Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapatkan kunjungan dari perwakilan Kementerian Dalam Negeri Singapura. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambutnya langsung di ruangannya, di lantai tiga, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (16/1).

Pada pertemuan tersebut, Kiai Said didampingi Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU H Robikin Emhas, H Eman Suryaman, H Sulton Fatoni, H Hanief Saha Ghafur; Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra; Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baedowi, H Ulil Abshar, Isfah Abidal Azis, dan pengurus lainnya. 

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU

Sementara rombongan dari Kementerian Dalam Negeri Singapura yang berkunjung ialah Parliamentary Secretary, Ministry of Home Affairs and Ministry of Health Amrin Amin, Ambassador of Singapore to Indonesia Anil Nayar, Deputy Chief of Mission, Embassy of Singapura Jonathan Han, First Secretary (Political) Embassy of Singapore Cai Xihao, Assistant Director Singapore Civil Defence Force Tan Jee Piau, dan Senior Manager Ministry of Home Affairs Kristen Samivelu.

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan banyak hal, termasuk tentang keragaman di Indonesia. Kiai Said mengatakan, di Indonesia terdapat banyak bahasa, etnik, agama, bahkan organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan Perti. 

Belajar Muhammadiyah

Namun begitu, Kiai Said menyayangkan banyak warga Singapura tidak mengerti tentang keberagaman di Indonesia. Padahal, kata Kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, Singapura merupakan negara tetangga yang sangat dekat.

“Kadang orang Singapura yang tetangga dekat tidak ngerti, kalau orang jauh laik ya tidak ngerti,” katanya prihatin. 

Menurut Kia Said, ketidakmengertiannya karena hubungan budaya antara Indonesia dengan Singapura kurang kuat.



Belajar Muhammadiyah



Menanggapi hal itu, perwakilan dari Singapura Parlimentary Secretary Ministry of Home Affairs and Ministry of Health Amrin Amin berharap, ke depan hubungan dengan NU bisa diperkuat.

“Saya rasa mungkin boleh kita pergiatkan lagi,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal Belajar Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah. PCNU Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengupayakan data riil Nahdliyin dengan memprogramkan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu). Program tersebut mulai dilaksanakan pada awal Mei, diperkirakan berakhir pada Juli.

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Koordinator pembuatan Kartanu Kabupaten Sukoharjo, Cecep Choirul Sholeh, mengatakan, dari pendataan Kartanu itu, diharapkan PCNU mengetahui jumlah anggotanya, “Untuk tahap awal, target sekitar 15 000 - 24.000 pendaftar, insya Allah akan kita penuhi,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah, Kamis (2/5) siang.

Menurut Cecep, program ini sedianya sudah dilaksanakan pada April lalu, tapi baru dapat terlaksana bulan ini, “Sedikit mundur, karena kita menunggu selesainya pendataan Kartanu di Sragen.”

Belajar Muhammadiyah

Penentuan jadwal tersebut, lanjut Cecep, ditentukan tim Kartanu dari Pengurus Wilayah NU Jateng. ?

Belajar Muhammadiyah

Ia kemudian menerangkan, program Kartanu tersebut akan dimulai dari Kecamatan Kartasura dan berakhir di Kecamatan Bulu, “Sebelumnya, pada tanggal 9 Mei akan kita adakan launching Kartanu PCNU Sukoharjo, yang akan diselenggarakan di MWC NU Kartasura,” jelas Cecep.

Cecep merinci jadwal lengkap Kartanu di 12 MWC, yaitu Kecamatan Kartasura (10-13 Mei), Polokarto (15-18 Mei), Tawangsari (20-22 Mei), Weru (24, 28, 29 Mei), Bendosari (30, 31 Mei dan 1, 2 Juni), Baki (4-7 Juni), Sukoharjo (9-11 Juni), Grogol (13-16 Juni), Nguter (18-21 Juni), Gatak (23-25 Juni), Mojolaban (27-29 Juni), dan Bulu (2-4 Juli).

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor ? ? ? : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Kajian Islam, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Sembilan Ribu Kader Bakal Hadiri Konkoorcab XXI PMII Jatim

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bakal menggelar Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXI, 26-29 Desember, di Hotel Bromo View Kota Probolinggo, Jawa Timur. Panitia yakin, lebih dari 9 ribu kader PMII akan hadir dalam perhelatan ini.

Sembilan Ribu Kader Bakal Hadiri Konkoorcab XXI PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Ribu Kader Bakal Hadiri Konkoorcab XXI PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Ribu Kader Bakal Hadiri Konkoorcab XXI PMII Jatim

Ketua panitia pelaksana, Anang Romli mengatakan, hingga saat ini persiapan pelaksanaan Konkoorcab XXI PMII Jatim sudah mencapai 80 persen. Undangan kepada 31 cabang se-Jatim juga sudah dikirim.

“Dari 31 cabang di Jatim yang punya hak suara ada 29 cabang, 2 cabang lainnya Magetan dan Sampang tidak punya hak suara karena masih berstatus persiapan, tapi semuanya diundang,” kata Anang Romli, Ahad (22/12).

Belajar Muhammadiyah

Bahkan, lanjut Anang, Konkoorcab juga akan dihadiri hampir semua pengurus PMII tingkat komisariat dan rayon dari beberapa kampus di Jatim. Ratusan kader PMII di luar Jatim juga bakal datang ikut meramaikan.

“Konkoorcab ini juga menjadi ajang silaturrahim antar kader PMII lintas cabang dan kampus,” ujar pria lajang kelahiran Lamongan ini.

Belajar Muhammadiyah

“Kami memastikan Konkoorcab kali ini akan dihadiri sekitar 9 ribu lebih kader PMII,” kata sekretaris pelaksana Hasyim, Asyari menambahkan.

Konkoorcab XXI PMII Jatim memuat beberapa agenda, antara lain penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan PMII Jatim masa khidmat 2011-2013 di bawah kepemimpinan Fairouz Huda. Forum ini juga akan menyikapi berbagai wacana kebangsaan terkait isu keagamaan, HAM, politik, pendidikan tinggi, dan sebagainya.

Perhelatan dua tahunan organisasi kemahasiswaan berhaluan Ahlussunah wal Jamaah ini dipastikan akan diramaikan oleh sejumlah kandidat ketua umum PKC PMII Jatim masa khidmat 2013-2015 untuk menggantikan posisi ketua umum sekarang, Fairouz Huda.

Hingga saat ini terdapat sejumlah kandidat yang telah bermunculan dari beberapa cabang PMII di Jatim. Mereka di antaranya, M. S Umam (Surabaya), Rusman Hadi (Sumenep), Hasanuddin Tiro (Probolinggo), dan Muhammad Junaidi (Ponorogo).

Di luar nama-nama tersebut, masih banyak nama lain yang juga memiliki kans kuat untuk merebut posisi penting di organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia ini. Mereka antara lain, Didik Ferdianto (Jombang), Benu Nuharto (Lamongan), Syafiuddin (Pamekasan), Muhaimin Azhari (Sidoarjo), dan Febrian Sandhi F (Jember). (Abdul Hady/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

Rembang, Belajar Muhammadiyah - Satkorcab Banser Kabupaten Rembang menurunkan 30 pasukan untuk membantu para korban puting beliung di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong Kabupaten Pati, Selasa (10/1) pagi. Mereka adalah tim terbaik Bagana yang dimiliki oleh Satkoryon Kecamatan Kaliori dan Sumber.

Kasatkoryon Banser Kaliori sebagai penanggung jawab pasukan menjelaskan, setidaknya ada 60 rumah rusak dan satu rumah roboh akibat terjangan angin. Pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri sehingga tak ada korban jika akibat kejadian ini.

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

"Pemilik rumah roboh atas nama Parmi (60) yang berada di RT 02, RW 01, Desa Beringin Wareng Kecamatan Winong Kabupaten Pati," jelasnya.

Salah seorang anggota Banser asal Kecamatan Sumber Ahmad Rifai menjelaskan, ia bersama pasukan yang lain berangkat dari Rembang pada pukul 08.00 wib. Dengan anggota lainnya ia berhasil membantu membenahi dua rumah dan satu mushola, yang gentingnya diterbangkan oleh angin.

Belajar Muhammadiyah

"Kami berhasil membantu dua rumah warga yang porak-poranda diterbangkan angin. Selain itu satu mushola juga rusak, tapi kami sudah berhasil memperbaiki dan sudah bisa digunakan beraktivitas kembali," kata Rifai.

Angina puting beliung mengamuk di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong pada Senin (9/1) pukul 15.30 wib. Data sementara menyebutkan, sebanyak 60 rumah mengalami kerusakan. Satu rumah roboh.

Belajar Muhammadiyah

Pasukan Satkorcab Banser Rembang langsung mengadakan tanggap bencana membantu para korban yang mengalami musibah. Pada hari Selasa Satuan Bagana Satkoryon Kecamatan Sumber langsung berangkat Pukul 08.00 dan pulang pada pukul 15.00 wib. Selain dari relawan Banser Rembang, tampak para anggota Banser dan relawan bencana dari Kabupaten Pati. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Halaqoh, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Bupati Tulungagung Letakkan Batu Pertama Gedung MWCNU Kalidawir

Tulungagung, Belajar Muhammadiyah

Bupati Tulungagung Syahri Mulyo didampingi Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kalidawir dan Camat Kalidawir meresmikan dimulainya proses pembangunan gedung MWCNU setempat yang ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama.

Kegiatan peletakan batu pertama dibarengkan dengan peringatan hari lahir (harlah) ke-93 NU dan rutinan Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Kalidawir, Sabtu (7/5), di Kalidawir, Tulungagung, Jawa Timur, yang diikuti sekitar delapan ribu warga NU.

Bupati Tulungagung Letakkan Batu Pertama Gedung MWCNU Kalidawir (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Tulungagung Letakkan Batu Pertama Gedung MWCNU Kalidawir (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Tulungagung Letakkan Batu Pertama Gedung MWCNU Kalidawir

Menurut Ketua MWCNU Kalidawir M Sudjai Habib, agenda pembangunan gedung MWCNU sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama namun baru terlaksana pada kepengurusan tahun ini.

Belajar Muhammadiyah

“Saya berharap dengan dibangunya gedung MWCNU ini, NU Kalidawir akan memiliki rumah yang digunakan untuk berjuang dan NU Kalidawir akan menjadi lebih solid, kokoh, dan kompak dalam gerakanya. Sehingga NU Kalidawir akan senantiasa konsisten dalam membangun dan mendampingi masyarakat,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Agenda peletakan batu, peringatan harlah NU ke-93, dan rutinan Muslimat NU ini mengambil tema besar “Menguatkan NU untuk Peradaban Indonesia”. Rais Syuriah PCNU Tulungagung KH Mahrus Maryani menekankan tentang pentingnya NU untuk terus menjaga dan memlihara Pancasila sebagai ideologi bangsa. Kegiatan ini juga diisi dengan pengajian akbar oleh KH Anwar Zahid dari Bojonegoro dihadiri selain oleh ribuan Nahdliyin juga sejumlah pejabat pemerintahan beserta DPRD Kabupaten Tulungagung.

Sejauh ini, pembangunan gedung MWCNU Kalidawir membutuhkan total dana mencapai 1,8 miliar yang akan dibangung secara bertahap. Dana tersebut didapatkan murni dari dana masyarakat yang didonasikan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui rekening Bank Jatim 0152766912 atas nama MWCNU Kalidawir. (Ikbar Sallim Al Asyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal Belajar Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Kuasa Perempuan Pesantren

Oleh Abdul Malik Mughni

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat berakar dari pesantren, kerap ‘ditinggalkan dalam diskursus modernisme di Indonesia. Stigma pesantren sebagai subkultur feodal di Indonesia, menjadi dalih untuk meminggirkan peran NU dari sejarah dan peta politik Orde Baru (Orba), selama dua dasawarsa. Para peneliti masa itu, seperti Clifford Greetz dan Deliar Noer (keduanya lahir tahun 1926 dan menjadi rujukan para Indonesianis pada tahun 1960 sampai 1980-an) serta sejumlah penulis terkenal di masa awal Orba, menggambarkan NU dan pesantren sebagai kaum kusam yang antimodernisme.

Mereka berhasil menggiring opini masyarakat dunia, untuk menstigmatisasi NU. Framing tersebut kemudian berubah seiring hadirnya para penulis NU, seperti Mahbub Djunaedi, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, juga Saifuddin Zuhri. Disamping penulis muda Masdar F Masudi, dan Said Budairi? yang berhasil membawa pesantren dalam pelbagai wacana kontemporer di media utama (mainstream). Stigma NU yang kusam, oportunis dan lemah dalam mengejar tuntutan zaman pun berganti menjadi NU yang unik, seksi dan mampu melampaui zaman berkat kehadiran para penulis dan aktivis muda pesantren di akhir tahun 1980-an.

Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuasa Perempuan Pesantren

Penihilan peran NU dan pesantren juga terjadi dalam wacana feminisme dan gerakan kesetaraan gender di Indonesia.? Terlambatnya pembentukan organisasi Muslimat, Fatayat, Korps Peregerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) seolah menguatkan anggapan bahwa pesantren adalah subkultur yang sangat kuat dalam mempertahankan tradisi patriarkal.

Perempuan Pesantren, Memimpin Ranah Publik

Jika dirunut dari sejarah, Pesantren sebagai subkultur di Nusantara, justru telah membantu menyelaraskan gerakan kesetaraan gender; dari wacana elit ke gerakan afirmatif yang diterima hingga ke desa-desa. Meski secara organisasi, pembentukan sayap perempuan di NU dan badan otonomnya terbilang lambat, namun secara kultural, gerakan kesetaraan gender di kalangan pesantren telah dimulai sejak lama. Berdirinya pondok pesantren khusus putri di tahun 1917, di Jombang, adalah salahsatu sumbangsih ulama, khususnya KH Bisri Syansuri terhadap akselerasi gerakan feminisme di pesantren.

Jauh sebelum itu, seperti diungkapkan sejarawan Universitas Brawijaya, KH Agus Sunyoto, sejatinya kultur Nusantara, khususnya di kawasan pesisir –bersama kultur pesantren,- adalah matriarkal. Kultur matriarkal tersebut, menurut Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini, justru dihancurkan oleh negara-negara Eropa, seperti Portugis dan Belanda yang menjajah Nusantara seabad lampau.

Belajar Muhammadiyah

Agus Sunyoto menyodorkan fakta tentang Ratu Kalinyamat yang memimpin pasukan, menyerang? Portugis di Malaka di tahun 1560. Kemudian ada Laksamana Kemala Hayati, Cirebon, Nyimas Gandasari, Nyi Ageng Serang dan lainnya. “Kultur pesisir itu kultur matriarki, perempuanlah yang? berkuasa, tak hanya dalam fakta sejarah, tapi juga dalam legendanya,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Di pesisir juga, kata Agus, semua dongeng berpijak pada kultur matriarki. Agus lalu mencontohkan bahwa di Surabaya ada kisah Sawunggaling yang sukses karena taat pada ibunya. Ada juga Syarif Tambakyoso dari Sidoarjo, kesaktian yang dimiliki dari ibunya. “Malingkundang dan Sangkuriang pun berpusat pada tokoh perempuan,” paparnya. Mitos-mitos penguasa lautan di Indonesia, juga perempuan, seperti Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, Ratu Laut Utara dan lainnya.

Kehidupan di pesisir itu menghormati perempuan. Kuasa perempuan di Nusantara itu dihancurkan? kolonialisme, karena Eropa sejak era Yunani sudah patriarki,” tandas Agus seraya mengurai fakta tentang dongeng Eropa yang penuh maskulinitas. Ia menyebut dongeng Dewa Zeus versus Hera, dewi yang jahat, hingga penyebutan istilah Founding Father dan Fatherland, di negara-negara Eropa dan Amerika.

Bagaimana dengan Indonesia? “Kita menyebutnya Ibu Pertiwi, Persia pakai istilah Meehan, Turki juga menggunakan Anavatan semua maknanya motherland. Jadi wajar dalam penulisan sejarah pascakolonialisasi, peran-peran perempuan banyak dinihilkan,” imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Perempuan pesisir Nusantara ternyata juga sangat berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Enam tokoh perempuan yang tercatat dalam dokumentasi Sumpah Pemuda juga berasal dari daerah pesisir. Di antaranya, Siti Sundari dari Semarang, Emma Poeradiredja dari Cirebon.

Pendapat senada diungkapkan Aisyah Hamid Baidowi.? Adik Gus Dur itu mengungkap, kalangan pesantren turut mendorong ‘kemapanan’ feminisme di Indonesia, baik melalui gerakan afirmatif yang melahirkan sejumlah regulasi pro perempuan, maupun secara kultural, mengubah peran nyai, dari sekedar pendamping kiai, menjadi sosok yang menjadi pemimpin.

Tak heran, jika saat ini, banyak nyai, maupun puteri kiai serta aktivis perempuan NU, menjadi pemimpin di ranah publik. Kini para perempuan pesantren banyak berkiprah di ranah politik. Menjadi legislator, kepala daerah, menteri dan (mungkin) kelak menjadi Wakil Presiden atau bahkan Presiden.

Para perempuan pesantren, kata Aisyah, kini juga banyak menjadi pemimpin di ranah agama. “Sekarang banyak kemajuan di pesantren. Ibu-ibunya kebanyakan sarjana. S2, S3, malah di Purwoasri Kediri, ibu nyainya Profesor. Almusadaddiyah juga ibu nyainya profesor. Hasil Produk pesantren ketika keluar dari kepompongnya, itu luar biasa. Di MUI misalnya ada Ibu Chuzaimah Tanggo, Ibu Mursidah mereka tangguh dan alim. Khofifah juga produk pesantren,”tandasnya.

Tantangan Perempuan Pesantren ?

Nama-nama yang diabsen oleh Agus Sunyoto maupun Aisyah Hamid Baidowi adalah para aktivis pesantren yang tumbuh di era Orba yang represif. Mereka pernah berkiprah di IPPNU, Kopri, Fatayat maupun Muslimat. Kini para penerusnya di organisasi sayap perempuan di NU dan badan otonomnya, tentu punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas diri dan gerakan organisasinya agar lebih inovatif dan kreatif.?

Di era serba kompetitif sekarang ini, para perempuan pesantren punya peluang lebih besar untuk berkiprah di banyak bidang. Tak melulu di ranah politik. Tapi juga perlu mengisi ranah ekonomi kreatif, IT, birokrasi dan ranah profesional lain perlu diisi oleh para perempuan pesantren.

Riset McKinsey Global Institute (2012) memprediksi Indonesia, dengan kultur negara kepulauan memiliki prospek menjanjikan pada tahun 2020-2030. Sampai saat ini, Indonesia menjadi pangsa pasar terbesar bagi banyak industri di dunia. Indonesia yang saat ini berada di peringkat ke-16 sebagai negara perekonomian terbesar, akan meningkat ke peringkat ke-7 pada tahun-tahun tersebut. Perempuan, seperti saat ini, tentu akan menjadi pangsa pasar terbesar.

Perkembangan tersebut tentu perlu disikapi dengan bijak oleh para aktivis perempuan pesantren. Sebagai calon pemimpin masa depan, persiapan matang harus digerakkan secara sistematis. Terlebih, perempuan di Indonesia menghadapi tantangan berlipat ganda. Tak hanya bakal menjadi tulang punggung ekonomi, para perempuan Indonesia juga masih harus berperang mengeliminir maraknya kasus kekerasan dan perdagangan orang. Sehingga, aktivis perempuan pesantren kini, bukan lagi saatnya berkutat di wilayah wacana feminisme, tetapi sudah bergerak ke ranah aksi. Khususnya mempersiapkan kader-kader unggulan.

Ke depan, mungkin organisasi silat Pagar Nusa dan barisan semi militer semacam Banser Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU juga perlu dipersiapkan oleh sayap perempuan NU. TNI dan Kepolisian yang kini sedang meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan di dalam rekrutmen, juga perlu diisi oleh para pelajar puteri NU. Sehingga perempuan pesantren masa depan, tak hanya unggul dalam berdebat, dan menjadi pelengkap di ranah politik, tetapi juga mampu berkompetisi di pelbagi bidang.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Website perempuanparlemen.org, Ketua Lembaga Pers Penerbitan dan Kajian Strategis PB PMII dan Wakil Bendahara Lajnah Ta’lif Wa Nasyr PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke Belajar Muhammadiyah, Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) menerangkan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 41 ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. ?

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Pengertian independen antara lain:

1. Organisasi profesi tidak berafiliasi atau merupakan kelengkapan aparatur pemerintah,?

2. Keberadaan masing-masing organisasi profesi guru, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) adalah setara. Dengan demikian, pemerintah harus memperlakukan semua organisasi profesi guru harus adil dan tidak memihak (equal treatment).

Belajar Muhammadiyah

3. Pemerintah tidak diperbolehkan memberikan fasilitas secara sepihak kepada organisasi profesi guru tertentu, misalnya: melakukan pemotongan gaji para guru untuk kepentingan organisasi profesi guru tertentu, memberikan kemudahan kepada pihak tertentu, sementara lainnya tidak, dan sebagainya.

Ketika perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2016 ini, ternyata pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) memberikan keistimewaan pada PGRI dengan menuliskan Hari Ulang Tahun PGRI pada logo HGN 2016, maka sudah barang tentu hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagaimana tersebut di atas.

Jika dalam penulisan “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016 tersebut, pemerintah mendasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang penetapan Hari Guru Nasional (HGN), maka hal ini adalah tidak benar, karena:

1. Dalam tata hukum di Indonesia, kedudukan Undang-Undang sudah barang tentu adalah lebih tinggi daripada Keputusan Presiden.

Belajar Muhammadiyah

2. Disamping itu, dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tersebut, ternyata dari 3 amar atau poin keputusannya tidak satupun menyebutkan “HUT PGRI”, kecuali pada aspek pertimbangan/konsideran saja.

3. Pemerintah tidak boleh merayakan HUT sebuah organisasi profesi tertentu, yaitu PGRI (yang berdasarkan Undang-Undang seharusnya independen) dengan menggunakan fasilitas negara, baik sumber-daya uang maupun lainnya yang memberati keuangan negara. ? Dengan kata lain, biarkan PGRI merayakan sendiri hari ulang tahunnya, seperti halnya organisasi profesi guru lainnya, bukan dengan membebani sumber-daya negara.?

Berdasarkan hal tersebut, kami Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) meminta kepada pemerintah (cq. Ketua Panitia Hari Guru Nasional 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) untuk segera mencabut kalimat atau frase “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016.?

Demikian pula halnya dengan berbagai atribut, dokumen, rekaman suara, dan lainnya dalam event HGN 2016 yang mengindikasikan tentang HUT PGRI ke 71.

Dalam kesempatan ini, Pergunu yang kembali dinahkodai oleh Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengusulkan perlunya dilakukan peninjauan kembali terhadap Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional agar tidak terjadi salah tafsir bagi sebagian pihak.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Nahdlatul, Tegal Belajar Muhammadiyah

Jumat, 29 Desember 2017

Suami Khofifah Indar Parawansa Tutup Usia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Suami dari Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah, yaitu Indar Parawansa meninggal dunia Rabu malam sekitar pukul 22.00 WIB di Palu Sulawesi Tengah akibat penyakit diabetes yang sudah lama dideritanya.

Suami Khofifah Indar Parawansa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Suami Khofifah Indar Parawansa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Suami Khofifah Indar Parawansa Tutup Usia

"Mohon hadiah Fatihah untuk beliau dan mohon dimaafkan jika ada salah dan khilaf, wassalam," tulis BBM Khofifah.

Indar meninggal dalam usia 54 tahun. Semasa di Yogyakarta, Indar menikah dengan Khofifah Almarhum meninggalkan empat anak, yakni Fatimahsang Mannagalli Parawansa, Jalaluddin Mannagalli Parawansa, Yusuf Mannagalli Parawansa, dan Ali Mannagalli Parawansa.

Belajar Muhammadiyah

Rencananya, jenazah akan diterbangkan ke rumah duka di Jl. Jemur Sari VIII/24, Surabaya. Indar akan dimakamkan Kamis pagi di komplek pemakaman keluarga di Kawasan Wonocolo

Indar akan dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (16/1/2014). Di rumah duka di Jalan Jemursari VIII/24, Surabaya, para pelayat mulai berdatangan pada Rabu malam dari kalangan Nahdliyyin dan jajaran Muslimat NU. Terlihat juga mantan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Zainudin Maliki. 

Belajar Muhammadiyah

Indar Parawansa yang juga dikenal dengan nama Daeng Beta ini dilahirkan di Palu, 26 Juli 1960. Dia sempat menjadi calon bupati Takalar 2012 silam.

Indar menamatkan Program Pasca Sarjana di UGM, Daeng Beta melanjutkan ke Institut Pertanian Bogor dan meraih gelar doktoral di bidang lingkungan hidup. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Nasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekitar seratus orang akan menjadi peserta Kirab Resolusi Jihad NU2016 mulai dari Bayuwangi (Jawa Timur) sampai ke Cilegon (Banten) dan akan berakhir di Jakarta. Mereka akan menumpangi 5 bus untuk mengantarkan dari satu kota ke kota lain. Meski demikian, ketika di sebuah kota, mereka akan berjalan kaki dalam jarak tertentu berkonvoi bersama warga NU.

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Penghafal Qur’an di Tiap Bus Kirab Resolusi Jihad NU

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, dalam setiap bus akan ada seorang penghafal Al-Quran yang bertugas membaca Al-Qur’an blighaib sepanjang perjalanan.

“Satu bus, ada satu orang pembaca Al-Quran minimal satu kali khataman dari Banyuwangi sampai Jakarta. Kerjaannya baca Al-Quran, berurutan secara bilghaib,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di gedung PBNU, Jakarta, Senin (19/9).

Belajar Muhammadiyah

Ketika ditanya kenapa mesti ada yang membaca Al-Qur’an, menurut dia, itu adalah upaya spiritualitas perjalanan Kirab Resolusi Jihad NU 2016. Begitu juga tahun sebelumnya, di tiap bus ada satu orang penghafal.

Lebih lanjut, Ishfah menjelaskan aspek spiritualitas itu juga dengan menziarahi wali dan kiai. Ia merinci nama wali dan kiai yang akan diziarahi tersebut, yaitu pada hari pertama, setelah bertolak dari Banyuwangi akan ziarah ke makam KH R. As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo.

Belajar Muhammadiyah

Keesokan harinya, 14 Oktober akan berziarah ke makam Ziarah ke makam KH Abdul Hamid di Pasuruan. Lalu ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kemudian kembali ke Surabaya, berziarah makam Sunan Ampel.

Setelah itu, peserta kirab menuju ke Jombang. Mereka berziarah ke KH Muhammad Tamim Romli di Rejoso dilanjutkan ke Pesantren Tebuireng. Di pesantren tersebut akan menziarahi 3 tokoh penting NU yaitu Hadratussyaikh KH Hasyim As’ari, KH Wahid Hasyim, dan ke KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemudian dilanjutkan ziarah ke KH Bisri Syansuri di Denanyar. Disambung kemudian ke Tambakberas, ke makam KH Wahab Chasbullah.

Tujuan ziarah selanjutnya adalah makam Proklamator Kemerdekaan Indonesia Soekarno di Blitar. Kemudian di Ponorogo berziarah ke makam KH Hasan Besari di Tegalsari. Selanjutnya makam KH Ageng Basyariah dan Kyai Muhammad bin Umar di Madiun.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Kirab Santri Nusantara dengan peserta perwakilan lembaga dan banom NU, juga akan berziarah ke makam-makam KH Muslim Imampura, KH Ali Maksum, KH Munawwir, KH Nur Iman, KH Dalhar Watucongol.

Sementara di Jawa Barat akan berziarah ke makam KH Ilyas Ruhiat dan di Banten ke makam KH Abuya Muhammad Dimyati.

Di kota-kota yang akan dilewati, peserta kirab juga akan bersilaturahim dengan kiai, santri di sejumlah pondok pesantren, serta kantor-kantor PCNU. Kemungkinan jumlah kiai yang diziarahi, akan bertambah. Selain itu, juga akan dilaksanakan santunan kepada dhuafa.

Perjalanan Kirab Hari Santri Nasional tersebut akan berakhir pada tanggal 21 Oktober. Kemudian esok harinya, 22 Oktober akan digelar upacara bendera rencananya di Lapangan Banteng atau Tugu Proklamasi, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Budaya, Tegal Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kader Muslimat NU DKI Jakarta diimbau untuk menampung para korban banjir di DKI Jakarta. Kader Muslimat NU bisa menampung korban banjir di rumah-rumah pribadi atau yayasan milik Muslimat NU.

Imbauan ini disampaikan oleh Hj. Hizbiyah Rochim, Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta kepada Belajar Muhammadiyah, Jumat (18/1) malam. Imbauan ini sudah disampaikan sejak curah hujan meninggi beberapa hari lalu.

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir

“Kemarin-kemarin, kita sudah koordinasi dengan pengurus cabang dan ranting Muslimat NU di DKI Jakarta agar kader Muslimat NU menerima para korban banjir,” kata Hj. Hizbiyah, seorang putri KH. Abdul Wahab Chasbullah, seorang pendiri NU.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, imbauan seperti ini bukan hal baru. Kader Muslimat NU DKI Jakarta, sudah setiap tahun memberikan fasilitas inapan bagi para korban banjir di Jakarta. Kader Muslimat NU DKI terpanggil untuk tanggap terhadap persoalan banjir yang hampir datang setiap tahun.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta menyerukan kadernya untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban banjir. Langkah awal yang bisa dilakukan antara lain, menyediakan nasi bungkus, obat-obat yang diperlukan, dan pakaian bersih.

Kader Muslimat NU, menurut Hj. Hizbiyah, tidak hanya mengurusi persoalan keagaman saja. Mereka juga dituntut untuk peduli dengan persoalan lingkungan di mana mereka tinggal. Karena, persoalan lingkungan merupakan bagian dari persoalan agama Islam.

“Segala bantuan, partisipasi, dan kontribusi bagi korban banjir, merupakan bentuk kepedulian Muslimat NU untuk lingkungan DKI Jakarta,” tutup Hj. Hizbiyah yang baru tiba di rumah usai memberikan nasi bungkus di kawasan Tambora, Jakarta Barat.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis

Tarim, Belajar Muhammadiyah

Kamis (21/2), para pelajar dan mahasiswa delegasi dari berbagai lembaga di Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman tumpah ruah di auditorium Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman dalam rangka mengikuti Pelatihan Kader Dasar Kepemimpinan (PKDK).?

Acara yang diprakarsai Departemen Pendidikan dan Dakwah Dewan Pengurus Wilayah Hadhramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW Hadhramaut PPI Yaman) ini berjalan sukses.?

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis (Sumber Gambar : Nu Online)
PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis (Sumber Gambar : Nu Online)

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis

Pelatihan ini, menurut Pandi Yusron, Ketua DPW Hadhramaut PPI Yaman, berangkat dari banyaknya organisasi yang bermunculan di kalangan pelajar dan mahasiswa di Yaman belakangan ini.?

Belajar Muhammadiyah

Organisasi tersebut antara lain Asosiasi Mahasiswa Indonesia Universitas Al-Ahgaff (AMI Al-Ahgaff), Wahdatul Iman (organisasi pelajar Indonesia di Darul Mustafa) Organisasi Penuntut Ilmu Sumatra? Indonesia (OPISI), Forum Silaturahmi Mahasiswa dan Santri Madura Yaman (Fosmaya), Komunitas Pelajar Jakarta (Kopaja), Paguyuban Pelajar Jawa Barat dan Banten Yaman (Pajajaran), Paguyuban Pelajar Jawa Tengah dan Jogjakarta (PPJJ), Keramat Jatim (organisasi pelajar asal Jawa Timur), Roudhotul Banjariyin (persatuan pelajar Banjarmasin Kalimantan Selatan), Forum Lingkar Pena Hadhramaut (FLP Hadhramaut) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman).?

“Dari sanalah perlu kiranya dibangun suatu pelatihan guna bekal organisasi yang solid dan profesional,” tutur mahasiswa Universitas Al-Ahgaff asal Pekalongan ini.

Belajar Muhammadiyah

Acara pelatihan dengan tema “Membangun Karakter Kepemimpinan yang Solid dan Profesional” ini merupakan yang pertama kali digelar oleh DPW Hadhramaut PPI Yaman dan sangat penting sebagai bekal dasar bagi para aktivis organisasi di Yaman.?

“Melihat maraknya organisasi yang bermunculan, acara ini dipandang cukup penting untuk pembekalan dasar,” tegas M Akbar Rasyidi ,selaku Ketua Panitia Pelaksana PKDK.

Turut hadir dalam acara ini, Dubes RI untuk Yaman, Wajid Fauzi. “A good leader a good follower,” ungkapnya ketika memberi arahan dihadapan para peserta pelatihan.?

Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan tujuan Kedutaan Besar Republik Indonesia Sana’a untuk mewujudkan kepentingan nasional melalui diplomasi total.?

Dalam presentasinya, Rendy Ramanda, Sekretaris III KBRI Sana’a bagian Protokol dan Konsuler yang menjadi pemateri pertama acara ini banyak menyampaikan beberapa dasar dan metode kepemimpinan seperti POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controling), analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat) dan lain-lain. Menurutnya, penerapan metode tersebut untuk menjalankan roda kepemimpinan dan organisasi sangat dibutuhkan.?

Pemateri kedua, ? Ahmad Zainul Huda, Sekretaris III KBRI Sana’a Bagian Politik, banyak mengupas ? tentang problem solving dalam sebuah organisasi. Ia banyak menekankan praktek dalam menyelesaikan permasalahan yang kerap terjadi dalam organisasi.?

Acara tersebut di akhiri dengan peringatan Maulid Nabi yang di kemas dalam acara “Malam Keakraban Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Yaman”. Acara tersebut dimeriahkan dengan lomba puisi utusan dari beberapa organisasi peserta PKDK dan drama kolosal yang diprakarsai oleh Departemen Seni dan Budaya DPW Hadhramaut PPI Yaman bekerjasama dengan AMI Al-Ahgaff.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: M Abdul Muhith

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, AlaSantri, Tegal Belajar Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Solo, Belajar Muhammadiyah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo, Jumat (8/2) kemarin, mengadakan kegiatan pembinaan koperasi dengan mengundang pembicara dari Dinas Koperasi (Dinkop) dan UMKM Kota Surakarta. Acara tersebut diikuti sekitar 25 orang yang rencananya akan menjadi calon pendiri Koperasi Syariah Nusa Muda.

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini merupakan persiapan pembentukan koperasi yang menjadi program Ansor Solo. Koperasi Nusa Muda ini nantinya akan berbentuk Koperasi Serba Usaha (KSU).

“Kalau berdasar pada pimpinan (Ansor) pusat bentuk koperasi mesti simpan pinjam, tapi berdasar rapat pengurus, rencananya akan berbentuk KSU,” Terang Anwar di hadapan anggota.

Belajar Muhammadiyah

Sedangkan perwakilan dari Dinkop, Suwandi, menjelaskan beberapa kendala pendirian koperasi, ”Sekarang ini sedang masa transisi. Undang-Undang Koperasi yang lama diganti yang terbaru, UU No 17 th 2012,”

Belajar Muhammadiyah

Suwandi juga menjelaskan jenis koperasi berdasarkan peraturan terbaru yakni produksi, konsumsi, jasa, dan simpan-pinjam.

“Dari keempat jenis itu, bisa dipilih mana yang paling potensial,” terangnya.

Dalam kegiatan pembinaan tersebut juga muncul pengkritisan terhadap Undang-Undang Koperasi yang tidak berpihak pada usaha kecil. Sebagai contoh beberapa perusahaan besar dengan mudahnya mendirikan banyak unit usaha, akan tetapi untuk koperasi mengharuskan satu jenis usaha saja.

Acara yang di gelar di kantor PCNU Surakarta tersebut dihadiri ketua NU Solo, A Helmi Sakdillah. Pendirian koperasi ini rencananya juga akan diikuti oleh MWC NU di Surakarta. Harapannya dengan adanya kegiatan ekonomi seperti ini, dapat menumbuhkan kemandirian warga NU di Solo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Para alumni beberapa perguruan tinggi dan ma’had di Suriah yang berasal dari Indonesia akan mengadakan pertemuan di Jakarta, Sabtu (28/3) besok. Dalam keterangannya kepada Belajar Muhammadiyah, mereka menjamin tidak ada satu pun alumni yang terlibat dalam kelompok radikal ISIS yang berpusat di Suriah dan Irak.

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Pertemuan alumni akan diadakan di Puncak Bogor dimulai Sabtu pagi dan akan berlangsung sampai Ahad. Para alumni dari luar kota sebelumnya akan menginap di Pondok Pesantren Al-Kenaniyah Pulomas, Jakarta Timur.

Menurut Ketua Panitia H Fathir Hambali, pertemuan alumni diadakan rutin setiap tahun. “Ini pertemuan keempat. Tahun kemarin pertemuan diadakan di Surabaya,” katanya.

Menurut Fathir, saat ini ada sekitar 150 alumni Suriah yang ada di Indonesia. Mereka belajar sejak tahun 1990-an. di beberapa kapus dan ma’had seperti Universitas Damaskus, Universitas Abu Nur, Ma’had Fatah dan beberapa ma’had di Damaskus.

Sementara mahasiswa dan santri yang saat ini masih mengenyam pendidikan di Suriah hanya berjumlah sekitar 20 orang. “Mereka terpusat di Damaskus dan dijamin steril dari ISIS, karena ISIS tidak menjangkau wilayah Ibukota,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Terkait pergerakan ISIS yang menjadi isu global saat ini, menurut Fathir, para alumni dipastikan tidak akan bergabung dengan kelompok daulah khilafah Irak dan Suriah itu.

“Mereka belajar dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan mengikuti empat madzhab seperti Indonesia. Jadi secara ideologis apa yang kita pelajari sangat berbeda dengan apa yang dikembangkan dan diyakini kelompok ISIS yang suka kekerasan, suka mengkafirkan,” katanya.

Menurut Fathir yang juga Ketua Alumni Suriah di Indonesia, beberapa karya ulama Suriah yang dipelajari oleh para alumni saat ini sudah menjadi bahan kajian di pesantren-pesantren di Indonesia dan sudah diterima oleh para kiai, seperti karya-karya Syekh Al-Buthi dan Syekh Wahbah Zuhaili.

Ditambahkan, warga Indonesia yang mungkin bergabung dengan ISIS bukan mahasiswa atau santri alumni Suriah. “Yang paling mungkin bergabung adalah mereka yang baru belajar agama lalu dicuci otaknya dan diajak bergabung,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

“Kita juga perlu mengingatkan bahwa ISIS bukan persoalan agama, tetapi persoalan politik yang dibawa ke agama,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto: Beberapa alumni Suriah menyambut kehadiran Syekh Wahbah Zuhaili di Indonesia tahun 2014 lalu

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Warta, Tegal Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

LBMNU Jember Nilai Wajar Keberatan Warga terhadap Kelompok Salafi

Jember, Belajar Muhammadiyah. Keberadaan ? kelompok salafi di beberapa titik di Kabupaten Jember, Jawa Timur telah memunculkan keresahan di kalangan warga setempat. Paling tidak keresahan tersebut dirasakan oleh warga Lingkungan Pakem, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Lingkungan Gumukbago, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates dan Dusun Sumberejo, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung. Di tiga titik itulah, basecamp kelompok salafi berada.?

Mereka secara resmi mengrim surat “pengaduan” ke PCNU Jember lewat surat yang ditandatangani oleh puluhan warga sekitar, belum lama ini. Selain meminta bantuan PCNU Jember untuk “mengatasi” persoalan tersebut, mereka juga memaparkan sejumlah fakta terkait amaliah dan prilaku keagamam kelompok salafi yang dinilainya berpotensi mengadu domba antarmuslim. Sebab, kelompok tersebut sangat mudah mencaci-maki amaliah, bahkan mengkafirkan kelompok lain yang berbeda aliran.?

LBMNU Jember Nilai Wajar Keberatan Warga terhadap Kelompok Salafi (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Jember Nilai Wajar Keberatan Warga terhadap Kelompok Salafi (Sumber Gambar : Nu Online)

LBMNU Jember Nilai Wajar Keberatan Warga terhadap Kelompok Salafi

“Oleh karena itu, kami sangat keberatan, dan meminta pihak-pihak terkait untuk turun tangan sehubungan dengan pendirian lembaga tersebut. Sebab, dari awal kami memang tidak pernah setuju pendirian lembaga itu,” bunyi surat tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Ikatan Takmir Masjid Kabupaten Jember Edy Prasetio menegaskan, sejatinya lembaga yang menamakan diri pesantren salafi tersebut, sama sekali tidak mengakar di masyarakat. ? Santri-santrinya rata-rata didatangkan dari luar Jember dan mereka membuat kegiatan terpisah dari masyarakat.?

“Tidak hanya itu, dalam penelusuran saya, di situ banyak anak seusia SD. Ternyata mereka adalah orang luar Jember, ditaruh di Jember. Begitu juga sebaliknya, anak-anak Jember yang terkena bujuk rayu mereka, pasti ditaruh di luar Jember. Tujuannya adalah untuk memisahkan anak-anak itu dari pengaruh orang tuanya. Bahkan akhirnya, banyak anak-anak salafi yang akhirnya memusuhi bahkan menganggap kafir orang tuanya sendiri karena sudah tidak satu aliran. Ini ? bahaya!” ucapnya kepada Belajar Muhammadiyah di Jember, Senin (6/3).?

Belajar Muhammadiyah

Menanggapi keberatan tersebut, Ketua LBMNU Jember Ustadz Syukri Rifa’ie menegaskan bahwa pihaknya dan siapa pun harus mengakomodir keberatan warga sekitar lembaga salafi. Ustadz Syukri menilai keresahan yang mereka rasakan bisa dimafhumi. Sebab, prilaku keagamaan kelompok salafi memang eksklusif, tidak menyatu dengan masyarakat sekitar. ? ?

“Wajar kalau warga kemudian merasa resah, apalagi mereka tidak menghormati amaliah dan budaya ? warga sekitar,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang akan dilakukan LBMNU Jember terkait hal tersebut. Pertama, memperkokoh aqidah warga sekitar salafi dengan mengadakan pengajian secara intens. Kedua, mengusahakan program yang sama atau bakan lebih baik dibanding apa yang ditawarkan kelompok salafi. ?

“Ketiga, kita perlu investigasi ke bawah untuk mencari tahu siapa-siapa saja yang sudah dicuci otaknya oleh kelompok salafi,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)?





Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Batam, Belajar Muhammadiyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di Batam akan dimulai pada Selasa (14/3) besok. Rakernas yang dihadiri oleh perwakilan wilayah dan cabang seluruh Indonesia akan membahas beberapa isu strategis.

Rakernas V Lakpesdam NU akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali yang dihadiri oleh Walikota Batam Ahmad Dahlan, Ketua PWNU Kepulauan Riau H Gani Lasya dan perwakilan pengurus cabang NU se-Kepri? dan MWCNU se Kota Batam.

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Rabu (15/3) para peserta rakernas akan dibekali materi mengenai Garis Besar Perjuangan NU oleh H Abdul Mun’im DZ dari PBNU, kemudian disambung dengan sharing khidmah gerakan NU bersama Bupati Wonisobo H Kholiq Arief , dan Ketua PBNU H Imam Aziz.

Belajar Muhammadiyah

Hari berikutnya para peserta Rakernas akan membahas mengenai implementasi UU Desa bersama Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam NU Yahya Ma’shum dan Erman A. Rahman yang dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Batam oleh para peserta Rakernas.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Rakernas V Eko Agus Priyono, Rakernas dikuti sekitar 70 perwakilan pengurus cabang Lakpesdam ditambanh pengurus wilayah. Masing-masing cabang atau wilayah mendelegasikan rata-rata 2 orang.

Tiga hari sebelum Rakernas dimulai, sebagian peserta Rakernas telah hadir di Batam untuk mengikuti training of trainer untuk program Kader Damai. Menurut Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’shum, training itu merupakan bagian dari agenda PP Lakpesdam yang sengaja dilaksanakan berdekatan dengan kegiatan Rakernas. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Kemampuan Presiden RI pertama, Ir Soekarno dalam memecahkan sejumlah persoalan pelik di awal kemerdekaan tidak lepas dari saran yang disampaikan KH Abdul Wahab Chasbullah.  Peran itu semakin dominan dalam perjalanan bangsa selanjutnya.

Hal ini disampaikan H. Abdul Mun’im DZ yang menjadi pembicara pada acara ‘Sarasehan Nasional: Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah, perintis, pendiri dan penggerak NU: Dari Pesantren untuk Indonesia’ yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Rabu (3/9).

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno

Dalam pandangan Mun’im DZ, ketika situasi nasional semakin genting terutama pada masa transisi dari pemerintahan penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang dan masa kemerdekaan nasional yang penuh dengan konflik dan ketegangan, NU sudah bisa tampil tidak hanya terbatas bagi warganya. “NU juga bisa memberikan panduan dan solusi bagi bangsa dan negara,” kata Mun’im.

Belajar Muhammadiyah

Hal ini terlihat nyata ketika NU bergabung dengan Masyumi yang menjadi sebuah kekuatan politik Islam yang dominan. “Terlebih lagi ketika NU mulai menjadi partai politik tersendiri yang mampu meraih kekuasaan,” kata Wakil Sekretaris PBNU ini. Keterlibatan NU dalam dunia politik menjadi semakin mendalam. Dan semua prestasi ini terjadi berkat kepemimpinan Kiai Wahab yang piawai, tegas tapi luwes, lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketika zaman PKI masyarakat dihadapkan pada dua pilihan ikut Muso-Amir Syarifuddin (PKI) atau ikut Soekarno Hatta (pemerintah yang sah), rakyat terpandu oleh NU untuk memilih Soekarno Hatta. Demikian juga ketika Kartosuwiryo melakukan pemberontakan Darul Islam (DI), dengan mengklaim sebagai amirul mukminin sebagai tandingan pemerintah RI pimpinan Soekarno, maka NU di bawah Kiai Wahab menugaskan Kiai Masykur selaku Menteri Agama kala itu untuk mengkoordinasikan para ulama Indonesia mengatasi dualisme ini.Akhirnya ulama NU menegaskan memilih Bung Karno sebagai pemerintah yang sah, sebagai waliyul amri tahun 1954.

Dengan sejumlah fakta ini, sangat beralasan kalau kemudian Mun’im mengatakan bahwa Mbah Wahab sebagai guru politik Bung Karno. Karena itu, sejumlah pemikiran dan gagasan Mbah Wahab akan digali secara serius bagi upaya mengungkap strategi yang dilakukan dalam perjalanan bangsa dan negara ini.

“Paling tidak akan ada empat buku yang kami terbitkan dalam rangka menyingkap ide dan gagasan Mbah Wahab ini,” tandas Mun’im. Bahkan bukan tidak mungkin akan muncul akademi politik Mbah Wahab yang merupakan intisari dari sejumlah pemikiran dan ide beliau, lanjutnya.

Lewat kepiawaian yang dilakukan Mbah Wahab, hingga kini NU tetap disegani sejumlah kalangan. Ketika banyak negara masih gamang membincang Islam dan nasionalisme, pembahasan ini telah tuntas pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin.  

“Sekarang, negara Timur Tengah banyak belajar kepada Indonesia dalam membicarakan Islam dan nasionalime,” terang Mun’im. Karena ketika melihat negara-negara Islam tersebut, yang mengemuka adalah sejumlah gejolak dan konflik. Dan lewat kepiawaian Mbah Wahab, persoalan Islam dan nasionalime di Indonesia menjadi tuntas, lanjutnya.

Sarasehan ini juga menjadi ajang peluncuran buku karya Abdul Mun’im DZ: KH Abd Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Syariah, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta kepada lembaga penyiaran untuk tidak menayangkan isi siaran yang berisi serangan dan upaya menyalahkan suatu amalan dan pandangan keagamaan tertentu dalam Islam.

Demikian disampaikan Idy Muzayyad, komisioner KPI Pusat, merespon pengaduan publik terhadap isi siaran yang cenderung menganggap sesat sebuah pandangan agama.

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan

“Media penyiaran tidak boleh mempertentangkan hal semacam itu di ruang publik media, apalagi melakukan penghakiman, karena dapat menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan,” ungkapnya kepada Belajar Muhammadiyah, Kamis (11/4).

Idy menjelaskan, dalam setiap agama dan keyakinan seringkali terdapat perbedaan pandangan yang bersifat khilafiyyah dan tidak bisa dipaksakan dan saling menyalahkan. Justru sebaliknya perlu ditekankan sikap saling menghormati dan memahami pandangan keagamaan masing-masing.

Belajar Muhammadiyah

Apalagi Indonesia ini merupakan bangsa dengan kebhinekaan yang tinggi, sehingga penyeragamaan merupakan hal yang tidak mungkin. Begitupun dengan pandangan keagamaan Islam, yang terdapat perbedaan untuk hal-hal yang bersifat cabang (furu’iyah) bukan pokok (ushuliah).

”Misalnya detail tatacara peribadatan. Tahlil, ziarah kubur, shalawat, tawassul, maulid merupakan bagian dari amalan riil umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, sebagai akulturasi kebudayaan yang dibolehkan,” imbuhnya.

KPI jauh-jauh hari sudah mengantisipasi hal demikian dengan memunculkan pasal terkait pandangan keagaman ini dalam pasal 7 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Stanar Program Siaran (P3SPS).

Dalam pasal P3 disebutkan bahwa “Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan, mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial ekonomi”.

Belajar Muhammadiyah

Sedang dalam? Standar Program Siaran (SPS) pasal 7 dinyatakan bahwa materi agama pada program siaran wajib memenuhi ketentuan “tidak berisi serangan, penghinaan dan/atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta menghargai etika hubungan antarumat beragama”.

Dalam SPS poin berikutnya menyebutkan keharusan media penyiaran untuk “menyajikan muatan yang berisi perbedaan pandangan/paham dalam agama tertentu secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan”.

Menanggapi aduan masyarakat dan berdasarkan pemantauan terhadap program Khazanah Islam Trans7, maka KPI akan mengambil langkah sesuai dengan UU Penyiaran, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan.

“Kita juga segera memanggil penanggung jawab program yang menayangkan siaran tersebut,” imbuh Idy.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Bahtsul Masail, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 02 November 2017

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Sekitar 500 personil Banser dikerahkan untuk menjaga keamanan pertandingan final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 antara Darul Huda Ponorogo melawan Darul Hikmah Cirebon. Duel laga puncak ini akan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), pukul 19.00 WIB, Ahad (29/10).

Satkocab Banser kota Bandung Ahmad Sanusi menjelaskan personil Banser yang bertugas kebanyakan terdiri dari Satkorwil Jawa Barat, khususnya kota Bandung, kabupaten Bandung, Cianjur, Garut, dan kabupaten Bandung Barat.

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri

"Yang akan disiapkan untuk penjagaan di pintu-pintu, pengawasan massa supaya rapi," jelas Sanusi kepada Belajar Muhammadiyah saat ditemui di pinggir lapangan Stadion GBLA, Ahad siang (29/10).

Sanusi berharap Liga Santri Nusantara agar terus berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya. 

Belajar Muhammadiyah

"Sukses untuk santri, dan selamat Hari Santri Nasional," pungkas Sanusi.

Sebagaimana dalam jadwal panitia, sebelum laga final rencananya akan diadakan Shalat Maghrib berjamaah dan doa bersama yang akan dipimpin oleh Rais Am PBNU KH Maruf Amin. Adapun masyarakat dipersilakan hadir ke stadion, tanpa dipungut biaya tiket masuk. (M. Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Habib Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan

Purworejo, Belajar Muhammadiyah

PAC GP Ansor Kemiri bekerja sama dengan MWCNU Kemiri dan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah sukses mengadakan bulan pengaderan NU Sabtu-Ahad (30-31/1/2016). Bulan Pengaderan adalah pelaksanaan program pengaderan bersama, mulai dari PKPNU (Pelatihan Kader Penggerak NU), PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) hingga Makesta (Masa Kesetiaan Anggota).

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan

Tercatat tidak kurang 170-an peserta mengikuti acara ini, yakni 32 peserta PKPNU, 55 peserta PKD dan 80 peserta Makesta. Masing-masing kegiatan diadakan di ruangan terpisah di komplek MI Sutoragan Kemiri.

Dalam sambutannya pada pembukaan bulan pengaderan ini, Ketua PCNU Kabupaten Purworejo KH R Hamid AK sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan PAC Kemiri karena mampu melaksanakan kegiatan pengkaderan bersama-sama.

"Saya sangat apresiasi. NU beserta banom bisa bersama-sama mengkader. Kelihatan kompaknya dan saya harap kedepan Kemiri bisa maju. Potensi nya sangat besar," terang Kiai Hamid.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, instruktur PKPNU dari PWNU, Mahsun Mahfudz mengingatkan bahwa acara bersama-sama ini jangan sampai menghilangkan inti pengaderan. "Jangan sampai karena saking banyaknya peserta dan panitia, acara pengaderan ini malah terkesan acara seremonial. Inti pengaderan bukan itu," ujar Mahsun mengingatkan.

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di zona-zona lain di Kecamatan Kemiri. Bulan Pengaderan dilaksanakan di 4 zona berbeda di Kecamatan Kemiri. Pada pelaksanaan pertama ini, diadakan di Kemiri bagian timur dengan peserta 10 desa. (Hidayatullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, PonPes, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Senin, 14 Agustus 2017

Jokowi dan Cak Imin Masuk Nominasi Santri Award 2017

Palembang, Belajar Muhammadiyah



Penganughrahan Santri Award 2017 yang diinisiatori oleh Pondok Pesantren Aulia Cendekia Palembang langsung mendapat respon positif dari masyarakat. Berbagai usulan nama mulai masuk ke panitia dan juga mitra inbox media partner baik melalui Facebook, Twitter dan juga Instagram.?

Jokowi dan Cak Imin Masuk Nominasi Santri Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Cak Imin Masuk Nominasi Santri Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Cak Imin Masuk Nominasi Santri Award 2017

"Sejak kita umumkan sudah banyak usulan, baik melalui relasi jejaring seperti laporan panitia, maupun ke saya pribadi melalui grup dan chat Whatshap," kata pengasuh Pondok Pesantren Aulia Cendikia, KH Hendra Zainuddin saat dikonfirmasi, Selasa (8/8).?

Diketahui, penganugerahan ini diberikan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2017. Ada lima kategori penghargaan yang akan diberikan dalam acara ini. Kelimanya, yakni kategori Bapak Santri Indonesia, kategori Bapak Santri Sumsel, kategori Perusahaan, BUMN, BUMD, dan Perbankan, Kategori Pondok Pesantren Terbaik, serta Kategori Alumni Pesantren.

"Beberapa nama sudah diulsulkan, tapi yang paling banyak respon adalah bapak santri Indonesia, dua nama mendominasi, yakni Presiden Jokowi dan ketum PKB, A Muhaimin Iskandar," kata Hendra.?

Belajar Muhammadiyah

Dijelaskan, masyarakat memasukkan nama juga bukan tanpa alasan. Mereka usul lengkap dengan ulasan kenapa kedua tokoh tersebut kayak mendapatkan penghargaan. Jokowi misalnya, dinilai layak karena peringatan hari santri jatuh tanggal 22 ini ditetapkan di era pemerintahannya. Belum lagi bebedapa kebijakannya yang berpihak kepada pesantren.?

"Jokowi juga dikenal dekat dengan ulama dan selalu meminta nasehat kiai pesantren dalam situasi pemerintahan," ungkapnya.?

Lalu, A Muhaimin Iskandar atau Cak imin dinilai dekat dengat pesantren. Kerapkali inisiator Nusantara Mengaji tersebut membuat program untuk melestarikan khazanah pesantren. Seperti program Nusantara Mengaji dan lomba baca kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren.?

"Kedua program ini menyentuh san melibatkan langsung pesantren sehingga dinilai layak mendapatkan pengharaan santri award," tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

Masih menurut Hendra, Santri Award ini diberikan pada mereka yang telah berjasa dan berkontribusi terhadap kemajuan pondok pesantren di Indonesia dan di Sumsel.?

"Kita masih terus menghimpun masukan dan nama, agar panitia dan masyarakat dapat memberikan penghargaan ini," tambahnya.?

Ia mengajak masyarakat Palembang dan Sumsel yang merasa mengenal atau mengetahui tokoh, perusahaan, atau yang masuk dalam lima kategori tersebut, dapat menyampaikannya dalam komentar Facebook atau sosial media Pesantren Aulia Cendekia.

Atau juga bisa menuliskannya di kolom komentar Facebook, Instagram, dan Twitter media partner event ini. (Abdul Malik Syafei/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock