Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid mengatakan, dahulu umat Islam Indonesia tertinggal dalam masalah dunia, lalu didirikanlah Perguruan Tinggi Islam untuk dapat memadukan keilmuan umum dan keagamaan.

Menurutnya, untuk menggapai kebahagiaan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, seseorang juga harus belajar masalah keduniaan tapi dengan motivasi yang tak melulu duniawi.

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

“Semisal belajar ilmu kedokteran. Niatnya semata-mata karena untuk melayani masyarakat, karena bekerja untuk melayani masyarakat itu berbeda dengan bekerja untuk mencari uang,” ujar pria yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Belajar Muhammadiyah

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut di hadapan mahasiswa dan masyarakat umum Bandung saat menghadiri acara Gema Aswaja Tabligh Akbar Nasional dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw, Sabtu (24/5) malam, di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djari, Bandung, Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya kita dituntut untuk meninjau niat kita dalam menuntut ilmu,” katanya.

Gus Sholah menegaskan, umat Islam di Indonesia menjadi acuan negara-negara Islam lain karena dapat memadukan ilmu agama dengan ilmu dunia. “Karena itulah kita mempunyai paham Aswaja yang menjadi Inspirasi umat Islam di luar Indonesia,” tutur Gus Sholah.

Belakangan ini, di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sendiri, kegiatan keagamaan khususnya yang berhaluan Aswaja semakin semarak. Tokoh-tokoh dan mubaligh nasional kerap diundang untuk menghadiri kegiatan di lingkungan kampus. Respon mahasiswa serta masyarakat sekitar juga positif. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, RMI NU, Amalan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 25 Februari 2018

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Ajang Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) akan segera dilaksanakan akhir bulan depan. Sejumlah persiapan telah dilakukan termasuk seleksi peserta yang akan diberangkatkan.

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang sangat serius mempersiapkan kegiatan perkemahan tingkat nasional ini. Seleksi sejumlah peserta dilakukan secara ketat dan dengan disiplin tinggi. 

“Ini agar saat berbaur dengan kontingen lain dari berbagai daerah tidak mengecewakan,” kata Khojin kepada Belajar Muhammadiyah (28/4).

Belajar Muhammadiyah

“Seleksi ini sebenarnya untuk kali kedua, yang sehari sebelumnya telah dilakukan,” katanya. “Dari proses seleksi, telah dipilih seratus dua puluh peserta,” lanjutnya. Mereka adalah perwakilan dari sejumlah sekolah MA, SMA serta SMK yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Pelaksanaan Perwimanas akan berlangsung 24-29/5 di perkemahan Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung. Tidak kurang empat ribu peserta akan berpartisipasi pada kegiatan ini dari seluruh tanah air.

Belajar Muhammadiyah

“Karena sebagai tuan rumah, maka berbagai persiapan telah kami persiapkan menyambut kegiatan ini,” kata Sekretaris PC LP Ma’arif NU Jombang ini. Apalagi pada kegiatan serupa untuk tingkat Jawa Timur, Jombang berhasil menjadi juara umum.

“Prestasi itu sudah seharusnya kami pertahankan untuk tingkat nasional,” katanya optimis. Dan perwakilan yang telah diseleksi dalam dua gelombang tersebut sebagai kontingen pilihan untuk ajang ini. 

“Kita juga berharap kegiatan berjalan sukses dan silaturahim antar aktifis Pramuka di kepengurusan Ma’arif NU juga akan terus terjalin,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kiai, Cerita Belajar Muhammadiyah

Senin, 19 Februari 2018

Tradisi Halal Bihalal

Di tanah kelahiran Islam, Arab Saudi, tradisi halal bihalal justru tak dikenal. Juga di sebagian besar negara-negara muslim di dunia. Dalam Al-Quran dan Hadis, istilah itu juga tak ditemukan. Tradisi ini hanya khas di Indonesia.

Di kampung-kampung, tradisi bermaaf-maafan biasanya dilakukan usai shalat Idul Fitri atau usai berziarah. Mereka mendatangi satu rumah ke rumah lainya, terutama pemilik rumah yang lebih tua atau dituakan seperti para kiai. Si pemilik rumah menyediakan rupa-rupa makanan, biasanya makanan khas, lokal sebagai penghormatan terhadap tamu dan kegembiraan di hari lebaran.

Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Halal Bihalal

Tak hanya di kampung-kampung, tradisi saling bermaaf-maafan ini juga menjadi tradisi rutin yang digelar instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta. Para pemimpin instansi dan perusahaan menjadikan momen halal bihalal sebagai medium bermaaf-maafan kepada karyawan dan bawahannya. Begitu sebaliknya.

Tradisi ini juga dikembangkan dengan menggelar kegiatan khusus berupa pengajian dan mendatangkan penceramah untuk memberi tausiyah atau pesan-pesan agama.

Belajar Muhammadiyah

Makna halal bihalal lebih dekat dengan pengertian saling memaafkan atas segala salah dan khilaf agar bisa kembali menjadi manusia suci.?

Karena itu, perkataan yang biasa dilontarkan, Minal Aidin wal Faizin, semoga termasuk orang-orang yang kembali dan beruntung. Padahal, kata “halal” biasanya terkait erat dengan konteks hukum berarti sesuatu yang diizinkan atau dibolehkan. Tapi untuk konteks halal bihalal, tidak dimaksudkan untuk itu. Tradisi ini salah satu model pribumisasi Islam. (Alamsyah M. Dja’far)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Berita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

Ayat Kebohongan

Sebagai dai kota, Kiai Durakman beruntung dapat kesempatan ceramah di sejumlah kawasan elite, mulai dari kompleks perumahan anggota DPR sampai kalangan pengusaha.

Ramadhan lalu giliran ia mengisi pengajian tiap Selasa di sekretariat para petinggi partai. Kepada jamaahnya itu, Kiai Durakman mengingatkan, tema pengajian pada pertemuan selanjutnya.

Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Kebohongan

"Selasa depan kita akan membahas tentang kebohongan. Untuk memudahkan pemahaman, saya imbau seluruh jamaah membaca surat Al-Maidah ayat 121 berikut terjemahannya," pintanya.

Belajar Muhammadiyah

Para politisi itu pun serentak menyatakan siap.

Ketika saat pertemuan pekan berikutnya tiba, Kiai Durakman langsung bertanya, "Siapakah di antara bapak/ibu yang sudah membaca al-Maidah ayat 121?"

Belajar Muhammadiyah

Semua hadirin angkat tangan.

Kiai Durakman meringis. "Luar biasa. Padahal surat al-Maidah cuma berisi 120 ayat."

"Baiklah..." Lanjut Kiai Durrakman, "Saya akan mulai pengajian dengan menjelaskan azab-azab bagi orang yang gemar berbohong." (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Sunnah, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Raut wajahnya berbinar saat menerima kami, pegiat media NU. Pagi itu, sesuai jadwal yang disepakati kami diterima di ruang tamu, kediamannya di kawasan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso Peterongan Jombang, Jawa Timur.

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka

Tidak perlu ada protokoler yang ribet untuk bertemu beliau. Sehingga wawancara berjalan sangat cair dengan diselingi canda khas pesantren. KH Ahmad Dimyati Romly yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan PPDU menjelaskan kepada kami apa saja yang telah disiapkan jelang pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, yang kebetulan pesantren ini menjadi salah satu tuan rumah.

"Kami sangat bangga serta tersanjung karena dipercaya sebagai tuan rumah yang akan menyambut peserta Muktamar NU dari berbagai kawasan di tanah air bahkan luar negeri," katanya. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi hajatan lima tahunan tertinggi di NU tersebut.

Salah satu yang dilakukan antara lain memanggil para alumni PPDU yang sedang kuliah di sejumlah kampus di tanah air. Disamping melayani kebutuhan para kiai peserta muktamar, keberadaan alumni yang masih muda tersebut sebagai "tenaga pemasaran" sekaligus mengenalkan keberadaan pesantren dengan kelebihan yang dimiliki kepada peserta.

Belajar Muhammadiyah

Meskipun wawancara berlangsung hampir dua jam, namun Kiai Dim, sapaan beliau masih tampak bugar. Suaranya terdengar jelas karena dilakukan dengan penuh semangat. Kedekatan kepada siapa saja tanpa membedakan derajat dan status sosial dibenarkan KH Zaimuddin Wijaya Asad. "Beliau dekat kepada siapa saja," katanya saat dihubungi, Rabu (18/5). Senyampang masih sehat, undangan dari mana saja akan dihadiri, lanjut Gus Zuem, sapaan akrabnya.

Bendahara Umum PPDU ini kemudian menceritakan bahwa Kiai Dim kendatipun sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang demikian dihormati ribuan jamaah, tidak eksklusif. "Kedekatan dengan umat adalah kelebihan dari beliau," ungkap Gus Zuem.?

KH Ahmad Dimyathi Romly meninggal dunia, Rabu (18/5) sekitar pukul 13.00 WIB di RS Airlangga Jombang. Rais Syuriyah PBNU ini meninggalkan 7 orang anak. Kiai Dim akan dikebumikan di komplek makam keluarga di Pesantren Darul Ulum Jombang. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Tokoh, RMI NU, Nahdlatul Belajar Muhammadiyah

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Beberapa hari yang lalu PBNU meresmikan Gerakan Nasional Ayo Mondok di kantor PBNU, Jakarta. Gerakan Ayo Mondok yang dimotori Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) itu telah berhasil menarik perhatian para pengguna di dunia maya, bahkan sempat menjadi trending topic teratas di Twitter.

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Ayo Mondok, RMINU Jatim Agendakan Safari Ramadhan

Gerakan Ayo Mondok berawal dari keresahan masyarakat yang bingung memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya, termasuk memilih pesantren yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Sering kali para orang tua terjebak kepada pesantren non-Aswaja. "Bukan saja pesantren non-Aswaja tapi ‘pesantren’ sekarang ini sebagian menjadi sarang terorisme," jelas Ketua Pengurus Wilayah RMINU Jatim H Reza Ahmad Zahid saat dihubungi Belajar Muhammadiyah, Kamis (4/6).

Belajar Muhammadiyah

Untuk menghindari gerakan radikalisme atau liberalisme yang terjadi di pesantren, PW RMINU Jatim mendukung gerakan nasional yang diresmikan di kantor PBNU awal Juni lalu.

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan, RMINU Jatim pada bulan suci mendatang akan mengadakan safari Ramadlan. Sekolah negeri akan menjadi sasaran dan akan diisi oleh para santri dari berapa pesantren. "Target kita untuk masa percobaan ini hanya lima pesantren. Salah satu pesantren yang pasti adalah Lirboyo, Kediri," jelas Gus Reza, sapaan akrabnya.

Setelah masa percobaan itu, dari sekian pesantren yang menjadi anggota RMINU Jatim diharapkan bersedia menjadi tempat dan memfasilitasi para calon santri.  "Para santri nanti akan kami arahkan ke pesantren yang sesuai dengan ajaran Aswaja," lanjut Gus Reza.

Rencananya, gerakan nasional Ayo Mondok akan ditegaskan kembali di Mukramar ke-33 NU di Jombang mendatang. (Rofi’i Boenawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kajian Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Syahrozad Nalfa Nadia (9) dan Avicenna Roghid Putra Sidik (6), dua siswa madrasah ini berhasil mencatatkan namanya dengan tinta emas pada ajang Asian Yout Robotic Olympiad (AYRO) 2016 yang digelar di Singapura. Di usianya yang belum sampai sepuluh tahun, kedua siswa Madrasah Pembangunan ini sudah mengukir prestasi bahkan pada ajang kompetisi yang diikuti oleh para siswa dari berbagai negara di ASEAN

Kompetisi robotik ini berlangsung dari tanggal 13-14 Maret 2016 kemarin. “Syahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik meraih Gold Prize medal brick Speed, Gold Prize Medal, Silver Prize Medals Maze Solving Junior, dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior,” terang ibunda mereka berdua, Himatul Laily Waisnaini, Selasa (15/03) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Laily mengaku kaget sekaligus bangga dengan prestasi yang diraih kedua anaknya. Menurut Laily, kebanggaannya semakin terasa karena dia merasa bahwa pilihan ? untuk menitipkan pendidikan ? anaknya di madrasah tidaklah keliru. Selain belajar agama, di madrasah anak-anaknya juga belajar dan dilatih ilmu sains dan teknologi.?

“Saya terharu, saya melihat langsung disana,” tururnya singkat, Selasa (15/03). Atas prestasi yang diraihnya, lanjut Laily, Ocha bahkan didaulat panitia membacakan puisi ? Dzikir karya D. Zawawi Imron pada acara penutupan ajang robotic tersebut. “Saat Ocha membaca puisi, suasana menjadi hening,” tukas Laily.

Selain Ocha dan Avicenna, Andi Faiz Naufal Zain yang mewakili Madrasah Pembangunan UIN Jakarta tampil di tim senior juga berhasil meraih Gold Prize Medal Robot Kreatif dan BPM Animal Robotic. ? Tim MTs Negeri Pamulang juga berhasil mengukir prestasi pada ajang lombat robot ini. ? Ibrahim dan Ridho berhasil meraih Gold Prize Medal Soccer Senior, sedangkan ? Nisa dan Nadya meraih Special Award Robot Kreatif dan Animasi. ? Siswa lainnya bernama Raka mendapat GPM Soccer Senior.

Belajar Muhammadiyah

Dari total 10 cabang yang dilombakan, siswa madrasah berhasil memborong 9 piala. Merekapun kembali ke Indonesia dengan status sebagai juara umum ? ajang kompetisi robot Internasional ? di Singapura. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, RMI NU, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Sidang Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah atau Perundang-undangan Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 2017 Zaini Rahman menyebutkan, ada beberapa usulan yang dilahirkan komisi perundang-perundangan terkait dengan Rancangan Undang-Undang Anti Terorisme (RUU Anto Terorisme). Pertama, mendukung penindakan mereka yang akan melakukan terorisme.

“Orang yang belum melakukan tindakan tapi ia terbukti melakukan persiapan sudah bisa ditindak,” katanya di sela-sela sidang komisi di Pesantren Darul Falah Mataram, Jum’at (24/11).

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini

Kedua, penindakan terhadap pikiran dan penyebaran ideologi radikalisme dan terorisme. Menurut dia, tindakan terorisme itu berawal dari pikiran dan ideologi yang radikal. Ia menyarankan agar pemerintah bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap lembaga-lembaga yang terindikasi mengusung ideologi radikal dan terorisme.

“Itu harus dicegah dan ditindak,” tegasnya.

Ketiga, ada kelembagaan baru yang melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk mengawal program pencegahan, penindakan, dan pemulihan pelaku terorisme. Ia juga menyarankan agar para penegak hukum diawasi dengan ketat agar tidak melakukan tindakan kriminalisasi kepada seseorang yang mereka tidak suka.

“Termasuk pengawasan terhadap penegak hukumnya agar mereka tidak melakukan kriminalisasi terhadap tokoh agama atau tokoh yang terindikasi tindakan terorisme,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Zaini mengatakan, pemerintah juga seharusnya memperhatikan dan memberikan fasilitas terhadap pemulihan pelaku tindak pidana terorisme agar tidak melakukan tindakan yang ekstrim lanjutan. 

“Para pelaku terorisme harus dipulihkan pikiran, ideologi, termasuk soal ekonominya,” tukasnya.

Keputusan dalam tiap sidang komisi baru akan diresmikan Sabtu (25/11) besok dalam sidang pleno menjelang penutupan. (Muchlishon Rochmat)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Kiai Rosyidi, Menjaga Masjid Agung, Merawat Umat

Brebes,Belajar Muhammadiyah. Masjid Agung merupakan lambang suatu daerah. Dipastikan para musafir akan singgah di masjid agung untuk bersujud pada-Nya sembari melepas lelah. Kehadiran Drs KH Rosyidi sepertinya dinoktahkan sebagai ‘penjaga’ masjid agung Brebes sekaligus merawat umat menuju jalan lurus, jalan yang di ridloi-Nya.?

Setiap hari, dengan menaiki sepeda listrik, Kiai Rosyidi meluncur ke Masjid Agung dari rumahnya di Jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes sebelum muadzin mengumandang adzan maghrib. Sudah bertahun-tahun lamanya Kiai kharismatik di Kota Brebes ini mengimami sholat Maghrib bagi para jamaah di berbagai penjuru daerah yang bersujud di masjid Agung. “Saya dijadwalkan ngimami sholat maghrib di Masjid Agung,” tutur Kiai Rosyidi yang juga Ketua Yayasan Masjid Agung Brebes, saat ditemui di rumahnya, Kamis (13/10).

Selain dimasjid Agung, pria kelahiran Brebes 8 Oktober 1937 ini juga menjadi imam sholat Isya di Masjid Baitul Izah Pasarbatang Gamprit dan imam sholat Subuh di Mushola Baitul Rohman Pasarbatang Gamprit.?

Kiai Rosyidi, Menjaga Masjid Agung, Merawat Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Rosyidi, Menjaga Masjid Agung, Merawat Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Rosyidi, Menjaga Masjid Agung, Merawat Umat

Kehidupannya yang tidak jauh dari masjid dan mushola, membuat dia pandai bersyukur. Bahkan ketika sholat subuh, tidak tahu kalau naas telah menimpanya karena sepeda listrik kesayangannya digondol maling. “Pas 1 November 2015, sepeda saya hilang. Kejadianya begitu cepat, jamaah tidak ada yang tahu kalau sepeda saya hilang, padahal saya baru sholat sunah,” tuturnya gelo.

Kendati demikian, dia tetap bersyukur, karena kehilangan sebagai pertanda kalau Sang Khalik sedang sayang pada hamba-Nya. Terbukti, dari kehilangan tersebut tiba-tiba datang sepeda listrik yang baru, hadiah dari anaknya. “Anakku mendengar kalau sepedaku hilang, lalu langsung membelikan sepeda listrik baru,” ungkapnya.

KH Rosyidi berasal dari keluarga sederhana, bahkan menjadi anak yatim piatu sejak usia 6 tahun. Menjadi yatim piatu tidak membuatnya patah arang, karena percaya ada tangan Tuhan yang menuntunnya.?

Belajar Muhammadiyah

“Saya lola-lali (yatim piatu) sejak usia 6 tahun,” terang Kiai Rosyidi.

Dia menceritakan, diusia 6 tahun ayahnya yang seorang Kuminco (Ketua RT) Gamprit H Abdul Kholik tutup usia. Dan pada peringatan 40 hari kematian ayahnya, ibunya Hj Muntari giliran dipanggil menghadap Allah SWT. “Diusia 6 tahun, saya tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk menjalani kehidupan,” kenangnya penuh kesedihan.

Belajar Muhammadiyah

Untung saja, Rosyidi Kecil, dipungut oleh kakak dari Ibunya Pak de H Fadholi yang kebetulan tidak punya anak. Di bawah asuhan H Fadholi, Rosyidi kecil mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) Brebes Tengah selama 3 tahun, terus melanjutkan ke SR Klapet kelas IV-VI hingga tamat 1951. “Untuk bisa jajan, setiap hari saya membantu penjual krupuk membawakan dagangannya, terus saya diberi krupuk. Tiap hari saya jajannya krupuk,” ungkap Suami dari Hj Fatikhah sambil tertawa kecil.

Selain di SR, Rosyidi juga menempuh Madrasah selama 2 tahun. Dengan bekal madrasah tersebut, dia melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Pertama (PGA P) di Pekalongan selama 4 tahun (1951-1955). Di PGAP, Rosyidi menjadi siswa teladan sehingga bisa masuk ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) di Yogyakarta selama 3 tahun (1955-1958).?

Selepas PHIN tahun 1958, Rosyidi langsung mendapat SK Menteri Agama sebagai PNS di Kantor Penerangan Agama Kalimantan Tengah yang berkantor di Banjarmasin Kalimantan Selatan.?

Tiga tahun menjadi PNS, Rosyidi mendapat beasiswa tugas belajar di IAIN Yogyakarta pada tahun 1961 hingga mencapai gelar sarjana bidang Ushuludin jurusan filsafat.?

Pada tahun 1968, dia ditarik ke Kantor Penerangan Agama Jawa Tengah di Semarang dan tahun 1971 pulang kampung ke Kantor Penerangan Agama kabupaten Brebes. Dari Kantor Penerangan, lelaki penggemar olahraga ini menjadi Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Brebes 1978-1989.?

Jabatan terakhir sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Pekalongan dari 1989 hingga pensiun 1993. Sebagai PNS, Kiai Rosyidi mendapat Penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 tahun.?

Selepas pensiun, ayah dari Ir Siti Farida Rohmulyati, M Akhsanul Haq MAk, M Azhar Yuniato SKom dan Anis Agus Setiawan SPd mengabdi sepenuh hati, merawat umat lewat berbagai aktivitas organisasi.?

Antara lain, bergerak sebagai Ketua Yayasan Islamic Center yang sebelumnya dipegang oleh pemkab Brebes. Ditangannya, Islamic Center mampu merekrut STAIB Brebes sebagai bagian dari Yayasan Islamic Center dan juga mendirikan SMK Islamic Center. Fungsi awal Islamic Center, sebenarnya untuk pemberangkatan dan pemulangan Jamaah Haji Brebes. “Sebab, dulu jamaah haji Brebes diberangkatkan dari alun-alun, yang akibatnya ribet bukan main,” ungkapnya.

Selain itu, Kiai Rosyidi aktif diberbagai organisasi sosial kemasyarakatan antara lain menjadi Ketua Majelis Dakwah Indonesia (MDI), Wakil Ketua PGRI, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Ketua Yayasan Masjid Agung, Pengurus DHC BPK 45. Pengurus Dewan Pendidikan, Ketua Komite MTs N Model Brebes dan lain-lain.?

Penggemar Sate dan Es Jeruk ini juga pernah menjadi anggota DPRD Brebes dari fraksi Golkar periode 1997-1999. Menurutnya, anggota Dewan saat itu tidak bisa berkontribusi banyak kepada rakyat. Karena tekanan dari eksekutif terlalu dominan. “Era orba, peran dewan masih lemah,” terangnya.

Sebagai tokoh Brebes, Kiai Rosyidi melihat Brebes merupakan negeri yang subur dan menjanjikan untuk lebih maju. Masyarakatnya juga damai, agamis dan nrimo. Tinggal bagaimana pemimpinnya bisa menuntun masyarakat Brebes kearah keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan atau tidak.

Rosyidi berharap, pelaku kebijakan di Brebes untuk lebih berkonsentrasi menggenjot tiga komponen penyokong kemajuan yakni pertanian, perikanan dan kehutanan. ? “Tiga komponen tersebut, harus mendapat perhatian khusus dari Pemkab,” harapnya.?

Masalah kehidupan beragama, lanjutnya, sudah cukup menjadi titik konsentrasi Kementerian Agama, Pemuka Agama dan FKUB. Pemkab tinggal menjembatani untuk toleransi, kerukunan dan peningkatan kegiatan Keimanan dan Ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. (Wasdiun/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Jalin Komunikasi, Mahfud MD Kunjungi PBNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Calon wakil presiden PKB Mahfud MD melakukan kunjungan ke gedung PBNU dan diterima oleh KH Said Aqil Siroj, Kamis (24/4).

Jalin Komunikasi, Mahfud MD Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalin Komunikasi, Mahfud MD Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalin Komunikasi, Mahfud MD Kunjungi PBNU

Mahfud menjelaskan, kunjungannya ke PBNU dalam rangka terus menjaga komunikasi dengan PBNU terkait dengan dinamika politik yang terus menghangat dalam pencarian mitra koalisi partai politik dan penentuan pasangan capres-cawapres.

“Sejauh ini, kami terus menjalin komunikasi dengan semua partai politik untuk membuka peluang koalisi,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menegaskan, mendapat tawaran menjadi pasangan Aburizal Bakrie, capres Partai Golkar, tetapi karena partai berlambang beringin tersebut meminta jawaban cepat, sementara PKB masih membuka peluang dengan partai lain, maka ia mempersilahkan Golkar mencari mitra koalisi lain.

Belajar Muhammadiyah

KH Said Aqil Siroj menjelaskan, PBNU turut mendukung dan mendoakan kadernya menjadi pemimpin bangsa.?

Ia juga menegaskan, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar terus melakukan komunikasi dengan PBNU dalam penentuan kebijakan strategis pemilihan calon pemimpin nasional yang mempengaruhi masa depan bangsa Indonesia. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menagih Presiden Joko Widodo mewujudkan janjinya untuk menindak tegas kelompok anti-NKRI. Hal ini disampaikan Gus Yaqut di sela sela Halaqoh Internasional yang digelar GP Ansor di GOR Hasbullah Said Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (21/5).

"Presiden Jokowi telah mengatakan, akan menggebug kelompok radikal yang ingin mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lakukan jangan ngomong," ujar Gus Yaqut kepada sejumlah media.

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI



(Baca: Ormas Melawan Pancasila, Presiden Jokowi: Kita Gebuk!)


Belajar Muhammadiyah

?

Halaqoh Internasional yang mengusung tema "Menuju Rekontekstualisasi Islam demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban," itu berakhir Senin (22/5).

Pria yang akrab disapa Gus Tutut itu mengatakan, Ansor dan Banser menilai kelompok yang ingin mengubah NKRI apa pun namanya berarti telah menghina dan menginjak harga diri Ansor dan Banser.

Belajar Muhammadiyah

"Berarti mereka ingin mengacak- acak apa yang telah diperjuangkan ulama kami, kiai-kiai NU, maka akan kami lawan, Ansor dan Banser akan kawal NKRI," tandasnya.

Bagi Ansor, lanjut Gus Tutut, Pancasila sudah menjadi kesepakatan bersama, Pancasila merupakan kristalisasi dari perjuangan para pendahulu dari semua golongan, agama. suku bangsa, dan bahasa yang berbeda-beda. “Mereka disatukan? dengan Pancasila. Ketika ada kelompok yang tidak sepakat dan ingin mengubah maka pemerintah harus tegas," imbuhnya.

Sementara itu, dalam pembukaan halaqoh, Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menyampaikan terima kasih kepada pembicara yang sudah hadir, melalui tayangan video yang sebelumnya sudah direkam oleh panitia.

"Saya menyesal sekali tidak bisa hadir secara langsung dalam kegiatan ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya, terutama tamu pembicara dari berbagai negara," ujar Gus Mus sebelum membuka kegiatan, dalam tayangan video yang ditampilkan di layar lebar.

Menurut Gus Mus, kegiatan ini sangat berharga untuk menggelorakan Islam yang damai. Itu karena di berbagai negara saat ini membutuhkan hasil pemikiran yang sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.

"Semoga diskusi ini bisa menjadi solusi melalui hasil berbagi pemikiran untuk kebaikan Islam dalam kondisi seperti sekarang ini, semoga bernilai ibadah untuk kita semua," katanya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Habib Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah

Makkah, Belajar Muhammadiyah?



Menteri Agama Lukman Hakim saifuddin bersama ribuan jemaah haji Indonesia menghadiri Silaturahim NU Sedunia di Mahbas Jin, Makkah. Silaturahim ini digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa NU Arab Saudi.

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Hadiri Silaturahim Warga NU Sedunia di Makkah

Tampak hadir dalam silaturahim ini, KH Maemoen Zubair, KH Shalahuddin Wakhid, KH Agoes Ali Masyhuri, sejumlah Pengurus PBNU. Di hadapan ribuan warga Nahdliyyin yang hadir, Menag menegaskan kembali tentang komitmen dan kontribusi NU terhadap eksistensi NKRI.?

“NU sebagai jamiyah diniyyah islamiyyah dikenal paling besar komitmennya terhadap eksistensi NKRI karena ajaran yang dianutnya selama ini,” ujar Menag, Selasa (29/08) sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Di tengah kompetisi yang semakin ketat, Menag menilai ajaran pendahulu NU sangat relevan sebagai pondasi dalam membangun peradaban bangsa dan dunia.?

“Nilai yang selama ini diajarkan pendahulu kita semakin relevan. Ajaran tasammuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal semakin dibutuhkan,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Sehubungan itu, Menag mengajak warga NU untuk terus aktif menebarkan Islam dengan kearifan. Menurutnya, dalam menebarkan nilai-nilai NU, Nahdliyyin jangan ikut tergoda melakukan tindakan yang justru bertolak belakang dengan nilai itu sendiri.

“Menyebarkan ajaran Islam Nusantara tidak perlu dengan cara menyalah-nyalahkan paham atau ajaran lain yang berbeda dengan kita. Tebarkan ajaran itu sesuai nilai NU itu sendiri,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Menag menyambut baik agenda tahunan yang diselenggarakan PCI NU Arab Saudi. Menurutnya, kegiatan ini positif. Selain karena temanya relevan dengan perkembangan zaman, yaitu meneguhkan NKRI, pertemuan ini memberi peluang warga NU untuk bersilaturahim dan mendengarkan tausiah dari para ulama. ?

“Alhamdulillah tadi dihadiri KH Maemoen Zubair, KH Shalahuddin Wakhid, KH Agoes Ali Masyhuri dan banyak tokoh ulama selain dari PBNU dan dari berbagai kalangan,” tuturnya. “Ini sesuatu yang penting agar di tengah musim haji, warga NU bisa berkumpul dan bersilaturahim sambil mendoakan bangsa Indonesia senantiasa terjaga keutuhannya sebagai bangsa di tengah kemajemukan,” tandasnya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel. Tampil sebagai narasumber, antara lain: Yahya Cholil Tsaquf dan Rumadi Ahmad. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Humor Islam, Hadits Belajar Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Jember,Belajar Muhammadiyah. Hujatan dengan kata-kata kotor di media sosial masih saja terjadi. Kali ini adalah Wisnu Bagus Prabowo. Lelaki yang beralamat di Desa/Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa timur? itu menghujat Pondok Pesantren Sidogiri di akun FB-nya. Banyak sekali tudingan-tudingan miring yang dilontarkan Wisnu.

Tentu saja, hujatan kebencian itu membuat merah telinga santri dan alumni pondok pesantren salaf tersebut. Sempat serjadi “pertengkaran” serius di media sosial antara Wisnu dan M. Rosul Baidla’i, penasihat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember. Dan hujatan itu pun sempat menjadi viral sebelum akhirnya diklarifikasi di darat.

Pertemuan antara Wisnu dan IASS Jember digelar di Masjid Sunan Kalijaga, Jl. Kalimantan, Jember, Senin malam (9/1). Di hadapan Ketua IASS Jember Shodiq AS, M. Rosul Baidla’i? dan sejumlah pengurus lainnya, Wisnu dituntut minta maaf dan menghapus? komentar hujatan di akun FB-nya.

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Wisnu pun mengamini permintaan tersebut. Bahkan dengan ringan, ia menulis permintan maaf di sehelai kertas dan ditandatangani di atas materai. Menurutnya, ujaran kebencian itu hanya luapan dari rasa emosinya dan tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya. “Jadi saya mohon maaf atas semua ini,” ujarnya Wisnu.

Rosul berharap agar kasus tersebut menjadi pelajaran bagi Wisnu dan siapa pun untuk berhari-hati berkomentar di media sosial. Apalagi terkait dengan tokoh atau lembaga pesantren. Sebab, jika menyangkut tokoh, organisasi dan sebagainya, maka reaksi keras akan muncul. “Jadi, tolong hati-hati kalau ngomong,” ungkap Rosul.

Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris GP Ansor Jember Kholidi Zaini berharap agar kasus tersebut merupakan yang terakhir terjadi. Sebab, ujaran kebencian di media sosial, apalagi sampai mengungkap aib tokoh atau organisasi, sungguh mempunyai efek degradasi sosial yang luas.

Belajar Muhammadiyah

“Alhamdulillah kasus itu bisa diselesaikan secara damai dan cepat. Ansor tetap berkomitmen membela NU dan pesantren. Lebih-lebih pesantren NU seperti Sidogiri,” ucapnya kepada? Belajar Muhammadiyah melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A. Razaq)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Warta, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan pergulatan yang hebat di kalangan berbagai kelompok Islam di Tanah Air. Banyak muncul berbagai organisasi baru yang mengajukan klaim sebagai perwadahan organisasi kaum ulama Indonesia, baik yang berstatus swasta maupun setengah resmi. Ada yang didirikan khusus untuk menampung aspirasi kelompoknya saja, tetapi ada yang didirikan sebagai wadah dialog (musawarah) para ulama berbagai kelompok.

Di samping bertemunya segala macam ajaran dari berbagai kelompok di lingkungan perguruan-perguruan tinggi agama dan non-agama, organisasi-organisasi keulamaan itu akhirnya membawakan kebutuhan untuk melakukan perumusan kembali pengertian aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama sendiri. Ini tercetus antara lain dalam bentuk membatasi pengertian ke-ahlussunnah-an hanya pada satu ajaran saja. Yaitu ajaran tauhid kedua imam Asy’ari dan Al-Maturidi saja. Asa yang selama ini menjadi dasar keputusan bersama (ijma’ = konsesus) tentang madzhab fiqh dan akhlaq al-tasawwuf diminta agar ditinjau kembali karena ada kemungkinan keduanya tidak termasuk asa ke-ahlussunnah-an.

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Kita dapat menghargai dan mengerti munculnya keinginan seperti itu yang didasarkan kepada niat baik untuk mencari pendekatan sejauh mungkin antara warga Nahdlatul Ulama dan warga organisasi-organisasi lain, sebagai reaksi atas perpecahan hebat yang terjadi dalam batang tubuh umat Islam sendiri selama ini. Kita dapat memahami munculnya gagasan islaf (meniru kaum salaf) hingga kepada masa sebelum perbentukan madzhab fiqh, sebagai ikhtiyar penghayatan kembali masa keemasan Khulafaur Rasyiddin. Kita dapat memahami peningkatan kecenderungan untuk istidlal langsung kepada nushush manqulah yang menjadi sumber utama hukum agama kita, dengan mengurangi pengambilan langsung dari aqwal fi qutubihim al-muqarrarah, demi tercapainya kesatuan dan persyatuan di kalangan umat Islam. Semuanya akan kita korbankan dan kita persembahkan kalau diperlukan untuk memelihara kesatuan dan persatuan itu.

Tetapi kenyataan yang ada tidaklah semudah impian di atas. Andai kita tinggalkan perumusan yang sudah ada tentang al-Usus al-tsalatsah fi I’tiqadi ahlissunnah wal Jamaah (bertauhid mengikuti Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, berfiqh mengikuti salah satu madzhab empat dan berakhlaq sesuai dengan perumusan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali) dan kita ambil patokan paling sederhana seperti yang diusulkan di atas, dapat dipastikan persatuan dan kesatuan umat Islam tetap belum terwujud. Perpecahan hebat di lingkungan umat Islam diakibatkan oleh perbedaan besar dalam soal-soal luar aqidah, maka yang terjadi adalah perbedaan dalam penerapan aqidah itu sendiri dalam masalah-masalah nyata yang timbul dalam kehidupan. Kaum Ahlussunnah wal Jam’ah di lingkungan Nahdlatul Ulama menggunakan segala kelengkapan (alat) dan istimbath al-ahkam, termasuk usulul al-fiqh, qawaid al-fiqh, dan hikmat al-tasry’ dalam merumuskan keputusan hukum agama mereka, sedangkan orang lain hanya menggunakan istinbath dari (pengambilan lnagsung dari dalam naqli tanpa terlalu mementingkan penggunaan alat-alat tersebut di atas dalil naqli itu) dalam mengambil keputusan. Biar bagaimanapun juga, tiak akan ada kesepakatan cara (wasail, metode) di kalangan kaum muslimin, dan tetap akan ada perbedaan pendapat (ikhtilaf al-ara’) di antara mereka sebagai akibat sebagaimana diperkuat oleh kaidah ikhtilaf al-ummah rahmah.

Menciptakan Saling Penghargaan

Belajar Muhammadiyah

Pemecahan persoalannya bukanlah dengan cara mempersatukan semua wasail yang berbeda-beda itu, melainkan menciptakan saling penghargaan di antara kelompok yang berlainan pandangan itu. Kesamaan sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan adalah alat utama untuk menghilangkan perbedaan pendapat, atau setidak-tidaknya usaha menghindarkan perbedaan yang tajam. Sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan yang bersamaan secara nisbi, dapat dikembangkan melalui penyusunan dasar-dasar umum penerapan aqidah masing-masing guna maslahah bersama. Kalau kita perbincangkan pengembangan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka caranya bukanlah dengan mengembangkan (perumusan kembali) aqidah yang sudah muttafaq ‘alaih semenjak berabad-abad, melainkan dengan mengembangkan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah diterima secara umum di lingkungan Nahdlatul Ulama itu. Biarkanlah al-usus al-tsalatsah yang sudah menjadi konsesus itu tetap pada keasliannya, sesuai dengan kaidah “al-ashlu baqau ma kana ala makana”. Yang terpenting adalah bagaimana merumuskan dasar-dasar umum penerapan ketiga usus itu dalam kehidupan nyata sekarang.

Dua Bentuk Kerja Utama

Pengembangan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah ada, tanpa mengubah aqidah itu sendiri, dapatlah dirumuskan sebagai upaya pengembangan ajaran (ta’lim) Ahlussunnah wal Jamaah. Pengembangan ajaran itu mengambil bentuk dua kerja utama berikut.

Pertama, pengenalan pertumbuhan kesejarahan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang meliputi pengkajian kembali sejarah pertumbuhan Ahlussunnah wal Jamaah dan dasar-dasar umum penerapannya di brbagai negara dan bangsa, semenjak masa lalu dan sekarang. Ini meliputi pengkajian wilayah (dirasat al-aqalim al-muslimah/area studies of Islamic people), dari Afrika Barat hingga ke Oceania dan Suriname. Kekhususan dasar umum masing-masing wilayah harus dipelajari secara teliti, untuk memungkinkan pengenalan mendalam dan terperinci atas praktik-praktik ke-ahlussunnah-an.

Kedua, perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, meliputi bidang-bidang berikut;

Belajar Muhammadiyah

1.? Pandangan tentang tempat manusia dalam kehidupan alam

2.? Pandangan tentang ilmu, teknologi, dan pengetahuan

3.? Pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan masyarakat

4.? Pandangan tentang hubungan individu (syakhs) dan masyarakat (mujtama’)

5.? Pandangan tentang tradisi dan penyegarannya melalui kelembagaan hukum, pendidikan, politik dan budaya

6.? Pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat, dan

7.? Asas-asa penerapan ajaran agama dalam kehidupan.

Secara terpadu, perumusan akan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat itu akan membentuk perilaku kelompok dan perorangan yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hiup, dan sistem nilai (manhaj al-qiyam al-mutsuliyyah) yang secara khusus akan memberikan kebulatan gambaran watak hidup Ahlussunnah wal Jamaah (syakhsyiyatu ma tamassaka bi aqidati Ahlissunnah wal Jamaah).

Kehidupan Masa Kini

Perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat yang dibagi dalam tujuh bidang di atas, akan dapat dilakukan dalam sebuah dialog terbuka di kalangan warga Nahdlatul Ulama, tidak hanya terbatas di lingkungan tertentu saja. Untuk memungkinkan pembicaraan terbuka yang eifisien, diperlukan sebuah kerangka umum pandangan Nahdlatul Ulama atas masalah-masalah kehidupan masa kini. Kerangka umum itu, menurut hemat penulis, haruslah memasukan unsur-unsur berikut.

Pertama, pandangan bahwa keseluruhan hidup ini adalah peribadatan (al-hayatu ‘ibadatun kulluha). Pandangan ini akan membuat manusia menyadari pentingnya arti kehidupan, kemuliaan kehidupan, karena itu hanya kepadanya lah diserahkan tugas kemakhlukan (al-wadhifat al-khalqiyyat) untuk mengabdi dan beribadat kepada Allah SWT. Demikian berharganya kehidupan, sehingga menjadi tugas umat manusia lah untuk memelihara kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, termasuk memelihara kelestarian sumber-sumber alam, memelihara sesama manusia dari pemerasan oleh segolongan kecil yang berkuasa melalui cara-cara bertentangan dengan perikemanusiaan, meningkatkan kecerdasan bangsa guna memanfaatkan kehidupan secara lebih baik, dan seterusnya.

Kedua, kejujuran sikap hidup merupakan sendi kehidupan bermasyarakat sejahtera. Kejujuran sikap ini meliputi kemampuan melakukan pilihan antara berbagai hal yang sulit, guna kebahagiaan hidup masa depan; kemampuan memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri (sehingga tidak terjadi aturan permainan hidup bernegara yang hanya mampu menyalahkan orang lain dan menutup mata terhadap kesalahan sendiri); dan kemampuan mengakui hak mayoritas bangsa dan umat manusia untuk menentukan arah kehidupan bersama. Kejujuran sikap ini akan membuat manusia mampu memahami betapa terbatasnya kemampuan diri sendiri, dan betapa perlunya ia kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbeda pendirian sekalipun. Ini akan membawa kepada keadilan dalam perlakuan di muka hukum, penegakan demokrasi dalam arti yang sebenarnya, dan pemberian kesempatan yang sama untuk mengembangkan pendapat masing-masing dalam kehidupan bernegara.

Ketiga, moralitas (akhlaq) yang utuh dan bulat. Akhlaq yang seperti ini, yang sudah dikembangkan begitu lama oleh para ulama kita, tidak rela kalau kita hanya berbicara tentang pemberantasan korupsi sambil terus-menberus mengerjakannya; tidak dapat menerima ajakan hidup sederhana oleh mereka yang bergelimang dalam kemewahan tidak terbatas yang umumnya diperoleh dari usaha yang tidak halal; dan menolak penguasaan seluruh wilayah kehidupan ekonomi oleh hanya sekelompok kecil orang belaka.

Secara keseluruhan, kerangka umum di atas akan membawa Nahdlatul Ulama kepada penyusunan sebuah strategi perjuangan baru yang akan mampu memberikan jawaban kepada tantangan-tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama sendiri dewasa ini dan di masa mendatang, strategi perjuangan itu, yang unsur-unsurnya sudah banyak dibicarakan dan dirumuskan dalam berbagai kesempatan oleh banyak kalangan Nahdlatul Ulama sendiri, perlu dirumuskan dan disusun, jika kita ingin melakukan perjuangan yang lebih terarah dengan cara yang lebih tepat.

Dua Sendi

Untuk keperluan penyusunan strategi perjuangan itu, di bawah ini akan dikemukakan kedua sendi yang tidak boleh tidak harus dimiliki.

Pertama, pendekatan yang akan diambil oleh strategi itu sendiri, yang seharusnya ditekankan pada penanganan masalah-masalah kongkret yang dihadapi oleh masyarakat melalui kerja-kerja nyata dalam sebuah proyek rintisan, baik di bidang pertanian, perburuhan, industri kecil, kesehatan masyarakat, pendidikan keterampilan, dan seterusnya.

Kedua, organisasi atau arah yang akan ditempuh oleh strategi itu sendiri, yang seyogianya dipusatkan pada pelayanan kepada kebutuhan pokok mayoritas bangsa, yaitu kaum miskin dan yang berpenghasilan rendah.

?

?

*) Tulisan ini pernah dimuat sebagai kata pengantar dalam buku “Ahlussunnah wal Jamaah: Sebuah Kritik Historis” karya ? KH Said Aqil Siroj (Jakarta: Pustaka Cendikia Muda, 2008).

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Bogor, Belajar Muhammadiyah. Kontekstualisasi hukum Islam yang terkumpul dalam kompilasi hukum Islam (KHI) dinilai masih sangat kurang pas dengan kehidupan sosial di Indonesia, karena masih banyaknya pihak yang merasa terdiskriminasi dari penerapan hukum Islam produk Inpres 1992 itu, terutama dari kalangan perempuan.

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Keluarga di Indonesia Masih Bernuansa Patriakhis

Hal itu terungkap pada acara Bedah Buku “Fiqih Indonesia” karangan Marzuki Wahid? yang di selenggarakan oleh Mahasiswa STAINU Jakarta Prodi Ahwalu Syakhsiyah, Kamis (29/5) di gedung Kampus B STAINU Jakarta, Parung Bogor.

Hadir KH Husein Muhammad, pengasuh pesantren Darul Tauhid Arjawinangun sekaligus sebagai komisioner komnas perempuan dan Ulil Absor Abdalla pendiri Jaringan Islam Liberal dan dimoderatori oleh Ahmad Ikrom salah satu dosen di STAINU Jakarta.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan dihadiri oleh Ketua STAINU Jakarta, Drs Mujib Qolyubi MH dan segenap civitas akademika STAINU serta mahasiswa dari kampus lainnya seperti UIN Jakarta dan PTIQ.

Belajar Muhammadiyah

Husein Muhammad dalam kesempatan itu mengatakan, buku Fiqih Indonesia adalah buku yang menawarkan konsep Fiqih yang benar-benar baru bagi masyarakat Indonesia, karena pembahasan yang di ketengahkan dalam buku ini mengenai hukum keluarga yang populer pula di sebut dengan al-Ahkam al Ahwal al-Syakhsiyah yang berusaha untuk meniadakan praktek diskriminatif yang dialami oleh sebagian keluarga, khususnya adalah pihak perempuan karena mengacu pada undang-undang hukum islam yang terangkum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Karena pembahasan ini sifatnya sangat baru dan asing di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di kalangan Nahdhiyyin, menjadikan buku ini, buku yang sangat kontroversial.

“Hukum keluarga di Indonesia ini masih bernuansa diskriminatif-patriakhis, coba lihat saja dalam beberapa kasus, seperti? di undang-undang mengenai pembatasan usia nikah bagi perempuan yang di atur dalam pasal 15 ayat (1). Pasal ini di anggap tidak adil karena telah membatasi usia minimal perempuan boleh menikah lebih rendah usia laki-laki, sedangkan dalam usia 16 tahun perempuan terkadang masih belum siap mental dan alat reproduksinya dan masih banyak lagi, seperti tentang perempuan bisa menjadi kepala rumah tangga, bolehnya pernikahan beda agama dan lain sebagainya,” Kiai Husein yang sekaligus sebagai pembela hak-hak perempuan ini.

Menanggapi banyaknya pro dan kontra terhadap isi buku Fiqih Indonesia, Ulil Absar Abdalla mencoba untuk memberikan pemahaman kepada para peserta bedah buku yang hadir dengan menjelaskan arti sebenarnya Ukhuwwah Islamiah.

“Ukhuwah Islamiah yang benar adalah bukan ukhuwah yang mengharuskan semuanya sama. Bukan ukhuwwah yang mengharuskan semua ummat muslim harus berpendapat yang sama, kalau satu kelompok A maka kelompok yang lainnya juga A. Tapi ukhuwwah islamiah adalah persaudaran umat Islam yang di dasari dengan perbedaan dan keragamaan,” tegasnya.

Pada akhirnya kedua narasumber menawarkan pentingnya membaca buku Fiqih Indonesia yang di dalamnya terangkum hukum-hukum Islam baru yang sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia. (Nizar Presto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Sholawat, Budaya Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Islam dan Orientasi Ekonomi

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam pandangan Islam, tujuan hidup perorangan adalah mencari kebahagian dunia dan akhirat yang dicapai melalui kerangka peribadatan kepada Allah Swt. Terkenal dalam hal ini firman Allah melalui kitab suci al-Qurân: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada Ku (wa mâ khalaqtul-jinna wal-insâ illâ liya’budûni)” (QS. adz-Dzâriyât [51]:56). Dengan adanya konteks ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan Tuhan, dan dengan demikian ia tidak berbuat sesuka hati. Karena itulah, akan ada kendali atas perilakunya selama hidup, dalam hal ini adalah pencarian pahala/ kebaikan untuk akhirat, dan pencegahan sesuatu yang secara moral dinilai buruk atau baik di dunia. Karena itulah doa seorang muslim yang paling tepat adalah “Wahai Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat (rabbanâ âtinâ fîd-dunya hasanatan wa fîl-âkhirati hasanatan)” (QS. al-Baqarah [2]:201).

Yang digambarkan di atas adalah kerangka mikro bagi kehidupan seorang Muslim di dunia dan akhirat. Hal ini adalah sesuatu yang pokok dalam kehidupan seorang manusia, yang disimpulkan dari keyakinan akan adanya Allah dan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan-Nya. Tanpa kedua hal pokok itu sebagai keyakinan, secara teknis dia bukanlah seorang muslim.

Islam dan Orientasi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Orientasi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Orientasi Ekonomi

Karena manusia adalah bagian dari sebuah masyarakat, maka secara makro ia adalah makhluk sosial yang tidak berdiri sendiri. Terkenal dalam hal ini ungkapan: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan. (La Islama illa bi jama’ah wala jama’ata illa bi imarah wala imarata illa bi tha’ah).” Dengan demikian, kedudukan dan tugas seorang pemimpin sangat berat dalam pandangan Islam. Dia harus menciptakan kelompok yang kuat, patuh dan setia pada kerangka peribadatan yang dikemukakan Islam. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus memiliki strategi yang jelas agar tercapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan ini diungkapkan dengan indahnya dalam pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Sedang dalam bahasa Arab, seorang pemimpin harus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat yang bertumpukan keadilan dan kemakmuran atau “al-maslahah al-âmmah”.

Belajar Muhammadiyah

***

Hal kedua yang harus ditegakkannya adalah orientasi yang benar dalam memerintah, termasuk orientasi ekonomi yang jelas. Jika segala macam kebijakan pemerintah, tindakan yang diambil dan peraturan-peraturan di bidang ekonomi yang selama ini –sejak kemerdekaan kita-, hampir seluruhnya mengacu kepada kemudahan prosedur dan pemberian fasilitas kepada usaha besar dan raksasa, yang berarti orientasi ini tidak memihak kepada kepentingan Usaha Kecil Menengah (UKM), maka sekarang sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan-perubahan dalam orientasi ekonomi kita. Orientasi membangun UKM, dijalankan dengan penyediaan kredit yang berbunga sangat rendah sebagai modal pembentukan UKM tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Perubahan orientasi ekonomi itu berarti juga perubahan tekanan dalam ekonomi kita. Jika sebelumnya penekanan pada bidang ekspor, yang hasilnya dalam bentuk pajak- sangat sedikit kembali ke kas pemerintah, karena begitu banyak keringanan untuk kalangan eksportir. Maka, selanjutnya justru harus diutamakan perluasan pasaran di dalam negeri secara besar-besaran.

Untuk itu, tiga hal sangat diperlukan, yaitu: pertama, peningkatan pendapatan masyarakat guna menciptakan kemampuan daya beli yang besar. Kedua, pengerahan industri guna menghidupkan kembali penyediaan barang untuk pasaran dalam negeri. Ketiga, independensi ekonomi dari yang sebelumnya tergantung kepada tata niaga internasional.

Ini berarti, kita harus tetap memelihara kompetisi yang jujur, mengadakan efisiensi dan menciptakan jaringan fungsional bagi UKM kita, baik untuk menggalakkan produksi dalam negeri, maupun untuk penciptaan pemasaran dalam negeri yang kita perlukan. Keterkaitannya adalah tetap memelihara tata niaga internasional yang bersih dan bersaing, disamping memperluas basis pajak kita (dari sekitar 2 juta orang saat ini ke 20 juta orang wajib pajak dalam beberapa tahun mendatang). Ditambah dengan, pemberantasan kebocoran-kebocoran dan pungutan liar yang masih ada sekarang ini. Barulah dengan demikian, dapat kita naikkan pendapatan.

***

Tata ekonomi seperti itu akan lebih memungkinkan tercapainya kesejahteraan dengan cepat, yang dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan sebagai terciptanya masyarakat adil dan makmur. Dalam fiqh disebutkan “kebijakan dan tindakan pemimpin atas rakyat yang dipimpin harus sejalan dengan kemaslahatan mereka’ (tasharruful-imâm ‘alâr-ra’iyyah manûthun bil-mashlahah)”. Itu berlaku juga untuk bidang ekonomi. Ekonomi yang berorientasi kepada kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, menjadikan ekonomi kita akan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Apakah ekonomi yang sedemikian itu akan dinamai ekonomi Islam atau hanya disebut ekonomi nasional saja, tidaklah relevan untuk didiskusikan di sini. Yang terpenting, bangunan ekonomi yang dikembangkan, baik tatanan maupun orientasinya, sesuai dengan ajaran Islam. Penulis yakin, ekonomi yang sedemikian itu juga sesuai dengan ajaran-ajaran berbagai agama lain. Karenanya, penamaan ekonomi seperti itu dengan nama ekonomi Islam, sebenarnya juga tidak diperlukan sekali, karena yang terpenting adalah pemberlakuannya, dan bukan penamaannya.

Dalam kerangka inilah, kepentingan mikro ekonomi Islam secara pribadi, yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat, lalu sama posisinya dengan dibangunnya ekonomi makro yang mementingkan keadilan dan kemakmuran seluruh bangsa. Sebenarnya kita dapat melakukan hal itu, apabila tersedia political will untuk menerapkannya. Memang, ekonomi terlalu penting bagi sebuah bangsa jika hanya untuk diputuskan oleh sejumlah ahli ekonomi belaka, tanpa melibatkan seluruh bangsa. Karena menyangkut kesejahteraan seluruh bangsa, maka diperlukan keputusan bersama dalan hal ini. Untuk mengambil keputusan seperti itu, haruslah didengar lebih dahulu perdebatannya.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Sinar Harapan, 21 Februari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Sebagai upaya lebih memantapkan organisasi, alumni Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo periode 2011 hingga 2015 rutin menjalin komunikasi. Mereka mengadakan pertemuan rutin setiap bulan di kediaman masing-masing alumni.

Pertemuan rutinan alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo ini dilaksanakan di kediaman rekan Syifak Kecamatan Tongas, Ahad (8/1). Pertemuan rutin sendiri digagas oleh alumni Wakil Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Muhammad Qosim. “Awalnya, cuma lewat grup WhatsApp (WA) Oreng Konah, akhirnya bisa bertemu lewat darat,” ujar Indra Subiantoro, salah satu alumni IPNU Kabupaten Probolinggo.

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin

Menurut Indra, pertemuan rutin tiap bulan ini dimulai Oktober 2016 lalu. Bahkan tiga nakhoda IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo demisioner juga hadir seperti Rudi Nabillah, Eko Cahyono dan Lika Kurniawati.

“Pertemuan ini dimaksudkan untuk menjalin silaturahim dari masing-masing alumni karena ingin melepas kangen. Sebab mereka sibuk di masing-masing profesi yang dijalankan. Ada yang berwirausaha, guru dan lain sebagainya. Pertemuan ini walaupun sederhana tapi maknanya luar biasa,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Indra menegaskan, kegiatan ini bertujuan menyambung silahturahmi sesama alumni supaya tidak putus. Biasanya setiap pertemuan sebelum dimulai diawali tahlil yang dipimpin oleh Muhammad Qosim dilanjutkan rapat membahas perkembangan IPNU-IPPNU berikutnya setelah tidak menjadi pengurus serta membahas materi-materi keislaman.

Belajar Muhammadiyah

“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan silaturahim sesama pengurus yang dulu berjuang di IPNU-IPPNU. Tentunya supaya rasa persaudaraan tidak putus walaupun sudah tidak menjadi pengurus lagi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, PonPes, Nasional Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Tidak ada orang baik tanpa masa lalu dan tidak ada orang jahat tanpa masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, belajarlah untuk selalu berpikir positif dan selalu berprasangka yang baik kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri ketika memberikan tausiyah dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Pemkab Probolinggo antara Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo bersama ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di auditorium Kantor Bupati Probolinggo, Senin (3/7) siang.

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

“Usahakan bergaul dengan orang-orang terbaik dan pilihan. Sikap mental dan kepribadian seseorang dipengaruhi kuat oleh pergaulan. Jangan percaya ada orang sukses tanpa dukungan sahabat-sahabatnya. Link network orang-orang terbaik dan pilihan,” katanya.

Menurut Gus Ali, kisah orang-orang sukses pasti ada wanita hebat dibaliknya (siapa ibu yang melahirkan dan siapa istri yang mendampinginya). “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik peristiwa pasti ada hikmah. Orang yang tidak mampu berpikir positif pasti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ali mengajak ribuan ASN untuk membaca Surat Luqman yang artinya dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong. Sesungguhnya Allah tidak senang orang yang sombong.

Belajar Muhammadiyah

“Ada juga tafsir Ibnu Katsir yang berbunyi, jangan palingkan wajahmu. Hargai lawan bicaramu. Ciptakan suasana akrab penuh kekeluargaan. Jangan percaya orang sukses jadi pemimpin kalau komunikasinya jelek,” terangnya.

Gus Ali menerangkan bahwa prinsip dakwah adalah merangkul bukan memukul, mengobati bukan menyakiti dan mencari kawan bukan mencari lawan. Untuk berpikir positif maka kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT.

“Mari berfikir positif, aku bisa, aku bahagia, aku sukses, aku cerdas dan aku kaya. Insya Allah menjadi kenyataan, modalnya berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua bisa sukses dengan segala kelebihan masing-masing, melengkapi bukan menjatuhkan,” pungkasnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menerangkan bahwa selama 10 hari lamanya para ASN menikmati libur cuti lebaran dan disibukkan dengan silaturahim dengan keluarga. Oleh karena itu, hendaknya disempatkan minimal setahun sekali untuk bersilaturahim.

“Bekerja dan berkoordinasi dengan teman kerja satu kantor, lintas kantor dan lintas instansi tentunya kita tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahim dengan semua yang mendukung dan mensupport sehingga menjadi karyawan dan karyawati serta pelayaan rakyat yang lebih baik,” terangnya.

Tantri mengharapkan agar momentum ini menjadi cambukan semangat untuk menjadi yang jauh lebih baik dan amanah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Terlebih selama selama bulan suci Ramadhan kita ditempa akhlak sehingga menjadi pelayan rakyat yang lebih baik,” pungkasnya.

Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo H Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, RMI NU, Santri Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

Ternate, Belajar Muhammadiyah. Menindaklanjuti instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah NU Maluku Utara, Senin (14/11) menyelenggarakan program Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang dirangkai dengan agenda Konferensi Wilayah (konferwil). Program ini dilaksanakan tiga hari di Kota Ternate.

Ketua PWNU Maluku Utara H. Adam Marus mengatakan, MKNU adalah proses kaderisasi NU untuk menyiapkan pemimpin internal. Ada beberapa capaian ditargetkan, antara lain menyiapkan tokoh-tokoh ulama kampung yang sadar akan visi maritim.?

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

“Di Jawa ada banyak pesantren yang menjadi basis kultural NU. Pesantren di sini tidak sebanyak di Jawa. Di sini adanya Johu Guru (kiai kampung) yang menjadi ujung tombaknya (yang menjaga amaliyah-amaliyah NU),” kata H. Adam di sela rehat pelatihan.

Menyiapkan kepemimpinan NU berbasis maritim menurutnya menjadi kebutuhan NU di Maluku Utara yang tak terbantahkan. ? Dengan kata lain, kalau mau jadi kader NU di Maluku Utara, semua harus punya militansi maritim. Ini mengingat Maluku Utara adalah provinsi kepulauan paling strategis di mana gugus-gugusnya melimpah kekayaan alam.

Belajar Muhammadiyah

“Jauh sebelum Indonesia berdiri, sejak abad 14 wilayah Kesultanan di sini sudah dikenal hebat di Eropa. Itulah alasan kenapa di abad itu orang Belanda orang Portugis datang ke sini,” paparnya.

Hadir langsung sebagai pemateri dan fasilitator dalam MKNU di Malut ini lima utusan PBNU. Mereka yakni H Sultonul Huda, H Endi AJ. Soefihara, KH Mujib Qulyubi, H Robikin Emhas, dan H Aizzuddin Abdurrahman. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, RMI NU, AlaNu Belajar Muhammadiyah

Jauh Sebelum Tax Amnesty Dilakukan, Gus Dur Sudah Menggagasnya

Jakarta,? Belajar Muhammadiyah -

Tax amnesty atau pengampunan pajak adalah salah satu bukti kewalian Presiden Indonesia ke empat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal ini disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, di Jakarta, Kamis (29/9) menanggapi program Tax Amnesty yang sedang digencarkan pemerintah.

Jauh Sebelum Tax Amnesty Dilakukan, Gus Dur Sudah Menggagasnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jauh Sebelum Tax Amnesty Dilakukan, Gus Dur Sudah Menggagasnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jauh Sebelum Tax Amnesty Dilakukan, Gus Dur Sudah Menggagasnya

“Gus Dur jadi presiden 23 bulan. Tidak lama, tapi jasanya luar biasa. Salah satu adalah beberapa provinsi tidak melepaskan diri dari NKRI,” ujar Kiai Said.

Tahun 1999, lanjut dia, Gus Dur punya gagasan, uang-uang koruptor di luar negeri ambil 50 persen, 50 persen kembalikan ke negara. “Saat itu ide tersebut diserang habis-habisan. DPR, LSM, media, semua menyerang, seolah Presiden mengampuni koruptor,” kenang kiai akrab dipanggil Kang Said itu lagi.

Sekarang, imbuhnya, ada pengampunan pajak, dua persen. “Jauh sebelum tax amnesty terjadi, Gus Dur telah memikirkan hal tersebut. Dan itu terjadi hari ini, Gus Dur tahu jauh apa yang akan terjadi, kita mengakui kewalian Gus Dur,” tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

Jika sejak dulu menuruti Gus Dur, kata Kang Said, persoalan Indonesia akan beres dan negara tidak defisit.”Sayang, orang seperti Gus Dur sudah tidak ada lagi di NU,” kata dia.

Indonesia sulit untuk mencari pinjaman dana negara lain akbat kondisi ekonomi global yang belum membaik. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Republik Indonesia beberapa waktu lalu telah meresmikan aturan mengenai tax amnesty, aturan yang dibuat oleh otoritas pajak suatu negara untuk memberikan kesempatan kepada wajib pajak yang tidak patuh, melaporkan penghasilannya dan membayar pajak secara sukarela dengan memberikan insentif pada mereka.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) pada Rabu (28/9/2016) pukul 18.00 WIB, harta yang dilaporkan sudah mencapai Rp 2.514 triliun.? (Gatot Arifianto/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, News, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock