Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

DPR Harus Teladani Otista yang Membela Rakyat dan Keadilan

Bandung, Belajar Muhammadiyah 

Cucun Ahmad Syamsulrijal, anggota DPR RI komisi IV Yang juga Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengajak anggota parlemen untuk meneladani keberanian Oto Iskandar Di Nata. Hal itu ia sampaikan dalam acara bedah buku Oto Iskandar Di Nata: The Untold Stories hasil penelitian Iip D. Yahya di Pondok Pesantren Sirojul Huda, Parung Serab, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (16/12). 

DPR Harus Teladani Otista yang Membela Rakyat dan Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)
DPR Harus Teladani Otista yang Membela Rakyat dan Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)

DPR Harus Teladani Otista yang Membela Rakyat dan Keadilan

"Otista adalah tokoh Sunda yang patut kita teladani utamanya sebagai anggota parlemen untuk terus membela rakyat," ujarnya. 

Kang Cucun dalam orasinya nenyerukan bahwa generasi muda Sunda harus mengenal Oto Iskandar Di Nata. Pahlawan nasional kelahiran Bojongsoang, kabupaten Bandung ini harus menjadi teladan untuk anak muda kabupaten Bandung khususnya. 

"Jangan sampai nama Otista dinamai jalan tetapi kita orang Bandung tidak tahu siapa beliau ini," ujarnya. 

Belajar Muhammadiyah

Sebagai anggota legislatif, Cucun menyerukan kepada semua anggota parlemen mesti meneladani sosok pahlawan asal Sunda ini. Ia menilai bahwa perjuangan sekaligus gaya negoisator Otista harus kita teladani.

"Saya berharap akan lahir Oto baru dari anggota legislatif untuk selalu membela rakyat, anggota dewan yang membela keadilan," ujarnya. 

Di tempat yang sama Iip D. Yahya, penulis buku sekaligus sejarawan sangat mengapresiasi nuansa bedah buku di Soreang, sebagai rumah Otista kabupaten Bandung. Ia pun sangat senang kala bedah buku tokoh Sunda ini keluarga Otista turut hadir.

"The Untold Stories, lanjutan dari penelitian sebelumnya," ujarnya. 

Belajar Muhammadiyah

Iip melanjutkan bahwa dari buku sebelumnya belum menjawab ikhwal Otista kenapa dibunuh. 

"Pak Oto itu timsesnya Bung Karno, sidang PPKI mengusulkan Bung Karno dan Bung Hatta untuk memimpin Indonesia.

Oto Iskandar Di Nata merupakan pahlawan kelahiran Bojongsoang Bandung. Pada 6 November 1973, Oto mendapatkan gelar pahlawan dari pemerintahan pada 1973. Meskipun kematian Oto tragis dibunuh oleh kelompok Laskar Hitam. 

Salah satu cucu Otista Ratna (60) turut hadir dalam acara bedah buku ini. 

"Saya senang atas penelitian ini karena memberikan informasi untuk publik tentang Otista," ujarnya. 

Menyambut acara ini dilaksanakan Eriyandi Budiman, pegiat Literasi asal Kabupaten Bandung terinspirasi akan mendiskusikan Oto di daerah Soreang. 

"Acara literasi tokoh nasional ini sangat penting, saya sangat mengapresiasi," ujarnya. 

Acara ini dihadiri oleh ratusan anak muda juga komunitas santri pondok pesantren Soreang Bandung dan ormas, OKP Kab Bandung dan masyarakat. (Pungkit Wijaya/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa?

Jakarta,Belajar Muhammadiyah

Buku Islam Indonesia Islam Paripurna merupakan tanggapan terhadap gugatan terhadap kebenaran dan kelengkapan pengamalan Islam di Indonesia. Gugatan itu muncul sejak medio tahun delapan puluhan.

Islamnya orang Indonesia dianggap tidak sempurna lantaran mengamalkan bid’ah, mengidap sekularisme, dan tidak mengamalkan syariat Islam.

Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Kaffah, Islam yang Seperti Apa?

Demikian disampaikan Imdadun Rahmat saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran bukunya yang berjudul Islam Indonesia Islam Paripurna di Jakarta, Senin (9/10).

Belajar Muhammadiyah

Menurut Imdad, setidaknya ada tiga indikator yang disematkan oleh kelompok Islam transnasional untuk mengklaim praktik Islam yang paripurna (kaffah).

Pertama, Islam kaffah adalah Islam yang puritan, bebas dari takhayul, bid’ah, dan khurufat, bersih dari tasawuf, tafsir, filsafat, dan ide-ide dari Barat. Islam tipe ini adalah model Islam yang tertutup terhadap pihak lain di luar Islam.

Belajar Muhammadiyah

“Sehingga tidak merasa perlu terlibat, berinteraksi, dan berdialog dengan yang lain, kecuali dalam posisi mendominasi,” kata Imdad saat memberikan sambutan.

Kedua, Islam kaffah adalah yang menerapkan syariat Islam di segala sektor kehidupan. Mulai sosial, budaya, hingga politik dan hukum formal. Penerapan hukum Islam adalah dengan menerapkan syariat Islam.

Menurut Imdad, dengan formalisasi syariat Islam berarti melakukan penyempitan Islam itu sendiri.

Ketiga, Islam kaffah adalah Islam politik. Imdad menilai, kelompok Islam transnasional selalu mengkampanyekan bahwa praktik Islam yang kaffah adalah dengan melakukan Islam politik. Islam harus menjadi ideologi politik untuk mendirikan negara Islam.

Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia itu menyangkal model Islam kaffah versi tersebut. Baginya, Islam Indonesia adalah model Islam yang paripurna (kaffah) untuk bangsa Indonesia sendiri.

“Islam Indonesia adalah Islam yang membumi, berdialog positif dengan konteks Indonesia,” jelasnya.

Bahkan, Imdad menilai, dunia internasional semakin memperhatikan dan memandang Islam Indonesia sebagai model Islam masa depan di tengah konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Ia berpandangan bahwa Islam kaffah yang didengungkan oleh kelompok Islam transnasional adalah Islam yang berdasar terhadap budaya lokal di Arab atau Negara Timur Tengah lainnya. Seperti Ikhwanul Muslim yang merupakan ekspresi politik lokal Mesir dan Timur Tengah.

“Islam kaffah adalah Islam lokal pula,” ucapnya. (Muchlishon Rochmat)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah IMNU, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Sumedang, Belajar Muhammadiyah - Upaya memajukan sebuah organisasi harus diawali dulu oleh peningkatan kualitas pribadi masing-masing anggota organisasi tersebut. Kalau sesorang sudah mampu mengurusi keperluan pribadinya dengan kualitas yang baik, maka ketika diminta untuk mengurusi organisasi apapun hasilnya pasti berkualitas.

Demikian disampaikan oleh Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Ai Faridah di hadapan para peserta kegiatan peningkatan kualitas organisasi. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Al-Hikam, Kamis (1/9) yang diprakarsai oleh pengurus Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU MA Plus Al-Hikam.

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Semua pengurus organisasi harus senantiasa meningkatkan kualitas pribadi sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Selain itu setiap pengurus harus bekerja maksimal yang dilandasi oleh ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan. Penting ini semua dilakukan supaya peran yang dijalankannya dapat memberikan sumbangsih yang positif untuk kemajuan sebuah organisasi, lanjut Ai Faridah.

Apalagi organisasi yang akan dimajukannya yaitu organisasi badan otonom Nahdlatul Ulama seperti IPNU dan IPNU. “Jangan setengah-setengah untuk memajukan NU. Karena jamiyyah NU didirikan oleh para ulama. Yakinlah kalau kita mengurusi NU maka akan selalu ada keberkahan di setiap langkah kehidupan kita.”

Belajar Muhammadiyah

Ai Faridah melanjutkan, menjaga keberlangsungan organisasi NU yang didirikan oleh para ulama sudah menjadi tugas seorang pelajar NU. Jangan hanya bangga menjadi warga NU yang kultural, tapi harus bangga menjadi warga NU yang struktural. Warga NU yang struktural artinya warga NU yang aktif mengurusi organisasi NU dan terdaftar sebagai pengurus NU atau banom NU.

Belajar Muhammadiyah

“Semoga dengan adanya peningkatan kualitas organisasi seperti ini, kecintaan kalian terhadap NU semakin kuat. Kalau cintanya sudah kuat, maka ngurus NU juga akan lebih bersemangat,” tutup Ai Faridah. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Tokoh, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Pawai Tarhib sambut Ramadhan, Jumat (3/6) di Kota Mataram. 15 Ribuan jamaah ? membanjiri halaman Islamic Center untuk mengikuti acara Pawai Tarhib menyambut Bulan Suci Ramadhan 1437 hijriyah tersebut.

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Ribuan jamaah itu berasal dari pegawai lingkup pemerintah Provinsi NTB, Ormas, Mahasiswa, Pelajar, Masyarakat Umum, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) NTB.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, HM Zainul Majdi mengatakan, kebahagiaan menyambut Bulan Suci Ramadhan akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Selain itu, Tarhib Ramadhan yang baru pertama kali digelar ini akan menjadi penyemangat bagi masyarakat, menyambut digelarnya MTQ ke-26 tingkat nasional bulan Juli 2016 mendatang di Mataram.

"Tarhib itu diambil dari kata Ar-Rohbu, artinya kelapangan maka tarhib itu secara inti maknanya adalah menggambarkan suasana hati kita yang lapang, jiwa dan diri kita pada saat Ramadhan itu datang menghampiri kita,” tutur Zainul Majdi pada saat melepas peserta pawai.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan Islamic Center NTB untuk kegiatan yang positif. Selain itu, dia mengajak semua masyarakat memperbanyak doa untuk NTB agar berbagai program yang dicanangkan bisa terwujud, termasuk dalam mewujudkan target 15 medali emas pada PON mendatang.?

Kegiatan Tarhib diikuti Gubernur dan pejabat lingkup pemerintah provinsi NTB itu melintasi Jalan Pejanggik, Jalan pendidikan dan kembali finish di Islamic Center. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Pahlawan, Budaya Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU

Jombang, Belajar Muhammadiyah . Sidang Pleno untuk mengesahkan hasil sidang komisi-komisi pada Muktamar Ke-33 NU telah usai dilaksanakan, Rabu, (5/8).? Salah satu poin yang dihasilkan dan disahkan dalam hal keorganisasian NU adalah terkait masuknya PMII (Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia) dan Korpri (Korps PMII Putri) sebagai badan otonom NU.

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU

Menanggapi hasil sidang pleno tersebut, Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember Surabaya (ITS-PENS-PPNS) yang? beberapa hari terakhir membuat gerakan viral Siap kembali ke NU menyatakan memberikan dukungan penuh.

"Sejatinya perjalanan kajian panjang sudah kami lakukan sejak tahun 2011 terkait positioning PMII terhadap NU. Sikap kami sudah kami sampaikan melalui Maklumat Surabaya pada tanggal 31 Januari 2015 yang isinya secara garis besar intinya menyatakan PMII harus kembali ke NU," ujar Imam, Ketua Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember Surabaya, di Jombang, Jatim.

Belajar Muhammadiyah

Dalam ulasannya, Imam juga menyampaikan tiga hal pokok yang menjadi pertimbangan terkait posisi PMII terhadap NU. Pertama terkait ideologi Islam Aswaja; kedua, terkait pertarungan kekuatan global dan internasional, dan yang ketiga tentang kebutuhan dan kekuatan cluster kaum intelektual muda NU.

Terkaithasil sidang pleno tersebut selanjutnya secara organisasi akan diselesaikan dalam internal tubuh PMII . (Ahmad Hanan/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Belajar Muhammadiyah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jepara menggelar rapat koordinasi di ruang Mapolres Jepara, Jawa Tengah, Ahad (10/9) malam. Rapat membahas soal rumor yang beredar di media sosial terkait kasus pesantren di Karimunjawa, Jepara.

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Rapat koordinasi yang dihadiri sejumah tokoh dan jajaran kepolisian ini membantah berita terjadinya pengusiran santri di sebuah pesantren di sana. Keduanya mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Berikut bunyi surat klarifikasi secara lengkap yang ditandatangani Ketua Pimpnan Daerah Muhammadiyah (PDM) KH Sadali dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Ubaidillah Noor.

Menyikapi perkembangan pemberitaan (issue) di media sosial terkait dauroh tahfidh al-Qur’an di Dukuh Alang-alang RT 02 RW 04, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sehubungan dengan isu penolakan dan pengusiran santri Ittihadul Ma’had Muhammadiyah (ITMAM) yang hendak melakukan dauroh tahfidh al-Qur’an Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, maka dengan ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jepara menyatakan klarifikasi sebagai berikut:

1. Pemberitaan bahwa telah terjadi penolakan dan pengusiran santri adalah tidak benar.

Belajar Muhammadiyah

2. PCNU Jepara dan PDM Jepara sepakat menyikapi masalah tersebut dengan mengedepankan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, ukhuwwah basyariyah serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Menyekapakati agar gedung yang diwakafkan kepada PP Muhammadiyah tersebut dihentikan (dimauqufkan) penggunaannya untuk beberapa waktu sampai segala sesuatunya terpenuhi.

Belajar Muhammadiyah

4. Mengintensifkan komunikasi semua pihak dan mewaspadai paham radikalisme serta pihak lain yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.





Surat klarifikasi tersebut ditandatangani pula oleh sejumlah saksi, antara lain AKBP Yudianto Adhi Nugroho (Kapolres Jepara), H Mashudi (Ketua MUI Kabupaten Jepara), Rustamaji (atas nama Kepala Bakesbangpol), H Badrudin (PKUB Jateng untuk Jepara), Arif Darmawan (atan nama Kepala Dinas Kominfo). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Warta, PonPes Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat

Indramayu, Belajar Muhammadiyah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah wafat KH Afandi Abdul Muin Syafii (78) yang akrab disapa Abah Afandi. Ia meninggal dunia, Rabu (13/7) sekitar pukul 07.30 WIB. Abah Afandi merupakan salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat.

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat

Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ini adalah santri di Pondok Pesantren Tebuireng era Hadlratussyekh KH Hasyim Asyari dan pesantren Tambakberas era KH Wahab Chasbullah.

Selain mendedikasikan diri pada NU, penulis Kitab Risalah Al-Muin fi Aqoid Al-Khomsin ini juga dikenal sebagai kiai yang memeberikan ijazah kitab dzikir pusaka kiai NU, yaitu kitab Dalail Khoirot. Pada pertengahan Ramadhan lalu, Abah Afandi sempat dikunjungi oleh Kapolri Badrodin Haiti dan Menkopolhukam Luhut Panjaitan.

(Baca:? Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba)

Semasa hidup, Abah Afandi juga termasuk kiai yang akrab dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak muda, aktif berdakwah di berbagai daerah dan lingkungan yang belum tersentuh oleh para dai.

Belajar Muhammadiyah

Jenazah Abah Afandi akan dikebumikan di komplek Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, pukul 14.00 WIB. Beliau meninggalkan seorang istri, 7 putra, 1 putri, dan 14 cucu. (Abdul/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Sejarah, Olahraga Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Rajaban adalah istilah lain peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hampir setiap daerah memiliki tradisi yang mungkin berbeda istilah atau cara perayaannya.

Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Namun sejatinya semua memiliki esensi yang sama, yakni sebuah pengingat peristiwa agung, tatkala Nabi saw melakukan perjalanan dari Makah ke Palestina (isra’), kemudian naik (mi’raj) hingga ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Rabb-nya.

Tak terkecuali kegiatan Rajaban yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Kranji Kab. Pekalongan, Kamis kemarin (23/5). Rajaban menjadi sebuah momentum acara bersama mulai dari remaja, ibu-ibu hingga para sesepuh kampung turut menyemarakkan acara tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Semarak acara sebetulnya sudah tampak sejak hari-hari sebelumnya, dimana para remaja yang tergabung dalam IPNU-IPPNU membuka bazar. Selain mereka yang berjualan aneka makanan dan minuman, para pedagang dari luar juga turut ngalap berkah dari acara tersebut. Bermacam-macam pedagang tumpah-ruah di dekat kompleks Masjid Jami’ Kranji.

Belajar Muhammadiyah

Rabu (22/5), para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari Madrasah Diniyah Nurul Anam berbondong-bondong datang ke kompleks makam. Di sana mereka mengadakan yasinan dan tahlilan sampai menjelang Maghrib. Malam harinya, diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Quran 30 juz bil ghaib.

Puncak acara peringatan Rajaban di Kampung Kranji, yakni acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Mbah Nurul Anam serta para Sesepuh Kampung Kranji diselenggarakan Kamis (23/5) lalu di kompleks pemakaman Kampung Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah, Mustofa, menuturkan dirinya bersama rombongan dari Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang selalu menghadiri Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya.

”Kehadiran kami dalam acara tersebut diantaranya adalah ngalap berkah. Selain itu juga agar dapat meneladani ulama Nurul Anam semasa hidupnya,” ujar warga Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan H. Subhan dari Cirebon Jawa Barat. Meski bersama rombongan kecil, pihaknya terus mengikuti acara Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya. “Selain sebagai pencerahan, kami juga ingin ngalap berkah,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Pendidikan, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

NU-DPD RI Sepakati Tindak Lanjut Hasil Munas dan Konbes

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), mencapai kata sepakat untuk bersama-sama menindaklanjuti hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU.

Serangkaian seminar akan dilakukan roadshow di sejumlah daerah di Indonesia.? Kesepakatan tersebut dicapai setelah pimpinan DPD berkunjung ke PBNU, Selasa (16/10). 3 Pimpinan DPD, masing-masing La Ode Ida, Bambang Suroso, dan Permana Sari.

NU-DPD RI Sepakati Tindak Lanjut Hasil Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-DPD RI Sepakati Tindak Lanjut Hasil Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-DPD RI Sepakati Tindak Lanjut Hasil Munas dan Konbes

Ketiganya diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjend PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra, Ketua PBNU H. Iqbal Sullam, Ketua Lembaga Takmir Masjid PBNU KH. Abdul Manan Ghani, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU H. Nurul Yakin Ishak, Sekjend Pencak Silat NU Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen, Sekretaris Lembaga Penanggulangan Bencana Alam NU Sultonul Huda, dan Sekretaris Persatuan Guru NU M. Taufik.?

"Kedatangan ? kami yang pertama ingin berterimakasih atas apa yang dihasilkan NU dalam Munas dan Konbes di Cirebon kemarin. Perjuangan DPD dan NU pada dasarnya sama, dan apa yang dihasilkan NU sudah langsung kami tindak lanjuti di internal kami," kata La Ode mengenai kunjungannya.

Belajar Muhammadiyah

Bambang Suroso yang menjabat sebagai Ketua Kelompok DPD di MPR RI, mengatakan sejauh ini DPD telah menetapkan 10 isu strategis sebagai konsentrasi untuk dikerjakan dengan menggandeng 99 perguruan tinggi di seluruh pelosok Indonesia. Ke depan, DPD ingin mengembangkan kerjasama dengan NU.?

"Sepuluh isu tersebut di antaranya sistem presidensial yang belum terlaksana, masih terjadinya tumpang tindih di sejumlah lembaga di Indonesia, serta pemberlakuan otonomi daerah yang belum maksimal," ungkap Bambang.

Untuk tujuh isu lainnya, lanjut Bambang, yaitu adanya aspirasi masyarakat untuk munculnya calon presiden perseorangan, pemilihan pemilu nasional dan lokal dengan alasan social dan economi cost, dukungan untuk MK menjadi penjaga gawang UUD 1945, ? penajaman pasal 33 UUD 1945 melalui mekanisme amandemen.?

Belajar Muhammadiyah

"Ini juga yang mendorong kami untuk datang ke sini. Kami ingin NU mendukung dilaksanakannya amandemen UUD 1945 yang sekarang tengah kami gagas," tambahnya.?

Untuk teknis tindak lanjut hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU tersebut, DPD menyanggupi digelarnya seminar roadshow di 9 provinsi di Indonesia. Ke-9 seminar tersebut akan dikelompokkan menjadi 3 event, masing-masing 3 di Indonesia Timur, Tengah, dan Barat.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambut baik ajakan DPD RI tersebut. Kiai Said menjawabnya dengan menukil 7 poin deklarasi Ciganjur yang menjadi cikal bakal reformasi, di mana dalam penerapannya terdapat sejumlah penyimpangan.?

"Seperti pemilihan umum langsung, dulu kami mengusulkannya tanpa terfikirkan dampaknya sedemikian buruk. Bahkan kalangan kiai bisa terpecah-pecah. Kami berterimakasih dan siap mendukung dilakukannya amandemen UUD 1945, selama itu dilakukan secara hati-hati dan atas tujuan kebaikan Indonesia," pungkas Kiai Said.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Samsul Huda

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kementerian Agama akan kembali menggelar  Pekan Olahraga Seni Pesantren Nasional (Pospenas). Kali ini, gelaran Pospenas yang ke-7 ini akan diselenggarakan di Provinsi Banten. Proses persiapan terus dilakukan dan sampai saat ini telah mencapai 60–70%.

Hal ini diketahui saat Rapat Koordinasi Pospenas, di Ruang Sidang Setjen Kementerian Agama, Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (07/03) sore. Hadir dalam rapat tersebut, perwakilan dari Kemenag Pusat yang dipimpin Direktur PD Pontren yang juga Ketua I Panjatapnas Pospenas, Mohsen, Kakanwil Kemenag Banten, Agus Salim, Perwakilan dari Kemenko PMK, Kemenpora, Kemendikbud, Kemenpar, Kemendagri, Pemrov Banten dan lain sebagainya. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Popenas sendiri disepakai digelar pada 22–28 Oktober 2016 mendatang. Masih didiskusikan, tentang Maskot Pospenas. Sementara, ada usulan Maskot diberi nama Si Udin, yang merupakan kependekan dari Santi Indoensia Ulet Dedikatif Integritas dan Nasionalis.

Sebelumnya, Sekjen Nur Syam menyatakan, Pospenas diadakan bertujuan untuk membina para santri terutama yang ada di pondok pesantren untuk menggali potensi di bidang olahraga dan seni. “Yang terpenting adalah meningkatkan ukhuwah islamiyah di kalangan santri, serta meningkatkan budaya berolahraga dan seni yang bernuansa islami,” terang Sekjen.

Selain itu, Pospenas juga digelar untuk memberikan  apresiasi dan mengembangkan khazanah budaya bangsa. “Pospenas ini adalah salah atu bagian dari membangun manusia yang beriman dan bertakwa, sehat jasmani dan rohani, berkualitas unggul, sportif, dan berdaya saing tinggi,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Gubernur Banten Rano Karno beberapa waktu lalu juga berjanji, Banten siap menjadi tuan rumah yang sukses. Baik sukses pelaksanaan, sukses prestasi, sukses ekonomi maupun administrasi. 

Dalam Pospenas VII ini kali, akan mempertandingkan 11 cabang olahraga, yakni atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, futsal, sepak takraw, tenis meja, pencak silat, senam santri, dan panahan. Sementara 12 cabang seni yakni kasidah, hadrah, stand up comedy, pidato tiga bahasa, seni lukis islami, cipta puisi, kaligrafi hiasan mushaf Alquran, kriya, fragmen, pakeraf, dan fotografi Islam. Red: Mukafi Niam

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya

Kitab Irsyâdul ‘Ibâd karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malybari dalam sebuah bab mengisahkan tentang seorang lelaki durjana yang meski mengalami nasib tragis di akhir hidupnya. Kegemarannya membuat kerusakan dan minum minuman keras membuatnya dibenci masyarakat sekelilingnya. Bahkan, ketika ia mati di daerah Basrah, tak satu pun orang mau mengurus jenazahnya, kecuali sang istri.

Detik-detik pemakaman dilewati secara dramatis. Sang istri terpaksa membayar beberapa orang untuk mengangkut jasad suaminya menuju mushala. Karena tidak ada orang yang mau menshalatkan, jenazah lantas digotong kembali ke padang sahara untuk dimakamkan di sana.

Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya

Dalam kondisi yang malang ini, tiba-tiba seorang yang terkenal zuhud datang menghampiri. Ia turun dari gunung tempatnya ibadah guna menshalatkan jenazah lelaki fasik tersebut. Kealiman dan kesalehan sang zahid cukup harum di mata masyarakat, karenanya begitu tersiar kabar ia menshalati jasad penjahat tersebut, berbondong-bondonglah orang datang ke gurun. Masyarakat heran, mau-maunya orang ahli ibadah itu menuruni gunung, lalu menghormati mayat orang yang bergelimang dosa.

“Aku bermimpi seolah-olah ada suara yang mengatakan ‘Turunlah dari gunung, pergilah ke salah satu jenazah yang tak ada orang lain menemani kecuali istrinya sendiri. Lakukan shalat untuknya karena sesungguhnya ia diampuni,” kata sang zahid.

Belajar Muhammadiyah

Sang zahid pun memanggil istri lelaki jahat itu dan bertanya tentang perbuatan suaminya semasa hidup. “Dia sering ke kedai untuk minum minuman keras,” jawab sang istri.

Belajar Muhammadiyah

“Ingat-ingatlah kembali, barangkali ada perbuatan yang baik.”

“Tak ada perbuatan yang baik kecuali dia tiap hari sadar di waktu subuh, mengganti pakaiannya, berwudhu, lalu menunaikan sembahyang subuh. Selanjutnya ia kembali ke kedai untuk mabuk lagi.”

Kebaikan lainnya adalah di rumah orang yang dikenal buruk itu tak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim yang selalu mendapat prioritas ketimbang anaknya sendiri. Ketika sadar (tak mabuk), dia bermunajat seolah mengakui segela kesalahannya, “Tuhan, di sudut manakah Engkau akan menempatkanku yang buruk ini di neraka jahannam?”

Kisah ini membuka mata kita bahwa menilai seseorang tak semudah hanya dengan cara melihat pribadi lahiriahnya. Orang yang sehari-hari tampak berbuat maksiat, bisa jadi mulia di akhir hidupnya lantaran pertobatan dan kebaikan yang dilakukannya. Keselamatan hakiki orang mutlak menjadi hak prerogative Allah. Karena itu, ketimbang memvonis orang lain dengan label hitam atau putih, alangkah baiknya energi itu dicurahkan untuk mengoreksi diri sendiri.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malybari ketika menceritakan hal ini juga hendak menyampaikan pesan bahwa kepedulian anak yatim adalah perbuatan yang utama. Sikap tersebut mencerminkan keberpihakan kepada hamba lain yang lemah, dan bisa jadi keistimewannya melebihi ibadah-ibadah ritual yang dilakukan dengan penuh kebanggaan dan sikap meremehkan orang lainnya.

Rasulullah pernah bersabda,orang yang berusaha membantu janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan seperti orang yang menjalankan shalat malam (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

Belajar Muhammadiyah

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

Belajar Muhammadiyah

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

 

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah

Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

 

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

 

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

 

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

 

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

 

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

 

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

 

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Santri, Berita Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Pengurus Ranting GP Ansor Se-Kecamatan Tongas Dilantik Massal

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Sedikitnya 42 orang pengurus Ranting Gerakan Pemuda (GP) Ansor se-Kecamatan Tongas dilantik secara massal (bersamaan) oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin di Pendopo Kecamatan Tongas, Sabtu (4/11) pagi.

Pelantikan yang dirangkai dengan Festival Majelis Dzikir Shalawat Rijalul Ansor ini dihadiri oleh Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah didampingi sejumlah pengurus, Ketua GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis, Forkopimka Tongas serta Forum Silaturahmi Ulama dan Umara Kecamatan Tongas yang dipimpin oleh Kiai Dikri Muis.

Pengurus Ranting GP Ansor Se-Kecamatan Tongas Dilantik Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Ranting GP Ansor Se-Kecamatan Tongas Dilantik Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Ranting GP Ansor Se-Kecamatan Tongas Dilantik Massal

H Hasan Aminuddin mengatakan bahwa GP Ansor sebagai organisasi pemuda terbesar di Kabupaten Probolinggo hendaknya menguatkan institusi kelembagaan serta menjadi organisasi yang mandiri dan terus memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

“Kader GP Ansor di Kabupaten Probolinggo harus mampu meneruskan estafet perjuangan organisasi NU yang dapat menjawab tantangan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Menurut Hasan, masyarakat harus senantiasa bersyukur karena masih diberikan sehat wal afiat oleh Allah SWT. Selaku umat Nabi Muhammad SAW semasa masih ada kesempatan hidup di dunia ini perbanyaklah ibadah dan ungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Belajar Muhammadiyah

“Bershalawatlah dengan hati yang ikhlas dan khusyuk agar mendapatkan syafaat Baginda Rasul Muhammad SAW. Dengan peradaban zaman yang modern ini dan tidak terpengaruh hal-hal negatif yang merusak masa depan generasi bangsa, haruslah memperbanyak bermunajat serta berdoa kepada Allah SWT,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, IMNU Belajar Muhammadiyah

Jumat, 17 November 2017

Gus Zaim: Ketegasan Aparat, Kunci Penanganan Intoleransi

Rembang, Belajar Muhammadiyah

Isu SARA dan ujaran kebencian yang menjurus kepada tindakan kekerasan di beberapa wilayah belakangan ini perlu disikapi secara tegas oleh oleh aparat keamanan.

Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, KH M Zaim Ahmad Masoem (Gus Zaim). Menurutnya, kejadian kekerasan seperti perusakan rumah ibadah tentu tak bisa ditoleransi dan para pelaku harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Gus Zaim: Ketegasan Aparat, Kunci Penanganan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Zaim: Ketegasan Aparat, Kunci Penanganan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Zaim: Ketegasan Aparat, Kunci Penanganan Intoleransi

Meski demikian, baginya tak semua kasus perusakan rumah ibadah berskala nasional. Sebenarnya, lanjut Gus Zaim, kejadian seperti di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara beberapa waktu lalu merupakan kasus lokal dan sporadis.

Belajar Muhammadiyah

"Karena ada yang membesarkan melalui media sosial maka skala dampaknya meluas. Media sosial atau social media ibaratnya angka nol, ketika dimanfaatkan untuk hal-hal baik maka bernilai positif dan sebaliknya menjadi negatif jika digunakan kegiatan yang merugikan,” katanya, Ahad (21/8), di Rembang.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Zaim, kunci penanganan dan penyelesaian dalam permasalahan intoleransi bergantung ketegasan sikap aparat hukum maupun pemerintah. Salah satu penasehat RMINU Jawa Tengah itu berharap, sarana penyebaran informasi perlu mendapat kontrol secara ketat agar tidak beralih fungsi menjadi propaganda kebencian dan kerusuhan oleh oknum tak bertanggung jawab. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Jalin Keakraban, Fatayat Tegal Muzakarah Keliling

Tegal, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Fatayat dan Muslimat NU se-Kabupaten Tegal rutin menjalin keakraban dengan menggelar kegiatan Mudzakarah yang dilakukan dengan bersama-sama di tiap-tiap Pengurus Anak Cabang. Sabtu (9/3) kemarin, Muzakarah bertempat di Kecamatan Sindang.

Jalin Keakraban, Fatayat Tegal Muzakarah Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalin Keakraban, Fatayat Tegal Muzakarah Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalin Keakraban, Fatayat Tegal Muzakarah Keliling

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Dukuhwaru, Latifah mengatakan, kegiatan yang dilakukanya bertujuan untuk melanggengkan silaturahmi anatara pengurus dan anggota.

“Dengan jalinan mesra ini, akan ada komunikasi secara langsung dari anggota ke pengurus dari berbagai tingkatan. Modal komunikasi ini yang kami pakai untuk mewujudkan program bersama, membangun masa depan agar lebih baik,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Meski demikian, wanita Mungil itu memprediksi, pertemuan besar semacam ini, banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak terutama mendekati berbagai pemilihan umum. Banyak pihak yang ingin merebut pengaruh.

“Kami akan berkomitmen dengan gagasan awal yaitu tidak akan terlibat dan atau akan menutup diri dengan apa yang disebut politik praktis,” imbunya.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan itu dihadiri, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Ustman, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal H. Ahmad Wasy’ari, Asisten II Bupati Tegal Agus Subagyo, jajaran Pengurus MWCNU dan badan otonom. KH Abdul Mutholib, kiai sepuh setempat memberikan taushiyah dalam muzakarah ini.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz T.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 04 November 2017

Sedekah Gunung Merapi, Cara Merawat Alam Berbalut Tradisi

Boyolali, Belajar Muhammadiyah. Satu lagi yang tersisa, dari beragam tradisi yang diselenggarakan masyarakat di wilayah Soloraya, pada awal pergantian tahun lalu (4/11). Warga di daerah lereng Merapi, Desa Lencoh Kecamatan Selo, menggelar tradisi yang disebut sebagai sedekah gunung.

Tradisi sedekah gunung tersebut dimaksudkan sebagai wujud syukur warga, acara ini juga menyadarkan kita untuk ikut menjaga alam. “Selain sebagai bentuk syukur kepada Allah, upacara ini sekaligus untuk melestarikan kebudayaan agar tidak punah di masa mendatang,” kata Camat Selo, Sumanto.

Sedekah Gunung Merapi, Cara Merawat Alam Berbalut Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah Gunung Merapi, Cara Merawat Alam Berbalut Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah Gunung Merapi, Cara Merawat Alam Berbalut Tradisi

Pada pelaksanaan acara, sekitar pukul 23.00 WIB, warga mengadakan kirab di Joglo I Lencoh, dengan membawa potongan kepala kerbau yang dibungkus sedemikian rupa beserta uba rampe-nya, untuk dibawa ke puncak Gunung Merapi.

Belajar Muhammadiyah

Acara Kirab juga dimeriahkan dengan pementasan sejumlah kesenian lokal, Acara di antaranya tarian Soreng dan tari Gambyong oleh pemudi-pemudi setempat.

Usai pementasan tari, dibacakan tentang apa makna dari upacara Sedekah Gunung Merapi. Konon, upacara ini dahulu dilakukan oleh Paku Buwono VI bersama Pangeran Diponegoro yang sering mendaki Puncak Merapi.

Belajar Muhammadiyah

Dalam acara yang juga disebut sebagai labuhan itu, juga dihadiri ratusan warga yang datang dari berbagai daerah, di antaranya Boyolali, Solo, Salatiga, dan bahkan Semarang.

Salah satu pengunjung, Mulyono, mengungkapkan selain karena ingin ngalap berkah, ia juga ingin menikmati liburan di lereng Merapi.

“Selain ngalap berkah memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa, juga sekalian berwisata, mumpung liburan,” terangnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 26 Agustus 2017

Jelang Konfercab, Lakpesdam Jepara Gelar Serangkaian Halaqah

Jepara, Belajar Muhammadiyah. Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Jepara pada akhir tahun mendatang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU setempat bekerja sama dengan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menggelar halaqah.

Jelang Konfercab, Lakpesdam Jepara Gelar Serangkaian Halaqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, Lakpesdam Jepara Gelar Serangkaian Halaqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, Lakpesdam Jepara Gelar Serangkaian Halaqah

Halaqah perdana dilaksanakan Ahad (6/9) di kampus Unisnu Jepara dengan mengangkat tema “Kaleideskop dan Rekonstruksi Harakah NU Jepara”. Halaqah berikutnya “Relevansi NU di Tengah Arus Globalisasi Liberalisasi Ekonomi Politik” Ahad (20/9), NU dan Politik Kebijakan Publik, Ahad (27/9) dan Organizing Sumber Daya dan Kepemimpinan NU, Ahad (6/10).

Dalam pembukaan Halaqah, Ahad kemarin, ketua Lakpesdam NU Jepara Mayadina Rohma Musfiroh menyatakan, kegiatan ini dalam rangka menunjang proses suksesi dan rekonstruksi di NU. Untuk menyukseskan Konfercab NU, menurut dia, NU harus berpijak kepada masa lalu agar ke depan menjadi lebih baik.

Belajar Muhammadiyah

Di samping itu, lanjut Maya, kegiatan untuk menguatkan NU baik di kancah politik lokal maupun dunia. Ia menambahkan, Konfercab, imbuhnya, bukan sekadar ganti kepemimpinan. Lebih dari itu, dari pergantingan kepemimpinan NU lima tahunan ini harus tercipta ukhuwah nahdliyah serta ukhuwah wathaniyah.

Pihaknya juga berencana hasil dari halaqah ini akan dibukukan. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 11 Agustus 2017

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Muslimat NU diawali silaturahim bertajuk “Ta’aruf dengan Gubernur Daerah Khsusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Joko Widodo” di Aula Serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada  Selasa malam (27/5).

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi

Gubernur yang akrab disapa dengan Jokowi tersebut hadir di tengah-tengah ibu-ibu Muslimat sekitar pukul 19.30. Pada sambutannya, setelah membaca salam, ia memulai pembukaan dengan bahasa Arab.

“Alhamdulillahi robbil ‘alamin washolati wassalamu ‘ala asyrofil anbiya’i wal mursalin sayyidina wahibibina wa syafi’ina Muhammadin wa ‘ala alihi awsohbihi ajma’in,” ucapnya dengan lancar. Ia berdiam dulu sebentar karena bacaan itu langsung dihadiahi tepuk tangan ibu-ibu.   

Belajar Muhammadiyah

Kemudian Jokowi bercerita perihal diundangnya ke acara tersebut. Ia mengutip undangan lisan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. “Pokoknya Pak Jokowi hadir saja untuk foto-foto bersama ibu-ibu Muslimat,” katanya disambut tepuk tangan ibu-ibu.

Ia kemudian mengkonfirmasi tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya di sosial media dan berita di media massa. Mulai dari isu penghapusan tunjangan guru. Menurut dia, Itu tuduhan tidak benar, “Lho...lho...lho..., kalau mau dinaikan itu benar,” katanya disambut tepuk tangan ibu-ibu.  “Saya tahu kebanyakan profesi Muslimat NU itu sebagai guru,” sambungnya.”  

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, pendidikan itu di negara mana pun sangat penting dan harus dinomorsatukan. Ia menyebutkan, kurikulum pendidikan Indonesia harus dierivisi. “Kalau di SD, menurut saya, 80 persen mengenai pendidikan budi pekerti, masalah sopan santun, karakter, 20 persen baru yang namanya pengetahuan. Bukan dibalik,” katanya.

Kemudian di SMP dengan porsi 60-40. Menurut dia prosinya tetap pendidikan budi pekerti harus yang lebih banyak, “Baru setingkat SMA dan SMK, 20-80,” katanya.

Selanjutnya ia membantah tuduhan nama depannya Habertus. Juga pernah berhaji pada tahun 2003. Sementara kalau umroh, kata dia, tidak terhitung. Di akhir, sambutan Jokowi mengucapkan selamat datang di Jakarta. Ia mohon maaf ibu kota masih macet. Untuk mengatasinya sedang dirintis kereta api bawah tanah, "Tapi itu 5 tahun yang akan datang," katanya.

Jokowi hadir di acara tersebut sampai acara usai. Ia kemudian berfoto dengan hampir seluruh ibu-ibu di ruangan tersebut secara berkelompok dan bergantian.   

Hadir pada kegiatan bertema “Muslimat NU Berkhidmah untuk Indonesia Bermartabat” tersebut, Ketua PBNU H. Slamet Effendi Yusuf, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan segenap pengurus, Alwi Shihab, Hj Aisah Hamid Baidlwi, Dorce Gamalama, Yenny Wahid. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Rabu, 21 Juni 2017

NU dan Terorisme Berkedok Islam

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam sebuah konfrensi internasional, penulis diminta memaparkan pandangannya mengenai terorisme yang tengah terjadi, seperti peledakan bom di Bali dan perbuatan-perbuatan lain yang serupa. Penulis jadi teringat pada penggunaan nama Islam dalam kerusuhan-kerusuhan di Ambon dan Poso, serta peristiwa terbunuhnya para ulama dalam jumlah besar dalam kasus “santet di Banyuwangi”. Tentu saja penulis menjadi terpengarah oleh banyaknya tindakan-tindakan yang dilakukan atas nama Islam di atas.

NU dan Terorisme Berkedok Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Terorisme Berkedok Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Terorisme Berkedok Islam

Tentu saja kita tidak dapat menerima hal itu, seperti halnya kita tolak tindak kekerasan di Irlandia Utara sebagai pertentangan agama protestan melawan Katolikisme. Begitu juga perusakan masjid Babri sebagai pertentangan orang-orang beragama Hindu melawan kaum muslimin di negeri India, walaupun yang bermusuhan memang jelas orang-orang beragama Islam di berbagai negeri tidak terlibat dalam pertikaian dengan tindakan kekerasan  seperti di negeri-negeri tersebut.

Dalam jenis-jeinis tindakan teroristik itu, para pemuda muslim jelas-jelas terlibat dalam terorisme  yang dipersiapkan . mereka mendapatkan bantuan keuangan dan latihan-latihan guna melakukan tindakan-tindakan tersebut. Belasan bulan persiapan teknis dan finansial dilakukan, sehingga tidak dapat ia disebut sebagai sesuatu yang bersifat spontanitas  belaka. Jika tidak terjadi secara spontan, sudah pasti hal itu merupakan tindakan terror yang memerlukan waktu lama untuk direncanakan dan dilaksanakan. Para pelaksana kegiatan teror itu menganggap diri mereka bertindak atas nama Islam. Dengan demikian, menjadi jelaslah arti hukum Islam bagi kehidupan mereka, yang terkadang hanya dianggap sebagai kegiatan ilmiah guna membahas kecilnya deskripsi yang dilakukan.

Belajar Muhammadiyah

Suatu hal yang harus selaludiperhatikan, yaitu gerakan Islam apapun dan di manapun senantiasa terkait dengan pilihan berikut: gerakan mereka sebagai kultur atau sebagai lembaga  atau institusi. Yang mementingkan kultur, tidak begitu memperhatikan lembaga yang mereka dukung. Ambil contoh NU (Nahdlatul Ulama) dengan para anggota  atau pengikutnya. Perhatikan dengan seksama  “budaya NU” seperti tahlil, halal bi halal, dan mengikuti rukyah (melihat bulan) untuk menetapkan permulaan hari raya. Mereka tidak peduli dengan keadaan lembaga-organisasi yang mereka dukung, dipimpin oleh orang yang tepatkah atau tidak.

Karena itulah, ketika para aktivis muda Islam yang belakangan dikenal sebagai  “muslim radikal”, dan kemudian lagi dikenal sebagai para teroris yang memulai konflik di Ambon dan Poso, dan sebagian lagi meledakkan bom di Bali, mereka pun menghadapi pilihan yang sama, mementingkan budaya atau lembaga (institusi). Sebagian dari mereka melupakan  “warisan Islam” berupa proses penafsiran kembali “reinterpretasi”-yang sudah dipakai kaum muslmin ratusan tahun lamanya, guna memasukan perkembangan zaman ke dalam ajaran agama mereka. Sebagai akibat, mereka mengembangkan “cara hidup Islam” serba keras dan memusuhi cara-cara hidup lain, dan dengan demikian membuat Islam berbeda dari yang lain. Ini tampak ketika penulis suatu ketika memberikan ceramah kepada para calon dokter di si sebuah fakultas kedokteran. Para calon dokter lelaki dipisah tempat duduk mereka dari para calon dokter perempuan, dan pemisahan mereka itu ‘dijaga” oleh seorang bertubuh kekar yang lalu lalang di tengahnya. pertemuan NU pun tidak sampai sedemi

kian keadaannya, karena di tengah-tengah tidak ada ‘penjaga” yang bertubuh kekar dan bersifat galak  terhadap pelanggaran halangan yang mereka lakukan.

Belajar Muhammadiyah

Sikap mementingkan lembaga (institusi) inilah, setidak-tidaknya lebih mementingkan institusi dari kultur- seperti diperlihatkan contoh di atas, menurut pendapat penulis adalah sumber dari terorisme yang berkedok Islam, jika Institusi atau lembaga ke –Islaman ditentang oleh sebuah cara hidup, seperti halnya sekarang cara hidup orang Islam ditantang oleh cara hidup “barat”, maka mereka pun merasa terancam dan bersikap ketakutan. Perasaan dan sikap itu ditutupi oleh tindakan garang kepada “sang penentang”, dan menganggap “budaya sendiri” sebagai lebih dari segala-galanya dari “sang penantang”.

Karena tidak dapat membuktikannya  secara pasti dan masuk akal, maka lalu diambil sikap keras, yang kemudian berujung pada terorisme, seperti meledakkan bom (di Bali) dan menculik para turis (seperti dilakukan kelompok Abu Sayyaf di Filipina  Selatan). Mereka lalu menggunakan kekerasan, sesuatu yang tidak diminta atau diperintahkan oleh Islam. Agama mereka menentukan hanya kalau diusir dari rumah-rumah mereka, baru diperkenankan melakukan tindaka kekerasan untuk membela diri (idza ukhriju min diyarihim).

Karena pendekatan institusional yang mereka pergunakan, maka mereka merasa “dikalahkan” oleh peradaban-budaya lain, yaitu “kebudayaan Barat modern”. Dilupakan umpamanya saja, bagaimana Saladin sebagai Sultan Mamalik “mengalahkan” Richard Berhati Singa (The Lion Heart) dengan mengirimkan dokter pribadinya untuk menyembuhkan anak raja Inggris  itu dalam perang salib. Dokter tersebut disertai anak Saladin yang dapat saja dibunuh, kalau dokter pribadi itu tidak dapat menyembuhkan anak Richard. Raja Inggris tersebut dengan demikian  mengetahui betapa luhur budi Saladin. Dari upaya itu akhirnya ia pulang ke negaranya dan menghentikan Perang Salib.

Demikian pula hubungan antara budaya Islam dan budaya-budaya lain, harus dikembangkan dalam pola menghargai mereka, dengan demikian akan tampak keluhuran Islam yang dipeluk saat ini paling tidak oleh 1/6 jumlah umat manusia. Karena itu, sejak dahulu penulis menolak penggunaan teroris untuk ‘mempertahankan Islam’. Tindakan seperti itu justru merendahkan Islam di mata budaya-budaya lain, termasuk budaya modern  di Barat yang telah membawakan keunggulan organisasi, pengetahuan, dan teknologi. Islam hanya dapat “mengejar ketertinggalan’ itu, jika ia menggunakan rasionalitas  dan sikap ilmiyah. Memang, rasionalitas Islam sangat jauh berbeda dari rasionalitas  lain, karena kuatnya unsur identitas  Islam itu. Rasionalitas Islam yang harus dibuktikan dalam kehidupan bersama tersebut, berintikan penggunaan unsur-unsur manusiawi, dengan segala pertimbangannya ditunjukkan kepada ‘sumber-sumber tertulis’ (adillah naqliyyah) dari Allah, seperti ungkapan-ungkapan Tuhan dalam al-Qur’an dan ucapan Nabi (al-Hadits). Karena itu, pengenalan tersebut tidak memerlukan tindak kekerasan  apa pun, yang hanya akan membuktikan  “kelemahan” Islam saja.karena itulah, kita harus memiliki sikap jelas mengutuk terorisme, siapa pun yang melakukannya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh mereka yang tidak mengerti perkembangan Islam yang sebenarnya.

Padahal kaum muslimin sejak dahulu terbagi dua, yaitu yang menjadi warga berbagai gerakan Islam (al-munadzamah al-Islamiyyah) dan orang-orang Islam  kebanyakan (‘awam atau laymen). Kalau mayoritas warga berbagai  gerakan Islam saja tidak menyetujui penggunaan kekerasan (terorisme), apalagi kaum muslimin awam. Inilah yang sering dilupakan para teroris  itu dan harus diingat  oleh mereka yang ingin melakukan tindak kekerasan, apalagi terorisme, di kalangan para aktivis muslimin. Kalau hal ini tidak diingat , maka tentu saja mereka akan lambat laun berhadapan dengan “kaum awam” tersebut. Para terorisme  peledak bom di Bali  pada akhirnya berhadapan dengan Undang-Undang Anti terorisme, yang merupakan produk mayoritas kaum muslimin awam di negeri ini. Dari semula, NU bersikap tidak menyetujui tindak terorisme.

Dalam Muktamar tahun 1935 di Banjarmasin, ada pertanyaan  dalam “bathsul masail”; wajibkah kaum muslimin di kawasan Hindia Belanda mempertahankan kawasan itu, sedangkan mereka diperintah oleh kaum non-muslimin (para kolonialis Belanda)? Jawab Muktamar; wajib, karena kawasan itu  dahulunya memiliki kerajaan-kerajaan Islam, dan kini kaum muslimin dapat menerapkan ajaran-ajaran agama tersebut dengan bebas. Dictum pertama (mengenai kerajaan-kerajaan Islam di kawasan ini) diambil dari sebuah teks kuno, Bughyah al-Mustarsyidin, sedangkan dictum kedua hasil pemikiran (reinterpretasi) para ulama Indonesia sendiri, tetapi sebenarnya diungkapkan sarjana muslim kenamaan Ibn Taimiyyah, yang di negeri ini kemudian dikenal karena menjadi subjek disertasi doctor Nurcholis Madjid.

Keputusan Muktamar NU sepuluh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan itu, meratakan jalan bagi pencabutan Piagam Jakarta dari Pembukaan UUD 1945 oleh para wakil organisasi-organisai Islam di negeri kita, seperti Muhammadiyah dan NU kalau pemimpin dari gerakan-gerakan Islam tidak mewajibkan, berarti negara yang didirikan itu tidaklah harus menjadi negara Islam. Kalau demikian, Islam tidak didekati secara kelembagaan dan institusional, melainkan dari sudut budaya. Selama “budaya” Islam masih ada di negeri ini, maka Islam tidak mengalami kekalahan dan tidak harus  “dipertahankan” dengan tindak kekerasan, seperti terorisme.

Islam memiliki cara hidupnya sendiri, yang tidak perlu dipertahankan dengan kekerasan, karena cukup dikembangkan dalam bentuk budaya. Dan inilah yang terjadi, seperti adanya MTQ, penerbitan-penerbitan Islam yang berjumlah sangat banyak, dan berbagai manifestasi ke-Islaman lain. Bahkan sekarang, wajah “kesenian Islam” sudah menonjol demikian rupa sehingga layar televise  pun menampung sekian banyak dari berbagai wajah seni Islam  yang kita miliki. Karena itu, Islam tidak perlu dipertahankan dari ancaman siapa pun karena ia memiliki dinamika tersendiri. Sebagai response atas “tekanan-tekanan” modernisasi, terutama dari “proses pem-Barata-an” yang terjadi, kaum muslimin di negeri inidapat mengambil atau menolak pilihan-pilihan mereka sendiri dari proses tersebut, mana yang mereka anut dan mana yang mereka buang. Karena itu, hasilnya juga akan berbeda-beda dari satu orang ke orang lain dan dari satu kelompok ke kelompok lain. Penerimaan beragam  atas proses itu akan membuat variasi sangat tinggi dari response tersebut, yang sesuai dengan firman Allah; “dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa untuk dapat saling mengenal (wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu)” (QS al-Hujurat [49]:13). Ayat itu jelas memerintahkan  adanya kebhinnekaan dan melarang eksklusivisme dari kalngan kaum muslimin manapun.

Sebenarnya diantara “kalangan terorisme” itu, terdapat juga mereka yang melakukan tindak kekerasan atas perintah-pesenan dari meraka yang tadinya memegang kekuasaan. Karena mereka masih ingin berkuasa, mereka menggunakan orang-orang itu atas nama Islam, untuk menghalangi proses-proses munculnya rakyat ke jenjang kekuasaan. Dengan demikian, kalangan-kalangan itu memiliki tujuan menghadang proses demokratisasi dan untuk itu sebuah kelompok kaum muslimin digunakan untuk membela kepentingan orang-orang tersebut atas nama Islam . sungguh sayang jika maksud itu berhasil dilakukan. Rasa-rasanya, NU berkewajiban menggagalkan rencana tersebut, dan karenanyabersikap konsisten untuk menolak tindak kekerasan dalam memperjuangkan “kepentingan Islam”.

Islam tiak perlu dibela sebagaimana juga halnya Allah. Kedua-duanya dapat mempertahankan diri terhadap gangguan siapa pun. Inilah yang dimaksudkan firman Allah; “Hari ini Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Ku-sempurnakan bagi kalian (pemberian) nikmat-Ku, dan Ku-relakan bagi kalian Islam sebagai agama (al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radlitu lakum al-Islama dinan)’ (QS al_Maidah [5]:3) menunjuk dengan tepat mengapa Islam tidak perlu dipertahankan dengan tindakan apa pun, kecuali dengan melaksanakan cara hidup Islam itu sendiri. Sangat indah untuk diucapkan, namun sulit dilaksanakan, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Duta Masyarakat, 12 April 2003

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock