Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung, Basuki Suhardiman menilai, ide Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama merupakan peluang untuk menunjukkan jati diri bangsa.

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Sebab selama ini menurutnya, memang ada jenis keislaman yang secara unik dalam sejarah Islam di Indonesia. Dan jenis ini menurut Basuki bukan hal baru. Adapun guliran slogan Islam Nusantara itu dinilai bagian dari marketing, atau pemasaran gagasan pemikiran.

"Sebagai orang teknik yang sering menggali khazanah sejarah teknologi, Islam Nusantara itu cukup bagus untuk membangkitkan gairah generasi mengenal sejarah masa lalu. Sejarah Wali Songo misalnya bukan semata urusan dakwah dalam ruang lingkup seni dan akhlak saja, melainkan juga kaya akan legacy (warisan) ekonomi, teknologi, dan mesin tempur, "ujarnya kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (29/8).

Belajar Muhammadiyah

Peneliti Comlabs ITB yang sering aktif terlibat diskusi di PWNU Jawa Barat itu menilai, bahwa kajian Islam Nusantara harus menukik pada histori teknologi karena sekarang bangsa kita sudah tertidur lama dalam urusan teknologi.

Belajar Muhammadiyah

"Ada rekam jejak dari sejarah jika sebuah bangsa tidak melakukan inovasi, tidak melakukan reengineering pasti akan mengalami keruntuhan karena kalah dalam kompetisi. Khilaffah Ottoman mundur akibat beku dalam sains dan teknologi. Majapahit bahkan runtuh karena tidak melakukan pembaharuan. Dan kejayaan Demak dengan Wali Songo-nya maju karena inovatif," paparnya.

Basuki melanjutkan, Wali Songo kreatif dalam urusan dakwah. Misalnya mengubah wayang golek menjadi wayang kulit sebagai siasat atau kompromi supaya kesenian bisa laras dengan doktrin fiqih. Kemudian Raden Rahmat Ngampel juga kreatif dalam membuat skema pertanian sehingga hasil panen di kawasan Jawa Timur lebih baik, di Cirebon Sunan Gunung Jati juga banyak melakukan terobosan seperti memasok sarana perdagangan dari pedalaman dibawa ke pelabuhan.

"Kita kaya akan sejarah.Cuma memang bangsa kita ini termasuk kategori kelas rendah dalam urusan baca, menempati level paling bawah setara dengan negara Zambia. Akibatnya kita menjadi semacam bangsa yang zero naratif nation," kritiknya.

Menurut Basuki, sebuah bangsa bisa maju ukuran umumnya bisa dilihat dari punya tradisi membaca, bagus dalam urusan matematika, dan cakap menguasai ilmu alam.

"Kalau membaca saja tidak pernah, bagaimana bisa maju urusan matematika dan ilmu alam?" Orang-orang NU punya tradisi membawa, karena itu gerakan membaca perlu digulirkan oleh PBNU, apalagi Ketua Umum PBNU-nya juga pinter sejarah," jelasnya.

Karena itu menurut pria asal Sidoarjo ini, gema Islam Nusantara yang paling mendasar adalah mengambil gerakan literasi, terutama sejarah, berlanjut pada pengembangan kesusastraan, lalu riset pada sains.

? "Ini kesempatan baik di mana ada ide besar yang dikembangkan oleh organisasi besar. Dulu kiai-kiai tradisional pun tergolong kreatif dalam menjawab persoalan masyarakat. Sekarang harus dilakukan," pesannya. (Yus Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Belajar Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

Belajar Muhammadiyah

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Belajar Muhammadiyah

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Syahrozad Nalfa Nadia (9) dan Avicenna Roghid Putra Sidik (6), dua siswa madrasah ini berhasil mencatatkan namanya dengan tinta emas pada ajang Asian Yout Robotic Olympiad (AYRO) 2016 yang digelar di Singapura. Di usianya yang belum sampai sepuluh tahun, kedua siswa Madrasah Pembangunan ini sudah mengukir prestasi bahkan pada ajang kompetisi yang diikuti oleh para siswa dari berbagai negara di ASEAN

Kompetisi robotik ini berlangsung dari tanggal 13-14 Maret 2016 kemarin. “Syahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik meraih Gold Prize medal brick Speed, Gold Prize Medal, Silver Prize Medals Maze Solving Junior, dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior,” terang ibunda mereka berdua, Himatul Laily Waisnaini, Selasa (15/03) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Laily mengaku kaget sekaligus bangga dengan prestasi yang diraih kedua anaknya. Menurut Laily, kebanggaannya semakin terasa karena dia merasa bahwa pilihan ? untuk menitipkan pendidikan ? anaknya di madrasah tidaklah keliru. Selain belajar agama, di madrasah anak-anaknya juga belajar dan dilatih ilmu sains dan teknologi.?

“Saya terharu, saya melihat langsung disana,” tururnya singkat, Selasa (15/03). Atas prestasi yang diraihnya, lanjut Laily, Ocha bahkan didaulat panitia membacakan puisi ? Dzikir karya D. Zawawi Imron pada acara penutupan ajang robotic tersebut. “Saat Ocha membaca puisi, suasana menjadi hening,” tukas Laily.

Selain Ocha dan Avicenna, Andi Faiz Naufal Zain yang mewakili Madrasah Pembangunan UIN Jakarta tampil di tim senior juga berhasil meraih Gold Prize Medal Robot Kreatif dan BPM Animal Robotic. ? Tim MTs Negeri Pamulang juga berhasil mengukir prestasi pada ajang lombat robot ini. ? Ibrahim dan Ridho berhasil meraih Gold Prize Medal Soccer Senior, sedangkan ? Nisa dan Nadya meraih Special Award Robot Kreatif dan Animasi. ? Siswa lainnya bernama Raka mendapat GPM Soccer Senior.

Belajar Muhammadiyah

Dari total 10 cabang yang dilombakan, siswa madrasah berhasil memborong 9 piala. Merekapun kembali ke Indonesia dengan status sebagai juara umum ? ajang kompetisi robot Internasional ? di Singapura. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, RMI NU, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan terus berinovasi dalam menguatkan spirit dakwah. Selain menghidupkan kajian sosial-keagamaan hingga ke tingkat ranting, organisasi yang diketuai KH Taufik Hasyim tersebut melakukan terobosan dalam berdakwah.

Terobosan tersebut berupa realisasi program Molang Kètab dengan menggandeng stasiun televisi setempat, Hikmah TV. Itu sudah berlangsung berbulan-bulan.

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV

Teknisnya, Kiai Taufik beserta pengurus PCNU lainnya yang berbakat sebagai penceramah tampil secara terjadwal tiap Jumat di Hikmah TV. Mereka memberikan siraman rohani dengan berpijak pada kitab kuning, meliputi tafsir, fikih, tauhid, dan sejenisnya.

Belajar Muhammadiyah

"Programnya bernama Molang Kètab. Itu bahasa Madura yang artinya pengajian kitab," kata Kiai Taufik.

Jumat (17/11) siang, berlangsung proses recording program Molang Ketab atas kerja sama antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan dan Hikmah TV. Kegiatan tersebut diikuti oleh Mahasiswa Prodi Syariah Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan di ruang kuliah D3 Farmasi Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan.

"Ini program yang sangat bagus. Mahasiswa sangat antusias. Itu karena memanfaatkan media elektronik berupa televisi sehingga ada kesan yang sangat menawan," terang K Farid, salah satu penanggung jawab program Molang Kètab sekaligus Dosen UIM Pamekasan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) menyayangkan tidak disediakannya waktu khusus kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk memberikan sambutan di acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pada Senin 16 Juli 2012 malam.

Ketiadaan sambutan dari Ketua Umum PBNU ini tentu saja tidak sesuai dengan tradisi yang berlaku di lingkungan NU. Karena, bagaimana pun juga, Ketua Umum PBNU sudah semestinya memberikan sambutan dalam acara yang digelar badan otonom NU, seperti GP Ansor. 

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana

Ironisnya, ketiadaan waktu khusus bagi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk memberikan sambutan lantaran kehendak dari pihak luar, yaitu protokoler Istana. “Acara tadi malam lancar, bagus, dan hebat. Cuma kurangnya tidak ada sambutan Ketua Umum PBNU dan itu menyalahi tradisi NU,” ujar Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf di Jakarta, Selasa (17/7/202). 

Belajar Muhammadiyah

Acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, tadi malam, memang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, hadir pula para pengurus PBNU, PWNU, PAC, serta puluhan ribu Banser. Namun, ada yang janggal di tengah-tengah gegap gempitanya acara, yaitu ketiadaan sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Setelah mengetahui tidak ada waktu khusus untuk Ketua Umum PBNU, Slamet mencoba mencari konfirmasi ke pengurus PBNU, panitia acara, serta pengurus GP Ansor. Hasilnya, KH Said Aqil Siroj dinyatakan tidak bisa memberikan sambutan karena kehendak dari pihak protokoler Istana.

“Saya sudah mengecek ke teman-teman, ya memang mereka menyatakan semestinya harus ada, tapi ini kehendak dari protokol Istana. Ketua umum hadir di acara Banom NU yang bersifat nasional dan beliau hadir di situ, kenapa tidak diberi kesempatan untuk memberikan sambutan,” tanyanya.

Dengan adanya kejadian ini, Slamet berharap ke depan pihak protokoler Istana bisa lebih arif dengan menghormati tradisi NU serta standar operating prosedures (SOP) di suatu organisasi. Jangan sampai kehadiran Presiden justru mengurangi kearifan lokal serta tradisi yang ada.

“Harapan saya ke depan, sambutan atau amanat presiden jangan mengurangi standar yang biasa dilakukan di lingkungan NU. Presiden hadir di acara Banom NU atau di lingkungan NU adalah bagian dari keberadaan beliau di tengah-tengah rakyat, tapi jangan sampai keberadaan presiden kemudian mengurangi SOP dan tradisi di lingkungan NU, di mana Ketua Umum PBNU pasti memberikan sambutan,” tegasnya.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Temanggung, Belajar Muhammadiyah 

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Temanggung Ahmad Liwaul Khakim mengatakan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks, mengharuskan semua kader PMII melek literasi digital.

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Hal itu ia ungkapkan saat MAPABA PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung, kemarin. Menurutnya, sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya siap memasuki segala medan, maka MAPABA menemui relevansi yang kuat dalam konteks ini.

"Tantangan kita sekarang tidak hanya paham dan aliran radikal yang digerakkan dalam bentuk nyata. Namun semua itu sudah bergeser di internet. Banyak grup, akun dan juga media-media daring mengatasnamakan NU, banom NU dan juga Lembaga di bawah NU. Maka kalau tidak melek media, kita akan tergerus pada penjajah di negeri yang mengklaim dirinya golongan Ahlussunnah wal-Jama’ah," tegas dia pada kegiatan yang berlangsung, Rabu (4/10).

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap, kader PMII di wilayah Temanggung melek media dengan cara penguatan literasi. Bisa melalui training, diklat, atau belajar otodidak dan bersinergi dengan LTN NU yang fokus di masalah media.

Sementara itu, Ketua Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung M Fuad Latif menegaskan bahwa dalam pencapaian target ini Pengurus Komisariat PMII Trisula sudah menyiapkan beberapa agenda kerja yang tentunya mengarah pada beberapa aspek pengkaderan. 

Pendidikan jurnalistik menjadi salah satu agenda terdekat. Semua mafhum jika penguasaan media merupakan bagian strategis dalam menyebarkan virus perubahan.

"Kami ingin menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan dalam forum pra-MAPABA dan juga masukan dari beberapa mahasiswa baru yang sudah mulai melek terhadap pentingnya penguasaan media, baik media internet maupun media cetak," beber dia.

Selain itu budaya penguatan wacana juga menjadi keharusan untuk segera dilakukan. Forum-forum diskusi kecil perlu di tingkatkan intensitasnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu masih menjadi kebutuhan pokok dalam menghidupkan nuansa akademis di kampus. 

Belajar Muhammadiyah

"Tak ada kamus dalam diri mahasiswa STAINU Temanggung untuk menyatakan tidak dalam kerja-kerja komunal yang membutuhkan interaksi sosial antar manusia. Mahasiswa harus siap menyambut tongkat estafet pembangunan yang sewaktu-waktu diberikan generasi tua", lanjut mahasiswa Prodi PAI Semester VII ini. 

Selanjutnya, dia berharap bahwa agenda besar ini mendapat sambutan yang berarti dari semua unsur yang terkait dengan baik. Apalagi jika melihat saat ini STAINU Temanggung mempunyai dosen-dosen baru yang masih energik dan mempunyai idealisme yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi di Kabupaten Temanggung. (Ibda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, AlaSantri, Kyai Belajar Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba di sebuah wilayah membuat para relawan dan lembaga yang bergerak di bidang bencana harus mampu mengantisipasinya dengan baik, terutama dalam hal pertolongan pertama dan kebutuhan logistik para korban. Manajemen logistik yang bersifat insidentil kerap kali membuat penanganan bencana tidak berjalan dengan baik.

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Hal ini disampaikan Direktur HELP Logistics Regional Asia, Temmy Tanubrata, Kamis (11/8) saat ikut mendampingi 25 peserta Pelatihan Manajemen Logitik Kemanusiaan (Humanitarian Logistics Management) berkunjung ke gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta.?

Kegiatan ini dihelat Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) dengan menggandeng HELP Logistics, lembaga yang berada di bawah naungan Kuehne Foundation dan Lembaga Kajian Logistik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-Jumat (10-12/8) di Gedung PBNU ini membahas secara detail mengenai manajemen logistik secara praktik mulai dari pengadaan, pergudangan hingga penyaluran barang.

Menurut Temmy, salah satu kelemahan penanganan bencana di Indonesia pada umumnya kalau tidak soal keterlambatan pengiriman barang-barang bantuan, kelangkaan barang kebutuhan juga soal ketidaksesuaian antara barang yang dikirim dengan kebutuhan korban bencana saat itu. Sebab itu menurutnya, manajemen logistik harus diperkuat oleh jaringan-jaringan lokal di mana terjadi lokasi bencana.

Belajar Muhammadiyah

“Logistik bukan hanya persoalan distribusi barang kebutuhan, tetapi juga bagaimana seorang relawan atau lembaga bencana menyiapkan, menyimpan, merawat, hingga mengirimkan barang-barang tersebut. Agar penanganan bencana bisa berjalan dengan baik, harus memberdayakan jaringan lokal untuk kebutuhan menyimpan dan menyuplai barang,” papar pria lulusan Cranfield University UK ini.

Dalam pandangannya, LPBINU yang mempunyai pengurus hingga ke tingkat daerah bisa mulai menerapkan sistem manajemen tersebut. HELP Logistics yang dipimpinnya telah malang melintang memberikan bantuan, baik itu berupa pelatihan secara langsung kepada lembaga-lembaga dan para relawan maupun bantuan menyiapkan hingga mendistribusikan barang-barang kebutuhan bencana.?

“Hasil dari pelatihan ini, saya harapkan nantinya para peserta bisa memberikan pengalaman dan ilmunya kepada yang lain sehingga problem logistik bencana tidak terjadi di sana-sini ketika terjadi kasus,” ujar pria yang sudah 14 tahun menjadi aktivis penangulangan bencana di Indonesia, Timor Leste, Afghanistan, Pakistan, Rwanda, Afrika bagian selatan dan timur serta Italia ini.

HELP Logistics merupakan lembaga kemanusiaan yang bergerak dibidang logistik di bawah naungan Kuehne Foundation yang berbasis di Swiss, untuk HELP Logistics sendiri di Singapura. Selain bergerak di bidang logistik kemanusiaan, Kuehne Foundation juga bergerak di bidang pendidikan, dan sosial-budaya.?

Belajar Muhammadiyah

HELP Logistics juga salah satu program unggulan dari Kuehne Foundation yang berfokus kepada peningkatan kemampuan logistik dan rantai pasok berbagai lembaga kemanusiaan di seluruh dunia. Ikut memberikan input dalam kegiatan ini yaitu Prof. Senator Nur Bahagia selaku pimpinan dari Pusat Kajian Logistik dan Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung.?

Pelatihan di Jakarta ini diikuti oleh lebih dari 25 peserta, terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Cabang dan relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) di Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan serupa akan dilaksanakan di Semarang untuk peserta dari Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjelang akhir tahun ini. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi.?

Jawa Barat menempati peringkat pertama wilayah rawan bencana di Indonesia, yang selanjutnya diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Potensi bencana yang terdapat di wilayah-wilayah tersebut meliputi bencana geologi, vulkanologi, klimatologi, dan lingkungan. Selain itu, terdapat 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang juga berpotensi menimbulkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock