Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Anggota Komisi VII DPR Khofifah Indar Parawansa meragukan kinerja Badan Pelaksana (BP) lumpur Lapindo. Badan ini merupakan pengganti Timnas lumpur Lapindo yang berakhir 8 April lalu. Hingga kini berbagai upaya nyatanya tak mampu mengatasi luapan lumpur Lapindo, kerja Timnas juga tak berhasil.

“Saya lihat Timnas saja orang-orangnya power full tetapi kurang suskes menangani lumpur,” kata Khofifah, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Kamis (12/4) kemarin.

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ragukan Kinerja BP Lumpur Lapindo

Keraguan Khofifah juga berkaitan dengan adanya hubungan antara pemilik PT Lapindo dengan badan tersebut. Maklum, badan yang terbentuk berlandaskan Keputusan Presiden ini dikepalai Sunarso, Staf Ahli Menko Kesra Bidang Kependudukan dan SDM. Aburizal Bakrie adalah salah satu pemilik PT Lapindo Brantas Inc.

Selain itu, menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, terlalu birokratis. Badan ini tidak memiliki kebebasan untuk mengeksekusi keadaan di lapangan.

Hal itu karena mereka harus melapor terlebih dahulu kepada Badan Pengawas seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. ”Saya kasihan dengan orang-orang yang ada di Sidoarjo. Masyarakat semakin terkatung-katung,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Khofifah meminta pemerintah pusat bekerja sepenuh hati untuk menyelesaikan lumpur Lapindo. Sebab, masyarakat Sidoarjo sudah lelah dan tersiksa dengan musibah tersebut. ”Pemerintah harus bertanggung jawab karena semuanya serba darurat di Sidoarjo,” katanya. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Syariah Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Maret 2018

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir

Kairo, Belajar Muhammadiyah. Warga Mesir telah menyetujui amandemen konstitusi negara tersebut, dan ini merupakan kemenangan elektoral pertama bagi rezim yang didukung militer menyusul lengsernya Muhammad Mursi Juli lalu.

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

98,1% Pemilih Setujui Referendum Konstitusi Mesir

Amandemen konstitusi tersebut mendapat persetujuan 98,1% dari 38,6% pemilih yang hadir, ujar kepala Komisi Tinggi Pemilihan Umum Mesir. Angka itu melampaui jumlah orang yang setuju dan hadir dalam penyusunan piagam dalam masa satu tahun pemerintahan Presiden Muhammad Mursi.

Hasil itu setidaknya menunjukkan adanya fajar baru bagi Mesir, ujar Ehab Badawy, juru bicara kantor kepresidenan. Demikian dilaporkan oleh laman wall stret journal.

Belajar Muhammadiyah

Setelah amandemen disetujui, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry meminta para pejabat Mesir menerapkan ketentuan hak asasi manusia.

“Amerika Serikat mendesak pemerintahan sementara Mesir menerapkan ketentuan mengenai HAM dan kebebasan yang dijamin oleh Undang Undang Dasar baru,” ujarnya seperti dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri. Ia pun berkata, “bukan satu satu suara yang menjadi penentu demokrasi, namun pelbagai langkah yang ditentukan setelahnya.”

Belajar Muhammadiyah

Menurut sejumlah kelompok dan aktivitas kemanusiaan, rendahnya jumlah pemilih golput menjadi gambaran mengenai berlanjutnya tekanan kepada kelompok penentang.

Isi UUD perubahan dipandang sama dengan sebelumnya dengan penekanan kekuatan militer, judisial, dan kepolisian.

Militer Mesir mengumumkan peta jalan setelah Mursi dilengserkan lewat kudeta berdarah.

Bulan lalu, pemerintahan sementara mengganggap Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris.

Pemerintah pun mengeluarkan aturan unjuk rasa yang telah menjebak puluhan aktivis sekuler penentang peta jalan militer.

Kelompok kemanusiaan dan pengamat independen mengecam pemilu yang legitimasinya rusak berkat adanya kelompok dan suara penentang.

Sebelum referendum Selasa, sejumlah orang yang menyerukan golput ditangkap.

“Transisi demokratis harus ditandai dengan adanya kebebasan lebih luas. Namun, hak demokratis warga sangat terhambat oleh warga Mesir sendiri,” ujar Eric Bjornlund kepala misi pengamatan Demokrasi International. “Tapi, masa pasca-referendum memberi peluang bagi adanya partisipasi politik lebih luas.”

Menurut kelompok tersebut, tidak terdapat bukti penyelewengan sistematis. Namun, terdapat sejumlah cacat pemilu yang dapat berujung pada kondisi golput seperti jarak antarbilik pencoblosan yang terlalu dekat. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Senin, 19 Februari 2018

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB

Tokoh-tokoh NU Nusa Tenggara Barat dalam cerita lisan menyebutkan bahwa Rais Syuriyah PWNU NTB pertama adalah Tuan Guru Shaleh Hambali (Tun Guru Bengkel). Dia memulai aktif pada 1953. Dengan demikian, NU di NTB ada jauh setelah NU berdiri.  

Jika melihat sejarah NU secara nasional, waktu itu adalah moment politis karena NU menjadi partai setelah Muktamar Palembang tahun 1952. 

Namun, ternyata, NU pada tahun 1953 adalah kelanjutan dari NU dari periode-periode sebelumnya. Karena pada tahun 1934 sudah ada anggota NU. Bahkan ada sebuah organisasi keulamaan Ahlussunah wal-Jama’ah yang bermigrasi menjadi pengurus-pengurus NU. 

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru Bengkel dan NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB

Untuk mengetahui hal itu, Abdullah Alawi mewawancarai Adi Fadli, berikut petikannya.

Kenapa beliau dikatakan Rais Syuriyah pertama, padahal NU di Lombok telah ada sejak tahun 1934-1935? 

Ada dua buku tentang itu, yang ditulis Tuan Guru Taqi, yang kecil. Tuan Guru Taqi itu menyebut tahun 1935, di Sumbawa 1934, sementara tahun 1953 itu kelanjutan sejarah NU, itu yang besar. Tahun 1953 itu adalah momentum disahkannya sebagai Pengurus Wilayah NTB. Sebelumnya cabang NU Lombok, karena dulu (1935) Kiai Muhammad Dahlan yang diutus dari Jawa Timur untuk membuka cabang di Ampenan. 

Belajar Muhammadiyah

Dulu, awal-awalnya PUIL (Persatuan Ulama Islam Lombok) ada juga yang bilang PIL (Persatuan Islam Lombok), itu konsul NU Lombok. Nah, kemudian berubah menjadi Cabang NU Lombok. Nah, setelah itu, tahun 1953, disahkan sebagai Pengurus Wilayah. Nah, wilayah itulah yang dianggap secara resminya itu, barulah Rais Syuriyahnya yang TGH Muhammad Shaleh Hambali. 

Nanti dibaca di buku saya, saya mengusahkan memperiodisasai dari tahun 1934, Rais Syuriyahnya Ahmad Al-Kaf, Mustofa Basri. Lalu tahun 1953 barulah TGH Shaleh dan Ahsid Muzhar, itu ada dasarnya SK-SK-nya. Itu berdasarkan kopian SK yang terarsif di sini. 

Dari 1934 sampai sebelum 1953, kenapa Tuan Guru Bengkel belum masuk NU? 

Kalau kita hitung, dia pulang ke Lombok 1916 (setelah belajar di Mekkah), NU muncul setelah sepuluh tahun kemudian. Ada pergerakan Nahdlatul Wathan KH Wahab Hasbullah sebelum berdirinya NU. Pasti dia (Tuan Guru Bengkel) tahu. Tapi dia mungkin ke sininya itu belum sampai secara resmilah (mengikuti NU). Nah, pergerakan yang dekat dengan pelabuhan, dekat dengan pasar, sehingga di Ampenan (berkembang) pergerakannya, kampung Melayu, Arab di sini itu, saya tidak tahu dengan pasti. 

Belajar Muhammadiyah

Pada 1953, hanya dia yang punya otoritas keulamaan bagi orang NU. Ketika resmi ini, tak ada perdebatan menetapkan dia (sebagai Rais Syuriyah) sampai akhir hayatnya, tahun 1968.

Kenapa dia mau ikut di organisasi NU?

Menurut penuturan Tuan Guru Bagu, TGH Turmudzi Badarudin, penuturannya itu, kalau kamu masuk NU, kamu bisa lewati laut. Itu sederhannya. 

Penjelasannya bagaimana? 

Jadi, pandangannya, wawasannya nanti lebih luas. Kalau masuk organisasi lokal, ya cuma di sini. 

Itu secara eksplisit, ada mana implisitnya? 

Kalau melewati laut akan memiliki cakrawala luas, karena NU itu besar, tidak lokal. Kamu masuk NU, kamu akan bermanfaat luas, di situlah kontribusi nasionalnya. Saya temukan banyak data tertulis misalkan seperti apa siapa dia ikuti muktamar NU, belum saya temukan, walaupun dalam tutur lisan, murid-muridnya katakan, dia ikut, wajib ikut, dan dari Tuan Guru Bagu, terutama, dia mengatakan, dia tetap ikut. 

Apakah ada, misalnya pertemuan fenomenal antara Tuan Guru Bengkel dengan tokoh NU nasional, misalnya dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari atau yang lainny?  

Kalau dengan Mbah Hasyim, tidak saya temukan. Tapi selain itu, banyak, malah mereka yang datang, KH Wahab Hasbullah, Saifuddin Zuhri, Idham Chalid, AH Nasution (tokoh tentara), mereka datang sendiri, dan bukan sehari mereka datang, nginep, mingguan. Itu penuturan dari Tuan Guru Bagu. KH Wahab Hasbullah seminggu di Bengkel. 

Bahkan, saya dengar Kiai Bisri Mustofa, ayahnya Gus Mus pernah sebulan di situ? 

Benar itu. Begitulah kekutannya. Cuma itu belum tertulis ya, masih secara lisan.

Salah seorang yang datang adalah Bung Karno dan Bung Hatta meski berbeda waktu. Khusus pertemuan dengan Bung Karno, mengapa Tuan Guru Bengkel  begitu yakin Bung Karno akan datang ke pesantrennya? 

Entahlah. Dia punya pengawal dlahir dan batin kan. Pengawal secara lahiriah manusia dan jin. Setahu saya dari manuskrip, jinnya itu, dia memerintahkan jinnya itu berkirim surat ke Jakarta, dan itu yang bawa itu jin, yang menyampaikannya ke sana. Di manuskripnya ada. Dari keyakinan itulah, dan dari basyirah dan karomahnya, dia yakin Soekarno akan mampir. Saya tidak tulis itu karena tidak ilmiah kan. Sehingga ketika datang, tertulis sepanduk, papan, gambar kedatangannya Bung Karno, di mobil Soekarno, sore waktunya datang. 

Apa betul, pengawalnya Bung Karno udah lewat 1 km? 

Betul itu. Atau mungkin juga setengah kilo. Berhenti langsung Soekarno. Mobilnya disuruh berhenti. Santri berjajar plus anak yatim. Dia tulis di plakatnya itu, waammal yatima fala taqhar, wa aammas saila fala tanhar, itu di plakat. Plakatnya masih ada, saya simpan. 

Apa betul dia punya sekretaris atau semacam tim penulis? 

Betul itu. 

Bagaimana dia bisa tercipta jadi penulis dan produktif? 

Dia punya kekuatan tradisi di Mekkah yang terbiasa mensyarah, menerjemahkan dari kitab-kitab kecil. Sehingga ketika dia melihat kondisi masyarakat masih buta sekali, masa penjajahan, dia ciptakanlah itu. Dan itu yang pertama kali kitab tahun 1935, itu yang pertama yang saya dapatkan, entah yang sebelumnnya, tidak tahu saya. Karena kekuatan di beliau itu ada katibnya yang menulis. Dan beliau menulis itu, biasanya malam. Suruh bangun sekretarisnya, santrinya, kemudian dia diktekan. Dan itu pasti setelah shalat dan dia berwudulu, termasuk katib, menggunakan tinta celup.

Pondok pesantren beliau, Darul Qur’an, saat ini masih berlangsung?

Iya, tapi formal saja. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

PBNU Luncurkan Command Center Besok

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?

PBNU akan meluncurkan Command Center di lantai 8 gedung PBNU, Jakarta pada Senin siang (22/5) sekitar pukul 14.00. Peluncuran akan dilakukan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Pada kesempatan tersebut akan dilakukan juga peluncuran Smart Card XL NUsantara.

Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara dan Direktur Utama PT XL Axiata Tbk Dian Siswarini dijadwalkan turut hadir pada kegiatan tersebut.

PBNU Luncurkan Command Center Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Luncurkan Command Center Besok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Luncurkan Command Center Besok

Peluncuran ditandai dengan dengan penandatanganan prasasti Command Center, Demo Aplikasi, Video Conference, dilanjutkan Press Conference. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI

Tegal, Belajar Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal Abdul Aziz mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dijaga keutuhannya. Menurutnya, cara paling tepat adalah menggerakkan GP Ansor lebih aktif dan nyata.

Hal itu dikatakannya usai resmi dikukuhkan oleh Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sabtu (26/8) lalu di MDT Rhoutlotul Muttaqin Desa Sumbarang Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal.

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI

"Perlu adanya pergerakan yang lebih aktif dan nyata dalam melaksanakan program mengawal ulama demi mencegah pengikisan nasionalisme dan patriotisme bangsa, gerakan radikal menganggap sistem di negara itu salah sehingga perlu adanya revolusi," tegas Abdul Aziz.

Menurut Aziz, mereka (gerakal radikal) sudah menyiapkan rencana secara matang membuat NKRI itu sebagai negara Islam yang akan mengadopsi nilai ketimuran secara pas tanpa memerhatikan budaya yang sudah ada.

Belajar Muhammadiyah

"Dengan adanya pelantikan ini, saya berharap semua pengurus dapat mengemban tugas suci dalam menjaga keutuhan NKRI dan melestarikan budaya yang sudah ada sejak dulu," kata Aziz.

Pengurus GP Ansor Jatinegara yang juga panitia pelantikan, Amar Budimas menuturkan, ulama merupakan tokoh penting dalam menjaga keutuhan NKRI, pengambilalihan kekuasaan dari penjajah sehingga terbentuknya negara kesatuan yang merangkul semua kerajaan kepulauan ini.

Belajar Muhammadiyah

"Munculnya gerakan yang menggerogoti esensi di dalam tubuh NKRI. Sekarang menghawatirkan kaum pemuda, pelantikan ini semoga dapat menyatukan misi demi menjaga keutuhan NKRI di Kecamatan Jatinegara," ujar Amar.

Ia menjelaskan, Ansor merupakan saringan dari kader IPNU yang kompeten karena tidak jarang kader IPNU banyak yang menghilang entah ke mana. Padahal regenerasi sangat dibutuhkan di tubuh NU.

"Ulama NU harus kita dukung dalam menjaga keindonesiaan dan keislaman di negara ini, pergerakan radikalisme sudah bergerak di berbagai bidang, melalui ekonomi, sosial, budaya terapan, dan pendidikan," kata Amar.

Pelantikan dihadiri Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah Gus Ahsin, Pengurus Cabang (PC) Ansor Kabupaten Tegal Didi Permana, Pengurus MWCNU Jatinegara, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat Jatinegara, PAC Fatayat Jatinegara. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang konsisten menjaga kerukunan antarpenganut agama. Kali ini, langkah yang dilakukan pengurus FKUB Jombang adalah mengadakan Seminar bertemakan “Implementasi Nilai-Nilai Dasar Kerukunan Umat Beragama” di Aula Gedung Islamic Center Jombang, Selasa malam (23/12).

Kegiatan yang mendatangkan narasumber Prof Ahmad Zahro perwakilan umat Islam dan Pendeta Ismiyati dari Kristiani itu diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama.

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

“Semua yang ada di forum ini, semoga nantinya bisa satu persepsi untuk merawat kerukunan di antara kita tanpa membedakan diri karena unsur apapun, apalagi kepentingan tertentu,. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kerukunan ini,” kata Dr KH Isrofil Amar Ketua FKUB yang juga Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang.

Belajar Muhammadiyah

Prof Ahmad Zahro yang juga Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya itu memaparkan tentang Islam sebagai agama yang damai, cinta perdamaian, antikekerasan, menghormati kebebasan, menghargai kesetaraan, dan mengajarkan kerukunan.

“Menjadi bangsa Indonesia, apapun agamanya, termasuk Islam, terikat oleh kesamaan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” jelas Rektor Unipdu Jombang itu.

Belajar Muhammadiyah

Lebih lanjut ia menjelaskan, demi terwujudnya toleransi antarumat beragama, harus ditegakkan bersama-sama ukhuwah Islaamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Itulah nilai-nilai dasar kerukunan yang harus dijadikan rujukan bersama,” pungkas penulis buku berjudul Tradisi Intelektual NU itu.

Sedangkan Pendeta Ismiyati mengajak peserta untuk tidak membeda-bedakan sesama umat beragama sebagai warga Negara Indonesia. “Di kitab Injil juga dijelaskan, ada besar ada kecil, itu memang hukum harmonisasi alam. Yang terpenting bukan kita ini dibersamakan, tetapi bagaimana kita memberi dampak dalam kehidupan ini dengan menjaga kerukunan,” ungkap Pendeta Ismi.

Selain dua keynote speaker tersebut, turut hadir pula Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab, Dandim 0814 Jombang M Haidir, dan AKBP Ahmad Yosep Kurniawan Kapolres Jombang. Serta puluhan peserta dari berbagai komponen masyarakat, lintas agama, dan perwakilan ormas Islam yang ada di Kabupaten Jombang.

Acara yang ditutup pukul 22.30 itu, mendapat masukan dari salah satu peserta agar untuk forum selanjutnya narasumber yang diundang harus dari seluruh perwakilan agama yang diakui di Indonesia. “saya kira itu akan lebih baik, karena memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya. Baik yang minoritas maupun yang mayoritas,” Kata Margono salah satu peserta. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Halaqoh, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Seknas Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan sembilan nilai yang menjadi prisma dalam sepak terjang Gus Dur bertoleran. Ia menjelaskan itu pada Halaqah Kiai dan Tokoh Muda Pesantren di Yogyakarta Kamis-Sabtu (13-15/12).

“Yang paling inti adalah nilai ketauhidan,” kata Alissa, putri Gus Dur, Ketua Umum PBNU 1984-1999.

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Jelaskan 9 Nilai Gus Dur

Kemudian, kata Alissa nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan akan muncul nilai pembebasan, keadilan, persaudaraan dan kesetaraan.

Selanjutnya, tambah dia, memiliki jiwa yang satria atau super ikhlas membantu sesama, kesederhanaan, dan nilai kearifan lokal. Tentang poin terakhir, Alissa menjelaskan, bagi Gus Dur semua tradisi membawa kearifan.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

“Dari sembilan nilai inilah kemudian akan membentuk pribadi yang toleran,” kata Mbak Lissa, panggilan akrabnya.

Alissa juga menjelaskan, sebenarnya Indonesia ini adalah negara yang terbangun dari kebinekaan dan toleransi. Oleh karena itu dalam proses menjadi sebuah bangsa, masyarakat Indonesia memiliki warisan kecerdasan kultural, yang menjadikannya unik di antara bangsa-bangsa lain.

Gus Dur memang menginspirasi semua golongan untuk menjadi sosok yang toleran. Karena menjadi toleran secara tidak langsung menjunjung tinggi keadilan. Pendidikan toleransi yang diterapkan oleh Gus Dur menjadikan tawaran solusi kepada mayarakat Islam Indonesia untuk mengharumkan Islam yang damai.

“Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi,” begitu kata mbak Lisa mengutip ungkapan dari ayahandanya Gus Dur. (Muyassaroh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pesantren, Pertandingan, Bahtsul Masail Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock