Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Pesantren Ambil Peran Penghematan Subsidi BBM

Karanganyar, Belajar Muhammadiyah. Pengasuh pesantren Walisongo Sragen Kiai Ma’ruf Islamuddin menyampaikan begitu besarnya peran pesantren mulai dari pendidikan hingga penghematan BBM. Dengan konsep mukim pesantren, para santri dengan sendirinya, kata Kiai Ma’ruf, tidak membutuhkan kendaraan bermotor untuk sampai ke ruang belajar mereka.

Demikian disampaikan Kiai Ma’ruf saat mengisi pengajian MWCNU Mojogedang, Jum’at (29/8).

Pesantren Ambil Peran Penghematan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Ambil Peran Penghematan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Ambil Peran Penghematan Subsidi BBM

Kiai Ma’ruf melanjutkan, sebenarnya menitipkan putra-putri belajar di pesantren mengandung banyak sekali manfaat. Di pesantren para santri tidak diperkenankan menggunakan telepon genggam. Di sini saja, terdapat penghematan biaya jajan pulsa.

Belajar Muhammadiyah

“Sekolah mereka juga ada di dalam kompleks pesantren. jadi mereka tidak perlu bingung lagi bagaimana berangkat ke sekolah saat terjadi kelangkaan BBM. Mereka cukup berjalan kaki. Kecuali penghematan stok BBM, pesantren dengan demikian turut serta menghemat subsidi BBM,” ujar Kiai Ma’ruf.

Belajar Muhammadiyah

Hanya saja biaya pendidikan di pesantren masih terkesan mahal. Pasalnya, biayanya per bulan itu dengan angka. Sementara pengeluaran biaya pendidikan di sekolah nonpesantren tidak tertera sekaligus sehingga terkesan kecil.

Namun coba sekarang dihitung lagi, kata Kiai Ma’ruf yang kini diamanahkan sebagai Ketua RMI NU Sragen di tengah ratusan warga. Misalnya biaya per bulan di pesantren sebesar 400.000 yang mencakup biaya ngaji, sekolah, makan,tidur, air dan listrik.

“Sementara di rumah bapak-ibu tidak pernah menghitung biaya makan sehari, kemudian sekolah, uang saku, uang bensin, uang pulsa, dan uang bermain. Sekarang bapak-ibu sudah bisa membandingkan, murah mana sebenarnya biaya pesantren dengan nonpesantren?” tandas Kiai Ma’ruf. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 25 Februari 2018

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Ajang Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) akan segera dilaksanakan akhir bulan depan. Sejumlah persiapan telah dilakukan termasuk seleksi peserta yang akan diberangkatkan.

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang sangat serius mempersiapkan kegiatan perkemahan tingkat nasional ini. Seleksi sejumlah peserta dilakukan secara ketat dan dengan disiplin tinggi. 

“Ini agar saat berbaur dengan kontingen lain dari berbagai daerah tidak mengecewakan,” kata Khojin kepada Belajar Muhammadiyah (28/4).

Belajar Muhammadiyah

“Seleksi ini sebenarnya untuk kali kedua, yang sehari sebelumnya telah dilakukan,” katanya. “Dari proses seleksi, telah dipilih seratus dua puluh peserta,” lanjutnya. Mereka adalah perwakilan dari sejumlah sekolah MA, SMA serta SMK yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Pelaksanaan Perwimanas akan berlangsung 24-29/5 di perkemahan Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung. Tidak kurang empat ribu peserta akan berpartisipasi pada kegiatan ini dari seluruh tanah air.

Belajar Muhammadiyah

“Karena sebagai tuan rumah, maka berbagai persiapan telah kami persiapkan menyambut kegiatan ini,” kata Sekretaris PC LP Ma’arif NU Jombang ini. Apalagi pada kegiatan serupa untuk tingkat Jawa Timur, Jombang berhasil menjadi juara umum.

“Prestasi itu sudah seharusnya kami pertahankan untuk tingkat nasional,” katanya optimis. Dan perwakilan yang telah diseleksi dalam dua gelombang tersebut sebagai kontingen pilihan untuk ajang ini. 

“Kita juga berharap kegiatan berjalan sukses dan silaturahim antar aktifis Pramuka di kepengurusan Ma’arif NU juga akan terus terjalin,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kiai, Cerita Belajar Muhammadiyah

Rabu, 21 Februari 2018

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Toleransi tidak cukup hanya dipahami dan dilakukan tetapi juga dibutuhkan. Karena kita beragam, maka sesuatu yang beragam ini membutuhkan sesuatu untuk disikapi dengan toleransi. Toleransi ini adalah kebutuhan, di dalamnya ada kesediaan diri dan kemampuan untuk memahami perbedaan sekaligus menghargai perbedaan tersebut. Sehingga masing-masing kita tetap harmonis dan ada dalam keselamatan.

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjadi Keynote Speaker Seminar Nasional yang mengetengahkan tema Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk yang diselenggarakan Pusat Studi Agama-Agama Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Rabu (10/8). Menag mengapresasi tema yang diangkat, karena sangat sesuai dengan konteks Indonesia yang plural.

"Ini yang saya maknai dengan toleransi," jelas Menag.

Dalam pandangannya, dalam iklim kita, toleransi ini sangat dinamis karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membentuknya. Belakangan ini, persoalan toleransi ini sangat kompleks karena kita hidup di dunia yang tanpa batas, kita hidup didunia yang mendunia (menglobal). Daratan menjadi menyusut tetapi manusia bertambah banyak, sehingga banyak persaingan yang muncul dan menjadi semakin ketat.

"Dengan era digital yang menjadi kebutuhan manusia, menjadikan persaingan semakin erat. Kehidupan sekarang menjadikan banyak orang semakin stres (bahkan dimulai ketika bangun tidur). Saya ingin menggambarkan bahwa tekanan kita sebagai manusia semakin berat. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan? Karena saat ini banyak orang yang mudah tersulut emosi dengan hal-hal yang kecil bukan urusan prinsipil," ujar Menag.

Belajar Muhammadiyah

Tantagan yang dihadapi dalam masyarakat majemuk ini, ujar Menag, adalah tentang pemahanan kita tentang toleransi itu. Ada pengertian di dalam beberapa agama yang memiliki pemikiran bahwa semua orang harus menjadi sama (homogen), tetapi menurut Menag bukan itu yang menjadi keinginan Tuhan.

"Dalam agama saya mengajarkan bahwa Tuhan itu menghendaki keberagaman. Perlu dibedakan sisi dalam dan luar. Sisi dalam adalah hal yang berdasarkan tentang esensial dari agama, sisi luar adalah yang lahiriah (cara peribadatan)," ucap Menag.

Berbicara dari sisi luar, terang Menag, banyak cara beribadah (dalam satu agama saja, banyak cara kita beribadah). Tetapi jika berbicara sisi dalam, dalam setiap agama sama, misalnya berbicara tentang keadilan, HAM, persamaan di depan hukum, jangan mencuri, dan lainnya.

Belajar Muhammadiyah

"Setiap agama memiliki esensi yang sama, sehingga tantangan yang harus diwujudkan setiap agama adalah berbicara tentang sisi dalam yaitu tentang esensi. Sehingga toleransi dapat terwujud di tengah-tengah masyarakat. Konflik yang sering muncul adalah karena sisi luar dari setiap agama banyak dimunculkan," ucap Menag.

Tantangan yang lain, lanjut Menag, adalah terlalu berlebihan memaknai toleransi. Karena terlalu semangat bertoleransi menyebabkan agama menjadi sama dan tidak dapat dibedakan. Perilaku membangun toleransi dapat mendapatkan ancaman ketika toleransi dipahami secara berlebihan sehingga keyakinan itu menjadi terganggu.

"Prinsipnya adalah toleransi tetap terjadi, namun aqidah setiap agama tetap terjaga. Inilah yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar kehidupan yang beragam tetap terjaga," tutur Menag. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Kiai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 14 Februari 2018

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

Serang, Belajar Muhammadiyah. Warga NU Kota Serang dari turut memeriahkan pawai ta’aruf Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) keempat Kota Serang yang bertempat di Kecamatan Walantaka, Selasa (22/01) dimulai pukul 13.00 WIB.?

?

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

Menurut aktivis NU Kota Serang, Tubagus Qurtubi, warga NU yang mengikuti ta’aruf tersebut adalah ibu-ibu Muslimat, Ansor, dan, Banser.

?

“Di samping itu, turut pula lurah-lurah, anggota KUA, Kapolsek, murid-murid dari dari SD, SMP, SLTA, guru-guru dan masyarakat umum dari 6 kecatamatan,” ujarnya.

?

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Serang Dr. KH. Wawan Wahyudin, MTQ menjadi media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan Al-Quran.

?

Belajar Muhammadiyah

“Dalam pengertian, mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Quran,” ucapnya sebagaimana dikutip kabar-banten.com.

?

Lebih penting lagi, kata dia, MTQ bertujuan untuk memasyarakatkan Al-Quran. Pasalnya, dewasa ini hidup dan kehidupan umat Islam banyak yang menyimpang dari tuntunan Al-Quran.

?

MTQ tersebut akan berlangsung selama tiga hari dan diikuti peserta dari 6 kecamatan. Beragam cabang dan jenis perlombaan yang diperlombakan dalam MTQ, antara lain, qiraah Al-Quran, fahmil Quran, syarhil Quran, hifz Quran, dan khath Al-Quran.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Kiai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Hilal atau bulan sabit untuk awal bulan Sya’ban 1433 H telah terlihat, antara lain di Jakarta dan Bandung. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit  dilakukan pada Rabu (20/6) petang, bertepatan dengan 29 Rajab 1433 H.

Posisi hilal pada saat dilakukan rukyat memang sudah cukup tinggi, lebih dari 5 derajat. Hilal awal Sya’ban antara lain telah terlihat di lokasi rukyat Kampung Basmol Jakarta Barat dan di Observatorium Bosca Lembang, Bandung.

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

“Hilal awal Sya’ban disaksikan oleh perukyat NU, H Mawardi dan Syamsuri di Basmol Jakarta Barat. Lalu di Bosca Lembang langsung oleh pengurus Lajnah Falakiyah PBNU Hendro Setyanto,” kata KH A. Ghazalie Masroeri dihubungi Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Rabu (20/1) malam.

Belajar Muhammadiyah

Dengan terlihatnya hilal berarti tanggal 1 Sya’ban 1433 H sudah dimulai. Dalam kalender qamariyah (hijriyah) pergantian hari dimulai selepas tenggelamnya matahari. Atau jika disandingkan dengan kalender syamsiyah (masehi) 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Kamis, 21 Juni 2012.

Belajar Muhammadiyah

Dengan dimulainya bulan Sya’ban, menurut Kiai Ghazalie, umat Islam sudah bisa memulai atau menyiapkan beberapa ibadah khusus di bulan ini.

“Secara bahasa Sya’ban berarti cabang, maksudnya cabang dari ibadah. Ada beberapa kesunnahan dalam bulan ini, antara lain puasa 3 hari di awal bulan dan di pertengahan bulan. Dan di pertengahan bulan Sya’ban tentunya ada nisfu sya’ban,” tambahnya.

Hasil rukyat awal Sya’ban ini juga sangat penting dalam rangka pelaksanaan rukyat awal Ramadhan nanti. Pelaksanaan rukyatul hilal pada Rabu (20/6) petang ini berdasarkan atas penetapan awal bulan Rajab kemarin yang ditempuh dengan jalan istikmal atau penyempurnaan hitungan bulan Jumadal Tsaniyah menjadi 30 hari, karena pada saat itu hilal tidak terlihat.

Dengan terlihatnya hilal awal Sya’ban pada Rabu petang, maka rukyat awal Ramadhan akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada dalam kalender NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah. Rukyat awal Ramadhan 1433 H akan diadakan pada 29 Sya’ban, bertepatan dengan Kamis 19 Juli 2012.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Kyai Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Jombang, Belajar Muhammadiyah?

Basroni, santri pondok pesantren An-Tahdzib Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat akibat jatuh dari truk saat perjalanan pulang usai mengikuti kegiatan apel dan kirab santri bersama rombongannya, Ahad (23/10).?

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Kondisi Basroni saat ini masih dalam penanganan dokter sebab terdapat banyak luka serius di bagian dahi, mulut, lengan juga bagian tubuh lainnya. Ia jatuh di jalan Wahid Hasyim, Kecamatan Diwek.?

Momentum hari santri yang diwarnai musibah itu cukup memantik simpati banyak pihak. Selama di rumah sakit, Basroni dijenguk beberapa pengurus NU. Diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, PC RMI Jombang, PW RMI Jawa Timur, PC GP Ansor, Lazisnu dan LKKNU.

Sejumlah lembaga itu berkoordinasi agar biaya pemeriksaan Basroni dibebaskan melalui surat permintaan resmi PCNU Jombang yang ditujukan kepada Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko juga Direktur RSUD.

Belajar Muhammadiyah

Isi surat itu meminta partisipasi pemerintah daerah agar empati terhadap kondisi santri yang telah menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sesuai keputusan Presiden Republik Indonesia.?

"PCNU Jombang akan menyiapkan surat permintaan kepada Bupati dan Direktur RSUD Jombang supaya dibebaskan dan atau diringankan dari beban biaya perawatan selama di RSUD hingga kepulangannya," kata Samsul Rijal, Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Senin (24/10/2016).

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto menyatakan bahwa surat PCNU sudah dikirim ke Direktur RSUD. "Sudah dikirim suratnya, penerimanya Satpam ruang pak direktur, sesuai petunjuk pertemuan tadi (koordinasi, red). Semoga dimudahkan," jelasnya.?

Sementara itu Habibul Amin, Sekretaris RMI Jombang saat melihat kondisi Basroni mengungkapkan, sudah mulai membaik. "Alhamdulillah mulai membaik, ini kita semua bersama-sama membantu semaksimal mungkin," ucap pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Fathul Umum Gardu Laut, Kecamatan Ngoro. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Pendidikan, Kiai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, Islam itu adalah agama yang damai, mulia, dan santun. Oleh karena itu, di dalam membela Islam juga harus dengan cara-cara yang damai, mulia, dan santun.

Kiai Said mencontohkan apa yang dilakukan Nabi Muhammad saat menaklukkah Kota Mekkah (Fathu Makkah) seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam dalam berdakwah menyerukan Islam.

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Dalam pembebasan Kota Mekkah tersebut, cerita Kiai Said, ada 15 ribu pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Mereka berkemah di pinggir-pinggir Kota Mekkah sebelum memasuki kota dimana Ka’bah itu berada. Sontak hal itu membuat warga Mekkah khawatir dan takut karena ada kabar bahwa mereka akan dibantai oleh pasukan Muhammad.

“Mendengar itu, Nabi Muhammad mengutus Ali untuk memimpin pasukan. Nabi Muhammad mengatakan bahwa hadza yaumul marhamah (ini hari kasih sayang). Saya maafkan semua. Bukan yaumul malhamah (hari pembalasan dendam),” kata KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan tausiah Ramadhan pada Peluncuran Mobile Payment Apps Wakaf NU di Manara BTN Jakarta, Selasa (13/6).

Oleh karena itu, jelas Kiai Said, disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang menang karena menaklukkan Kota Mekkah tanpa ada tetesan darah sedikitpun.

“Al-Qur’an mengatakan, kamu menang Muhammad. Semua orang Mekkah masuk Islam semua,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Bahkan, anak dari Abu Jahal, Ikrimah, yang lari dari Kota Mekkah pun diminta untuk kembali dan dijamin keselamatannya oleh Nabi Muhammad. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kiai, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Sumedang, Belajar Muhammadiyah - Upaya memajukan sebuah organisasi harus diawali dulu oleh peningkatan kualitas pribadi masing-masing anggota organisasi tersebut. Kalau sesorang sudah mampu mengurusi keperluan pribadinya dengan kualitas yang baik, maka ketika diminta untuk mengurusi organisasi apapun hasilnya pasti berkualitas.

Demikian disampaikan oleh Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Ai Faridah di hadapan para peserta kegiatan peningkatan kualitas organisasi. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Al-Hikam, Kamis (1/9) yang diprakarsai oleh pengurus Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU MA Plus Al-Hikam.

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Semua pengurus organisasi harus senantiasa meningkatkan kualitas pribadi sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Selain itu setiap pengurus harus bekerja maksimal yang dilandasi oleh ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan. Penting ini semua dilakukan supaya peran yang dijalankannya dapat memberikan sumbangsih yang positif untuk kemajuan sebuah organisasi, lanjut Ai Faridah.

Apalagi organisasi yang akan dimajukannya yaitu organisasi badan otonom Nahdlatul Ulama seperti IPNU dan IPNU. “Jangan setengah-setengah untuk memajukan NU. Karena jamiyyah NU didirikan oleh para ulama. Yakinlah kalau kita mengurusi NU maka akan selalu ada keberkahan di setiap langkah kehidupan kita.”

Belajar Muhammadiyah

Ai Faridah melanjutkan, menjaga keberlangsungan organisasi NU yang didirikan oleh para ulama sudah menjadi tugas seorang pelajar NU. Jangan hanya bangga menjadi warga NU yang kultural, tapi harus bangga menjadi warga NU yang struktural. Warga NU yang struktural artinya warga NU yang aktif mengurusi organisasi NU dan terdaftar sebagai pengurus NU atau banom NU.

Belajar Muhammadiyah

“Semoga dengan adanya peningkatan kualitas organisasi seperti ini, kecintaan kalian terhadap NU semakin kuat. Kalau cintanya sudah kuat, maka ngurus NU juga akan lebih bersemangat,” tutup Ai Faridah. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Tokoh, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren

Bagaimana memahami alur pemikiran, pondasi pengetahuan dan historiografi pesantren? Abdul Munim DZ menulis refleksi mendalam tentang bagaimana membangun pengetahuan dan mengembangkan historiografi Nusantara.?

Melalui buku "Fragmen Sejarah NU", Munim mengembangan le petit histoire (sejarah kecil) pesantren yang disambungkan dengan peta besar dunia, dalam level nasional dan internasional.?

Buku ini berusaha menggali epistemologi Nusantara sekaligus mengembangkan historiografi pesantren. Dalam buku ini, Abdul Munim DZ menjelaskan bahwa wajah pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam buku-buku akademik, cenderung mengalami peyorasi dan marginalisasi gagasan. Hal ini, karena tidak adanya pemahaman komprehensif degan dimensi-dimensi kehidupan warga Nahdliyyin, dari sosiologis-antropologis hingga spiritualitasnya.?

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Pondasi Historiografi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren

Di sisi lain, ada warisan pemikiran dan sarjana-sarjana kolonial yang menempatkan pesantren dan jaringan kunci penggerak Nahdliyyin di lorong sepi sejarah serta pemikiran sosial. Warisan pemikiran yang khas kolonial ini, tidak memberi ruang bagi pemikiran, kekayaan budaya dan peran penting pejuang dari pesantren dalam proses panjang "menjadi Indonesia".?

Dalam buku ini, Munim juga menjelaskan ada dua proses pencarian ilmu, yang selama ini menjadi kekayaan peradaban Nusantara. Yakni, rihlah (lelono broto, perjalanan ilmiah) dan uzlah (topo broto). Perjalanan panjang untuk memahami dunia dengan segenap pengalaman, kemudian dikoneksikan dengan renungan dalam pertapaan untuk mengheningkan diri dan pikiran (hal. 17-18).?

Belajar Muhammadiyah

Gagasan yang tumbuh dalam ruang hening, merupakan kristalisasi ide untuk memahami sesuatu yang berkecamuk dalam dunia luar, yang diperas selama perjalanan. Untuk itu, banyak kiai pesantren yang sering melakukan perjalanan panjang untuk silaturahmi, sekaligus melakukan renungan dalam kesunyian untuk mengendapkan pengalaman. Dari proses inilah, gagasan khas para begawan Nusantara mengalir.?

Sejarah kecil gagasan besar

Kisah-kisah yang ditampilkan dalam buku ini sangat menarik. Bahkan, ada beberapa yang merupakan kisah istimewa, karena belum pernah dipublikasikan dalam buku ataupun media massa. Kisah-kisah rahasia itu, hasil wawancara pribadi maupun perbincangan penulis dengan warga Nahdliyyin selama perjalanan. Kisah-kisah tentang tokoh NU yang menjadi kunci dalam beberapa kebijakan strategis negara, jarang terdengar dalam perbincangan publik. Peran tokoh NU di lingkaran intelijen juga menjadi penting dipahami.?

Misalkan, sebuah kisah tentang bagaimana Gus Dur berdialog dengan Ali Moertopo, Ketua Operasi Khusus (Opsus) yang kemudian menjadi Ketua Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Ketika itu, Gus Dur baru pulang dari belajar di Mesir, Irak dan perjalanan berkeliling Eropa. Kedatangan Gus Dur berhasil menggebrak jagad intelektual Indonesia, dengan argumentasi yang jernih dan cemerlang.?

Belajar Muhammadiyah

Ketika Gus Dur mulai menuliskan pemikirannya, banyak tokoh yang merasa putra Kiai Wahid Hasyim ini akan menjadi intelektual cemerlang. Ali Moertopo, sebagai petinggi intelijen tertarik dengan sosok Gus Dur. Ia mengundang Gus Dur dalam diskusi terbatas di bawah koordinasi BAKIN. Menghadapi Ali Moertopo, Gus Dur mampu berdebat dan melempar argumentasi secara tajam, jernih serta tidak mudah dipatahkan. Singkatnya, Gus Dur berhasil membuat Ali Moertopo simpatik dengan pikiran jernihnya. Dari jaringan intelijen, Gus Dur berkenalan dengan Benny Moerdani dan orang-orang penting dalam jajaran intelijen negara (hal. 211-213).?

Bagaimana dengan sosok Subhan ZE? Dalam buku ini, disebutkan bagaimana Subhan merupakan kader muda Nahdliyyin yang matang dalam peta politik. Manuver-manuver Subhan ZE sangat penting untuk memahami bagaimana warga NU bersikap, terutama dalam konstelasi politik level nasional dan internasional.?

"Saat itu para kader NU selalu mendapatkan informasi tentang perkembangan politik, sehingga tahu peta politik nasional, sehingga mereka cerdik dalam politik. Nasehat itu menjadi pegangan aktifis NU dalam mengantisipasi perkembangan politik nasional pada awal Orde Baru, " tulis Munim (hal. 192). Kisah-kisah penting yang jarang terdengar serta analisis jernih tentang manuver tokoh NU dalam pendulum sejarah bangsa sangat penting disimak.?

Buku ini menjadi catatan sekaligus renungan berharga, bagaimana membangun pohon pengetahuan yang berakar dari pemikiran Nusantara, dengan ragam tradisi, pembelajaran dan khazanah sejarahnya.?

Data Buku

Judul: Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara

Penulis: Abdul Munim DZ

Penerbit: Compass Pustaka Jakarta

Cetakan: Januari 2017?

Tebal: xxii+413 hal

ISBN: 978-602-60537-2-5

Peresensi: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

Makassar, Belajar Muhammadiyah. Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan menggelar lailatul ijtima di gedung NU Sulsel jalan Perintis Kemerdekaan Km 9 nomor 29, Kamis (6/11). Pada kesempatan ini mereka menyosialisasikan hasil Munas-Konbes NU 2014 awal Nomvember kemarin yang meliputi tiga sidang komisi.

Tampak hadir Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta Sanusi Baco, A Rahman Idrus, Ruslan, Iskandar Idy, Arfin Hamid, Rektor UIM Andi Majdah M Zain, dan para sepuh NU Sulsel Naharuddin Tinulu, Ridwan AR, KH Abdurrahman, beserta segenap pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom.

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

“Menurut NU model Khilafah adalah produk sejarah, bukan perintah agama. Sehingga NU memandang, Islam mengakui eksistensi Negara bangsa dan tidak mengharuskan penganutnya untuk mendirikan negara agama, termasuk sistem Khilafah,” kata Katib Syuriyah NU Sulsesl Ruslan yang mengikuti sidang komisi Bahtsul Masail.

Belajar Muhammadiyah

Setelah pemaparan hasil Munas dan Konbes NU, Anre Gurutta Sanusi Baco menyampaikan taushiyahnya perihal kebersihan. Menurutnya manusia akan mendapat siksa langsung akibat pelanggaran hukum Allah di ala mini.

“Misalnya agama menganjurkan menjaga kebersihan, lantas kita mengotori. Hukumannya adalah kita akan terkena penyakit diakibatkan manusia tidak menjaga kebersihan. Yang kedua siksaan akhirat akibat pelanggaran hukum syariah yang termaktub dalam Al-Quran dan As-Sunah,” kata Gurutta Sanusi.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga prihatin dengan adanya dua kubu di DPR antara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Ia mengibaratkan perpecahan di parlemen seperti ungkapan "Kelompok salah yang terorganisir akan mengalahkan kelompok benar tetapi tidak terorgansir". (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Quote Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Wonogiri, Belajar Muhammadiyah. Maulid Akbar membuka perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri yang ke -272 yang digelar semalam (4/5) di Alun-alun Giri Kridha Bhakti Wonogiri.?

Pengajian Akbar tersebut dihadiri Rais A’am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)

habib Lutfi Isi Pengajian Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Ribuan jamaah yang hadir memadati lapangan lokasi pengajian. Mereka hadir dari berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Selain maulid akbar, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan guna menyambut Hari Jadi Kota Gaplek itu, diantaranya Napak Tilas Pangeran Sambernyawa di Monumen Watu Gilang, Tasyarub Gerakan 1 Miliar untuk anak yatim, dan Doa syukur antar umat beragama.

Hari Jadi Wonogiri sendiri sebetulnya baru akan jatuh pada tanggal 19 Mei nanti. Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dalam sambutannya mengatakan,ia berharap dengan momentum ini segenap unsur dapat membantu untuk mewujudkan keadaan masyarakat berdasarkan semboyan SUKSES.

Belajar Muhammadiyah

“SUKSES sebagai kepanjangan Stabilitas, Undang-undang, Koordinasi, Sasaran, Evaluasi, Semangat. Berarti pula upaya mewujudkan keadaan masyarakat yang penuh semangat dan bekerja bersama segenap elemen berdasarkan rel regulasi agar tujuan kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai dengan kestabilan,” ujarnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Doa, Kiai Belajar Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

PMII Ashram Bangsa Bantu Penggalangan Dana untuk Korban Bencana

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah

Usai tiga hari dilantik, Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga di bawah komando Badan Semi Otonom Rayon (BSOR) Mahasiswa Pecinta Alam Ashram Bangsa (Mapalaba) menjalankan satu dari lima program kerjanya, yakni tanggap bencana.

“Mendengar berita duka dari Purworejo, kami bersama sahabat-sahabat Keluarga Mahasiswa Purworejo UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Kamapuriska) dan sahabat Korp Kobar mulai tanggal 20 Juni 2016 menggalang bantuan,” kata Muhammad Fachrul Falah selaku Kapten Mapalaba, Rabu (22/06).

PMII Ashram Bangsa Bantu Penggalangan Dana untuk Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ashram Bangsa Bantu Penggalangan Dana untuk Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ashram Bangsa Bantu Penggalangan Dana untuk Korban Bencana

Penggalangan dana hari pertama tersebar di tiga titik strategis. “Alhamdulillah teman-teman semua sangat antusias sekali karena kita bisa terjun langsung membantu masyarakat yang terkena musibah di Purworejo,” tuturnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menjelaskan selain kegiatan sosial ini bertujuan menguatkan rasa kepedulian sesama manusia dan bentuk pengamalan Nilai Dasar Pergerakan PMII, yakni trilogi tauhid yang terdiri dari hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), hablum minannas (hubungan manusia dengan manusia), hablum minal alam (hubungan manusia dengan alam).

Belajar Muhammadiyah

Penggalangan dana tersebut baru terselenggara dua kali, yakni tanggal 20 Juni 2016 dan 23 Juni 2016. Maimunah sebagai penanggungjawab koordinator wilayah Yogjakarta menambahkan, bantuan logistik masih kurang logistik khususnya untuk pengungsi di Desa Jalok, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, di samping kebutuhan pendidikan untuk anak-anak para korban.

“Untuk saat ini yang dibutuhkan lebih pada logistik, kalau untuk pakaian sudah cukup. Kekurangan yang lebih dibutuhkan selain logistik juga masalah pendidikan untuk jangka panjang. Kan seperti buku-buku dan alat tulis menulis pada hilang,” ujar Maimunah di depan Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jumat (24/06).

Dana yang terkumpul tertanggal 20 Juni 2016 sebesar Rp 2.127.900 dan pada 23 Juni 2016 terkumpul Rp 578.000. Kegiatan penggalangan bantuan tersebut masih berlangsung hingga kini. (Eko Nurwahyudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta mengadakan kaderisasi tingkat II Lakmud (Latihan Kader Muda) di Pondok Pesantren as-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat-Ahad tanggal 9-11 Oktober 2015.

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kader IPNU Harus Miliki Jiwa Santri

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat mengisi stadium general pada acara itu mendorong kader IPNU agar tak terlepas dari ruh pesantren. "Kader IPNU harus memiliki jiwa seorang santri yang cerdas, santun, dan sabar untuk terus belajar dan berjuang dan tetap dilandasi ketaqwaan. Perjuangan kader IPNU adalah dengan menempa diri agar siap menjadi generasi pemimpin Bangsa dan NU dimasa yang akan datang," ujarnya.

Kang Said, sapaan akrabnya, yang saat itu didampingi ketua? IPNU DKI Jakarta Muhammad Said dan mantan ketua PW IPNU Jawa Tengah Hasan Chabibie juga menyatakan dukungan penuh ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, Hari Santri Nasional itu akan ditetapkan pada tanggal 22 Oktober karena hari itu merupakan momentum para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi penjajah Belanda.

Belajar Muhammadiyah

Pada tanggal tersebut, kata Kang Said, Hadratussyaikh Hasyim Asyari mengumpulkan kiai-kiai Nusantara untuk mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” bahwa membela tanah air adalah fardlu ain. Resolusi Jihad merupakan seruan perang suci menumpas penjajah yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia.

Senada dengan Kang Said, Ketua PW IPNU DKI Jakarta Muhamad Said? mendukung langkah PBNU? dalam mendorong Presiden Jokowi segera menetapkan Hari Santri Nasional. "Kita sangat mendukung hari santri nasional tanggal 22 Oktober dan kita akan ramaikan dengan berbagai program dan kegiatan agar bisa mengenang perjuangan santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia," katanya.

Peserta dalam latihan kali ini terdiri dari semua pengurus Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta dan para santri setempat. Makesta juga digelar sebelum didirikannya pimpinan komisariat IPNU di Pondok Pesantren as-Tsaqafah. (Red: Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Bahtsul Masail, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, melalui badan eksekutif mahasiswa mendirikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bentuk pembumian Aswaja di kalangan mahasiswa setempat.

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Dalam rilis yang diterima Belajar Muhammadiyah, Jumat (21/11), piha STISNU mendorong organisasi ekstra kampus tersebut menjadi motor penggerak pengembangan ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tangerang.

“Apalagi, kalian lahir (menjadi alumni) nanti asli dari produk perguruan tinggi yang mengembangkan Aswaja sebagai manhajnya,” kata DR. Bahruddin, salah satu petinggi kampus.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai upaya rintisan, Masa Pemerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang menjadi jenjang pertama kaderisasi PMII telah dilaksanakan 6 November lalu. Mapaba kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada hari berikutnya.

Belajar Muhammadiyah

STISNU Nusantara mewajibkan mahasiswanya untuk bergabung di organisasi ini. Tercatat ada 126 mahasiswa yang telah terdaftar. “Insya Allah, berawal dari kampus PTNU (perguruan tinggi NU), kami bisa meng-Aswaja-kan generasi muda di Tangerang,” tutur Eko Wiyono, ketua panitia Mapaba dan PKD. (Mahbib Khoiron)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Doa Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Banyuwangi,Belajar Muhammadiyah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada takmir masjid dan pengurus mushalla. Isin surat itu meminta pengeras suara digunakan tadarus dimatikan mulai pukul 22.00.

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

“Kita semua mencintai tadarrus dan semua ingin mengagungkan bulan puasa, tapi alangkah bijaknya kalau kita tadarrus tidak menggunakan pengeras suara setelah pukul 22.00. Sebab, di jam itu umat Islam mulai istirahat setelah seharian puasa,”? ujar Ketua II MUI Banyuwangi, Nur Chozin di kediamannya, Selasa (1/7).

Ia menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan warga yang menggelar tadarrus hingga dini hari, tidak gampang. Sebab, mereka beralasan ingin mencari pahala dan mengagungkan malam Ramadhan, sehingga mereka cukup sensitif terhadap segala bentuk? larangan dalam tadarrus. “Bisa-bisa mereka menuding kita macam-macam. Padahal, yang kita larang cuma pengeras suaranya, bukan tadarrusnya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain soal tadarrus, surat edaran MUI itu juga mengimbau semua rumah makan dan restoran yang beroperasi di siang hari memasang penutup selama Ramadhan. Itu untuk menghormati orang yang tengah berpuasa.

Ia menambahkan, sedangkan tempat hiburan malam diimbau untuk menghentikan aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. “Semua itu demi kebaikan kita semua dan menjaga kesucian bulan Ramadhan itu sendiri,” jelasnya. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Bahtsul Masail, Kiai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Dakwah Nadlatul Ulama (LDNU) ? melalui Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) mengirimkan lima orang ustad yang tergabung dalam Dai Ramadhan yang akan berdakwah di Hong Kong dan Macau selama Ramadhan.

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Pemberangkatan kelima ustad Dai Ramadhan dilakukan Senin (29/5) siang melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan NU Care LAZISNU.

Selama di Hong Kong dan Macau, para dai akan melakukan kajian keislaman; pembinaan muallaf dan pengenalan Islam; pengenalan dan dakwah tentang zakat infak sedekah dan wakaf serta mengajak jama’ah untuk melaksanakannya baik di bulan Ramadhan maupun hari-hari biasa.

Para dai juga akan membuat jurnal harian dan mendokumentasikannya, mengirimkan berita kegiatan-kegiatan mereka ke media NU; serta meramaikan kegiatan dengan media sosial dengan member tanda #tidim #lazisnu #ldnu dalam setiap postingan.

Belajar Muhammadiyah

Pembina TIDIM LDNU KH Wahfiudin Sakam mengemukakan misi tersebut merupakan upaya dakwah Islam ala Ahlussunah wal Jamaah An-Nadliyah ke seluruh dunia.

?

Belajar Muhammadiyah

“Problem saat ini di mana-mana ada ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga muncul ektrimisme, radikalisme, dan terorisme. Pengenalan tradisi keberagamaan yang ? wasatiyah, tawasuth, tawazun dan berkeadilan harus dikembangkan,” kata Kiai Wahfiudin.

Ia meminta kepada para Dai Ramadhan untuk mengajarkan Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang.?

“Tebarkan dan perkenalkan Islam yang ramah, bahwa kita adalah muslim pengikut Nabi Muhammad SAW yang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Ia juga berharap misi tersebut dapat menambahkan jaringan di mana warga Indonesia terus berdiaspora ke berbagai negara.

Bagi para ustad anggota Dai Ramadhan, ia mengatakan agar perjalanan tersebut dapat membuka wawasan dan memahami komunitas muslim di berbagai tempat., sehingga hal itu juga menjadi komitmen, motivasi dan keberanian untuk lebih tegas dalam menyebarkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah melalui dakwah.

Sementara itu, Direktur NU Care LAZISNU Syamsul Huda, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan kerjasama pertama NU Care dengan LDNU. Ia ? berharap kegiatan serupa dapat berkembang lebih besar sehingga lebih banyak lagi dai yang bisa dikirimkan ke luar negeri.

Ia mengatakan NU Care dan PCINU Hong Kong tengah menggerakan “One Day One Dolar”. “Uang yang terkumpul lewat gerakan ini untuk keperluan di Hong Kong seperti kebutuhan logistic, membangun shelter dan Islamic Center di HongKong,” kata Syamsul.

Ditambahkan Syamsul, selain mengirimkan tenaga dakwah, NU Care juga memfasilitasi warga Indonesia di Hong Kong dan Macau untuk mengenalkan ? entrepreneurship.

“Sebagai bekal untuk mereka dalam mencari nafkah di luar negeri untuk kehidupan yang layak dan mulia,” kata Syamsul.

Menurutnya langkah tersebut juga merupakan perjuangan memperbesar NU untuk bekiprah di dunia internasional. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Warta Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM Wiranto sudah merancang mekanisme untuk membubarkan ormas-ormas yang bertentangan dengan ideologi Indonesia, Pancasila.?

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menko Polhukam: Organisasi Anti Pancasila Akan Kita Bubarkan

“Kita akan tegas, melarang dan membubarkan ormas, apa pun tamengnya, yang bertentangan dengan Pancasila,” katanya saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Pemikiran Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan tema Keislaman dan Keindonesiaan: Aktualisasi Pemikiran dan Perjuangan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Gedung Nusantara V MPR RI Jakarta, Sabtu (6/5).

Wiranto mengaku sudah melaksanakan beberapa kali rapat terkait dengan mekanisme pembubaran ormas yang anti-Pancasila tersebut. “Kita sudah tiga kali rapat terbatas,” ucapnya.

Ia sudah mendeteksi keberadaan ormas-ormas yang menolak Pancasila, namun demikian tidak akan gegabah dalam bertindak dan membubarkan ormas-ormas yang dinilai anti-Pancasila itu.

“Tunggu tanggal mainnya,” tegasnya. "Mana nyata-nyata betul-betul bertentangan dengan Pancasila, bahkan keberadaannya tidak mengambil bagian dari satu proses pembangunan di Indonesia, ya harus bubar," lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menilai, ormas-ormas tidak boleh mengganti ideologi negara yang sudah disepakati bersama oleh para pendiri negeri ini. Ia juga menegaskan, ormas-ormas tersebut tidak boleh membuat mengganggu ketentraman masyarakat.?

Belajar Muhammadiyah

"Kalau keberadaannya merancukan ideologi negara yang sudah kita sepakati, tentunya tidak layak hidup di Indonesia," ungkapnyanya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Berita, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Halal bihalal yang digelar Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan, Sabtu (29/7) di Gedung Hasan Aminuddin Center Kecamatan Dringu juga diisi dengan akreditasi oleh PW GP Ansor Jawa Timur.

Halal bihalal yang diikuti oleh seluruh pemuda Ansor hingga tingkat ranting ini dihadiri oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Rudi Tri Wahid bersama pengurus, Ketua GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis bersama Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo Adimas Lutfi Putrajaya dan Ketua GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq.

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Akreditasi, Salah Satu Tolak Ukur Kaderisasi GP Ansor

Ketua GP Ansor Probolinggo Muchlis mengatakan, akreditasi adalah salah satu tolak ukur pengkaderan dan salah satu kewajiban para pengurus untuk tunduk dan patuh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi sehingga dapat memunculkan sebuah kesamaan visi misi? mulai tingkatan cabang hingga ranting.

“Ansor bisa dikatakan hidup dan jalan pengkaderannya jika sudah melakukan jenjang pengkaderan baik Ansor maupun Banser seperti DTD/ PKD, Diklatsar maupun Susbalan Banser, Majelis Dzikir dan shalawatnya berjalan, punya lembaga ekonomi atau badan usaha dan program reguler yang terstruktur,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Muchlis, akreditasi inilah saatnya jajaran pengurus mengukur diri atas ikhtiar yang sudah dilakukan. “Ada pedoman akreditasi oleh GP Ansor Jatim. Kedatangan tim dari GP Ansor Jatim ini adalah melakukan kroscek untuk memperbaiki organisasi baik secara kaderisasi maupun administrasi,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Tidak lupa Muchlis mengajak seluruh kader GP Ansor dan Banser turut mendukung semua program GP Ansor baik di Kabupaten Probolinggo maupun Kota Kraksaan yang telah dicanangkan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

“Kita terus melakukan sinkronisasi program unggulan sebagai pilot project kepemudaan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dan mengawal pada garda terdepan? menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Fragmen, Quote Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan

Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/1) mendatang, akan mengadakan peringatan haul para sesepuh pondok, salah satunya adalah KH. Ahmad Shofawi. KH. Ahmad Shofawi, putera dari Akram bin Ikram bin Thohir lahir di Kota Solo pada tahun 1879. Selain sebagai salah satu tokoh pendiri Al-Muayyad, juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang dermawan lagi sholeh. Juga wira’i, cermat dan hati-hati dalam menjalankan syariat, tawaddhu’ dan rendah hati. Beliau sangat menyayangi ulama dan kyai-kyai serta berbahasa Jawa halus (Kromo Inggil).

Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama terutama dari sang Bapak. Setelah menginjak usia remaja, Shofawi mondok di Pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Kadirejo Klaten guna mempelajari dan mendalami ilmu tasawuf, Thoriqoh Naqsabandi. Di pesantren ini pula ia bertemu dengan sahabatnya, KH Abdul Mannan (ayah KH Ahmad Umar), yang kelak bersama-sama mendirikan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan.

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan

Saat menjadi santri, Shofawi bercita-cita menghafal Al-Quran, akan tetapi hal tersebut tidak sempat terwujud. Namun disamping itu, ia juma memiliki tiga cita-cita lainnya, yaitu; berkediaman di dekat (mangku) masjid, menunaikan ibadah haji dengan kapal berbendera Islam, dan memiliki anak-anak yang mangku (mengasuh) pondok pesantren. Cita-cita tersebut, di kemudian hari, semuanya telah terwujud.

Putera-puterinya kini menjadi pengasuh berbagai pondok, antara lain KH Rozaq Shofawi (Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo) dan Nyai H. Siti Maimunah Baidlowi, mendampingi suaminya KH A. Baidlowi (almarhum), mengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Brabo.

Kembali ke Solo, Shofawi muda kemudian menekuni dunia usaha. Di bidang dunia usaha, Kiai Shofawi terkenal sebagai pengusaha yang bonafide dan maju. Di saat orang masih menggunakan alat tenun tangan, beliau telah menggunakan alat tenun mesin, suatu yang sangat langka pada masa itu. Kualitas barang selalu dijaga, pelayanan yang baik dan barang dijual dengan layak. Kesemuanya membuat perusahaan batik dan tenun cap “Pohon Kurma” milik beliau dapat menguasai pasar Solo dan Surabaya.

Dengan kekayaannya, beliau gunakan untuk membantu berbagai macam pihak, termasuk menyediakan keperluan para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam barisan kiai Sabilillah maupun Hizbullah yang terkenal dengan “Pasukan Lawa-lawa”.

Belajar Muhammadiyah

Tak hanya itu, Mbah Kaji Sapawi, begitu sapaan masyarakat kepadanya, turut membantu pembangunan masjid dan pesantren di berbagai daerah, antara lain 3.500 meter persegi untuk membangun pesantren, madrasah dan masjid Al-Muayyad, Laweyan Solo. Kayu jati untuk masjid di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta-pun, atas pembiayaan beliau. Pondok pesantren lainnya juga banyak dibantunya, seperti pesantren Serang Rembang, pondok pesantren Gontor Ponorogo dan lain sebagainya.

Bantuan yang berikan di masa lampau tersebut, bahkan masih diingat oleh pengasuh pesantren generasi penerusnya. Seperti yang dituturkan salah satu putera Mbah Kaji Sapawi, KH Idris Shofawi, saat diwawancarai Belajar Muhammadiyah di kediamannya, belum lama ini (14/10).

“Dulu sewaktu saya masih muda, saya pergi ke Gontor bersama sejumlah jamaah. Di sana, pendiri Pondok Gontor Kiai Zarkasyi dalam sambutannya mengatakan ketika masih membangun Pondok Gontor, ia mengirim 3 utusan ke Solo untuk mencari tambahan donatur. Salah satunya ke Mbah Sapawi. Kemudian oleh Mbah Sapawi, dicukupi biaya yang dibutuhkan,” terang Kiai Idris.

Belajar Muhammadiyah

Bangun Masjid Tegalsari

Kiai Showafi, pula yang banyak mendukung berdirinya madrasah dan masjid di Tegalsari. Tanah yang menjadi tempat untuk mendirikan masjid serta sebagian yang sekarang menjadi kompleks bangunan pesantren dan sekolah MI/SD/SMP Ta’mirul Islam di Tegalsari, merupakan wakafnya. Tanah seluas 2000 m2 (lebar 40 m, panjang 50 m) tersebut, dulunya disebut gramehan yaitu tempat untuk memelihara ikan gurami.

Saat membangun masjid tersebut beliau sangat berhati-hati, karena karena beliau dikenal sebagai Kiai wira’i (cermat dan hati-hati menjalankan syari’at), suka riyadlah (prihatin demi cita-cita luhur) serta taat kepada guru dan kiai. Kewira’i-an beliau ditandai dengan beliau memerintahkan seluruh tukang harus berwudlu sebelum berkerja, agar mereka dalam keadaan yang suci juga.

Dan atas perintah ayahnya, Masjid Tegalsari dibangun dengan tiga syarat, yaitu; 1) Dilarang mencari dana dengan mengeluarkan surat edaran ke manapun., 2) Harus dibiayai sendiri (prinsip mandiri)., 3) Bila ada dermawan lain memberi bantuan supaya diterima, tetapi tidak usah meminta bantuan. Hal ini dipegang teguh dalam pendirian masjid sampai selesai. Dana-dana yang masuk harus halal. Karena ini untuk menjaga kesucian dari pembangunan masjid Tegalsari.

Kesucian Masjid Tegalsari memang benar-benar dijaga oleh pendirinya yaitu KH Ahmad Shofawi. Saat itu Indonesia masih diduduki Belanda, dan Belanda mencurigai Masjid Tegalsari sebagai tempat persembunyian pejuang kemudian Belanda masuk tanpa melepas alaskaki dan membawa anjing pelacak.?

Setelah Belanda keluar dari masjid, KH Ahmad Shofawi langsung menyujikan sendiri masjid itu, 7 kali dengan air dan salah satunya dengan pasir untuk menghilangkan najis mugholladhoh (najis besar). Dalam kesucian beliau sangat berhati-hati, dalam kesehariannya beliau mencuci pakaiannya sendiri, ini dikarenakan agar beliau dapat memastikan pakaian yang dipakai benar-benar suci.

Konsisten akhir hayat

Sebagai seorang tokoh panutan di lingkup Tegalsari, bahkan wilayah Surakarta, Mbah Kaji Sapawi menjadi sosok yang benar-benar konsisten dalam menjaga dua prinsip: Quu anfusakum wa ahlikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka) dan wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa (tolong menolonglah kalian semua dalam kebaikan dan taqwa).

“Bahkan hingga jelang akhir hayatnya, Mbah Sapawi tetap ikut mengawasi pendidikan dan ibadah putera-puterinya. Seringkali ia shalat berjamaah di masjid, berada di shaf belakang putranya yang masih kecil, seperti Pak Idris dan Pak Muid untuk mengawasi sholat mereka. Setelah sahalat kalau masih gojek, beliau menyabetkan serban sebagai peringatan masih mengawasi,” ungkap salah satu tokoh Masjid Tegalsari, Ahmaduhidjan, saat disambangi Belajar Muhammadiyah, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Di bidang pendidikan, imbuh Mbah Ahmadu, Mbah Sapawi juga mendatangkan beberapa ulama untuk mengajarkan pendidikan agama Islam kepada puteri-puterinya. “Mbah Kiai Shofawi mengundang sejumlah kiai antara lain KH Djauhar Keprabon, KH Mawardi Sepuh Keprabon, KH Masjhud Keprabon, dan KH Asy’ari Tegalsari.untuk datang ke rumahnya dan mengajari putra-putrinya belajar ilmu agama, dan kemudian juga turut bergabung anak putri yang lain,” ungkap dia.

Keistiqomahan beliau dalam ibadah dan berhubungan baik dalam masyarakat terjaga hingga pada usia 83 tahun, tepatnya pada tahun 1962, Kiai Shofawi wafat. Jenazah beliau dimakamkan di Maqbaroh “Pulo” Laweyan Solo. Lahu al-fatihah!

(Ajie Najmuddin)

Sumber:

- A Hakim Adnan. 1993. Sejarah Masjid Tegalsari. Solo. Asya Grafika.

- Wawancara H Ahmaduhidjan, 8 Oktober 2015.

- Wawancara KH Idris Shofawi, 2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Amalan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

Dubes RI untuk Arab Saudi: Haji Tahun Ini Istimewa

Jeddah, Belajar Muhammadiyah. Duta Besar RI untuk Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan bahwa pemerintah Kerajaan Saudi menilai bahwa penyelenggaraan haji tahun ini berjalan sukses.

Dubes RI untuk Arab Saudi: Haji Tahun Ini Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes RI untuk Arab Saudi: Haji Tahun Ini Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes RI untuk Arab Saudi: Haji Tahun Ini Istimewa

“Informasi yang saya terima dari rilis kerajaan Arab Saudi mengatakan, bahwa ibadah haji tahun ini istimewa sebagaimana tahun kemarin,” terang Agus Maftuh usai melepas keberangkatan jemaah kloter satu Embarkasi Solo (SOC 01) di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Rabu (6/9).

“Mereka menyebutnya dengan at-tanahum al-amtsal, sebuah harmoni yang sangat cantik dari semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan haji tahun ini,” sambungnya.

Menurut Agus Maftuh, banyak pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji. Selain masing-masing penitia penyelenggara negara pengirim jemaah haji, dari pihak Saudi ada Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Kementerian Haji dan Umrah, termasuk juga GIP atau BIN nya Saudi yang melakukan asessment security atau kajian tentang keamanan haji tahun ini.

“Penyelenggaraan haji tahun ini sangat sukses meski jumlahnya jauh lebih banyak. Ada tambahan 52ribu. Awalnya saya agak pesimis dengan begitu drastis nya peningkatan kuota ini,” aku Agus Maftuh.

Belajar Muhammadiyah

Meski demikian, Agus Maftuh mengakui masih ada sejumlah catatan perbaikan, antara lain di Mina, terkait tenda dan antrian panjang toilet.  Akan hal ini, Agus mengatakan pihaknya akan  melakukan diplomasi haji dengan ad-Diwan al-Malaky atau Royal Code. “Kita akan minta perbaikan perbaikan ke depannya,” tegasnya.

Ditanya soal  alternatif solusi yang akan ditawarkan, Agus menjawab tegas perlunya membangun bangunan bertingkat di Mina. “Atau kita minta ke Saudi bahwa Indonesia akan terlibat dengan WIKA atau WASKITA nya untuk bangun toilet di situ (Mina). Ini terobosan yang harus kita lakukan,” jelasnya. 

Belajar Muhammadiyah

“Kita sudah dapat titik yang ada di Mina Jadid. Bangunan toilet di situ akan kita tingkat dua atau tiga sehingga kenyamanan jemaah haji akan terasa di situ karena kami sering mendapat keluhan bahwa musibah terbesar jemaah haji itu ketika antri di toilet,” sambungnya.

Kondisi di Mina saat ini juga yang membuat  Agus Maftuh memilih bersikap rasional soal kemungkinan adanya penambahan kuota. Meski demikian, pihaknya akan terus mengupayakan. Menurutnya, ada dua cara yang akan dilakukan.

“Pertama, akan kita mintakan langsung kepada kerajaan. Skema kedua kita nego dengan negara anggota OKI untuk mengambil kuota yang tidak terpakai terutama di negara-negara Afrika. Dengan cara ini kita akan bisa menambah lagi kuota Indonesia,” tandasnya.

Kuota jemaah haji Indonesia tahun ini kembali normal menjadi 211.000. Kuota tahun ini bahkan bertambah sebanyak 10ribu atas lobby Presiden Joko Widodo sehingga totalnya menjadi 221.000. Kuota tahun ini lebih banyak 52.200 jika dibanding empat tahun terakhir yang hanya 168.800 seiring adanya pemotongan kuota sebesar 20 persen. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock