Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany

Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah.

Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya.

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saat bulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta berarti ‘dewa’ atau ‘dewi’. Dalam prakteknya, memang agak sulit untuk menghubungkan arti keduanya dengan konteks adat yang dilakukan.

Belajar Muhammadiyah

Adat membiasakan pembuatan bubur suro untuk peringatan suroan menghubungkan kemuliaan bulan asyura sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Pada bulan yang mulia ini banyak sekali peristiwa sejarah yang terjadi. Diatanranya persitiwa diterimanya taubat nabi Adam dan hawa oleh Allah, diselamatkannya nabi Nuh dan para pengikutnya setelah terombang-ambing lama dengan perahunnya di tengah laut lepas, pertama kalinya nabi Musa mendapat wahyu di gunung Sinai, dibebaskannya nabi Yusuf dari penjara atas tuduhan asusila terhadap Zulaikha.

Dalam sejarah Cirebon Walangsusang putra pertama Prabu Siliwangi pergi meninggalkan kerajaan juga terjadi pada bulan Asyura. Walangsungsang mengembara mencari ilmu hingga bertemu dengan Syaikh Datu Kahfi yang menuntunnya masuk Islam. Dari sinilah akhirnya masyarakat Cirebon mengadakan adat Suroan dengan membuat bubur sura dan dibagi bagikan kepada yang membutuhkan.

Belajar Muhammadiyah

Tradisi lain yang hidup di masyarakat Cirebon adalah Saparan. Yakni adat yang dilakukan masyarakat Cirebon untuk memperingati? bulan shafar, bulan kedua dalam kalender Islam dan Jawa. Mereka mempercayai bahwa pada bulan shafar ini Allah memberikan banyak ujian dan cobaan baik berupa kecelakaan, kematian, kemal angan bencana dan kerugian. Dalam memperingati bulan tersebut, masyarakat mengadakan saparan dengan mengadakan ngapem, proses pembuatan apem untuk dibagikan kepada saudara, kerabat dekat, tetangga, dan orang-orang yang berada di sekitar rumah dengan niatan bershodaqoh.

Tradisi yang kedua yaitu ngirap; proses ngirap sendiri yaitu berhubungan dengan penyucian diri dari segala macam salah dan dosa dengan bertaubat agar terhindar dari marabahaya. Dan yang terakhir yakni rebo wekasan, adat rebo wekasan biasanya dimulai dari ba’da isya sampai menjelang shubuh di mana serombongan antara sempat sampai sepuluh orang laki-laki membaca Al-Qur’an di tajug (mushala) kemudian berkeliling desa dari rumah ke rumah untuk mendoakan rumah yang dikunjungi dan biasanya pihak rumah memberikan sedekah berupa apa saja pada mereka yang datang.

Tradisi lain yang hidup di Cirebon adalah Mauludan. Biasanya dilakukan pada saat bulan Mulud (Rabiul awwal). Adat ini diniatkan untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad. Puncak dari mauludan yakni panjang jimat yang diadakan keraton Kasepuhan Cirebon. Tujuannya untuk menjaga keberadaan alat-alat pusaka yang dimiliki keratin. Sesuai dengan namanya, adat ini juga bertujuan untuk panjang (tiada henti) jimat (siji kang dirumat). Jadi proses adat panjang jimat ini merupakan simbol kepedulian untuk mempertahankan sepanjang hayat atau tanpa henti dari kalimat syahadat atau agama Islam.

Tradisi berikutnya adalah Rajaban. Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan bulan Rajab. Masyarakat Cirebon memperingatinya dengan berkumpul bersama di mushala atau masjid kemudian membacakan diba’i atau asyraqalan. Asyraqalan yaitu proses pembacaan shalawat pujian kepada nabi Muhammad dengan berdiri.

Di setiap tradisi adat ini masyarakat Cirebon menilainya sebagai ritual tambahan di luar rukun Islam yang dijalankan oleh kaum muslim sebagai syiar agama. Dengan demikian, ritual tambahan ini bukan termasuk ibadah dalam pengertian sempit. Sebagian upacara adat ini tak dapat dipungkiri merupakan hasil kreasi kebudayaan yang diciptakan oleh umat muslim sendiri, sementara sebagian lain tidak jelas asalnya tapi semuanya bernuansa islami.

Dalam membaca budaya dan adat Cirebon tentu tidak hanya terbatas pada adat istiadat yang berlaku dan dijalankan oleh masyarakatnya. Perlu juga kiranya melihat bagaimana kepercayaan masyarakat Cirebon terhadap Tuhan sehingga mereka dapat melahirkan adat yang bernuansa religi baik dari segi kemanfaatan atau dari segi proses upacara adat tersebut.

Bagi masyarakat Cirebon, orang suci atau wali yang notabene membangun dan menjaga? budaya di Cirebon memiliki penilaian yang tersendiri. Masyarakat Cirebon sangat menghormati bahkan memuliakan mereka baik sebagai wali maupun sebagai pendiri kerajaan. Sehingga banyak sekali tempat-tempat wali atau leluhur yang berpengaruh di Cirebon dijadikan tempat keramat yang biasa diziarahi baik dari masyarakat Cirebon ataupun dari luar Cirebon. Termasuk di dalamnya pesantren yang merupakan poros kuat dalam proses penyebaran tradisi keagamaan semua ini saling menopang antara pemerintahan dan juga tradisi keagamaan yang dimiliki masyarakat Cirebon.

Mohamad Ramdhany, peneliti Farabi Institute, Kandidat Magister Sejarah Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Ubudiyah, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Maret 2018

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir

Kairo, Belajar Muhammadiyah. Warga Mesir telah menyetujui amandemen konstitusi negara tersebut, dan ini merupakan kemenangan elektoral pertama bagi rezim yang didukung militer menyusul lengsernya Muhammad Mursi Juli lalu.

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir

Amandemen konstitusi tersebut mendapat persetujuan 98,1% dari 38,6% pemilih yang hadir, ujar kepala Komisi Tinggi Pemilihan Umum Mesir. Angka itu melampaui jumlah orang yang setuju dan hadir dalam penyusunan piagam dalam masa satu tahun pemerintahan Presiden Muhammad Mursi.

Hasil itu setidaknya menunjukkan adanya fajar baru bagi Mesir, ujar Ehab Badawy, juru bicara kantor kepresidenan. Demikian dilaporkan oleh laman wall stret journal.

Belajar Muhammadiyah

Setelah amandemen disetujui, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry meminta para pejabat Mesir menerapkan ketentuan hak asasi manusia.

“Amerika Serikat mendesak pemerintahan sementara Mesir menerapkan ketentuan mengenai HAM dan kebebasan yang dijamin oleh Undang Undang Dasar baru,” ujarnya seperti dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri. Ia pun berkata, “bukan satu satu suara yang menjadi penentu demokrasi, namun pelbagai langkah yang ditentukan setelahnya.”

Belajar Muhammadiyah

Menurut sejumlah kelompok dan aktivitas kemanusiaan, rendahnya jumlah pemilih golput menjadi gambaran mengenai berlanjutnya tekanan kepada kelompok penentang.

Isi UUD perubahan dipandang sama dengan sebelumnya dengan penekanan kekuatan militer, judisial, dan kepolisian.

Militer Mesir mengumumkan peta jalan setelah Mursi dilengserkan lewat kudeta berdarah.

Bulan lalu, pemerintahan sementara mengganggap Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris.

Pemerintah pun mengeluarkan aturan unjuk rasa yang telah menjebak puluhan aktivis sekuler penentang peta jalan militer.

Kelompok kemanusiaan dan pengamat independen mengecam pemilu yang legitimasinya rusak berkat adanya kelompok dan suara penentang.

Sebelum referendum Selasa, sejumlah orang yang menyerukan golput ditangkap.

“Transisi demokratis harus ditandai dengan adanya kebebasan lebih luas. Namun, hak demokratis warga sangat terhambat oleh warga Mesir sendiri,” ujar Eric Bjornlund kepala misi pengamatan Demokrasi International. “Tapi, masa pasca-referendum memberi peluang bagi adanya partisipasi politik lebih luas.”

Menurut kelompok tersebut, tidak terdapat bukti penyelewengan sistematis. Namun, terdapat sejumlah cacat pemilu yang dapat berujung pada kondisi golput seperti jarak antarbilik pencoblosan yang terlalu dekat. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 13 Februari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Belajar Muhammadiyah

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Belajar Muhammadiyah

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi’ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathabai. Bagaimana ceritanya?

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi’ah. Abah menjawab, "Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa". Saya bertanya, "kalau begitu saya juga boleh membacanya?" Abah mengangguk.

Belajar Muhammadiyah

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathabai itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kitab tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang Syi’ah? Saya berpendapat, "Tidak!"

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mutazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi’ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong.

Belajar Muhammadiyah

Kedua, keliru besar kalau dikatakan tafsir al-Misbah hanya merujuk pada tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqai yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqai ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqai dan Thabathabai, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Quran karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathabai yang beraliran Syi’ah Imamiyah, al-Biqai yang bermazhab Syafii, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir Syi’ah karya Thabathabai tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh Syi’ah-Sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Ketiga, meskipun beliau mengutip tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathabai. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi’ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain. Setelah menguraikan pandangan Thabathabai, beliau menulis: "Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat". Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi’ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathabai menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang Muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata "akh/saudara" dalam ayat ini. Dengan merujuk pada QS al-Taubah: 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi "ikhwanukum fid din" Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathabai di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata "akh/saudara" dalam al-Hujurat:12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga poin di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai Syi’ah dikarenakan beliau merujuk kepada tafsir al-Mizan ulama Syi’ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus menggelar orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) bagi mahasiswa baru di Kampus Jl Lambao Karangsambung Bae Kudus Jawa Tengah, Senin-Jum’at (26-30/8). 

Kegiatan dibuka Direktur Akbid Darningsih S.Sit. MH ini dengan jumlah peserta sebanyak 25 mahasiswa baru.

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Ketua panitia Rika Rahmawati mengatakan ospek bertujuan mengenalkan kegiatan program studi pembelajaran sekaligus melatih mental, fisik dan memberikan orientasi dasar pendidikan untuk mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui ospek ini, peserta memiliki kesiapan dan menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif dan mempunyai semangat yang besar dalam belajar di kampus Akbid Muslimat NU,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di sela-sela kegiatan, Selasa (27/8).

Belajar Muhammadiyah

Rika menambahkan mahasiswa baru juga mendapat bekal pengetahuan dan wawasan ke-NU-an dan penanaman aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). 

“Akbid ini menjadi kampus NU sehingga penanaman dan penguatan Aswaja menjadi sangat perlu dikenalkan kepada mahasiswa di sini,” imbuh mahasiswa semester tiga Akbid ini.

Direktur Akbid Darningsih mengajak mahasiswa baru untuk selalu memiliki semangat dan tidak memiliki keraguan belajar kebidanan. Hal ini dikarenakan bidan merupakan profesi yang sangat mulia yang menolong antara sesama.

“Masuk di Akbid harus semangat belajar meraih cita-cita masa depan sehingga kelak menjadi bidan yang bermanfaat dan membantu sesama,” tandasnya saat membuka kegiatan ospek.

Ia mengharapkan mahasiswa baru ini selalu terampil, siap dan kuat belajar mulai awal hingga akhir. 

“Kami berharap semua peserta menjadi mahasiswa yang terampil dan cekatan serta mempunyai kemampuan bekal pengetahuan yang cukup,” tandasnya.

Kepada Belajar Muhammadiyah, dia menjelaskan 25 peserta ospek ini merupakan pilihan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun akademik 2013/2014. 

“Selama ini, Akbid Muslimat NU membatasi quota penerimaan mahasiswa baru hanya 25 saja karena sarana prasarananya masih terbatas,” ujar Darningsih.

Dalam kegiatan ospek ini, berbagai materi ospek diantaranya pokok pendidikan akbid, tri darma perguruan tinggi, leadership dan keorganisasian, peran bidan dalam MDGS, ke-NU-an dan aswaja. Sementara narasumbernya, Ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan Bupati Kudus H Musthofa dijadwalkan turut menyampaikan materi.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Ubudiyah, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah

Pringsewu,Belajar Muhammadiyah. KH Sobri Dinal Mustofa semua amal yang dilakukan di dunia jangan hanya fokus kepada kuantitas namun kualitaslah yang perlu diutamakan. Meki demikian, jika seseorang yang masuk sorga sebetulnya bukan karena amalnya, melainkan rahmat Allah.

KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah

“Rahmat dari Allah lah yang akan menentukannya. Jangan pula merasa sudah banyak simpanan amal dan pahala, kita tidak beramal lagi," ingatnya pada Jihad Pagi ( Ngaji Ahad Pagi) di Gedung NU Pringsewu, Ahad (5/4).

Kiai yang Mustasyar PCNU Pringsewu menyampaikan juga bahwa semua amal tergantung kepada niatnya. Sementara niat itu lebih baik dari amal itu sendiri.

Belajar Muhammadiyah

Oleh karena itu, ia mengajak para jamaah untuk benar-benar menata niat dalam melakukan segala hal. "Walaupun itu nampaknya bentuk amal dunia, namun jika diniati dengan benar, amal tersebut bisa termasuk amal akhirat."

Kaitan dengan keistiqomahan amal, Kiai Sobri juga mengharapkan kegiatan Jihad Pagi harus terus dengan istiqomah dilaksanakan. Hal ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat dalam menambah ilmu pengetahuan dan memperdalam pemahaman Islam rahmatan lil alamin.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Sobri sangat menyambut antusias kegiatan Jihad Pagi ini. Menurut dia, pola pengajian tersebut perlu dicontoh di lingkungan Nahdliyyin. "Jamaah rela datang tepat jam 6 pagi, tidak ada minum kue, pemateri tidak diberi bisyaroh perlu dipertahankan" tegasnya.

Ia menambahkan, bukan cuma pencari ilmu saja yang perlu berkorban. Dalam menyampaikan ilmu pun, seperti para kiai, dai dan ustadz, perlu berkorban dalam menyampaikan dakwah-dakwahnya.

Kegiatan jihad pagi tersebut dipandu langsung Bupati Pringsewu H Sujadi dan disiarkan langsung melalui Radio Pemerintah Daerah Rapemda Pringsewu 107,2 FM. Tampak hadir Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua LBM Provinsi Lampung Ust. Munawir dan para santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah

Surabaya, Belajar Muhammadiyah - Saat ini, perkembangan informasi demikian pesat. Sejumlah kabar yang beredar di masyarakat, tidak hanya bisa diterima dari kantor berita, juga lewat media sosial atau medsos. Karenanya pesantren lewat para kiai dan jaringan alumni serta santri juga harus ambil peran.

"Seperti diketahui, medsos saat ini sudah menjadi mode dan media komunikasi yang tidak terelakkan, menjadi gaya hidup di semua lapisan bahkan mampu mengalahkan komunikasi lisan," kata Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jatim H Ahmad Najib AR, Selasa (15/8).

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah

Ia menyambut baik kegiatan Ngaji Medsos yang diselenggarakan alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri, beberapa waktu berselang.

Belajar Muhammadiyah

Bagi Gus Najib, justru keberadaan medsos yang demikian massif ini dapat dijadikan sarana dalam berdakwah. "Karena itu, dakwah pesantren mau tidak mau harus masuk ke wilayah medsos ini," terangnya.

Dalam pandangannya, alumni pesantren harus tampil sebagai garda terdepan demi menjaga nama baik dan kehormatan pesantren di ruang publik termasuk di medsos. "Ketika seorang kiai atau pesantren dicaci maupun difitnah, maka yang bisa membela adalah alumni, bukan santri yang masih ada di pesantren," terang alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sebagai solusi, Gus Najib berharap ajaran dan nasihat kiai pesantren harus mulai banyak dipublikasikan ke masyarakat secara luas, termasuk lewat medsos. "Karena dengan cara itu dakwah pesantren bisa dikenal publik sekaligus menjadi pembendung ajaran lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah an-nahdliyah yang berpotensi merusak tatanan," pungkasnya.

Belajar Muhammadiyah

LTNNU Jatim bersama Forum Komunikasi Putra Delta PP Al-Falah Ploso Mojo Kediri di Sidoarjo menyelenggarakan Ngaji Medsos; Media Dakwah Santri di Era Cyber. Kegiatan diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji, Buduran, Ahad (13/8) lalu. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah - Di Jawa Tengah, aksi penolakan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 23 Tahun 2017 tentang kebijakan Full Day School (FDS) tidak hanya disuarakan masyarakat di Semarang. Di Sukoharjo, puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi damai di bundaran Kartasura, Jum’at (20/7).

Dalam aksi damai ini puluhan mahasiswa membawa bendera dan atribut bertuliskan pernyataan penolakan. Aksi ini diawali dengan melakukan berjalan dari Kampus IAIN Surakarta menuju bundaran Kartasura.

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Ketua PMII Sukoharjo Helmy Zulfikar Zaki, yang menjadi salah satu orator dalam aksi ini menilai peraturan FDS membawa dampak buruk bagi sekolah pesantren dan agama yang sudah mengakar di masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau peraturan ini dilaksanakan, beberapa pondok dan sekolah sekolah agama pasti akan mati. Karena dalam peraturan tersebut menerapkan jam sekolah hampir 8 jam. Dan juga kita memprihatinkan kondisi siswa dan murid yang harus terkuras energinya untuk menerima pelajaran,” tegas Helmy.

Belajar Muhammadiyah

Ditambahkan dia, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan tersebut. “Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan tersebut, sebab setiap daerah dimungkinkan berbeda budaya dan kondisi sehingga semestinya kebijakan ini tidak bisa disamaratakan untuk semua daerah,” ujarnya.

Selain orasi, rangkaian dilanjutkan dengan membentuk lingkaran serta bershalawat bersama. Hal ini dilakukan sebagai simbol bahwa kebijakan itu sangat merugikan masyarakat pada umumnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Poligami Menjawab Pertanyaan Munkar Nakir

KH Abdullah Faqih dikenal sebagai kiai yang sangat dihormati. Di zaman pemerintahan Gus Dur, nama beliau sering disebut karena salah satu ulama khos yang dirujuk presiden ke-4 RI itu. Sosok kharismatik ini pun tak lepas dari guyonan.

Dalam suatu pertemuan dengan para kiai, Kiai Pesantren Langitan itu mengingatkan para kiai agar tidak memiliki hobi berpoligami. Lho, apa pasal? Kata Kiai Faqih, "Kebanyakan orang berpoligami itu suka

berbohong."

Kiai Poligami Menjawab Pertanyaan Munkar Nakir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Poligami Menjawab Pertanyaan Munkar Nakir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Poligami Menjawab Pertanyaan Munkar Nakir

Para kiai hanya senyam-senyum.

"Ingat lho ya,” tambahnya, “Kalau suka kawin lagi, terus sering membohongi mbok

Belajar Muhammadiyah

tuwo
(istri tua) nanti di kubur bisa bermasalah ketika menghadapi pertanyaan Munkar

Nakir."

Belajar Muhammadiyah

"Kok bisa begitu kiai?" Salah seorang kiai bertanya.

"Lho ya, ketika ditanya oleh Munkar Nakir man robbuka, lha kok dijawab

qobiltu nikahaha watazwijaha bil mahril madzkur kan jelas bermasalah

jawaban itu".

Gerrrr….

(Muhammad Nuh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa tahun silam.

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Kegiatan akan diselenggarakan di aula lantai 8 kantor PBNU, jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Senin (1/10) pukul 18.30 WIB dan akan dipimpin oleh sejumlah kiai.

Selain tahlilan, PBNU juga akan mengeluarkan pernyataan sikap terkait peristiwa G30S PKI dan beberapa pemberontakan yang dilakukan PKI sebelumnya. Sejumlah peneliti dan pelaku sejarah juga akan memberikan testimoni mereka dalam forum ini.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu ? diwartakan, Ahad 30 Septermber 2012 tadi malam, ribuan orang menghadiri kegiatan tahlil akbar untuk arwah korban keganasan OKI di Monumen Bendo Magetan.

Belajar Muhammadiyah

“Di situ pada 1948, sebanyak 108 tokoh dibunuh secara kejam oleh PKI dan dimasukkan ke dalam satu sumur,” kata Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Fir’aun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.

Dalam ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Fir’aun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling “unjuk kebolehan”.

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Fir’aun ini pun mantab menyatakan beriman.

Fir’aun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Fir’aun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.

Belajar Muhammadiyah

Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Fir’aun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Dalam perih, Asiyah berutur, “Wahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.”

Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.

Belajar Muhammadiyah

Fir’aun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan  menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.

Perilaku Fir’aun ini juga menandai  adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Fir’aun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.

Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Fir’aun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, News, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekitar seratus orang akan menjadi peserta Kirab Resolusi Jihad NU2016 mulai dari Bayuwangi (Jawa Timur) sampai ke Cilegon (Banten) dan akan berakhir di Jakarta. Mereka akan menumpangi 5 bus untuk mengantarkan dari satu kota ke kota lain. Meski demikian, ketika di sebuah kota, mereka akan berjalan kaki dalam jarak tertentu berkonvoi bersama warga NU.

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, dalam setiap bus akan ada seorang penghafal Al-Quran yang bertugas membaca Al-Qur’an blighaib sepanjang perjalanan.

“Satu bus, ada satu orang pembaca Al-Quran minimal satu kali khataman dari Banyuwangi sampai Jakarta. Kerjaannya baca Al-Quran, berurutan secara bilghaib,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di gedung PBNU, Jakarta, Senin (19/9).

Belajar Muhammadiyah

Ketika ditanya kenapa mesti ada yang membaca Al-Qur’an, menurut dia, itu adalah upaya spiritualitas perjalanan Kirab Resolusi Jihad NU 2016. Begitu juga tahun sebelumnya, di tiap bus ada satu orang penghafal.

Lebih lanjut, Ishfah menjelaskan aspek spiritualitas itu juga dengan menziarahi wali dan kiai. Ia merinci nama wali dan kiai yang akan diziarahi tersebut, yaitu pada hari pertama, setelah bertolak dari Banyuwangi akan ziarah ke makam KH R. As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo.

Belajar Muhammadiyah

Keesokan harinya, 14 Oktober akan berziarah ke makam Ziarah ke makam KH Abdul Hamid di Pasuruan. Lalu ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kemudian kembali ke Surabaya, berziarah makam Sunan Ampel.

Setelah itu, peserta kirab menuju ke Jombang. Mereka berziarah ke KH Muhammad Tamim Romli di Rejoso dilanjutkan ke Pesantren Tebuireng. Di pesantren tersebut akan menziarahi 3 tokoh penting NU yaitu Hadratussyaikh KH Hasyim As’ari, KH Wahid Hasyim, dan ke KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemudian dilanjutkan ziarah ke KH Bisri Syansuri di Denanyar. Disambung kemudian ke Tambakberas, ke makam KH Wahab Chasbullah.

Tujuan ziarah selanjutnya adalah makam Proklamator Kemerdekaan Indonesia Soekarno di Blitar. Kemudian di Ponorogo berziarah ke makam KH Hasan Besari di Tegalsari. Selanjutnya makam KH Ageng Basyariah dan Kyai Muhammad bin Umar di Madiun.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Kirab Santri Nusantara dengan peserta perwakilan lembaga dan banom NU, juga akan berziarah ke makam-makam KH Muslim Imampura, KH Ali Maksum, KH Munawwir, KH Nur Iman, KH Dalhar Watucongol.

Sementara di Jawa Barat akan berziarah ke makam KH Ilyas Ruhiat dan di Banten ke makam KH Abuya Muhammad Dimyati.

Di kota-kota yang akan dilewati, peserta kirab juga akan bersilaturahim dengan kiai, santri di sejumlah pondok pesantren, serta kantor-kantor PCNU. Kemungkinan jumlah kiai yang diziarahi, akan bertambah. Selain itu, juga akan dilaksanakan santunan kepada dhuafa.

Perjalanan Kirab Hari Santri Nasional tersebut akan berakhir pada tanggal 21 Oktober. Kemudian esok harinya, 22 Oktober akan digelar upacara bendera rencananya di Lapangan Banteng atau Tugu Proklamasi, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Budaya, Tegal Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni

Gorontalo, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo memperingati Haul Ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan tema “Mengemabalikan Nalar dan Gerakan Spritual Guru Bangsa dalam Bingkai Pluralisme”.

Kegiatan bertempat di gedung Martin Liputo (Limboto) pada Selasa tanggal 30 Desember 2014 tersebut dijadikan ajang silaturahim antaralumni PMII se-Gorontalo.

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni

Ketua panitia pelaksana, Opan, menyatakan bahwa kegiatan ini di laksanakan dalam rangka mengenang sosok sang Guru Bangsa yang dikenal dengan “Bapak Pluralisme”.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, silaturahim alumni PMII Se Gorontalo adalah upaya mempererat tali kekeluargaan antara warga pergerakan dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa yang humanis sebagai pengejewantahan baldatun thaoyyibatun warabbun ghofur. Atau, sambung dia, masyarakat Gorontalo yang Mutamaddin.

Hal senada juga di sampaikan Ketua PMII Kabupaten Gorontalo, Reza. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa pola pemikiran Gus Dur ini harus terus di perjuangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di Provinsi Gorontalo.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai warga pergerakan yang menganut paham Ahlusunnah wal-Jamaah, kata dia, tidak lepas dari 3 komitmen yakni ukhuwah islamiah, ukhuwah insaniah, dan ukhuwah wathoniah.

Hadir pada kesempatan tersebut perwakilan Pemerintah Daerah, PCNU Kabupaten Gorontalo, PWNU Gorontalo, anggota DPRD Gorontalo dan Anggota DPR RI Komisi A, Elnino (Ketua PW ISNU Gorontalo.(Zulkarnain/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Ubudiyah, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Habib Luthfy: Hanya Thariqah Organisasi yang Punya Sanad Hingga Rasulullah

Malang, Belajar Muhammadiyah. Meski saat ini ada banyak puluhan bahkan ratusa organisasi keagamaan bermunculan di muka bumi, tak menjadikan Jamiyyah Ahli Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah merasa berkecil hati.

Habib Luthfy: Hanya Thariqah Organisasi yang Punya Sanad Hingga Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy: Hanya Thariqah Organisasi yang Punya Sanad Hingga Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy: Hanya Thariqah Organisasi yang Punya Sanad Hingga Rasulullah

Walaupun masing masing mengklaim sebagai organisasi yang dilahirkan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, akan tetapi tak satupun yang menunjukkan memiliki jalur hingga Rasulullah.

Hal ini sangat berbeda dengan organisasi thariqah yang saat ini berkembang cukup pesat. Karena thariqah memiliki sanad yang menyambung dan tidak terputus hingga ke Rasulullah.

Belajar Muhammadiyah

Demikian dikatakan Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Hasyim bin Yahya saat memberikan tausyiyah di tengah tengah sidang pra multaqo sufi fil alam yang berlangsung di Hotel Tugu Kota Malang Kamis kemarin (13/1).

Dikatakan, thariqah tidak hanya berfungsi menjalankan kegiatan keagaaman semata seperti pembinaan jamaah melalui amaliyah ubudiyah saja, akan tetapi juga memilik tanggung jawab terhadap terciptanya perdamaian di muka bumi.

Belajar Muhammadiyah

Jika selama ini masih berjalan sendiri sendiri, maka sudah saatnya pada ulama sufi bersatu mengambil peran yang lebih untuk membantu masyarakat dunia, ujarnya.

Habib Luthfy berharap, jika tahriqah thariqah yang mutabar yang ada di muka bumi ini bersatu, betapa luar biasanya potensi yang dimiliki thariqah.

Oleh karena itu, tandas Habib Luthfy pertemuan awal ulama sufi dunia menjadi sangat penting dan diharapkan dapat menghasilkan keputusan keputusan yang mempunyai bobot bagi terciptanya perdamaian dunia dan thariqah Indonesia siap membantu dan memfasilitasi pertemuan lanjutan yang telah direkomendasikan oleh pertemuan ulama sufi.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abul Muis

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

FKB Perjuangkan Gus Dur Lolos UU Pilpres

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Pernyataan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang kesiapan dirinya maju menjadi calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mendatang, rupanya tak main-main. Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Dewan Perwakilan Rakyat RI akan memperjuangak Gus Dur agar lolos pada Undang-undang Pilpres.



FKB Perjuangkan Gus Dur Lolos UU Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
FKB Perjuangkan Gus Dur Lolos UU Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

FKB Perjuangkan Gus Dur Lolos UU Pilpres

Fraksi yang dipimpin Effendi Choirie itu akan berjuang agar UU yang dihasilkan nanti tidak mengganjal tokoh-tokoh yang akan bersaing, termasuk Gus Dur yang juga mantan presiden RI ke-4.

"UU harus memberi kesempatan pada semua tokoh. Jangan seperti kemarin. Karena itu kami mengamankan pencalonan Gus Dur kalau masih berkenan," kata Effendi di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (19/9).

Belajar Muhammadiyah

DPP PKB, lanjut dia, tidak akan menghalangi jika Gus Dur ingin kembali bertarung merebut kursi RI-1. Karena PKB yakin Gus Dur memiliki pertimbangan dan kalkulasi politik yang matang.

"Kalau dari DPP pasti akan merestui dan pasti kita dukung, karena DPP yakin Gus Dur sudah punya perhitungan kenapa sampai maju," ujar pria yang akrab disapa Gus Choi ini.

Belajar Muhammadiyah

Kalau nama-nama calon pendamping Gus Dur? "Masih lama diputuskan, karena saat ini DPP masih berkonsentrasi untuk konsolidasi partai dan mempersiapkan Gus Dur sebagai capres," ujarnya.

Gus Dur, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/9) kemarin, menyatakan, menyatakan siap maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden 2009 mendatang. Hanya saja ia akan maju jika diperintahkan lima orang kiai sepuh.

Ia mengatakan, salah seorang dari lima kiai sepuh, yang disebutnya berusia antara 75-93 tahun, telah memintanya maju, namun ia menunggu perintah dari kiai yang lain.

Namun demikian, saat itu, Gus Dur mengaku belum berkonsultasi dengan DPP PKB terkait kesiapannya maju sebagai capres. Ia mengatakan, hal itu tidak menjadi masalah, karena karena ia adalah Ketua Umum Dewan Syura PKB, maka pernyataannya bisa juga dianggap sebagai pernyataan PKB. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

NU Daerah Perlu Tulis Dirinya

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Warga Nahdlatul Ulama (NU) daerah perlu menulis dirinya sendiri. Tulisan NU daerah sangat diperlukan untuk menjadi rujukan bagi para siapa saja yang ingin memahami NU daerah yang bersangkutan.

Demikian dikatakan oleh Kepala Pengelola Perpustakaan PBNU Syatiri Ahmad kepada Belajar Muhammadiyah di Ruang Perpustakaan PBNU, Kamis (14/3) siang.

NU Daerah Perlu Tulis Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Daerah Perlu Tulis Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Daerah Perlu Tulis Dirinya

Menurut Syatiri Ahmad, tulisan terkait NU setempat penting untuk menjadi bahan evaluasi keaktifan NU di daerah itu. Tulisan itu dapat menjadi pedoman bagi pengurus dan warga NU setempat untuk mengembangkan kegiatan yang sudah ada.

“Karena, Perpustakaan PBNU kini hanya mengoleksi tulisan-tulisan PBNU. Sementara tulisan NU daerah terbilang sedikit yang dikoleksi oleh Perpustakaan PBNU,” ungkap Syatiri Ahmad.

Perihal itu disebabkan beberapa NU daerah yang sudah menulis, belum mengirimkan karya mereka ke Perpustakaan PBNU. Tetapi, banyak juga NU di daerah yang belum memulai untuk menulis dirinya sendiri, tambah Syatiri Ahmad.

Belajar Muhammadiyah

Syatiri Ahmad menambahkan, banyak subjek yang bisa ditulis oleh NU di daerah. Mereka dapat menulis sejarah NU, tokoh NU, kesenian, peribadatan, kebiasaan, dan pemikiran warga NU setempat.

Selain tulisan, NU daerah perlu mendokumentasikan bentuk koleksi lainnya seperti foto, video, dan aneka bentuk benda bersejarah dalam perjalanan NU setempat. Karenanya, kehadiran perpustakaan NU setempat menjadi penting untuk mewadahi semua dokumentasi itu, tegas Syatiri.

Belajar Muhammadiyah

Kerja penulisan dan pendokumentasian itu perlu melibatkan warga NU baik para pelajar, anak muda, dan kalangan akademisi, pungkas Syatiri Ahmad.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak

Riau,? Belajar Muhammadiyah

PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) resmi memberhentikan Nofel, aktivis Serikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Sarbumusi NU). DPW Sarbumusi NU Riau mengecam keras tindakan tersebut dan menilainya sebagai pemberangusan serikat pekerja.

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Riau Kecam Chevron atas PHK Sepihak

"Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK sepihak yang dilakukan PT CPI terhadap Nofel, Ketua Dewan Pengurus Basis Sarbumusi NU di PT CPI adalah suatu bentuk pelanggaran mengenai hak-hak asasi dan kebebasan berserikat sebagai tindakan pemberangusan serikat pekerja/serikat buruh," ujar Ketua DPW Sarbumusi Riau, Umrah HM Thalib, di Riau, Senin (24/10).

Tindakan PT CPI tersebut, ujar Umrah, merupakan bentuk pelanggaran dan perbuatan melawan hukum terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul termuat dalam konvensi ILO Nomor 87 Tahun 1948 tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi.

Konvensi tersebut telah diratifikasi dan dituangkan dalam Keputusan Presiden RI No. 83 Tahun 1998, dan Konvensi ILO tentang hak berorganisasi dan berunding bersama, 1949 (No. 98) telah diratifikasi dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 1956.

Belajar Muhammadiyah

"Konvensi nomor 87 dimaksudkan secara keseluruhan untuk melindungi kebebasan berserikat terhadap kemungkinan campur tangan pemerintah. Kemudian konvensi nomor 98 ditujukan untuk mendorong pengembangan penuh mekanisme perundingan kolektif sukarela," paparnya.

Nofel ialah ujung tombak dalam memperjuangkan, melindungi dan membela hak-hak pekerja/buruh atas kesewenang-wenangan ? PT. CPI.

Tapi secara serta merta dan tiba-tiba PT. CPI telah melakukan tindakan perlawanan yakni pemaksaan kehendak mem-PHK sepihak tanpa alasan yang jelas dan berdasar terhadap Nofel tanpa melalui proses dan prosedur hukum sebagaimana mestinya peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Selain alasan kesalahan dan pelanggaran atas perbuatan yang dituduhkan aturan yang dilanggar sebagai rujukan juga tidak berdasar karena perjanjian kerja bersama 2016-2017 yang dijadikan rujukan hukum sampai saat ini belum mendapatkan bukti surat keputusan pendaftaran dari Dirjen PHI dan Jamsos Kementerian Ketenagakerjaan RI sesuai diatur Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 28 Tahun 2014," Umrah menjelaskan.

Belajar Muhammadiyah

Hingga akhir April 2016, PT CPI telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 806 orang karyawan. 740 orang di antaranya dirumahkan sejak Maret 2016 akibat menjalankan program pengelolaan tenaga kerja dari total 1.600 pekerja. Latar belakangnya, bukan hanya karena harga minyak yang rendah, melainkan sejak tahun lalu, PT CPI sudah melakukan tinjauan terhadap bisnis dan operasi di lapangan. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 21 November 2017

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Bantul, Belajar Muhammadiyah. Acara pembukaan Bulan Budaya yang diadakan oleh PWNU DIY dalam rangka memperingati Harlah NU ke-90, Sabtu malam (11/5), berlangsung cukup ramai. 

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Hujan yang mengguyur daerah lapangan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, sebagai lokasi acara cukup deras. Namun semangat para personil group sholawat sebagai pengisi acara, yang mayoritas sudah tidak dapat dikatakan muda, tetap patut diapresiasi tinggi. 

Sebagai pra acara, malam itu diisi dengan penampilan dan kolaborasi tiga kelompok shalawat dari beragam jenis, yakni group hadrah ittihadul fata yang membawakan shalawat berbahasa Arab, kelompok sholawat emprak pesantren Kaliopak yang menyajikan shalawat dengan bahasa Jawa dan diiringi tarian, kemudian group shalawat ‘Kuda Mas’ yang memadukan shalawat dengan alat-alat musik Tionghoa.

Belajar Muhammadiyah

Alunan musik shalawat yang indah pun menggema malam itu. Selain sarat akan kandungan nilai-nilai agama yang disampaikan melalui seni musik, penampilan ketiga group shalawat yang beragam itu menunjukkan kolaborasi antar etnis yang berbeda, namun tetap dapat disatukan dan bernafaskan Islam pula.

Belajar Muhammadiyah

Usai penampilan ketiga group shalawat, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana kegiatan Bulan Budaya, Samsu Hadi Samono. Dalam sambutannya tersebut, dikatakan bahwa rangkaian kegiatan bulan budaya telah dimulai sejak pagi, yakni apel pagi sebagai bentuk kesetiaan terhadap Pancasila, kemudian kirap budaya dan Jatilan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat. 

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertegas kembali budaya-budaya NU yang sesuai dengan Negara Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Camat Piyungan, Agus Sulistiyana, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan jati diri bangsa, melestarikan budaya dan menggalang persatuan. 

“NU itu dapat merekatkan hubungan masyarakat, karena saat ini persatuan sedang terusik”, tegasnya.

Kemudian diperkuat lagi dengan pernyataan KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mempertegas kembali relasi Islam dengan budaya, terlebih Yogya yang dikenal sebagai pusat budaya. Bagi NU itu, lanjutnya, menjalankan Islam itu yang penting sesuai dengan syari’at. 

“NU itu mementingkan realitas, bukan sekedar formalitas,” tandasnya.

Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan wayang secara simbolik, dari Rais Syuriyah NU DIY, KH Asyhari Abta, kepada dalang, Ki Cermo Radiyo Harsono, sebagai tanda pagelaran wayang telah dimulai.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Oleh ? Imam Fadlli

“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”

Itulah sepenggal pidato KH Tholhah Mansur dalam Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Dari kalimat pendek tersebut, sangatlah jelas bahwa Pendiri IPNU mempunyai cita-cita sejak awal bahwa kelahiran IPNU pada tanggal 24 Februari 1954 atau bertepatan dengan tangal 20 Jumadil Akhir 1373 H adalah untuk membentuk dan mencetak pelajar dan santri Nahdlatul Ulama yang berilmu yang tidak berlagak elitis dan eksklusif. Berilmu dalam konteks pidato di atas, mempunyai makna yang kompleks, definisi berilmu disini penulis artikan sebagai kapasitas seorang kader yang harus mempunyai ilmu pengetahuan sekaligus kecerdasan.?

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Apa maksud dari pengetahuan dan kecerdasan yang penulis maksud adalah, seorang kader IPNU, adalah agen yang harus mempunyai modalitas wawasan (baca: pengetahuan) yang implementatif, ready to use. Sehingga, kecerdasan disini merupakan upaya untuk mempraktekkan segala wawasan yang dimilikianya. Karena, melalui dua modalitas inilah kader-kader IPNU akan menjadi aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.

Cita-cita ini, tentu dilandasi dengan asas ideologis yang bersumber dari teks al-Quran, sebagaimana yang teruraikan melalui pesan surah al-Mujadalah: 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) beberapa derajat. Landasan normatif ayat suci inilah yang menjadi pedoman pengembangan pengetahuan sekaligus kecerdasan agar selalu “kehausan” dalam meraup air-air ilmu pengetahun bagi para kader IPNU.

Namun, orientasi keilmuan ini tentu saja bukan dalam rangka mencapai ketinggian derajat semata, karena Kiai Tolchah dalam pidatonya tersebut melakukan taqyid al-makna,? yang menegaskan keilmuan tersebut harus dilandasi sikap yang dekat dengan masyarakat. artinya, kader IPNU harus mempunyai karakter, yaitu sikap yang siap sedia kapanpun masyarakat memanggil. Sehingga, sangat absurd jika ada seorang kader IPNU yang tidak dekat dengan masyarakat, merasa terasing dari denyut kehidupan warganya. Dari fenomena ini, maka harus ada yang dibenahi dari internal individual atau pola kaderisasi yang kurang tepat. Karena, sikap elitis inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Kiai Tolchah selaku founding fathers IPNU.

Belajar Muhammadiyah

Cita dan asa Kiai Tolchah diatas, selanjutnya disimbolisasikan melalui logo IPNU yang sangat sarat makna. Gambar bulu angsa misalnya, dalam logo tersebut dimaknai sebagai spirit keilmuan yang harus tetap dilakukan oleh para kader, kemudian karakter yang istiqomah, berkomitmen dan selalu tuntas dalam setiap kinerja disimbolkan dengan logo IPNU yang berbentuk bulat.?

Kemudian, bintang yang merupakan benda luar angkasa meniscayakan sebuah ketinggian harapan yang harus selalau tergenggam agar kader-kader tidak hanya hidup tanpa adanya cita-cita yang tinggi. Dari sekelumit kode-kode inilah, sebenarnya karakter keilmuan IPNU termanifestasikan dengan baik. Hal ituharus dipahami dan disadari oleh semua elemen pengurus, anggota, dan seluruh kader.

Sebuah kredo yang terkenal di IPNU: belajar, berjuang dan bertaqwa juga menjadi semacam world view yang mendarah daging, untuk terus melakukan kerja-kerja intelektual, sosial dan spiritual secara sekaligus. Selaras dengan makna nahdlah dalam nomenklatur Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan agama dan peradaban secara bersama-sama (nahdlah ad-diniyah wal madaniyah ma’an). Melihat kesinambungan gagasan konseptual serta falsafahnya, maka sangat masuk akal jika pembangunan dan keberlangsungan NahdlatulUlama sebagai garda pembentukan peradaban masyarakat Indonesia, berada dipundak kader-kader IPNU.

Untuk itulah, pembangunan kader-kader IPNU sama halnya dengan membangun NU di masa depan, dan memperhatikan NU sama dengan turut andil dalam membangun generasi bangsa Indonesia yang berkualitas di era yang akan datang. Selamat Harlah IPNU ke-63. Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Belajar Muhammadiyah

Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2015-2018.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Makam, Ulama Belajar Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Setelah dipugar pada Ahad (22/10), Rumah Tajul Husna (87) atau akrab disapa "Mang Ena" selesai dibangun. Meski tidak bisa berdinding bata layaknya rumah biasa, Mang Ena sudah bisa menempati rumah tersebut.

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)
Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun

Rumah yang lebih tepatnya disebut gubuk pun bertambah luas. Semula 3x4 meter, menjadi 4x5 meter karena ada tetangga sebelah yang mengikhlaskan tanahnya agar Mang Ena memiliki kamar mandi, lengkap dengan toilet di dalam rumah.

Dengan selesainya rumah tersebut, Mang Ena sudah bisa berlega hati. Pasalnya kalau tidur sudah tidak lagi kedinginan dan ketika akan ke toilet juga tidak perlu ke toilet tetangga. Kesimpulannya, anggota Banser tertua di Tasikmalaya itu sudah bisa tidur nyenyak dan layak.

Meski demikian, persoalan berikutnya soal biaya sehari-hari Mang Ena. Harus ada yang mengontrol kebutuhan makan minum dia karena sama sekali jarang terperhatikan.

Belajar Muhammadiyah

Dan jajaran GP Ansor serta Banser Kota Tasikmalaya sudah mengantisipasi hal itu dengan memberikan nomor telepon ke tetangga Mang Ena jika persediaan makanan habis.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berdirinya rumah Mang Ena. Terutama kepada PW GP Ansor Jabar, PCNU Kota Tasikmalaya dan donatur. Sumbangan sangat bermanfaat sekali sehingga Rumah Mang Ena bisa direhabilitasi.

"Kami ucapkan terimakasih atas segala bantuannya. Semoga dilipatgandakan oleh Allah SWT," kata Ricky, Kamis (27/10).

Mang Ena merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tertua yang masih hidup Kota Tasikmalaya. Lahir 6 Juni 1927, Mang Ena tinggal di sebuah gubuk lapuk di Kampung Leuwigeunta Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

Seraga Banser pun masih tersimpan disela gantungan baju. Yang kalau ada acara NU atau Ansor, Mang Ena langsung mengenakan seragam tersebut yang dengan gagahnya pula berangkat naik sepeda ke tempat acara.

Sampai sekarang, Mang Ena lebih banyak menghabiskan waktu demi Banser dan Nahdlatul Ulama (NU). Ia berkeyakinan aktif di NU bakal selamat dunia akhirat. Sehingga dari keaktifan Mang Ena sejak usia 10 tahun itu, ia sudah mendapat piagam penghargaan Banser termuda pada 31 Januari 1937. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock