Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Pengrajin Bambu Otodidak Asal Banyuwangi Ini Raup Omzet Puluhan Juta

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah - Pertengahan tahun 1991 menjadi awal tetesan keringat perjuangan sejarah Widodo merintis usaha aneka kerajinan bambu. Tanpa berbekal keahlian yang mumpuni dalam pengerjaan kerajinan, ayah tiga orang anak ini bertekad merintis usaha kerajinan dengan otodidak.

Saat ditanya alasan memilih usaha kerajinan yang terbuat dari bambu, pria asal kelahiran Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi ini mengatakan, karena melimpahnya bahan baku ditambah kerajinan bambu ini sudah dilakukan oleh para leluhur di desa setempat.

Pengrajin Bambu Otodidak Asal Banyuwangi Ini Raup Omzet Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengrajin Bambu Otodidak Asal Banyuwangi Ini Raup Omzet Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengrajin Bambu Otodidak Asal Banyuwangi Ini Raup Omzet Puluhan Juta

"Kerajinan bambu ini jika diberikan sentuhan kreativitas tinggi dan perlakuan manajemen yang terukur akan mendatangkan peluang usaha yang menjanjikan. Dari harga beli satu batang bambu Rp 10 ribu mampu menghasilkan keuntungan sampai ratusan ribu. Asalkan ini dikelola dengan manajemen dan kreativitas yang mumpuni," ujar suami Yuli Nengah Reni.

Ia menjabarkan, setiap ruas perbatasan bambu dapat dijadikan sebagai kerajinan asbak rokok dengan harga jual mulai Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Belum lagi anyaman bambu yang lain seperti membuat kap lampu, kotak tisu, songkok, keranjang buah, dan lain-lain. Dulu, awal perintisan hanya bersedia membuat beberapa produk kerajinan yang masih tradisional. Yaitu; kukusan untuk menanak nasi, lasah, tungku, dan irik (erek).

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

"Seiring bertambahnya waktu, selera konsumen mengalami peningkatan. Sekarang sudah mulai diminati kerajinan modern, yaitu rak, kotak tisu, asbak, dan kap lampu. Kalangan konsumen pun datang secara beragam, mulai dari kalangan tokoh politik, kiai, masyarakat, dan santri," terang Widodo.

Ia mengisahkan perjalanan usahanya tidak hanya ditempuh mulus tanpa rintangan. Pernah ia mengalami kerugian ratusan juta ditambah juga menelan kasus penipuan dengan kedok usaha patungan. Terutama di tahun 2005 saat tragedi bom bali 2.

"Waktu terjadi bom bali saya mengalami total kerugian lebih dari Rp 200 juta. Bagaimana mungkin bisa dibayangkan? Saat itu, tidak ada tamu di Bali. Suasana sangat mencekam. Grafik perekonomian lumpuh total. Tamu mancanegara pada pulang di kampung halamannya sendiri. Barang kerajinan sudah terlanjur dikirim dalam persediaan yang banyak. Akhirnya selang beberapa hari, saya lakukan  peninjauan langsung. Sesampai di sana barang rusak semua. Tidak ada ganti rugi. Pemilik dan penjaga toko pada kabur tanpa tanggung jawab, dan ternyata toko yang ditempati dulu hanya berstatus kontrakan. Cuma bisa terdiam dan badan terasa lemas semua," kenang Widodo.

Justru dengan segala musibah dan rintangan ini, lanjutnya, memberikan pelajaran guna lebih semangat dan terus maju tanpa putus asa. "Memang tragedi ini mengingatkan waktu awal perintisan usaha dulu. Bidang pemasaran membutuhkan perjuangan ekstra tinggi daripada pembuatannya. Saya ingat, hanya dari kabar burung penawaran produk dari tetangga satu ke tetangga lainya. Alhamdulillah sekarang mulai merambah pemasaran sampai luar daerah mulai; Jember, Bali, Surabaya, bahkan sampai Jakarta," terangnya.

Sekarang, usaha yang dirintis dengan modal Rp 500 ribu ini ditambah tanpa bantuan tenaga kerja, mampu; meraup omzet Rp 75 juta, memiliki sepuluh orang karyawan tetap, dan ratusan pekerja dari masyarakat sekitar.

"Alhamdulillah saat kepemiminan Kabupaten Banyuwangi di bawah Abdullah Azwar Anas yang pro terhadap para pelaku usaha mikro menambah keuntungan tersendiri. Adanya puluhan festival dengan diimbangi pembukaan stand pameran untuk para pelaku usaha menjadikan usaha semakin berkembang. Keuntungan yang sangat fantastis," ujar kakek dari empat orang cucu ini.

"Juga saya tergabung dalam market place banyuwangi-mall.com yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Ini adalah gebrakan yang dilakukan pemerintah guna menjawab pemasaran digital. Semoga ke depan Banyuwangi lebih maju," harap pria kelahiran 21 Oktober 1959 ini. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara Belajar Muhammadiyah

Senin, 05 Maret 2018

Banser Siapkan 201 Titik Posko Mudik Lebaran 2016

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan berbagai satuan pasukannya di tiap wilayah atau provinsi telah siap menyambut para pemudik dengan mendirikan posko mudik di beberapa titik strategis. Untuk momen mudik tahun ini, Banser mengambil tema Istirahat untuk Selamat.

Posko Mudik Banser 2016 menyediakan informasi seputar kondisi lalu lintas, jalur alternatif, tempat peristirahatan, tempat Shalat, ta’jil buka puasa, posko kesehatan serta ribuan personel Satuan khusus Banser Lalu-Lintas (Balantas) untuk membantu mengurai kemacetan yang sudah pasti terjadi dan meminimalisir kecelakaan.

Banser Siapkan 201 Titik Posko Mudik Lebaran 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Siapkan 201 Titik Posko Mudik Lebaran 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Siapkan 201 Titik Posko Mudik Lebaran 2016

Posko Mudik Banser disebar dalam tiga jalur Darat di pulau jawa yaitu jalur lalu lintas utara, tengah dan selatan juga di beberapa titik di pulau sumatera dan terminal utama. “Posko Mudik Banser 2016 juga ditempatkan di beberapa titik bandara udara dan pelabuhan laut,” ujar Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni dalam rilisnya, Selasa (28/6).

Posko Mudik Banser 2016 berjumlah 190 titik posko transportasi darat, 5 titik posko transportasi laut, dan 6 titik posko transportasi udara dengan penyebaran posko sebagai berikut:

Belajar Muhammadiyah

1. DKI Jakarta: 3 terminal utama dan 1 posko pelabuhan laut.

2. Jawa Barat: 23 posko jalur lalu lintas darat.

3. Jawa tengah: 126 posko jalur lalu lintas darat, 1 posko pelabuhan laut, 2 Posko di bandar udara.

Belajar Muhammadiyah

4. DI Yogyakarta: 11 posko jalur lalu lintas darat, 1 posko di bandar udara.

5. Jawa Timur: 22 posko jalur lalu lintas darat, 1 posko pelabuhan laut, 1 posko di bandar udara.

6. Banten: 2 posko lalu lintas darat, 1 posko pelabuhan laut, 1 posko di bandar udara.

7. Lampung: 3 posko lalu lintas darat, 1 posko pelabuhan laut.

Kegiatan Posko Mudik Banser 2016 mulai diselenggarakan H-7 Idul Fitri atau tanggal 28 Juni 2016 sampai dengan H+7 Idul Fitri atau tanggal 14 Juli 2016 dimana dalam waktu tersebut merupakan pilihan sebagian besar masyarakat untuk mudik. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah News, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Jumat, 23 Februari 2018

Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Belajar Muhammadiyah

Setiap orang di antara kita barangkali sudah mengimani bahwa seluruh keberadaan alam semesta ini diciptakan oleh Allah subhânahu wata‘âlâ. Gunung, laut, rerumputan, binatang, udara, benda-benda langit, jin, manusia, hingga seluruh detail organ dan sel-sel di dalamnya tidak luput dari penguasaan dan pengaturan Allah. Tak satu pun makluk lepas dari sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu. Apa saja dan siapa saja. Namun, apakah nilai lebih selanjutnya setelah kita mempercayai itu semua?

Belajar Muhammadiyah

Allah menciptakan segala sesuatu tak lain sebagai ayat atau tanda akan beradaan-Nya. Dalam khazanah Islam lazim kita dengar istilah ayat qauliyyah dan ayat kauniyyah. Yang pertama merujuk pada ayat-ayat berupa firman Allah (Al-Qur’an), sedangkan yang kedua mengacu pada ayat berupa ciptaan secara umum, mulai dari semesta benda-benda langit sampai diri manusia sendiri.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

? ? ? ? ? ?

“Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri….” (QS Fushshilat [41]:53 )

Tanda (ayat) tetap akan selalu berposisi sebagaimana tanda. Ia medium atau perantara untuk mencapai sesuatu. Kita bisa tahu udara sedang bertiup ke arah utara ketika kita menyaksikan daun pepohonan sedang bergerak ke arah utara. Kita bisa tahu dari kejauhan sedang terjadi kebakaran saat menyaksikan kepulan asap membumbung ke udara. Dalam konteks ini, fenomena daun bergerak dan membumbungnya asap hanyalah perantara bagi yang melihatnya tentang apa yang berada di baliknya, yakni udara dan api.

Dalam skala yang lebih besar dan lebih hakiki, fenomena pergerakan benda-benda langit yang demikian tertib, agung, dan menakjubkan adalah tanda akan hadirnya Dzat dengan kekuasaan yang tak mungkin tertandingi oleh apa pun dan siapa pun. Dialah Allah subhânahu wata‘âlâ.

Dengan demikian, fenomena gerhana bulan yang kita saksikan saat ini pun seyogianya kita posisikan tak lebih dari ayat. Kita patut bersyukur mendapat kesempatan melewati momen-momen indah tersebut. Selain menikmati keindahan dan mengagumi gerhana bulan, cara bersyukur paling sejati adalah meresapi kehadiran Allah di balik peristiwa alam ini.

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Jika kita sering mendengar anjuran untuk mengucapkan tasbih “subhânallâh” (Mahasuci Allah) kala berdecak kagum, maka sesungguhnya itu manifestasi dari ajaran bahwa segala sesuatu—bahkan yang menakjubkan sekalipun—harus dikembalikan pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kita dianjurkan untuk seketika mengingat Allah dan menyucikannya dari godaan keindahan lain selain Dia. Bahkan, Allah sendiri mengungkapkan bahwa tiap sesuatu di langit dan di bumi telah bertasbih tanpa henti sebagai bentuk ketundukan kepada-Nya.

Dalam Suarat al-Hadid ayat 1 disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sementara dalam Surat al-Isra ayat 44 dinyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Apa konsekuensi lanjutan saat kita mengimani, menyucikan, serta mengagungkan Allah? Tidak lain adalah berintrospeksi betapa lemah dan rendah diri ini di hadapan Allah. Artinya, meningkatnya pengagungan kepada Allah berbanding lurus dengan menurunnya sikap takabur, angkuh atas kelebihan-kelebihan diri, termasuk bila itu prestasi ibadah. Yang diingat adalah ketakberdayaan diri, sehingga memunculkan sikap merasa bersalah dan bergairah untuk memperbanyak istighfar.

Dalam momen gerhana bulan ini pula kita dianjurkan untuk menyujudkan seluruh kebanggaan dan keagungan di luar Allah, sebab pada hakikatnya semuanya hanyalah tanda.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 37).

Dalam tataran praktis, ada yang memaknai perintah sujud pada ayat tersebut sebagai perintah untuk melaksanakan shalat gerhana sebagaimana yang kita lakukan pada malam hari ini.  Momen gerhana bulan juga menjadi wahana tepat untuk memperbanyak permohonan ampun, tobat, kembali kepada Allah sebagai muasal dan muara segala keberadaan.

Semoga fenomena gerhana bulan kali ini meningkatkan kedekatan kita kepada Allah subhânahu wata‘âlâ, membesarkan hati kita untuk ikhlas menolong sesama, serta menjaga kita untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Nahdlatul Belajar Muhammadiyah

Rabu, 14 Februari 2018

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menggelar lalilatul ijitma’ ke 40 di aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan Nomor 6 Kota Mataram pada Jumat malam (4/9).

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Kegiatan bulanan NU Wilayah NTB dimulai selepas shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan istighotsah oleh santri Al-Manshuriah yang diikuti ratusan Nahdliyin. Tampak para mahasiswa baru UNU NTB sekitar 200 orang yang beberapa waktu lalu mengikuti OSPEK.

“Saat ini kita sudah miliki Universtitas (UNU) tersendiri di daerah. Sejauh ini memang banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata TGH. Acmad Taqiuddin Mansur, Ketua PWNU NTB saat sambutan.

Belajar Muhammadiyah

Tua Guru menyebut lembaga-lembaga itu seperti di Bagu (institute Qomarul Huda Bagu), di Bonder (institute Qomarul Huda Bagu II Bonder), di Lombok Timur (STAINU), dan di Bima juga ada. Namun demikian, itu semua masih bersifat Yayasan.

Belajar Muhammadiyah

Oleh karena itu, lanjutnya, Universitas Nahdlatul Ulama yang baru beberapa hari menggelar OSPEK menjadi harapan baru bagi generasi bangsa, khususnya warga nahdliyin karena membuka program study yang masih langka di NTB.

“Dari semua jurusan, hanya Ekonomi Islam (EI) yang berbasis agama. Selain itu, umum semua yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa kini.”

Ia meminta persatuan dan kesatuan bagi warga nahdliyin karena UNU adalah simbol NU.

Sementra itu, Sekretaris PWNU NTB H. Lalu Winengan dalam pengantarnya meminta kepada pelaksana UNU agar mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti lailatul ijitim’.

“Saya minta kepada birokrasi bagian akademik untuk mewajibkan semua mahasiswa UNU untuk mengikuti ijtima’,” katanya.

Menurut Winengan, lailatul ijitma’ penting diikuti oleh mahasiswa UNU agar mengenal para pengurus NU, mengenal siapa perintis NU dan juga mengenal semua tokoh-tokoh NU. “Jangan sampai mahasiswa UNU tidak mengenal siapa tokoh NU,” harapnya.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tata Kota Lombok Barat ini nanti akan mengadakan Turnamen Futsal UNU Cup yang terbuka untuk umum.

“Insya Allah untuk juara satu kita berikan 5 juta. Dan setiap tahun UNU CUP harus diselenggarakan. Kepentingan kami yaitu UNU dikenal,” terangnya. (Hadi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 13 Februari 2018

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

Medan, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Medan, Sumatera Utara, akan menyelenggarakan acara seminar dan bedah buku putih “Benturan NU-PKI 1948-1965” di Ruang IMT GT USU Medan, Selasa (23/9) besok.

Narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH Asad Said Ali; penulis buku putih tersebut yang juga Wasekjen PBNU, H Munim DZ; Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Dr Al-Zastrow Ngatawi; dan pembanding, Dr Budi Agustono, Pangdam I/BB Mayjend TNI Istu Hari S.

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Undangan Terbuka, Bedah Buku “Benturan NU-PKI” di Medan

"Bedah buku ini merupakan sebuah bentuk kepedulian NU terhadap keutuhan NKRI, serta mengungkap tabir sejarah benturan NU dengan PKI dalam masa priode 1948-1965," kata Ketua PCNU Medan Achmad Firdausi Hutasuhut, didampingi Wakil Ketua Rais Syuriah Dr Wirman Tobing, Mustasyar NU Ir Zainal Arifin, dan Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Medan Fakhrul Ihsan Sahri, di Kantor PCNU Medan, Jalan Palang Merah No 80 Medan.

Belajar Muhammadiyah

Wirman Tobing menegaskan, seminar dan bedah buku tersebut terbuka untuk umum. "Kepada masyarakat umum kita harapkan hadir untuk mengetahui sejarah tentang benturan NU dan PKI," ujarnya.

Rencananya, acara akan dibuka oleh Walikota Medan Drs T Dzulmi Eldin dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, dan tokoh eksponen angkatan 66. (Red: Mahbib Khoiron)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Doa, Hadits, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya

Jakarta Belajar Muhammadiyah. Pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung yang digulirkan melalui kebijakan otonomi daerah ditengarai banyak mafsadatnya, di samping maslahatnya.?

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya

Menurut Katib ‘Aam PBNU KH Malik Madany, pada mulanya UU Pemilukada langsung berniat baik, yaitu untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Di sisi lain juga sebagai pendidikan politik masyarakat dan demokrasi. Tapi kenyataanya sebaliknya.

“Pendidikan politik dan demokrasi yang diperoleh masyarakat bukanlah pendidikan yang baik dan bermoral, melainkan justru pendidikan yang tidak sehat.”?

Belajar Muhammadiyah

Dikatakannya, hal itu antara lain tampak pada kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan momentum pencalonan seseorang untuk memperoleh money politics.

Belajar Muhammadiyah

Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian besar partai politik terhadap para calon yang diusungnya. Hal semacam ini juga memperbesar biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang calon untuk memenangkan pemilukada.

“Beban biaya yang berat ini akan dicarikan penggantinya kelak ketika sang calon benar-benar menjadi kepala daerah. Bagi kepala daerah semacam ini konsentrasi pemikirannya bukan lagi pada kesejahteraan rakyatnya, melainkan pada cara mengembalikan dana yang telah diinvestasikannya dalam pemilukada,” jelasnya.

Karena itulah, berbagai perilaku KKN tampaknya sangat sulit untuk dihindari. Di samping itu, anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk menyelenggarakan pemilukada di setiap provinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sungguh sangat besar.?

“Sementara manfaat dan hasil yang diharapkan cukup mengecewakan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Musayawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang akan berlangsung di Cirebon, Jawa Barat, akan memperdalam manfaat dan mafsadat Pemilukada Langsung. Hasilnya akan direkomendasikan kepada pemerintah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pada hari lahir (harlah) NU ke-89, akun Twitter Belajar Muhammadiyah (@NU_Online) dibanjiri ucapan selamat dari berbagai kalangan yang disertai beragam ungkapan. Kemudian Belajar Muhammadiyah menginisiasi tagar #Harlah89NU. Tagar tersebut sempat jadi trending topic Indonesia.

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Merk kaos 1926 kemudian mengapresiasi netizen yang ngetwitt #Harlah89NU dengan tambahan peran #AnakMudaNU juga mention @NU_Online. Apresiasi ditunjukkan 1926 dengan menghadiahkan dua kaos bagi yang ngetwitt terbaik.

Dua pemenang telah diumumkan hari ini Selasa (3/2) di Twitter Belajar Muhammadiyah pukul 19.00. Dua pemenang  yaitu akun @lailiynurul dan @Ysrnrfq.

Menurut @lailiynurul, anak muda NU hari ini tak hanya bergelut di bidang dakwah dan aktivis, tapi banyak juga yang berkarir dalam bidang hubungan internasional, kedokteran, teknik. Itu yang dia saksikan di Universitas Brawijaya.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menilai anak muda NU tidak mendikotomikan ilmu umum dan agama. Lebih jauh ia mengapresiasi anak muda NU yang lebih arif dalam hal keberagaman.

Sementara @Ysrnrfq berpendapat, organisasi pemuda NU seperti IPNU-IPPNU, PMII, KMNU juga harus bersinergi untuk membangun negeri. Anak muda NU harus bersaing dalam era globalisasi saat ini. (Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD

Way Kanan, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan, Lampung menyiapkan delapan kiai untuk membaiat 86 peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) V di Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu, mulai Jumat kemarin hingga Ahad (22-24/4).

"Itu diperlukan untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan, kami perlu kader militan untuk pergerakan organisasi ke depan, bukan kader-kaderan," ujar Sekretaris PC GP Ansor Way Kanan, Eko Wahyudi di Pakuan Ratu, Sabtu (24/4).

Eko menambahkan, satu kiai akan membaiat sepuluh peserta dalam dua kali atau lima peserta setiap baiat.

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Siapkan 8 Kiai untuk Baiat Peserta PKD

"Sebelum baiat akan ditanyakan terlebih dahulu kesanggupan mereka untuk menjadi kader yang siap berjuang untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Eko meminta calon kader untuk memahami jika Ansor adalah organisasi pemuda NU yang bergerak di bidang sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu Ketua PAC Pakuan Ratu, Bakti Ghozali mengajak peserta untuk memberi manfaat untuk organisasi yang berdampak untuk diri pribadi. "Caranya adalah dengan menggunakan jaringan sebaik mungkin serta melakukan pergerakan ekonomi kreatif," kata Bakti.

Pimpinan Cabang hari ini telah mendorong ekonomi kreatif, misalnya memberi investasi mesin cuci kendaraan, penjualan madu, lalu mengajarkan pelatihan bekam bagi kader dan dilanjutkan penandatangan nota kesepahaman program Hijamah Sambil Beramal (Halal) dengan Klinik BMC pimpinan dr Yusuf J Mustofa pada peringatan Harlah NU ke-91 Januari lalu. Sebanyak 25 persen dari jasa bekam melalui program "Halal" digunakan untuk bantuan pendidikan atau kemandirian anak yatim piatu.

"Hasilnya, kader dapat penghasilan, organisasi memiliki kas. Dan kita hari ini bisa menyalurkan tiga paket Kitab Kuning dan Al-Quran bagi Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif, Ponpes Nurudz Dzikri Al-Amin asuhan Kiai Maulana Ismail dan Pesantren Riyadlotul Mubtadiin asuhan Ustadz Ahmad Sholihin dari hasil bekam itu," kata Bakti menjelaskan. (Ahmad Nursalim/Zunus)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan

Padang, Belajar Muhammadiyah - Gerakan Pemuda Ansor sebagai generasi muda Indonesia diminta terus berjuang untuk bangsa dari segala bentuk ancaman yang merusak persatuan dan mengubah ideologi bangsa. Karena sekarang sudah ada gerakan separatis yang kembali bangkit untuk mencoba merongrong persatuan, kesatuan, dan? mengubah ideologi bangsa. Mereka terdiri atas gerakan separtis baru yang berwajah lama dan gerakan separatis lama yang mulai bangkit lagi.

Demikian disampaikan Danrem 032/Wirabraja Brigjend Bakti Agus F kepada pengurus GP Ansor Sumbar yang berkunjung di Makorem 032/Wirabraja Jalan Sudirman Padang, Jumat (22/4).

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan

Ansor, menurutnya, terbukti memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan. Gerakan radikal yang ada sekarang memang sedang merebak karena adanya transformasi pemikiran yang tidak diformulasi dengan baik sehingga merasa pemikiran mereka yang baik dan benar. Hal ini yang menimbulkan gerakan radikal. Karena merasa tidak puas dengan yang sudah ada sekarang,? merasa tidak lagi sesuai dengan pemikiran mereka.

Menurut Agus, kemauan dan kemampuan memahami jenis pikiran ini sangat diperlukan sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami pikiran. Apa semua pikiran itu cocok untuk bangsa ini? Belum tentu. Pendahulu kita telah memformulasikan pikiran untuk Indonesia sehingga bisa hidup dalam keragaman. Bangsa kita unik di mata dunia. Jangan dimasukan lagi? pikiran yang akan merusak? persatuan bangsa ini.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

"Sekarang bagaimana kita memperbaiki aspek-aspek yang sudah ada pada bangsa ini agar tetap maju ke depan dan tidak lagi pengulangan peristiwa yang akan membuat kita jauh tertinggal dari bangsa lain. Jangan? kembali lagi ke belakang sementara bangsa lain sudah maju. Dahulu bangsa di Asia Tenggara dan Asia belajar ke Indonesia. Memberikan bantuan untuk bangsa di Asia Tenggara bahkan Asia, namun sekarang kita yang menerima bantuan. Untuk itu mari bersama? bersinergi membangun bangsa ini," harap Agus.

Danrem 032/Wirabraja juga mengingatkan masalah narkoba. Sekarang semua lini sudah dirasuki narkoba. Berbagai cara dan taktik yang dilancarkan untuk membunuh generasi muda dengan narkoba. Ada acara yang dibuat agar generasi muda terpengaruh dengan narkoba,? mengaitkannya dengan intelegensi seseorang.

Apakah itu dengan mengkonsumsi? bisa meningkatkan daya ingat atau meningkatkan kepintaran. Ini sudah sangat memprihatikan sekali.

Ketua GP Ansor Sumbar Rahmat mengakui bahwa Ansor memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan akan terus tetap berjuang seperti yang diharapkan Danrem 032 tersebut. Untuk itu, Ansor? berkerja sama dengan TNI terus berjuang memberantas narkoba. "Ansor memiliki semboyan Ke-NU-an, dan kebangsaan. Semboyan ini sangat menguatkan bahwa Ansor tidak ada toleransi dengan gerakan yang akan merongrong bangsa ini.”

Audiensi? dipimpin Ketua GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman. Ia hadir bersama Sekretaris Arianto, Wakil Ketua Agustian Piliang, Bendahara Almudasir, Wakil Sekretaris Johari Jamal, dan Ketua GP Ansor Padang Tan Gusli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Nusantara, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

Solo, Belajar Muhammadiyah. Menjelang pergantian tahun Hijriah dan Saka, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi Slametan Mapag Suro, Senin (20/10). Acara yang dihadiri sejumlah tokoh dari lintas agama tersebut dipusatkan di Titik Nol Kota Solo, Tugu Pemandengan.

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)
Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

“Kami ingin mengambil spirit dari titik nol ini agar ke depan bisa menghasilkan masyarakat yang lebih baik,” terang Budayawan Ronggojati yang turut dalam acara tersebut.

Prosesi slametan diawali dengan pembacaan doa dan Sholawat Sultan Agungan yang dibaca tujuh ulama keraton. Dilanjut dengan pembacaan Kidungan Dhandanggula yang berisi permohonan meminta keselamatan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng berwarna merah, putih, kuning dan hitam.

Belajar Muhammadiyah

“Kami mencoba menghayati bulan (penanggalan,-red) yang diciptakan Sultan Agung pada 1633 silam. Bulan ini perpaduan Saka dan Hijriah. Dari situ kami memaknai Sultan Agung sejak zaman dahulu sudah mengajarkan nilai keberagaman dalam kebudayaan,” ungkap budayawan Suprapto Suryodarmo.

Belajar Muhammadiyah

Suprapto menambahkan atas semangat ini pula, panitia berinisiatif untuk mengadakan rangkaian kegiatan yang diberi nama Sura Bulan Kebudayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kyai, Nusantara, Habib Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Seoul, Belajar Muhammadiyah. Penyelenggaraan Global Peace Leader Conference 2010 yang berlangsung di Seoul Korea Selatan juga mengundang Dr Marsyudi Syuhud, ketua PBNU, sebagai wakil dari Indonesia.

Pada acara yang berlangsung 11-13 Oktober ini, Marsyudi memberikan sambutan tentang Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan oleh NU, yang berupaya agar Islam memberi rahmat bagi seluruh alam. Untuk menuju hal tersebut, salah satunya melalui silaturrahmi.

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Ia menjelaskan, melalui silaturrahmi, manusia akan saling mengenal dan saling memahami serta menyayangi satu sama lain. Disitu ajaran Islam rahmatan lil alamiin mulai berfungsi. Marsyudi menegaskan, dalam muamalah, Islam mengajarkan tanpa ada sekat muslim atau non muslim.

Belajar Muhammadiyah

Acara dihadiri oleh berbagai delegasi dari pemimpin negara maupun tokoh-tokoh agama, dari Amerika, Paraguay, Kenya, China, Jepang, Mongolia, dan lain sebagainya, Chairman Global Peace Festival Dr. Hyun Jin Moon membuka acara tersebut pada 11 Oktober 2010 diGand Hilton Hotel Seoul Korea.

Korea berbagi pengalaman dalam tema Effective Models of Balance Development: The Korean Experience, bagaimana Korea Selatan berhasil menjadi negara terkaya no 13 hanya dalam waktu 50 tahun.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut beberapa lembaga pemerintah Korea seperti KOICA, KDI, Korea Saemaul Undong Center berbagi pengalaman dan menjadi donor bagi negara-negara berkembang untuk membangun komunitas dan kehidupan yang lebih baik.

Global Peace Festival berikut akan diadakan di Jakarta pada tanggal 15 - 17 Oktober di Jakarta. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Khutbah, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Fogging Dilakukan di Seluruh Sudut Lokasi Utama Muktamar

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Perhelatan Muktamar ke-33 NU di Jombang tinggal beberapa hari lagi. Panitia daerah (panda) terus menggenjot persipan untuk lokasi utama, terutama alun-alun setempat yang bakal digunakan acara pembukaan.

Fogging Dilakukan di Seluruh Sudut Lokasi Utama Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Fogging Dilakukan di Seluruh Sudut Lokasi Utama Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Fogging Dilakukan di Seluruh Sudut Lokasi Utama Muktamar

Untuk keperluan itu, pemerintah Jombang membantu panitia melalui pengasapan atau fogging di lokasi utama Muktamar NU, Selasa (28/7). Dua petugas kesehatan nampak melakukan pengasapan hampir seluruh sudut lapangan. Tidak terkecuali panggung yang akan digunakan presiden Joko Widodo.

"Fogging ini hanya untuk mengurangi populasi nyamuk saja. Kalau soal bahaya DBD tidak ada," ujar Kepala Dinas Kesehatan Heri Wibowo.

Belajar Muhammadiyah

Tidak hanya alun-alun, lanjut Heri, penyemprotan insektisida itu juga bakal dilakukan di empat pesantren yang juga digunakan sebagai penginapan peserta Muktamar ke-33 NU. Empat pesantren itu adalah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Pesantren Darul Ulum Rejoso, dan Pesantren Tebuireng. "Untuk pesantren besok (hari ini) fogging baru dilakukan," pungkas Heri.

Di sela-sela meninjau langsung lokasi utama Alun-alun, Selasa (28/7), Ketua Panda Muktamar Ke-33 NU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, persiapan alun-alun sudah mencapai 95 persen, hanya ada beberapa yang kurang di antaranya adalah penerangan, penambahan genset dan toilet, serta penerangan jalan umum.

Belajar Muhammadiyah

"Kalau secara umum baik empat pesantren dan alun-alun kita bisa lihat sekarang semuanya sudah siap. Kita berharap semuanya sudah tuntas sebelum tanggal 1 Agustus," tandasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Sunnah, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Jumat, 21 Juli 2017

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU

Pesawaran, Belajar Muhammadiyah - Saat hadir di Kabupaten Pesawaran, Lampung, Ketua PBNU yang juga Korwil Lampung Umarsyah HS mengatakan bahwa saat ini ada 5 Program Pokok yang sedang fokus dilaksanakan oleh PBNU. Program tersebut meliputi penguatan ideologi, struktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi.

Penguatan ideologi dan struktur kepengurusan, menurutnya, menjadi program yang sudah lama dilakukan secara intensif dengan berbagai jenis kegiatan.

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU

"Saat ini sudah dilakukan Program Madrasah Kader yang diperuntukkan bagi seluruh kepengurusan NU untuk penguatan ideologi," katanya, Kamis (18/5), seraya menjelaskan bahwa ke depan syarat seseorang bisa menjadi pengurus NU adalah mereka yang sudah mengikuti program ini.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, lanjutnya, penguatan ideologi juga dilakukan dengan program Penggerak Masjid atau Muharrik Masjid. Program tersebut, lanjutnya, merupakan upaya maksimalisasi peran masjid untuk ibadah dan dakwah.

Belajar Muhammadiyah

"Maksimalisasi masjid salah satunya adalah penguatan ekonomi masjid dengan program Gismas (Gerakan Infaq dan Shadaqah Masjid). Dari Gismas akan dimanfaatkan untuk kemakmuran masjid dan pemberdayaan ekonomi umat," katanya menjelaskan tentang Muharrik Masjid yang ditargetkan pada 2018 akan rampung ditingkat MWC atau Kecamatan.

Sementara untuk bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan, PBNU sudah menjalin kerja sama dengan pihak terkait diantaranya dengan pemerintah dan swasta.

"Di bidang ekonomi, Pemerintah dan NU sudah menjalin kerja sama dalam bentuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan nilai triliunan rupiah. Di bidang kesehatan kerja sama dengan swasta dalam pembangunan Rumah Sakit. Dan di bidang pendidikan terus membangun Universitas NU di berbagai daerah," jelasnya.

Ia mengatakan juga bahwa saat ini banyak pihak yang melihat dan menggandeng Jamiyyah NU untuk bekerja sama di berbagai sektor. Oleh karenanya warga NU harus terbuka dan dapat memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki NU untuk menyukseskan program tersebut.

Hadir pada kunjungan yang dipusatkan di Masjid Islamic Center Ketua PCNU Pesawaran Salamus Sholihin, Ketua PCNU Pringsewu H. Taufiqurrohim, Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) Provinsi Lampung Hj. Malikhah Saadah dan Pengurus, Banom dan Lembaga NU di Kabupaten Pesawaran. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Santri, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Mei 2017

Pemberdayaan Ekonomi, Ruh Perjuangan NU

Bondowoso, Belajar Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama sejatinya sejak awal sudah memikirkan ? pemberdayaan dan ? peningkatan taraf ekomomi umat. Bahkan salah satu pilar yang menjadi embrio pendirian NU adalah Nahdlatut Tujjar, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pemberdyaan ekonomi.

Demikian disampaikan Wakil Bendahara Umum PBNU, KH Abdul Hamid Wahid saat memberikan sambtuan dalam acara pembukaan pasar rakyat Indoneia di alun-alun Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (15/12).

Pemberdayaan Ekonomi, Ruh Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberdayaan Ekonomi, Ruh Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberdayaan Ekonomi, Ruh Perjuangan NU

Menurutnya, pemberdyaan ekonmi umat merupakan salah satu agenda utama NU yang terus dipacu dan dikembangkan ? agar NU memberikan nilai lebih kepada warganya. “Contohnaya, ya ini (pasar rakyat). Jadi sesungguhnya, keberadaan pasar rakyat ini kita mengenang kembali substansi dan ruh perjuagan NU, yaitu pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” tukasnya.

Belajar Muhammadiyah

Putra tokoh NU, KH Wahid Zaini itu menambahkan bahwa NU tidak sekedar hadir untuk melayani pendidikan dan dakwah, tapi juga menjangkau sektor yang bersifat prkatis sehari-hari, yaitu ekonomi. ? Lebih jauh lagi, katanya, pergelaran pasar rakyat ini diharapkan bisa merangsang warga NU untuk ambil bagian sebagai pelaku agar mereka tidak hanya menjadi obyek, tapi subyek yang ikut mewarnai perekonomian bangsa. “Dan saya kira kita warga NU mampu, sangat mampu untuk itu,” lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Bondowoso, Amin Said Husni mengungkapkan terima kasih atas kepercayaan PBNU menggelar pasar rakyat di Bondowoso. Menurutnya, ini pertanda bahwa NU mempunyai keinginan yang kuat untuk menumbuh kembangkan ekonomi kerakyatan.?

Belajar Muhammadiyah

Diakuinya, sejauh ini secara umum ekonomi warga NU memang masih membutuhkan dorongan dan stimulan ? agar mereka bisa menjadi pelaku pasar yang handal. “Secara umum warga NU adalah pelaku pasar tradisional, dan itu butuh sentuhan agar bisa berdaya guna,” ungkapnya.

Amin menambahan, pihaknya akan terus mengakomodasi pasar tradisional untuk memberikan peluang berkembang menjadi pelaku pasar yang tangguh. Kendai demikian, ia tidak menutup mata terhadap keberadaan pasar modern untuk mengakselerasi perkembangan pasar global. “Jadi kami tampung dan berdayakan pasar tradisional, tapi juga kami akomodasi pasar modern tanpa harus mematikan pasar tradisional, tentu dengan peraturan yang bebitu rupa,” jelasnya.

Selain bupati, acara pembukaan pasar rakyat Indonesia juga dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Bondowoso, KH. Ali Salam, Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhofir, Mustasyar PCNU, KH. Salwa Arifin, ? sejumlah ketua partai politik dan sekitar 500 undangan. Acara pembukaan pasar rakyat ditandai dengan pelepasan burung merpati bersama-sama oleh Bupati Amin, Ketua PCNU sekaligus Ketua MUI Bondowoso, KH. Abdul Qadir Syam dan Gus Hamid. Setelah pembukaan , Bupati berkeliling meninjau stand.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Kamis, 03 November 2016

Warga NU Diminta Peka dengan Penggunaan Dana Desa

Lampung Tengah, Belajar Muhammadiyah

Kapasitas sumber daya manusia (SDM) warga Nahdliyyin harus selalu ditingkatkan dalam segala sektor, baik dari segi amaliah Aswaja An-Nahdliyyah maupun wacana-wacana kebangsaan.

Warga NU Diminta Peka dengan Penggunaan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Diminta Peka dengan Penggunaan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Diminta Peka dengan Penggunaan Dana Desa

Demikian disampaikan Saifur Rijal, Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Lampung Tengah dalam diskusi bulanan Lakpesdam PCNU Lampung Tengah di kediaman rumah Miftahul Huda, Kampung Tanjung Kerajan, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah, akhir pekan kemarin (9/10).

?

Ia menambahkan, dalam penyaluran dana desa, misalnya, warga NU harus peka dengan kondisi kekinian kampungnya masing-masing, baik untuk penggunaan infrastrukturnya maupun untuk pemberdayaan masyarakatnya. Warga masyarakat berhak tahu secara utuh berapa dan untuk apa dana desa tersebut digunakan.

Belajar Muhammadiyah

?

Kabupaten Lampung Tengah dinilai menjadi basis Nahdliyyin terbesar di Provinsi Lampung. Hal ini tercermin dengan banyaknya pesantren yang tersebar di 28 kecamatan dan ditunjang pula dengan banyaknya madrasah-madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama di salah satu kabupaten tertua di Lampung ini.

Keluarga besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah terus aktif menggelar sejumlah kegiatan untuk merawat NU di sana. Di kecamatan Gunung Sugih, Ahad (9/10) diselenggarakan Konferensi Majelis Wakil Cabang NU Gunung Sugih di Kampung Bangunrejo. Terpilih melalui proses Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) Kiai Wasim sebagai Rais Syuriyah dan Kiai Ibas Yazid Yusuf sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Gunung Sugih masa khidmah 2016-2021.

Belajar Muhammadiyah

?

Di wilayah Kecamatan Seputih Surabaya, Ahad kemarin, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Seputih Surabaya menggelar agenda Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus pelantikan pengurus baru masa khidmah 2016-2018.

?

Sementara di wilayah Kecamatan Bumi Nabung tepatnya di kompleks SMA Ma’arif 03 Bumi Nabung, diselenggarakan pembinaan, pengarahan? sekaligus silaturahim pengurus LP Ma’arif NU Lampung Tengah bersama jajaran pengurus dan dewan guru Maarif, mulai dari RA, TK, MI, MTs dan MA, SMK, SMA di wilayah Kecamatan Bumi Nabung, Seputih Surabaya, Rumbia dan Putra Rumbia. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Minggu, 01 Mei 2016

TPQ Ciganjur Helat Imtihan dan Khatmul Quran

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) Al-Munawwaroh Ciganjur menghelat Imtihan (ujian) dan Khatmul Quran di Masjid Al-Munawwaroh yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahaman Wahid (Gus Dur), Jalan Warung Sila No 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (22/3) siang.

Menurut Kepala TPQ Al-Munawwaroh Muhammad Hafidz Ali, dalam acara tersebut sekaligus diberikan ijazah lulus Qiroati kepada para santriwan dan santriwati yang lulus Tes Akhir Santri (TAS) beberapa pekan silam. “Meski ditanyakan lulus, namun mereka diharap terus melanjutkan ke jenjang berikutnya, yakni diniyah,” tegas Hafidz.

TPQ Ciganjur Helat Imtihan dan Khatmul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
TPQ Ciganjur Helat Imtihan dan Khatmul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

TPQ Ciganjur Helat Imtihan dan Khatmul Quran

Sementara itu, Kepala Madrasah Diniyah Al-Munawwaroh Maftuhan menambahkan, kesebelas santri yang diwisuda hari ini akan “naik kelas” ke tingkat diniyah. “Diniyah ini merupakan program lanjutan. Jadi, bisa disebut sebagai kelas Pasca-Qiroati,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Selain wali santri wisudawan, acara tersebut juga dihadiri seluruh wali santri mulai jilid 1 hingga jilid 6, dan kelas gharib. Dari pihak Yayasan KH A Wahid Hasyim, hadir Dr H Umar Wahid, Dra Hj Aisyah Hamid Baidhowi, Ketua Yayasan Arif Rahman Hamid beserta istri. Dari Koordinator Cabang Qiroati Jakarta Selatan hadir Ust Agus Rizal dan beberapa pengajar Qiroati lainnya.

Belajar Muhammadiyah

Dalam sambutannya selaku ketua yayasan, Arif Rahman mengajak para wali santri untuk turut serta belajar ngaji Al-Quran sebagaimana anak-anak mereka. “Jangan sampai kita kalah sama anak-anak kita. Masak mereka lebih paham tentang hukum nun mati daripada kita. Saya sendiri juga sudah banyak yang lupa. Malu dong,” selorohnya.

Cucu KH Wahid Hasyim ini mengajak para wali santri agar makin semangat belajar al-Quran sekaligus mengkaji isinya. “Apalagi sekarang zamannya teknologi. Sekali klik aja kita cari ayat tentang puasa, misalnya, langsung bisa kita ketahui nggak pakai lama,” ujar Arif Rahman.

Mas Yai, demikian sapaan akrabnya, berharap kepada sebelas wisudawan nanti tambah tekun belajar mengaji. “Jadi, adik-adik mesti meningkatkan semangat mengaji lagi yaa,” ajaknya yang langsung disambut “yaaa” oleh mereka.

Kesebelas santri yang diwisuda yaitu: Allysa (12 th), Farrel Aditya Bintang Pratama (8), Husniyah Anggraini (10), Isam Sami Rabbani (9), Layyina Khansa Rayyan (11), Zaidan Surya Nugroho (10), Najwa Dafi’ah Salsabila (10), Afri Luthfi Maulana (11), Arzety Anas Aisah (9) Faiq Hidayatullah (8), dan Zahira Alya (9). (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Daerah, AlaNu, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 27 Februari 2016

Ma’arif NU Purbalingga Gelar Porsema dan Olimpiade Sains

Purbalingga, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Maarif NU Purbalingga pada Kamis, (19/2) menyelenggarakan Pekan Olahraga Seni Maarif (Porsema) dan Olimpiade Sains yang bertempat di SMAN 2 Purbalingga untuk tingkat SLTA/MA dan MTs/SMP dan MIN Wirasaba Kecamatan Bukateja untuk tingkat MI.

Ma’arif NU Purbalingga Gelar Porsema dan Olimpiade Sains (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Purbalingga Gelar Porsema dan Olimpiade Sains (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Purbalingga Gelar Porsema dan Olimpiade Sains

Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga H Suroso Abdurrozak pada pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh lebih kurang 1100 peserta dari berbagai bidang  lomba.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyeleksi atlet atau kontingen yang akan dikirim ke Porsema dan Olimpiade Sains Maarif tingkat provinsi Jawa Tengah yang rencananya akan dipusatkan di Kabupaten Kebumen pada bulan mei 2015.

Belajar Muhammadiyah

 Dalam sambutannya, H Suroso memberikan motivasi agar pelajar NU Kabupaten Purbalingga agar bisa berprestasi di tingkat provinsi. Untuk itu, lanjutnya, bertandinglah secara sportif dan bagi yang lolos untuk berlatih semaksimal mungkin. 

“Tentu kami akan memberikan hadiah bagi para peserta yang lolos ke tingkat Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Dalam upacara pembukaan, kegiatan diisi oleh penampilan atraksi memukau dari pencak silat MTs Maarif NU 10 Krenceng Kejobong Purbalingga serta penampilan kesenian calung dari MTs Maarif NU 04 Tamansari sebagai juara I dalam kegiatan Pergamanas di Cirebon beberapa waktu yang lalu. (Torik Jahidin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Minggu, 29 Maret 2015

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Sumedang, Belajar Muhammadiyah. Rampak Gendang dari Paguyuban Pasundan ikut memeriahkan kegiatan pembukaan Konferwil GP Ansor Jawa Barat, Selasa (14/5). Para muktamirin yang hadir di Aula Islamic Centre Kabupaten Sumedang nampak antusias menyaksikan penampilan kesenian tradisional Jawa Barat tersebut.

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Hendrik Kurniawan mengatakan, penampilan rampak gendang merupakan bentuk aplikasi dari tema yang diusung dalam Konferwil GP Ansor, Teguh pada Tradisi, Berbakti pada Negeri.

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Tradisi dalam sebuah bangsa atau negeri ibarat satu sisi mata uang dan sudah menjadi sejarah yang tidak bisa dipisahkan. Rampak gendang mewakili kesenian tradisi yang ada di Jawa Barat. Dalam tradisi itu ada kekompakan, gotong royong, kasih sayang, dan kecintaan. Dari tradisi itulah maka akan muncul semangat untuk membangun negeri. Teguh pada tradisi disini bukan menyoal budaya kedaerahan saja, tapi termasuk juga tentang tradisi keagamaan. Khususnya tradisi ubudiah yang suka dilakukan oleh warga NU.

“Berbakti kepada negeri bagi GP Ansor bukan hanya isapan jempol belaka. Menurut sejarah GP Ansor ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Kemerdekaan NKRI ini bagi GP Ansor bukan dikasih, tapi direbut dari para penjajah. Oleh karena itu bagi GP Ansor, NKRI harga mati,” lanjut Hendrik.

Belajar Muhammadiyah

GP Ansor Jawa Barat selama ini mempunyai tiga buah komitmen. Pertama komitmen terhadap Islam Ahlusunnah wal Jamaah, kedua komitmen terhadap Jamiyyah NU, dan ketiga komitmen terhadap NKRI.

“Di tanah air NKRI ini kita bersujud, makan, dan minum. Siapa saja yang akan mengganggu tanah air ini maka GP Ansor siap melawan. Semoga dengan semangat menjaga tradisi, Negeri Indonesia akan semakin kuat. Dan GP Ansor akan terus mengawal dan mengisi keduanya,” tutup Hendrik. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Nusantara Belajar Muhammadiyah

Rabu, 15 Oktober 2014

Perguruan Tinggi di Pesantren

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Pada tahap 25 tahun mendatang, saat bangsa Indonesia memasuki era Pembangunan Jangka Panjang Tahap kedua (PJPT II), akan tiba suatu masa yang penuh tantangan. Masa itu juga merupakan masa yang menjanjikan harapan-harapan, namun belum dapat dipastikan karena perkembangan segala aspek kehidupan yang sulit diprediksi dan saling mempengaruhi. Tantangan-tantangan itu antara lain masalah tenaga kerja, kemiskinan, dampak globalisasi ekonomi dan kultur, dampak kemajuan iptek, partisipasi pendidikan, perubahan etika sosial dan moral keagamaan, masih menonjolnya dualisme sektor modern dan tradisional meskipun proses industrialisasi sudah berjalan, namun tumbuhnya kemakmuran di pedesaan masih terseok-seok jalannya dan tidak seimbang dengan tuntutan yang semakin meningkat.

Berat dan ringannya tantangan, akan berimplikasi langsung terhadap kepastian dan keraguan suatu harapan. Harapan yang dirumuskan tanpa memperhitungkan potensi dan tantangan, akan bermuara pada keyakinan kosong. Sebaliknya, menganalisis simpulsimpul tantangan masa depan tanpa didukung oleh potensi dan optimisme, hanya akan melemahkan etos kerja. Bisa jadi hal itu malah menimbulkan keputusasaan dan sikap fatalistik atau paling tidak akan lebih suka melestarikan rutinitas yang kurang menguntungkan.

Menganalisis tantangan masa depan sambil merencanakan harapan, memang merupakan suatu keharusan dalam membahasan prospek sesuatu. Tetapi tidak berarti hanya dengan menganalisis tantangan, prospek bisa diantisipasi secara jelas. Apalagi bila yang dibahas adalah prospek perguruan tinggi di lingkungan pesantren.

Perguruan Tinggi di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi di Pesantren

Permasalahannya akan menjadi kompleks dan berimplikasi luas, mengingat perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan yang selalu dipengaruhi dan mempengaruhi aspek-aspek sosial yang terus menerus berubah -perubahan yang direncanakan mau pun alami, sebagai dampak dari kebijakan terencana.

Bila pembahasan dikhususkan pada keberadaan perguruan tinggi di pesantren, permasalahannya menjadi rumit, mengingat pesantren merupakan institusi pendidikan yang mempunyai titik tekan berbeda dengan perguruan tinggi. Perbedaan visi dan posisi kedua institusi pendidikan itu sangat mempengaruhi pola, sistem dan pandangan hidup masing-masing, yang selanjutnya menentukan prospek lembaga itu.

Belajar Muhammadiyah

***

Perbedaan watak antara perguruan tinggi dan pesantren sebagai lembaga pendidikan perlu dipahami lebih jauh, untuk kemudian dijadikan bahan dasar dalam menyusun konsep keterpaduan dua lembaga pendidikan yang berbeda. Keterpaduan itulah yang pada dasarnya akan menentukan prospek keberadaan perguruan tinggi di pesantren. Tanpa keterpaduan, pengaruh corak perguruan tinggi akan lebih mendominasi kehidupan pesantren, dan mungkin akan melahirkan krisis identitas atau malahan hilangnya identitas pesantren.

Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, sebagai lembaga tarbiyah, sebagai lembaga sosial sebagai gerakan kebudayaan dan bahkan sebagai kekuatan politik -meskipun sampai sekarang masih disebut lembaga tradisional- mempunyai ciri dan watak yang berbeda dengan lembaga-lembaga lainnya, termasuk perguruan tinggi.

Landasan filosofis pesantren adalah teologi dan religiusitas yang berposisi substansial dan bersifat menyeluruh. Sedangkan perguruan tinggi cenderung pada pragmatisme dan orientasi keduniawian, sementara itu ia menempatkan teologi dan religiusitas pada posisi instrumental dan merupakan bagian saja.

Belajar Muhammadiyah

Bila perguruan tinggi aksentuasinya lebih ke pengajaran maka pesantren aksentuasinya lebih pada pendidikan. Bila perguruan tinggi berorientasi langsung pada lapangan kerja sesuai pesanan industri atau paling tidak mengantisipasi keperluan industrialisasi -di mana hal ini memang merupakan potensi dan kekuatan dari sudut kemudahan karier, tetapi sekaligus merupakan kelemahan dari sudut konsumtivisme mental, daya juang dan kreativitas menciptakan lapangan kerja- maka sebaliknya pesantren tidak berorientasi langsung pada lapangan kerja.

Hal ini memang merupakan kelemahan, jika dipandang dari sudut janji-janji masa depan yang cerah. Tetapi hal itu juga merupakan potensi dari sudut penumbuhan etos kerja, kemandirian dan penciptaan lapangan kerja.

Pesantren di samping merupakan lembaga pendidikan dan keilmuan, ia sekaligus juga merupakan lembaga moral. Ilmu di pesantren mengacu pada pembentukan moral dan akhlaq karimah. Seluruh proses belajar para santri berpusat pada pengenalan, pengakuan, kesadaran, dan keagungan Allah SWT dan akhlaq karimah yang terkait secara dialektis, kohesif dan terus menerus dengan seluruh mekanisme belajar para santri.

Ini semua berbeda dengan perguruan tinggi yang membatasi diri sebagai institusi keilmuan dan intelektual, dan tidak bertanggung jawab langsung dalam soal moral. Dosen tidak berkewajiban terhadap akhlaq, kecuali sekadar komitmen pribadi atau etika sosial dalam arti umum. Mahasiswa hanya didorong secara terencana untuk menjadi orang pandai dan intelek. Atau malahan hanya menjadi penghafal, karena kelulusan ujiannya lebih banyak ditentukan oleh sejauh mana ia menghafal literatur, bahan kuliah dan referensi yang diwajibkan. Perguruan tinggi memberikan kebebasan atau demokratisasi ilmiah untuk mengakui, menyadari dan menghayati atau tidak, akan keagungan Allah dan akhlaq karimah.

***

Gerakan ilmiah Islam di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh politik kolonial Belanda yang menyudutkan kaum muslimin ke satu sudut pandang yang hanya menitikberatkan pada kehidupan ukhrawi. Akibatnya dinamika keilmuan hanya berkisar pada alumnus syariah dan tasawuf yang ditandai dengan munculnya karya-karya ulama Indonesia dari yang paling kecil sampai yang berjilid-jilid. Sedangkan dari sisi lain mengalami kemandegan karena anggapan, ilmu-ilmu itu semata-mata urusan duniawi. Mungkin dari sini mulai muncul dikotomi antara ulumu al-din dan ulumu al-dunya, sampai-sampai antara madrasah dan sekolah, antara kitab dan buku pun harus dibedakan.

Tafaqquh fiddin dipahami secara sempit dan terbatas pada apa yang dimaksud dengan ulumu al-din. Pemahaman ini secara ekslusif tidak pernah dikorelasikan dengan pemahaman al-din itu sendiri secara utuh, meskipun secara terpisah al-din telah dipahami sebagai wadl’un ilahiyun saaiqun lidzawi uquli al-salimah ilaa maa huwa khairun lahum fi dunyahum wa akhiratihim (ketentuan-ketentuan Ilahi yang mendorong siapapun yang berakal sehat, untuk berbuat sesuatu yang baik bagi mereka di dunia dan akhirat).

Bila al-din dipahami seperti itu, maka berarti ulumuddin secara luas adalah ilmu-ilmu yang mempunyai kaitan langsung atau tidak langsung dengan wadla’ Ilahi, menyangkut urusan duniawi mau pun ukhrawi. Kemudian bila wadla Ilahi itu mendorong bagi para pemikir ke arah pencapaian sesuatu yang baik di dunia atau di akhirat mereka, maka mengapa dalam konteks ilmu-ilmu yang berwatak duniawi lalu diisolasikan dari klasifikasi ulumuddin? Persepsi dikotomis seperti itu mengkibatkan dinamika ilmiah dalam Islam cenderung lemah atau malah mandeg.

Kemandegan dinamika ilmiah itu tampaknya coba mulai digerakkan ketika di Indonesia muncul Perguruan Tinggi Agama Islam, negeri mau pun swasta. Malah ketika awal-awal kemerdekaan pun sudah ada upaya menggerakkan kembali dengan menambah mata pelajaran umum di madrasah-madrasah, meskipun masih dengan sikap dikotomis. Dari pihak pemerintah menurunkan proyek MWB (Madrasah Wajib Belajar) dilengkapi dengan UGA (Ujian Guru Agama), kemudian ada penegerian madarasah dan terakhir ada SKB Tiga Menteri. Semua itu merupakan upaya penyambungan mata rantai dinamika keilmuan dalam Islam yang sekarang ini sudah saatnya dievaluasi sejauh mana perkembangan dinamika keilmuan tersebut dapat memantapkan risalah lslamiyah.

Perkembangan dinamika tersebut merupakan jawaban atas tantangan-tantangan yang muncul akibat adanya arus globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Pada gilirannya dikotomi ilmu dan sikap ambivalen dari sebagian umat Islam akan makin berkurang, kalau tidak bisa hilang sama sekali.

Dampak lebih jauh dari dinamika itu adalah integrasi intelektual dan ulama. Perkembangan ini tentu saja menuntut sikap keterbukaan dari semua kaum intelektual dan ulama, salimemahami atas adanya kekurangan di satu pihak dan kelebihan di pihak lain.

Sikap keterbukaan ini menuntut keberanian ulama mau pun kaum intelektual muslim untuk tidak hanya saling mengritik, tetapi juga melakukan otokritik yang membangun. Kritik diri adalah bagian tak terpisah dari unsur-unsur dinamika ilmiah yang akan ditumbuh-kembangkan Dalam hal ini kajian kritis tentang transformasi sosial, selalu mempengaruhi satu pengembangan dinamika ilmiah. Ini berarti bahwa pengembangan dinamika keilmuan dalam Islam mempunyai implikasi yang luas dengan setiap perubahan yang terjadi, sehingga ilmu-ilmu itu tidak akan kehilangan relevansi dan konteksnya dengan berbagai aspek kehidupan.

***

Proses pembangunan yang terjadi di Indonesia telah mempengaruhi perubahan di berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik sosial, ekonomi politik, budaya mau pun nilai dan wawasan. Perubahan yang terjadi secara terakselerasi menuntut kelenturan berpikir, daya-suai intelektual yang besar, keterbukaan dalam tata hidup yang manusiawi dan sikap kritis serta dinamis.

Perubahan mendasar yang terjadi adalah kecenderungan memisahkan atau mengasingkan norma agama, akibat pola pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Alienasi antara keduanya itu tercermin pada gerakan dan kelembagann agama yang tidak menyatu dengan aktivitas kelembagaan ekonomi yang membentuk nilai dan norma ekonomis.

Akibatnya gerakan ekonoi itu berhadapan dengan sistem nilai agama. Gerakan ekonomi cenderung berjalan bebas tanpa moralitas agama dan menumbuhkan sikap kompetitif yang tanpa dikendalikan oleh moralitas agama, cenderung ke arah individualisme, materialisme dan konsumerisme. Semua dampak itu justru bertentangan dengan ajaran Islam dan Pancasila.

Dalam hal ini, prospek perguruan tinggi di pesantren dalam upaya mengembangkan dinamika keilmuan dalam Islam dituntut kemampuannya mengaktualisasikan diri di tengah-tengah masyarakat yang selalu menuntut kemudahan di segala bidang. Ini berarti pula, bahwa pengembangan dinamika keilmuan itu harus mampu menjadi sarana pemandu transformasi sosial sekaligus sebagai sarana kontekstualisasi ajaran Islam dalam tata kehidupan masyarakat.

Pengembangan dinamika keilmuan Islam lalu tidak saja dipahami dari sisi kognitif, akan tetapi juga dari sisi afektif dan psikomotorik. Pengembangan yang dipahami hanya dari sisi kognitif saja akan cenderung menciptakan semacam "vanderplas-vanderplas" yang ahli di bidang keilmuan Islam tetapi sama sekali tidak meyakini kebenaran ajaran Islam, apalagi mengamalkannya.

Pada sisi lain perguruan tinggi di pesantren, dalam perannya mengembangkan ajaran dan pendidikan Islam serta dakwah Islamiyah, dituntut mampu membentuk masyarakat Islam secara integralistik. Antara aspek norma agama dan aspek ekonomi serta aspek positif lainnya, mesti terpadu utuh. Kajian intelektual tentang konsep pengembangan ekonomi, dengan demikian diperlukan, kajian mana merupakan proses materialisasi dari aspek normatif yang immaterial.

Sumber daya manusia, alam, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aset ekonomi yang sangat penting di negara-negara ekonomi maju, sering mengakibatkan krisis norma dan nilai. Kemiskinan nilai agama mendorong masyarakat ekonomi maju memandang alam dan manusia bukan sebagai sahabat yang setia, tetapi sebagai hamba dan kawulo yang harus ditaklukkan dan diberlakukan sewenang-wenang, tanpa harus ada pertimbangan moral dan etika religius.

Perguruan tinggi di pesantren dituntut kemampuannya merumuskan konsep pengembangan ajaran Islam sebagai tatanan sosial, bukan hanya sebagai lembaga legalistik hitam putih. Dalam hal ini kemampuan antisipatif dan keterbukann akan mempermudah perguruan tinggi menjalankan peranannya. Keterbukann akan menumbuhkan sikap lentur dan akomodatif.

Adalah benar, bahwa perguruan tinggi di pesantren menentang eksistensinya sendiri bila di satu sisi menerima tugas sebagai pelopor perubahan sosial untuk menatap masa depan, sedangkan di lain sisi ia tertutup terhadap pembaharuan dan malah mencurigai masa depan. Dan adalah benar juga, perguruan tinggi di pesantren mengingkari missinya, bila ia menerima dan mengemban tugas mendidik generasi muda sebagai potensi penerus perjuangan Islam, dengan jalan memprogram mereka agar mencerna dan hanya mengawetkan nilai-nilai kehidupan yang sudah kehilangan relevansi aktualnya. Sementara di luar lembaga itu, terjadi berbagai perubahan yang sangat serius dan dahsyat dalam hampir semua bidang kehidupan.

Kemampuan perguruan tinggi di pesantren berperan seperti itu, berarti melestarikan sekaligus mengembangkan eksistensinya di tengah-tengah era globalisasi. Dengan demikian perguruan tinggi di pesantren tidak akan diposisikan pada ruang isolasi, karena mampu menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari komunitas nasional dan akhirnya terlepas dari posisi marginal.

***

Perguruan tinggi dalam pesantren dengan prospek seperti itu, diharapkan lebih mengembangkan dinamika keilmuan dan kepekaan sosial para santri, serta mengembangkan metodologi di pesantren yang shalih agar menjadi ashlah, sehingga mereka mampu mengantisipasi dan menganalisis segala perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Para santri akan menjadi manusia yang berkepribadian akram, shaleh dan fungsi mereka menjadi manusia yang qawiyun dan makinun, mempunyai quwwah dan potensi diri yang cukup, sekaligus mempunyai amanah, dapat dipercaya, jujur dan melaksanakan amanat Allah dan masyarakat. Kalau mereka menjadi ulama, mereka pun tafaqquh fi mashalihil khalqi, sebagai salah satu identitas ulama menurut Imam Ghazali.

Namun di samping itu, perguruan tinggi di pesantren harus mau dan mampu menyerap secara utuh ciri-ciri dan karakteristik pesantren. Sehingga ia mampu memproduk sumber daya manusia muslim yang mampu berintegrasi dengan segala aspek kehidupan global, tetapi mempunyai pertimbangan nilai idealistik transendental. Lebih dari itu mereka menjadi manusia intelek yang berwatak kesantrian. Untuk itu perguruan tinggi di pesantren dituntut mampu mengembangkan pendidikan Islam dan keilmuan Islam.

Pendidikan, bila dipahami sebagai suatu tindakan sadar untuk membentuk watak dan tingkah laku secara sistematik, terencana dan terarah, maka pendidikan agama Islam harus merupakan proses interaksi dari pendidikan, peserta didik dan lingkungan yang mengarah terbentuknya karakter Islami pada peserta didik, yang kemudian mampu memotori sikap dan perilaku yang sarat dengan nilai-nilai Islami. Dengan kata lain, pendidikan Islam seharusnya bisa mengembangkan kualitas keberagamaan Islam, yang bersifat afektif, kognitif mau pun psikomotorik.

Pada gilirannya pendidikan Islam merupakan sarana pengembangan kepribadian muslim Indonesia yang sedang menghadapi berbagai bentuk transformasi muslim yang berkepribadian Islam, yang meletakkan keimanan dan ketaqwaan di atas segalanya dalam berbagai komunitas yang digumuli, muslim yang mampu hidup di tengah-tengah masyarakat industrial yang didominasi oleh kesadaran teknokratik tinggi yang memandang iptek sebagai juru selamat, namun ia masih meyakini adanya kekuatan transendental yang mengalahkan segala kekuatan yang lain.

?

?

*) Tulisan ini pernah disampaikan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Pesantren Qomaruddin Gresik, 18 Januari 1993. Pernah dimuat majalah Aula edisi Februari 1993. Judul asli “Prospek Perguruan Tinggi di Pesantren”. Juga bisa ditemukan di buku KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Humor Islam, Nusantara, Budaya Belajar Muhammadiyah

Selasa, 15 April 2014

SMPN 1 Bumi Agung Masukkan Aswaja dan Bela Negara

Waykanan, Belajar Muhammadiyah. Kehadiran bulan Ramadhan tidak disia-siakan oleh SMP Negeri 1 Bumi Agung, Way Kanan. Sekolah yang berada kurang lebih 5 KM ujung perbatasan Way Kanan Lampung dengan kabupaten OKU Timur Sumatera Selatan, membahas materi Aswaja dan Bela Negara pada Pesantren Ramadhan di aula sekolah setempat.

Salah seorang guru yang juga pemateri dalam pesantren Ramadhan Susan Arisanti berharap, kegiatan ini dapat membentuk insan cendekia yang tawadhu dan moderat untuk Islam yang rahmah.

SMPN 1 Bumi Agung Masukkan Aswaja dan Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
SMPN 1 Bumi Agung Masukkan Aswaja dan Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

SMPN 1 Bumi Agung Masukkan Aswaja dan Bela Negara

“Agama islam tumbuh dalam keselarasan sains dan spiritual. Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya diberi materi tentang Aswaja, ketauhidan, amalan Ramadhan, fiqih, akhlak, namun siswa juga diajak belajar membaca Quran yang benar,” kata Susan, Senin, (22/6).

Belajar Muhammadiyah

Susan menambahkan, meskipun pesantren ramadhan ini singkat, pihak sekolah berharap menghasilkan sikap tawadhu di kalangan pelajar terhadap orang tua, guru, atau orang lain. Sebab, sikap tawadhu memengaruhi keberkahan sebuah ilmu.

Belajar Muhammadiyah

“Setelah tawadhu, siswa diharapkan bersikap moderat guna menunjukkan Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Sehingga paham radikal yang mengancam kedaulatan NKRI bisa ditangkal sejak dini,” ujar aktivis Korps Putri PMII Sumatera Selatan itu.

Sementara siswi kelas 8 Devi mengatakan, pesantren Ramadhan sangat bermanfaat. Ia berharap kegiatan itu tidak berlangsung singkat. "Kalau bisa pesantren Ramadhan tahun depan waktunya diperpanjang, bisa lebih dari sepekan karena sangat bermanfaat bagi kami". (Heri Amanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock