Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Gerakan Pemuda Ansor Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo mengadakan pembacaan sholawat nabi bersama-sama, Kamis (4/1) malam. Kegiatan ini rutin diadakan setiap 2 minggu sekali secara bergiliran dan berkesinambungan di Kelurahan Ketapang.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan yang diikuti oleh 70 orang peserta itu juga dilakukan dialog interaktif tentang meneguhkan amaliyah NU dalam bingkai kebhinekaan. Kegiatan ini mengambil tema Meneguhkan Amaliyah Ahlussunnah wal jama’ah Dalam Bingkai Kebhinekaan.

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Selain jajaran pengurus GP Ansor Kelurahan Ketapang, kegiatan ini juga melibatkan Lurah Ketapang, Babinsa, Babinkamtibmas, Karang Taruna, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat dan masyarakat Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Lutfi Abdurrohman mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi amaliyah NU serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai kebhinekaan. “Semoga dengan kegiatan ini para pemuda Ansor tetap kompak dan berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal jamaah,” katanya.

Menurut Lutfi, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini Ranting GP Ansor Ansor Kelurahan Ketapang ke depannya akan tetap eksis dan istiqomah menjalankan amaliyah-amaliyah NU.

Belajar Muhammadiyah

“Tentunya, semakin maju dengan program-program pemberdayaan pemuda. Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang menjadi penjaga keutuhan NKRI dan penjaga kebhinekaan dan GP Ansor menjadi penjaga Islam rahmatan lilalamin,” tegasnya.

Pembina Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Masyhuri Nurzah mengatakan, keberadaan Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wadah bagi para pemuda, untuk memberikan penguatan paham-paham ke-NU-an bagi para pemuda dari pengaruh-pengaruh gerakan Islam radikal sehingga Ansor menjadi tameng penjaga NKRI dari rong-rongan gerakan Islam kiri.

“Mudah-mudahan GP Ansor menjadi wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan perekonomian melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang digagas dan didirikan oleh Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah. PCNU Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengupayakan data riil Nahdliyin dengan memprogramkan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu). Program tersebut mulai dilaksanakan pada awal Mei, diperkirakan berakhir pada Juli.

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Koordinator pembuatan Kartanu Kabupaten Sukoharjo, Cecep Choirul Sholeh, mengatakan, dari pendataan Kartanu itu, diharapkan PCNU mengetahui jumlah anggotanya, “Untuk tahap awal, target sekitar 15 000 - 24.000 pendaftar, insya Allah akan kita penuhi,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah, Kamis (2/5) siang.

Menurut Cecep, program ini sedianya sudah dilaksanakan pada April lalu, tapi baru dapat terlaksana bulan ini, “Sedikit mundur, karena kita menunggu selesainya pendataan Kartanu di Sragen.”

Belajar Muhammadiyah

Penentuan jadwal tersebut, lanjut Cecep, ditentukan tim Kartanu dari Pengurus Wilayah NU Jateng. ?

Belajar Muhammadiyah

Ia kemudian menerangkan, program Kartanu tersebut akan dimulai dari Kecamatan Kartasura dan berakhir di Kecamatan Bulu, “Sebelumnya, pada tanggal 9 Mei akan kita adakan launching Kartanu PCNU Sukoharjo, yang akan diselenggarakan di MWC NU Kartasura,” jelas Cecep.

Cecep merinci jadwal lengkap Kartanu di 12 MWC, yaitu Kecamatan Kartasura (10-13 Mei), Polokarto (15-18 Mei), Tawangsari (20-22 Mei), Weru (24, 28, 29 Mei), Bendosari (30, 31 Mei dan 1, 2 Juni), Baki (4-7 Juni), Sukoharjo (9-11 Juni), Grogol (13-16 Juni), Nguter (18-21 Juni), Gatak (23-25 Juni), Mojolaban (27-29 Juni), dan Bulu (2-4 Juli).

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor ? ? ? : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Kajian Islam, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Grebek Suro, Brebes Gelar Festival Rebana dan Kaligrafi

Brebes,Belajar Muhammadiyah. Menyemarakan tahun baru 1436 hijriyah, Pemerintah Kabupaten Brebes menggelar Grebek Suro. Kegiatan tersebut diisi dengan Festival Rebana dan Kaligrafi. Pembukaan kegiatan tersebut ditandai dengan dengan pemukulan bass drum oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE.

Dalam kata sambutan pada kegiatan berlangsung di Pantai Randusanga Indah (Par In), Sabtu (24/10), bupati mengajak hadirin untuk introspeksi diri menghadapi tahun baru Hijriyah.  Semangat hijriyah perlu terus digelorakan dalam sanubari masyarakat Brebes untuk berbuat kebajikan.

Grebek Suro, Brebes Gelar Festival Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebek Suro, Brebes Gelar Festival Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebek Suro, Brebes Gelar Festival Rebana dan Kaligrafi

“Grebek Suro bagi masyarakat Brebes, merupakan semangat gotong royong membangun kebaikan bersama,” tutur Idza.

Belajar Muhammadiyah

Ketua panitia Slamet Marwoko menjelaskan, sebanyak 45 grup rebana dan 34 pelukis menampilkan karya terbaiknya guna merebut piala bupati  dan uang pembinaan. Mereka berasal dari berbagai daerah se-Kabupaten Brebes. “Bahkan untuk lomba rebana, ada peserta dari luar Kabupaten Brebes,” terangnya.

Lomba yang digelar di Par In diharapkan masyarakat Brebes makin mencintai tempat wisata pantai yang menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Brebes. “Selain berlomba, masyarakat bisa menikmati indahnya pantai,” terang Slamet Purwoko yang lebih dikenal dengan Djarot.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut bupati didampingi Sekda Brebes H Emastoni Ezam SH MH, Ketua Panitia dan Dewan Yuri berkeliling mengamati anak-anak yang tengah melukis kaligrafi. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Sumenep, Belajar Muhammadiyah - Salah seorang Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, K M Mushthafa menyampaikan taushiyah kebangsaan pada upacara kemerdekaan, Rabu (17/8). Di depan para santri, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menegaskan, guru adalah penggerak kemerdekaan Indonesia.

"Ingat, Budi Utomo sejak berdiri 1906 sampai 1926 masih tetap berbau Jawanisme (kesukuan). Dan alasan ini telah menggugurkan anggapan bahwa Budi Utomo merupakan penggerak nasionalisme Indonesia," ujar Kiai Mushthafa.

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Ditambahkan, kebangkitan kebangsaan melibatkan semua unsur di negeri ini. Kemerdekaan kita diilhami oleh kaum pelajar yang berprofesi sebagai pendidik. Pada tahun 1922, Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah murni gerakan pendidikan kebangsaan.

Belajar Muhammadiyah

"Semua aktivis pergerakan kemerdekaan, Soekarno, Hatta, Syahrir, Maramis, Subardjo, dan lain-lain adalah seorang guru," bebernya.

Proses kelahiran Indonesia, ujarnya, juga diilhami oleh kalangan pendidik dunia pesantren. Sebut saja Pesantren Annuqayah? yang adalah lembaga pondok penyuplai pejuang dalam Hizbullah sekaligus melahirkan guru pejuang.

Belajar Muhammadiyah

"Kita tidak ragu peran K. Sajjad dan K. Khazin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita pun tak pernah ragu peran KH. Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur sebagai pejuang dan sekaligus pendidik," ungkapnya.

Keterlibatan guru, tukas Kiai Mushthafa, tidak terlepas dari pemahaman bahwa membangun bangsa adalah sebagian dari iman. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Tokoh, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan, pemisahan agama dan urusan-urusan dunia di ruang publik tidak akan bisa diterapkan di Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang kental dalam beragama. 

“Tidak mungkin sekularisme diterapkan di sini. Kalau dilakukan, maka akan memberikan ruang kepada atheis,” kata Yenny dalam acara diskusi publik bertema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa di Jakarta, Rabu (12/4).

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid: Sekularisme Tak Bisa Diterapkan di Indonesia

Menurut dia, praktik-praktik pemisahan agama dan urusan-urusan dunia di ruang publik secara murni itu tidak ada. Ia mencontohkan Negara Prancis yang terkenal keras dalam menerapkan sekularisme. 

Ia menuturkan, di Perancis agama dan urusan dunia benar-benar dipisahkan seperti tidak bolehnya salat di kantor, anak-anak sekolah tidak boleh menggunakan simbol-simbol agama seperti jilbab dan lambang salib, dan menggunakan baju renang muslimah atau burkini juga menjadi masalah karena dianggap memamerkan agama di ruang publik. 

“Tapi kenyatannya di sana Hari Raya Natal masih dirayakan. Agama sudah masuk komersialisasi,” urainya. 

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan, hal tersebut dilakukan karena Negara-negara Barat memiliki trauma terhadap kekuatan gereja pada zaman dahulu yang menyebabkan perang saudara berkepanjangan dan menelan jutaan korban. 

Adapun Indonesia, Yenny menilai, hubungan antara agama dan negara itu baik-baik saja di dalam sejarahnya. Baginya, saat ini Indonesia sudah memiliki formula yang baik dalam hubungan agama dan negara. 

“Ada ruang untuk orang menampilkan identitasnya di ruang publik. Ini formula ajaib Pancasila yang harus dijaga. Orang (negara) lain masih mencarinya,” terangnya.

Ia menyatakan, agama itu sudah menjadi bagian dan menjadi kekuatan dari Indonesia. Maka dari itu, ia menilai, sekularisme murni tidak akan pernah bisa diterapkan di negara dengan jumlah pulau terbanyak di dunia ini.

Belajar Muhammadiyah

“Sekularisme murni tidak akan bisa diterapkan di Indonesia,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sholawat Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah

Banyumas, Belajar Muhammadiyah?

Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Kabupaten Cilacap menggelar aksi damai menolak Full Day School (FDS), Jumat (25/8). Aksi dipimpin oleh H Munir Nur Said yang juga Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Cilacap. Dalam pembacaan sikap, dia menyampaikan empat tuntutan.

Pertama, menolak dengan tegas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, karena tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang nyata-nyata telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Peduli Pendidikan Cilacap Tolak Pemaksaan Lima Hari Sekolah

Kedua, menolak dengan tegas, kebijakan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, yang melakukan tindakan sewenang-wenang, dengan tetap memaksakan kehendak untuk menerapkan 5 (Lima) Hari Sekolah di satuan pendidikan yang ada, tanpa memperhatikan aspirasi penolakan yang berkembang di masyarakat.

Ketiga, menolak dengan sangat tegas pemaksaan penerapan kebijakan 5 (Lima) Hari Sekolah, karena telah nyata mencederai prinsip-prinsip deliberasi sosial dan pengingkaran terstruktur terhadap kekayaan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat, yang telah terbukti sumbangsihnya terhadap pembangunan, penguatan dan pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia.

Keempat, mendesak kepada Presiden Republik Indonesia untuk segera Mencabut dan Membatalkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah, dan Menerbitkan Peraturan Presiden Tentang Pendidikan Karakter yang bersifat Holistik, Integratif dan Non-Diskriminatif, dengan tidak menghapuskan dan menghilangkan eksistensi Pendidikan Keagamaan di Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

Madrasah Diniyah sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, dan telah mampu melahirkan generasi bangsa yang berkarakter, dan memiliki komitmen untuk menjaga keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Fragmen, Lomba Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Diantara yang menjadi materi bahasan dalam agenda Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2017 di Lombok adalah Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP). Materi bahasan ini masuk ke dalam Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah (Perundang-undangan).

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad mengatakan, isu KUHP adalah isu yang sangat besar. Ia mengaku mengawal isu ini sejak tahun 2005 namun isu tersebut selalu kandas ditengah jalan.

“Salah satu persoalannya karena isu yang ada di dalam KUHP itu banyak sekali,” katanya usai acara Pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 di Mataram, Kamis (23/11).

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu

Rumadi menyarankan, jika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ingin mengangkat isu KUHP maka harus fokus pada satu isu tertentu. 

“Misalnya dia (PBNU) mau masuk ke buku satu atau mau masuk ke delik-delik tertentu. Misalnya masuk ke delik agama,” jelas

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta itu.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, jika isu KUHP dibicarakan semua maka itu akan susah dan akan banyak yang kandas di tengah jalan. 

Belajar Muhammadiyah

“Harus fokus ke isu keislaman. Itu isu yang harus dibicarakan di Munas NU,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, News Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock