Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Yogyakarta untuk pertama kali meluncurkan program “Masjid Sehat” di masjid Jami’ Kodama, Yogyakarta, Senin (20/1). Program ini memosisikan masjid sebagai inspirasi kebersihan dan kesehatan warga.

“Masjid bukan saja dijadikan sebagai tempat ibadah. Dari masjid, kita bisa membangun gerakan masjid bersih dan suci dan jama’ah yang sehat,” terang Ketua LKNU Yogyakarta H Abdul Kadir dalam peluncuran program tersebut.

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat

Peluncuran program ini, menurut H Abdul Kadir, bertujuan menegakkan masjid sehat bukan sekedar slogan. Tetapi mengajak warga untuk berprilaku hidup sehat dan bersih dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat.

Belajar Muhammadiyah

Kesehatan dan kebersihan, sambung Kadir, merupakan ciri utama pribadi Nabi Muhammad SAW.

Belajar Muhammadiyah

“Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk hidup bersih, sehat dan suci. Warga NU diharapkan agen terdepan mengamalkan ajaran kebersihan. LKNU DIY akan berus berusaha mengawal itu,” tegas dokter Kadir.

LKNU menjadikan masjid jami’ Kodama sebagai salah satu masjid binaan LKNU untuk penyuluhan kesehatan, pengobatan gratis, menyebarkan da’i peduli AIDS, dan lain sebagainya. (Muyassaraoh Hafidzoh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Habib, Ulama Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Setelah beredar kabar yang simpang siur di media sosial, Almaghfurlah KH A Nafi’ Abdillah yang wafat di RSUD Bak?rköy ?stanbul akhirnya bisa dipulangkan. Rencana kepulangan dipastikan setelah melalui rapat internal keluarga dengan pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Ahad (19/2) waktu setempat.

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)
Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Melalui akun Facebook, Ka Bas, Rusdi J Abbas yang juga Wakil Rais Syuriah PCINU Turki mengabarkan kepastian pemulangan jenazah Kiai Nafi’ tersebut. Jenazah akan dipulangkan pada Selasa lusa (21/2) dini hari.

“Bismillahirrohmanirrohim, sudah ada keputusan dan Insya Allah tidak ada perubahan. Jenazah KH Ahmad Nafi Abdillah Kajen Pati akan dipulangkan dari ?stanbul jam 02.40 Selasa dini hari (21.02.2017) dan akan sampai di Jakarta Selasa sore jam 06.30. Mohon doanya. Terima kasih,” tulisnya.

Belajar Muhammadiyah

Sebelumnya, kabar tentang batalnya pemulangan kiai kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putri Kajen tersebut. Jenazah Kiai Nafi’ disebut akan dimakamkan di Turki. Pesan berantai tersebut sambung-menyambung melalui sejumlah grup WhatsApp.

Belajar Muhammadiyah

Senada dengan dia, Mujibur Rachman Ma’mun, keponakan almarhum telah memastikan bahwa Kiai Nafi’ akan dimakamkan di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Ia menyatakan Kiai Nafi’ mendapat “kapling” makam istimewa, yakni di dekat pusara sang ayah, Almaghfurlah KH Abdullah Salam.? ?

“Saat Pakde Nafi’ sedang sowan Abahnya, Mbah Dullah Salam. Insya Allah, jenazah beliau akan sampai di Kajen pada hari Selasa malam Rabu, jam 21.00 atau 22.00. Dan langsung dimakamkan di tempat beliau duduk ini, wonten ngandape Mbah Kakung,” tulis Gus Mujib sambil mengunggah foto Kiai Nafi’ di Facebook, Ahad (19/2) malam.

Sebelumnya, keponakan Kiai Nafi’ ini sempat mengunggah fotonya saat mendampingi kakak ibunya tersebut sembari menyatakan kegalauannya atas berpulangnya sang Pakde.

“Nderèkaken sugeng kondhur (selamat berpulang), Pak de.. Amal sholihmu sudah menanti & akan mengantarmu pada maqom mulia di sisi-Nya. Masalahe, sak niki kulo terus gondhelan sinten (masalahnya, sekarang saya terus pegangan siapa)?” tulis Gus Mujib sembari menambahkan emoticon sangat sedih.

Saat ditanya sejumlah hal terkait wafatnya Kiai Nafi’, putra almaghfurlah KH Ma’mun Muzayyin ini meminta Belajar Muhammadiyah menghubungi salah satu putra menantu Kiai Nafi’. “Maaf, njenengan kontak Mas Nadhif saja. Saya masih di jalan (menuju Kajen),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, PonPes, Kyai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah

Sebanyak 36 area pohon seluas 36 lapangan sepak bola rusak setiap menitnya di seluruh hutan di dunia. Lalu apa yang harus dilakukan manusia terhadap pohon-pohon yang memberi udara untuk dihirup? Haruskah manusia diam pada deforestasi dan degradasi hutan yang menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara dan berkontribusi hingga 15 persen dari emisi gas rumah kaca global?

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Riky Ryan Saputra selaku koordinator gerakan, di Blambangan Umpu, Ahad (26/6), menerangkan, "Sedekah Oksigen" merupakan gerakan menanam pohon 50 buah di setiap pesantren, targetnya 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

"Perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem. Contoh peristiwa cuaca ekstrem telah memakan ribuan nyawa, dari gelombang panas yang mematikan di India dan Pakistan hingga banjir parah di Malawi, Mozambik, dan Madagaskar. Melindungi hutan dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa," kata Riky.

Belajar Muhammadiyah

Ia melanjutkan, pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat.

"Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca," ujar dia lagi.

Belajar Muhammadiyah

Selain bertujuan untuk mendorong kemandirian pesantren, penanaman pohon melalui gerakan "Sedekah Oksigen" juga diperlukan. Manusia membutuhkan pohon untuk bernafas.

"Pohon juga merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75 persen air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses yang dikenal dengan evapotranspirasi," paparnya.

Dengan demikian, imbuhnya, manusia dan hewan memiliki ketergantungan pada hutan, pada pohon, kehidupan sehari-hari mahkluk hidup harus ditopang dengan keberadaan pohon.

"Untuk menyatakan perlawanan terhadap perubahan iklim, kita harus menjaga hutan, menjaga keberadaan pohon guna memastikan kemungkinan masa depan yang cerah, manusia dan seluruh organisasi harus bersama-sama mengambil tindakan melawan perubahan iklim," paparnya.

"Sedekah Oksigen" diinisiasi Gusdurian Lampung, didukung Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia Wilayah Lampung.

"Sedekah Oksigen" berupa satu pohon buah seperti alpukat mentega, mangga Thailand, nangka dak (persilangan nangka dan cempedak), dan kelengkeng aroma durian senilai Rp50 ribu. Diambil dari pembudidaya teruji di Pekalongan, Kota Metro. Bagi yang berminat "Sedekah Oksigen" bisa menghubungi nomor 081540890056, 085367282712, atau 082279005826. Sedekah bisa disalurkan ke rekening BRI: 035701112732504 a.n Disisi Saidi Fatah. (Anisa Yuliani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa

Blitar, Belajar Muhammadiyah. 41 pendekar Pagar Nusa Cabang Blitar Raya mengikuti pendadaran A’dhlo dan diklat pelatih. Acara berlangsung pada Ahad-Selasa (25-27/12) di Gedung Universitas Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

41 Pendekar Ikuti Diklat Pelatih Pagar Nusa

Beberapa materi diberikan oleh tim instruktur dari Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim. Selain teknik beladiri standar IPSI dan keorganisasian, juga diberikan materi keaswajaan serta ke-NU-an.?

“Sejak dini kami tanamkan kepada siswa. Agar paham betul tentang Islam Ahlussunah wal Jamaah dan NU,” ujar Mohammad Makin salah satu panitia acara.

Dalam pelatihan tersebut, lanjut Makin, para instruktur menerapkan disiplin ketat. Sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal sesuai yang diharapkan pengurus.

Belajar Muhammadiyah

“Dalam diklat ini kami memakai pola pelatihan Banser. Sehingga para peserta sangat disiplin. Hasilnya dari 41 peserta 40 orang dinyatakan lulus. Satu orang tidak lulus karena mengundurkan diri,” jelasnya.

Dia berharap hasil diklat ini ada guna dan faidahnya untuk pengembangan organisasi Pagar Nusa ke depan. “Sebagai calon pelatih di tingkat sekolah dasar dan MI kami berharap mereka mampu melaksanakan tugasnya,” harapnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Cabang ? Pagar Nusa, H Abdul Munib. Ia mengaku sangat puas dengan hasil Diklat ini.?

“Kami berharap para alumni ini nanti bisa melaksanakan tugas keorganisasian dengan baik. Sebagai calon pelatih mereka harus membekali diri dengan berbagai persiapan. Khususnya mental spiritual disamping fisik dan tehnik,” katanya. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

PCNU Banyuwangi Tembus Babak Final NU Award Jatim

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah - Setelah melalui serangkaian verifikasi dan visitasi oleh tim NU Award Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, akhirnya Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Banyuwangi dinyatakan masuk babak final NU Award. Bersama tiga PCNU lainnya, NU Banyuwangi berhasil terpilih dari 45 PCNU Se-Jawa Timur.

Finalis lainnya terdiri atas PCNU Kabupaten Magetan, PCNU Kabupaten Blitar, PCNU Kabupaten Magetan, dan PCNU Kabupaten Lumajang.

PCNU Banyuwangi Tembus Babak Final NU Award Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Banyuwangi Tembus Babak Final NU Award Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Banyuwangi Tembus Babak Final NU Award Jatim

Babak final yang digelar pada Selasa (28/6) siang di Aula Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya akan dilakukan sesi presentasi dari masing-masing finalis. Para finalis tidak hanya terdiri atas pengurus cabang, namun juga diikuti oleh lembaga-lembaga dan badan otonom di lingkungan cabang masing-masing.

Belajar Muhammadiyah

“NU Banyuwangi membawa 30 rombongan. Mulai Syuriyah, Tanfidziyah, lembaga dan banom,” tutur Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali saat ditemui di kantor PWNU Banyuwangi, Selasa (28/6).

Dalam babak final ini, para finalis akan memaparkan lima poin yang meliputi administrasi/kesekretariatan, layanan anggota, program, aset dan inventaris, serta unit usaha. Semua finalis dituntut untuk menyajikan data dan bukti dokumentasi atas lima hal tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Setelah diverifikasi oleh Tim NU Award Jawa Timur melalui berkas awal yang dikirim panitia, tim NU Award menentukan sepuluh besar PCNU. Lalu, kesepuluh nominator dilakukan visitasi ke masing-masing PCNU. Dari sepuluh besar tersebut, panitia menyaringnya menjadi empat besar.

Sedangkan dalam babak final ini, para penilai terdiri dari berbagai unsur. Mulai dari unsur Tanfidziyah, Lembaga, dan Badan Otonom dari lingkungan PWNU Jawa Timur serta perwakilan PCNU se-Jawa Timur yang tidak masuk pada babak final. Selain itu, para penilai juga memiliki kewenangan untuk menggali setiap potensi PCNU masing-masing finalis.

“Ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi PCNU Banyuwangi. Karena tak semua PCNU bisa masuk pada babak final ini. Mohon doa dan dukungan semua warga nahdliyin Banyuwangi,” pungkas Kiai Masykur. (Anang Lukman Afandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Habib Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Sekitar 102 pemuda mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung. Kegiatan tersebut merupakan gerbang awal untuk menjadi kader Banser.

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

102 Pemuda Ikuti Diklatsar Banser GP Ansor Kota Bandung

Diklatsar yang diisi materi-materi untuk meningkatkan kemampuan skill individu, fisik, mental, dan spiritua tersebut diikuti utusan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting serta 50 orang panitia sehingga rasio mentoring 1:2.

Ketua GP Ansor Kota Bandung Aa Abdul Rozak dalam sambutannya menegaskan bahwa peran dan fungsi Banser merupakan garda terdepan dalam menjaga ulama dan bangsa.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menegaskan bahwa organisasi pemuda NU tersebut akan tetap menjaga kedaulatan NKRI. “GP Ansor tidak seperti organisasi lain yang seolah-olah memiliki bangsa ini padahal mereka merongrong keutuhan NKRI dengan melakukan arabisasi,” katanya pada pembukaan kegiatan yang berlangsung 9-10 Nevember tersebut.

Sementara Ketua PCNU Kota bandung KH Maftuh Kholil mengutarakan bahwa semangat kepemudaan harus tumbuh dan berkembang. Anggota Ansor, meskipun kelak menjadi tua, namun semangat harus tetap menggelora.

Belajar Muhammadiyah

Pada pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Kabid Kepemudaan Dispora Kota Bandung, Kadis Damkar, Pemuda Demokrat Indonesia, IPNU dan IPPNU Cabang Kota Bandung. (Ujang Miftahuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Hikmah, Habib Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menagih Presiden Joko Widodo mewujudkan janjinya untuk menindak tegas kelompok anti-NKRI. Hal ini disampaikan Gus Yaqut di sela sela Halaqoh Internasional yang digelar GP Ansor di GOR Hasbullah Said Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (21/5).

"Presiden Jokowi telah mengatakan, akan menggebug kelompok radikal yang ingin mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lakukan jangan ngomong," ujar Gus Yaqut kepada sejumlah media.

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor Tagih Presiden soal Gebuk Kelompok Anti-NKRI



(Baca: Ormas Melawan Pancasila, Presiden Jokowi: Kita Gebuk!)


Belajar Muhammadiyah

?

Halaqoh Internasional yang mengusung tema "Menuju Rekontekstualisasi Islam demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban," itu berakhir Senin (22/5).

Pria yang akrab disapa Gus Tutut itu mengatakan, Ansor dan Banser menilai kelompok yang ingin mengubah NKRI apa pun namanya berarti telah menghina dan menginjak harga diri Ansor dan Banser.

Belajar Muhammadiyah

"Berarti mereka ingin mengacak- acak apa yang telah diperjuangkan ulama kami, kiai-kiai NU, maka akan kami lawan, Ansor dan Banser akan kawal NKRI," tandasnya.

Bagi Ansor, lanjut Gus Tutut, Pancasila sudah menjadi kesepakatan bersama, Pancasila merupakan kristalisasi dari perjuangan para pendahulu dari semua golongan, agama. suku bangsa, dan bahasa yang berbeda-beda. “Mereka disatukan? dengan Pancasila. Ketika ada kelompok yang tidak sepakat dan ingin mengubah maka pemerintah harus tegas," imbuhnya.

Sementara itu, dalam pembukaan halaqoh, Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menyampaikan terima kasih kepada pembicara yang sudah hadir, melalui tayangan video yang sebelumnya sudah direkam oleh panitia.

"Saya menyesal sekali tidak bisa hadir secara langsung dalam kegiatan ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya, terutama tamu pembicara dari berbagai negara," ujar Gus Mus sebelum membuka kegiatan, dalam tayangan video yang ditampilkan di layar lebar.

Menurut Gus Mus, kegiatan ini sangat berharga untuk menggelorakan Islam yang damai. Itu karena di berbagai negara saat ini membutuhkan hasil pemikiran yang sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.

"Semoga diskusi ini bisa menjadi solusi melalui hasil berbagi pemikiran untuk kebaikan Islam dalam kondisi seperti sekarang ini, semoga bernilai ibadah untuk kita semua," katanya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Habib Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Kansas City, Belajar Muhammadiyah
Menjalankan ibadah puasa di negara bagian Missouri, Amerika Serikat yang bertepatan dengan musim gugur 2004 relatif lebih ringan. Selain udara yang dingin, waktu berpuasanya relatif lebih singkat, karena siang hari yang lebih singkat dibanding malam yaitu imsak jatuh pukul 06.15 pagi dan Magrib datang pada pukul 18.35 sore.

Pada tahun ini Organisasi Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) agak terlambat mengumumkan terlihatnya hilal yang menandai kedatangan bulan Ramadhan. Pemberitahuan lewat telepon mengenai kepastian awal puasa itu diterima oleh komunitas Muslim di kota Kansas City pada Jumat (16/10) pukul 11 malam, sehingga kaum Muslim yang hendak berpuasa harus menyiapkan makanan untuk sahur dalam waktu sangat singkat.

Tarawih pertama pun baru diadakan pada malam kedua pada bulan Ramadhan. Seperti halnya mesjid-mesjid di Indonesia, pada hari-hari pertama, hampir seluruh mesjid di Amerika dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Biasanya jumlah jamaah akan berkurang pada pertengahan Ramadhan tetapi kembali ramai menjelang akhir bulan suci bagi umat Islam itu.

Mesjid yang ada di lingkungan "Islamic Center of Greater Kansas City" juga dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan sholat tarawih. Mereka umumnya warga Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center dengan berbagai macam latar belakang, budaya dan bahasa. Tetapi begitu Imam mengucapkan takbir tanda dimulainya sholat, semua perbedaan tersebut hilang, semua jamaah dengan khusyuk mengikuti semua gerakan sang Imam.

Pusat Islam Greater Kansas City memiliki tradisi unik setiap bulan Ramadhan. Selain menyediakan menu buka puasa dan sholat tarawih bersama, para pengurus mengundang seorang ulama hafiz Quran -biasanya dari Pakistan- untuk menjadi imam sholat tarawih maupun sholat lainnya seperti salat Jumat dan salat fardhu.

Menurut sesepuh Islamic Center of Greater Kansas City Adnan Bayedid, tujuan mendatangkan ulama yang hapal Al Quran adalah untuk mendirikan sholat tarawih dengan 30 juz Al Quran selama satu bulan penuh. Komunitas Muslim di Kansas City, juga dikota-kota lain di AS, berniat melakukan tradisi salat tarawih seperti yang berlangsung di Mekkah maupun Madinah. Sayangnya, kebanyakan jamaah telah meninggalkan Mesjid saat Imam menyelesaikan rakaat ke delapan dari duapuluh rakaat yang dilakukan.

Hal itu terjadi karena malam telah larut, mengingat sholat tarawih baru dimulai pada pukul 20.30 dan untuk menyelesaikan delapan rakaat diperlukan waktu selama dua jam, padahal kebanyakan jamaah harus masuk kerja pada pagi harinya. Tentu saja di AS tidak ada pengurangan jam kerja selama Ramadhan sebagaimana yang dinikmati para pekerja di Indonesia atau negara Muslim lainnya. "Tidak ada pennyesuaian waktu di tempat kerja sehingga kami yang harus mengaturnya sendiri," kata Asma Rehman, seorang jamaah Mesjid yang sehari-hari bekerja pada kantor Departemen Kesehatan setempat.

Meski begitu, Asma mengatakan bahwa bulan Ramadhan baginya adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan waktu untuk memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat."Di Amerika, kita seperti dikejar-kejar waktu, tetapi pada bulan Ramadhan kita dapat mengabaikannnya, menyerahkan waktu kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan," ujarnya.

Sejumlah Islamic Center lain di AS juga mengagendakan berbagai kegiatan yang bertujuan memperkenalkan bulan Ramadhan kepada komunitas non Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center. Islamic Center of Lawrence, misalnya, pada Minggu lalu, mengadakan open house dengan mengundang anggota masyarakat non Muslim untuk menghadiri acara buka puasa bersama.

Dalam kesempatan itu Moussa Elbayoumy, direktur the Islamic Center of Lawrence menjelaskan kepada para tamu mengenai makna puasa, tata cara pelaksanaan ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Lebih dalam, semangat yang ingin dibawa Muslim Amerika selama bulan Ramadhan bukan hanya melaksanakan ibadah wajib ini, tetapi juga terpanggil untuk melakukan berbagai upaya untuk "memerangi" pandangan maupun penilaian negatif terhadap Islam.

Mesjid-mesjid, Islamic Center dan sekolah Islam dihimbau untuk meningkatkan usaha mengikis citra negatif terhadap Muslim yang meningkat di AS setelah tragedi September 11. Sebuah survei menemukan bahwa satu dari empat orang Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Muslim. Mayoritas orang Amerika setuju dengan pernyataan bahwa orang Islam mengajarkan anak-anak mereka kebencian dan orang Islam beranggapan kehidupan tanpa Islam berkurang maknanya. Temuan survei itu menimbulkan kekecewaan di kalangan komunitas Muslim.

"Saya mengetahui ada persepsi negatif dan sentimen anti-Muslim di negeri ini, tetapi saya terkejut dengan hasil survei tersebut,&Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Fir’aun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.

Dalam ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Fir’aun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling “unjuk kebolehan”.

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Fir’aun ini pun mantab menyatakan beriman.

Fir’aun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Fir’aun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.

Belajar Muhammadiyah

Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Fir’aun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Dalam perih, Asiyah berutur, “Wahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.”

Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.

Belajar Muhammadiyah

Fir’aun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan  menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.

Perilaku Fir’aun ini juga menandai  adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Fir’aun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.

Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Fir’aun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, News, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Faktor kesukuan di jazirah Arab merupakan faktor yang turut mempengaruhi mengapa konflik di sana berlangsung tiada henti dari dulu sampai sekarang.?

KH Said Aqil Siroj yang menempuh pendidikan sarjana sampai doktor di Arab Saudi menjelaskan, partai politik maupun mazhab keagamaan basisnya kesukuan.?

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

“Fanatisme kesukuan masih tebal sekali. Kalau kepala sukunya syiah, maka syiah semua. Kalau wahabi, ya wahabi semua. Kayak suku Tamimi, itu wahabi semua sejak dulu. Jadi kalau ada konflik mazhab, maka konfliknya menjadi konflik suku atau konflik politik,” katanya.

Maka, ketika ada perang mazhab atau perang politik, para ujungnya juga perang suku, sebagaimana yang terjadi di Yaman, yang saat ini muncul kesan kuat adanya peperangan antara kelompok sunni dan syiah, yang masing-masing didukung oleh Saudi Arabia dan Iran.

Belajar Muhammadiyah

Dijelaskannya, pandangan masyarakat Arab tradisional tentang kepemimpinan adalah seorang pemimpin menduduki jabatannya sampai meninggal. Mereka tidak mempersoalkan berapa lama menjadi presiden, yang penting adalah jujur atau tidak sebagaimana para khalifah yang dulu memimpin sampai meninggal.?

Perubahan paradigma terjadi ketika banyak generasi muda yang pulang belajar dari Barat yang ingin mentransfer sistem demokrasi melalui Arab Spring, tetapi faktanya hal tersebut ternyata tidak mudah. Libya, Yaman dan Suriah kini menjadi negara yang dalam kondisi perang. Mesir meskipun kelihatannya damai, tetapi semu.

Belajar Muhammadiyah

Mengenai hubungan antara Kerajaan Saudi dan ulama Wahabi, keduanya juga tidak selalu harmonis, tetapi mereka saling membutuhkan. Kerajaan Saudi tak akan kuat tanpa dukungan kelompok ulama wahabi, dan demikian pula sebaliknya.

Yang unik adalah, Kesultanan Oman. Meskipun secara resmi mereka mengikuti mazhab Al Ibadiyah, yang merujuk pada pemuka khawarij ? Abdullah Al Ibadi, tapi tidak ekstrim, sangat moderat, malah berbeda dengan kelompok yang mengaku sunni tapi radikal. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, Anti Hoax, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

Solo, Belajar Muhammadiyah. Menjelang pergantian tahun Hijriah dan Saka, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi Slametan Mapag Suro, Senin (20/10). Acara yang dihadiri sejumlah tokoh dari lintas agama tersebut dipusatkan di Titik Nol Kota Solo, Tugu Pemandengan.

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)
Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

“Kami ingin mengambil spirit dari titik nol ini agar ke depan bisa menghasilkan masyarakat yang lebih baik,” terang Budayawan Ronggojati yang turut dalam acara tersebut.

Prosesi slametan diawali dengan pembacaan doa dan Sholawat Sultan Agungan yang dibaca tujuh ulama keraton. Dilanjut dengan pembacaan Kidungan Dhandanggula yang berisi permohonan meminta keselamatan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng berwarna merah, putih, kuning dan hitam.

Belajar Muhammadiyah

“Kami mencoba menghayati bulan (penanggalan,-red) yang diciptakan Sultan Agung pada 1633 silam. Bulan ini perpaduan Saka dan Hijriah. Dari situ kami memaknai Sultan Agung sejak zaman dahulu sudah mengajarkan nilai keberagaman dalam kebudayaan,” ungkap budayawan Suprapto Suryodarmo.

Belajar Muhammadiyah

Suprapto menambahkan atas semangat ini pula, panitia berinisiatif untuk mengadakan rangkaian kegiatan yang diberi nama Sura Bulan Kebudayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Nusantara, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 07 Desember 2017

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengirimkan surat kepada pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, termasuk lembaga dan badan otonomnya di seluruh Indonesia tentang peringatan Hari Santri Nasional.

Surat tersebut dilampiri isi pidato Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. PBNU mengimbau surat ini dibacakan dalam apel Hari Santri yang digelar serentak di berbagai wilayah di Tanah Air pada 22 Oktober 2017. 

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017

Berikut isi utuh dari pidato bersebut:

Amanat Ketua Umum PBNU pada Peringatan Hari Santri 

Tanggal 22 Oktober 2017



Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

? ? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

? ? ? ? ? ?

? ? 

Hari ini tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan: 

..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).”  

Tanpa Resolusi Jihad NU dan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan ini, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme. Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional (mu’âhadah wathaniyyah). Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa—bukan negara agama,bukan negara suku—yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan. 

Kenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasâmuh), proporsional (tawâzun), lurus (i’tidâl), dan wajar (iqtishâd), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang. Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah. 

Momentum Hari Santri hari ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “nasionalisme bagian dari iman” (? ? ? ?) perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan. Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialisme dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq. Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.

Hari ini santri jugahidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama (? ? ?), jiwa (? ?), nalar (? ?), harta (? ?), keluarga (? ?), dan martabat(? ?) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Selamat Hari Santri 2017. Santri kuat, NKRI hebat.

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

Jakarta, 22 Oktober 2017

Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA.

Ketua Umum

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Lampung Tengah, Belajar Muhammadiyah

Sebagai salah satu kabupaten yang cukup luas di provinsi Lampung, yang terdiri dari 28 kecamatan, potensi pelajar Nahdliyin di Kabupaten Lampung Tengah harus diberdayakan secara maksimal, yakni dengan mengenalkan organisasi Nahdlatul Ulama sejak dini ketika mencari ilmu di madrasah atau sekolah.

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) Kabupaten Lampung Tengah Andi Sobihin, di sela-sela menyampaikan materi ke-IPNU-an dalam agenda Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun pelajaran 2017/2018 di Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Madrasah Aliyah 14 Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, (19/7).

“Jajaran pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Lampung Tengah mengawal MOPDB ini di beberapa komisariat, dengan menjadi pemateri khususnya tentang ke-IPNU-an dan ke-IPPNU-an, seperti di Kecamatan Seputih Banyak, Bumi Nabung, Kotagajah, Punggur, Seputih Raman, Bangunrejo, Rumbia, Seputih Surabaya dan lain-lain,” imbuh alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurai Siwo Kota Metro ini.

Belajar Muhammadiyah

Shinta Nur Baitu selaku Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Lampung Tengah menegaskan, agenda MOPDB ini sangat penting bagi kader-kader pelajar Nahdliyin yang baru saja duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs) atau sederajat, khususnya yang ada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah.

“Dan yang tak kalah penting adalah pelajar NU harus menjadi contoh bagi pelajar-pelajar yang lain, melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah di lingkungannya, sekaligus jangan gampang tergoda dengan fasilitas teknologi informasi, zaman globalisasi saat ini harus sangat hati-hati,” imbuh mahasiswi Institut Agama Islam Ma’arif? Nahdlatul Ulama (IAIM NU)? Kota Metro ini. ?

Belajar Muhammadiyah

Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, mengawali agenda MOPDB, Rabu (19/7)? dengan menonton film “Sang Kiai” di Aula madrasah setempat yang diikuti oleh 209 siswa/siswi.

Anirotul Hikmah selaku Ketua PK IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah mengatakan, dengan menonton film “Sang Kiai” harapan kami adik-adik/kader-kader pelajar NU yang masih duduk di kelas I atau VII mengerti dan memahami sejarah perjuangan dan pengorbanan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam menghadapi para penjajah sekaligus membesarkan jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Kajian, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa

Oleh: Muhammad Makhdum 

Tanggal 22 Oktober 2017 ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Mengutip Milan Kundera, "Perjuangan sejarah adalah melawan lupa," maka Hari Santri Nasional menjadi krusial untuk menyegarkan kembali ingatan sejarah perjuangan kaum pesantren dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. 

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, hanya 53 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, NICA nyaris mencaplok kedaulatan Republik Indonesia. Kedatangan Belanda yang membonceng tentara Sekutu di bawah komado Brigjen A.W.S. Mallaby ternyata memiliki aganda terselubung untuk kembali menguasai bumi pertiwi. Kekuatan militer Sekutu jelas tidak seimbang dengan Indonesia, terlebih ratusan bahkan ribuan pertempuran sebelumnya telah merenggut jutaan nyawa, melahirkan penderitaan dan kerugian materiil yang maha dahsyat. Kondisi negara sangat genting. Mustahil rasanya bangsa Indonesia mampu mempertahankan kembali kemerdekaan yang baru saja diproklamirkannya. 

Dalam situasi demikian, Presiden Soekarno mengirim utusan ke Pesantren Tebuireng Jombang untuk meminta fatwa kepada KH. Hasyim Asyari tentang bagaimana hukum membela tanah air dari penjajah. Mengapa harus pesantren? Karena jelas sejak dulu pesantren telah menjadi basis perjuangan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Singkatnya, pada 22 Oktober 1945, seluruh kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. 

Dalam keterbatasan alat komunikasi pada masa itu, bukan perkara mudah mengumpulkan banyak kiai dalam waktu singkat. Akhirnya, KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Segera setelah seruan itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Tepatnya tanggal 10 Nopember, meletus pertempuran paling sengit sepanjang sejarah yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan. Meski kota Surabaya banjir darah, Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II akhirnya kalah. 

Belajar Muhammadiyah

Berawal dari resolusi jihad itulah terungkap bahwa kemenangan arek-arek Suroboyo dalam “tawuran massal” yang berujung pada tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby bukanlah reaksi spontan rakyat Surabaya dalam menghadapi kedatangan Sekutu. Pertempuran 10 Nopember sebenarnya telah melalui perencanaan yang sangat matang melalui pertemuan para kiai pesantren di bulan Oktober. Sayangnya, rentetan peristiwa sejarah tersebut tidak pernah diakui sebelumnya. Sejarah hari pahlawan selama ini hanya memunculkan adegan dan tokoh tunggal, yaitu Bung Tomo dengan pidatonya yang menggelegar dan membakar semangat rakyat Surabaya. 

Dilihat dari kurva dan kronika sejarah, peristiwa resolusi jihad bukan hanya mengakar pada mata rantai perjuangan yang panjang dan menggerakkan begitu banyak kekuatan rakyat di masa depan, tetapi juga bisa ditarik jauh ke masa Perang Jawa seabad sebelumnya. Menurut sejarawan nusantara Kyai Agus Sunyoto, pemilihan kota pahlawan sebagai tempat mengumandangkan resolusi jihad tidak lain karena Surabaya memiliki latar belakang historis dan sosio kultur yang lekat dengan nilai patriotisme sejak masa perang Majapahit dengan tentara Tar-Tar pada pertengahan abad 15.  

Fakta sejarah tidak boleh dilupakan. Peristiwa resolusi jihad yang diperingati sebagai hari santri nasional merupakan salah satu ikhtiar untuk melawan amnesia sejarah. Pertama, pengakuan atas jasa para pahlawan dan pendahulu penting bagi generasi sekarang agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Kedua, bahwa membela tanah air sangat bertalian erat dengan jihad membela agama. Hal ini sangat relevan mengingat belakangan ini sering muncul gagasan berdasarkan doktrin agama yang cenderung mengabaikan nilai-nilai keindonesiaan. Ketiga, resolusi jihad dapat meneguhkan kembali komitmen kebangsaan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. 

Belajar Muhammadiyah

Jadi, tidak benar bahwa peringatan hari santri nasional akan menciptakan dikotomi antara kalangan santri dan bukan santri, apalagi antara Islam dan non-Islam. Justru hal ini sebagai bentuk penegasan bahwa kaum santri bukanlah kelompok sub kultur yang menutup diri dan ekskusif, tetapi mereka juga bagian dari warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membela tanah air tercinta. Dari perjuangan kaum santri kita memetik pelajaran bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Bahwa Pancasila justru memberikan kesempatan yang sangat luas untuk menjadi manusia yang beragama. Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat. 

*) Penulis adalah Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, saat ini tinggal di Tuban.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib Belajar Muhammadiyah

NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial

Saat ini, kurang lebih tiga puluh empat persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Iya, generasi yang lahir di antara tahun 1981 hingga 2000. Dengan demikian, generasi milenial adalah mereka yang berusia 15 sampai 35 tahun. Generasi yang berada pada masa produktivitas yang tinggi. Dengan jumlah yang sedemikan besar, generasi milenial inilah yang mempengaruhi wajah daripada Indonesia.

Di dalam bukunya yang berjudul Generation M: Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia, Shelina Janmohammed menuliskan beberapa contoh generasi muslim milenial di negara-negara Barat. Mereka berpendidikan tinggi, memiliki karir yang cemerlang, berhijab (bagi perempuan), fashionable, gaul, cerdas, dan modern. Mereka juga cinta perdamaian dan mengecam keras terorisme.

NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial

Lantas, bagaimana dengan generasi muslim milenial di Indonesia? Seperti apakah karakter mereka? Bagaimana pandangan keagamaan mereka? Apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka? 

Untuk menjawab itu, jurnalis Belajar Muhammadiyah A Muchlishon Rochmat mewawancarai Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center dan juga penulis buku Millenial Nusantara. Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana dengan sebaran generasi Muslim milenial?

Generasi ini paling banyak ada di kota daripada di desa. Secara sebaran penduduk, penduduk kota lebih banyak daripada penduduk desa. Sehingga kalau kita lihat, generasi ini akan sangat mewarnai segala aspek di perkotaan. Karena kebanyakan berada di kota, maka muslim milenial ini sangat modern.

Belajar Muhammadiyah

Seperti apa karakter dari generasi Muslim milenial ini?

Generasi ini mengkonsumsi internet paling banyak jika dibandingkan dengan generasi-generasi yang lainnya seperti generasi baby boomers dan generasi x, maka pola pikir generasi milenial ini sangat berbeda. Mereka mendapatkan banyak informasi dari internet dan hal itu membentuk karakter mereka. 

Karakter generasi ini itu ada tiga. Pertama kreatif. Pola pikir mereka itu penuh dengan ide dan gagasan. Hal ini dibuktikan dengan maraknya start-up. Kedua, confident. Mereka tidak hanya kreatif saja tetapi juga berani dan percaya diri untuk mengeksekusi ide-ide tersebut. Ketiga, connected. Terhubung antara satu dengan yang lainnya, baik di dunia nyata maupun maya. 

Maka dari itu, pola pikir milenial ini sangat terbuka, lebih individualis, dan lebih tertarik kepada sesuatu yang baru.

Belajar Muhammadiyah

Soal keagamaan, mereka ini cenderung kemana?

Muslim milenial hidup di tempat yang tidak komunal karena berada di kota. Ini menjadi tantangan berat bagi NU yang amaliyahnya bertumpu pada komunitas yang komunal agraris. Sehingga praktik-praktik kegamaan yang sifatnya komunal akan mulai ditinggalkan oleh generasi ini karena faktor waktu, kesempatan, dan lainnya. 

Kehidupan di kota adalah beragam dan multikultur. Sehingga pertarungan wacana keagamaan lebih terbuka. Kota adalah pasar terbuka bagi semua aliran keagamaan dan ideologi. Sehingga wajah Muslim milenial itu tidak monolitik. Sekarang, muslim milenial NU itu bisa tidak mewarnai di kota. Kalau tidak bisa, maka mereka yang akan mewarnainya. 

Apakah ada survei tentang hal ini, pak?

Hasil survei kita yang terbaru menunjukkan bahwa ritual keagamaan di kota itu masih relatif ritual Nahdliyin. Namun hanya sebatas ritual saja, sedangkan pola pikir dan pandangan keagamaannya berbeda dengan NU. 

Ada tantangan bagi NU di sana?

Iya, ada beberapa tantangan yang dihadapi NU terhadap generasi muslim milenial ini. Pertama, menyelaraskan antara perilaku keagamaan dengan pandangan kebangsaan. Mereka amaliyahnya NU, tetapi pandangan kebangsaannya tidak sama dengan NU. Ini yang menjadi tantangan.

Kedua, tantangan ekonomi. Generasi milenial ini adalah usia produktif, maka perhatian terhadap ekonomi jauh lebih tinggi. Apakah NU mampu memfasilitasi mereka untuk mendapatkan keamanan dari sisi ekonomi. Seperti melakukan pelatihan-pelatihan ekonomi untuk generasi milenial atau memberikan akses pekerjaan kepada mereka. Jika mereka sudah mendapatkan keamanan ekonomi, maka mereka akan bisa menjadi NU yang sesungguhnya.

Ketiga, tantangan sosial. Generasi ini memiliki sifat yang individualis, maka dari itu susah untuk mengumpulkan mereka dalam suatu acara. Oleh karena itu, seharusnya NU lebih banyak hadir di komunitas-komunitas mereka. Jangan mengumpulkan mereka berdasarkan geografi, tetapi berbasis komunitas. Seperti komunitas pecinta potografi, ibu-ibu arisan, dan lainnya 

Jadi apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka?

Organisasi seperti NU harus mendekat kepada mereka, jangan harap mereka yang akan mendekat kepada NU. Jadi, NU yang proaktif mendekat ke mereka. Misalkan kenapa NU tidak membuat acara tahlil, maulid nabi, istighotsah, dan lainnya di mall. Poinnya adalah kita harus proaktif mendekat kepada mereka. 

Termasuk aktif di media sosial?

Iya, termasuk aktif di media sosial. Media sosial dan internet adalah panggung terbuka. Semua ideologi dan pemikiran bisa masuk di sana dan tidak ada yang bisa melarangnya. Kalau NU tidak hadir di media sosial, maka wajah Islam yang tampak adalah wajah Islam model mereka. 

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka?

Pertama, dakwah dengan menggunakan bahasa mereka. Generasi ini sangat aktif membicarakan tiga hal yaitu musik dan film, olahraga, dan IT (internet, sosial media, dan lainnya). Untuk mendekati generasi milenial ini sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa mereka. Bahasa olahraga, bahasa musik, bahasa film, dan bahasa internet. Jangan berbicara soal politik terus menerus karena itu tidak akan masuk ke mereka. Meskipun kita bicara soal agama, tetapi bungkusnya adalah tiga hal itu. 

Kedua, generasi ini tidak suka diindoktrinasi. Mereka lebih suka jenis komunikasi yang dua arah seperti diskusi dan dialog. Tentu saja dengan menggunakan ustad atau kiai yang seumuran dengan mereka. Maka dari itu, sebaiknya NU mengorbitkan ustad-ustad muda. Secara keilmuan NU mendalam, tetapi kurang diorbitkan dan dikemas dengan bagus. 

Ketiga, aktif di media sosial. Teman-teman di NU harus aktif di media sosial. Kalau menulis status lima kali sehari, mbok ya satu atau dua status tersebut tentang amaliyah NU. Jangan semua status berisi tentang narsisme. Mungkin NU bisa menginisiasi gerakan satu status setiap hari tentang NU. Generasi milenial ini tidak suka yang bertele-tele, mereka lebih suka yang visual maka dibuatlah video-video pendek. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib Belajar Muhammadiyah

Jumat, 10 November 2017

Kiai Said Ungkap ‘Muhammad’ di Balik Nama Cheng Ho

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, nama lengkap Ma Cheng Ho adalah Muhammad Cheng Ho.

Kiai Said Ungkap ‘Muhammad’ di Balik Nama Cheng Ho (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Ungkap ‘Muhammad’ di Balik Nama Cheng Ho (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Ungkap ‘Muhammad’ di Balik Nama Cheng Ho

?

“Ma-nya itu Muhammad,” kata Kiai Said saat memberikan sambutan dalam acara acara Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama Kedutaan Besar Tiongkok dan PBNU di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta, (2/6).

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah itu menerangkan, Ma Cheng Ho adalah seorang penjelajah laut yang ulung. Tercatat, Cheng Ho pernah mengunjungi wilayah Nusantara sebanyak tujuh kali dan beberapa negara lainnya meski hanya menggunakan kapal layar.

?

Belajar Muhammadiyah

“Perjalanannya ditulis sekretarisnya namanya Ma Hwan. Ke Nusantara tujuh kali. Ke Semarang, Palembang, Sumatera Utara, Sulawesi, Filipina Selatan, Malaysia, Sri Lanka, Bangladesh, India, Oman, Jeddah, Mekkah, Afrika, dan balik lagi ke China dengan kapal layar,” urainya.

? ?

Oleh karena itu, Kiai Said mengaku salut atas apa yang dilakukan oleh Ma Cheng Ho. Ia menilai, Ma Cheng Ho adalah orang yang diberi kekuatan Allah lahir dan batin.

?

Belajar Muhammadiyah

“Ma Cheng Ho itu diberi kekuatan Allah lahir batin. Kuat fisiknya, kuat imannya. Itu namanya waliyullah,” ungkap Kiai Said yang belum lama ini berkunjung ke Tiongkok dan menziarahi sejumlah tempat bersejarah di sana.

Ma Cheng Ho adalah seorang kasim muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming yang berkuasa pada tahun 1403-1424 M.

?

Ia adalah seorang bersuku Hui, suku yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Saat pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta kepada lembaga penyiaran untuk tidak menayangkan isi siaran yang berisi serangan dan upaya menyalahkan suatu amalan dan pandangan keagamaan tertentu dalam Islam.

Demikian disampaikan Idy Muzayyad, komisioner KPI Pusat, merespon pengaduan publik terhadap isi siaran yang cenderung menganggap sesat sebuah pandangan agama.

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan

“Media penyiaran tidak boleh mempertentangkan hal semacam itu di ruang publik media, apalagi melakukan penghakiman, karena dapat menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan,” ungkapnya kepada Belajar Muhammadiyah, Kamis (11/4).

Idy menjelaskan, dalam setiap agama dan keyakinan seringkali terdapat perbedaan pandangan yang bersifat khilafiyyah dan tidak bisa dipaksakan dan saling menyalahkan. Justru sebaliknya perlu ditekankan sikap saling menghormati dan memahami pandangan keagamaan masing-masing.

Belajar Muhammadiyah

Apalagi Indonesia ini merupakan bangsa dengan kebhinekaan yang tinggi, sehingga penyeragamaan merupakan hal yang tidak mungkin. Begitupun dengan pandangan keagamaan Islam, yang terdapat perbedaan untuk hal-hal yang bersifat cabang (furu’iyah) bukan pokok (ushuliah).

”Misalnya detail tatacara peribadatan. Tahlil, ziarah kubur, shalawat, tawassul, maulid merupakan bagian dari amalan riil umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, sebagai akulturasi kebudayaan yang dibolehkan,” imbuhnya.

KPI jauh-jauh hari sudah mengantisipasi hal demikian dengan memunculkan pasal terkait pandangan keagaman ini dalam pasal 7 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Stanar Program Siaran (P3SPS).

Dalam pasal P3 disebutkan bahwa “Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan, mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial ekonomi”.

Belajar Muhammadiyah

Sedang dalam? Standar Program Siaran (SPS) pasal 7 dinyatakan bahwa materi agama pada program siaran wajib memenuhi ketentuan “tidak berisi serangan, penghinaan dan/atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta menghargai etika hubungan antarumat beragama”.

Dalam SPS poin berikutnya menyebutkan keharusan media penyiaran untuk “menyajikan muatan yang berisi perbedaan pandangan/paham dalam agama tertentu secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan”.

Menanggapi aduan masyarakat dan berdasarkan pemantauan terhadap program Khazanah Islam Trans7, maka KPI akan mengambil langkah sesuai dengan UU Penyiaran, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan.

“Kita juga segera memanggil penanggung jawab program yang menayangkan siaran tersebut,” imbuh Idy.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Bahtsul Masail, Habib Belajar Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Di Tiap Madrasah Maarif Diharapkan Berdiri IPNU-IPPNU

Jepara, Belajar Muhammadiyah. IPNU-IPPNU merupakan organisasi yang mampu membentengi pelajar NU dari serangan radikalisme. Sebab dengan bergabung di dalamnya pelajar didoktrin ke-NU-an, ke-Aswaja-an, dan ke-Indonesia-an.

Pernyataan ini dilontarkan Fatkhul Huda, Kepala Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 02 Jepara dalam Sosialisasi Mopdik dan Pendirian Komisariat IPNU-IPPNU yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara di aula Lembaga Pendidikan Maarif NU Jepara, Jawa Tengah, Kamis (25/6) pagi.

Di Tiap Madrasah Maarif Diharapkan Berdiri IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tiap Madrasah Maarif Diharapkan Berdiri IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tiap Madrasah Maarif Diharapkan Berdiri IPNU-IPPNU

Membentengi pelajar dengan IPNU-IPPNU, lanjutnya, berarti memperjelas “kelamin” peserta didik. Jika tidak dibentengi dengan matang jangan salahkan jika pelajar NU bergabung dengan ISIS dan berangkat ke Syria.

Belajar Muhammadiyah

IPNU-IPPNU dengan madrasah yang bernaung di LP Maarif memiliki satu visi dan misi. Tidak ada sekat. Sehingga perlu dikembangkan. “Kita harus membangun IPNU-IPPNU dari madrasah Ma’arif kita,” tegas Huda yang juga kepala MTs Safinatul Huda 01 Sowan Kidul, Kedung, Jepara.

Hal lain dikemukakan H Sugiwanto. Kepala Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 02 Jepara ini menegaskan IPNU-IPPNU merupakan jenjang kaderisasi di tubuh NU. Dengan mengikutinya pelajar menjadi generasi cerdas dengan pengetahuan umum dan ideologi Aswaja yang kuat.

Belajar Muhammadiyah

Kepala Kemenag Jepara, H Muhdi mendukung MTs dan MA Maarif yang bernaung di KKMTs dan KKMA 02 Jepara untuk mengelola IPNU-IPPNU di madrasah. “Lebih afdolnya MTs dan MA Maarif ada IPNU-IPPNUnya,” jelasnya.

Sedangkan yang mewajibkan adanya IPNU-IPPNU baginya ialah Kepala KKMTs dan KKMA 02 yang menaungi madrasah-madrasah Maarif. Senada dengan Sugiwanto, mantan Ketua PCNU Boyolali ini menambahkan IPNU-IPPNU mempunyai hirarki yang jelas.

“Agar menjadi kader yang sistematis diawali dari IPNU-IPPNU. Ke atasnya lagi Ansor, NU dan Fatayat serta Muslimat,” lanjutnya.

Muhammad Khoironi, Ketua IPNU Cabang Jepara mengharap 34 MTs dan 58 MA yang bernaung di lingkup LP Maarif Jepara memiliki IPNU-IPPNU di madrasah masing-masing.

Adanya IPNU-IPPNU di madrasah Maarif tidak lepas dari empat aspek hukum. Hasil Kongres PP IPNU-IPPNU tahun 2003 di Surabaya mengembalikan basis IPNU-IPPNU dari desa ke madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Hasil Muktamar NU di Makassar tahun 2005 mengamanatkan pembentukan PK IPNU-IPPNU di madrasah, sekolah dan pesantren.

Surat Instruksi PP IPNU No.159/PP/A/XVII/7354/II/2014 tentang instruksi pendirian pimpinan komisariat. Serta surat dari PP LP Maarif No.133/PP/SU/LPM-NU/I/2013 tanggal 21 Januari 2013 tentang permohonan memberikan dukungan pendirian komisariat IPNU dan IPPNU.

“Kita wajib membentengi pelajar NU dari gempuran radikalisme yang semakin merebak di dunia pendidikan. Sehingga IPNU-IPPNU bagi kami wajib ada di madrasah,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 03 November 2017

Seniman Ini Dorong Produktivitas Karya Sastra Masyarakat

Banyumas, Belajar Muhammadiyah 

Merebaknya media-media maya yang semakin mempermudah orang untuk mempublikasikan sebuah tulisan atau karya sastra membuat kualitas dari sebuah karya sastra tersebut perlu dipertanyakan. Pasalnya di media maya banyak sekali karya sastra yang masih belum bisa disebut sastra.

Ons Untoro, Pegiat Sastra Bulan Purnama Yogyakarta mengatakan hal tersebut dalam acara Sarasehan dan Pertunjukan Sastra Banyumas Besar, Sabtu (29/7) malam di Rumah Makan Selera Roso Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. 

Seniman Ini Dorong Produktivitas Karya Sastra Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Seniman Ini Dorong Produktivitas Karya Sastra Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Seniman Ini Dorong Produktivitas Karya Sastra Masyarakat

"Kalau yang kita miliki adalah emas, maka kemanapun kita bawa akan menjadi emas," kata Ons Untoro menganalogikan kualitas sebuah karya sastra yang ada di media. 

Menulis sastra atau puisi itu tidak mudah dan bukan asal nulis langsung jadi, tapi melalui proses pergulatan batin penulisnya. "Tidak asal-asalan nulis langsung jadi sastra," lanjutnya. 

Belajar Muhammadiyah

Karena, tambah Kuntoro, sebuah karya sastra dilihat kualitasnya bukan dimana dimuatnya. "Di facebook misalnya, kalau bagus ya bisa dimuat,".

Selain itu, Kuntoro juga menghimbau kepada teman-teman komunitas sastra di Banyumas untuk lebih giat mempublikasikan karyanya di media masa, juga rajin mengikuti sayembara menulis yang banyak digelar di berbagai tempat.

"Jangan takut menulis di manapun," pangkas Kuntoro. 

Belajar Muhammadiyah

Sarasehan yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Komunitas Getek Artinspiration Ajibarang tersebut berlangsung dengan meriah, banyak seniman serta sastrawan dan komunitas hadir malam itu. 

Diakhir acara para seniman Banyumas bergantian maju kedepan membacakan puisinya satu persatu, sehingga membuat acara sarasehan berlangsung semakin meriah. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 02 November 2017

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Sekitar 500 personil Banser dikerahkan untuk menjaga keamanan pertandingan final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 antara Darul Huda Ponorogo melawan Darul Hikmah Cirebon. Duel laga puncak ini akan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), pukul 19.00 WIB, Ahad (29/10).

Satkocab Banser kota Bandung Ahmad Sanusi menjelaskan personil Banser yang bertugas kebanyakan terdiri dari Satkorwil Jawa Barat, khususnya kota Bandung, kabupaten Bandung, Cianjur, Garut, dan kabupaten Bandung Barat.

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser Dikerahkan Jaga Keamanan Final Liga Santri

"Yang akan disiapkan untuk penjagaan di pintu-pintu, pengawasan massa supaya rapi," jelas Sanusi kepada Belajar Muhammadiyah saat ditemui di pinggir lapangan Stadion GBLA, Ahad siang (29/10).

Sanusi berharap Liga Santri Nusantara agar terus berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya. 

Belajar Muhammadiyah

"Sukses untuk santri, dan selamat Hari Santri Nasional," pungkas Sanusi.

Sebagaimana dalam jadwal panitia, sebelum laga final rencananya akan diadakan Shalat Maghrib berjamaah dan doa bersama yang akan dipimpin oleh Rais Am PBNU KH Maruf Amin. Adapun masyarakat dipersilakan hadir ke stadion, tanpa dipungut biaya tiket masuk. (M. Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Habib Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock