Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Jam bencet yang ada di serambi Selatan Masjid Tegalsari Surakarta menjadi penanda waktu shalat. Inilah karya ulama tempo doeloe yang hingga kini masih akurat. Bencet atau sundial, salah satu khazanah ilmu falak.

“Jam bencet ini sejak dulu digunakan untuk penentuan jadwal sholat di Masjid Tegal Sari, sampai sekarang,” terang Erma Yohansyah, Imam Masjid Tegalsari.

Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Keakuratan jam ini, pernah dibuktikan oleh pak AR, guru fisika dan pakar ilmu falak di Solo. Ketika itu ia menghitung waktu dzuhur untuk waktu bagian Kota Solo dan sekitarnya.

Menurutnya, waktu Dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam (dari catatan Prof. Thomas Djamaluddin).

Belajar Muhammadiyah

Sedangkan waktu Dhuhur untuk Masjid Tegalsari dan sekitarnya menurut RHI Surakarta pada waktu dihitung saat itu adalah sebagai berikut: Pada 27 Feb 2010 jatuh pada jam 11:53 waktu setempat atau 11:54 waktu setempat.

Belajar Muhammadiyah

Koordinat Masjid Tegalsari adalah 7° 34? 13.38? LS, 110° 48? 15.41? BT, 100 m, GMT+07. Pada Sabtu, 27 Feb 2010, solar noon atau matahari tepat di atas kepala bila kita berada di Masjid Tegalsari ini adalah jam 11:49.44 waktu setempat (WIB).

Setelah diadakan pengamatan, tampak bahwa cahaya matahari yang masuk lewat lubang bencet tepat berada di atas garis Utara-Selatan sejati. Itu artinya, waktu Dluhur yang selama ini dipakai sudah benar dan sudah sesuai atau tepat pada waktunya. Waktu Dhuhur tidak mengalami kemajuan atau terlalu cepat.

Jam bencet ini sudah ada bersamaan dengan dibangunnya masjid pada 28 Oktober 1928. Masjid Tegal Sari sendiri merupakan masjid yang dibangun oleh Kiai Shofawi, Prof KHR M Adnan dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Kyai Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 17 Februari 2018

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkomitmen terus mengawasi dan memberi masukan kepada DPR dan pemerintah dalam proses menjelang pengesahan rancangan undang-undang (RUU) Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji.

Komitmen tersebut direalisasikan dalam bentuk pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) secara berkala yang dimulai Senin (14/9) di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, dengan tema “Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Ideal dan Efisien”.

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Hasil diskusi akan dibukukan sebagai naskah akademik yang bisa dipertimbangkan para pemangku kebijakan atas RUU tersebut. “Saya sendiri yang akan mengawal naskah akademik ini nanti untuk dipasarkan kepada fraksi-fraksi mainstream,” kata Helmy Faisal Zaini, Sekjen PBNU.

Belajar Muhammadiyah

Hadir dalam forum tersebut Achmad Djunaidi, mantan Kepala Biro Perencanaan Kemenag dan mantan Direktur Pengelola Dana Haji Dirjen Pelaksanaan Haji dan Umroh (PHU); Ahmad Kartono, mantan Direktur Pembinaan Ibadah Haji dan Umrah di Direktorat Jenderal PHU Kemenag; serta para ketua PBNU antara lain H marsudi Syuhud, H Eman Suryaman, H Andy Najmi, dan H Abdul Manan A Ghani. Forum juga diikuti perwakilan dari lembaga di PBNU.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Helmy, diskusi akan diselenggarakan secara tematik. Selain soal efisiensi, PBNU akan menyoroti misalnya tentang relevansi haji dikelola swasta, dan lainnya. Ia meyakinkan, sumbangan pikiran PBNU ini memiliki nilai signifikan.

“Kita harus optimis bahwa apa yang kita lakukan ini akan membawa perbaikan tata kelola ibadah haji ke depan,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Nasional, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 31 Januari 2018

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab

Bantul, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Bantul menggelar Konferensi Cabang (Konfercab), Ahad pagi (12/05) di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) An-Nur Ngerukem, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dengan mengangkat tema “Pelajar Bersatu Rapatkan Barisan Menuju Pelajar yang Berakhlak Mulia”, acara ini diikuti oleh seluruh kader komisariat IPNU-IPPNU se-Bantul. Pembukaan acara pun berlangsung cukup khidmat dengan kehadiran sejumlah tamu undangan, seperti perwakilan Bupati Bantul, PCNU Tanfidziyyah dan Syuriyah, PW IPNU-IPPNU Yogyakarta, Anshor, Muslimat, Fatayat, dan seluruh PC IPNU-IPPNU se-DIY.

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab

Setelah pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IPNU-IPPNU, acara dilanjutkan dengan iringan sambutan. Dimulai dari ketua panitia, ketua cabang, ketua PW IPNU-IPPNU, PCNU, Perwakilan STIQ An-Nur, kemudian dibuka oleh Bupati Bantul. 

Belajar Muhammadiyah

Dalam sambutannya, PCNU DIY yang diwakili oleh H Habib mengatakan berharap kepengurusan yang dihasilkan nantinya dapat berbuat lebih baik dalam menyongsong masa depan. 

“Karena masa depan bangsa terletak di tangan para pemuda,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Bupati Bantul yang dalam kesempatan itu diwakili oleh Staff Ahli, Sunarto, memberikan pesan tiga hal yang harus ada pada jiwa kader IPNU-IPPNU, yakni kemauan, kemampuan dan meluangkan waktu. 

“Banyak orang sukses yang pada masa mudanya dahulu karena ikut berorganisasi. Kalian semua adalah pemuda pilihan dari sekian pemuda yang ada di Bantul,” motivasinya kepada seluruh peserta acara.

Ia juga begitu mengapresiasi tema yang diangkat, karena sangat berkesinambungan dengan motto yang dijunjung tinggi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, yakni cerdas, berakhlak mulia, dan berkepribadian Indonesia. 

Setelah itu, ia pun membuka acara Konfercab tersebut dengan membaca Basmalah. Selanjutnya, acara pembukaan itu ditutup dengan do’a oleh KH. Yazid Nawawi. Usai pembukaan selesai, acara dilanjutkan dengan stadium general.

Kuni Maghfuroh, selaku ketua cabang IPPNU Kabupaten Bantul menjelaskan rangkaian acara Konfercab yang terdiri dari Pembukaan, stadium general, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi dan diakhiri dengan pemilihan ketua cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Bantul periode 2013-2015 mendatang.

“Semoga kepengurusan yang akan datang dapat menghasilkan kader yang lebih baik, dan bisa meneruskan perjuangan, khususnya di IPNU-IPPNU, dan umumnya di lingkup NU dan masyarakat,” tandas Kuni ketika ditanya tentang harapan pada kepengurusan mendatang.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’ 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Solo, Belajar Muhammadiyah. Meskipun sudah memasuki usia senja, semangat tokoh satu ini untuk terus berjuang bersama NU memang patut kita tiru. Sebagai sesepuh dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi tak pernah lelah untuk memberikan semangat kepada generasi penerus.

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Seperti yang dikatakannya saat menerima kunjungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Ahad (10/8), di rumahnya, Malang. “Cintailah kiai dan rawatlah NU,” pesan Mbah Muchit singkat, sebagaimana ditirukan Sekretaris PCNU Sumenep A Dardiri Zubaidi dalam akun facebooknya.

Dardiri sendiri, mewakili generasi NU yang hidup di zaman sekarang, menjadikan Kiai Muchith sebagai sosok yang banyak menginspirasi.

Belajar Muhammadiyah

“Sejak kecil saya sudah mengenal KH Muchit Muzadi, santri Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari dan orang dekat KH Ahmad Shidiq Perumus Khittah NU. Sebagian buku beliau saya punya, salah satu judulnya : Menjadi NU, Menjadi Indonesia,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, meski telah berusia 90 tahun, Mbah Muchith masih memiliki semangat yang luar biasa. “Semangat beliau luar biasa membaja. Semoga beliau dipanjangkan umur oleh Allah swt. Beliau bagi saya salah satu jimat sakti yang masih dimiliki NU sekarang,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Ahlussunnah, Nasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Bupati Kabupaten Jombang Nyono Suharli Wihandoko tak menampik terhadap peran santri dalam pembangunan bangsa dan negara. Karena itu, ia berjanji akan mendorong dan meningkatkan keterampilan yang dimiliki santri melalui program kerja pemerintah, semisal pembinaan atau pelatihan dalam usaha produktif.

"Pemerintah akan mendorong keterampilan santri dengan program-program kerjanya melalui pendampingan-pendampingan atau pelatihan usaha produktif," katanya saat kegiatan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Jombang, Sabtu (22/10).

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jombang Siap Dorong Santri dalam Usaha Produktif

Menurut Nyono, para santri saat ini sudah mulai harus menunjukkan eksistensinya melalui segala keterampilan yang dimiliki, juga potensi-potensi lain yang kemudian didorong berbagai pihak, termasuk pemerintah. Jumlah santri di Jombang yang tak sedikit itu tentu memiliki kemampuan yang beragam dalam sejumlah bidang.

Belajar Muhammadiyah

"Santri sudah mulai meningkatkan keterampilan-keterampilannya juga potensi yang dimiliki," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Pada momentum peringatan HSN ini, Ketua DPW Partai Golkar itu mengajak para santri untuk meneladani perjuangan dan semangat kebangsaan para ulama dan santri dalam sejarah Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama.

"Di perayaan HSN ini mari kita jadikan momen meneladani semangat jihad santri, semangat kebangsaan, semangat nasionalisme, dan semangat berkorban untuk bangsa," ujar Nyono. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Cerita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Pawai Tarhib sambut Ramadhan, Jumat (3/6) di Kota Mataram. 15 Ribuan jamaah ? membanjiri halaman Islamic Center untuk mengikuti acara Pawai Tarhib menyambut Bulan Suci Ramadhan 1437 hijriyah tersebut.

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga NTB Ikuti Pawai Tarhib

Ribuan jamaah itu berasal dari pegawai lingkup pemerintah Provinsi NTB, Ormas, Mahasiswa, Pelajar, Masyarakat Umum, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) NTB.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, HM Zainul Majdi mengatakan, kebahagiaan menyambut Bulan Suci Ramadhan akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Selain itu, Tarhib Ramadhan yang baru pertama kali digelar ini akan menjadi penyemangat bagi masyarakat, menyambut digelarnya MTQ ke-26 tingkat nasional bulan Juli 2016 mendatang di Mataram.

"Tarhib itu diambil dari kata Ar-Rohbu, artinya kelapangan maka tarhib itu secara inti maknanya adalah menggambarkan suasana hati kita yang lapang, jiwa dan diri kita pada saat Ramadhan itu datang menghampiri kita,” tutur Zainul Majdi pada saat melepas peserta pawai.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan Islamic Center NTB untuk kegiatan yang positif. Selain itu, dia mengajak semua masyarakat memperbanyak doa untuk NTB agar berbagai program yang dicanangkan bisa terwujud, termasuk dalam mewujudkan target 15 medali emas pada PON mendatang.?

Kegiatan Tarhib diikuti Gubernur dan pejabat lingkup pemerintah provinsi NTB itu melintasi Jalan Pejanggik, Jalan pendidikan dan kembali finish di Islamic Center. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Pahlawan, Budaya Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

Semarang, Belajar Muhammadiyah



Tidak benar Kementerian Dalam Negeri minta pembatalan peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol, kata Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Antara di Semarang, Sabtu.

Tjahjo dengan tegas menyatakan bahwa semua daerah perlu memiliki peraturan daerah berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol mengingat peredaran minuman keras sudah membahayakan masyarakat dan generasi muda khususnya.

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendagri Bantah Cabut Perda Pelarangan Minuman Beralkohol

"Jabatan saya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saya pertaruhkan kalau saya sampai melarang Perda Pelarangan Minuman Keras. Itu berita fitnah," kata Tjahjo yang juga alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang.

Lebih lanjut Tjahjo menekankan bahwa penjelasnnya itu sekaligus meluruskan isu yang berkembang dari pemberitaan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencabut Perda tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol di Daerah (Perda Pelarangan Minuman Keras).

Perda Pelarangan Minuman Keras, lanjut Tjahjo, prinsipnya harus diberlakukan di semua daerah dengan konsisten, benar penerapan dan pencegahannya, serta penindakan oleh daerah. Apalagi, minuman keras juga menjadi pemicu kejahatan.

Belajar Muhammadiyah

Di Papua, misalnya, Kemendagri mendukung kebijakan Gubernur Papua untuk memberlakukan Perda Pelarangan Minuman Keras dengan konsisten.

Belajar Muhammadiyah

Tjahjo mengungkapkan bahwa relatif banyak perda yang berisi larangan minuman keras yang masih tumpang-tindih, kemudian Kemendagri meminta daerah yang bersangkutan untuk menyinkronkan kembali perda tersebut. Begitu pula, koordinasinya dengan aparat keamanan harus terjaga agar Perda Pelarangan Minuman Keras bisa efektif, termasuk pelarangan pembuatan dan peredarannya.

Sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya memprotes Mendagri terkait dengan persoalan pencabutan Perda Pelarangan Minuman Keras yang dinilai bertentangan dengan Permendag, padahal hal itu justru menyalahi Pancasila dan kebijakan revolusi mental.

"Itu juga menyalahi ajaran agama bahwa minuman keras merupakan sumber asal dari segala bentuk kejahatan, seperti pembunuhan, kejahatan seksual, kecelakaan, dan narkoba," kata Ketua Tanfiziah PCNU Kota Surabaya Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. di Surabaya, Sabtu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Makam, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Kamis, 11 Januari 2018

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

Jakarta,Belajar Muhammadiyah

Penulis buku Islam Indonesia Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional, Imdadun Rahmat menilai, karakter Islam transnasional yang cenderung kaku, hitam-putih, tekstual, dan intoleran menjadi bahaya bagi keberlangsungan negara Indonesia yang dikenal plural.

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

Selain itu, Islam transnasional bisa menggerus watak Islam Indonesia yang cenderung ramah dengan budaya lokal.

“Islam transnasional berpretensi menghabisi Islam lokal, Islam yang telah mengalami proses dialog, proses akulturasi positif dengan konteks lokal,” kata Imdad seusai peluncuran dan bedah buku itu di Jakarta, Senin (9/10).

Belajar Muhammadiyah

Imdad menjelaskan, Islam transnasional juga menganggap bahwa praktik Islam di Nusantara itu bukan Islam yang sempurna (kaffah) karena sudah bercampur dengan unsur-unsur budaya dan tradisi masyarakat setempat. Kemudian, mereka menawarkan Islam transnasional yang memiliki slogan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis sebagai Islam yang sempurna (kaffah).

Lulusan Pesantren Jumput Pamotan, Rembang itu menilai, konsep Islam kaffah yang ditawarkan oleh kelompok Islam transnasional juga merupakan Islam yang berakar pada budaya lokal, yaitu budaya di Arab dan Timur Tengah.

Belajar Muhammadiyah

“Kemudian dipersepsikan sebagai Islam yang paling otentik, yang paling asli, murni, dan tidak tercampur dengan unsur-unsur di luar Islam,” jelasnya.

Perkuat Islam moderat ala Indonesia

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2016-2017 itu berpendapat, Islam transnasional dengan segala karakternya tersebut tidak sesuai dan cocok dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, Islam moderat (wasathiyah) ala Indonesia harus diperkuat untuk menangkal Islam transnasional itu.

Ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, membangun argumen Islam wasathiyah yang kuat baik dari sisi sosiologi ataupun sisi teologi.

“Buku yang saya karang ini adalah kontribusi untuk membangun argumen Islam wasathiyah secara sosiologis dan teologis,” urainya.

Bagi Imdad, melalui buku ini ia berpendapat bahwa Islam Indonesia dengan karakter moderasi adalah juga Islam yang paripurna (kaffah). Ada delapan ranah budaya Islam: Arab, Persia, Turki, Anak Benua India, sub-Sahara Islam, China Islam, belahan dunia Barat, dan Nusantara.

“Sesungguhnya (Islam Nusantara) sama sahnya dengan yang ada di Arab ataupun yang lainnya. Maka yang paling tepat untuk Indonesia ya Islam Nusantara,” ucapnya.

Menurut dia, Islam yang paripurna (kaffah) bagi Indonesia bukanlah Islam yang diimpor dari tempat lain dengan segala unsur budaya yang tercampur di dalamnya, tetapi Islam Nusantara yang telah mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.

Kedua, mensosialisasikan argumen Islam wasathiyah. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tahu dan tidak terkecoh dengan kelompok Islam transnasional.

“Dan membentengi masyarakat dari pengaruh mereka,” tukasnya.

Ketiga, de-transnasionalisasi Islam transnasional. Imdad menerangkan, harus dilakukan penyadaran terhadap mereka yang meyakini bahwa Islam transnasional adalah kebenaran tunggal untuk Indonesia.

“Harus disadarkan untuk kembali kepada Islam yang cocok untuk Indonesia, yaitu Islam Nusantara,” terangnya.

Terakhir, pemerintah harus membuat regulasi untuk membendung radikalisasi dan kekerasan yang ditimbulkan oleh Islam transnasional.

“Harus ada sinergi antara pemerintah, ormas, dan masyarakat,” tutupnya. (Mukhlison Rohmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Demi meningkatkan kulitas peserta didik baru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tholabul Hidayah Toblongan Kecamatan Bojongasih Kabupaten Tasikmlaya ini bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Tasikmlaya kenalkan dan Tanamkan Aswaja NU Sejak dini.

Kegiatan ini dimulai dari saat Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) di MTs pertama di Desa Toblongan, Senin-Jumat (18-23/07) di MTs Tholabul Hidayah, langsung dipandu oleh Tim Fasilitator dari PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya.

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Kepala Sekolah MTs Tholabul Hidayah Eris Zamzmam Noor saat ditemui di Kantor MTs Jumat (23/07) menuturkan bahwa Agenda pengenalan NU sejak dini ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Peserta didik di MTs ini khususnya dan masyarakat Toblongan pada umumnya.

“Pelajar kita harus didik kenalkan dan tanamkan jiwa Ke NU annya sehingga pemuda di masa yang akan datang dengan karakter yang berkualitas karena sudah mengenal perjuangan para ulama. Disamping itu penanaman jiwa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga kita prioritaskan sebagai aqidah kita,” ujar Eris.

Perjuangan Pelajar NU ini merupakan gerbang awal di Nahdlatul ulama, dan sangat penting untuk mengenalkan dan mengawal pelajar NU di masa dini, untuk bisa menjadikan kader-kader yang potensial.

Belajar Muhammadiyah

Tim Fasilitator PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya Ilyas Nuryasin mengatakan, IPNU Kabupaten Tasik di masa Orientasi awal tahun pelajaran ini berusaha bersilaturahmi dan merekrut anggota baru di banyak sekolah di Kabupaten Tasikmlaya dengan bantuan pengurus PAC di seluruh Kabupaten Tasikmalaya.

“Kami berharap program ini sebagai ajang silaturahmi kader IPNU dari berbagai tingkatan sampai tingkat komisariat. Road show di masa orientasi ini sebagai bentuk silaturahmi ke sekolah-sekolah. Ke depan kita akan Road Show ke Pesantren di 39 Kecamatan di Tasikmalaya,” terang Eris. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian, Sejarah, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kiprah dan perjuangan melalui Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) hendaknya bukan hanya untuk masa sekarang. Namun juga untuk masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, LPTNU harus tahu apa kira-kira yang akan terjadi di masa depan.

Hal itu diungkapkan Penasihat LPTNU M. Nuh dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LPTNU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (16/11) sore.?

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

“Kalau tidak begitu, kasihan anak-anak kita. Ibarat menugaskan orang pergi ke Jepang begitu sampai di Jepang uang yang dibawa tidak laku,” kata Nuh.

Itu sebabnya, lanjut Nuh, pendidikan tinggi NU harus berorientasi ke depan, agar hasil pendidikan tersebut cocok dengan masa depan.

Nuh menyebut ada beberapa alasan mendasar mengapa pendidikan tinggi NU harus mengacu kepada masa depan. Salah satunya berdasarkan hasil sebuah survey yang dirilis tahun 2016 bahwa persoalan makin rumit, sementara waktu yang diperlukan semakin cepat.

Belajar Muhammadiyah

“Itu yang harus menjadi dasar dalam membekali anak-anak kita. ? Kalau enggak, anak-anak kita akan menjadi generasi expired,” tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut Nuh menyampaikan hasil pendidikan adalah ilmu dan keterampilan. Sementara ilmu dan keterampilan ada masanya, sehingga bisa saja dibuang.

“Misalnya pesawat televisi tabung besar sekarang sudah ganti semua. Transistor juga sudah enggak dipakai. Kecuali sikap yang nggak akan dibuang sampai mati.”

Nuh mendorong agar perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan kemampuan orde tinggi. Anak-anak harus kreatif dan diasah intuisinya. Sering intuisi dulu baru logika. Ada juga logika dulu baru intuisi. Jangan sampai mendidik mereka dengan cara yang tidak sesuai.

Nuh juga mendorong agar perguruan tinggi NU membuka keilmuan hingga jenjang S2 dan S3, khususnya untuk perguruan tinggi yang sudah sehat finansial, organisasi, dan akademik.

Nuh berkeyakinan bahwa peningkatan kapasitas perguruan tinggi adalah bagian dari Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) yang secara destingtif menjadi kekhasan NU, selain Nahdatul Wathon (kebangkitan tanah air), dan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Fragmen, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Belajar Muhammadiyah - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Belajar Muhammadiyah

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Perihal keamanan, keadilan, perlindungan, kesejahteraan bagi warga Indonesia belum terwujud. Ini merupakan masalah utama bagi warga. Dalam hal ini, Indonesia masih tertinggal jauh. Angka kemajuan dalam masalah di atas terbilang rendah.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said dalam acara peluncuran perdana Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah di Jalan M Kahfi 1 nomor 22, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (28/7) malam.

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga

“Perasaan terlindungi dan sejahtera jelas masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah sekarang ini,” kata Kang Said di podium menghadapi sedikitnya 1000 orang yang hadir.

Belajar Muhammadiyah

Indonesia, sambung Kang Said, memang sudah mencapai sejumlah kemajuan dalam hal demokrasi. Kemajuan itu bisa dinilai dari kehadiran multipartai, kebebasan menulis di koran-koran, kebebasan berserikat, kebebasan kritik terhadap pelayanan publik, dan segala bentuk kebebasan.

Belajar Muhammadiyah

Namun semua capaian-capaian itu baru permukaan demokrasi. Kebebasan berpolitik dan berekonomi itu baru sebagai prestasi lahir Indonesia sebagai negara demokrasi, tambah Kang Said.

Sedangkan masalah keamanan, jaminan keadilan, dan perihal kesejahteraan warga sebagai substansi demokrasi masih jauh dari masyarakat. Warga Indonesia secara merata belum menikmati keberkahan dari subtansi demokrasi, tegas Kang Said.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Assalamualaikum wr wb. Ustadz yang saya hormati, di tempat saya ada beberapa orang yang menjual obat herbal dimana bahan pokoknya adalah semut, cacing dan undur-undur. Bagaimana sebetulnya Islam mengatur hal ini, adakah dalil yang mendasari kehalalannya berobat dengan bahan-bahan demikian? Lalu bagaimana hukum budi daya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan? Atas penjelasannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalam.

Achsib surabaya.



Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur (Sumber Gambar : Nu Online)
Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur (Sumber Gambar : Nu Online)

Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Achsib, mudah-mudahan Allah selalu menaungi kehidupan anda dengan ridha dan kasih sayang-Nya.

Belajar Muhammadiyah

Pada dasarnya Islam telah mengatur apa saja yang boleh dikonsumsi ataupun dihindari oleh umatnya. Hal ini tentu saja berlaku pada makanan, minuman, obat-obatan serta berbagai penunjang kebutuhan manusia lainnya. Prinsip yang dikembangkan oleh Islam adalah menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk dampaknya bagi keberlangsungan kehidupan manusia secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah surat al-A’raf ayat 157:

? ? ? ? ? ?. Artinya: dan Nabi yang ummi serta didapati dalam kitab Taurat dan Injil tersebut (Rasulullah saw) menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.

Belajar Muhammadiyah

Ayat diatas kemudian dijabarkan oleh Rasulullah saw melalui hadis-hadis beliau yang cukup banyak dan kemudian ditafsiri oleh generasi setelahnya dengan berbagai macam penafsiran.

Saudara penanya yang kami hormati, sebelum menanggapi pertanyaan yang saudara sampaikan, ada baiknya apabila kita mengetahui pandangan para ilmuwan Islam (ulama) mengenai status kehalalan maupun keharaman hewan-hewan ini mengingat konsekuensi yang akan muncul dari tiap-tiap pendapat tentu akan berbeda.

Semut, cacing, dan undur-undur dalam istilah biologi termasuk hewan yang tidak mempunyai tulang belakang atau tulang punggung (Avertebrata/invertebrata), sementara dalam bahasa Arab ketiga jenis hewan ini dimasukkan dalam kategori serangga (al-hasyarat). Khusus untuk Semut hampir mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan ini haram dimakan karena termasuk salah satu hewan yang dilarang oleh Nabi untuk dibunuh. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud bersumber dari Ibnu Abbas Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?. Artinya: Dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw melarang untuk membunuh empat binatang: semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurod.”

Hadis di atas kemudian dijadikan dasar oleh para ulama mengenai tidak diperbolehkannya semut untuk dikonsumsi sebagai makanan, meskipun masih banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa jenis semut yang dilarang untuk dibunuh hanyalah satu jenis semut tertentu.

Sementara untuk kedua jenis binatang lainnya (cacing dan Undur-undur), para ulama terbagi dalam dua kelompok:

Kelompok pertama berpandangan bahwa kedua jenis hewan ini termasuk dalam kategori al-hasyarat ( serangga) dan hukumnya haram (tidak boleh dimakan) dengan alasan menjijikkan (al-khabaist). Ulama yang berpendapat demikian diantaranya adalah Imam Abu Hanifah dan asy- Syafii.

Kelompok kedua dipelopori oleh Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Auzai berpendapat bahwa al-hasyarat hukumnya halal.

Selanjutnya mengenai tentang boleh tidaknya berobat dengan hal-hal yang haram, para ulama’ dengan berbagai argumentasi yang mereka kemukakan, berbeda pendapat menjadi empat:

1. Pendapat pertama menyatakan boleh berobat dengan yang haram dalam keadaan darurat (kritis) dan tidak ditemukan obat lain.

2. Pendapat kedua menyatakan haram secara mutlak.

3. Pendapat ketiga menyatakan dalam kondisi darurat boleh berobat dengan yang haram/najis, kecuali khamar.

4. Pendapat keempat menyatakan tidak haram menggunakan obat dari jenis-jenis serangga meskipun menjijikkan.

Dari keempat pendapat ini tentunya akan berdampak pula pada jawaban atas pertanyaan berikutnya dari saudara yakni hukum budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan untuk diperjualbelikan. Di antara para ulama ada yang membolehkan disamping juga ada yang tidak memperbolehkan.

Untuk masalah ini sebenarnya Muktamar ke-30 NU di Lirboyo tahun 1999 telah menjelaskan secara terperinci. Dalam hal ini kami lebih cenderung mengikuti pendapat yang memperbolehkan budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Amin. (Maftukhan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Batam, Belajar Muhammadiyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di Batam akan dimulai pada Selasa (14/3) besok. Rakernas yang dihadiri oleh perwakilan wilayah dan cabang seluruh Indonesia akan membahas beberapa isu strategis.

Rakernas V Lakpesdam NU akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali yang dihadiri oleh Walikota Batam Ahmad Dahlan, Ketua PWNU Kepulauan Riau H Gani Lasya dan perwakilan pengurus cabang NU se-Kepri? dan MWCNU se Kota Batam.

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Rabu (15/3) para peserta rakernas akan dibekali materi mengenai Garis Besar Perjuangan NU oleh H Abdul Mun’im DZ dari PBNU, kemudian disambung dengan sharing khidmah gerakan NU bersama Bupati Wonisobo H Kholiq Arief , dan Ketua PBNU H Imam Aziz.

Belajar Muhammadiyah

Hari berikutnya para peserta Rakernas akan membahas mengenai implementasi UU Desa bersama Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam NU Yahya Ma’shum dan Erman A. Rahman yang dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Batam oleh para peserta Rakernas.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Ketua Rakernas V Eko Agus Priyono, Rakernas dikuti sekitar 70 perwakilan pengurus cabang Lakpesdam ditambanh pengurus wilayah. Masing-masing cabang atau wilayah mendelegasikan rata-rata 2 orang.

Tiga hari sebelum Rakernas dimulai, sebagian peserta Rakernas telah hadir di Batam untuk mengikuti training of trainer untuk program Kader Damai. Menurut Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’shum, training itu merupakan bagian dari agenda PP Lakpesdam yang sengaja dilaksanakan berdekatan dengan kegiatan Rakernas. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

Oleh Muhammad Ishom

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum, Ayat 21:

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian semua istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat di atas cukup populer dan sering dibacakan oleh para qari’ dalam acara resepsi perkawinan. Demikian pula para kiai atau ustadz juga sering mengutip ayat itu untuk memberikan wejangan atau taushiyah kepada pengantin baru yang sedang melaksanakan walimatul ‘ursy.

Tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah refleksi dari perkawinan kami yang pada tanggal 28 September lalu merupakan ultah perkawinan kami yang ke-25, atau sering disebut ultah perkawinan perak. Refleksi ini juga saya maksudkan sebagai sharing pembelajaran tentang hidup berumah tangga kepada para pemuda yang belum atau akan menikah; sekaligus mengingatkan kembali komitmen para pasutri (pasangan suami istri) dalam membangun rumah tangga.

Belajar Muhammadiyah

Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa 25 tahun lalu kami memulai hidup baru. Tetapi pernikahan kami tidak melalui proses berurutan sebagaimana lazimnya di zaman sekarang, yakni: cinta – perkawinan – seks. Terus terang hubungan kami berawal dari perkawinan, seks, lalu cinta. Jadi kami menikah dulu tanpa pacaran dan langsung menjadi suami istri.

Pertanyaannya adalah proses atau pola urutan manakah yang lebih sesuai dengan tuntunan Islam dalam membangun rumah tangga? Apakah seperti yang lazim di masyarakat di zaman sekarang, yakni cinta - perkawinan – seks, ataukah seperti pengalaman kami yang itu sering terjadi di zaman dulu, yakni perkawinan - seks - cinta?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita kembali pada ayat yang di awal telah saya sebutkan. Ayat tersebut akan saya uraikan sesuai dengan kandungan maknanya. Secara sederhana dapat saya uraikan bahwa ayat di atas memiliki sedikitnya 3 (tiga) makna penting sebagai berikut:

1. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri.”

Salah satu makna terpenting dalam penggalan ayat ini adalah bahwa sebuah rumah tangga diawali dengan perkawinan. Tidak boleh sebuah rumah tangga diawali dengan seks tanpa perkawinan, karena inilah yang disebut kumpul kebo. Kumpul kebo itu sendiri seringkali barawal dari cinta. Oleh karena itu kita patut berhati-hati dengan cinta yang datangnya sebelum perkawinan karena ia bisa menjerumuskan jika tidak dikelola dengan baik.

Sudah banyak terjadi apa yang sering disebut dengan “kecelakaan” di mana seorang perempuan mengalami kehamilan, atau seorang laki-laki menghamilinya sebelum perkawinan. Ini artinya mereka telah menempatkan seks sebelum perkawinan. Jelas hal ini tidak sesuai dengan penggalan ayat di atas yang menegaskan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan keluarga atau rumah tangga dimulai dari perkawinan.

Melalui perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan akad nikah dengan syarat dan rukun tertentu. Sekali lagi prosesi perkawinan merupakan awal terbentuknya rumah tangga di mana hubungan mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan kemudian menjadi hubungan suami istri secara sah. Hubungan ini penting karena memberikan legitimasi terbentuknya sebuah rumah tangga sebagai tempat berlabuh untuk mencapai ketentraman hidup atau yang disebut dengan kehidupan yang sakinah.

2. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Allah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Penggalan ayat di atas mengandung makna bahwa tempat berlabuh berupa rumah tangga dimaksudkan oleh Allah agar manusia dapat mencapai ketenteraman hidup atau kehidupan yang sakinah. Kita semua tahu bahwa manusia dianugerahi Allah SWT dengan syahwat atau hawa nafsu sebagaimana dinyatakan dalam penggalan ayat 14 dalam Surah Ali Imran berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ....

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...”

Penggalan ayat di atas menegaskan bahwa dalam hidup ini manusia dibekali dengan nafsu tertentu, seperti laki-laki memiliki kecenderungan untuk menyukai perempuan dan sebaliknya perempuan memiliki kecenderungan menyukai laki-laki. Mereka juga cenderung menyukai anak-anak sebagai darah dagingnya sendiri. Untuk itulah maka manusia dibekali dengan nafsu seks untuk mendapatkan keturunan. Nafsu seks seperti itu harus mendapatkan tempat penyaluran yang benar, yakni dengan memiliki pasangan hidup yang disebut istri atau suami melalui perkawinan.

3. ? ? ? ?

Artinya: “Dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Dengan adanya tempat berlabuh yang jelas melalui perkawinan yang sah, maka di situlah nafsu seks yang kemudian berkembang menjadi rasa kasih atau cinta birahi menemukan salurannya secara benar. Cinta birahi (mawaddah) adalah rasa kasih yang pengungkapannya melalui seks. Sebagaimana diuraikan di atas, seks itu sendiri hanya boleh disalurkan setelah perkawinan. perkawinan tanpa seks sulit untuk mencapai cinta, dan seks tanpa perkawinan adalah perzinahan dan tidak akan menghasilkan cinta sejati yang dalam bagian ayat itu disebut sayang (rahmah). Sayang atau cinta sejati atau rahmah menjadi puncak dari perkawinan dan seks.

Dengan demikian berdasarkan pada Surah Ar-Rum, ayat 21, saya berkesimpulan proses atau pola urutan membangun rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah perkawinan – seks – cinta.

Apa yang saya uraiakan di atas secara tidak langsung menegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal pacaran dimana laki-laki dan perempuan menjalin hubungan dengan dorongan cinta. Sebagaimana saya uraikan di atas cinta yang tumbuh dan berkembang sebelum perkawinan bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan apabila tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik. Namun demikian, Islam membolehkan ta’aruf, yakni perkenalan antara laki-laki dan perempuan sebatas pada hal-hal mendasar, seperti identitas diri dan asal usul keturunan masing-masing.

Pertanyaannya kemudian, bisakah perkawinan atau pembentukan rumah tangga tanpa ada cinta sebelumnya?

Jawabnya adalah seseorang bisa membangun rumah tangga meski tanpa didasari cinta. Dalam Islam, niat beribadah kepada Allah sesungguhnya merupakan pondasi yang lebih mendasar dan kokoh bagi sebuah perkawinan dari pada sekedar cinta yang sewaktu-waktu bisa meredup di tengah jalan, atau hanya menggebu-gebu di awal, atau bahkan berubah menjadi kebencian yang mendalam. Sebetulnya tidak menjadi masalah ada cinta sebelum perkawinan selama cinta itu dapat dikelola dengan baik, tetapi janganlah cinta itu menjadi hal satu-satunya yang mendasari perkawinan karena sekali lagi ada hal yang lebih luhur dan mulia dari pada sekitar cinta, yakni niat beribadah kepada Allah SWT.

Perkawinan yang didasari ibadah akan menghasilkan cinta sejati yang bersumber dari cinta ilahi. Maka seyogianya ibadah itu menjadi dasar perkawinan dan cinta sejati menjadi puncaknya. Cinta yang tumbuh dan berkembang setelah perkawinan dan seks memang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan cinta yang tumbuh sebelum kedua hal itu. Dalam perkawinan terdapat rahmat Tuhan. Di sana berkah-Nya dilimpahkan kepada suami dan istri karena perkawinan adalah sunnah Rasulullah SAW. Melalui perkawinan terjadilah sebuah revolusi. seks yang sebelumnya diharamkan serta merta dihalalkan dan bernilai idadah karena diperintahkan setelah berlangsung perkawinan. Dengan seks yang diberkati Tuhan, suami dan istri saling membahagiakan untuk mencapai ridha-Nya. Di titik itu cinta insani dan cinta ilahi bertemu, lalu menyatu menjadi cinta seutuhnya – cinta manunggal.?

Semoga apa yang saya sampaikan di atas dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua khususnya dalam kaitannya dengan perkawinan. Kita diingatkan bahwa puncak dari perkawinan adalah cinta. Maka cinta harus selalu ada dan hidup dalam rumah tangga kita karena itu merupakan rahmah atau cinta sejati yang bersumber dari Allah SWT. Jika akhir-akhir ini kita sering mendengar akronim samara, yang merupakan kependekan dari sakinah, mawaddah wa rahmah, maka implementasinya adalah melalui perkawinan – seks – cinta sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rum, ayat 21 di atas.

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, RMI NU, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules

Brebes,Belajar Muhammadiyah. Puluhan ulama muda NU yang tergabung dalam Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manuasia (Lakpesdam) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Brebes menggelar tahlilan untuk korban musibah jatuhnya pesawat Hercules milik TNI Angkatan di Medan Selasa (30/6).

“Kami turut berduka cita kepada seluruh korban jatuhnya pesawat Hercules. Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan atas musibah ini,” tutur Ketua PC Lakpesdam NU M Riza Pahlevi usai memimpin tahlil dan doa bersama di Gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes, Rabu (1/7).

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Muda NU Tahlilan untuk Korban Hercules

Reza menjelaskan, keperihatinan dipanjatkan para ulama muda sebagai bentuk rasa kebersamaan dalam suka maupun duka sebagai warga Indonesia. Apalagi di saat puasa Ramadhan dan menjelang Hari Raya sebagai hari yang istimewa bagi umat Islam. “Sudah seharusnya kita memanjatkan doa pada para korban bencana Herkules,” ucapnya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Lesbumi PCNU Kota Tegal Drs Atmo Tan Sidik menyampaikan mauidlatul hasanah sebagai pengantar berbuka puasa. Dalam taushiyahnya, ia mengatakan hendaknya kita semua hikmah di balik musibah.

Ia mengutip perintah Rasulullah yang orang harus banyak mengingat kematian. Dengan mengingat banyak kematian, maka orang cenderung akan berahklakul karimah. “Siapa pun, akan dimintai pertanggungjawabannya selesai kematian,” terang Atmo yang juga Kabag Humas Setda Brebes. ?

Belajar Muhammadiyah

Sang Maestro Pelestari Budaya Pantura itu mengingatkan, bahwa di dalam Al Quran secara tegas dinyatakan cukuplah kematian sebagai nasihat atau pelajaran. “Semoga mereka syahid karena mereka terbentur benda keras dan kematiannya di bulan Ramadhan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembentukan pengurus Ikatan Keluiarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII). Terpilih sebagai Ketua Drs Chaerul Umam, yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Brebes. Acara diselang buka puasa bersama dan shalat maghrib, isya, dan tarawih berjamaah. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Syariah, Kiai Belajar Muhammadiyah

Jumat, 27 Oktober 2017

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Berdakwah bukan saja dilakukan dengan cara pengajian saja, bisa juga dilakukan dengan seminar dan talk show. Materi dakwah juga bukan sebatas masalah ritual ibadah, tetapi juga terkait kesehatan masyarakat, apalagi terkait kesehatan reproduksi. Inilah yang terus diupayakan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) melalui bekerjasama dengan berbagai pihak dalam melayani masyarakat.

Demikian ditegaskan drg H Abdul Kadir, Ketua LKNU DIY, dalam acara Talk Show Kesehatan Reproduksi pada Ahad, (8/11) lalu di aula lantai 2 Gedung PWNU DIY. Acara ini terselenggara berkat kerjasama LKNU DIY dengan Majlis Pengajian An-Nisan’ Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY.?

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Menurut drg. Kadir, pemeriksaan papsmear dan payudara adalah upaya membentengi para ibu dari penyakit dengan prevalensi sangat tinggi dan menjadi penyebab kematian tertinggi ini. Untuk itu, lanjut drg. Kadir, pasangan suami-istri harus saling mendukung dalam mengupayakan kesehatan reproduksi. Suami adalah agen kesehatan bagi istrinya, sehingga harus setia dan bersama-sama periksa kepada dokter. Suami juga harus selalu mengingatkan, disitulah kerjasama keduanya dalam menjaga kesehatan. ?

Belajar Muhammadiyah

“LKNU DIY akan terus bekerjasama dengan berbagai pihak. Semua ini semata wujud khidmat untuk kemaslahatan semuanya. Ada banyak kader muda NU yang menekuni kesehatan, kita akan terus mengajak mereka untuk terlibat dalam berbagai program kesehatan, sehingga NU terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. H.A. Zuhdi Muhdlor, Wakil Ketua PWNU DIY yang membuka acara menjelaskan, bahwa kaum ibu adalah agen perubahan. Dari rahim para ibu yang sehat dan berkualiatas akan terlahir generasi yang sehat dan berkualitas pula.?

Belajar Muhammadiyah

“Generasi yang sehat menjadi perhatian serius NU. Untuk itu, kami berharap LKNU terus menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam merealisasikan program-programnya, sehingga generasi yang sehat dan berkualitas bisa tumbuh untuk membangun bangsa di masa depan,” tegasnya.?

Acara ini diikuti oleh 125 ibu-ibu dari berbagai daerah di DIY. Para ibu ini sangat antusias, terbukti dalam sesi tanya jawab bersama dr. Nila Amalia, dokter muda lulusan UGM yang juga santri Pesantren Al-Muhsin, Krapyak Yogyakarta. Sementara dalam dalam pemeriksaan, tenaga medis dari Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY penuh senyum ketika melayani para ibu yang hadir di Gedung PWNU DIY. (Muahmmadun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 01 Oktober 2017

Santri Harus Memiliki Keahlian Wirausaha

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Lulusan pesantren tidak harus melulu cakap dalam bidang agama, namun dirasa penting juga mampu berperan dalam bidang lainnya, terutama ekonomi, keahlian dalam wirausaha bagi seorang santri dapat dijadikan modal untuk bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya dengan jiwa penuh kemandirian.

Demikian disampaikan oleh KH Usamah Manshur, pengasuh pesantren An-Nasuha Kalimukti Cirebon, saat berkesempatan memberikan sambutan dalam seminar kewirausahaan yang digelar oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon di Aula Pesantren Annasuha, Cirebon, Selasa (18/6).

Santri Harus Memiliki Keahlian Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Memiliki Keahlian Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Memiliki Keahlian Wirausaha

“Saya mendukung atas digelarnya acara seperti ini, dengan tujuan supaya lulusan pesantren tidak plonga-plongo (bodoh: Bahasa Cirebon). Dengan bekal kewirausahaan maka seorang santri mampu berperan secara mandiri demi kepentingan masyarakat,” ungkap kiai yang juga Rais Syuriyah PCNU kabupaten Cirebon tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Ahmad Saekhu, Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) kabupaten Cirebon yang merupakan salah satu pembicara seminar mengungkapkan bahwa lima kunci wirausaha adalah hal-hal yang biasa dan tak asing dalam keseharian para santri di dunia pesantren, yakni mimpi, niat, rencana, pelaksanaan, dan tekun. 

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan seminar bertema membangun jiwa wirausaha di tengah-tengah dunia global ini digelar bersamaan dengan peringatan haul sesepuh al-marhumin Pesantren An-nasuha Kalimukti kabupaten Cirebon, sekaligus salah satu pelaksanaan santunan buku tulis bagi santri kurang mampu yang telah dicanangkan oleh PC. IPNU – IPPNU kabupaten Cirebon dalam gerakan sejuta buku tulis untuk dhuafa yang digalang semenjak dua bulan yang lalu.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, RMI NU, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 September 2017

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

Tangerang Selatan, Belajar Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) Cabang Ciputat menggelar diskusi di Kafe Kuy, Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (16/8), dengan tema “Religiusitas dalam Media Siber, Menggapai Cahaya Kemerdekaan”.

KH Ahmad Shodiq sebagai narasumber pada kesempatan tersebut mengingatkan bahwa siber itu sangat penting. Hal ini mengingatkannya pada para wali dulu yang berdakwah menggunakan berbagai media sebagai alat penyampainya.

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

“Siber sebagai alat penting, karena para awliya kita bermain alat,” ujarnya.

Siber saat ini menurutnya seperti syairnya Syaikh Hamzah Fansuri. Penulis Zinatul Muwahhidin itu sangat menginspirasi para sastrawan Indonesia. Mengutip Abdul Hadi WM, sastrawan saat ini tidak bisa lepas dari Hamzah Fansuri. Ketokohan Mursyid Tarekat Qodiriyah itu tidak diragukan lagi, mengingat Sunan Ampel saja menitipkan muridnya, yakni Sunan Derajat.

Belajar Muhammadiyah

Hamzah Fansuri sebagai seorang sufi, menggunakan syair sebagai media dakwahnya. Hal ini dilanjutkan oleh Syamsuddin Al-Sumatrani dan Raja Ali Haji pada akhir abad ke-19. Sunan Bonang memainkan degung pada saat itu. Sunan Kalijaga memainkan wayang sebagai alatnya berdakwah. Maka Kiai Shodiq berkesimpulan, siber adalah alat dakwah layaknya alat-alat lainnya yang digunakan oleh para wali terdahulu.

“Posisi siber, saya kira sama dengan dulu para awliya,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Syekh Berni Ahmad mengatakan, bahwa siber sebagai hilir, sedangkan hulunya adalah akhlak. “Media siber adalah hilir, sementara hulunya adalah akhlak,” ujar pria yang mengaku masih mutasyabih dengan murid Tarekat itu.

Senada dengan keduanya, pendiri Tasawuf Underground Abdul Halim Ambiya mengutip pernyataan, ath-thariqatu khoirun minal madah, metode itu lebih penting daripada materi. “Kalau anak pesantren tidak masuk di medsos, bahaya!” tegasnya.

Pria yang berbaiat tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Abah Anom itu mengingatkan, bahwa para pemuda yang bertarekat harus masuk ke dunia siber itu dengan menggunakan bahasa-bahasa anak zaman sekarang. “Pemuda bertarekat harus masuk dengan bahasa gaul,” ujarnya.

Lain halnya dengan Kapolsek Ciputat Kompol. Tatang Syarif. Pria yang tinggal menunggu waktu purnanya itu mengingatkan agar para pemuda Islam menjaga NKRI, sebab negara Indonesia ini didirikan oleh orang-orang Islam. Dari sembilan panitia inti persiapan kemerdekaan Indonesia, delapan di antaranya orang Islam.

“Mari, kita jaga NKRI!” kata polisi yang mengaku sempat tinggal di pesantren selama enam bulan itu.

Kegiatan ini diawali dengan dzikiran dan maulidan bersama diiringi hadrah Himpunan Qari-Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, para peserta datang dari berbagai latar belakang organisasi di Ciputat. (Syakir NF/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Olahraga, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 September 2017

Ayahanda Prof Nasaruddin Umar Dikebumikan Hari Ini

Makassar, Belajar Muhammadiyah

Almarhum Haji Andi Muhammad Umar, ayah mantan katib ‘aam PBNU yang kini menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar dikebumikan hari ini Jumat (1/4) sekitar pukul 10.00 WITA di pemakaman keluarga di Desa Ujung, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Andi Muhammad Umar mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Grestelina, Jalan Hertasning Baru, Kota Makassar, Kamis (31/3), pukul 06.30 WITA.

Ayahanda Prof Nasaruddin Umar Dikebumikan Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayahanda Prof Nasaruddin Umar Dikebumikan Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayahanda Prof Nasaruddin Umar Dikebumikan Hari Ini

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Bone Ali Arham mengatakan, sebelumnya jenazah berada di Kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung-Bone dan dishalati di Masjid Raya Makassar.

Belajar Muhammadiyah

Almarhum lahir di Bone pada tanggal 16 Juni 1936. Andi Umar merupakan perintis Pesantren Modern Al-Ikhlas Ujung Bone yang dibangun putranya, Nasaruddin Umar yang juga Anggota Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar.

Belajar Muhammadiyah

Mantan kepala sekolah SDN 94 Ujung tersebut meninggalkan lima anak laki-laki dan seorang perempuan. Sementara istri almarhum lebih dulu berpulang ke rahmatullah. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Pahlawan, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock