Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Ayat Kebohongan

Sebagai dai kota, Kiai Durakman beruntung dapat kesempatan ceramah di sejumlah kawasan elite, mulai dari kompleks perumahan anggota DPR sampai kalangan pengusaha.

Ramadhan lalu giliran ia mengisi pengajian tiap Selasa di sekretariat para petinggi partai. Kepada jamaahnya itu, Kiai Durakman mengingatkan, tema pengajian pada pertemuan selanjutnya.

Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Kebohongan

"Selasa depan kita akan membahas tentang kebohongan. Untuk memudahkan pemahaman, saya imbau seluruh jamaah membaca surat Al-Maidah ayat 121 berikut terjemahannya," pintanya.

Belajar Muhammadiyah

Para politisi itu pun serentak menyatakan siap.

Ketika saat pertemuan pekan berikutnya tiba, Kiai Durakman langsung bertanya, "Siapakah di antara bapak/ibu yang sudah membaca al-Maidah ayat 121?"

Belajar Muhammadiyah

Semua hadirin angkat tangan.

Kiai Durakman meringis. "Luar biasa. Padahal surat al-Maidah cuma berisi 120 ayat."

"Baiklah..." Lanjut Kiai Durrakman, "Saya akan mulai pengajian dengan menjelaskan azab-azab bagi orang yang gemar berbohong." (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Sunnah, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Rabu, 14 Februari 2018

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menggelar lalilatul ijitma’ ke 40 di aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan Nomor 6 Kota Mataram pada Jumat malam (4/9).

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Kegiatan bulanan NU Wilayah NTB dimulai selepas shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan istighotsah oleh santri Al-Manshuriah yang diikuti ratusan Nahdliyin. Tampak para mahasiswa baru UNU NTB sekitar 200 orang yang beberapa waktu lalu mengikuti OSPEK.

“Saat ini kita sudah miliki Universtitas (UNU) tersendiri di daerah. Sejauh ini memang banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata TGH. Acmad Taqiuddin Mansur, Ketua PWNU NTB saat sambutan.

Belajar Muhammadiyah

Tua Guru menyebut lembaga-lembaga itu seperti di Bagu (institute Qomarul Huda Bagu), di Bonder (institute Qomarul Huda Bagu II Bonder), di Lombok Timur (STAINU), dan di Bima juga ada. Namun demikian, itu semua masih bersifat Yayasan.

Belajar Muhammadiyah

Oleh karena itu, lanjutnya, Universitas Nahdlatul Ulama yang baru beberapa hari menggelar OSPEK menjadi harapan baru bagi generasi bangsa, khususnya warga nahdliyin karena membuka program study yang masih langka di NTB.

“Dari semua jurusan, hanya Ekonomi Islam (EI) yang berbasis agama. Selain itu, umum semua yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa kini.”

Ia meminta persatuan dan kesatuan bagi warga nahdliyin karena UNU adalah simbol NU.

Sementra itu, Sekretaris PWNU NTB H. Lalu Winengan dalam pengantarnya meminta kepada pelaksana UNU agar mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti lailatul ijitim’.

“Saya minta kepada birokrasi bagian akademik untuk mewajibkan semua mahasiswa UNU untuk mengikuti ijtima’,” katanya.

Menurut Winengan, lailatul ijitma’ penting diikuti oleh mahasiswa UNU agar mengenal para pengurus NU, mengenal siapa perintis NU dan juga mengenal semua tokoh-tokoh NU. “Jangan sampai mahasiswa UNU tidak mengenal siapa tokoh NU,” harapnya.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tata Kota Lombok Barat ini nanti akan mengadakan Turnamen Futsal UNU Cup yang terbuka untuk umum.

“Insya Allah untuk juara satu kita berikan 5 juta. Dan setiap tahun UNU CUP harus diselenggarakan. Kepentingan kami yaitu UNU dikenal,” terangnya. (Hadi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Budaya Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU

Polewali Mandar, Belajar Muhammadiyah. Salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat akan menghibahkan tanahnya seluas 3 hektar untuk pembangunan madrasah unggulan di Sulawesi Barat.

Madrasah tersebut akan berada di bawah manajemen Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Sebelum proses penyerahan tanah ke PBNU, waqif yang diketahui bernama H Nuhung itu berkordinasi dengan Kemenag dan BPN Polewali Mandar untuk mengurus sertifikat, Selasa (29/11).

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Masyarakat Polewali Mandar Hibahkan 3 Hektar Tanah ke PBNU

"Banyak yang tertarik dengan tanah Pak H Nuhung ini, namun beliau tetap istiqomah ingin mewakafkan tanah tersebut kepada PBNU, dalam hal ini LP Ma’arif NU," ungkap H Basnang Said, salah seorang tim yang ditunjuk oleh LP Maarif Sulawesi Barat.

Dikatakannya, dari sisi keagamaan, masyarakat Polewali Mandar 100 persen berafiliasi dengan NU ditambah lagi H Nuhung adalah warga NU. Maka sangat wajar jika waqif lebih memilih PBNU sebagai nadzirnya dengan harapan tanah yang diwakafkan tersebut dapat digunakan untuk madrasah yang akan menampung pelajar yang berprestasi namun dari sisi ekonomi tidak berkecukupan.

Belajar Muhammadiyah

"Di atas tanah ini rencananya akan dibangun lembaga pendidikan yang lengkap dari mulai RA sampai MA dan SMK bahkan jika memungkin sampai Perguruan Tinggi NU," jelas Basnang.

Kecamatan Luyo, kata dia, merupakan salah satu kecamatan di Polewali Mandar yang punya Sumber Daya Manusia (SDM) cukup potensial hanya saja sarana prasarana pendidikan belum banyak tersedia sehingga diharapkan beberapa tahun ke depan Kecamatan Luyo bisa menjadi daerah yang maju.

"Penyerahan tanah wakaf ini rencananya akan dilakukan pada saat Rakernas Ma’arif NU pada 6-8 Desember 2016 di Jakarta, semoga sertifikatnya sudah jadi dan akan dibawa oleh perwakilan Ma’arif NU Sulbar," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Budaya, News Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Pawai Tarhib sambut Ramadhan, Jumat (3/6) di Kota Mataram. 15 Ribuan jamaah ? membanjiri halaman Islamic Center untuk mengikuti acara Pawai Tarhib menyambut Bulan Suci Ramadhan 1437 hijriyah tersebut.

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Ribuan jamaah itu berasal dari pegawai lingkup pemerintah Provinsi NTB, Ormas, Mahasiswa, Pelajar, Masyarakat Umum, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) NTB.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, HM Zainul Majdi mengatakan, kebahagiaan menyambut Bulan Suci Ramadhan akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Selain itu, Tarhib Ramadhan yang baru pertama kali digelar ini akan menjadi penyemangat bagi masyarakat, menyambut digelarnya MTQ ke-26 tingkat nasional bulan Juli 2016 mendatang di Mataram.

"Tarhib itu diambil dari kata Ar-Rohbu, artinya kelapangan maka tarhib itu secara inti maknanya adalah menggambarkan suasana hati kita yang lapang, jiwa dan diri kita pada saat Ramadhan itu datang menghampiri kita,” tutur Zainul Majdi pada saat melepas peserta pawai.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan Islamic Center NTB untuk kegiatan yang positif. Selain itu, dia mengajak semua masyarakat memperbanyak doa untuk NTB agar berbagai program yang dicanangkan bisa terwujud, termasuk dalam mewujudkan target 15 medali emas pada PON mendatang.?

Kegiatan Tarhib diikuti Gubernur dan pejabat lingkup pemerintah provinsi NTB itu melintasi Jalan Pejanggik, Jalan pendidikan dan kembali finish di Islamic Center. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Pahlawan, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Oleh KH MA Sahal Mahfudh . Al-Quran yang telah diwahyukan dan diturunkan Allah Swt kepada RasulNya yang terakhir, ayat demi ayat selama 23 tahun, mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan kitab-kitab samawiyah lain sebelumnya. Ciri-ciri itu antara lain al-Mujiz, artinya mempunyai kekuatan melemahkan. Dari segi nilai sastra dan gramatikanya yang tinggi, sastrawan mana pun tidak mampu menandinginya, meski pada waktu itu banyak yang mencoba membuat al-Quran buatan. Ciri lain ialah, membaca al-Quran saja tanpa memahami arti dan maknanya, dihitung sebagai ibadah.

Al-Quran yang merupakan sumber utama dan pertama bagi ajaran Islam, pada dasarnya mengajak semua manusia agar mau menghambakan dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT dengan aqidah dan syariatNya, serta berakhlak mulia baik bagi Allah mau pun dalam pergaulan hidup dengan sesama manusia dan makhluk lain. Sebagai dasar orientasi hidup manusia, al-Quran mengacu ke arah tumbuhnya inspirasi yang terefleksikan dalam sifat, sikap dan perilaku yang inheren pada eksistensi dan proses hidup manusia sebagai titah. yang akrom.

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Pada masa pembangunan, kontekstualisasi al-Quran menjadi penting. Pembangunan manusia yang selalu menjanjikan kesejahteraan, bahkan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup manusia, dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, politik dan utamanya aspek agama. Potensi, profesi dan berbagai wawasan keagamaan dan sosial tertata dalam suatu sistem dan mekanisme yang terarah.

Kualitas manusia yang menyangkut berbagai aspek, dikelola dengan dukungan sumber daya manusia sendiri dan kekuatan dari luar dirinya. Dalam hal ini al-Quran sebagai sumber motivasi, diletakkan sebagai penyeimbang aqidah, syariah dan akhlaq karimah.

***

Manusia (bani Adam) oleh Allah SWT dalam al-Quran disebut mempunyai karamah (kemuliaan) dan kehormatan di atas semua makhluk lainnya. Nilai lebih ini bermakna sebagai titik pembeda dan makhluk lain, tentu saja dengan konsekuensi yang berat, bahkan teramat berat. Karena, pada diri manusia terdapat nafsu yang tidak selamanya bisa diajak kompromi untuk melestarikan karamah tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Nafsu inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada kediriannya dan sering membuat manusia kehilangan nilai karamahnya. Salah satu aspek dari kekaramahan itu adalah kemampuan fisik dan rasio. Kemampuan inilah yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus memacu ke arah pencapaian kualitasnya, manakala dibarengi kemauan berikhtiyar.

Namun di sisi lain—meskipun memiliki nilai karamah—manusia oleh al-Quran disebut abdu. Abdu yang berarti hamba, menuntut tanggung jawab yang melekat pada diri manusia. Dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, manusia mukallaf diberi berbagai taklif (tanggung jawab) yang harus dilaksanakan menurut ketentuan dan kemampuan berikhtiyar.

Sejauh mana manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu ia mempertahankan nilai karamahnya. Sejauh mana manusia menghambakan dirinya terhadap Allah SWT, sejauh itu pula manusia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abdu. Ini berarti, manusia di dalam hidup dan kehidupannya selalu harus beribadah kepada Allah, karena Allah tidak menciptakan jin dan mausia kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Meskipun manusia berstatus sebagai hamba, namun ia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, satu di atas yang lain, dalam hubungannya secara vertikal dengan Allah mau pun hubungan horisontal antar sesama manusia dan alam lingkungan. Khalifah sebagai pengganti, diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan posisinya. Namun wewenang itu pada dasarnya adalah tugas yang harus diemban.

Belajar Muhammadiyah

Tugas itu dalam al-Qur an disebut imaratul ardli, di samping ibadatullah. Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia melakukan imarah (pengelolaan dan pemeliharaan) di atasnya. Karena manusia di dalam melaksanakan wewenang dan tugas imarah-nya sering berbuat sewenang-wenang, bahkan merusak lingkungan dan tidak mengindahkan manusia lain yang berada pada posisi di bawahnya, maka Allah selanjutnya memerintahkan manusia agar mohon ampunan Allah dengan bertaubat.

Imaratul ardli yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekadar membangun tanpa tujuan, apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan tugasnya yang pertama, yaitu ibadatullah. Lebih dari itu adalah sarana untuk mencapai saadatud darain (kebahagiaan dunia dan akhirat) sebagai tujuan hidup manusia.

Dari sinilah dapat dipahami, masyarakat dalam konsepsi al-Quran adalah masyarakat ibadah dan imarah, di mana satu dengan yang lain saling berkait erat. Hal ini telah diisyaratkan Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah dengan membangun secara berurutan, dua bangunan monumental yang hingga sekarang masih dilestarikan bahkan dikembangkan. Dua bangunan itu adalah masjid Quba dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan antara masjid dan pasar, yang secara simbolik merupakan wujud konsepsi manusia seutuhnya.

***

Dalam hal perubahan masyarakat sebagai proses pembangunan, al-Quran mengisyaratkan, Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah keadaannya. Mengubah di sini berarti berupaya dan ikhtiyar yang menuntut berbagai kemampuan yang disebut kualitas. Ini berarti, membangun manusia butuh kualitas. Garis lingkar balik seperti ini terjadi, karena manusia sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Pada dasarnya keberhasilan proses pembangunan itu banyak ditentukan oleh sumber daya manusia.

Allah SWT dalam al-Quran memerintahkan kepada manusia agar mempu berpacu dalam berbagai kebajikan (istibaqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap dan perilaku kompetisi yang sehat untuk mencapai al-khairat, yang berarti memerlukan dinamika tinggi dan lumintu, serta wawasan kreatif dan inovatif yang luas, di samping daya analisis untuk mengantisipasi proses transformasi menuju masa depan.

Pembangunan kualitas manusia dipahami sebagai dinamika, bukan hanya sebagai metode yang menitiktekankan pada program-program. Wujud dinamika ini adalah gerakan-gerakan yang selalu menuntut etos kerja tinggi dari semua lapisan masyarakat. Etos kerja ini dalam al-Quran disebut sebagai ibtigha al-fadlillah (secara optimal berupaya mencari anugerah Allah) atau secara umum disebut sebagai amal shalih. Kehidupan Rasulullah dalam kesehariannya menunjukkan adanya etos kerja yang tinggi. Beliau selalu mempunyai kesibukan, sampai-sampai membantu isterinya menjahit dan memperbaiki sandal. Bahkan beliau dalam sebunh hadits mengatakan, seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan menganggur.

Kualitas manusia pada dasarnya, ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum, potensi yang telah dibekalkan Allah kepada setiap manusia mukallaf adalah potensi rasio dan fisik. Yang pertama berkembang menjadi potensi ilmu pengetahuan dan teknolgi, profesi dan kemampuan rasionalitas lainnnya. Dan yang kedua berkembang menjadi keterampilan, etos kerja dan ketahanan tubuh dengan kesehatan yang prima.

Dalam al-Quran potensi tersebut diformulasikan secara singkat dalam kalimat qawiyyun atau makinun, yang berarti punya quwwah (potensi) atau makanah (ketangguhan). Sebuah firman Allah menyebutkan, "Sebaik-baik orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi dan berkemampuan menerima amanat serta dipercaya". Ayat ini dapat dipahami, bahwa setiap upaya apapun untuk mencapai prestasi menuntut adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas. Rasulullah dalam hal ini mengatakan, "Orang mukmin berpotensi lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang yang lemah".

***

Pembangunan bukan saja membawa perubahan secara fisik, namun juga perubahan transendental. Hal ini antara lain terlihat dari perubahan nilai religius menjadi nilai ekonomis. Artinya, langkah dan gerak manusia yang semula diperhitungkan secara religius, bergeser menjadi diperhitungkan untung ruginya secara materiil belaka. Hampir dapat dipastikan, nilai ekonomis akan makin berkembang pesat pada era tinggal landas. Era di mana kapitalisasi makin merambah berbagai aspek kehidupan dan industrialisasi mulai menjangkau semua aspek komoditas, etos kerja makin meningkat, peran ketrampilan dan modal makin dominan. Perhitungan untung rugi secara materiil makin kuat posisinya. Akibatnya, nilai religius terbentur dan terlempar.

Era tinggal landas memang selalu menjanjikan kehidupan yang menggiurkan dan kesejahteraan yang spektakuler. Namun justru di situlah nilai-nilai iman dan tawakal terancam. Di situ pula unsur ghurur al-dunya makin mendapat banyak peluang untak menggiring nafsu manusia pada puncak keangkaramurkaannya.

Tawakal dan iman terancam oleh posisi ikhtiyar yang makin dominan. Dalam hal ini al-Quran memandang kehidupan dunia ini sebagai materi yang menipu manusia (mata al-ghurur). Makin maju kehidupan dunianya, manusia makin melalaikan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Maka al-Quran memberi petunju akan keseimbangan yang sering diformulasikan dalam kalimat al-wasath dan al-adlu.

Keadilan sebagai konsepsi al-Quran dipahami sebagai keseimbangan dalam kehidupan manusia. Menakuti manusia dengan siksaan Allah, diimbangi dengan sikap optimis terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kewajiban diimbangi dengan hak. Keberanian fisik diim

bangi keberanian mental. Potensi rasio diimbangi potensi fisik. Meskipun al-Quran menunjukkan, seluruh isi bumi ini diciptakan untak manusia, dengan pengertian manusia diberi kebebasan mengolah dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup, namun al-Quran juga memberikan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui agar terjadi keseimbangan, tidak israf (berlebihan) dan tabdzir (mubazir). Sampai pada soal makan dan minum, al-Quran melarang israf dan tabdzir. Tidak boleh melampaui batas kualitas, batas kuantitas, batas maksimal dan minimal, agar terjadi keseimbangan dalam tubuh manusia.

Era tinggal landas harus dilandasi semangat keseimbangan antara etos kerja dan tawakal. Etos kerja dan gerakan-gerakan pembangunan dipahami sebagai ikhtiyar yang pada dasarnya hanya merupakan sarana, karena yang menentukan keberhasilannya adalah Allah dengan qudrah dan iradah-Nya. Tawakal tanpa ikhtiyar akan menimbulkan sikap fatalistik yang berakibat pada munculnya sikap thama (dependen) yang tidak dibenarkan. Sebaliknya, ikhtiyar tanpa tawakal bisa menghilangkan nilai imani. Bila manusia hanya berpegang pada ikhtiyar lalu gagal, ia akan kehilangan keseimbangan, stress dan tidak mustahil putus asa (yasu). Sikap ini dilarang keras oleh al-Quran.

Dalam menghadapi era tinggal landas, perlu potensi pengendalian diri dalam arus transformasi. Hanya dengan pengendalian diri ini, manusia akan dapat eksis pada kediriannya, karamah dan akram. Akram di sisi Allah dalam al-Quran disebut, adalah orang yang paling bertaqwa sesuai dengan statusnya sebagai hamba.

Ini bisa dicapai dengan mengembangkan potensi ruhaniah, iman, aqidah Islamiyah, ketaqwaan yang diformulasikan dalam ajaran syariah Islamiyah dan akhlaq karimah. Potensi ini justru menjadi sarana mengatasi kesulitan dan memberikan jalan keluar serta mendapatkan rizqi tak terduga sesuai dengan jaminan Allah yang dituangkan dalam al-Quran. Ini berarti bahwa era tinggal landas harus diimbangi dengan peningkatan wawasan keagamaan dan kualitas keberagamnan Islam, yang pada gilirannya akan menumbuhkan keseimbangan antara ibadatullah dan imaaratul ardli, antara masjid dan pasar.

?

*) Tulisan ini pernah disampaikan KH MA Sahal Mahfudh pada seminar menjelang MTQ Nasional di Yogyakarta pada 2 Februari 1991. Bisa ditemukan dalam buku "Nuansa Fiqih Sosial", 2004 (Yogyakarta: LKiS) dengan judul yang sudah diubah, "Kontekstualisasi Al-Quran".

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya Belajar Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru

Temanggung, Belajar Muhammadiyah

Dalam rangka menyambut tahun akreditasi dan perubahan dari Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) menjadi Institut Agama Islam NU (INISNU) Temanggung, sejumlah dosen STAINU Temanggung dilantik menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi), Ketua dan anggota Lembaga Bahasa Asing (LBA), Ketua dan Anggota Lembaga Penjamin Mutu (LPM), serta anggota Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) pada Sabtu (30/12/2017).

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Perubahan INISNU, STAINU Temanggung Lantik Pejabat Baru

Mereka adalah Hamidulloh Ibda dan Farinka Nurrahmah Azizah yang dilantik menjadi Kaprodi dan Sekprodi Pendidikan Guru MI (PGMI). Kemudian Lina Indra Kartika dan Husna Nashihin yang dilantik menjadi Kaprodi dan Sekprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Amin Nasrullah dan Fatmawati Sungkawaningrum menjadi Kaprodi dan Sekrpodi Ekonomi Syariah (ES).

Sementara Khamim Saefuddin dan Rindra Puspitasari menjadi Ketua dan anggota LPM, Effi Wahyuningsih dan Buntara Adi Purwanto menjadi Ketua dan Anggota LBA dan Asih Puji Hastuti menjadi anggota LP3M.

Belajar Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Muh. Baehaqi, menegaskan bahwa pelantikan tersebut urgen dilaksanakan karena menghadapi tahun perubahan. 

"Kenapa di tahun ini harus ada semua pejabat? Karena di tahun 2018, baik Prodi maupun Institusi akan melakukan akreditasi. Seumpama sepeda motor, STNK-nya habis. Nyawanya akan habis, maka harus diperpanjang," beber dia.

Untuk institusi, kata dia, di tahun 2018 STAINU Temanggung harus melakukan akreditasi. 

Belajar Muhammadiyah

"Karena kalau tidak ada sertifikat akreditasi maka perguruan tinggi itu abal-abal," beber dia.

Di Jakarta pun, kata dia, kampusnya yang megah banyak yang ditutup karena abal-abal. 

"Di berita banyak ratusan perguruan tinggi yang ditutup baik di bawah Kopertis Kemenristek Dikti maupun di bawah Kopertais Kemenag," beber dia.

Pihaknya menegaskan, bahwa di tahun 1997 dulu, STAINU Temanggung sudah mau merger dari STAINU Temanggung sendiri dan Purworejo. 

"Dulu STAINU Temanggung itu FHI, UNNU, tapi karena tidak dikawal ya berubah," ujar dia.

Maka dari itu, pihaknya berharap pejabat baru STAINU Temanggung bisa melakukan perubahan agar kemajuan semakin nyata. 

"Konsekuensi sekarang, kita harus kembali ke iqra kitabak seperti yang dibaca mahasiswa kita tadi. Kita harus mengabdi, berikrar dalam rangka memajukan perguruan tinggi," lanjut dia.

Dalam mengelola perguruan tinggi, menurut dia, komitmen menjadi hal pokok. "

Maka di tahun 2018 kita target menjadi institut yang nanti menjadi INISNU Temanggung. Kalau ke depan sudah jadi institut, Pembantu Rektor IV Undip dulu sudah ke sini siap melakukan kerja sama. Saya optimis dengan hadirnya dosen-dosen baru semangatnya beda dan semoga bisa mempercepat kemajuan STAINU Temanggung," ujar dia.

Ini adalah perguruan tinggi kita, lanjut dia, kampus kita, mari kita kelola dan besarkan bersama. 

"Kemarin saya sudah koordinasi dengan PCNU untuk menggagas laboratorium PIAUD yang bagus. Karena era sekarang yang mahal malah diparani. Itu nanti 2018 kita garap. Dan satu lagi, 2018 nanti ada klinik yang nanti kit garap juga," papar dia.

Ini adalah peluang yang berada di depan kita, katanya, yang insyaalah bisa membesarkan STAINU Temanggung. 

"Nanti di awal 2018, pertama kali di Jawa Tengah nanti STAINU Temanggung akan melakukan Pendidikan Kader Penggerak (PKP) NU wajib bagi dosen putra dan putri. Saya sudah rembukan dengan PCNU dan koordinasi dengan PBNU untuk melakukan PKP NU. Dan ini nanti akan diwajibkan bagi semua dosen di STAINU, UNU atau semua kampus berlabel NU wajib punya sertifikat PKP NU," papar dia.

Pelantikan yang digelar di aula lantai 3 STAINU Temanggung tersebut dihadiri sejumlah pimpinan, dosen, sivitas akademika dan mahasiswa. (Dul/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock