Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Anggota Komisi VII DPR Khofifah Indar Parawansa meragukan kinerja Badan Pelaksana (BP) lumpur Lapindo. Badan ini merupakan pengganti Timnas lumpur Lapindo yang berakhir 8 April lalu. Hingga kini berbagai upaya nyatanya tak mampu mengatasi luapan lumpur Lapindo, kerja Timnas juga tak berhasil.

“Saya lihat Timnas saja orang-orangnya power full tetapi kurang suskes menangani lumpur,” kata Khofifah, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Kamis (12/4) kemarin.

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Keraguan Khofifah juga berkaitan dengan adanya hubungan antara pemilik PT Lapindo dengan badan tersebut. Maklum, badan yang terbentuk berlandaskan Keputusan Presiden ini dikepalai Sunarso, Staf Ahli Menko Kesra Bidang Kependudukan dan SDM. Aburizal Bakrie adalah salah satu pemilik PT Lapindo Brantas Inc.

Selain itu, menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, terlalu birokratis. Badan ini tidak memiliki kebebasan untuk mengeksekusi keadaan di lapangan.

Hal itu karena mereka harus melapor terlebih dahulu kepada Badan Pengawas seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. ”Saya kasihan dengan orang-orang yang ada di Sidoarjo. Masyarakat semakin terkatung-katung,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Khofifah meminta pemerintah pusat bekerja sepenuh hati untuk menyelesaikan lumpur Lapindo. Sebab, masyarakat Sidoarjo sudah lelah dan tersiksa dengan musibah tersebut. ”Pemerintah harus bertanggung jawab karena semuanya serba darurat di Sidoarjo,” katanya. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Syariah Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 28 Februari 2018

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid mengatakan, dahulu umat Islam Indonesia tertinggal dalam masalah dunia, lalu didirikanlah Perguruan Tinggi Islam untuk dapat memadukan keilmuan umum dan keagamaan.

Menurutnya, untuk menggapai kebahagiaan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, seseorang juga harus belajar masalah keduniaan tapi dengan motivasi yang tak melulu duniawi.

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Carilah Ilmu untuk Layani Masyarakat

“Semisal belajar ilmu kedokteran. Niatnya semata-mata karena untuk melayani masyarakat, karena bekerja untuk melayani masyarakat itu berbeda dengan bekerja untuk mencari uang,” ujar pria yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Belajar Muhammadiyah

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut di hadapan mahasiswa dan masyarakat umum Bandung saat menghadiri acara Gema Aswaja Tabligh Akbar Nasional dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw, Sabtu (24/5) malam, di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djari, Bandung, Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

“Makanya kita dituntut untuk meninjau niat kita dalam menuntut ilmu,” katanya.

Gus Sholah menegaskan, umat Islam di Indonesia menjadi acuan negara-negara Islam lain karena dapat memadukan ilmu agama dengan ilmu dunia. “Karena itulah kita mempunyai paham Aswaja yang menjadi Inspirasi umat Islam di luar Indonesia,” tutur Gus Sholah.

Belakangan ini, di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sendiri, kegiatan keagamaan khususnya yang berhaluan Aswaja semakin semarak. Tokoh-tokoh dan mubaligh nasional kerap diundang untuk menghadiri kegiatan di lingkungan kampus. Respon mahasiswa serta masyarakat sekitar juga positif. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, RMI NU, Amalan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 13 Februari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Belajar Muhammadiyah

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Belajar Muhammadiyah

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Musyawarah Anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Pendidikan Indonesia (KMNU UPI) Bandung mengamanatkan Rifa Anggyana sebagai Ketua Umum KMNU UPI untuk masa bakti 2013-2014.

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Mahasiswa yang sedang menempuh S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di UPI Bandung ini memang dikenal sebagai aktivis kampus dengan segudang kegiatan dan prestasi. 

Pemilihan dilangsungkan di Masjid Al Falah Panorama, Bandung, Sabtu-Ahad (9-10/13). Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta musyawarah, berakhir pada 14.00 siang.

Belajar Muhammadiyah

Mantan Ketua KMNU UPI 2012-2013, Faisal Ramdan, berharap Rifa mampu membangun KMNU UPI menjadi lebih baik, meneruskan kaderisasi yang sudah berjalan, serta meneruskan program jangka panjang belum terselesaikan, yaitu mendirikan KMNU di kampus-kampus lainnya di Bandung.

“Itu amanah yang harus sesegera mungkin di selesaikan, paling tidak selama satu tahun kedepan terbentuk sedikitnya 5 KMNU lagi di Bandung dan sekitarnya ,” ujarnya. 

Belajar Muhammadiyah

Faisal menambahkan, Rifa pasti mampu untuk memimpin KMNU UPI karena ia sudah berkecimpung di dalamnya serta sarat akan pengalaman organisasi.

Saat di konfirmasi kesiapannya memegang amanah, Rifa Anggyana menyatakan siap. “ Insya Allah saya akan menjaga amanah ini dengan baik, saya siap !” tegasnya. 

Dari perwakilan alumni, Kang Khusnul berharap pengurus sekarang jangan sampai kehilangan arah perjuangan dan tetap konsisten menjaga ciri khas KMNU yang fokus membangun karakter kader NU yang memiliki keunggulan moralitas Islam, intelektualitas, humanitas, profesionalitas, sehingga terbentuk kader yang kritis, loyal dan militan.

Di kesempatan yang lain Kang Khusnul juga mengajak para alumni untuk terus mendukung kinerja KMNU UPI walaupun sudah tidak berada di kampus lagi, baik dengan pikiran, tenaga maupun finansial. 

Di wilayah kampus UPI Bandung, eksistensi mahasiswa NU semakin terasa. Namun yang masih kurang adalah membangun komunikasi dan jaringan dengan para dosen maupun manajemen kampus yang memiliki kesamaan latar belakang.

Di tengah masyarakat pun diharapkan kegiatan Saba Masjid terus di tingkatkan, sehingga hubungan dengan ulama dan masyarakat sekitar dapat terjalin dengan baik. Serta masyarakat mengetahui bahwa di UPI Bandung terdapat komunitas mahasiswa NU, tambah Kang Arif (mantan ketua KMNU UPI 2011-2012).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Eko Rusli

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Humor Islam, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan Nahdlatul Ulama akan menjaga hubungan baik dengan semua pihak, baik istana, polisi, tentara maupun penegak hukum dan pihak lainnya untuk bersama-sama membangun bangsa.

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

NU sebagai masyarakat sipil memiliki kekuatan yang diharapkan mampu mendukung keberlangsungan bangsa ini. Mengorganisir masyarakat tidaklah gampang, diajak terlalu serius tidak mau, kalau tidak serius juga tidak menghasilkan apa-apa. “Makanya, lambang NU itu talinya kendor, kalau terlalu dikencengin, bisa putus, tetapi kalau terlalu dilepas, bisa bubar,” katanya ketika membuka Rakernas JQH di Jakarta, Jum’at (18/5).

Keberadaan NU, telah mampu menjaga harmoni bangsa Indonesia. Ia menganalogikan, di Timur Tengah, banyak ulama alim seperti Wahbah Zuhaili, Ramadhan Al Buthi, Yusuf Al Qaradhawi dan lainnya, tetapi mereka semua tidak mampu meredam konflik berdarah di negaranya atau di sekitarnya seperti di Irak, Libya, Afganistan, Syiria, Mesir dan lainnya. 

Belajar Muhammadiyah

“Kita alhamdulillah, para ulama NU ini bisa menjadi peredam dan menjaga suasana stabil,” jelasnya. 

Ia menegaskan, dirinya juga memberi peringatan kepada pemerintah, jika memang dirasa ada yang kurang pas dalam menjalankan amanah rakyat, tetapi hal ini dilakukan dengan cara yang halus. “Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara secara halus kepada Fir’aun. Kepada Fir’aun saja, diminta halus, padahal kita tidak sesuci Musa dan pemerintah tidak sekotor Fir’aun,” paparnya. 

Belajar Muhammadiyah

NU, katanya, tidak mau diperalat oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu, tetapi menjaga berlangsungnya pemerintahan negara ini sesuai dengan konstitusi. “Selama presiden tidak melanggar UUD 45, tidak boleh diturunkan karena kita punya pengalaman pahit, presiden Gus Dur digulingkan ditengah jalan tanpa jelas kesalahannya secara konstitusional,” imbuhnya.

Kiai Said meminta agar umat Islam di Indonesia bersatu karena Indonesia menjadi gerbang paling timur dunia Islam yang diapit oleh dua kekuatan raksasa, Australia dan China. “Kalau Islam keras, akan dihantam, tetapi kalau lemah, diinjak. Yang baik adalah seperti NU ini, dengan mengembangkan persaudaraan, baik persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sesama bangsa atau persaudaraan sesama umat manusia,” jelasnya.

Kalau hidup hanya didasarkan pada ukhuwah wathoniyah atau persaudaraan kebangsaan saja, akan menjadi sekuler, tetapi kalau persaudaraan sesama muslim saja, akan eksklusif. “KH Hasyim Asy’ari dengan cerdas mengintegrasikan semangat keislaman dan kebangsaan,” terangnya. 

Dari sinilah, ia memiliki ide untuk menambah definisi aswaja sebagai kelompok yang taat beragama sesuai sunnah rosul, tetapi juga memiliki semangat kebangsaan. “Kalau agama kuat, maka negara juga akan kuat,” tandasnya.

Jika ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah sudah berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah memperjuangkan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Disini, dimaknai dunia harus damai, tidak boleh ada peperangan. Persoalan yang ada diselesaikan dengan dialog, bukan dengan senjata tajam. Tidak boleh ada perang yang mengatasnamakan agama, bangsa, etnik, kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. 

“Sebuah kesalahan sejarah ketika menggunakan istilah perang suci atau holy war. Mana ada perang suci, semua perang itu kotor, tapi biarlah, itu sejarah masa lalu,” tegasnya. 

Dihadapan para peserta rakernas, Kang Said berharap NU memiliki peran lebih, bukan untuk menjadi presiden, tetapi mengarahkan negara ini dengan semangat Nahdlatul Ulama.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Syariah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah. Di saat ratusan warga Madura ikut aksi ke Jakarta, ribuan umat Islam justru membanjiri Monumen Arek Lancor Kabupaten Pamekasan usai shalat Jumat (2/12). Mereka terdiri dari para kiai dan santri dari berbagai pesantren guna melangsungkan istighotsah keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI.

Sebelum jumatan, Masjid Jami As-Syuhada juga dibanjiri ribuan umat. Di dalam masjid tersebut, perjuangan kiai dan santri dalam Resolusi Jihad digemakan oleh Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Muddatstsir Badruddin yang merupakan pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Panyeppen, Palengaan, Pamekasan.

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Di monumen Arek Lancor, terlihat jelas semangat cinta tanah air yang ditunjukkan para kiai dan santri. Mereka berdoa bersama untuk kebaikan NKRI secara berkesinambungan.

KH Atorid Siroj selaku Pengasuh Pesantren Al-Kautsar Pamekasan menegaskan, semangat istighotsah dan doa bersama jangan sampai luntur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena doa punya kekuatan tersendiri yang datangnya langsung dari Allah Yang Maha Kuasa.

"Tentu juga perlu diimbangi dengan perbuatan baik, utamanya dalam meneguhkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan nilai-nilai kesantunan dan keharmonisan dalam mengajak pada kebaikan dan melarang kemungkaran," papar Kiai Atorij.

Belajar Muhammadiyah

Untuk mewujudkan hal itu, tambahnya, tentu umat Islam bisa menyeimbangkan spirit hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Kalau tidak mampu berbuat baik, setidaknya jangan terperangkap pada perbuatan buruk.

"Semoga umat Islam di Indonesia tetap mengedepankan kesantunan dan keharmonisan dalam menjalankan dan menebar ajaran agama tercinta ini," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Cerita, Syariah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

Semarang, Belajar Muhammadiyah



Tidak benar Kementerian Dalam Negeri minta pembatalan peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol, kata Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Antara di Semarang, Sabtu.

Tjahjo dengan tegas menyatakan bahwa semua daerah perlu memiliki peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol mengingat peredaran minuman keras sudah membahayakan masyarakat dan generasi muda khususnya.

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

"Jabatan saya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saya pertaruhkan kalau saya sampai melarang Perda Pelarangan Minuman Keras. Itu berita fitnah," kata Tjahjo yang juga alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang.

Lebih lanjut Tjahjo menekankan bahwa penjelasnnya itu sekaligus meluruskan isu yang berkembang dari pemberitaan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencabut Perda tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol di Daerah (Perda Pelarangan Minuman Keras).

Perda Pelarangan Minuman Keras, lanjut Tjahjo, prinsipnya harus diberlakukan di semua daerah dengan konsisten, benar penerapan dan pencegahannya, serta penindakan oleh daerah. Apalagi, minuman keras juga menjadi pemicu kejahatan.

Belajar Muhammadiyah

Di Papua, misalnya, Kemendagri mendukung kebijakan Gubernur Papua untuk memberlakukan Perda Pelarangan Minuman Keras dengan konsisten.

Belajar Muhammadiyah

Tjahjo mengungkapkan bahwa relatif banyak perda yang berisi larangan minuman keras yang masih tumpang-tindih, kemudian Kemendagri meminta daerah yang bersangkutan untuk menyinkronkan kembali perda tersebut. Begitu pula, koordinasinya dengan aparat keamanan harus terjaga agar Perda Pelarangan Minuman Keras bisa efektif, termasuk pelarangan pembuatan dan peredarannya.

Sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya memprotes Mendagri terkait dengan persoalan pencabutan Perda Pelarangan Minuman Keras yang dinilai bertentangan dengan Permendag, padahal hal itu justru menyalahi Pancasila dan kebijakan revolusi mental.

"Itu juga menyalahi ajaran agama bahwa minuman keras merupakan sumber asal dari segala bentuk kejahatan, seperti pembunuhan, kejahatan seksual, kecelakaan, dan narkoba," kata Ketua Tanfiziah PCNU Kota Surabaya Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. di Surabaya, Sabtu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Makam, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah - Di Jawa Tengah, aksi penolakan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 23 Tahun 2017 tentang kebijakan Full Day School (FDS) tidak hanya disuarakan masyarakat di Semarang. Di Sukoharjo, puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi damai di bundaran Kartasura, Jum’at (20/7).

Dalam aksi damai ini puluhan mahasiswa membawa bendera dan atribut bertuliskan pernyataan penolakan. Aksi ini diawali dengan melakukan berjalan dari Kampus IAIN Surakarta menuju bundaran Kartasura.

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Ketua PMII Sukoharjo Helmy Zulfikar Zaki, yang menjadi salah satu orator dalam aksi ini menilai peraturan FDS membawa dampak buruk bagi sekolah pesantren dan agama yang sudah mengakar di masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau peraturan ini dilaksanakan, beberapa pondok dan sekolah sekolah agama pasti akan mati. Karena dalam peraturan tersebut menerapkan jam sekolah hampir 8 jam. Dan juga kita memprihatinkan kondisi siswa dan murid yang harus terkuras energinya untuk menerima pelajaran,” tegas Helmy.

Belajar Muhammadiyah

Ditambahkan dia, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan tersebut. “Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan tersebut, sebab setiap daerah dimungkinkan berbeda budaya dan kondisi sehingga semestinya kebijakan ini tidak bisa disamaratakan untuk semua daerah,” ujarnya.

Selain orasi, rangkaian dilanjutkan dengan membentuk lingkaran serta bershalawat bersama. Hal ini dilakukan sebagai simbol bahwa kebijakan itu sangat merugikan masyarakat pada umumnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Banda Aceh, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh mengelar rapat bersama pengurus di kantor PWNU setempat, Selasa (19/11) kemarin dalam rangka penyambutan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ke Aceh pada akhir bulan ini.

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Rapat kali ini dihadiri beberapa sesepuh PWNU Aceh. Tgk. Asnawi, Sekretaris PWNU Aceh mengatakan, Ketum PBNU dijadwalkan akan menghadiri kunjungan ke Aceh pada Tanggal 29 November 2013 dalam rangkaian kegiatan diantaranya akan bertindak sebagai pemateri pada acara Seminar Internasional yang dilaksanakan oleh panitia Mubes ke-II PB Huda Aceh.

Tgk. H. Faisal Ali, Ketua PWNU Aceh mengatakan, Ketum juga akan memberikan taushiyah kepada warga Nahdiyin di provinsi Aceh sehari setelah acara Huda.

Belajar Muhammadiyah

Selain membahas tentang penyambutan Ketum dalam rapat tersebut pengurus PWNU Aceh juga membahas tentang perkembangan lembaga pendidikan NU, kata Abu Faisal. (Tgk Muslem/Anam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Amalan, Syariah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) meresmikan Aswaja Center di Gedung PBNU, lantai 8, Rabu (1/3). Mereka dalam kesempatan ini menyelenggarakan bedah buku Khazanah Aswaja.

Bedah buku Khazanah Aswaja itu diisi oleh tiga pemateri Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur, KH Abdurrahman Navis (PWNU Jawa Timur), dan H Faris Khoirul Anam.

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

H Hanief menyampaikan posisi Aswaja yang sangat fundamental dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, wacana Islam Nusantara, Islam Rahmatan Lil’alamin itu harus kembali rujukannya ke Aswaja NU. Semuanya harus kembali rujukannya ke Aswaja NU.

Belajar Muhammadiyah

“Roh NU ada karena ada Aswaja. NU berdiri karena Aswaja,” katanya di depan hadirin.

Ia melanjutkan, orang NU jangan hanya melihat ke belakang, karena nanti ibarat masuk museum. Orang NU itu harus progresif.

Ia juga menambahkan bahwa teologi kemajuan itu bukan hanya milik Muhammadiyah. “Kita di NU itu, di AD/ART tujuannya adalah membangun kemajuan bangsa dan negara. Itu harus diwujudkan,” tegasnya.

Tapi diwujudkan bukan dengan pragmatis, yaitu tanpa konsep dan tanpa nilai. Tapi harus ada pijakan nilai aswaja sehingga orang progres itu tetap Aswaja, tidak sekuler juga tidak liberal. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Pendidikan, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Mayoritas ulama menyepakati bahwa nilai shalat jama’ah lebih utama dibanding shalat sendirian. Kesimpulan ini diperoleh dari pemahaman terhadap banyak dalil yang terdapat dalam kitab-kitab hadits. Dalam sebuah hadis dikatakan,“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat,” (HR: Bukhari).

Dilihat dari kebiasaan yang berkembang di masyarakat, shalat jama’ah ditunaikan langsung di awal waktu terutama masyarakat perkotaan. Tetapi sebagian masyarakat pedesaan untuk shalat-shalat tertentu seperti zhuhur dan ashar dikerjakan di pertengahan waktu secara berjamaah. Pasalnya, mereka masih berada di sawah atau kebun saat waktu masuk shalat.

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Model pengerjaannya juga bermacam-macam. Ada yang mengerjakan langsung secara bersama-bersama. Ada pula yang awalnya shalat sendirian kemudian diikuti oleh beberapa orang yang berniat menjadi makmumnya.

Terkait orang shalat sendiri, seseorang dianjurkan terlebih dahulu untuk berniat menjadi imam jika meyakini akan ada orang datang setelahnya. Bila berniat menjadi imam, ia akan mendapatkan pahala jama’ah sekalipun niat itu dilakukan di pertengahan shalat.

Belajar Muhammadiyah

Namun dia tidak mendapatkan pahala jika tidak berniat menjadi Imam di awal shalat atau di pertengahan. Keterangan ini dikutip dari paparan Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

Belajar Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Niat menjadi imam sembahyang berjamaah ketika takbiratul ihram terbilang sah kendati di belakangnya tiada orang satupun yang mengikutinya jika ia yakin setelah itu ada orang yang menjadi makmumnya menurut pendapat yang shahih. Ini diperbolehkan karena ia akan menjadi Imam. Tetapi jika ia tidak berniat sebagai imam, dan tidak mengetahui akan datangnya makmum, lalu datang jamaah, makmumnya tetap mendapatkan pahala, sementara imam tidak memperoleh pahala. Tetapi ia tetap dapat pahala bila ia berniat sebagai imam di pertengahan shalat.”

Kutipan ini menunjukan, alangkah baiknya bagi orang yang shalat sendiri lalu berniat menjadi imam, ketika dia yakin kalau masih ada orang di luar yang akan ikut shalat bersamanya.

Andaikan tidak berniat di awal, ia masih diberikan kesempatan untuk berniat di pertengahan shalat saat ada orang yang bermakmum kepadanya. Apabila seorang imam tidak berniat, makmum tetap mendapatkan pahala. Sementara imamnya tidak memperoleh pahala atas shalat berjamaah itu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Warta, Syariah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Belajar Muhammadiyah - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Belajar Muhammadiyah

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pesantren yang tumbuh dan dikembangkan oleh para kiai dan ulama memiliki banyak ragam. Selain pesantren umum yang mengajarkan ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist dan lainnya, terdapat pula pesantren yang lebih spesifik berupa pesantren Al-Qur’an atau tempat mempelajari dan menghafal kitab suci Al-Qur’an.

Sejauh ini, pesantren-pesantren Al-Qur’an telah melahirkan puluhan penghafal qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun sayangnya pengetahuan para penghafal (hafidz atau hafizhdoh) tersebut baru berbasis hafalan.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, kurikulum pengajaran yang saat ini masih berbasis hafalan saja perlu dikembangkan lagi. “Mereka perlu memahami makna teks sehingga bisa menyampaikan isi Al-Qur’an kepada masyarakat,” tuturnya dalam perbincangan dengan Belajar Muhammadiyah di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (18/5).

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Pengasuh Ponpes Al Hikam Malang tersebut mengusulkan agar pesantren-pesantren tersebut manambahkan materi seperti bahasa Arab, tafsir, asbabun nuzul (penjelasan tentang sebab-sebab diturunkannya ayat tertentu), ayatul ahkam (berkaitan dengan hukum), ayat-ayat sosial, ayat-ayat tentang alam dan teknologi sampai dengan penafsiran Al-Qur’an dalam dunia kontemporer.

“Ini perlu agar puluhan ribu hafidz dan hafidhoh tidak dalam keadaan statis, hanya menunggu undangan hifdzul Qur’an,” paparnya.

Belajar Muhammadiyah

Dalam struktur NU, perangkat organisasi yang mengurusi para penghafal dan penafsir Al-Qur’an adalah Jamiyyatul Qurro wal Huffadz (JQH). Lembaga ini telah mengembangkan semaan Al-Qur’an yang secara rutin diselenggarakan di berbagai tempat. Sejumlah qori dan qoriah yang tergabung dalam lembaga ini juga telah meraih prestasi gemilang sampai ke tingkat internasional. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Syariah, Hadits Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Samarinda, Belajar Muhammadiyah. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak mengingatkan masyarakat di daerah itu untuk meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) dari Marawi, Filipina.

"Pertempuran sengit antara pasukan Filipina melawan militan ISIS di Marawi, tentu harus menjadi perhatian. Bukan tanpa alasan, sebab waktu tempuh lokasi pertempuran itu hanya tiga jam dari wilayah pulau terluar Kaltim dan Kalimantan Utara," kata Awang Faroek, di Samarinda, Jumat (16/6).

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Gubernur mengimbau seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok ISIS yang melarikan diri dari Marawi.

"Kita perlu meningkatkan kewaspadaan sebab jangan sampai aksi dan gerakan radikal dari Filipina masuk dan menyusup ke wilayah Indonesia, khususnya Kaltim dan Kalimantan Utara. Kalau itu terjadi maka dikhawatikan nantinya bisa saling mencurigai dan menimbulkan pertentangan antaragama," tuturnya.?

Belajar Muhammadiyah

"Oleh karena itu, para alim ulama, pemuka masyarakat, tokoh pemuda khususnya kepada forum maupun paguyuban yang sudah terbentuk untuk terus meningkatkan kewaspadaan dini, guna mencegah potensi gerakan radikalisme ataupun aksi-aksi terorisme masuk ke Kaltim," terang Awang Faroek.?

Pemprov Kaltim bersama seluruh pemangku kepentingan kata Awang Faroek, menyadari sepenuhnya bahwa tantangan semakin hari kian kompleks dan beragam.?

Termasuk lanjutnya, tuntutan perubahan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, sehingga kewaspadaan dini perlu terus ditingkatkan dalam upaya mencegah timbulnya potensi konflik.?

Pemprov Kaltim tambah Gubernur, terus berupaya membina kehidupan dan kerukunan hidup antarumat beragama.?

"Hal itu guna terciptanya kehidupan masyarakat yang seimbang dan selaras, sekaligus dapat mengatasi berbagai masalah sosial budaya sebagai dampak globalisasi dunia yang mungkin dapat merusak mental bangsa dan menghambat kemajuan umat beragama," paparnya.

Belajar Muhammadiyah

Kaltim, kata dia, saat ini telah terbentuk beberapa forum maupun paguyuban yang memiliki peran dan tugas yang penting dan strategis dalam pembinaan kerukunan hidup antarumat beragama, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terjadi pada daerah lain di tanah Air.?

Gubernur menyatakan, keberadaan forum dan paguyuban yang mempunyai tugas dan fungsi memelihara kedamaian, ketentraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di Kaltim, benar-benar dilaksanakan sesuai dengan tupoksinya.?

"Koordinasi dan dialog bersama dengan pihak terkait pemkab/pemkot, TNI/Polri, termasuk para tokoh dan pemuka agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan forum lainnya, sangat membantu dalam mencegah konflik," tuturnya.?

Hingga saat ini, tandas Awang Faroek, kerukunan hidup umat beragama di Kaltim secara kualitatif dapat dikatakan berjalan cukup baik dan kehidupan antarumat beragama cukup harmonis. Situasi kondusif tersebut harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Fragmen, Syariah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

IPPNU Dringu Gelorakan Diba’iyah dari Ranting ke Ranting

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mempunyai cara tersendiri untuk turut serta menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H. Salah satunya dengan menggelorakan pembacaan diba’iyah bersama dari ranting ke ranting secara bergantian.

IPPNU Dringu Gelorakan Diba’iyah dari Ranting ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Dringu Gelorakan Diba’iyah dari Ranting ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Dringu Gelorakan Diba’iyah dari Ranting ke Ranting

Pembacaan diba’iyah sendiri dilakukan secara istiqomah selama sebulan penuh. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Pengurus Ranting (PR) dan Pengurus Komisariat (PK) IPPNU di masing-masing ranting. Pembacaan diba’iyah sendiri dipandu oleh pengurus PAC IPPNU Kecamatan Dringu.

Ketua PAC IPPNU Kecamatan Dringu Anis Wulandari mengungkapkan pembacaan diba’iyah ini dilakukan sebagai bentuk rasa cinta kader IPPNU kepada Rasulullah SAW. Selain itu juga untuk melestarikan salah satu tradisi NU sesuai aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang saat ini sudah mulai kurang diminati oleh kalangan anak muda maupun pelajar.

Belajar Muhammadiyah

“Seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak muda mulai terbawa dengan arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga mau tidak mau kami harus menyiasati bagaimana lagu yang dibawakan harus bervariasi agar tidak terkesan membosankan,” ujarnya, Senin (19/1).

Belajar Muhammadiyah

Menurut Anis, anak muda saat ini suka yang berbau baru-baru. PAC IPPNU Kecamatan Dringu menyadari hal tersebut agar kalangan anak muda bisa tetap mengikuti perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan tradisi Aswaja.

“Jika dibaca dengan khusyu’ dan dihayati dengan maknanya, maka kita akan terasa sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, para pelajar bisa berperan aktif untuk bersama-sama melestarikan tradisi diba’iyah, terutama di bulan Maulid,” jelasnya.

Anis menambahkan bahwa pembacaan diba’iyah ini dilakukan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh PR IPPNU yang ada di Kecamatan Dringu. Dimana kegiatan tersebut juga diikuti oleh masyarakat yang ada di masing-masing ranting.

“Bagaimanapun juga pelajar harus mempunyai andil untuk bisa mengenalkan ciri khas NU dan syiar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada masyarakat. Mudah-mudahan ke depan pelajar tidak hanya bisa menyampaikan teori saja, namun juga mampu mempraktekkannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan

Khartoum, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menyelenggarakan berbagai perlombaan, forum diskusi, dan tur kebudayaan, dalam rangka memperingati  hari lahir (Harlah) ke-89 NU, 7 Februari-22 Februari 2015, di Khartoum, Sudan.

Kegiatan yang terangkum dalam tema “Dakwah Nahdiyah: Solusi Lokal untuk Tantangan Global” ini diperuntukkan bagi seluruh lapisan mahasiswa Indonesia di Sudan. Forum disediakan di antaranya adalah Seminar Nasional, Bahtsul Masail, Kajian Kitab Salaf, Seminar Internasional, Seminar Dakwah, dan Rihlah Kebudayaan. Sedangkan untuk jenis perlombaan meliputi lomba tenis meja, tulis esai, melukis, bola voli, dan futsal.

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Sudan Harlah Ke-89 NU Semarak dengan Aneka Kegiatan

Seminar Nasioal menjadi ajang pembukaan dalam rangkaian kegiatan dan perlombaan yang ada. Kesempatan ini juga menjadi momen pelaksanaan program kegiatan PCINU Sudan masa khidmah 2014-2015.

Belajar Muhammadiyah

Ahmad Lukman Fahmi selaku Steering Committee mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengenang kembali  perjuangan para sesepuh terdahulu dalam mendirikan NU sebagai wadah dakwah di Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

“Kegiatan dan perlombaan ini juga merupakan kali pertama bagi PCINU Sudan dalam melaksanakan program kerjanya yang dibingkai dalam Harlah ke-89 NU,” imbuhnya

Panitia juga berharap, melalui kegiatan ini akan menjalin hubungan erat antarmahasiswa Indonesia dari berbagai lapisan. Dan puncak kegiatan ini akan diisi dengan seminar internasional  sekaligus penutupan rangkaian kegiatan harlah ke-89 NU. (M Lukman Hambali/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Kondisi dunia Islam belakangan ini semakin memprihatinkan dengan banyaknya konflik, terutama di kawasan Timur Tengah, yang kemudian menimbulkan problem pengungsi di seantero dunia. Kekerasan di kawasan tersebut juga menjadi ajang pelatihan “terorisme” bagi kelompok-kelompok Islam garis keras. Tak heran, berbagai tindakan bom bunuh diri dan radikalisme menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Indonesia beberapa waktu lalu juga mengalami teror “Bom Thamrin” yang pelakunya merupakan militan yang bergabung dengan kelompok garis keras di Suriah. Problem tersebut bukan hanya urusan dalam negeri masing-masing negera, tetapi telah menjadi masalah bagi banyak negara.

Tentu kita prihatin dengan kondisi tersebut. Kita bisa mengelak bahwa itu bukan ajaran Islam, tetapi fakta bahwa para pelaku radikalisme beragama Islam atau negara-negara yang sedang mengalami konflik merupakan negara dengan penduduk Muslim mau tidak mau harus diakui, ada persoalan dalam tubuh Islam. Dengan mengakui adanya persoalan tersebut, kita bisa mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan, daripada menyalahkan pihak luar dengan teori konspirasi, penjajahan, atau hal lainnya dan menilai, tak ada yang salah dengan dunia Islam.

Salah satu persoalan yang muncul adalah tafsir tekstual atas ajaran-ajaran Islam yang menjadi legitimasi dilakukannya kekerasan oleh sekelompok orang. Di sinilah Nahdlatul Ulama, dengan praktik Islam moderat, yang kini diusung dengan tagline Islam Nusantara bisa memberi sudut pandang lain bahwa Islam adalah agama yang damai, yang mampu berdampingan dengan kelompok lain, yang mampu mengembangkan peradaban, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Sebagai upaya untuk menawarkan nilai Islam moderat ke kawasan dunia lain ini, NU menyelenggarakan forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) pada 9-11 Mei di Jakarta. Dalam pertemuan ini, para ulama moderat dari berbagai dunia bisa belajar dan mencari inspirasi bagaimana Indonesia yang mayoritas Muslim bisa hidup dengan damai dengan prinsip Pancasila.

Sementara itu Islam Nusantara adalah sebuah prinsip penghargaan terhadap nilai-nilai lokalitas. Bahwa prinsip Islam paling mendasar adalah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, keadilan, menjaga kepercayaan, dan lainnya. Dalam prakteknya, nilai-nilai tersebut diwujudkan sesuai dengan kondisi lokalitasnya masing-masing. Apa yang gagal dipahami saat ini adalah mengaitkan bahwa Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam, padahal banyak kondisi yang sangat berbeda. Dengan prinsip seperti ini, tak heran, untuk tampak sebagai Muslim yang baik, harus berpakaian ala Arab, berbicara kearab-araban, dan terutama menganggap tafsir Islam ala Arab sebagai yang paling benar. Di sinilah, NU ingin menunjukkan ragam Islam lain, yang paling pas dalam dunia kekinian yang semakin terhubung antara satu tempat dan tempat lain di seluruh dunia, yaitu Islam moderat yang menghargai keberagaman.

Faktor lain dari permasalahan yang dihadapi dunia Islam adalah lemahnya kepemimpinan negara. Negara seperti Irak dan Afghanistan mengalami konflik berkepanjangan karena pemerintahan yang lemah, yang tidak mampu negara dengan baik. Indonesia, dengan keberadaan ormas besar seperti Nahdlatul Ulama, mampu menjadi penopang dan salurah aspirasi masyarakat atas berbagai persoalan yang terjadi sehingga masalah tidak diselesaikan dengan cara-cara kekerasan.

Pada akhirnya, dunia Islam harus cepat berbenah untuk mengejar ketertinggalan sebagaimana tercermin dalam berbagai indikator yang tiap tahun dirilis seperti indeks pembangunan manusia, indeks korupsi, indeks negara gagal, dan lainnya yang selama ini selalu menempatkan negara-negara Muslim dalam urutan bawah. Pertemuan internasional, baik yang digagas oleh pemerintah dalam bentuk diplomasi antarnegara atau pertemuan yang digagas oleh masyarakat dalam bentuk second track diplomacy, bisa menjadi ajang saling belajar untuk kemajuan bersama. Dunia Islam dapat belajar dari Islam moderat di Indonesia. Demikian pula, Indonesia dapat belajar hal lain dari berbagai kawasan dunia Islam yang akhirnya secara bersama-sama akan menciptakan sebuah peradaban Islam yang maju, (Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Syariah, Kajian Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Tiga Masjid Ini Miliki Arsitek Hasil Akulturasi Budaya Lokal

Tangerang Selatan, Belajar Muhammadiyah. Ada spirit akulturtasi budaya yang terjadi di dunia Islam pada abad ke-16 M. Akulturasi ini terlihat pada bangunan-bangunan ibadah umat Islam berupa masjid yang ada di Istanbul (Turki), Malibar (India), dan Nusantara (Indonesia) yang menjadi ikon arsitektur dunia Islam pada masa itu.

Tiga Masjid Ini Miliki Arsitek Hasil Akulturasi Budaya Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Masjid Ini Miliki Arsitek Hasil Akulturasi Budaya Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Masjid Ini Miliki Arsitek Hasil Akulturasi Budaya Lokal

Ada kesamaaan pola pikir, yaitu pola pikir spirit toleransi dan akulturasi. Islam sangat menghargai budaya setempat sepanjang budaya tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

Demikian disampaikan A. Ginanjar Syaban dalam kajian bertema Akulturasi Budaya pada Masjid-Masjid : Kudus (Jawa), Malibar (India), dan Istanbul (Turki) Abad ke-16 M di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (28/10).

Direktur INC itu menjelaskan, arsitektur Masjid Sultan Ahmad di Istanbul terinspirasi dari arsitektur gereja Hagia Sophia.

"Ini (Masjid Sultan Ahmad) menjadi mahakarya arsitektur Islam Usmani pada zamnnya," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Sesaat setelah menaklukkan Istanbul, Sultan Muhammad Al Fatih mencari Gereja Hagia Sophia. Sultan beranggapan bahwa arsitek bangunan gereja sangat luar biasa karena sangat indah dan belum pernah terkalahkan. Sang sultan tidak merubah bentuk gereja tersebut. Hanya menambahkan empat menara.

"Kira-kira ada yang berani nggak bilang ini masjid bidah. Nggak ada, inilah semangat akulturasi kebudayaan," ungkapnya. 

"Ulama-ulama Usmani ingin menegaskan bahwa Islam datang bukan ingin membangun spirit yang asing," lanjutnya. 

Sedangkan di India, lanjut Ginanjar, ada juga masjid di Malibar yang dibangun oleh Syekh Zainuddin Malibari, ulama yang juga mengarang kitab Fathul Muin.

Belajar Muhammadiyah

"Ini (Masjid Malibar) juga menunjukkan akulturasi budaya. Unsur budaya di India dipakai, tidak langsung dibuang atau dimusuhi. Melainkan dihormati dan disempurnakan," terang Dosen Filologi Universits Padjajaran itu.

Semangat akulturasi budaya tersebut juga tampak pada salah satu masjid di Nusantara, tepatnya di Kudus, Jawa Tengah. Masjid Kudus atau Masjid Al Aqsa dibangun oleh Imam Jafar Shidiq atau yang dikenal dengan Sunan Kudus. Masjid ini ebagai simbol semangat akulturasi budaya antara Islam dan lokal atau Hindu.

"Jadi kalau kita memandang Masjid Kudus, aneh gitu kan, kenapa? ini masjidnya kayak masjid ahli bidah. Arsitekturnya kok seperti Pura," kata Ginanjar

Ginanjar menerangkan, Sunan Kudus ingin membangun sebuah tempat ibadah bagi umat Islam yang bangunannya tidak asing dengan masyarakat setempat saat pertama kali membangun masjid tersebut. Maka dibangunlah masjid dengan arsitek menyerupai Pura.

Bedanya, imbuh Gainnjar, kalau di Istanbul coraknya sama. Ada identitas Turki di sana karena itu dipatenkan sebagai budaya Turki Usmani. Di Indonesia tidak dipatenkan sehingga bentuk akulturasinya lebih dinamis.

"Ini bukan mengajari pluralisme agama, tapi hendak mengkaji bagaimana kebijakan beberapa ulama dunia Islam waktu itu tentang akulturasi budaya," tutup penulis Mahakarya Islam Nusantara itu. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nasional, Syariah Belajar Muhammadiyah

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Kemampuan Presiden RI pertama, Ir Soekarno dalam memecahkan sejumlah persoalan pelik di awal kemerdekaan tidak lepas dari saran yang disampaikan KH Abdul Wahab Chasbullah.  Peran itu semakin dominan dalam perjalanan bangsa selanjutnya.

Hal ini disampaikan H. Abdul Mun’im DZ yang menjadi pembicara pada acara ‘Sarasehan Nasional: Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah, perintis, pendiri dan penggerak NU: Dari Pesantren untuk Indonesia’ yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Rabu (3/9).

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Guru Politik Bung Karno

Dalam pandangan Mun’im DZ, ketika situasi nasional semakin genting terutama pada masa transisi dari pemerintahan penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang dan masa kemerdekaan nasional yang penuh dengan konflik dan ketegangan, NU sudah bisa tampil tidak hanya terbatas bagi warganya. “NU juga bisa memberikan panduan dan solusi bagi bangsa dan negara,” kata Mun’im.

Belajar Muhammadiyah

Hal ini terlihat nyata ketika NU bergabung dengan Masyumi yang menjadi sebuah kekuatan politik Islam yang dominan. “Terlebih lagi ketika NU mulai menjadi partai politik tersendiri yang mampu meraih kekuasaan,” kata Wakil Sekretaris PBNU ini. Keterlibatan NU dalam dunia politik menjadi semakin mendalam. Dan semua prestasi ini terjadi berkat kepemimpinan Kiai Wahab yang piawai, tegas tapi luwes, lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketika zaman PKI masyarakat dihadapkan pada dua pilihan ikut Muso-Amir Syarifuddin (PKI) atau ikut Soekarno Hatta (pemerintah yang sah), rakyat terpandu oleh NU untuk memilih Soekarno Hatta. Demikian juga ketika Kartosuwiryo melakukan pemberontakan Darul Islam (DI), dengan mengklaim sebagai amirul mukminin sebagai tandingan pemerintah RI pimpinan Soekarno, maka NU di bawah Kiai Wahab menugaskan Kiai Masykur selaku Menteri Agama kala itu untuk mengkoordinasikan para ulama Indonesia mengatasi dualisme ini.Akhirnya ulama NU menegaskan memilih Bung Karno sebagai pemerintah yang sah, sebagai waliyul amri tahun 1954.

Dengan sejumlah fakta ini, sangat beralasan kalau kemudian Mun’im mengatakan bahwa Mbah Wahab sebagai guru politik Bung Karno. Karena itu, sejumlah pemikiran dan gagasan Mbah Wahab akan digali secara serius bagi upaya mengungkap strategi yang dilakukan dalam perjalanan bangsa dan negara ini.

“Paling tidak akan ada empat buku yang kami terbitkan dalam rangka menyingkap ide dan gagasan Mbah Wahab ini,” tandas Mun’im. Bahkan bukan tidak mungkin akan muncul akademi politik Mbah Wahab yang merupakan intisari dari sejumlah pemikiran dan ide beliau, lanjutnya.

Lewat kepiawaian yang dilakukan Mbah Wahab, hingga kini NU tetap disegani sejumlah kalangan. Ketika banyak negara masih gamang membincang Islam dan nasionalisme, pembahasan ini telah tuntas pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin.  

“Sekarang, negara Timur Tengah banyak belajar kepada Indonesia dalam membicarakan Islam dan nasionalime,” terang Mun’im. Karena ketika melihat negara-negara Islam tersebut, yang mengemuka adalah sejumlah gejolak dan konflik. Dan lewat kepiawaian Mbah Wahab, persoalan Islam dan nasionalime di Indonesia menjadi tuntas, lanjutnya.

Sarasehan ini juga menjadi ajang peluncuran buku karya Abdul Mun’im DZ: KH Abd Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Syariah, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules

Brebes,Belajar Muhammadiyah. Puluhan ulama muda NU yang tergabung dalam Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manuasia (Lakpesdam) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Brebes menggelar tahlilan untuk korban musibah jatuhnya pesawat Hercules milik TNI Angkatan di Medan Selasa (30/6).

“Kami turut berduka cita kepada seluruh korban jatuhnya pesawat Hercules. Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan atas musibah ini,” tutur Ketua PC Lakpesdam NU M Riza Pahlevi usai memimpin tahlil dan doa bersama di Gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes, Rabu (1/7).

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules

Reza menjelaskan, keperihatinan dipanjatkan para ulama muda sebagai bentuk rasa kebersamaan dalam suka maupun duka sebagai warga Indonesia. Apalagi di saat puasa Ramadhan dan menjelang Hari Raya sebagai hari yang istimewa bagi umat Islam. “Sudah seharusnya kita memanjatkan doa pada para korban bencana Herkules,” ucapnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Lesbumi PCNU Kota Tegal Drs Atmo Tan Sidik menyampaikan mauidlatul hasanah sebagai pengantar berbuka puasa. Dalam taushiyahnya, ia mengatakan hendaknya kita semua hikmah di balik musibah.

Ia mengutip perintah Rasulullah yang orang harus banyak mengingat kematian. Dengan mengingat banyak kematian, maka orang cenderung akan berahklakul karimah. “Siapa pun, akan dimintai pertanggungjawabannya selesai kematian,” terang Atmo yang juga Kabag Humas Setda Brebes. ?

Belajar Muhammadiyah

Sang Maestro Pelestari Budaya Pantura itu mengingatkan, bahwa di dalam Al Quran secara tegas dinyatakan cukuplah kematian sebagai nasihat atau pelajaran. “Semoga mereka syahid karena mereka terbentur benda keras dan kematiannya di bulan Ramadhan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembentukan pengurus Ikatan Keluiarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII). Terpilih sebagai Ketua Drs Chaerul Umam, yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Brebes. Acara diselang buka puasa bersama dan shalat maghrib, isya, dan tarawih berjamaah. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Syariah, Kiai Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock