Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Belajar Muhammadiyah. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Belajar Muhammadiyah

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Belajar Muhammadiyah

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim

Tegal, Belajar Muhammadiyah - Momentum Ramadhan berkah dimanfaatkan oleh pelajar NU Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal untuk berbagi bersama anak yatim. Kegiatan ini diwujudkan melalui acara buka puasa bersama dan santunan anak yatim di MDTA Miftakhul Ulum Dukuhjati Wetan Kecamatan Kedungbanteng, Sabtu (17/6).

Hadir dalam kegiatan itu, pimpinan ranting se-Kecamatan Kedungbanteng, para alumni serta Pembina. Pihak panitia juga mengundang lintas organisasi antara lain Ikatan Pelajar Muhammadiyah setempat.

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Pelajar NU Kedungbanteng Berbagi dengan Puluhan Yatim

Ketua IPPNU Kedungbanteng Rina Sugiarti mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi dan berbagi dengan sesama serta untuk menunjukan rasa solidaritas yang tinggi rekan-rekanita IPNU-IPPNU.

"Kegiatan diikuti 30 anak yatim piatu dari warga setempat. Mereka kita berikan sekedar santunan dan bingkisan berupa uang dan alat tulis. Semoga bisa bermanfaat," ujar Rina.

Belajar Muhammadiyah

Ketua IPNU Kedungbanteng Khoirul Mualimin menambahkan, pelajar NU harus berbagi dengan sesama dan perlu ditanamkan rasa kepedulian sejak dini kepada anak yatim piatu yang notabenya tidak memiliki orang tua.

Belajar Muhammadiyah

"Sebagai Pelajar NU, hendaknya kita mampu berbagi dengan anak yatim. Setidaknya untuk untuk membahagiakan mereka (anak yatim)," ungkapnya.

Sejumlah Alumni dan pembina menyampaikan apresiasi dengan adanya kagenda yang menarik ini. "Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Kedungbanteng perkembangannya sangat luar biasa. Walaupun dengan kegiatan sederhana namun mampu menunjukkan daya tarik dan solidaritas sesama anggota," kata mantan Ketua IPPNU Tegal Lutfatun Nihlah sekaligus alumni IPPNU Kedungbanteng. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Bandar Lampung, Belajar Muhammadiyah?

Saatnya kader NU segera kembali menelaah untuk memahami metode dakwah yang bijak dan menyebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang karakter dakwah Aswaja yang selalu mengikuti karakter dakwahnya Rosulullah SAW.

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Ramah Harus Sampai Ke Masyarakat

Koordinator Laskar Sarungan, Lampung, Aryo Musthofa di Bandar Lampung, Senin (7/11) menyatakan prihatin sehubungan masyarakat dicekoki dengan berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

"Media intoleran sudah banyak memelintir kejadian dengan tanpa akhlak menjadi berita yang provokatif, contohnya adalah penghasutan berita Rapat Akbar Reaktualisasi Resolusi Jihad di PP Tebuireng yang dihasut sebagai perintah makar," kata pria yang akrab disapa Gus Aryo.

Semua warga negara Indonesia yang baik, katanya, sepatutnya ikut andil dengan kontribusi positif terkait agenda "perang" yang digaungkan kelompok-kelompok anti NKRI untuk mempertahankan aqidah aswaja dan kebangsaan.

"Kader NU memiliki tanggung jawab sosial untuk meluruskan cara dakwah media yang sebenarnya," tegasnya.

Belajar Muhammadiyah

Dia berharap seluruh kader NU saling bersatu untuk tetap berpegang teguh dengan prinsip dakwah aswaja atau Ahlussunnah wal Jamaah.

"Dakwah aswaja adalah dakwah dengan mengedapankan pendekatan hati dan akhlaqul kariimah. Seluruh kader harus memiliki karakter dakwah ini sehingga menjadi penyeimbang media dakwah yang provokatif dan tak berakhlak," katanya.

NU sendiri sudah ? memegang teguh prinsip aswaja ini dengan menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin, baik di dalam dan luar negeri sebagai khidmat untuk bangsa Indonesia. (Ahmad Saroji/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin mengatakan tanggungjawab NU kian besar. NU bukan hanya punya tanggungjawab keumatan, tetapi tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap kebangsaan dan tanggung jawab terhadap NU itu sendiri serta kepada para Ulama.

Menurut Kiai Maruf, kenapa NU bertanggung jawab kepada umat, karena ketika menjelang wafat, Rasul SAW pun hanya mengkhawatirkan umatnya. Rasul tidak mengkhawatirkan istri dan anak-anaknya tapi berpesan bagaimana dengan umatnya.

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

"Pesan Rasul, ummatii, ummatii, ummatii. Jadi tanggung jawab besar NU bagaimana menjaga dan memelihara umat karena siapa yang mengabdi untuk umat, Insyaallah akan ditinggikan derajatnya," kata Kiai Maruf dalam taushiyah pelantikan PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (26/4).

Untuk itu, Kiai Maruf mengingatkan bahwa tugas Ulama menyiapkan generasi-generasi Ulama juga serta tokoh-tokoh perubahan. Sehingga Ulama jangan hanya dipesantren tapi harus terjun ditengah masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

NU pun, ucap Kiai Makruf, memiliki tanggung jawab juga terhadap sejarah karena pendiri Indonesia adalah NU. Maka NU wajib memelihara dan menjaga NKRI sehingga siapa saja yang mengancam Indonesia akan berhadapan dengan NU.

"Selanjutnya tanggung jawab NU terhadap ulama karena NU organisasinya para ulama. Sehingga ulama NU harus beraqidah Ahlussunah wal Jamaah yang An-Nahdiyah jangan Aswaja tapi harokahnya beda. Jangan sampai mengaku NU, berakidah Aswaja tapi harokah (gerakan)-nya wahabi dan khawarij," tuturnya. 

Setelah memberi taushiyah di Pelantikan, KH Makruf meresmikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Badak Paeh Singaparna. Di sana ia meminta Ketua PWNU Jabar, KH Hasan Nuri Hidayatullah untuk menjadikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya sebagai Gedung Kantor percontohan di Jawa Barat. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah IMNU, Sejarah, Berita Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri

Jombang, Belajar Muhammadiyah?

6.000 santri yang awalnya diperkirakan panitia mengikuti apel dan kirab santri di Jombang, mengalami peningkatan yang berlipat, hingga dipastikan sebanyak 40.000 santri bakal ramaikan apel dan kirab santri pada 22 Oktober 2016.?

Jumlah ini diketahui saat panitia kegiatan hari santri nasional (HSN) dengan sejumlah perwakilan pondok pesantren se-Jombang dan pihak sekolahan melakukan rapat koordinasi akhir di aula PCNU Jombang, Rabu (19/10).?

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Apel dan Kirab Santri di Jombang Bakal Diikuti 40.000 Santri

Muslimin Abdilla, koordinator panitia kegiatan mengungkapkan, jumlah yang tak sedikit itu menunjukkan antusiasme santri di Jombang luar biasa. Ia berharap masing-masing pondok pesantren dapat membantu mengordinir santri dalam hal pemberangkatan hingga di lokasi apel dan kirab yang sudah ditentukan panitia.?

"Kami panitia berharap ada partisipasi yang baik dari setiap pondok pesantren se-Jombang," ujarnya saat memimpin rapat koordinasi.?

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, 40 ribu santri yang berjalan kaki dari lokasi apel mengikuti rute kirab dalam rangka memperingati hari santri nasional (HSN) itu memiliki nilai luhur, yakni membangun persatuan dan kekuatan santri. Terlebih lagi persatuan dan kesatuan itu adalah ruh dari sejarah resolusi jihad yang melatar belakangi ketetapan HSN ini.?

"Mari kita sukseskan bersama-sama, ini adalah momentum menciptakan persatuan antar santri juga antar pesantren," ucap dia.

Terkait keamanan saat dilangsungkannya apel dan kirab, dirinya sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub), pemerintah daerah, juga pihak lain yang terkait. "Kita juga sudah koordinasi dengan pemerintah daerah, pihak kepolisian, Dishub dan pihak terkait untuk kesuksesan. Ini sudah dilakukan hari ini," katanya.?

Sementara Subandi, koordinator kegiatan apel santri memberi kesempatan kepada seluruh santri untuk berkreasi yang disesuaikan dengan khas setiap pondok pesantren. Khususnya dari sisi pakaian. "Yang penting santri harus sarungan, prihal lain tidak apa-apa tidak sama sesuai kreasi setiap pondok," ujarnya.?

Belajar Muhammadiyah

Namun ia berharap para santri yang diutus dari setiap pesantren dapat dikoordinir dengan baik hingga sesuai dengan waktu yang sudah disepakati bersama. "Pukul 07.00 WIB diusahakan sudah berada di lapangan alun-alun Jombang," tuturnya.?

Di waktu yang sama, Khusen, koordinator kegiatan kirab santri, menjelaskan bahwa usai mengikuti apel, para santri akan bergerak ke depan masjid Baitul Mukminin Alun-alun Jombang sebagai start pemberangkatan kirab.?

"Santri akan menuju jalan Wahid Hasyim, sampai ringin contong, belok kanan menyusuri jalan Gus Dur hingga stadion Jombang. Kemudian santri akan masuk stadion dari pintu sebelah barat," jelasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

“Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima,” kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Belajar Muhammadiyah

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Sejarah, Sholawat Belajar Muhammadiyah

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke Belajar Muhammadiyah, Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) menerangkan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 41 ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. ?

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Kritisi Pemerintah yang Menganakemaskan PGRI, Mengapa?

Pengertian independen antara lain:

1. Organisasi profesi tidak berafiliasi atau merupakan kelengkapan aparatur pemerintah,?

2. Keberadaan masing-masing organisasi profesi guru, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) adalah setara. Dengan demikian, pemerintah harus memperlakukan semua organisasi profesi guru harus adil dan tidak memihak (equal treatment).

Belajar Muhammadiyah

3. Pemerintah tidak diperbolehkan memberikan fasilitas secara sepihak kepada organisasi profesi guru tertentu, misalnya: melakukan pemotongan gaji para guru untuk kepentingan organisasi profesi guru tertentu, memberikan kemudahan kepada pihak tertentu, sementara lainnya tidak, dan sebagainya.

Ketika perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2016 ini, ternyata pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) memberikan keistimewaan pada PGRI dengan menuliskan Hari Ulang Tahun PGRI pada logo HGN 2016, maka sudah barang tentu hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagaimana tersebut di atas.

Jika dalam penulisan “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016 tersebut, pemerintah mendasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang penetapan Hari Guru Nasional (HGN), maka hal ini adalah tidak benar, karena:

1. Dalam tata hukum di Indonesia, kedudukan Undang-Undang sudah barang tentu adalah lebih tinggi daripada Keputusan Presiden.

Belajar Muhammadiyah

2. Disamping itu, dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tersebut, ternyata dari 3 amar atau poin keputusannya tidak satupun menyebutkan “HUT PGRI”, kecuali pada aspek pertimbangan/konsideran saja.

3. Pemerintah tidak boleh merayakan HUT sebuah organisasi profesi tertentu, yaitu PGRI (yang berdasarkan Undang-Undang seharusnya independen) dengan menggunakan fasilitas negara, baik sumber-daya uang maupun lainnya yang memberati keuangan negara. ? Dengan kata lain, biarkan PGRI merayakan sendiri hari ulang tahunnya, seperti halnya organisasi profesi guru lainnya, bukan dengan membebani sumber-daya negara.?

Berdasarkan hal tersebut, kami Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) meminta kepada pemerintah (cq. Ketua Panitia Hari Guru Nasional 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) untuk segera mencabut kalimat atau frase “HUT PGRI ke 71” pada logo HGN 2016.?

Demikian pula halnya dengan berbagai atribut, dokumen, rekaman suara, dan lainnya dalam event HGN 2016 yang mengindikasikan tentang HUT PGRI ke 71.

Dalam kesempatan ini, Pergunu yang kembali dinahkodai oleh Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengusulkan perlunya dilakukan peninjauan kembali terhadap Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional agar tidak terjadi salah tafsir bagi sebagian pihak.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Nahdlatul, Tegal Belajar Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Demi meningkatkan kulitas peserta didik baru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tholabul Hidayah Toblongan Kecamatan Bojongasih Kabupaten Tasikmlaya ini bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Tasikmlaya kenalkan dan Tanamkan Aswaja NU Sejak dini.

Kegiatan ini dimulai dari saat Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) di MTs pertama di Desa Toblongan, Senin-Jumat (18-23/07) di MTs Tholabul Hidayah, langsung dipandu oleh Tim Fasilitator dari PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya.

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ini Gandeng IPNU Tanamkan Aswaja Sejak Dini

Kepala Sekolah MTs Tholabul Hidayah Eris Zamzmam Noor saat ditemui di Kantor MTs Jumat (23/07) menuturkan bahwa Agenda pengenalan NU sejak dini ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Peserta didik di MTs ini khususnya dan masyarakat Toblongan pada umumnya.

“Pelajar kita harus didik kenalkan dan tanamkan jiwa Ke NU annya sehingga pemuda di masa yang akan datang dengan karakter yang berkualitas karena sudah mengenal perjuangan para ulama. Disamping itu penanaman jiwa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga kita prioritaskan sebagai aqidah kita,” ujar Eris.

Perjuangan Pelajar NU ini merupakan gerbang awal di Nahdlatul ulama, dan sangat penting untuk mengenalkan dan mengawal pelajar NU di masa dini, untuk bisa menjadikan kader-kader yang potensial.

Belajar Muhammadiyah

Tim Fasilitator PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya Ilyas Nuryasin mengatakan, IPNU Kabupaten Tasik di masa Orientasi awal tahun pelajaran ini berusaha bersilaturahmi dan merekrut anggota baru di banyak sekolah di Kabupaten Tasikmlaya dengan bantuan pengurus PAC di seluruh Kabupaten Tasikmalaya.

“Kami berharap program ini sebagai ajang silaturahmi kader IPNU dari berbagai tingkatan sampai tingkat komisariat. Road show di masa orientasi ini sebagai bentuk silaturahmi ke sekolah-sekolah. Ke depan kita akan Road Show ke Pesantren di 39 Kecamatan di Tasikmalaya,” terang Eris. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian, Sejarah, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat

Indramayu, Belajar Muhammadiyah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah wafat KH Afandi Abdul Muin Syafii (78) yang akrab disapa Abah Afandi. Ia meninggal dunia, Rabu (13/7) sekitar pukul 07.30 WIB. Abah Afandi merupakan salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat.

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Abah Afandi Kiai Sepuh NU Jawa Barat Wafat

Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ini adalah santri di Pondok Pesantren Tebuireng era Hadlratussyekh KH Hasyim Asyari dan pesantren Tambakberas era KH Wahab Chasbullah.

Selain mendedikasikan diri pada NU, penulis Kitab Risalah Al-Muin fi Aqoid Al-Khomsin ini juga dikenal sebagai kiai yang memeberikan ijazah kitab dzikir pusaka kiai NU, yaitu kitab Dalail Khoirot. Pada pertengahan Ramadhan lalu, Abah Afandi sempat dikunjungi oleh Kapolri Badrodin Haiti dan Menkopolhukam Luhut Panjaitan.

(Baca:? Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba)

Semasa hidup, Abah Afandi juga termasuk kiai yang akrab dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak muda, aktif berdakwah di berbagai daerah dan lingkungan yang belum tersentuh oleh para dai.

Belajar Muhammadiyah

Jenazah Abah Afandi akan dikebumikan di komplek Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, pukul 14.00 WIB. Beliau meninggalkan seorang istri, 7 putra, 1 putri, dan 14 cucu. (Abdul/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Sejarah, Olahraga Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Berani untuk Tidak Menjawab

Oleh Sahal Japara





Berani untuk Tidak Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Berani untuk Tidak Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Berani untuk Tidak Menjawab

Akhir-akhir ini, sering kali muncul anggapan bahwa seorang ustadz atau ulama, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dan menyelesaikan segala persoalan. Segala hal ditanyakan, dari persoalan keagamaan, politik, sampai fenomena alam. Seolah-olah para ustadz dan ulama selalu tahu segala hal. 

Bagaimana hukumnya ini dan itu? Bagaimana solusi atas persoalan ini dan itu? Bagaimana caranya mengatasi banjir dan tanah longsor? Bagaimana caranya menata kota supaya tidak macet? Adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh khalayak kepada para ustadz atau ulama. Dan anehnya, masih ada saja, ustadz atau ulama yang berani menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan kapasitas mereka untuk menjawabnya.

Ketika seseorang yang bukan ahlinya dimintai pertimbangan atau jawaban atas sebuah permasalahan, tentu jawabannya akan lahir tidak didasarkan kepada ilmu. Dan ini sangat berbahaya, bagaikan orang buta meminta dituntun oleh orang buta. 

Belajar Muhammadiyah

Ustadz atau ulama, adalah ahli agama, meskipun ada juga yang memiliki keahlian lain. Jika seorang yang ahli agama ditanyai tentang urusan yang bukan ahlinya, seperti sebab-sebab banjir, atau peristiwa alam yang lain, dan dimintai solusi atasnya, tentu jawabannya akan didasarkan kepada hal-hal yang bersifat agamis, seperti: banjir datang karena kita sering maksiat, dan solusinya supaya tidak banjir adalah kita beristighfar, bertaubat dan berdoa kepada Allah agar tidak menurunkan banjir.

Jawabannya bagus, sarat akan nilai religius, tapi kurang pas untuk dijadikan sebuah jawaban riil yang mampu menyelesaikan problematika masyarakat. 

Menurut Mbah Sholeh Darat, orang yang mengurus sesuatu yang bukan urusannya itu sama halnya seperti orang ghasab, sebab menggunakan sesuatu yang bukan miliknya, dan itu tidak diperkenankan oleh agama. 

Belajar Muhammadiyah

Mbah Kiai Sahal, dahulu mencetuskan gagasan Ijtihad Jamai, yakni sebuah ijtihad dalam menjawab persoalan umat, yang dilakukan secara kolektif dengan menghadirkan tokoh-tokoh dan pakar-pakar di bidangnya masing-masing. Artinya, sebuah fatwa fiqih atau keputusan hukum, tidak hanya lahir dari seorang kiai, tetapi juga dilahirkan secara bersama-sama dengan berbagai pakar yang terkait dengan persoalan tersebut. Jika di bidang kesehatan, maka harus mendatangkan dokter. Jika di bidang pendidikan, maka harus mendatangkan guru dan praktisi pendidikan.

Upaya mengumpulkan pakar menjadi satu, untuk memecahkan sebuah persoalan, merupakan sebuah pertanda bahwa Kiai Sahal memandang adanya kekurangan dalam diri ustadz, ulama, atau kiai yang harus dilengkapi oleh yang lain. Atau ada hal-hal yang memang tidak bisa dijawab oleh mereka, sehingga harus dipasrahkan kepada orang lain. 

Imam Ahmad bin Hanbal, ulama besar Islam yang terkenal di bidang hadits dan fiqih saja, ketika ditanyai persoalan-persoalan yang sesuai dengan kapasitasnya, seringkali menjawab: aku tidak tahu (? ? ? ?), aku tidak pernah mendengar tentang hal itu (? ?), aku tidak berani berfatwa tentang hal itu (? ? ? ? ?), bertanyalah kepada orang lain (? ?), bertanyalah kepada para ulama (? ?), ini sebuah persoalan yang sulit (? ?), aku ingin selamat (? ?), maaf aku tidak bisa menjawab (? ? ?).

Sekelas Imam Ahmad yang kitab-kitabnya dijadikan referensi inti kajian-kajian keislaman saja jawabannya sedemikian hati-hati, padahal pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat sesuai dengan kapasitas dan bidang beliau. Apalagi kita yang bukan siapa-siapa? Tentunya harus lebih sangat amat ekstra hati-hati. 

Semoga kita semua senantiasa diberikan keberanian untuk tidak menjawab atau berkomentar, di zaman siapa pun bebas berkomentar dan berfatwa, atas persoalan yang bukan kapasitas kita untuk menjawabnya.

Sebab, orang yang paling berani dan sembarangan dalam berfatwa, adalah orang yang paling berani masuk neraka.

? ? ? ? ? ?.... 





Wallahul mustaaaaan....





(Penulis adalah Alumni Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Daerah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Pendaftar Mudik Gratis Bareng NU Membludak Sejak Subuh

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Program mudik gratis bareng Nahdlatul Ulama (NU) selalu menyedot antusiasme warga setiap tahun. Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini juga pendaftar sudah tiba di Gedung PBNU sejak waktu subuh. Padahal pendaftaran baru dibuka pukul 09.00 WIB.

Pendaftar Mudik Gratis Bareng NU Membludak Sejak Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendaftar Mudik Gratis Bareng NU Membludak Sejak Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendaftar Mudik Gratis Bareng NU Membludak Sejak Subuh

“Bahkan ada sejumlah orang yang sudah tiba sejak setelah sahur,” ujar Wakil Sekretaris Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU yang juga Panitia Mudik Gratis Ali Shobirin, Sabtu (3/6) sambil melayani pemudik mengisi formulir pendaftaran.

Dengan tertib, ribuan pendaftar mengambil kupon untuk ditukarkan formulir dan mengisinya di tempat. Para panitia terlihat sibuk melayani para penukar kupon dan formulir. Panitia dibagi atas beberapa zona, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan Lampung.

Sebelum mendapatkan kupon, para calon pemudik antri mengular di halaman gedung PBNU. Mereka diarahkan menuju lantai dua gedung PBNU setelah mendapatkan kupon.

?

Belajar Muhammadiyah

Situasi kondusif betul-betul diciptakan oleh panitia dengan menggandeng bagian keamanan PBNU. Calon pemudik harus membawa identitas seperti KTP dan kartu keluarga sebagai persyaratan wajib mendapatkan kupon dan formulir pendaftaran.

Panitia Koordinator Lapangan Mujahidin menerangkan, program mudik gratis yang digawangi LTM PBNU pihaknya upayakan selalu dalam pengelolaan terbaik, tertib dan memuaskan para pemudik.

“Bus yang kami sediakan ber-AC, kami juga nanti menyediakan menu berbuka bagi para pemudik,” jelas Mujahidin.

Belajar Muhammadiyah

Tahun 2017 ini, panitia menyediakan total 2400 kursi atau sekitar 40 bus menuju ke sejumlah kota di Indonesia yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta beberapa kota di Lampung.

Setelah para calon pemudik mendapatkan formulir, proses selanjutnya penjukaran tiket. Penukaran formulir dengan tiket dilakukan pada 10 Juni 2017, sedangkan pemberangkatan mudik dilaksanakan pada Ahad, 18 Juni 2017. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah, Nasional Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya

Rembang, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Sulang, Rembang, Jawa Tengah satu bulan terakhir giat melakukan kaderisasi di desa-desa di Kecamatan Sulang. Terbukti dengan terbentuknya kepengurusan baru di Ranting Pomahan dan Ranting Pedak.

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Idul Adha, Pelajar Nu Sulang Napak Tilas Makam Auliya

Untuk mempererat tali silatirahmi antar anggota IPNU-IPPNU se Anak Cabang Sulang, pengurus mengadakan kegiatan napak tilas dan ziarah di petilasan Sunan Bonang dan Makam Putri Campa. "Napak tilas dan ziarah ini merupakan salah satu upaya dari pimpinan anak cabang Sulang untuk menjaga keutuhan silaturahmi antar anggota PAC dan Pimpinan Ranting,” ungkap Rohmad, Ketua Panitia kegiatan.

Rangkaian napak tilas dan ziarah diawali dari Maqom Sunan Jejeruk, Wisata Watu Layar, Pasujudan Sunan Bonang dan terakhir di Maqom Putri Campa.

Sanuri, Pembina IPNU Sulang juga turut mendampingi napak tilas dan ziarah yang dilaksanakan pada hari Ahad, 4 september 2016. Menurutnya kegiatan seperti diniati untuk ngalap berkah kepada para wali Allah SWT yang telah menduhului.?

Belajar Muhammadiyah

“Ziarah ke Makam para Auliya sebagai pengingat kembali semangat dakwah para auliya khususnya Sunan Bonang yang telah menyebarkan agama islam di wilayah Lasem, Tuban dan sekitarnya kala itu dan menjadi momentum menyemarakkan datangnya Hari Raya Idul Adha 1437 H untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT," jelasnya.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 150 pengurus dari Pimpinan Ranting Kaliombo, Glebeg, Kunir, Tanjung, Pragu, Seren, Pedak, Landoh, Kebonagung, dan Pimpinan Komistariat SMK An-Nuroniyyah Kemadu. "Saya rasa kegiatan semacam ini sangatlah bermanfaat dan mengasyikan, dan saya juga baru pertama kali ke sini," ungkap anggota IPNU, Khoirul Ummah salah satu siswa SMK Annuroniyyah Kemadu. (M. Ulin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, News, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..., Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula Ploso Kuning, Yogyakarta, KH Aliy Asad MM berpulang ke rahmatullah di RSUP Dr Sardjito pada Rabu (3/2) sekitar pukul 14.30 WIB.

Berita tersebut dibenarkan Ketua PBNU KH Imam Azis di gedung PBNU, Jakarta Rabu (3/2). “Kita mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Kiai Aliy As’ad,” katanya. ?

Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang

Menuru Imam, Kiai Aliy adalah salah seorang tokoh NU di kota gudeg. Ia merupakan salah seorang pengelola majalah PWNU DIY pada zaman KH Ali Ma’sum masih hidup.

Belajar Muhammadiyah

Tak hanya itu, ia juga menerjemahkan belasan kitab ke dalam bahasa Indonesia, di antara yang diketahui Imam adalah Alfiyah dan Fathul Wahab.

Belajar Muhammadiyah

“Dua kitab itu yang saya tahu. Saya pernah bersama dia dalam sebuah mobil dan dia mengedit terjemahannya,” lanjutnya.

Kiai Aliy lahir di Kudus, Jawa Tengah. Kemudian tinggal di Yogyakarta. Di kota itu, selain aktif di NU, ia aktif juga di politik, pernah menjadi anggota DPRD dari PPP pada zaman Orde baru. Setelah Reformasi, ia pernah aktif di PKB dan menjadi anggota DPR/MPR RI periode 1999-2004.? (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

Oleh Muhammad Ishom

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum, Ayat 21:

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian semua istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat di atas cukup populer dan sering dibacakan oleh para qari’ dalam acara resepsi perkawinan. Demikian pula para kiai atau ustadz juga sering mengutip ayat itu untuk memberikan wejangan atau taushiyah kepada pengantin baru yang sedang melaksanakan walimatul ‘ursy.

Tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah refleksi dari perkawinan kami yang pada tanggal 28 September lalu merupakan ultah perkawinan kami yang ke-25, atau sering disebut ultah perkawinan perak. Refleksi ini juga saya maksudkan sebagai sharing pembelajaran tentang hidup berumah tangga kepada para pemuda yang belum atau akan menikah; sekaligus mengingatkan kembali komitmen para pasutri (pasangan suami istri) dalam membangun rumah tangga.

Belajar Muhammadiyah

Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa 25 tahun lalu kami memulai hidup baru. Tetapi pernikahan kami tidak melalui proses berurutan sebagaimana lazimnya di zaman sekarang, yakni: cinta – perkawinan – seks. Terus terang hubungan kami berawal dari perkawinan, seks, lalu cinta. Jadi kami menikah dulu tanpa pacaran dan langsung menjadi suami istri.

Pertanyaannya adalah proses atau pola urutan manakah yang lebih sesuai dengan tuntunan Islam dalam membangun rumah tangga? Apakah seperti yang lazim di masyarakat di zaman sekarang, yakni cinta - perkawinan – seks, ataukah seperti pengalaman kami yang itu sering terjadi di zaman dulu, yakni perkawinan - seks - cinta?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita kembali pada ayat yang di awal telah saya sebutkan. Ayat tersebut akan saya uraikan sesuai dengan kandungan maknanya. Secara sederhana dapat saya uraikan bahwa ayat di atas memiliki sedikitnya 3 (tiga) makna penting sebagai berikut:

1. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri.”

Salah satu makna terpenting dalam penggalan ayat ini adalah bahwa sebuah rumah tangga diawali dengan perkawinan. Tidak boleh sebuah rumah tangga diawali dengan seks tanpa perkawinan, karena inilah yang disebut kumpul kebo. Kumpul kebo itu sendiri seringkali barawal dari cinta. Oleh karena itu kita patut berhati-hati dengan cinta yang datangnya sebelum perkawinan karena ia bisa menjerumuskan jika tidak dikelola dengan baik.

Sudah banyak terjadi apa yang sering disebut dengan “kecelakaan” di mana seorang perempuan mengalami kehamilan, atau seorang laki-laki menghamilinya sebelum perkawinan. Ini artinya mereka telah menempatkan seks sebelum perkawinan. Jelas hal ini tidak sesuai dengan penggalan ayat di atas yang menegaskan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan keluarga atau rumah tangga dimulai dari perkawinan.

Melalui perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan akad nikah dengan syarat dan rukun tertentu. Sekali lagi prosesi perkawinan merupakan awal terbentuknya rumah tangga di mana hubungan mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan kemudian menjadi hubungan suami istri secara sah. Hubungan ini penting karena memberikan legitimasi terbentuknya sebuah rumah tangga sebagai tempat berlabuh untuk mencapai ketentraman hidup atau yang disebut dengan kehidupan yang sakinah.

2. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Allah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Penggalan ayat di atas mengandung makna bahwa tempat berlabuh berupa rumah tangga dimaksudkan oleh Allah agar manusia dapat mencapai ketenteraman hidup atau kehidupan yang sakinah. Kita semua tahu bahwa manusia dianugerahi Allah SWT dengan syahwat atau hawa nafsu sebagaimana dinyatakan dalam penggalan ayat 14 dalam Surah Ali Imran berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ....

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...”

Penggalan ayat di atas menegaskan bahwa dalam hidup ini manusia dibekali dengan nafsu tertentu, seperti laki-laki memiliki kecenderungan untuk menyukai perempuan dan sebaliknya perempuan memiliki kecenderungan menyukai laki-laki. Mereka juga cenderung menyukai anak-anak sebagai darah dagingnya sendiri. Untuk itulah maka manusia dibekali dengan nafsu seks untuk mendapatkan keturunan. Nafsu seks seperti itu harus mendapatkan tempat penyaluran yang benar, yakni dengan memiliki pasangan hidup yang disebut istri atau suami melalui perkawinan.

3. ? ? ? ?

Artinya: “Dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Dengan adanya tempat berlabuh yang jelas melalui perkawinan yang sah, maka di situlah nafsu seks yang kemudian berkembang menjadi rasa kasih atau cinta birahi menemukan salurannya secara benar. Cinta birahi (mawaddah) adalah rasa kasih yang pengungkapannya melalui seks. Sebagaimana diuraikan di atas, seks itu sendiri hanya boleh disalurkan setelah perkawinan. perkawinan tanpa seks sulit untuk mencapai cinta, dan seks tanpa perkawinan adalah perzinahan dan tidak akan menghasilkan cinta sejati yang dalam bagian ayat itu disebut sayang (rahmah). Sayang atau cinta sejati atau rahmah menjadi puncak dari perkawinan dan seks.

Dengan demikian berdasarkan pada Surah Ar-Rum, ayat 21, saya berkesimpulan proses atau pola urutan membangun rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah perkawinan – seks – cinta.

Apa yang saya uraiakan di atas secara tidak langsung menegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal pacaran dimana laki-laki dan perempuan menjalin hubungan dengan dorongan cinta. Sebagaimana saya uraikan di atas cinta yang tumbuh dan berkembang sebelum perkawinan bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan apabila tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik. Namun demikian, Islam membolehkan ta’aruf, yakni perkenalan antara laki-laki dan perempuan sebatas pada hal-hal mendasar, seperti identitas diri dan asal usul keturunan masing-masing.

Pertanyaannya kemudian, bisakah perkawinan atau pembentukan rumah tangga tanpa ada cinta sebelumnya?

Jawabnya adalah seseorang bisa membangun rumah tangga meski tanpa didasari cinta. Dalam Islam, niat beribadah kepada Allah sesungguhnya merupakan pondasi yang lebih mendasar dan kokoh bagi sebuah perkawinan dari pada sekedar cinta yang sewaktu-waktu bisa meredup di tengah jalan, atau hanya menggebu-gebu di awal, atau bahkan berubah menjadi kebencian yang mendalam. Sebetulnya tidak menjadi masalah ada cinta sebelum perkawinan selama cinta itu dapat dikelola dengan baik, tetapi janganlah cinta itu menjadi hal satu-satunya yang mendasari perkawinan karena sekali lagi ada hal yang lebih luhur dan mulia dari pada sekitar cinta, yakni niat beribadah kepada Allah SWT.

Perkawinan yang didasari ibadah akan menghasilkan cinta sejati yang bersumber dari cinta ilahi. Maka seyogianya ibadah itu menjadi dasar perkawinan dan cinta sejati menjadi puncaknya. Cinta yang tumbuh dan berkembang setelah perkawinan dan seks memang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan cinta yang tumbuh sebelum kedua hal itu. Dalam perkawinan terdapat rahmat Tuhan. Di sana berkah-Nya dilimpahkan kepada suami dan istri karena perkawinan adalah sunnah Rasulullah SAW. Melalui perkawinan terjadilah sebuah revolusi. seks yang sebelumnya diharamkan serta merta dihalalkan dan bernilai idadah karena diperintahkan setelah berlangsung perkawinan. Dengan seks yang diberkati Tuhan, suami dan istri saling membahagiakan untuk mencapai ridha-Nya. Di titik itu cinta insani dan cinta ilahi bertemu, lalu menyatu menjadi cinta seutuhnya – cinta manunggal.?

Semoga apa yang saya sampaikan di atas dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua khususnya dalam kaitannya dengan perkawinan. Kita diingatkan bahwa puncak dari perkawinan adalah cinta. Maka cinta harus selalu ada dan hidup dalam rumah tangga kita karena itu merupakan rahmah atau cinta sejati yang bersumber dari Allah SWT. Jika akhir-akhir ini kita sering mendengar akronim samara, yang merupakan kependekan dari sakinah, mawaddah wa rahmah, maka implementasinya adalah melalui perkawinan – seks – cinta sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rum, ayat 21 di atas.

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, RMI NU, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kontroversi usulan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) mendapat tanggapan dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU). Organisasi yang menaungi 12 ribu lembaga pendidikan NU di seluruh Indonesia ini meminta pemerintah untuk bersikap arif dan bijaksana dengan menggelar UN ulang mengingat banyaknya jumlah siswa yang tidak lulus ujian tersebut.

“Kami minta pemerintah bisa arif dan bijaksana. Beri kesempatan bagi siswa yang tidak lulus untuk ikut ujian (UN) susulan,” kata Ketua Umum PP LP Maarif NU Nadjid Muchtar kepada wartawan di kantornya Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman Timur, Jakarta, Kamis (29/6)

LP Ma’arif NU, kata Nadjid, menilai akan terasa tidak adil jika standar kelulusan seorang siswa diukur dengan UN. Pasalnya, lanjutnya, pendidikan di Indonesia belum merata. “Problemnya kan pemerataan. Di daerah (desa) dan di kota kan tidak sama. Jadi, tidak adil kalau Ujian Nasional itu jadi standar kelulusan,” katanya.

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

Menurut Nadjid, UN seharusnya digelar hanya menjadi alat ukur untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional. ”Unas mestinya untuk alat pemetaan saja, bukan meluluskan siswa. Pihak sekolah, saya kira lebih tahu soal kualitas siswanya,” katanya.

Tak Setuju Tawaran Paket C

LP Ma’rif NU, kata Nadjid, juga tidak setuju tawaran pemerintah tentang penyelenggaraan program Paket C bagi siswa yang tidak lulus. Tawaran tersebut dinilai cukup memberatkan siswa, karena biayanya mahal.

Belajar Muhammadiyah

Nggak usah pake Paket C segala. Paket C itu mahal, Rp 180 ribu biayanya,” ujar Nadjid. (rif)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 15 November 2017

Menaker Hanif Minta Program CSR Perusahaan Bantu Pengembangan SDM

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri mengajak perusahaan-perusahaan di Indonesia agar menyalurkan dana  program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penyelenggaraan pelatihan kerja.

Menaker Hanif Minta Program CSR Perusahaan Bantu Pengembangan SDM (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Hanif Minta Program CSR Perusahaan Bantu Pengembangan SDM (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Hanif Minta Program CSR Perusahaan Bantu Pengembangan SDM

"Kita dorong CSR perusahaan dapat berkontribusi untuk mengembangkan SDM karena strategi pembangunan saat ini telah bergeser dari potensi sumber daya alam menjadi pengembangan SDM yang kompeten, "Menaker M. Hanif Dhakiri saat membuka Indonesia CSR Exhibition 2017 di Jakarta, Jumat (18/8).

Hanif mengatakan pemerintah menyampaikan apresiasi kepada semua  perusahaan yang  telah bersedia menyalurkan CSR-nya bagi masyarakat sekitar. Pemberian CSR tersebut menurutnya merupakan salah satu bentuk dan wujud partisipasi dan kepedulian sosial perusahaan dalam rangka pembangunan kesejahteraan bagi masyarakat yang berada di sekitar lingkungan perusahaan.

Namun kata Menaker Hanif, program CSR bukan hanya sekadar kegiatan amal dari perusahaan kepada masyarakat. Program CSR mengharuskan suatu perusahaan membuat strategi untuk keberlanjutan bisnis namun tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan hidup dan masyarakat sekitar.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, selama ini program CSR kerap berbentuk bantuan fasilitas kesehatan, lingkungan dan sarana tansportasi. Tapi kegiatan tersebut akan lebih tepat guna bila perusahaan fokus memberikan pelatihan untuk mengembangkan sumber daya manusia.

"CSR pada dasarnya bukan semata amal baik perusahaan kepada masyarakat, namun harus memberikan nilai yang lebih. Kita dorong agar membantu pelatihan kerja karena sangat dibutuhkan untuk meningkatkan skill sehingga akses mendapatkan pekerjaan yang lebih layak pun terbuka," kata Hanif.

Dalam pengembangan SDM. Kata Hanif program CSR harus mampu melibatkan warga lokal atau sekitar perusahaan. Sehingga, manfaat CSR turut mengembangan kompetensi SDM warga di sekitar perusahaan. Membantu warga lokal agar bisa meningkatkan akses peningkatan keterampilan kerja  melalui  peningkatan sarana dan prasarana yg didasarkan potensi lokal.

Belajar Muhammadiyah

Lewat pelatihan kerja dan pelatihan vokasional, setiap tahunnya dua juta pencari kerja dapat meperoleh pekerjaan yang layak. Hal itu, kata Hanif, akan berdampak terhadap pengurangan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran.

"Salah satu penyebab kemiskinan adalah kompensasi terhadap tenaga kerja yang tidak punya skill rendah, mereka tidak punya skill karena pendidikannya rendah. Untuk itu dibutuhkan pelatihan kerja dan program pemagangan," kata Hanif.

Hanif juga menambahkan pemberian CSR ini dapat lebih difokuskan untuk mendukung pengembangan wirausaha bagi masyarakat di sekitar kawasan industri. Program CSR bagi wirausaha ini tentunya dapat  mendukung program-program peningkatan kualitas dan kuantitas kewirausahaan di Indonesia yang selama ini  telah dilakukan pemerintah,

"Kita juga mendorong CSR untuk  mengembangkan wirausaha produktif potensi local dan pengembangan produktivitas komunitas lokal. sehingga, terwujud kemandirian komunitas masyarakat dengan adanya CSR," kata Hanif.

Saat ini, Kementerian Ketenagakerjaan sendiri terus mendorong peningkatan kompetensi SDM Indonesia dengan berbagai kebijakan. Seperti, peningkatan akses dan mutu Pelatihan kerja dan pemagangan nasional.

"Untuk mendorong peningkatan kompetensi, kita juga dorong dengan skema pemagangan yang berbasis kompetensi. Bukan (pemagangan yang) hanya fotokopi dan bikin kopi," ujarnya.

CSR merupakan suatu bentuk tanggungjawab perusahaan yang tidak hanya berorientasi menghasilkan keuntungan usaha semata, tetapi perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Baik manfaat ekonomi, maupun manfaat sosial budaya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Apa Bedanya Korma dan Komar?

Dini hari, ketika nyenyak tidur, ponsel berdering nyaring. Ketika saya lihat, muncul nama Kang Rahmat, putra Ajengan Syatibi, guru saya di pesantren. Beberapa saat, saya tak berani mengangkatnya. Di sisi lain, muncul tanya, ada apa gerangan?

Antara aneh dan penasaran, saya angkat telepon itu dengan sedikit gemetar karena jarang sekali kontak-kontakan dengannya.

Apa Bedanya Korma dan Komar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Bedanya Korma dan Komar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Bedanya Korma dan Komar?

Assalamu ‘alaikum, bagaimana kabarnya?” tanya saya dengan merendahkan suara dan membuang kesan ngantuk.

Belajar Muhammadiyah

Tapi dia tak menjawab salam dan kabar saya. Malah tanya balik.

“Apa bedanya korma dan Komar?”

Jantung saya hampir copot saat mendengar pertanyaan yang tak terduga tersebut. Seketika kantuk saya raib. Seumpama diguyur es. Seketika itu pula saya memeras otak untuk menjawabnya.

Belajar Muhammadiyah

“Wah, tak tahu, Kang.”

“Serius tak tahu?”

“Iya.”

“Korma itu bijinya satu. Kalau Komar bijinya dua.”

“Tut..tut..tut..” suara telepon ditutup di seberang. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Sejarah, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Jember, Belajar Muhammadiyah



Mesristek Dikti RI, Muhammad Nasir memompa semangat para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember agar terus belajar dengan rajin.?

Sebab, dengan belajar yang rajin, kelak akan menjadi orang yang bermanfaat. Bermanfaat yang sebesar-besarnya untuk umat dan kemanusiaan adalah capaian yang paling mulia dan besar.?

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

"Jadi, intinya adalah bermanfaat dalam posisi apa pun dan di tempat mana pun," ucapnya di hadapan ribuan santri di Masjid Baitunnur, Kompleks Nuris, Rabu (27/9) malam.

Menurut Nasir, soal pekerjaan adalah soal nomor sekian. Namun yang pasti, belajar yang rajin adalah suatu keharusan, bukan hanya karena menginginkan satu pekerjaan, tapi juga karena belajar adalah kewajiban bagi umat Islam.?

"Saya dulu tak pernah membayangkan akan jadi menteri, tapi karena saya belajar, akhirnya saya ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk jadi menteri," ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Ia mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah santri. Dikatakannya bahwa dunia santri bagi diirinya tak asing lagi. Bahkan pertemuannya dengan santri Nuris tersebut, diakuinya telah mengingatkan memorinya sekitar 40 tahun yang lalu saat dirinya menimba ilmu di sebuah pesantren.?

"Saya dulu juga santri seperti kalian," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengetes ingatan para santri tentang bait-bait kitab Alfiyah. Ia lalu bertanya bunyi awal dan akhir bait kitab Alfiyah. Namun semua santri pada terdiam. Hingga Nasirlah yang yang melafalkan beberapa bait di awal kitab Alfiyah.?

Belajar Muhammadiyah

"Waktu saya nyantri, saya disuruh menghafalkan kitab Imrithy dan Alfiyah," jelasnya. (aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sejarah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 27 September 2017

Kesebelasan Daruttalibin Kalahkan Tim Hidayatus Salikin di Pertandingan Perdana

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah - Liga Santri Nusantara di grup D pada pertandingan pertama mempertemukan kesebelasan Pesantren Daruttalibin-Jawa Timur 2 melawan kesebelasan Hidayatus Salikin-Sumetera 4, Senin (24/10). Laga yang berlangsung di lapangan Stadion Sultan Agung Bantul ini dimenangkan oleh kesebelasan Pesantren Daruttalibin dengan skor 1-0.

Saat peluit panjang dibunyikan, pertandingan kedua tim antara Hidayatus Salikin melawan kesebelsan Daruttaibin berlangsung sengit dan saling serang. Namun kedua tim sama-sama saling kuat menjaga pertahanan masing-masing.

Kesebelasan Daruttalibin Kalahkan Tim Hidayatus Salikin di Pertandingan Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Daruttalibin Kalahkan Tim Hidayatus Salikin di Pertandingan Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Daruttalibin Kalahkan Tim Hidayatus Salikin di Pertandingan Perdana

Kedua tim sama-sama tidak membuat gol pada menit-menit pertama meski saling serang dari kedua tim kerap terjadi. Bahkan di menit pertama para pemain kerap menunjukkan kemampuan dalam berlaga. Tak sedikit pula terjadi pergantian pemain hingga kemudian peluit wasit pertama berbunyi. Babak pertama berakhir dengan skor 0-0.

Pada babak kedua kedua tim mulai mengubah strategi untuk mendapatkan kemenangan. Hal ini tampak dari irama permainan yang sangat hati-hati dan saling memancung pemain lawan untuk naik memanfaatkan serangan balik.

Belajar Muhammadiyah

Pada menit awal babak kedua tak tampak gol. Pada menit ke-39 Nando Hendra S pemain bernomor punggung 7 berhasil menemukan peluang tembakan keras. Tendangannya tidak bisa dijaga penjaga gawang lawan.

Belajar Muhammadiyah

Keteringgalan 0-1 dari PP Daruttaibin, Hidayatus Salikin mulai menaikkan tensi permainan. Serangan demi serangan dilakukan. Tim yang dinakhodai Agus Tri ini tampil dengan serangan sporadis. Namun berkali-kali usahanya tidak membuahkan satu gol.

Permainan yang dipimpin oleh wasit Ali Mustafa ini tak membuahkan hasil. Hingga peluit panjang ditiup, permainan tetap bertahan dengan skor 0-1.

Pelatih PP Daruttalibin Sandri Yardi setelah dikonfirmasi mengaku puas dengan hasil tiga poin itu. Menurutnya, kemenangan itu akan dijadikan modal untuk pertandingan berikutnya.

“Ini menjadi kabar baik bagi kami karena menang dipertandingan pertama,” kata Sandri. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Warta, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 25 Agustus 2017

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Medan, Belajar Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH. A. Hasyim Muzadi meminta umat Islam tidak terkecoh dan selalu waspada terhadap ajaran Islam yang “aneh-aneh” yang dapat meresahkan masyarakat.

Umat Islam perlu lebih berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap ajaran Islam model baru yang disebarkan secara simpatik oleh seseorang yang mengaku sebagai ustadz, wali dan bahkan Jibril.

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

“Di Malang ada yang mengaku sebagai kelompok Islam tapi sholatnya menggunakan dua bahasa,” kata Hasyim pada Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Medan, Minggu (20/8) kemarin.

Dicontohkan lagi, di Purwokerto dan Jakarta seorang umat Islam mengaku sebagai Jibril atau mendapatkan wahyu dari Jibril. “Orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib,” katanya.

Begitu pula di salah satu daerah di Jawa Tengah ada kelompok yang sedang Shalat menganjurkan jamaahnya agar tidak menggunakan busana. “Tindakan seperti ini tidak hanya aneh, melainkan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Hasyim.

Belajar Muhammadiyah

Umat Islam diminta jangan sampai terpengaruh dengan ajaran yang menyesatkan, karena ajaran yang aneh-aneh itu tidak ada dalam Islam. "Masyarakat jangan sampai terkecoh akan ajaran itu,” kata Hasyim.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatakan, saat ini, banyak orang yang kelihatan pandai dan mempunyai ilmu agama yang tinggi, namun tidak dibarengi keimanan kepada Allah SWT.

“Seorang yang mengetahui hukum kadang mereka itu sering melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan hukum tersebut. Hal semacam itu terjadi karena ilmu tinggi yang dimilikinya tidak dibarengi keimanan, ketaqwaan serta tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” ujarnya. (har/nam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah IMNU, Khutbah, Sejarah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock