Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. GP Ansor Banyuwangi bersyukur atas penetapan Hari Santri. Ratusan pemuda NU ini mengadakan apel akbar dan kuliah umum di Gedung Wanita, Banyuwangi, Ahad (25/10). Karenanya, halaman gedung yang beralamat di kelurahan Kepatihan, kecamatan Banyuwangi Kota, didominasi warna hijau dan loreng khas Banser. Mereka menyatakan komitmen untuk menjaga semangat kepemudaan.

Ketua GP Ansor Banyuwangi Sukron Makmun Hidayat mengimbau para kader Ansor untuk melandasi setiap gerak langkah dengan niat jihad. Sesuai dengan sejarah perjuangan para ulama dalam mencetuskan Resolusi Jihad.

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

"Kita harus mampu memberi suri teladan kepada seluruh masyarakat, keluarga dan adik-adik kita bahwa setiap langkah dan pergerakan kita selalu berlandaskan jihad, semangat keihklasan," tegas Sukron.

Belajar Muhammadiyah

Sukron juga mengucapkan rasa terima kasih kepada pemerintah Jokowi yang telah memberikan penghargaan terhadap Resolusi Jihad. Atas anugerah ini, ia berharap seluruh masyarakat Indonesia khususnya kader Ansor untuk terus bahu-membahu berjuang mengisi kemerdekaan.

"Langkah yang telah dilakukan kader Ansor dalam memerangi kebodohan, kemiskinan dan lainnya, harus terus dilakukan demi terwujudnya kesejahteraan di Indonesia," imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali mengajak seluruh kader Ansor untuk terus bersemangat dalam keikhlasan setiap pergerakan.

"Ansor itu tidak boleh melempem. Ansor harus terus bersemangat. Seperti para santri dan ulama di masa penjajahan, mereka terus berjuang dengan tulus ikhlas," ucapnya.

Di sela-sela acara yang mengusung tema “Menggerakan Kembali Ruh Perjuangan Ulama-Kiai” ini juga dilakukan pengukuhan pengurus Rijalul Ansor, majelis dzikir dan sholawat di tingkat cabang GP Ansor Banyuwangi. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Pemurnian Aqidah, Warta Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Jombang, Belajar Muhammadiyah?

Basroni, santri pondok pesantren An-Tahdzib Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat akibat jatuh dari truk saat perjalanan pulang usai mengikuti kegiatan apel dan kirab santri bersama rombongannya, Ahad (23/10).?

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Kondisi Basroni saat ini masih dalam penanganan dokter sebab terdapat banyak luka serius di bagian dahi, mulut, lengan juga bagian tubuh lainnya. Ia jatuh di jalan Wahid Hasyim, Kecamatan Diwek.?

Momentum hari santri yang diwarnai musibah itu cukup memantik simpati banyak pihak. Selama di rumah sakit, Basroni dijenguk beberapa pengurus NU. Diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, PC RMI Jombang, PW RMI Jawa Timur, PC GP Ansor, Lazisnu dan LKKNU.

Sejumlah lembaga itu berkoordinasi agar biaya pemeriksaan Basroni dibebaskan melalui surat permintaan resmi PCNU Jombang yang ditujukan kepada Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko juga Direktur RSUD.

Belajar Muhammadiyah

Isi surat itu meminta partisipasi pemerintah daerah agar empati terhadap kondisi santri yang telah menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sesuai keputusan Presiden Republik Indonesia.?

"PCNU Jombang akan menyiapkan surat permintaan kepada Bupati dan Direktur RSUD Jombang supaya dibebaskan dan atau diringankan dari beban biaya perawatan selama di RSUD hingga kepulangannya," kata Samsul Rijal, Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Senin (24/10/2016).

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto menyatakan bahwa surat PCNU sudah dikirim ke Direktur RSUD. "Sudah dikirim suratnya, penerimanya Satpam ruang pak direktur, sesuai petunjuk pertemuan tadi (koordinasi, red). Semoga dimudahkan," jelasnya.?

Sementara itu Habibul Amin, Sekretaris RMI Jombang saat melihat kondisi Basroni mengungkapkan, sudah mulai membaik. "Alhamdulillah mulai membaik, ini kita semua bersama-sama membantu semaksimal mungkin," ucap pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Fathul Umum Gardu Laut, Kecamatan Ngoro. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Pendidikan, Kiai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah

Sebanyak 36 area pohon seluas 36 lapangan sepak bola rusak setiap menitnya di seluruh hutan di dunia. Lalu apa yang harus dilakukan manusia terhadap pohon-pohon yang memberi udara untuk dihirup? Haruskah manusia diam pada deforestasi dan degradasi hutan yang menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara dan berkontribusi hingga 15 persen dari emisi gas rumah kaca global?

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Riky Ryan Saputra selaku koordinator gerakan, di Blambangan Umpu, Ahad (26/6), menerangkan, "Sedekah Oksigen" merupakan gerakan menanam pohon 50 buah di setiap pesantren, targetnya 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

"Perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem. Contoh peristiwa cuaca ekstrem telah memakan ribuan nyawa, dari gelombang panas yang mematikan di India dan Pakistan hingga banjir parah di Malawi, Mozambik, dan Madagaskar. Melindungi hutan dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa," kata Riky.

Belajar Muhammadiyah

Ia melanjutkan, pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat.

"Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca," ujar dia lagi.

Belajar Muhammadiyah

Selain bertujuan untuk mendorong kemandirian pesantren, penanaman pohon melalui gerakan "Sedekah Oksigen" juga diperlukan. Manusia membutuhkan pohon untuk bernafas.

"Pohon juga merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75 persen air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses yang dikenal dengan evapotranspirasi," paparnya.

Dengan demikian, imbuhnya, manusia dan hewan memiliki ketergantungan pada hutan, pada pohon, kehidupan sehari-hari mahkluk hidup harus ditopang dengan keberadaan pohon.

"Untuk menyatakan perlawanan terhadap perubahan iklim, kita harus menjaga hutan, menjaga keberadaan pohon guna memastikan kemungkinan masa depan yang cerah, manusia dan seluruh organisasi harus bersama-sama mengambil tindakan melawan perubahan iklim," paparnya.

"Sedekah Oksigen" diinisiasi Gusdurian Lampung, didukung Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia Wilayah Lampung.

"Sedekah Oksigen" berupa satu pohon buah seperti alpukat mentega, mangga Thailand, nangka dak (persilangan nangka dan cempedak), dan kelengkeng aroma durian senilai Rp50 ribu. Diambil dari pembudidaya teruji di Pekalongan, Kota Metro. Bagi yang berminat "Sedekah Oksigen" bisa menghubungi nomor 081540890056, 085367282712, atau 082279005826. Sedekah bisa disalurkan ke rekening BRI: 035701112732504 a.n Disisi Saidi Fatah. (Anisa Yuliani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Surabaya, Belajar Muhammadiyah - Era keterbukaan yang dinikmati bangsa ini ternyata menyisakan sejumlah permasalahan. Derasnya akses informasi yang diterima masyarakat dengan sangat mudah, pada gilirannya mengancam bangunan kebangsaan kita.

"Masyarakat saat ini disuguhkan dengan tayangan televisi berbasis satelit serta relay radio Salafi Wahabi yang muatannya cukup memprihatinkan," kata Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur Ahmad Najib AR usai rapat pleno, Sabtu (11/3) petang.

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Ia menyebut beberapa media Wahabi yang jumlahnya puluhan dan rata-rata mengudara melalui televisi satelit, termasuk juga radio dakwah yang tersebar di berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Najib, masyarakat saat ini tengah dihadapkan pada suasana yang serba dilematis. "Dengan alasan demokrasi, maka masyarakat bisa mengakses sejumlah informasi secara terbuka, termasuk keberadaan radio dan televisi satelit," ungkapnya.

Akan tetapi, tidak sedikit acara yang disiarkan ternyata justru mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini kermudian menyebutkan sejumlah ajaran Wahabi yang tidak sesuai dengan NKRI. "Dakwah mereka kerap menebar kebencian kepada kelompok lain, tidak toleran, bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang ramah dan rahmatan lil alamin," ungkapnya.

Banyaknya konflik di akar rumput kerap diawali dengan ujaran kebencian yang disampaikan kalangan yang beraliran Wahabi. "Dari mulai ceramah agama, juga status di media sosial, tidak jarang yang menyebarkan ajaran tendensius yang meresahkan bahkan berpotensi mengakibatkan perpecahan di masyarakat. Belum lagi banyak ajaran kalangan ini yang berlawanan dengan Pancasila," lanjutnya.

Yang memprihatinkan, ajaran Wahabi? itu disampaikan lewat sejumlah televisi satelit maupun radio berjejaring. "Apalagi dari segi regulasi, selama ini belum ada aturan yang memberikan pengawasan terhadap isi siaran dari televisi satelit tersebut," katanya.

Gus Najib berharap agar pemerintah melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap media Wahabi tersebut. "Kalau kepada media yang memiliki izin siar resmi, pemerintah demikian selektif dan ketat, hal serupa juga harus diberikan kepada media beraliran Wahabi yang banyak mengudara di TV satelit tersebut," harapnya.

Karena kalau hal tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin integrasi bangsa akan terancam. "Taruhannya terlalu mahal, yakni eksistensi NKRI," sergahnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Anti Hoax, Warta Belajar Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Belajar Muhammadiyah

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Belajar Muhammadiyah

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Gus Dur Salah Jalan

Saat berada Kudus, Jawa Tengah, budayawan Ahmad Sobari kepada wartawan mengisahkan dirinya pada waktu menemani Gus Dur menghadiri sebuah kegiatan. Sudah menjadi kegemaran Gus Dur, setiap kali  kunjungan ke daerah selalu menyempatkan berziarah ke makam tokoh maupun ulama setempat.

Pada masa Orde Baru, cerita Kang Sobari, Gus Dur sedang berkunjung sebuah daerah. Di tengah perjalanan, tanpa ada yang membisiki  tiba-tiba Gus Dur menyuruh sopir menghentikan mobilnya.

“Mau kemana Gus?” tanya sang sopir.

Ketika Gus Dur Salah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Dur Salah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Dur Salah Jalan

“Di daerah ini terdapat makam ulama besar, saya pingin berziarah ke sana,” jawab Gus Dur sambil  menyuruh sopir berbelok arah menuju makam yang dimaksud. 

Ketika sudah menempuh beberapa jam makam yang dimaksudkan tidak tampak di depan mata.

“Gus, mungkin kita salah jalan, disini tidak  terlihat (ada) makam,” tanya Kang Sobari.

“Coba maju  sebelah sana,” jawab Gus Dur menyuruh sopirnya.

Belajar Muhammadiyah

Mobil pun melaju perlahan menuju arah yang ditunjukkan Gus Dur. Tetapi mereka belum juga menemukan makam yang dimaksud.

“Masih nggak ada (makam) Gus!” kata Kang Sobari.

Belajar Muhammadiyah

Sambil tersenyum, Gus Dur pun berseloroh, “Oh ya sudah. Barangkali jalannya sudah dirubah oleh Orde Baru.”

Kang Sobari dan sopir-pun hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Gus Dur dengan canda. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jepara menggelar rapat koordinasi di ruang Mapolres Jepara, Jawa Tengah, Ahad (10/9) malam. Rapat membahas soal rumor yang beredar di media sosial terkait kasus pesantren di Karimunjawa, Jepara.

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Rapat koordinasi yang dihadiri sejumah tokoh dan jajaran kepolisian ini membantah berita terjadinya pengusiran santri di sebuah pesantren di sana. Keduanya mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Berikut bunyi surat klarifikasi secara lengkap yang ditandatangani Ketua Pimpnan Daerah Muhammadiyah (PDM) KH Sadali dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Ubaidillah Noor.

Menyikapi perkembangan pemberitaan (issue) di media sosial terkait dauroh tahfidh al-Qur’an di Dukuh Alang-alang RT 02 RW 04, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sehubungan dengan isu penolakan dan pengusiran santri Ittihadul Ma’had Muhammadiyah (ITMAM) yang hendak melakukan dauroh tahfidh al-Qur’an Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, maka dengan ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jepara menyatakan klarifikasi sebagai berikut:

1. Pemberitaan bahwa telah terjadi penolakan dan pengusiran santri adalah tidak benar.

Belajar Muhammadiyah

2. PCNU Jepara dan PDM Jepara sepakat menyikapi masalah tersebut dengan mengedepankan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, ukhuwwah basyariyah serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Menyekapakati agar gedung yang diwakafkan kepada PP Muhammadiyah tersebut dihentikan (dimauqufkan) penggunaannya untuk beberapa waktu sampai segala sesuatunya terpenuhi.

Belajar Muhammadiyah

4. Mengintensifkan komunikasi semua pihak dan mewaspadai paham radikalisme serta pihak lain yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.





Surat klarifikasi tersebut ditandatangani pula oleh sejumlah saksi, antara lain AKBP Yudianto Adhi Nugroho (Kapolres Jepara), H Mashudi (Ketua MUI Kabupaten Jepara), Rustamaji (atas nama Kepala Bakesbangpol), H Badrudin (PKUB Jateng untuk Jepara), Arif Darmawan (atan nama Kepala Dinas Kominfo). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Warta, PonPes Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Takabur dan Azab Pedihnya

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Takabur dan Azab Pedihnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Takabur dan Azab Pedihnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Takabur dan Azab Pedihnya

? ?

Belajar Muhammadiyah

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Rasulullah SAW lewat beberapa hadistnya mengingatkan kepada kaum Muslimin bahwa takabur atau sombong dapat menghalangi seseorang masuk surga, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud R.A. sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang-orang yang dalam hatinya terdapat rasa takabur atau sombong meskipun hanya sekecil biji sawi.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa kesombongan akan menjadi penghalang bagi kita untuk masuk surga betapapun halusnya kesombongan itu sehingga hanya diri sendiri yang mengetahui. Kesombongan itu ada 2 (dua) macam, yakni kesombongan yang tampak secara lahiriah dan kesombongan tersembunyi di dalam hati. Kesombongan yang tampak secara lahiriah akan mudah dilihat atau dirasakan orang lain. Kesombongan yang tersembunyi dalam hati sering kali hanya diketahui diri sendiri. Bahkan bisa jadi diri sendiri pun tidak menyadarinya.

Pepatah mengatakan, “Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu.” Pepatah ini mengungkapkan betapapun dalamnya laut, kita dapat mengukurnya. Terlebih sekarang dimana teknologi sudah sedemikian maju, seperti tersedianya alat yang disebut Echosounder, dalamnya laut dapat diketahui dengan mudah dan cepat. Tetapi pertanyaannya, siapa yang dapat mengetahui isi hati seseorang?

Memang tidak mudah mengetahui isi hati seseorang, misalnya apakah seseorang bermaksud sombong atau tidak. Tetapi sebenarnya, hati itu bisa diibaratkan sebuah kendi. Kita tentu sulit mengetaui apa isi sebuah kendi karena di dalamnya gelap. Namun dari mengamati apa yang keluar dari mulut kendi, kita akan tahu apa isi kendi itu, apakah air, minyak ataukah sirup.

Demikian pula kitapun sesungguhnya dapat mengetahui sebagian isi hati seseorang dengan melihat gejala-gejala yang tampak dari luar. Dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, mungkin dapat dinilai apakah seseorang dalam hatinya terdapat kesombongan ataukah tidak. Dari sikap dan perilaku seseorang, mungkin dapat pula dirasakan apakah di dalam hatinya terdapat kesombongan ataukah tidak.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Di dalam Islam, baik kesombongan yang tampak secara lahiriah maupun kesombongan tersembunyi di dalam hati, dipandang sebagai perilaku yang tidak terpuji. Mengapa demikian? Pertanyaan itu dapat ditemukan jawabannya dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ali bin Abi Thalib R.A. Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesunguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan sombong adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang mengambilnya dariku, Aku Azab dia.”

Hadits di atas menegaskan barang siapa ber-takabur, sesungguhnya ia telah mengambil atau bahkan merampas pakaian Allah SWT. Ia dinilai telah mengambil posisi menantang Allah SWT sebagai Dzat satu-satunya yang berhak atas predikat al-mutakabbir. Al-mutakabbir artinya adalah yang pantas menyombongkan diri karena Allah memang Maha Segalanya, yang tak satu pun dapat menyamai-Nya.

Al-mutakabbir juga bisa berarti Maha Pemilik Kebesaran. Itulah sebabnya dalam beberapa ibadah kita dianjurkan untuk mengucapkan takbir sebagai ungkapan jujur untuk menyatakan kebesaran Allah SWT. Maka barang siapa hendak menyaingi Allah dengan ber-takabur atau menyombongkan diri, Allah akan memberinya azab. Orang itu akan dibinasakan sebagaimana Raja Fir’aun yang dikenal sangat sombong karena mengaku sebagai Tuhan. Fir’aun hidup pada jaman Nabi Musa alaihis salam. Allah SWT menenggelamkan Fir’aun ke dalam Luat Merah yang memisahkan antara Benua Asia dan Afrika di Timur Tengah. Fir’aun akhirnya tewas mengenaskan di tengah-tengah laut tersebut.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Sebagaimana kita ketahui dan laksanakan bersama, bacaan pertama yang harus kita ucapkan untuk memulai shalat adalah takibiratul ihram, yakni mengucapkan ? ?, yang artinya Allah Maha Besar. Bacaan ini dimaksudkan untuk memberikan kesadaran kepada kita bahwa hanya Allah Yang Maha Besar. Tak satu pun dari makhluk-Nya pantas menyombongkan diri karena memang hanya Allah Yang Maha Besar. Orang-orang yang benar-benar dapat menjalankan ibadah shalat dengan baik, pastilah akan dapat menjauhkan diri dari sikap takabur. Tetapi faktanya, banyak orang bersikap takabur meski mereka menjalankan shalat lima waktu setiap harinya. Ini bisa terjadi ketika seseorang menjalankan ibadah shalat tanpa pengahayatan sama sekali terhadap bacaan-bacaan yang mereka ucapkan.

Untuk itulah, maka ketika kita melakukan takbiratul ihram untuk memulai shalat dan takbir-takbir lainnya untuk menandai perpindahan dari rukun shalat ke rukun lainnya, kesemua takbir itu harus dapat kita laksanakan dengan sebaik mungkin. Yakni, kita harus dapat mengucapkannya dengan penuh penghayatan akan makna yang sebenarnya. ? ? tidak saja berarti Allah Maha Besar, tetapi sekaligus hendaknya menjadi kesadaran kita bersama betapa kecilnya kita sesungguhnya di hadapan Allah SWT yang Maha Agung dengan segala puji bagi-Nya.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Selain takbiratul ihram, kita juga mengucapkan bacaan-bacaan lain untuk mengagungkan Allah SWT. Misalnya, ketika kita melakukan ruku’, kita dianjurkan mengucapkan:

? ? ? ?

Artinya: “Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya.”

Sambil membungkukkan tubuh kita dengan posisi punggung tetap lurus, kita mengucapkan bacaan ruku’ tersebut. Diharapkan dari ruku’ ini, kita memiliki kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Agung dengan Segala Puji bagi-Nya. Kesadaran ini akan menghindarkan kita dari bersikap takabur karena menyadari hanya Allah yang Agung. Maka orang-orang yang betul-betul dapat menjalankan ruku’ dengan baik dan dapat menghayati maknanya, pasti tidak akan menyombongkan diri karena menyadari manusia sesungguhnya sangat kecil dan tak berarti apa-apa di depan Allah SWT.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Setelah ruku’, rukun shalat lainnya yang juga dimaksudkan untuk mengungkapkan pengakuan kita akan kebesaran dan kemuliaan Allah adalah sujud. Dalam sujud ini, kita dianjurkan mengucapkan:

? ? ? ?

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan dengan segala puji bagi-Nya.”

Sambil meletakkan dahi di atas lantai, dimana posisi kepala kita sejajar dengan semua kaki, baik kaki sendiri maupun kaki orang lain, kita mengucapkan bacaan sujud tersebut. Diharapkan dari sujud ini, kita memiliki kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Tinggi dengan Segala Puji bagi-Nya. Dengan sujud, kita hendaknya menyadari bahwa semua manusia, adalah sama rendahnya di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini akan menghindarkan kita dari bersikap takabur karena menyadari hanya Allah yang Tinggi. Artinya, secara jujur kita mengakui dan meyakini bahwa manusia sesungguhnya sangat rendah di depan Allah SWT. Hanya dengan kemuliaan Allah, manusia menjadi makhluk terbaik diantara semua makhluk yang diciptakan-Nya.

Namun, semua kemuliaan itu hanya dapat dijangkau oleh manusia ketika mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya. Salah satu tanda ketakwaan adalah tidak bersikap takabur, baik melalui kata-kata atau lisan maupun sikap atau perbuatan. Tanpa iman dan takwa manusia justru menjadi makhluk paling rendah diantara yang rendah-rendah sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah “At-Tin” ayat 4- 6 sebagai berikut:

? ? ? ? ? ?(4) ? ? ? ? (5) ? ? (6) ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Semoga apa yang telah saya uraikan di atas dapat mendorong kita untuk berintrospeksi barangkali selama ini dan di masa-masa lalu kita ternyata sering melakukan kesombongan-kesombongan, baik yang terus terang maupun yang tersembunyi di dalam hati. Untuk itu, marilah dengan momentum menjelang Ramadhan tahun ini, kita isi lembaran-lembaran hidup ini dengan tekad menjauhi sikap takabur agar kita selamat dari ancaman Allah SWT, yakni tidak masuk surga sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang telah saya uraikan pada awal khutbah ini. Amin... amin... ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Halaqoh, Quote Belajar Muhammadiyah

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Penasihat Menteri Besar Selangor Khalid Jaafar berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12) sore. Ia mengaku tertarik dan mengapresiasi ajaran dan kiprah Nahdlatul Ulama selama ini.

Kedatangan Khalid disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan Wakil Sekjen PBNU Suwadi D Pranoto.

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

“Rencananya kami ingin mendirikan Nahdlatul Islam, Nahdlatul Ulama Malaysia, yang sama-sama mengerakkan sisi Islam Nusantara,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah sesaat selepas pertemuan.

Belajar Muhammadiyah

Di negaranya, kata Khalid, memang telah berdiri dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia tetapi itu mewadahi sebatas warga negara Indonesia, baik yang sedang menempuh studi maupun berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia. Ia mengatakan ingin membentuk organisasi “Nahdlatul Ulama” versi Malaysia.

Belajar Muhammadiyah

Mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mendukung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi nila-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth, dan i’tidal (moderasi). Menurutnya, Nusantara juga meliputi Malaysia, termasuk juga Kamboja, Thailand, dan lainnya.

“Bukan berarti kami menolak yang lain, tapi kami rasa Ahlussunnah sesuai dengan karakter wilayah kami,” imbuhnya.

Ditanya soal sebaran paham keagamaan yang berkembang di Malaysia, Khalid berujar, “Ancaman ekstemisme tidak begitu besar, tapi kita tidak boleh kita pandang kecil. Makanya kita perlu suarakan tradisi toleransi yang dalam Nahdlatul Ulama disebut tawassuth.”

Direktur Institut Kajian Dasar (IKD) Kuala Lumpur ini mengaku percaya Islam di Asia Tenggara lebih menjanjikan masa depan dibanding dengan Islam di Timur Tengah. Ditengok dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, katanya, Asia Tenggara termasuk cukup baik.

Dalam pertemuan itu, KH Said Aqil Siroj menjelaskan kedekatan NU dengan muslim negara-negara tetangga, salah satunya dengan memberi mereka beasiswa untuk studi di perguruan tinggi-perguruan tinggi NU. Pertemuan juga menyinggung soal fenomena intoleransi, Wahabi, Syiah, dan Ahmadiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Daerah, Warta Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Tanggal 17 Desember nanti merupakan hari Rabu terakhir bulan Shafar 1436 H atau lazim disebut "Rabu Wekasan”. Pada hari itu, umat Islam perlu melaksanakan amalan-amalan kebaikan seperti berdoa, bersedekah, ataupun shalat sunnah untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT.

Demikian yang disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH.Syaroni dalam acara pengajian rutin Tafsir Al-Quran di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat pagi  (5/12).

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kiai Syaroni mengutip penjelasan dalam kitab al-Jawahir al-Khams bahwa Allah akan menurunkan 320.000 musibah setiap tahun dalam hari Rabu wekasan. Karenanya, para ulama selalu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan meminta keselamatan kepada-Nya.

Belajar Muhammadiyah

 

"Yang mendatangkan balak (musibah) itu yang mendatangkan Allah, maka kita harus mendekat meminta kawelasan (kasih sayang) dari Allah," terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Jangan Ngawur

Dalam menjalankan amalan Rabu Wekasan, ulama kharismatik asal Kudus ini mengingatkan supaya tidak melenceng jauh dari ajaran agama Islam. Di antara yang lazim dilakukan, kata Kiai Syaroni, adalah membaca doa Rabu Wekasan, melaksanakan shalat sunnah dan banyak sedekah.

 

"Jangan sampai amalannya ngawur, harus berdasarkan tuntunan agama. Semua amalan ini bertujuan untuk tolak balak," ujar Kiai Syaroni.

Pada Rabu Wekasan, umat Islam disunnahkan mandi tolak balak dan shalat empat rakaat dengan dua salam. Dalilnya shalat, terang Kiai Syaroni, ayat Al-Quran yang artinya wahai orang Islam minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.

 

"Tetapi harus ingat, istilah shalat Rabu Wekasan itu tidak ada. Jadi kita semua bisa shalat sunnah seperti shalat hajat, tahajud, maupun lainnya,"tandas Kiai Syaroni.

 

Dalam berdoa, jelas Kiai Syaroni, terdapat etika atau cara lain yakni menulis kalimat berbahasa Arab yang berisi beberapa ayat al-Quran mengandung doa  dengan awalan kata "salamun". Seperti, ayat salamun qoulan min rabbir rahim, salamun ala nuuhin fil alamin, salamun ala ibrohim, salaamun ala musa waharuun dan seterusnya.

 

"Kalimat itu di tulis di atas kertas dengan niat berdoa meminta keselamatan dan kawelasan Allah. Lalu dicampur air dan dibacakan doa Rabu Wekasan sehingga airnya disebut ‘air salamun’. Amalan semacam ini diperbolehkan," imbuh Kiai Syaroni di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi Masjid al-Aqsha Menara Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Berita, Daerah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Ke Depan, Pendekar Pagar Nusa Harus Piawai Menulis

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Mantan Ketua Umum PP Pagar Nusa KH Fuad Anwar mengajak para pendekar muda untuk menambah keterampilan menulis di luar keterampilan bela diri. Kiai Fuad mengatakan, pendekar Pagar Nusa perlu melihat peluang dan tantangan NU sesuai eranya.

“Dahulu perjuangan para pendekar menggunakan bambu runcing. Sekarang perjuangan harus ditambah dengan pena,” terang Gus Fuad Anwar saat mengisi diskusi rutin di Masjid an-Nahdliyyah PBNU, Selasa (17/11) malam.

Ke Depan, Pendekar Pagar Nusa Harus Piawai Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Depan, Pendekar Pagar Nusa Harus Piawai Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Depan, Pendekar Pagar Nusa Harus Piawai Menulis

Dengan perjuangan melalui pena, publik menjadi mengerti secara benar perjuangan santri dan pendekar NU. “Hari Santri yang sudah ditetapkan jangan sampai diisi oleh orang lain yang kemudian merusak citra santri itu sendiri. Momentum bagi kader muda Pagar Nusa selain menjaga amaliyah-amaliyah olah batin yang diwariskan juga harus menulis sejarahnya sendiri.”

Belajar Muhammadiyah

Gus Fuad mencontohkan, selama ini penulis sejarah menulis secara bias terhadap santri sehingga peran santri terpinggirkan.

Belajar Muhammadiyah

“Contoh kecil, perang Pangeran Diponegoro , seolah santri adalah pemberontak yang takluk kepada Belanda. Padahal di wilayah Mataraman dan Jawa Tengah santri bergerilya dan berjuang habis-habisan. Karenanya, kini sudah saatnya kita tulis kembali sejarah santri,” terang Gus Fuad.

Sementara narasumber lain forum ini Munawir Aziz mengatakan, Pagar Nusa tetap bisa berperan dalam era digital ini. Untuk siap melakukan perjuangan digital, pendekar Pagar Nusa harus meningkatkan kemampuan fisik dan batin, juga keterampilan menulis untuk membentuk opini dan isu.

“Fisik dan batin harus ditambah dengan keterampilan menulis,” terang Munawir yang kini diamanahkan sebagai Wakil Sekretaris LTN PBNU.

Kegiatan rutin Pagar Nusa ini diadakan setiap Selasa Kliwon malam. Mereka biasa mengawali acara rutin ini dengan isthigotsah. Mereka menutupnya dengan jabat tangan dan makan bersama. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam.

Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung.

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang.

Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Belajar Muhammadiyah

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustopa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial.

Belajar Muhammadiyah

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustopa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci.  Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika.

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya.

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. Sudah 36 tahun Ajengan Ruhiat, ajengan patriot dan pejuang itu meninggalkan kita. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta Belajar Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Dakwah Nadlatul Ulama (LDNU) ? melalui Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) mengirimkan lima orang ustad yang tergabung dalam Dai Ramadhan yang akan berdakwah di Hong Kong dan Macau selama Ramadhan.

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Pemberangkatan kelima ustad Dai Ramadhan dilakukan Senin (29/5) siang melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan NU Care LAZISNU.

Selama di Hong Kong dan Macau, para dai akan melakukan kajian keislaman; pembinaan muallaf dan pengenalan Islam; pengenalan dan dakwah tentang zakat infak sedekah dan wakaf serta mengajak jama’ah untuk melaksanakannya baik di bulan Ramadhan maupun hari-hari biasa.

Para dai juga akan membuat jurnal harian dan mendokumentasikannya, mengirimkan berita kegiatan-kegiatan mereka ke media NU; serta meramaikan kegiatan dengan media sosial dengan member tanda #tidim #lazisnu #ldnu dalam setiap postingan.

Belajar Muhammadiyah

Pembina TIDIM LDNU KH Wahfiudin Sakam mengemukakan misi tersebut merupakan upaya dakwah Islam ala Ahlussunah wal Jamaah An-Nadliyah ke seluruh dunia.

?

Belajar Muhammadiyah

“Problem saat ini di mana-mana ada ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga muncul ektrimisme, radikalisme, dan terorisme. Pengenalan tradisi keberagamaan yang ? wasatiyah, tawasuth, tawazun dan berkeadilan harus dikembangkan,” kata Kiai Wahfiudin.

Ia meminta kepada para Dai Ramadhan untuk mengajarkan Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang.?

“Tebarkan dan perkenalkan Islam yang ramah, bahwa kita adalah muslim pengikut Nabi Muhammad SAW yang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Ia juga berharap misi tersebut dapat menambahkan jaringan di mana warga Indonesia terus berdiaspora ke berbagai negara.

Bagi para ustad anggota Dai Ramadhan, ia mengatakan agar perjalanan tersebut dapat membuka wawasan dan memahami komunitas muslim di berbagai tempat., sehingga hal itu juga menjadi komitmen, motivasi dan keberanian untuk lebih tegas dalam menyebarkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah melalui dakwah.

Sementara itu, Direktur NU Care LAZISNU Syamsul Huda, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan kerjasama pertama NU Care dengan LDNU. Ia ? berharap kegiatan serupa dapat berkembang lebih besar sehingga lebih banyak lagi dai yang bisa dikirimkan ke luar negeri.

Ia mengatakan NU Care dan PCINU Hong Kong tengah menggerakan “One Day One Dolar”. “Uang yang terkumpul lewat gerakan ini untuk keperluan di Hong Kong seperti kebutuhan logistic, membangun shelter dan Islamic Center di HongKong,” kata Syamsul.

Ditambahkan Syamsul, selain mengirimkan tenaga dakwah, NU Care juga memfasilitasi warga Indonesia di Hong Kong dan Macau untuk mengenalkan ? entrepreneurship.

“Sebagai bekal untuk mereka dalam mencari nafkah di luar negeri untuk kehidupan yang layak dan mulia,” kata Syamsul.

Menurutnya langkah tersebut juga merupakan perjuangan memperbesar NU untuk bekiprah di dunia internasional. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Warta Belajar Muhammadiyah

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Jember,Belajar Muhammadiyah. Hujatan dengan kata-kata kotor di media sosial masih saja terjadi. Kali ini adalah Wisnu Bagus Prabowo. Lelaki yang beralamat di Desa/Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa timur? itu menghujat Pondok Pesantren Sidogiri di akun FB-nya. Banyak sekali tudingan-tudingan miring yang dilontarkan Wisnu.

Tentu saja, hujatan kebencian itu membuat merah telinga santri dan alumni pondok pesantren salaf tersebut. Sempat serjadi “pertengkaran” serius di media sosial antara Wisnu dan M. Rosul Baidla’i, penasihat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember. Dan hujatan itu pun sempat menjadi viral sebelum akhirnya diklarifikasi di darat.

Pertemuan antara Wisnu dan IASS Jember digelar di Masjid Sunan Kalijaga, Jl. Kalimantan, Jember, Senin malam (9/1). Di hadapan Ketua IASS Jember Shodiq AS, M. Rosul Baidla’i? dan sejumlah pengurus lainnya, Wisnu dituntut minta maaf dan menghapus? komentar hujatan di akun FB-nya.

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Wisnu pun mengamini permintaan tersebut. Bahkan dengan ringan, ia menulis permintan maaf di sehelai kertas dan ditandatangani di atas materai. Menurutnya, ujaran kebencian itu hanya luapan dari rasa emosinya dan tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya. “Jadi saya mohon maaf atas semua ini,” ujarnya Wisnu.

Rosul berharap agar kasus tersebut menjadi pelajaran bagi Wisnu dan siapa pun untuk berhari-hati berkomentar di media sosial. Apalagi terkait dengan tokoh atau lembaga pesantren. Sebab, jika menyangkut tokoh, organisasi dan sebagainya, maka reaksi keras akan muncul. “Jadi, tolong hati-hati kalau ngomong,” ungkap Rosul.

Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris GP Ansor Jember Kholidi Zaini berharap agar kasus tersebut merupakan yang terakhir terjadi. Sebab, ujaran kebencian di media sosial, apalagi sampai mengungkap aib tokoh atau organisasi, sungguh mempunyai efek degradasi sosial yang luas.

Belajar Muhammadiyah

“Alhamdulillah kasus itu bisa diselesaikan secara damai dan cepat. Ansor tetap berkomitmen membela NU dan pesantren. Lebih-lebih pesantren NU seperti Sidogiri,” ucapnya kepada? Belajar Muhammadiyah melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A. Razaq)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Warta, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Medan, Belajar Muhammadiyah. Persoalan utama isu perekenomian adalah bagaimana mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi. Hal ini dalam rangka menciptakan kedaulatan dan pemerataan ekonomi seperti yang menjadi cita-cita kita bersama untuk menghilangkan kesenjangan. Itulah yang menjadi upaya NU selama ini.

Demikian disampaikan oleh H Masduki Baidlowi bersama Tim Rekomendasi Muktamar ke-33 NU terkait kegiatan Pra-Muktamar NU yang berlangsung di Pesantren al-Akbar al-Kautsar, Jl Pelajar Timur No 264 Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/6).

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Dalam kegiatan yang bertema ‘Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi (Konsep dan Perundang-Undangan)’ ini, Masduki menerangkan bahwa Indonesia mempunyai syarat untuk menjadi bangsa besar yang maju, sejahtera, dan bermartabat.?

Belajar Muhammadiyah

“Selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dihuni sekitar 145 juta penduduk yang mayoritas berusia produktif, menyumbang total PDB sebesar Rp 10, 542.7 triliun pada 2014,” jelas Wakil Sekjen PBNU ini.

Belajar Muhammadiyah

Dia melanjutkan, Indonesia dengan segenap potensinya diprediksi akan menjadi The Next Economic Superpowers pada 2030. Pada saat itu, lanjutnya, PDB Indonesia akan menembus 9,3 triliun Dollar Amerika yang akan menjadikannya ke peringkat 5 dunia. Indonesia akan bangkit bersama kekuatan ekonomi Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

“Guna menyongsong kebangkitan ini, jalan baru harus ditempuh dari legacy lama yang di-khittah-kan para founding fathers, yakni pembangunan dari kita, oleh kita, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.

Syarat awal yang harus ditempuh, menurutnya, adalah meluruskan kiblat pembangunan dengan kembali ke khittah ekonomi konstitusi.?

“NU sebagai pemegang saham Republik dan sebagai komponen bangsa yang ikut mendirikan dan mempertahankan NKRI menyampaikan keprihatinan keberlangsungan pembangunan di Indonesia melalui berbagai koreksi demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tandasnya.

Dalam kegiatan Pra-Muktamar di Medan ini, NU mengadakan seminar dengan menghadirkan para narasumber kompeten di bidang ekonomi pada Ahad (17/5). Narasumber tersebut diantaranya, Marwan Ja’far (Menteri Desa PDTT), Rizal Ramli (mantan Menteri Perekonomian), Ahmad Erani Yustika (Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya), Bambang Prijambodo (Staf Ahli Menteri Bappenas), M Arfin Hamid (Ahli Ekonomi Syariah), dan Ritha F Dalimunte. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Mayoritas ulama menyepakati bahwa nilai shalat jama’ah lebih utama dibanding shalat sendirian. Kesimpulan ini diperoleh dari pemahaman terhadap banyak dalil yang terdapat dalam kitab-kitab hadits. Dalam sebuah hadis dikatakan,“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat,” (HR: Bukhari).

Dilihat dari kebiasaan yang berkembang di masyarakat, shalat jama’ah ditunaikan langsung di awal waktu terutama masyarakat perkotaan. Tetapi sebagian masyarakat pedesaan untuk shalat-shalat tertentu seperti zhuhur dan ashar dikerjakan di pertengahan waktu secara berjamaah. Pasalnya, mereka masih berada di sawah atau kebun saat waktu masuk shalat.

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Model pengerjaannya juga bermacam-macam. Ada yang mengerjakan langsung secara bersama-bersama. Ada pula yang awalnya shalat sendirian kemudian diikuti oleh beberapa orang yang berniat menjadi makmumnya.

Terkait orang shalat sendiri, seseorang dianjurkan terlebih dahulu untuk berniat menjadi imam jika meyakini akan ada orang datang setelahnya. Bila berniat menjadi imam, ia akan mendapatkan pahala jama’ah sekalipun niat itu dilakukan di pertengahan shalat.

Belajar Muhammadiyah

Namun dia tidak mendapatkan pahala jika tidak berniat menjadi Imam di awal shalat atau di pertengahan. Keterangan ini dikutip dari paparan Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

Belajar Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Niat menjadi imam sembahyang berjamaah ketika takbiratul ihram terbilang sah kendati di belakangnya tiada orang satupun yang mengikutinya jika ia yakin setelah itu ada orang yang menjadi makmumnya menurut pendapat yang shahih. Ini diperbolehkan karena ia akan menjadi Imam. Tetapi jika ia tidak berniat sebagai imam, dan tidak mengetahui akan datangnya makmum, lalu datang jamaah, makmumnya tetap mendapatkan pahala, sementara imam tidak memperoleh pahala. Tetapi ia tetap dapat pahala bila ia berniat sebagai imam di pertengahan shalat.”

Kutipan ini menunjukan, alangkah baiknya bagi orang yang shalat sendiri lalu berniat menjadi imam, ketika dia yakin kalau masih ada orang di luar yang akan ikut shalat bersamanya.

Andaikan tidak berniat di awal, ia masih diberikan kesempatan untuk berniat di pertengahan shalat saat ada orang yang bermakmum kepadanya. Apabila seorang imam tidak berniat, makmum tetap mendapatkan pahala. Sementara imamnya tidak memperoleh pahala atas shalat berjamaah itu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Warta, Syariah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Seperti tahun sebelumnya, tahun ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar Kirab Resolusi Jihad NU. Penyelenggaraan kirab sebagai salah satu bentuk peringatan Hari Santri Nasional 2016, akan menempuh sekurang-kurangnya 2000 kilometer dan memakan waktu sepuluh hari. Para peserta diharapkan untuk dengan ikhlas menjalankan kegiatan ini, sekaligus menyiapkan fisik, karena jarak tempuh yang jauh dan lamanya waktu.

Hal itu muncul dalam rapat koordinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Ahad (9/10) sore.

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Aizuddin Abdurahman mewakili panitia mengatakan, Kirab Resolusi Jihad NU tahun ini mengalami perkembangan yang luar biasa. Kirab tahun ini juga lebih istimewa karena animo, ekspektasi, dan harapan atas terselenggaranya kirab.

Selama perjalanan kirab, rombongan akan bersilaturahim kepada para kiai serta pengurus NU di daerah, berdialog, dan bersosialisasi dengan warga NU. Selain itu peserta kirab juga akan diajak melakukan ziarah ke makam pendiri dan pejuang NU. Oleh karena itu peserta kirab diharapkan ? benar-benar menjaga semangat kekhidmadan kirab karena bernilai sejarah.

Belajar Muhammadiyah

Sebanyak kurang lebih delapan puluh orang diberangkatkan dalam kirab yang dimulai di Banyuwangi pada 13 Oktober hingga tiba kembali di Jakarta pada 22 Oktober. Para peserta adalah perwakilan seluruh lembaga dan badan otonomi di bawah PBNU. Pemberangkatan peserta dari Jakarta dilakukan Selasa, 12 Oktober menggunakan kereta api, dan tiba di Banyuwangi Rabu, 13 Oktober.?

Setiba di Banyuwangi peserta akan menggunakan lima armada bus. Dari Banyuwangi peserta kirab dijadwalkan akan mengunjungi Situbondo, Probolonggo, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Bangkalan, Bubutan pada ? 14 Oktober. Hari berikutnya, 15 Oktober, rombongan akan memasuki Surabaya, Mojokerto, Rejoso, Jombang, Kertosono, Kediri.

Pada Ahad 16 Oktober, rombongan terjadwal mengunjungi Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun. Menginap semalam di Madiun, esok harinya 17 Oktober, rombongan akan mengunjungi Magetan, Ngawi, Mantingan, Sragen, Solo, Klaten, Jogjakarta.

Selasa, 18 Oktober rombongan meneruskan perjalanan ke Magelang, Parakan, Wonosobo, dan Banyumas. Sementara pada Rabu, 19 Oktober, perjalanan dilanjutkan ke Cilacap, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Bandung.

Belajar Muhammadiyah

Kamis 20 Oktober, rombongan dijadwalkan tiba di Cianjur, meneruskan ke Bogor dan Tangerang Selatan pada sore harinya. Jumat 21 Oktober dari Tangerang Selatan rombongan akan mengunjungi Serang, Pandeglang, Cilegon dan Jakarta. Rombongan kirab akan mengikuti Upacara Hari Santri di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, Sabtu 22 Oktober.

Kirab diharapkan tidak hanya utuk konsolidasi, namun juga akan menambah ketebalan ke-NU-an. Rute dan kegiatan kirab akan membawa rombongan pada napak tilas perjuangan para pendiri NU. ? Sehingga para peserta kirab nantinya akan merasakan perjuangan para pendahulu, serta ada nilai-nilai yang dapat diteladani. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta Belajar Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. Sejak hari ini hingga besok (4-5/11), Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menyelenggarakan konferensi. Acara yang diikuti utusan dari sejumlah kota dan kabupaten se-Jatim tersebut berlangsung di Kabupaten Banyuwangi. Tidak semata mengikuti permusyawaratan, peserta juga diajak melepas anak penyu atau tukik di Pantai Boom.

"Ini bentuk kepedulian sarjana NU terhadap kelestarian alam," kata H Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, Sabtu (4/11).

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pantai Boom, Bupati Ajak Peserta Konferwil ISNU Jatim Lepas Tukik

Azwar Anas yang juga Ketua PW ISNU Jatim mengingatkan bahwa kelestarian alam, termasuk di dalamnya menjaga kelangsungan hewan adalah tanggung jawab bersama. "Termasuk sarjana NU," tegasnya.

Sejumlah peserta ikut melepaskan tukik di pantai Boom yang juga menjadi salah satu ikon kota Banyuwangi tersebut. Mereka bergabung bersama rombongan bupati dan Ketua Umum PP ISNU secara bersama-sama melepas puluhan tukik kea lam bebas.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan ini sebagai rangkaian Konferensi Wilayah ISNU yang sebelumnya dibuka oleh Ketua PWNU Jatim, KH M Hasan Mutawakkil Alallah. Usai pembukaan, kegiatan diisi sarasehan yang menghadirkan Ali Masykur Musa dan Ahmad Suaedy yang juga anggota Board Jaringan GusDurian.

Sebelum sejumlah sidang dilangsungkan, Bupati Anas juga mengajak para peserta untuk melihat dari dekat sejumlah destinasi wisata yang ada di kota tersebut.

Malam ini, agenda konferensi dimulai dengan sidang pleno komisi serta pleno. Sejumlah sidang dilangsungkan di Balai Diklat yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Diperkirakan, Ahad petang, seluruh rangkaian konferensi dapat dituntaskan dengan memilih Ketua PW ISNU Jatim yang baru. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Warta, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Para alumni beberapa perguruan tinggi dan ma’had di Suriah yang berasal dari Indonesia akan mengadakan pertemuan di Jakarta, Sabtu (28/3) besok. Dalam keterangannya kepada Belajar Muhammadiyah, mereka menjamin tidak ada satu pun alumni yang terlibat dalam kelompok radikal ISIS yang berpusat di Suriah dan Irak.

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Pertemuan alumni akan diadakan di Puncak Bogor dimulai Sabtu pagi dan akan berlangsung sampai Ahad. Para alumni dari luar kota sebelumnya akan menginap di Pondok Pesantren Al-Kenaniyah Pulomas, Jakarta Timur.

Menurut Ketua Panitia H Fathir Hambali, pertemuan alumni diadakan rutin setiap tahun. “Ini pertemuan keempat. Tahun kemarin pertemuan diadakan di Surabaya,” katanya.

Menurut Fathir, saat ini ada sekitar 150 alumni Suriah yang ada di Indonesia. Mereka belajar sejak tahun 1990-an. di beberapa kapus dan ma’had seperti Universitas Damaskus, Universitas Abu Nur, Ma’had Fatah dan beberapa ma’had di Damaskus.

Sementara mahasiswa dan santri yang saat ini masih mengenyam pendidikan di Suriah hanya berjumlah sekitar 20 orang. “Mereka terpusat di Damaskus dan dijamin steril dari ISIS, karena ISIS tidak menjangkau wilayah Ibukota,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Terkait pergerakan ISIS yang menjadi isu global saat ini, menurut Fathir, para alumni dipastikan tidak akan bergabung dengan kelompok daulah khilafah Irak dan Suriah itu.

“Mereka belajar dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan mengikuti empat madzhab seperti Indonesia. Jadi secara ideologis apa yang kita pelajari sangat berbeda dengan apa yang dikembangkan dan diyakini kelompok ISIS yang suka kekerasan, suka mengkafirkan,” katanya.

Menurut Fathir yang juga Ketua Alumni Suriah di Indonesia, beberapa karya ulama Suriah yang dipelajari oleh para alumni saat ini sudah menjadi bahan kajian di pesantren-pesantren di Indonesia dan sudah diterima oleh para kiai, seperti karya-karya Syekh Al-Buthi dan Syekh Wahbah Zuhaili.

Ditambahkan, warga Indonesia yang mungkin bergabung dengan ISIS bukan mahasiswa atau santri alumni Suriah. “Yang paling mungkin bergabung adalah mereka yang baru belajar agama lalu dicuci otaknya dan diajak bergabung,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

“Kita juga perlu mengingatkan bahwa ISIS bukan persoalan agama, tetapi persoalan politik yang dibawa ke agama,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto: Beberapa alumni Suriah menyambut kehadiran Syekh Wahbah Zuhaili di Indonesia tahun 2014 lalu

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Warta, Tegal Belajar Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Logistik dalam Tanggap Bencana

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengadakan pelatihan bertajuk “Humanitarian Logistik Manajemen” di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (10/8). Kegiatan tersebut akan berlangsung sampai dua hari ke depan.

LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Logistik dalam Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Logistik dalam Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Logistik dalam Tanggap Bencana

Menurut Wakil Sekretaris LPBINU Yulistianto, pelatihan tersebut adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pengurus LPBINU dalam manajemen tanggap darurat dalam urusan logistik. Sebab hal itu merupakan salah satu faktor yang menentukan.

“Bagiamana pasokan logistik sampai kepada penyintas (korban bencana). Yang jadi permasalahan ketika logistik terganggu, maka akan menimbulkan bencana susulan, yaitu korban setelah pasca bencana. Itu akibat logistik terlambat atau tidak sampai. Dan itu sebabnya gagalnya manajemen,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Karena itulah, lanjutnya, manajemen logistik untuk meningkatkan kapasitas pengurus LPBINU sangat diperlukan sehingga mereka bisa membangun sebuah sistem mekanisme yang bisa menjalankan pendistribusian secara cepat dalam kondisi apa pun.

Dengan pelatihan tersebut, peserta bisa melakukan manajemen logistik mulai dari menginventarisi benda-benda yang dibutuhkan, prediksi kendala dan cara menanganinya, alternatif rencana, mengsinkronkan semua pihak dengan penyintas.

Belajar Muhammadiyah

“Dendan adanya manajemen dan perencanaan, kalau ada kendala bisa ditanggulangi dengan cepat dan tepat,” katanya.

LPBINU berupaya meningkatkan kapasitas tanggap darurat karena mayoritas rawan bencana adalah di basis-basis nahdliyin. Ini termasuk dakwah bil-hal (perbuatan) kepada warga NU dan mayarakat pada umumnya. ?

Pelatihan tersebut, pada hari pertama diisi dengan ragam materi. Di hari kedua, salah satu kegiatannya, peserta akan berkunjung ke gudang Bulog di Kelapa Gading. Sementara hari ketiga, melakukan penelitian dengna studi kasus manajemen tanggap bencana banjir Jakarta.

Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Kuehne Foundation, yang salah satu programnya manajemen di bidang logistik. Pelatihan tersebut diikuti 25 orang. Di antara mereka bersal dari pusat, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Renacananya kegiatan yang sama akan dilakukan di Semarang dengan melibatkan LPBINU di Jawa Tengah dan Yogyakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock