Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Pada sesi terakhir pada kelas menulis santri atau yang disebut KMS, santri diajak kunjungan ke media cetak dan online, Tribun Yogyakarta, Kamis (22/01), pukul 14:00-16:00. Mereka dikenalkan bagaimana proses produksi berita di media mainstream. Pada kunjungan ini, Yudha Kriswanto, Redaktur Tribun Jogja mempersilakan para santri untuk menulis di media online tribunjogja.com.

"Teman-teman pakai gadget semua kan? Silakan kalian tulis berita kejadian pada saat Anda perjalanan dari LKiS ke kantor Tribun Jogja." Instruksi Yudha saat mewakili Tribun Jogja untuk mengisi sesi kunjungan santri.

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Setelah memberitahukan tata cara mengirim berita ke Tribun Jogja, Yudha juga menjelaskan, saat mengirim berita harus disertai foto. Menurutnya, foto menjadi orisinalitas berita.

"Mengambil foto harus sesuai dengan kejadian. Jangan sampai salah mengambil foto, karena akan memicu permasalahan besar. Dan kalau kalian mengambil foto dari internet, maka harus cantumkan alamatnya." Jelasnya kepada para santri yang sedang asyik mendengarkan paparannya.

Ia juga menjelaskan, tulisan yang dikirim ke tribunjogja.com tiga paragraf sudah cukup. "Ketika ada kejadian, segeralah tulis. Karena media online akan memuat berita-berita yang update." Tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Usai menjelaskan bagaimana prosedur penulisan berita di Tribun Jogja, Yudha kemudian memperlihatkan video saat pelatihan pertama kali yang diadakan oleh Tribun Jogja. "Ini merupakan pelatihan angkatan pertama. Pada waktu itu, koran tribun belum ada, bahkan media onlinenya juga belum ada." Jelasnya kepada para santri seraya memperlihatkan video dokumenter Tribun Jogja.

"Setelah hari kedua pelatihan, ada gunung merapi meletus, tepatnya pada tahun 2010. Pada saat itu, para wartawan langsung diterjunkan ke tempat kejadian sebelum rapat redaksi." Tutur Yudha, Pria dengan sosok rambut gondrong. (Nur Sholikhin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Kajian Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah. PCNU Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengupayakan data riil Nahdliyin dengan memprogramkan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu). Program tersebut mulai dilaksanakan pada awal Mei, diperkirakan berakhir pada Juli.

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Upayakan Data Riil, NU Sukoharjo Programkan Kartanu

Koordinator pembuatan Kartanu Kabupaten Sukoharjo, Cecep Choirul Sholeh, mengatakan, dari pendataan Kartanu itu, diharapkan PCNU mengetahui jumlah anggotanya, “Untuk tahap awal, target sekitar 15 000 - 24.000 pendaftar, insya Allah akan kita penuhi,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah, Kamis (2/5) siang.

Menurut Cecep, program ini sedianya sudah dilaksanakan pada April lalu, tapi baru dapat terlaksana bulan ini, “Sedikit mundur, karena kita menunggu selesainya pendataan Kartanu di Sragen.”

Belajar Muhammadiyah

Penentuan jadwal tersebut, lanjut Cecep, ditentukan tim Kartanu dari Pengurus Wilayah NU Jateng. ?

Belajar Muhammadiyah

Ia kemudian menerangkan, program Kartanu tersebut akan dimulai dari Kecamatan Kartasura dan berakhir di Kecamatan Bulu, “Sebelumnya, pada tanggal 9 Mei akan kita adakan launching Kartanu PCNU Sukoharjo, yang akan diselenggarakan di MWC NU Kartasura,” jelas Cecep.

Cecep merinci jadwal lengkap Kartanu di 12 MWC, yaitu Kecamatan Kartasura (10-13 Mei), Polokarto (15-18 Mei), Tawangsari (20-22 Mei), Weru (24, 28, 29 Mei), Bendosari (30, 31 Mei dan 1, 2 Juni), Baki (4-7 Juni), Sukoharjo (9-11 Juni), Grogol (13-16 Juni), Nguter (18-21 Juni), Gatak (23-25 Juni), Mojolaban (27-29 Juni), dan Bulu (2-4 Juli).

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor ? ? ? : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Kajian Islam, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Muslimkah, mukminin, muttaqin,

Belajar Muhammadiyah

kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?

Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Belajar Muhammadiyah

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan?

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa

Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.

Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.

Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia

Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI"

Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya

atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,

mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan

Memukul, mencaci demi pendidikan

Berbuat semaunya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

KH Ahmad Mustofa Bisri

Puisi ini terdapat dalam buku Antologi Puisi Tadarus karya Gus Mus, terbitan Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan Nahdlatul Ulama akan menjaga hubungan baik dengan semua pihak, baik istana, polisi, tentara maupun penegak hukum dan pihak lainnya untuk bersama-sama membangun bangsa.

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

NU sebagai masyarakat sipil memiliki kekuatan yang diharapkan mampu mendukung keberlangsungan bangsa ini. Mengorganisir masyarakat tidaklah gampang, diajak terlalu serius tidak mau, kalau tidak serius juga tidak menghasilkan apa-apa. “Makanya, lambang NU itu talinya kendor, kalau terlalu dikencengin, bisa putus, tetapi kalau terlalu dilepas, bisa bubar,” katanya ketika membuka Rakernas JQH di Jakarta, Jum’at (18/5).

Keberadaan NU, telah mampu menjaga harmoni bangsa Indonesia. Ia menganalogikan, di Timur Tengah, banyak ulama alim seperti Wahbah Zuhaili, Ramadhan Al Buthi, Yusuf Al Qaradhawi dan lainnya, tetapi mereka semua tidak mampu meredam konflik berdarah di negaranya atau di sekitarnya seperti di Irak, Libya, Afganistan, Syiria, Mesir dan lainnya. 

Belajar Muhammadiyah

“Kita alhamdulillah, para ulama NU ini bisa menjadi peredam dan menjaga suasana stabil,” jelasnya. 

Ia menegaskan, dirinya juga memberi peringatan kepada pemerintah, jika memang dirasa ada yang kurang pas dalam menjalankan amanah rakyat, tetapi hal ini dilakukan dengan cara yang halus. “Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara secara halus kepada Fir’aun. Kepada Fir’aun saja, diminta halus, padahal kita tidak sesuci Musa dan pemerintah tidak sekotor Fir’aun,” paparnya. 

Belajar Muhammadiyah

NU, katanya, tidak mau diperalat oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu, tetapi menjaga berlangsungnya pemerintahan negara ini sesuai dengan konstitusi. “Selama presiden tidak melanggar UUD 45, tidak boleh diturunkan karena kita punya pengalaman pahit, presiden Gus Dur digulingkan ditengah jalan tanpa jelas kesalahannya secara konstitusional,” imbuhnya.

Kiai Said meminta agar umat Islam di Indonesia bersatu karena Indonesia menjadi gerbang paling timur dunia Islam yang diapit oleh dua kekuatan raksasa, Australia dan China. “Kalau Islam keras, akan dihantam, tetapi kalau lemah, diinjak. Yang baik adalah seperti NU ini, dengan mengembangkan persaudaraan, baik persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sesama bangsa atau persaudaraan sesama umat manusia,” jelasnya.

Kalau hidup hanya didasarkan pada ukhuwah wathoniyah atau persaudaraan kebangsaan saja, akan menjadi sekuler, tetapi kalau persaudaraan sesama muslim saja, akan eksklusif. “KH Hasyim Asy’ari dengan cerdas mengintegrasikan semangat keislaman dan kebangsaan,” terangnya. 

Dari sinilah, ia memiliki ide untuk menambah definisi aswaja sebagai kelompok yang taat beragama sesuai sunnah rosul, tetapi juga memiliki semangat kebangsaan. “Kalau agama kuat, maka negara juga akan kuat,” tandasnya.

Jika ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah sudah berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah memperjuangkan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Disini, dimaknai dunia harus damai, tidak boleh ada peperangan. Persoalan yang ada diselesaikan dengan dialog, bukan dengan senjata tajam. Tidak boleh ada perang yang mengatasnamakan agama, bangsa, etnik, kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. 

“Sebuah kesalahan sejarah ketika menggunakan istilah perang suci atau holy war. Mana ada perang suci, semua perang itu kotor, tapi biarlah, itu sejarah masa lalu,” tegasnya. 

Dihadapan para peserta rakernas, Kang Said berharap NU memiliki peran lebih, bukan untuk menjadi presiden, tetapi mengarahkan negara ini dengan semangat Nahdlatul Ulama.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Syariah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Doa, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Kuasa Perempuan Pesantren

Oleh Abdul Malik Mughni

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat berakar dari pesantren, kerap ‘ditinggalkan dalam diskursus modernisme di Indonesia. Stigma pesantren sebagai subkultur feodal di Indonesia, menjadi dalih untuk meminggirkan peran NU dari sejarah dan peta politik Orde Baru (Orba), selama dua dasawarsa. Para peneliti masa itu, seperti Clifford Greetz dan Deliar Noer (keduanya lahir tahun 1926 dan menjadi rujukan para Indonesianis pada tahun 1960 sampai 1980-an) serta sejumlah penulis terkenal di masa awal Orba, menggambarkan NU dan pesantren sebagai kaum kusam yang antimodernisme.

Mereka berhasil menggiring opini masyarakat dunia, untuk menstigmatisasi NU. Framing tersebut kemudian berubah seiring hadirnya para penulis NU, seperti Mahbub Djunaedi, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, juga Saifuddin Zuhri. Disamping penulis muda Masdar F Masudi, dan Said Budairi? yang berhasil membawa pesantren dalam pelbagai wacana kontemporer di media utama (mainstream). Stigma NU yang kusam, oportunis dan lemah dalam mengejar tuntutan zaman pun berganti menjadi NU yang unik, seksi dan mampu melampaui zaman berkat kehadiran para penulis dan aktivis muda pesantren di akhir tahun 1980-an.

Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuasa Perempuan Pesantren

Penihilan peran NU dan pesantren juga terjadi dalam wacana feminisme dan gerakan kesetaraan gender di Indonesia.? Terlambatnya pembentukan organisasi Muslimat, Fatayat, Korps Peregerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) seolah menguatkan anggapan bahwa pesantren adalah subkultur yang sangat kuat dalam mempertahankan tradisi patriarkal.

Perempuan Pesantren, Memimpin Ranah Publik

Jika dirunut dari sejarah, Pesantren sebagai subkultur di Nusantara, justru telah membantu menyelaraskan gerakan kesetaraan gender; dari wacana elit ke gerakan afirmatif yang diterima hingga ke desa-desa. Meski secara organisasi, pembentukan sayap perempuan di NU dan badan otonomnya terbilang lambat, namun secara kultural, gerakan kesetaraan gender di kalangan pesantren telah dimulai sejak lama. Berdirinya pondok pesantren khusus putri di tahun 1917, di Jombang, adalah salahsatu sumbangsih ulama, khususnya KH Bisri Syansuri terhadap akselerasi gerakan feminisme di pesantren.

Jauh sebelum itu, seperti diungkapkan sejarawan Universitas Brawijaya, KH Agus Sunyoto, sejatinya kultur Nusantara, khususnya di kawasan pesisir –bersama kultur pesantren,- adalah matriarkal. Kultur matriarkal tersebut, menurut Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini, justru dihancurkan oleh negara-negara Eropa, seperti Portugis dan Belanda yang menjajah Nusantara seabad lampau.

Belajar Muhammadiyah

Agus Sunyoto menyodorkan fakta tentang Ratu Kalinyamat yang memimpin pasukan, menyerang? Portugis di Malaka di tahun 1560. Kemudian ada Laksamana Kemala Hayati, Cirebon, Nyimas Gandasari, Nyi Ageng Serang dan lainnya. “Kultur pesisir itu kultur matriarki, perempuanlah yang? berkuasa, tak hanya dalam fakta sejarah, tapi juga dalam legendanya,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Di pesisir juga, kata Agus, semua dongeng berpijak pada kultur matriarki. Agus lalu mencontohkan bahwa di Surabaya ada kisah Sawunggaling yang sukses karena taat pada ibunya. Ada juga Syarif Tambakyoso dari Sidoarjo, kesaktian yang dimiliki dari ibunya. “Malingkundang dan Sangkuriang pun berpusat pada tokoh perempuan,” paparnya. Mitos-mitos penguasa lautan di Indonesia, juga perempuan, seperti Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, Ratu Laut Utara dan lainnya.

Kehidupan di pesisir itu menghormati perempuan. Kuasa perempuan di Nusantara itu dihancurkan? kolonialisme, karena Eropa sejak era Yunani sudah patriarki,” tandas Agus seraya mengurai fakta tentang dongeng Eropa yang penuh maskulinitas. Ia menyebut dongeng Dewa Zeus versus Hera, dewi yang jahat, hingga penyebutan istilah Founding Father dan Fatherland, di negara-negara Eropa dan Amerika.

Bagaimana dengan Indonesia? “Kita menyebutnya Ibu Pertiwi, Persia pakai istilah Meehan, Turki juga menggunakan Anavatan semua maknanya motherland. Jadi wajar dalam penulisan sejarah pascakolonialisasi, peran-peran perempuan banyak dinihilkan,” imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Perempuan pesisir Nusantara ternyata juga sangat berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Enam tokoh perempuan yang tercatat dalam dokumentasi Sumpah Pemuda juga berasal dari daerah pesisir. Di antaranya, Siti Sundari dari Semarang, Emma Poeradiredja dari Cirebon.

Pendapat senada diungkapkan Aisyah Hamid Baidowi.? Adik Gus Dur itu mengungkap, kalangan pesantren turut mendorong ‘kemapanan’ feminisme di Indonesia, baik melalui gerakan afirmatif yang melahirkan sejumlah regulasi pro perempuan, maupun secara kultural, mengubah peran nyai, dari sekedar pendamping kiai, menjadi sosok yang menjadi pemimpin.

Tak heran, jika saat ini, banyak nyai, maupun puteri kiai serta aktivis perempuan NU, menjadi pemimpin di ranah publik. Kini para perempuan pesantren banyak berkiprah di ranah politik. Menjadi legislator, kepala daerah, menteri dan (mungkin) kelak menjadi Wakil Presiden atau bahkan Presiden.

Para perempuan pesantren, kata Aisyah, kini juga banyak menjadi pemimpin di ranah agama. “Sekarang banyak kemajuan di pesantren. Ibu-ibunya kebanyakan sarjana. S2, S3, malah di Purwoasri Kediri, ibu nyainya Profesor. Almusadaddiyah juga ibu nyainya profesor. Hasil Produk pesantren ketika keluar dari kepompongnya, itu luar biasa. Di MUI misalnya ada Ibu Chuzaimah Tanggo, Ibu Mursidah mereka tangguh dan alim. Khofifah juga produk pesantren,”tandasnya.

Tantangan Perempuan Pesantren ?

Nama-nama yang diabsen oleh Agus Sunyoto maupun Aisyah Hamid Baidowi adalah para aktivis pesantren yang tumbuh di era Orba yang represif. Mereka pernah berkiprah di IPPNU, Kopri, Fatayat maupun Muslimat. Kini para penerusnya di organisasi sayap perempuan di NU dan badan otonomnya, tentu punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas diri dan gerakan organisasinya agar lebih inovatif dan kreatif.?

Di era serba kompetitif sekarang ini, para perempuan pesantren punya peluang lebih besar untuk berkiprah di banyak bidang. Tak melulu di ranah politik. Tapi juga perlu mengisi ranah ekonomi kreatif, IT, birokrasi dan ranah profesional lain perlu diisi oleh para perempuan pesantren.

Riset McKinsey Global Institute (2012) memprediksi Indonesia, dengan kultur negara kepulauan memiliki prospek menjanjikan pada tahun 2020-2030. Sampai saat ini, Indonesia menjadi pangsa pasar terbesar bagi banyak industri di dunia. Indonesia yang saat ini berada di peringkat ke-16 sebagai negara perekonomian terbesar, akan meningkat ke peringkat ke-7 pada tahun-tahun tersebut. Perempuan, seperti saat ini, tentu akan menjadi pangsa pasar terbesar.

Perkembangan tersebut tentu perlu disikapi dengan bijak oleh para aktivis perempuan pesantren. Sebagai calon pemimpin masa depan, persiapan matang harus digerakkan secara sistematis. Terlebih, perempuan di Indonesia menghadapi tantangan berlipat ganda. Tak hanya bakal menjadi tulang punggung ekonomi, para perempuan Indonesia juga masih harus berperang mengeliminir maraknya kasus kekerasan dan perdagangan orang. Sehingga, aktivis perempuan pesantren kini, bukan lagi saatnya berkutat di wilayah wacana feminisme, tetapi sudah bergerak ke ranah aksi. Khususnya mempersiapkan kader-kader unggulan.

Ke depan, mungkin organisasi silat Pagar Nusa dan barisan semi militer semacam Banser Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU juga perlu dipersiapkan oleh sayap perempuan NU. TNI dan Kepolisian yang kini sedang meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan di dalam rekrutmen, juga perlu diisi oleh para pelajar puteri NU. Sehingga perempuan pesantren masa depan, tak hanya unggul dalam berdebat, dan menjadi pelengkap di ranah politik, tetapi juga mampu berkompetisi di pelbagi bidang.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Website perempuanparlemen.org, Ketua Lembaga Pers Penerbitan dan Kajian Strategis PB PMII dan Wakil Bendahara Lajnah Ta’lif Wa Nasyr PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Di Hadapan Ansor DKI, Anies Bicara Karakteristik Kepemudaan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpesan kepada Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta supaya tetap menjaga karakteristik kepemudaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan dengan watak kerakyatan. 

Di Hadapan Ansor DKI, Anies Bicara Karakteristik Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Hadapan Ansor DKI, Anies Bicara Karakteristik Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Hadapan Ansor DKI, Anies Bicara Karakteristik Kepemudaan

"Jadi ini adalah karakteristik yang harus selalu dijaga Ansor," jelas Anies. 

Demikian disampaikan Anies Baswedan saat membuka acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Gus Dur ke-8 sekaligus Pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW GP Ansor DKI Jakarta di Kantor PP GP Ansor di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (18 /12). 

Di antara cara menjaganya, kata pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, ialah dengan melakukan berbagai terobosan.

Oleh karena itu, pria berumur 48 tahun ini berharap, pada saat Rakerwil PW GP Ansor DKI Jakarta nanti, Ansor bisa memunculkan berbagai program terobosan yang sesuai dengan tantangan masa kini dan masa depan. 

Belajar Muhammadiyah

"Kehebatannya anak muda, adalah ia selalu bicara hari ini dan hari besok," jelas.

Hadir pada acara tersebut Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua I PP GP Ansor H Mohammad Nuruzzaman, Ketua PWNU H Saefullah, Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta H Abdul Aziz, dan Ketua Rijalul Ansor DKI Jakarta Habib Hamid Alqadrie. (Husni Sahal/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Perusahaan penyedia jasa dan produk Internet, Google, menyediakan beberapa aplikasi untuk memudahkan pengguna mengatur kegiatan harian rutin selama bulan puasa Ramadhan.

Pada acara Google Cafe Ramadhan di Jakarta, Selasa, Kepala Pemasaran Google Indonesia Krishna Zulkarnain mengatakan aplikasi seperti Google Calender, Google Map, Google Keep dan Google Hangout bisa menjadi sarana untuk merencanakan acara buka puasa, sahur dan mudik bersama.?

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Krishna mencontohkan, aplikasi Google Calender bisa membantu pengguna merencanakan kegiatan bersama selama Ramadhan.

Belajar Muhammadiyah

"Setelah masuk di kalendernya, pengguna bisa mengundang teman-teman yang diajak dan akan masuk dalam Gmail mereka," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Google Keep, lanjut dia, membantu mengingatkan pengguna tentang rencana yang sudah dibuat.?

"Seperti post it, bisa berwarna dan muncul dalam layar telepon," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Inilah Nama dan Tugas 6 Satuan Khusus yang Dimiliki Banser

Tulungagung, Belajar Muhammadiyah - Meski kiprah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) hadir di hampir semua lini, tak sedikit dari masyarakat yang belum mengenal nama-nama, tugas dan fungsi beberapa santuan khusus yang dimiliki organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini.

Dalam Peraturan Organisasi (PO) Pasal 23, Banser disebut sebagai organisasi yang bersifat keagamaan, kemanusiaan, sosial kemasyarakatan, dan bela negara. Untuk melaksanakan itu, Banser telah memiliki beberapa satuan khusus, di antaranya Densus 99 Asmaul Husna, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Banser Relawan Kebakaran (Balakar), Banser Relawan Lalulintas (Balantas), Banser Kesehatan (Banser Husada), Banser Maritim (Baritim), dan Banser Protokoler.

Inilah Nama dan Tugas 6 Satuan Khusus yang Dimiliki Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Nama dan Tugas 6 Satuan Khusus yang Dimiliki Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Nama dan Tugas 6 Satuan Khusus yang Dimiliki Banser

Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Tulunggung, Jawa Timur, yang berlangsung 5-7 Agustus 2016, PO untuk keenam satuan khusus itu juga menjadi bahan pembahasan. Untuk mengenal lebih jauh, berikut daftar satuan khusus dan unit lain yang sejenis dalam Banser.

Belajar Muhammadiyah

1. Detasemen Khusus 99 Asmaul Husana (Densus 99)



Belajar Muhammadiyah

Detasemen Khusus 99 Asmaul Husna selanjutnya disingkat Densus 99 adalah satuan tetap Banser yang bertugas mengamankan program-program keagamaan dan program-program sosial kemasyarakatan sebagai partisipasi GP Ansor kepada negara dalam menghadapi tantangan global dan upaya memerangi radikalisme agama dalam berbagai bentuk.

Satuan ini bertugas mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan informasi kepada pimpinan dan berfungsi untuk melakukan pencegahan dan penangkalan terhadap berbagai upaya yang mengarah pada kekerasan atas nama agama, menjaga, memelihara, dan menjamin keamanan dan kenyamanan setiap warga negara dalam menjalankan agama dan kepercayaannya terutama adalah rasa aman dan nyaman kepada seluruh warga. “Satuan ini hanya berkedudukan di Satkornas saja. Namun anggotanya menyebar ke seluruh tanah air,” ungkap Kasatkornas Alfa Isneini.

2. Satuan Banser Tanggap Bencana (Bagana)



Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana merupakan satuan khusus Banser yang mengemban amanah melaksanakan program-program sosial kemasyarakatan GP Ansor serta memiliki kualifikasi khusus di bidang penanggulangan bencana. Fungsi dan tanggung jawabnya adalah pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.

Sedangkan tugas garapannya, merencanakan, mempersiapkan, mengkoordinasikan dan melaksanakan penanggulangan bencana. Satuan ini bertanggung jawab melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana serta pembinaan personel. “Satuan ini dibentuk mulai di tingkat pusat hingga kekecamatan-kecamatan. Satuan ini sudah berdiri sejak 10 tahun yang lalu dan sudah terjun di mana-mana. Misalnya ketika Merapi erupsi, Gunug Kelud meletus, gempa bumi di Banjarnegara, dan lainnya. Bahkan sebelum itu Banser selalu kirim relawan bila ada bencana alam. Misalnya gempa bumi di Maumere Flores 12 Desember 1992. Banser waktu itu juga menurunkan tim relawannya. Begitu juga dengan tsunami Aceh,” papar Alfa.

3. Satuan Khusus Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran (Balakar)



Satuan ini berfungsi dalam penanggulangan bahaya kebakaran, tanggap darurat dan rehabilitasi. Tugasnya melaksanakan fungsi tanggap darurat dan kemanusiaan dalam rangka penanggulangan bahaya kebakaran dan bertanggung jawab melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bahaya kebakaran serta pembinaan personel. “Mengingat mahalnya peralatan. Maka satuan ini baru berdiri di beberapa perkotaan saja. Misalnya DKI Jakarta,” terang Alfa.

4. Satuan Khusus Banser Lalu Lintas (Balantas)



Satuan ini berfungsi dalam penanganan peristiwa lalu lintas dan transportasi jalan, serta pengurangan risiko kecelakaan, guna terwujudnya kelancaran dan ketertiban berlalu lintas. ”Mulai dari pusat hingga desa-desa satuan ini suah terbentuk. Contoh setiap lebaran kita selalu membentuk posko-posko lebaran di semua kabupaten dan kota,” kata Alfa.

5. Barisan Ansor Serbaguna Husada (Basada)



Basada adalah satuan khusus Banser yang mengemban tugas bantuan kemanusiaan di bidang kedokteran, kesehatan, dan norma hidup sehat bagi masyarakat khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, GP Ansor dan masyarakat. “Satuan ini dibentuk mulai pusat sampai kecamatan,” jelas Alfa.

5. Barisan Ansor Serbaguna Protokoler (Banser Protokoler)



Satuan khusus Banser ini memiliki kecakapan dalam manajemen acara kenegaraan, organisasi atau acara resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama, GP Ansor, dan Banser. Satuan ini berfungsi mengatur, menata, dan mengelola acara kenegaraan, organisasi atau acara resmi sesuai dengan perencanaan kegiatan. Dengan tugas merencanakan, mempersiapkan, mengkoordinasikan dan melaksanakan keprotokolan di GP Ansor dan Banser. “Satuan Protokoler dibentuk mulai di pusat sampai ke ranting-ranting,” kata Alfa.

6. Barisan Ansor Serbaguna Maritim (Baritim)



Baritim adalah satuan khusus yang mengemban fungsi dan tugas pengamanan, pemeliharaan, pelestarian, dan konservasi wilayah Maritim NKRI. “Sataun ini dibentuk di pusat dan semua daerah kepulauan dan daerah yang memiliki perairan,” tutur Alfa lagi.

Selain satuan khusus tersebut, lanjut Alfa, Banser memiliki Corp Provost Banser (CPB). Tak seperti enam satuan khusus lainnya, korps pasukan ini lebih berurusan dengan internal organisasi. Ia berfungsi menegakkan marwah, etika dan disiplin organisasi di internal kesatuan Banser. CPB dibentuk dalam rangka upaya menertibkan dan mendisiplinkan jajaran Banser, demi terciptanya pasukan Banser yang semakin baik, taat aturan, dan profesional. “Corp Provost Banser inilah yang mengawasi dan menertibkan semua kegiatan Banser di semua lini,” tegas mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur itu.

Sebenarnya, lanjut Alfa, Banser masih memiliki dua satuan khusus lagi. Yakni, Satuan Khusus Banser Anti-Narkoba (Baanar) dan Banser Kepanduan. Namun, dalam Konbes Ansor lalu, disepakati dua satuan itu masuk di lembaga GP Ansor bersama dengan Rijalul Ansor. “Semua satuan tersebut dibentuk untuk meningkatkan profesionalitas Banser dalam berbakti dan menjalankan fungsi sosial di masyarakat. Jadi Banser memiliki kegiatan yang sangat padat dengan berbagai disiplin kegiatan,” tambahnya. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba di sebuah wilayah membuat para relawan dan lembaga yang bergerak di bidang bencana harus mampu mengantisipasinya dengan baik, terutama dalam hal pertolongan pertama dan kebutuhan logistik para korban. Manajemen logistik yang bersifat insidentil kerap kali membuat penanganan bencana tidak berjalan dengan baik.

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Hal ini disampaikan Direktur HELP Logistics Regional Asia, Temmy Tanubrata, Kamis (11/8) saat ikut mendampingi 25 peserta Pelatihan Manajemen Logitik Kemanusiaan (Humanitarian Logistics Management) berkunjung ke gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta.?

Kegiatan ini dihelat Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) dengan menggandeng HELP Logistics, lembaga yang berada di bawah naungan Kuehne Foundation dan Lembaga Kajian Logistik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-Jumat (10-12/8) di Gedung PBNU ini membahas secara detail mengenai manajemen logistik secara praktik mulai dari pengadaan, pergudangan hingga penyaluran barang.

Menurut Temmy, salah satu kelemahan penanganan bencana di Indonesia pada umumnya kalau tidak soal keterlambatan pengiriman barang-barang bantuan, kelangkaan barang kebutuhan juga soal ketidaksesuaian antara barang yang dikirim dengan kebutuhan korban bencana saat itu. Sebab itu menurutnya, manajemen logistik harus diperkuat oleh jaringan-jaringan lokal di mana terjadi lokasi bencana.

Belajar Muhammadiyah

“Logistik bukan hanya persoalan distribusi barang kebutuhan, tetapi juga bagaimana seorang relawan atau lembaga bencana menyiapkan, menyimpan, merawat, hingga mengirimkan barang-barang tersebut. Agar penanganan bencana bisa berjalan dengan baik, harus memberdayakan jaringan lokal untuk kebutuhan menyimpan dan menyuplai barang,” papar pria lulusan Cranfield University UK ini.

Dalam pandangannya, LPBINU yang mempunyai pengurus hingga ke tingkat daerah bisa mulai menerapkan sistem manajemen tersebut. HELP Logistics yang dipimpinnya telah malang melintang memberikan bantuan, baik itu berupa pelatihan secara langsung kepada lembaga-lembaga dan para relawan maupun bantuan menyiapkan hingga mendistribusikan barang-barang kebutuhan bencana.?

“Hasil dari pelatihan ini, saya harapkan nantinya para peserta bisa memberikan pengalaman dan ilmunya kepada yang lain sehingga problem logistik bencana tidak terjadi di sana-sini ketika terjadi kasus,” ujar pria yang sudah 14 tahun menjadi aktivis penangulangan bencana di Indonesia, Timor Leste, Afghanistan, Pakistan, Rwanda, Afrika bagian selatan dan timur serta Italia ini.

HELP Logistics merupakan lembaga kemanusiaan yang bergerak dibidang logistik di bawah naungan Kuehne Foundation yang berbasis di Swiss, untuk HELP Logistics sendiri di Singapura. Selain bergerak di bidang logistik kemanusiaan, Kuehne Foundation juga bergerak di bidang pendidikan, dan sosial-budaya.?

Belajar Muhammadiyah

HELP Logistics juga salah satu program unggulan dari Kuehne Foundation yang berfokus kepada peningkatan kemampuan logistik dan rantai pasok berbagai lembaga kemanusiaan di seluruh dunia. Ikut memberikan input dalam kegiatan ini yaitu Prof. Senator Nur Bahagia selaku pimpinan dari Pusat Kajian Logistik dan Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung.?

Pelatihan di Jakarta ini diikuti oleh lebih dari 25 peserta, terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Cabang dan relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) di Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan serupa akan dilaksanakan di Semarang untuk peserta dari Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjelang akhir tahun ini. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi.?

Jawa Barat menempati peringkat pertama wilayah rawan bencana di Indonesia, yang selanjutnya diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Potensi bencana yang terdapat di wilayah-wilayah tersebut meliputi bencana geologi, vulkanologi, klimatologi, dan lingkungan. Selain itu, terdapat 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang juga berpotensi menimbulkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Tolak Lupa, Senat UIN Suka Lombakan Dokumenter Gus Dur

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Lomba Video Dokumenter Gus Dur dengan tema "Pemuda Bicara Gus Dur". Lomba tersebut dalam rangka peringatan Haul keempat KH Abdurrahman Wahid.

Tolak Lupa, Senat UIN Suka Lombakan Dokumenter Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Lupa, Senat UIN Suka Lombakan Dokumenter Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Lupa, Senat UIN Suka Lombakan Dokumenter Gus Dur

Penerimaan video dari tanggal 25 Desember 2013 sampai dengan 23 Januari 2014. Penilaian tanggal 23-25 Januari 2014, sementara pengumuman juara tanggal 25 Januari 2014 pada malam penganugerahan juara dan pemutaran screening video tanggal 27 Januari 2014 di UIN Sunan Kalijaga.

Ketua Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Romel Masykuri, mengatkaan, lomba ini kami selenggarakan untuk menolak lupa akan pemikiran dan perjuangan Gus Dur bagi bangsa ini.

Belajar Muhammadiyah

Sebab, kata dia, kalangan pemuda baik mahasiswa, santri, dan pelajar sudah mulai enggan berbicara Gus Dur. Padahal, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur masih sangat relevan untuk dijadikan diskursus pengetahuan.

“Selain itu, Gus Dur juga tokoh teladan ideal untuk dijadikan inspirasi bagi pemuda ditengah gejala krisis tokoh di Indonesia," ungkap.

Belajar Muhammadiyah

Sekjend Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Handini menambahkan bahwa lomba ini gratis tanpa dipungut biaya registrasi dan bentuk lombanya sangat sederhana, yaitu peserta tinggal merekam pendapatnya tentang Gus Dur dalam bentuk video lalu diupload ke Youtube dan link-nya ditag ke website www.semauinsuka.blogspot.com.

"Saya harap mahasiswa, santri, dan pelajar se-Indonesia banyak yang berpartisipasi dalam lomba ini, sehingga pendapatnya tentang Gus Dur bisa terwadahi," ujar Handini.

Para juri dalam lomba ini ialah, Sastrow Al-Ngatawi (Ketua PP Lesbumi NU), Alissa Wahid (Seknas Gusdurian, putri Gus Dur), Dimas Jaya (Film Maker/Festival Film Purbalingga), dan A. Anfasul M. (Film Maker/Direktur Elora Production-Jogja).

Sedangkan hadiah yang disediakan bagi pemenang yaitu: juara 1, Rp. 1.000.000. juara II, Rp. 750.000, juara III, Rp. 500.000, dan video favorit Rp. 350.000, serta semua pemenang akan mendapat trophi dan piagam penghargaan.

Lomba ini didukung oleh Gusdurian, Elora Production, Renaisant Insitute, dan Nahdiyyin Nusantara. Info pendaftaran, dan prosedur pengiriman lomba bisa menghubungi Handini (089602844791) atau kunjungi www.semauinsuka.blogapot.com. (Hasan Albanah/Abdullah Alawi?)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Lomba, Nahdlatul Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006

Canberra, Belajar Muhammadiyah
Berikut ini susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan Selandia Baru periode 2005-2006 yang dilantik oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Canberra 23 September 2005. Berbeda dengan kepengurusan NU di Indonesia, untuk PCI NU per periodenya hanya satu tahun. kebijakan ini diambil karena sebagian besar para pengurus adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri.

I. Mustasyar 
H. Muhammad Taufiq Prabowo, Lc. DEA
Dr. Kacung Marijan, MA P. hD-Ir. Agung Sugiri, MPST
Drs. H. Umar Faruk Asegaf

II. Syuriah
Rais : Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD
Wakil Rais: Khairullah Zikri, S. Ag, M.A

Katib: Muhamad Nahdi, SE, Ak
Wakil Katib: Muhammad Ardiansyah Matsyech, SE

A’wan :
Drs. Akhsyim Afandi, MA
Yon Machmudi, SS, MA
Herry Juliartono

III. Tanfidziyah
Ketua : H. Arif Zamhari M. Ag
Sekertaris : Hj. Safira Macrusah, MAAS (Hons)
Wk. Sekertaris : Ahmad Zainul Hamdi M. Ag
Wk. Sekertaris : Syafrina Tristiawati, SE, MA, M.Sc

Wk. Ketua : Suaidi Asy’ari MA
Wk. Ketua : Ghafar Karim MA
Wk. Ketua : Dra. Nurnaila Schiller
Wk. Ketua : Faishal
Wk. Ketua : Deni Hamdani M. Ag
Wk. Ketua : Suseno Hadi

Bendahara : Ir. H. Tony Indranada

Dept Pendidikan : Parto M. Ed.
Dept Ekonomi : Yulianto Setiawan
Dept Enviroment : Muhammad Zahrul Muttaqin MM
Dept Pertanian dan Perikanan: Meiliani Ardaya
Dept Litbang : Rahma Ida MA
Dept Kominfo : Muhammad Izman Herdiansyah
Dept Kerja Sama Internasional   : Yasir Alimi MA

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Cerita, Kajian Islam, News Belajar Muhammadiyah

Susunan Pengurus Cabang  Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006 (Sumber Gambar : Nu Online)
Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006 (Sumber Gambar : Nu Online)

Susunan Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan New Zealand 2005/2006

Sabtu, 30 September 2017

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, pun tak mau tinggal diam dengan gerakan kelompok Islam garis keras yang marak belakangan ini. Mereka menggelar workshop untuk memenuhi kelangkaan dai sekaligus menandingi gerakan Islam radikal yang semakin meresahkan di Kota Batik itu.

Dilaporkan Kontributor Belajar Muhammadiyahdi Pekalongan Abdul Muiz, acara yang diselenggarakan di Gedung Kanzus Sholawat, Ahad (25/3) itu, diikuti 200 peserta yang merupakan para khatib, dai dan Pengurus Ranting NU se-Kota Pekalongan. Mereka membahas berbagai persoalan yang selama ini menjadi kendala para khatib dan dai untuk menyebarkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) ala NU.

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Kota Pekalongan Tandingi Gerakan Islam Garis Keras

Seperti diketahui, tantangan yang dihadapi NU semakin berat, berbagai persoalan terus bermunculan di lingkungan NU. Baru-baru ini, mushola dan masjid yang didirikan nahdliyin di Banyuwangi, Jawa Timur, berpindah tangan ke non-NU. Belum lagi banyaknya kader-kader potensial NU berpindah haluan. Bahkan, ajaran Aswaja pun mulai ‘diganggu’ keberadaannya.

Melalui workshop bertajuk “Strategi Dakwah di Era Global” itu, para peserta diharapkan mampu memetakan masalah dan dapat menerapkannya dalam tataran praktik. Sehingga para mubalig NU tidak lagi terjebak dalam kejumudan sistem. Akan tetapi mampu secara kreatif meramu bahan untuk disampaikan kepada masyarakat sesuai konteksnya.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, Drs H Marzuqi berharap, para peserta tidak lagi terjebak pada pakem dan tata aturan yang selama ini berlaku di lingkungan NU. Pasca-workshop tersebut, katanya, peserta harus dapat membuat terobosan-terobosan yang bermanfaat bagi warga NU.

Berbagai persoalan yang muncul, menurut Marzuqi, tidak bisa dilepaskan dari peran para mubalig dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Jika diperlukan, NU harus mampu menerobos teknologi media informasi. “Misalnya, NU memiliki radio dakwah, televisi dakwah. Masa NU sebesar ini, media cetak dan elektronik saja tidak punya, jika ada pun tidak rata penyebarannya,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain Marzuki, hadir juga pada acara hasil kerja sama PC LDNU dengan PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Pekalongan itu, dua Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU Jateng Prof Dr Muhajirin Tohir dan dan Saifullah M.Ag. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Salah satu program pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi masyarakat adalah distribusi lahan. Inti dari program ini adalah untuk terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia terutama dalam penguasaan dan kepemilikan tanah. Isu ini lalu menjadi buah bibir di masyarakat. Bukan masyarakat tidak setuju dengan kebijakan distribusi lahan, namun yang menjadi persoalan adalah konsep dasar, mekanisme pendistribusian lahan, dan kesiapan dari masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan tanah tersebut.

Soal pemanfaatan tanah, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat memiliki pengalaman akan hal itu. Setidaknya ini bisa menjadi inspirasi dalam memanfaatkan dan mengelola lahan. Saat ini, tanah yang dikelola PWNU Kalbar mencapai seratus hektar yang berada di Kota Singkawang.

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar (Sumber Gambar : Nu Online)
Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar (Sumber Gambar : Nu Online)

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat Romawi Martin menuturkan, awalnya Nahdliyin meminjam lahan seorang Tionghoa yang dibiarkan dan tidak dikelola. Lalu kemudian lahan tersebut diolah dan ditanami jagung. 

“Lahan ini dipergunakan untuk menanam jagung dengan status pinjam,” kata Romawi di Pesantren Nurul Qur’an di Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11). 

Awalnya lahan yang dipinjam seluas sepuluh hektar tahun 2016. Setelah dua tahun berlalu, luas lahan tersebut meningkat tajam menjadi seratus hektar. Pengurus wilayah mengkoordinir Nahdliyin Kalimantan Barat untuk memanfaatkan lahan pinjaman tersebut.

“Ini pure modal dari jamaah Nahdlatul Ulama, tidak ada dari lembaga perbankan atau apapun,” ucapnya.

Belajar Muhammadiyah

Lahan tersebut dibagi menjadi dua; lahan yang dikelola perorangan dan kelompok. Ada perbedaan pengelolaan terkait dengan pembagian lahan tersebut. Jenis tanaman pada lahan yang dikelola perorangan adalah jagung manis. Sedangkan, tanaman pada lahan yang dikelola kelompok adalah jagung untuk pakan ternak ayam.

Romawi memasarkan hasil panen jagung dari pemanfaatan lahan tersebut kepada yang empunya tanah. Karena statusnya pinjaman, maka mereka diharuskan untuk menjual hasil panen kepada yang empunya tanah untuk pakan ayam. Namun untuk hasil lahan yang dikelola perorangan bisa dijual ke luar. 

“Dengan harga yang disepakati. Harganya tentu lebih murah karena kita dipinjami lahan,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Lahan seluas seratus hektar tersebut dikelola oleh seratus lima puluh orang. Satu tahun panen dua kali. Untuk satu kali panen, omset yang didapatkan adalah sekitar dua ratus lima puluh juta. 

Namun ia mengaku khawatir karena lahan yang dikelolanya tersebut hendak dijadikan sebagai bandara. Kalau itu benar-benar dibangun bandara, maka ada kekhawatiran Nahdliyin tidak bisa bercocok tanam lagi.

Ia menyambut baik program distribusi lahan yang digulirkan pemerintah. Ia berharap program tersebut bisa sampai kepada petani Nahdliyin yang ada di Kalimantan Barat.

“Kita yang di luar Jawa juga ingin menikmati program pembagian lahan dari pemerintah ini,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Rabu, 12 Juli 2017

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama

Bintaro, Belajar Muhammadiyah. Tak seperti hari biasanya, Sabtu pagi (10/06) Masjid Nurul Hidayah Kalimongso terlihat lebih ramai. Dari kejauhan terpampang spanduk bertuliskan Pengobatan Gratis & Santunan Anak Yatim Piatu dan Dhu’afa. 

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Nahdliyin STAN Adakan Baksos Sosial Lintas Agama

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antarlembaga keagamaan diantaranya Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman), Dana Umat Al-Iman, Yayasan Lentera, GKI Tangerang Selatan dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) PKN STAN. Harmonisasi tersebut  menunjukkan bahwa tidak ada pembeda untuk melakukan tugas kemanusiaan kepada sesama.

Serangkaian acara dimulai sejak pukul 10.00 WIB dengan kegiatan pelatihan perawatan jenazah. Pelatihan ini disampaikan oleh Ustad Shonhaji. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Pembicara yang merupakan Alumni Pondok Pesantren Qudsiyah (IKAQ) ini juga mengajak peserta tidak hanya memahami secara teori namun juga praktik. 

Pukul 14.00 WIB kegiatan praktik perawatan jenazah berakhir. Panitia kemudian bersiap untuk kegiatan selanjutnya yaitu pengobatan gratis untuk masyarakat yang dilaksanakan di halaman masjid. Tim relawan dari yayasan Lentera tiba di lokasi sekira pukul 14.15 WIB. Sebelumnya dilakukan pengarahan oleh tim dokter guna memastikan kelancaran kegiatan. 

“Pengobatan yang disediakan antara lain pengobatan umum, gigi, dan juga ada potong rambut baik untuk kaum pria maupun wanita,” ujar dr. Maria saat mengisi pengarahan. Menjelang waktu Ashar, warga pun mulai berdatangan dengan membawa kupon yang telah dibagikan panitia pada hari sebelumnya. Wajah mereka tampak bergembira saat mendapat kesempatan berkonsultasi dengan para dokter.  Kegiatan pengobatan gratis ini terus berjalan hingga magrib tiba.

Belajar Muhammadiyah

Sementara kegiatan pengobatan masih berlangsung, pada pukul 16.30 WIB diadakan pula kegiatan santunan anak yatim piatu dan dhu’afa yang dilaksanakan di dalam masjid. Sekitar 110 warga yang hadir untuk menerima santunan. Pemberian santunan secara simbolis dilakukan oleh H Romli selaku Ketua DKM masjid. Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Dewan Alumni Iman yaitu Ustadz Subhan, Felix dari Yayasan Lentera dan Imam Bajuri. Acara ditutup dengan pembacaan doa yang kemudian dilanjutkan pembagian santunan kepada masyarakat secara tertib Panitia.

Tak lama berselang, adzan Magrib pun berkumandang. Serangkaian acara hari ini dipungkasi dengan buka puasa bersama oleh seluruh panitia dan tim relawan dari yayasan Lentera. Wajah-wajah lelah berbalut senyum kebahagiaan melebur dalam indahnya keberagaman. (Abdulloh/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 22 Juni 2017

Siapkan Pasukan Posko Lebaran, Ansor Tarub Kaderisasi Banser

Tegal, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Tarub, Tegal menggelar pra Orientasi ke-Banser-an. Hal ini sebagai upaya mencari bibit unggul ? kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dilingkungan Ansor setempat serta menyiapkan personil penjaga posko lebaran.

Kegiatan yang dihelat, Ahad (11/6) di Desa Bulakwaru Kecamatan Tarub itu berlangsung selama 3 jam, dimulai jam 14.00 sampai jam 17.00 WIB dan dilanjutkan dengan pengajian rutin bulanan Ansor.

Siapkan Pasukan Posko Lebaran, Ansor Tarub Kaderisasi Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Pasukan Posko Lebaran, Ansor Tarub Kaderisasi Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Pasukan Posko Lebaran, Ansor Tarub Kaderisasi Banser

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tarub, ? Haryono ? mengatakan orientasi ke Banser an dimaksudkan untuk mengenalkan tentang Banser kepada calon anggota yang masih anyar.

“ Orientasi ini sebagai pengenalan bagi kader Ansor dan Banser anyar, agar mereka mengenal lebih dalam apa itu Banser sebagai pasukan inti Ansor,” katanya.?

Dikatakan Haryono, ? meski kegiatan ini tidak ada dalam PO GP Ansor maupun Banser, namun PAC Ansor Tarub melaksanakan ini agar ada re-generasi anggota Banser.?

"Nantinya kegiatan ini akan di follow up dengan mengadakan Diklatsar Banser dalam waktu 6 bulan ke depan,” terang Haryono

Belajar Muhammadiyah

Dia melanjutkan, kegiatan pra orientasi Banser juga untuk menjaring anggota yang akan diterjunkan menjaga posko lebaran Banser GP Ansor Kecamatan Tarub.

"Seperti diketahui, bahwa Tarub adalah salah satu titik pintu keluar jalan Tol Fungsional sementara, sehingga dipastikan lalu lintas akan semakin padat. Oleh karena itu Satkorcab Banser Tegal menunjuk PAC GP Ansor Tarub sebagai salah satu posko dari 14 posko di Kabupaten Tegal," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Satkorcab Banser, Untung Sudargi selaku pemateri orientasi mengemukakan, bahwa Banser adalah pasukan inti dari Ansor. Banser merupakan benteng penjaga ulama.?

"Menjadi anggota Banser harus diniati ikhlas, mengharapkan berkah dari Allah SWT. Seperti yang dicontohkan, ? Habib Luthfi. Beliau sangat cinta kepada Banser, bahkan beliau rela untuk terjun langsung mengatur lalu lintas dengan pakaian banser karena kecintaannya kepada Banser," paparnya. (Hasan/ Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Rabu, 12 Oktober 2016

Pakai Batik Berarti Ikuti Kanjeng Nabi Muhammad

Jakarta, Belajar Muhammadiyah 



Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri pernah mengatakan, dewasa ini, umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad. 

Pakai Batik Berarti Ikuti Kanjeng Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakai Batik Berarti Ikuti Kanjeng Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakai Batik Berarti Ikuti Kanjeng Nabi Muhammad

“Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional Arab,” ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini. 

Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah. 

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin pada pengajian di Mata Air, Jl Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011 lalu. 

Belajar Muhammadiyah

“Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam. 

“Ini, ittiba’ Kangjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya, bukan pakaiannya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. “Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya. 

Senada dengan Gus Mus, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersyukur bahwa batik, salah satu khas pakaian Indonesia masih bertahan walaupun memasuki era digital. 

“Alhamdulillah kita dijajah Belanda selama 350 tahun, batik tidak hilang,” kata Kiai Said Aqil Siroj saat ditanya komentar tentang Hari Batik Nasional ketika ditemui Belajar Muhammadiyah di ruangannya, gedung PBNU, Jakarta, Kamis 2 Oktober 2014.

Menurut kiai asal Cirebon tersebut, batik adalah ciri khas Indonesia yang unik dan mengandung filosofi daerah dimana ia dibuat. Seperti batik Yogya, Cirebon, Solo, Pekalongan, dan daerah memiliki filosofinya masing-masing. 

“Orang dulu membuat motifnya itu tidak sembarangan. Apalagi yang batik tulis. Konon katanya ketika akan membatik itu ada yang tirakat dulu sebab ada yang sampai dua tahun. Konon begitu yang batik tulis. Itu untuk keberkahan,” katanya menjelaskan.  

Ia menyebut juga bahwa orang yang membatik bukan hanya semata-mata mencari materi atau uang, tapi mempertahankan jati diri karena soal uang itu tak setimpal dari daya ciptanya. 

Menjadi warga negara Indonesia, menurut Kia Said adalah amanat dari Allah SWT. “Saya jadi orang Indonesia bukan pilihan. Tiba-tiba Tuhan menghendaki saya jadi orang Indonesia, itu kan anugerah, amanah dari Tuhan,” tegasnya.

Batik, kata dia adalah produk budaya manusia Indonesia. Sedangkan budaya adalah pembeda antara manusia dengan binatang. Sebelum lahir, seseorang sudah berada dalam budaya tertentu dalam aturan tata cara pakaian dan tata cara hidup tertentu.

Lebih jauh Kiai Said mengatakan orang Indonesia orang yang berpakaian Arab tidak ada hubungannya dengan kedalaman keberagamaan seseorang. Karena di zaman Rasulullah saja yang menggunakan pakaian seperti itu adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. 

Dalam Islam, sambung Kiai Said, yang penting dalam berpakaian itu menutup aurat. “Mau sarung, kain, jilbab, kebaya, sari India, celana asal tidak terlalu ketat, yang penting menutut aurat. Adapun jika budaya bertabrakan dengan Islam, maka Islam meluruskan. Yang tidak bertabrakan, kita pertahankan,” tegasnya.  

UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Meme Islam, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 Juni 2016

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang?

Kita kadang kehilangan kunci motor, kacamata, telepon genggam, atau perabotan rumah tangga. Bisa jadi karena terjatuh, lupa di mana meletakkannya, atau lalai kalau barang yang dicari masih dipinjam tetangga. Maklum tidak semua orang memiliki daya ingat dan ketelitian tingkat tinggi terhadap barang miliknya. Solusinya sederhana, mengingat-ingat dan mencarinya.

Mereka yang kehilangan barang ini harus meningkatkan upaya pencarian terhadap perabotannya. Sementara hasil pencariannya mesti diserahkan kepada Allah. Tugas mereka hanya berusaha. Di samping itu Rasulullah mengajarkan doa yang perlu dibaca saat kehilangan suatu barang.

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Anda Repot, Kehilangan Sesuatu Barang?

Sayid Utsman bin Yahya menerakan doa berikut dalam karyanya, Maslakul Akhyar fil Ad‘iyah wal Adzkar.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya, Hai Tuhanku, Hai Zat Yang mengumpulkan sekalian orang di hari yang tiada syaknya lagi padanya. Kumpulkanlah kiranya antara aku dan barangku yang hilang, kumpulkan dengan kebajikan dan ‘afiyah.

Belajar Muhammadiyah

Semoga doa ini bermanfaat. Sekurangnya mengurangi kepenatan pencarian atau membantu tumbuhnya keikhlasan terhadap barang yang belum diketemukan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Kajian Islam, Makam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Februari 2016

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang menggelar workshop diseminasi hasil penelitian mahasiswa dan dosen tahun 2014 di hotel Muria Semarang, Sabtu (29/11).

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Program penelitian tersebut merupkan tahun kedua bagi mahasiswa dikampus tersebut melakukan penelitian secara langsung. Kegiatan mulai pendaftaran di awal tahun (Januari-red), seleksi administrasi, seleksi tim reviewer, seminar proposal, pelaksaaan penelitian, progress report (laporan sementara) hasil penelitian hingga workshop diseminasi hasil penelitian.

Heri Kuseri, salah satu mahasiswa meneliti pemikiran Dr. KH. MA. Sahal Mahfudh dengan judul

Belajar Muhammadiyah

penelitian "Teologi Sosial Kiai Sahal". Heri melakukan penelitian mulai awal Juli, butuh dua bulan untuk menggali data.

Belajar Muhammadiyah

"Keyakinan teologi mendorong manusia untuk bertindak secara praksis sosial", ungkap mahasiswa jurusan Akidah Akhlaq ini.

Heri tertarik dengan pemikiran salah seorang kiai besar di kalangan Nahdlatul Ulama ini. "Beliau memandang sesuatu tidak hitam putih, antara halal dan haram. Tapi visinya adalah mashlahat. Beliau termasuk orang yang berpengaruh", tambah Heri.

Selain itu penelitian ini akan memberi pemahaman teologi atau tauhid tidak hanya percaya kepada Tuhan belaka kemudian beribadah, namun menekankan pada praktek kesalehan sosial.

Bagi mahasiswa penelitian ini bermanfaat dalam menunjang dan mengasah intelektual mereka. Selain itu, dari segi pembiayaan kegiatan penelitian kompetitif ditanggung oleh LP2M IAIN Walisongo melalui Dana DIPA RM dan BOP IAIN Walisongo tahun 2014.

Untuk mahasiswa akan mendapat bantuan sebesar Rp. 5.000.000/penelitian. Muhammad Bagus Irawan, salah satu peserta, menyatakan, program penelitian seperti ini sudah bagus dan layak untuk dilanjutkan di tahun mendatang. Minimal bisa mengajak mahasiswa untuk belajar penelitian. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Mei 2015

Berkala Sarbumusi

Berkala Sarbumusi adalah majalah yang diterbitkan Dewan Pimpinan Pusat Sarikat Buruh Muslimin Indonesia atau DPP Sarbumusi. Majalah tersebut pertamakali terbit pada tahun 1968, beralamat di Jalan Raya Kramat 164 atau kantor PBNU.?

Berkala Sarbumusi terbit ala kadarnya, ukurannya kertas polio, tata letaknya seperti bentuk surat, tidak dijilid layaknya sebuah majalah. Nama para awak redaksi pun tidak dicantumkan.

Berkala Sarbumusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkala Sarbumusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkala Sarbumusi

Edisi pertama mengetengahkan editorial berjudul “Pengangguran Sumber Ketegangan Sosial Paling Berbahaya”. Dalam tulisan itu juga disinggung kehidupan politik yang macet, demokrasi yang yang dikebiri. Disinggung pula RUU tentang Sawatantra dan hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah yang semakin jauh dari cita-cita otonomi seluas-luasnya bagi daerah.

Tulisan berjudul Prasarana Politik untuk Pembangunan Ekonomi karya HM Subhan ZE. Ada juga O. Hambali dengan tulisan Pedoman Tata Cara Penyelesaian Perburuhan. Tak lupa memuat berita seputar Sarbumisi, surat pembaca, serta ilustrasi-ilustrasi pignet. Nama-nama gerakan buruh yang tergabung dalam Sarbumisi diletakkan di halaman kedua.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Dari dokumen yang dimilik Perpustakaan PBNU, majalah ini konsisten menggunakan sampul 1 jenis, yakni lambang Sarbumi di sisi kiri, nama majalah Berkala SARBUMISI dilekakkan paling atas.?

Sementara seorang bertubuh keker, mengenakan kopyah, sedang mengajungkan tangan kirinya yang memegang hasil bumi, tangan kananya terkepal. Di bawah gambar tersebut ada masjid, cerobong pabrik, kereta api, dan kapal laut. Sampul itu tidak diganti hingga edisi ke-12, Juni 1969. Hanya saja warnanya berubah, kadang hijau, merah, biru, serta oranye.?

Tidak ada informasi secara pasti kapan berakhirnya majalah ini. Sebuah informasi mengabarkan bahwa National Library of AUstralia punya koleksi Berkala Sarbumusi. Besar kemungkinan, majalah ini tidak terbit seiring induknya mati suri karena dilarang melakukan aktivitas perlindungan terhadapa anggotanya oleh Orde Baru. Berkala SARBUMUSI terbit ketika DPP Sarbumi dipimpin KH Masykur dan Sutanto Martoprasono. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock