Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Bandung, Belajar Muhammadiyah. Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung, Basuki Suhardiman menilai, ide Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama merupakan peluang untuk menunjukkan jati diri bangsa.

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Sebab selama ini menurutnya, memang ada jenis keislaman yang secara unik dalam sejarah Islam di Indonesia. Dan jenis ini menurut Basuki bukan hal baru. Adapun guliran slogan Islam Nusantara itu dinilai bagian dari marketing, atau pemasaran gagasan pemikiran.

"Sebagai orang teknik yang sering menggali khazanah sejarah teknologi, Islam Nusantara itu cukup bagus untuk membangkitkan gairah generasi mengenal sejarah masa lalu. Sejarah Wali Songo misalnya bukan semata urusan dakwah dalam ruang lingkup seni dan akhlak saja, melainkan juga kaya akan legacy (warisan) ekonomi, teknologi, dan mesin tempur, "ujarnya kepada Belajar Muhammadiyah, Senin (29/8).

Belajar Muhammadiyah

Peneliti Comlabs ITB yang sering aktif terlibat diskusi di PWNU Jawa Barat itu menilai, bahwa kajian Islam Nusantara harus menukik pada histori teknologi karena sekarang bangsa kita sudah tertidur lama dalam urusan teknologi.

Belajar Muhammadiyah

"Ada rekam jejak dari sejarah jika sebuah bangsa tidak melakukan inovasi, tidak melakukan reengineering pasti akan mengalami keruntuhan karena kalah dalam kompetisi. Khilaffah Ottoman mundur akibat beku dalam sains dan teknologi. Majapahit bahkan runtuh karena tidak melakukan pembaharuan. Dan kejayaan Demak dengan Wali Songo-nya maju karena inovatif," paparnya.

Basuki melanjutkan, Wali Songo kreatif dalam urusan dakwah. Misalnya mengubah wayang golek menjadi wayang kulit sebagai siasat atau kompromi supaya kesenian bisa laras dengan doktrin fiqih. Kemudian Raden Rahmat Ngampel juga kreatif dalam membuat skema pertanian sehingga hasil panen di kawasan Jawa Timur lebih baik, di Cirebon Sunan Gunung Jati juga banyak melakukan terobosan seperti memasok sarana perdagangan dari pedalaman dibawa ke pelabuhan.

"Kita kaya akan sejarah.Cuma memang bangsa kita ini termasuk kategori kelas rendah dalam urusan baca, menempati level paling bawah setara dengan negara Zambia. Akibatnya kita menjadi semacam bangsa yang zero naratif nation," kritiknya.

Menurut Basuki, sebuah bangsa bisa maju ukuran umumnya bisa dilihat dari punya tradisi membaca, bagus dalam urusan matematika, dan cakap menguasai ilmu alam.

"Kalau membaca saja tidak pernah, bagaimana bisa maju urusan matematika dan ilmu alam?" Orang-orang NU punya tradisi membawa, karena itu gerakan membaca perlu digulirkan oleh PBNU, apalagi Ketua Umum PBNU-nya juga pinter sejarah," jelasnya.

Karena itu menurut pria asal Sidoarjo ini, gema Islam Nusantara yang paling mendasar adalah mengambil gerakan literasi, terutama sejarah, berlanjut pada pengembangan kesusastraan, lalu riset pada sains.

? "Ini kesempatan baik di mana ada ide besar yang dikembangkan oleh organisasi besar. Dulu kiai-kiai tradisional pun tergolong kreatif dalam menjawab persoalan masyarakat. Sekarang harus dilakukan," pesannya. (Yus Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Belajar Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Belajar Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

Belajar Muhammadiyah

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Belajar Muhammadiyah

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Syahrozad Nalfa Nadia (9) dan Avicenna Roghid Putra Sidik (6), dua siswa madrasah ini berhasil mencatatkan namanya dengan tinta emas pada ajang Asian Yout Robotic Olympiad (AYRO) 2016 yang digelar di Singapura. Di usianya yang belum sampai sepuluh tahun, kedua siswa Madrasah Pembangunan ini sudah mengukir prestasi bahkan pada ajang kompetisi yang diikuti oleh para siswa dari berbagai negara di ASEAN

Kompetisi robotik ini berlangsung dari tanggal 13-14 Maret 2016 kemarin. “Syahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik meraih Gold Prize medal brick Speed, Gold Prize Medal, Silver Prize Medals Maze Solving Junior, dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior,” terang ibunda mereka berdua, Himatul Laily Waisnaini, Selasa (15/03) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Juara Olimpiade Robot di Singapura

Laily mengaku kaget sekaligus bangga dengan prestasi yang diraih kedua anaknya. Menurut Laily, kebanggaannya semakin terasa karena dia merasa bahwa pilihan ? untuk menitipkan pendidikan ? anaknya di madrasah tidaklah keliru. Selain belajar agama, di madrasah anak-anaknya juga belajar dan dilatih ilmu sains dan teknologi.?

“Saya terharu, saya melihat langsung disana,” tururnya singkat, Selasa (15/03). Atas prestasi yang diraihnya, lanjut Laily, Ocha bahkan didaulat panitia membacakan puisi ? Dzikir karya D. Zawawi Imron pada acara penutupan ajang robotic tersebut. “Saat Ocha membaca puisi, suasana menjadi hening,” tukas Laily.

Selain Ocha dan Avicenna, Andi Faiz Naufal Zain yang mewakili Madrasah Pembangunan UIN Jakarta tampil di tim senior juga berhasil meraih Gold Prize Medal Robot Kreatif dan BPM Animal Robotic. ? Tim MTs Negeri Pamulang juga berhasil mengukir prestasi pada ajang lombat robot ini. ? Ibrahim dan Ridho berhasil meraih Gold Prize Medal Soccer Senior, sedangkan ? Nisa dan Nadya meraih Special Award Robot Kreatif dan Animasi. ? Siswa lainnya bernama Raka mendapat GPM Soccer Senior.

Belajar Muhammadiyah

Dari total 10 cabang yang dilombakan, siswa madrasah berhasil memborong 9 piala. Merekapun kembali ke Indonesia dengan status sebagai juara umum ? ajang kompetisi robot Internasional ? di Singapura. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, RMI NU, Meme Islam Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV

Pamekasan, Belajar Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan terus berinovasi dalam menguatkan spirit dakwah. Selain menghidupkan kajian sosial-keagamaan hingga ke tingkat ranting, organisasi yang diketuai KH Taufik Hasyim tersebut melakukan terobosan dalam berdakwah.

Terobosan tersebut berupa realisasi program Molang Kètab dengan menggandeng stasiun televisi setempat, Hikmah TV. Itu sudah berlangsung berbulan-bulan.

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirkan Program Ngaji Kitab, PCNU Pamekasan Gandeng Hikmah TV

Teknisnya, Kiai Taufik beserta pengurus PCNU lainnya yang berbakat sebagai penceramah tampil secara terjadwal tiap Jumat di Hikmah TV. Mereka memberikan siraman rohani dengan berpijak pada kitab kuning, meliputi tafsir, fikih, tauhid, dan sejenisnya.

Belajar Muhammadiyah

"Programnya bernama Molang Kètab. Itu bahasa Madura yang artinya pengajian kitab," kata Kiai Taufik.

Jumat (17/11) siang, berlangsung proses recording program Molang Ketab atas kerja sama antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan dan Hikmah TV. Kegiatan tersebut diikuti oleh Mahasiswa Prodi Syariah Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan di ruang kuliah D3 Farmasi Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan.

"Ini program yang sangat bagus. Mahasiswa sangat antusias. Itu karena memanfaatkan media elektronik berupa televisi sehingga ada kesan yang sangat menawan," terang K Farid, salah satu penanggung jawab program Molang Kètab sekaligus Dosen UIM Pamekasan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) menyayangkan tidak disediakannya waktu khusus kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk memberikan sambutan di acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pada Senin 16 Juli 2012 malam.

Ketiadaan sambutan dari Ketua Umum PBNU ini tentu saja tidak sesuai dengan tradisi yang berlaku di lingkungan NU. Karena, bagaimana pun juga, Ketua Umum PBNU sudah semestinya memberikan sambutan dalam acara yang digelar badan otonom NU, seperti GP Ansor. 

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Sambutan Ketum, PBNU Kecewa Protokoler Istana

Ironisnya, ketiadaan waktu khusus bagi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk memberikan sambutan lantaran kehendak dari pihak luar, yaitu protokoler Istana. “Acara tadi malam lancar, bagus, dan hebat. Cuma kurangnya tidak ada sambutan Ketua Umum PBNU dan itu menyalahi tradisi NU,” ujar Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf di Jakarta, Selasa (17/7/202). 

Belajar Muhammadiyah

Acara puncak peringatan hari lahir ke-78 Gerakan Pemuda Ansor di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, tadi malam, memang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.

Belajar Muhammadiyah

Selain itu, hadir pula para pengurus PBNU, PWNU, PAC, serta puluhan ribu Banser. Namun, ada yang janggal di tengah-tengah gegap gempitanya acara, yaitu ketiadaan sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Setelah mengetahui tidak ada waktu khusus untuk Ketua Umum PBNU, Slamet mencoba mencari konfirmasi ke pengurus PBNU, panitia acara, serta pengurus GP Ansor. Hasilnya, KH Said Aqil Siroj dinyatakan tidak bisa memberikan sambutan karena kehendak dari pihak protokoler Istana.

“Saya sudah mengecek ke teman-teman, ya memang mereka menyatakan semestinya harus ada, tapi ini kehendak dari protokol Istana. Ketua umum hadir di acara Banom NU yang bersifat nasional dan beliau hadir di situ, kenapa tidak diberi kesempatan untuk memberikan sambutan,” tanyanya.

Dengan adanya kejadian ini, Slamet berharap ke depan pihak protokoler Istana bisa lebih arif dengan menghormati tradisi NU serta standar operating prosedures (SOP) di suatu organisasi. Jangan sampai kehadiran Presiden justru mengurangi kearifan lokal serta tradisi yang ada.

“Harapan saya ke depan, sambutan atau amanat presiden jangan mengurangi standar yang biasa dilakukan di lingkungan NU. Presiden hadir di acara Banom NU atau di lingkungan NU adalah bagian dari keberadaan beliau di tengah-tengah rakyat, tapi jangan sampai keberadaan presiden kemudian mengurangi SOP dan tradisi di lingkungan NU, di mana Ketua Umum PBNU pasti memberikan sambutan,” tegasnya.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Temanggung, Belajar Muhammadiyah 

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Temanggung Ahmad Liwaul Khakim mengatakan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks, mengharuskan semua kader PMII melek literasi digital.

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Wajib Melek Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Wajib Melek Literasi Media

Hal itu ia ungkapkan saat MAPABA PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung, kemarin. Menurutnya, sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya siap memasuki segala medan, maka MAPABA menemui relevansi yang kuat dalam konteks ini.

"Tantangan kita sekarang tidak hanya paham dan aliran radikal yang digerakkan dalam bentuk nyata. Namun semua itu sudah bergeser di internet. Banyak grup, akun dan juga media-media daring mengatasnamakan NU, banom NU dan juga Lembaga di bawah NU. Maka kalau tidak melek media, kita akan tergerus pada penjajah di negeri yang mengklaim dirinya golongan Ahlussunnah wal-Jama’ah," tegas dia pada kegiatan yang berlangsung, Rabu (4/10).

Belajar Muhammadiyah

Ia berharap, kader PMII di wilayah Temanggung melek media dengan cara penguatan literasi. Bisa melalui training, diklat, atau belajar otodidak dan bersinergi dengan LTN NU yang fokus di masalah media.

Sementara itu, Ketua Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung M Fuad Latif menegaskan bahwa dalam pencapaian target ini Pengurus Komisariat PMII Trisula sudah menyiapkan beberapa agenda kerja yang tentunya mengarah pada beberapa aspek pengkaderan. 

Pendidikan jurnalistik menjadi salah satu agenda terdekat. Semua mafhum jika penguasaan media merupakan bagian strategis dalam menyebarkan virus perubahan.

"Kami ingin menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan dalam forum pra-MAPABA dan juga masukan dari beberapa mahasiswa baru yang sudah mulai melek terhadap pentingnya penguasaan media, baik media internet maupun media cetak," beber dia.

Selain itu budaya penguatan wacana juga menjadi keharusan untuk segera dilakukan. Forum-forum diskusi kecil perlu di tingkatkan intensitasnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu masih menjadi kebutuhan pokok dalam menghidupkan nuansa akademis di kampus. 

Belajar Muhammadiyah

"Tak ada kamus dalam diri mahasiswa STAINU Temanggung untuk menyatakan tidak dalam kerja-kerja komunal yang membutuhkan interaksi sosial antar manusia. Mahasiswa harus siap menyambut tongkat estafet pembangunan yang sewaktu-waktu diberikan generasi tua", lanjut mahasiswa Prodi PAI Semester VII ini. 

Selanjutnya, dia berharap bahwa agenda besar ini mendapat sambutan yang berarti dari semua unsur yang terkait dengan baik. Apalagi jika melihat saat ini STAINU Temanggung mempunyai dosen-dosen baru yang masih energik dan mempunyai idealisme yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi di Kabupaten Temanggung. (Ibda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Aswaja, AlaSantri, Kyai Belajar Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba di sebuah wilayah membuat para relawan dan lembaga yang bergerak di bidang bencana harus mampu mengantisipasinya dengan baik, terutama dalam hal pertolongan pertama dan kebutuhan logistik para korban. Manajemen logistik yang bersifat insidentil kerap kali membuat penanganan bencana tidak berjalan dengan baik.

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Manajemen Logistik Bencana Harus Diperkuat Jaringan di Tingkat Lokal

Hal ini disampaikan Direktur HELP Logistics Regional Asia, Temmy Tanubrata, Kamis (11/8) saat ikut mendampingi 25 peserta Pelatihan Manajemen Logitik Kemanusiaan (Humanitarian Logistics Management) berkunjung ke gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta.?

Kegiatan ini dihelat Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) dengan menggandeng HELP Logistics, lembaga yang berada di bawah naungan Kuehne Foundation dan Lembaga Kajian Logistik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-Jumat (10-12/8) di Gedung PBNU ini membahas secara detail mengenai manajemen logistik secara praktik mulai dari pengadaan, pergudangan hingga penyaluran barang.

Menurut Temmy, salah satu kelemahan penanganan bencana di Indonesia pada umumnya kalau tidak soal keterlambatan pengiriman barang-barang bantuan, kelangkaan barang kebutuhan juga soal ketidaksesuaian antara barang yang dikirim dengan kebutuhan korban bencana saat itu. Sebab itu menurutnya, manajemen logistik harus diperkuat oleh jaringan-jaringan lokal di mana terjadi lokasi bencana.

Belajar Muhammadiyah

“Logistik bukan hanya persoalan distribusi barang kebutuhan, tetapi juga bagaimana seorang relawan atau lembaga bencana menyiapkan, menyimpan, merawat, hingga mengirimkan barang-barang tersebut. Agar penanganan bencana bisa berjalan dengan baik, harus memberdayakan jaringan lokal untuk kebutuhan menyimpan dan menyuplai barang,” papar pria lulusan Cranfield University UK ini.

Dalam pandangannya, LPBINU yang mempunyai pengurus hingga ke tingkat daerah bisa mulai menerapkan sistem manajemen tersebut. HELP Logistics yang dipimpinnya telah malang melintang memberikan bantuan, baik itu berupa pelatihan secara langsung kepada lembaga-lembaga dan para relawan maupun bantuan menyiapkan hingga mendistribusikan barang-barang kebutuhan bencana.?

“Hasil dari pelatihan ini, saya harapkan nantinya para peserta bisa memberikan pengalaman dan ilmunya kepada yang lain sehingga problem logistik bencana tidak terjadi di sana-sini ketika terjadi kasus,” ujar pria yang sudah 14 tahun menjadi aktivis penangulangan bencana di Indonesia, Timor Leste, Afghanistan, Pakistan, Rwanda, Afrika bagian selatan dan timur serta Italia ini.

HELP Logistics merupakan lembaga kemanusiaan yang bergerak dibidang logistik di bawah naungan Kuehne Foundation yang berbasis di Swiss, untuk HELP Logistics sendiri di Singapura. Selain bergerak di bidang logistik kemanusiaan, Kuehne Foundation juga bergerak di bidang pendidikan, dan sosial-budaya.?

Belajar Muhammadiyah

HELP Logistics juga salah satu program unggulan dari Kuehne Foundation yang berfokus kepada peningkatan kemampuan logistik dan rantai pasok berbagai lembaga kemanusiaan di seluruh dunia. Ikut memberikan input dalam kegiatan ini yaitu Prof. Senator Nur Bahagia selaku pimpinan dari Pusat Kajian Logistik dan Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung.?

Pelatihan di Jakarta ini diikuti oleh lebih dari 25 peserta, terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Cabang dan relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) di Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan serupa akan dilaksanakan di Semarang untuk peserta dari Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjelang akhir tahun ini. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi.?

Jawa Barat menempati peringkat pertama wilayah rawan bencana di Indonesia, yang selanjutnya diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Potensi bencana yang terdapat di wilayah-wilayah tersebut meliputi bencana geologi, vulkanologi, klimatologi, dan lingkungan. Selain itu, terdapat 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang juga berpotensi menimbulkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Kajian Islam Belajar Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Jombang, Belajar Muhammadiyah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa secara de facto KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Pahlawan Nasional. Pasalnya seluruh proses mulai dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan (TP2GP) maupun Dewan Gelar sudah selesai.

"Secara de fakto Gus Dur sudah ? pahlawan, ada kemasyhuran dan keluhuran yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid," ujarnya usai melakukan zaiarah di Makam KH Abdurrahman Wahid di Komplek Pesanren Tebuireng Jombang, Sabtu (7/11) ? siang.

Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos: Secara De Facto Gus Dur Sudah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos: Secara "De Facto" Gus Dur Sudah Pahlawan

Mensos Khofifah juga meyakinkan bahwa tidak ada polemik atau tarik-menarik terkait penganugerahan gelar pahlawan kepada Presiden RI ke-4 ini. Penganugerahan pahlawan kepada Gus Dur itu hanya menunggu waktu yang tepat.

"Seluruh proses untuk pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur sudah selesai. Namun dari catatan dewan gelar, nama Gus Dur diendapkan dulu. Sambil menunggu saat yang tepat," katanya menjelaskan. Anggota Tim Dewan Gelar di antaranya adalah Prof Jimly Asshiddiqy dan juga Prof Azzumardi Azra.

Masih menurut Khofifah, sosok Gus Gur memiliki kemasyhuran dan keluhuran dalam satu titik yang sama. Ada orang yang dapat kemasyhuran tetapi tidak dapat keluhuran, begitu pula sebaliknya. "Gus Dur mempunyai kemasyhuran dan keluhuran. Dan secara ? de fakto Gus Dur sudah pahlawan, tinggal menunggu saat yang tepat saja. Untuk tahun ini kan sudah selesai penganugerahan pahlawan kemarin," papar Ketua PP Muslimat NU ini.

Meski tidak secara tegas Mensos menyatakan, bahwa pengaugerahan pahlawan Gus Dur tidak bisa diberikan tahun 2015 ini. Namun Khofifah menyatakan bahwa tahun ini penganugerahannnya pahlawan sudah selesai diberikan kepada 5 orang pahlawan nasional oleh presiden Jokowi pada tanggal 5 November 2015 kemarin. "Dua di antaranya dari Jawa Timur, satu Bali, satu dari Jogja, dan satu lagi dari Sulawesi," bebernya.

Belajar Muhammadiyah

Dikatakan Mensos, jumlah Pahlawan Nasional selama ini sudah sebanyak 163 orang, dengan dianugerahkannya 5 pahlawan lagi yang telah dianugerai gelar pahlawan nasional maka jumlah pahlawan nasional kini menjadi 168 orang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Belajar Muhammadiyah

?

Foto: Mensos Khofifah Indar Parawansa (berbusana hijau) saat berziarah ke makam Gus Dur di Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Belajar Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Kansas City, Belajar Muhammadiyah
Menjalankan ibadah puasa di negara bagian Missouri, Amerika Serikat yang bertepatan dengan musim gugur 2004 relatif lebih ringan. Selain udara yang dingin, waktu berpuasanya relatif lebih singkat, karena siang hari yang lebih singkat dibanding malam yaitu imsak jatuh pukul 06.15 pagi dan Magrib datang pada pukul 18.35 sore.

Pada tahun ini Organisasi Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) agak terlambat mengumumkan terlihatnya hilal yang menandai kedatangan bulan Ramadhan. Pemberitahuan lewat telepon mengenai kepastian awal puasa itu diterima oleh komunitas Muslim di kota Kansas City pada Jumat (16/10) pukul 11 malam, sehingga kaum Muslim yang hendak berpuasa harus menyiapkan makanan untuk sahur dalam waktu sangat singkat.

Tarawih pertama pun baru diadakan pada malam kedua pada bulan Ramadhan. Seperti halnya mesjid-mesjid di Indonesia, pada hari-hari pertama, hampir seluruh mesjid di Amerika dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Biasanya jumlah jamaah akan berkurang pada pertengahan Ramadhan tetapi kembali ramai menjelang akhir bulan suci bagi umat Islam itu.

Mesjid yang ada di lingkungan "Islamic Center of Greater Kansas City" juga dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan sholat tarawih. Mereka umumnya warga Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center dengan berbagai macam latar belakang, budaya dan bahasa. Tetapi begitu Imam mengucapkan takbir tanda dimulainya sholat, semua perbedaan tersebut hilang, semua jamaah dengan khusyuk mengikuti semua gerakan sang Imam.

Pusat Islam Greater Kansas City memiliki tradisi unik setiap bulan Ramadhan. Selain menyediakan menu buka puasa dan sholat tarawih bersama, para pengurus mengundang seorang ulama hafiz Quran -biasanya dari Pakistan- untuk menjadi imam sholat tarawih maupun sholat lainnya seperti salat Jumat dan salat fardhu.

Menurut sesepuh Islamic Center of Greater Kansas City Adnan Bayedid, tujuan mendatangkan ulama yang hapal Al Quran adalah untuk mendirikan sholat tarawih dengan 30 juz Al Quran selama satu bulan penuh. Komunitas Muslim di Kansas City, juga dikota-kota lain di AS, berniat melakukan tradisi salat tarawih seperti yang berlangsung di Mekkah maupun Madinah. Sayangnya, kebanyakan jamaah telah meninggalkan Mesjid saat Imam menyelesaikan rakaat ke delapan dari duapuluh rakaat yang dilakukan.

Hal itu terjadi karena malam telah larut, mengingat sholat tarawih baru dimulai pada pukul 20.30 dan untuk menyelesaikan delapan rakaat diperlukan waktu selama dua jam, padahal kebanyakan jamaah harus masuk kerja pada pagi harinya. Tentu saja di AS tidak ada pengurangan jam kerja selama Ramadhan sebagaimana yang dinikmati para pekerja di Indonesia atau negara Muslim lainnya. "Tidak ada pennyesuaian waktu di tempat kerja sehingga kami yang harus mengaturnya sendiri," kata Asma Rehman, seorang jamaah Mesjid yang sehari-hari bekerja pada kantor Departemen Kesehatan setempat.

Meski begitu, Asma mengatakan bahwa bulan Ramadhan baginya adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan waktu untuk memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat."Di Amerika, kita seperti dikejar-kejar waktu, tetapi pada bulan Ramadhan kita dapat mengabaikannnya, menyerahkan waktu kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan," ujarnya.

Sejumlah Islamic Center lain di AS juga mengagendakan berbagai kegiatan yang bertujuan memperkenalkan bulan Ramadhan kepada komunitas non Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center. Islamic Center of Lawrence, misalnya, pada Minggu lalu, mengadakan open house dengan mengundang anggota masyarakat non Muslim untuk menghadiri acara buka puasa bersama.

Dalam kesempatan itu Moussa Elbayoumy, direktur the Islamic Center of Lawrence menjelaskan kepada para tamu mengenai makna puasa, tata cara pelaksanaan ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Lebih dalam, semangat yang ingin dibawa Muslim Amerika selama bulan Ramadhan bukan hanya melaksanakan ibadah wajib ini, tetapi juga terpanggil untuk melakukan berbagai upaya untuk "memerangi" pandangan maupun penilaian negatif terhadap Islam.

Mesjid-mesjid, Islamic Center dan sekolah Islam dihimbau untuk meningkatkan usaha mengikis citra negatif terhadap Muslim yang meningkat di AS setelah tragedi September 11. Sebuah survei menemukan bahwa satu dari empat orang Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Muslim. Mayoritas orang Amerika setuju dengan pernyataan bahwa orang Islam mengajarkan anak-anak mereka kebencian dan orang Islam beranggapan kehidupan tanpa Islam berkurang maknanya. Temuan survei itu menimbulkan kekecewaan di kalangan komunitas Muslim.

"Saya mengetahui ada persepsi negatif dan sentimen anti-Muslim di negeri ini, tetapi saya terkejut dengan hasil survei tersebut,&Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Habib, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Sabtu, 23 Desember 2017

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Kementerian Agama akan kembali menggelar  Pekan Olahraga Seni Pesantren Nasional (Pospenas). Kali ini, gelaran Pospenas yang ke-7 ini akan diselenggarakan di Provinsi Banten. Proses persiapan terus dilakukan dan sampai saat ini telah mencapai 60–70%.

Hal ini diketahui saat Rapat Koordinasi Pospenas, di Ruang Sidang Setjen Kementerian Agama, Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (07/03) sore. Hadir dalam rapat tersebut, perwakilan dari Kemenag Pusat yang dipimpin Direktur PD Pontren yang juga Ketua I Panjatapnas Pospenas, Mohsen, Kakanwil Kemenag Banten, Agus Salim, Perwakilan dari Kemenko PMK, Kemenpora, Kemendikbud, Kemenpar, Kemendagri, Pemrov Banten dan lain sebagainya. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Popenas sendiri disepakai digelar pada 22–28 Oktober 2016 mendatang. Masih didiskusikan, tentang Maskot Pospenas. Sementara, ada usulan Maskot diberi nama Si Udin, yang merupakan kependekan dari Santi Indoensia Ulet Dedikatif Integritas dan Nasionalis.

Sebelumnya, Sekjen Nur Syam menyatakan, Pospenas diadakan bertujuan untuk membina para santri terutama yang ada di pondok pesantren untuk menggali potensi di bidang olahraga dan seni. “Yang terpenting adalah meningkatkan ukhuwah islamiyah di kalangan santri, serta meningkatkan budaya berolahraga dan seni yang bernuansa islami,” terang Sekjen.

Selain itu, Pospenas juga digelar untuk memberikan  apresiasi dan mengembangkan khazanah budaya bangsa. “Pospenas ini adalah salah atu bagian dari membangun manusia yang beriman dan bertakwa, sehat jasmani dan rohani, berkualitas unggul, sportif, dan berdaya saing tinggi,” terangnya.

Belajar Muhammadiyah

Sementara itu, Gubernur Banten Rano Karno beberapa waktu lalu juga berjanji, Banten siap menjadi tuan rumah yang sukses. Baik sukses pelaksanaan, sukses prestasi, sukses ekonomi maupun administrasi. 

Dalam Pospenas VII ini kali, akan mempertandingkan 11 cabang olahraga, yakni atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, futsal, sepak takraw, tenis meja, pencak silat, senam santri, dan panahan. Sementara 12 cabang seni yakni kasidah, hadrah, stand up comedy, pidato tiga bahasa, seni lukis islami, cipta puisi, kaligrafi hiasan mushaf Alquran, kriya, fragmen, pakeraf, dan fotografi Islam. Red: Mukafi Niam

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo

Sukoharjo, Belajar Muhammadiyah

Rangkaian kegiatan menyambut momentum hari lahir ke-61 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan hari lahir ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Sukoharjo, Jawa Tengah, rencananya akan ditutup dengan kegiatan sosial donor darah, Ahad (10/4) mendatang.

“Insyallah penutupan harlah, kita akan mengadakan kegiatan donor darah,” terang Luffi, Koordinator Departemen Jaringan Komunikasi Informatika IPPNU Sukoharjo, Jumat (1/4) lalu.

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo

Luffi menjelaskan, sebelumnya rangkaian kegiatan peringatan harlah sudah terlaksana, 27 Maret lalu, dengan diadakannya acara pengajian dan sarasehan di Madrasah Sedahromo Lor Kartasura.

Belajar Muhammadiyah

Pada acara yang bertemakan “Pelajar NU Bersinergi Membangun Negeri” tersebut juga dilengkapi dengan acara doa bersama menjelang Ujian Nasional (UN), sebagai bentuk perhatian IPNU-IPPNU kepada para pelajar. Acara ini dihadiri puluhan kader IPNU-IPPNU, pengurus NU dan banom NU setempat, serta para pelajar dan santri.

Sementara itu, pada momentum harlah IPNU-IPPNU, Ketua PC IPPNU Sukoharjo Nindya Aswaranti Seysar memiliki sejumlah harapan khusus. Gadis yang akrab disapa Nindy tersebut ingin IPPNU di daerah Sukoharjo lebih berkembang dan bergeliat.

Belajar Muhammadiyah

Saat ini, papar Nindy, dari 12 Kecamatan di Sukoharjo baru ada 1 kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang sudah terbentuk, yakni di Kecamatan Kartasura. “Harapannya segera terbentuk semua PAC di Kabupaten Sukoharjo,” ungkap Nindy. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Nuansa Duka Masih Terasa dalam Silaturahim Ulama dan Umaro di Rembang

Rembang, Belajar Muhammadiyah. Suasana duka masih terasa meski Nyai Hj Siti Fatma sudah usai dikebumikan. Hal itu terlihat dalam acara yang bertajuk "Silaturahmi Ulama dan Umaro" yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Rembang di pendopo rumah Dinas Bupati Rembang pada Jumat (1/7) sore menjelang buka puasa.

Acara yang mengundang seluruh perwakilan kiai di setiap desa seluruh Kabupaten Rembang itu nampak menyisakan suasana duka dikarenakan KH Maemun Zubair dan KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) tidak jadi hadir dikarenakan masih berduka atas wafatnya Nyai Hj Siti Fatma istri Gus Mus.

Nuansa Duka Masih Terasa dalam Silaturahim Ulama dan Umaro di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Nuansa Duka Masih Terasa dalam Silaturahim Ulama dan Umaro di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Nuansa Duka Masih Terasa dalam Silaturahim Ulama dan Umaro di Rembang

Acara yang digadang dapat memberikan pembangunan moral di Kabupaten Rembang itu, nampak kurang sempurna tanpa kehadiran dua ulama kharismatik itu. Dalam sambutanya, Bupati Rembang juga menyampaikan belasungkawa dan menghadiahkan untaian doa kepada almarhumah Nyai Musthofa Bisri.

Dalam sambutanya mengajak kepada segenap kiai yang hadir untuk bersama memberikan sumbangsih terhadap pembangunan di Kabupaten Rembang, yang sedang mengalami krisis moral. Ia beranggapan satu-satunya yang bisa memberikan sumbangsih di bidang ahlak adalah para ulama dan kiai.

"Pada pagi hari di bulan Ramadan Satpol PP mesih menemukan pasangan berselingkuh di siang hari di beberapa hotel. Belum lagi dalam satu bulan Ramadan ini 70 pelayan kafe (PK) perempuan terjaring razia sedang memberikan pelayanan plus-plus," ujar Bupati Hafidz.

Belajar Muhammadiyah

Beberapa waktu lalu, Satpol PP menjaring pasangan mesum di sejumlah hotel yang ada di Kabupaten Rembang, satu diantaranya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan seorang anggota polisi yang kepergok sedang berduaan di siang bulan Ramadan.

Dengan adanya kasus ini Hafidz mengajak kepada para tokoh agama untuk ikut andil memberikan sumbangsih di bidang moral. Dalam kesempatan itu nampak hadir Ketua PCNU Rembang KH Ahmad Sunarto dan Ketua PCNU Lasem KH Shalahudin Fattawi dan sejumlah pengurus hariannya.(Ahmad Asmui/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag mengadakan penelitian tentang Peran Rohaniwan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia pada tahun 2016. 

Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, yang dilakukan di 7 lokasi, yakni: DKI Jakarta (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Jakarta); Jawa Barat (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Jawa Barat); Kota Malang (Peran Rohaniwan Asing Islam terhadap Kehidupan Keagamaan di Malang); Bali (Peran Rohaniwan Asing Hindu terhadap Kehidupan Keagamaan di Bali).

Lokasi berikutnya Kabupaten Sikka NTT (Peran Rohaniwan Asing Katolik terhadap Kehidupan Keagamaan di Kabupaten Sikka); Sulawesi Utara (Peran Rohaniwan Asing Kristen terhadap Kehidupan Keagamaan di Sulawesi Utara); dan Kepulauan Riau (Peran Rohaniwan Asing Buddha terhadap Kehidupan Keagamaan di Provinsi Kepulauan Riau).

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Rohaniawan Asing terhadap Perkembangan Kehidupan Keagamaan di Indonesia

Penelitian tersebut menghasilkan temuan-temuan:

Pertama, prosedur kedatangan rohaniwan asing Katolik di Kota Maumere belum sejalan dengan alur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karenanya data rohaniwan asing Katolik di keuskupan Maumere tidak sinkron dengan jumlah data yang dikeluarkan Ditjen Bimas Katolik dan Departemen Tenaga Gerejawi. 

Demikian pula di Bali, proses kedatangan rohaniwan Hindu hanya sebagian kecil yang melalui prosedur resmi, karena hanya sebagian kecil pula diantara mereka yang memahami peraturan keimigrasian. Di Kota Malang, tidak ada rohaniwan (Islam) asing yang benar-benar sebagai rohaniwan, kecuali petugas di Sudan Centre yang dimanfaatkan sebagai dosen dan sebagai rohaniwan. 

Belajar Muhammadiyah

Selain itu ada pula mahasiswa asing yang berperan sebagai rohaniwan. Sementara di Jawa Barat, peran rohaniwan asing Kristen tidak hanya terbatas di dalam gereja, tetapi meliputi kegiatan di luar gereja, seperti di yayasan pendidikan dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Meskipun eksistensi rohaniwan asing Kristen semakin berkurang dan perannya sudah banyak digantikan oleh rohaniwan lokal, bagi denominasi tertentu yang berpusat di luar negeri seperti Bala Keselematan dan Saksi-saksi Yehuwa peran rohaniwan asing belum tergantikan.

Kedua, rohaniawan asing Katolik berperan positif dan dapat menguntungkan generasi muda Katolik, karena selain meningkatkan kesadaran beragama juga meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di Menado rohaniwan asing Kristen dapat mebawa pencerahan bagi pendeta-pendeta lokal dan para jemaat.

Belajar Muhammadiyah

Di Malang, rohaniwan asing Islam dan berperan sebagai dosen bahasa Arab dari native speaker bisa dijadikan promosi dan dapat menaikan rating lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Ketiga, menurut pemuka agama setempat, pengaruh rohaniwan asing Kristen di Jawa Barat dalam kehidupan keagamaan masyarakat tidak terlalu tampak meskipun ada, karena peran rohaniwan asing cenderung ke dalam, sedangkan misi keluar lebih banyak diperankan oleh rohaniwan lokal.

Sedangkan peran rohaniwan Kristen di Menado cukup baik dalam membina calon pendeta dan menyiarkan agama di pedalaman kepada masyarakat yang belum beragama. Sedangkan rohaniwan asing Buddha di Kepulauan Riau yang datang secara legal dipandang positif terhadap kualitas keagamaan, meskipun mereka kurang menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku terutama berkaitan dengan kultur dan nilai-nilai setempat. 

Masuknya rohaniwan asing Buddha secara illegal belum begitu mencemaskan, meski mulai terlihat gejala-gejala munculnya ekslusifisme, hate speech, dan persaingan yang semakin menguat di antara kelompok-kelompok agama.

Berkenaan dengan peran rohaniwan asing Katolik di Maumere, sebagian besar tokoh agama dan tokoh masyarakat di luar penganut agama Katolik tidak mengetahui secara persis apa kegiatan yang dilakukan oleh para rohaniwan asing Katolik, karena kegiatan mereka hanya di lakukan di dalam.

Sebaliknya di Bali, kedatangan rohaniwan asing Hindu berdampak pada munculnya aliran baru yang menimbulkan pro dan kontra.

Di Kota Malang dosen asing Islam yang berperan sebagai rohaniwan, justru menjadi penceramah favorit, mereka berceramah sampai kabupaten lain. Di masa lalu pernah ada yang isi ceramahnya meresahkan masyarakat dan masih terkesan dalam memori kolektif sebagian pemuka agama Islam di sana.

Keempat, jamaah Tabligh dari luar negeri tidak memahami tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri Lembaga Keagamaan di Indonesia. Ketiadaan data yang akurat menyulitkan proses pengaturan dan pengawasan terhadap rohaniwan asing.

Peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan ketenagakerjaan asing memang telah ada baik berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Surat Keputusan Dirjen dan termasuk Peraturan Menteri Agama, namun peraturan Perundang-undangan ini belum spesifik mengatur soal tenaga kerja asing khusus bidang agama, maka diperlukan peraturan yang mengatur khusus tenaga kerja asing yang bergerak di bidang agama. 

Di Malang, dosen asing yang datang ke Kota Malang tidak disertai tembusan kepada kantor kemenag setempat dan instansi terkait, sehingga mereka tidak dapat dimonitoring.

Di Kepulauan Riau peraturan yang ada dipandang kurang sesuai dengan dinamika perkembangan jumlah rohaniwan dan permasalahannya yang memerlukan pelayanan yang cepat, efektif dan efisien, sehingga memberikan celah kepada semakin berkembangnya jumlah rahaniwan asing illegal dan mendatangkan berbagai problem di masyarakat. (Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, Nasional, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis

Tarim, Belajar Muhammadiyah

Kamis (21/2), para pelajar dan mahasiswa delegasi dari berbagai lembaga di Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman tumpah ruah di auditorium Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman dalam rangka mengikuti Pelatihan Kader Dasar Kepemimpinan (PKDK).?

Acara yang diprakarsai Departemen Pendidikan dan Dakwah Dewan Pengurus Wilayah Hadhramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW Hadhramaut PPI Yaman) ini berjalan sukses.?

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis (Sumber Gambar : Nu Online)
PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis (Sumber Gambar : Nu Online)

PPI Yaman Gelar Pelatihan untuk Para Aktivis

Pelatihan ini, menurut Pandi Yusron, Ketua DPW Hadhramaut PPI Yaman, berangkat dari banyaknya organisasi yang bermunculan di kalangan pelajar dan mahasiswa di Yaman belakangan ini.?

Belajar Muhammadiyah

Organisasi tersebut antara lain Asosiasi Mahasiswa Indonesia Universitas Al-Ahgaff (AMI Al-Ahgaff), Wahdatul Iman (organisasi pelajar Indonesia di Darul Mustafa) Organisasi Penuntut Ilmu Sumatra? Indonesia (OPISI), Forum Silaturahmi Mahasiswa dan Santri Madura Yaman (Fosmaya), Komunitas Pelajar Jakarta (Kopaja), Paguyuban Pelajar Jawa Barat dan Banten Yaman (Pajajaran), Paguyuban Pelajar Jawa Tengah dan Jogjakarta (PPJJ), Keramat Jatim (organisasi pelajar asal Jawa Timur), Roudhotul Banjariyin (persatuan pelajar Banjarmasin Kalimantan Selatan), Forum Lingkar Pena Hadhramaut (FLP Hadhramaut) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman).?

“Dari sanalah perlu kiranya dibangun suatu pelatihan guna bekal organisasi yang solid dan profesional,” tutur mahasiswa Universitas Al-Ahgaff asal Pekalongan ini.

Belajar Muhammadiyah

Acara pelatihan dengan tema “Membangun Karakter Kepemimpinan yang Solid dan Profesional” ini merupakan yang pertama kali digelar oleh DPW Hadhramaut PPI Yaman dan sangat penting sebagai bekal dasar bagi para aktivis organisasi di Yaman.?

“Melihat maraknya organisasi yang bermunculan, acara ini dipandang cukup penting untuk pembekalan dasar,” tegas M Akbar Rasyidi ,selaku Ketua Panitia Pelaksana PKDK.

Turut hadir dalam acara ini, Dubes RI untuk Yaman, Wajid Fauzi. “A good leader a good follower,” ungkapnya ketika memberi arahan dihadapan para peserta pelatihan.?

Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan tujuan Kedutaan Besar Republik Indonesia Sana’a untuk mewujudkan kepentingan nasional melalui diplomasi total.?

Dalam presentasinya, Rendy Ramanda, Sekretaris III KBRI Sana’a bagian Protokol dan Konsuler yang menjadi pemateri pertama acara ini banyak menyampaikan beberapa dasar dan metode kepemimpinan seperti POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controling), analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat) dan lain-lain. Menurutnya, penerapan metode tersebut untuk menjalankan roda kepemimpinan dan organisasi sangat dibutuhkan.?

Pemateri kedua, ? Ahmad Zainul Huda, Sekretaris III KBRI Sana’a Bagian Politik, banyak mengupas ? tentang problem solving dalam sebuah organisasi. Ia banyak menekankan praktek dalam menyelesaikan permasalahan yang kerap terjadi dalam organisasi.?

Acara tersebut di akhiri dengan peringatan Maulid Nabi yang di kemas dalam acara “Malam Keakraban Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Yaman”. Acara tersebut dimeriahkan dengan lomba puisi utusan dari beberapa organisasi peserta PKDK dan drama kolosal yang diprakarsai oleh Departemen Seni dan Budaya DPW Hadhramaut PPI Yaman bekerjasama dengan AMI Al-Ahgaff.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: M Abdul Muhith

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Berita, AlaSantri, Tegal Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama

Cirebon, Belajar Muhammadiyah. Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diselenggarakan di Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Bababakan Ciwaringin, Cirebon, secara resmi ditutup oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kamis (27/4).

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Ulama Perempuan dalam Pandangan Menteri Agama

Sebelumnya, Lukman dalam sambutan penutupnya menyampaikan tentang poin-poin yang dicatat setelah menyimak pembacaan musyawarah agama, dan rekomendasi kongres dari peserta.

“Setidaknya saya mencatat tiga hal makna strategis dari kongres ulama perempuan Indonesia ini,” katanya.

Pertama, kongres ini telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran dan peran relasi hubungan laki-laki dan perempuan.

Belajar Muhammadiyah

“Ini adalah isu yang senantiasa dan bahkan menurut hemat saya saat ini dan ke depan semakin mempunyai urgensi dan relevansi yang tinggi,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

Kedua, kongres ini juga telah mampu melakukan tidak hanya rekognisi (pengakuan) tapi juga revitalisasi terhadpa peran ulama perempuan sejak zaman Siti Aisyah sampai terus di Indonesia ini. Dan yang tidak kalah pentingnya, katanya, adalah membangun jaringan. 

“Sehingga jaringan ulama perempuan dengan kongres ini bisa terbangun dan terus dikembangkan,” ujar suami Trisna Willy ini.

Belajar Muhammadiyah

Ketiga, kongres ini telah berhasil meneguhkan sekaligus menegaskan bahwa moderasi Islam itu harus senantiasa kita kedepankan, yaitu Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, Islam yang menebarkan kemaslahatan bagi sesama. 

Menurutnya, ulama perempuan telah mengambil posisinya yang amat strategis melalui kongres ini dengan menghadirkan isu-isu moderasi Islam.

“Sehingga peradaban dunia di mana nilai-nilai Islam diharapkan bisa  memberikan kontribusi dan sumbangsihnya tetap mampu kita jaga, kita pelihara, kita rawat bersama dan kita kembangkan dimasa-masa mendatang,” ujar pria 54 tahun ini. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Lomba, Kajian, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Ciri Khas NU itu Tradisi Keagamaan di Masyarakat

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Budaya NU adalah tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, kata Agus Sunyoto, Wakil Ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU saat berada di beranda Belajar Muhammadiyah, Gedung PBNU lt.5, Jakarta, Selasa (17/4) lalu.

Tradisi keagamaan semacam yasinan, tahlilan, kenduren, itulah ciri khas NU. Tradisi yang berkembang di masyarakat adalah karakter Islam Nusantara. Karakter dan praktik yang dilakukan umat Islam di Nusantara itulah ciri khas keagamaan NU.

Ciri Khas NU itu Tradisi Keagamaan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciri Khas NU itu Tradisi Keagamaan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciri Khas NU itu Tradisi Keagamaan di Masyarakat

Masyarakat misalnya tiap Kamis, mengadakan tradisi yasinan. Tradisi yasinan ini dihadiri oleh siapa saja. Mereka yang bisa membaca tulisan Arab atau tidak, tetap menghadiri upacara yasinan.

Belajar Muhammadiyah

Andai belum mungkin, mereka bisa membaca latinnya dulu. Salah atau benar bacaan mereka, tidak dipersoalkan. Tetapi lama-kelamaan, mereka akan hafal seiring waktu bergulir, tambahnya. Warisan-warisan Walisongo seperti itu sampai kini masih mengisi praktik keagamaan masyarakat Islam Nusantara.

NU adalah organisasi keislaman yang berakar pada akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah-nya Imam Asy‘ari dan Maturidi. Teologi bercorak Asy‘arian dan Maturidian ini cenderung mengakomodir tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Tradisi keagamaan yang antara lain upacara tahlilan, yasinan, kenduren, dan hadiyah doa, mendapat tempat tersendiri dalam teologi keduanya.

Belajar Muhammadiyah

Agus Sunyoto adalah penulis ‘Suluk Abdul Jalil, Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar’ yang berjilid-jilid. Bukunya ini termasuk buku best-seller yang terus mengalami cetak ulang. Bukunya yang akhir-akhir ini naik cetak adalah ‘Walisongo, Rekonstruksi Sejarah Yang disingkirkan’ terbit 2011.

Ia menegaskan bahwa banyak sekali orang-orang yang tidak bisa membaca tulisan Arab surat Yasin, tetapi hafal surat Yasin. Mereka hafal karena surat Yasin dibaca rutin di kampung-kampung tiap Kamis. Mereka pada giliran tertentu menjadi hafal surat Yasin itu. Umat Islam Nusantara pun yakin bahwa orang yang melantunkan surat Yasin akan mendapatkan catatan istimewa di sisi Tuhan seru sekalian alam.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah

Rasulullah pernah bercerita tentang tiga orang dari Bani Israil, masing-masing adalah penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Kepada ketiganya Allah suatu kali memberikan ujian dengan mengutus malaikat.

Dalam wujud manusia, malaikat itu menghampiri pengidap penyakit lepra atau semacam kudis akut. Kepadanya, malaikat bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?”

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah

“Rupa yang bagus, kulit yang mulus, dan penyakit yang lenyapnya penyakit yang menjijikkan banyak orang ini dari diriku,” jawab penderita lepra tersebut.

Belajar Muhammadiyah

Diusaplah tubuh orang itu dan seketika penyakitnya hilang. Keinginannya terkabul: kini ia memiliki rupa dan kulit yang indah.

“Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

Belajar Muhammadiyah

“Unta.”

Maka diberilah seekor unta bunting. Malaikat yang menjelma manusia itu pun berdoa, “Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu dengan unta ini.”

Selanjutnya si malaikat mendatangi orang berkepala botak lantaran suatu penyakit. Orang ini menerima pernyataan yang sama, “Apa yang paling kau inginkan?”

“Rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjijikkan banyak orang ini.”

Malaikat mengusap kepalanya dan seketika itu hilanglah penyakitnya. Rambut yang ia idam-idamkan pun terkabulkan. Malaikat lantas bertanya lagi, “Harta apakah yang kamu senangi?”

“Sapi,” jawab lelaki yang semula berkepala botak itu.

Seekor sapi hamil diberikan sembari mengiringinya dengan doa, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Selepas penderita lepra dan kepala botak itu, giliran si malaikat mengunjungi orang buta. Percakapan serupa berlangsung kepada orang ini.

“Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

“Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.”

Diusaplah wajah lelaki buta itu dan dalam sekejap Allah mengembalikan fungsi penglihatannya.

Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang hendak beranak.

Masa kandungan unta, sapi, dan kambing pemberian itu akhirnya menuai hasil. Masing-masing ternak mendapat perawatan yang baik sehingga beranak pinak dalam jumlah yang besar. Tiap orang dari ketiga orang yang ditemui malaikat tersebut kini memiliki sebanyak satu lembah hewan ternak piaraannya.

Cerita Rasulullah tentang ketiga orang ini tidak berhenti di sini. Karena malaikat kemudian mendatangi masing-masing dari mereka. Namun kali ini malaikat tampil dalam wujud sebagai orang yang menderita.

“Aku ini laki-laki miskin yang tak lagi punya pekerjaan untuk meneruskan perjalananku hari ini kecuali atas pertolongan Allah, lalu pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang bagus, kulit yang mulus, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja sebagai bekal meneruskan perjalananku,” pinta malaikat.

“Tanggunganku masih banyak,” jawab mantan pengidap lepra itu.

“Sepertinya aku pernah mengenal anda. Bukankah anda orang yang dulu menderita lepra dan dijauhi banyak orang—fakir yang kemudian Allah karuniakan harta?” kata Malaikat bersandiwara.

“Kekayaan ini aku peroleh secara turun temurun dari leluhurku,” balasnya lagi.

“Jika anda berdusta, Allah akan mengembalikan keadaan anda seperti sediakala,” kata malaikat.

Giliran kepada orang yang semula botak, malaikat tetap melakukan percakapan yang sama. Termasuk meminta pertolongan. Tapi lagi-lagi ia ditolak.

“Jika anda berdusta, Allah akan mengembalikan keadaan anda seperti sediakala,” peringatan itu kembali terlontar.

Kemudian malaikat tadi menghampiri orang yang sebelumnya buta, lalu curhat, “Aku ini laki-laki miskin yang tak lagi punya pekerjaan untuk meneruskan perjalananku hari ini kecuali atas pertolongan Allah, lalu pertolongan anda. Demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

“Sungguh aku semula buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah kambing itu sesukamu, dan tinggalkan yang tak kau suka. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulitmu dengan sesuatu yang telah kau ambil karena Allah.”

Di akhir cerita, malaikat itu berkata kepada lelaki yang semula buta ini, “Peganglah kekayaanmu, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepadamu, dan murka kepada kedua teman anda.”

Kisah ini tercantum dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Keterangan bahwa malaikat menjalin kontak dengan menjelma sebagai manusia dijelaskan dalam kitab Dalîlul Fâlihîn li Tuhuruqi Riyâdlish Shâlihîn.

Cerita di atas menerangkan tentang keinginan seseorang untuk keluar dari penderitaan tertentu. Namun, ketika nasib secara lahiriah membaik, seseorang tetap saja dihadapkan dengan dua pilihan sikap: bersyukur atau kufur. Pelajaran dari kisah tiga orang Bani Israil tersebut adalah, bahwa nikmat yang jauh lebih besar dari keindahan fisik dan melimpahnya kekayaan adalah kesadaran untuk mensyukuri nikmat itu sendiri. Realisasinya: ikhlas dan bahagia terhadap apa yang tersedia, termasuk ketika harus dibagi kepada orang lain yang membutuhkan. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

. Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Internasional, AlaSantri Belajar Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Khofifah Indar Parawansa ke Bengkulu, Sabtu (12/8) mengingatkan kepada sang penjahit bendera merah putih pertama Fatmawati Soekarno.

Menteri Sosial RI ini pun terkesan ketika duduk di depan mesin penjahit Fatmawati yang terlihat klasik dan masih asli. Mesin jahit bersejarah berwarna merah jingga tersebut membuat Khofifah tertegun.

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciptakan Merah Putih Pertama, Ini Penampakan Mesin Jahit Fatmawati

“Saya sempat tertegun lama sebelum benar-benar menyentuh salah satu benda sakral milik bangsa ini. Milik Ibu Negara pertama, Ibu Fatmawati Soekarno,” ungkap Khofifah, Sabtu (12/8) dikutip Belajar Muhammadiyah dari akun Instagram resmi miliknya, @khofifah.ip.

Dia menjelaskan, mesin jahit bersejarah itu kini tersimpan di rumah kediaman Fatmawati di Kota Bengkulu. Menurut Khofifah, mesin jahit tersebut sangat sederhana karena hanya digerakkan dengan tangan tidak seperti mesin jahit yang ada saat ini.

“Dari mesin jahit tangan buatan tahun 1941 inilah lahir bendera merah putih pertama Indonesia,” jelas perempuan kelahiran Surabaya ini.

Belajar Muhammadiyah

Bagi Khofifah, merah putih lebih dari secarik kain berwarna merah dan putih. Di situ ada air mata, tumpahan darah, pengorbanan, dan semangat membara para pendahulu bangsa sehingga bangsa Indonesia saat ini banggsa mengibarkan bendera merah putih.

“Karenanya, hindari tindakan yang bisa menodai merah putih misalnya anarkisme, intoleransi, radikalisme, narkoba, atau keinginan mengganti bendera tersebut,” urai Khofifah.

Belajar Muhammadiyah

Dia menegaskan, bagi bangsa Indonesia merah putih tidak sekadar identitas bangsa, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa dan negara.?

“Mari jaga merah putih. Mari jaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red),” pungkas Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden KH Abdurrahman Wahid ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Khutbah, AlaSantri, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Tuntunan Mengqashar Shalat

Islam sebagai agama yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat dan tata cara beribadah kepada Yang Maha Kuasa, tidak pernah membebani umatnya di luar kemampuannya. Bahkan ketika berhubungan dengan perkara wajibpun Islam selalu memberikan dispensasi, sekiranya kewajiban itu terlalu membebani umatnya. Dispensasi atau keringanan dalam fiqih disebut dengan rukhshah. Hal ini tercermin dalam masalah qashar dan jama’ shalat.

Secara bahasa qashar berarti meringkas, yaitu meringkas shalat yang semula harus dikerjakan empat rakaat (misal dhuhur, ashar dan isya) menjadi dua rakaat. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat An-Nisa’ ayat 101:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu 

Tuntunan Mengqashar Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntunan Mengqashar Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntunan Mengqashar Shalat

Artinya seseorang yang sedang dalam bepergian (musafir) dibolehkan mengqashar shalat. Begitu pula jika dalam keadaan berperang. Karena tuntunan konsntrasi penuh dalam menghadapi serangan pihak musuh, maka diperboehkan mengqashar shalat. Demikian pernah terjadi di zaman Rasulullah saw sebagaimana diterangan dalam hadits Muslim yang diriwayatkan oleh Ya’la bin Umayah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir.

Belajar Muhammadiyah

Begitulah diantara dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan diperbolehkannya mengqashar shalat. Sedangkan petunjuk tehnis mengqashar shalat tentunya hanya terdapat dalam kitab-kitab fiqih yang merupakan warisan para mujtahid dalam menentukan sebuah hukum. Sebagaimana keterangan dalam Matnul Gyayah wat Taqrib karya Qadhi Abu Suja’:

? – ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bagi seorang musafir diperbolehkan mengqashar shalat yang berrakaat empat dengan lima syarat. 1) Kepergiannya bukan dalam rangka maksyiat. 2) jarak perjalanannya paling sedikit 16 farsakh. 3) shalat yang diringkas adalah yang berrakaat empat. 4) niat mengqashar bersamaan dengan takbiratul Ihram. 5) dan hendaknya tidak bermakmum pada orang yang mukim (tidak musafir).

Dari keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa syarat mengqashar shalat pada dasarnya adalah ketika dalam berpergian. Namun syarat ini bisa ditawar dalam kondisi perang. Apabila di rasa empat rakaat terlalu lama dan menghawatirkan keamanan maka diperbolehkan mengqashar shalat. Sebagaimana kerangan hadits di atas.

Belajar Muhammadiyah

Adapun syarat kedua mengenai jarak tempuh perjalanan, maka mengqashar shalat hanya diperbolehkan ketika jarak tempuh bepergian mencapai 16 farsakh atau kira-kira 90 km. Yaitu jarak yang biasanya para musafir telah mengalami kelelahan dan kepayahan.

Dari dua syarat tersebut (musafir dan ukuran jarak tempuh), maka barang siapa dalam perjalanan seseorang tidak sempat shalat. Lalu sesampai di rumah ia hendak mengqadhanya (membayarnya) maka orang tersebut tidak diperbolehkan mengqashar shalat (dengan 2 rakaat) karena ia tidak lagi dalam keadaan musafir. Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang mempunyai hutang shalat kemudian dia melakukan perjalanan (musafir) lalu ia hendak membayarnya dengan mengqadha maka tidak boleh shalat itu dilakukan dengan cara qasahar (2 rakaat). Karena hutang shalat itu terjadi ketika dia belum berstatus sebagai musafir.

Adapun penjelasan mengenai syarat ketiga, maka itu bersifat pasti. Hanya shalat yang empat rakaatlah yang boleh diqasahar. Itu artinya shalat dhuhur, ashar dan isya. Dengan kata lain ketika seseorang berpergian dalam jarak tempuh lebih dari 90 km (misalkan dari Jakarta menuju Surabaya) secara otomatis ia akan melewati waktu shalat dhuhur dan ashar, apabila berangkat dari pagi hari melalui jalur darat maupun laut. Maka orang tersebut boleh melakukan shalat dhuhur dan ashar masing-masing dua rakaat.

Akan tetapi jikalau orang tersebut melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat sehingga dapat menghemat waktu, maka baginya ada dua pilihan. Boleh mengqashar shalat ataupun tidak mengqashar. Karena pada dasarnya qashar sebagai sebuah dispensasi (rukhshah) tidaklah bersifat wajib. Tetapi bersifat anjuran. Artinya, qashar adalah sebuah pilihan yang disediakan oleh Allah bagi umatnya yang merasa berat melakukan shalat dengan empat rekaat ketika bepergian. Oleh karena itu seorang muslim selaku hamba Allah boleh memilih qashar atau tidak. Tetapi lebih baik melakukannya ketika syarat lima telah terpenuhi.

Mengenai tatacara niat tidak ada yang berubah sebagaimana niat dalam shalat biasa, yaitu niat dibarengkan dengan takbiratul ihram di dalam hati yang bunyinya, sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ushalli fardhad dhuhri rak’ataini mustaqbilal qiblati qasran lillahi ta’la

Aku niat shalat dhuhur dua rekaat menghadap qiblat keadaan qashar karena Allah

Dan syarat yang terakhir, hendaklah jika seseorang melakukan shalat qashar jangan makmum kepada imam yang tidak qashar (sedang shalat biasa). Qashar boleh dilakukan secara berjamaah berbarengan dengan sesama musafir. (Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Anti Hoax, Nasional Belajar Muhammadiyah

Selasa, 21 November 2017

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Bantul, Belajar Muhammadiyah. Acara pembukaan Bulan Budaya yang diadakan oleh PWNU DIY dalam rangka memperingati Harlah NU ke-90, Sabtu malam (11/5), berlangsung cukup ramai. 

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Hujan yang mengguyur daerah lapangan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, sebagai lokasi acara cukup deras. Namun semangat para personil group sholawat sebagai pengisi acara, yang mayoritas sudah tidak dapat dikatakan muda, tetap patut diapresiasi tinggi. 

Sebagai pra acara, malam itu diisi dengan penampilan dan kolaborasi tiga kelompok shalawat dari beragam jenis, yakni group hadrah ittihadul fata yang membawakan shalawat berbahasa Arab, kelompok sholawat emprak pesantren Kaliopak yang menyajikan shalawat dengan bahasa Jawa dan diiringi tarian, kemudian group shalawat ‘Kuda Mas’ yang memadukan shalawat dengan alat-alat musik Tionghoa.

Belajar Muhammadiyah

Alunan musik shalawat yang indah pun menggema malam itu. Selain sarat akan kandungan nilai-nilai agama yang disampaikan melalui seni musik, penampilan ketiga group shalawat yang beragam itu menunjukkan kolaborasi antar etnis yang berbeda, namun tetap dapat disatukan dan bernafaskan Islam pula.

Belajar Muhammadiyah

Usai penampilan ketiga group shalawat, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana kegiatan Bulan Budaya, Samsu Hadi Samono. Dalam sambutannya tersebut, dikatakan bahwa rangkaian kegiatan bulan budaya telah dimulai sejak pagi, yakni apel pagi sebagai bentuk kesetiaan terhadap Pancasila, kemudian kirap budaya dan Jatilan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat. 

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertegas kembali budaya-budaya NU yang sesuai dengan Negara Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Camat Piyungan, Agus Sulistiyana, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan jati diri bangsa, melestarikan budaya dan menggalang persatuan. 

“NU itu dapat merekatkan hubungan masyarakat, karena saat ini persatuan sedang terusik”, tegasnya.

Kemudian diperkuat lagi dengan pernyataan KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mempertegas kembali relasi Islam dengan budaya, terlebih Yogya yang dikenal sebagai pusat budaya. Bagi NU itu, lanjutnya, menjalankan Islam itu yang penting sesuai dengan syari’at. 

“NU itu mementingkan realitas, bukan sekedar formalitas,” tandasnya.

Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan wayang secara simbolik, dari Rais Syuriyah NU DIY, KH Asyhari Abta, kepada dalang, Ki Cermo Radiyo Harsono, sebagai tanda pagelaran wayang telah dimulai.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah AlaSantri, Budaya, Ubudiyah Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock