Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Belajar Muhammadiyah

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Belajar Muhammadiyah

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri

Cianjur, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Mazroatul Ulum, Citiis, Pagelaran, Kabupaten Cianjur memperingati haul pendiri pesantren, KH Asyari yang ke-41 dan KH Saefullah ke-15 pada Selasa (15/9) atau 1 Dzulhijah 1436 H.

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri

Menurut Pesantren Mazroatul Ulum KHAsep Ismail tiga hari sebelum haul digelar, para santri membaca Al-Quran siang-malam di makam keluarga. Mereka dibagi ke dalam beberapa regu. Setiap regu terdiri dari 40 orang dengan jatah 2 jam.

Acara yang dihadiri oleh bupati Cianjur, H. Cecep Mochtar Sholeh dan sekitar 5000+ jemaah terdiri dari santri, alumni, dan masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

Pesantren didirikan pada tahun 1918 KH Asary. Setelah dia wafat, dilanjutkan putra bungsunya, KH Saepullah yang wafat pada tahun 2000. Kemudian kini dilanjutkan KH Asep Ismail.

Memasuki usia ke-97, pesantren tersebut memiliki 500 santri putra/putri dengan fasilitas lembaga formal MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah). (Ali Roswan Fauzi/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengurus Nasional CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) pada 2016 ini kembali membuka layanan posko mudik di 3 kota, yakni Semarang, Pasuruan dan Makassar yang berlangsung tanggal 1-4 Juli 2016.

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota

Adapun lokasinya, pertama di depan Masjid Jami’ Baitul Izzah, Ngilir Terboyo Wetan, Genuk, Semarang; depan Masjid Muhammad Cheng Ho, Petungsari, Pandaan, Pasuruan; depan Masjid Raya Makassar.

Sementara fasilitas yang disediakan oleh organisasi mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) ini di antaranya, cek kesehatan, tempat istirahat, konsultasi pendidikan perguruan tinggi dan pondok pesantren, wifi area, pembagian takjil berbuka dan hidangan sahur, dan lain-lain. Semua fasilitas diberikan secara gratis.

Menurut Ketua Umum CSSMoRA Nasional Muhammad Zidni Nafi, dari tahun ke tahun pelayanan posko mudik lebaran selalu dibuka lantaran kesadaran bersama dari anggota CSSMoRA untuk ikut berkontribusi dalam melancarkan tradisi mudik masyarakat.

"Ini bagian dari pelayanan serta pengabdian santri kepada masyarakat, sekaligus mempraktikkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi," kata Zidni melalui pers rilisnya, Kamis (30/6).

Belajar Muhammadiyah

"Apalagi ada ratusan santri anggota CSSMoRA yang masih studi di bidang kesehatan, kedokteran, teknologi, dan lain-lain, sehingga sedikit banyak dapat diamalkan untuk melayani pemudik dan masyarakat sekitar lokasi posko," tambahnya.

Zidni menghimbau kepada masyarakat atau pemudik yang melewati ketiga lokasi posko tersebut untuk bisa mengunjungi stand posko yang dibuka oleh santri-santri CSSMoRA.

"Kami siap untuk melayani. Semoga berawal dari langkah kecil ini, banyak dari kalangan santri muda semakin memperluas jaringan pengabdiannya untuk kemaslahatan masyarakat luas," pungkas santri asal Kudus yang sedang menempuh studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Internasional, Quote Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (14/10) siang, menggelar kuliah tamu dengan tema “Perguruan Tinggi Membangun Desa, Mewujudkan Pengelolaan Dana Desa Yang Transparan dan Akuntabel”.

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen dari tiga perguruan tinggi Pondok Pesantren Nurul Jadid (IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid) Paiton ini juga dihadiri oleh Ketua Satuan Petugas (Satgas) Dana Desa (DD) yang juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto.

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid yang juga Ketua Biro Dikti Pesantren Nurul Jadid KH Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tujuan dibentuknya Satgas Dana Desa. Yaitu bukan untuk menangkap kepala desa akan tetapi membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan Dana Desa.

“Memberikan wawasan kepada mahasiswa dan civitas pesantren tentang peran Satgas Dana Desa dalam membantu mengevaluasi regulasi terkait Dana Desa, sosialisasi dan advokasi, monitoring dan evaluasi, harmonisasi hubungan antar lembaga serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya penyimpangan penggunaan Dana Desa,” katanya.

Menurut Kiai Hamid, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan ruang kepada mahasiswa dan civitas pesantren untuk memberikan dukungan kepada Satgas Dana Desa dalam mengawal pengelolaan  dan penggunaan Dana Desa. Sebagai bentuk pelibatan perguruan tinggi berbasis pesantren dalam membantu Satgas Dana Desa pada pengelolaan dan penggunaan Dana Desa yang transparan dan akuntabel.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui kuliah tami ini diharapkan menggugah kesadaran mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan yang transparan dan akuntabel tanpa korupsi. Sekaligus mensinergikan antara peran perguruan tinggi berbasis pesantren dengan Satgas Dana Desa dalam mencegah tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” tegasnya.

Sementara Ketua Satgas Dana Desa Bibit Samad Rianto meminta para mahasiswa untuk mengawasi pemanfaatan DD yang rawan menjadi lumbung para koruptor. “Kegiatan ini bertujuan sebagai edukasi bagi mahasiswa untuk memerangi penyalahgunaan DD sejak dini,” katanya.

Menurut Bibit, dari penelusuran Satgas DD selama 6 bulan terakhir, penyalahgunaan DD cenderung semakin meningkat. “Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus operasi tangkap tangan yang dilakukan satgas maupun KPK,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Bibit mengharapkan agar para mahasiswa dan civitas akademika turut mengawasi penggunaan DD. Pasalnya, peranan dunia pendidikan sangat penting dalam mencegah korupsi DD. “Mahasiswa dan masyarakat segera melapor ke satgas jika menemukan penyalah gunaan DD. Hanya saja, laporan ini harus disertai bukti valid, bukan sekadar surat kaleng,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, PonPes, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag mengadakan penelitian tentang Peran Rohaniwan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia pada tahun 2016. 

Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, yang dilakukan di 7 lokasi, yakni: DKI Jakarta (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Jakarta); Jawa Barat (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Jawa Barat); Kota Malang (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Malang); Bali (Peran Rohaniwan Asing Hindu terhadap Kehidupan Keagamaan di Bali).

Lokasi berikutnya Kabupaten Sikka NTT (Peran Rohaniwan Asing Katolik terhadap Kehidupan Keagamaan di Kabupaten Sikka); Sulawesi Utara (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Sulawesi Utara); dan Kepulauan Riau (Peran Rohaniwan Asing Buddha terhadap Kehidupan Keagamaan di Provinsi Kepulauan Riau).

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Penelitian tersebut menghasilkan temuan-temuan:

Pertama, prosedur kedatangan rohaniwan asing Katolik di Kota Maumere belum sejalan dengan alur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karenanya data rohaniwan asing Katolik di keuskupan Maumere tidak sinkron dengan jumlah data yang dikeluarkan Ditjen Bimas Katolik dan Departemen Tenaga Gerejawi. 

Demikian pula di Bali, proses kedatangan rohaniwan Hindu hanya sebagian kecil yang melalui prosedur resmi, karena hanya sebagian kecil pula diantara mereka yang memahami peraturan keimigrasian. Di Kota Malang, tidak ada rohaniwan (Islam) asing yang benar-benar sebagai rohaniwan, kecuali petugas di Sudan Centre yang dimanfaatkan sebagai dosen dan sebagai rohaniwan. 

Belajar Muhammadiyah

Selain itu ada pula mahasiswa asing yang berperan sebagai rohaniwan. Sementara di Jawa Barat, peran rohaniwan asing Kristen tidak hanya terbatas di dalam gereja, tetapi meliputi kegiatan di luar gereja, seperti di yayasan pendidikan dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Meskipun eksistensi rohaniwan asing Kristen semakin berkurang dan perannya sudah banyak digantikan oleh rohaniwan lokal, bagi denominasi tertentu yang berpusat di luar negeri seperti Bala Keselematan dan Saksi-saksi Yehuwa peran rohaniwan asing belum tergantikan.

Kedua, rohaniawan asing Katolik berperan positif dan dapat menguntungkan generasi muda Katolik, karena selain meningkatkan kesadaran beragama juga meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di Menado rohaniwan asing Kristen dapat mebawa pencerahan bagi pendeta-pendeta lokal dan para jemaat.

Belajar Muhammadiyah

Di Malang, rohaniwan asing Islam dan berperan sebagai dosen bahasa Arab dari native speaker bisa dijadikan promosi dan dapat menaikan rating lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Ketiga, menurut pemuka agama setempat, pengaruh rohaniwan asing Kristen di Jawa Barat dalam kehidupan keagamaan masyarakat tidak terlalu tampak meskipun ada, karena peran rohaniwan asing cenderung ke dalam, sedangkan misi keluar lebih banyak diperankan oleh rohaniwan lokal.

Sedangkan peran rohaniwan Kristen di Menado cukup baik dalam membina calon pendeta dan menyiarkan agama di pedalaman kepada masyarakat yang belum beragama. Sedangkan rohaniwan asing Buddha di Kepulauan Riau yang datang secara legal dipandang positif terhadap kualitas keagamaan, meskipun mereka kurang menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku terutama berkaitan dengan kultur dan nilai-nilai setempat. 

Masuknya rohaniwan asing Buddha secara illegal belum begitu mencemaskan, meski mulai terlihat gejala-gejala munculnya ekslusifisme, hate speech, dan persaingan yang semakin menguat di antara kelompok-kelompok agama.

Berkenaan dengan peran rohaniwan asing Katolik di Maumere, sebagian besar tokoh agama dan tokoh masyarakat di luar penganut agama Katolik tidak mengetahui secara persis apa kegiatan yang dilakukan oleh para rohaniwan asing Katolik, karena kegiatan mereka hanya di lakukan di dalam.

Sebaliknya di Bali, kedatangan rohaniwan asing Hindu berdampak pada munculnya aliran baru yang menimbulkan pro dan kontra.

Di Kota Malang dosen asing Islam yang berperan sebagai rohaniwan, justru menjadi penceramah favorit, mereka berceramah sampai kabupaten lain. Di masa lalu pernah ada yang isi ceramahnya meresahkan masyarakat dan masih terkesan dalam memori kolektif sebagian pemuka agama Islam di sana.

Keempat, jamaah Tabligh dari luar negeri tidak memahami tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri Lembaga Keagamaan di Indonesia. Ketiadaan data yang akurat menyulitkan proses pengaturan dan pengawasan terhadap rohaniwan asing.

Peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan ketenagakerjaan asing memang telah ada baik berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Surat Keputusan Dirjen dan termasuk Peraturan Menteri Agama, namun peraturan Perundang-undangan ini belum spesifik mengatur soal tenaga kerja asing khusus bidang agama, maka diperlukan peraturan yang mengatur khusus tenaga kerja asing yang bergerak di bidang agama. 

Di Malang, dosen asing yang datang ke Kota Malang tidak disertai tembusan kepada kantor kemenag setempat dan instansi terkait, sehingga mereka tidak dapat dimonitoring.

Di Kepulauan Riau peraturan yang ada dipandang kurang sesuai dengan dinamika perkembangan jumlah rohaniwan dan permasalahannya yang memerlukan pelayanan yang cepat, efektif dan efisien, sehingga memberikan celah kepada semakin berkembangnya jumlah rahaniwan asing illegal dan mendatangkan berbagai problem di masyarakat. (Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Nasional, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Tak hanya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) pun turut memprotes langkah pemerintah yang akan meliburkan sejumlah sekolah di Bogor, Jawa Barat, dalam rangka menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ke Indonesia 20 Nopember Senin (20/11) mendatang.

“Ini (peliburan sekolah, Red) jelas merugikan anak-anak sekolah. Padahal kalau dilihat kaitannya, kedatangan Bush dan aktifitas di sekolah nyaris tidak ada hubungannya, walaupun alasannya demi keamanan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) IPPNU, Wafa Patria Umma kepada Belajar Muhammadiyah, di Jakarta, Rabu (8/11) malam.

Sebagaimana diberitakan situs ini, sedikitnya ada empat sekolah yang berada di dekat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor akan diliburkan demi keamanan dalam rangka menyambut orang nomer satu di negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, sekolah yang terletak di Jalan Juanda, yaitu SMPN 1 dan SMAN 1 juga akan diliburkan. Sekolah Regina Pacis yang lokasinya tepat di seberang pintu utama Istana Bogor pun bernasib sama.

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Tak hanya itu. Selama Bush mengadakan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yuhoyono di Istana Bogor, jalan-jalan di seputar Istana Bogor ditutup selama 10 jam mulai pukul 10.00. Bahkan, para pedagang diusir dari tempat dagangannya karena alasan pengamanan. Kawasan itu mesti steril dari kesibukan lalu lalang kendaraan.

Pemerintah juga harus membangun setidaknya dua landasan helikopter (helipad) baru, yakni di lapangan Pusat Konservasi Tanaman (PKT) di Kebun Raya Bogor (KRB) dan di GOR Pajajaran. Helikopter Blackhawk yang membawa Bush akan mendarat di Kebun Raya, sedangkan mobilnya akan didaratkan dengan helikopter Cynnox di GOR Pajajaran.

Menurut Wafa, demikian panggilan akrab Wafa Patria Umma, langkah dan kebijakan pemerintah itu jelas berlebihan, apalagi sampai harus mengorbankan aktifitas belajar mengajar di sekolah. “Memperketat keamanan sih sah-sah saja. Itu bisa dipahami. Tapi kalau harus meliburkan aktifitas sejumlah sekolah, apa alasannya?” gugat Wafa. (rif)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Khutbah, News, Internasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren

Jember, Belajar Muhammadiyah



Apresiasi yang luar terhap santri disampaikan oleh Bupati Jember, Faida saat menjadi pembina Apel Santri di alun-alun Jember, Jumat (17/11). Menurutnya, santri merupakan bagian penting dan jumlah yang besar di Kabupaten Jember. 

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren





Oleh karenanya, momentum Hari Santri Nasional, perlu dijadikan tonggak sejarah untuk mendorong santri dalam mengambil peran yang lebih masif di bumi Jember. 



Belajar Muhammadiyah



"Santri bagian penting di Kabupaten Jember. Kita sepakat bahwa membangun Jember tidak lepas dari membangun sumberdaya santri," ucapnya.

Belajar Muhammadiyah





Dalam kesempatan tersebut, Faida menyebut 3 peranan pesantren. Pertama adalah sebagai rumah santri, yaitu tempat belajar, tidak hanya tafaqquh fiddin. Tapi juga tempat belajar ilmu-ilmu yang lain. 





Dikatakannya, banyak lembaga yang menspesifikasikan dirinya sebagai tempat spesialis belajar hanya satu bidang ilmu. 





"Tapi pesantren adalah tempat belajar dan mendalami agama dan ilmu-ilmu lainnya. Jadi komplit," tuturnya.





Kedua, pesantren merupakan lembaga perjuangan. Adalah realitas yang tak terbantahkan bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan santri. 





Katanya, kalau dulu santri berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, tapi sekarang sebagai penjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 





"Sebagai benteng terakhir penjaga NKRI adalah pondok pesantren dan santri," lanjutnya.





Ketiga adalah sebagai lembaga pengabdian di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Ia mengajak masyarakat agar peringatan Hari Santri ini dijadikan momentum kebangkitan Jember sebagai kota santri. 





"Kebangkitan ekonomi kerakyatan akan dimulai dari kebangkitan ekonomi para santri di pondok-pondok pesantren," tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi).  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kyai, Internasional Belajar Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Diantara momentum yang berharga di bulan Ramadhan adalah malam nuzulul qur’an dan lailatul Qadar. Keduanya merupakan ruang bersejarah yang menentukan kehidupan dunia selanjutnya. Karena keduanya berhubungan langsung dengan proses turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia.Akan tetapi seringkali disalah fahami keterangan antara nuzulul qur’an dan lailatul qadar, bahkan saling tumpang tindih antar keduanya, sehingga perlu diuraikan lebih jelas. Istilah nuzulul qur’an yang sering diperingati pada malam tanggal 17 Ramadhan merupakan malam di mana pertama kali al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Pada kesempatan pertama kali ini Malaikat Jibril membawa surat iqra’ wa rabbukal akram. Kemudian untuk selanjutnya al-Qur’an diturunkan secara berangsur. 

Sedangkan term lailatul qadar adalah istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana al-Qur’an diturunkan langsung dari Allah swt secara keseluruhan baitul izzah (semacam ruang ilahiyah) yang kemudian dibawa jibril secara berangsur kepada Rasulullah saw. Oleh karena itulah malam laylatul qadar  hanya Allah swt yang mengetahuinya. Sungguh malam itu adalah malam mulia, malam penuh berkah yang tidak boleh diragukan lagi. Karena Allah swt sendiri mengungkapkan dalam surat ad-Dukhan ayat 3:



Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

إن أنزلناه فى ليلة مباركة

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi

Belajar Muhammadiyah

Malam yang berkah itu tentunya berbeda dengan malam-malam lain. Allah swt mengistimewakan nilai malam ini lebih dari malam seribu bulan. Karena pada malam itu Malaikat turun ke bumi mengatur segala urusan. Sesuai dengan perintah-Nya mereka, para malaikat akan menetapkan berbagai takdir manusia mulai dari rizki, mati, jodoh dan semuanya. 

Karena itulah di namakan lailatul Qadar , malam penentuan taqdir manusia. Sudah selayaknya kita sebagai hamba yang menginginkan taqdir baik, apabila menekuk lutut bersimpuh di malam-malam itu, karena ini berhubungan dengan nasib kita sebagai hamba. Seperti seorang budak yang memohon kepada majikannya. 

Belajar Muhammadiyah

Allah mengkhususkan keterangn ini dalam satu surat penuh, surat al-Qadar:



إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَة الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر * تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيَها بِإِذْنِ رَبّـِهم مِّن كُلِّ أَمْر * سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan * Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? * Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan * Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan * Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (Red.Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Halaqoh, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah

Rasulullah pernah bercerita tentang tiga orang dari Bani Israil, masing-masing adalah penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Kepada ketiganya Allah suatu kali memberikan ujian dengan mengutus malaikat.

Dalam wujud manusia, malaikat itu menghampiri pengidap penyakit lepra atau semacam kudis akut. Kepadanya, malaikat bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?”

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah

“Rupa yang bagus, kulit yang mulus, dan penyakit yang lenyapnya penyakit yang menjijikkan banyak orang ini dari diriku,” jawab penderita lepra tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Diusaplah tubuh orang itu dan seketika penyakitnya hilang. Keinginannya terkabul: kini ia memiliki rupa dan kulit yang indah.

“Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

Belajar Muhammadiyah

“Unta.”

Maka diberilah seekor unta bunting. Malaikat yang menjelma manusia itu pun berdoa, “Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu dengan unta ini.”

Selanjutnya si malaikat mendatangi orang berkepala botak lantaran suatu penyakit. Orang ini menerima pernyataan yang sama, “Apa yang paling kau inginkan?”

“Rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjijikkan banyak orang ini.”

Malaikat mengusap kepalanya dan seketika itu hilanglah penyakitnya. Rambut yang ia idam-idamkan pun terkabulkan. Malaikat lantas bertanya lagi, “Harta apakah yang kamu senangi?”

“Sapi,” jawab lelaki yang semula berkepala botak itu.

Seekor sapi hamil diberikan sembari mengiringinya dengan doa, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Selepas penderita lepra dan kepala botak itu, giliran si malaikat mengunjungi orang buta. Percakapan serupa berlangsung kepada orang ini.

“Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

“Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.”

Diusaplah wajah lelaki buta itu dan dalam sekejap Allah mengembalikan fungsi penglihatannya.

Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang hendak beranak.

Masa kandungan unta, sapi, dan kambing pemberian itu akhirnya menuai hasil. Masing-masing ternak mendapat perawatan yang baik sehingga beranak pinak dalam jumlah yang besar. Tiap orang dari ketiga orang yang ditemui malaikat tersebut kini memiliki sebanyak satu lembah hewan ternak piaraannya.

Cerita Rasulullah tentang ketiga orang ini tidak berhenti di sini. Karena malaikat kemudian mendatangi masing-masing dari mereka. Namun kali ini malaikat tampil dalam wujud sebagai orang yang menderita.

“Aku ini laki-laki miskin yang tak lagi punya pekerjaan untuk meneruskan perjalananku hari ini kecuali atas pertolongan Allah, lalu pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang bagus, kulit yang mulus, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja sebagai bekal meneruskan perjalananku,” pinta malaikat.

“Tanggunganku masih banyak,” jawab mantan pengidap lepra itu.

“Sepertinya aku pernah mengenal anda. Bukankah anda orang yang dulu menderita lepra dan dijauhi banyak orang—fakir yang kemudian Allah karuniakan harta?” kata Malaikat bersandiwara.

“Kekayaan ini aku peroleh secara turun temurun dari leluhurku,” balasnya lagi.

“Jika anda berdusta, Allah akan mengembalikan keadaan anda seperti sediakala,” kata malaikat.

Giliran kepada orang yang semula botak, malaikat tetap melakukan percakapan yang sama. Termasuk meminta pertolongan. Tapi lagi-lagi ia ditolak.

“Jika anda berdusta, Allah akan mengembalikan keadaan anda seperti sediakala,” peringatan itu kembali terlontar.

Kemudian malaikat tadi menghampiri orang yang sebelumnya buta, lalu curhat, “Aku ini laki-laki miskin yang tak lagi punya pekerjaan untuk meneruskan perjalananku hari ini kecuali atas pertolongan Allah, lalu pertolongan anda. Demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

“Sungguh aku semula buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah kambing itu sesukamu, dan tinggalkan yang tak kau suka. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulitmu dengan sesuatu yang telah kau ambil karena Allah.”

Di akhir cerita, malaikat itu berkata kepada lelaki yang semula buta ini, “Peganglah kekayaanmu, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepadamu, dan murka kepada kedua teman anda.”

Kisah ini tercantum dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Keterangan bahwa malaikat menjalin kontak dengan menjelma sebagai manusia dijelaskan dalam kitab Dalîlul Fâlihîn li Tuhuruqi Riyâdlish Shâlihîn.

Cerita di atas menerangkan tentang keinginan seseorang untuk keluar dari penderitaan tertentu. Namun, ketika nasib secara lahiriah membaik, seseorang tetap saja dihadapkan dengan dua pilihan sikap: bersyukur atau kufur. Pelajaran dari kisah tiga orang Bani Israil tersebut adalah, bahwa nikmat yang jauh lebih besar dari keindahan fisik dan melimpahnya kekayaan adalah kesadaran untuk mensyukuri nikmat itu sendiri. Realisasinya: ikhlas dan bahagia terhadap apa yang tersedia, termasuk ketika harus dibagi kepada orang lain yang membutuhkan. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

. Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia

Klaten, Belajar Muhammadiyah . Salah satu hasil putusan Sidang Komisi Organisasi dalam Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, beberapa waktu lalu, adalah tentang pembatasan syarat usia maksimal menjadi anggota IPNU-IPPNU, yakni 27 tahun.

Menanggapi hal ini, pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Tengah segera mengadakan tindak lanjut, seperti yang telah diterangkan ketua IPNU Jateng Amir Mustofa Zuhdi, saat menyampaikan pidato sambutan pada acara pelantikan pengurus PC IPNU-IPPNU Klaten di Gedung Pendopo Pemerintah Kabupaten Klaten.

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia

Amir mengatakan pihaknya telah memberikan instruksi kepada pengurus yang di bawahnya, untuk dapat merapikan kriteria pengurus sesuai batasan usia dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga, serta menjalankan proses kaderisasi yang berjenjang dan rapi.

Belajar Muhammadiyah

“Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti hasil dari Muktamar NU yang membatasi umur maksimal 27 tahun. Dan ini sudah dilakukan oleh Klaten, Soloraya dan Jawa Tengah pada umumnya,” terang Amir, Ahad (8/8).

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, pada acara yang sama, Sekretaris Jenderal PP IPNU, Muhammad Nahdhy menyatakan bahwa pembatasan usia kader ini, memungkinkan para kader IPNU-IPPNU untuk semakin memperluas “ladang dakwah”, tidak hanya khusus di lingkup NU.

“IPNU-IPPNU diharapkan menggarap kader dari berbagai kalangan, tidak peduli baik itu dari Muhammadiyah, MTA, LDII dan lain sebagainya. Jangan sampai IPNU-IPPNU cuma disibukkan mencari kader-kader dari NU saja. Karena kita semua bertekad bisa meng-NU-kan mereka-mereka yang belum NU,” tegas pria yang akrab Gus Nahdi itu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Internasional, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

Sidoarjo, Belajar Muhammadiyah. Hujan deras yang mengguyur kawasan Sidoarjo, Jawa Timur, sejak Ahad (9/10) malam membuat sejumlah wilayah di Sidoarjo banjir. Akibatnya, banyak sejumlah sekolah yang harus meliburkan siswanya lantaran kondisi sekolah tersebut tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

Seperti yang terjadi di salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs ? NU) Wali Songo Sidoarjo, Jalan Raden Patah Sidoarjo. Pihak sekolah sengaja meliburkan siswanya karena akses jalan menuju sekolah banjir. Bahkan, kondisi air di dalam sekolah mencapai ketinggian sekitar 50 centimeter.

Salah satu guru MTs NU Wali Songo Sidoarjo, M Sobirin menyatakan, pihak sekolah sengaja meliburkan siswa karena kondisi sekolah saat ini sedang terendam banjir. Ia masih belum mengetahui sampai kapan sekolah akan diliburkan.

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

"Kalau nanti sore tidak hujan lagi dan airnya sudah surut, kemungkinan besok sudah masuk seperti biasa. Namun, kalau nanti hujan ya tidak tahu lagi, Mas," kata Sobirin kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (10/10).

Ia menjelaskan, selain di Jalan Raden Patah, akses jalan menuju sekolah (MTs NU Wali Songo) juga banjir di antaranya Jalan Malik Ibrahim, Jalan Pasar Ikan Lama, Jalan Kartini, Jalan Jasem, dan sekitarnya sehingga pihak sekolah meliburkan siswanya karena akses jalan terendam banjir.

Sobirin berharap, pemerintah mau memperhatikan saluran air atau drainase yang ada di sekitar sekolah. Pasalnya, saluran air di sekitar sekolah dimungkinkan dangkal lantaran tidak pernah dikeruk. Padahal, saluran itu sudah ada beberapa tahun yang lalu yang seharusnya dibersihkan salurannya.

Belajar Muhammadiyah

"Semoga Pemkab Sidoarjo memberikan bantuan agar sekolah kami bisa ditinggikan bangunannya. Sehingga ketika hujan lebat tidak banjir lagi," harap Sobirin.

Perlu diketahui bahwa banjir saat ini juga melanda kawasan pasar Sono, Sidokepung, Sukorejo, Pagerwojo Kecamatan Buruduran, Sidoarjo kota, Kelurahan Sidokare dan beberapa kawasan lainnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Hadits, Pesantren Belajar Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun

Tasikmalaya, Belajar Muhammadiyah. Setelah dipugar pada Ahad (22/10), Rumah Tajul Husna (87) atau akrab disapa "Mang Ena" selesai dibangun. Meski tidak bisa berdinding bata layaknya rumah biasa, Mang Ena sudah bisa menempati rumah tersebut.

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)
Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)

Alhamdulillah, Rumah Mang Ena Banser Tertua Tasikmalaya Selesai Dibangun

Rumah yang lebih tepatnya disebut gubuk pun bertambah luas. Semula 3x4 meter, menjadi 4x5 meter karena ada tetangga sebelah yang mengikhlaskan tanahnya agar Mang Ena memiliki kamar mandi, lengkap dengan toilet di dalam rumah.

Dengan selesainya rumah tersebut, Mang Ena sudah bisa berlega hati. Pasalnya kalau tidur sudah tidak lagi kedinginan dan ketika akan ke toilet juga tidak perlu ke toilet tetangga. Kesimpulannya, anggota Banser tertua di Tasikmalaya itu sudah bisa tidur nyenyak dan layak.

Meski demikian, persoalan berikutnya soal biaya sehari-hari Mang Ena. Harus ada yang mengontrol kebutuhan makan minum dia karena sama sekali jarang terperhatikan.

Belajar Muhammadiyah

Dan jajaran GP Ansor serta Banser Kota Tasikmalaya sudah mengantisipasi hal itu dengan memberikan nomor telepon ke tetangga Mang Ena jika persediaan makanan habis.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berdirinya rumah Mang Ena. Terutama kepada PW GP Ansor Jabar, PCNU Kota Tasikmalaya dan donatur. Sumbangan sangat bermanfaat sekali sehingga Rumah Mang Ena bisa direhabilitasi.

"Kami ucapkan terimakasih atas segala bantuannya. Semoga dilipatgandakan oleh Allah SWT," kata Ricky, Kamis (27/10).

Mang Ena merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tertua yang masih hidup Kota Tasikmalaya. Lahir 6 Juni 1927, Mang Ena tinggal di sebuah gubuk lapuk di Kampung Leuwigeunta Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya Jawa Barat.

Belajar Muhammadiyah

Seraga Banser pun masih tersimpan disela gantungan baju. Yang kalau ada acara NU atau Ansor, Mang Ena langsung mengenakan seragam tersebut yang dengan gagahnya pula berangkat naik sepeda ke tempat acara.

Sampai sekarang, Mang Ena lebih banyak menghabiskan waktu demi Banser dan Nahdlatul Ulama (NU). Ia berkeyakinan aktif di NU bakal selamat dunia akhirat. Sehingga dari keaktifan Mang Ena sejak usia 10 tahun itu, ia sudah mendapat piagam penghargaan Banser termuda pada 31 Januari 1937. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Kembangkan Manajemen Masjid, LTMNU Babat Kunjungi PBNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Lembaga Takmir Masjid MWCNU Babat, Lamongan menemui Ketua LTM PBNU KH Abdul Manan Ghani di masjid An-Nahdlah di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta Pusat, Senin (9/6) siang. Bersama Kiai Manan, rombongan yang berjumlah 60 orang ini membahas sejumlah persoalan terkait pengelolaan masjid.

Kembangkan Manajemen Masjid, LTMNU Babat Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Manajemen Masjid, LTMNU Babat Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Manajemen Masjid, LTMNU Babat Kunjungi PBNU

“Kita ingin menggali ilmu kemasjidan,” kata Ketua LTM MWCNU Babat H Khoirul Anwar kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (9/6) siang.

Cakupan pertemuan ini meliputi antara lain sertifikasi tanah, perwakafan, pengelolaan anggaran dan belanja masjid, kegiatan dakwah, upaya pemakmuran, kepengurusan, pemasangan plang NU, hingga pihak yang berhak merawat sertifikat tanah masjid.

Belajar Muhammadiyah

Dalam dialognya, Kiai Manan menekankan kemandirian pendanaan masjid. “Kita tengah menggalakkan Gerakan Infaq dan Shodaqoh Masjid (Gismas). Jangan sampai ketergantungan kepada pihak Timur Tengah, mereka bisa intervensi masjid kita,” terang Kiai Mannan.

Kiai Manan menganjurkan rombongan LTM MWCNU Babat untuk mengadakan pelatihan perihal manajemen masjid di Lamongan. Kiai Manan menambahkan, “Dalam pelatihan, semua persoalan bisa dikupas mengingat waktunya yang lebih lapang.”

Belajar Muhammadiyah

“Untuk pengayaan, kita akan meluncur ke Kemenag di jalan Husni Thamrin dan Kantor Dewan Masjid Indonesia,” ujar H Anwar yang akan menutup perjalanan ilmiahnya dengan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional Belajar Muhammadiyah

Kamis, 02 November 2017

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Seperti tahun lalu, PBNU melalui Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Ramadhan ini menggelar agenda “Mudik Bareng NU 1433 H”. Sedikitnya 99 masjid di sepajang Pulau Jawa disiapkan menjadi posko mudik. Kebijakan ini merangkap harapan, masjid sepatutnya turut membantu kehidupan masyarakat.

Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Rabu (31/7), mengatakan, langkah ini adalah  wujud pemberdayaan aset Nahdlatul Ulama agar memberi manfaat kepada umat. Seluruh Pengurus Cabang  dalam Rapimnas LTMNU telah sepakat akan membuka posko di lingkungan masjid untuk menyambut ribuan calon pemudik.

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

“Kita juga berharap, program ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen menyebutkan beberapa keunggulan posko mudik NU ini. Di masjid, selain melepas lelah dan mampir ke kamar mandi, para pemudik dapat menunaikan shalat dalam suasana yang lebih teduh dan nyaman. Fasilitas ini berbeda dengan posko-posko lain yang umumnya terbatas pada penyediaan kamar kecil dan tenda berukuran sempit.

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan 99 pengurus cabang secara tak langsung telah memperkuat LTMNU secara struktural. “Dengan kegiatan ini kita akhirnya telah melakukan konsolidasi dengan PC-PC (pengurus cabang), dari Merak sampai Banyuwangi,” tandasnya.

Belajar Muhammadiyah

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 17 September 2017

PWNU Jabar Akan Bahas Pemimpin Nonmuslim

Jakarta,Belajar Muhammadiyah

Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jawa Barat akan membahas bagaimana hukumnya masyarakat mayoritas muslim yang memilih pemimpin nonmuslim

PWNU Jabar Akan Bahas Pemimpin Nonmuslim (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar Akan Bahas Pemimpin Nonmuslim (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar Akan Bahas Pemimpin Nonmuslim

Hal itu menurut Dasuki Qs akan dibahas ajengan-ajengan Jawa Barat pada Komisi Masa’il Maudhu`iyyah yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Fauzan, Garut pada Selasa (11/10).

Ia menambahkan, masalah pemimpin nonmuslim di Indonesia merupakan masalah yang sensitif karena mayoritas pemilihnya adalah masyarakat muslim.

Belajar Muhammadiyah

“Oleh karena itu, setiap menjelang pilpres atau pilkada yang mengusung sebagian calonnya adalah nonmuslim pasti akan muncul penolakan dari para tokoh muslim untuk menghalangi para pemilih muslim agar tidak memilihnya,” katanya ketika dihubungi Belajar Muhammadiyah dari Jakarta pada Ahad (9/10).

Belajar Muhammadiyah

Para ajengan, lanjutnya, pada komisi yang lain akan membahas hukum kebiri kepada pelaku kejahatan seksual.

“Semoga kegiatan tersebut bisa berjalan dengan lancar,” pungkasnya.

Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-17 PWNU Jawa Barat akan berlangsung 10-11 Oktober. Kegiatan bertema “Meneguhkan Khidmah Jamiyah? untuk Umat dan Bangsa” ini dimulai dengan istighotsah para kiai dan peserta konferensi pada Senin malam (10/10). Kemudian keesokan harinya, Selasa (11/10) konferensi akan dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Konferwil ini akan dihadiri 27 perwakilan PCNU dan satu karteker, serta para peninjau. Selain pembahasan dua masalah di atas, konferwil akan menentukan pemimpin PWNU Jabar lima tahun mendatang. (Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ubudiyah, Amalan, Internasional Belajar Muhammadiyah

Rabu, 13 September 2017

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Jember, Belajar Muhammadiyah - Kalau mau menjadi anggota NU, niatilah? untuk? mencari ridlo Allah. Jangan berniat? mencari? sesuatu selain itu. Sebab, ketika berniat mencari sesuatu, pasti tidak akan didapat.? Hal tersebut dikemukakan Ketua PCNU Jember, KH Abdulah Syamsul Arifin dalam sebuah acara? pengajian Aswaja di Kaliwates,? belum lama ini.

Menurutnya, jika berniat mencari keuntungan duniawi lewat NU, biasanya tidak akan pernah tercapai. Sebab, NU bukan lembaga profit. "Tapi jangan khawatir jika bekerja untuk NU dengan ikhlas, keuntungan dunia pasti mengikuti. Itu namnya barokah. Ini fakta," terang Gus Aab, sapaan akrabnya Rabu (31/8).

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Ia lalu menceritakan sisi barokah NU yang dia rasakan sebagai Ketua NU. Dikatakannya, dalam menghadiri undangan apa pun yang atas nama NU, ia mengaku tak pernah menggunakan kas NU, tapi uang pribadi.

Belajar Muhammadiyah

Namun, lanjutnya, uang tersebut pasti diganti oleh Allah di tempat lain dengan cara yang lain pula. "Saya misalnya diundang ke kantor PWNU Jawa Timur, saya pakai uang sendiri untuk ongkos,? tapi pulangnya insyaallah saya dapat lebih banyak dari ongkos yang saya keluarkan, karena saya masih mampir di sekian tempat untuk mengisi pengajian," tukasnya sambil tersenyum.

Dekan Fakultas Tarbiyah? IAIN Jember itu lalu menyinggung kata-kata bijak yang sering diucapkan almarhum KH Muchit Muzadi terhadap pengurus NU. Katanya, kalau masuk atau menjadi pengurus NU, jangan berkata ingin membesarkan NU. NU tidak perlu dibesarkan. Sebab,? NU sudah besar.

Belajar Muhammadiyah

"Yang penting? kita masuk NU, niat? dandani awak. Ingin membenahi diri. Karena di NU kita berkumpul dengan ulama dan orang? saleh. Itu? kata Kiai Muchit.? Jadi, dengan masuk NU, niat utama kita memperbaiki diri dulu.? Lebih dari itu, NU menjadi kontrol sosial bagi kita. Kita jadi malu untuk berbuat yang tidak-tidak, apalagi pengurus," terangnya. (aryudi a razak/ abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Meme Islam, Olahraga Belajar Muhammadiyah

Jumat, 21 Juli 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Jakarta,? Belajar Muhammadiyah

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas insiden jatuhnya crane di area Masjidil Haram Makkah al Mukarramah akibat badai dan hujan deras yang melanda yang mengakibatkan wafatnya puluhan? dluyufur rahman? yang akan menunaikan ibadah haji.

"PBNU bertakziah untuk para korban semoga mereka termasuk dalam syuhada yang menjadi? ahli jannah, keluarganya diberikan kekuatan, keikhlasan, dan ketegaran, untuk menerima ujian ini dengan senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanya kita kembali," kata Kiai Maruf Amin dalam pesan yang disampaikan keBelajar Muhammadiyah,? Sabtu.?

Kiai Maruf Amin juga mengingatkan bahwa hal ini merupakan upaya kita agar selalu ingat pada kematian, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amal kebajikan, baik yang bersifat vertikal dan horisontal.

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Rais aam menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya warga NU untuk melakukan shalat ghaib di masjid-masjd dan mushalla. shalat janazah hukumnya? fardhu kifayah, yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam dengan prinsip ketewakilan. Shalat ghaib hukumnya sah sebagaimana shalat janazah. Shalat ghaib ditujukan kepada? dluyufurrahmanyang wafat di tanah suci karena musibah jatuhnya crane proyek pembangunan masjidil haram.

Selanjutnya, Kiai Maruf yang juga ketua umum MUI ini menghimbau kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, lembaga-lembaa di lingkungan NU, para pengurus masjid dan mushalla untuk mengajak seluruh jamaah melakukan shalat ghaib, tahlil, serta istighotsah untuk meminta pertolongan kepada Allah agar para hujjaj yang wafat diampuni oleh Allah SWT, para jamaah haji yang sedang persiapan manasik haji diberi kekuatan lahir batin, para pelayan tamu-tamu Allah diberikan kekuatan untuk menyiapkan, memfasilitasi, dan melayani segala kebutuhan hingga dapat telaksana dengan baik. (Red: Mukafi Niam)

Foto: CNN Indonesia

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Internasional, IMNU Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Mei 2017

Menag Imbau Google Turunkan Rating Konten-konten Negatif

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Dalam kegiatan Workshop Kreator Konten dengan tujuan menyebarkan pesan damai di dunia maya, Selasa (1/9) di Hotel Fairmont Jakarta yang diselenggarakan oleh The Wahid Institute dan Google Indonesia, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengimbau dan meminta Google agar tidak menaruh konten-konten negatif diurutan paling atas di mesin pencarian.

“Selain kebajikan yang sudah dilakukan, Google juga harus mempunyai kebijakan tegas terhadap konten-konten negatif dengan tidak memunculkan link-link negatif diurutan paling atas,” ujar Menag saat memberikan sambutan dalam kegiatan Workshop tersebut.

Menag Imbau Google Turunkan Rating Konten-konten Negatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Imbau Google Turunkan Rating Konten-konten Negatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Imbau Google Turunkan Rating Konten-konten Negatif

Menag bercerita tentang pengalaman pribadinya saat dirinya mencoba mencari konten dengan kata kunci “Qital”. Ketika itulah dirinya mendapatkan konten sekaligus gambar-gambar yang menyeramkan berbalut panji-panji Islam diurutan atas.

Belajar Muhammadiyah

“Tentu konten-konten tersebut memiliki dampak yang kurang baik bagi generasi muda. Apalagi mereka seringnya hanya membuka konten yang paling atas, tidak mau mencari hingga ke bawah untuk perbandingan,” ungkapnya.

Belajar Muhammadiyah

Menag menjelaskan, bahwa konten-konten negatif yang dimaksud dirinya adalah, diantaranya konten yang menjurus pada radikalisme dan ekstrimisme yang mengatasnamakan agama, baik dalam bentuk informasi, berita, gambar, dan video di You Tube.

Karena menurutnya, esensi agama harus menebarkan kebajikan dan memanusiakan manusia. “Sebab itu, deradikalisasi bukan upaya melemahkan agama seperti anggapan mereka, melainkan mencegah mental intoleran dan ekstrimisme,” paparnya.

Kepada generasi muda, Menag mengingatkan bahwa internet tidak bisa menjelaskan teks. Harus belajar kepada kiai, ustadz, maupun guru sehingga agama tidak dipahami secara instan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid, penulis Biografi Gus Dur, Greg Barton, Aktivis Gender, Hussein Muhammad, Fasilitator untuk Rehabilitasi Teroris, Noor Huda Ismail, Jurnalis Perdamaian United Kingdom, Abdul-Rehman Malik, dan lebih dari 70 peserta dari berbagai latar belakang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, Internasional, Hadits Belajar Muhammadiyah

Rabu, 08 Maret 2017

Pasca Merapi Batuk, Warga Gelar Doa Tolak Balak

Klaten, Belajar Muhammadiyah - Setelah Gunung Merapi kembali mengeluarkan ledakan Senin (18/11) lalu, Keraton Solo bersama warga menggelar upacara doa tolak balak. Upacara tolak bala dilangsungkan di dusun Ngrancah desa Bumiharjo kecamatan Kemalang kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (23/11).

Warga menghadirkan tumpeng yang menjadi simbol Gunung Merapi (alam), beserta lauk pauk (masyarakat). Mereka selanjutnya berdoa dengan tujuan agar alam dan manusia dapat hidup berdampingan, aman, rukun, damai, dan sejahtera.

Pasca Merapi Batuk, Warga Gelar Doa Tolak Balak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Merapi Batuk, Warga Gelar Doa Tolak Balak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Merapi Batuk, Warga Gelar Doa Tolak Balak

Usai mereka berdoa, tumpeng dan lauk pauk itu dibagikan kepada masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

Panitia upacara tolak balak KRA Probonegoro mengungkapkan, kegiatan itu bertujuan agar masyarakat bisa hidup tenang, aman, dan tenteram. Gunung Merapi adalah gunung yang paling aktif. Dengan ritual tolak balak ini, kami berharap supaya masyarakat bisa selamat sentosa.

Dengan selamatan itu, ia juga berharap masyarakat dijauhkan dari balak atau bencana yang ditimbulkan Gunung Merapi. “Merapi itu kalau diuri-uri akan mendatangkan berkah. Namun, kalau disepelekan akan membawa musibah bencana.” (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Daerah, Internasional Belajar Muhammadiyah

Selasa, 08 November 2016

Hasil Bahtsul Masail PCINU Pakistan tentang LGBT

Islamabad, Belajar Muhammadiyah

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan turut angkat bicara soal polemik LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) yang tengah ramai dibicarakan di Indonesia.


Melalui forum bahtsul masail yang berlangsung di Hotel Kampus International? Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan, merumuskan sikapnya. Kegiatan tersebut mengusung tema “LGBT dalam Bingkai NKRI, Efek dan Penanggulangannya.”

Narasumber dalam forum kali ini adalah Rais Syuriyah PCINU Pakistan H Ikmal Toha dan akademisi IIU H Hendro Risbiyantoro. Keduanya mempresentasikan LGBT dan perkembangannya di Indonesia dari waktu ke waktu, yang dilihat dari sudut pandang agama, budaya, sosial dan psikologi.

Hasil Bahtsul Masail PCINU Pakistan tentang LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Bahtsul Masail PCINU Pakistan tentang LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Bahtsul Masail PCINU Pakistan tentang LGBT

Bahtsul Masail yang bertepatan dengan dimulainya musim semi di Pakistan berlangsung lancar, Kamis (3/3). Para peserta terlihat antusias menyimak setiap argumentasi dan perdebatan yang mengemuka terkait masalah ini.

Menurut kedua narasumber, dalih hak asasi manusia dan kebebasan yang kerap digunakan para pendukung dan pelaku LGBT di Indonesia tidak bisa jadi alasan yang kuat untuk melegalkan gerakan ini.

Lebih lanjut disampaikan bahwa ilegalitas tersebut disebabkan karena LGBT bertentangan dengan agama, budaya, bahkan fitrah manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan berpasang-pasangan dan bukan untuk menyukai sesama jenis.

Belajar Muhammadiyah

Setelah proses dialog yang cukup lama dengan menyitir landasan dalil dari pendapat ulama dalam beberapa kitab klasik, akhirnya semua peserta bahtsul masail sepakat untuk melarang dan menolak LGBT, baik propaganda serta segala aktivitasnya di Indonesia.

Berikut beberapa poin penting hasil bahtsul masail PCINU Pakistan terkait “LGBT dalam Bingkai NKRI, Efek dan Penanggulangannya”:

1. Melarang dan menolak paham LGBT di Indonesia dan seluruh gerakan atau propaganda yang membolehkan atau mengakui eksistensi LGBT.

Belajar Muhammadiyah

2. Perlunya sosialisasi yang massif kepada seluruh masyarakat Indonesia akan bahaya LGBT bagi masyarakat Indonesia dan generasi penerus bangsa.

3. Menyuarakan ketidaksetujuan akan LGBT di Indonesia dengan menyebarkan tulisan kontra LGBT di media cetak maupun elektronik.

4. Menguatkan pemahaman agama di lingkungan masyarakat.

5. Mendukung sikap tegas pemerintah mengenai pelarangan masalah ini.

6. Mengadakan pendekatan-pendekatan khusus kepada orang-orang yang terkena penyakit ini supaya kembali kepada fitrahnya.

Acara yang dihadiri oleh Ketua Mahasiswa Indonesia di Pakistan (PPMI), ketua PCI Muhammadiyah dan seluruh warga Nahdliyin di Pakistan ditutup dengan taushiyah dari Rais Syuriah PCINU H Ikmal Toha. “Berada jauh dari Tanah Air, bukan alasan untuk tidak dapat memberikan kontribusi bagi masalah yang dialami oleh bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, mencurahkan pemikiran untuk memberikan penerangan terhadap hal yang tidak sesuai dengan norma dan nilai agama adalah tugas kita semua. (Ahmad Dzikri Alhikam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Ulama Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock