Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Bogor, Belajar Muhammadiyah

Gedung Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Ahad (29/5) pagi tampak berbeda. Ratusan jama’ah dari majelis ta’lim se-Bogor tampak memenuhi ruangan. Pasalnya, hari ini merupakan hari terselenggaranya acara IPB Bersholawat, sebuah acara yang bertujuan menggemakan shalawat di kampus pertanian terbaik se-Indonesia ini.

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Acara yang bertema Gemakan Sholawat, Temukan Kembali Jati Diri Umat untuk NKRI yang Bermartababat ini juga dihelat dalam rangka peringatan harlah ke-9 KMNU IPB yang jatuh pada 26 Mei lalu. Acara dimulai pada pukul delapan pagi dengan penampilan hadrah KMNU IPB sebagai pembukanya.

Dalam sambutannya, ketua pelaksana IPB Bersholawat, ketua KMNU IPB, Pembina KMNU IPB, dan Presidium Nasional I KMNU Pusat sama-sama menyatakan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara shalawatan terbesar di kampus IPB ini. Mereka berharap acara ini dapat menarik lebih banyak lagi mahasiswa dan masyarakat yang rindu akan Rasulullah SAW. ?

Hadir sebagai penyampai mauidhah hasanah, KH Choirul Anshori dari Yayasan Syahamah (Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syaikh Dr Muhammad Darwis asal Suriah yang merupakan dosen di Ma’had Aly Littafaqquh Fiddin Imam Syafii, Cianjur. Dalam ceramah Kiai Anshori menyampaikan bahwa pembacaan maulid adalah hal yang disukai Rasulullah SAW. Hal ini terbukti ketika Imam Al-Bushiri sakit keras karena terlalu rindunya terhadap Rasulullah, dalam suatu malam ia didatangi Rasulullah SAW dalam mimpinya. Rasulullah meminta Imam Al-Bushiri menulis maulid yang kemudian dikenal dengan Maulid Burdah. Setelah itu, Rasulullah mengusap Imam Al-Bushiri dan ketika terbangun dari tidurnya, Imam AL-Bushiri telah sembuh dari sakitnya.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Anshori menambahkan walau pembacaan maulid adalah bid’ah (perkara yang baru ada setelah Nabi wafat-red), namun hal ini termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Kiai yang berasal dari Malang ini juga mengingatkan umat Islam akan bahaya bid’ah dhalalah (bid’ah yang buruk) seperti gerakan LGBT dan kampanye-kampanye menyesatkan lainnya.?

Mauidhoh hasanah kedua disampaikan oleh Syaikh Dr Muhammad Darwis dalam bahasa Arab dengan Ustadz Adhli Al-Karni sebagai penerjemahnya. Dalam ceramahnya, Syaikh Muhammad Darwis menerangkan tentang keutamaan shalawat dan kemuliaan Baginda Nabi SAW. Kisah yang menyentuh hati juga ia sampaikan, salah satunya kisah tentang Ummu Sulaim yang mengumpulkan tetesan keringat Rasulullah dalam sebuah botol saat Rasulullah tertidur.?

Pelantunan shalawat yang merupakan acara inti dari IPB Bersholawat ini dipimpin oleh Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf beserta jama’ahnya yang tergabung dalam Majelis Syababul Kheir Bogor.?

“Sudah saatnya kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menunjukkan identitasnya sebagai kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu dengan bershalawat,” tegas Habib Mahdi di sela-sela pelantunan shalawat. Ke depan, acara yang diramaikan dengan hastag #IPBersholawat ini diharapkan dapat menjadi pemicu akan lahirnya lebih banyak majelis shalawat di kampus selanjutnya. (Kholilah DI/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Tragedi kemanusiaan yang dialami oleh umat muslim Rohingya, di Rakhine Myanmar telah memantik aksi sejumlah kalangan untuk memberikan dukungan moril. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Sebagai bentuk kepedulian terhadap umat muslim Rohingya PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo bersama pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan melaksanakan dzikir akbar sekaligus sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya di halaman depan Eks Kantor Bupati Probolinggo di Kecamatan Dringu, Ahad (10/9) sore.

Kegiatan ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah, pengurus PW GP Ansor Jawa Timur, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Dzikir akbar dan sholat ghaib yang diikuti oleh seluruh pengurus PAC GP Ansor, Banser dan pengurus NU se-Kabupaten Probolinggo ini diawali dengan sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya. Kemudian dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Jamaluddin al Hariri.

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa sebagai umat muslim, khususnya warga NU agar tidak terpancing dan terprovokasi oleh aksi-aksi yang mengarah kepada cara anarkis.

Belajar Muhammadiyah

“Sebab, apabila warga NU sampai terpancing dan terprovokasi tentunya akan membawa pengaruh yang negatif dan dapat memecah belahkan persatuan umat muslim di Republik Indonesia,” ungkapnya.

Oleh karena itu Hasan menginstruksikan kepada seluruh ranting dan anak ranting agar melakukan gerakan doa khusus pada pemerintah Myanmar yang telah melakukan penistaan antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. “Permasalahan ini bukan karena persoalan agama, tetapi konflik ini disebabkan hanya karena persoalan dunia,” pungkasnya.

Terpisah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis menyampaikan bahwa dzikir akbar dan sholat ghaib ini merupakan salah satu upaya kegiatan positif yang dilakukan oleh GP Ansor sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap muslim Rohingya.

“Saya menolak dan mengutuk keras bila ada ormas melakukan aksi-aksi solidaritas Etnis Muslim Rohingya di Rakhine Myanmar dengan cara anarkis. Aksi itu harus dilakukan melalui hal-hal positif dengan cara mendoakan yang terbaik bagi umat muslim Rohingya,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Sumedang, Belajar Muhammadiyah - Upaya memajukan sebuah organisasi harus diawali dulu oleh peningkatan kualitas pribadi masing-masing anggota organisasi tersebut. Kalau sesorang sudah mampu mengurusi keperluan pribadinya dengan kualitas yang baik, maka ketika diminta untuk mengurusi organisasi apapun hasilnya pasti berkualitas.

Demikian disampaikan oleh Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Ai Faridah di hadapan para peserta kegiatan peningkatan kualitas organisasi. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Al-Hikam, Kamis (1/9) yang diprakarsai oleh pengurus Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU MA Plus Al-Hikam.

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Pribadi Warga NU Tunjang Kemajuan Organisasi

Semua pengurus organisasi harus senantiasa meningkatkan kualitas pribadi sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Selain itu setiap pengurus harus bekerja maksimal yang dilandasi oleh ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan. Penting ini semua dilakukan supaya peran yang dijalankannya dapat memberikan sumbangsih yang positif untuk kemajuan sebuah organisasi, lanjut Ai Faridah.

Apalagi organisasi yang akan dimajukannya yaitu organisasi badan otonom Nahdlatul Ulama seperti IPNU dan IPNU. “Jangan setengah-setengah untuk memajukan NU. Karena jamiyyah NU didirikan oleh para ulama. Yakinlah kalau kita mengurusi NU maka akan selalu ada keberkahan di setiap langkah kehidupan kita.”

Belajar Muhammadiyah

Ai Faridah melanjutkan, menjaga keberlangsungan organisasi NU yang didirikan oleh para ulama sudah menjadi tugas seorang pelajar NU. Jangan hanya bangga menjadi warga NU yang kultural, tapi harus bangga menjadi warga NU yang struktural. Warga NU yang struktural artinya warga NU yang aktif mengurusi organisasi NU dan terdaftar sebagai pengurus NU atau banom NU.

Belajar Muhammadiyah

“Semoga dengan adanya peningkatan kualitas organisasi seperti ini, kecintaan kalian terhadap NU semakin kuat. Kalau cintanya sudah kuat, maka ngurus NU juga akan lebih bersemangat,” tutup Ai Faridah. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kiai, Tokoh, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Sumenep, Belajar Muhammadiyah - Salah seorang Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, K M Mushthafa menyampaikan taushiyah kebangsaan pada upacara kemerdekaan, Rabu (17/8). Di depan para santri, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menegaskan, guru adalah penggerak kemerdekaan Indonesia.

"Ingat, Budi Utomo sejak berdiri 1906 sampai 1926 masih tetap berbau Jawanisme (kesukuan). Dan alasan ini telah menggugurkan anggapan bahwa Budi Utomo merupakan penggerak nasionalisme Indonesia," ujar Kiai Mushthafa.

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Ditambahkan, kebangkitan kebangsaan melibatkan semua unsur di negeri ini. Kemerdekaan kita diilhami oleh kaum pelajar yang berprofesi sebagai pendidik. Pada tahun 1922, Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah murni gerakan pendidikan kebangsaan.

Belajar Muhammadiyah

"Semua aktivis pergerakan kemerdekaan, Soekarno, Hatta, Syahrir, Maramis, Subardjo, dan lain-lain adalah seorang guru," bebernya.

Proses kelahiran Indonesia, ujarnya, juga diilhami oleh kalangan pendidik dunia pesantren. Sebut saja Pesantren Annuqayah? yang adalah lembaga pondok penyuplai pejuang dalam Hizbullah sekaligus melahirkan guru pejuang.

Belajar Muhammadiyah

"Kita tidak ragu peran K. Sajjad dan K. Khazin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita pun tak pernah ragu peran KH. Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur sebagai pejuang dan sekaligus pendidik," ungkapnya.

Keterlibatan guru, tukas Kiai Mushthafa, tidak terlepas dari pemahaman bahwa membangun bangsa adalah sebagian dari iman. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian, Tokoh, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa

Rembang, Belajar Muhammadiyah

Sebagai kader muda NU, Gerakan Pemuda Ansor sudah seharusnya lebih aktif berperan serta mempertahankan apa yang sudah diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama. Utamanya di desa, badan otonom NU ini mesti terlihat kiprahnya dalam membentengi warga dari paham ekstrem.

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Diingatkan, Jangan Sampai Aliran Keras Masuk ke Desa

Imbauan tersebut disampaikan Kiai Suparman, Rais Syuriyah Pengurus Ranting NU Desa Babadan, Kecamatan Kaliori Rembang, Jawa Tengah saat Pimpinan Ranting GP Ansor setempat menggelar rapat anggota pemilihan ketua ranting yang baru di Masjid Attaqwa Desa Babadan.

"Gerakan yang paling harus diwaspadai adalah setiap gerakan yang ada di desa. Jangan sampai aliran yang menggunakan kekerasan masuk ke desa kita tercinta ini,” pintanya, Rabu (23/8) malam itu.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Kiai Suparman, sebagai “anak sulung” NU, GP Ansor diharapkan dapat berkiprah maksimal. Selain itu, GP Ansor juga harus siap dan dipersiapkan untuk menggantikan kepengurusan Nahdlatul Ulama kelak.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga mengajak kepada GP Ansor untuk melestarikan tradisi NU seperti ziarah dan lainnya. Ziarah kubur, kata Kiai Suparman, merupakan salah satu wujud kecintaan warga Nahdliyin terhadap sejarah, terutama sejarah leluhur sendiri.

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Kaliori Jasmani memimpin langsung pendemisioneran ketua lama dan sidang pemilihan ketua baru. Ia mengapresiasi Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Babadan yang telah menjalankan organisasi sesuai dengan Pedoman Pelaksaan Organisasi dan Administrasi (PPOA). (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Amalan, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Raut wajahnya berbinar saat menerima kami, pegiat media NU. Pagi itu, sesuai jadwal yang disepakati kami diterima di ruang tamu, kediamannya di kawasan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso Peterongan Jombang, Jawa Timur.

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka

Tidak perlu ada protokoler yang ribet untuk bertemu beliau. Sehingga wawancara berjalan sangat cair dengan diselingi canda khas pesantren. KH Ahmad Dimyati Romly yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan PPDU menjelaskan kepada kami apa saja yang telah disiapkan jelang pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, yang kebetulan pesantren ini menjadi salah satu tuan rumah.

"Kami sangat bangga serta tersanjung karena dipercaya sebagai tuan rumah yang akan menyambut peserta Muktamar NU dari berbagai kawasan di tanah air bahkan luar negeri," katanya. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi hajatan lima tahunan tertinggi di NU tersebut.

Salah satu yang dilakukan antara lain memanggil para alumni PPDU yang sedang kuliah di sejumlah kampus di tanah air. Disamping melayani kebutuhan para kiai peserta muktamar, keberadaan alumni yang masih muda tersebut sebagai "tenaga pemasaran" sekaligus mengenalkan keberadaan pesantren dengan kelebihan yang dimiliki kepada peserta.

Belajar Muhammadiyah

Meskipun wawancara berlangsung hampir dua jam, namun Kiai Dim, sapaan beliau masih tampak bugar. Suaranya terdengar jelas karena dilakukan dengan penuh semangat. Kedekatan kepada siapa saja tanpa membedakan derajat dan status sosial dibenarkan KH Zaimuddin Wijaya Asad. "Beliau dekat kepada siapa saja," katanya saat dihubungi, Rabu (18/5). Senyampang masih sehat, undangan dari mana saja akan dihadiri, lanjut Gus Zuem, sapaan akrabnya.

Bendahara Umum PPDU ini kemudian menceritakan bahwa Kiai Dim kendatipun sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang demikian dihormati ribuan jamaah, tidak eksklusif. "Kedekatan dengan umat adalah kelebihan dari beliau," ungkap Gus Zuem.?

KH Ahmad Dimyathi Romly meninggal dunia, Rabu (18/5) sekitar pukul 13.00 WIB di RS Airlangga Jombang. Rais Syuriyah PBNU ini meninggalkan 7 orang anak. Kiai Dim akan dikebumikan di komplek makam keluarga di Pesantren Darul Ulum Jombang. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Tokoh, RMI NU, Nahdlatul Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Inilah Hasil Pertandingan Liga Santri Hari Pertama dan Kedua

Bandung, NU online

Sebanyak 32 kesebelasan mengikuti putaran final atau Seri Nasional Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 di kota Bandung di empat stadion, yaitu Siliwangi, Brigif, Arcamanik, dan Lodaya. Kesebelasan-kesebelasan itu dibagi ke dalam delapan grup dari A sampai H. Masing-masing grup dihuni empat kesebelasan.

Inilah Hasil Pertandingan Liga Santri Hari Pertama dan Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Hasil Pertandingan Liga Santri Hari Pertama dan Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Hasil Pertandingan Liga Santri Hari Pertama dan Kedua

Mereka berjuang keras untuk mendapatkan tiket ke babak selanjutnya sejak hari pertama, Senin (23/10). Memasuki hari kedua, berdasarkan hasil pertandingan, memperlihatkan adanya kesebelasan yang dipastikan lolos, dipastikan gagal, dan masih menentukan pertandingan terakhir, besok.  

Berikut hasil pertandingan, hari pertama pada Senin 23 Oktober:

Belajar Muhammadiyah

Pada partai pertama yang berlangsung pukul 07.30 WIB, Al Ikhlas Kabupaten Muna 0-3 Alkhairaat Bintauna FC, Nurul Iman Bantul 1-0 Assalam Bangkalan, Al-Ijtihad Danger 0-3 Asshiddiqiyah Jakarta Barat, Al Mujtahid 1-2 Mambaul Maarif Denanyar.

Belajar Muhammadiyah

Pada partai kedua, pukul 09.00 WIB, Al Huda Cianjur 3-2 Nurul Ilmi Sijunjung, Darul Arafah Deli Serdang 1-1 Alhusaeni Kabupaten Bandung, Arraisiyah Tangsel 1-1 Birul Walidain, Al Huda Lampung Selatan 1-4 Nurul Iman Muaro Jambi.

Pada partai ketiga, pukul 14.00 WIB, Hamzan Wadi 0-2 Nurul Fauzi Tasikmalaya, Walisongo Sragen 0-1 Darul Huda Ponorogo, Al Anshor Maluku Tengah Papua 1-3 AIAI Babel, Manbaul Hikmah United 0-0 Nurul Jadid Paiton.

Pada partai keempat, pukul 15.30 WIB, Al Madaniyah 0-7 DDI Kaballangan, RIAB 0-1 Babussalam FC Rohul, Darul Hikmah Cirebon vs Al Kahfi Kebumen (DITUNDA), Nurul Khaeraat Lil Muhibbin 2-2 Minhajussalam Subulussalam.

Berikut hasil pertandingan hari ini, 24 Oktober:  

Pada partai pertama, pukul 07.30 WIB, Hamzan Wadi 0-8 Walisongo Sragen, Nurul Fauzi Tasikmalaya 0-1 Darul Huda Ponorogo, Al-Ijtihad Danger 1-3 Al-Mujtahid Pontianak, Asshiddiqiyah Jakarta Barat 0-1 Mambaul Maarif Denanyar.

Pada partai kedua, pukul 09.00 WIB, Al Huda Cianjur 3-1 Darul Arafah Deli Serdang, Nurul Ilmi Sijunjung 2-5 Alhusaeni Kabupaten Bandung, Arraisiyah Tangsel 2-1 Al Huda Lampung Selatan, Birul Walidain 4-1 Nurul Iman Muaro Jambi.

Partai ketiga, pukul 10.30 WIB, Al Ikhlas Kab. Muna 0-3 Nurul Iman Bantul, Alkhairaat Bintauna FC 0-1 Assalam Bangkalan, Al-Anshor Maluku Tengah 0-6 Manbaul Hikmah United, AIAI Babel 5-0 Nurul Jadid Paiton.

Partai keempat, pukul 13.30 WIB, Al Madaniyah 0-5 RIAB, DDI Kaballangan 4-1 Babussalam FC Rohul, Darul Hikmah Cirebon 4-1 Nurul Khaeraat Lil Muhibbin, Al Kahfi Kebumen 2-0 Minhajussalam Subulussalam. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Sejumlah menteri “Kabinet Kerja” Presiden Joko Widodo menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Al-Hikam II Beji, Depok, Kamis (30/10).

Mereka adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa dan Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Mantan menteri luar neger Hasan Wirajuda yang semenjak awal mendukung pelaksanaan acara International Conference of Islamic Scholar (ICIS) bersama KH Hasyim Muzadi juga terlihat hadir dan menyampaikan materi.

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Seminar internasional kali ini membahas tema konflik dan transisi demokrasi di Timur Tengah. Secara khusus pembahasan lebih mengarah kepada persoalan ISIS atau kelompok negara Islam d Irak dan Suriah.

Belajar Muhammadiyah

Seminar dihadiri sekitar 400 orang yang terdiri dari ulama dan cendekiawan muslim lintas ormas, termasuk para kiai dan pengurus NU dari berbagai daerah yang akan mengikuti Munas dan Konbes di PBNU 1-2 November mendatang.

KH Hasyim Muzadi mengatakan, selama ini informasi mengenai ISIS tidak utuh dan sepotong-potong. Dengan menghadirkan para pakar nasional serta cendekiawan Muslim dari Mesir, Irak dan Suriah diharapkan para kiai khususnya dan umat Islam dapat memperoleh informasi yang utuh mengenai ISIS.

Belajar Muhammadiyah

“Karena pendirian yang semacam ISIS ini ada di Indonesia. Harus ada pengertian yang utuh mengenai ISIS. Kalau sudah ngerti maka akan waspada. Lebih dari itu diharapkan kita dapat menjelaskan ISIS kepada masyarakat sembari mengembangkan ajaran Islam yang moderat,” katanya kepada wartawan usai pembukaan seminar.

Seminar internasional dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan mantan menteri luar negeri Hasan Wirajuda menyampaikan kata pengantar.

Seminar internasional didukung juga oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sejumlah pejabat penting dijadwalkan akan berbicara antara lain Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Sutarman, dan mantan Kepala BNPT Ansyad Mbai. Sementara itu juga terlihat hadir dalam dalam acara pembukaan Ketua DPP PPP Romahurmuzi yang sempat berbincang dengan KH Hasyim Muzadi di kediamannya. (Dwi Niar/ Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar yang menjadi salah satu Amirul Hajj menyerukan pesan penting, ibadah haji bisa dijadikan instrumen penyadaran diri bahwa persatuan umat Islam dari seluruh dunia harus menjadi pengalaman berharga untuk bangsa yang bisa dibawa ke negaranya masing-masing.

Menurut kiai asal Jawa Timur ini, sifat manusia sering lupa terhadap persamaan di antara mereka. Mereka kerap bercerai-berai karena kekuatan, kekayaan, keluarga, tanah dan ras. Kehidupan mereka hanya mengumbar ego sektoral dan kerap bertindak brutal secara politis, seperti kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam.

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta

"Sebab itu, pengalaman haji telah membuat mereka menemukan jati-diri dalam kerangka mereka semua dapat bersatu di tengah perbedaan. Pertahankan temuan-temuan ini sebagai oleh-oleh yang amat berharga untuk bangsa tercinta," tutur Kiai Miftah saat menyampaikan Khutbah Wukuf di Arafah, Ahad (11/9) lalu.

Dia menekankan konteks persatuan dalam ibadah haji mengingat dunia Islam saat ini terus berkecamuk dengan perang yang mengakibatkan jutaan nyawa manusia tak berdosa melayang sia-sia. Mereka tidak hanya dihantui kematian setiap hari, tetapi juga kehilangan orang-orang terkasih hingga terusir dari tanah airnya sendiri. Lebih miris lagi, tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab tersebut sering membawa-membawa nama agama.

Belajar Muhammadiyah

Pesan Kiai Miftah itu juga sangat terkait dengan radikalisme global yang sampai sekarang masih didengung-dengungkan oleh sebagian kelompok kecil yang kerap mengakibatkan tindakan terorisme. Gerakan ini menenteng panji Islam dengan mengeskploitasi kesengsaraan rakyat Timur Tengah ketika terjadi serangan bom. Padahal tragedi yang dieksploitasi akan mendatangkan radikalisme baru sehingga dunia Islam terus-menerus dalam kondisi mencekam.

Persatuan umat Islam dalam kondisi damai di tengah perbedaan ini juga penting ketika gerakan radikal terus berupaya mengancurkan kokohnya dasar negara yang menjadi pondasi kesatuan bangsa, misal di Indonesia yaitu Pancasila. Menyatunya umat Islam dengan instrumen ibadah haji harus menjadi perhatian dunia bahwa persatuan di tengah perbedaan memerlukan sebuah wadah yang disepakati bersama secara konsisten.

Perdamian sebuah bangsa harus terus diupayakan bersama-sama terutama oleh para tokoh sentral di berbagai negara yang mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat. Jangan sampai kelompok atau gerakan-gerakan radikal mendominasi pola pikir masyarakat seolah tak ada upaya dari para ulama moderat yang bersinergi dengan negara membangun wawasan kebangsaan dan cinta tanah air. Sinergi ini tidak akan mudah dikoyak oleh kelompok-kelompok yang bertujuan mememecah belah bangsa dan mengerdilkan negara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Kunjungan Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz mendapat perhatian luar biasa. Jarang-jarang lawatan sebuah kepala negara mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Persiapan yang istimewa dilakukan untuk kenyamanan Sang Raja. Lift Masjid Istiqlal dipasang baru, demikian juga toiletnya. Di DPR beraneka-ragam bunga didatangkan agar gedung wakil rakyat ini tampak indah dalam menyambut khadimul haramain. Televisi melakukan siaran langsung acara kenegaraan yang dihadiri sang Raja sedangkan media cetak atau daring mengupas berbagai sisi, baik hubungan Indonesia dan Saudi Arabia dari masa ke masa atau tentang figur Raja Salman dan keluarganya.?

Pemerintah berharap kunjungan tersebut tidak sebatas seremoni. Ada harapan lebih besar agar terjalin hubungan yang lebih erat dan kerja sama ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Perdagangan Indonesia dengan Saudi cukup erat, terutama terkait dengan impor minyak mengingat Indonesia saat ini sudah mengimpor bersih untuk memenuhi kebutuhan minyak buminya. Total ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,33 miliar dolar sedangkan impor kita mencapai 2,73 miliar dolar. 2,02 miliarnya berupa produk minyak. Publik, melalui analisis terhadap konten yang diperbincangkan di media sosial, publik menginginkan hubungan yang lebih erat mengingat dua negara ini penduduknya mayoritas Muslim. Apalagi di Arab Saudi terdapat Masjidil Haram dan Masjid Madinah, dua tempat yang paling dihormati umat Islam. Sebagai saudara yang diberkahi kekayaan dari sononya, tanpa perlu bekerja keras, Saudi diharapkan memberi bantuan maksimal atas saudara sesama Muslim yang tidak seberuntung dia. ?

Sayangnya, harapan terhadap kerja sama yang lebih erat ini kurang membawa hasil. Presiden ? Joko Widodo dalam sambutannya di Pesantren Buntet Cirebon (13/4) secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas komitmen investasi Saudi Arabia yang hanya sebesar Rp89 triliun (US$6 miliar), sementara China mendapatkan kucuran dana sebesar Rp870 triliun (US$65 miliar) bahkan Malaysia yang negaranya lebih kecil dari Indonesia mendapat lebih banyak, yaitu sebesar Rp 92,8 triliun atau setara dengan US$7 miliar.

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Banyak di antara Muslim Indonesia tampaknya terbuai dengan Saudi Arabia karena sentimen keislaman. Seolah-olah Saudi akan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, sementara di sisi lain, mereka menyatakan ketidaknyamanan dengan China karena stigma ideologi yang dianut oleh negeri tersebut, dan karena penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa yang dari sisi jumlah adalah minoritas.

Lho, ternyata Saudi lebih memilih menanamkan uangnya kepada China daripada Indonesia yang sesama Muslim. Inilah yang tak banyak disadari oleh sebagian Muslim Indonesia yang menempatkan Saudi sebagai patron, sebagai bentuk ideal dalam berislam. Bahwa membantu sesama Muslim adalah di atas segalanya. Faktanya, dana-dana petrodolar yang mereka miliki lebih banyak diinvestasikan di negara-negara Barat daripada negara Muslim.

Belajar Muhammadiyah

Saudi berpikir pragmatis dalam melakukan investasi, di mana dana tersebut. Kurang ada kesadaran untuk melakukan kebijakan afirmatif untuk mendukung sesama negara Muslim, sementara di sisi lain ingin disebut sebagai pemimpin bagi negara-negara Muslim. Perilaku yang sama juga dilakukan negara-negara Timur Tengah terhadap dana-dana minyak yang mereka miliki terhadap kebijakan investasinya. Pada rentang 2010-2015, nilai investasi negeri yang dipimpin oleh dinasti Saudi itu hanya US$34 juta atau hanyaa 0,02 persen dari total investasi asing yang mengalir ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun itu. Pada 2016, realisasi investasi hanya US$900.000 atau sekitar Rp11,9 miliar.

Jika pendekatannya adalah pragmatis bahwa uang tidak memiliki agama, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan kucuran investasi karena sentimen sebagai sesama Muslim. Indonesia harus memperbaiki iklim investasinya, hambatan-hambatan terhadap investasi seperti korupsi yang masih menggurita, birokrasi yang bertele-tele, infrastruktur yang masih belum memadai, dan hal-hal lain harus diperhatikan. Dengan demikian, siapa saja akan datang karena adanya potensi keuntungan yang akan diperoleh.?

Belajar Muhammadiyah

Kita memang gampang terbuai dengan kata-kata indah yang menggugah emosi kita. Sejarah perjalanan bangsa telah membuktikan, dahulu kita mendukung Jepang masuk ke Nusantara karena mereka memakai sentimen sebagai saudara tua. Faktanya, penjajahan yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun ini menimbulkan penderitaan yang tak terkira. Indonesia, jika ingin maju, tidak bisa mengharapkan negara atau bangsa lain untuk menolong. Kita yang harus memacu diri kita sendiri untuk memperbaiki apa yang kurang. Kita, berhubungan dengan bangsa lain dalam posisi yang setara, bukan menghamba. Bahkan kalau bisa, menolong negara-negara lain yang selama ini kurang berdaya. Dan itu hanya bisa dicapai jika kita kuat, kita berdaya, dan kita memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tawar kepada bangsa lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Makam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Kiai Masdar: Karena NU, Kebhinnekaan Indonesia Terjaga dengan Baik

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Kiprah dan sumbangsih NU bagi eksistensi negeri ini sangat besar. Karena NU, kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia tidak menimbulkan perpecahan dan masih terjaga dengan baik.

KH Masdar Farid Masudi mengingatkan hal ini pada diskusi berkala yang diselenggarakan ? Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur di Meeting Room Jatim Expo Surabaya, Ahad (19/4).

Kiai Masdar: Karena NU, Kebhinnekaan Indonesia Terjaga dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Karena NU, Kebhinnekaan Indonesia Terjaga dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Karena NU, Kebhinnekaan Indonesia Terjaga dengan Baik

Dalam pandangan Rais Syuriah PBNU ini, dengan Islam yang toleran, menghargai perbedaan dan tidak memaksakan diri sendiri, maka keanekaragaman yang ada di Indonesia bisa terjaga dengan baik. "Bayangkan kalau Islam garis keras yang menguasai negeri ini, maka kondisinya ? akan berbeda," jelas Kiai Masdar di hadapan awak media dan akademisi.

Belajar Muhammadiyah

Bahkan Kiai Masdar memprediksi, jangankan kalangan Islam garis keras berkuasa, kekuatannya agak dominan saja, maka yang akan terjadi bukan kondisi yang harmonis, namun perpecahan di mana-mana.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Masdar mengajak semua kalangan untuk menyadari akan hal ini. "Utamanya para warga dan pengurus NU di semua tingkatan. Karenanya, hal mendesak yang harus dilakukan adalah melakukan penyadaran kepada para pegiat NU,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, mereka harus diingatkan bahwa memimpin dan menjadi pengurus NU itu harus dengan ketulusan dan jauh dari kepentingan sesaat.

“Bagi siapa saja yang berusaha merusak NU, baik mereka adalah kelompok politisi, pemerintah serta kalangan internal NU sendiri, maka dosanya tidak hanya kepada jamiyah ini, tetapi juga berdosa kepada Islam, bangsa ? Indonesia serta Islam dunia," ungkap Masdar.

Bagi Masdar, sangat mudah bagi bangsa ini untuk melakukan tindakan destruktif bahkan memisahkan dengan NKRI. Kita memiliki ratusan ribu pulau yang memungkinkan untuk bisa terpecah-belah. “Demikian juga pada saat yang bersamaan, negara dipastikan tidak akan mampu menanggulangi perpecahan yang akan terjadi,” ucapnya.

Kondisi negeri ini tetap kondusif tidak lain lantaran Islam yang dianut dan dijalankan mayoritas bangsa ini adalah ala NU. "Ini diakui atau tidak, namun kenyataan menandaskan hal ini," katanya.

Dalam forum berkala bertajuk ‘Mengawal Suksesi Kepemimpinan NU’ itu, Kiai Masdar juga menjelaskan kepemimpinan yang menjaga identitas NU adalah yang tawadhu, wirai, zuhud, tidak politis (tidak ‘hubbud-duniya’), dan tasamuh (toleran).

Tampil juga sebagai narasumber adalah Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Masdar Hilmy PhD. Kegiatan dipandu oleh Wakil Ketua ISNU Jatim, Zainul Hamdi. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Selama melakukan kunjungan di Jombang, Joko Widodo alias Jokowi menerima sejumlah pesan dari para kiai termasuk dari pengasuh pesantren Tarbiyatun Nasyiin Paculgowang Diwek KH Aziz Mansyur. Secara khusus, Kiai Aziz membacakan kitab kuning rujukan kiai NU yang memuat konsep kepemimpinan dan kebangsaan.

Konsep itu disampaikan KH Aziz Mansyur saat Jokowi dan rombongan bersilaturahim ke pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Sabtu (3/5) malam.

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja

Kiai Aziz mengatakan, “Konsep itu diambilkan dari salah satu kitab kuning rujukan warga Nahdliyin NU, yakni kitab Jamul Jawami.”

Belajar Muhammadiyah

Terhadap pesan dan harapan, Jokowi mengakui kalau dirinya sangat memahami pesan yang disampaikan Kiai Aziz Mansyur. "Saya sudah banyak diberi wejangan oleh Kiai Aziz apabila nanti Allah mengizinkan saya memegang kepemimpinanan nasional seperti sudah dijelaskan. Saya memahami sekali apa yang Kiai Aziz sampaikan," ujar Jokowi.

Sejumlah elit politik PDI Perjuangan, PKB, dan Nasdem tampak mendampingi Jokowi. Mereka di antaranya Wasekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, Ketua DPP PKB Marwan Jafar, Ketua DPP Nasdem Effendi Choirie, Ketua DPD PDIP Jatim Sirmadji, dan Ketua DPW PKB Jatim Abdul Halim Iskandar.

Belajar Muhammadiyah

Usai mengunjungi pesantren ini, rombongan Jokowi melanjutkan silaturahmi ke pesantren Tebuireng dan pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Aswaja, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Wina, Belajar Muhammadiyah

Afghanistan berisiko menjadi negara produsen narkoba jika tidak ada dukungan internasional untuk membantu penciptaan lapangan kerja di negara tersebut, demikian kepala Kantor PBB untuk Obat-Obat Terlarang dan Kriminal (UNODC) Yury Fedotov pada Rabu.

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Afganistan Berisiko Jadi Produsen Narkoba Dunia

Fedotov menggambarkan masa depan suram persoalan narkotika di Afghanistan satu tahun sebelum penarikan pasukan NATO pada tahun depan, lapor Reuters dan dikutip Antaranews.

Dia mengatakan bahwa kehadiran pasukan NATO telah menciptakan sepertiga total investasi dan lapangan kerja di Afghanistan. Dengan demikian Fedotov berpendapat bahwa pemerintah setempat harus segera bertindak sebelum pasukan NATO mengakhiri tugasnya.

Belajar Muhammadiyah

Penelitian tahunan UNODC yang akan dilakukan pada akhir bulan ini akan menunjukkan seberapa banyak peningkatan pembibitan dan produksi opium dibandingkan pada tahun 2012, demikian Fedotov kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Belajar Muhammadiyah

Afghanistan saat ini merupakan produsen nomor satu opium (bahan utama untuk membuat heroin) di dunia. Dari situlah Taliban mendapatkan pendanaan untuk gerakan gerilyanya.

"Keadaan saat ini semakin memburuk dan ini sangat mengecewakan," kata Fedotov.

Dia mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan sebuah kemunduran yang harus disikapi sebagai tantangan.

Pemerintah Afghanistan akan membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menghentikan penanaman opium saat sebagian besar tentara asing pulang ke negaranya masing-masing.

Obat-obatan terlarang telah menjadi sumber pendanaan utama pemberontakan dan mengancam stabilitas keamanan kawasan. Selain itu, angka kecanduan di Afghanistan merupakan yang terbesar di dunia.

"Afghanistan juga merupakan lahan yang subur untuk korupsi dan berkembangnya organisasi kriminal transnasional," kata dia.

Setelah hampir 12 tahun pasukan NATO menginvasi Afghanistan, masih banyak wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Taliban dan pasukan lokal masih bergantung dengan dukungan unit udara luar negeri, terutama di wilayah terpencil.

Fedotov mengatakan bahwa memang terdapat niat politik di kalangan pejabat Afghanistan untuk mengakhiri persoalan narkoba. Namun upaya penangkapan dan penyitaan selama ini masih gagal membendung naiknya produksi opium.

Menurut Fedotov, petani-petani Afghanistan membutuhkan infrastruktur yang lebih baik dan pasar-pasar baru untuk menjual produk-produk legal. Lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri dibutuhkan untuk mengubah ekonomi yang bergantung pada produksi narkoba.

"Kita masih belum bisa membangun model ekonomi alternatif di Afghanistan," kata dia. 

Pada akhir tahun lalu, Afghanistan mensuplai 75 persen pasar heroin dunia.

“Diasumsikan, tahun ini akan mencapai 90 persen, kata Jean-Luc Lemahieu, pejabat tinggi PBB untuk kontra-narkotika di Afghanistan seperti dilaporkan servingdrope.

Produksi opium semakin menguntungkan ketika harganya naik sejak 2010 ketika terjadi pemberantasan penanaman opium. Petani dapat memperoleh $203 setara 2.250.000 rupiah per kilo ketika memanen opium, dibandingkan hanya $43 sen (Rp4800) per kilo gandung atau $1.25 (Rp14.000) beras.

Secara keseluruhan, produksi opium bisa mencapai angka seperti tahun 2008, ketika 388,000 hektar lahan ditanami opium. (mukafi niam)  

Foto: servingdrope

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Tokoh, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Belajar Muhammadiyah berkerja sama dengan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) menggelar Kompetisi Esai dan Video bertajuk Islam damai. Kegiatan ini dilakukan untuk terus menangkal dan menanggulangi radikalisme terutama di dunia maya dan media sosial. Kompetisi ini juga dimaksudkan agar masyarakat juga aktif dalam kegiatan deradikalisasi dengan memperbanyak konten-konten positif.

(Baca:? Belajar Muhammadiyah Buka Kompetisi Esai dan Video Islam Damai Berhadiah Total 29 Juta)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Deradikalisasi Efektif Jika Masyarakat juga Berperan Aktif

Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo mengatakan, penanggulangan atau pengurangan intoleransi di Indonesia lebih efektif jika masyarakat dan warga ikut serta secara aktif. Tidak mungkin pemerintah dapat melakukannya sendiri, karena masyarakat memiliki ide-ide dan solusi-solusi, dan lebih dari itu memiliki energi yang positif untuk bisa mengimbangi dan melawan intoleransi dan ekstremisme.?

“INFID bangga dan merasa terhormat bisa bekerja sama dengan Belajar Muhammadiyah untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Indonesia, termasuk kaum muda dari berbagai latar belakang untuk bisa merajut dan merawat Indonesia yang damai dan toleran melalui kompetisi esai dan multimedia ini,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, Belajar Muhammadiyah dan INFID prihatin bahwa Indonesia sekarang ini masih diwarnai dan didera oleh tindak-tindak kekerasan yang bersumber dari sikap intoleran, ekstremisme dan radikalisme yang berakibat menipisnya kohesi sosial dan gotong royong di antara masyarakat. Praktik yang seperti ini tentu bertentangan dengan semangat ke-Indonesia-an dan Islam yang melindungi semua (Rahmatan lil ‘Alamin).

Belajar Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Belajar Muhammadiyah Achmad Mukafi Niam menerangkan bahwa selama ini Belajar Muhammadiyah sebagai corong media yang konsisten dengan konten-konten Islam damai terus berusaha melakukan penanggulangan radikalisme di dunia maya. Dia menilai, selama ini dunia maya digunakan sebagai alat (instrumen) paling strategis untuk menyebarkan narasi-narasi ekstremisme, terutama kepada anak-anak muda yang sebagian besar pengguna media sosial.

Narasi-narasi ekstermisme ini berdampak pada munculnya tindakan terorisme sebagai akibat dari pemahaman agama yang cenderung eksklusif atau tertutup. Selain itu, kata Mukafi Niam, media sosial sebagai basis penyebaran radikalisme juga digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok radikalis, termasuk oleh kelompok teroris yang mengatasnamakan dirinya sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).?

Mereka secara nyata menyebarkan keresahan dan ketakutan kepada warga dunia atas kekejian yang mereka lakukan terhadap orang atau kelompok yang tidak mengikuti paham NIIS dengan membunuhnya secara membabi buta. Kekejian tersebut tidak hanya dilakukan mereka kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat agama lain.?

Belajar Muhammadiyah

“Bahkan pada tahun 2014, sebanyak 50.000 akun media sosial radikal mereka ciptakan sebagai alat penyebar propaganda dan ketakutan-ketakutan kepada masyarakat dunia dengan mengunggah kekejian-kekejian mereka,” ungkap Niam.?

Sebab itu, menurutnya, sinergi NU dan INFID untuk meningkatkan konten-konten damai di dunia maya dengan mengadakan lomba esai dan vVideo Iklan Layanan Masyarakat terkait Islam ramah, damai, dan toleran mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menanggulangi dan mencegah semakin merebaknya narasi-narasi ekstremisme di media sosial dan di dunia maya secara luas.

Untuk kualitas konten, Belajar Muhammadiyah dan INFID menggandeng beberapa pakar yang kompeten terkait Islam damai di dunia maya diantaranya, Mohamad Sobari, Alissa Wahid, Abdul Mun’im DZ, Savic Ali, Inayah Wahid, dan Daniel Rudi. Tema esai terkait dengan Islam damai, Bhinneka Tunggal Ika, dan Kewarganegaraan.?

Peluncuran dan konferensi pers kegiatan ini telah dilaksanakan Selasa (27/9) kemarin dengan menghadirkan Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, aktivis pemuda, dan para awak media di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Tokoh, Cerita Belajar Muhammadiyah

Kamis, 12 Oktober 2017

Sepotong Pelajaran dari Kisah Sampul Rapor

Salah satu kenangan pahitku terkait dengan sekolah adalah ketika kertas sampul Buku Raporku dilepas, dirobek, diremas-remas, lalu dibantingkan ke lantai di depan kelas. Kepala sekolahku marah besar saat dilihatnya sampul Buku Raporku lain dari pada yang lain.  

Aku adalah seorang bocah siswa SD swasta Islam di Solo yang hanya bermodal semangat belajar tinggi. Aku memang tidak seperti teman-teman sekolahku yang memiliki sarana belajar cukup dan pantas. Tas sekolahku jelek. Baju-bajuku lusuh. Buku-buku pelajaran aku tak punya. Sepatu aku juga tak punya. Tanggal 10 setiap bulan adalah hari yang penuh hantu bagiku karena tanggal itu merupakan hari terakhir pembayaran SPP. Tidak hanya sekali orang tuaku belum bisa membayar SPP-ku meski sudah tanggal 10.

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 sebelum kepindahanku ke Madiun lalu kembali lagi ke Solo dan pindah ke SD negeri. Aku menerima Buku Rapor untuk Catur Wulan II. Rata-rata nilaiku cukup bagus meski tidak di peringkat I. Aku merasa cukup bangga dengan prestasi seperti itu mengingat keadaanku yang tidak memiliki sarana belajar cukup. Peristiwa luar biasa terjadi ketika aku mengumpulkan kembali Buku Rapor di sekolah yang sudah ditandatangani bapakku di rumah.

Sepotong Pelajaran dari Kisah Sampul Rapor (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepotong Pelajaran dari Kisah Sampul Rapor (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepotong Pelajaran dari Kisah Sampul Rapor

“Ini rapor siapa?!” Tanya Kepala Sekolah kepada seluruh siswa di kelasku sambil mengangkat keatas dan menunjukkan buku rapor yang diambilnya dari tumpukan paling atas. Suaranya lantang. Matanya berkaca-kaca. Beliau marah besar melihat kertas sampul Buku Raporku. Dilepasnya kertas sampul itu dengan kasar. Direbok. Diremas-remas. Lalu dibantingkan ke lantai.

Saat itu, aku tak sanggup melihat kertas sampul Buku Raporku telah menjadi sampah di depan kelas. Aku ingin menangis. Aku ingin menjerit memanggil ibuku.

Belajar Muhammadiyah

“Ini rapormu kan!?” Kata Kepala Sekolah menunjuk ke aku.  “Ayo maju kamu!”

Aku pun maju ke depan mengahadap beliau.

“Ganti sampulnya! Itu tak pantas. Tahu?!”

Tanganku gemetaran menerima kembali Buku Raporku yang sudah telanjang. Wajahku terasa panas. Tenggorakanku terasa kering. Lidahku kaku. Aku tak mampu berkata apa-apa. Dadaku sesak menahan tangis. Aku takut dan sedih sekali. Aku tidak menduga sama sekali niatku membantu meringankan beban ibuku dengan memanfaatkan kertas minyak warna hijau yang telah lama dipakai untuk menutup kaca almari, ternyata bermasalah dalam pandangan orang dewasa.

“Bu... daripada Buku Raporku tanpa sampul sama sekali, dan itu sudah pasti akan dimarahi Kepala Sekolah, bagaimana kalau kertas di kaca almari itu saya lepas saja dan kemudian dipakai untuk menyampuli rapor?” Tanyaku pada ibuku meminta izin pada hari sebelumnya.

Belajar Muhammadiyah

“Ibu belum punya uang kan untuk membeli selembar kertas minyak buat menyampuli Buku Rapor?” Lanjutku.

Ibuku tidak memberikan jawaban apa-apa selain membiarkan aku melepas kertas dari kaca almari. Tetapi aku sempat melihat wajah ibuku agak memerah. Dibiarkannya aku menambal kertas yang aku lepas dari almari itu karena robek. Bukan lem seperti yang biasa di jual di toko yang aku gunakan untuk menggabungkan kembali sisi-sisi dan sudut-sudut kertas yang putus. Aku menggunakan butiran-butiran nasi sisa makan siang hari itu.

“Gimana Bu...?” Tanyaku pada ibuku sambil memperlihatkan Buku Rapor yang telah selesai aku sampuli. Ibuku tidak berkata apa-apa selain menganggukkan kepala sambil mencoba membenahi sudut-sudut yang masih kurang rapi.

“Semoga tidak terjadi apa-apa dan kelak kau jadi anak pintar dan bijak,” kata ibuku singkat pada akhirnya menjawab pertanyaanku.

Pagi itu di hari berikutnya aku bergegas ke sekolah dengan penuh semangat. Aku sangat bangga mengembalikan buku raporku ke sekolah karena disampaing telah aku sampuli sesuai warna yang diminta, tepat waktu, juga karena nilai-nilaiku tidak ada yang merah alias bagus-bagus. Namun, yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang sangat mengejutkan dan menyayat hati.

Peristiwa itu terjadi 46 tahun lalu, atau tepatnya pada tahun 1971. Kini aku adalah seorang dosen yang mengajar di sebuah perguruan tinggi. Kadang ketika aku berdiri di depan kelas di depan para mahasiswa, kenangan pahit itu muncul begitu saja di benakku yang membuatku merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah aku anak kreatif atau memang kurang ajar.

Dari peristiwa itu aku belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi para mahasiswaku sebelum memahami persoalan mereka dengan baik. Jika perlu aku meminta klarifikasi terlebih dahulu  sebelum mengambil keputusan.

Muhammad Ishom,  dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Senin, 09 Oktober 2017

Samakan Persepsi Orang Tua dan Lembaga Pendidikan TK

Bojonegoro, Belajar Muhammadiyah. Raudlatul Athfal Fattahul Huda desa Pumpungan kecamatan Kalitidu kabupaten Bojonegoro mengadakan seminar pendidikan di gedung madrasah setempat, Kamis (18/10). Seminar ini membehas peran orang tua untuk mendidik anak yang berakhlaq dan berilmu.

Samakan Persepsi Orang Tua dan Lembaga Pendidikan TK (Sumber Gambar : Nu Online)
Samakan Persepsi Orang Tua dan Lembaga Pendidikan TK (Sumber Gambar : Nu Online)

Samakan Persepsi Orang Tua dan Lembaga Pendidikan TK

Kepala RA Fattahul Huda, Slamet mengatakan, "Semoga acara ini bisa membekali wali murid untuk diimplementasikan pada anak-anaknya agar tidak terjadi kekeliruan paham antara pembelajaran yang diberikan di lembaga dan pola asuh orang tua di rumah."

Kegiatan ini merupakan satu program lembaga yang rutin dilaksanakan, tetapi bergantian dengan program kegiatan edukatif lainnya. "Setiap bulan kita mengadakan kegiatan secara khusus baik untuk anak-anak maupun untuk orang tua siswa," imbuhnya.

Belajar Muhammadiyah

Untuk keluarga lengkap, peran boleh berbagi, tapi tanggung jawab pendidikan tidak bisa dialihkan. "Tetap pada sang ayah sebagai inspirasi, teladan, dan idola bagi putra-putrinya."

Belajar Muhammadiyah

Tampak dikegiatan tersebut para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. Pasalnya tidak hanya mendengarkan saja tetapi peserta juga diajak Brain Gym dan diberikan terapi bagaimana mengatasi rasa sakit dengan cepat dan dilakukan sendiri. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Tokoh, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Jumat, 01 September 2017

NU dan Pesantren Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama dengan pesantren tidak bisa dipisahkan karena memiliki kesamaan. Disamping didirikan dan dipimpin kiai, keduanya memiliki visi sama dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI.  

NU dan Pesantren Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Pesantren Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Pesantren Perjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Demikian disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Gebog KH Ibrohim Kholili dalam acara Khatmil Qur’an ke-10 Pesantren Tahfidzul Qur’an Rohmatillah Desa Jurang, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Ahad malam (9/6).

KH Ibrohim mengatakan, pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama kali yang berhasil mencetak dan membekali santri dengan bekal iman dan ilmu yang kuat. Sementara Nahdlatul Ulama juga membangun kader-kader yang mampu mempertahankan Islam Ahlussunnah wal-Jamaah.

Belajar Muhammadiyah

“Dalam sejarahnya, para kiai NU yang juga kiai pesantren mampu menjadi pelopor meraih kemerdekaan dari penjajah. Hal inilah yang menjadikan keduanya tidak bisa terpisahkan,” ujarnya di hadapan santri dan wali santri.

Belajar Muhammadiyah

Namun sekarang ini, lanjut KH Ibrohim, masyarakat mengalami pergeseran pemikiran terhadap pesantren. Masyarakat kurang memperhatikan pesantren sehingga tidak sedikit yang mendaftarkan anaknya kepada lembaga pendidikan yang didirikan kiai NU ini.

“Zaman dulu orang memilki kebanggaan menyantrikan anaknya di pesantren, tetapi sekarang sudah tidak peduli lagi. Akibatnya, pesantren semakin lama akan kehilangan ruhnya,” katanya prihatin.

Melihat kondisi demikian, ia mengajak warga NUuntuk mendaftarkan anak-anaknya menjadi santri pesantren atau madrasah NU, “Mari putra-putri kita giring ke pesantren. Jangan kuatir tidak bisa makan karena santri itu mendapat belas kasihan dari Allah termasuk pemberian rizki,” KH Ibrohim meyakinkan.

Peringatan Khatmil Qur’an ke-10 ini dikemas pengajian umum bersama KH Masduqi Abdurrahman (Jombang) dan KH Syarofuddin (Rembang). Keduanya menyatakan hafidz dan hafidzah yang hafal Al-Qur’an akan selalu mendapat kemuliaan dan kemurahan dari Allah.

Pada kesempatan itu, 24 santri-santriwati yang sudah khatam tahfidzul Qur’an bil ghoib dibaiat dan  menerima syahadah dari pengasuh Pesantren Rohmatillah KH Abdul Manan Alhafidz.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Salah satu program pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi masyarakat adalah distribusi lahan. Inti dari program ini adalah untuk terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia terutama dalam penguasaan dan kepemilikan tanah. Isu ini lalu menjadi buah bibir di masyarakat. Bukan masyarakat tidak setuju dengan kebijakan distribusi lahan, namun yang menjadi persoalan adalah konsep dasar, mekanisme pendistribusian lahan, dan kesiapan dari masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan tanah tersebut.

Soal pemanfaatan tanah, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat memiliki pengalaman akan hal itu. Setidaknya ini bisa menjadi inspirasi dalam memanfaatkan dan mengelola lahan. Saat ini, tanah yang dikelola PWNU Kalbar mencapai seratus hektar yang berada di Kota Singkawang.

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar (Sumber Gambar : Nu Online)
Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar (Sumber Gambar : Nu Online)

Beginilah Cerita PWNU Kalbar Kelola Lahan Seratus Hektar

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat Romawi Martin menuturkan, awalnya Nahdliyin meminjam lahan seorang Tionghoa yang dibiarkan dan tidak dikelola. Lalu kemudian lahan tersebut diolah dan ditanami jagung. 

“Lahan ini dipergunakan untuk menanam jagung dengan status pinjam,” kata Romawi di Pesantren Nurul Qur’an di Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11). 

Awalnya lahan yang dipinjam seluas sepuluh hektar tahun 2016. Setelah dua tahun berlalu, luas lahan tersebut meningkat tajam menjadi seratus hektar. Pengurus wilayah mengkoordinir Nahdliyin Kalimantan Barat untuk memanfaatkan lahan pinjaman tersebut.

“Ini pure modal dari jamaah Nahdlatul Ulama, tidak ada dari lembaga perbankan atau apapun,” ucapnya.

Belajar Muhammadiyah

Lahan tersebut dibagi menjadi dua; lahan yang dikelola perorangan dan kelompok. Ada perbedaan pengelolaan terkait dengan pembagian lahan tersebut. Jenis tanaman pada lahan yang dikelola perorangan adalah jagung manis. Sedangkan, tanaman pada lahan yang dikelola kelompok adalah jagung untuk pakan ternak ayam.

Romawi memasarkan hasil panen jagung dari pemanfaatan lahan tersebut kepada yang empunya tanah. Karena statusnya pinjaman, maka mereka diharuskan untuk menjual hasil panen kepada yang empunya tanah untuk pakan ayam. Namun untuk hasil lahan yang dikelola perorangan bisa dijual ke luar. 

“Dengan harga yang disepakati. Harganya tentu lebih murah karena kita dipinjami lahan,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Lahan seluas seratus hektar tersebut dikelola oleh seratus lima puluh orang. Satu tahun panen dua kali. Untuk satu kali panen, omset yang didapatkan adalah sekitar dua ratus lima puluh juta. 

Namun ia mengaku khawatir karena lahan yang dikelolanya tersebut hendak dijadikan sebagai bandara. Kalau itu benar-benar dibangun bandara, maka ada kekhawatiran Nahdliyin tidak bisa bercocok tanam lagi.

Ia menyambut baik program distribusi lahan yang digulirkan pemerintah. Ia berharap program tersebut bisa sampai kepada petani Nahdliyin yang ada di Kalimantan Barat.

“Kita yang di luar Jawa juga ingin menikmati program pembagian lahan dari pemerintah ini,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Islam, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Juni 2017

KPK Minta Doa dan Nasihat PWNU Jatim

Surabaya, Belajar Muhammadiyah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diwakili Direktur Litbang KPK Roni Dwi Susanto mengunjungi Kantor PWNU Jawa Timur jalan Masjid Al-Akbar nomor 9 Surabaya, Rabu (11/2). Roni bermaksud meminta dukungan doa dan nasihat dari pengurus NU Jatim.

KPK Minta Doa dan Nasihat PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
KPK Minta Doa dan Nasihat PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

KPK Minta Doa dan Nasihat PWNU Jatim

Roni yang datang sendirian itu ditemui oleh Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftahul Achyar, Wakil Rais Syuriyah KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Wakil Sekretaris Rubaidi dan sejumlah pengurus NU Jatim lainnya. Pertemuan itu berlangsung singkat dan tertutup.

“Kedatangan kita ke sini meminta doa kepada para kiai NU atas konflik KPK dan Polri,” kata Roni saat jumpa pers dengan para awak media yang menunggu di lobi gedung PWNU Jatim.

Belajar Muhammadiyah

Roni juga mengaku meminta pandangan dan masukkan kepada para kiai di Jawa Timur perihal sikap yang harus dilakukan KPK saat ini. “Kita meminta pandangan ke NU Jawa Timur karena kami melihat kiai sepuhnya,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Roni, konflik yang melibatkan dua lembaga penegak hukum ini terjadi karena kita krisis tokoh yang bisa menjadi keteladanan.

Di hadapan pers, Roni menyampaikan masukan Gus Ali untuk KPK. Allah tidak pernah menjanjikan langit selalu cerah tanpa mendung. Laut tidak selalu surut tanpa pasang. Itu artinya cukup dalam bagi kami di KPK. “KPK harus menahan diri agar tidak berlebih-lebihan,” kata Roni mengutip kalimat dari Gus Ali.

Menahan diri dalam artian tidak menghentikan penyidikan yang telah berjalan. Ibarat mobil, KPK tidak ada gigi untuk mundur.

“Kita harus mawas diri, siapa yang salah, apakah kami sebagai staf KPK atau pimpinan KPK?,” jelas Roni. (Rofi’i Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Habib Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Mei 2017

Isti’laul Qudrah KMNU IPB; Yang Muda Yang Beraswaja

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Keluarga Mahasiswa NU IPB mengadakan Isti’laul Qudroh di pesantren Mina 90 Cibeureum, Sabtu-Ahad (13-14/12). Mereka melantik dan membekali paham keaswajaan NU kepada KMNU angkatan 51 yang berjumlah 50 kader.

Isti’laul Qudrah KMNU IPB; Yang Muda Yang Beraswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Isti’laul Qudrah KMNU IPB; Yang Muda Yang Beraswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Isti’laul Qudrah KMNU IPB; Yang Muda Yang Beraswaja

Ketua pelaksana Isti’laul Qudrah yang biasa disingkat IQ, Hamzah mengatakan, kegiatan ini memuat pembekalan materi akidah, fiqih, dan tasawuf agar dapat menghadapi atmosfer keagamaan di kampus bagi mahasiswa baru.

“Melalui KMNU kita harus bisa menjaga kekeluargaan dari segi kualitas dan kuantitas,” harapnya.

Belajar Muhammadiyah

IQ menegaskan pentingnya nilai-nilai Aswaja yang senantiasa ditanamkan melalui tradisi ke-NUan. Tradisi ini mulai lumpuh karena tidak ada adanya daya dukung lingkungan. untuk itu, kehadiran KMNU IPB pada garis besarnya merupakan pusat kajian dan membentuk jiwa kepemimipan yang berlandaskan keprofesionalan, tukas Ketua KMNU.

Belajar Muhammadiyah

Sementara Wahyu Widya Suryani salah seorang aktivis KMNU IPB menyorot pada 3 bidang yang mesti diperhatikan. Taswirul Afkar sebagai gerakan keilmiahan, Nahdlatul Tujar sebagai gerakan kemandirian, Nahdlatul Wathon sebagai peran NU dalam pembangunan bangsa.

“Anak-anak KMNU harus bisa fokus pada salah satu bidang dari 3 kriteria itu, serta tidak melepaskan jaringan dari ketiganya,” kata Widya.

Widya juga mendorong peserta untuk mengubah stigma orang selama ini seperti pesantren yang kuno dan dominasi kalangan menengah ke bawah.

“Para santri intelektual di KMNU IPB ini harus tampil percaya diri, dan membangun stigma bahwa santri pesantren bisa lebih mandiri, baik mandiri secara ekonomi, sosial, budaya dan keilmuwan,” kata Widya.

Pada kegiatan IQ ini, mereka juga melantunkan maulid Diba‘i. acara kemudian dilanjutkan dengan pelantikan dan pengucapan ikrar kesetiaan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock