Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Belajar Muhammadiyah

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Belajar Muhammadiyah

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri

Cianjur, Belajar Muhammadiyah. Pondok Pesantren Mazroatul Ulum, Citiis, Pagelaran, Kabupaten Cianjur memperingati haul pendiri pesantren, KH Asyari yang ke-41 dan KH Saefullah ke-15 pada Selasa (15/9) atau 1 Dzulhijah 1436 H.

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Mazroatul Ulum Gelar Haul Pendiri

Menurut Pesantren Mazroatul Ulum KHAsep Ismail tiga hari sebelum haul digelar, para santri membaca Al-Quran siang-malam di makam keluarga. Mereka dibagi ke dalam beberapa regu. Setiap regu terdiri dari 40 orang dengan jatah 2 jam.

Acara yang dihadiri oleh bupati Cianjur, H. Cecep Mochtar Sholeh dan sekitar 5000+ jemaah terdiri dari santri, alumni, dan masyarakat.

Belajar Muhammadiyah

Pesantren didirikan pada tahun 1918 KH Asary. Setelah dia wafat, dilanjutkan putra bungsunya, KH Saepullah yang wafat pada tahun 2000. Kemudian kini dilanjutkan KH Asep Ismail.

Memasuki usia ke-97, pesantren tersebut memiliki 500 santri putra/putri dengan fasilitas lembaga formal MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah). (Ali Roswan Fauzi/Abdullah Alawi)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Hikmah, Internasional Belajar Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota

Semarang, Belajar Muhammadiyah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengurus Nasional CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) pada 2016 ini kembali membuka layanan posko mudik di 3 kota, yakni Semarang, Pasuruan dan Makassar yang berlangsung tanggal 1-4 Juli 2016.

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri CSSMoRA Siap Layani Pemudik di 3 Kota

Adapun lokasinya, pertama di depan Masjid Jami’ Baitul Izzah, Ngilir Terboyo Wetan, Genuk, Semarang; depan Masjid Muhammad Cheng Ho, Petungsari, Pandaan, Pasuruan; depan Masjid Raya Makassar.

Sementara fasilitas yang disediakan oleh organisasi mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) ini di antaranya, cek kesehatan, tempat istirahat, konsultasi pendidikan perguruan tinggi dan pondok pesantren, wifi area, pembagian takjil berbuka dan hidangan sahur, dan lain-lain. Semua fasilitas diberikan secara gratis.

Menurut Ketua Umum CSSMoRA Nasional Muhammad Zidni Nafi, dari tahun ke tahun pelayanan posko mudik lebaran selalu dibuka lantaran kesadaran bersama dari anggota CSSMoRA untuk ikut berkontribusi dalam melancarkan tradisi mudik masyarakat.

"Ini bagian dari pelayanan serta pengabdian santri kepada masyarakat, sekaligus mempraktikkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi," kata Zidni melalui pers rilisnya, Kamis (30/6).

Belajar Muhammadiyah

"Apalagi ada ratusan santri anggota CSSMoRA yang masih studi di bidang kesehatan, kedokteran, teknologi, dan lain-lain, sehingga sedikit banyak dapat diamalkan untuk melayani pemudik dan masyarakat sekitar lokasi posko," tambahnya.

Zidni menghimbau kepada masyarakat atau pemudik yang melewati ketiga lokasi posko tersebut untuk bisa mengunjungi stand posko yang dibuka oleh santri-santri CSSMoRA.

"Kami siap untuk melayani. Semoga berawal dari langkah kecil ini, banyak dari kalangan santri muda semakin memperluas jaringan pengabdiannya untuk kemaslahatan masyarakat luas," pungkas santri asal Kudus yang sedang menempuh studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Internasional, Quote Belajar Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Probolinggo, Belajar Muhammadiyah. Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (14/10) siang, menggelar kuliah tamu dengan tema “Perguruan Tinggi Membangun Desa, Mewujudkan Pengelolaan Dana Desa Yang Transparan dan Akuntabel”.

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen dari tiga perguruan tinggi Pondok Pesantren Nurul Jadid (IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid) Paiton ini juga dihadiri oleh Ketua Satuan Petugas (Satgas) Dana Desa (DD) yang juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto.

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibit Samad Rianto Ajak Mahasiswa Awasi Dana Desa

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid yang juga Ketua Biro Dikti Pesantren Nurul Jadid KH Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tujuan dibentuknya Satgas Dana Desa. Yaitu bukan untuk menangkap kepala desa akan tetapi membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan Dana Desa.

“Memberikan wawasan kepada mahasiswa dan civitas pesantren tentang peran Satgas Dana Desa dalam membantu mengevaluasi regulasi terkait Dana Desa, sosialisasi dan advokasi, monitoring dan evaluasi, harmonisasi hubungan antar lembaga serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya penyimpangan penggunaan Dana Desa,” katanya.

Menurut Kiai Hamid, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan ruang kepada mahasiswa dan civitas pesantren untuk memberikan dukungan kepada Satgas Dana Desa dalam mengawal pengelolaan  dan penggunaan Dana Desa. Sebagai bentuk pelibatan perguruan tinggi berbasis pesantren dalam membantu Satgas Dana Desa pada pengelolaan dan penggunaan Dana Desa yang transparan dan akuntabel.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui kuliah tami ini diharapkan menggugah kesadaran mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan yang transparan dan akuntabel tanpa korupsi. Sekaligus mensinergikan antara peran perguruan tinggi berbasis pesantren dengan Satgas Dana Desa dalam mencegah tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” tegasnya.

Sementara Ketua Satgas Dana Desa Bibit Samad Rianto meminta para mahasiswa untuk mengawasi pemanfaatan DD yang rawan menjadi lumbung para koruptor. “Kegiatan ini bertujuan sebagai edukasi bagi mahasiswa untuk memerangi penyalahgunaan DD sejak dini,” katanya.

Menurut Bibit, dari penelusuran Satgas DD selama 6 bulan terakhir, penyalahgunaan DD cenderung semakin meningkat. “Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus operasi tangkap tangan yang dilakukan satgas maupun KPK,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Bibit mengharapkan agar para mahasiswa dan civitas akademika turut mengawasi penggunaan DD. Pasalnya, peranan dunia pendidikan sangat penting dalam mencegah korupsi DD. “Mahasiswa dan masyarakat segera melapor ke satgas jika menemukan penyalah gunaan DD. Hanya saja, laporan ini harus disertai bukti valid, bukan sekadar surat kaleng,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, PonPes, Ulama Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag mengadakan penelitian tentang Peran Rohaniwan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia pada tahun 2016. 

Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, yang dilakukan di 7 lokasi, yakni: DKI Jakarta (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Jakarta); Jawa Barat (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Jawa Barat); Kota Malang (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Malang); Bali (Peran Rohaniwan Asing Hindu terhadap Kehidupan Keagamaan di Bali).

Lokasi berikutnya Kabupaten Sikka NTT (Peran Rohaniwan Asing Katolik terhadap Kehidupan Keagamaan di Kabupaten Sikka); Sulawesi Utara (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Sulawesi Utara); dan Kepulauan Riau (Peran Rohaniwan Asing Buddha terhadap Kehidupan Keagamaan di Provinsi Kepulauan Riau).

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Penelitian tersebut menghasilkan temuan-temuan:

Pertama, prosedur kedatangan rohaniwan asing Katolik di Kota Maumere belum sejalan dengan alur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karenanya data rohaniwan asing Katolik di keuskupan Maumere tidak sinkron dengan jumlah data yang dikeluarkan Ditjen Bimas Katolik dan Departemen Tenaga Gerejawi. 

Demikian pula di Bali, proses kedatangan rohaniwan Hindu hanya sebagian kecil yang melalui prosedur resmi, karena hanya sebagian kecil pula diantara mereka yang memahami peraturan keimigrasian. Di Kota Malang, tidak ada rohaniwan (Islam) asing yang benar-benar sebagai rohaniwan, kecuali petugas di Sudan Centre yang dimanfaatkan sebagai dosen dan sebagai rohaniwan. 

Belajar Muhammadiyah

Selain itu ada pula mahasiswa asing yang berperan sebagai rohaniwan. Sementara di Jawa Barat, peran rohaniwan asing Kristen tidak hanya terbatas di dalam gereja, tetapi meliputi kegiatan di luar gereja, seperti di yayasan pendidikan dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Meskipun eksistensi rohaniwan asing Kristen semakin berkurang dan perannya sudah banyak digantikan oleh rohaniwan lokal, bagi denominasi tertentu yang berpusat di luar negeri seperti Bala Keselematan dan Saksi-saksi Yehuwa peran rohaniwan asing belum tergantikan.

Kedua, rohaniawan asing Katolik berperan positif dan dapat menguntungkan generasi muda Katolik, karena selain meningkatkan kesadaran beragama juga meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di Menado rohaniwan asing Kristen dapat mebawa pencerahan bagi pendeta-pendeta lokal dan para jemaat.

Belajar Muhammadiyah

Di Malang, rohaniwan asing Islam dan berperan sebagai dosen bahasa Arab dari native speaker bisa dijadikan promosi dan dapat menaikan rating lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Ketiga, menurut pemuka agama setempat, pengaruh rohaniwan asing Kristen di Jawa Barat dalam kehidupan keagamaan masyarakat tidak terlalu tampak meskipun ada, karena peran rohaniwan asing cenderung ke dalam, sedangkan misi keluar lebih banyak diperankan oleh rohaniwan lokal.

Sedangkan peran rohaniwan Kristen di Menado cukup baik dalam membina calon pendeta dan menyiarkan agama di pedalaman kepada masyarakat yang belum beragama. Sedangkan rohaniwan asing Buddha di Kepulauan Riau yang datang secara legal dipandang positif terhadap kualitas keagamaan, meskipun mereka kurang menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku terutama berkaitan dengan kultur dan nilai-nilai setempat. 

Masuknya rohaniwan asing Buddha secara illegal belum begitu mencemaskan, meski mulai terlihat gejala-gejala munculnya ekslusifisme, hate speech, dan persaingan yang semakin menguat di antara kelompok-kelompok agama.

Berkenaan dengan peran rohaniwan asing Katolik di Maumere, sebagian besar tokoh agama dan tokoh masyarakat di luar penganut agama Katolik tidak mengetahui secara persis apa kegiatan yang dilakukan oleh para rohaniwan asing Katolik, karena kegiatan mereka hanya di lakukan di dalam.

Sebaliknya di Bali, kedatangan rohaniwan asing Hindu berdampak pada munculnya aliran baru yang menimbulkan pro dan kontra.

Di Kota Malang dosen asing Islam yang berperan sebagai rohaniwan, justru menjadi penceramah favorit, mereka berceramah sampai kabupaten lain. Di masa lalu pernah ada yang isi ceramahnya meresahkan masyarakat dan masih terkesan dalam memori kolektif sebagian pemuka agama Islam di sana.

Keempat, jamaah Tabligh dari luar negeri tidak memahami tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri Lembaga Keagamaan di Indonesia. Ketiadaan data yang akurat menyulitkan proses pengaturan dan pengawasan terhadap rohaniwan asing.

Peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan ketenagakerjaan asing memang telah ada baik berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Surat Keputusan Dirjen dan termasuk Peraturan Menteri Agama, namun peraturan Perundang-undangan ini belum spesifik mengatur soal tenaga kerja asing khusus bidang agama, maka diperlukan peraturan yang mengatur khusus tenaga kerja asing yang bergerak di bidang agama. 

Di Malang, dosen asing yang datang ke Kota Malang tidak disertai tembusan kepada kantor kemenag setempat dan instansi terkait, sehingga mereka tidak dapat dimonitoring.

Di Kepulauan Riau peraturan yang ada dipandang kurang sesuai dengan dinamika perkembangan jumlah rohaniwan dan permasalahannya yang memerlukan pelayanan yang cepat, efektif dan efisien, sehingga memberikan celah kepada semakin berkembangnya jumlah rahaniwan asing illegal dan mendatangkan berbagai problem di masyarakat. (Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Nasional, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Tak hanya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) pun turut memprotes langkah pemerintah yang akan meliburkan sejumlah sekolah di Bogor, Jawa Barat, dalam rangka menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ke Indonesia 20 Nopember Senin (20/11) mendatang.

“Ini (peliburan sekolah, Red) jelas merugikan anak-anak sekolah. Padahal kalau dilihat kaitannya, kedatangan Bush dan aktifitas di sekolah nyaris tidak ada hubungannya, walaupun alasannya demi keamanan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) IPPNU, Wafa Patria Umma kepada Belajar Muhammadiyah, di Jakarta, Rabu (8/11) malam.

Sebagaimana diberitakan situs ini, sedikitnya ada empat sekolah yang berada di dekat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor akan diliburkan demi keamanan dalam rangka menyambut orang nomer satu di negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, sekolah yang terletak di Jalan Juanda, yaitu SMPN 1 dan SMAN 1 juga akan diliburkan. Sekolah Regina Pacis yang lokasinya tepat di seberang pintu utama Istana Bogor pun bernasib sama.

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Hubungan Bush dengan Sekolah

Tak hanya itu. Selama Bush mengadakan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yuhoyono di Istana Bogor, jalan-jalan di seputar Istana Bogor ditutup selama 10 jam mulai pukul 10.00. Bahkan, para pedagang diusir dari tempat dagangannya karena alasan pengamanan. Kawasan itu mesti steril dari kesibukan lalu lalang kendaraan.

Pemerintah juga harus membangun setidaknya dua landasan helikopter (helipad) baru, yakni di lapangan Pusat Konservasi Tanaman (PKT) di Kebun Raya Bogor (KRB) dan di GOR Pajajaran. Helikopter Blackhawk yang membawa Bush akan mendarat di Kebun Raya, sedangkan mobilnya akan didaratkan dengan helikopter Cynnox di GOR Pajajaran.

Menurut Wafa, demikian panggilan akrab Wafa Patria Umma, langkah dan kebijakan pemerintah itu jelas berlebihan, apalagi sampai harus mengorbankan aktifitas belajar mengajar di sekolah. “Memperketat keamanan sih sah-sah saja. Itu bisa dipahami. Tapi kalau harus meliburkan aktifitas sejumlah sekolah, apa alasannya?” gugat Wafa. (rif)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Khutbah, News, Internasional Belajar Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren

Jember, Belajar Muhammadiyah



Apresiasi yang luar terhap santri disampaikan oleh Bupati Jember, Faida saat menjadi pembina Apel Santri di alun-alun Jember, Jumat (17/11). Menurutnya, santri merupakan bagian penting dan jumlah yang besar di Kabupaten Jember. 

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jember Sebut 3 Peranan Pesantren





Oleh karenanya, momentum Hari Santri Nasional, perlu dijadikan tonggak sejarah untuk mendorong santri dalam mengambil peran yang lebih masif di bumi Jember. 



Belajar Muhammadiyah



"Santri bagian penting di Kabupaten Jember. Kita sepakat bahwa membangun Jember tidak lepas dari membangun sumberdaya santri," ucapnya.

Belajar Muhammadiyah





Dalam kesempatan tersebut, Faida menyebut 3 peranan pesantren. Pertama adalah sebagai rumah santri, yaitu tempat belajar, tidak hanya tafaqquh fiddin. Tapi juga tempat belajar ilmu-ilmu yang lain. 





Dikatakannya, banyak lembaga yang menspesifikasikan dirinya sebagai tempat spesialis belajar hanya satu bidang ilmu. 





"Tapi pesantren adalah tempat belajar dan mendalami agama dan ilmu-ilmu lainnya. Jadi komplit," tuturnya.





Kedua, pesantren merupakan lembaga perjuangan. Adalah realitas yang tak terbantahkan bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan santri. 





Katanya, kalau dulu santri berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, tapi sekarang sebagai penjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 





"Sebagai benteng terakhir penjaga NKRI adalah pondok pesantren dan santri," lanjutnya.





Ketiga adalah sebagai lembaga pengabdian di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Ia mengajak masyarakat agar peringatan Hari Santri ini dijadikan momentum kebangkitan Jember sebagai kota santri. 





"Kebangkitan ekonomi kerakyatan akan dimulai dari kebangkitan ekonomi para santri di pondok-pondok pesantren," tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi).  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kyai, Internasional Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock