Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Warga NU Ajukan Keberatan Izin Pabrik Semen ke Gubernur Jateng

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Warga NU Kabupaten Rembang mengajukan keberatan atas izin pendirian PT Semen Indonesia (SI) di Kawasan Gunung Kendeng, Rembang, Jawa Tengah (Jateng). Keberatan itu mereka lakukan dengan langsung mendatangi kantor Gubernur Jateng.

“Hari ini jumat 20 juni 2014 perwakilan warga rembang yg saat ini sedang berjuang menolak pendirian pabrik semen akan melayangkan secara langsung SURAT KEBERATAN atas penerbitan izin lingkungan ke gubernur jateng,” kata salah seorang warga, Ming Ming Lukiarti melalui telpon seluler, Jumat (20/6).

Warga NU Ajukan Keberatan Izin Pabrik Semen ke Gubernur Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Ajukan Keberatan Izin Pabrik Semen ke Gubernur Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Ajukan Keberatan Izin Pabrik Semen ke Gubernur Jateng

Menurut Ming Ming, saat ini warga masih dalam perjalanan menuju kantor Gubernur Jawa Tengah untuk menyampaikan surat keberatan itu.

Belajar Muhammadiyah

Sebelumnya, pada Senin (16/6/14), menurut siaran pers Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, ratusan warga Rembang melakukan aksi keprihatinan untuk menuntut penghentian rencana pembangunan pabrik semen. Dalam aksi tersebut, polisi dan tentara bertindak brutal dengan memukuli ibu-ibu dan para petani. Para polisi dan tentara berada di lokasi untuk mengawal peletakan batu pertama pendirian pabrik semen.

Siaran pers itu juga menyampaikan, polisi menyingkirkan peserta aksi dengan melempar beberapa perempuan ke semak-semak. Dua orang perempuan pingsan. Polisi juga melakukan sweeping terhadap wartawan dan menangkap beberapa orang tim dokumentasi aksi. Polisi juga mengobrak-abrik tenda yang didirikan warga.

Belajar Muhammadiyah

Atas tindakan aparat tersebut, sejumlah elemen kaum muda Nahdlatul Ulama mengecam aksi kekerasan aparat kepolisian dan tentara terhadap warga Nahdliyin di Kabupaten Rembang. Tindakan brutal terhadap ibu-ibu dan para petani di sekitar Gunung Kendeng itu berlangsung pada Senin, 16 Juni 2014.

“Tindakan aparat itu sudah brutal, tidak pro-rakyat, tidak pro-petani dan anti-Pancasila. Pelaku kekerasan harus diusut tuntas,” ujar Amsar A Dulmanan, Koordinator Nasional Forum Komunikasi Generasi Muda NU (FKGMNU), salah satu elemen muda NU dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (17/6).

Kritik tajam juga disampaikan Forum Alumni PMII Universitas Indonesia (Forluni ). Forluni menilai tindakan aparat keamanan itu benar-benar menyakiti hati kaum Nahdliyin yang bakal kehilangan mata pencaharian mereka. “Warga Nahdliyin selalu dijadikan objek pembangunan, bukan subjek pembangunan. Mereka sudah miskin, tapi akan dipermiskin lagi,” kecam Alfanny, Ketua Forluni.

Alasan Penolakan

Terkait keberatan warga atas pendirian pabrik terssebut, Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam mengemukakan bukti-bukti lapangan mutakhir seperti ditemukannya ratusan mata air, gua, dan sungai bawah tanah yang masih mengalir dan mempunyai debit yang bagus, serta fosil-fosil yang menempel pada dinding gua, semakin menguatkan keyakinan bahwa kawasan karst Watuputih harus dilindungi.

Proses produksi semen berpotensi merusak sumber daya air yang berperan sangat penting bagi kehidupan warga sekitar dan juga warga Rembang dan Lasem yang menggunakan jasa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengambil air dari gunung Watuputih.

Kebutuhan lahan yang sangat luas untuk perusahaan-perusahaan semen akan berdampak pada hilangnya lahan pertanian, sehingga petani dan buruh tani akan kehilangan lapangan pekerjaan. Selain itu, hal ini juga akan menurunkan produktivitas sektor pertanian pada wilayah sekitar, karena dampak buruk yang akan timbul, misalnya, matinya sumber mata air, polusi debu, dan terganggunya keseimbangan ekosistem alamiah. Pada ujungnya, semua hal ini akan melemahkan ketahanan pangan daerah dan nasional.

Ketidaktransparanan dan ketidakadilan yang terjadi di lapangan saat ini telah mengakibatkan terjadinya perampasan hak rakyat atas informasi terkait rencana pembangunan pabrik semen. Ketidaktransparanan dan ketidakadilan ini muncul dalam proses penyusunan Amdal, kebohongan publik dengan menggeneralisir bahwa seluruh masyarakat setuju dengan pembangunan pabrik semen, dan tidak adanya partisipasi masyarakat yang menolak rencana pembangunan ini.

Penggunaan daerah ini sebagai area penambangan batuan kapur untuk bahan baku pabrik semen melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 pasal 63 yang menetapkan area ini sebagai kawasan lindung imbuhan air dan Perda RTRW Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 pasal 19 yang menetapkan area ini sebagai kawasan lindung geologi.

Adanya indikasi gratifikasi dalam proses keluarnya izin yang begitu mudah meskipun ada pelanggaran yang nyata. Serta melanggar prinsip kaidah fikih "darul mafasid muqoddamun ala jalbil mashalih", bahwa kerusakan lingkungan akibat pembangunan pabrik semen lebih besar daripada kemanfaatannya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pada hari lahir (harlah) NU ke-89, akun Twitter Belajar Muhammadiyah (@NU_Online) dibanjiri ucapan selamat dari berbagai kalangan yang disertai beragam ungkapan. Kemudian Belajar Muhammadiyah menginisiasi tagar #Harlah89NU. Tagar tersebut sempat jadi trending topic Indonesia.

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Merk kaos 1926 kemudian mengapresiasi netizen yang ngetwitt #Harlah89NU dengan tambahan peran #AnakMudaNU juga mention @NU_Online. Apresiasi ditunjukkan 1926 dengan menghadiahkan dua kaos bagi yang ngetwitt terbaik.

Dua pemenang telah diumumkan hari ini Selasa (3/2) di Twitter Belajar Muhammadiyah pukul 19.00. Dua pemenang  yaitu akun @lailiynurul dan @Ysrnrfq.

Menurut @lailiynurul, anak muda NU hari ini tak hanya bergelut di bidang dakwah dan aktivis, tapi banyak juga yang berkarir dalam bidang hubungan internasional, kedokteran, teknik. Itu yang dia saksikan di Universitas Brawijaya.

Belajar Muhammadiyah

Ia juga menilai anak muda NU tidak mendikotomikan ilmu umum dan agama. Lebih jauh ia mengapresiasi anak muda NU yang lebih arif dalam hal keberagaman.

Sementara @Ysrnrfq berpendapat, organisasi pemuda NU seperti IPNU-IPPNU, PMII, KMNU juga harus bersinergi untuk membangun negeri. Anak muda NU harus bersaing dalam era globalisasi saat ini. (Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Temanggung, Belajar Muhammadiyah 

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Temanggung Ahmad Liwaul Khakim mengatakan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks, mengharuskan semua kader PMII melek literasi digital.

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Hal itu ia ungkapkan saat MAPABA PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung, kemarin. Menurutnya, sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya siap memasuki segala medan, maka MAPABA menemui relevansi yang kuat dalam konteks ini.

"Tantangan kita sekarang tidak hanya paham dan aliran radikal yang digerakkan dalam bentuk nyata. Namun semua itu sudah bergeser di internet. Banyak grup, akun dan juga media-media daring mengatasnamakan NU, banom NU dan juga Lembaga di bawah NU. Maka kalau tidak melek media, kita akan tergerus pada penjajah di negeri yang mengklaim dirinya golongan Ahlussunnah wal-Jama’ah," tegas dia pada kegiatan yang berlangsung, Rabu (4/10).

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap, kader PMII di wilayah Temanggung melek media dengan cara penguatan literasi. Bisa melalui training, diklat, atau belajar otodidak dan bersinergi dengan LTN NU yang fokus di masalah media.

Sementara itu, Ketua Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung M Fuad Latif menegaskan bahwa dalam pencapaian target ini Pengurus Komisariat PMII Trisula sudah menyiapkan beberapa agenda kerja yang tentunya mengarah pada beberapa aspek pengkaderan. 

Pendidikan jurnalistik menjadi salah satu agenda terdekat. Semua mafhum jika penguasaan media merupakan bagian strategis dalam menyebarkan virus perubahan.

"Kami ingin menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan dalam forum pra-MAPABA dan juga masukan dari beberapa mahasiswa baru yang sudah mulai melek terhadap pentingnya penguasaan media, baik media internet maupun media cetak," beber dia.

Selain itu budaya penguatan wacana juga menjadi keharusan untuk segera dilakukan. Forum-forum diskusi kecil perlu di tingkatkan intensitasnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu masih menjadi kebutuhan pokok dalam menghidupkan nuansa akademis di kampus. 

Belajar Muhammadiyah

"Tak ada kamus dalam diri mahasiswa STAINU Temanggung untuk menyatakan tidak dalam kerja-kerja komunal yang membutuhkan interaksi sosial antar manusia. Mahasiswa harus siap menyambut tongkat estafet pembangunan yang sewaktu-waktu diberikan generasi tua", lanjut mahasiswa Prodi PAI Semester VII ini. 

Selanjutnya, dia berharap bahwa agenda besar ini mendapat sambutan yang berarti dari semua unsur yang terkait dengan baik. Apalagi jika melihat saat ini STAINU Temanggung mempunyai dosen-dosen baru yang masih energik dan mempunyai idealisme yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi di Kabupaten Temanggung. (Ibda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, AlaSantri, Kyai Belajar Muhammadiyah

Qulhu Ae, Lek

KH Anwar Zahid dalam satu ceramahnya bercerita, dirinya pada suatu saat mengisi pengajian di suatu kampung dan diminta untuk menjadi imam shalat Tarawih. 

Karena masih ada sosok kiai sepuh ia pun menghormati beliau untuk mengimami. Shalat sunnah dimulai. 

Qulhu Ae, Lek (Sumber Gambar : Nu Online)
Qulhu Ae, Lek (Sumber Gambar : Nu Online)

Qulhu Ae, Lek

Saat membaca surat al-Fatihah dengan fasih dan lancar. Bakda Fatihah imam melafalkan, “wama….” Kiai asal Bojonegoro ini hendak membantu terusan lafal dari imam tetapi ia bingung lanjutan "wama" yang kiai sepuh itu maksud. 

Imam pun mengulang kata "wama" berkali-kali, tapi juga tidak ada lanjutan-lanjutannya. Saking kesalnya makmum dari kalangan anak-anak dari shaf paling belakang bersoloroh,”Qulhu ae Lek!”. Maksudany, Qulhu saja,Pak. (Syaiful Mustaqim)   

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, PonPes Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah - Di Jawa Tengah, aksi penolakan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 23 Tahun 2017 tentang kebijakan Full Day School (FDS) tidak hanya disuarakan masyarakat di Semarang. Di Sukoharjo, puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi damai di bundaran Kartasura, Jum’at (20/7).

Dalam aksi damai ini puluhan mahasiswa membawa bendera dan atribut bertuliskan pernyataan penolakan. Aksi ini diawali dengan melakukan berjalan dari Kampus IAIN Surakarta menuju bundaran Kartasura.

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pukul Rata, PMII Sukoharjo Minta Pemerintah Kaji Ulang Sekolah 5 Hari

Ketua PMII Sukoharjo Helmy Zulfikar Zaki, yang menjadi salah satu orator dalam aksi ini menilai peraturan FDS membawa dampak buruk bagi sekolah pesantren dan agama yang sudah mengakar di masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

“Kalau peraturan ini dilaksanakan, beberapa pondok dan sekolah sekolah agama pasti akan mati. Karena dalam peraturan tersebut menerapkan jam sekolah hampir 8 jam. Dan juga kita memprihatinkan kondisi siswa dan murid yang harus terkuras energinya untuk menerima pelajaran,” tegas Helmy.

Belajar Muhammadiyah

Ditambahkan dia, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan tersebut. “Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan tersebut, sebab setiap daerah dimungkinkan berbeda budaya dan kondisi sehingga semestinya kebijakan ini tidak bisa disamaratakan untuk semua daerah,” ujarnya.

Selain orasi, rangkaian dilanjutkan dengan membentuk lingkaran serta bershalawat bersama. Hal ini dilakukan sebagai simbol bahwa kebijakan itu sangat merugikan masyarakat pada umumnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Ubudiyah, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

Banyumas,? Belajar Muhammadiyah?

Sejak diluncurkan 30 November 2016 dan mendapat injin oprasional dari Kemenristektdikti No.494/KPT/I/2016. Tahun ini, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Bagi calon mahasiswa dengan latar belakang belakang kesulitan ekonomi akan mendapat keringanan.

Dilansir dari situs resmi UNU Purwokerto, Senin (24/7) Ketua Tim Pendiri UNU Purwokerto, Prof Dr Ir. Akhmad Sodiq, mengemukakan, pihaknya memberikan kemudahan bagi mahasiswa kurang mampu berupa bebas biaya registrasi dan pembangunan, biaya pendidikan SPP disesuaikan kemampuan, disediakan beasiswa dan pengurangan atau pembebasan SPP. Serta mengupayakan asrama atau pondokan dengan biaya terjangkau

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

"Calon mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi untuk melanjutkan kuliah, akan kami bantu seminimal mungkin untuk SPP. Untuk biaya hidup makan dan pondokan sekitar Rp.300.000 per bulan," katanya.?

Akhmad Sodiq yang juga seorang dekan Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu menambahkan, tenaga pengajar yang dimiliki UNU Purwokerto merupakan akademisi lulusan luar dan dalam negeri yang telah memiliki pengalaman di sejumlah universitas, termasuk salah satunya Unsoed Purwokerto.

"Ada 40 tenaga pengajar berkualitas, 16 diantaranya bergelar profesor, dan sisanya sebagian besar lulusan S-3," lanjutnya.?

Program studi yang dibuka untuk eksakta yakni agroteknologi, teknologi pangan, teknik pertanian dan biosistem, peternakan, ilmu perikanan, biologi dan matematika. Sedang untuk program studi sosial humaniora terdiri ? manajemen, akutansi, administrasi publik, hukum, hukum syariah, dan pendidikan bahasa Inggris.

Belajar Muhammadiyah

Untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa langsung datang ke kampus I UNU Purwokerto Jln. Sultan Agung 42 Karangklesem Purwokerto, atau selatan atau secara online melalui website www.unupurwokerto.ac.id. dan bisa juga juga menghubungi nomor 081332755248 (HP), ? 081225651308 (WA) dan 081210084666 (HP/WA).

Akhmad Sodiq menambahkan, visi yang dicanangkan UNU Purwokerto adalah menjadi universitas yang unggul dalam menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) dan pengembangan IPTEKS berdasarkan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal dan berwawasan global.?

Sedang misinya, menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan sumberdaya manusia bermoral yang memiliki nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, kompetensi akademik berwawasan global, kemampuan kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan memecahkan masalah untuk pembangunan masyarakat Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Budaya, Pendidikan, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Semangat pencegahan pornografi dan pornoaksi digaungkan oleh Kementerian Agama. Hebatnya, hal ini justru diinisiasi oleh kartini Kementerian Agama melalui gerakan Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (SIAPP)

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saya Ini Anti Pornografi dan Pornoaksi

Gerakan SIAPP dideklarasikan oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin di hadapan 160 kartini Indonesia yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama. Deklarasi ditandai dengan pembacaan komitmen anti pornografi dan pornoaksi di hadapan Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan Pornografi dan Pornoaksi (GTP3) yang juga Menteri Agama, di Jakarta, Jumat (22/04) pagi seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

“Saya harap dari kegiatan ini kita semua lebih mengintesifkan perang melawan bahaya pornografi dan pornoaksi. Lebih dari itu, kita juga harus menyamakan diri untuk bersepakat, program ke depan seperti apa yang akan dilakukan,” kata Menag.

Deklarasi ini dilakukan bersamaan kegiatan Orientasi Pencegahan Pornografi dan Pornoaksi. Hadir dalam kesempatan ini, pejabat Eselon I, II, para Rektor, Kakanwil se Indonesia, serta Dharmawanita pusat dan daerah. Di hadapan mereka, Menag menyampaikan perlunya Kemenag melakukan program terobosan, semisal gerakan sosial untuk meminimalisir bahaya pornografi dan pornoaksi.

Belajar Muhammadiyah

Di tengah era globalisasi, Menag Lukman menyoroti pornografi dan pornoaksi di dunia maya. Ironisnya, kandungan pornografi dan pornoaksi terkadang dishare melalui media sosial. Menag berharap Kementerian Agama mempunyai terobosan baru untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami bahaya pornografi dan pornoaksi.?

“Ditengah arus globalisasi yang ada, jangan sampai keindonesiaan kita tercerabut olehnya,” tegas Menag.

Belajar Muhammadiyah

“Pornoaksi harus kita sikapi, agar generasi muda tidak menyaksikan dan mendapatkan hal-hal yang buruk ditengah masyarakat,” tambahnya.

Menag menyambut baik inisiatif tim DWP Kemenag, pusat dan daerah, untuk mendeklarasikan SIAPP. Menag berharap kampanye SIAPP diikuti dengan gerakan dan kontribusi nyata dalam menanggulangi bahaya pornografi dan pornoaksi.

Menag berpesan, semua ASN Kemenag dapat melakukan tindakan preventif, bagaimana agar pencegahan lebih diutamakan. ? Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

Jepara, Belajar Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Jepara, Hidayatun Nikmah, menyampaikan bahwa dalam masa kepengurusannya, bersama Ikatan Pelajar NU (IPNU) pihaknya akan menerbitkan media berupa buletin. Hal ini disampaikannya usai pelantikan pada Ahad (14/9), di Pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

“Sebenarnya keinginan untuk hal ini sudah ada sejak kepengurusan periode kemarin. Hanya saja, kemarin terkendala karena banyak pengurusnya yang sibuk bekerja. Nah, semoga tahun ini rencana penerbitan buletin bisa terlaksana,” paparnya kepada Belajar Muhammadiyah.

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

Menurut Nikmah yang pada kepengurusan periode kemarin juga masuk sebagai Wakil Sekretaris ini, Jepara telah memiliki kader-kader muda NU yang potensial dibidang dunia jurnalistik. Karena itu, ia semakin optimis programnya akan terwujud.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Lisnatul Faundiyah, pengurus Divisi Jurnalistik, telah siap dengan agenda tersebut. Ia sendiri meski belum memahami betul dunia jurnalistik, namun mengaku tertarik dengan tulis-menulis. Ia pun mengatakan bahwa rencananya, untuk enam bulan ke depan akan diadakan pelatihan dan bimbingan sampai matang.

Belajar Muhammadiyah

“Semester pertama, kami akan mengadakan pelatihan dan bimbingan mengenai dunia jurnalistik. Lalu setelah itu baru penerbitan buletin.Belum ada susunan tim redaksi memang, tapi rencana nanti satu bulan sekali kami bakal menerbitkan buletin,” papar Lisna yang dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Kecamatan Mlonggo.

Sebenarnya, PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara pada periode sebelumnya sudah pernah memiliki produk buletin. Namun beberapa tahun terakhir, media tersebut vakum. Kini, Nikmah, Lisna, serta rekanan pengurus lainnya percaya, bahwa mereka mampu menghidupkannya kembali.

Pelantikan hari itu di susul dengan sarasehan bertajuk “Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Tetap Tegaknya NKRI”, dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja. Acara pelantikan dan sarasehan diikuti oleh segenap Badan Otonom (Banom) NU, Pejabat Pemerintahan, serta pengurus IPNU-IPPNU di pelbagai tingkatan sekabupaten Jepara. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Fragmen, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Mayoritas ulama menyepakati bahwa nilai shalat jama’ah lebih utama dibanding shalat sendirian. Kesimpulan ini diperoleh dari pemahaman terhadap banyak dalil yang terdapat dalam kitab-kitab hadits. Dalam sebuah hadis dikatakan,“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat,” (HR: Bukhari).

Dilihat dari kebiasaan yang berkembang di masyarakat, shalat jama’ah ditunaikan langsung di awal waktu terutama masyarakat perkotaan. Tetapi sebagian masyarakat pedesaan untuk shalat-shalat tertentu seperti zhuhur dan ashar dikerjakan di pertengahan waktu secara berjamaah. Pasalnya, mereka masih berada di sawah atau kebun saat waktu masuk shalat.

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Niat jadi Imam Meski Shalat Sendiri

Model pengerjaannya juga bermacam-macam. Ada yang mengerjakan langsung secara bersama-bersama. Ada pula yang awalnya shalat sendirian kemudian diikuti oleh beberapa orang yang berniat menjadi makmumnya.

Terkait orang shalat sendiri, seseorang dianjurkan terlebih dahulu untuk berniat menjadi imam jika meyakini akan ada orang datang setelahnya. Bila berniat menjadi imam, ia akan mendapatkan pahala jama’ah sekalipun niat itu dilakukan di pertengahan shalat.

Belajar Muhammadiyah

Namun dia tidak mendapatkan pahala jika tidak berniat menjadi Imam di awal shalat atau di pertengahan. Keterangan ini dikutip dari paparan Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

Belajar Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Niat menjadi imam sembahyang berjamaah ketika takbiratul ihram terbilang sah kendati di belakangnya tiada orang satupun yang mengikutinya jika ia yakin setelah itu ada orang yang menjadi makmumnya menurut pendapat yang shahih. Ini diperbolehkan karena ia akan menjadi Imam. Tetapi jika ia tidak berniat sebagai imam, dan tidak mengetahui akan datangnya makmum, lalu datang jamaah, makmumnya tetap mendapatkan pahala, sementara imam tidak memperoleh pahala. Tetapi ia tetap dapat pahala bila ia berniat sebagai imam di pertengahan shalat.”

Kutipan ini menunjukan, alangkah baiknya bagi orang yang shalat sendiri lalu berniat menjadi imam, ketika dia yakin kalau masih ada orang di luar yang akan ikut shalat bersamanya.

Andaikan tidak berniat di awal, ia masih diberikan kesempatan untuk berniat di pertengahan shalat saat ada orang yang bermakmum kepadanya. Apabila seorang imam tidak berniat, makmum tetap mendapatkan pahala. Sementara imamnya tidak memperoleh pahala atas shalat berjamaah itu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Warta, Syariah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli

Depok, Belajar Muhammadiyah

Masjid Al Hikam II di Komplek Pondok Pesantren Al Hikam II pimpinan KH Hasyim Muzadi akan diresmikan pada Jum’at, 17 Juli 2009 nanti. Komplek pesantren ini  beralamat di kelurahan Kukusan, kecamatan Beji, kota Depok, di samping gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).



Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Al Hikam II Diresmikan 17 Juli

Peresmian masjid dirangkai dengan peresmian gedung poliklinik dan perpustakaan yang merupakan bagian dari bangunan masjid. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh dijadwalkan akan memberikan taushiyah dalam acara peresmian ini.

Acara lainnya adalah peletakan batu pertama pembangunan asrama pesantren mahasiswa Al Hikam II, perumahan guru dan dosen serta gedung Kulliyatul Qur’an yang terletak di depan kediaman KH Hasyim Muzadi.

Belajar Muhammadiyah

Menurut KH Hasyim Muzadi, proses pembangunan pesantren dan masjid ini sudah berlangsung sejak 5 tahun yang lalu. Program ini merupakan kelanjutan dari Pondok Pesantren Al Hikam I yang berada di Malang Jawa Timur.

”Saya ingin menunjukkan bahwa pesantren itu ya seperti ini lho,” katanya di sela-sela kesibukan menjelang peresmian masjid, Senin (6/7) lalu. Ia juga mengajak Belajar Muhammadiyah melihat satu-persatu ruang dan fasilitas masjid dan pesantren yang sedang dipersiapkan dari aula, penginapan untuk para tamu khusus, hingga kamar mandi dan wudlu.

Belajar Muhammadiyah

Pantauan Belajar Muhammadiyah, beberapa orang santri sedang menata beberapa kitab kuning di ruang perpustakaan. Sudah ada ada 6.700 judul kitab. Perpustakaan dilengkapi dengan berbagai perangkat elektronik untuk memudahkan santri dan para pengunjung mencari referensi yang dibutuhkan.

Pesantren Al Hikam 2 dua juga menyipkan ruang khusus untuk perpustakaan digital dan perpustakan yang menyediakan berbagai referensi pengetahuan umum.

Selain ruang perpustakaan, juga terdapat ruang khusus yang dipersiapkan untuk pengembangan teknologi informasi (IT). Di samping ruang yang menyediakan fasilitas internet terdapat ruang pengajian yang dilengkapi fasilitas telekonferensi.

”Jadi nanti kalau ngaji kita gak perlu pontang-panting ke mana-mana. Ya hemat biaya ya hemat tenaga. Saya ini kan termasuk generasi yang gaptek (gagap teknologi), tapi generasi anak-akak kita kan sudah berbeda,” kata Hasyim.

Ruang poliklinik terletak di lantai I, di samping ruang pengembangan IT. Berbagai perlengkapan dan tenaga medis sudah disipkan. ”Dokternya sudah ada dan alat-alatnya sudah ada, jadi sudah siap beroprasi,” katanya.

Ruang utama masjid di lantai dua sungguh mengagumkan. Berbagai perlengkapan dan aksesoris pintu, bedug, hingga mimbar kelihatan unik dan serba mahal. Dari ruang utama kubah masjid terlihat tinggi dan megah. ”Kalau untuk masjid kan harus bagus,” kata Hasyim bangga. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Pendidikan, Humor Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Oleh W Eka Wahyudi

Tahun 1950-an merupakan era pembentukan kelompok ? intelegensia di kalangan Islam tradisionalis. Fenomena ini merupakan imbas dari kelompok reformis-modernis yang telah menjadi bagian dari elite-politik penguasa pada saat itu. Salah satu indikasinya adalah dilegitimasinya PII dan HMI sebagai organisasi satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa Muslim pasca keputusan Kongres al-Islam pada tahun 1949 (Yudi Latif, 2013: 391 ), yang pada gilirannya menggeser peranan kalangan tradisionalis dari dinamikan organisasi nasional.

Realitas ini kemudian menimbulkan gejolak bagi para mahasiswa yang mempunyai kultur Islam tradisionalis pondok pesantren. Karena, para pemuda dari kalangan pesantren sulit mendapatkan tempat dan cenderung tidak diakomodasi aspirasi-aspirasinya di dalam organisasi. Disinyalir, hal ini juga merupakan dampak dari mencuatnya friksi yang terjadi antara NU dan Masyumi pada tahun 1950-1960 an. “perseteruan” ini belakangan mengkooptasi kalangan pelajar dan mahasiswanya.

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Sehingga, para mahasiswa yang berlatar belakang dari kalangan Islam tradisional sering mengkonsolidir potensi-potensinya di kos-kosan daerah Bumijo, Yogjakarta (kawasan sebelah barat perempatan Tugu) guna merumuskan dengan matang gerakan kaum muda NU pada selanjutnya. Desakan akan kebutuhan terhadap wadah pembinaan pelajar NU inipun, disambut dengan momentum diselenggarakannnya Konferensi LP. Ma’arif di Semarang pada bulan Februari 1954. Sehingga, gagasan progresif kaum muda NU tersebut dijadikan sebagai salah satu agenda pembahasan dalam pelaksanaan Konferensi. ? Secara ringkas, akhirnya dalam Konferensi LP Ma’arif kala itu, berhasil mengesahkan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang saat itu bertepatan pada tanggal 24 Februari 1954/ 20 Jumadil Akhir 1373 H. walhasil, tanggal inilah yang dinobatkan sebagai hari lahirnya organisasi pelajar NU.

Pada tanggal itulah merupakan periode kelahiran kelompok intelegensia kalangan Islam tradisionalis yang pada masa depan mampu memberikan khazanah pada dinamika keorganisasian di Indonesia. Gebrakan lahirnya para cendikia di kalangan NU ini menyusul semakin pesatnya para mahasiswa yang mempunyai latar belakang Islam tradisional masuk ke universitas-universitas pada tahun 1950-an. Diantaranya: Tolchah Mansoer (UGM), Ismail Makky dan Munsif Nachrowi (IAIN Yogjakarta), Mahbub Djunaidi (UI) dan beberapa kelompok kaum muda terdidik lainnya seperti Mustahal Ahmad, Sofyan Kholil dan Abdul Ghani Farida.

Belajar Muhammadiyah

Peningkatan jumlah mahasiswa tradisionalis ini, terutama juga disebabkan pasca pendirian perguruan-perguruan tinggi agama islam. Misalnya, di luar IAIN pada saat itu, berhasil didirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Solo pada tahun 1958, walaupun hanya satu fakultas, yakni syariah.?

Selanjutnya, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui muktamar LP Ma’arif, tepatnya dua bulan kemudian pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954, ? IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa Konferensi ini disebut segi lima? karena pada saat itu dihadiri oleh kalangan assabiqunal awwalun IPNU yang terdiri dari lima daerah yakni; Jombang, Yogjakarta, Solo, Semarang dan Kediri.?

Konferensi ini kemudian menghasilkan kesepakan yang menandai kerja kelompok intelegensia Islam tradisionalis, yang antara lain;1) menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi, 2) tujuan organisasi yakni turut andil dalam mengemban risalah islamiyah, 3) mendorong kualitas pendidikan agar lebih baik dan merata, serta 4) mengkonsolidir kalangan pelajar. ?

Munculnya, kelompok cendikia “jenis baru” ini pada gilirannya menandakan perkembangan perspektif oleh kaum muda tradisionalis terhadap isu-isu rasionalisme, teknologi, pendidikan modern dan kondisi sosial . Sehingga pada kurun waktu tersebut NU telah memiliki lapisan intelegensianya tersendiri.?

Namun, corak intelegensia yang dimiliki oleh kaum muda ini berbeda dengan Muhammdiyah. Jika kalangan muhamaddiyah cenderung terilhami oleh gerakan pembaharu Muhammd Abduh yang modernis, namun kalangan muda NU tetap mempertahankan sikap konservatifnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi. Sehingga, jenis tipologi intelegensia kaum muda NU yang dalam hal ini direpresentasikan oleh IPNU lebih cocok jika dikategorikan sebagai “konservatif-modernis”. Yaitu tipe pemikiran yang sudah terbuka dengan pandangan-pandangan modern, namun tetap memelihara sekaligus menjaga kearifan dan keluhuran tradisi. Sebuah karakter pemikiran yang relevan diterapkan di Indonesia.

Belajar Muhammadiyah

Selamat Harlah IPNU ke 63, Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi Pimpinan Pusat IPNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun, ulama kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus , Jawa Tengah, KH Ahmad Basyir wafat Selasa (18/3), pukul 00.10 WIB di Rumah Sakit Islam  Kudus. 

Menurut rencana, jenazah Mustasyar PCNU Kudus tersebut akan dimakamkan Selasa hari ini pukul 14.00 di pemakaman umum Dusun Kauman, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo. 

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Kharismatik Kudus KH Ahmad Basyir Wafat

Saat berita ini ditulis, ribuan pelayat sudah memenuhi kediaman almarhum di Dukuh Mbareng, Jekulo Kudus. Bahkan sejak  Selasa pagi ini, para pelayat sudah menshalati jenazah almarhum secara bergelombang di komplek pesantren Darul Falah setempat.

Belajar Muhammadiyah

Sekretaris MWCNU Kecamatan Jekulo H Zusni Anwar mengatakan, KH Ahmad Basyir merupakan sosok ulama kharismatik yang memiliki ribuan santri. Ulama yang sering disapa Mbah Basyir ini juga dikenal sebagai guru dan pemberi ijazah (mu’jiz) Dalailul Khairat.

“Banyak para santri kudus dan luar kudus yang nyantri di situ. Beliau sangat dikenal sebagai guru dan mu’jiz dalailul khoirat,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah.

Belajar Muhammadiyah

Mbah Basyir adalah sosok teladan yang dapat kita contoh. Semasa hayatnya, beliau sangat ta’dhim dan tawadhu terhadap para gurunya.

“Beliau juga sangat ramah terhadap masyarakat sekelilingnya termasuk menyambut para para tamu. Beliau tidak membeda-bedakan latar belakang setiap tamu yang datang,”ujar Zusni memberi kesan.

Kabar wafatnya mbah Basyir menjadikan duka semua kalangan. Dalam dunia maya, semua pengguna jejaring sosial menyatakan  turut berduka dan mendoakan ayahanda penasehat RMI Jateng KH Ahmad Badawi Basyir itu. (Qomarul Adib/Mahbib)

 

 

Foto: KH Ahmad Basyir (kanan) bersama Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid dalam sebuah acara (syathooriyah.wordpress.com)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Jadwal Kajian, Amalan Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Perihal keamanan, keadilan, perlindungan, kesejahteraan bagi warga Indonesia belum terwujud. Ini merupakan masalah utama bagi warga. Dalam hal ini, Indonesia masih tertinggal jauh. Angka kemajuan dalam masalah di atas terbilang rendah.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said dalam acara peluncuran perdana Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah di Jalan M Kahfi 1 nomor 22, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (28/7) malam.

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Pertanyakan Keadilan dan Kesejahteraan Warga

“Perasaan terlindungi dan sejahtera jelas masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah sekarang ini,” kata Kang Said di podium menghadapi sedikitnya 1000 orang yang hadir.

Belajar Muhammadiyah

Indonesia, sambung Kang Said, memang sudah mencapai sejumlah kemajuan dalam hal demokrasi. Kemajuan itu bisa dinilai dari kehadiran multipartai, kebebasan menulis di koran-koran, kebebasan berserikat, kebebasan kritik terhadap pelayanan publik, dan segala bentuk kebebasan.

Belajar Muhammadiyah

Namun semua capaian-capaian itu baru permukaan demokrasi. Kebebasan berpolitik dan berekonomi itu baru sebagai prestasi lahir Indonesia sebagai negara demokrasi, tambah Kang Said.

Sedangkan masalah keamanan, jaminan keadilan, dan perihal kesejahteraan warga sebagai substansi demokrasi masih jauh dari masyarakat. Warga Indonesia secara merata belum menikmati keberkahan dari subtansi demokrasi, tegas Kang Said.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Pahlawan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Jepara, Belajar Muhammadiyah. Ketua PWNU Jawa Tengah, H Abu Hafsin mengatakan, di Thailand pernah mendiskusikan kepemimpinan di Asia. Salah satu bahasan diskusi itu, kepemimpinan di Indonesia era presiden KH Abdurrahman Wahid.

Dari hasil diskusi yang diselenggarakan Bangkok Post tersebut menghasilkan empat hal negatif bahwasanya era Gus Dur sangat rentan digulingkan.

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Hal itu dikemukakan Abu Hafsin saat memberikan pengarahan dalam Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah pada komisi organisasi bertempat di pesantren Al-Falah desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (6/1).

Belajar Muhammadiyah

Keempat hal tersebut dikatakan Abu, pada era Gus Dur tidak didukung oleh kekuatan ekonomi, birokrat, media dan konstituen. Padahal sebelum pendirian NU 1916, 2 tahun sebelumnya sudah ada Nahdlatut Tujar dan Tasywirul Afkar.

Belajar Muhammadiyah

“Sebelum NU didirikan kekuatan ekonomi dan pemikiran diperkuat agar NU tetap bertahan,” sebutnya kepada pengurus PCNU, Banom, Lajnah dan MWCNU se-Jepara yang hadir.  

Ke depan, berpijak dari hal itu NU harus memperkuat keempat komponen tersebut. “NU ke depan harus memperkuat lembaga perekonomian. Meskipun kita punya hak di pemerintahan tetapi tidak lantas manja dengan bantuan-bantuan tersebut. NU harus mandiri dalam bidang perekonomian,” paparnya.

Selanjutnya, ormas yang didirikan KH Hasyim Asyari lanjutnya harus memiliki kader politisi sebanyak-banyaknya yang punya komitmen terhadap NU dan Aswaja. Muaranya kader-kader NU yang bertebaran diharapkan menjadi tangan panjang kebijakan NU agar tetap eksis. Sedangkan di bidang media para warga NU khususnya santri harus melek media dan bisa menulis.

Selain memperkuat keempat kekuatan tersebut, Abu Hafsin juga mengetengahkan ancaman ideologi NU. Aliran-aliran yang hendak membumi hanguskan NU bebernya sudah door to door, dari rumah ke rumah.

“Semisal tradisi tahlilan oleh mereka disebutkan memang ada dalam kitab kuning (salaf, red) namun bagi mereka tidak termaktub dalam Al-Qur’an. Itu yang menjadi target “dakwah” mereka. Itu salah satu ancaman yang mesti kita waspadai,” himbaunya.

Dirinya yakin kekuatan NU kultural di desa-desa dan kampung-kampung masih eksis. Jamaah Habib Syekh dan Jamuro ditegaskannya juga menjadi salah satu penjaga Aswaja. Namun sekolah-sekolah umum yang belum terjamah NU telah dirasuki aliran-aliran tersebut.

Karenanya, siswa di sekolah imbuhnya yang merupakan kader potensial utamanya sekolah-sekolah NU perlu diselamatkan ideologinya agar tidak terjangkiti aliran-aliran salafi tersebut. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja Belajar Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Selama melakukan kunjungan di Jombang, Joko Widodo alias Jokowi menerima sejumlah pesan dari para kiai termasuk dari pengasuh pesantren Tarbiyatun Nasyiin Paculgowang Diwek KH Aziz Mansyur. Secara khusus, Kiai Aziz membacakan kitab kuning rujukan kiai NU yang memuat konsep kepemimpinan dan kebangsaan.

Konsep itu disampaikan KH Aziz Mansyur saat Jokowi dan rombongan bersilaturahim ke pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Sabtu (3/5) malam.

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Aziz Mansyur Minta Jokowi Perjuangkan Islam Aswaja

Kiai Aziz mengatakan, “Konsep itu diambilkan dari salah satu kitab kuning rujukan warga Nahdliyin NU, yakni kitab Jamul Jawami.”

Belajar Muhammadiyah

Terhadap pesan dan harapan, Jokowi mengakui kalau dirinya sangat memahami pesan yang disampaikan Kiai Aziz Mansyur. "Saya sudah banyak diberi wejangan oleh Kiai Aziz apabila nanti Allah mengizinkan saya memegang kepemimpinanan nasional seperti sudah dijelaskan. Saya memahami sekali apa yang Kiai Aziz sampaikan," ujar Jokowi.

Sejumlah elit politik PDI Perjuangan, PKB, dan Nasdem tampak mendampingi Jokowi. Mereka di antaranya Wasekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, Ketua DPP PKB Marwan Jafar, Ketua DPP Nasdem Effendi Choirie, Ketua DPD PDIP Jatim Sirmadji, dan Ketua DPW PKB Jatim Abdul Halim Iskandar.

Belajar Muhammadiyah

Usai mengunjungi pesantren ini, rombongan Jokowi melanjutkan silaturahmi ke pesantren Tebuireng dan pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Aswaja, Tokoh Belajar Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Assalamualaikum wr wb. Ustadz yang saya hormati, di tempat saya ada beberapa orang yang menjual obat herbal dimana bahan pokoknya adalah semut, cacing dan undur-undur. Bagaimana sebetulnya Islam mengatur hal ini, adakah dalil yang mendasari kehalalannya berobat dengan bahan-bahan demikian? Lalu bagaimana hukum budi daya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan? Atas penjelasannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalam.

Achsib surabaya.



Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur (Sumber Gambar : Nu Online)
Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur (Sumber Gambar : Nu Online)

Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Achsib, mudah-mudahan Allah selalu menaungi kehidupan anda dengan ridha dan kasih sayang-Nya.

Belajar Muhammadiyah

Pada dasarnya Islam telah mengatur apa saja yang boleh dikonsumsi ataupun dihindari oleh umatnya. Hal ini tentu saja berlaku pada makanan, minuman, obat-obatan serta berbagai penunjang kebutuhan manusia lainnya. Prinsip yang dikembangkan oleh Islam adalah menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk dampaknya bagi keberlangsungan kehidupan manusia secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah surat al-A’raf ayat 157:

? ? ? ? ? ?. Artinya: dan Nabi yang ummi serta didapati dalam kitab Taurat dan Injil tersebut (Rasulullah saw) menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.

Belajar Muhammadiyah

Ayat diatas kemudian dijabarkan oleh Rasulullah saw melalui hadis-hadis beliau yang cukup banyak dan kemudian ditafsiri oleh generasi setelahnya dengan berbagai macam penafsiran.

Saudara penanya yang kami hormati, sebelum menanggapi pertanyaan yang saudara sampaikan, ada baiknya apabila kita mengetahui pandangan para ilmuwan Islam (ulama) mengenai status kehalalan maupun keharaman hewan-hewan ini mengingat konsekuensi yang akan muncul dari tiap-tiap pendapat tentu akan berbeda.

Semut, cacing, dan undur-undur dalam istilah biologi termasuk hewan yang tidak mempunyai tulang belakang atau tulang punggung (Avertebrata/invertebrata), sementara dalam bahasa Arab ketiga jenis hewan ini dimasukkan dalam kategori serangga (al-hasyarat). Khusus untuk Semut hampir mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan ini haram dimakan karena termasuk salah satu hewan yang dilarang oleh Nabi untuk dibunuh. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud bersumber dari Ibnu Abbas Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?. Artinya: Dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw melarang untuk membunuh empat binatang: semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurod.”

Hadis di atas kemudian dijadikan dasar oleh para ulama mengenai tidak diperbolehkannya semut untuk dikonsumsi sebagai makanan, meskipun masih banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa jenis semut yang dilarang untuk dibunuh hanyalah satu jenis semut tertentu.

Sementara untuk kedua jenis binatang lainnya (cacing dan Undur-undur), para ulama terbagi dalam dua kelompok:

Kelompok pertama berpandangan bahwa kedua jenis hewan ini termasuk dalam kategori al-hasyarat ( serangga) dan hukumnya haram (tidak boleh dimakan) dengan alasan menjijikkan (al-khabaist). Ulama yang berpendapat demikian diantaranya adalah Imam Abu Hanifah dan asy- Syafii.

Kelompok kedua dipelopori oleh Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Auzai berpendapat bahwa al-hasyarat hukumnya halal.

Selanjutnya mengenai tentang boleh tidaknya berobat dengan hal-hal yang haram, para ulama’ dengan berbagai argumentasi yang mereka kemukakan, berbeda pendapat menjadi empat:

1. Pendapat pertama menyatakan boleh berobat dengan yang haram dalam keadaan darurat (kritis) dan tidak ditemukan obat lain.

2. Pendapat kedua menyatakan haram secara mutlak.

3. Pendapat ketiga menyatakan dalam kondisi darurat boleh berobat dengan yang haram/najis, kecuali khamar.

4. Pendapat keempat menyatakan tidak haram menggunakan obat dari jenis-jenis serangga meskipun menjijikkan.

Dari keempat pendapat ini tentunya akan berdampak pula pada jawaban atas pertanyaan berikutnya dari saudara yakni hukum budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan untuk diperjualbelikan. Di antara para ulama ada yang membolehkan disamping juga ada yang tidak memperbolehkan.

Untuk masalah ini sebenarnya Muktamar ke-30 NU di Lirboyo tahun 1999 telah menjelaskan secara terperinci. Dalam hal ini kami lebih cenderung mengikuti pendapat yang memperbolehkan budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Amin. (Maftukhan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Aswaja Belajar Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

Suatu hari Nabi Ibrahim AS berkata di dalam hati bahwa ia adalah makhluk paling belas kasih terhadap sesama. Mendengar ini, Allah SWT kemudian mengujinya. Ia mengajaknya naik ke langit hampir setiap malam.

Allah SWT memperlihatkan kepadanya alam malakut langit dan bumi hingga suatu ketika ia melihat seorang durjana dengan perbuatan kejinya. Tidak tahan dengan itu, Nabi Ibrahim AS berdoa, “Ya Allah, binasakanlah ia. Ia makan rezeki-Mu, berjalan di atas bumi-Mu, dan ia melanggar perintah-Mu.”

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

Allah menolak permintaannya. Nabi Ibrahim kemudian diminta turun. “Aku lebih sayang hamba-hamba-Ku dibanding kau terhadap mereka. Ibrahim, turunlah. Mereka yang kaukecam mungkin akan bertobat dan berharap.”

Belajar Muhammadiyah

Lain riwayat menyebutkan, Allah mengabulkan permintaannya. Demikian juga ketika Nabi Ibrahim memandang hamba-hamba durhaka lainnya sehingga banyak jatuh korban dari mereka. Hal ini terus berlangsung sampai pada gilirannya Allah SWT menegurnya, “Ibrahim, kau ini orang dengan doa yang maqbul. Janganlah berdoa untuk kehancuran hamba-hamba-Ku karena mereka masih memiliki tiga kemungkinan; pertama, mereka bertobat dan Aku menerimanya; kedua, Aku mengeluarkan jiwanya untuk bertasbih memuji-Ku; dan ketiga mereka mati secara wajar yang bisa saja Kumaafkan atau Kusiksa.”

Kekerasan hati Nabi Ibrahim terhadap mereka yang bermaksiat ini disinyalir menjadi penyebab turunnya perintah penyembelihan Nabi Ibrahim AS terhadap anak yang disayanginya seperti diceritakan dalam Surat As-Shaffat ayat 102.

Belajar Muhammadiyah

Nabi Ibrahim AS hamba yang taat. Ia memenuhi perintah Allah SWT meski bukan pekerjaan ringan. Ketika akan melakukan penyembelihan terhadap anaknya, Nabi Ibrahim AS sempat berkata ketika pisau sudah di genggaman, “Tuhanku, inilah anakku, buah hatiku, seorang manusia yang paling kukasihi.”

Ketika itu juga Nabi Ibrahim AS mendengar suara, “Ingatkah kau Ibrahim, suatu malam kau meminta pembinasaan salah seorang hamba-Ku? Apakah kau tidak tahu bahwa Aku menyayangi mereka sebagaimana kau mencintai anakmu? Kalau kau meminta-Ku membinasakan mereka, maka Aku pun akan memintamu menyembelih anakmu satu per satu.”

***

Hal ini disinggung oleh Ibnu Athaillah dalam butir hikmah berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang melihat rahasia hamba-hamba Allah, tetapi tidak berakhlak dengan kasih sayang (rahmat) ilahi, maka penglihatannya berubah menjadi fitnah (ujian) dan penyebab kedatangan bencana baginya.”

Hikmah ini kemudian diterangkan lebih lanjut oleh Syekh Ibnu Abbad. Menurutnya, tanpa rahmat Ilahi mengetahui dosa orang lain, seseorang dapat terjerumus pada sikap ujub dan takabur yang mana keduanya adalah pakaian Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang mengetahui rahasia-rahasia yang mendorong terungkapnya aib, tetapi tidak disertai dengan rahmat Ilahi sehingga tidak mengasih-sayangi mereka yang berdosa; tidak murah hati kepada mereka yang aniaya; tidak memaklumi mereka yang awam; tidak berbuat baik terhadap mereka yang jahat; dan tidak menaruh belas kasih terhadap hamba Allah secara umum, maka pengetahuannya itu akan menjadi ujian baginya. Mengapa? Karena semua itu dapat mengakibatkannya memandang (kehadiran) dirinya (dalam ibadah), menganggap agung dirinya, ujub terhadap amalnya, dan takabbur terhadap orang lain. Itu semua menjadi fitnah terbesar dalam hidupnya dan dapat mendatangkan bencana juga baginya dalam bentuk pendakwaan diri atas sifat-sifat Allah dan perlawanan terhadap kebesaran serta keagungan-Nya. Yang disebut terakhir ini adalah bencana terbesar, petaka dan musibah terberat,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa tahun, juz II, halaman 3-4).

Butir hikmah ini jangan dipahami sebagai anjuran untuk menghalalkan yang haram atau menoleransi kezaliman atau kejahatan. Pelanggaran hukum harus mendapat tindakan tegas. Hukum harus ditegakkan. Kejahatan harus diproses agar masyarakat merasakan kepastian hukum dan memegang jaminan.

Butir hikmah di sini adalah menganjurkan kita untuk memandang manusia secara dengan rahmat Ilahi tanpa membeda-bedakan mereka yang taat dan mereka yang durhaka. Hanya dengan pandangan rahmat Ilahi itu, kita akan mendapat kucuran rahmat dari Allah SWT sebagaimana bunyi hadits berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang berbelas kasih adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Karenanya kasihilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya penduduk langit akan mencurahkan kasih sayang pula untuk kalian.” Sebaiknya, kita mendoakan agar Allah menurunkan taufiq-Nya untuk mereka. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, RMI NU, Quote Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Seoul, Belajar Muhammadiyah. Penyelenggaraan Global Peace Leader Conference 2010 yang berlangsung di Seoul Korea Selatan juga mengundang Dr Marsyudi Syuhud, ketua PBNU, sebagai wakil dari Indonesia.

Pada acara yang berlangsung 11-13 Oktober ini, Marsyudi memberikan sambutan tentang Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan oleh NU, yang berupaya agar Islam memberi rahmat bagi seluruh alam. Untuk menuju hal tersebut, salah satunya melalui silaturrahmi.

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Ia menjelaskan, melalui silaturrahmi, manusia akan saling mengenal dan saling memahami serta menyayangi satu sama lain. Disitu ajaran Islam rahmatan lil alamiin mulai berfungsi. Marsyudi menegaskan, dalam muamalah, Islam mengajarkan tanpa ada sekat muslim atau non muslim.

Belajar Muhammadiyah

Acara dihadiri oleh berbagai delegasi dari pemimpin negara maupun tokoh-tokoh agama, dari Amerika, Paraguay, Kenya, China, Jepang, Mongolia, dan lain sebagainya, Chairman Global Peace Festival Dr. Hyun Jin Moon membuka acara tersebut pada 11 Oktober 2010 diGand Hilton Hotel Seoul Korea.

Korea berbagi pengalaman dalam tema Effective Models of Balance Development: The Korean Experience, bagaimana Korea Selatan berhasil menjadi negara terkaya no 13 hanya dalam waktu 50 tahun.

Belajar Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut beberapa lembaga pemerintah Korea seperti KOICA, KDI, Korea Saemaul Undong Center berbagi pengalaman dan menjadi donor bagi negara-negara berkembang untuk membangun komunitas dan kehidupan yang lebih baik.

Global Peace Festival berikut akan diadakan di Jakarta pada tanggal 15 - 17 Oktober di Jakarta. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Khutbah, Nusantara Belajar Muhammadiyah

Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. ?Pondok Pesantren Darul Fikri yang dimukimi santri yatim dan dhuafa secara cuma-cuma alias gratis tergenang banjir sejak Sabtu (18/1) sampai saat ini, Rabu (22/01). Kondisi pesantren? di Desa Bongas Pentil, Kecamatan Bongas, Indramayu, Jawa Barat, hingga saat ini sangat memprihantinkan.

Banjir yang menggenangi gedung pesantren mencapai lebih dari satu meter. “Banjir sampai setinggi dada orang dewasa," kata pengasuh pesantren Darul Fikri saat diwawancarai di Masjid Nurul iman 1 No 1 Tanah Koja Rt/Rw (009/02) Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (22/1).

Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan

Menurut Kiai Zuhri, sebanyak 113 santri dan 12 pengurus bertahan di pesantren karena tidak ada tempat pengungsian. “Mereka terpaksa bertahan di pondok. Ada yang di mushola dan di asrama lantai dua," tambah KH Zuhri.

Belajar Muhammadiyah

Selama banjir, kata dia, selain tak ada tempat mengungsi, para santri belum dapat bantuan jenis apapun, "Kini mereka kekurangan stok makan dan air bersih," ujar pengasuh pesantren yang juga Kabtib PWNU DKI Jakarta.

Belajar Muhammadiyah

Ia mengaku cemas dan prihatin atas kondisi ini. Karena itu, pengasuh berharap simpati dan bantuan. "Sebisanya kami, pihak pengasuh pondok sudah berupaya, namun tidak maksimal sehingga kami sangat mengarapkan bantuan,” katanya.

Bila ada yang berkenan membantu, harap dia, bisa menghubungi pembina dan pengasuh Pondok KH Zuhri Yaqub di 081314774169 atau Ustad Dumyati Asmudi 085200900400. (Junaidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Pondok Pesantren Belajar Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat

Mengeluarkan zakat termasuk salah satu dari rukun Islam yang lima. Ia diwajibkan pertama kali pada Bulan Sya’ban, tahun kedua Hijriyah dan diberlakukan secara umum kepada seluruh kaum Muslimin yang mampu dan memenuhi syarat-syaratnya.

Ibadah ini disebut-sebut sebagai saudara kandung dari ibadah shalat karena seringkali dalam banyak ayat dan hadits, perintahnya disandingkan secara langsung dengan perintah shalat. Sebagai contoh dalam Surat Al-Baqarah ayat ke-110 berikut.

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Awal dan Dalil Kewajiban Zakat

? ? ? ?

Belajar Muhammadiyah

Artinya, “Dan dirikanlah shalat serta bayarkanlah zakat!”

Belajar Muhammadiyah

Begitu juga dalam beberapa haditsnya, Nabi SAW menyebutkan kewajiban untuk mengeluarkan zakat yang berbarengan dengan empat kewajiban lainnya. Salah satu di antaranya disebutkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ?)

Artinya, “Dari Abi Abdurrahman, Abdullah ibn Umar ibnul Khattab ra, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Islam didirikan dengan lima perkara, kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa di Bulan Ramadan,’’” (HR Bukhari).

Selain kedua dalil tersebut, Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab dan begitu juga Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menyebutkan adanya kesepakatan ulama (ijmak) terkait kewajiban zakat. An-Nawawi menulis.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun hukum persoalan ini, maka zakat merupakan salah satu rukun dan fardhu Islam berdasarkan ijmak kaum muslimin. Banyak dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, hadits, dan ijmak terkait masalah tersebut.”

Berdasarkan keterangan ini wajar kiranya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat pada masa pemerintahannya. Karena baginya kewajiban mengeluarkan zakat tidak ada bedanya dengan kewajiban shalat.

Ia pernah berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat.”

Dengan kerasnya ancaman terhadap mereka yang enggan mengeluarkan zakat, kiranya dapat menjadi perhatian bagi seluruh umat Islam yang telah mampu dan melengkapi syarat-syaratnya agar dapat mengeluarkannya pada waktu yang telah ditentukan. Allahu a’lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, Makam Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock