Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Sukabumi, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mengadakan apel akbar di lapangan Sekarwangi Kecamatan Cibadak Sabtu, (22/10). Dalam rangka memperingati Hari Santri tersebut, ribuan santri datang dari berbagai pelosok daerah Sukabumi.

Pada kesempatan tersebut, Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mendeklarasikan antinarkoba. Ketua Muslimat Nenah Herlina mengatakan, deklarasi ini adalah tindak lanjut dari hasil keputusan musyawarah Muslimat NU di Malang, Jawa Timur yang merekomendasikan memberantas narkoba di berbagai daerah.

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Adapun tindak lanjut setelah dideklarasikan tersebut, Muslimat NU akan mensosialisasikannya secara masif kepada masyarakat melalui pengajian-pengajian di majelis talim dari mulai tingkat kecamatan hingga tingkat desa.

Belajar Muhammadiyah

“Ini menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama melindungi terhadap generasi muda khususnya, umumnya semua warga yang ada di Sukabumi.

Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU KH Mahmud Mudrikah Hanafi, Ketua PCNU KH R. Abdul Basith,? Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, Ketua Majlis Ulama Indonesia KH M. Oman Komarudin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sukabumi H. Agus Mulyadi, Sekertaris Daerah H. Iyos Somantri. Mereka ikut membubuhkan tanda tangan di atas spanduk deklarasi antinarkoba tersebut. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Hadits, Hikmah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 20 Februari 2018

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Bantul,  Belajar Muhammadiyah

Maraknya berbagai aliran Islam di Indonesia, seperti Wahabi, HTI, MTA, dan Syi’ah, semakin menuntut para generasi Nahdhiyin untuk lebih menguatkan lagi pemahaman akan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dianutnya.

Setidaknya, demikian yang diungkapkan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi, Irwan Masduqi dalam mengawali dialog yang mengangkat tema “Peta aliran-aliran Islam di Indonesia”, Kamis (6/6) kemarin.

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Dialog tersebut dilaksanakan serangkaian dengan acara Majma’un Nahdliyin dan peringatan Isra’ Mi’raj oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM, di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai pemantik awal, Irwan menjelaskan tentang pengertian Aswaja itu sendiri, berikut sejarah singkat munculnya Aswaja. Dikatakan bahwa Aswaja adalah kelompok yang konsisten memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, istilah Aswaja memang belum ada. Umat Islam yang telah terpecah belah karena politik dan telah ada sejak zaman nabi, membuat Aswaja hadir sebagai penetralisir konflik. 

Belajar Muhammadiyah

Aswaja yang dikenal dengan akidahnya yang terbuka dan moderat, lanjut Irwan, berakar pada aliran asy’ariyah dan maturidiyyah. Jadi, disamping berpedoman pada nash, Aswaja hadir tanpa mengesampingkan akal dan rasionalitas. Karena akal memiliki peran dalam menentukan ijtihad, atau menentukan baik buruknya suatu hal. 

“Aswaja hadir dengan menggunakan keseimbangan antara rasionalitas dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits,” ungkapnya.

Menurut Irwan, NU yang berideologikan Aswaja dengan ciri khasnya ta’adul, tawazun, tawasuth, dan tasamuh hadir dengan mengedepankan jalan perdamaian secara dialogis, bukan secara fisik. Juga tidak dengan mudah mengkafirkan orang.

“Itulah kenapa NU bisa menjadi basis politik yang begitu kuat di NKRI. Ya karena kemoderatannya itu,” tegasnya.

Mengenai konsep berpolitik NU yang menggunakan kitab kuning sebagai landasannya, dikatakan Irwan bahwa kitab kuning merupakan hasil ijtihad para ulama. Sedangkan prinsip-prinsipnya secara umum, telah termuat di dalam Al-Qur’an. 

Jadi mekanisme yang digunakan apa dan bagaimana, tidak ada aturan, yang terpenting adalah tercapainya kemaslahatan. Nah, kemudian kenapa yang digunakan adalah demokrasi, bukan syari’at Islam? Jawabnya adalah, karena demokrasi itu dekat dengan musyawarah.

“Hal itu seperti yang dilakukan oleh Nabi ketika hijrah ke Madinah. Nabi tidak langsung mewajibkan syari’at Islam kepada masyarakat Madinah, tapi membentuk masyarakat kecil dulu. Nabi juga masih mempersilahkan Yahudi menggunakan kitabnya terdahulu,” papar Irwan.

Lantas, Irwan pun memaparkan sedikit tentang Syi’ah. Dikatakan oleh Irwan, bahwa sebenarnya banyak ajaran-ajaran NU yang secara tidak sadar berasal dari Syi’ah. Seperti Barzanji, shalawat Habib Syech, yang membuat adalah orang Syi’ah. Dalam hal ibadah memang tidak ada perbedaan. Yang berbeda adalah dalam konsep berpolitik dan pandangan terhadap nikah mut’ah. 

“Jadi, NU kita itu masih sedikit mirip Syi’ah. Syi’ah zaman dahulu memang sedikit berbeda dengan Syi’ah sekarang. Syi’ah dulu banyak mencaci maki sahabat. Sekarang tidak lagi,” kata Irwan.

Di akhir sesi, Irwan mengatakan bahwa dalam menghadapi polemik aliran-aliran yang muncul, yang lebih diperlukan adalah penguatan argumentasi, bukan penguatan fisik. Jadi walaupun misalnya sudah jelas terbukti bahwa aliran tersebut sesat, tidak benar jika beradu fisik, melainkan diselesaikan secara argumentatif. Seperti yang telah dilakukan Nabi ketika menghadapi nabi palsu, yakni Musailamah Al-Kadzab.

“Nabi Muhammad dahulu ketika menghadapi nabi palsu, tidak menggunakan kekerasan. Melainkan dengan ancaman ukhrawi. Nah, ketika Musailamah sudah bersikap separatisme, barulah diperangi,” tandas Irwan di akhir diskusi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

Pringsewu, Belajar Muhammadiyah - Madrasah Aliyah Maarif Keputran Kabupaten Pringsewu merampungkan agenda perkemahan sekaligus dalam rangka Pelantikan Penegak Bantara Ambalan Ki Hajar Dewantara dan Siti Fatimah Gudep 03.091-03.092. Perkemahan yang dilaksanakan di halaman madrasah setempat ini dilaksanakan selama tiga hari dari Sabtu (14/5) sampai dengan Senin (15/5).

Kepala MA Maarif Keputran Irsadul Ibad mengatakan, dalam perkemahan tersebut para anggota Pramuka madrasah setempat mendapatkan berbagai macam materi kepramukaan baik in door maupun out door.

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

"Setelah upacara pembukaan, para peserta mendapatkan materi berupa dinamika kelompok yang memfokuskan bagaimana peserta berinteraksi dengan dalam regunya maupun dengan regu lainnya," jelas Irsad di sela-sela kegiatan.

Materi lain yang akan didapat oleh peserta di antaranya adalah penyelesaian SKU Bantara, Pentas Seni, Api Unggun, Renungan Malam, dan Kegiatan Explorer. "Selain materi tersebut, bermacam permainan juga diberikan kepada peserta untuk menambah semangat dan keceriaan para peserta," jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Irsad berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi para siswa siswi MA Maarif Keputran dalam mendalami ilmu kepramukaan. Apalagi menurutnya pelajaran Pramuka pada kurikulum 2013 wajib diikuti oleh setiap peserta didik di tingkat SLTA.

Selain itu kepramukaan juga dapat menambah kecerdasan emosional meningkatkan disiplin siswa sekaligus merupakan organisasi positif yang dapat memupuk kepekaan sosial dan kepemimpinan. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kyai, IMNU Belajar Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Isu radikalisme masih jadi momok bagi pelajar saat ini. Lembaga survei juga menunjukkan betapa tingginya angka pelajar yang terkontaminasi paham radikal. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani Amin menekankan kepada kader muda NU untuk membentengi diri dengan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah.

Hal itu ia sampaikan kepada pengurus PC IPNU dan PC IPPNU Kabupaten Cirebon usai mengisi kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Kecamatan Astanajapura di Pesantren Attarbiyatul Wathaniyah (PATWA), Astanajapura, Cirebon, Kamis (18/1).

“Penguatan ideologi Aswaja harus tertanam pada diri kader-kader muda NU agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran radikal,” katanya.

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas

Menurutnya, penguatan ideologi harus diutamakan dalam kegiatan Makesta ini. “Makanya, penguatan ideologi harus menjadi prioritas utama,” ujar salah satu pengasuh Buntet Pesantren itu.

Hal ini pun direspons Hamdan Tsani Tyo. Kepada Belajar Muhammadiyah, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PC IPNU Kabupaten Cirebon itu menyatakan bahwa hal tersebut menjadi perhatian PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Cirebon saat ini. Oleh karenanya, tema yang diambil  adalah “Mencetak Pelajar yang Berjiwa Sosial dan Berideologi Ahlussunnah wal Jamaah”.

Belajar Muhammadiyah

“Aswaja harus mendarah daging dalam diri setiap kader NU dan diperkuat dengan jiwa sosialnya sehingga tidak saja saleh ritual, tetapi juga saleh sosial,” katanya.

Makesta kali ini diikuti oleh 96 peserta dari berbagai sekolah dan pesantren di Kecamatan Astanajapura. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Olahraga, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, Islam itu adalah agama yang damai, mulia, dan santun. Oleh karena itu, di dalam membela Islam juga harus dengan cara-cara yang damai, mulia, dan santun.

Kiai Said mencontohkan apa yang dilakukan Nabi Muhammad saat menaklukkah Kota Mekkah (Fathu Makkah) seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam dalam berdakwah menyerukan Islam.

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Dalam pembebasan Kota Mekkah tersebut, cerita Kiai Said, ada 15 ribu pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Mereka berkemah di pinggir-pinggir Kota Mekkah sebelum memasuki kota dimana Ka’bah itu berada. Sontak hal itu membuat warga Mekkah khawatir dan takut karena ada kabar bahwa mereka akan dibantai oleh pasukan Muhammad.

“Mendengar itu, Nabi Muhammad mengutus Ali untuk memimpin pasukan. Nabi Muhammad mengatakan bahwa hadza yaumul marhamah (ini hari kasih sayang). Saya maafkan semua. Bukan yaumul malhamah (hari pembalasan dendam),” kata KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan tausiah Ramadhan pada Peluncuran Mobile Payment Apps Wakaf NU di Manara BTN Jakarta, Selasa (13/6).

Oleh karena itu, jelas Kiai Said, disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang menang karena menaklukkan Kota Mekkah tanpa ada tetesan darah sedikitpun.

“Al-Qur’an mengatakan, kamu menang Muhammad. Semua orang Mekkah masuk Islam semua,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Bahkan, anak dari Abu Jahal, Ikrimah, yang lari dari Kota Mekkah pun diminta untuk kembali dan dijamin keselamatannya oleh Nabi Muhammad. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kiai, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang konsisten menjaga kerukunan antarpenganut agama. Kali ini, langkah yang dilakukan pengurus FKUB Jombang adalah mengadakan Seminar bertemakan “Implementasi Nilai-Nilai Dasar Kerukunan Umat Beragama” di Aula Gedung Islamic Center Jombang, Selasa malam (23/12).

Kegiatan yang mendatangkan narasumber Prof Ahmad Zahro perwakilan umat Islam dan Pendeta Ismiyati dari Kristiani itu diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama.

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

“Semua yang ada di forum ini, semoga nantinya bisa satu persepsi untuk merawat kerukunan di antara kita tanpa membedakan diri karena unsur apapun, apalagi kepentingan tertentu,. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kerukunan ini,” kata Dr KH Isrofil Amar Ketua FKUB yang juga Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang.

Belajar Muhammadiyah

Prof Ahmad Zahro yang juga Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya itu memaparkan tentang Islam sebagai agama yang damai, cinta perdamaian, antikekerasan, menghormati kebebasan, menghargai kesetaraan, dan mengajarkan kerukunan.

“Menjadi bangsa Indonesia, apapun agamanya, termasuk Islam, terikat oleh kesamaan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” jelas Rektor Unipdu Jombang itu.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut ia menjelaskan, demi terwujudnya toleransi antarumat beragama, harus ditegakkan bersama-sama ukhuwah Islaamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Itulah nilai-nilai dasar kerukunan yang harus dijadikan rujukan bersama,” pungkas penulis buku berjudul Tradisi Intelektual NU itu.

Sedangkan Pendeta Ismiyati mengajak peserta untuk tidak membeda-bedakan sesama umat beragama sebagai warga Negara Indonesia. “Di kitab Injil juga dijelaskan, ada besar ada kecil, itu memang hukum harmonisasi alam. Yang terpenting bukan kita ini dibersamakan, tetapi bagaimana kita memberi dampak dalam kehidupan ini dengan menjaga kerukunan,” ungkap Pendeta Ismi.

Selain dua keynote speaker tersebut, turut hadir pula Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab, Dandim 0814 Jombang M Haidir, dan AKBP Ahmad Yosep Kurniawan Kapolres Jombang. Serta puluhan peserta dari berbagai komponen masyarakat, lintas agama, dan perwakilan ormas Islam yang ada di Kabupaten Jombang.

Acara yang ditutup pukul 22.30 itu, mendapat masukan dari salah satu peserta agar untuk forum selanjutnya narasumber yang diundang harus dari seluruh perwakilan agama yang diakui di Indonesia. “saya kira itu akan lebih baik, karena memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya. Baik yang minoritas maupun yang mayoritas,” Kata Margono salah satu peserta. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock