Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Bogor, Belajar Muhammadiyah

Gedung Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Ahad (29/5) pagi tampak berbeda. Ratusan jama’ah dari majelis ta’lim se-Bogor tampak memenuhi ruangan. Pasalnya, hari ini merupakan hari terselenggaranya acara IPB Bersholawat, sebuah acara yang bertujuan menggemakan shalawat di kampus pertanian terbaik se-Indonesia ini.

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Vakum 4 Tahun, KMNU IPB Adakan IPB Bersholawat

Acara yang bertema Gemakan Sholawat, Temukan Kembali Jati Diri Umat untuk NKRI yang Bermartababat ini juga dihelat dalam rangka peringatan harlah ke-9 KMNU IPB yang jatuh pada 26 Mei lalu. Acara dimulai pada pukul delapan pagi dengan penampilan hadrah KMNU IPB sebagai pembukanya.

Dalam sambutannya, ketua pelaksana IPB Bersholawat, ketua KMNU IPB, Pembina KMNU IPB, dan Presidium Nasional I KMNU Pusat sama-sama menyatakan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara shalawatan terbesar di kampus IPB ini. Mereka berharap acara ini dapat menarik lebih banyak lagi mahasiswa dan masyarakat yang rindu akan Rasulullah SAW. ?

Hadir sebagai penyampai mauidhah hasanah, KH Choirul Anshori dari Yayasan Syahamah (Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syaikh Dr Muhammad Darwis asal Suriah yang merupakan dosen di Ma’had Aly Littafaqquh Fiddin Imam Syafii, Cianjur. Dalam ceramah Kiai Anshori menyampaikan bahwa pembacaan maulid adalah hal yang disukai Rasulullah SAW. Hal ini terbukti ketika Imam Al-Bushiri sakit keras karena terlalu rindunya terhadap Rasulullah, dalam suatu malam ia didatangi Rasulullah SAW dalam mimpinya. Rasulullah meminta Imam Al-Bushiri menulis maulid yang kemudian dikenal dengan Maulid Burdah. Setelah itu, Rasulullah mengusap Imam Al-Bushiri dan ketika terbangun dari tidurnya, Imam AL-Bushiri telah sembuh dari sakitnya.

Belajar Muhammadiyah

Kiai Anshori menambahkan walau pembacaan maulid adalah bid’ah (perkara yang baru ada setelah Nabi wafat-red), namun hal ini termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Kiai yang berasal dari Malang ini juga mengingatkan umat Islam akan bahaya bid’ah dhalalah (bid’ah yang buruk) seperti gerakan LGBT dan kampanye-kampanye menyesatkan lainnya.?

Mauidhoh hasanah kedua disampaikan oleh Syaikh Dr Muhammad Darwis dalam bahasa Arab dengan Ustadz Adhli Al-Karni sebagai penerjemahnya. Dalam ceramahnya, Syaikh Muhammad Darwis menerangkan tentang keutamaan shalawat dan kemuliaan Baginda Nabi SAW. Kisah yang menyentuh hati juga ia sampaikan, salah satunya kisah tentang Ummu Sulaim yang mengumpulkan tetesan keringat Rasulullah dalam sebuah botol saat Rasulullah tertidur.?

Pelantunan shalawat yang merupakan acara inti dari IPB Bersholawat ini dipimpin oleh Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf beserta jama’ahnya yang tergabung dalam Majelis Syababul Kheir Bogor.?

“Sudah saatnya kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menunjukkan identitasnya sebagai kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu dengan bershalawat,” tegas Habib Mahdi di sela-sela pelantunan shalawat. Ke depan, acara yang diramaikan dengan hastag #IPBersholawat ini diharapkan dapat menjadi pemicu akan lahirnya lebih banyak majelis shalawat di kampus selanjutnya. (Kholilah DI/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 21 Februari 2018

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

Surabaya, Belajar Muhammadiyah



Lembaga Penelitian dan Survei Pelajar-Pemuda PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menyatakan 50 persen pelajar menggunakan "smartphone" sejak sekolah dasar (SD) dan 44 persen memakai sejak SMP serta 3 persen sejak SMA.

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)
Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

"Itu hasil dari survei yang kami lakukan pada 113 siswa dari 400-an sekolah swasta Surabaya-Sidoarjo pada Februari 2016," kata Direktur Lembaga Penelitian dan Survei PW IPNU Jatim Abdullah Muhdi di sela peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-62 IPNU di Surabaya, Rabu.

Didampingi Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami, ia mengemukakan hal itu dalam peringatan Harlah ke-62 IPNU yang dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jatim H Supandi MPd, Guru Besar FISIP Unair Kacung Maridjan, dan Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki.

Dalam acara yang dihadiri 60-an pengurus IPNU se-Jatim yang dimeriahkan dengan peluncuran lembaga penelitian/riset, lembaga penanggulangan NAPZA dan radikalisme, Majalah PASTI, laman IPNU Jatim, dan dialog pendidikan itu, ia menilai hasil itu cukup mengejutkan, karena 97 persen pelajar memanfaatkan alat komunikasi super canggih itu.

"Itu mengejutkan karena mereka masih tergolong SD, meski kami menemukan 59 persen penggunaannya masih positif yakni untuk berkomunikasi dengan orang tua, namun anak SD itu sangat tidak mandiri, karena itu kontrol isi chat/obrolan dari orang tua itu perlu," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Apalagi, pihaknya menemukan ada prestasi pelajar yang merosot gara-gara smartphone, meski penggunaan smartphone terbagi dalam 59 persen untuk komunikasi, 11 persen musik, 8 persen browsing, 1 persen video, 3 persen abstain, dan 18 persen lainnya, termasuk untuk "game".

Terkait aplikasi yang digunakan pelajar, ia mengatakan 65 persen untuk Line, 2 persen FaceBook/Twitter, 17 persen Google, 7 persen Youtube, 6 persen BBM/WhatsApp, dan 3 persen abstain. "Jadi, FB, WA, dan twitter tak diminati pelajar," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, IPNU berkepentingan dengan serangkaian survei pelajar/pemuda bukan sekadar untuk pendataan. "Dengan hasil survei itu, maka orang tua dan sekolah bisa bersikap solusi yang harus dilakukan, sedang bagi kami juga penting untuk merancang program," katanya.

Dalam kaitan solusi itu, Ketua IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan siap bekerja sama dengan pihak sekolah, dinas pendidikan, Kemenag, pesantren, perguruan tinggi, dan para orang tua untuk melakukan diskusi guna mencari solusi yang tepat, karena organisasi pelajar (IPNU) lebih pas berbicara dengan pelajar.

"Kami sendiri memiliki Majalah Pasti untuk pelajar dan santri berprestasi, laman khusus pelajar dan santri, dan lembaga penanggulangan radikalisme dan NAPZA. Jadi, kami melakukan gerakan yang sistematis dan serius untuk pelajar dan santri," katanya.

Dalam dialog pendidikan Harlah ke-62 IPNU itu, Sekretaris PW NU Jatim Prof Akhmad Muzakki menilai IPNU memang merupakan kader andalan NU untuk masa depan, karena generasi masa depan yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah generasi berkarakter dan organik (bukan karbitan).

"Kalau hanya pintar bisa kita lakukan dengan mesin pencari internet, tapi kalau karakter itu memerlukan proses. Saran saya, IPNU harus melakukan diversifikasi kader, agar jangan sampai kader IPNU ke dunia politik saja, seperti kader dokter anak di Sidoarjo atau kader jurnalis di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, Prof Kacung Maridjan menyatakan bonus demografi akan dinikmati bangsa Indonesia pada 2035 atau 2045 bila tercetak kader-kader yang terdidik dan kreatif. "Bangsa ini masih mayoritas SMP dan perlu generasi kreatif lebih banyak. Itu kuncinya," katanya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jatim H Supandi mengaku 95 persen dari 19.155 madrasah (MI/MTs/MA) dan 211.000-an guru serta 3 jutaan siswa adalah pelajar NU, namun umumnya belum mengetahui IPNU. "Itulah tantangan sekarang," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya

Jakarta Belajar Muhammadiyah. Pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung yang digulirkan melalui kebijakan otonomi daerah ditengarai banyak mafsadatnya, di samping maslahatnya.?

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemilukada Langsung Banyak Mafsadatnya

Menurut Katib ‘Aam PBNU KH Malik Madany, pada mulanya UU Pemilukada langsung berniat baik, yaitu untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Di sisi lain juga sebagai pendidikan politik masyarakat dan demokrasi. Tapi kenyataanya sebaliknya.

“Pendidikan politik dan demokrasi yang diperoleh masyarakat bukanlah pendidikan yang baik dan bermoral, melainkan justru pendidikan yang tidak sehat.”?

Belajar Muhammadiyah

Dikatakannya, hal itu antara lain tampak pada kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan momentum pencalonan seseorang untuk memperoleh money politics.

Belajar Muhammadiyah

Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian besar partai politik terhadap para calon yang diusungnya. Hal semacam ini juga memperbesar biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang calon untuk memenangkan pemilukada.

“Beban biaya yang berat ini akan dicarikan penggantinya kelak ketika sang calon benar-benar menjadi kepala daerah. Bagi kepala daerah semacam ini konsentrasi pemikirannya bukan lagi pada kesejahteraan rakyatnya, melainkan pada cara mengembalikan dana yang telah diinvestasikannya dalam pemilukada,” jelasnya.

Karena itulah, berbagai perilaku KKN tampaknya sangat sulit untuk dihindari. Di samping itu, anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk menyelenggarakan pemilukada di setiap provinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sungguh sangat besar.?

“Sementara manfaat dan hasil yang diharapkan cukup mengecewakan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Musayawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang akan berlangsung di Cirebon, Jawa Barat, akan memperdalam manfaat dan mafsadat Pemilukada Langsung. Hasilnya akan direkomendasikan kepada pemerintah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Nusantara, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Sarbumusi Tolak Jokowi Hapus 134 Regulasi Industri

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) NU menilai langkah Presiden Joko Widodo menghapus 134 kebijakan terkait investasi asing, sebagai langkah keliru. Terlebih deregulasi aturan yang diklaim bertujuan menarik investor itu malah melahirkan ketimpangan di tengah masyarakat.

Sarbumusi Tolak Jokowi Hapus 134 Regulasi Industri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Tolak Jokowi Hapus 134 Regulasi Industri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Tolak Jokowi Hapus 134 Regulasi Industri

"Sarbumusi menolak langkah Presiden Jokowi menghapus 134 regulasi yang selama ini memproteksi industri dan negeri ini dari serbuan pekerja asing. Masyarakat merasa diabaikan. Di saat ekonomi sulit, 27.000 pekerja di PHK, Presiden malah mempermudah masuknya pekerja asing," ujar Sekretaris Jenderal Sarbumusi, Sukitma Sudjatmiko, usai perayaan Harlah Sarbumusi ke 60 tahun, di Sekretariat Sarbumusi, Jl. Raden Saleh II, Ahad (27/9) malam.

Sukitman juga menilai penghapusan syarat mahir berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing berpotensi telah melanggar UU No.24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan. Sejumlah anggota DPR mengkritik terobosan Jokowi dengan dalih investasi itu.

?

Belajar Muhammadiyah

"Deregulasi itu bisa melanggar UU No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan," ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Dalam harlahnya ke-60, Sarbumusi juga mendorong Pemerintah untuk lebih peka terhadap tenaga Migran Indonesia. Diantaranya dengan? memberi ruang bagi pekerja migran Indonesia untuk memperoleh keadilan melalui Peradilan Hubungan Industri (PHI) saat mengalami kasus di negeri asing.

"Sarbumusi punya Konfederasi buruh Migran Indonesia, anggotanya mencapai 5000 TKI yang tersebar di sejumlah Negara. Menjadi kewajiban Sarbumusi untuk memperjuangkan nasib mereka yang sering diperlakukan tidak adil di negeri asing,"paparnya.

Selain melalui pelatihan untuk meningkatkan profesionalitas para TKI, Sarbumusi melalui Lembaga Bantuan Hukum juga sudah berkali-kali mendampingi anggotanya dari kalangan buruh migran ini untuk? mendapatkan haknya.

"Sebagai buruh, para TKI punya hak untuk dihormati juga sebagai orang yang mempunyai peran dalam pembangunan," tandasnya. (malik/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Solo, Belajar Muhammadiyah. Meskipun sudah memasuki usia senja, semangat tokoh satu ini untuk terus berjuang bersama NU memang patut kita tiru. Sebagai sesepuh dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi tak pernah lelah untuk memberikan semangat kepada generasi penerus.

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Seperti yang dikatakannya saat menerima kunjungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Ahad (10/8), di rumahnya, Malang. “Cintailah kiai dan rawatlah NU,” pesan Mbah Muchit singkat, sebagaimana ditirukan Sekretaris PCNU Sumenep A Dardiri Zubaidi dalam akun facebooknya.

Dardiri sendiri, mewakili generasi NU yang hidup di zaman sekarang, menjadikan Kiai Muchith sebagai sosok yang banyak menginspirasi.

Belajar Muhammadiyah

“Sejak kecil saya sudah mengenal KH Muchit Muzadi, santri Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari dan orang dekat KH Ahmad Shidiq Perumus Khittah NU. Sebagian buku beliau saya punya, salah satu judulnya : Menjadi NU, Menjadi Indonesia,” ujarnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, meski telah berusia 90 tahun, Mbah Muchith masih memiliki semangat yang luar biasa. “Semangat beliau luar biasa membaja. Semoga beliau dipanjangkan umur oleh Allah swt. Beliau bagi saya salah satu jimat sakti yang masih dimiliki NU sekarang,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pahlawan, Ahlussunnah, Nasional Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

KH Ghazalie Masroeri

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

Awal bulan ditandai dengan penampakan hilal yang dapat dilihat dengan mata di awal malam (sesaat setelah matahari terbenam). Kalau tidak tampak tidak disebut hilal. Hilal tidak hanya dalam angan-angan/pemikiran; dan tidak hanya dalam dugaan/keyakinan. Untuk mengetahui adanya penampakan hilal (ظُهُوْرُ الْهِلاَل), diperlukan upaya-upaya observasi, pengamatan, atau rukyah di lapangan.

Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk masdar, mempunyai fi’il ro-aa – yaroo (رَأَى - يَرَى). Kata رَأَى dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain: melihat, mengerti, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, menduga, yakin, dan bermimpi.

Belajar Muhammadiyah

Ketika kata ro-aa (رَأَى) dan tashrifnya dirangkaikan dengan objek / maf’ul bih (مَفْعُوْلٌ بِهِ) yang fisikal / thobii’iyyaat (طَبِيْعِيَّات) maka masdarnya adalah rukyah (رُؤْيَة); dan mempunyai arti tunggal yaitu “melihat dengan mata kepala”, baik dengan mata telanjang maupun dengan alat pembesar. Contoh : 

رَأَى كَوْكَبًا – رُؤْيَةُ كَوْكَبٍٍ : Melihat Bintang

Belajar Muhammadiyah

رَأَى اْلقَمَرَ – رُؤْيَةُ الْقَمَرِ : Melihat Bulan

رَأَى الشَّمْسَ – رُؤْيَةُ الشَّمْسِ : Melihat Matahari

رَأَى الْهِلاَلَ – رُؤْيَةُ الْهِلاَلِ   : Melihat Hilal.   لِرُؤْيَتِهِ(Karena Melihat Hilal)

Baca Surat Al-an’am ayat 76 s/d 78 untuk contoh 1, 2, dan 3. Dan baca berbagai As-Sunnah untuk contoh no. 4.

Sedangkan ro-aa (رَأَى) yang mempunyai arti lain, objeknya tidak fisikal (غَيْرُ طَبِيْعِيَّات). Adakalanya tanpa objek dan masdarnya bukan Rukyatun, tetapi ro’yun (رَأْيٌ). Ketika ro-aa mempunyai dua maf’ul bih (objek), maka mempunyai arti menduga atau yakin. Dan adakalanya bermakna mimpi, masdarnya ru’ya (الرُؤْيَا).

Rukyah sebagai sistem penentuan awal bulan qomariyah dengan cara melakukan pengamatan/observasi terhadap penampakan hilal di lapangan, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan alat seperti teropong, pada hari ke 29 malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan. Apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Rukyatul hilal. Tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu adalah tanggal 30 dari bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Istikmal (menggenapkan 30 hari bagi bulan sebelumnya).

Ada pendapat bahwa rukyah itu hanya berlaku bagi masyarakat ummi/awam yang tidak mengetahui ilmu hisab, tetapi bagi masyarakat modern cukup dengan ilmu hisab tidak perlu rukyah. Pendapat ini mendasarkan pada hadits : 

اِنَّا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا (متفق عليه). قَالَ اْلبُخََارِيُّ : يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ 

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung (menghisab). Umur bulan itu sekian dan sekian,”  (HR. Muttafaq ‘alaih). “Menurut al-Bukhari “sekian dan sekian” ialah “kadang 29 hari dan kadang 30 hari.””

Pendapat demikian ini menunjukkan adanya pemahaman terhadap hadits tersebut secara hitam putih. Padahal sesungguhnya di balik hadits ini terdapat hikmah yang mendalam, yaitu:

Sifat keummian itu justru menunjukkan secara yakin tentang otentitas ad-dinul islam dibangun atas dasar wahyu, bukan dibangun atas dasar hasil pemikiran.

Hadits itu mengajarkan, bahwa  usia bulan Qomariyyah kadang 29 hari dan kadang 30 hari, berbeda dengan umur bulan syamsiyah.

Nabi saw. mengajarkan rukyah sebagai kemudahan untuk umatnya.

Rukyah mempunyai nilai ibadah jika hasilnya digunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti shiyam, ‘id, sholat gerhana, dan lain-lain.

Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit seperti letak matahari terbenam, posisi dan tinggi hilal, dan jarak antara hilal dan matahari dapat menambah kekuatan iman.

Rukyah itu ilmiah. Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit ribuan tahun lamanya dicatat dan dirumuskan, kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmu hisab. Rukyah melahirkan hisab. Tanpa rukyah tak ada hisab.

Pendapat yang mengatakan tidak perlu rukyah tetapi cukup hisab tersebut, sesungguhnya   belum dapat memberi jalan keluar atas terjadinya perbedaan pada metode dan kriteria hisab. Metode dan kriteria hisab mana yang harus digunakan?

Pendapat yang mengatakan cukup dengan ilmu hisab, tidak sejalan dengan nash Mafhuumul ayat S. Al-baqarah a.185 dan a.189, Yunus a.5, dan Yasin a.39

Hadits-hadits

Tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyah diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain.

Rukyah dan hisab tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat digunakan bersamaan. Rukyah sebagai penentu dan hisab sebagai pendukung. Hisab yang berkualitas tahqiqi/tadqiqi/’ashri dan memenuhi kriteria imkanurrukyah dapat dijadikan sebagai pendukung, pemandu, dan pengontrol rukyah, sehingga menghasilkan rukyah yang berkualitas. Sebaliknya, rukyah dapat dijadikan sebagai sarana uji verifikasi atas hipotesis hisab. 

Kriteria imkanurrukyah itu, secara empirik memenuhi ketentuan tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam / jarak antara Matahari dan Bulan 3 derajat. Kriteria inipun sudah disepakati untuk kriteria Taqwim dan kriteria rukyah oleh Ormas-Ormas Islam dalam Lokakarya Hisab Rukyah yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat Hisab Rukyah dan Pembinaan Syari’ah Kemenag RI, di Cisarua tahun 2011, yang kemudian disempurnakan dalam Lokakarya di Semarang tahun itu juga. Kriteria imkanurrukyah ini bukan dimaksudkan untuk mengganti rukyah, tetapi sebagai instrumen untuk menolak apabila ada laporan terlihatnya hilal ketika mayoritas ahli hisab menyatakan bahwa hilal pada hari itu belum imkanurrukyah.

Dari seluruh paparan tersebut, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka mencari titik temu atas perbedaan yang serba majmu’ dalam menentukan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal  Dzulhijjah.

* Makalah disampaikan dalam acara Mudzakarah di Aula TK Islam Al-Azhar lt.II Kampus Al-Azhar Kebayoran Baru, Senin 2 Juli 2012, yang dipanel dengan Prof. DR. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN), dan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Moderator : Dr. HM. Hartono, MM (Ka. Sekretariat Masjid Agung Al Azhar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ulama, Ahlussunnah, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013

Malang, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kabupaten Malang menggelar Musyawarah Kerja Cabang ke-1 pada Sabtu 26 Januari 2013 di Gedung MAN PP. An-Nahdliyah Kepuharjo Karangploso Kabupaten Malang.

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Malang Gelar Muskercab I tahun 2013

Muskercab yang digelar kali ini mengambil tema ”Meningkatkan peran Jam’iyah Ditengah  Umat”, karena sudah menjadi kewajiban bagi pengurus Nahdlatul Ulama untuk memberikan kemanfaatan yang besar bagi umat. Konsekuensi logisnya, umat harus merasakan peran dan manfaat dari keberadaan NU.

H Abdul Mujib Syadzili, ketua panitia Muskercab mengatakan, tema ini diambil untuk menambah semangat para pengurus NU mulai Cabang sampai Ranting agar berupaya maksimal memperkuat organisasi demi kemaslahatan umat, sehingga diharapkan akan terbina kekuatan internal organisasi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Malang sehingga mampu menghadapi berbagai macam ancaman dan gempuran dari organisasi keagamaan yang tidak sepaham dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.. 

Belajar Muhammadiyah

“Ancaman ini tidak bisa dianggap sepele mengingat sudah masuk wilayah ideologis, wilayah aqidah, mengancam persatuan dan kesatuan umat serta menggerogoti organisasi NU dengan segala gerakan, propaganda dan potensi yang dimilikinya,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Di sisi lain, Gus Mujib, yang juga Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang ini, menandaskan bahwa setiap pengurus NU harus memiliki komitmen Nahdliyah dan selalu berupaya memantapkan program-program konstitusional permusyawaratan tertinggi tingkat Cabang guna meningkatkan pelayanan dan pengabdian pada umat. 

“Momentum Muskercab ke-1 NU Kabupaten Malang Tahun 2013 ini diharapkan mampu memantapkan hasil-hasil konferensi untuk diimplementasikan dalam program kegiatan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, diantaranya agama, pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, lingkungan hidup, yang perlu didorong terus dalam melakukan penguatan kelembagaan organisasi sehingga mampu memberikan misi pelayanan dalam menjawab kebutuhan umat,” kata Gus Mujib yang juga sebagai Kepala SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo ini.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Malang H Bibit Suprapto mengatakan meski sudah banyak yang telah diperbuat oleh pengurus selama ini namun masih banyak program berskala besar yang belum sempurna penggarapannya, sehingga harus dimantapkan perumusannya dalam Muskercab I ini. 

“Agar NU tidak kehilangan ruh perjuangan maka tidak boleh berhenti dan tidak gampang puas terhadap apa yang telah dilakukan dengan secara terus menerus melakukan peningkatan  penghidmatannya,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah IMNU, Budaya, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa secara de facto KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Pahlawan Nasional. Pasalnya seluruh proses mulai dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan (TP2GP) maupun Dewan Gelar sudah selesai.

"Secara de fakto Gus Dur sudah ? pahlawan, ada kemasyhuran dan keluhuran yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid," ujarnya usai melakukan zaiarah di Makam KH Abdurrahman Wahid di Komplek Pesanren Tebuireng Jombang, Sabtu (7/11) ? siang.

Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Mensos Khofifah juga meyakinkan bahwa tidak ada polemik atau tarik-menarik terkait penganugerahan gelar pahlawan kepada Presiden RI ke-4 ini. Penganugerahan pahlawan kepada Gus Dur itu hanya menunggu waktu yang tepat.

"Seluruh proses untuk pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur sudah selesai. Namun dari catatan dewan gelar, nama Gus Dur diendapkan dulu. Sambil menunggu saat yang tepat," katanya menjelaskan. Anggota Tim Dewan Gelar di antaranya adalah Prof Jimly Asshiddiqy dan juga Prof Azzumardi Azra.

Masih menurut Khofifah, sosok Gus Gur memiliki kemasyhuran dan keluhuran dalam satu titik yang sama. Ada orang yang dapat kemasyhuran tetapi tidak dapat keluhuran, begitu pula sebaliknya. "Gus Dur mempunyai kemasyhuran dan keluhuran. Dan secara ? de fakto Gus Dur sudah pahlawan, tinggal menunggu saat yang tepat saja. Untuk tahun ini kan sudah selesai penganugerahan pahlawan kemarin," papar Ketua PP Muslimat NU ini.

Meski tidak secara tegas Mensos menyatakan, bahwa pengaugerahan pahlawan Gus Dur tidak bisa diberikan tahun 2015 ini. Namun Khofifah menyatakan bahwa tahun ini penganugerahannnya pahlawan sudah selesai diberikan kepada 5 orang pahlawan nasional oleh presiden Jokowi pada tanggal 5 November 2015 kemarin. "Dua di antaranya dari Jawa Timur, satu Bali, satu dari Jogja, dan satu lagi dari Sulawesi," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Dikatakan Mensos, jumlah Pahlawan Nasional selama ini sudah sebanyak 163 orang, dengan dianugerahkannya 5 pahlawan lagi yang telah dianugerai gelar pahlawan nasional maka jumlah pahlawan nasional kini menjadi 168 orang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

?

Foto: Mensos Khofifah Indar Parawansa (berbusana hijau) saat berziarah ke makam Gus Dur di Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Wali Nikah Anak Zina

Assalamu’alaikum wr. wb. Redaksi Belajar Muhammadiyah yang saya hormati, saya mau bertanya tentang wali nikah dari anak zina atau anak luar nikah. Apakah jika yang menikahi ibunya bukan bapak biologisnya bisa menjadi wali nikahnya? Mohon dengan sangat penjelasannya. Syukran katsir, wassalamu’alaikum wr. wb. (Marwan/Bulukamba-Brebes)

?

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Wali Nikah Anak Zina (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nikah Anak Zina (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nikah Anak Zina

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang kami ketahui bahwa menurut madzhab syafi’i rukun nikah itu adalah lima, yaitu shighat, mempelai perempuan, dua orang saksi, mempelai laki-laki, dan wali.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Belajar Muhammadiyah

? “Fasal tentang rukun nikah dan selainnya. Rukun nikah itu ada lima yaitu, shigat, mempelai perempuan, dua orang saksi, mempelai laki-laki, dan wali” (Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 3, h. 139)

Jadi wali merupakan salah satu rukun nikah, maka konsekwensinya adalah pernikahan tidak dianggap sah kecuali adanya wali.

? ? ?? ? ? ? ? ? ? ??

“Wali adalah salah satu rukun nikah, maka nikah tidak sah tanpa wali” (Taqiyyuddin al-Husaini al-Hushni,? Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, juz, 2, h. 40)

Belajar Muhammadiyah

Lantas siapakah wali bagi anak zina? Untuk menjawab soal ini maka terlebih dahulu kami akan mengetengahkan pandangan para ulama mengenai nasab anak zina. Mayoritas ulama sepakat tidak menasabkan anak zina kepada ayah biologisnya, kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah yang dinasabkan kepada siapa yang mengakuinya, setelah masuk Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh sayyidina Umar bin al-Khaththab ra. ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Mayoritas ulama sepakat bahwa anak zina tidak di-ilhaq-kan (dinasabkan) kepada bapak mereka? kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah sebagaimana yang diriwayatkan dari sayyidina Umar bin al-Khaththab ra, dan dalam hal ini terjadi perbedaan di antara shahabat” (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, cet ke-4, 1395 H/1975 M, juz, 2, h. 358)

Jika anak zina tidak dinasabkan kepada bapak bilogisnya, lantas kepada siapa ia dinasabkan? Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak zina dinasabkan kepada ibunya. Konsekwensi dari penasaban anak zina ke ibunya mengakibatkan si anak tidak memilik wali. Sedangkan orang yang tidak memilik wali, maka walinya adalah penguasa/sulthan. Atau dengan kata lain, walinya adalah wali hakim. Pandangan ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Sulthan (penguasa) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”. (H.R. Ahmad)

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka laki-laki yang menikahi ibunya tidak bisa menjadi wali nikah bagi si anak perempuan tersebut, tetapi yang menjadi wali nikahnya adalah wali hakim, yaitu pejabat pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama atau yang mewakilinya sampai tingkat daerah yakni pejabat Kantor Urusan Agam (KUA).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa bermanfaat. Saran kami, jangan memberikan perlakukan yang diskriminatif kepada anak zina. Sebab, anak yang dilahirkan tidak mewarisi dosa turunan orang tuanya. Adapun ketentuan seperti disebutkan di atas menjadi semacam peringantan agar jangan sampai terjadi perbuatan zina.

?

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Budaya Belajar Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah - Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) meresmikan Aswaja Center di Gedung PBNU, lantai 8, Rabu (1/3). Mereka dalam kesempatan ini menyelenggarakan bedah buku Khazanah Aswaja.

Bedah buku Khazanah Aswaja itu diisi oleh tiga pemateri Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur, KH Abdurrahman Navis (PWNU Jawa Timur), dan H Faris Khoirul Anam.

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah PBNU Ngaji Aswaja Masa Depan

H Hanief menyampaikan posisi Aswaja yang sangat fundamental dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, wacana Islam Nusantara, Islam Rahmatan Lil’alamin itu harus kembali rujukannya ke Aswaja NU. Semuanya harus kembali rujukannya ke Aswaja NU.

Belajar Muhammadiyah

“Roh NU ada karena ada Aswaja. NU berdiri karena Aswaja,” katanya di depan hadirin.

Ia melanjutkan, orang NU jangan hanya melihat ke belakang, karena nanti ibarat masuk museum. Orang NU itu harus progresif.

Ia juga menambahkan bahwa teologi kemajuan itu bukan hanya milik Muhammadiyah. “Kita di NU itu, di AD/ART tujuannya adalah membangun kemajuan bangsa dan negara. Itu harus diwujudkan,” tegasnya.

Tapi diwujudkan bukan dengan pragmatis, yaitu tanpa konsep dan tanpa nilai. Tapi harus ada pijakan nilai aswaja sehingga orang progres itu tetap Aswaja, tidak sekuler juga tidak liberal. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Syariah, Pendidikan, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Medan, Belajar Muhammadiyah. Persoalan utama isu perekenomian adalah bagaimana mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi. Hal ini dalam rangka menciptakan kedaulatan dan pemerataan ekonomi seperti yang menjadi cita-cita kita bersama untuk menghilangkan kesenjangan. Itulah yang menjadi upaya NU selama ini.

Demikian disampaikan oleh H Masduki Baidlowi bersama Tim Rekomendasi Muktamar ke-33 NU terkait kegiatan Pra-Muktamar NU yang berlangsung di Pesantren al-Akbar al-Kautsar, Jl Pelajar Timur No 264 Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/6).

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Dalam kegiatan yang bertema ‘Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi (Konsep dan Perundang-Undangan)’ ini, Masduki menerangkan bahwa Indonesia mempunyai syarat untuk menjadi bangsa besar yang maju, sejahtera, dan bermartabat.?

Belajar Muhammadiyah

“Selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dihuni sekitar 145 juta penduduk yang mayoritas berusia produktif, menyumbang total PDB sebesar Rp 10, 542.7 triliun pada 2014,” jelas Wakil Sekjen PBNU ini.

Belajar Muhammadiyah

Dia melanjutkan, Indonesia dengan segenap potensinya diprediksi akan menjadi The Next Economic Superpowers pada 2030. Pada saat itu, lanjutnya, PDB Indonesia akan menembus 9,3 triliun Dollar Amerika yang akan menjadikannya ke peringkat 5 dunia. Indonesia akan bangkit bersama kekuatan ekonomi Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

“Guna menyongsong kebangkitan ini, jalan baru harus ditempuh dari legacy lama yang di-khittah-kan para founding fathers, yakni pembangunan dari kita, oleh kita, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.

Syarat awal yang harus ditempuh, menurutnya, adalah meluruskan kiblat pembangunan dengan kembali ke khittah ekonomi konstitusi.?

“NU sebagai pemegang saham Republik dan sebagai komponen bangsa yang ikut mendirikan dan mempertahankan NKRI menyampaikan keprihatinan keberlangsungan pembangunan di Indonesia melalui berbagai koreksi demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tandasnya.

Dalam kegiatan Pra-Muktamar di Medan ini, NU mengadakan seminar dengan menghadirkan para narasumber kompeten di bidang ekonomi pada Ahad (17/5). Narasumber tersebut diantaranya, Marwan Ja’far (Menteri Desa PDTT), Rizal Ramli (mantan Menteri Perekonomian), Ahmad Erani Yustika (Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya), Bambang Prijambodo (Staf Ahli Menteri Bappenas), M Arfin Hamid (Ahli Ekonomi Syariah), dan Ritha F Dalimunte. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Warta, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kader Muslimat NU DKI Jakarta diimbau untuk menampung para korban banjir di DKI Jakarta. Kader Muslimat NU bisa menampung korban banjir di rumah-rumah pribadi atau yayasan milik Muslimat NU.

Imbauan ini disampaikan oleh Hj. Hizbiyah Rochim, Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta kepada Belajar Muhammadiyah, Jumat (18/1) malam. Imbauan ini sudah disampaikan sejak curah hujan meninggi beberapa hari lalu.

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU DKI Jakarta Diimbau Tampung Korban Banjir

“Kemarin-kemarin, kita sudah koordinasi dengan pengurus cabang dan ranting Muslimat NU di DKI Jakarta agar kader Muslimat NU menerima para korban banjir,” kata Hj. Hizbiyah, seorang putri KH. Abdul Wahab Chasbullah, seorang pendiri NU.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, imbauan seperti ini bukan hal baru. Kader Muslimat NU DKI Jakarta, sudah setiap tahun memberikan fasilitas inapan bagi para korban banjir di Jakarta. Kader Muslimat NU DKI terpanggil untuk tanggap terhadap persoalan banjir yang hampir datang setiap tahun.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta menyerukan kadernya untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban banjir. Langkah awal yang bisa dilakukan antara lain, menyediakan nasi bungkus, obat-obat yang diperlukan, dan pakaian bersih.

Kader Muslimat NU, menurut Hj. Hizbiyah, tidak hanya mengurusi persoalan keagaman saja. Mereka juga dituntut untuk peduli dengan persoalan lingkungan di mana mereka tinggal. Karena, persoalan lingkungan merupakan bagian dari persoalan agama Islam.

“Segala bantuan, partisipasi, dan kontribusi bagi korban banjir, merupakan bentuk kepedulian Muslimat NU untuk lingkungan DKI Jakarta,” tutup Hj. Hizbiyah yang baru tiba di rumah usai memberikan nasi bungkus di kawasan Tambora, Jakarta Barat.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni

Gorontalo, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo memperingati Haul Ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan tema “Mengemabalikan Nalar dan Gerakan Spritual Guru Bangsa dalam Bingkai Pluralisme”.

Kegiatan bertempat di gedung Martin Liputo (Limboto) pada Selasa tanggal 30 Desember 2014 tersebut dijadikan ajang silaturahim antaralumni PMII se-Gorontalo.

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajang Haul Gus Dur, PMII Gorontalo Pertemukan Alumni

Ketua panitia pelaksana, Opan, menyatakan bahwa kegiatan ini di laksanakan dalam rangka mengenang sosok sang Guru Bangsa yang dikenal dengan “Bapak Pluralisme”.

Belajar Muhammadiyah

Menurut dia, silaturahim alumni PMII Se Gorontalo adalah upaya mempererat tali kekeluargaan antara warga pergerakan dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa yang humanis sebagai pengejewantahan baldatun thaoyyibatun warabbun ghofur. Atau, sambung dia, masyarakat Gorontalo yang Mutamaddin.

Hal senada juga di sampaikan Ketua PMII Kabupaten Gorontalo, Reza. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa pola pemikiran Gus Dur ini harus terus di perjuangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di Provinsi Gorontalo.

Belajar Muhammadiyah

Sebagai warga pergerakan yang menganut paham Ahlusunnah wal-Jamaah, kata dia, tidak lepas dari 3 komitmen yakni ukhuwah islamiah, ukhuwah insaniah, dan ukhuwah wathoniah.

Hadir pada kesempatan tersebut perwakilan Pemerintah Daerah, PCNU Kabupaten Gorontalo, PWNU Gorontalo, anggota DPRD Gorontalo dan Anggota DPR RI Komisi A, Elnino (Ketua PW ISNU Gorontalo.(Zulkarnain/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Ubudiyah, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Apakah Wahabi Itu Aswaja?

Banyuwangi, Belajar Muhammadiyah. Kajian Islam Ahlussunah wal jama’ah (Kiswah) Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Genteng Banyuwangi yang diselenggarakan pada Sabtu (23/4) sore sekaligus meluncurkan buletin Az-Zarkasyi sebagai bentuk media cetak yang diharapkan bermanfaat untuk masyarakat umum, khususnya warga Nahdliyin Banyuwangi.

Apakah Wahabi Itu Aswaja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Wahabi Itu Aswaja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Wahabi Itu Aswaja?

KH Yusuf Nuris atau biasa di panggil Gus Yus, menjadi pemateri dalam tema “Apakah Wahabi Itu Aswaja?”. Gus Yus yang juga pernah menjadi Wakil Bupati Banyuwangi ini menerangkan secara gamblang apa itu Aswaja. 

“Siapa yang perlu kita ikuti, antara NU atau yang lain?”. salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh Gus Yus kepada para jama’ah. Kontan Jama’ah menjawab dengan lantang, “NU”. Acara ini dihadiri sekitar 70 orang yang terbagi dari, mahasiswa, dosen, karyawan, mahasiswa, dan beberapa tamu undangan.

“Alhamdulillah di Kiswah kali ini, ada peningkatan untuk jama’ah yang mengikuti dan semoga ke depannya akan lebih banyak lagi para pegiat-pegiat Aswaja khususnya dari kalangan mahasiswa,” kata Izza Muttaqin selaku direktur Kiswah.

Belajar Muhammadiyah

Kegiatan yang diadakan oleh pihak kampus ini menjadi sarana belajar Aswaja. Inisiatif ini diambil oleh kampus dan melibatkan semua kalangan untuk bisa ikut andil dalam kegiatan ini. Setiap 35 hari sekali kegiatan ini akan di gelar, terbuka untuk umum, siapapun boleh mengikuti dan berpartisipasi. Tidak hanya lewat media sosial, hasil dari Kiswah nantinya akan di masukkan dalam buletin sebagai media cetak. (Anang Lukman Afandi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Protes Lima Hari Sekolah, Puluhan Orang Tua Ini Mengadu ke Bupati Rembang

Rembang, Belajar Muhammadiyah. Puluhan orang tua wali yang terkena dampak penerapan kebijakan lima hari sekolah atau Full Day School (FDS) di Kabupaten Rembang dengan didampingi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang dan Lasem, Kamis (24/8) mengadu di Kantor Bupati Rembang.

Kedatangan puluhan rombongan membawa keluh kesah para orang tua yang anaknya bersekolah selama lima hari karena menerapkan Permendikbud No 23 Tahun 2017 di sambut oleh pemerintah setempat.

Protes Lima Hari Sekolah, Puluhan Orang Tua Ini Mengadu ke Bupati Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Lima Hari Sekolah, Puluhan Orang Tua Ini Mengadu ke Bupati Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Lima Hari Sekolah, Puluhan Orang Tua Ini Mengadu ke Bupati Rembang

Dalam kesempatan itu, Ketua PCNU Rembang KH Ahmad Sunarto, dan PCNU Lasem KH Sholahudin Fattawi kepada membeberkan, yang dibawa untuk menghadap Bupati Rembang, bukan merupakan kepentingan warga NU.

Justru, kedatangan para petinggi NU di dua cabang itu, untuk pendampingan para wali murid yang merasa dirugikan atas kebijakan pemerintah pusat. Sementara kehadiran NU, dalam hal ini untuk mempertegas sikap warga nahdliyin, yang menolak Permendikbud No 23 Tahun 2017.

Belajar Muhammadiyah

"Yang kita bawa kesini tidak hanya pengurus NU, Lembaga, Lajnah, dan Banom. Justru banyak diikuti wali murid yang putra-putranya kebetulan sekolah dilembaga pendidikan yang sudah memberlakukan 5 hari sekolah. Nah jadi ini yang harus kita sampaikan kepada pemerintah, bahwa ada warga negara yang merasa dirugikan atas kebijakan pemerintah" jelasnya.

Selain itu, dampak sosial kemasyarakatan, menjadi paling banyak dirasakan oleh masyarakat, yang menghadap orang nomor satu di Rembang.

Dalam kesempatan itu Bupati Rembang Abdul Hafidz mengaku akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat, yang keberatan atas penerapan kebijakan full day school, dengan disuarakan melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Cabang Rembang, dan Lasem.

"Bagaimana pemerintah Kabupaten Rembang ini memperhatikan warga yang merasa keberatan atas sekolah lima hari. Nah itu akan kita tindak lanjuti bersama," kata Bupati Rembang.

Bupati menjamin tidak akan menerapkan kebijakan 5 hari sekolah di lembaga pendidikan yang menjadi kewenangan Pemkab Rembang, dalam hal ini, Sekolah Dasar (SD) dan SMP diwilayahnya.

Belajar Muhammadiyah

Meski sekolah SMA dan SMK se-Jawa Tengah, sudah menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Hafidz mengaku akan merespon dan menindaklanjuti apa yang menjadi suara masyarakatnya.

Dalam waktu dekat, warga NU Di Kabupaten Rembang akan menggelar istighotsah akbar bersama Pemerintah Kabupaten sebagai aksi penolakan atas penerapan lima hari sekolah yang diterapkan beberapa sekolah yang ada.

Selain itu, pemasangan 999 baliho yang bertuliskan menolak kebijakan lima hari sekolah akan dilakukan, dan dipasang diseluruh wilayah mulai dari pelosok desa, hingga perkotaan.?

Sampai hari ini, di Kabupaten Rembang ada dua SMA dan dua SMK yang menerapkan kebijakan lima hari sekolah. Di antaranya, SMA N 1 Rembang, SMA di Kecamatan Kragan, SMK N 1 dan N 2 Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Solo, Belajar Muhammadiyah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo, Jumat (8/2) kemarin, mengadakan kegiatan pembinaan koperasi dengan mengundang pembicara dari Dinas Koperasi (Dinkop) dan UMKM Kota Surakarta. Acara tersebut diikuti sekitar 25 orang yang rencananya akan menjadi calon pendiri Koperasi Syariah Nusa Muda.

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini merupakan persiapan pembentukan koperasi yang menjadi program Ansor Solo. Koperasi Nusa Muda ini nantinya akan berbentuk Koperasi Serba Usaha (KSU).

“Kalau berdasar pada pimpinan (Ansor) pusat bentuk koperasi mesti simpan pinjam, tapi berdasar rapat pengurus, rencananya akan berbentuk KSU,” Terang Anwar di hadapan anggota.

Belajar Muhammadiyah

Sedangkan perwakilan dari Dinkop, Suwandi, menjelaskan beberapa kendala pendirian koperasi, ”Sekarang ini sedang masa transisi. Undang-Undang Koperasi yang lama diganti yang terbaru, UU No 17 th 2012,”

Belajar Muhammadiyah

Suwandi juga menjelaskan jenis koperasi berdasarkan peraturan terbaru yakni produksi, konsumsi, jasa, dan simpan-pinjam.

“Dari keempat jenis itu, bisa dipilih mana yang paling potensial,” terangnya.

Dalam kegiatan pembinaan tersebut juga muncul pengkritisan terhadap Undang-Undang Koperasi yang tidak berpihak pada usaha kecil. Sebagai contoh beberapa perusahaan besar dengan mudahnya mendirikan banyak unit usaha, akan tetapi untuk koperasi mengharuskan satu jenis usaha saja.

Acara yang di gelar di kantor PCNU Surakarta tersebut dihadiri ketua NU Solo, A Helmi Sakdillah. Pendirian koperasi ini rencananya juga akan diikuti oleh MWC NU di Surakarta. Harapannya dengan adanya kegiatan ekonomi seperti ini, dapat menumbuhkan kemandirian warga NU di Solo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Tegal, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Langkah maju dilakukan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu mengumpulkan para jagoan Teknologi Informasi (TI) yang berlatar belakang Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) se-Indonesia dalam sebuah lokakarya yang bakal digelar di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, 8-9 Agustus mendatang.

Acara bertajuk ”Membangun Habitus TI di Komunitas Nahdliyin” yang diselenggarakan Belajar Muhammadiyah tersebut menghadirkan 50 peserta yang merupakan pakar dan peminat TI di lingkungan Nahdliyin. Para peserta itu juga merupakan perwakilan dari Pengurus Wilayah NU se-Indonesia.

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Online Kumpulkan Jagoan Teknologi Informasi

Sejumlah pakar dan praktisi TI dipastikan hadir menjadi narasumber pada acara itu, antara lain, Menteri Riset dan Tekonologi Kusmayanto Kadiman, Kepala Laboratorium Cyber Crime Polri Kombes Pol Petrus Goloose, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali, Kepala Humas Departeman Pendidikan Nasional Bambang Warsito Adi, Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono dan Presiden Direktur International Bussines Management Betti Alisjahbana.

Belajar Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Belajar Muhammadiyah Abdul Mun’im DZ mengatakan, penyelenggaraan lokakarya tersebut merupakan upaya untuk mempertemukan kader-kader potensial yang dimiliki NU di bidang TI. Dari pertemuan tersebut, diharapkan dapat tercipta ruang komunikasi, tukar-menukar gagasan dan pengalaman serta dapat merumuskan kerja sama yang lebih konkret di antara para peserta.

Belajar Muhammadiyah

“Dengan demikian, kekuatan NU di bidang TI yang masih berserakan itu bisa diintegrasikan dalam satu kerja sama. Kiprah para peminat dan ahli TI itu sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam pengembangan teknologi dan akses terhadap informasi, tetapi juga soal yang lebih eksistensial, yakni masih banyaknya warga NU yang terbelakang secara ekonomi maupun pendidikan,” terangnya.

Ia menjelaskan, saat ini cukup banyak kader-kader NU yang menguasasi TI, baik melalui pendidikan formal dan profesional, maupun mereka yang menekuni sendiri secara otodidak. “Pengambilan sarana TI bagi pengembangan NU ini bukan suatu yang tabu, sebab juga berdasar prinsip al akhdzu bil jadidil ashlah (mengambil hal baru yang lebih baik) bagi warga NU,” jelas Mun’im.

Sementara itu, Suwadi D Pranoto, Ketua Panitia Pelaksana kegiatan tersebut, mengemukakan, peran para peminat dan ahli TI di kalangan Nahdliyin sangat dibutuhkan. Karena setiap perkembangan teknologi, juga pasti akan diikuti dampak baik dan dampak buruk.

“Peran para ahli TI ini adalah memaksimalkan penggunaan TI untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah Islam, terutama dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah. Selain itu untuk menyelamatkan warga dari dampak buruk TI, baik secara mental maupun fisik,” ujar Suwadi.

Di era perang global ini, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan TI dijadikan senjata untuk penetrasi budaya, bahkan politik. NU, katanya, tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempunyai tugas dakwah wat taujih, yakni mengajak dan membimbing umat ke arah yang benar. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia

Klaten, Belajar Muhammadiyah . Salah satu hasil putusan Sidang Komisi Organisasi dalam Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, beberapa waktu lalu, adalah tentang pembatasan syarat usia maksimal menjadi anggota IPNU-IPPNU, yakni 27 tahun.

Menanggapi hal ini, pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Tengah segera mengadakan tindak lanjut, seperti yang telah diterangkan ketua IPNU Jateng Amir Mustofa Zuhdi, saat menyampaikan pidato sambutan pada acara pelantikan pengurus PC IPNU-IPPNU Klaten di Gedung Pendopo Pemerintah Kabupaten Klaten.

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jateng Tindaklanjuti Keputusan Muktamar soal Pembatasan Usia

Amir mengatakan pihaknya telah memberikan instruksi kepada pengurus yang di bawahnya, untuk dapat merapikan kriteria pengurus sesuai batasan usia dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga, serta menjalankan proses kaderisasi yang berjenjang dan rapi.

Belajar Muhammadiyah

“Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti hasil dari Muktamar NU yang membatasi umur maksimal 27 tahun. Dan ini sudah dilakukan oleh Klaten, Soloraya dan Jawa Tengah pada umumnya,” terang Amir, Ahad (8/8).

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, pada acara yang sama, Sekretaris Jenderal PP IPNU, Muhammad Nahdhy menyatakan bahwa pembatasan usia kader ini, memungkinkan para kader IPNU-IPPNU untuk semakin memperluas “ladang dakwah”, tidak hanya khusus di lingkup NU.

“IPNU-IPPNU diharapkan menggarap kader dari berbagai kalangan, tidak peduli baik itu dari Muhammadiyah, MTA, LDII dan lain sebagainya. Jangan sampai IPNU-IPPNU cuma disibukkan mencari kader-kader dari NU saja. Karena kita semua bertekad bisa meng-NU-kan mereka-mereka yang belum NU,” tegas pria yang akrab Gus Nahdi itu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Internasional, Anti Hoax Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda

Ini adalah halaman muka dari kitab “Tashîlul Masâlik” yang merupakan terjemah dan penjelasan (syarh) berbahasa Sunda atas nazham al-Khullâshah atau Alfiyyah Ibn Mâlik, puisi seribu bait yang menghimpun teori ilmu gramatika Arab secara lengkap dan sangat populer keberadaannya.

Pengarang kitab “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” yang berbahasa Sunda beraksara Arab (pegon) ini adalah Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan dari Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi. Saya mendapatkan kitab ini di perpustakaan keluarga di Mirat Majalengka, milik adik saya al-Fadhil A. Gumilar Irfanullah, yang merupakan koleksi beliau saat dulu belajar di Pesantren Bait al-Arqom, Bandung.

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda

Dalam lembaran sejarah keilmuan Islam, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik demikian populer dan melegenda. Alfiyyah Ibnu Mâlik adalah salah satu pusaka dan referensi ilmu Nahwu-Sharaf (gramatika-morfologi Arab) yang paling pucuk. Pengarangnya, Ibnu Malik, dinobatkan sebagai Tâj ‘Ulamâ an-Nuhât, Mahkota Ulama Nahwu.

Belajar Muhammadiyah

Semenjak masa ditulisnya hingga masa sekarang, kitab tersebut banyak dikaji dan dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab, baik di Timur atau pun Barat. Di kalangan akademisi Barat, kitab ini terkenal dengan sebutan The Thousand Verses. Puluhan syarah (komentar atau penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang, komentar atas komentar), dan ikhtishâr (ringkasan) telah lahir dari kitab berisi seribu bait nazmah (puisi) tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Nah, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik ini kemudian diterjemah dan disyarah dalam bahasa Sunda oleh Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan Kongsi (Sukabumi). Terjemah dan syarah ini terdiri dari dua volume (juz). Belum diketahui tahun berapa karya ini diselesaikan. Edisi pertama versi cetakan kitab ini dikeluarkan oleh “Maktabah Anda” Sukabumi (tanpa tahun), lalu dicetak ulang oleh “Maktabah al-Haram Carain” Jeddah-Singapura-Indonesia (juga tanpa tahun).

Tentang sosok penulis syarah ini, yaitu Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan, juga belum banyak saya dapatkan data dan informasinya. Pada kitab tersebut beliau menuliskan berasal dari Kampung Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tertulis dalam pembukaan kitab;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Diterjemahkeun kana Basa Sunda ku jalma anu doip tur bodo Muhammad Abdullah bin Hasan urang kampong Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Kalayan dingaranan ieu tarhamah ku “Tashil-ul Masalik fi Tarjamah Alfiyyah Ibnu Malik”).

Saat ini, Desa Caringin sudah menjadi kecamatan tersendiri yang merupakan pengembangan dari Kecamatan Cibadak. Saya pun mencoba menelusuri informasi keberadaan beliau dengan pergi ke Caringin, Sukabumi, yang juga kampung mertua saya.

Tak jauh dari Caringin, yaitu di Desa Babakan Tipar, Cicantayan, Sukabumi, ada sebuah pesantren salaf bernama “as-Salafiyah II”. Pengasuh pesantren ini, yaitu Ajengan KH Syihabuddin, adalah kawan dekat sang pensyarah. Diceritakan oleh istri beliau, bahwa Ajengan KH Syihabuddin dan Ajengan Muhammad Abdullah dulu sama-sama belajar di Pesantren Cibeureum, Sukabumi, pada KH Syuja’i.

KH Syuja’i Cibeureum adalah sosok yang terkenal sebagai pakar ilmu alat (nahwu) di Tatar Sunda. Salah satu kitab yang sering beliau bacakan dan ajarkan adalah Alfiyyah Ibnu Malik. Nah, keterangan yang diberikan oleh Ajengan KH Syuja’i itulah yang kemudian dirangkum oleh Ajengan Muhammad Abdullah dan dikembangkan menjadi “Tashîlul Masâlik fî Tarjamah wa Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” dalam Bahasa Sunda.

Selain merujuk dari keterangan KH Syuja’i Cibeureum, pensyarah juga merujuk pada kitab-kitab syarah Alfiyyah lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab, seperti Syarah Ibn ‘Aqîl, Audhah al-Masâlik, Tanwir al-Hawalik, Dahlân Alfiyyah, Hasyiah al-Khudhari, dan lain sebagainya.

Ajengan Muhammad Abdullah termasuk sosok “santri kelana”. Beliau tidak menetap di satu tempat. Bahkan hingga usia “matang” pun beliau masih tetap belajar dari pesantren ke pesantren. Meski lahir dan besar di Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi, beliau pernah berkarir di Pesantren Babakan Tipar bersama KH Syihabuddin, lalu pindah ke Cisaat, lalu pindah lagi ke Cikidang. Di sanalah beliau sempat membuka pesantren hingga wafat.

Selain Ajengan Muhammad Abdullah Kongsi (Sukabumi), terdapat juga beberapa ulama Nusantara lainnya yang menulis teremah dan syarah atas nazham “Alfiyyah Ibn Mâlik”, di antaranya adalah KH Bisri Musthofa (Rembang, Jawa Tengah, ayahanda dari KH Musthofa Bisri atau Gus Mus), yang menerjemahkan dan mensyarah Alfiyyah dalam bahasa Jawa (beraksara Arab Pegon) dan diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus pada tahun 1960-an.

Terdapat pula KH Abul Fadhol (Senori, Tuban), yang menulis syarah Alfiyyah dalam bahasa Arab, berjudul “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik”. Judul ini sama dengan yang dipakai oleh Ajengan Muhammad Abdullah Sukabumi. Syarah milik KH Abdul Fadhol Senori ditulis dalam bahasa Arab yang sangat bagus dan sempurna, juga dengan kulaitas syarah yang sangat luar biasa. Saat ini syarah tersebut dipelajari di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya adalah Pesantren Sarang Rembang (Jawa Tengah) dan Pesantren Mamba’us Sholihin Gresik (Jawa Timur). (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Bahtsul Masail, Ahlussunnah Belajar Muhammadiyah

Tiga Santri Aswaja Mlangi Studi Banding ke Amerika

Sleman, Belajar Muhammadiyah. Tiga santri Aswaja Nusantara Mlangi dinyatakan lolos tes seleksi untuk mengikuti Indonesia-America Youth Leadership Program. Bersama 17 pelajar lain, mereka akan mengikuti pelatihan selama sebulan penuh di George Mason University.

Tiga Santri Aswaja Mlangi Studi Banding ke Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Santri Aswaja Mlangi Studi Banding ke Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Santri Aswaja Mlangi Studi Banding ke Amerika

Siti Khoiriyah, Arbah Muhammad Imam Yahya, dan Miftahur Rahman akan berangkat bersama 6 pelajar asal Yogyakarta ke Amerika akhir bulan ini setelah mengatasi ratusan siswa dan santri asal Yogyakarta, Solo, dan Bali yang turut dalam seleksi itu.

Selain mereka, sebanyak 5 pelajar dari Solo dan 6 dari Bali juga dinyatakan lolos tes seleksi. “Rasanya senang, kaget, dan seperti tidak percaya,” ujar ketiganya saat ditemui Belajar Muhammadiyah di pesantren Aswaja Nusantara Mlangi, Sleman, Senin (19/5) malam.

Belajar Muhammadiyah

Siti Khoiriyah mengatakan santri jangan takut bermimpi. “Di desa saya, orang ke luar negeri itu jadi TKI. Sekarang saya ingin membuktikan bahwa ke luar negeri tidak hanya jadi TKI,” kata gadis asal Indramayu.

Belajar Muhammadiyah

Pimpinan pesantren Aswaja Nusantara Kiai Muhammad Mustafid menyatakan dukungan kepada santrinya itu. “Ini merupakan cara mereka agar lebih memahami realitas global yang berpengaruh terhadap Indonesia,” kata Kiai Mustafid. (Dwi Khoirotun Nisa’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Ahlussunnah, Santri Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock