Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

Serang, Belajar Muhammadiyah. Warga NU Kota Serang dari turut memeriahkan pawai ta’aruf Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) keempat Kota Serang yang bertempat di Kecamatan Walantaka, Selasa (22/01) dimulai pukul 13.00 WIB.?

?

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

Menurut aktivis NU Kota Serang, Tubagus Qurtubi, warga NU yang mengikuti ta’aruf tersebut adalah ibu-ibu Muslimat, Ansor, dan, Banser.

?

“Di samping itu, turut pula lurah-lurah, anggota KUA, Kapolsek, murid-murid dari dari SD, SMP, SLTA, guru-guru dan masyarakat umum dari 6 kecatamatan,” ujarnya.

?

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Serang Dr. KH. Wawan Wahyudin, MTQ menjadi media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan Al-Quran.

?

Belajar Muhammadiyah

“Dalam pengertian, mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Quran,” ucapnya sebagaimana dikutip kabar-banten.com.

?

Lebih penting lagi, kata dia, MTQ bertujuan untuk memasyarakatkan Al-Quran. Pasalnya, dewasa ini hidup dan kehidupan umat Islam banyak yang menyimpang dari tuntunan Al-Quran.

?

MTQ tersebut akan berlangsung selama tiga hari dan diikuti peserta dari 6 kecamatan. Beragam cabang dan jenis perlombaan yang diperlombakan dalam MTQ, antara lain, qiraah Al-Quran, fahmil Quran, syarhil Quran, hifz Quran, dan khath Al-Quran.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Kiai Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Setelah beredar kabar yang simpang siur di media sosial, Almaghfurlah KH A Nafi’ Abdillah yang wafat di RSUD Bak?rköy ?stanbul akhirnya bisa dipulangkan. Rencana kepulangan dipastikan setelah melalui rapat internal keluarga dengan pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Ahad (19/2) waktu setempat.

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)
Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)

Wafat di Turki, Kiai Nafi’ Dimakamkan di Kajen

Melalui akun Facebook, Ka Bas, Rusdi J Abbas yang juga Wakil Rais Syuriah PCINU Turki mengabarkan kepastian pemulangan jenazah Kiai Nafi’ tersebut. Jenazah akan dipulangkan pada Selasa lusa (21/2) dini hari.

“Bismillahirrohmanirrohim, sudah ada keputusan dan Insya Allah tidak ada perubahan. Jenazah KH Ahmad Nafi Abdillah Kajen Pati akan dipulangkan dari ?stanbul jam 02.40 Selasa dini hari (21.02.2017) dan akan sampai di Jakarta Selasa sore jam 06.30. Mohon doanya. Terima kasih,” tulisnya.

Belajar Muhammadiyah

Sebelumnya, kabar tentang batalnya pemulangan kiai kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putri Kajen tersebut. Jenazah Kiai Nafi’ disebut akan dimakamkan di Turki. Pesan berantai tersebut sambung-menyambung melalui sejumlah grup WhatsApp.

Belajar Muhammadiyah

Senada dengan dia, Mujibur Rachman Ma’mun, keponakan almarhum telah memastikan bahwa Kiai Nafi’ akan dimakamkan di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Ia menyatakan Kiai Nafi’ mendapat “kapling” makam istimewa, yakni di dekat pusara sang ayah, Almaghfurlah KH Abdullah Salam.? ?

“Saat Pakde Nafi’ sedang sowan Abahnya, Mbah Dullah Salam. Insya Allah, jenazah beliau akan sampai di Kajen pada hari Selasa malam Rabu, jam 21.00 atau 22.00. Dan langsung dimakamkan di tempat beliau duduk ini, wonten ngandape Mbah Kakung,” tulis Gus Mujib sambil mengunggah foto Kiai Nafi’ di Facebook, Ahad (19/2) malam.

Sebelumnya, keponakan Kiai Nafi’ ini sempat mengunggah fotonya saat mendampingi kakak ibunya tersebut sembari menyatakan kegalauannya atas berpulangnya sang Pakde.

“Nderèkaken sugeng kondhur (selamat berpulang), Pak de.. Amal sholihmu sudah menanti & akan mengantarmu pada maqom mulia di sisi-Nya. Masalahe, sak niki kulo terus gondhelan sinten (masalahnya, sekarang saya terus pegangan siapa)?” tulis Gus Mujib sembari menambahkan emoticon sangat sedih.

Saat ditanya sejumlah hal terkait wafatnya Kiai Nafi’, putra almaghfurlah KH Ma’mun Muzayyin ini meminta Belajar Muhammadiyah menghubungi salah satu putra menantu Kiai Nafi’. “Maaf, njenengan kontak Mas Nadhif saja. Saya masih di jalan (menuju Kajen),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, PonPes, Kyai Belajar Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend mengagumi kerukunan umat beragama di Indonesia. Kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang ditemuinya, Dubes yang resmi bertugas sejak September 2015 bertanya apa resep sehingga Indonesia dinilai mampu menjaga kerukunan umat beragamanya.

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Uni Eropa Tanyakan Resep Kerukunan di Indonesia

“Apa resepnya Pak Menag?” tanya Dubes Vincent Guerend ketika menemui Menag di kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Kamis (14/04) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id. Ikut mendampingi Menag, Kabiro Hukum dan KLN A Gunaryo dan Kapus KUB Feri Meldi.

Atas pertanyaan disampaikan Dubes, Menag menjawab, dua hal dilakukan oleh Pemerintah.

“Pertama, melalui regulasi. Kedua, Pemerintah. Kami melakukan upaya-upaya preventif, bekerja sama dengan ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya yang berfaham moderat,” terang Menag.

Ketika ditanya tentang Islam, Menag menjawab bahwa Islam itu satu.

Belajar Muhammadiyah

“Islam itu ajaran yang satu. Tetapi, ketika nilai-nilai Islam yang satu tersebut diimplementasikan dalam situasi, kondisi dan waktu yang berbeda, nilai Islam yang satu tersebut menjadi beragam,” imbuh Menag sembari menerangkan meski sama-sama memuliakan perempuan, tetapi cara di Indonesia berbeda dengan Arab Saudi.

“Di Saudi, untuk memuliakan perempuan, bahkan perempuan dilarang mengemudikan mobil. Hal tersebut berbeda dengan di Indonesia. Untuk memuliakan perempuan, di sini, bahkan perempuan bisa menjadi hakim di pengadilan agama,” tutur Menag panjang lebar.

Menag juga menceritakan ciri khas Indonesia yang bukan negara berdasar atas agama, namun juga bukan sekular. Menag juga berharap, Indonesia dan UE bisa bekerja sama dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan lain sebagainya

Menag mengusulkan, agar UE memperhatikan rekruitmen para imam di masjid-masjid Eropa yang biasanya berasal dari Pakistan dan Turki untuk bisa memahami situasi dan kondisi di Eropa.

Belajar Muhammadiyah

Dikatakan Menag, meski Eropa mayoritas adalah negara sekuler, tetapi harus dipahami pula, bahwa paham keagamaan masyarakat berperan pula dalam hubungan sosial. Para Imam Masjid yang eksklusif ? tersebut didorong untuk bisa diajak dialog, meski ekslusivitas tersebut adalah sebuah keyakinan dan hak yang harus dipahami dan dihormati, namun (harus dipahami) kalau mereka (para Imam tersebut) tinggal di Eropa, bukan di negara asalnya.

“Karena jika para Imam masih memegang teguh adat daerah asal, dikhawatirkan sedikit banyak akan menimbulkan kesalahpahaman,” kata Menag.

Dalam kunjungannya tersebut, Dubes UE berharap ada kerja sama antara Indonesia dengan UE di bidang agama, khususnya agama Islam. Hal tersebut penting dilakukan agar masyarakat muslim di Eropa bisa berbaur dengan masyarakat Eropa lainnya dan tidak ekslusif.

Atas tawaran kerjasama UE tersebut, Menag menyambut baik tawaran tersebut.?

“Indonesia (Kemenag) siap bekerja sama dengan UE dalam mempersiapkan para Imam Masjid yang berfaham moderat, agar asumsi Masyarakat Eropa terhadap Islam tidak menimbulkan kesalahpahaman dan persepsi tidak baik terhadap Islam,” ucap Menag. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, PonPes Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jepara menggelar rapat koordinasi di ruang Mapolres Jepara, Jawa Tengah, Ahad (10/9) malam. Rapat membahas soal rumor yang beredar di media sosial terkait kasus pesantren di Karimunjawa, Jepara.

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Rapat koordinasi yang dihadiri sejumah tokoh dan jajaran kepolisian ini membantah berita terjadinya pengusiran santri di sebuah pesantren di sana. Keduanya mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Berikut bunyi surat klarifikasi secara lengkap yang ditandatangani Ketua Pimpnan Daerah Muhammadiyah (PDM) KH Sadali dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Ubaidillah Noor.

Menyikapi perkembangan pemberitaan (issue) di media sosial terkait dauroh tahfidh al-Qur’an di Dukuh Alang-alang RT 02 RW 04, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sehubungan dengan isu penolakan dan pengusiran santri Ittihadul Ma’had Muhammadiyah (ITMAM) yang hendak melakukan dauroh tahfidh al-Qur’an Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, maka dengan ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jepara menyatakan klarifikasi sebagai berikut:

1. Pemberitaan bahwa telah terjadi penolakan dan pengusiran santri adalah tidak benar.

Belajar Muhammadiyah

2. PCNU Jepara dan PDM Jepara sepakat menyikapi masalah tersebut dengan mengedepankan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, ukhuwwah basyariyah serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Menyekapakati agar gedung yang diwakafkan kepada PP Muhammadiyah tersebut dihentikan (dimauqufkan) penggunaannya untuk beberapa waktu sampai segala sesuatunya terpenuhi.

Belajar Muhammadiyah

4. Mengintensifkan komunikasi semua pihak dan mewaspadai paham radikalisme serta pihak lain yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.





Surat klarifikasi tersebut ditandatangani pula oleh sejumlah saksi, antara lain AKBP Yudianto Adhi Nugroho (Kapolres Jepara), H Mashudi (Ketua MUI Kabupaten Jepara), Rustamaji (atas nama Kepala Bakesbangpol), H Badrudin (PKUB Jateng untuk Jepara), Arif Darmawan (atan nama Kepala Dinas Kominfo). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Warta, PonPes Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Qulhu Ae, Lek

KH Anwar Zahid dalam satu ceramahnya bercerita, dirinya pada suatu saat mengisi pengajian di suatu kampung dan diminta untuk menjadi imam shalat Tarawih. 

Karena masih ada sosok kiai sepuh ia pun menghormati beliau untuk mengimami. Shalat sunnah dimulai. 

Qulhu Ae, Lek (Sumber Gambar : Nu Online)
Qulhu Ae, Lek (Sumber Gambar : Nu Online)

Qulhu Ae, Lek

Saat membaca surat al-Fatihah dengan fasih dan lancar. Bakda Fatihah imam melafalkan, “wama….” Kiai asal Bojonegoro ini hendak membantu terusan lafal dari imam tetapi ia bingung lanjutan "wama" yang kiai sepuh itu maksud. 

Imam pun mengulang kata "wama" berkali-kali, tapi juga tidak ada lanjutan-lanjutannya. Saking kesalnya makmum dari kalangan anak-anak dari shaf paling belakang bersoloroh,”Qulhu ae Lek!”. Maksudany, Qulhu saja,Pak. (Syaiful Mustaqim)   

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, PonPes Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang istemewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan mulai melakukan pendataan anggota NU di negara tersebut. Bagi setiap warga yang mendaftar, PCINU Korsel akan mengeluarkan kartu tanda anggota NU (Kartanu).

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Sekretaris Jendral PCINU Korsel Ali Fahmi mengatakan, program pendataan ini bertujuan untuk mengenali serta mengetahui potensi selain problematika keberadaan anggota yang mencintai NU baik amaliah maupun perjuangannya.?

“Kami juga berencana menyentuh, bersilaturahmi kepada semua warga NU Korsel yang kemudian kita keluarkan Kartanu untuk mereka,” katanya melalui rilis di akun facebook Grup Aswaja NU Korea, Ahad (9/2).

Belajar Muhammadiyah

Program pendataan anggota NU ini ditargetkan mencapai 500 orang. Bila mencapai target, PCINU akan menggandeng partner yang besar untuk pendanaan dawah serta pemberian kemudahan jemaah.

Belajar Muhammadiyah

“Ke depan, kami merencanakan meluncurkan Kartanu yg terintegrasi dengan T-Money atau Debit Card suatu Bank,” terang Ali Fahmi.

Program kartanu sudah diluncurkan PCINU Korsel dalam Silaturahmi Akbar 2014 di Anseong yang menghadirkan KH ? Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Emha Ainun Najib di Milad Al-Hidayah, Gimhae.

Bagi yang ingin mendaftar bisa mengisi formulir melalui google Docs bisa dikirim ke email ali fahmi@gmail.com atau fanpage facebook PCINU Korea selatan, terang Ali Fahmi.

Dalam rilis itu, PCINU Korsel mengajak warga muslim bersama-sama mendukung dakwah Islam dengan menjaga toleransi, kejujuran, dan bersahabat. Prinsip dakwah Islam untuk semua golongan maupun individu sebagai rahmatan lil alamin.

“Dawah ala kita Islam-nya Indonesia dari NU yang mewarisi warisan dawah ulama-ulama arif bijaksana salafus shalih,”pungkasnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Pendidikan, PonPes Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat

Medan, Belajar Muhammadiyah



Konferensi Wilayah (Konferwil) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Povinsi Sumatera Utara (Sumut) akan dipercepat. Seyogyanya, PW GP Ansor Sumut di bawah kepemimpinan Mulia Banurea MSi baru akan berakhir 2018, namun dalam rangka merespon tumbuh suburnya kaderisasi, Konferwil akan digelar setahun lebih cepat, yakni Oktober 2017.

Hal itu diungkapkan Ketua PW GP Ansor Sumut Mulia Banurea saat menyampaikan sambutan pada Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama pengurus PW GP Ansor Sumut, di Hotel Madani Medan, Sabtu (17/6). Buka puasa bersama dirangkai dengan penyantunan puluhan anak yatim.

Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat

Hadir dalam acara itu, Sekretaris PW GP Ansor Sumut Parulian Siregar MA, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumut Adrian Harahap yang juga kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sumut, Penasihat GP Ansor Sumut Maraimbang Daulay MA, Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Satkorwil Banser) Sumut Yosrizal Saragih MSi, unsur pengurus harian PW GP Ansor Sumut di antaranya Tamrin Harahap, Ibnu Hajar, Edy Harahap, Ridwan Asnawi, Syafrizal El-Batubara, Arif Hasibuan, Uli P Nasution, dan puluhan anggota Banser. ?

Mulia mengatakan, pengurus PW GP Ansor Sumut periode 2014-2018 sudah melaksanakan sebagian besar program organisasi. Dalam tiga tahun kepemimpinannya, setiap minggu dilaksanakan kaderisasi.

Sesuai dengan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) GP Ansor, kata Mulia, setiap Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor yang sudah menyelenggarakan kaderisasi seperti Pelatihan Kader Dasar (PKD) punya suara dalam Konferwil.

Belajar Muhammadiyah

"Setelah ditabulasi, sekarang ada 60 PAC yang sudah berhak menjadi peserta penuh pada Konferwil. PAC yang sudah melaksanakan PKD akan memiliki hak yang sama dengan ketua Pimpinan Cabang (PC) di Konferwil Ansor," tegas Mulia.

Namun, katanya, masih ada tugas PW GP Ansor yang belum terlaksana, yakni menggelar Kursus Banser Lanjutan (Susbalan). Namun kepanitiaan Susbalan sudah dibentuk, dan akan digelar sebelum Oktober atau sebelum Konferwil.

Alasan mempercepat Konferwil, menurut Mulia Banure, mengingat makin banyaknya kader-kader Ansor yang siap memimpin organisasi yang merupakan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) ini. Di sisi lain, sebagai Ketua KPU Sumut, Mulia menyatakan akan berkonsentrasi untuk menyukseskan penyelenggaraan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018.

Belajar Muhammadiyah

"Silakan semua kader Ansor untuk maju menjadi calon ketua pada Konferwil Ansor Oktober mendatang. Saya akan netral, dan akan mejaga jarak yang sama dengan seluruh calon ketua yang maju. Namun syarat menjadi calon ketua PW GP Ansor harus lulus Pelatihan Kepemimpin Nasional (PKN)," tandas Mulia.

Terkait dengan buka bersama, menurut Mulia bertujuan melaksanakan perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW yakni menjalin silaturahmi antara penasehat, pengurus harian, biro dan lembaga yang ada di PW GP Ansor Sumut.

"Selama ini pengurus jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Jadi pada buka bersama ini jadi momentum silaturahmi untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Kalau silaturahmi sudah meningkat, maka hubungan pengurus akan makin akrab. Dan kalau sudah akrab, kita bisa meningkatkan sinergitas, menyatukan barisan untuk melaksanakan visi misi GP Ansor," tutur alumni IAIN Sumut dan Universitas Negeri Medan (Unimed) ini.

Sementara itu, Panesihat PW GP Ansor Sumut Maraimbang Daulay berharap, Mulia Banurea dan jajaran pengurus lainnya segera merampungkan program-program kerja yang masih terbengkalai seperti Susbalan.?

"Dengan merampungkan seluruh program kerja, maka ? keberadaan PW GP Ansor Sumut bisa menyamai pengurus Ansor di Pulau Jawa," kata Maraimbang. (Hamdani Nasution/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Nasional, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat pada 8-10 Oktober bukan merupakan muktamar tandingan, karena tidak membicarakan figur, melainkan justru memberi masukan materi kepada forum muktamar.

"Itu bukan muktamar tandingan, tapi membicarakan NU ke depan untuk direkomendasikan kepada muktamar, kami tidak akan bicara figur, meski ada beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir," kata anggota OC Mubes Warga NU Abdul Quddus Salam di Surabaya.

Di sela-sela persiapan keberangkatannya ke Cirebon bersama satu bus rombongan asal Jatim, ia menjelaskan beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir antara lain Gus Dur dan KH Ilyas Ruchiyat (mustasyar), Masdar F Masudi (Katib Syuriah PBNU), dan Masykur Maskub (Lakpesdam).

"KH Sahal Mahfudh (Rois Aam Syuriah PBNU) dan Gus Mus (Syuriah PBNU) sudah menyatakan tidak hadir, tapi KH Muhaiminan Gunardo, Mbah Liem, KH Yahya Masduqi (tuan rumah), dan beberapa kyai kultural siap hadir, sedangkan KH Abdullah Abbas (Buntet) dan KH Abdullah Faqih (Langitan) masih dikonfirmasi," katanya.

Menurut dia, 500-1.000 peserta Mubes dari Jatim, Jateng, Jabar, DKI Jakarta, Banten, Bali, Lampung, DIY Yogakarta, Sulsel, Sumut, Jambi, Maluku, dan Aceh itu meliputi kiai kultural, kiai muda, kaum muda NU (KMNU), petani, nelayan, kaum miskin kota, dan buruh migran.

"Dari situ sudah jelas bahwa kami akan memperbincangkan persoalan warga NU yang selama ini kurang terperhatikan dan memperteguh posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang mengurus pendidikan, keagamaan, sosial, sektor informal, HAM, dan budaya, bukan politik," katanya.

Hasilnya, katanya, akan disumbangkan kepada Muktamar ke-31 NU di Solo pada 28 Nopember-2 Desember mendatang dalam bentuk buku untuk muktamirin, rekomendasi kepada panitia materi Muktamar ke-31, dan beberapa paper usulan untuk pilot project formasi gerakan NU ke depan.

"Karena itu, format kegiatan Mubes Warga NU itu akan dikemas dalam bentuk semaan Al-Quran, pengajian, bahtsul masail, pentas seni budaya, bazar dan pameran produksi warga NU. Untuk dana pun, kami kumpulkan secara swadaya," katanya.

Bahkan, katanya, kegiatan yang diperkirakan menelan dana Rp205,2 juta itu akan dibiayai dengan iuran dari beberapa peserta, iuran dari panitia lokal di Pesantren Babakan, dan partisipasi warga NU Cirebon dalam bentuk uang, beras, dan logistik lainnya.

Tentang kegiatan pokok, ia mengatakan bahtsul masail dan bedah buku akan menjadi acara pokok dengan materi ke-NU-an, Gerakan Sosial Warga NU, Pesantren dan Pendidikan, Capital Resources NU, Seni dan Budaya Pesantren, Demoralisasi, Khittah NU, dan Pembaruan.

"Semuanya akan dibahas sejumlah pembicara, diantaranya KH Tholhah Hasan, DR Mahasin, Agus Sunyoto, MM Billah, DR M Ali Haidar, Gus Dur, Ahmad Tohari, DR Mochtar Masud, KH Malik Madani, DR Thoha Hamim, A Gaffar Rahman, D Zazawi Imron, dan sebagainya," katanya.

Mengenai kesiapan Jatim sendiri, ia menambahkan peserta dari Jatim akan berangkat dengan bus (satu bus), mobil (puluhan), dan kereta api (perorangan). "Ada yang sudah berangkat, tapi paling akhir akan berangkat sore ini," katanya. (Mi/Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Selasa, 19 Desember 2017

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (14/10) siang, menggelar kuliah tamu dengan tema “Perguruan Tinggi Membangun Desa, Mewujudkan Pengelolaan Dana Desa Yang Transparan dan Akuntabel”.

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen dari tiga perguruan tinggi Pondok Pesantren Nurul Jadid (IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid) Paiton ini juga dihadiri oleh Ketua Satuan Petugas (Satgas) Dana Desa (DD) yang juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto.

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid yang juga Ketua Biro Dikti Pesantren Nurul Jadid KH Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tujuan dibentuknya Satgas Dana Desa. Yaitu bukan untuk menangkap kepala desa akan tetapi membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan Dana Desa.

“Memberikan wawasan kepada mahasiswa dan civitas pesantren tentang peran Satgas Dana Desa dalam membantu mengevaluasi regulasi terkait Dana Desa, sosialisasi dan advokasi, monitoring dan evaluasi, harmonisasi hubungan antar lembaga serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya penyimpangan penggunaan Dana Desa,” katanya.

Menurut Kiai Hamid, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan ruang kepada mahasiswa dan civitas pesantren untuk memberikan dukungan kepada Satgas Dana Desa dalam mengawal pengelolaan  dan penggunaan Dana Desa. Sebagai bentuk pelibatan perguruan tinggi berbasis pesantren dalam membantu Satgas Dana Desa pada pengelolaan dan penggunaan Dana Desa yang transparan dan akuntabel.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui kuliah tami ini diharapkan menggugah kesadaran mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan yang transparan dan akuntabel tanpa korupsi. Sekaligus mensinergikan antara peran perguruan tinggi berbasis pesantren dengan Satgas Dana Desa dalam mencegah tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” tegasnya.

Sementara Ketua Satgas Dana Desa Bibit Samad Rianto meminta para mahasiswa untuk mengawasi pemanfaatan DD yang rawan menjadi lumbung para koruptor. “Kegiatan ini bertujuan sebagai edukasi bagi mahasiswa untuk memerangi penyalahgunaan DD sejak dini,” katanya.

Menurut Bibit, dari penelusuran Satgas DD selama 6 bulan terakhir, penyalahgunaan DD cenderung semakin meningkat. “Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus operasi tangkap tangan yang dilakukan satgas maupun KPK,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Bibit mengharapkan agar para mahasiswa dan civitas akademika turut mengawasi penggunaan DD. Pasalnya, peranan dunia pendidikan sangat penting dalam mencegah korupsi DD. “Mahasiswa dan masyarakat segera melapor ke satgas jika menemukan penyalah gunaan DD. Hanya saja, laporan ini harus disertai bukti valid, bukan sekadar surat kaleng,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, PonPes, Ulama Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal

Pandeglang,Belajar Muhammadiyah. Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Juri Ardiantoro menegaskan, sebagai wujud peran NU kepada keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, NU akan melakukan pengawalan terhadap pelaporan situs-situs radikal kepada pemerintah.

“Untuk mengawal pelaporan tersebut, LTN PBNU telah membuka email khusus situs.radikal@nu.or.id dan situs-radikal@nu.or.id untuk menerima laporan dari masyarakat yang selama ini merasa resah dengan keberadaan situs-situs tersebut,” katanya pada pembukaan pelatihan jurnalistik dan media sosial di Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Linahdlatil Ulama, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu sore (23/1).

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU Kawal Aduan Masyarakat Terkait Situs Radikal

Hingga sore ini, kata Juri, sudah 35 url situs radikal yang masuk dalam pantauan NU. Ia memperkirakan, jumlahnya akan terus bertambah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Juri, aduan-aduan dari warga tersebut, dalam jangka waktu tertentu, akan direkap. Kemudian akan diserahkan kepada pemerintah, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Kominfo).

“Kemudian eksekusinya diserahkan kepada pemerintah karena itu wewenang mereka,” lanjut doktor bidang sosiologi ini.

Belajar Muhammadiyah

Langkah LTN PBNU tersebut, tambahnya, sejalan dengan sikap pemerintah. Presiden Joko Widodo dalamm rapat terbatas di istana negara pada 21 Januari 2016 lalu memerintahkan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara untuk menutup situs-situs radikal.

Pelatihan jurnalistik dan penggunaan media sosial dilaksanakan dua hari. Kegiatan tersebut diikuti remaja santri dari tiga kabuppaten yaitu Pandeglang, Serang, dan Lebak. Sebelumnya LTN juga mengadakan dua kali pelatihan internal lembaga dan banom NU.

Pelatihan tersebut merupakan rangkaian dari program roadshow pelatihan jurnalistik dan sosmed LTN PBNU ke pesantren-pesantren NU. Instruktur kegiatan tersebut adalah Ayi Fahmi, Hari Usmayadi, Malik Mughni, Abdullah Alawi. (Agus Susanto/AA)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Pemurnian Aqidah, PonPes Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Buka LSN Jatim 1, Menpora: Jebolah Gawang Lawan Sambil Shalawat

Trenggalek, Belajar Muhammadiyah - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) H Imam Nahrowi membuka Kick Off Liga Santri Nusantara (LSN) region Jawa Timur 1 dan Piala Bupati Trenggalek di Stadion Menak Sopal, Trenggalek, Ahad (17/9) sore.

Didampingi Ketua PP RMI KH Abdul Ghaffar Rozin, Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok KH Luqman Harits, Ketua PCNU KH Fatchullah, dan Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak, Menpora melakukan tendangan pertama dari tengah lapangan.

Buka LSN Jatim 1, Menpora: Jebolah Gawang Lawan Sambil Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka LSN Jatim 1, Menpora: Jebolah Gawang Lawan Sambil Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka LSN Jatim 1, Menpora: Jebolah Gawang Lawan Sambil Shalawat

Menpora mengatakan, pesantren di Indonesia bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi pesantren juga tempat melatih potensi diri dalam bidang olahraga. Di pesantren, para santri tidak hanya dididik dan diajari untuk menghafal Al-Quran, menghafal nadzam- nadzam, mengamalkan wirid dan hizib tapi juga didorong untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

"Oleh karenanya kami dorong melalui Liga Santri. Para santri, nanti ke depan kalian harus menjaga penghafal Al-Quran yang bisa menendang dan menjebol gawangnya Malaysia, menjebol gawang Thailand, menjebol gawangnya Brazil, Spanyol, Argentina. Itulah santri. Sambil giring bola, hati dan lisanya sambil baca shalawat. Itulah hebatnya santri," kata Menpora.

Belajar Muhammadiyah

Ia merasa bangga, walaupun baru tiga tahun digelar. Liga santri mampu mencetak bibit-bibit pesepakbola profesional. Ini dibuktikan dengan tampilnya salah satu jebolan liga santri Muhammad Rafli Nursalim yang ikut memperkuat Timnas U-18 pada laga AFF Indonesia melawan Filipina.

Sementara itu, Direktur LSN KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, dalam laporannya bahwa Liga Santri Nusantara tahun ini diikuti 34 Region se-Indonesia dengan jumlah 1.024 Pondok Pesantren dari seluruh Nusantara.

Belajar Muhammadiyah

"Ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2016. Ada penambahan 830 pesantren. Pelaksanaan LSN tahun ketiga ini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat, mendapat tempat hati para santri dan masing-masing kepala daerah," kata Ketua PP RMI itu.

Gus Rozin menilai, pembukaan LSN Region Jawa Timur 1 yang tahun ini digelar di Trenggalek diakuinya lebih meriah dari pembukaan di tingkat nasional. "Alhamdulillah ini sangat meriah. Ini adalah modal semangat. Persepakbolaan nasional benar-benar menunggu hasil dari liga santri Nusantara ini," ucap Gus Rozin.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 dilaksanakan di Trenggalek dari tanggal 17-22 September 2017 diikuti 32 klub pesantren dari dua Karesidenan, Kediri dan Madiun. Kompetisi ini menggunakan sistem pertandingan setengah kompetisi di mana 32 tim dibagi ke dalam delapan grup. Satu grup berisi empat tim, dan tiap tim akan bertanding tiga kali.

Pertandingan perdana mempertemukan tim tuan rumah dari Pesantren Bumi Hidayah At-Taqwa melawan Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo, yang merupakan juara bertahan Liga Santri 2016 lalu. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, PonPes Belajar Muhammadiyah

Bonus Demografi Kaum Santri

Oleh A Khoirul Anam





Kaum santri berpusat pada pesantren dan secara kultural dipimpin dan patuh kepada kiai, meskipun tidak semua pernah mondok atau menetap dan belajar di pesantren. Mereka sudah terbiasa menjalani kesalehan agama Islam semenjak masih kecil. Mereka tidak mesti berdagang, bahkan sebagian besar adalah keluarga petani. (Trikotomi Clifford Geertz 1951-1952 tentang santri-abangan-priyayi seringkali mengganggu pemahaman kita mengenai perkembangan kaum santri ini. Meskipun setelah peristiwa G30SPKI 1965 Geertz datang lagi ke Indonesia dan mengubah tesisnya, kesimpulannya itu sudah terlanjur terbit menjadi buku dan dikutip sana-sini.) Tegasnya, kaum santri berafiliasi dengan organisasi NU.

Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bonus Demografi Kaum Santri

Pada mulanya kaum santri ini berada di desa-desa yang lekat dengan tradisi keagamaan seperti ritual kelahiran dan kematian (Geertz sebaliknya menyebut tradisi ini sebagai abangan). Berikutnya, sebagian dari kaum santri bermigrasi dan menetap di kota-kota, menjadi orang kota dan beranak-pinak. Kira-kira mereka yang bermigrasi sejak tahun 1960-1970an, saat ini sudah mempunyai cucu. Proses migrasi terus berlanjut. Migrasi yang terjadi pada kurun 1990an dan 2000an lebih banyak lagi, silakan diamati setiap musim mudik lebaran.

Orang-orang di luar sana sedang membicarakan soal bonus demografi. Jumlah penduduk produktif Indonesia besar sekali. Sementara sukses dakwah Islam telah berhasil menjadikan Indonesia mayoritas Muslim, sehingga bonus demografi yang dimaksud di atas pasti berkaitan dengan besarnya generasi muda Muslim di Indonesia. Catatan berikut fokus pada bonus demografi kaum santri.

Pada 2015 lalu sebuah media massa nasional yang aktif melakukan survei, merilis berita yang membuat saya tersenyum. Hasil survei menunjukkan ternyata, 70 persen wartawan berbagai media nasional di Jakarta mengaku sebagai warga NU, atau Nahdliyin. Ini hanya satu bidang profesi, sekedar menunjukkan betapa percaya dirinya kaum santri yang hidup di kota. Pada satu sisi, kemandirian yang diajarkan secara praktis di pesantren menjadi bekal yang luar biasa untuk bersaing hidup di kota. (Dalam catatan ini saya perlu menyampaikan kekaguman kepada sosok Savic Ali, alumni pesantren yang hijrah ke kota dan kuliah di jurusan filsafat, kemudian menjadi aktifis dan sekarang menjadi pebisnis sukses di bidang teknologi-komunikasi.)

Belajar Muhammadiyah

Sesuatu yang menarik dalam bonus demografi sebenarnya bukan migrasi, tapi mobilitas sosial yang sudah terjadi pada kaum santri selama bertahun-tahun melalui beberapa bidang dan peran. Di bidang politik, kaum sarungan mulai meroket ke kancah nasional melalui Partai NU pada tahun 1955, dan berikutnya kiprah politik ini terus bertahan meskipun mengalami pasang-surut. Posisi kaum santri sangat kuat karena dalam sistem demokrasi yang selalu mengandalkan jumlah massa; sesuatu yang menjadi keunggulan kaum santri.

Belajar Muhammadiyah

Berikutnya, kisaran akhir 1970an dan 1980an, sebagian kaum sarungan menjajaki dunia baru sebagai aktivis LSM, gerakan advokasi yang didahului dengan berbagai kajian kritis terhadap berbagai teks pesantren dan adaptasi berbagai kajian filsafat dan teori sosial dari Barat. Gus Dur menjadi satu ikon penting dalam hal ini. Kemudian tibalah era reformasi yang ditunggu-tunggu dan generasi ini sudah siap "merebut" jabatan strategis di lembaga-lembaga negara yang baru dibentuk, serta tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang.

Sarana mobilitas sosial yang paling penting bagi kaum santri adalah pendidikan. Negara Indonesia ini harus berterimakasih kepada pesantren yang menyelamatkan pendidikan warga negara terutama di basis pedesaan dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada awal masa kemerdekaan, pesantren yang sejak awal memilih jalur politik non-kooperatif terhadap sistem kolonial, memilih tetap menjadi institusi pendidikan tersendiri yang secara nomenklatur berada di bawah naungan Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan. Berikutnya, sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi madrasah atau sekolah formal yang diakui oleh pemerintah dan menyeleggarakan juga pendidikan tinggi dengan berbagai bidang keahlian yang hampir sama dengan yang dikembangan di lembaga pendidikan tinggi umum. Kementerian Agama juga sangat aktif melakukan proyek “integrasi” ilmu agama-umum dan memfasilitasi kaum santri untuk mendalami bidang sains dan humaniora.

Hasilnya, banyak sekali kaum santri yang mempunyai keahlian selain bidang agama-normatif. Bahkan, bukan rahasia lagi sejak dahulu putra-putri para tokoh NU disekolahkan di lembaga pendidikan umum, bukan di pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Dan pada saat Indonesia mengalami bonus demografi, sudah banyak kaum santri yang menjadi ahli matematika dan statistik,ahli biologi dan kimia, ahli teknologi, ahli astronomi, bahkan ahli di bidang nuklir: Bidang-bidang keahlian ini mungkin tidak terpikirkan pada 31 Januari 1926.

Organisasi NU sebagai rumah besar kaum santri memang terlalu “tua” untuk merespon bonus demografi kaum santri ini, namun intsitusi yang dipimpin para kiai pesantren ini menjadi sarana “kopi darat” generasi santri yang sudah beredar kemana-mana. (Di Jakarta misalnya halaqah-halaqah, istighotsah atau kegiatan apapun menjadi saranan berkumpul kaum santri, sekedar ngobrol-ngobrol, bercanda dan membahas hal-hal yang tidak penting (tidak berkaitan dengan bidang profesi mereka).

Sebagian orang luar masih menganggap kaum santri hanya sebagai komunitas massa Islam yang berkecimpung di bidang agama. Misalnya, para wartawan yang diturukan untuk meliput berbagai kegiatan NU atau datang menemui kiai di pesantren hampir selalu wartawan desk-politik. Singkatnya, NU dan pesantren di kancah nasional hampir selalu identik dengan manuver politik dan fatwa keagamaan.

Namun siapapun tidak bisa membendung arus pergerakan generasi kaum santri di berbagai bidang dan pos-pos penting. Di bidang politik, beberapa santri duduk sebagai pimpinan berbagai partai politik. Di birokrasi, kaum santri juga tidak hanya masuk melalui jalur Kementeria Agama. Di bidang keahlian lain pergerakan kaum santri di era bonus demografi ini juga tidak bisa dibendung dan dihalangi oleh siapapun atau apapun. Semua berlangsung secara alamiah dan bebas dari pengaruh “konspirasi wahyudi” sekalipun.?

Penulis adalah Redaktur Belajar Muhammadiyah. Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, PonPes Belajar Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah - Sebagai upaya lebih memantapkan organisasi, alumni Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo periode 2011 hingga 2015 rutin menjalin komunikasi. Mereka mengadakan pertemuan rutin setiap bulan di kediaman masing-masing alumni.

Pertemuan rutinan alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo ini dilaksanakan di kediaman rekan Syifak Kecamatan Tongas, Ahad (8/1). Pertemuan rutin sendiri digagas oleh alumni Wakil Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Muhammad Qosim. “Awalnya, cuma lewat grup WhatsApp (WA) Oreng Konah, akhirnya bisa bertemu lewat darat,” ujar Indra Subiantoro, salah satu alumni IPNU Kabupaten Probolinggo.

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Gerakan Organisasi, Alumni IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pertemuan Rutin

Menurut Indra, pertemuan rutin tiap bulan ini dimulai Oktober 2016 lalu. Bahkan tiga nakhoda IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo demisioner juga hadir seperti Rudi Nabillah, Eko Cahyono dan Lika Kurniawati.

“Pertemuan ini dimaksudkan untuk menjalin silaturahim dari masing-masing alumni karena ingin melepas kangen. Sebab mereka sibuk di masing-masing profesi yang dijalankan. Ada yang berwirausaha, guru dan lain sebagainya. Pertemuan ini walaupun sederhana tapi maknanya luar biasa,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Indra menegaskan, kegiatan ini bertujuan menyambung silahturahmi sesama alumni supaya tidak putus. Biasanya setiap pertemuan sebelum dimulai diawali tahlil yang dipimpin oleh Muhammad Qosim dilanjutkan rapat membahas perkembangan IPNU-IPPNU berikutnya setelah tidak menjadi pengurus serta membahas materi-materi keislaman.

Belajar Muhammadiyah

“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan silaturahim sesama pengurus yang dulu berjuang di IPNU-IPPNU. Tentunya supaya rasa persaudaraan tidak putus walaupun sudah tidak menjadi pengurus lagi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, PonPes, Nasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial

Oleh Misbahul Munir



Banyak pembahasan mengenai puasa. Mulai dari hal yang diwajibkan dalam berpuasa, hal yang disunahkan dalam berpuasa, hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam berpuasa. Bila bicara mengenai puasa, seolah tidak akan ada habisnya materi yang hendak kita diskusikan. Telah banyak para ustadz-ustadz yang membahas mengenai puasa. Seperti pada acara rutinan saat Ramadhan di beberapa televisi swasta, acara pengajian di masjid-masjid umum, serta banyak tulisan di media yang menyediakan halaman secara khusus yang membahas mengenai puasa.

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial

Memang ada banyak hal yang bisa kita bicarakan ihwal puasa. Salah satunya adalah mengenai tujuan dari puasa. Sebagaimana yang telah tercantum dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183, bahwa salah satu tujuan dari adanya ibadah puasa adalah agar bertambahnya ketaqwaan umat Islam kepada Allah SWT. Umat Islam diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Bertambah dalam hal keyakinannya, yang kaitannya dengan keimanan kepada Allah, bertambah teguh dan mantap eksistensi imannya umat Islam sebagai mahluk yang menghambakan diri kepada Tuhannya.

Belajar Muhammadiyah

Allah juga menempatkan posisi hamba yang berpuasa di tempat yang sangat istimewa. Bahkan kaitannya dengan pahala berhubungan langsung dengan Allah tanpa adanya perantara. “puasa itu untuk-Ku. Tidak ada yang tahu. Dan aku sendiri yang akan memberikan pahala dengan kehendak-Ku”. Begitulah betapa amalan ibadah puasa ini dijalankan berhubungan langsung kepada Allah tanpa ada mediasi yang menjadi lantarannya. Puasa urusannya langsung kepada Allah. Berbeda dengan amalan ibadah yang lain seperti sholat, zakat, sedekah, haji dan lain sebagainya yang masih menggunakan perantara dalam proses pengamalannya, baik perantara melalui sesama manusia maupun perantara melalui malaikat.

Selain tujuan dalam hal agar bertambahnya ketaqwaan seorang hamba, puasa juga mempunyai manfaat terhadap diri pribadi seorang hamba yang melakukannya. Puasa mempunyai keutamaan secara lahiriah maupun bahtiniah. Secara lahirian, sabda Rasulullah “Shûmû tashihhû (Berpuasalah kalian! Niscaya kalian akan sehat)”. Sudah jelaslah bahwa seorang yang berpuasa itu akan mendapatkan kesehatan. Baik kesehatan jasmani maupun rohani. Secara gamblang Rasul menegaskan hal tersebut. Tidak sedikit terdapat cerita bahwa ada seseorang yang sebelumnya mempunyai penyakit tertentu, ketika puasa selama bulan Ramadhan, maka sembuhlah penyakit tersebut. Ini merupakan salah satu bukti konkrit bahwa berpuasa itu menyehatkan secara jasmani.

Lalu jika kita membahas mengenai puasa dari sisi rohani (ruhiah), jelaslah sebenarnya katika berpuasa, umat Islam sedang ditempa, digembleng, digojlok oleh kawah candra dimuka pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Yang tadinya mempunyai sifat tidak sabar, maka puasa melatih agar dapat bersabar. Jika sebelumnya tidak bisa menahan amarah, maka puasa melatih dapat memanajemen amarah. Jika sebelumnya belum bisa menahan nafsu, maka puasa melatih agar dapat menahan hawa nafsu. Pendek kata, secara rohani puasa dapat mensehatkan kita dalam segi kejiwaan.

Belajar Muhammadiyah

Ada salah satu riwayat hadis yang menjelaskan bahwa setan menggoda manusia melalui aliran darah. Sepanjang darah manusia masih mengalir, maka sepanjang itu pula setan masih menggoda. Maka ketika umat Islam berpuasa, aliran darah yang disalurkan melalui makanan tidak berjalan lancar seperti biasanya yang ketika tidak berpuasa, nadi yang dilalui darah menjadi lebih mengecil, dan disitulah jalan setan menggoda bisa diperkecil. Dari situ dapat disimpulkan bahwa dengan berpuasa, maka kita dapat terjaga dari godaan setan. Walau kadang dalam kenyataannya ketika orang berpuasa masih ada saja yang berbuat dosa, namun setidaknya dengan puasa ini umat Islam dapat lebih manjaga diri dari godaan tersebut.

Lalu bagaimanakah jika kita bahas puasa ini melalui aspek sosial. Jika kita sudah mengetahui secara jelas, bahwa puasa bertujuan untuk menambah ketaqwaan umat Islam, memberikan kesehatan secara jasmani dan rohani kepada umat Islam, menjauhkan dari godaan setan. Adakah kautamaan puasaini dalam aspek sosial? Maka, sesungguhnya puasa juga mempunyai nilai-nilai sosial. Puasa tidak hanya membahas urusan seorang hamba dengan tuhannya (hablum minallah), tetapi puasa juga membahas urusan hamba dengan hamba (hablum minannas) atau aspek sosial sesama manusia.

Aspek Sosial



Ternyata titik fokus eksistensi puasa bukanlah pada menambah ketaqwaan saja. Bukan hanya kaitannnya antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga terdapat kaitan antara sesama hamba. Banyak perihal puasa yang kaitannya antara sesama hamba, antara lain dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, rasa seperjuangan, rasa seimanan sekeyakianan, rasa persaudaraan, rasa lebih memiliki teman ketika sama-sama berpuasa dan juga dapat menebarkan kasih sayang terhadap sesama Muslim yang sedang melakukan ibadah puasa.

Ketika umat Islam berpuasa, di mana sedang berjuang bertahan melawan rasa lapar yang melilit perut, haus yang mencekik tenggorokan, di situ membuat tersadar dan ikut merasakan bagaimana rasanya ketika menjadi seorang yang dalam keadaan kekurangan. Ikut merasakan penderitaan saudara sesama Muslim yang memang dalam kesehariannya selalu lapar dan haus karena memang memiliki kondisi ekonominya serba kekurangan.

Jika umat Islam dapat merasakan kesusahan yang dirasakan oleh saudaranya yang dalam kekurangan, maka di situ akan tergugahlah jiwa sosial seorang Muslim. Setelah mengetahui bagaimana rasanya hidup dalam rasa lapar dan kekurangan karena tempaan puasa, diharapkan akan tumbuh kesadaran dan pada akhirnya mau saling membantu dan mengulurkan tangan pada saudara yang kekurangan. Dengan demikian, salah satu hikmah dari puasanya ini adalah tergugahnya jiwa sosial pada diri umat Islam.

Walhasil, pada momentum bulan yang penuh rahmah ini, marilah kita tingkatkan rasa solidaritas dan kepekaan sosial sekaligus toleransi kita terhadap sesama.Puasa dapat menjadi mediasi bagi kita untuk memperoleh pendidikan kepekaan sosial. Harapannya, setelah melewati puasa Ramadhan ini, tergugahlah jiwa sosial umat Islam yang kemudian menjadikan terciptanya suatu tatanan masyarakat Muslim yang sejahtera, saling mengasihi dan menyayangi. Semoga!



Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Tegalsari Sleman; mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan


Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, PonPes Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Rais Syuriah PBNU KH Subkhan Makmun mengajak santri dan warga Brebes untuk melaksanakan shalat istisqo, memohon pertolongan Allah SWT agar segera menurunkan hujan.  Shalat akan digelar pada Senin, 26 November 2015 mendatang di Lapak Bawang Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, mulai pukul 08.00 WIB.

Kiai Subkhan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi menyampaikan hal ini usai rapat persiapan di ruang Rapat Sekda Brebes, Selasa (20/10).

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Dianjurkan Puasa Tiga Hari Jelang Shalat Istisqo

Kang Kaji, demikian sapaan akrabnya, mengaku telah mengerahkan santrinya juga mengajak ormas Islam, instansi pemerintah maupun swasta, lembaga pendidikan, pengurus masjid, majelis taklim, organsasi kepemudaan, tokoh masyarakat, mubaligh, mahasiswa dan seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk hadir dalam pelaksanaan shalat istisqo.

Belajar Muhammadiyah

Shalat yang digagas Dandim 0713/Brebes dan difasilitasi Pemkab Brebes itu, akan didahului dengan istighotsah oleh para kiai sepuh Brebes.  Khotbah akan disampaikan oleh Kiai Subkhan sedangkan Imam akan dipimpin oleh ulama sepuh yang hadir pada kesempatan tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Puasa Tiga Hari, Banyak Istighfar

Kiai Subkhan turut prihatin dengan kemarau yang berkepanjangan ini. Apalagi daerah Brebes merupakan penghasil komoditas utama Bawang Merah yang tentunya sangat membutuhkan air untuk menanamnya. “Kabupaten Brebes, 60 persen penduduknya berkecimpung dalam dunia pertanian. Di daerah lain juga terkena musibah kabut asap jadi alangkah baiknya kita memohon pertolongan Allah SWT lewat shalat istisqo,” ujarnya.

Sebelum shalat, Kiai Subkhan menganjurkan untuk puasa sunah tiga hari, banyak istighfar, berdoa dan beramal sholeh. Kita harus menyadari sepenuh hati bahwa kekeringan akibat tidak turunnya hujan, merupakan musibah dan teguran dari Allah SWT.

Asisten II Sekda Brebes Ir Moh Iqbal menambahkan, Pemkab Brebes akan mendukung penuh ikhtiar meminta hujan dengan shalat istisqo di Luwungragi. Bupati beserta jajaran dan PNS lain juga akan berbondong-bondong mengikuti kegiatan tersebut. Jamaah haji yang baru pulang dari Mekah, anak yatim, para jompo, bahkan hewan ternak akan digiring untuk berkumpul di lapangan Luwungragi dalam rangkaian shalat Istisqo.

“Pelajar juga dilibatkan, sebagai pembelajaran keimanan dan ketakwaan sejak dini,” tuturnya. Turut hadir dalam rapat persiapan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Doa, Ulama Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Jepara,  Belajar Muhammadiyah. Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2014 yang akan dilaksanakan 14 April mendatang siswa SMK Az Zahra Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah, melaksanakan doa bersama di aula sekolah setempat, Sabtu (23/2) pagi.

Kegiatan ini melibatkan pesantren dan SMP Az Zahra juga wali murid kelas XII jurusan Multimedia. Doa bersama atau istighotsah tersebut dipimpin KH M Sukarno, ketua pengurus Yayasan Az Zahra Mlonggo; dan KH Dhofir membacakan manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani.

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan UN, Siswa SMK Gelar Istighotsah

Kepala SMK Az Zahra, Hasan Khaeroni mengatakan kegiatan merupakan persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian (UKK), Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN).

Belajar Muhammadiyah

Dihadirkannya dewan guru, menurutnya, untuk memohon doa ijabah agar pelaksanaan peserta didik dalam ujian diberikan kelancaran. “Sehingga putra-putri kita menjadi sholih dan sholihah,” doanya.

Belajar Muhammadiyah

Tahun ini SMK Az Zahra Mlonggo mengikutkan ujian sebanyak 51 peserta didik, 26 siswi dan 25 siswa jurusan Multimedia. Tahun ajaran kemarin, lanjut Hasan, SMK berbasis pesantren tersebut membuka jurusan baru, Broadcasting dan Teknik Sepeda Motor.

Dalam kesempatan doa bersama hadir pengasuh pesantren, Hj Luluk Waqifiyah dan dewan pengawas yayasan, H Abdul Kholiq Anwar. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Amalan, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan

Purworejo, Belajar Muhammadiyah

PAC GP Ansor Kemiri bekerja sama dengan MWCNU Kemiri dan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah sukses mengadakan bulan pengaderan NU Sabtu-Ahad (30-31/1/2016). Bulan Pengaderan adalah pelaksanaan program pengaderan bersama, mulai dari PKPNU (Pelatihan Kader Penggerak NU), PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) hingga Makesta (Masa Kesetiaan Anggota).

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kemiri Sukses Adakan Bulan Pengaderan

Tercatat tidak kurang 170-an peserta mengikuti acara ini, yakni 32 peserta PKPNU, 55 peserta PKD dan 80 peserta Makesta. Masing-masing kegiatan diadakan di ruangan terpisah di komplek MI Sutoragan Kemiri.

Dalam sambutannya pada pembukaan bulan pengaderan ini, Ketua PCNU Kabupaten Purworejo KH R Hamid AK sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan PAC Kemiri karena mampu melaksanakan kegiatan pengkaderan bersama-sama.

"Saya sangat apresiasi. NU beserta banom bisa bersama-sama mengkader. Kelihatan kompaknya dan saya harap kedepan Kemiri bisa maju. Potensi nya sangat besar," terang Kiai Hamid.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, instruktur PKPNU dari PWNU, Mahsun Mahfudz mengingatkan bahwa acara bersama-sama ini jangan sampai menghilangkan inti pengaderan. "Jangan sampai karena saking banyaknya peserta dan panitia, acara pengaderan ini malah terkesan acara seremonial. Inti pengaderan bukan itu," ujar Mahsun mengingatkan.

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di zona-zona lain di Kecamatan Kemiri. Bulan Pengaderan dilaksanakan di 4 zona berbeda di Kecamatan Kemiri. Pada pelaksanaan pertama ini, diadakan di Kemiri bagian timur dengan peserta 10 desa. (Hidayatullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, PonPes, Nahdlatul Ulama Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 13 September 2017

Hasyim: Budaya Bangsa Kita Sedang dalam Bahaya

Jakarta, Belajar Muhammadiyah
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, budaya bangsa Indonesia saat ini sedang terancam, akibat masuknya budaya luar yang sulit dibendung. Karena itu, harus ada upaya yang tertata rapi agar budaya ketimuran yang selama ini diikuti oleh bangsa Indonesia tidak hilang.

“Budaya bangsa kita bisa hilang, karena masuknya budaya luar. Harus ada upaya agar budaya kita dapat dipertahankan,” kata Hasyim kepada Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (23/5).

Dalam hal berpakaian, Hasyim mencontohkan, bangsa Indonesia telah banyak meninggalkan tata dan norma bangsa yang asli. Kini, banyak masyarakat yang bangga memakai pakaian yang tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan, sebagaimana dipakai orang Timur. ”Pakaian yang dipakai sekarang banyak yang sudah tidak sopan,” ungkapnya.

Karena itu, kata Hasyim, PBNU saat ini menggalang kerjasama dengan ormas-ormas lain, terutama dengan PP Muhamadiyah untuk melakukan gerakan semacam kampanye untuk mengajak masyarakat berperilaku dan berpakaian sopan. ”PBNU dan Muhamadiyah kini sedang menjalin kerjasama untuk kampanye berperilaku sopan,” jelas kiai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur ini.

Mantan Ketua PWNU Jawa Timur ini menambahkan, Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) sangat penting artinya untuk melindungi budaya bangsa agar tidak luntur oleh pengaruh budaya luar. Karena itulah, PBNU mendukung penuh RUU yang saat ini masih dalam proses penggodokan di DPR. ”Jadi, selain untuk menjaga moral bangsa, RUU APP juga untuk menjaga budaya bangsa,” jelasnya.

Menanggapi semakin memanasnya kontroversi seputar RUU APP, Hasyim mengatakan, banyak pihak yang bermain dalam aksi penolakan RUU tersebut. Pihak-pihak yang bermain itu salah satunya dari kelompok pemilik bisnis hiburan dan kapitalisme. Mereka bersikukuh menolak RUU itu karena takut bisnisnya akan mati. ”Kalau RUU APP itu disahkan yang rugikan mereka itu. Karena itulah, pertarungan soal RUU APP menjadi sangat kuat,” katanya. (amh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes Belajar Muhammadiyah

Hasyim: Budaya Bangsa Kita Sedang dalam Bahaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Budaya Bangsa Kita Sedang dalam Bahaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Budaya Bangsa Kita Sedang dalam Bahaya

Senin, 28 Agustus 2017

PHK 12 Ribu Buruh, Sarbumusi: PT Gudang Garam Kediri Arogan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Dewan Pemimpin Pusat Konfederasi Sariat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) mengecam tindakan PT Gudang Garam Kediri yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 12 ribu buruh. Salah satu Badan Otonom NU ini menyebut aksi PKH sepihak tersebut sebagai tindakan arogan dan semena-mena.

“Anggota Sarbumusi sebanyak 8 ribu anggota juga di-PHK, arogansi dari manajemen PT. Gudang Garam Kediri ini seolah-olah dibenarkan dengan diamnya pemerintah daerah beserta perwakilan daerah di sana. Sungguh sangat memprihatinkan dan tidak mengindahkan nilai-nilai demokrasi dan keadilan,” kata Ketua Umum DPP K-Sarbumusi Syaiful Bahri Anshori dalam siaran pers, Selasa (14/10).

PHK 12 Ribu Buruh, Sarbumusi: PT Gudang Garam Kediri Arogan (Sumber Gambar : Nu Online)
PHK 12 Ribu Buruh, Sarbumusi: PT Gudang Garam Kediri Arogan (Sumber Gambar : Nu Online)

PHK 12 Ribu Buruh, Sarbumusi: PT Gudang Garam Kediri Arogan

Sarbumusi menolak PHK sepihak tersebut karena dinilai mengabaikan peraturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku. Menurutnya, Perusahaan harus mempertimbangkan kepentingan buruh dan masyarakat dalam mengambil keputusan, tidak hanya dilihat dari sisi kepentingan bisnis perusahaan semata.

Belajar Muhammadiyah

Sarbumusi mendesak Pemerintah Daerah, khususnya Bupati dan DPRD Kediri, untuk segera turun tangan dan terlibat untuk menyusun tim tripartit untuk mencegah dan mengurangi dampak dari PHK dan pensiun dini. Di samping, segera membentuk tim audit independen untuk mengaudit keuangan perusahaan PT. Gudang garam, apakah kebijakan Pensiun dini dan PHK itu satu-satunya jalan atau tidak.

“Kami dari Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia NU akan Menurunkan tim investigasi untuk mengawal dan memastikan hak-hak buruh di PT. Gudang Garam dipenuhi bersama-sama dengan DPW Sarbumusi NU Jawa Timur dan DPC Sarbumusi NU Kediri,” ujar Syaiful.

Belajar Muhammadiyah

Organisasi kaum buruh ini berpandangan, nasib buruh di Tanah Air tergolong masih terpinggirkan. Kebijakan perusahaan dan pemerintah sering tak selaras dengan kelayakan kebutuhan hidup para buruh selama ini. Demokrasi hanya dimaknai sebagai siapa yang kuat dia yng memenangi pertarungan di pasar bebas demokrasi. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah PonPes, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Jumat, 25 Agustus 2017

Kader PMII Sabet Juara Pertama di Harvard University

Malang, Belajar Muhammadiyah. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur atas nama Dinda Asri berhasil menjadi juara pertama pada kompetisi Harvard National Model United Nations yang ke-63 di Boston, Amerika Serikat.

Kompetisi yang diselenggarakan tanggal 16-19 Februari 2017 tersebut diikuti ratusan delegasi universitas dari berbagai negara. Pada kompetisi itu, Dinda membawakan “Social Venture Callenges on Resolution Project” atau “Proyek Teknologi Terbarukan berupa Dental Magix Box (Dentmox)”.

Kader PMII Sabet Juara Pertama di Harvard University (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Sabet Juara Pertama di Harvard University (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Sabet Juara Pertama di Harvard University

“Project itu lebih ditujukan kepada bidang medis untuk para dokter gigi,” kata Dinda kepada PMII Jabar online melalui pesan Watsapp-nya. Senin (20/2).

Keresahannya akan kondisi kesehatan di Indonesia yang masih timpang menjadi satu alasannya mengapa dirinya bersama kedua orang temannya maju dalam kompetisi tersebut.

Belajar Muhammadiyah

“Di daerah-daerah pelosok masih sangat banyak yang belum terjamah oleh adanya fasilitas dokter gigi ini yang dikarenakan beberapa faktor,” ujar gadis yang murah senyum ini.

Dalam kompetisi tersebut, Dinda bersama tim membawa prototype yang dipertunjukkan di depan dewan juri.

“Kami membuat prototype ini karena proses pembuatan alat projectnya memang memakan waktu dan biaya yg tidak sedikit. Jadi, untuk menuju hasil akhir, masih ada beberapa hasil uji laborartorimu dulu untuk memastikan alatnya berfungsi atau tidak,” jelas mahasiswi berusia 23 tahun itu.

Belajar Muhammadiyah

Manfaat dari alat medis tersebut, kata Dinda, tidak selalu harus bersentuhan langsung dengan objeknya, tapi dapat melalui berbagai media, salah satunya penciptaan teknologi yang memudahkan profesi dokter gigi.

“Jadi, target utama kita ke depan dengan alat ini bisa menjangkau daerah rural dan terpencil sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa dimaksimalkan,” katanya.

Kompetisi tersebut sudah menjadi ajang tahunan di Harvard University, sementara Universitas Brawijaya selama ini sudah tercatat sudah empat kali mengisi kompetisi tersebut dan baru kali ini menjadi juara. (Jefry Sam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, PonPes, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock