Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Anggota Komisi VII DPR Khofifah Indar Parawansa meragukan kinerja Badan Pelaksana (BP) lumpur Lapindo. Badan ini merupakan pengganti Timnas lumpur Lapindo yang berakhir 8 April lalu. Hingga kini berbagai upaya nyatanya tak mampu mengatasi luapan lumpur Lapindo, kerja Timnas juga tak berhasil.

“Saya lihat Timnas saja orang-orangnya power full tetapi kurang suskes menangani lumpur,” kata Khofifah, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Kamis (12/4) kemarin.

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Keraguan Khofifah juga berkaitan dengan adanya hubungan antara pemilik PT Lapindo dengan badan tersebut. Maklum, badan yang terbentuk berlandaskan Keputusan Presiden ini dikepalai Sunarso, Staf Ahli Menko Kesra Bidang Kependudukan dan SDM. Aburizal Bakrie adalah salah satu pemilik PT Lapindo Brantas Inc.

Selain itu, menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, terlalu birokratis. Badan ini tidak memiliki kebebasan untuk mengeksekusi keadaan di lapangan.

Hal itu karena mereka harus melapor terlebih dahulu kepada Badan Pengawas seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. ”Saya kasihan dengan orang-orang yang ada di Sidoarjo. Masyarakat semakin terkatung-katung,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Khofifah meminta pemerintah pusat bekerja sepenuh hati untuk menyelesaikan lumpur Lapindo. Sebab, masyarakat Sidoarjo sudah lelah dan tersiksa dengan musibah tersebut. ”Pemerintah harus bertanggung jawab karena semuanya serba darurat di Sidoarjo,” katanya. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Syariah Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 28 Februari 2018

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Sekitar 23 DPW PPP menghadap Wapres untuk menyatakan dukungannya agar Hamzah Haz dipilih kembali menjadi Ketua Umum PPP. DPD Jatim adalah yang pertama kali menghadap Hamzah Haz.

Mendapat dukungan dari banyak wilayah Hamzah Haz menyatakan kesiapannya dipilih menjadi Ketua Umum PPP periode 2003-2008 pada Muktamar PPP yang akan berlangsung 20- 24 Mei di Jakarta.

Ketua DPW PPP Jatim Hafidz Maksoem mengatakan berdasarkan laporan, banyak yang mendukung Hamzah Haz. Misalnya, Sumut yang merupakan wilayahnya Bachtiar Chamsyah, ternyata 19 dari 20 DPC PPP mendukung Hamzah Haz.

"Jadi kalau orang lain (pendukung Bachtiar) mengklaim suaranya lebih besar, itu biasa. Buktikan saja bagaimana kenyataannya," katanya. Ia juga mengatakan pencalonan Hamzah Haz bukan karena ia berasal dari NU, namun ia adalah kader terbaik PPP di Pesantren Daru Maarif Cipete, Jakarta, Senin.

Mereka datang untuk melaporkan masalah muktamar dan minta restu dari mantan Ketua MPRS itu. Dalan pertemuan itu tidak ada sama sekali upaya untuk meminta dukungan dari ketua pertama PPP itu terhadap calon ketua umum PPP 2003-2008.

"Dan beliau juga tidak akan memihak ke mana-mana," ujar Zarkasih Noer yang turut dalam acara tersebut.

Kepemimpinan Hamzah lemah

Kinerja kepemimpinan dan kepengurusan PPP era Ketua Umum Hamzah Haz paling lemah, dibandingkan periode sebelumnya, meskipun telah menjadi Wakil Presiden, dan hal itu merupakan momentum untuk melakukan perubahan pada Muktamar V PPP, 20-24 Mei 2003.

"Ternyata tidak signifikan hubungan antara Hamzah Haz yang juga Wapres dengan konsolidasi organisasi," kata anggota Litbang DPP PPP Usamah Hisyam di Jakarta, Minggu.

Ia membeberkan data bahwa perolehan kursi pada Pemilu 1999 di era kepemimpinan Hamzah Haz merupakan yang terburuk, yakni hanya meraih 58 kursi di DPR-RI. Pemilu 1977, 99 kursi, Pemilu 1982, 94 kursi, Pemilu 1987, 61 kursi, Pemilu 1992 62 kursi, dan Pemilu 1997, 89 kursi.

Pada kepengurusan Hamzah Haz juga timbul perpecahan, KH Zainuddin MZ dan kelompoknya mendirikan PPP Reformasi, sebelum kemudian berganti nama menjadi Partai Bintang Reformasi. Ini merupakan sebagian dari beberapa kelemahan dari kepemimpinan Hamzah dalam PPP

Sementara itu, Wakil Ketua DPW PPP DKI Jakarta HA Chudlary Syafii Hadzami mengatakan bahwa pihaknya mendukung kepemimpinan Hamzah Haz untuk periode 2003-2008.

"Dengan posisinya sebagai Wapres yang sangat strategis saat ini, membuat PPP masih memerlukan kepemimpinannya," kata Chudlary. Ia berharap peserta muktamar masih memilih Hamzah Haz sebagai pemimpin.

Mengenai konflik internal yang terjadi di PPP, menurut Chudlary, hal itu merupakan dinamika yang demokrasi dan tidak sampai mengganggu organisasi secara keseluruhan.

Ketika dikonfirmasi mengenai usia Hamzah Haz yang telah mencapai 63 tahun, yang tergolong sudah tua untuk memimpin PPP di tengah tantangan yang semakin berat menghadapi Pemilu 2004, Chudlary menegaskan bahwa figur yang tua tepat untuk memimpin partai karena kaya akan pengalaman.

"Hamzah Haz masih dibutuhkan, mungkin 30 persen dari kalangan tua dan 70 persen lainnya dari kalangan muda," katanya.

Dalam hitung-hitungan di atas kertas versi Forum Silaturahmi Sukses Muktamar V PPP, Hamzah didukung oleh 23 dari 30 DPW PPP dan 308 dari 400 DPC PPP seluruh Indonesia.(rol/mkf)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Didukung 23 DPW Hamzah Haz Siap Pimpin PPP Lagi

Minggu, 25 Februari 2018

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. GP Ansor Banyuwangi bersyukur atas penetapan Hari Santri. Ratusan pemuda NU ini mengadakan apel akbar dan kuliah umum di Gedung Wanita, Banyuwangi, Ahad (25/10). Karenanya, halaman gedung yang beralamat di kelurahan Kepatihan, kecamatan Banyuwangi Kota, didominasi warna hijau dan loreng khas Banser. Mereka menyatakan komitmen untuk menjaga semangat kepemudaan.

Ketua GP Ansor Banyuwangi Sukron Makmun Hidayat mengimbau para kader Ansor untuk melandasi setiap gerak langkah dengan niat jihad. Sesuai dengan sejarah perjuangan para ulama dalam mencetuskan Resolusi Jihad.

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, GP Ansor Banyuwangi Bertekad Lebih Baik ke Depan

"Kita harus mampu memberi suri teladan kepada seluruh masyarakat, keluarga dan adik-adik kita bahwa setiap langkah dan pergerakan kita selalu berlandaskan jihad, semangat keihklasan," tegas Sukron.

Belajar Muhammadiyah

Sukron juga mengucapkan rasa terima kasih kepada pemerintah Jokowi yang telah memberikan penghargaan terhadap Resolusi Jihad. Atas anugerah ini, ia berharap seluruh masyarakat Indonesia khususnya kader Ansor untuk terus bahu-membahu berjuang mengisi kemerdekaan.

"Langkah yang telah dilakukan kader Ansor dalam memerangi kebodohan, kemiskinan dan lainnya, harus terus dilakukan demi terwujudnya kesejahteraan di Indonesia," imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali mengajak seluruh kader Ansor untuk terus bersemangat dalam keikhlasan setiap pergerakan.

"Ansor itu tidak boleh melempem. Ansor harus terus bersemangat. Seperti para santri dan ulama di masa penjajahan, mereka terus berjuang dengan tulus ikhlas," ucapnya.

Di sela-sela acara yang mengusung tema “Menggerakan Kembali Ruh Perjuangan Ulama-Kiai” ini juga dilakukan pengukuhan pengurus Rijalul Ansor, majelis dzikir dan sholawat di tingkat cabang GP Ansor Banyuwangi. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hadits, Pemurnian Aqidah, Warta Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Gerakan Pemuda Ansor Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo mengadakan pembacaan sholawat nabi bersama-sama, Kamis (4/1) malam. Kegiatan ini rutin diadakan setiap 2 minggu sekali secara bergiliran dan berkesinambungan di Kelurahan Ketapang.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan yang diikuti oleh 70 orang peserta itu juga dilakukan dialog interaktif tentang meneguhkan amaliyah NU dalam bingkai kebhinekaan. Kegiatan ini mengambil tema Meneguhkan Amaliyah Ahlussunnah wal jama’ah Dalam Bingkai Kebhinekaan.

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ketapang Teguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinnekaan

Selain jajaran pengurus GP Ansor Kelurahan Ketapang, kegiatan ini juga melibatkan Lurah Ketapang, Babinsa, Babinkamtibmas, Karang Taruna, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat dan masyarakat Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Lutfi Abdurrohman mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi amaliyah NU serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai kebhinekaan. “Semoga dengan kegiatan ini para pemuda Ansor tetap kompak dan berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal jamaah,” katanya.

Menurut Lutfi, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini Ranting GP Ansor Ansor Kelurahan Ketapang ke depannya akan tetap eksis dan istiqomah menjalankan amaliyah-amaliyah NU.

Belajar Muhammadiyah

“Tentunya, semakin maju dengan program-program pemberdayaan pemuda. Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang menjadi penjaga keutuhan NKRI dan penjaga kebhinekaan dan GP Ansor menjadi penjaga Islam rahmatan lilalamin,” tegasnya.

Pembina Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang Masyhuri Nurzah mengatakan, keberadaan Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wadah bagi para pemuda, untuk memberikan penguatan paham-paham ke-NU-an bagi para pemuda dari pengaruh-pengaruh gerakan Islam radikal sehingga Ansor menjadi tameng penjaga NKRI dari rong-rongan gerakan Islam kiri.

“Mudah-mudahan GP Ansor menjadi wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan perekonomian melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang digagas dan didirikan oleh Ranting GP Ansor Kelurahan Ketapang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah

Sebanyak 36 area pohon seluas 36 lapangan sepak bola rusak setiap menitnya di seluruh hutan di dunia. Lalu apa yang harus dilakukan manusia terhadap pohon-pohon yang memberi udara untuk dihirup? Haruskah manusia diam pada deforestasi dan degradasi hutan yang menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara dan berkontribusi hingga 15 persen dari emisi gas rumah kaca global?

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah Oksigen, Perlawanan Gusdurian pada Perubahan Iklim

Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Riky Ryan Saputra selaku koordinator gerakan, di Blambangan Umpu, Ahad (26/6), menerangkan, "Sedekah Oksigen" merupakan gerakan menanam pohon 50 buah di setiap pesantren, targetnya 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

"Perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem. Contoh peristiwa cuaca ekstrem telah memakan ribuan nyawa, dari gelombang panas yang mematikan di India dan Pakistan hingga banjir parah di Malawi, Mozambik, dan Madagaskar. Melindungi hutan dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa," kata Riky.

Belajar Muhammadiyah

Ia melanjutkan, pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat.

"Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca," ujar dia lagi.

Belajar Muhammadiyah

Selain bertujuan untuk mendorong kemandirian pesantren, penanaman pohon melalui gerakan "Sedekah Oksigen" juga diperlukan. Manusia membutuhkan pohon untuk bernafas.

"Pohon juga merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75 persen air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses yang dikenal dengan evapotranspirasi," paparnya.

Dengan demikian, imbuhnya, manusia dan hewan memiliki ketergantungan pada hutan, pada pohon, kehidupan sehari-hari mahkluk hidup harus ditopang dengan keberadaan pohon.

"Untuk menyatakan perlawanan terhadap perubahan iklim, kita harus menjaga hutan, menjaga keberadaan pohon guna memastikan kemungkinan masa depan yang cerah, manusia dan seluruh organisasi harus bersama-sama mengambil tindakan melawan perubahan iklim," paparnya.

"Sedekah Oksigen" diinisiasi Gusdurian Lampung, didukung Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia Wilayah Lampung.

"Sedekah Oksigen" berupa satu pohon buah seperti alpukat mentega, mangga Thailand, nangka dak (persilangan nangka dan cempedak), dan kelengkeng aroma durian senilai Rp50 ribu. Diambil dari pembudidaya teruji di Pekalongan, Kota Metro. Bagi yang berminat "Sedekah Oksigen" bisa menghubungi nomor 081540890056, 085367282712, atau 082279005826. Sedekah bisa disalurkan ke rekening BRI: 035701112732504 a.n Disisi Saidi Fatah. (Anisa Yuliani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Habib, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Belajar Muhammadiyah

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Belajar Muhammadiyah

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Belajar Muhammadiyah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock