Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Sukabumi, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mengadakan apel akbar di lapangan Sekarwangi Kecamatan Cibadak Sabtu, (22/10). Dalam rangka memperingati Hari Santri tersebut, ribuan santri datang dari berbagai pelosok daerah Sukabumi.

Pada kesempatan tersebut, Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi mendeklarasikan antinarkoba. Ketua Muslimat Nenah Herlina mengatakan, deklarasi ini adalah tindak lanjut dari hasil keputusan musyawarah Muslimat NU di Malang, Jawa Timur yang merekomendasikan memberantas narkoba di berbagai daerah.

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukabumi Deklarasikan Antinarkoba

Adapun tindak lanjut setelah dideklarasikan tersebut, Muslimat NU akan mensosialisasikannya secara masif kepada masyarakat melalui pengajian-pengajian di majelis talim dari mulai tingkat kecamatan hingga tingkat desa.

Belajar Muhammadiyah

“Ini menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama melindungi terhadap generasi muda khususnya, umumnya semua warga yang ada di Sukabumi.

Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU KH Mahmud Mudrikah Hanafi, Ketua PCNU KH R. Abdul Basith,? Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, Ketua Majlis Ulama Indonesia KH M. Oman Komarudin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sukabumi H. Agus Mulyadi, Sekertaris Daerah H. Iyos Somantri. Mereka ikut membubuhkan tanda tangan di atas spanduk deklarasi antinarkoba tersebut. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Hadits, Hikmah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 20 Februari 2018

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Bantul,  Belajar Muhammadiyah

Maraknya berbagai aliran Islam di Indonesia, seperti Wahabi, HTI, MTA, dan Syi’ah, semakin menuntut para generasi Nahdhiyin untuk lebih menguatkan lagi pemahaman akan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dianutnya.

Setidaknya, demikian yang diungkapkan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi, Irwan Masduqi dalam mengawali dialog yang mengangkat tema “Peta aliran-aliran Islam di Indonesia”, Kamis (6/6) kemarin.

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Aliran Lain, Kedepankan Solusi Argumentatif

Dialog tersebut dilaksanakan serangkaian dengan acara Majma’un Nahdliyin dan peringatan Isra’ Mi’raj oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM, di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai pemantik awal, Irwan menjelaskan tentang pengertian Aswaja itu sendiri, berikut sejarah singkat munculnya Aswaja. Dikatakan bahwa Aswaja adalah kelompok yang konsisten memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, istilah Aswaja memang belum ada. Umat Islam yang telah terpecah belah karena politik dan telah ada sejak zaman nabi, membuat Aswaja hadir sebagai penetralisir konflik. 

Belajar Muhammadiyah

Aswaja yang dikenal dengan akidahnya yang terbuka dan moderat, lanjut Irwan, berakar pada aliran asy’ariyah dan maturidiyyah. Jadi, disamping berpedoman pada nash, Aswaja hadir tanpa mengesampingkan akal dan rasionalitas. Karena akal memiliki peran dalam menentukan ijtihad, atau menentukan baik buruknya suatu hal. 

“Aswaja hadir dengan menggunakan keseimbangan antara rasionalitas dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits,” ungkapnya.

Menurut Irwan, NU yang berideologikan Aswaja dengan ciri khasnya ta’adul, tawazun, tawasuth, dan tasamuh hadir dengan mengedepankan jalan perdamaian secara dialogis, bukan secara fisik. Juga tidak dengan mudah mengkafirkan orang.

“Itulah kenapa NU bisa menjadi basis politik yang begitu kuat di NKRI. Ya karena kemoderatannya itu,” tegasnya.

Mengenai konsep berpolitik NU yang menggunakan kitab kuning sebagai landasannya, dikatakan Irwan bahwa kitab kuning merupakan hasil ijtihad para ulama. Sedangkan prinsip-prinsipnya secara umum, telah termuat di dalam Al-Qur’an. 

Jadi mekanisme yang digunakan apa dan bagaimana, tidak ada aturan, yang terpenting adalah tercapainya kemaslahatan. Nah, kemudian kenapa yang digunakan adalah demokrasi, bukan syari’at Islam? Jawabnya adalah, karena demokrasi itu dekat dengan musyawarah.

“Hal itu seperti yang dilakukan oleh Nabi ketika hijrah ke Madinah. Nabi tidak langsung mewajibkan syari’at Islam kepada masyarakat Madinah, tapi membentuk masyarakat kecil dulu. Nabi juga masih mempersilahkan Yahudi menggunakan kitabnya terdahulu,” papar Irwan.

Lantas, Irwan pun memaparkan sedikit tentang Syi’ah. Dikatakan oleh Irwan, bahwa sebenarnya banyak ajaran-ajaran NU yang secara tidak sadar berasal dari Syi’ah. Seperti Barzanji, shalawat Habib Syech, yang membuat adalah orang Syi’ah. Dalam hal ibadah memang tidak ada perbedaan. Yang berbeda adalah dalam konsep berpolitik dan pandangan terhadap nikah mut’ah. 

“Jadi, NU kita itu masih sedikit mirip Syi’ah. Syi’ah zaman dahulu memang sedikit berbeda dengan Syi’ah sekarang. Syi’ah dulu banyak mencaci maki sahabat. Sekarang tidak lagi,” kata Irwan.

Di akhir sesi, Irwan mengatakan bahwa dalam menghadapi polemik aliran-aliran yang muncul, yang lebih diperlukan adalah penguatan argumentasi, bukan penguatan fisik. Jadi walaupun misalnya sudah jelas terbukti bahwa aliran tersebut sesat, tidak benar jika beradu fisik, melainkan diselesaikan secara argumentatif. Seperti yang telah dilakukan Nabi ketika menghadapi nabi palsu, yakni Musailamah Al-Kadzab.

“Nabi Muhammad dahulu ketika menghadapi nabi palsu, tidak menggunakan kekerasan. Melainkan dengan ancaman ukhrawi. Nah, ketika Musailamah sudah bersikap separatisme, barulah diperangi,” tandas Irwan di akhir diskusi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

Pringsewu, Belajar Muhammadiyah - Madrasah Aliyah Maarif Keputran Kabupaten Pringsewu merampungkan agenda perkemahan sekaligus dalam rangka Pelantikan Penegak Bantara Ambalan Ki Hajar Dewantara dan Siti Fatimah Gudep 03.091-03.092. Perkemahan yang dilaksanakan di halaman madrasah setempat ini dilaksanakan selama tiga hari dari Sabtu (14/5) sampai dengan Senin (15/5).

Kepala MA Maarif Keputran Irsadul Ibad mengatakan, dalam perkemahan tersebut para anggota Pramuka madrasah setempat mendapatkan berbagai macam materi kepramukaan baik in door maupun out door.

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Maarif Keputran Pringsewu Sukes Gelar Perkemahan Pramuka Bantara

"Setelah upacara pembukaan, para peserta mendapatkan materi berupa dinamika kelompok yang memfokuskan bagaimana peserta berinteraksi dengan dalam regunya maupun dengan regu lainnya," jelas Irsad di sela-sela kegiatan.

Materi lain yang akan didapat oleh peserta di antaranya adalah penyelesaian SKU Bantara, Pentas Seni, Api Unggun, Renungan Malam, dan Kegiatan Explorer. "Selain materi tersebut, bermacam permainan juga diberikan kepada peserta untuk menambah semangat dan keceriaan para peserta," jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Irsad berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi para siswa siswi MA Maarif Keputran dalam mendalami ilmu kepramukaan. Apalagi menurutnya pelajaran Pramuka pada kurikulum 2013 wajib diikuti oleh setiap peserta didik di tingkat SLTA.

Selain itu kepramukaan juga dapat menambah kecerdasan emosional meningkatkan disiplin siswa sekaligus merupakan organisasi positif yang dapat memupuk kepekaan sosial dan kepemimpinan. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kyai, IMNU Belajar Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Isu radikalisme masih jadi momok bagi pelajar saat ini. Lembaga survei juga menunjukkan betapa tingginya angka pelajar yang terkontaminasi paham radikal. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani Amin menekankan kepada kader muda NU untuk membentengi diri dengan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah.

Hal itu ia sampaikan kepada pengurus PC IPNU dan PC IPPNU Kabupaten Cirebon usai mengisi kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Kecamatan Astanajapura di Pesantren Attarbiyatul Wathaniyah (PATWA), Astanajapura, Cirebon, Kamis (18/1).

“Penguatan ideologi Aswaja harus tertanam pada diri kader-kader muda NU agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran radikal,” katanya.

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wawan Arwani: Penguatan Ideologi Harus Menjadi Prioritas

Menurutnya, penguatan ideologi harus diutamakan dalam kegiatan Makesta ini. “Makanya, penguatan ideologi harus menjadi prioritas utama,” ujar salah satu pengasuh Buntet Pesantren itu.

Hal ini pun direspons Hamdan Tsani Tyo. Kepada Belajar Muhammadiyah, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PC IPNU Kabupaten Cirebon itu menyatakan bahwa hal tersebut menjadi perhatian PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Cirebon saat ini. Oleh karenanya, tema yang diambil  adalah “Mencetak Pelajar yang Berjiwa Sosial dan Berideologi Ahlussunnah wal Jamaah”.

Belajar Muhammadiyah

“Aswaja harus mendarah daging dalam diri setiap kader NU dan diperkuat dengan jiwa sosialnya sehingga tidak saja saleh ritual, tetapi juga saleh sosial,” katanya.

Makesta kali ini diikuti oleh 96 peserta dari berbagai sekolah dan pesantren di Kecamatan Astanajapura. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Olahraga, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Jadi TKW di Hongkong, aktivis Fatayat NU, mengajar ngaji, on line, membantu yatim piatu, hingga penerjemah kita-kitab penting untuk perempaun dan anak-anak. Itulah Umi Muawanah, santri yang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi.

Salah satu pengabdian, sekaligus karya intelektualnya yan menonjol adalah, menerjemahkan kitab bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pego ke dalam bahasa Indonesia. Ia menerjemahkan kitab itu di Hongkong, untuk pegangan Muslimah Indonesia yang bekerja sebagai TKW (buruh migran Indonesia) di negeri yang jarang mushola.

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Muawanah, dari TKW hingga Penerjemah Kitab

Salah satu kitab yang diterjemahkan adalah Risalatul Mahidl karya Kiai Haji Masruhan Ihsan. Kitab tersebut berisi hal ihwal haid: hikmah haid, darah haid, masa haid, cara mengqodlo shalat, yang membatalkan saat haid, merawat bayi, cara mandi besar, kehamilan, nifas, wiladah.

Kemudian perempuan berusia 40 tahun, asal Blitar, Jawa Timur itu juga menerjemahkan kitab Marah Shalihah, yang berisi panduan menjadi seorang Muslimah. Modal menerjemah karena ia pernah nyantri di Pesantren Darul Ulum, Selotumpuk Wlingi, Blitar.

Belajar Muhammadiyah

Dua kitab tersebut kemudian dicetak PCI NU Rintisan Hongkong bekerjasama dengan Fatayat NU Imza (Imroatu Zahro, red.) Hongkong. 

Belajar Muhammadiyah

Untuk mengetahui apa dan bagaimana Umi Muawanah yang bekerja di negeri tirai bambu sejak 2003 tersebut menerjemah, Abdullah Alawi dari Belajar Muhammadiyah, mewawancarainya melalui Facebook. Berikut petikan wawancara dengan Umi yang menggunakan akun Ina Tanjung.  

Bagaimana cerita Anda menerjemahkan kitab di Hongkong?. Alhamdulillah di majikan yang sekarang, waktuku banyak nganggur. Tidak  sampai seminggu sebab aku cuma jaga nenek yang tak suka jalan dan keluar rumah. Tapi sekarang, dua minggu sekali olahraga di rumah sakit. Nah, bila tidak ngobrol, aku juga nerjemahin kitab. Ini masih satu yang belum kukirim. Kalau tentang Marah Sholihah kumulai kerjakan saat masih di agen, cari majikan pada tahun 2010. Tetapi tersendat karena majikan baru banyak kerja dan malam juga sudah lelah. Tapi Alhamdulillah selesai juga. 

Cara membagi waktu, malam ngaji online bersama teman-teman. Jadi tidur paling pukul 01.00 dini hari. Kendalanya di percetakan dan editor. Akhirnya bulan Juni 2010 terbit saat milad Fatayat Imza yang kedua.Tetapi saat kuteliti lagi banyak yang keliru dan bahasanya sulit dipahami, karena antara titik, koma, dan lain lain, masih banyak kekurangan. Akhirnya, kubenahi dan kukirim lagi ke Fatayat Blitar (B.Binti Shofyah) sebagai editor.Tetapi setiap kali kutanyakan belum selesai dan masih repot. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu via telepon dengan Ustadz Hafidz. Setelah berdiri rintisan PCINU Hongkong, kami sering bagi masalah program dan kegiatan. Akhirnya kuutarakan masalah kitab tersebut dan beliau siap membantu dan mau musyawarah dengan Ustadz Nabil. Akhirnya jadi dan terbitlah buku itu.

Jadi, intinya kesulitan utama di percetakan dan editor saat itu. Sebab sesulit-sulitnya kerja, saya punya luangkan waktu. Paling lambat sebulan insya Allah sudah beres.

Minat menerjemahkan kitab datang dari mana? Atau diminta siapa?. Yang meminta tak ada, karena ini murni dari saya. 

Sudah berapa kali menerjemah kitab?. Yang tercetak baru dua ini.

Emang yang tidak tercetak juga ada?. Empat kitab, tapi masih tersendat.

Kitab apa saja itu?. Washoya dan Adabul Maratish Sholihah.

Sejak kapan Anda menerjemah? . Sejak di Hongkong.

Terjemahan Anda itu diperjualbelikan atau dibagikan?. Dijualbelikan karena untuk mencari dana, baik untuk rintisan PCI NUHongkong, dan Fatayat Imroatu Zahro (IMZA), juga bagi pengedar buku.

Berapa eksemplar yang diterbitkan?. Kemarin yang Marah Shaolihah masih 200 dan Risalah 100. Tapi untuk Risalah sudah tak ada yang di tangan saya. Jadi, saya sudah harus cetak lagi minimal 200.

Bagaimana cara memasarkannya? . Di Hongkong, banyak pengedar buku untuk cari dana anak yatim atau masjid. Juga pie diserahkan kepada mereka atau langsung kepada jamaah yang aku ajar.

Anak yatim itu orang Hongkong?. Untuk anak yatim Indonesia. 

Kok bisa ada anak yatim Indonesia di sana? 

Bukan di Hongkong. Tapi cari dana di Hongkong, lalu kirim ke yayasan dan masjid Indonesia.

Berapa banyak orang Indonesia di Hongkong?. Perkiraan 150.000 orang.

Rata-rata profesinya sebagai apa?

Semua buruh migran Indonesia (BMI).

Anda juga BMI?. Iya. 

Apa aktivitas Anda tidak mengganggu kegiatan pokok sebagai BMI?. Tidak, tapi kadang risikonya bila pulang terlambat, majikan tak suka, kadang diterminate.

Sudah pernah berapa kali diterminate?

Tiga kali.

Ok. Majikan tahu aktivitas Anda seperti itu? . Mereka semua tahu karena buku atau kitab yang kubawa ke rumah dan ngaji malam. Majikan atau pemerintah tak melarang berorganisasi. Tapi majikan kadang tak suka pembantu shalat seperti majikanku yang kedua. Akhirnya kucari gara-gara agar diterminate.

Berapa kali ganti majikan?. Empat. 

Konon, di Hongkong banyak organisasi, majelis-majelis talim? . Ada organisasi keagamaan, sosial dan budaya. Kalau sejak kapan ya beragam. Tetapi tahun 2004 masih sedikit. Baru tahun 2009 sudah banyak sekali.

Kalau organisasi keagamaan, coraknya NU atau yang lainnya?. Beragam. Ada Ahmadiyah, Wahidiyah, Muhammadiyah. Tapi mayoritas NU amalannya, tapi jarang yang berani terang-terangan bilang NU.

Kenapa penyebabnya? Maksudnya kenapa tidak berani terang-terangan?. Karena belum tahu apa NU dan Aswaja itu bagaimana.

Bagaimana kebijakan pemerintah Hongkong terhadap kegiatan BMI?. Pemerintah tak melarang berorganisasi.

Sejak kapan belajar berorganisasi? Sejak di Indonesia atau di Hongkong saja?. Di Indonesia terbiasa terjun di Fatayat dan Muslimat. Tapi yang berorganisasi sudah terbiasa mulai masa sekolah dan di mahad.

Bagaimana antusiasme BMI di Hongkong terhadap organisasi dan kegiatan keagamaan?. Sangat semangat dan menakjubkan. Mereka giat menghadiri majelis taklim untuk mendengarkan pengajian atau belajar.

Faktor apa? Sementara yang saya dengar sebaliknya?. Haus akan siraman rohani setelah seminggu berkecimpung dalam kerja dan aturan majikan. Jenuh. Setelah berfoya-foya atau main ke diskotik, tomboy, lesbi, dan lain-lain. Kemudian ingin insyaf. Setelah kegagalan demi kegagalan menimpanya, baru menyadari sudah jauh dari agama.

Sebagian lagi mereka merasa belum bisa apa-apa dan banyak bersalah kepada keluarga sehinggaa ingin bisa beribadah sambil bekerja sehingga dosa dan kekhilafan tidak berlipat ganda.

Oh ya, Anda kan lulusan pesanten. Apa manfaat pesantren yang dirasakan sekarang?. Saya merasakan berjuang dan mengamalkan ilmu di Hongkong lebih mengena dan cepat dirasakan dan diamalkan oleh santrinya. Walau jujur aku bukan orang berilmu, tetapi apa yang kudapat kuajarkan kepada teman-teman. Dan prinsipku bukan kuantitas yang kuharapkan tapi kualitas yang kuutamakan.

Jujur kalau di rumah, aku ngajar anak kecil kecil. Di Hongkong orang dewasa. Jadi, sama-sama TK, Taman Kanak-kanak dan Taman Kawak kawak… hehehe. Tapi kitab yang kuajarkan juga sama. Bukan kitab kuning. Sebab mereka belum bisa baca Al-Quran kebanyakan. Apalagi kitab kuning. Jadi pakai kitab terjemahan yang pakai Arab Pego.

Aktivitas Umi Muawanah di Hongkong:

- 2004-2009 pendiri dan Ketua Alfatah

- 2009 -2012 pengasuh Al fatah

- 2005 pendiri organisasi gabungan Persatuan Dakwah Victoria Hongkong (PDV) dengan 5 ketua organisasi

- 2007 pendiri organisasi gabungan GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia dengan 5 ketua lain

- 2009-sekarang pendiri Fatayat NU Imza sebagai ketua umum, dengan 5 ketua lain

26 Desember 2011 pengasuh dan pendiri organisasi Alikhlas Mujahidah Sabtu Hanghau

16 september 2012 pencetus dan pendiri sekaligus Wakil Ketua Tanfidz Rintisan PCINU Hongkong

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Budaya, Khutbah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, Islam itu adalah agama yang damai, mulia, dan santun. Oleh karena itu, di dalam membela Islam juga harus dengan cara-cara yang damai, mulia, dan santun.

Kiai Said mencontohkan apa yang dilakukan Nabi Muhammad saat menaklukkah Kota Mekkah (Fathu Makkah) seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam dalam berdakwah menyerukan Islam.

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Fathu Makkah, Kiai Said: Itu Hari Kasih Sayang, Bukan Hari Pembalasan

Dalam pembebasan Kota Mekkah tersebut, cerita Kiai Said, ada 15 ribu pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Mereka berkemah di pinggir-pinggir Kota Mekkah sebelum memasuki kota dimana Ka’bah itu berada. Sontak hal itu membuat warga Mekkah khawatir dan takut karena ada kabar bahwa mereka akan dibantai oleh pasukan Muhammad.

“Mendengar itu, Nabi Muhammad mengutus Ali untuk memimpin pasukan. Nabi Muhammad mengatakan bahwa hadza yaumul marhamah (ini hari kasih sayang). Saya maafkan semua. Bukan yaumul malhamah (hari pembalasan dendam),” kata KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan tausiah Ramadhan pada Peluncuran Mobile Payment Apps Wakaf NU di Manara BTN Jakarta, Selasa (13/6).

Oleh karena itu, jelas Kiai Said, disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang menang karena menaklukkan Kota Mekkah tanpa ada tetesan darah sedikitpun.

“Al-Qur’an mengatakan, kamu menang Muhammad. Semua orang Mekkah masuk Islam semua,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Bahkan, anak dari Abu Jahal, Ikrimah, yang lari dari Kota Mekkah pun diminta untuk kembali dan dijamin keselamatannya oleh Nabi Muhammad. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Kiai, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang konsisten menjaga kerukunan antarpenganut agama. Kali ini, langkah yang dilakukan pengurus FKUB Jombang adalah mengadakan Seminar bertemakan “Implementasi Nilai-Nilai Dasar Kerukunan Umat Beragama” di Aula Gedung Islamic Center Jombang, Selasa malam (23/12).

Kegiatan yang mendatangkan narasumber Prof Ahmad Zahro perwakilan umat Islam dan Pendeta Ismiyati dari Kristiani itu diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama.

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

“Semua yang ada di forum ini, semoga nantinya bisa satu persepsi untuk merawat kerukunan di antara kita tanpa membedakan diri karena unsur apapun, apalagi kepentingan tertentu,. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kerukunan ini,” kata Dr KH Isrofil Amar Ketua FKUB yang juga Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang.

Belajar Muhammadiyah

Prof Ahmad Zahro yang juga Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya itu memaparkan tentang Islam sebagai agama yang damai, cinta perdamaian, antikekerasan, menghormati kebebasan, menghargai kesetaraan, dan mengajarkan kerukunan.

“Menjadi bangsa Indonesia, apapun agamanya, termasuk Islam, terikat oleh kesamaan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” jelas Rektor Unipdu Jombang itu.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut ia menjelaskan, demi terwujudnya toleransi antarumat beragama, harus ditegakkan bersama-sama ukhuwah Islaamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Itulah nilai-nilai dasar kerukunan yang harus dijadikan rujukan bersama,” pungkas penulis buku berjudul Tradisi Intelektual NU itu.

Sedangkan Pendeta Ismiyati mengajak peserta untuk tidak membeda-bedakan sesama umat beragama sebagai warga Negara Indonesia. “Di kitab Injil juga dijelaskan, ada besar ada kecil, itu memang hukum harmonisasi alam. Yang terpenting bukan kita ini dibersamakan, tetapi bagaimana kita memberi dampak dalam kehidupan ini dengan menjaga kerukunan,” ungkap Pendeta Ismi.

Selain dua keynote speaker tersebut, turut hadir pula Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab, Dandim 0814 Jombang M Haidir, dan AKBP Ahmad Yosep Kurniawan Kapolres Jombang. Serta puluhan peserta dari berbagai komponen masyarakat, lintas agama, dan perwakilan ormas Islam yang ada di Kabupaten Jombang.

Acara yang ditutup pukul 22.30 itu, mendapat masukan dari salah satu peserta agar untuk forum selanjutnya narasumber yang diundang harus dari seluruh perwakilan agama yang diakui di Indonesia. “saya kira itu akan lebih baik, karena memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya. Baik yang minoritas maupun yang mayoritas,” Kata Margono salah satu peserta. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

Rembang, Belajar Muhammadiyah - Satkorcab Banser Kabupaten Rembang menurunkan 30 pasukan untuk membantu para korban puting beliung di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong Kabupaten Pati, Selasa (10/1) pagi. Mereka adalah tim terbaik Bagana yang dimiliki oleh Satkoryon Kecamatan Kaliori dan Sumber.

Kasatkoryon Banser Kaliori sebagai penanggung jawab pasukan menjelaskan, setidaknya ada 60 rumah rusak dan satu rumah roboh akibat terjangan angin. Pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri sehingga tak ada korban jika akibat kejadian ini.

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

"Pemilik rumah roboh atas nama Parmi (60) yang berada di RT 02, RW 01, Desa Beringin Wareng Kecamatan Winong Kabupaten Pati," jelasnya.

Salah seorang anggota Banser asal Kecamatan Sumber Ahmad Rifai menjelaskan, ia bersama pasukan yang lain berangkat dari Rembang pada pukul 08.00 wib. Dengan anggota lainnya ia berhasil membantu membenahi dua rumah dan satu mushola, yang gentingnya diterbangkan oleh angin.

Belajar Muhammadiyah

"Kami berhasil membantu dua rumah warga yang porak-poranda diterbangkan angin. Selain itu satu mushola juga rusak, tapi kami sudah berhasil memperbaiki dan sudah bisa digunakan beraktivitas kembali," kata Rifai.

Angina puting beliung mengamuk di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong pada Senin (9/1) pukul 15.30 wib. Data sementara menyebutkan, sebanyak 60 rumah mengalami kerusakan. Satu rumah roboh.

Belajar Muhammadiyah

Pasukan Satkorcab Banser Rembang langsung mengadakan tanggap bencana membantu para korban yang mengalami musibah. Pada hari Selasa Satuan Bagana Satkoryon Kecamatan Sumber langsung berangkat Pukul 08.00 dan pulang pada pukul 15.00 wib. Selain dari relawan Banser Rembang, tampak para anggota Banser dan relawan bencana dari Kabupaten Pati. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Halaqoh, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Cetak Kader Cerdas dan Bijak, PMII Sidoarjo Gelar Pelatihan Instruktur

Sidoarjo, Belajar Muhammadiyah. Upaya untuk mencetak kader yang cerdas dan bijak, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sidoarjo menggelar acara pelatihan instruktur (training of instruktur), Jumat-Ahad (3-5/4).

Cetak Kader Cerdas dan Bijak, PMII Sidoarjo Gelar Pelatihan Instruktur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Kader Cerdas dan Bijak, PMII Sidoarjo Gelar Pelatihan Instruktur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Kader Cerdas dan Bijak, PMII Sidoarjo Gelar Pelatihan Instruktur

Pelatihan yang dibuka, Jum’at (3/4) pukul 18.17 WIB ini digelar selama tiga hari di Aula MWC NU Buduran Sidoarjo dengan mengangkat tema "Menjadi Instruktur Yang Cerdas dan Bijak" dan diikuti oleh pengurus harian dari masing-masing komisariat PMII.?

Peserta diantaranya dari Komisariat IAI Al-Khoziny, Komisariat Universitas Sunan Giri, dan Komisariat Universitas Maarif Hasyim Latif.

Belajar Muhammadiyah

Ketua SC Muhammad Mahmuda menjelaskan, bahwa pada saat ini PMII yang ada di Sidoarjo sedikit mengalami penurunan dari generasi ke generasi. Untuk itu dengan digelarnya pelatihan ini, para kader PMII Sidoarjo terutama di setiap komisariat mampu bersikap lebih baik guna menghadapi tantangan zaman.

Belajar Muhammadiyah

"Kami berharap supaya kader PMII yang berada di Sidoarjo terutama yang berada di masing-masing komisariat mampu menciptakan kader yang cerdas dan bijak pada jenjang yang akan datang," katanya.

Sementara itu, menurut Ketua PC PMII Sidoarjo Gigin Anggi Zuarinsa menuturkan, bahwa pelatihan ini merupakan amanah dari raker untuk menyiapkan seorang instruktur yang memberikan arahan, mengajarkan atau memahamkan sebuah pelajaran kepada para peserta PKD.?

"Ketika pengurus komisariat melaksanakan PKD nanti, mereka mempunyai instruktur yang terlatih,” ucapnya.

Ia juga berharap supaya kaderisasi di Sidoarjo lebih baik sehingga proses pengkaderan bersifat substantif dan tidak hanya menjadi agenda formalitas. "Nantinya mereka benar-benar menjadi calon instruktur terlatih yang mampu menciptakan kader PMII mujahid, loyal dan ikhlas serta mampu memperjuangkan Islam Aswaja An-Nahdliyah," harapnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Takabur dan Azab Pedihnya

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Takabur dan Azab Pedihnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Takabur dan Azab Pedihnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Takabur dan Azab Pedihnya

? ?

Belajar Muhammadiyah

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Rasulullah SAW lewat beberapa hadistnya mengingatkan kepada kaum Muslimin bahwa takabur atau sombong dapat menghalangi seseorang masuk surga, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud R.A. sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang-orang yang dalam hatinya terdapat rasa takabur atau sombong meskipun hanya sekecil biji sawi.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa kesombongan akan menjadi penghalang bagi kita untuk masuk surga betapapun halusnya kesombongan itu sehingga hanya diri sendiri yang mengetahui. Kesombongan itu ada 2 (dua) macam, yakni kesombongan yang tampak secara lahiriah dan kesombongan tersembunyi di dalam hati. Kesombongan yang tampak secara lahiriah akan mudah dilihat atau dirasakan orang lain. Kesombongan yang tersembunyi dalam hati sering kali hanya diketahui diri sendiri. Bahkan bisa jadi diri sendiri pun tidak menyadarinya.

Pepatah mengatakan, “Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu.” Pepatah ini mengungkapkan betapapun dalamnya laut, kita dapat mengukurnya. Terlebih sekarang dimana teknologi sudah sedemikian maju, seperti tersedianya alat yang disebut Echosounder, dalamnya laut dapat diketahui dengan mudah dan cepat. Tetapi pertanyaannya, siapa yang dapat mengetahui isi hati seseorang?

Memang tidak mudah mengetahui isi hati seseorang, misalnya apakah seseorang bermaksud sombong atau tidak. Tetapi sebenarnya, hati itu bisa diibaratkan sebuah kendi. Kita tentu sulit mengetaui apa isi sebuah kendi karena di dalamnya gelap. Namun dari mengamati apa yang keluar dari mulut kendi, kita akan tahu apa isi kendi itu, apakah air, minyak ataukah sirup.

Demikian pula kitapun sesungguhnya dapat mengetahui sebagian isi hati seseorang dengan melihat gejala-gejala yang tampak dari luar. Dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, mungkin dapat dinilai apakah seseorang dalam hatinya terdapat kesombongan ataukah tidak. Dari sikap dan perilaku seseorang, mungkin dapat pula dirasakan apakah di dalam hatinya terdapat kesombongan ataukah tidak.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Di dalam Islam, baik kesombongan yang tampak secara lahiriah maupun kesombongan tersembunyi di dalam hati, dipandang sebagai perilaku yang tidak terpuji. Mengapa demikian? Pertanyaan itu dapat ditemukan jawabannya dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ali bin Abi Thalib R.A. Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesunguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan sombong adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang mengambilnya dariku, Aku Azab dia.”

Hadits di atas menegaskan barang siapa ber-takabur, sesungguhnya ia telah mengambil atau bahkan merampas pakaian Allah SWT. Ia dinilai telah mengambil posisi menantang Allah SWT sebagai Dzat satu-satunya yang berhak atas predikat al-mutakabbir. Al-mutakabbir artinya adalah yang pantas menyombongkan diri karena Allah memang Maha Segalanya, yang tak satu pun dapat menyamai-Nya.

Al-mutakabbir juga bisa berarti Maha Pemilik Kebesaran. Itulah sebabnya dalam beberapa ibadah kita dianjurkan untuk mengucapkan takbir sebagai ungkapan jujur untuk menyatakan kebesaran Allah SWT. Maka barang siapa hendak menyaingi Allah dengan ber-takabur atau menyombongkan diri, Allah akan memberinya azab. Orang itu akan dibinasakan sebagaimana Raja Fir’aun yang dikenal sangat sombong karena mengaku sebagai Tuhan. Fir’aun hidup pada jaman Nabi Musa alaihis salam. Allah SWT menenggelamkan Fir’aun ke dalam Luat Merah yang memisahkan antara Benua Asia dan Afrika di Timur Tengah. Fir’aun akhirnya tewas mengenaskan di tengah-tengah laut tersebut.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Sebagaimana kita ketahui dan laksanakan bersama, bacaan pertama yang harus kita ucapkan untuk memulai shalat adalah takibiratul ihram, yakni mengucapkan ? ?, yang artinya Allah Maha Besar. Bacaan ini dimaksudkan untuk memberikan kesadaran kepada kita bahwa hanya Allah Yang Maha Besar. Tak satu pun dari makhluk-Nya pantas menyombongkan diri karena memang hanya Allah Yang Maha Besar. Orang-orang yang benar-benar dapat menjalankan ibadah shalat dengan baik, pastilah akan dapat menjauhkan diri dari sikap takabur. Tetapi faktanya, banyak orang bersikap takabur meski mereka menjalankan shalat lima waktu setiap harinya. Ini bisa terjadi ketika seseorang menjalankan ibadah shalat tanpa pengahayatan sama sekali terhadap bacaan-bacaan yang mereka ucapkan.

Untuk itulah, maka ketika kita melakukan takbiratul ihram untuk memulai shalat dan takbir-takbir lainnya untuk menandai perpindahan dari rukun shalat ke rukun lainnya, kesemua takbir itu harus dapat kita laksanakan dengan sebaik mungkin. Yakni, kita harus dapat mengucapkannya dengan penuh penghayatan akan makna yang sebenarnya. ? ? tidak saja berarti Allah Maha Besar, tetapi sekaligus hendaknya menjadi kesadaran kita bersama betapa kecilnya kita sesungguhnya di hadapan Allah SWT yang Maha Agung dengan segala puji bagi-Nya.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Selain takbiratul ihram, kita juga mengucapkan bacaan-bacaan lain untuk mengagungkan Allah SWT. Misalnya, ketika kita melakukan ruku’, kita dianjurkan mengucapkan:

? ? ? ?

Artinya: “Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya.”

Sambil membungkukkan tubuh kita dengan posisi punggung tetap lurus, kita mengucapkan bacaan ruku’ tersebut. Diharapkan dari ruku’ ini, kita memiliki kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Agung dengan Segala Puji bagi-Nya. Kesadaran ini akan menghindarkan kita dari bersikap takabur karena menyadari hanya Allah yang Agung. Maka orang-orang yang betul-betul dapat menjalankan ruku’ dengan baik dan dapat menghayati maknanya, pasti tidak akan menyombongkan diri karena menyadari manusia sesungguhnya sangat kecil dan tak berarti apa-apa di depan Allah SWT.

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Setelah ruku’, rukun shalat lainnya yang juga dimaksudkan untuk mengungkapkan pengakuan kita akan kebesaran dan kemuliaan Allah adalah sujud. Dalam sujud ini, kita dianjurkan mengucapkan:

? ? ? ?

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan dengan segala puji bagi-Nya.”

Sambil meletakkan dahi di atas lantai, dimana posisi kepala kita sejajar dengan semua kaki, baik kaki sendiri maupun kaki orang lain, kita mengucapkan bacaan sujud tersebut. Diharapkan dari sujud ini, kita memiliki kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Tinggi dengan Segala Puji bagi-Nya. Dengan sujud, kita hendaknya menyadari bahwa semua manusia, adalah sama rendahnya di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini akan menghindarkan kita dari bersikap takabur karena menyadari hanya Allah yang Tinggi. Artinya, secara jujur kita mengakui dan meyakini bahwa manusia sesungguhnya sangat rendah di depan Allah SWT. Hanya dengan kemuliaan Allah, manusia menjadi makhluk terbaik diantara semua makhluk yang diciptakan-Nya.

Namun, semua kemuliaan itu hanya dapat dijangkau oleh manusia ketika mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya. Salah satu tanda ketakwaan adalah tidak bersikap takabur, baik melalui kata-kata atau lisan maupun sikap atau perbuatan. Tanpa iman dan takwa manusia justru menjadi makhluk paling rendah diantara yang rendah-rendah sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah “At-Tin” ayat 4- 6 sebagai berikut:

? ? ? ? ? ?(4) ? ? ? ? (5) ? ? (6) ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Semoga apa yang telah saya uraikan di atas dapat mendorong kita untuk berintrospeksi barangkali selama ini dan di masa-masa lalu kita ternyata sering melakukan kesombongan-kesombongan, baik yang terus terang maupun yang tersembunyi di dalam hati. Untuk itu, marilah dengan momentum menjelang Ramadhan tahun ini, kita isi lembaran-lembaran hidup ini dengan tekad menjauhi sikap takabur agar kita selamat dari ancaman Allah SWT, yakni tidak masuk surga sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang telah saya uraikan pada awal khutbah ini. Amin... amin... ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Halaqoh, Quote Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Perusahaan penyedia jasa dan produk Internet, Google, menyediakan beberapa aplikasi untuk memudahkan pengguna mengatur kegiatan harian rutin selama bulan puasa Ramadhan.

Pada acara Google Cafe Ramadhan di Jakarta, Selasa, Kepala Pemasaran Google Indonesia Krishna Zulkarnain mengatakan aplikasi seperti Google Calender, Google Map, Google Keep dan Google Hangout bisa menjadi sarana untuk merencanakan acara buka puasa, sahur dan mudik bersama.?

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Krishna mencontohkan, aplikasi Google Calender bisa membantu pengguna merencanakan kegiatan bersama selama Ramadhan.

Belajar Muhammadiyah

"Setelah masuk di kalendernya, pengguna bisa mengundang teman-teman yang diajak dan akan masuk dalam Gmail mereka," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Google Keep, lanjut dia, membantu mengingatkan pengguna tentang rencana yang sudah dibuat.?

"Seperti post it, bisa berwarna dan muncul dalam layar telepon," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Dewan Kesenian Kudus Luncurkan Kumpulan Puisi Gus Dur

Kudus, NU Onine. Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendapat apresiasi dari para seniman dan budayawan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan peluncuran buku antologi puisi buat Gus Dur “Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel” oleh Dewan Kesenian Kudus, Sabtu, (28/9).

Acara peluncuran dilaksanakan di di Rumah Makan Bambu Wulung Jl Kudus-Pati Km 5 Ngembalrejo, Kudus. Hadir dalam kesempatan ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari atau sering disapa Inayah Wahid.

Dewan Kesenian Kudus Luncurkan Kumpulan Puisi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dewan Kesenian Kudus Luncurkan Kumpulan Puisi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dewan Kesenian Kudus Luncurkan Kumpulan Puisi Gus Dur

Dalam sambutannya, Inayah menggatakan, selama hidup bersama ayahnya dirinya hanya mendapatkan satu pesan. Pesan itu, menurut dia, terlihat ringan namun berat untuk dilaksanakan, yakni membaca.

Belajar Muhammadiyah

"Gus Dur merupakan sosok yang gemar membaca, hidupnya ia habiskan untuk membaca bahkan ketika ia tidak mampu melihat ia sempatkan selalu membaca meski anak-anaknya disuruh membacakan dan Gus Dur mendengarkan. Bahkan Gus Dur selalu membaca meski hanya lewat audio visual," tuturnya.

Belajar Muhammadiyah

Inayah Wahid juga turut serta membacakan satu puisi yang termuat dalam puisi untuk Gus Dur tersebut. Diikuti para penyair dari berbagai kota, antara lain Leak Sosiawan dari Solo, Kidung Purnama dari Cilacap, Mahbub Junaidi dari Wonosobo dan para penyair yang tersebar khususnya dari pulau Jawa.

Ketua Dewan Kesenian Kudus Aris Junaidi mengatakan, baginya, bahkan semua orang, Gus Dur selalu hidup, baik pemikiran, perilaku, sikap maupun gaya khasnya yang terkadang nyeleneh. 

Menurut dia, Gus Dur yang pernah menjadi ketua Fewan Kesenian Jakarta itu mampu membuka jalan baru. Artinya, ketika banyak orang lewat jalur kanan, Gus Dur berani menantang lewat jalur kiri. Begitupun jalan baru itu bukan untuk dikuasai pribadi, namun untuk semua dan untuk kita supaya terbuka cara pandang baru.

Judul puisi “Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel” yang dijadikan judul buku ini adalah karya Eka Bambang Prasetya, penyair dari Magelang yang tinggal di Jombang dan Kalimantan Selatan. Pengalamannya dengan Gus Dur adalah saat cucu KH Hasyim Asy’ari ini mengajadi para pemuda tentang makna hidup dan out bound di antara Dam Sengon hingga Jembatan Panengel di kota santri, Jombang. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Perlukah NU Adakan Tausiyah Kebangsaan?

Jepara, Belajar Muhammadiyah. Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, warga NU tidak perlu lagi diragukan nasionalismenya karena NU turun mendirikan republik ini. “Orang NU tidak perlu mengadakan tausiyah kebangsaan, karena orang NU ya orang Islam yang di Indonesia dan Ahlussunnah wal Jama’ah,” ujarnya.

Perlukah NU Adakan Tausiyah Kebangsaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlukah NU Adakan Tausiyah Kebangsaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlukah NU Adakan Tausiyah Kebangsaan?

Hal ini disampaikan dalam pengarahan organisasi dan tausiyah kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (PCNU) Kabupaten Jepara, Sabtu (21/02) di gedung PCNU Jepara. Acara ini dihadiri seluruh banom PCNU, syuriyah dan tanfidziyah MWC NU se-Jepara.

Gus Mus berharap bahwa warga NU tidak terpengaruh oleh orang-orang yang mengaku nasionalis, karena orang NU itu orang Islam yang kebetulan hidup di Indonesia, bukan orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam.?

Belajar Muhammadiyah

“Para pendiri NU itu orang Islam yang ikut memperjuangkan NKRI,” imbuhnya.

Selama ini banyak golongan yang ingin menghancurkan, memecah belah NU. Namun itu sia-sia, orang NU di Indonesia tak perlu takut dengan orang yang mau menghancurkan NU. Karena NU adalah organisasi keagamaan terbesar di dunia.?

Belajar Muhammadiyah

“Survey terakhir ? Jumlah warga NU kurang lebih 60 jutaan,” imbuh pria paruh baya berkacamata ini.

Harapan Gus Mus selanjutnya adalah, NU itu menjadi jam’iyyah yang benar-benar jam’iyyah. Supaya tidak perlu ada pembunuhan, sok benar sendiri, dan tetap terjaga keharmonisan warga NU khususnya dan orang Indonesia umumnya.

“Tidak perlu ikut-ikutan orang yang mengaku Islam namun kelakuannya tidak seperti orang Islam,” pungkasnya. (ahmad afandi/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Jember,Belajar Muhammadiyah. Hujatan dengan kata-kata kotor di media sosial masih saja terjadi. Kali ini adalah Wisnu Bagus Prabowo. Lelaki yang beralamat di Desa/Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa timur? itu menghujat Pondok Pesantren Sidogiri di akun FB-nya. Banyak sekali tudingan-tudingan miring yang dilontarkan Wisnu.

Tentu saja, hujatan kebencian itu membuat merah telinga santri dan alumni pondok pesantren salaf tersebut. Sempat serjadi “pertengkaran” serius di media sosial antara Wisnu dan M. Rosul Baidla’i, penasihat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember. Dan hujatan itu pun sempat menjadi viral sebelum akhirnya diklarifikasi di darat.

Pertemuan antara Wisnu dan IASS Jember digelar di Masjid Sunan Kalijaga, Jl. Kalimantan, Jember, Senin malam (9/1). Di hadapan Ketua IASS Jember Shodiq AS, M. Rosul Baidla’i? dan sejumlah pengurus lainnya, Wisnu dituntut minta maaf dan menghapus? komentar hujatan di akun FB-nya.

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Wisnu pun mengamini permintaan tersebut. Bahkan dengan ringan, ia menulis permintan maaf di sehelai kertas dan ditandatangani di atas materai. Menurutnya, ujaran kebencian itu hanya luapan dari rasa emosinya dan tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya. “Jadi saya mohon maaf atas semua ini,” ujarnya Wisnu.

Rosul berharap agar kasus tersebut menjadi pelajaran bagi Wisnu dan siapa pun untuk berhari-hati berkomentar di media sosial. Apalagi terkait dengan tokoh atau lembaga pesantren. Sebab, jika menyangkut tokoh, organisasi dan sebagainya, maka reaksi keras akan muncul. “Jadi, tolong hati-hati kalau ngomong,” ungkap Rosul.

Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris GP Ansor Jember Kholidi Zaini berharap agar kasus tersebut merupakan yang terakhir terjadi. Sebab, ujaran kebencian di media sosial, apalagi sampai mengungkap aib tokoh atau organisasi, sungguh mempunyai efek degradasi sosial yang luas.

Belajar Muhammadiyah

“Alhamdulillah kasus itu bisa diselesaikan secara damai dan cepat. Ansor tetap berkomitmen membela NU dan pesantren. Lebih-lebih pesantren NU seperti Sidogiri,” ucapnya kepada? Belajar Muhammadiyah melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A. Razaq)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Warta, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Faktor kesukuan di jazirah Arab merupakan faktor yang turut mempengaruhi mengapa konflik di sana berlangsung tiada henti dari dulu sampai sekarang.?

KH Said Aqil Siroj yang menempuh pendidikan sarjana sampai doktor di Arab Saudi menjelaskan, partai politik maupun mazhab keagamaan basisnya kesukuan.?

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

“Fanatisme kesukuan masih tebal sekali. Kalau kepala sukunya syiah, maka syiah semua. Kalau wahabi, ya wahabi semua. Kayak suku Tamimi, itu wahabi semua sejak dulu. Jadi kalau ada konflik mazhab, maka konfliknya menjadi konflik suku atau konflik politik,” katanya.

Maka, ketika ada perang mazhab atau perang politik, para ujungnya juga perang suku, sebagaimana yang terjadi di Yaman, yang saat ini muncul kesan kuat adanya peperangan antara kelompok sunni dan syiah, yang masing-masing didukung oleh Saudi Arabia dan Iran.

Belajar Muhammadiyah

Dijelaskannya, pandangan masyarakat Arab tradisional tentang kepemimpinan adalah seorang pemimpin menduduki jabatannya sampai meninggal. Mereka tidak mempersoalkan berapa lama menjadi presiden, yang penting adalah jujur atau tidak sebagaimana para khalifah yang dulu memimpin sampai meninggal.?

Perubahan paradigma terjadi ketika banyak generasi muda yang pulang belajar dari Barat yang ingin mentransfer sistem demokrasi melalui Arab Spring, tetapi faktanya hal tersebut ternyata tidak mudah. Libya, Yaman dan Suriah kini menjadi negara yang dalam kondisi perang. Mesir meskipun kelihatannya damai, tetapi semu.

Belajar Muhammadiyah

Mengenai hubungan antara Kerajaan Saudi dan ulama Wahabi, keduanya juga tidak selalu harmonis, tetapi mereka saling membutuhkan. Kerajaan Saudi tak akan kuat tanpa dukungan kelompok ulama wahabi, dan demikian pula sebaliknya.

Yang unik adalah, Kesultanan Oman. Meskipun secara resmi mereka mengikuti mazhab Al Ibadiyah, yang merujuk pada pemuka khawarij ? Abdullah Al Ibadi, tapi tidak ekstrim, sangat moderat, malah berbeda dengan kelompok yang mengaku sunni tapi radikal. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, Anti Hoax, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Wabup Probolinggo: Santri Harus Kuasai Ilmu Agama dan Teknologi

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Semangat santri masa kini harus mampu menguasai ilmu agama dan teklonogi. Hal ini penting dilakukan agar santri tidak mudah dibodohi dan mampu memiliki bekal ketrampilan.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Ahmad Timbul Prihanjoko dalam kegiatan dzikir dan sholawat yang digelar oleh Pemkab Probolinggo bekerja sama dengan Pengurus Cabang LDNU Kota Kraksaan di Lapangan Kecamatan Pajarakan, Sabtu (22/10) malam.

Wabup Probolinggo: Santri Harus Kuasai Ilmu Agama dan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Probolinggo: Santri Harus Kuasai Ilmu Agama dan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Probolinggo: Santri Harus Kuasai Ilmu Agama dan Teknologi

"Marilah para santri yang ada di Kabupaten Probolinggo bersama-sama memberikan kontribusi yang positif demi mendukung program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Probolinggo," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Timbul, seorang santri harus selalu mengedepankan akhlak dan kejujuran dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebab santri itu adalah bagian dari harapan masa depan bangsa Indonesia.

"Sebagai seorang santri, marilah dalam setiap gerak langkah kaki kita, khususnya dalam kehidupan sehari-hari senantiasa bercermin kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Ashari. Sebab beliaulah yang telah mencetuskan Resolusi Jihad demi perjuangan santri," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut juga ditampilkan teatrikal perjuangan santri dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dimana para santri dengan gigihnya berjuang melawan penjajah lewat Resolusi Jihad.

Kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2016 ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan hingga tingkat Ranting, baik lembaga maupun badan otonom. Dzikir dan sholawat ini diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Mahfud MD Hadiri Dialog Kebangsaan ISNU di Unisma

Malang, Belajar Muhammadiyah. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menghadiri acara Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Universitas Islam Malang (Unisma), Ahad (13/10).

Mahfud MD Hadiri Dialog Kebangsaan ISNU di Unisma (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD Hadiri Dialog Kebangsaan ISNU di Unisma (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD Hadiri Dialog Kebangsaan ISNU di Unisma

Dalam kesempatan itu ia menyesalkan terjadinya kasus suap yang menimpa institusi yang sempat dipimpinnya.

“Mahkamah Konstitusi di Indonesia adalah salah satu diantara 10 terbaik MK yang ada di Dunia. Namun prestasi ini dirusak dan dipermalukan oleh kasusu suap ini,” kata tokoh yang dikabarkan mencalonkan presiden ini.

Belajar Muhammadiyah

Ia mengaku sempat tidak percaya saat pertama kali mendengar tertangkapnya Hakim MK Akil Mukhtar yang baru beberapa bulan menggantikannya itu, dengan kasus suap. Karena Mahfud selama ini mengetahui sendiri bagaimana kredibilitas para hakim yang ada di MK itu.

Belajar Muhammadiyah

“Saya terkejut mendengar berita Akil Mukhtar ini. Saya yakin tidak ada hakim di Mahkamah Konstitusi yang berbuat hal seperti itu. Memang pernah ada isu suap, tapi tidak terbukti. Dan itu oleh hakim yang sudah keluar dari MK,” katanya.

Ia menekankan bahwa dengan adanya kasus suap di MK ini, saat ini sudah banyak yang tidak percaya lagi pada lembaga hukum yang berdiri sekitar 10 (sepuluh) tahun lalu ini. Mahfud juga mengatakan bahwa ada dari beberapa pihak yang pernah mengajukan kasus pada MK untuk diusut lagi kasusnya. Hal ini mnurutnya karena sudah kehilangan kepercayaan pada Institusi Hukum yang selama ini biasa menangani sengketa pilkada ini.

“Banyak orang-orang yang dulu pernah mengajukan gugatan pada MK dan telah diselesaikan, kini meminta kasususnya dibahas ulang. Bahkan ada yang berlebihan dengan meminta saya mengusut sengketa pilkada tahun 2007. Padahal kita tahu bahwa tahun itu MK belum mempunyai wewenang menangani kasus Pilkada,” katanya.

Terkait kabar bahwa Presiden akan membuat Peraturan Perundang-undangan Umum (perpu) untuk menyelesaikan masalah seperti di MK ini, Mahfud menyatakan bahwa ia setuju akan rencana itu. Akan tetapi baginya yang terpenting adalah peningkatan pengawasan, dan diubahnya proses rekruitmen menuju cara yang lebih terbuka.

“Saya setuju jika presiden mengeluarkan Perpu. Itu adalah hak perogratif Presiden. Tapi yang terpenting disini adalah peningkatan pengawasan dengan dibentuknya Badan Kehormatan di MK,” kata tokoh yang juga salah seorang pimpinan ISNU itu.

Mengenai peningkatan pengawasan pada Mahkamah Konstitusi ini ia lebih setuju agar dibentuk saja Badan Kehormatan MK. Dan bukannya pengawasan itu dilimpahkan pada Komisi Judisial. Hal ini dikarenakan Komisi Judisial selama ini dalam aturannya juga merupakan obyek hukum MK. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Humor Islam, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menyalurkan dana santunan  kepada 62 anak yatim dan 20 duafa, Ahad (31/8). Pemberian santunan dilaksanakan bersamaan pada acara pengajian rutin Ahad pahing dan halal bihalal Majlis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Kota di Kantor NU Jl Pramuka No 20 Kudus.

Ketua  LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, penyaluran dana santunan ini merupakan bentuk program kerja lanjutan yang telah dilaksanakan sebelumnya pada bulan Ramadhan lalu. Pada kesempatan ini, para penerima santunan adalah yatama dan duafa dari desa di wilayah kecamatan Kota Kudus.

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

"Santunan di MWC NU Kota ini, kita salurkan dana Rp 5.100.000 dengan rincian Rp 3.100.000 untuk 62 yang masing-masing menerima Rp 50.000/anak dan Rp 2.000.000 untuk duafa diberikan kepada 20 duafa per orang menerima Rp 100.000," terang Syaroni.

Belajar Muhammadiyah

 Ia menambahkan LAZISNU akan terus berupaya mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan shadaqah secara benar dari para orang kaya, dermawan, muzakki, maupun CSR dari perusahaan. Hingga kini, pihaknya terus menyosialisasikan keberadaan LAZISNU Kudus yang memang baru terbentuk beberapa bulan lalu tepatnya bulan Maret 2014.

 

"Karenanya kami mengajak semua pihak membangun kemitraan strategis dengan menyalurkan dana ZIS melalui LAZISNU Kudus dengan no rekening Mandiri Syariah 7064846013 atau langsung ke kantor NU," imbuhnya.

 

Belajar Muhammadiyah

Direktur eksekutif LAZISNU Kudus Edi Wicaksana menambahkan Lazisnu  masih terus melakukan penataan kelembagaan sehingga mampu melaksanakan program untuk mengatasi permasalahan ummat.

 

"Termasuk juga, untuk tranparansi pemasukan dan penyaluran dana LAZISNU kami juga akan melaporkan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik," jelas Edi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Khutbah, Santri Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Diantara momentum yang berharga di bulan Ramadhan adalah malam nuzulul qur’an dan lailatul Qadar. Keduanya merupakan ruang bersejarah yang menentukan kehidupan dunia selanjutnya. Karena keduanya berhubungan langsung dengan proses turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia.Akan tetapi seringkali disalah fahami keterangan antara nuzulul qur’an dan lailatul qadar, bahkan saling tumpang tindih antar keduanya, sehingga perlu diuraikan lebih jelas. Istilah nuzulul qur’an yang sering diperingati pada malam tanggal 17 Ramadhan merupakan malam di mana pertama kali al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Pada kesempatan pertama kali ini Malaikat Jibril membawa surat iqra’ wa rabbukal akram. Kemudian untuk selanjutnya al-Qur’an diturunkan secara berangsur. 

Sedangkan term lailatul qadar adalah istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana al-Qur’an diturunkan langsung dari Allah swt secara keseluruhan baitul izzah (semacam ruang ilahiyah) yang kemudian dibawa jibril secara berangsur kepada Rasulullah saw. Oleh karena itulah malam laylatul qadar  hanya Allah swt yang mengetahuinya. Sungguh malam itu adalah malam mulia, malam penuh berkah yang tidak boleh diragukan lagi. Karena Allah swt sendiri mengungkapkan dalam surat ad-Dukhan ayat 3:



Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

إن أنزلناه فى ليلة مباركة

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi

Belajar Muhammadiyah

Malam yang berkah itu tentunya berbeda dengan malam-malam lain. Allah swt mengistimewakan nilai malam ini lebih dari malam seribu bulan. Karena pada malam itu Malaikat turun ke bumi mengatur segala urusan. Sesuai dengan perintah-Nya mereka, para malaikat akan menetapkan berbagai takdir manusia mulai dari rizki, mati, jodoh dan semuanya. 

Karena itulah di namakan lailatul Qadar , malam penentuan taqdir manusia. Sudah selayaknya kita sebagai hamba yang menginginkan taqdir baik, apabila menekuk lutut bersimpuh di malam-malam itu, karena ini berhubungan dengan nasib kita sebagai hamba. Seperti seorang budak yang memohon kepada majikannya. 

Belajar Muhammadiyah

Allah mengkhususkan keterangn ini dalam satu surat penuh, surat al-Qadar:



إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَة الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر * تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيَها بِإِذْنِ رَبّـِهم مِّن كُلِّ أَمْر * سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan * Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? * Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan * Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan * Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (Red.Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Halaqoh, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Langkah maju dilakukan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu mengumpulkan para jagoan Teknologi Informasi (TI) yang berlatar belakang Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) se-Indonesia dalam sebuah lokakarya yang bakal digelar di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, 8-9 Agustus mendatang.

Acara bertajuk ”Membangun Habitus TI di Komunitas Nahdliyin” yang diselenggarakan Belajar Muhammadiyah tersebut menghadirkan 50 peserta yang merupakan pakar dan peminat TI di lingkungan Nahdliyin. Para peserta itu juga merupakan perwakilan dari Pengurus Wilayah NU se-Indonesia.

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi

Sejumlah pakar dan praktisi TI dipastikan hadir menjadi narasumber pada acara itu, antara lain, Menteri Riset dan Tekonologi Kusmayanto Kadiman, Kepala Laboratorium Cyber Crime Polri Kombes Pol Petrus Goloose, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali, Kepala Humas Departeman Pendidikan Nasional Bambang Warsito Adi, Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono dan Presiden Direktur International Bussines Management Betti Alisjahbana.

Belajar Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Belajar Muhammadiyah Abdul Mun’im DZ mengatakan, penyelenggaraan lokakarya tersebut merupakan upaya untuk mempertemukan kader-kader potensial yang dimiliki NU di bidang TI. Dari pertemuan tersebut, diharapkan dapat tercipta ruang komunikasi, tukar-menukar gagasan dan pengalaman serta dapat merumuskan kerja sama yang lebih konkret di antara para peserta.

Belajar Muhammadiyah

“Dengan demikian, kekuatan NU di bidang TI yang masih berserakan itu bisa diintegrasikan dalam satu kerja sama. Kiprah para peminat dan ahli TI itu sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam pengembangan teknologi dan akses terhadap informasi, tetapi juga soal yang lebih eksistensial, yakni masih banyaknya warga NU yang terbelakang secara ekonomi maupun pendidikan,” terangnya.

Ia menjelaskan, saat ini cukup banyak kader-kader NU yang menguasasi TI, baik melalui pendidikan formal dan profesional, maupun mereka yang menekuni sendiri secara otodidak. “Pengambilan sarana TI bagi pengembangan NU ini bukan suatu yang tabu, sebab juga berdasar prinsip al akhdzu bil jadidil ashlah (mengambil hal baru yang lebih baik) bagi warga NU,” jelas Mun’im.

Sementara itu, Suwadi D Pranoto, Ketua Panitia Pelaksana kegiatan tersebut, mengemukakan, peran para peminat dan ahli TI di kalangan Nahdliyin sangat dibutuhkan. Karena setiap perkembangan teknologi, juga pasti akan diikuti dampak baik dan dampak buruk.

“Peran para ahli TI ini adalah memaksimalkan penggunaan TI untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah Islam, terutama dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah. Selain itu untuk menyelamatkan warga dari dampak buruk TI, baik secara mental maupun fisik,” ujar Suwadi.

Di era perang global ini, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan TI dijadikan senjata untuk penetrasi budaya, bahkan politik. NU, katanya, tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempunyai tugas dakwah wat taujih, yakni mengajak dan membimbing umat ke arah yang benar. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock