Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Jakarata, Belajar Muhammadiyah

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menerima vonis  dua tahun penjara dari Majelis Hakim setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penodaan agama. Usai pembacaanputusan Ahok bersama tim penasihat hukum bersepakat untuk mengajukan banding.

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Terkait proses hukum tersebut, Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas berkomentar, sebagai negara hukum, siapa pun harus tunduk dan patuh terhadap hukum. Hal ini sesuai dengan prinsip supremasi hukum. Untuk itu, apa pun putusan hakim, katanya, harus dihormati.

“Sebaliknya, seluruh pihak juga harus memberikan penghormatan yang sama kepada Pak Ahok atas upaya hukum banding yang dilakukan dalam mengekspresikan keberatannya terhadap putusan pengadilan,” katanya dalam siaran pers, Selasa (9/5).

Belajar Muhammadiyah

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tak mengeluarkan hujatan atau cibiran terhadap warga negara yang menggunakan hak hukumnya atas suatu proses peradilan. Karena hal itu merupakan pengejawentahan terhadap prinsip kesetaraan di mata hukum sebagaimana dijamin konstitusi.

“Di lain pihak, biarkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta selaku judex facti menjalankan fungsi judiciary secara bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary) dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut di tingkat banding nantinya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, kesanggupan menghargai rangkaian proses hukum yang berjalan adalah bagian dari ketaatan terhadap hukum itu sendiri. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Lomba, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

Ayat Kebohongan

Sebagai dai kota, Kiai Durakman beruntung dapat kesempatan ceramah di sejumlah kawasan elite, mulai dari kompleks perumahan anggota DPR sampai kalangan pengusaha.

Ramadhan lalu giliran ia mengisi pengajian tiap Selasa di sekretariat para petinggi partai. Kepada jamaahnya itu, Kiai Durakman mengingatkan, tema pengajian pada pertemuan selanjutnya.

Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Kebohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Kebohongan

"Selasa depan kita akan membahas tentang kebohongan. Untuk memudahkan pemahaman, saya imbau seluruh jamaah membaca surat Al-Maidah ayat 121 berikut terjemahannya," pintanya.

Belajar Muhammadiyah

Para politisi itu pun serentak menyatakan siap.

Ketika saat pertemuan pekan berikutnya tiba, Kiai Durakman langsung bertanya, "Siapakah di antara bapak/ibu yang sudah membaca al-Maidah ayat 121?"

Belajar Muhammadiyah

Semua hadirin angkat tangan.

Kiai Durakman meringis. "Luar biasa. Padahal surat al-Maidah cuma berisi 120 ayat."

"Baiklah..." Lanjut Kiai Durrakman, "Saya akan mulai pengajian dengan menjelaskan azab-azab bagi orang yang gemar berbohong." (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Budaya, Sunnah, RMI NU Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

Yun Chuan, Belajar Muhammadiyah. Selama kunjungan silaturahim ke Tiongkok, para utusan tokoh agama seolah sedang berada di Indonesia. Amaliyah harian usai shalat dan sejumlah tradisi masyarakat muslim di sana terdapat banyak kesamaan dengan mayoritas masyarakat di Indonesia.

Dari sisi kelengkapan bangunan yang ada di masjid misalnya, nyaris tidak ada perbedaan dengan di tanah air. "Di Tiongkok, sejumlah masjid juga memiliki mimbar dan tongkat seperti layaknya di Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (1/11). Mimbar digunakan untuk para khatib yang menyampaikan materi pesan ketika shalat Jumat. Sedangkan tongkat digunakan untuk bilal yang kemudian diserahkan kepada khatib ketika menyampaikan khatbah.

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

"Pada bangunan mihrab, juga terdapat tasbih yang digunakan untuk memastikan jumlah bacaan ketika wirid," tandas Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini.

Belajar Muhammadiyah

Hal lain yang menggembirakan saat kunjungan kerjasama antara sejumlah ormas keagamaan Jawa Timur dengan komunitas muslim Tiongkok ini adalah jumlah penduduk muslim yang lumayan besar. "Ketika rombongan bertemu dengan imam Masjid Achung di kawasan Yun Chuan, diketahui bahwa jumlah penduduk muslim di kawasan ini mencapai 36 persen dari 600 ribu jiwa yang ada," ungkap Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Tidak berhenti sampai di situ. "Malah dari tokoh agama setempat, kami mendapat keterangan bahwa ada sekitar 400 masjid dan juga sejumlah pesantren," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Demikina juga masyarakat muslim setempat juga gemar berhimpun dan mendirikan organisasi kegamaan atau jamiyah. "Keberadaan jamiyah islamiyah ini juga berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keagamaan masyarakat," katanya.

Belajar Muhammadiyah

Dari penjelasan Imam Masjid Achung pula yakni Kiai Syuaib, kerab diselenggarakan pengajian dan lomba pembacaan tilayah al-Quran di berbagai tingkatan, termasuk antar pesantren. "Semaraknya kegiatan keagamaan ini juga tidak lepas dari keberadaan walikota Yun Chuan yang juga seorang muslimah," terangnya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya, juga menandaskan bahwa amaliyah warga sekitar layaknya kaum nahdliyin di tanah air. "Secara akidah, penduduk kebanyakan mengikuti Imam Maturidi, dan fikihnya lebih dominan Imam Hanafi," katanya.

Kerinduan suasana ibadah seperti saat di Indonesia sedikit terobati lantaran dilantunkannya dzikir bakda shalat rawatib dengan suara keras. "Demikian pula keberadaan mimbar dan tongkat menjadi pengingat suasana dan nuansa keagamaan layaknya di tanjah air," pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut, rombongan PWNU Jatim bergabung dengan 20 pemuka agama Islam dari propinsi ini. Mereka melakukan kunjungan ke sejumlah destinasi yang berbuansa agama. Rombongan adalah perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI Jatim.

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Oktober hingga 4 November ini bertujuan membangun silaturahim antara para pemuka agama Islam.? Rombongan dari PWNU Jatim terdiri dari KH Anwar Manshur (Pjs Rais Syuriah), H Ahmad Shiddiq (Wakil Ketua), Prof Ach Muzakki (Sekretaris), H Misbahul Munir dan H Husnul Yaqin selaku Wakil Sekretaris. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Foto: KH Abdurrahman Navis di salah satu masjid di Tiongkok.

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah Belajar Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Kudus, Belajar Muhammadiyah. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus menggelar orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) bagi mahasiswa baru di Kampus Jl Lambao Karangsambung Bae Kudus Jawa Tengah, Senin-Jum’at (26-30/8). 

Kegiatan dibuka Direktur Akbid Darningsih S.Sit. MH ini dengan jumlah peserta sebanyak 25 mahasiswa baru.

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Gelar Ospek, Bekali Aswaja Mahasiswa

Ketua panitia Rika Rahmawati mengatakan ospek bertujuan mengenalkan kegiatan program studi pembelajaran sekaligus melatih mental, fisik dan memberikan orientasi dasar pendidikan untuk mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014.

Belajar Muhammadiyah

“Melalui ospek ini, peserta memiliki kesiapan dan menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif dan mempunyai semangat yang besar dalam belajar di kampus Akbid Muslimat NU,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah di sela-sela kegiatan, Selasa (27/8).

Belajar Muhammadiyah

Rika menambahkan mahasiswa baru juga mendapat bekal pengetahuan dan wawasan ke-NU-an dan penanaman aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). 

“Akbid ini menjadi kampus NU sehingga penanaman dan penguatan Aswaja menjadi sangat perlu dikenalkan kepada mahasiswa di sini,” imbuh mahasiswa semester tiga Akbid ini.

Direktur Akbid Darningsih mengajak mahasiswa baru untuk selalu memiliki semangat dan tidak memiliki keraguan belajar kebidanan. Hal ini dikarenakan bidan merupakan profesi yang sangat mulia yang menolong antara sesama.

“Masuk di Akbid harus semangat belajar meraih cita-cita masa depan sehingga kelak menjadi bidan yang bermanfaat dan membantu sesama,” tandasnya saat membuka kegiatan ospek.

Ia mengharapkan mahasiswa baru ini selalu terampil, siap dan kuat belajar mulai awal hingga akhir. 

“Kami berharap semua peserta menjadi mahasiswa yang terampil dan cekatan serta mempunyai kemampuan bekal pengetahuan yang cukup,” tandasnya.

Kepada Belajar Muhammadiyah, dia menjelaskan 25 peserta ospek ini merupakan pilihan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun akademik 2013/2014. 

“Selama ini, Akbid Muslimat NU membatasi quota penerimaan mahasiswa baru hanya 25 saja karena sarana prasarananya masih terbatas,” ujar Darningsih.

Dalam kegiatan ospek ini, berbagai materi ospek diantaranya pokok pendidikan akbid, tri darma perguruan tinggi, leadership dan keorganisasian, peran bidan dalam MDGS, ke-NU-an dan aswaja. Sementara narasumbernya, Ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan Bupati Kudus H Musthofa dijadwalkan turut menyampaikan materi.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Ubudiyah, Jadwal Kajian Belajar Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis

Jakarta, Belajar Muhammadiyah



Riset yang dilakukan oleh Balitbang dan Diklat Kementerian Agama menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan baca-tulis Al-Quran antara siswa yang aktif di organisasi Rohani Islam (Rohis) dengan yang tidak aktif di Rohis pada alpha 0,03 di mana justru yang tidak aktif di Rohis kemampuannya lebih tinggi daripada yang aktif di Rohis. Mereka yang kurang aktif di Rohis juga kemampuannya lebih tinggi dari yang aktif di Rohis pada alpha 0,016.?

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemampuan Baca-Tulis Qur’an Aktivis Rohis Ternyata Lebih Rendah dari Non-Rohis

Temuan tersebut merupakan sebagian dari hasil penelitian yang difokuskan pada penyusunan indeks Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Menengah (SMA) di Kabupaten Serang, Banten. Balitbang Diklat Kemenag menyusun Indeks Keberhasilan Pendidikan Agama bertujuan untuk mengetahui Indeks Keberhasilan Pendidikan Agama Islam (IKPAI) Kelas XII SMA Negeri di Kabupten Serang yang mencakup kemampuan membaca Al-Quran, perilaku, karakter, afeksi; dan pengaruh profil responden terhadap Indeks Keberhasilan PAI (kemampuan membaca Al-Quran, perilaku, karakter, dan afeksi).

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang menjadi subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik ? kelas XII SMA Negeri yang beragama Islam di wilayah Kabupaten Serang sebanyak 3023 peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan selama 7 bulan, mulai bulan Juni 2015 sampai Desember 2015.

Indeks Keberhasilan PAI (IKPAI) Kelas XII SMA Negeri se-Kabupaten Serang yang merupakan komposit dari ? indeks 4 variabel adalah 0,60. Variabel baca-tulis Al-Quran dengan indeks 0,68; perilaku 0,56; karakter 0,56; dan afeksi 0,60.?

Dilihat dari pengaruh profil responden terhadap Kemampuan Baca-Tulis Al-Quran, tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang sangat signifikan antara siswa dari jurusan IPA dan IPS pada alpha 0,00 di mana kemampuan siswa IPS relatif lebih tinggi dari siswa IPA.?

Belajar Muhammadiyah

Terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al Quran siswa yang signifikan berdasarkan perbedaan jenis pekerjaan orangtua masing-masing. Orangtua yang bertani anak-anaknya lebih mampu baca-tulis Al-Quran daripada anak-anak/siswa yang orangtuanya PNS/TNI/Polri (alpha 0,039). Orangtua yang bertani anak-anaknya lebih mampu baca-tulis Al-Quran daripada anak-anak/siswa yang orangtuanya Wiraswasta (alpha 0,087).

Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang berasal dari SMP dengan siswa yang berasal dari MTs. Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang berasal dari SD dengan siswa yang berasal dari MI.

Tidak terdapat perbedaan kemampuan baca-tulis Al-Quran yang signifikan antara siswa yang mengaji di Pesantren/Diniyah, dengan yang Privat, di TPQ, maupun yang hanya belajar agama Islam di SMAN. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Belajar Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Quote, Meme Islam, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 22 Januari 2018

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

Jombang, Belajar Muhammadiyah. Secara prinsip, negara harus berkomitmen untuk segera melunasi semua hutangnya. Postur APBN harus ditata sedemikian rupa agar pembangunan tetap berjalan, namun pada saat yang sama hutang juga terbayar.

Demikian dinyatakan Abdul Moqsith saat membacakan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada rapat pleno Muktamar Ke-33 NU dengan agenda pengesahan sidang-sidang komisi, di alun-alun Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8).

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

?

Untuk kepentingan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pada dasarnya yang wajib kita bayar adalah utang-utang pokok, bukan beban bunga. Oleh karena itu sah apabila Pemerintah RI menuntut pembebasan bunga dari negara-negara kreditor.

?

Belajar Muhammadiyah

Kedua, Pemerintah harus secara tegas mengontrol anggaran agar tidak bocor, dan menarik kembali uang negara yang telah? dijarah oleh para koruptor, baik dari kalangan pejabat atau pengusaha.

?

"Ketiga, pemerintah sedapat mungkin melakukan efisiensi dengan menggunakan barang dan jasa dalam negeri yang dibarengi dengan kebijakan pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment," ujar anggota Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah itu.

?

Belajar Muhammadiyah

Keempat, Pemerintah dianjurkan melakukan optimalisasi dana penerimaan pajak, cukai dan pembiayaan non utang dari keuntungan pengelolaan aset negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan dari saldo rekening Pemerintah dari penerimaan Rekening Dana Investasi (RDI), Rekening Pembangunan Daerah (RPD), Rekening Pembangunan Hutan (RPH), Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan rekening lainnya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman. (Mahbib Khoiron)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Meme Islam, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Dan Kiai pun Ditalqin

Kediri, Belajar Muhammadiyah. Para santri dan ribuan orang yang mengikuti pemakaman Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Imam Yahya Mahrus serentak menghentikan pembacaan surat Al-Ihlas “Qul huwallahu ahad…” ketika KH Abdul Aziz Mansyur berdiri memegang microphone, sebagai pertanda acara talqin akan segera dimulai, Ahad (15/1) siang. Kiai Aziz yang mewakili keluarga menanyakan kepada semua yang hadir, “Apakah semua yang hadir menyaksikan bahwa KH Imam Yahya Mahrus ini orang baik?”. Serentak semua menjawab, “Baik…!” Suara tangisan haru terdengar jelas dari balik kerumunan.

Talqin dilakukan setelah semua proses penguburan selesai, yang dimaksudkan untuk memberikan suport dan membimbing ahli kubur agar dapat menjawab pertanyaan malaikat kubur Munkar dan Nakir dengan baik. Tidak hanya orang biasa, kiai pun butuh untuk ditalqin. Keluarga meminta Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) memimpin prosesi talqin.

Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dan Kiai pun Ditalqin

Pembacaan talqin pun dimulai. Gus Mus yang juga alumni Pesantren Lirboyo, mengatakan kepada KH Imam Yahya Mahrus yang sudah terbaring, sebentar lagi ada malaikat yang datang. “Jangan takut, mereka adalah mahluq Allah, sama seperti kita. Jawablah pertanyaan mereka dengan benar,” kata Gus Mus sambil pemberikan bimbingan kepada Kyai Imam. “Jika ditanyakan siapa Tuhanmu maka jawablah Allahu Rabbi, jika ditanyakan siapa nabimu jawablah Muhammad Rasulullah…” dan seterusnya. Semua bacaan talqin menggunakan bahasa Arab.

Belajar Muhammadiyah

Lalu doa dipimpin oleh sesepuh NU yang juga alumni Pesantren Lirboyo, KH Maimun Zubair. Selanjutnya diadakan sholat jenazah untuk kesekian kalinya yang dipimpin oleh pengasuh Pesantren Denanyar Jombang KH Aziz Masyhuri, yang diikuti oleh Gus Mus, Rais Syuriyah PWNU KH Miftahul Ahyar, keluarga besar Pesantren Lirboyo, dan para santri, alumni, serta jamaah yang belum sempat mengikuti shalat jenazah di Pondok Pesantren Lirboyo.

Belajar Muhammadiyah

Pondok Pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren tua yang telah menelorkan ribuan alumni. Selain Gus Mus dan KH Maimun Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang turut bertakziyah adalah alumni pesantren yang didirikan oleh KH Manaf Abdul Karim pada 1910 silam. Namun atas wasiat Almarhum KH Imam Yahya Mahrus sendiri, jenazah tidak dimakamkan di makam keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo bersama para sesepuh pesantren.

Kiai Imam yang merupakan generasi ketiga Pesantren Lirboyo meminta kepada keluarganya untuk dimakamkan di tanah lapang, di desa Ngampel, kecamatan Mojoroto, sekitar 5 km ke arah utara dari induk Pesantren Lirboyo. Tanah itu akan digunakan sebagai perluasan dari Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Di bagian depan baru ada satu bangunan yang belum selesai. Informasi yang diterima Belajar Muhammadiyah, selain tempat tinggal santri, di tanah itu juga akan didirikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) yang kini sedang naik daun.

Tak ayal, tanah yang sepi itu mulai ramai. Tidak hanya para santri dan alumni, banyak orang datang berziarah. Sampai malam larut, hingga Senin (16/1) pagi, para peziarah terus berdatangan. Mungkin beginilah cara Kiai Imam membesarkan pesantren barunya.

Penulis A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock