Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Bogor, Belajar Muhammadiyah

Gedung Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Ahad (29/5) pagi tampak berbeda. Ratusan jama’ah dari majelis ta’lim se-Bogor tampak memenuhi ruangan. Pasalnya, hari ini merupakan hari terselenggaranya acara IPB Bersholawat, sebuah acara yang bertujuan menggemakan shalawat di kampus pertanian terbaik se-Indonesia ini.

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Acara yang bertema Gemakan Sholawat, Temukan Kembali Jati Diri Umat untuk NKRI yang Bermartababat ini juga dihelat dalam rangka peringatan harlah ke-9 KMNU IPB yang jatuh pada 26 Mei lalu. Acara dimulai pada pukul delapan pagi dengan penampilan hadrah KMNU IPB sebagai pembukanya.

Dalam sambutannya, ketua pelaksana IPB Bersholawat, ketua KMNU IPB, Pembina KMNU IPB, dan Presidium Nasional I KMNU Pusat sama-sama menyatakan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara shalawatan terbesar di kampus IPB ini. Mereka berharap acara ini dapat menarik lebih banyak lagi mahasiswa dan masyarakat yang rindu akan Rasulullah SAW. ?

Hadir sebagai penyampai mauidhah hasanah, KH Choirul Anshori dari Yayasan Syahamah (Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syaikh Dr Muhammad Darwis asal Suriah yang merupakan dosen di Ma’had Aly Littafaqquh Fiddin Imam Syafii, Cianjur. Dalam ceramah Kiai Anshori menyampaikan bahwa pembacaan maulid adalah hal yang disukai Rasulullah SAW. Hal ini terbukti ketika Imam Al-Bushiri sakit keras karena terlalu rindunya terhadap Rasulullah, dalam suatu malam ia didatangi Rasulullah SAW dalam mimpinya. Rasulullah meminta Imam Al-Bushiri menulis maulid yang kemudian dikenal dengan Maulid Burdah. Setelah itu, Rasulullah mengusap Imam Al-Bushiri dan ketika terbangun dari tidurnya, Imam AL-Bushiri telah sembuh dari sakitnya.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Anshori menambahkan walau pembacaan maulid adalah bid’ah (perkara yang baru ada setelah Nabi wafat-red), namun hal ini termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Kiai yang berasal dari Malang ini juga mengingatkan umat Islam akan bahaya bid’ah dhalalah (bid’ah yang buruk) seperti gerakan LGBT dan kampanye-kampanye menyesatkan lainnya.?

Mauidhoh hasanah kedua disampaikan oleh Syaikh Dr Muhammad Darwis dalam bahasa Arab dengan Ustadz Adhli Al-Karni sebagai penerjemahnya. Dalam ceramahnya, Syaikh Muhammad Darwis menerangkan tentang keutamaan shalawat dan kemuliaan Baginda Nabi SAW. Kisah yang menyentuh hati juga ia sampaikan, salah satunya kisah tentang Ummu Sulaim yang mengumpulkan tetesan keringat Rasulullah dalam sebuah botol saat Rasulullah tertidur.?

Pelantunan shalawat yang merupakan acara inti dari IPB Bersholawat ini dipimpin oleh Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf beserta jama’ahnya yang tergabung dalam Majelis Syababul Kheir Bogor.?

“Sudah saatnya kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menunjukkan identitasnya sebagai kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu dengan bershalawat,” tegas Habib Mahdi di sela-sela pelantunan shalawat. Ke depan, acara yang diramaikan dengan hastag #IPBersholawat ini diharapkan dapat menjadi pemicu akan lahirnya lebih banyak majelis shalawat di kampus selanjutnya. (Kholilah DI/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 18 Februari 2018

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Saat fasisme Jepang yang sedang menduduki Indonesia mendekati NU, NU dengan cerdas berhasil memanfaatkan kesempatan dan ruang yang diberikan kepadanya. Konsesi yang didapatkan sebagai konsekuensi dan ketergantungan dari peralihan sikap Jepang ini, dengan cepat dimanfaatkan oleh NU untuk melakukan pergerakan politik yang secara permukaan memperlihatkan sikap mendukung kepentingan Jepang. Namun sesungguhnya secara rahasia ditujukan untuk kepentingan bangsa Indonesia yaitu melakukan konsolidasi kekuatan pribumi. Mempersiapkan ‘condition of possiblities’, memanfaatkan peluang dan momentum, saat terjadi krisis geopolitik di level internasional, kemudian menempatkannya sesuai porsinya di level nasional. Mewujudkan negara bangsaIndonesia, 17 Agustus 1945. Inilah siasat politik kancil melawan serigala, teori perjuangan yang mampu diterapkan putra terkasih Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu KH Wahid Hasyim.?

Buku ini menjelaskan secara lengkap perjuangan besar dan pengorbanan NU untuk bangsa dan negara di era kolonialisme Jepang. Serta titiknya adalah siasat politik NU menghadapi Jepang, yang sangat ganas, licik, penipu dan congkak. ‘Menindas, membelenggu fisik dan pikiran rakyat Indonesia’, sebagaimana filosofi bendera Negeri Matahari Terbit, siapapun yang terkena panasnya matahari akan meleleh jiwa dan raganya. ?

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Karya buku ini dicetak perdana dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur, dipersembahkan secara khusus untuk jama’ah-jam’iyyah NU dan bangsa Indonesia. Sebuah buku sejarah yang strategis yang berisi siasat pemuda NU yang jauh lebih lihai, cerdas dan keren, yakni siasat pemuda Wahid Hasyim menghadapi keganasan Jepang. Buku ini wajib dibaca, untuk membantu kita dalam mengingat masa lalu yang pernah ada dan perlu kita kobarkan ditengah keterpurukan bangsa, ? bagaimana menyerap energi pendahulu bangsa sebagai energi perlawanan. Sehingga menjadi pemuda NU harus pemberani dan senantiasa terus berjuang, berinovasi untuk kebangkitan NKRI. Karena NKRI adalah milik NU, saatnya NU mengatur bangsa dan negara. Berkhidmat demi kebaikan negeri para kiai & santri, kemuliaan para nabi dan para wali. ? ?

Buku berjudul Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang merupakan buku pertama dari Trilogi buku perjuangan NU. Buku kedua berjudul NU Menginjak Bumi: Siasat Pasca Kemerdekaan, sedangkan buku ketiga berjudul, Ketika NU Ditindas. Hanya dengan akumulasi pengetahuan kita mampu bangkit, beredar dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Ingatlah, masa lalu adalah energi perlawanan demi masa kini-masa depan. Dahulu kita memiliki patriot besar, the libertador: Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Gus Wahid Hasyim (NU). Pemimpin bangsa yang bisa baca konstelalasi global, punya kesadaran baca psikologis bangsanya, hingga bisa memerdekakan negerinya. Warisan luhur itulah yang sangat penting dikobarkan di pikiran-hati untuk mencipta Indonesia yang revolusioner. Inilah relevansinya membaca buku ini, dalam menghadapi kapitalisme global kontemporer.?

Belajar Muhammadiyah

Dalam buku ini penulis mengajak masyarakat untuk tahu bahwa Indonesia kita ada karena masa lalu, dan mestinya digerakan pemuda untuk masa kini dan masa depan. Karena kejayaan bangsa hanya bisa ditransformasi merujuk masa lalunya misalnya Kebangkitan Jepang, Turki, Cina, India, Iran, Korea, Inggris dan lainnya. Pemuda seperti kita semua tetap berurusan dengan masa lalu, mesti bisa bertarung seperti pemuda bernama Dyah Wijaya dari Nusantara melawan imperium Mongol, Kubilai Khan. Dan pemuda itu menang atasnya dalam pertarungan, menyelamatkan Asia, Afrika, dunia Islam dan Eropa-Barat dari teror dan ketakutan paling mengerikan sepanjang sejarah, keganasan imperium Mongolia. Berkat perjuangan putra Nusantara, dunia diselamatkan, terwujudlah perdamaian. NU adalah tajalli dari spirit masa lalu, untuk meneguhkan Islam Nusantara dan demi peradaban global yang damai dan berkeadilan. Inilah tantangan PBNU 2015-2020 yang dikukuhkan di Masjid Istiqlal.?

Belajar Muhammadiyah

Para kiai dan pejuang NU era kolonial Jepang telah mengabdikan dirinya bagi Islam dan berbakti untuk Kemerdekaan Indonesia. NU mengabdi untuk kebaikan negeri tercinta ini dari awal hingga akhir. Mereka yang tidak mencintai tidak akan memahami. Warna-warni hidupnya para pendekar-pejuang NU disingkat hanya 3 (tiga) kata: Beliau lahir, bergerak dan syahid. Para pejuang NU telah memahat jalan yang mengantarkan kita, mengorbankan nyawanya demi Kemerdekaan Indonesia, demi kita semua hingga detik ini.?

Data buku

Judul : Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Penulis: Dinno Munfaizin Imamah

Penerbit : The Koweng Press Jakarta?

Cetakan I : Agustus 2015

Tebal : 218

Peresensi : Ningrum Lestary, pecinta buku

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Quote Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 17 Februari 2018

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkomitmen terus mengawasi dan memberi masukan kepada DPR dan pemerintah dalam proses menjelang pengesahan rancangan undang-undang (RUU) Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji.

Komitmen tersebut direalisasikan dalam bentuk pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) secara berkala yang dimulai Senin (14/9) di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, dengan tema “Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Ideal dan Efisien”.

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Hasil diskusi akan dibukukan sebagai naskah akademik yang bisa dipertimbangkan para pemangku kebijakan atas RUU tersebut. “Saya sendiri yang akan mengawal naskah akademik ini nanti untuk dipasarkan kepada fraksi-fraksi mainstream,” kata Helmy Faisal Zaini, Sekjen PBNU.

Belajar Muhammadiyah

Hadir dalam forum tersebut Achmad Djunaidi, mantan Kepala Biro Perencanaan Kemenag dan mantan Direktur Pengelola Dana Haji Dirjen Pelaksanaan Haji dan Umroh (PHU); Ahmad Kartono, mantan Direktur Pembinaan Ibadah Haji dan Umrah di Direktorat Jenderal PHU Kemenag; serta para ketua PBNU antara lain H marsudi Syuhud, H Eman Suryaman, H Andy Najmi, dan H Abdul Manan A Ghani. Forum juga diikuti perwakilan dari lembaga di PBNU.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Helmy, diskusi akan diselenggarakan secara tematik. Selain soal efisiensi, PBNU akan menyoroti misalnya tentang relevansi haji dikelola swasta, dan lainnya. Ia meyakinkan, sumbangan pikiran PBNU ini memiliki nilai signifikan.

“Kita harus optimis bahwa apa yang kita lakukan ini akan membawa perbaikan tata kelola ibadah haji ke depan,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Nasional, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meyakini kekuatan NU di dalam menjaga ketenteraman beragama di tengah masyarakat. Bagi As’ad, syiar NU yang meliputi segala sisinya di suatu daerah dengan sendirinya membuat kecil panggung kelompok kecil yang radikal di masyarakat.

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

“Kalau NU setempat itu hidup dan bergerak, mereka akan kesempitan ruang gerak,” kata As’ad dalam sambutan pembukaan Workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda bertempat di Hotel Acacia, Jakarta, Senin (15/6) malam.

Ia menceritakan pengalamannya soal perkembangan kelompok radikal di kawasan Solo Raya yang meliputi Sragen, Klaten, Wonogiri, Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Belajar Muhammadiyah

“Ketika mereka mulai menggeliat, saya bertanya bagaimana gerakan NU di sana? Ternyata NU-nya selama ini tidak ada berwujud. Inilah salah satu sebab mereka lebih leluasa bergerak,” kata As’ad.

Belajar Muhammadiyah

Setelah itu, As’ad mengundang pengurus-pengurus NU yang sedang vakum itu ke Jakarta. Di sini, mereka didorong dan dibekali untuk menggerakkan NU setempat.

“Saya minta mereka untuk memasang plang-plang NU. Cepat berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat karena ini bibit bahaya bersama. Alhamdulillah, NU-nya jalan, mereka berangsur surut. Pokoknya, kalau NU lemah, mereka leluasa bergerak,” tandas As’ad. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21

Makkah, Belajar Muhammadiyah

Komite Hijaz adalah sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk umat islam di Indonesia medio 1924-1925 bertepatan dengan berkuasanya Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, atas Hijaz (Makkah dan Madinah). Salah satu latar belakang kelahirannya adalah kebijakan anti pluralitas madzhab dan pemusnahan situs-situs peradaban Islam oleh Ibnu Saud. Komite Hijaz yang diketuai KH. Abdul Wahab Hasbullah menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama.

Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengingatkan kembali cerita itu. Menurutnya, Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki visi dan cita-cita internasional. “Sesungguhnya NU lahir dengan perspektif dan cita-cita yang luar biasa. Perspektif global ini tidak boleh surut,” tuturnya.

Kiai Masdar berbicara dalam acara Silaturrahim PCINU Sedunia yang digelar di Rubat Jawa an-Nawawy, Distrik Misfalah, Kota Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Utusan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) datang antara lain dari Belanda, Hongkong, Jepang, Lebanon, Malaysia, Maroko, Mesir, Pakistan, Sudan, Tunisia, Yaman, dan Aljazair.

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21

“Saat ini kita bisa merasakan bagaimana haji sebagai laku napak tilas spiritual sudah hilang, rumah Rasulullah (bersama Sayyidah Khadijah-red) sudah tidak ada, petilasan-petilasan bersejarah juga sudah hilang. Ini tantangan komite hijaz abad 21 saya kira, bagaimana menjaga haji sebagai proses penulusuran sejarah spritual umat Islam,” tutur santri KH Ali Maksum Krapyak ini, Senin (21/9).

Dalam kesempatna yang sama, ia juga juga menekankan pentingnya berjamaah. Menurutnya, jamaah bukan sekadar kumpul, melainkan kumpulan manusia yang teroganisasi seperti halnya jamaah shalat, ada imam dan ada makmum.

Belajar Muhammadiyah

“Jamaah dalam konteks hablum minannas ya organisasi dan Indonesia sudah ideal, di mana organisasi-organisasi keagamaan tumbuh subur, tinggal bagaimana duduk bersama merespon isu lokal maupun isu internasional,” ujar Kiai Masdar.

Abdul Wahid Maktub, Staf Ahli Menristek Dikti RI, yang juga hadir dalam forum tersebut mengingatkan pentingnya merespon perubahan zaman. Ia mengatakan, dunia ini terus berubah karena itu bagian dari sunnatullah. Menjadi problem jika zaman berubah begitu cepat tetapi manusianya tidak berubah.

Wahid Maktub menekankan pentingnya kecepatan, kecermatan dan ketepatan dalam membaca keadaan zaman. Menurutnya NU harus mampu menjawab tantangan zaman dan harus semangat dan cepat berubah sebagaimana semangat jihad yang pernah digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. (Ridho Hasan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah News, Pendidikan, Doa Belajar Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Tragedi kemanusiaan yang dialami oleh umat muslim Rohingya, di Rakhine Myanmar telah memantik aksi sejumlah kalangan untuk memberikan dukungan moril. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Sebagai bentuk kepedulian terhadap umat muslim Rohingya PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo bersama pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan melaksanakan dzikir akbar sekaligus sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya di halaman depan Eks Kantor Bupati Probolinggo di Kecamatan Dringu, Ahad (10/9) sore.

Kegiatan ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah, pengurus PW GP Ansor Jawa Timur, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Dzikir akbar dan sholat ghaib yang diikuti oleh seluruh pengurus PAC GP Ansor, Banser dan pengurus NU se-Kabupaten Probolinggo ini diawali dengan sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya. Kemudian dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Jamaluddin al Hariri.

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa sebagai umat muslim, khususnya warga NU agar tidak terpancing dan terprovokasi oleh aksi-aksi yang mengarah kepada cara anarkis.

Belajar Muhammadiyah

“Sebab, apabila warga NU sampai terpancing dan terprovokasi tentunya akan membawa pengaruh yang negatif dan dapat memecah belahkan persatuan umat muslim di Republik Indonesia,” ungkapnya.

Oleh karena itu Hasan menginstruksikan kepada seluruh ranting dan anak ranting agar melakukan gerakan doa khusus pada pemerintah Myanmar yang telah melakukan penistaan antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. “Permasalahan ini bukan karena persoalan agama, tetapi konflik ini disebabkan hanya karena persoalan dunia,” pungkasnya.

Terpisah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis menyampaikan bahwa dzikir akbar dan sholat ghaib ini merupakan salah satu upaya kegiatan positif yang dilakukan oleh GP Ansor sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap muslim Rohingya.

“Saya menolak dan mengutuk keras bila ada ormas melakukan aksi-aksi solidaritas Etnis Muslim Rohingya di Rakhine Myanmar dengan cara anarkis. Aksi itu harus dilakukan melalui hal-hal positif dengan cara mendoakan yang terbaik bagi umat muslim Rohingya,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tokoh, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Jombang, Belajar Muhammadiyah?

Basroni, santri pondok pesantren An-Tahdzib Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat akibat jatuh dari truk saat perjalanan pulang usai mengikuti kegiatan apel dan kirab santri bersama rombongannya, Ahad (23/10).?

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Jatuh dari Truk Usai Kirab, PCNU Minta Bupati Bebaskan Biaya Perawatan

Kondisi Basroni saat ini masih dalam penanganan dokter sebab terdapat banyak luka serius di bagian dahi, mulut, lengan juga bagian tubuh lainnya. Ia jatuh di jalan Wahid Hasyim, Kecamatan Diwek.?

Momentum hari santri yang diwarnai musibah itu cukup memantik simpati banyak pihak. Selama di rumah sakit, Basroni dijenguk beberapa pengurus NU. Diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, PC RMI Jombang, PW RMI Jawa Timur, PC GP Ansor, Lazisnu dan LKKNU.

Sejumlah lembaga itu berkoordinasi agar biaya pemeriksaan Basroni dibebaskan melalui surat permintaan resmi PCNU Jombang yang ditujukan kepada Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko juga Direktur RSUD.

Belajar Muhammadiyah

Isi surat itu meminta partisipasi pemerintah daerah agar empati terhadap kondisi santri yang telah menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sesuai keputusan Presiden Republik Indonesia.?

"PCNU Jombang akan menyiapkan surat permintaan kepada Bupati dan Direktur RSUD Jombang supaya dibebaskan dan atau diringankan dari beban biaya perawatan selama di RSUD hingga kepulangannya," kata Samsul Rijal, Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Senin (24/10/2016).

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto menyatakan bahwa surat PCNU sudah dikirim ke Direktur RSUD. "Sudah dikirim suratnya, penerimanya Satpam ruang pak direktur, sesuai petunjuk pertemuan tadi (koordinasi, red). Semoga dimudahkan," jelasnya.?

Sementara itu Habibul Amin, Sekretaris RMI Jombang saat melihat kondisi Basroni mengungkapkan, sudah mulai membaik. "Alhamdulillah mulai membaik, ini kita semua bersama-sama membantu semaksimal mungkin," ucap pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Fathul Umum Gardu Laut, Kecamatan Ngoro. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Pendidikan, Kiai Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. NU Care-LAZISNU menerima kunjungan sekaligus menggelar sarasehan bersama PC PMII Pekalongan pada Senin (1/05) siang, di lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat.?

Pada sarasehan yang diikuti 56 peserta itu, NU Care-LAZISNU dan PC PMII Pekalongan mengusung tema Implementasi Aswaja sebagai Manhajul Fikr dalam Ranah Lokal melalui Gerakan Filantropi Islam Nusantara.

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Care Presentasikan Filantropi Islam Nusantara pada Kader PMII

Slamet Tuharie, selaku narasumber, menyampaikan bahwa penyebaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Nahdlatul Ulama itu didorong dengan gerakan kedermawanan, gerakan filantropi.

“Aswaja NU yang dibawa Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, para founding fathers NU ada ghirah kedermawanan, kepedulian di dalamnya. Ada spirit filantropi di dalamnya. Kita sebut sekarang dengan filantropi Islam Nusantara,” jelas Slamet, yang menjabat sebagai Direktur Penyaluran dan Pendayagunaan PP NU Care-LAZISNU.

Belajar Muhammadiyah

Slamet memaparkan, filantropi Islam Nusantara saat ini sedang menemukan gairahnya. Hal ini, kata Slamet, terjadi dan terbukti setelah terselenggaranya Workshop Nasional NU Care-LAZISNU yang diadakan di Sukabumi, awal Februari 2017.

“Sukabumi menjadi tuan rumah Workshop Nasional dan menjadi pilot project NU Care-LAZISNU. Sukabumi, dengan semangat berbaginya yang tinggi, kini memiliki Klinik ZIS, ambulan, peternakan kambing, dan kesuksesan lainnya. Semangat NU Care-LAZISNU Sukabumi menginspirasi NU Care-LAZISNU di banyak daerah, seperti Sragen yang sedang membangun Rumah Sakit NU, atau Kulonprogo dengan program pemasangan lampu, dan Banyumas yang program zakatnya sukses bersinergi dengan penyuluh Kemenag juga guru Ma’arif NU,” papar Slamet.

Selanjutnya, terkait ranah lokal, Wasekjen GP Ansor Pusat Caswiyono Rusydie menerangkan bahwasanya mahasiswa itu harus peka terhadap isu-isu lokal. Tiap mahasiswa punya tanggung jawab sosial. Semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi pula tanggung jawabnya. Berbeda tanggung jawab antara anak SD dengan mahasiswa.

“Mahasiswa harus bergumul dengan problem-problem sosial, paham dengan isu-isu di daerahnya masing-masing. Apalagi PMII. PMII itu harus banyak bergerak, karena namanya juga pergerakan. Kalau sahabat PMII cuma bolak-balik kampus dan kos, perlu dipertanyakaan status PMII-nya,” terang Caswiyono, selaku narasumber kedua.

Caswi, sapaan akrabnya, juga menekankan kepada para kader PMII untuk bergerak di banyak bidang, baik itu sosial, politik, budaya, maupun ekonomi.

Belajar Muhammadiyah

“Di tengah maraknya isu radikalisme, kader PMII selain turut meng-counter sekaligus mengampanyekan Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam Nusantara, juga harus bergerak di bidang lainnya. Di bidang ekonomi misalnya, sahabat-sahabati PMII bisa fokus dengan program entrepreneur. Intinya PMII itu harus banyak bergerak, harus dekat dengan persoalan masyarakat,” ucap Caswi.

Ketua PC PMII Pekalongan Hasan Fasani mengatakan bahwa sarasehan dan diskusi mengenai implementasi Aswaja dan filantropi Islam Nusantara akan ditindaklanjuti di Pekalongan.

“Sebelumnya, PC PMII Pekalongan menghaturkan terima kasih sekali atas sambutan dan apresiasi NU Care-LAZISNU. Kemudian, mengenai gerakan filantropi dan isu-isu lokal di daerah tentu akan kami follow-up. Kami ingin mengundang NU Care-LAZISNU Pusat ke Pekalongan untuk tindak lanjutnya,” ungkapnya. (Wahyu Noerhadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Memasuki tahun baru hijriyah, kompleks pemakaman Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dipadati para peziarah. Bahkan mereka harus mengantre untuk sekadar berdoa di depan makam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan sesepuh lain di pemakaman tersebut.

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah

Menurut data yang dihimpun satpam penjaga gerbang makam, David, peziarah sudah mencapai 10.000 orang.? Lonjakan peziarah dimulai sejak Kamis (23/10) yang bertepatan dengan malam Jumat legi. “Jumat kemarin itu legian Mas, ditambah Suroan ini, jadi ya 10.000 itu wajar,” ujar David.

Para peziarah datang dari berbagai daerah di Jawa, seperti Mojokerto, Surabaya, Gresik, Kendal, Brebes, Pati, bahkan ada dari luar Jawa, seperti Bengkulu dan Lampung. “Kita dari (ziarah makam) Wali Songo nggak afdhol sebelum ke Gus Dur,” terang H Mansyur, pimpinan rombongan peziarah dari Brebes.

Belajar Muhammadiyah

Jalanan depan Tebuireng juga menjadi macet total. Bus-bus yang parkir di jalanan panjangnya mencapai sekitar 300 M, dari Perempatan Cukir sampai Pertigaan Seblak. “Itu belum ditambah dengan yang parkir di depan Masjid Ulil Albab dan yang masuk di Pondok,” ungkap Sodiq (40), tukang parkir Wisata Religi Makam Tebuireng. “Total sekitar 3000 mobil juga ada, kalau hitungannya sejak Kamis kemarin,” tambanya.

Lonjakan tersebut juga berakibat positif bagi para tukang parkir, pedagang Pasar Gus Dur, dan para penyedia jasa kamar mandi dan pengisian baterai telepon genggam. “Ya, beberapa hari ini dagangan meningkat, untuk persennya kami masih belum bisa memastikan sekarang. Karena belum berakhir,” ungkap Ibrul, pedagang buku lorong makam Gus Dur. Diperkirakan peziarah akan terus bertambah sampai Ahad ini (26/10). (Abror/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Santri Belajar Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah. Di saat ratusan warga Madura ikut aksi ke Jakarta, ribuan umat Islam justru membanjiri Monumen Arek Lancor Kabupaten Pamekasan usai shalat Jumat (2/12). Mereka terdiri dari para kiai dan santri dari berbagai pesantren guna melangsungkan istighotsah keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI.

Sebelum jumatan, Masjid Jami As-Syuhada juga dibanjiri ribuan umat. Di dalam masjid tersebut, perjuangan kiai dan santri dalam Resolusi Jihad digemakan oleh Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Muddatstsir Badruddin yang merupakan pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Panyeppen, Palengaan, Pamekasan.

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri dan Kiai Banjiri Monumen Arek Lancor Doakan Keutuhan NKRI

Di monumen Arek Lancor, terlihat jelas semangat cinta tanah air yang ditunjukkan para kiai dan santri. Mereka berdoa bersama untuk kebaikan NKRI secara berkesinambungan.

KH Atorid Siroj selaku Pengasuh Pesantren Al-Kautsar Pamekasan menegaskan, semangat istighotsah dan doa bersama jangan sampai luntur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena doa punya kekuatan tersendiri yang datangnya langsung dari Allah Yang Maha Kuasa.

"Tentu juga perlu diimbangi dengan perbuatan baik, utamanya dalam meneguhkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan nilai-nilai kesantunan dan keharmonisan dalam mengajak pada kebaikan dan melarang kemungkaran," papar Kiai Atorij.

Belajar Muhammadiyah

Untuk mewujudkan hal itu, tambahnya, tentu umat Islam bisa menyeimbangkan spirit hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Kalau tidak mampu berbuat baik, setidaknya jangan terperangkap pada perbuatan buruk.

"Semoga umat Islam di Indonesia tetap mengedepankan kesantunan dan keharmonisan dalam menjalankan dan menebar ajaran agama tercinta ini," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Cerita, Syariah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini

Mataram, Belajar Muhammadiyah. Pimpinan Sidang Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah atau Perundang-undangan Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 2017 Zaini Rahman menyebutkan, ada beberapa usulan yang dilahirkan komisi perundang-perundangan terkait dengan Rancangan Undang-Undang Anti Terorisme (RUU Anto Terorisme). Pertama, mendukung penindakan mereka yang akan melakukan terorisme.

“Orang yang belum melakukan tindakan tapi ia terbukti melakukan persiapan sudah bisa ditindak,” katanya di sela-sela sidang komisi di Pesantren Darul Falah Mataram, Jum’at (24/11).

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat RUU Anti Terorisme, Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Usulkan Ini

Kedua, penindakan terhadap pikiran dan penyebaran ideologi radikalisme dan terorisme. Menurut dia, tindakan terorisme itu berawal dari pikiran dan ideologi yang radikal. Ia menyarankan agar pemerintah bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap lembaga-lembaga yang terindikasi mengusung ideologi radikal dan terorisme.

“Itu harus dicegah dan ditindak,” tegasnya.

Ketiga, ada kelembagaan baru yang melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk mengawal program pencegahan, penindakan, dan pemulihan pelaku terorisme. Ia juga menyarankan agar para penegak hukum diawasi dengan ketat agar tidak melakukan tindakan kriminalisasi kepada seseorang yang mereka tidak suka.

“Termasuk pengawasan terhadap penegak hukumnya agar mereka tidak melakukan kriminalisasi terhadap tokoh agama atau tokoh yang terindikasi tindakan terorisme,” jelasnya.

Belajar Muhammadiyah

Zaini mengatakan, pemerintah juga seharusnya memperhatikan dan memberikan fasilitas terhadap pemulihan pelaku tindak pidana terorisme agar tidak melakukan tindakan yang ekstrim lanjutan. 

“Para pelaku terorisme harus dipulihkan pikiran, ideologi, termasuk soal ekonominya,” tukasnya.

Keputusan dalam tiap sidang komisi baru akan diresmikan Sabtu (25/11) besok dalam sidang pleno menjelang penutupan. (Muchlishon Rochmat)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar yang menjadi salah satu Amirul Hajj menyerukan pesan penting, ibadah haji bisa dijadikan instrumen penyadaran diri bahwa persatuan umat Islam dari seluruh dunia harus menjadi pengalaman berharga untuk bangsa yang bisa dibawa ke negaranya masing-masing.

Menurut kiai asal Jawa Timur ini, sifat manusia sering lupa terhadap persamaan di antara mereka. Mereka kerap bercerai-berai karena kekuatan, kekayaan, keluarga, tanah dan ras. Kehidupan mereka hanya mengumbar ego sektoral dan kerap bertindak brutal secara politis, seperti kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam.

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersatu dalam Perbedaan, Jadikan Haji Pengalaman Berharga untuk Bangsa Tercinta

"Sebab itu, pengalaman haji telah membuat mereka menemukan jati-diri dalam kerangka mereka semua dapat bersatu di tengah perbedaan. Pertahankan temuan-temuan ini sebagai oleh-oleh yang amat berharga untuk bangsa tercinta," tutur Kiai Miftah saat menyampaikan Khutbah Wukuf di Arafah, Ahad (11/9) lalu.

Dia menekankan konteks persatuan dalam ibadah haji mengingat dunia Islam saat ini terus berkecamuk dengan perang yang mengakibatkan jutaan nyawa manusia tak berdosa melayang sia-sia. Mereka tidak hanya dihantui kematian setiap hari, tetapi juga kehilangan orang-orang terkasih hingga terusir dari tanah airnya sendiri. Lebih miris lagi, tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab tersebut sering membawa-membawa nama agama.

Belajar Muhammadiyah

Pesan Kiai Miftah itu juga sangat terkait dengan radikalisme global yang sampai sekarang masih didengung-dengungkan oleh sebagian kelompok kecil yang kerap mengakibatkan tindakan terorisme. Gerakan ini menenteng panji Islam dengan mengeskploitasi kesengsaraan rakyat Timur Tengah ketika terjadi serangan bom. Padahal tragedi yang dieksploitasi akan mendatangkan radikalisme baru sehingga dunia Islam terus-menerus dalam kondisi mencekam.

Persatuan umat Islam dalam kondisi damai di tengah perbedaan ini juga penting ketika gerakan radikal terus berupaya mengancurkan kokohnya dasar negara yang menjadi pondasi kesatuan bangsa, misal di Indonesia yaitu Pancasila. Menyatunya umat Islam dengan instrumen ibadah haji harus menjadi perhatian dunia bahwa persatuan di tengah perbedaan memerlukan sebuah wadah yang disepakati bersama secara konsisten.

Perdamian sebuah bangsa harus terus diupayakan bersama-sama terutama oleh para tokoh sentral di berbagai negara yang mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat. Jangan sampai kelompok atau gerakan-gerakan radikal mendominasi pola pikir masyarakat seolah tak ada upaya dari para ulama moderat yang bersinergi dengan negara membangun wawasan kebangsaan dan cinta tanah air. Sinergi ini tidak akan mudah dikoyak oleh kelompok-kelompok yang bertujuan mememecah belah bangsa dan mengerdilkan negara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan

Padang, Belajar Muhammadiyah - Gerakan Pemuda Ansor sebagai generasi muda Indonesia diminta terus berjuang untuk bangsa dari segala bentuk ancaman yang merusak persatuan dan mengubah ideologi bangsa. Karena sekarang sudah ada gerakan separatis yang kembali bangkit untuk mencoba merongrong persatuan, kesatuan, dan? mengubah ideologi bangsa. Mereka terdiri atas gerakan separtis baru yang berwajah lama dan gerakan separatis lama yang mulai bangkit lagi.

Demikian disampaikan Danrem 032/Wirabraja Brigjend Bakti Agus F kepada pengurus GP Ansor Sumbar yang berkunjung di Makorem 032/Wirabraja Jalan Sudirman Padang, Jumat (22/4).

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumbar dan Korem 032/Wirabraja Tegaskan Komitmen Kebangsaan

Ansor, menurutnya, terbukti memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan. Gerakan radikal yang ada sekarang memang sedang merebak karena adanya transformasi pemikiran yang tidak diformulasi dengan baik sehingga merasa pemikiran mereka yang baik dan benar. Hal ini yang menimbulkan gerakan radikal. Karena merasa tidak puas dengan yang sudah ada sekarang,? merasa tidak lagi sesuai dengan pemikiran mereka.

Menurut Agus, kemauan dan kemampuan memahami jenis pikiran ini sangat diperlukan sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami pikiran. Apa semua pikiran itu cocok untuk bangsa ini? Belum tentu. Pendahulu kita telah memformulasikan pikiran untuk Indonesia sehingga bisa hidup dalam keragaman. Bangsa kita unik di mata dunia. Jangan dimasukan lagi? pikiran yang akan merusak? persatuan bangsa ini.

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

"Sekarang bagaimana kita memperbaiki aspek-aspek yang sudah ada pada bangsa ini agar tetap maju ke depan dan tidak lagi pengulangan peristiwa yang akan membuat kita jauh tertinggal dari bangsa lain. Jangan? kembali lagi ke belakang sementara bangsa lain sudah maju. Dahulu bangsa di Asia Tenggara dan Asia belajar ke Indonesia. Memberikan bantuan untuk bangsa di Asia Tenggara bahkan Asia, namun sekarang kita yang menerima bantuan. Untuk itu mari bersama? bersinergi membangun bangsa ini," harap Agus.

Danrem 032/Wirabraja juga mengingatkan masalah narkoba. Sekarang semua lini sudah dirasuki narkoba. Berbagai cara dan taktik yang dilancarkan untuk membunuh generasi muda dengan narkoba. Ada acara yang dibuat agar generasi muda terpengaruh dengan narkoba,? mengaitkannya dengan intelegensi seseorang.

Apakah itu dengan mengkonsumsi? bisa meningkatkan daya ingat atau meningkatkan kepintaran. Ini sudah sangat memprihatikan sekali.

Ketua GP Ansor Sumbar Rahmat mengakui bahwa Ansor memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan akan terus tetap berjuang seperti yang diharapkan Danrem 032 tersebut. Untuk itu, Ansor? berkerja sama dengan TNI terus berjuang memberantas narkoba. "Ansor memiliki semboyan Ke-NU-an, dan kebangsaan. Semboyan ini sangat menguatkan bahwa Ansor tidak ada toleransi dengan gerakan yang akan merongrong bangsa ini.”

Audiensi? dipimpin Ketua GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman. Ia hadir bersama Sekretaris Arianto, Wakil Ketua Agustian Piliang, Bendahara Almudasir, Wakil Sekretaris Johari Jamal, dan Ketua GP Ansor Padang Tan Gusli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nahdlatul, Nusantara, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Pekalongan, Belajar Muhammadiyah. Rajaban adalah istilah lain peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hampir setiap daerah memiliki tradisi yang mungkin berbeda istilah atau cara perayaannya.

Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Namun sejatinya semua memiliki esensi yang sama, yakni sebuah pengingat peristiwa agung, tatkala Nabi saw melakukan perjalanan dari Makah ke Palestina (isra’), kemudian naik (mi’raj) hingga ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Rabb-nya.

Tak terkecuali kegiatan Rajaban yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Kranji Kab. Pekalongan, Kamis kemarin (23/5). Rajaban menjadi sebuah momentum acara bersama mulai dari remaja, ibu-ibu hingga para sesepuh kampung turut menyemarakkan acara tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Semarak acara sebetulnya sudah tampak sejak hari-hari sebelumnya, dimana para remaja yang tergabung dalam IPNU-IPPNU membuka bazar. Selain mereka yang berjualan aneka makanan dan minuman, para pedagang dari luar juga turut ngalap berkah dari acara tersebut. Bermacam-macam pedagang tumpah-ruah di dekat kompleks Masjid Jami’ Kranji.

Belajar Muhammadiyah

Rabu (22/5), para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari Madrasah Diniyah Nurul Anam berbondong-bondong datang ke kompleks makam. Di sana mereka mengadakan yasinan dan tahlilan sampai menjelang Maghrib. Malam harinya, diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Quran 30 juz bil ghaib.

Puncak acara peringatan Rajaban di Kampung Kranji, yakni acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Mbah Nurul Anam serta para Sesepuh Kampung Kranji diselenggarakan Kamis (23/5) lalu di kompleks pemakaman Kampung Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah, Mustofa, menuturkan dirinya bersama rombongan dari Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang selalu menghadiri Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya.

”Kehadiran kami dalam acara tersebut diantaranya adalah ngalap berkah. Selain itu juga agar dapat meneladani ulama Nurul Anam semasa hidupnya,” ujar warga Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan H. Subhan dari Cirebon Jawa Barat. Meski bersama rombongan kecil, pihaknya terus mengikuti acara Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya. “Selain sebagai pencerahan, kami juga ingin ngalap berkah,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Amalan, Pendidikan, Kajian Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang istemewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan mulai melakukan pendataan anggota NU di negara tersebut. Bagi setiap warga yang mendaftar, PCINU Korsel akan mengeluarkan kartu tanda anggota NU (Kartanu).

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Sekretaris Jendral PCINU Korsel Ali Fahmi mengatakan, program pendataan ini bertujuan untuk mengenali serta mengetahui potensi selain problematika keberadaan anggota yang mencintai NU baik amaliah maupun perjuangannya.?

“Kami juga berencana menyentuh, bersilaturahmi kepada semua warga NU Korsel yang kemudian kita keluarkan Kartanu untuk mereka,” katanya melalui rilis di akun facebook Grup Aswaja NU Korea, Ahad (9/2).

Belajar Muhammadiyah

Program pendataan anggota NU ini ditargetkan mencapai 500 orang. Bila mencapai target, PCINU akan menggandeng partner yang besar untuk pendanaan dawah serta pemberian kemudahan jemaah.

Belajar Muhammadiyah

“Ke depan, kami merencanakan meluncurkan Kartanu yg terintegrasi dengan T-Money atau Debit Card suatu Bank,” terang Ali Fahmi.

Program kartanu sudah diluncurkan PCINU Korsel dalam Silaturahmi Akbar 2014 di Anseong yang menghadirkan KH ? Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Emha Ainun Najib di Milad Al-Hidayah, Gimhae.

Bagi yang ingin mendaftar bisa mengisi formulir melalui google Docs bisa dikirim ke email ali fahmi@gmail.com atau fanpage facebook PCINU Korea selatan, terang Ali Fahmi.

Dalam rilis itu, PCINU Korsel mengajak warga muslim bersama-sama mendukung dakwah Islam dengan menjaga toleransi, kejujuran, dan bersahabat. Prinsip dakwah Islam untuk semua golongan maupun individu sebagai rahmatan lil alamin.

“Dawah ala kita Islam-nya Indonesia dari NU yang mewarisi warisan dawah ulama-ulama arif bijaksana salafus shalih,”pungkasnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Pendidikan, PonPes Belajar Muhammadiyah

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

Banyumas,? Belajar Muhammadiyah?

Sejak diluncurkan 30 November 2016 dan mendapat injin oprasional dari Kemenristektdikti No.494/KPT/I/2016. Tahun ini, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Bagi calon mahasiswa dengan latar belakang belakang kesulitan ekonomi akan mendapat keringanan.

Dilansir dari situs resmi UNU Purwokerto, Senin (24/7) Ketua Tim Pendiri UNU Purwokerto, Prof Dr Ir. Akhmad Sodiq, mengemukakan, pihaknya memberikan kemudahan bagi mahasiswa kurang mampu berupa bebas biaya registrasi dan pembangunan, biaya pendidikan SPP disesuaikan kemampuan, disediakan beasiswa dan pengurangan atau pembebasan SPP. Serta mengupayakan asrama atau pondokan dengan biaya terjangkau

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

"Calon mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi untuk melanjutkan kuliah, akan kami bantu seminimal mungkin untuk SPP. Untuk biaya hidup makan dan pondokan sekitar Rp.300.000 per bulan," katanya.?

Akhmad Sodiq yang juga seorang dekan Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu menambahkan, tenaga pengajar yang dimiliki UNU Purwokerto merupakan akademisi lulusan luar dan dalam negeri yang telah memiliki pengalaman di sejumlah universitas, termasuk salah satunya Unsoed Purwokerto.

"Ada 40 tenaga pengajar berkualitas, 16 diantaranya bergelar profesor, dan sisanya sebagian besar lulusan S-3," lanjutnya.?

Program studi yang dibuka untuk eksakta yakni agroteknologi, teknologi pangan, teknik pertanian dan biosistem, peternakan, ilmu perikanan, biologi dan matematika. Sedang untuk program studi sosial humaniora terdiri ? manajemen, akutansi, administrasi publik, hukum, hukum syariah, dan pendidikan bahasa Inggris.

Belajar Muhammadiyah

Untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa langsung datang ke kampus I UNU Purwokerto Jln. Sultan Agung 42 Karangklesem Purwokerto, atau selatan atau secara online melalui website www.unupurwokerto.ac.id. dan bisa juga juga menghubungi nomor 081332755248 (HP), ? 081225651308 (WA) dan 081210084666 (HP/WA).

Akhmad Sodiq menambahkan, visi yang dicanangkan UNU Purwokerto adalah menjadi universitas yang unggul dalam menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) dan pengembangan IPTEKS berdasarkan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal dan berwawasan global.?

Sedang misinya, menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan sumberdaya manusia bermoral yang memiliki nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, kompetensi akademik berwawasan global, kemampuan kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan memecahkan masalah untuk pembangunan masyarakat Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Budaya, Pendidikan, Aswaja Belajar Muhammadiyah

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Selasa (27/11), sejak pukul 18.00 WIB petang, Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai didatangi beberapa anak muda anggota IPNU dan IPPNU. Mereka adalah delegasi yang bersiap berangkat ke Palembang guna mengikuti Kongres IPNU/IPPNU 2012.

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Yogyakarta Lepas Delegasi ke Palembang

Pimpinan delegasi, Nur Kholis dari Pimpinan Wilayah IPNU DIY menyebutkan, kedatangan delegasi tersebut adalah untuk silaturahim serta meminta doa dan restu dari PWNU. 

Hal senada juga disuarakan oleh Sulasmi, Ketua PW IPPNU DIY. Ia menyatakan bahwa delegasi PW IPNU dan PW IPPNU DIY membutuhkan doa dan restu dari PWNU dalam menyemangati upaya mereka dalam mensukseskan Kongres IPNU/IPPNU di Palembang. Selain doa dan restu, delegasi juga membutuhkan arahan yang kelak akan menjadi bekal selama mengikuti kongres.

Belajar Muhammadiyah

Sekitar pukul 20.30 WIB delegasi ini pun disambut oleh KH Jadul Maula (Wakil Ketua PWNU DIY), Mukhtar Salim (Sekretaris PWNU DIY) dan Kholis Asy’ari (Wakil Sekretaris PWNU DIY). 

Belajar Muhammadiyah

Dalam acara pelepasan tersebut Jadul Maula, mewakili Rais Suriyah KH Asyhari Abta yang berhalangan hadir, menyampaikan betapa pentingnya peran IPNU/IPPNU di masa sekarang ini dalam mewarnai bangsa dengan menjadi generasi muda yang tawadzun, tawassuth dan i’tidal sebagaimana prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh ajaran ahlussunnah wal jama’ah ala Nahdltul Ulama. 

Jadul mengatakan, tidak sedikit generasi di pelosok daerah yang dihadapkan pada dua kutub ekstrim, yaitu radikalisme agama atau kebebasan yang kebablasan. 

“Di beberapa tempat, tidak sedikit generasi muda saat ini yang diajarkan untuk meyakini pemahaman salah yang menghalalkan terorisme sebagai media perjuangan. Itu satu sisi ekstrim yang saya maksud. Di sisi ekstrim yang lain, anak-anak muda kita juga banyak yang terjebak pada perilaku-perilaku tidak bertanggungjawab yang bertentangan dengan hukum semisal mengkonsumsi narkoba, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang berani merampok demi memuaskan keinginannya tersebut,” katanya.

Jadul juga mengungkapkan kebanggaannya kepada IPNU dan IPPNU yang tidak hanya mampu sekadar survive, namun juga terus berkembang menjadi kader-kader NU yang toleran, moderat, dan istiqomah. Ia pun mengakhiri sambutannya dengan harapan dan doa.

“Semoga rekan dan rekanita dari Yogyakarta bisa mengikuti dinamika kongres di Palembang nanti dan mampu memperjuangkan kepentingan pelajar Nahdliyyin di manapun sesuai dengan tema kongres, Pendidikan untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa. Selamat jalan rekan dan rekanita IPNU dan IPPNU DIY. Pergi dan pulang tak kurang sesuatu pun apa. Semoga senantiasa dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT,” tambahnya. 

Selanjutnya, dengan menggunakan satu bis dan empat mobil, delegasi IPNU dan IPPNU DIY pun meluncur ke Palembang sekitar pukul 21.30 WIB. Diperkirakan perjalanan mereka ke Palembang akan memakan waktu 36 jam. Di dalam rombongan pun ikut serta Muhammad Nahdy, salah satu kandidat ketua umum IPNU yang akan bersaing di Kongres IPNU-IPPNU di Asrama Haji Palembang tersebut. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yusuf Anas

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Hadits, Ulama Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) meresmikan Aswaja Center di Gedung PBNU, lantai 8, Rabu (1/3). Mereka dalam kesempatan ini menyelenggarakan bedah buku Khazanah Aswaja.

Bedah buku Khazanah Aswaja itu diisi oleh tiga pemateri Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur, KH Abdurrahman Navis (PWNU Jawa Timur), dan H Faris Khoirul Anam.

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

H Hanief menyampaikan posisi Aswaja yang sangat fundamental dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, wacana Islam Nusantara, Islam Rahmatan Lil’alamin itu harus kembali rujukannya ke Aswaja NU. Semuanya harus kembali rujukannya ke Aswaja NU.

Belajar Muhammadiyah

“Roh NU ada karena ada Aswaja. NU berdiri karena Aswaja,” katanya di depan hadirin.

Ia melanjutkan, orang NU jangan hanya melihat ke belakang, karena nanti ibarat masuk museum. Orang NU itu harus progresif.

Ia juga menambahkan bahwa teologi kemajuan itu bukan hanya milik Muhammadiyah. “Kita di NU itu, di AD/ART tujuannya adalah membangun kemajuan bangsa dan negara. Itu harus diwujudkan,” tegasnya.

Tapi diwujudkan bukan dengan pragmatis, yaitu tanpa konsep dan tanpa nilai. Tapi harus ada pijakan nilai aswaja sehingga orang progres itu tetap Aswaja, tidak sekuler juga tidak liberal. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Pendidikan, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli

Depok, Belajar Muhammadiyah

Masjid Al Hikam II di Komplek Pondok Pesantren Al Hikam II pimpinan KH Hasyim Muzadi akan diresmikan pada Jum’at, 17 Juli 2009 nanti. Komplek pesantren ini  beralamat di kelurahan Kukusan, kecamatan Beji, kota Depok, di samping gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).



Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli

Peresmian masjid dirangkai dengan peresmian gedung poliklinik dan perpustakaan yang merupakan bagian dari bangunan masjid. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh dijadwalkan akan memberikan taushiyah dalam acara peresmian ini.

Acara lainnya adalah peletakan batu pertama pembangunan asrama pesantren mahasiswa Al Hikam II, perumahan guru dan dosen serta gedung Kulliyatul Qur’an yang terletak di depan kediaman KH Hasyim Muzadi.

Belajar Muhammadiyah

Menurut KH Hasyim Muzadi, proses pembangunan pesantren dan masjid ini sudah berlangsung sejak 5 tahun yang lalu. Program ini merupakan kelanjutan dari Pondok Pesantren Al Hikam I yang berada di Malang Jawa Timur.

”Saya ingin menunjukkan bahwa pesantren itu ya seperti ini lho,” katanya di sela-sela kesibukan menjelang peresmian masjid, Senin (6/7) lalu. Ia juga mengajak Belajar Muhammadiyah melihat satu-persatu ruang dan fasilitas masjid dan pesantren yang sedang dipersiapkan dari aula, penginapan untuk para tamu khusus, hingga kamar mandi dan wudlu.

Belajar Muhammadiyah

Pantauan Belajar Muhammadiyah, beberapa orang santri sedang menata beberapa kitab kuning di ruang perpustakaan. Sudah ada ada 6.700 judul kitab. Perpustakaan dilengkapi dengan berbagai perangkat elektronik untuk memudahkan santri dan para pengunjung mencari referensi yang dibutuhkan.

Pesantren Al Hikam 2 dua juga menyipkan ruang khusus untuk perpustakaan digital dan perpustakan yang menyediakan berbagai referensi pengetahuan umum.

Selain ruang perpustakaan, juga terdapat ruang khusus yang dipersiapkan untuk pengembangan teknologi informasi (IT). Di samping ruang yang menyediakan fasilitas internet terdapat ruang pengajian yang dilengkapi fasilitas telekonferensi.

”Jadi nanti kalau ngaji kita gak perlu pontang-panting ke mana-mana. Ya hemat biaya ya hemat tenaga. Saya ini kan termasuk generasi yang gaptek (gagap teknologi), tapi generasi anak-akak kita kan sudah berbeda,” kata Hasyim.

Ruang poliklinik terletak di lantai I, di samping ruang pengembangan IT. Berbagai perlengkapan dan tenaga medis sudah disipkan. ”Dokternya sudah ada dan alat-alatnya sudah ada, jadi sudah siap beroprasi,” katanya.

Ruang utama masjid di lantai dua sungguh mengagumkan. Berbagai perlengkapan dan aksesoris pintu, bedug, hingga mimbar kelihatan unik dan serba mahal. Dari ruang utama kubah masjid terlihat tinggi dan megah. ”Kalau untuk masjid kan harus bagus,” kata Hasyim bangga. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Pendidikan, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Menteri Agama RI H Lukman Saifuddin menyatakan permohonan maaf atas lolos cetaknya Buku Guru SKI MTs Kelas VII yang mengandung isu SARA. H Lukman mengeluarkan pernyataan tanggung jawabnya. Di hadapan publik, ia menginstruksikan segenap jajaran Kemenag di seluruh tanah air untuk menarik kembali buku itu dari peredaran.

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas keteledoran tersebut,” demikian Menteri Agama melalui akun Twitternya menanggapi akun Twitter Aswaja TV yang melansir berita? Belajar Muhammadiyah bertajuk PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah, Rabu (17/9) petang.

Meskipun penulisan buku yang melukai perasaan umat beragama itu ditangani oleh tim dari Ditjen Pendis, H Lukman Hakim Saifuddin mengaku dirinya lalai. Secara terbuka ia mengatakan, “Saya yang bertanggung jawab. Buku tersebut telah ditarik.”

Belajar Muhammadiyah

Demikian pernyataan H Lukman Saifuddin pada akun Twitternya dengan menyebutkan akun Twitter Rais ‘Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Belajar Muhammadiyah, dan Twitter Aswaja TV. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Kyai, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock