Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Belajar Muhammadiyah

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Belajar Muhammadiyah

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim

Tegal, Belajar Muhammadiyah - Momentum Ramadhan berkah dimanfaatkan oleh pelajar NU Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal untuk berbagi bersama anak yatim. Kegiatan ini diwujudkan melalui acara buka puasa bersama dan santunan anak yatim di MDTA Miftakhul Ulum Dukuhjati Wetan Kecamatan Kedungbanteng, Sabtu (17/6).

Hadir dalam kegiatan itu, pimpinan ranting se-Kecamatan Kedungbanteng, para alumni serta Pembina. Pihak panitia juga mengundang lintas organisasi antara lain Ikatan Pelajar Muhammadiyah setempat.

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim

Ketua IPPNU Kedungbanteng Rina Sugiarti mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi dan berbagi dengan sesama serta untuk menunjukan rasa solidaritas yang tinggi rekan-rekanita IPNU-IPPNU.

"Kegiatan diikuti 30 anak yatim piatu dari warga setempat. Mereka kita berikan sekedar santunan dan bingkisan berupa uang dan alat tulis. Semoga bisa bermanfaat," ujar Rina.

Belajar Muhammadiyah

Ketua IPNU Kedungbanteng Khoirul Mualimin menambahkan, pelajar NU harus berbagi dengan sesama dan perlu ditanamkan rasa kepedulian sejak dini kepada anak yatim piatu yang notabenya tidak memiliki orang tua.

Belajar Muhammadiyah

"Sebagai Pelajar NU, hendaknya kita mampu berbagi dengan anak yatim. Setidaknya untuk untuk membahagiakan mereka (anak yatim)," ungkapnya.

Sejumlah Alumni dan pembina menyampaikan apresiasi dengan adanya kagenda yang menarik ini. "Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Kedungbanteng perkembangannya sangat luar biasa. Walaupun dengan kegiatan sederhana namun mampu menunjukkan daya tarik dan solidaritas sesama anggota," kata mantan Ketua IPPNU Tegal Lutfatun Nihlah sekaligus alumni IPPNU Kedungbanteng. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Bandar Lampung, Belajar Muhammadiyah?

Saatnya kader NU segera kembali menelaah untuk memahami metode dakwah yang bijak dan menyebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang karakter dakwah Aswaja yang selalu mengikuti karakter dakwahnya Rosulullah SAW.

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Koordinator Laskar Sarungan, Lampung, Aryo Musthofa di Bandar Lampung, Senin (7/11) menyatakan prihatin sehubungan masyarakat dicekoki dengan berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

"Media intoleran sudah banyak memelintir kejadian dengan tanpa akhlak menjadi berita yang provokatif, contohnya adalah penghasutan berita Rapat Akbar Reaktualisasi Resolusi Jihad di PP Tebuireng yang dihasut sebagai perintah makar," kata pria yang akrab disapa Gus Aryo.

Semua warga negara Indonesia yang baik, katanya, sepatutnya ikut andil dengan kontribusi positif terkait agenda "perang" yang digaungkan kelompok-kelompok anti NKRI untuk mempertahankan aqidah aswaja dan kebangsaan.

"Kader NU memiliki tanggung jawab sosial untuk meluruskan cara dakwah media yang sebenarnya," tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Dia berharap seluruh kader NU saling bersatu untuk tetap berpegang teguh dengan prinsip dakwah aswaja atau Ahlussunnah wal Jamaah.

"Dakwah aswaja adalah dakwah dengan mengedapankan pendekatan hati dan akhlaqul kariimah. Seluruh kader harus memiliki karakter dakwah ini sehingga menjadi penyeimbang media dakwah yang provokatif dan tak berakhlak," katanya.

NU sendiri sudah ? memegang teguh prinsip aswaja ini dengan menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin, baik di dalam dan luar negeri sebagai khidmat untuk bangsa Indonesia. (Ahmad Saroji/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin mengatakan tanggungjawab NU kian besar. NU bukan hanya punya tanggungjawab keumatan, tetapi tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap kebangsaan dan tanggung jawab terhadap NU itu sendiri serta kepada para Ulama.

Menurut Kiai Maruf, kenapa NU bertanggung jawab kepada umat, karena ketika menjelang wafat, Rasul SAW pun hanya mengkhawatirkan umatnya. Rasul tidak mengkhawatirkan istri dan anak-anaknya tapi berpesan bagaimana dengan umatnya.

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

"Pesan Rasul, ummatii, ummatii, ummatii. Jadi tanggung jawab besar NU bagaimana menjaga dan memelihara umat karena siapa yang mengabdi untuk umat, Insyaallah akan ditinggikan derajatnya," kata Kiai Maruf dalam taushiyah pelantikan PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (26/4).

Untuk itu, Kiai Maruf mengingatkan bahwa tugas Ulama menyiapkan generasi-generasi Ulama juga serta tokoh-tokoh perubahan. Sehingga Ulama jangan hanya dipesantren tapi harus terjun ditengah masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

NU pun, ucap Kiai Makruf, memiliki tanggung jawab juga terhadap sejarah karena pendiri Indonesia adalah NU. Maka NU wajib memelihara dan menjaga NKRI sehingga siapa saja yang mengancam Indonesia akan berhadapan dengan NU.

"Selanjutnya tanggung jawab NU terhadap ulama karena NU organisasinya para ulama. Sehingga ulama NU harus beraqidah Ahlussunah wal Jamaah yang An-Nahdiyah jangan Aswaja tapi harokahnya beda. Jangan sampai mengaku NU, berakidah Aswaja tapi harokah (gerakan)-nya wahabi dan khawarij," tuturnya. 

Setelah memberi taushiyah di Pelantikan, KH Makruf meresmikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Badak Paeh Singaparna. Di sana ia meminta Ketua PWNU Jabar, KH Hasan Nuri Hidayatullah untuk menjadikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya sebagai Gedung Kantor percontohan di Jawa Barat. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah IMNU, Sejarah, Berita Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri

Jombang, Belajar Muhammadiyah?

6.000 santri yang awalnya diperkirakan panitia mengikuti apel dan kirab santri di Jombang, mengalami peningkatan yang berlipat, hingga dipastikan sebanyak 40.000 santri bakal ramaikan apel dan kirab santri pada 22 Oktober 2016.?

Jumlah ini diketahui saat panitia kegiatan hari santri nasional (HSN) dengan sejumlah perwakilan pondok pesantren se-Jombang dan pihak sekolahan melakukan rapat koordinasi akhir di aula PCNU Jombang, Rabu (19/10).?

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri

Muslimin Abdilla, koordinator panitia kegiatan mengungkapkan, jumlah yang tak sedikit itu menunjukkan antusiasme santri di Jombang luar biasa. Ia berharap masing-masing pondok pesantren dapat membantu mengordinir santri dalam hal pemberangkatan hingga di lokasi apel dan kirab yang sudah ditentukan panitia.?

"Kami panitia berharap ada partisipasi yang baik dari setiap pondok pesantren se-Jombang," ujarnya saat memimpin rapat koordinasi.?

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, 40 ribu santri yang berjalan kaki dari lokasi apel mengikuti rute kirab dalam rangka memperingati hari santri nasional (HSN) itu memiliki nilai luhur, yakni membangun persatuan dan kekuatan santri. Terlebih lagi persatuan dan kesatuan itu adalah ruh dari sejarah resolusi jihad yang melatar belakangi ketetapan HSN ini.?

"Mari kita sukseskan bersama-sama, ini adalah momentum menciptakan persatuan antar santri juga antar pesantren," ucap dia.

Terkait keamanan saat dilangsungkannya apel dan kirab, dirinya sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub), pemerintah daerah, juga pihak lain yang terkait. "Kita juga sudah koordinasi dengan pemerintah daerah, pihak kepolisian, Dishub dan pihak terkait untuk kesuksesan. Ini sudah dilakukan hari ini," katanya.?

Sementara Subandi, koordinator kegiatan apel santri memberi kesempatan kepada seluruh santri untuk berkreasi yang disesuaikan dengan khas setiap pondok pesantren. Khususnya dari sisi pakaian. "Yang penting santri harus sarungan, prihal lain tidak apa-apa tidak sama sesuai kreasi setiap pondok," ujarnya.?

Belajar Muhammadiyah

Namun ia berharap para santri yang diutus dari setiap pesantren dapat dikoordinir dengan baik hingga sesuai dengan waktu yang sudah disepakati bersama. "Pukul 07.00 WIB diusahakan sudah berada di lapangan alun-alun Jombang," tuturnya.?

Di waktu yang sama, Khusen, koordinator kegiatan kirab santri, menjelaskan bahwa usai mengikuti apel, para santri akan bergerak ke depan masjid Baitul Mukminin Alun-alun Jombang sebagai start pemberangkatan kirab.?

"Santri akan menuju jalan Wahid Hasyim, sampai ringin contong, belok kanan menyusuri jalan Gus Dur hingga stadion Jombang. Kemudian santri akan masuk stadion dari pintu sebelah barat," jelasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

“Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima,” kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Belajar Muhammadiyah

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Sejarah, Sholawat Belajar Muhammadiyah

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke Belajar Muhammadiyah, Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) menerangkan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 41 ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. ?

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Pengertian independen antara lain:

1. Organisasi profesi tidak berafiliasi atau merupakan kelengkapan aparatur pemerintah,?

2. Keberadaan masing-masing organisasi profesi guru, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) adalah setara. Dengan demikian, pemerintah harus memperlakukan semua organisasi profesi guru harus adil dan tidak memihak (equal treatment).

Belajar Muhammadiyah

3. Pemerintah tidak diperbolehkan memberikan fasilitas secara sepihak kepada organisasi profesi guru tertentu, misalnya: melakukan pemotongan gaji para guru untuk kepentingan organisasi profesi guru tertentu, memberikan kemudahan kepada pihak tertentu, sementara lainnya tidak, dan sebagainya.

Ketika perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2016 ini, ternyata pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) memberikan keistimewaan pada PGRI dengan menuliskan Hari Ulang Tahun PGRI pada logo HGN 2016, maka sudah barang tentu hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagaimana tersebut di atas.

Jika dalam penulisan “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016 tersebut, pemerintah mendasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang penetapan Hari Guru Nasional (HGN), maka hal ini adalah tidak benar, karena:

1. Dalam tata hukum di Indonesia, kedudukan Undang-Undang sudah barang tentu adalah lebih tinggi daripada Keputusan Presiden.

Belajar Muhammadiyah

2. Disamping itu, dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tersebut, ternyata dari 3 amar atau poin keputusannya tidak satupun menyebutkan “HUT PGRI”, kecuali pada aspek pertimbangan/konsideran saja.

3. Pemerintah tidak boleh merayakan HUT sebuah organisasi profesi tertentu, yaitu PGRI (yang berdasarkan Undang-Undang seharusnya independen) dengan menggunakan fasilitas negara, baik sumber-daya uang maupun lainnya yang memberati keuangan negara. ? Dengan kata lain, biarkan PGRI merayakan sendiri hari ulang tahunnya, seperti halnya organisasi profesi guru lainnya, bukan dengan membebani sumber-daya negara.?

Berdasarkan hal tersebut, kami Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) meminta kepada pemerintah (cq. Ketua Panitia Hari Guru Nasional 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) untuk segera mencabut kalimat atau frase “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016.?

Demikian pula halnya dengan berbagai atribut, dokumen, rekaman suara, dan lainnya dalam event HGN 2016 yang mengindikasikan tentang HUT PGRI ke 71.

Dalam kesempatan ini, Pergunu yang kembali dinahkodai oleh Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengusulkan perlunya dilakukan peninjauan kembali terhadap Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional agar tidak terjadi salah tafsir bagi sebagian pihak.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Nahdlatul, Tegal Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock