesantren VII dan MTQ Internasional I antar lembaga-lembaga Al-Qur’an di Pontianak Kalimantan Timur pada Oktober 2011 mendatang.



Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir

Khusus untuk persiapan MTQ Internasional I, PP JQH NU akan mengadakan studi banding ke Mesir pada saat diberlangsungkannya MTQ Internasional di sana, pada 29 Agustus hingga 5 September 2010 mendatang.

Rombongan yang akan berangkat ke Mesir antara lain Ketua Umum PP JQH KH A. Muhaimin Zen, Pengurus PP JQH Hj. Khadijatus Sholihah, Sekretaris PW JQH Kaltim Muhammad Zuraini Ikhsan, dan Bendahara PW JQH Kaltim Hj. Sri Wahyuni.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Umum PP JQH KH Muhaimin Zen, rombongan akan berangkat ke mesir pada Sabtu, 28 Agustus dan akan mengikuti pelaksanaan JQH hingga usai. Selain memimpin studi banding, dirinya juga bertindak sebagai pembina peserta MTQ Internasional Mesir dari Indonesia.

Adapun materi studi banding yang dilakukan meliputi sistem penyelenggaraan, sistem rekrutmen peserta, sistem perhakiman, tata tertib peserta, pedoman standar peraturan kejuaraan serta hak dan kewajiban peserta.

?

Belajar Muhammadiyah

“Untuk keperluan studi banding itu kami akan bekerjasama dengan KBRI setempat dan PCINU di Mesir,” kata Muhaimin Zen di kantor PP JQH, lantai 4 PBNU Jakarta, Senin (23/8).

Diharapkan studi banding atas pelaksanaan MTQ Internaional di Mesir ini dapat menjadi pelajaran penting dalam pelaksanaan MTQ Internasional yang dilaksanakan PP JQH di Kaltim tahun depan.

Selain ke Mesir, rencananya PP JQH dan PW JQH Kaltim juga akan mengadakan studi banding atas pelaksanaan MTQ Internasional di empat negara, yakni Arab Saudi, Jordan, Libya, dan Malaysia. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nasional, Meme Islam, Daerah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

LAZISNU Pekalongan Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Rob

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah



Pimpinan Wilayah Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (PW LAZISNU) Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah menyalurkan bantuan kepada warga terdampak rob di Desa Pecakaran dan Desa Api-Api, Kecamatan Wonokerto, Jumat (23/6).?

LAZISNU Pekalongan Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Rob (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pekalongan Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Rob (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pekalongan Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Rob

Bantuan berupa uang tunai dan sembako diserahkan langsung oleh Ketua LAZISNU Kabupaten Pekalongan, H Suhaimi. Terdapat sedikitnya 135 warga dhuafa dan anak yatim di kecamatan tersebut yang menerima manfaat.

“Walaupun jumlahnya tak seberapa, semoga (bantuan) ini akan membawa berkah untuk semuanya,” kata Suhaimi saat menyerahkan bantuan.

Rob di kedua desa terjadi sejak 2013, disebabkan pasangnya air laut. Seperti diketahui kedua desa berada di daerah pesisir. Pasang surut air laut di wilayah tesebut menyebabkan terkendalanya aktivitas warga, termasuk kesusahan mereka dalam kegiatan ekonomi.

Belajar Muhammadiyah

LAZISNU Kabupaten Pekalongan diresmikan 3 Juni 2017 dihadiri Bupati Pekalongan H Asif Qolbihi, PCNU dan banom NU di Kabupaten Pekalongan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Nahdlatul, Olahraga Belajar Muhammadiyah

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Ansorun Nada merupakan grup musik bentukan Pimpinan Anak Cabang gerakan Pemuda Ansor Genuk, Semarang, yang memfasilitasi anggotanya untuk mengekspresikan dirinya di dunia musik.

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansorun Nada, Musik Dakwah dan Sedekah

Sejak dibentuk grup sudah beberapa kali show disekitar wilayah kecamatan Genuk Semarang. Apalagi ini masih bulan syawalan banyak undangan menghampiri Ansorun Nada. Sehingga para personil selalu disibukan dengan berbagai persiapan dan latihan.

Ditemui saat show di rumah Rochim yang berada di wllayah Kelurahan Trimulyo, Ansorun Nada merupakan grup musik dakwah dan sedekah. Jadi musik bukan semata hiburan namun juga menjadi sarana dakwah menyebarkan nilai-nilai Islam sebagaimana kanjeng sunan Kalijaga sengan Wayangnya. Begitu juga dengan Musik Sedekan yang memiliki maksud bahwa Ansorun Nada tidak memungut tarif.

Belajar Muhammadiyah

“Jika ada yang memberikan amplopan itu hanya bentuk trima kasih. Begitupun kami menerimanya dengan senang hati, jika tuan rumah memberi hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih. Sebab perlengkapan alat musik Ansorun Nada kan butuh transportasi,” ucap Muhammad Shohim, Ketua Grup.

“Kami siap tampil jika ada yang meminta, baik itu acara pengajian, sunatan, acara pengantin maupun acara yang lain. Bisa menghubungi ke No: 02470651249,” lanjutnya

Belajar Muhammadiyah

Cahaya rembulan mengintip malu di balik awan dan Ansorunnada mengalunkan sholawat cinta kepadanya dgn hanya berharap mendapat syafaat dari sang khotamul anbiya dan ansorunnada menutup dakwah musiknya dgn syiir tanpo waton. Sholu ala Muhammad. (Lukni Maulana/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Belajar Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

Belajar Muhammadiyah

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Belajar Muhammadiyah

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. NU Care-LAZISNU menerima kunjungan sekaligus menggelar sarasehan bersama PC PMII Pekalongan pada Senin (1/05) siang, di lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat.?

Pada sarasehan yang diikuti 56 peserta itu, NU Care-LAZISNU dan PC PMII Pekalongan mengusung tema Implementasi Aswaja sebagai Manhajul Fikr dalam Ranah Lokal melalui Gerakan Filantropi Islam Nusantara.

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII

Slamet Tuharie, selaku narasumber, menyampaikan bahwa penyebaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Nahdlatul Ulama itu didorong dengan gerakan kedermawanan, gerakan filantropi.

“Aswaja NU yang dibawa Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, para founding fathers NU ada ghirah kedermawanan, kepedulian di dalamnya. Ada spirit filantropi di dalamnya. Kita sebut sekarang dengan filantropi Islam Nusantara,” jelas Slamet, yang menjabat sebagai Direktur Penyaluran dan Pendayagunaan PP NU Care-LAZISNU.

Belajar Muhammadiyah

Slamet memaparkan, filantropi Islam Nusantara saat ini sedang menemukan gairahnya. Hal ini, kata Slamet, terjadi dan terbukti setelah terselenggaranya Workshop Nasional NU Care-LAZISNU yang diadakan di Sukabumi, awal Februari 2017.

“Sukabumi menjadi tuan rumah Workshop Nasional dan menjadi pilot project NU Care-LAZISNU. Sukabumi, dengan semangat berbaginya yang tinggi, kini memiliki Klinik ZIS, ambulan, peternakan kambing, dan kesuksesan lainnya. Semangat NU Care-LAZISNU Sukabumi menginspirasi NU Care-LAZISNU di banyak daerah, seperti Sragen yang sedang membangun Rumah Sakit NU, atau Kulonprogo dengan program pemasangan lampu, dan Banyumas yang program zakatnya sukses bersinergi dengan penyuluh Kemenag juga guru Ma’arif NU,” papar Slamet.

Selanjutnya, terkait ranah lokal, Wasekjen GP Ansor Pusat Caswiyono Rusydie menerangkan bahwasanya mahasiswa itu harus peka terhadap isu-isu lokal. Tiap mahasiswa punya tanggung jawab sosial. Semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi pula tanggung jawabnya. Berbeda tanggung jawab antara anak SD dengan mahasiswa.

“Mahasiswa harus bergumul dengan problem-problem sosial, paham dengan isu-isu di daerahnya masing-masing. Apalagi PMII. PMII itu harus banyak bergerak, karena namanya juga pergerakan. Kalau sahabat PMII cuma bolak-balik kampus dan kos, perlu dipertanyakaan status PMII-nya,” terang Caswiyono, selaku narasumber kedua.

Caswi, sapaan akrabnya, juga menekankan kepada para kader PMII untuk bergerak di banyak bidang, baik itu sosial, politik, budaya, maupun ekonomi.

Belajar Muhammadiyah

“Di tengah maraknya isu radikalisme, kader PMII selain turut meng-counter sekaligus mengampanyekan Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam Nusantara, juga harus bergerak di bidang lainnya. Di bidang ekonomi misalnya, sahabat-sahabati PMII bisa fokus dengan program entrepreneur. Intinya PMII itu harus banyak bergerak, harus dekat dengan persoalan masyarakat,” ucap Caswi.

Ketua PC PMII Pekalongan Hasan Fasani mengatakan bahwa sarasehan dan diskusi mengenai implementasi Aswaja dan filantropi Islam Nusantara akan ditindaklanjuti di Pekalongan.

“Sebelumnya, PC PMII Pekalongan menghaturkan terima kasih sekali atas sambutan dan apresiasi NU Care-LAZISNU. Kemudian, mengenai gerakan filantropi dan isu-isu lokal di daerah tentu akan kami follow-up. Kami ingin mengundang NU Care-LAZISNU Pusat ke Pekalongan untuk tindak lanjutnya,” ungkapnya. (Wahyu Noerhadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Menjadi pegiat organisasi di Nahdlatul Ulama hendaknya diniati untuk berkhidmat demi meninggikan panji dan kalimat Allah SWT, bukan untuk memperoleh kedudukan apalagi keuntungan materi. Hal inilah yang membedakan dengan para aktivis di organisasi lain.

"Saat aktif di NU, jangan sekali-kali memiliki motivasi merebut jabatan, apalagi untuk mendapatkan keuntungan materi," kata Nyai Hj Nur Zainab Nur, Ahad (24/7). Pesan ini disampaikannya saat acara halal bi halal dan silaturrahim Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Puteri Pelajar Nahdlatul Ulama lintas generasi di aula PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah ? Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jatim yang tetap semangat meskipun hadir dengan menggunakan kursi roda tersebut mengingatkan para aktifis kekinian untuk bisa belajar ketulusan kepada para pendahulu. "Untuk dapat melakukan konsolidasi, dulu kami harus rela numpang truk karena kendaraan memang terbatas dan tidak memiliki ongkos yang cukup," terangnya.

Demikian pula untuk memantau perkembangan organisasi, undangan rapat sering dititipkan lewat secarik kertas untuk dapat memastikan akan melaksanakan koordinasi di waktu dan tempat yang ? telah ditentukan. "Kami sangat menghargai kesempatan bertemu," kenangnya.

Belajar Muhammadiyah

Meskipun sebagai pelajar perempuan, para pegiat IPPNU kala itu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh kalangan Ikatan Pelajar NU atau IPNU. "Saat akan ada rapat bersama IPNU, kami melakukan rapat sebelumnya untuk membahas sejumlah persoalan sekaligus membagi siapa yang akan menjadi juru bicara," katanya disambut aplaus hadirin.

Nyai Hj Nur Zainab Nur kemudian menceritakan bagaimana para pelajar perempuan NU kala itu harus mendatangi para pengusaha dan kantor pemerintah untuk mendapatkan dana ketika hendak menyelenggarakan kegiatan. "Satu demi satu kami datangi," kata perempuan yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.

Di akhir paparannya, kembali mantan Ketua PW Muslimat NU Jatim ini mengingatkan para aktifis IPNU dan IPPNU era kekinian untuk menjaga ketulusan niat dan juga kekompakan. "Jaga terus niat kalian dan tetap kompak," pungkasnya.

Sejumlah ketua dan aktifis PW IPNU dan IPPNU Jatim dari berbagai angkatan hadir pada kegiatan tersebut. Bahkan mantan Ketua Umum PP IPNU, H Abdullah Azwar Anas turut hadir dan memberikan sambutan. Bupati Banyuwangi dua periode tersebut juga mengundang seluruh hadirin untuk bergabung pada acara halal bihalal yang diselenggarakan Majelis Alumni IPNU tingkat nasional, 28 Juli mendatang. Kegiatan akan dilaksanakan di Banyuwangi sekaligus mengenalkan sejumlah destinasi wisata kebanggaan kota paling timur di Jatim tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, IMNU, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock