Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Makna dan Hikmah Shalat

Shalat secara bahasa bermakna doa. Pemaknaan semacam ini dapat kita simak pada ayat Q.S. At-Taubah (9:103):

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna dan Hikmah Shalat

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Adapun secara istilah, Syekh Muhammad bin Qasim al-Gharabili (w. 918H) dalam kitab Fathul Qarib (Surabaya: Harisma, 2005), hal. 11 menyebutkan:

Belajar Muhammadiyah

? - ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

“Dan secara (istilah) syara’–sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rofi’i, (shalat ialah) rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, beserta syarat-syarat yang telah ditentukan”.

Dari dua pemaknaan tersebut kita bisa menemukan titik temu yakni di dalam shalat yang kita kenal, memang terdapat banyak sekali terkandung doa.

Ada banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam shalat, diantaranya seperti yang dirangkum oleh Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 98:

1. Dalam shalat, ada sujud; sebuah posisi di mana kita merendahkan diri hingga mencium tanah. Ini merupakan pengingat bagi kita akan kerendahan kita di hadapan Allah Sang Pencipta, karena sesungguhnya di hadapan Allah, kita hanyalah hamba yang mutlak sepenuhnya milik Allah.

2. Menyadarkan kita bahwa pada hakikatnya tiada yang mampu memberikan pertolongan pada kita selain Allah.

3. Shalat dilakukan sehari semalam sebanyak 5 kali. Ini berarti ada 5 kali dalam sehari semalam kita bisa bertobat, kembali kepada Allah, karena memang pada dasarnya dalam sehari semalam, tidaklah mungkin kita terluput dari dosa, baik disengaja ataupun tidak.

4. Memperkuat akidah dan keimanan kita pada Allah SWT, karena sesungguhnya sehari-hari godaan kenikmatan duniawi dan godaan setan senantiasa mengganggu akidah kita hingga kita lupa akan keberadaan Sang Khaliq yang Maha Mengawasi. Dengan melakukan ibadah shalat, kita kembali mempertebal keyakinan dan keimanan kita, sebagaimana tumbuhan kering yang segar kembali sesudah diguyur hujan.

Demikian pemaparan tentang makna dan hikmah shalat yang kami sarikan dari berbagai sumber, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama Belajar Muhammadiyah

Selasa, 06 Februari 2018

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Yogyakarta untuk pertama kali meluncurkan program “Masjid Sehat” di masjid Jami’ Kodama, Yogyakarta, Senin (20/1). Program ini memosisikan masjid sebagai inspirasi kebersihan dan kesehatan warga.

“Masjid bukan saja dijadikan sebagai tempat ibadah. Dari masjid, kita bisa membangun gerakan masjid bersih dan suci dan jama’ah yang sehat,” terang Ketua LKNU Yogyakarta H Abdul Kadir dalam peluncuran program tersebut.

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Luncurkan Program Masjid Sehat

Peluncuran program ini, menurut H Abdul Kadir, bertujuan menegakkan masjid sehat bukan sekedar slogan. Tetapi mengajak warga untuk berprilaku hidup sehat dan bersih dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat.

Belajar Muhammadiyah

Kesehatan dan kebersihan, sambung Kadir, merupakan ciri utama pribadi Nabi Muhammad SAW.

Belajar Muhammadiyah

“Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk hidup bersih, sehat dan suci. Warga NU diharapkan agen terdepan mengamalkan ajaran kebersihan. LKNU DIY akan berus berusaha mengawal itu,” tegas dokter Kadir.

LKNU menjadikan masjid jami’ Kodama sebagai salah satu masjid binaan LKNU untuk penyuluhan kesehatan, pengobatan gratis, menyebarkan da’i peduli AIDS, dan lain sebagainya. (Muyassaraoh Hafidzoh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Habib, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Belajar Muhammadiyah

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Ulama, Doa Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini

Kediri, Belajar Muhammadiyah - Kesebelasan Quen Al-Falah (Qulah) optimis bisa merebut posisi ketiga dalam Liga Santri Nusantara (LSN) Jatim II di Stadion Brawijaya, Kota Kediri. Dalam babak penentuan peringkat tiga pertandingan akan mempertemukan Quen Al-Falah dan tim Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang, Rabu (31/8).

Insya Allah teman-teman mampu mengambil posisi III,” ungkap Sulkhan Abdul Kahfi, Kapten Tim Quen Al-Falah kepada Belajar Muhammadiyah usai bertanding dengan tim Darut Taibin Kabupaten Tulungagung.

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini

Bagi Quen Al-Falah, di manapun posisi tidak menjadi masalah. “Namun,kalau bisa menempati posisi ketiga sudah lumayan. Kami ikut ini karena untuk silaturrami antarsantri pesantren melalui olahraga. Sehingga posisi tidak menjadi penentu. Cuma kalau dapat kenapa tidak,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Disinggung kalah dengan kesebelasan Darut Taibin (DaTa) Tulungagung saat semifinal? Ia mengatakan, timnya sudah berupaya maksimal. Bahkan sampai mengerahkan sporter ratusan orang. Namun, memang Darut Taibin memang lebih hebat permainannya. Sehingga timnya bisa dibekuk 3-0 tanpa balas.

Belajar Muhammadiyah

“DaTa memang hebat. Kami keteteran ketemu tim Tulungagung itu. Selain itu stamina teman-teman sudah habis. DaTa memang layak lolos ke Final. Permainannya memang bagus. Pemainnya merata dan kompak,” tambahnya.

Sementara itu Tim Ponpes Darul Ulum tadi gegabah menghadapi tim Quen Al-Falah. Menurut Ajay Kapten kesebelasan, Quen Al-Falah bukan tim sembarangan. Mereka memiliki skill pemain yang merata. Umpan-umpannya akurat. Kalau dalam semifinal kalah dengan DaTa, itu soal keberuntungan saja. Terlepas itu memang DaTa permainannya bagus. Karena memiliki power dan speed yang bagus.

“Quen lumayan bagus. Cuma kalau sama DaTa, kalah mental. Untuk itu kami dan teman-taman dalam penetuan ranking nanti akan bermain lepas tanpa beban,” kata Ajay.

Sebagaimana di ketahui kesebelasan Quen Al-Falah dalam putaran semifinal dilibas tim DaTa Tulungagung dengan skor 3-0. Sedangkan Darul Ulum dikalahkan An-Nur 2 dengan skor 3-2 setelah adu penalti. Untuk itu kesebelasan DaTa dan An-Nur bisa lolos ke Final. Sedangkan Quen dan Darul Ulum akan berebut mempertahankan posisi ketiga dalam putaran LSN Region Jatim II di Kota Kediri. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Santri, Ulama, Quote Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Jelang Kongres, bursa pencalonan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor NU yang akan digelar pada 7-14 Januari 2011, di Surabaya semakin ramai. Namun bagi Pengurus Cabang (PC) Ansor Brebes ramainya kandidat tidak menjadi soal. Karena yang lebih utama dalam kongres adalah bagaimana Ansor bisa berdiri mandiri dengan program dan aktualisasinya yang menggigit.

“Kami belum tentukan kandidat,” ungkap Ketua PC Ansor NU Brebes H Agus Mudrik Khaelani usai rapat persiapan kongres di gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes Selasa (28/12).

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NU Diharapkan Jadi Organisasi Mandiri

Mudrik mengaku, persoalan kandidat sudah menjadi komitmen saat berada dibilik suara pemilihan. Yang lebih fokus adalah bagaimana agar program-program Ansor NU bisa lebih mandiri. Ansor NU memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi organisasi yang mandiri. Apalagi, anggotanya merupakan pemuda yang telah matang dan dalam usia yang produktif.

Belajar Muhammadiyah

Menyinggung kesiapan PC Ansor NU Brebes dalam mengikuti Kongres telah matang dibicarakan. Bahkan diperkirakan menjadi peserta terbanyak. Brebes akan mengirimkan lebih kurang 100 peserta. Mereka terdiri dari 59 Pengurus Cabang dan  51 Pengurus Anak Cabang. “Insya Allah  utusan Brebes akan menggeruduk asrama haji Sukolilo Surabaya dengan 2 bus Dedy Jaya,” tutur Gus Mudrik.

Selain mengikuti kongres, lanjutnya, juga sekaligus mengadakan ziarah ke makam para Wali dan tokoh NU.  Antara lain ke makam Sunan Ampel, Sunan Muria, Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan menyaksikan jembatan Suromadu.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Sekretaris PC Ansor NU Brebes Nurul Huda SAg menambahkan,  dalam kongres nanti juga akan membuka stand di area bazar. Di stand tersebut akan dijual telor asin dan bawang merah. Juga sate khas Brebes dan Tegal disamping produk unggulan lainnya. “Yang jelas, PC Ansor Brebes siap mengikuti kongres dengan penuh antusias,” pungkasnya.

Perlu diketahui dalam kongres Ansor telah muncul beberapa kandidat antara lain Politisi Partai Demokrat Khatibul Umam Wiranu M Hum, Ketua Fraksi PKB Marwan Ja’far,  Choirul Sholeh Rasyid, Sekjen PP GP Ansor A Malik Haramain dan politisi Golkar Nusron Wahid. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Bandar Lampung, Belajar Muhammadiyah?

Saatnya kader NU segera kembali menelaah untuk memahami metode dakwah yang bijak dan menyebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang karakter dakwah Aswaja yang selalu mengikuti karakter dakwahnya Rosulullah SAW.

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Koordinator Laskar Sarungan, Lampung, Aryo Musthofa di Bandar Lampung, Senin (7/11) menyatakan prihatin sehubungan masyarakat dicekoki dengan berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

"Media intoleran sudah banyak memelintir kejadian dengan tanpa akhlak menjadi berita yang provokatif, contohnya adalah penghasutan berita Rapat Akbar Reaktualisasi Resolusi Jihad di PP Tebuireng yang dihasut sebagai perintah makar," kata pria yang akrab disapa Gus Aryo.

Semua warga negara Indonesia yang baik, katanya, sepatutnya ikut andil dengan kontribusi positif terkait agenda "perang" yang digaungkan kelompok-kelompok anti NKRI untuk mempertahankan aqidah aswaja dan kebangsaan.

"Kader NU memiliki tanggung jawab sosial untuk meluruskan cara dakwah media yang sebenarnya," tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Dia berharap seluruh kader NU saling bersatu untuk tetap berpegang teguh dengan prinsip dakwah aswaja atau Ahlussunnah wal Jamaah.

"Dakwah aswaja adalah dakwah dengan mengedapankan pendekatan hati dan akhlaqul kariimah. Seluruh kader harus memiliki karakter dakwah ini sehingga menjadi penyeimbang media dakwah yang provokatif dan tak berakhlak," katanya.

NU sendiri sudah ? memegang teguh prinsip aswaja ini dengan menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin, baik di dalam dan luar negeri sebagai khidmat untuk bangsa Indonesia. (Ahmad Saroji/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Ulama Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah



Selama bulan Ramadhan tahun ini pengurus takmir Mushala kantor PCNU Banyuwangi akan mengadakan kegiatan kajian kitab kuning secara bandongan sebagaimana dalam tradisi pesantren. Mushala kantor PCNU Banyuwangi di Jalan Ahmad Yani, nomor 59, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, menjadi pilihan tempat dalam pelaksanaan gelaran kajian rutin selama bulan Ramadhan ini.

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Saat dimintai keterangan, ketua takmir mushala PCNU Banyuwangi mengatakan ada beberapa kitab yang akan dikaji. Mulai dari kitab fiqih, tauhid, sejarah, ke-NU-an dan keaswajaan, dan lain sebagainya.

"Ini sebagai upaya untuk menyambut Ramadhan dengan amaliah yang baik sekaligus memakmurkan kantor NU. Dan saya akan mengundang pengurus NU beserta banomnya di setiap tingkatan. Tak terkecuali pula masyarakat umum yang ingin menghadiri kajian ini," jelas Haikal kepada Belajar Muhammadiyah di kantor PCNU Banyuwangi, Kamis (25/05) siang.

Kajian kitab dikhususkan kepada karya-karya yang ditulis oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari. "Karya Kiai Hasyim sengaja kami pilih karena memiliki makna ganda. Tidak hanya memperkuat keimanan, juga bertujuan untuk memperkuat ideologi ke-NU-an," tutur Haikal.

Belajar Muhammadiyah

Secara teknis ada empat judul kitab yang akan dikaji mulai selepas shalat Ashar sampai jelang buka bersama. Kitab pertama Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, Kitab kedua At-tibyan, ketiga Muqoddimah Qonun Asasi, dan terakhir Arbaina Hadistan Nabawiyah, imbuh Haikal.

"Saya tentukan untuk kitab pertama akan dipandu oleh Katib Syuriah MWC NU Banyuwangi Fata Zamroni di setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Kitab kedua disambung oleh Wakil Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Banyuwangi Ahmad Syakur Isnaini di setiap hari Senin dan Sabtu. Dan kitab ketiga akan dipandu oleh Direketur Aswaja NU Center PCNU Banyuwangi Kh. Abdillah Asad di hari Jumat kedua dan keempat. Terakhir Rais Syuriah MWC NU Blimbingsari Sunandi Zubaidi akan memandu kitab keempat di hari Jumat minggu pertama dan ketiga," terang Haikal.

"Sengaja pemateri kita buat bergantian harapan kami supaya lebih efektif dan para hadirin tidak merasakan bosan saat pengajian," tegas Haikal.

Haikal menambahkan, kalau ingin memiliki kitab pengajian bisa didapat di panitia dengan mengganti bisyarah lima puluh ribu rupiah. "Akumulasi biaya bisyarah penggantian kitab ini juga diperuntukkan biaya akomodasi kegiatan," terangnya.

Dan terakhir Haikal menyampaikan, para peserta yang hadir juga mendapatkan takjil gratis yang disiapkan panitia. "Para peserta atau lainnya juga bisa menyumbang takjil atau juga bahan berbuka lainnya untuk kegiatan yang disupport oleh Lakpesdam MWC NU Banyuwangi dan disiarkan langsung oleh radio Belajar Muhammadiyah Banyuwangi ini," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan, Nasional Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

KH Ghazalie Masroeri

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

Awal bulan ditandai dengan penampakan hilal yang dapat dilihat dengan mata di awal malam (sesaat setelah matahari terbenam). Kalau tidak tampak tidak disebut hilal. Hilal tidak hanya dalam angan-angan/pemikiran; dan tidak hanya dalam dugaan/keyakinan. Untuk mengetahui adanya penampakan hilal (ظُهُوْرُ الْهِلاَل), diperlukan upaya-upaya observasi, pengamatan, atau rukyah di lapangan.

Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk masdar, mempunyai fi’il ro-aa – yaroo (رَأَى - يَرَى). Kata رَأَى dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain: melihat, mengerti, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, menduga, yakin, dan bermimpi.

Belajar Muhammadiyah

Ketika kata ro-aa (رَأَى) dan tashrifnya dirangkaikan dengan objek / maf’ul bih (مَفْعُوْلٌ بِهِ) yang fisikal / thobii’iyyaat (طَبِيْعِيَّات) maka masdarnya adalah rukyah (رُؤْيَة); dan mempunyai arti tunggal yaitu “melihat dengan mata kepala”, baik dengan mata telanjang maupun dengan alat pembesar. Contoh : 

رَأَى كَوْكَبًا – رُؤْيَةُ كَوْكَبٍٍ : Melihat Bintang

Belajar Muhammadiyah

رَأَى اْلقَمَرَ – رُؤْيَةُ الْقَمَرِ : Melihat Bulan

رَأَى الشَّمْسَ – رُؤْيَةُ الشَّمْسِ : Melihat Matahari

رَأَى الْهِلاَلَ – رُؤْيَةُ الْهِلاَلِ   : Melihat Hilal.   لِرُؤْيَتِهِ(Karena Melihat Hilal)

Baca Surat Al-an’am ayat 76 s/d 78 untuk contoh 1, 2, dan 3. Dan baca berbagai As-Sunnah untuk contoh no. 4.

Sedangkan ro-aa (رَأَى) yang mempunyai arti lain, objeknya tidak fisikal (غَيْرُ طَبِيْعِيَّات). Adakalanya tanpa objek dan masdarnya bukan Rukyatun, tetapi ro’yun (رَأْيٌ). Ketika ro-aa mempunyai dua maf’ul bih (objek), maka mempunyai arti menduga atau yakin. Dan adakalanya bermakna mimpi, masdarnya ru’ya (الرُؤْيَا).

Rukyah sebagai sistem penentuan awal bulan qomariyah dengan cara melakukan pengamatan/observasi terhadap penampakan hilal di lapangan, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan alat seperti teropong, pada hari ke 29 malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan. Apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Rukyatul hilal. Tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu adalah tanggal 30 dari bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Istikmal (menggenapkan 30 hari bagi bulan sebelumnya).

Ada pendapat bahwa rukyah itu hanya berlaku bagi masyarakat ummi/awam yang tidak mengetahui ilmu hisab, tetapi bagi masyarakat modern cukup dengan ilmu hisab tidak perlu rukyah. Pendapat ini mendasarkan pada hadits : 

اِنَّا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا (متفق عليه). قَالَ اْلبُخََارِيُّ : يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ 

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung (menghisab). Umur bulan itu sekian dan sekian,”  (HR. Muttafaq ‘alaih). “Menurut al-Bukhari “sekian dan sekian” ialah “kadang 29 hari dan kadang 30 hari.””

Pendapat demikian ini menunjukkan adanya pemahaman terhadap hadits tersebut secara hitam putih. Padahal sesungguhnya di balik hadits ini terdapat hikmah yang mendalam, yaitu:

Sifat keummian itu justru menunjukkan secara yakin tentang otentitas ad-dinul islam dibangun atas dasar wahyu, bukan dibangun atas dasar hasil pemikiran.

Hadits itu mengajarkan, bahwa  usia bulan Qomariyyah kadang 29 hari dan kadang 30 hari, berbeda dengan umur bulan syamsiyah.

Nabi saw. mengajarkan rukyah sebagai kemudahan untuk umatnya.

Rukyah mempunyai nilai ibadah jika hasilnya digunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti shiyam, ‘id, sholat gerhana, dan lain-lain.

Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit seperti letak matahari terbenam, posisi dan tinggi hilal, dan jarak antara hilal dan matahari dapat menambah kekuatan iman.

Rukyah itu ilmiah. Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit ribuan tahun lamanya dicatat dan dirumuskan, kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmu hisab. Rukyah melahirkan hisab. Tanpa rukyah tak ada hisab.

Pendapat yang mengatakan tidak perlu rukyah tetapi cukup hisab tersebut, sesungguhnya   belum dapat memberi jalan keluar atas terjadinya perbedaan pada metode dan kriteria hisab. Metode dan kriteria hisab mana yang harus digunakan?

Pendapat yang mengatakan cukup dengan ilmu hisab, tidak sejalan dengan nash Mafhuumul ayat S. Al-baqarah a.185 dan a.189, Yunus a.5, dan Yasin a.39

Hadits-hadits

Tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyah diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain.

Rukyah dan hisab tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat digunakan bersamaan. Rukyah sebagai penentu dan hisab sebagai pendukung. Hisab yang berkualitas tahqiqi/tadqiqi/’ashri dan memenuhi kriteria imkanurrukyah dapat dijadikan sebagai pendukung, pemandu, dan pengontrol rukyah, sehingga menghasilkan rukyah yang berkualitas. Sebaliknya, rukyah dapat dijadikan sebagai sarana uji verifikasi atas hipotesis hisab. 

Kriteria imkanurrukyah itu, secara empirik memenuhi ketentuan tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam / jarak antara Matahari dan Bulan 3 derajat. Kriteria inipun sudah disepakati untuk kriteria Taqwim dan kriteria rukyah oleh Ormas-Ormas Islam dalam Lokakarya Hisab Rukyah yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat Hisab Rukyah dan Pembinaan Syari’ah Kemenag RI, di Cisarua tahun 2011, yang kemudian disempurnakan dalam Lokakarya di Semarang tahun itu juga. Kriteria imkanurrukyah ini bukan dimaksudkan untuk mengganti rukyah, tetapi sebagai instrumen untuk menolak apabila ada laporan terlihatnya hilal ketika mayoritas ahli hisab menyatakan bahwa hilal pada hari itu belum imkanurrukyah.

Dari seluruh paparan tersebut, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka mencari titik temu atas perbedaan yang serba majmu’ dalam menentukan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal  Dzulhijjah.

* Makalah disampaikan dalam acara Mudzakarah di Aula TK Islam Al-Azhar lt.II Kampus Al-Azhar Kebayoran Baru, Senin 2 Juli 2012, yang dipanel dengan Prof. DR. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN), dan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Moderator : Dr. HM. Hartono, MM (Ka. Sekretariat Masjid Agung Al Azhar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Ahlussunnah, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Jenewa, Belajar Muhammadiyah - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (16/6) bahwa kelompok ISIS mungkin menggunakan lebih dari 100.000 warga sipil Irak yang disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua Mosul.

Pasukan Irak berjuang merebut kembali Mosul dari ISIS setelah kelompok ekstremis itu menyerbu kota pada 2014 dan memberlakukan peraturan brutal terhadap penduduknya.

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Perwakilan badan pengungsi PBB di Irak Bruno Geddo mengatakan bahwa ISIS telah menangkap warga sipil dalam pertempuran di luar Mosul dan memaksa mereka memasuki Kota Tua, salah satu bagian terakhir kota yang masih berada dalam genggaman mereka.

Belajar Muhammadiyah

"Lebih dari 100.000 warga sipil masih disandera di Kota Tua," kata Geddo kepada wartawan di Jenewa.

Belajar Muhammadiyah

"Kami tahu bahwa ISIS membawa mereka saat mereka meninggalkan... lokasi tempat pertempuran berlangsung," katanya.

"Warga sipil ini pada dasarnya disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua."

Dengan hampir tidak ada makanan, air atau listrik yang tersisa di daerah tersebut, penduduk sipil "hidup dalam kondisi kekurangan dan kepanikan yang kian memburuk," katanya.

"Mereka dikepung pertempuran di setiap sisi."

Sementara para penembak jitu berusaha membunuh siapa saja yang mencoba meninggalkan daerah yang dikuasai ekstremis, katanya lalu menambahkan bahwa beberapa orang yang berhasil melarikan diri mengalami "trauma berat".

Sejak pertempuran untuk merebut kembali Mosul dimulai sembilan bulan lalu, sekitar 862.000 orang mengungsi dari kota itu, meski 195.000 di antaranya kemudian kembali, utamanya ke bagian timur kota yang sudah dibebaskan.

Itu berarti 667.000 orang masih mengungsi, hampir seluruhnya dari bagian barat Mosul, dan tinggal di 13 kamp yang dibangun UNHCR atau bersama kerabat.

Geddo mengatakan badan PBB sejauh ini sudah memberikan bantuan kepada lebih dari 500.000 pengungsi, dan juga berusaha membantu mereka yang kembali ke Mosul, sering kali tinggal di bangunan-bangunan yang pernah dibom.

"Banyak dari orang-orang ini kembali...ke situasi kekurangan," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Ulama, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Jumat, 29 Desember 2017

Dilantik, Komisariat IPNU-IPPNU MA Al Fattah Siap Berkiprah

Demak, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama IPPNU Kabupaten Demak, Jawa Tengah, secara resmi melantik pengurus baru Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan IPPNU Madrasah Aliyah Al Fattah Tambakroto, Sayung, Demak, Rabu (9/9), di aula madrasah setempat.

Pengukuhan pengurus baru PK IPNU dipimpin langsung oleh Ketua PC IPNU Demak Abdul Halim, sedangkan PK IPPNU oleh Mahmudah selaku Koordinator Departemen Dakwah PC IPPNU Demak. Setelah dilantik maka Endang Trisna Sahudi dan Latifah telah resmi menahkodai organisasi pelajar NU di MA Al Fattah.

Dilantik, Komisariat IPNU-IPPNU MA Al Fattah Siap Berkiprah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Komisariat IPNU-IPPNU MA Al Fattah Siap Berkiprah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Komisariat IPNU-IPPNU MA Al Fattah Siap Berkiprah

Rekanita Latifah selaku Ketua PK IPPNU MA Al Fattah menegaskan bahwa dia bersama pengurus lainnya siap berkiprah dan belajar mengembangkan organisasi IPNU-IPPNU, utamanya realisasikan trilogi pelajar NU “Belajar Berjuang Bertaqwa”.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Kecamatan Sayung Faidul Qobir menyatakan keprihatinannya atas gejala degradasi moral pelajar, sebagaimana yang sering diberitakan media.

Belajar Muhammadiyah

Ia menilai banyak pelajar saat ini mengalami krisis identitas. Kegiatan mengonsumsi narkoba di kalangan pelajar makin menjadi-jadi. Pihaknya mengajak pelajar MA Al Fattah untuk membulatkan tekad dan niat mengabdikan diri di organisasi yang telah digagas para ulama terdahulu.

Asrori selaku Kepala Madarah MA Al Fattah mengungkapkan, “Pelajar saat ini adalah generasi penerus bangsa, maka dengan membiasakan mereka pada wadah yang tepat (IPNU-IPPNU) ke depan akan muncul pemimpin yang berintegritas yang berusaha dan senantiasa meneladani sifat wajib Nabi: shiddiq amanat tabligh fathonah.”

Ketua PC IPNU Demak Rekan Abdul Halim mengaku kini sedang melakukan penguatan Komisariat Sekolah/Madrasah di bawah nauangan Lembaga Pendidikan Maarif. “Sedang kami giatkan, bagaimana pun itu adalah aset asli kami untuk segera digarap. Semoga ke depan kami bisa memaksimalkannya.”

Prosesi pelantikan disaksikan pula oleh M Agil Nuruzzaman selaku Sekretaris PC IPNU Demak dan Miftahurrohman selaku Koordinator Kaderisasi dan juga Abdur Rohman selaku Koordinator Jaringan Sekolah/Pesantren PC IPNU Demak. Selain itu pihak PAC IPNU-IPPNU Sayung juga turut serta hadir acara pengukuhan tersebut sekaligus mendampingi proses rapat kerja anggota. (Syafii Chudlori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Selasa (27/11), sejak pukul 18.00 WIB petang, Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai didatangi beberapa anak muda anggota IPNU dan IPPNU. Mereka adalah delegasi yang bersiap berangkat ke Palembang guna mengikuti Kongres IPNU/IPPNU 2012.

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Pimpinan delegasi, Nur Kholis dari Pimpinan Wilayah IPNU DIY menyebutkan, kedatangan delegasi tersebut adalah untuk silaturahim serta meminta doa dan restu dari PWNU. 

Hal senada juga disuarakan oleh Sulasmi, Ketua PW IPPNU DIY. Ia menyatakan bahwa delegasi PW IPNU dan PW IPPNU DIY membutuhkan doa dan restu dari PWNU dalam menyemangati upaya mereka dalam mensukseskan Kongres IPNU/IPPNU di Palembang. Selain doa dan restu, delegasi juga membutuhkan arahan yang kelak akan menjadi bekal selama mengikuti kongres.

Belajar Muhammadiyah

Sekitar pukul 20.30 WIB delegasi ini pun disambut oleh KH Jadul Maula (Wakil Ketua PWNU DIY), Mukhtar Salim (Sekretaris PWNU DIY) dan Kholis Asy’ari (Wakil Sekretaris PWNU DIY). 

Belajar Muhammadiyah

Dalam acara pelepasan tersebut Jadul Maula, mewakili Rais Suriyah KH Asyhari Abta yang berhalangan hadir, menyampaikan betapa pentingnya peran IPNU/IPPNU di masa sekarang ini dalam mewarnai bangsa dengan menjadi generasi muda yang tawadzun, tawassuth dan i’tidal sebagaimana prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh ajaran ahlussunnah wal jama’ah ala Nahdltul Ulama. 

Jadul mengatakan, tidak sedikit generasi di pelosok daerah yang dihadapkan pada dua kutub ekstrim, yaitu radikalisme agama atau kebebasan yang kebablasan. 

“Di beberapa tempat, tidak sedikit generasi muda saat ini yang diajarkan untuk meyakini pemahaman salah yang menghalalkan terorisme sebagai media perjuangan. Itu satu sisi ekstrim yang saya maksud. Di sisi ekstrim yang lain, anak-anak muda kita juga banyak yang terjebak pada perilaku-perilaku tidak bertanggungjawab yang bertentangan dengan hukum semisal mengkonsumsi narkoba, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang berani merampok demi memuaskan keinginannya tersebut,” katanya.

Jadul juga mengungkapkan kebanggaannya kepada IPNU dan IPPNU yang tidak hanya mampu sekadar survive, namun juga terus berkembang menjadi kader-kader NU yang toleran, moderat, dan istiqomah. Ia pun mengakhiri sambutannya dengan harapan dan doa.

“Semoga rekan dan rekanita dari Yogyakarta bisa mengikuti dinamika kongres di Palembang nanti dan mampu memperjuangkan kepentingan pelajar Nahdliyyin di manapun sesuai dengan tema kongres, Pendidikan untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa. Selamat jalan rekan dan rekanita IPNU dan IPPNU DIY. Pergi dan pulang tak kurang sesuatu pun apa. Semoga senantiasa dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT,” tambahnya. 

Selanjutnya, dengan menggunakan satu bis dan empat mobil, delegasi IPNU dan IPPNU DIY pun meluncur ke Palembang sekitar pukul 21.30 WIB. Diperkirakan perjalanan mereka ke Palembang akan memakan waktu 36 jam. Di dalam rombongan pun ikut serta Muhammad Nahdy, salah satu kandidat ketua umum IPNU yang akan bersaing di Kongres IPNU-IPPNU di Asrama Haji Palembang tersebut. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yusuf Anas

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Hadits, Ulama Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Tak kurang dari sepuluh ribu ibu-ibu dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul di arena Kongres Ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak Rabu (23/11) malam. Hingga Jumat (25/11) padatnya arena kongres tak membuat asrama yang dibangun sejak tahun 1974 itu penuh sampah.

Di sepanjang pagar dan dinding gedung utama hingga lapangan manasik, berjejer karangan bunga dan spanduk ucapan selamat atas perhelatan Kongres Ke-17 Muslimat NU. Sejumlah spanduk iklan menggelorakan kebersihan, tampak memberi sugesti tersendiri bagi para peserta.

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompak dan Profesional, Kongres Muslimat NU Bebas Sampah

Sejuknya suasana Kongres Muslimat NU diakui petugas keamanan Asrama Haji Pondok Gede, Triokarno (33). “Banyak organisasi bikin kegiatan di sini. Tapi memang, baru kali ini semua panitia dan peserta juga terlibat dan komitmen dalam urusan kebersihan,” paparnya, Jumat (25/11).

Belajar Muhammadiyah

Trio teringat, kongres sebuah organisasi tertentu yang dihelat tahun 2013 lalu. “Dulu pernah ada kongres ricuh di sini sampe bakar-bakaran. Kalau kongres yang ini, sepekan sebelum kegiatan, kami sudah diajak berembuk oleh panitia. Dari urusan keamanan sampai urusan kebersihan. Kami merasa sangat terbantu. Karena NU menurunkan banyak relawan,” imbuhnya.

Untuk urusan kebersihan saja, menurut Trio, ada 150 relawan yang terlibat. Belum untuk urusan keamanan, konsumsi dan sebagainya. Itu, kata Trio, disampaikan Panitia Kongres dalam rapat gabungan bersama pengelola Asrama Haji, Kamis (17/11).

Belajar Muhammadiyah

“Mereka yang berkaos biru itu dari pelajar, yang berkaos putih dari Banser. Yang berbatik dari mahasiswa NU (PMII) katanya. Termasuk dari TNI dan Kepolisian juga ikut serta membantu. Jadi kalau ada yang perlu digotong, mereka semua sigap membantu,” jelasnya.

Koordinator Publikasi dan Dokumentasi Panitia Kongres Muslimat Ke-17 NU Rizky Wijayanti mengungkapkan, para peserta memang diberi arahan khusus oleh Pimpinan Pusat Muslimat NU untuk menyukseskan kegiatan, tak hanya dari sisi acara, tapi juga dari sisi kebersihan.

“Ini inisiatif dari Muslimat untuk memberi teladan bagi yang lain. Bahwa dalam berkegiatan apa pun, dengan massa sebanyak apa pun, kita bisa berkomitmen menjaga lingkungan,” kata Rizky.

Kampanye menjaga lingkungan itu, bahkan juga didengungkan berkali-kali di ruang Media Centre. Para panitia tak henti-hentinya mengingatkan para jurnalis untuk membuang sampah bekas makan dan minum, di tempat yang telah disediakan. “Tolong ya wartawan yang ganteng dan cantik, setelah makan, sisanya jangan ditinggal di meja. Tapi dibuang ke tempat sampah ini,” kata Enny Jamilah, panitia yang standby di ruang Media Centre. (Abdul Malik Mughni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Amalan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (14/10) siang, menggelar kuliah tamu dengan tema “Perguruan Tinggi Membangun Desa, Mewujudkan Pengelolaan Dana Desa Yang Transparan dan Akuntabel”.

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen dari tiga perguruan tinggi Pondok Pesantren Nurul Jadid (IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid) Paiton ini juga dihadiri oleh Ketua Satuan Petugas (Satgas) Dana Desa (DD) yang juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto.

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid yang juga Ketua Biro Dikti Pesantren Nurul Jadid KH Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tujuan dibentuknya Satgas Dana Desa. Yaitu bukan untuk menangkap kepala desa akan tetapi membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan Dana Desa.

“Memberikan wawasan kepada mahasiswa dan civitas pesantren tentang peran Satgas Dana Desa dalam membantu mengevaluasi regulasi terkait Dana Desa, sosialisasi dan advokasi, monitoring dan evaluasi, harmonisasi hubungan antar lembaga serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya penyimpangan penggunaan Dana Desa,” katanya.

Menurut Kiai Hamid, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan ruang kepada mahasiswa dan civitas pesantren untuk memberikan dukungan kepada Satgas Dana Desa dalam mengawal pengelolaan  dan penggunaan Dana Desa. Sebagai bentuk pelibatan perguruan tinggi berbasis pesantren dalam membantu Satgas Dana Desa pada pengelolaan dan penggunaan Dana Desa yang transparan dan akuntabel.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui kuliah tami ini diharapkan menggugah kesadaran mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan yang transparan dan akuntabel tanpa korupsi. Sekaligus mensinergikan antara peran perguruan tinggi berbasis pesantren dengan Satgas Dana Desa dalam mencegah tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” tegasnya.

Sementara Ketua Satgas Dana Desa Bibit Samad Rianto meminta para mahasiswa untuk mengawasi pemanfaatan DD yang rawan menjadi lumbung para koruptor. “Kegiatan ini bertujuan sebagai edukasi bagi mahasiswa untuk memerangi penyalahgunaan DD sejak dini,” katanya.

Menurut Bibit, dari penelusuran Satgas DD selama 6 bulan terakhir, penyalahgunaan DD cenderung semakin meningkat. “Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus operasi tangkap tangan yang dilakukan satgas maupun KPK,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Bibit mengharapkan agar para mahasiswa dan civitas akademika turut mengawasi penggunaan DD. Pasalnya, peranan dunia pendidikan sangat penting dalam mencegah korupsi DD. “Mahasiswa dan masyarakat segera melapor ke satgas jika menemukan penyalah gunaan DD. Hanya saja, laporan ini harus disertai bukti valid, bukan sekadar surat kaleng,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, PonPes, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kanker serviks menjadi penyebab tertinggi angka kematian perempuan di Indonesia. Demikian disampaikan dr Wanda Wimalasari pada sesi penyuluhan dalam rangka Bakti Sosial yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PP LKKNU), di Gedung PBNU 2, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (28/2).

Di hadapan ratusan peserta baksos, Wanda memaparkan, tingginya angka tersebut menjadi penyumbang terbesar kematian perempuan akibat kanker serviks di seluruh dunia, karena mencapai 80 persen dari seluruh kematian.

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia

?

“Di Jakarta setiap hari ada 1-2 orang perempuan meninggal akibat kanker serviks,” tambah dokter muda kelahiran Tegal, Jawa Tengah itu.?

Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh HPV (human papilloma virus) yang menyerang bagian leher dari organ vital wanita. Walaupun bagian awal yang diserang adalah organ kewanitaan, dalam jangka panjang dapat menyebar ke organ-organ lain dalam tubuh penderita. Organ-organ lain itu misalnya kelainan ? atau kerusakan ginjal, jantung, dan kerusakan saraf pusat.?

Belajar Muhammadiyah

Penderita kanker serviks pada stadium lanjut ditandai dengan gejala-gejala antara lain pendarahan pada kemaluan setelah berhubungan seksual, susah buang air kecil atau anyang-anyangan, air kencing berwana merah, keputihan, nyeri pinggul, nyeri otot, nyeri otot, dan sakit perut.

Virus HPV penyebab kanker serviks dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, dan hubungan intim dengan pasangan yang beresiko. Faktor resiko lainnya adalah perokok, hubungan seksual yang dilakukan oleh perempuan yang terlalu muda, ibu yang memiliki banyak anak, dan penderita infeksi seksual menular.

Menurut Wanda, kebanyakan perempuan biasanya tidak mempedulikan kesehatannya, termasuk terhadap adanya kemungkinan kanker serviks ini. “Sangat disayangkan bila konsultasi dan pemeriksaan baru dilakukan ketika penderita sudah masuk pada stadium lanjut. Perempuan harus peka. Jangan tunggu adanya keluhan yang berat,” ungkap dokter yang enerjik itu.

Belajar Muhammadiyah

Penyuluhan oleh dr Wanda menjadi awal dari rangkaian bakti sosial yang terselenggara atas kerjasama PP LKKNU dan Perum Bulog itu. Para peserta baksos yang sudah terdaftar selanjutnya dipersilakan mengikuti tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). Tes IVA dapat diikuti oleh perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, tidak sedang hamil, dan tidak sedang menstuasi.

Tes IVA dilakukan sebagai pemeriksaan atau deteksi awal adanya kanker leher rahim. Dengan tes IVA akan terlihat ada atau tidaknya gejala kanker serviks sehingga selanjutnya dapat diberikan pengobatan lebih lanjut pada penderita. Tes IVA sangat tepat dilakukan karena dalam prosesnya tidak sakit, tidak membutuhkan waktu yang lama (2-5 menit) hasilnya langsung diketahui, mudah, murah dan hasilnya terjamin akurat.?

Wanda mengapresiasi pihak PBNU dan LKKNU yang mengadakan bakti sosial berupa penyuluhan kesehatan kanker serviks dan tes IVA ? yang diselenggarakan kali ini. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Sunnah, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Peringati Harlah 88, NU Brebes Himpun Jariyah Dana Abadi

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berupaya menghimpun dana dari warga Nahdliyin demi kelancaran roda organisasi. Momentum hari lahir (Harlah) ke-88 NU dijadikan ajang penggalangan dana abadi.

Ketua PCNU Brebes H Athoillah Syatori mengatakan, meskipun dana bukan alat mutlak untuk memuluskan berjalannya suatu program organisasi, tapi dana dari Nahdliyin sangat potensial sebagai bukti kecintaan kepada organisasi.

Peringati Harlah 88, NU Brebes Himpun Jariyah Dana Abadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah 88, NU Brebes Himpun Jariyah Dana Abadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah 88, NU Brebes Himpun Jariyah Dana Abadi

Menurut Kang Atho, demikian panggilan akrabnya, penghimpunan jariyah dilakukan untuk mengusahakan NU mandiri dalam pendanaan. Sehingga tidak selalu ‘ngregoni’ pemerintah maupun pihak lain.

“Ternyata kekuatan Nahdliyin dalam berjariyah sangat dasyat,”tuturnya di sela penyerahan hasil jariyah dari Pengurus Wakil Cabang (MWC) se Kabupaten Brebes, di Gedung NU Brebes, Sabtu (8/2).

Kedahsyatan tersebut, dibuktikan dari jariyah donasi yang tiap umat hanya Rp 2.000,- ternyata bisa terhimpun sampai ratusan juta rupiah. “Dari hasil jariyah dua ribu perak per Nahdliyin, Alhamdulillah telah mampu mendirikan gedung NU Brebes senilai Rp 1,7 Milyar,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Hasil jariyah yang dihimpun, lanjutnya, sebagai momentum keikhlasan dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-88. “Hasil jariyah tersebut akan dijadikan dana abadi PCNU Brebes. Dana sudah ditabung langsung di BMT NU Kramat, di Brebes,” terangnya.  

Penghimpunan jariyah ini, sebagai perwujudan program unggulan  selain pendirian perguruan tinggi NU dalam target lima tahun ke depan. “Mudah-mudahan jariyah ini bisa lebih mengembangkan NU dalam membantu pemerintah dalam program ekonomi, pendidikan dan kesehatan,” terangnya.

Dalam sekali putaran, kata Kang Atho, telah terhimpun jariyah sebanyak Rp 315.085.200 dengan perincian MWC Losari Rp 13.463.000,- Kersana Rp 13.741.500,-, wanasari Rp 47.287.500,-, Tanjung Rp 42.822.500,- Banjarharjo Rp 49.934.600,-, Larangan Rp 49.401.000,- Bulakamba Rp 41.206.600,- Songgom Rp 8.000.000,- Bumiayu Rp 8.122.000,- Jatibarang Rp 2.810.000,-, Paguyangan Rp 10.000.000,- Salem Rp 22.296.500,-Bantarkawung Rp 6.000.000,-

Belajar Muhammadiyah

Sementara MWC Brebes, Tonjong, Ketanggungan dan Bantarkawung hingga berita ini diturunkan belum menyetorkan hasil penghimpunan jariyah. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah IMNU, Ulama Belajar Muhammadiyah

IPPNU Harapkan Dukungan NU dalam Pengkaderan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengharapkan dukungan dari organisasi ‘induknya’, NU dalam proses pengkaderan. Karena, selama ini, organisasi yang menjadi salah satu ujung tombak pengkaderan di lingkungan NU itu merasa kurang diperhatikan oleh struktur yang menaunginya.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Wafa Patria Umma dalam sambutannya pada pembukaan Workshop Pengkaderan bertajuk “Reimplementasi Manajemen Pengkaderan Aswaja yang Kualitatif dan Strategis” di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (4/1). Hadir pada acara itu, Ketua PBNU Mustafa Zuhad.

“Di daerah-daerah, IPPNU sulit mendapatkan dukungan, baik dari PWNU atau PCNU. Ini merupakan keresahan yang dirasakan bersama-sama oleh kader-kader IPPNU di daerah,” imbuh Wafa, demikian panggilan akrabnya.

IPPNU Harapkan Dukungan NU dalam Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Harapkan Dukungan NU dalam Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Harapkan Dukungan NU dalam Pengkaderan

Disebutkan Wafa, persoalan lain yang menjadi tantangan pengkaderan IPPNU adalah munculnya gerakan dan kelompok Islam radikal berikut paham-pahamnya yang marak belakangan ini. Paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), sebagaimana dianut NU, katanya, cukup memengaruhi proses pengkaderan di organisasi yang dipimpinnya.

“Tidak sedikit kader NU yang mengikuti organisasi lain yang pahamnya tidak sehaluan dengan NU. Saya kira ini juga menjadi keresahan bersama, tidak hanya IPPNU,” ujar Wafa menambahkan.

Belajar Muhammadiyah

Sementara, Ketua PBNU Mustofa Zuhad dalam sambutannya yang sekaligus membuka secara resmi workshop tersebut mengatakan, pihaknya telah meminta kepada Pengurus Pusat (PP) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU untuk membantu IPPNU dalam merumuskan metode dan strategi pengkaderan.

Menurutnya, Lakpesdam NU saat ini telah memiliki modul yang berisi metode, strategi dan sistem pengkaderan di NU. Modul yang merupakan panduan umum tersebut, lanjutnya, diharapkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengkaderan IPPNU. “Tanpa modul itu, saya kira hasilnya (workshop pengkaderan: Red) akan ngarang,” tandasnya.

Workshop Pengkaderan IPPNU akan dilaksanakan hingga 7 Januari mendatang di Vila La Citra, Cipanas, Bogor, Jawa Barat. Acara tersebut diikuti sebanyak 50 peserta yang merupakan perwakilan pengurus wilayah dan pengurus cabang IPPNU seluruh Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai bahan diskusi untuk workshop tersebut, panitia membagikan tiga judul buku yang berkaitan dengan tantangan pengkaderan NU kekinian. Di antaranya buku Islam Rahmatan Lil Alamin Menuju Keadilan dan Perdamaian Dunia Perspektif NU (diadaptasi dari Pidato Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi saat pengukuhan gelar Honoris Causa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya), Mengenal NU karya KH Muchith Muzadi dan Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Persoalan Tradisi dan Kekinian karya KH A Nuril Huda. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Rais Syuriah PBNU KH Subkhan Makmun mengajak santri dan warga Brebes untuk melaksanakan shalat istisqo, memohon pertolongan Allah SWT agar segera menurunkan hujan.  Shalat akan digelar pada Senin, 26 November 2015 mendatang di Lapak Bawang Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, mulai pukul 08.00 WIB.

Kiai Subkhan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi menyampaikan hal ini usai rapat persiapan di ruang Rapat Sekda Brebes, Selasa (20/10).

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Kang Kaji, demikian sapaan akrabnya, mengaku telah mengerahkan santrinya juga mengajak ormas Islam, instansi pemerintah maupun swasta, lembaga pendidikan, pengurus masjid, majelis taklim, organsasi kepemudaan, tokoh masyarakat, mubaligh, mahasiswa dan seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk hadir dalam pelaksanaan shalat istisqo.

Belajar Muhammadiyah

Shalat yang digagas Dandim 0713/Brebes dan difasilitasi Pemkab Brebes itu, akan didahului dengan istighotsah oleh para kiai sepuh Brebes.  Khotbah akan disampaikan oleh Kiai Subkhan sedangkan Imam akan dipimpin oleh ulama sepuh yang hadir pada kesempatan tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Puasa Tiga Hari, Banyak Istighfar

Kiai Subkhan turut prihatin dengan kemarau yang berkepanjangan ini. Apalagi daerah Brebes merupakan penghasil komoditas utama Bawang Merah yang tentunya sangat membutuhkan air untuk menanamnya. “Kabupaten Brebes, 60 persen penduduknya berkecimpung dalam dunia pertanian. Di daerah lain juga terkena musibah kabut asap jadi alangkah baiknya kita memohon pertolongan Allah SWT lewat shalat istisqo,” ujarnya.

Sebelum shalat, Kiai Subkhan menganjurkan untuk puasa sunah tiga hari, banyak istighfar, berdoa dan beramal sholeh. Kita harus menyadari sepenuh hati bahwa kekeringan akibat tidak turunnya hujan, merupakan musibah dan teguran dari Allah SWT.

Asisten II Sekda Brebes Ir Moh Iqbal menambahkan, Pemkab Brebes akan mendukung penuh ikhtiar meminta hujan dengan shalat istisqo di Luwungragi. Bupati beserta jajaran dan PNS lain juga akan berbondong-bondong mengikuti kegiatan tersebut. Jamaah haji yang baru pulang dari Mekah, anak yatim, para jompo, bahkan hewan ternak akan digiring untuk berkumpul di lapangan Luwungragi dalam rangkaian shalat Istisqo.

“Pelajar juga dilibatkan, sebagai pembelajaran keimanan dan ketakwaan sejak dini,” tuturnya. Turut hadir dalam rapat persiapan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Doa, Ulama Belajar Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

Surabaya, Belajar Muhammadiyah 



Menjelang Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur membentuk tim kecil untuk membahas materi. Dalam Muskerwil itu akan ada empat komisi yang akan dibahas beberapa isu lokal dan nasional.

"Muskerwil juga akan membahas isu isu kebangsaan yang sedang menerpa Indonesia," kata KH Mutawakkil Alallah saat ditemui setelah rapat terbatas (23/8).

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

Dalam Muskerwil yang akan dilakukan pada 24 sampai 25 Septmber itu, PWNU bersama tim inti akan membagai dalam empat komisi, di antaranya Komisi Progam Kerja, Komisi Organisasi, Komisi Rekomendasi dan Bahtsul Masail.

Kiai Mutawakkil Alallah mengatakan, Muskerwil ini sebagai ajang untuk mengevaluasi kinerja PWNU Jawa Timur dalam hal pelaksaan progam. Muskerwil juga sebagai bahan untuk mengoptimlisasi progam kerja yang sudah dirumuskan pada Konferwil dan sebagai bahan untuk Munas dan Konbes PBNU mendatang.

Belajar Muhammadiyah

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini, juga menegaskan bahwa dalam Muskerwil akan membahas soal isu kebangsaan seperti upaya untuk menanggulangi gerakan radikalisme dengan mengadakan progam deradikalisasi.

"Problem dana haji juga direncanakan akan dibahas di komisi bahtsul masail," tegasnya. "Dari hasil Muskerwil ini akan menjadi bahan rekomendasi pada forum tertinggi setelah muktamar NU itu," pungkas Kiai Mutawakkil. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Di mata sastrawan yang dikenal kritikus film dan fotografer, Seno Gumira Ajidarma, NU saat ini harus berperan dengan menggunakan media baru, didukung dengan teknologi, agar hasilnya maksimal. NU harus bergerak secara anggun dan pendekatan intelektual. Peran NU semacam itu ditunggu banyak orang. ?

Jika NU tidak melakukan hal semacam itu, menurut dia, dikhawatirkan Islam yang oleh sebagian kalangan diimagekan sebagai “keras” akan menjadi kebenaran umum. NU harus membersihkan image tersebut.?

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Seno Gumira Ajidarma mengungkap usulan-usulan untuk NU saat ini selepas menjadi narasumber ngaji film dan sejarah dalam rangka peringatan harlah ke-91 NU yang berlangsung di gedung PBNU, Jakarta, Senin (30/1).?

Ia mennyampaikan usulan tersebut kepada Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah sembari menuruni tangga dari lantai delapan sampai lantai dasar. Berikut petikannya:?

Bisa cerita, tahu dan mengenal NU sejak kapan?

Sejak lama.?

Belajar Muhammadiyah

Dalam konteks apa Anda mengenal NU?

Belajar Muhammadiyah

Dalam konteks pembaca koran.

Melihatnya bagaimana?

Eksotik.

Maksudnya bagaimana?

Eksotik itu ya sesuatu yang tidak terlalu saya kenal, menarik, tampak indah; sampai sekarang saya juga tidak terlalu kenal. Artinya, saya hanya kenal mitosnya. Mitosnya apa ya, menarik, berwibawa, lama, lawasan gitu ya. Tapi itu omongan orang yang enggak kenal ya.?

Ada pengelaman bersentuhan dengan orang NU atau tokoh NU?

Kebetulan saya kenal Mbak Nur (Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, red.). Itu kan teman saya wartawan, di sebelah meja saya. Tidak seperti bayangan saya. Modern, pinter. Kemudian kenal Gus Dur. Kemudian kenal anak-anaknya, Yenny segala. Ya beda, memang, tapi jangan-jangan mereka tidak bisa mewakili NU. Begitu lho.?

Lalu bagaimana mitos itu ketika dikaitkan dengan kenyataan?

Kadang-kadang mitos itu pudar, tapi bukankah realitas lebih baik dari mitosnya?





Bisa usul tentang peran-peran yang harus dijalankan NU saat ini?

Dia mesti mencegah, melawan, dan menjelaskan segala sesuatu yang sekarang ini membingungkan. Image Islam yang keras, saya kira bisa dibersihkan oleh NU.?





NU potensial untuk itu?

NU potensial, punya, asal menjadi policy (kebijakan). Jadi, dia harus bergerak dengan anggun.?





Maksudnya anggun bagaimana?

Bergerak dengan intelektual, wawasan, konstruktif, menjelaskan keislaman yang benar itu kayak apa. Begitu. Membuat orang tidak pesimis terhadap Islam. Tidak sinis. Kalau yang ngomong orang NU kan menjadi sah. Kenapa? Karena dia orang yang mengerti agama gitu lho. Dia harus bicara. Semua orang menunggu-nunggu, kenapa intelektual Islam diam saja. Kenapa organisasi Islam diam saja. Menunggu-menunggu. Konferensi pers juga bisa. Media baru kan bisa bicara. Dan saya enggak percaya orang tidak mengerti media baru. Itu hal yang mudah sekali.?

(Image Islam keras) Itu harus dilawan karena kalau tidak lawan. Berita bohong akan menjadi kebenaran. Itu saja. Kenapa kebohongan menjadi kebenaran karena tidak ada alternatif lain. Mau tanya siapa, mau membaca apa. Orang NU harus masuk kepada media baru. Makanya saya bilang tadi, NU didirikan kan untuk syiar Islam. Sekarang medianya sudah ada untuk menggandakan itu tidak tergantung satu juru bicara, tidak tergantung satu da’i-da’i berbakat. Capek kan kalau orang ngomong terus, klik, klik, klik werrr…kita tunggu, dan kita-kita menunggu-menunggu bahwa Islam sebagai wacana kecerdasan dan pembelaan terhadap yang lemah termasuk yang lemah pikirannya itu menjadi nyata. Kapan disuplai? Begitu saya kira.?





NU sudah melakukan hal yang dimaksud. Namun belum maksimal.

Makanya itu kalau bersekutu dengan para ahli media baru, pasti itu gampang. Diajak saja. Dan NU belajar sendiri saja bisa, asal ada policynya. Nah, policynya saya kilik-kilik nih, sudah waktunya, sebelum semua orang bertambah bodoh.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Pentingnya Belajar Ilmu Tajwid

Membaca Al-Qur’an adalah amalan yang mulia. Setiap hurufnya dibalas dengan sepuluh kebaikan, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW dalam sabdanya. Begitu juga banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan orang yang mempelajari Al-Qur’an, kemudian mengajarkannya.

Akhir-akhir ini banyak ajakan dari pelbagai komunitas untuk semakin memperbanyak membaca Al-Qur’an. Nabi pun pada dasarnya juga menganjurkan Muslim untuk mengkhatamkan Al-Qur’an secara rutin, baik sebulan sekali, tiga bulan sekali, seminggu sekali, bahkan juga tiga hari sekali khatam, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

Pentingnya Belajar Ilmu Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Belajar Ilmu Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Belajar Ilmu Tajwid

Tapi, patut disadari juga bahwa meskipun memperbanyak membaca Al-Qur’an itu baik, untuk mencapai kualitas ibadah yang lebih baik maka cara membaca Al-Qur’an perlu diperbaiki. Dalam Al-Qur’an surat Al Muzammil ayat 4 juga Allah sebutkan bahwa “...dan bacalah Al-Qur’an secara tartil...”.

Belajar Muhammadiyah

Dalam sebuah atsar, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyebutkan bahwa tartil adalah “tajwidul huruf, wa ma’rifatul wuquf (mengindahkan bacaan huruf, dan mengetahui tentang waqaf-nya)”. Maka dari sini ilmu tajwid sebagai ilmu yang membahas cara pengucapan, sifat huruf Al-Qur’an, serta kaedah lainnya menjadi penting.

Mengenai pentingnya ilmu tajwid, Seorang alim ahli qiraat bernama Syekh Al Jazari, menyebutkan dalam syairnya, Manzhumah al-Jazariyyah.

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

“Dan mempelajari ilmu tajwid adalah sesuatu yang wajib,

Siapa yang tak (berusaha) memperbaiki bacaannya maka ia bisa berdosa”

? ? ? ? # ? ? ? ? ?

“Karena demikianlah (beserta cara membacanya) Allah menurunkan Al-Qur’an

Dan seperti itu pula (bacaan Al-Quran dan tajwidnya) sampai kepada kita”

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, ternyata juga beserta cara membacanya. Mulai dari cara pengucapan huruf (makharijul huruf), kaidah-kaidah tajwid lain terkait hukum bacaan huruf nun dan mim? yang diharakat sukun, panjang pendeknya bacaan, serta letak berhenti dan memulai bacaan ayat maupun kalimat (al waqfu wal ibtida’).

Menurut ulama bernama Syekh Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Al Jazari ini, Al-Qur’an diturunkan beserta cara membacanya, selain sebagai mukjizat dan penghias bacaan Al-Qur’an, juga untuk menjaga maknanya. Diharapkan nanti setelah bisa paham tentang ilmu tersebut, seseorang bisa membaca Al-Qur’an dengan indah dan baik, tanpa kesulitan dan kesusahan. Dan lagi, menurut Syekh Al Jazari, hal itu tidak bisa tercapai tanpa kesungguhan dan melanggengkan bacaan.

Membaca Al-Qur’an memang butuh proses untuk belajar, yang memang tidak mudah. Apalagi membiasakan kemampuan bicara orang Indonesia memang perlu bersabar. Maka belajar Al-Qur’an dengan berguru ke alim yang mumpuni menjadi begitu penting, supaya kesalahan baca dan manfaat ilmu tajwid bisa terasa. Semoga segala usaha kita mempelajari Al-Qur’an dapat menjadikannya penuntun hidup dan penolong di hari akhir nanti. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Kyai Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock